Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMUKESEHATAN JIWA Referat

FAKULTAS KEDOKTERAN 30 Mei 2017


UNIVERSITAS ALKAIRAAT
PALU

PSIKOFARMAKA ANTIPSIKOTIK

Disusun Oleh:

Dwi Retno Pangestuti


(12 16 777 14 164)

Pembimbing :
dr. Nyoman Sumiati, Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIANILMU KEDOKTERAN JIWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Nama dan stambuk : Dwi Retno Pangestuti(121677714164)

Fakultas : Kedokteran

Program Studi : Pendidikan Dokter

Universitas : Alkhairaat

Judul Referat : Psikofarmaka Antipsikotik

Bagian : Ilmu Kesehatan Jiwa

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa

RSD MADANI PALU

Program Studi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, 30 Mei 2017

Pembimbing

dr. Nyoman Sumiati, Sp.KJ


BAB I

PENDAHULUAN

Ilmu kedokteran jiwa merupakan bagian integral dari ilmu kedokteran


dalam meningkatkan taraf kesehatan secara umum. Peningkatan taraf kesehatan
tersebut diterapkan dalam kondisi sakit (fisik maupun psikis) maupun dalam
kondisi sehat melalui terapi prevensi, rehabilitasi dan promosi. Terapi yang
digunakan terhadap penderita gangguan jiwa sangat komprehensif, meliputi
bidang organobiologik, psikoedukatif dan sosiokultural, serta selalu mengikuti
kaedah-kaedah ilmu kedokteran yang mutakhir. Dalam setiap kondisi tidak mudah
untuk menentukan aspek mana yang harus lebih diprioritaskan. Sebenarnya bukan
dimaksudkan untuk menempatkan satu diatas yang lain, tetapi
memperlakukannya sebagai proses berkesinambungan yang tidak terpisahkan.
Dewasa ini konsep kedokteran mengenai pengobatan gangguan psikotik
masih berputar pada penggunaan antipsikotik. Antipsikotik merupakan salah satu
obat golongan psikotropik. Obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara
selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku (mind and behavior altering drugs), digunakan untuk
terapi gangguan psikiatrik (psychotherapeutic medication). Menurut WHO, obat
psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi psikis, kelakuan atau
pengalaman. Psikotropik hanya mengubah keadaan jiwa penderita sehingga lebih
kooperatif dan dapat menerima psikoterapi dengan lebih baik.
Berdasarkan penggunaan klinik, psikoterapi dibagi menjadi 4 golongan
yaitu: (1) antipsikotik; (2) antianxietas; (3) antidepresi; dan (4) psikotogenik.
Antipsikotik atau dikenal juga dengan istilah neuroleptik (major tranquilizer)
bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik. Antipsikotik bekerja dengan
menduduki reseptor dopamin , serotonin dan beberapa reseptor neurotransmiter
lainnya . Antipsikotik dibedakan atas antipsikotik tipikal (antipsikotik generasi
pertama) antara lain klorpromazin, flufenazin, tioridazin, haloperidol; serta
antipsikotik atipikal (antipsikotik generasi kedua) seperti klozapin, olanzapin,
risperidon dan lain sebagainya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Obat antipsikotik adalah obat yang digunakan untuk terapi psikosis.
Psikosis merupakan gangguan proses pikir berupa ketidakmampuan untuk
membedakan kenyataan dari khayalan (uji realitas terganggu) disertai
pembentukan realitas baru. Gangguan ini salah satunya dapat muncul pada pasien
skizofrenia.

B. Klasifikasi
Berdasarkan rumus kimianya, obat-obat antipsikotik dibagi menjadi
derivat fenotiazin, derivate thioxantin, dan butirofenon. Sedangkan untuk
golongan antipsikotik terbaru, rumus kimianya terbagi lagi menjadi
dibenzodiazepin,benzisoxazole, thienobenzodiazepin, dibenzotiazepin,
dihidroindolon, dan dihidrokarbostril. Berdasarkan cara kerjanya terhadap
reseptor dopamin dibagi menjadi Dopamine receptor Antagonist (DA) dan
Serotonine Dopamine Antagonist (SDA). Obat-obat DA juga sering disebut
dengan antipsikotik tipikal, dan obat-obat SDA disebut juga dengan antipsikotik
atipikal. Klasifikasi kemudian dibuat lebih sederhana dengan membaginya
menjadi antipsikotik generasi I (APG-I) untuk obat-obat golongan antagonis
Dopamin (DA) dan antipsikotik generasi II (APG-II) untuk obat-obat golongan
serotonin dopamin antagonis (SDA). Berikut pembagian obat anti psikotik tipikal
dan atipikal:
1. Antipsikotik atipikal
a. Phenothiazine
1) Rantai aliphatic : CHLORPROMAZINE
LEVOMEPROMAZINE
2) Rantai piperazine : PERPHENAZINE
TRIFLUOPERAZINE
FLUPHENAZINE
3) Rantai piperidine : THIORIDAZINE
b. Butyrophenone : HALOPERIDOL
c. Diphenyl-butyl-piperidine : PIMOZIDE
2. Antipsikotik atipikal
a. Benzamide : SULPIRIDE
b. Dibenzodiazepine : CLOZAPINE
OLANZAPINE
QUETIAPINE
c. Benzisoxazole : RISPERIDON

C. FARMAKOKINETIK
Obat-obat anti psikotik dapat diserap pada pemberian peroral, dan dapat
memasuki sistem saraf pusat dan jaringan tubuh yang lain karena obat anti
psikotik adalah lipid-soluble. Kebanyakan obat-obatan antipsikotik bisa diserap
tapi tidak seluruhnya. Obat-obatan ini juga mengalami first-pass metabolism yang
signifikan. Oleh karena itu, dosis oral chlorpromazine and thioridazine
mempunyai availability sistemik 25 35%. Haloperidol dimetabolisme lebih
sedikit, dengan availability sistemik rata-rata 65%. Kebanyakan obat antipsikotik
bergabung secara intensif dengan protein plasma (92 99%) sewaktu distribusi
dalam dalam darah. Volume distribusi obat-obatan ini juga besar, biasanya lebih
dari 7L/kg.
Obat-obatan ini memerlukan metabolisme oleh hati sebelum eliminasi
dan mempunyai waktu paruh yang lama dalam plasma sehingga memungkinkan
once-daily dosing. Walaupun setengah metabolit tetap aktif, seperti 7-
hydroxychloropromazine dan reduced haloperidol, metabolit dianggap tidak
penting dalam efek kerja obat tersebut. Terdapat satu pengecualian, yaitu
mesoridazine, yang merupakan metabolit utama thioridazin, lebih poten dari
senyawa induk dan merupakan kontributor utama efek obat tersebut. Sediaan
dalam bentuk parenteral untuk beberapa agen, seperti fluphenazine, thioridazine
dan haloperidol, bisa dipakai untuk terapi inisial yang cepat.
Sangat sedikit obat-obatan psikotik yang diekskresi tanpa perubahan.
Obat-obatan tersebut hampir dimetabolisme seluruhnya ke substansi yang lebih
polar. Waktu paruh eliminasi (ditentukan oleh clearance metabolic) bervariasi,
bisa dari 10 sampai 24 jam.

D. FARMAKODINAMIK
Cara kerja obat antipsikotik adalah dengan menurunkan aktivitas dopamin.
Obat ini bekerja sebagai antagonis reseptor dopamin dan serotonin di otak, dengan
target untuk menurunkan gejala psikotik berupa halusinasi dan waham. Keempat
sistem dopamin dalam otak terlibat dalam mekanisme kerja obat antipsikotik,
yaitu sistem nigrostriatal, sistem mesolimbik, sistem mesokortikal dan sistem
tuberoinfundibuler.

Gambar 1. Sistem Dopaminergik


Reseptor dopamin dalam otak sendiri merupakan jenis reseptor terkopel
protein G. Terdapat dua subtipe besar reseptor dopamin, yaitu D1 (menstimulasi
adenilsiklase) dan D2 (inhibisi adenilsiklase). Namun, seiring berkembangnya
ilmu pengetahuan, ditemukan subtipe famili lainnya, yaitu D5 yang mirip dengan
D1, dan D3, serta D4 yang mirip D2. Neurotransmitter yang melekat untuk
mengaktifkan reseptor tersebut adalah dopamin.Neurotransmiter dopamin ini
tersebar dalam beberapa daerah otak dan membentuk sistem dopaminergik
sebagai berikut:
1. Jalur dopamin nigrostriatal
Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra menuju ganglia basalis. Fungsi jalur
nigrostriatal adalah untuk mengontrol pergerakan. Bila jalur ini diblok, akan
terjadi kelainan pergerakan seperti pada Parkinson yang disebut
extrapyramidal reaction (EPR). Gejala yang terjadi antara lain akhatisia,
dystonia (terutama pada wajah dan leher), rigiditas, dan akinesia atau
bradikinesia.
2. Jalur dopamin mesolimbik
Jalur ini berasal dari batang otak dan berakhir pada area limbic. Jalur
dopamin mesolimbik terlibat dalam berbagai perilaku, seperti sensasi
menyenangkan, euphoria yang terjadi karena penyalahgunaan zat, dan jika
jalur ini hiperaktif dapat menyebabkan delusi dan halusinasi. Jalur ini terlibat
dalam timbulnya gejala positif psikosis.
3. Jalur dopamin mesokortikal
Jalur ini berproyeksi dari midbrain ventral tegmental area menuju korteks
limbic. Selain itu jalur ini juga berhubungan dengan jalur dopamine
mesolimbik. Jalur ini selain mempunyai peranan dalam memfasilitasi gejala
positif dan negative psikosis, juga berperan pada neuroleptic induced deficit
syndrome yang mempunyai gejala pada emosi dan sistem kognitif.
4. Jalur dopamin tuberoinfundibular
Jalur ini berasal dari hypothalamus dan berakhir pada hipofise bagian
anterior. Jalur ini bertanggung jawab untuk mengontrol sekresi prolaktin,
sehingga kalau diblok dapat terjadi galactorrhea.

E. ANTIPSIKOTIK TIPIKAL
a. Klorpromazin
Sediaan : Tablet, injeksi.
Mekanisme Kerja : Tidak begitu jelas, diduga menghambat reseptor dopamin
pada mesokortikal mesolimbik otak depan, nigrostriatal, dan sel mamtrofi
hipofise anterior.
Indikasi : Skizofrenia, mania, balisme, sindrom Tourette, korea, anak
hiperaktif, cegukan (hiccups).
Kontraindikasi : Koma, depresiSSP, wanita hamil dan menyusui. Hati-hati
pada penderita dengan gangguan fungsi hati.
Efek samping : Gejala ekstrapiramidal, akitisia, parkinsonisme, hipotensi
ortostatik, mulut kering, mengantuk, pandangan kabur, retensi urin.
Interaksi Obat : Alkohol dan obat-obat depresi SSP lain meningkatkan efek
sedasinya. Menurunkan efektivitas obat antiparkinson. Obat antikolinergik
meningktkan efek samping obat ini.
b. Perfenazin
Sediaan : Tablet.
Mekanisme Kerja : Tidak begitu jelas, diduga menghambat reseptor
dopamine pada mesokortikal-mesolimbik otak depan, nigrostriatal, dan sel
mamotropi hipofise anterior.
Indikasi : Skizofrenia kronis atau akut, ansites berat, ansietas yang disertai
depresi, depresi karena penyakit organis, antiemetic terutama pasca operasi.
Kontraindikasi : Wanita hamil dan menyusui, depresiSSP atau koma, sindrom
Reye, anak-anak, MCI. Hati-hati pemberian pada penyakit hati.
Efek samping : Pandangan kabur, salivasi, hidung tersumbat, sakit kepala,
reaksi ekstrapiramidal, dikinesia tardif.
Interaksi Obat : Tidak boleh diberikan bersama penghambat MAO karena
menimbulkan hiperpiretik krisis. Epinefrin tidak boleh diberikan bersama
karena mengantagonis obat ini. Simetidin menurunkan metabolism
perferazin. Paralitik ileus dapat terjadi bila digabung dengan obat
antikolinergik.
c. Trifluoperazin
Sediaan : Tablet.
Mekanisme kerja : Tidak begitu jelas, tetapi diduga menghambat reseptor
dopamine di sistem mesokortikal mesolimbik otak depan, nigrostriatal, dan
sel mamotrofi hipofise anterior.
Indikasi : Skizofrenia, mania, balisme, sindrom Taurette, depresi,ansietas
non-psikotik, antiemetik.
Kontraindikasi :Wanita hamil dan menyusui, depresi sumsum tulang,
penyakit hati, depresiSSP, gangguan atau kelainan darah.
Efek samping : Reaksi ekstrapiramidal, akatisia, parkinsonisme, mulut kering,
retensi cairan, pandangan kabur.
Interaksi obat : Mengantagonis kerja guanetidin. Tiazid meningkatkan efek
hipotensi.
d. Flufenazin
1) Sediaan : Tablet, injeksi.
2) Mekanisme Kerja : Tidak begitu jelas, diduga menghambat reseptor
dopamin pada mesokortikal mesolimbik otak depan, nigrostriatal, dan sel
mamotropi hipofise anterior.
3) Indikasi : Skizofrenia kronik.
4) Kontraindikasi : Gangguan (rusak) area subkortikal di otak, wanita hamil
dan menyusui. Hati-hati pada penderita penyakit hati, koma, depresiSSP.
5) Efek samping : Gejala ekstrapiramidal, diskinesia tardif, mengantuk,
hipotensi ortostatik.
6) Interaksi Obat : Alkohol dan bersama obat depresi SSP (antidepresan,
antiansietas, antipsikotik) meningkatkan depresi SSP.
e. Tioridazin
1) Sediaan : Tablet
2) Mekanisme Kerja : Memblokade reseptor D2 di sistem saraf pusat. Kerja
anti-adrenergisnya lebih kuat, juga efek antihistamin, antikolinergis, dan
antiserotoninnya.Resorpsinyadi usus baik dan lengkap, tetapi BA-nya
hanya 65% akibat FPE besar. PP-nya di atas 95%, t1/2-nya 10-24 jam.
Ekskresinya berupa metabolit lewat tinja (50%) dan kemih (30%).
3) Indikasi : antipsikotis dan sedatif yang baik, sehingga sering digunakan
pada pasienyang sukar tidur. Obat ini digunakan pula pada neurose hebat
dengan depresi, rasa takut, dan ketegangan, serta depresi dengan
kegelisahan.
4) Kontra Indikasi : Pasien yang memiliki aktivitas enzin CY2P6 yang
rendah
5) Efek Samping : Efek samping yang terpenting adalah gejala
antikolinergis kuat dan hipotensi ortostatis, GEP dan hepatitis yang
jarang terjadi.
6) Interaksi Obat : bila diberikan dengan antihipertensi, nitrat, dan alkohol
akan menambah potensiasi hipotensi. Depresi SSP bertambah jika
digunakan dengan alkohol, opioid, antihistamin, dan obat anestesi.efek
antikolinergik bertambah jika diberikan bersama atropin, antihistamin,
dan antidepresan.
f. Haloperidol
1) Sediaan : Tablet, kapsul, injeksi
2) Mekanisme Kerja : Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di
postsinaptik mesolimbik otak. Menekan penglepasan hormon
hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS)
sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan,
tonus vasomotor dan emesis. Onset kerja : sedasi :iv.: sekitar 1 jam,
Durasi dekanoat : sekitar 3 minggu; distribusi; melewati plasenta dan
masuk ke ASI. Ikatan protein : 90%, metabolisme: di hati menjadi
senyawa tidak aktif, bioavailabilitas oral : 60%, T eliminasi 20 jam, T
maks serum : 20 menit, Ekskresi : urin, dalam 5 hari, 33-40% sebagai
metabolit, feses 15%.
3) Indikasi :Penanganan shcizofrenia, sindroma Tourette pada anak dan
dewasa, masalah perilaku yang berat pada anak.
4) Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap haloperidol atau komponen lain
formulasi, penyakit Parkinson, depresi berat SSP, supresi sumsum tulang,
penyakit jantung atau hati berat, koma.
5) Efek Samping : KV : takikardia, hiper/hipotensi, aritmia, gelombang T
abnormal dengan perpanjangan repolarisasi ventrikel, torsade de pointes
(sekitar 4%). SSP : gelisah, cemas, reaksi ekstrapiramidal, reaksi
distonik, tanda pseudoparkinson, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi
malignan, perubahan pengaturan temperatur tubuh, akathisia, distonia
tardif, insomnia, eforia, agitasi, pusing, depresi, lelah, sakit kepala,
mengantuk, bingung, vertigo, kejang. Kulit : kontak dermatitis,
fotosensitifitas, rash, hiperpigmentasi, alopesia Metabolik & endokrin :
amenore, gangguan seksual, nyeri payudara, ginekomastia, laktasi,
pembesaran payudara, gangguan keteraturan menstruasi, hiperglisemia,
hipoglisemia, hiponatremia; Saluran cerna : berat : mual muntah,
anoreksia, konstipasi, diare, hipersalivasi, dispepsia, xerostomia. Saluran
genito-urinari : retensi urin, priapisme; Hematologi : cholestatic jaundice,
obstructive jaundice; Mata : penglihatan kabur, Pernafasan : spasme
laring dan bronkus; Lain-lain : diaforesis dan heat stroke.
6) Interaksi Obat : Efek haloperidol meningkat oleh klorokuin, propranolol,
sulfadoksin-piridoksin, anti jamur azol, chlorpromazin, siprofloksacin,
klaritromisin, delavirdin, diklofenak, doksisiklin, aritromisin, fluoksetin,
imatinib, isoniasid, mikonazol, nefazodon, paroksetin, pergolid, propofol,
protease inhibitor, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirole, telitromisin,
verapamil, dan inhibitor CYP2D6 atau 3A4. Haloperidol dapat
meningkakan efek amfetamin, betabloker tertentu, benzodiazepin
tertentu, kalsium antagonis, cisaprid, siklosporin, dekstrometorfan,
alkaloid ergot, fluoksetin, inhibitor HMG0CoA reductase tertentu,
lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, sildenafil , takrolimus,
antidepresan trisiklik, venlafaksin, dan sunstrat CYP2D6 atau 3A4.
Haloperidol dapat meningkatkan efek antihipertensi, SSP depresan,
litium, trazodon dan antidepresan trisiklik. Kombinasi haloperidol
dengan indometasin dapat menyebabkan mengantuk, lelah dan bingung
sedangkan dengan metoklopramid dapat meningkatkan resiko
ekstrapiramidal. Haloperidol dapat menghambat kemampuan
bromokriptin menurunkan konsentrasi prolaktin. Benztropin dan
antikholinergik lainnya dapat menghambat respons terapi haloperidol dan
menimbulkan efek antikholinergik. Barbiturat, karbamazepin, merokok,
dapat meningkatkan metabolisme haloperidol. Haloperidol dapat
menurunkan efek levodopa, hindari kombinasi. Haloperidol dapat
menurunkan efek levodopa, hindari kombinasi. Haloperidol mungkin
menurunkan efek substrat prodrug CYP2D6 seperti kodein, hirokodon,
oksikodon dan tramadol.
7) Pimozide
1) Sediaan : Tablet
2) Mekanisme Kerja : Memblokade reseptor dopamin D2. Resorpsinya di
usus lambat dan variabel. Plasma t1/2-nya panjang: 55-150 jam; pada
pasien schizofrenia rata-rata 55-150 jam. Sifatnya sangat lipofil dan hanya
sedikit dirombak dalam hati. Ekskresinya sangat lambat, karena selalu
diresorpsi kembali oleh tubuli. Akhirnya ca 40% dikeluarkan lewat kemih
terutama berupa metabolit dan 15% dengan tinja secara utuh.
3) Indikasi : Derivat-difenilbutilpiperidin ini diturunkan dari droperidol
(1969) dan memiliki khasiat antipsikotis kuat dan panjang. Efek terapi
baru nyata sesudah beberapa waktu, tetapi bertahan agak lama (1-2 hari).
Pimozida khusus digunakan pada psikose kronis jangka-panjang.
4) Kontra Indikasi : Obat ini tidak layak diberikan pada keadaan eksitasi dan
kegelisahan akut, yang memerlukan sedasi langsung. Lagi pula efek
sedasinya lebih ringan dibandingkan obat-obat lain.
5) Efek Samping : Efek sampingnya berupa umum, GEP sering terjadi,
adakalanya nampak perubahan jantung (ECG) dan aritmia.
6) Interaksi Obat : kontrasepsi oral dapat menurunkan atau meningkatkan
efek, penggunaan bersama supresan SSP lain, antihistamin, anti depresan,
antikonvulsan dapat mensupresi SSP. Penggunaan dengan simetidin
meningkatkan efek. Merokok dan kafein menurunkan efek, pemakaian
bersama digoksin menyebabkan toksisitas digoksin.
F. ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL
1. Benzamide
- AMISULPIRIDE
Dosis:
- Untuk akut psikotik : Oral dosis antara 400 mg/hari dan 800
mg/hari direkomendasi. Dosis maksimal adalah 1200mg/hari
- Untuk pasien dengan gejala positif dan negatif: Dosis untuk
control gejala positifnya 400-800mg/hari.
- Untuk pasien dengan predominan gejala negative: Dosis antara 50-
300mg.hari direkomendasi.
Merupakan selektif dopamin antagonis. Dosis yang lebih tinggi (400-
800mg/hari) bertindak atas post-sinaptik reseptor dopamin yang
mengakibatkan pengurangan dalam gejala positif skizofrenia, seperti
psikosis. Dosis yang lebih rendah, (100mg/hari) bagaimanapun,
bertindak atas dopamin autoreceptors, mengakibatkan peningkatan
dopamin transmisi, memperbaiki gejala negatif skizofrenia. Dosis
rendah amisulpride juga telah terbukti mempunyai antidepresan dan
anxiolytic efek non-pasien skizofrenia, menyebabkan dysthymia dan
fobia sosial.
Farmakokinetik. Amisulpiride cepat diserap setelah pemberian oral,
dan memiliki 50% bioavailabilitas absolut. Konsentrasi maksimum
adalah 42-56 mg / L, dan dicapai dalam 1-4 jam (Masa maksima);
steady-state dicapai setelah 2-3 hari. Volumedistribusi amisulpride
adalah 5,8 L / kg dan protein plasma mengikat sekitar 17%. Waktu
paruh eliminasi plasma adalah 12 jam, dengan klirens ginjal dari 17- 20
L / jam. Ekskresi utama terjadi melalui ginjal, dengan 22-25% dari
dosis oral yang asal dalam urin sebagai obat yang tidak terubah. Pada
pasien dengan gangguan ginjal, obat paruh tidak berubah tapi klearans
sistemik dikurangi dengan sepertiga dan memerlukan dosis penyesuaian
memerlukan amisulpride mengalami metabolisme minimal di hati, dan
hanya menghasilkan dua metabolit utama, yang keduanya inaktif.
Dieliminasikan terutamanya melalui ginjal dan menariknya laju
ekskresi ginjal adalah 2,5 kali lebih tinggi daripada yang mungkin
diharapkan dari filtrasi glomerulus. Oleh karena itu memungkinkan
sekresi obat aktif terjadi.
2. Dibenzodiazepine
- CLOZAPINE (Clozaril)
Dosis
- Hari 1 : 1 2 x 12,5 mg.
- Berikutnya ditingkatkan 25 50 mg / hari sp 300 450 mg / hari
dengan pemberian terbagi.
- Dosis maksimal 600 mg / hari.
- Sediaan yang ada di pasaran tablet 25 mg dan 100 mg
Clozapine efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan
skizofrenia baik yang positif (irritabilitas) maupun yang negative
(social disinterest dan incompetence, personal neatness) efek yang
bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu, diikuti perbaikan secara
bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini berguna untuk
pengobatan pasien yang refrakter dan terganggu berat selama
pengobatan. Selain itu, karena resiko efek samping ekstrapiramidal
yang sangat rendah, obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan
gejala ekstrapiramidal yang berat bila diberikan antipsikosis yang
lain, maka penggunaanya hanya dibatasi pada pasien yang resisten
atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien yang
diberi clozapine perlu dipantau jumlah sel darah putihnya setiap
minggu.
Farmakokinetik. Clozapine diabsorbsi secara cepat dan sempurna
pada pemberian per oral; kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira
1,6 jam setelah pemberian obat. Clozapine secara ektensif diikat
protein plasma (>95%), obat ini dimetabolisme hamper sempurna
sebelum diekskresi lewat urin dan tinja, dengan waktu paruh rata-rata
11,8 jam.
- OLANZAPINE (Zyprexa)
Dosis
- Untuk skizofrenia mulai dengan dosis 10 mg 1 x sehari.
- Untuk episode manik mulai dengan dosis 15 mg 1 x sehari.
- Untuk pecegahan kekambuhan gangguan bipolar 10 mg / hari.
Merupakan derivat dari clozapine dan dikelompokkan dalam golongan
dibenobenzodiazepine. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan.
Plasma puncak olanzapine dicapai dalam waktu 5-6 jam setalah
pemberian oral, sedangkan pada pemberian intramuskular dapat
dicapai setelah 15-45 menit dengn waktu paruh 30 jam (antara 21-54
jam) sehingga pemberian cukup 1 kali sehari.
Farmakokinetik. Olanzapine merupaka antagonis monoaminergik
selektif yang mempunyai afinitas yang kuat terhadap reseptor dopamin
(D1-D4), serotonin (5HT2A/2c), Histamin (H1) dan 1 adrenergik.
Afinitas sedang dengan reseptor kolinergik muskarinik (M1-5) dan
serotonin (5HT3). Berikatan lemah dengan reseptor GABAA,
benzodiazepin dan -adrenergik. Metabolisme olanzapine di sitokrom
P450 CYP 1A2 dan 2D6. Metabolisme akan meningkat pada penderita
yang merokok dan menurun bila diberikan bersama dengan
antidepresan fluvoxamine atau antibiotik ciprofloxacin. Afinitas lemah
pada sitokrom P450 hati sehingga pengaruhnya terhadap metabolisme
obat lain rendah dan pengaruh obat lain minimal terhadap konsentrasi
olanzapine.
Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada penderita usia
lanjut. Cleareance 30% lebih rendah pada wanita dibanding pria, hal
ini menyebabkan terjadinya perbedaan efektivitas dan efek samping
antara wanita dan pria. Sehingga perlu modifikasi dosis yang lebih
rendah pada wanita. Cleareance olanzapine meningkat sekitar 40%
pada perokok dibandingkan yang tidak merokok, sehingga perlu
penyesuaian dosis yang lebih tinggi pada penderita yang merokok.
- QUETIAPINE (Seroquel)
Dosis
Pemberian pada pasien pertama kali mendapat quetiapine perlu
dilakukan titrasi dosis untuk mencegah terjadinya sinkope dan
hipotensi postural.
- Dimulai dengan dosis 50 mg per hari selama 4 hari,
- kemudian dinaikkan menjadi 100 mg selama 4 ahri,
- kemudian dinaikkan lagi menjadi 300 mg.
- Setelah itu dicari dosis efektif antara 300-450 mg/hari.
Struktur kimia yang mirip dengan clozapine, masuk dalam kelompok
dibenzodiazepine derivates. Quetiapine dapat memperbaiki gejala
positif, negatif, kognitif dan mood. Dapat juga memperbaiki pasien
yang resisten dengan antipsikotik generasi pertama tetapi hasilnya
tidak sebaik apabila di terapi dengan clozapine.
Farmakokinetik. Absorpsinya berlangsung cepat setelah pemberian
oral, konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1,5 jam setelah
pemberian. Metabolisme terjadi di hati, pada jalur sulfoxidation dan
oksidasi menjadi metabolit tidak aktif dan waktu paruhnya 6 jam.4
Quetiapine merupaka antagonis reseptor serotonin (5HT1A dan 5HT2A),
reseptor dopamin (D1 dan D2), reseptor histamin (H1), reseptor
adrenergik 1 dan 2. Afinitasnya lemah pada reseptor muskarinik (M1)
dan reseptor benzodiazepin. Cleareance quetiapine menurun 40% pada
penderita usia lanjut, sehinga perlu penyesuaian dosis yang lebih
rendah dan menurun 30% pada penderita yang mengalami gangguan
fungsi hati. Cleareance quetiapine meningkat apabila pemberiannya
dilakukan bersamaan dengan antiepileptik fenitoin, barbiturat,
carbamazepin dan antijamur ketokonazole.
3. Benzisoxazole
- RISPERIDONE (Risperidal)
Dosis :
- Hari 1 : 1 mg, hari 2 : 2mg, hari 3 : 3 mg.
- Dosis optimal - 4 mg / hari dengan 2 x pemberian.
- Pada orang tua, gangguan liver atau ginjal dimulai dengan 0,5 mg,
ditingkatkan sp 1 2 mg dengan 2 x pemberian.
- Umumnya perbaikan mulai terlihat dalam 8 minggu dari
pengobatan awal, jika belum terlihat respon perlu penilaian ulang.
- Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah
pemberian oral.
Risperidone merupakan obat APG II yang kedua diterima oleh FDA
(Food and Drug Administration) sebagai antipsikotik setelah
clozapine. Rumus kimianya adalah benzisoxazole derivative. Absorpsi
risperidone di usus tidak di pengaruhi oleh makanan dan efek
terapeutik nya terjadi dalam dosis rendah, pada dosis tinggi dapat
terjadi EPS. Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah
terjadinya kekambuhan dan menurunkan jumlah dan lama perawatan
sehingga baik digunakan dalam dosis pemeliharaan. Pemakaian
riperidone masih diizinkan dalam dosis sedang, setelah pemberian
APG I dengan dosis yang kecil dihentikan, misalnya pada pasien usia
lanjut dengan psikosis, agitasi, gangguan perilaku yang di hubungkan
dengan demensia.
Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal di terapi
dengan APG I tetapi hasil pengobatannya tidak sebaik clozapine. Obat
ini juga dapat memperbaiki fungsi kognitif tidak hanya pada
skizofrenia tetapi juga pada penderita demensia misalnya demensia
Alzheimer. 4
Farmakokinetik. Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di
hati oleh enzim CYP 2D6 menjadi 9-hydroxyrisperidone dan sebagian
kecil oleh enzim CYP 3A4. Hydroxyrisperidone mempunyai potensi
afinitas terhadap reseptor dopamin yang setara dengan risperidone.
Eksresi terutama melalui urin. Metabolisme risperiodne dihambat oleh
antidepresan fluoxetine dan paroxetine, karena antidepresan ini
menghambat kerja dari enzim CYP 2D6 dan CYP 3A4 sehingga pada
pemberian bersama antidepresan ini, maka dosis risperidone harus
dikurangi untuk meminimalkan timbulnya efek samping dan toksik.
Metabolisme obat ini dipercepat bila diberikan bersamaan
carbamazepin, karena menginduksi CYP 3A4 sehingga perlu
peningkatan dosis risperidone pada pemberiaan bersama carbamazepin
disebabkan konsentrasi risperidone di dalam plasma rendah.

G. SEDIAAN ANTIPSIKOSIS

No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis


Anjuran
1 Chlorpromazine LARGACTIL Tab. 25 mg, 100 150-600
mg mg/h
PROMACTIL
MEPROSETIL
ETHIBERNAL
Amp.25 mg/ml
2 Haloperidol SERENACE Tab. 0,5 mg, 5-15 mg/h
1,5&5 mg
Liq. 2 mg/ml
Amp. 5 mg/ml
HALDOL
Tab. 0,5 mg, 2
GOVOTIL
mg
LODOMER
Tab. 2 mg, 5 mg
HALDOL DECA- 50 mg / 2-4
Tab. 2 mg, 5 mg
minggu
NOAS
Amp. 50 mg/ml
3 Perphenazine TRILAFON Tab. 2 mg, 4&8 12-24 mg/h
mg
4 Fluphenazine ANATENSOL Tab. 2,5 mg, 5 10-15 mg/h
mg
Fluphenazine- MODECATE 25 mg / 2-4
Vial 25 mg/ml minggu
decanoate
5 Levomepromazine NOZINAN Tab.25 mg 25-50 mg/h
Amp. 25 mg/ml
6 Trifluoperazine STELAZINE Tab. 1 mg, 5 mg 10-15 mg/h
7 Thioridazine MELLERIL Tab. 50 mg, 100 150-600
mg mg/h
8 Sulpiride DOGMATIL Tab. 200 mg 300-600
mg/h
FORTE Amp. 50 mg/ml
9 Pimozide ORAP FORTE Tab. 4 mg 2-4 mg/h
10 Risperidone RISPERDAL Tab. 1,2,3 mg Tab 2-6 mg/h
NERIPROS Tab. 1,2,3 mg
NOPRENIA Tab. 1,2,3 mg
PERSIDAL-2 Tab. 2 mg
RIZODAL Tab. 1,2,3 mg
11 Clozapine CLOZARIL Tab. 25 mg, 100 25-100 mg/h
mg
12 Quetiapine SEROQUEL Tab. 25 mg, 100 50-400 mg/h
mg, 200 mg
13 Olanzapine ZYPREXA Tab. 5 mg, 10 10-20 mg/h
mg

H. EFEK SAMPING OBAT ANTIPSIKOSIS

OBAT ANTI PSIKOSIS EFEK EFEK EFEK EFEK


HIPOTE
EKSTR ANTIE SEDATIF
NSIF
APIRA METIK
MIDAL
A. DERIVAT FENOTIAZIN
1. Senyawa dimetilaminopropil :
Klorpromazin ++ ++ +++ ++
Promazin ++ ++ ++ +++
Triflupromazin +++ +++ +++ +
2. Senyawa piperidil :
Mepazin ++ ++ +++ ++
Tioridazin + + ++ ++
3. Senyawa piperazin :
Asetofenazin ++ ++ + +
Karfenazin +++ +++ ++ ++
Flufenazin +++ +++ ++ +
Perfenazin +++ +++ + +
Proklorperazin +++ +++ ++ +
Trifluoperazin tiopropazat +++ +++ ++ +
B. NON-FENOTIAZIN
Klorprotiksen ++ ++ +++ ++
C. BUTYROPHENONE
Haloperidol +++ +++ + +
BAB III

KESIMPULAN

Sindrom psikosis terjadi berkaitan dengan aktivitas neurotransmitter


Dopamine yang meningkat.(Hiperaktivitas system dopaminergi sentral).
Mekanisme kerja obat antipsikosis atipikal disamping berafinitas terhadap
Dopamine D2 receptors, juga terhadap Serotonin 5HT2 receptors (Serotonin-
dopamin antagonists).Obat neuroleptik membutuhkan waktu beberapa minggu
untuk mengendalikan gejala skizofrenia dan sebagian besar pasien akan
membutuhkan terapi rumatan selama bertahun-tahun. Relaps sering terjadi bahkan
pada pasien yang dipertahankan dengan obat dan lebih dari dari dua petiga pasien
mengalami relaps dalam 1 tahun bila menghentikan terapi. Sayangnya,
neuroleptik juga memblok reseptor dopamine pada ganglia basalis dan seringkali
menyebabkan gangguan pergerakan (efek ektrapiramidal, kanan) yang
menyebabkan stress dan kecacatan. Gangguan ini termasuk parkinsonisme, reaksi
distonia akut ( yang bias membutuhkan terapi dengan obat anti-kolinergik),
akatisia (gerakan-gerakan motorik tidak terkendali), dan diskinesia tardiv (gerakan
orofasial dan batang tubuh) yang biasa ireversibel. Tidak diketahui apa yang
menyebabkan diskinesia tardiv, tetapi karena diskinesia tardiv bisa memperburuk
dengan menghilangkan obat, diduga bahwa reseptor dopamin striatum menjadi
supersensitive. Beberapa obat atipikal bebas atau relative bebas dari efek samping
ekstrapiramidal pada dosis rendah.potensi masing-masing obat dalam memblok
reseptor otonom dan dominasi efek samping perifernya, tergantung pada kelas
kimia obat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ganiswarna SG, Setiabudy R, Suyatna FD, Purwantyastuti, Nafrialdi.


Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran- Universitas Indonesia; 1995.
2. Kaplan HI, Sadock BJ. Kaplan and Saddocks Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Science/ Clinical Psychiatry. 8th ed. Maryland: William &
Wilkins; 1998.
3. Katzung BG. Basic & Clinical Pharmacology. 8th ed. New York: McGraw-
Hill; 2001.
4. Maslim R, Panduan Praktis Penggunaan Klini, Obat Psikotropik. Edisi 3.
Jakarta: 2001.
5. Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. Lippincotts Illustatrated Reviews:
Pharmacology. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Williams&Wilkins; 2000.