Anda di halaman 1dari 41

PRESENTASI KASUS

SIROSIS HEPATIS
Dokter Komprehensif
Aditya Rachman
Wandi
Rizqy Afina Ulya
Delia Anisha Ulfah

Dokter Pembimbing
dr. Solichati Fatonah

RSU PKU MUHAMMADIYAH KUTOWINANGUN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 45 tahun
Alamat : Lundong
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA : Perut Membesar
Mual-Mual
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke IGD dengan keluhan mual-
mual namun tidak ada yang dimuntahkan,
disertai rasa panas dari perut hingga ke dada
dan juga kembung, pasien juga merasa
perutnya membesar 1 bulan yang lalu
semakin lama semakin membesar.
Pasien BAB berwarna hitam dan lembek >4x
dalam sehari.
ANAMNESIS
Pasien juga mengeluhkan sakit di perut
bagian atas kanan, sakit terus-menerus
namun tidak sampai mengganggu aktifitas.
pasien mengaku sering mengkonsumsi
jamu-jamuan sebelum sakit.
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat keluhan serupa (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat sakit ginjal (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat magh (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Penyakit paru (-)
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Hipertensi (-)
Asma (-)
Penyakit jantung (-)
Penyakit paru (-)
DM (-)
RIWAYAT KEBIASAAN
Riwayat merokok (-)
Minum kopi dan alkohol (-)
Minum jamu-jamuan (sering)
Olah raga (-)
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM : sedang
KESADARAN : composmentis
TEKANAN DARAH : 110/80 mmHg
NADI : 80 x / menit
PERNAFASAN : 20 x /menit
SUHU : 37,4 C
MATA
Conjunctiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-).
HIDUNG
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-).
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
MULUT
Bibir pucat (+), bibir sianosis (-), gusi
berdarah (-).
TELINGA
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-),
pendengaran berkurang (-).
TENGGOROKAN
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-).
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
LEHER
JVP tidak meningkat, trakea ditengah,
pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran
kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)
THORAX
Simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-)
COR
Inspeksi : ictus cordis tak terlihat
Palpasi : ictus cordis tak teraba
Perkusi : ukuran dbn
Auskultasi : S1S2 regular, bising (-)
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
PULMO
Inspeksi : pengembangan dada kanan
sama dengan kiri
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan
kanan
Perkusi : sonor +/+
Auskultasi : vesikuler +/+, ronkhi -/-
wheezing -/-
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
ABDOMEN
Inspeksi : perut tampak membesar,
tampak distensi, pembesaran
hepar dan lien sulit dievaluasi
Palpasi : Supel (+), Nyeri tekan (+)
epigastrium dan hipocondriaca
dextra
Perkusi : undulasi (+) pekak beralih (+)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
EKSTREMITAS
Palmar eritema (-/-)
Tampak kuning (+)
Oedem tungkai -/-
GENETALIA
dalam batas normal
DIAGNOSIS BANDING

Sirosis hepatis
Hepatitis
Anemia
Dispepsia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LAB. DARAH
NILAI
JENIS PEMERIKSAAN HASIL
NORMAL
HEMATOLOGI
Hemoglobin L 6.3 g/dL 11,5 16.5
JUMLAH SEL DARAH
Leukosit 10.3 103/uL 4.0 11.0
Eritrosit L 3.2 106/uL 3.8 5.8
Hematokrit L 25.7 % 37.0 47.0
Angka Trombosit 350 103/uL 150 - 450
DIFF COUNT
PERSENTASE
Netrofil Segmen H 71.0 % 40 75
Limfosit L 12.0 % 20 45
Monosit 5.0 % 2 10
Eosinofil 0.0 % 16
Basofil 0.0 % 01
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LAB. DARAH
NILAI
JENIS PEMERIKSAAN HASIL
NORMAL
SERO IMUNOLOGI
HBsAg (+) (-)
KIMIA KLINIK
Gula Darah
93.0 mg/dL 70-140
Sewaktu
FUNGSI GINJAL
Ureum 20.4 mg/dL 10.0 50.0
Creatinin 0.70 mg/dL 0.50 42.0
Urid Acid 4.7 mg/dL 4,50 7.00
PROFIL LEMAK
Cholesterol 111 mg/dL <200
Trigliserida 36 mg/dL <200
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LAB. DARAH
NILAI
JENIS PEMERIKSAAN HASIL
NORMAL

FUNGSI HATI
SGOT H 670 U/L < 32
SGPT H 36.3 U/L <33
Pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN PENUNJANG

USG Abdomen :
Ascites (+)
Kesan : Gambaran hepatitis kronis dengan
dengan spleenomegali
Pemeriksaan fisik
DIAGNOSA
SIROSIS HEPATIS
HEPATITIS B
ANEMIA
Pemeriksaan fisik
PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
Edukasi pasien dan keluarga tentang
penyakitnya yang diderita
Edukasi mengenai komplikasi Sirosis
Hepatis dan pentingnya kontrol rutin
untuk mengurangi faktor komplikasi
Istirahat
Berhenti minum jamu
Makan lemak secukupnya
Diet rendah garam
Diet tinggi albumin
Diet protein 50 gr/hari
Pemeriksaan fisik
PENATALAKSANAAN
Farmakologi
Infus RL 12 tpm
Inj. Spironolakton 1x1
Inj. Ranitidin 2x1
Inj. Ondancentron 3x1 k/p
Inj. Kalnex 3x500mg
Inj. Vit K 3x1
Inj. Ceftriaxon 1x2mg
Transfusi whole blood 2 kolf
FUNGSI HEPAR
DEFINISI
Suatu penyakit dimana sirkulasi mikro,
anatomi pembuluh darah besar dan
seluruh sitem arsitektur hati mengalami
perubahan menjadi tidak teratur dan
terjadi penambahan jaringan ikat
(fibrosis) disekitar parenkim hati yang
mengalami regenerasi.
ETIOLOGI
Virus Hepatitis B,D dan C
Alkohol
Kelainan Metabolik
Kholestasis
Obstruksi bilier
intrahepatik/ekstrahepatik
Gangguan autoimun
Toksin dan Obat-obatan
Cryptogenic
SPIDER NEVI

MANIESTASI KLINIS
Mual-mual, nafsu makan menurun
Cepat lelah
Kelemahan otot
Penurunan berat badan
IKTERUS
Air kencing berwarna gelap
Kadang-kadang hati teraba keras
Hematemesis, melena
Ensefalopati EDEMA
Edema HEMATEMESIS
Ikterus
Hipoalbumin dan malnutrisi kalori
Spider nevi
ASCITES

MANIESTASI KLINIS
Eritema Palmaris
Ginekomastia
Atrofi testis
Varises Esofagus ERITEMA
Splenomegali PALMARIS

Pelebaran Vena Kolateral


Ascites
Haemoroid ATROFI
TESTIS
Caput Medusae
GINEKOMASTIA
Kelainan sel darah tepi
(anemia,leukopeni,trombositopeni)
PATOFISIOLOGI
Hepatitis virus Nekrosis Alkoholisme
parenkim hati

Pembentukan jaringan ikat

Kegagalan parekhim hati Hipertensi portal Asites ensefalopati

Mual muntah Varises esohagus Penekan diafragma


kesadaran
Nafsu makan
kelemahan otot Tekanan meningkat Ruang paru
Cepat lelah menyempit
Kerusakan
Pembuluh darah pecah komunikasi
Sesak
Perubn. Nutrisi nafas
intoleransi aktifitas
Hematemisis/melena

Ggn perfusi jaringan Ggn pola nafas


Ggn keseimbangan cairan & elektrolit
KLASIFIKASI

MORFOLOGI FUNGSIONAL
MIKRONODULAR KOMPENSATA

MAKRONODULAR DEKOMPENSATA

CAMPURAN
KLASIFIKASI
Secara Fungsional Sirosis terbagi atas :
1. Sirosis hati Kompensata
Sering disebut dengan Laten Sirosis
hati. Pada stadium kompensata ini
belum terlihat gejala-gejala yang nyata.
Biasanya stadium ini ditemukan pada
saat pemeriksaan screening.
2. Sirosis hati Dekompensata
Dikenal dengan Active Sirosis hati, dan
stadium ini biasanya gejala-gejala
sudah jelas, misalnya ascites, edema
dan ikterus.
DERAJAT KEPARAHAN
Child-Pugh

Klasifikasi Ringan Sedang Berat

Bilirubin (mg/dl) <2 2-3,0 >3,0


Albumin (g/dl) >3,5 3-3,5 <3,0
Dapat Sulit
Ascites -
dikontrol dikontrol
Ensefalopati - Std I/II Std III/IV
Nutrisi Baik Sedang Jelek
Total Skor 5-7 8-10 11-15
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Kadar Hb yang rendah (anemia), jumlah
sel darah putih menurun (leukopenia),
dan trombositopenia.
Kenaikan SGOT, SGPT dan gamma GT
akibat kebocoran dari sel-sel yang rusak.
Namun, tidak meningkat pada sirosis
inaktif.
Kadar albumin rendah. Terjadi bila
kemampuan sel hati menurun.
Kadar kolinesterase (CHE) yang menurun
kalau terjadi kerusakan sel hati.
Masa protrombin yang memanjang
menandakan penurunan fungsi hati.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pada sirosis fase lanjut, glukosa darah
yang tinggi menandakan
ketidakmampuan sel hati membentuk
glikogen.
Pemeriksaan marker serologi petanda
virus untuk menentukan penyebab
sirosis hati seperti HBsAg, HBeAg, HBV-
DNA, HCV-RNA, dan sebagainya.
Pemeriksaan alfa feto protein (AFP).
Bila ini terus meninggi atau >500-1.000
berarti telah terjadi transformasi ke arah
keganasan yaitu terjadinya kanker hati
primer (hepatoma).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ultrasonografi (USG).
Pemeriksaan radiologi dengan
menelan bubur barium untuk melihat
varises esofagus.
Pemeriksaan esofagoskopi untuk
melihat besar dan panjang varises
serta sumber pendarahan
Pemeriksaan sidikan hati dengan
penyuntikan zat kontras
CT scan
Angiografi
Endoscopic retrograde
chlangiopancreatography (ERCP).
PENEGAKAN DIAGNOSIS
Pada saat ini penegakan diagnosis sirosis hati terdiri
atas pemeriksaan fisik, laboratorium, USG. Pada kasus
tertentu diperlukan pemeriksaan biopsi hati.
Pada stadium dekompensasi kadang
tidak sulit menegakkan diagnosa
sirosis hati diantaranya :
Splenomegali, Asites
Edema pretibial
Laboratorium khususnya
albumin
Eritema palmaris,
spider naevi, vena kolateral.
PENEGAKAN DIAGNOSIS
Suharyono Soebandiri
memformulasikan bahwa 5 dari 7 tanda
dibawah ini sudah dapat menegakkan
diagnosa sirosis hati dekompensasi :
Asites
Splenomegali
Perdarahan varises
Albumin yang merendah
Spider naevi
Eritema palmaris
Vena kolateral
PENATALAKSANAAN
Simptomatis
Supportif
Istirahat yang cukup
Pengaturan makanan yang cukup dan
seimbang; misalnya : cukup kalori, protein
1gr/kgBB/hari dan vitamin
Pengobatan berdasarkan etiologi
Sirosis hati akibat infeksi virus C dapat dicoba
dengan interferon. Telah dikembangkan
perubahan strategi terapi bagian pasien
dengan hepatitis C kronik yang belum
pernah mendapatkan pengobatan IFN
seperti a) kombinasi IFN dengan ribavirin,
b) terapi induksi IFN, c) terapi dosis IFN
tiap hari.
PENATALAKSANAAN
ASCITES
Diet Rendah Garam 0,5 gr/hr
Total cairan 1,5 l/hr
Spironolakton 4 x 25 mg/hr (max
800mg/hari)
Bila perlu kombinasi dengan furosemid
HEMATEMESIS - MELENA
Pemasangan NGT untuk memastikan
perdarahan dari saluran cerna
Vasopresin 2 amp (0,1 gr dalam 500 cc
cairan D 5 %)
SB tube untuk menghentikan perdarahan
varises
SINDROMA HEPATORENAL, imbangan air dan
garam diatur dengan ketat, atasi infeksi
dengan pemberian antibiotik
PENATALAKSANAAN
ENSEFALOPATI
dilakukan koreksi faktor pencetus seperti
pemberian KCL pada hipokalemia,
mengurangi pemasukan protein makanan
dengan memberi diet DH I, aspirasi cairan
lambung bagi pasien yang mengalami
perdarahan pada varises, dilakukan klisma
untuk mengurangi absorpsi bahan nitrogen
dan pemberian duphalac 2 x C II.

PERITONITIS BACTERIAL SPONTAN


diberi antibiotik pilihan, seperti cefotaxim 2
gr/8 jam iv.
KOMPLIKASI
Kegagalan hati
Hematemesis/melena, oleh karena
varises esofagus yang pecah
Ensefalopatik hepatik
Ascites permagna
Peritonitis bakterial spontan
Sindrom Hepatorenal
Transforrnasi kearah kanker hati primer
TERIMA KASIH