Anda di halaman 1dari 19

ULKUS TUMOR MAMMAE SUSPEK KEGANASAN

LAPORAN KASUS
Identifikasi
Nama : Ny. A
Umur : 57 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Sudah Menikah
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
MRS : 15 September 2014
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. RM : 665507

Autoanamnesis
Keluhan Utama:
Luka pada payudara kanan
Riwayat Perjalanan Penyakit:
Dialami sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Awalnya ditemukan secara tidak sengaja sebesar
kelereng sejak 2 tahun yang lalu, dengan cepat membesar 5 bulan terakhir sebesar bola tennis dan
akhirnya dalam 3 bulan terakhir membentuk luka. Luka disertai rasa nyeri dan berbau. Tidak ada batuk,
tidak ada sesak nafas, tidak ada demam, tidak ada menggigil, tidak ada sakit kepala, tidak ada mual,
tidak ada muntah, tidak ada nyeri ulu hati. Berat badan dirasakan menurun dalam 5 bulan terakhir
sebanyak kurang lebih 8 kg. Nafsu makan dirasakan menurun.
Riwayat menarche tidak diketahui. Riwayat haid teratur. Saat ini pasien telah menopause sejak usia 50
tahun. Menikah pada usia 20 tahun, tidak memiliki anak. Tidak ada penggunaan kontrasepsi. Tidak ada
riwayat terpapar radiasi, tidak ada riwayat pengobatan sebelumnya. Tidak ada riwayat konsumsi
alkohol, tidak ada riwayat konsumsi makanan berlemak yang berlebih , tidak ada kebiasaan merokok.
Ada keluarga yang menderita kanker payudara yaitu kakak kandung pasien. Tidak ada keluarga yang
menderita kanker lainnya.
1.3 Pemeriksaan Fisik (Tanggal 8 September 2014)
Status Generalis
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Pernafasan : 20x/menit
Nadi : 84x/menit
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Suhu : 36,8 C
Berat Badan : 52 kg
Tinggi Badan : 152 cm
Keadaan Gizi : Cukup
Kepala
Mata : konjungtiva kedua mata tidak anemis, sklera tidak ikterus.
Hidung : tidak tampak kelainan
Bibir : tidak tampak sianosis
Leher
Inspeksi : tidak tampak benjolan, warna sama dengan daerah kulit sekitar
Palpasi : tidak teraba massa tumor, nyeri tekan (-)
Thoraks
Inspeksi :tampak payudara kiri dan kanan tidak simetris
Palpasi :stem fremitus paru kanan sama dengan kiri
Perkusi :sonor pada kedua hemithoraks, pekak hemithoraks kanan setinggi ICS
Auskultasi :suara napas vesikuler pada kedua hemithoraks, menurun pada hemithoraks kiri setinggi
ICS V.
Regio Mamma sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan, warna kulit sama dengan sekitar, tidak tampak ulkus,
tidak tampak gambaran peau dorange di sekitar papil, retraksi (-).
Palpasi : tidak teraba massa, permukaan rata, tidak ada nyeri tekan, , discharge (-).
Regio Mamma Dextra
Inspeksi : tampak tumor pada daerah kuadran tengah payudara sebesar bola tennis,
dengan permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas, warna kehitaman, peau de orange (-), dimpling
(+), nodul satelit (+), nipple discharge (-), retraksi papil (+) dan terdapat ulkus di bagian tengahnya,
dasar kotor (+), perdarahan aktif (-), pus (+), jaringan nekrotik (+), bentuk bulat, tepi ireguler berwarna
kemerahan, indurasi (+).
Palpasi : teraba tumor dengan ukuran 8 x 6 x 3 cm pada kuadran sentralis, permukaan
berbenjol-benjol, terfiksir (+), nyeri tekan (-), konsistensi padat keras, batas jelas, terdapat ulkus
ditengahnya. Ulkus dengan diameter 4 x 3 cm dengan kedalaman 2 cm.

Regio Axilla Dextra


Inspeksi : tampak massa tumor sebesar bola pingpong , warna kulit sama dengan
sekitar
Palpasi : teraba massa tumor ukuran 3 x 2 x 2 cm, konsistensi padat keras, terfiksir, permukaan rata,
nyeri tekan (-), batas jelas.
Regio Axilla Sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : tidak teraba massa
Regio Supraklavikula Dextra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : tidak teraba massa
Regio Supraklavikula Sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : tidak teraba massa
Abdomen
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Palpasi : massa tumor (-) , nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba.
Perkusi : Timpani
Ekstremitas
Inspeksi : edema pretibial (-/-)
Palpasi : akral hangat

Foto Klinis
1.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium (17-09-2014)
HEMATOLOGI
HASIL
NILAI RUJUKAN
SATUAN

WBC
12.32
4.00 10.0
[103/uL]

RBC
3.23
4.00 6.00
[106/uL]

HGB
8.7
12.0 16.0
[g/dL]

HCT
28.3
37.0 48.0
[%]

PLT
394
150 400
[103/uL]

BT
300
1-7
Menit
CT
800
4-10
Menit

PT
12.4 control 10,0
10-14
Detik

APTT
26.9 control 22,2
22-30
Detik

GDS
103
140
mg/dl

Ur
37
10-50
Mg/dl

Cr
0,90
L(<1,3) P(<1,1)
Mg/dl

SGOT
25
<38
U/L

SGPT
11
<41
U/L

Natrium
146
136-145
mmol/l

Kalium
4.3
3,5-5,1
mmol/l
Klorida
109
97-111
mmol/l

Hasil FNA (27/6/2014) :


Sediaan apusan terdiri dari kelompok-kelompok sel epitel yang cukup seluler dengan inti sedikit atipik,
pleomorfik, kromatin inti sebagian tampak kasar, kohesi pada umumnya masih baik tetap struktur
mioepitel sudah tidak tampak. Dengan latar belakang eritrosit.
Kesan : Adenocarcinoma mammae
Foto thorax

Tampak soft tissue density pada hemithorax dekstra, brbatas tidak tegas (ekstrathoracal)
Multiple lesi noduler, berbagai ukuran yang tersebar di kedua lapangan paru.
Cor membesar dengan CTI 0.58 disertai aorta dilatasi
Kedua sinus dan diafragma baik
Tulang-tulang intak
Kesan
Tumor metastasis paru
Cardiomegaly dan dilatation aortae

USG Abdomen

Hepar: tidak membesar, permukaan reguler, ujung tajam, echo parenkim dalam batas normal, tidak
tampak sol, sistem vaskuler dan bilier tidak dilatasi
Gb: dinding tidak menebal, mukosa reguler tidak nampak echo batu maupun mass
Lien: tidak membesar echo parenkim dalam batas normal, tidak tampak sol
Pankreas : bentuk dan ukuran dalam batas normal, tidak tampak sol, duktus pankreatikus tidak dilatasi
Kedua ginjal : ukuran dan kontur dalam batas normal. kontur dan echo cortex/sinus dalam batas
normal. Tidak tampak dilatasi pcs. Tidak tampak echo batu maupun sol.
Vesica urinaria : mukosa reguler dan tidak menebal, tidak tampak echo batu
Tidak tampak pembesaran kgb pada aorta abdominalis
Kesan :
Tidak tampak kelainan pada USG Abdomen ini

CT-Scan Thoracx

Massa isodens batas tegas ireguler, ukuran 6.9 x 5.5 cm) pada extrothoracal anterior yang
mendekstruksi tulang sekitar tapi tidak tampak menginfiltrasi intrathoracal
Mutiple lesi noduler yang tersebar pada kedua lapangan paru
Tampak pembesaran KGB pada parahilar kiri dan subcarina kanan
Cor dan pembuluh darah besar dalam batas normal
Kalsifikasi pada aorta decenden
Trachea dan main bronchus dalam batas normal
Hepar, GB, Lien dan pancreas dalam batas normal, tidak tampak metastasis
Kesan
Massa extrathoracal yang mendekstruksi tulang sekitar disertai dengan tumor metastasis ke paru
Limfadenopati pada para hilar kiri dan subcarina kanan

Resume
Seorang wanita, 56 tahun, masuk rumah sakit dengan keluhan utam luka pada payudara kanan.
Dialami sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Awalnya hanya berupa ditemukan secara tidak
sengaja sebesar kelereng sejak 2 tahun yang lalu, dengan cepat membesar dan akhirnya dalam 3 bulan
terakhir membentuk luka. Luka disertai rasa nyeri dan berbau. Berat badan dirasakan menurun dalam 5
bulan terakhir sebanyak kurang lebih 8 kg. Nafsu makan dirasakan menurun.
Riwayat menarche tidak diketahui. Riwayat haid teratur. Saat ini pasien telah menopause sejak
usia 50 tahun. Menikah pada usia 20 tahun, tidak memiliki anak. Ada keluarga yang menderita kanker
payudara yaitu kakak kandung pasien.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien sakit sedang, gizi cukup, compos mentis. Tekanan
darah 100/60 mmHg, nadi 84 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit, suhu 36,8 C . Status lokalis regio
mamma dextra pada inspeksi tampak tumor pada daerah tengah payudara sebesar bola tennis, dengan
permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas, warna kehitaman, dimpling (+), nodul satelit (+), retraksi
papil (+) dan terdapat ulkus di bagian tengahnya, dasar kotor (+), pus (+), jaringan nekrotik (+), bentuk
bulat, tepi ireguler dengan warna kemerahan, indurasi (+), pada palpasi teraba tumor dengan ukuran 8 x
6 x 3 cm pada kuadran sentralis, permukaan berbenjol-benjol, terfiksir (+),konsistensi padat keras,
batas jelas, terdapat ulkus ditengahnya. Ulkus dengan diameter 4 x 3 cm dengan kedalaman 2 cm. Pada
inspeksi regio Axilla Dextra tampak massa tumor sebesar bola pingpong , warna kulit sama dengan
sekitar. Pada palpasi, teraba massa tumor ukuran 3 x 2 x 2 cm, konsistensi padat keras, terfiksir,
permukaan rata, nyeri tekan (-), batas jelas.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis dan anemia, dari hasil pemeriksaan
sitologi fine needle aspiration di dapatkan kesan adenocarcinoma mammae. Hasil patologi anatomi
dengan biopsy insisi di dapatkan kesan invasive ductal carcinoma mammae. Untuk pemeriksaan
radiologi pada foto thorax X-ray di dapatkan kesan tumor metastasis paru kemudian dilakukan
pemeriksaan MSCT Thorax dengan kesan Massa extrathoracal yang mendekstruksi tulang sekitar
disertai dengan tumor metastasis ke paru dan limfadenopati pada para hilar kiri dan subcarina kanan.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah rutin,
kimia darah, pemeriksaan sitologi FNA serta pemeriksaan foto thorax dan MSCT Scan Thorax maka
pasien ini di diagnosis dengan Ulcus Tumor Mammae Dextra, cT4cN2M1 (metastase paru) , Karnofsky
70%.
1.6 Diagnosis Kerja
Ulcus Tumor Mammae Dekstra Suspek Malignant

1.7 Stadium
CT4cN2aM1 (metastase paru)
Stadium IV

1.8 Status Penampilan


Karnofsky 70%

1.9 Rencana Terapi


Biopsi Insisi

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Karsinoma mamma adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel parenkim payudara. Kanker
payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma yang ganas berasal dari
parenchyma.1

2.2 Epidemiologi
Berdasarkan laporan dari WHO, tahun 2004 diperkirakan 519.000 wanita meninggal karena kanker
payudara dan dari angka itu, 69% kematian terjadi di negara berkembang. Pada tahun 2008, American
Cancer Society (ACS) memperkirakan telah terjadi hampir 1,4 juta kasus kanker payudara invasif baru
di dunia.
Pada tahun 2002 di Amerika Serikat terjadi 101,1 kasus per 100.000 wanita. Eropa Utara, Amerika
Utara merupakan area dengan insiden tertinggi, Eropa Selatan, Amerika Selatan merupakan area
insiden sedang, Asia, Afrika adalah area dengan insiden rendah. Di China, khususnya di Shanghai pada
tahun 1972 insiden karsinoma mamma adalah 17/100.000, meningkat menjadi 38.2/100.000 pada tahun
2000.
Di Indonesia , insiden kanker payudara dalam 5 tahun terakhir cukup tinggi yaitu sekitar 32% dari total
jumlah kasus kanker. Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Surakarta pada tahun
2005 jumlah kasus kanker payudara adalah 2821 kasus, tahun 2006 sebanyak 5141 kasus dan pada
tahun 2007 sebanyak 6380 kasus. Data RSUD dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, tercatat pada tahun
2009 mencapai 376 kasus, pada tahun 2010 mencapai 617 kasus dan terakhir pada tahun 2011
mencapai 439 kasus. 2,3,4

2.3 Anatomi Payudara


Payudara dewasa normalnya terletak di hemithoraks kanan dan kiri dengan dasarnya terletak
dari kira-kira iga 2-6 atau 3-7. Bagian medial payudara mencapai pinggir sternum dan di lateral sejajar
garis aksilaris anterior. Payudara meluas ke atas melalui suatu ekor aksila berbentuk piramid. Payudara
terletak di atas lapisan fascia otot pektoralis mayor pada dua pertiga superomedial dan otot seratus
anterior pada sepertiga lateral bawah. 4
Sentrum dari kelenjar mammae adalah papilla mamae, sekelilingnya terdapat lingkaran aerola mamae.
Areola mamae memiliki banyak tonjolan kelenjar areolar, waktu menyusui dapat menghasilkan sebum
yang melicinkan papilla mamae. Payudara terdiri dari berbagai struktur yaitu parenkim epitelial,
jaringan lemak, pembuluh darah, saraf, dan saluran getah bening serta otot dan fascia. Parenkim
epitelial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus. Masing masing lobus dialiri oleh sistem duktus dari
sinus laktiferous terbuka pada putting susu, dan masing-masing sinus menerima suatu duktus lobulus
dengan diameter sekitar 2 mm . Di dalam lobus terdapat 40 atau lebih lobulus. Satu lobulus mempunyai
diameter 23 mm. Masing-masing lobulus mengandung 10 sampai 100 alveoli (acini) yang merupakan
unit dasar sekretori. Payudara dibungkus oleh fascia pektoralis superfisialis yang bagian anterior dan
posteriornya dihubungkan oleh ligamentum Cooper sebagai penyangga.2,4,6

a.Vaskularisasi Payudara
Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
Cabang-cabang perforantes a. mammaria interna yang memperdarahi tepi medial glandula mammae
Rami pektoralis a. thorakoakromialis yang memperdarahi glandula mammae bagian dalam (deep
surface)
A. thorakalis lateralis (a. mammaria eksterna) yang memperdarahi bagian lateral payudara
Pembuluh darah lain yang juga penting artinya meskipun tidak memperdarahi glandula mammae
adalah a. thorakodorsalis. Pada tindakan radikal mastektomi perdarahan yang terjadi akibat putusnya
arteri ini sulit dikontrol sehingga daerah ini dinamakan the bloody angle.
Vena
Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena yaitu:
Cabang cabang perforantes v. mammaria interna
2.Cabang-cabang v. aksilaris
v. thorako-akromialis
v. thorako-dorsalis
v. thorako lateralis
Vena-vena kecil yang bermuara pada v.interkostalis
Vena interkostalis bermuara pada v. vertebralis kemudian bermuara pada v. azygos (melalui vena-vena
ini metastase dapat langsung terjadi di paru).

b.Persarafan Payudara
Kulit payudara dipersarafi oleh cabang pleksus servikalis dan n. interkostalis sedangkan jaringan
glandula mammae sendiri dipersarafi oleh sistem simpatis. Persarafan sensoris di bagian superior dan
lateral berasal dari nervus supraklavikular (C3 dan C4) dari cabang lateral nervus interkostal torasik (3
4 ). Bagian medial payudara dipersarafi oleh cabang anterior nervus interkostal torasik. Kuadran lateral
atas payudara dipersarafi terutama oleh nervus interkostobrakialis ( C8 dan T1 ).
c.Sistem Limfatik Payudara
Pembuluh getah bening
Pembuluh getah bening aksila
Pembuluh getah bening mamaria intena
Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara
Kelenjar getah bening aksila
Terdapat beberapa grup kelenjar getah bening aksila:
Kelenjar getah bening mammaria eksterna.Grup ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu, kelompok
superior setinggi interkostal II-III dan kelompok inferior setinggi interkostal IV-VI
Kelenjar getah bening skapula
Kelenjar getah bening sentral (central nodes)
Kelenjar getah bening ini merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan terbanyak jumlahnya,
terletak di dalam jaringan lemak di pusat ketiak. Beberapa di antaranya terletak sangat superfisial di
bawah kulit dan fascia kira-kira pada pertengahan lipat ketiak sehingga relatif paling mudah diraba.
Pentingnya memperhatikan letak dari muskulus pektoralis minor secara tepat saat diseksi
jaringan aksilaris harus ditekankan. Diseksi kelenjar aksilaris level I dimaksudkan untuk
menghancurkan jaringan lateral hingga batas lateral dari muskulus pektoralis minor, diseksi level II
dimaksudkan untuk membuang jaringan diantara batas medial dan lateral otot, dan diseksi jaringan
level III diindikasikan untuk diseksi jaringan medial hingga tepi medial otot. Sebagian besar ahli bedah
hanya mendiseksi level I dan level II. Untuk melakukan diseksi level III, ahli bedah umumnya
membagi muskulus pektoralis minor.
2.4 Faktor Resiko
Etiologi Ca mammae masih belum diketahui secara pasti, namun penyebabnya sangat mungkin
multi faktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain, antara lain:
Usia
Kanker payudara dijumpai pada meningkat tajam hingga usia sekitar 50 tahun (30,35%). Setelah usia
50 tahun frekuensinya tetap meningkat tapi perlahan. Perbedaan insiden berdasarkan usia ini
diinterpretasikan sebagai efek dari hormon ovarium pada perkembangan penyakit.2,3,4
Jenis kelamin
Angka kejadian kanker payudara pada laki-laki hanya 1 %. Kanker payudara 100 kali lebih sering
terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Alasan utamanya adalah karena pada wanita, sel-sel pada
payudara lebih sering terekspose oleh hormon-hormon estrogen dan progesteron yang mempengaruhi
peertumuhan sel-sel pada payudara.9
Menstruasi
Menarche pada usia dini dan menopause yang terlambat dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Menarche sebelum usia 12 tahun mempunyai risiko kanker payudara 20% lebih besar dari menarche
setelah usia 15 tahun. Risiko kanker payudara berkurang sekitar setengahnya jika menopause terjadi
sebelum usia 45 tahun dibandingkan jika menopause terjadi setelah usia 55 tahun. 2,3,6 Hal ini
mungkin disebabkan karena eksposure hormon estrogen dan progesterone yang berkepanjangan yang
mempengaruhi pertumbuhan sel-sel payudara.9
Reproduksi
Status reproduksi juga mempengaruhi risiko terkena kanker payudara. Wanita yang tidak pernah
melahirkan (nullipara) atau yang pertama kali melahirkan anak pada usia lebih dari 31 tahun
mempunyai risiko tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan perempuan yang melahirkan anak
pertamanya sebelum berusia 18 tahun. Wanita yang mempunyai banyak anak (multipara) diasosiasikan
dengan berkurangnya risiko kanker payudara. Menyusui lebih lama juga dianggap dapat menurunkan
risiko kanker payudara.2,4,6
Diet
Wanita-wanita dari negara Barat mempunyai risiko terkena kanker payudara enam kali lebih tinggi
dibandingkan wanita-wanita Asia dan negara berkembang lainnya. Risiko ini akan berubah jika
penduduk dari negara berisiko rendah migrasi ke negara berisiko tinggi dan mengadaptasi pola makan
di negara tersebut. Meskipun demikian pengaruh diet pada insiden kanker payudara tampaknya terjadi
pada usia muda seperti anak-anak dan remaja. Tidak ada data yang membuktikan bahwa perubahan
pola makan dari diet tinggi lemak ke diet rendah lemak pada usia pertengahan dan tua dapat
menurunkan risiko kanker payudara.2,4,6
Riwayat keluarga
Risiko kanker payudara meningkat kira-kira dua kali pada anak perempuan yang ibunya menderita
kanker dan pada wanita yang saudara perempuannya menderita kanker. Kanker familial ini cenderung
terjadi pada usia lebih muda dan bilateral. Peningkatan risiko sebagian besar disebabkan oleh
pewarisan gen-gen yang mempredisposisi kanker payudara. Pada keluarga berisiko tinggi, dengan
empat atau lebih anggota keluarga terkena kanker payudara, 33% di antaranya mengalami mutasi
BRCA-1. Suatu studi populasi menemukan mutasi BRCA-1 pada 12 dari 193 wanita (6,2%) yang
terkena kanker payudara sebelum usia 35 tahun dan pada 15 dari 208 wanita (7,2%) dengan riwayat
kanker payudara pada anggota keluarga tingkat pertama (first-degree relatives). Kanker payudara
familial juga sering berhubungan dengan keganasan pada organ lain seperti colon, ovarium dan
uterus.2,4,6

Hormon
Hormon seks mempengaruhi proliferasi sel-sel dan jaringan payudara serta meningkatkan
karsinogenesis payudara pada hewan percobaan, namun bukti-bukti epidemiologisnya pada manusia
masih merupakan konflik. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam pengukurannya. Sebuah
studi populasi pada wanita postmenopause yang berasal dari negara berisiko tinggi menunjukkan level
serum oestradiol rata-rata sekitar 20% lebih tinggi daripada wanita-wanita yang berasal dari negara
berisiko rendah. Studi case-control lain menunjukkan wanita dengan kanker payudara mempunyai level
progesterone yang lebih tinggi dari kelompok kontrol pada analisis yang terbatas pada saat ovulasi.
Prolactin adalah mitogen dalam jaringan payudara dan merupakan hormon yang penting untuk
perkembangan tumor payudara pada hewan percobaan tapi perannya pada kanker payudara manusia
belum jelas. Meskipun demikian terdapat bukti-bukti yang meyakinkan bahwa level prolaktin
dipengaruhi oleh sejumlah even yang juga mempengaruhi risiko kanker payudara. Selain hormon seks
endogen, hormon seks eksogen seperti terapi pengganti hormon dan kontrasepsi oral juga dianggap
berpengaruh terhadap risiko kanker payudara.
Terapi pengganti hormon meningkatkan risiko kanker payudara pada orang-orang yang baru atau
sedang menggunakan (dalam jangka waktu lima tahun). Risiko meningkat sekitar 2% untuk setiap satu
tahun penggunaan. Kontrasepsi oral juga dikatakan dapat meningkatkan risiko bila digunakan jangka
panjang. Pada penelitian terbukti kontrasepsi oral hanya sedikit meningkatkan risiko kanker payudara
yaitu sebesar 1,24% pada orang yang sedang menggunakan dan sebesar 1,16% pada orang yang telah
berhenti menggunakan 1-4 tahun sebelumnya.2,4,6
j. Radiasi
Pada hewan percobaan terbukti adanya peranan sinar radiasi sebagai faktor penyebab kanker payudara.
Dari penelitian epidemiologi setelah ledakan bom atom atau penelitian pada orang setelah pajanan sinar
rontgen, peranan sinar ionisasi sebagai faktor penyebab pada manusia lebih jelas.2

2.5 Metastasis Kanker Payudara


Metastasis kanker payudara dapat terjadi melalui dua jalan:
Metastasis melalui sistem vena
Melalui sistem vena kanker payudara dapat bermetastasis ke paru-paru, vertebra, dan organ-
organ lain. V. mammaria interna merupakan jalan utama metastasis kanker payudara ke paru-paru
melalui sistem vena sedangkan metastasis ke vertebra terjadi melalui vena-vena kecil yang bermuara ke
v.interkostalis yang selanjutnya bermuara ke dalam v. vertebralis.

Metastasis melalui sistem limfe


Metastasis melalui sistem limfe pertama kali akan mengenai KGB regional terutama KGB aksila. KGB
sentral (central nodes) merupakan KGB aksila yang paling sering (90%) terkena metastasis sedangkan
KGB mammaria eksterna adalah yang paling jarang terkena. Kanker payudara juga dapat bermetastasis
ke KGB aksila kontralateral tapi jalannya masih belum jelas, diduga melalui deep lymphatic fascial
plexus di bawah payudara kontralateral melalui kolateral limfatik. Jalur ini menjelaskan mengapa bisa
terjadi metastasis ke kelenjar aksila kontralateral tanpa metastasis ke payudara kontralateral.
Metastasis ke KGB supraklavikula dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penyebaran
langsung yaitu melalui kelenjar subklavikula tanpa melalui sentinel nodes. Penyebaran tidak langsung
melalui sentinel nodes yang terletak di sekitar grand central limfatik terminus yang menyebabkan stasis
aliran limfe sehingga terjadi aliran balik menuju ke KGB supraklavikula. Metastasis ke hepar selain
melalui sistem vena dapat juga terjadi melalui sistem limfe. Keadaan ini dapat terjadi bila tumor primer
terletak di tepi medial bagian bawah payudara dan terjadi metastasis ke kelenjar preperikardial.
Selanjutnya terjadi stasis aliran limfe yang berakibat adanya aliran balik limfe ke hepar.
2.6 Staging Ca Mammae
TNM Staging
Tx Tumor primer tidak dapat ditentukan
T0 Tidak terbukti adanya tumor
Tis Carcinoma in situ : Ca intraductal, Ca lobular in situ, atau Pagets disease pada nipple tanpa
tumor
T1 Ukuran terbesar tumor ( 2 cm
T1a Ukuran terbesar tumor ( 0,5 cm
T1b Ukuran terbesar tumor ( 0,5 cm tetapi tidak melebihi 1 cm
T1c Ukuran terbesar tumor ( 1 cm tetapi tidak melebihi 2 cm
T2 Ukuran terbesar tumor ( 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm
T3 Ukuran terbesar tumor ( 5 cm
T4 Tumor dengan ukuran berapapun dengan ekstensi langsung terhadap
dinding dada atau kulit
T4a Ekstensi ke dinding dada
T4b Edema (termasuk Peau dorange) atau ulserasi kulit mammae atau
satelit KGB kulit teraba pada mammae yang sama
T4c T4a dan T4b
T4d Inflamatory carcinoma

KGB Regional (N)


Nx KGB regional tidak dapat dinilai
N0 Tidak ada metastasis ke KGB
N1 Metastasis ke KGB axillaris ipsilateral, dapat digerakan
N2 Metastasis ke KGB axillaris ipsilateral, melekat terhadap KGB atau struktur lain
N2a : Metastasis pada kgb aksila terfiksir atau berkonglomerasi atau melekat ke struktur lain
N2b :Metastasis hanya pada kgb mamaria interna ipsilateral secara klinis dan tidak terdapat metastasis
pada kgb aksila
N3 : Metastasis pad kgb infraklavikular ipsilateral degan atau tanpa metastasis kgb aksila atau klinis
terdapat metastasis pada kgb mamaria interna ipsilateral klinis dan metastasis pada kgb aksila atau
metastasis pad kgb supraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa metastasis pada kgb aksila/mamaria
interna
N3a :Metastasis ke kgb infraklavikular ipsilateral
N3b :Metastasis ke kgb mamaria interna dan kgb aksila
N3c :Metastasis ke kgb supraklavikular
Metastasis jauh (M)
Mx Adanya metastasis jauh tidak dapat diperkirakan
M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Ada metastasis jauh (metastasis ke KGB supraclavicular ipsilateral)
Stage Grouping
Stage 0
Tis
N0
M0

Stage I
T1
N0
M0

Stage IIA
T0
T1
T2
N1
N1*
N0
M0
M0
M0

Stage IIB
T2
T3
N1
N0
M0
M0

Stage IIIA
T0
T1
T2
T3
T3
N2
N2
N2
N1
N2
M0
M0
M0
M0
M0

Stage IIIB
T4
T berapapun
N berapapun
N3
M0
M0

Stage IV
T berapapun
N berapapun
M1

Histopatologic grade
GX: Grade cannot be assessed
G1: Well-differentiated
G2: Moderately differentiated
G3: Poorly differentiated
G4: Undifferentiated
(Harris J.R, Lippman M.E, Morrow M, Osborne K, 2000., Morris J.P, Wood W.C, 2000).

2.7 Diagnosis
2.7.1 Anamnesis
Keluhan utama penderita dapat berupa: adanya benjolan pada payudara; rasa nyeri; keluar cairan dari
puting susu; retraksi puting susu; adanya ekzema di sekitar areola; keluhan kulit berupa dimpling,
venektasi, ulserasi atau adanya peau dorange; adanya benjolan di ketiak; edema lengan dan tanda
metastasis jauh misalnya nyeri tulang (vertebrae, femur), rasa penuh di ulu hati, batuk, sesak, dan sakit
kepala hebat.2,3,6,8
Benjolan payudara dapat dideteksi pada 90% pasien dengan kanker payudara dan merupakan tanda
yang paling umum. Benjolan kanker cenderung soliter, unilateral, padat, keras, ireguler, tidak dapat
digerakkan (nonmobile), cepat membesar dan tidak nyeri. Cairan yang keluar secara spontan dari
puting susu (nipple discharge) adalah tanda kedua yang paling umum dari kanker payudara. Karakter
nipple discharge dapat membantu menegakkan diagnosis. Cairan seperti susu menandakan galaktore,
cairan purulen disebabkan oleh infeksi, dan cairan multiwarna atau lengket menandakan ektasia duktus
(comedomastitis). Cairan serous, serosanguinus, berdarah atau seperti air mungkin menandakan
papiloma (80%) atau karsinoma intraduktal (20%).6
Selain itu juga perlu ditanyakan mengenai pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor;
menstruasi pertama pada usia berapa; bila sudah menopause, pada usia berapa; usia saat pertama kali
melahirkan anak; menyusui atau tidak; riwayat kanker payudara atau kanker lainnya dalam keluarga;
riwayat pemakaian obat-obat hormonal; riwayat operasi tumor payudara atau tumor ginekologik; dan
riwayat radiasi di daerah dada. Faktor-faktor risiko ini perlu ditanyakan agar dokter dapat
mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan mamografi pada penderita yang berisiko tinggi, dan
bagi pasien agar lebih waspada dan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Keluhan pasien di
organ lain yang berhubungan dengan metastasis perlu ditanyakan seperti batuk, sesak, rasa penuh di ulu
hati, nyeri tulang, dan sakit kepala hebat. Tanda-tanda umum tentang nafsu makan dan penurunan berat
badan juga perlu ditanyakan.2,3

Pemeriksaan Fisik
Pada status generalis, selain tanda vital perlu juga diperiksa performance status penderita. Karena
payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya
pemeriksaan payudara dilakukan saat pengaruh hormon ini seminimal mungkin, yaitu setelah lebih
kurang satu minggu dari hari pertama menstruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti,
ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi.
Teknik pemeriksaan2,4,10
Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka
Posisi tegak (duduk)
Lengan penderita jatuh bebas di samping tubuh, pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih
kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat simetri payudara kiri dan kanan; perubahan kulit berupa peau
dorange, kemerahan, dimpling, edema, ulserasi dan nodul satelit; kelainan puting susu seperti retraksi,
erosi, krusta dan adanya discharge.
Posisi berbaring
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada, jika perlu
bahu atau punggung diganjal dengan bantal kecil terutama pada penderita yang payudaranya besar.
Palpasi dilakukan dengan mempergunakan falang distal dan falang medial jari II, III dan IV yang
dikerjakan secara sistematis mulai dari kranial setinggi iga kedua sampai ke distal setinggi iga keenam,
juga dilakukan pemeriksaan daerah sentral subareolar dan papil. Palpasi juga dapat dilakukan dari tepi
ke sentral (sentrifugal) berakhir di daerah papil. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan keluar
dengan menekan daerah sekitar papil. Pemeriksaan dengan rabaan halus akan lebih teliti daripada
dengan rabaan kuat karena rabaan halus akan dapat membedakan kepadatan massa payudara.
Pada pemeriksaan ini ditentukan lokasi tumor berdasarkan kuadran payudara (lateral atas, lateral
bawah, medial atas, medial bawah, dan daerah sentral), ukuran tumor (diameter terbesar), konsistensi,
permukaan, bentuk dan batas-batas tumor, jumlah tumor serta mobilitasnya terhadap jaringan sekitar
payudara, kulit, m.pektoralis dan dinding dada.
Pemeriksaan kelenjar getah bening regional
Aksila
Sebaiknya dalam posisi duduk karena dalam posisi ini fossa aksila jatuh ke bawah sehingga mudah
untuk diperiksa dan lebih banyak yang dapat dicapai. Pada pemeriksaan aksila kanan tangan kanan
penderita diletakkan atau dijatuhkan lemas di tangan/bahu kanan pemeriksa dan aksila diperiksa
dengan tangan kiri pemeriksa. Diraba kelompok KGB mammari eksterna di bagian anterior dan di
bawah tepi m.pektoralis aksila; KGB subskapularis di posterior aksila; KGB sentral di bagian pusat
aksila; dan KGB apikal di ujung atas fossa aksilaris. Pada perabaan ditentukan ukuran, konsistensi,
jumlah, apakah terfiksasi satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya.
Supra dan infraklavikula serta leher utama, bagian bawah dipalpasi dengan cermat dan teliti. Selain
payudara dan KGB, organ lain yang ikut diperiksa adalah paru, tulang, hepar, dan otak untuk mencari
metastase jauh.
Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis karsinoma mamma. Pemeriksaan
penunjang disini dibagi 4 yaitu pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan
patologi anatomi dan pemeriksaan penanda tumor.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin dan kimia darah dilakukan sesuai dengan perkiraan metastasis
misalnya alkali fosfatase dan liver function tests untuk metastasis ke hepar atau kadar kalsium dan
fosfor untuk metastase tulang.2,3,
Pemeriksaan radiologi
Mammografi merupakan suatu pemeriksaan dengan soft tissue technic yang dapat mendeteksi 85%
kanker payudara. Meskipun 15% kanker payudara tidak bisa divisualisasikan dengan mammografi,
45% kanker payudara dapat dilihat pada mammografi sebelum mereka dapat diraba. Adanya proses
keganasan akan memberikan tandatanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif,
comet sign, mikrokalsifikasi, deposit kalsium baik dalam pola mulberrry atau curvilinear, dan distorsi
duktus mamaria. Tanda-tanda sekunder berupa bertambahnya vaskularisasi, adanya bridge of tumor dan
jaringan fibroglanduler tidak teratur. Mammografi sangat baik digunakan untuk diagnosis dini dan
skrining, hanya saja untuk skrining harganya mahal sehingga dianjurkan penggunaan yang selektif
yaitu untuk wanita-wanita dengan risiko tinggi. Sensitifitas mammografi sekitar 75% dan
spesifisitasnya hampir 90%.6
Ultrasonografi berguna terutama untuk membedakan lesi padat atau kistik juga untuk memandu FNAB
dan core-needle biopsy. Mammografi dan USG payudara dilakukan pada tumor yang berukuran < 3cm.
Pemeriksaan lain seperti foto thoraks, bone scanning dan/atau bone survey, USG abdomen, dan CT
scan dilakukan untuk mencari metastasis jauh. Pemeriksaan yang direkomendasikan oleh PERABOI
adalah foto thoraks dan USG abdomen sedangkan bone scanning dan/atau bone survey (bila sitologi
dan/atau klinis sangat mencurigakan pada lesi > 5cm) dan CT scan dilakukan atas indikasi. Metastasis
di parenkim paru pada foto rontgen memperlihatkan gambaran coin lesion yang multipel dengan
ukuran yang bermacam-macam. Metastasis dapat pula mengenai pleura yang akan menimbulkan efusi
pleura. Metastasis ke tulang vertebra akan terlihat pada foto rontgen sebagai gambaran
osteolitik/destruksi yang dapat menyebabkan fraktur patologis.2,3
Pemeriksaan patologi anatomi
Pemeriksaan sitopatologi dilakukan dengan FNAB (fine needle aspiration biopsy). Sensitivitasnya
dalam mendiagnosis keganasan dilaporkan sebesar 90-95% bila tepat cara pengambilan dan
diekspertise oleh ahlinya.2,3
Pemeriksaan histopatologi jaringan (gold standard). Pemeriksaan histologi jaringan merupakan cara
untuk menegakkan diagnosis pasti kanker payudara. Bahan pemeriksaan dapat diambil melalui biopsi
eksisional (untuk ukuran tumor < 3cm) atau biopsi insisional (untuk tumor operabel dengan ukuran >
3cm sebelum operasi definitif dan untuk tumor yang inoperabel) yang kemudian diperiksa potong beku
atau PA. Untuk biopsi kelainan yang tidak dapat diraba seperti temuan pada mammografi dapat
dilakukan ultrasound atau stereotactic core biopsy yaitu pungsi dengan jarum besar yang akan
menghasilkan suatu silinder jaringan yang cukup untuk pemeriksaan termasuk teknik biokimia.2,3,6
Pemeriksaan penanda tumor (tumor marker) dan imunohistokimia
Pemeriksaan kadar CEA dan CA 27.29 (CA 15-3) mungkin berguna untuk memantau respon terhadap
terapi pada penyakit yang sudah lanjut. Pemeriksaan imunohistokimia seperti ER, PR, c-erb-2 (HER-2
neu), cathepsin-D, dan p53 bersifat situasional.6
2.8 Terapi
Modalitas terapi
Untuk kanker payudara terdapat beberapa modalitas terapi yang bisa dipilih:
Operasi 2,3,,7
Terdapat beberapa jenis operasi untuk terapi yaitu radical mastectomy, modified radical mastectomy,
simple mastectomy, BCS (breast conserving surgery), dan BCT (breast conversing teraphy)
Pada mastektomi radikal merupakan jenis operasi pertama yang digunakan. Masektomi radikal
dilakukan pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya, m.pektoralis mayor, m.pektoralis
minor, dan semua kelenjar ketiak sekaligus.
Setelah tahun 60-an mastektomi radikal mulai digantikan oleh mastektomi radikal yang telah
dimodifikasi oleh Patey. Pada mastektomi radikal modifikasi ini m.pektoralis mayor dipertahankan
sehingga suplai persarafannya tidak terganggu dan efek kosmetik pada dinding dada yang terjadi bila
dilakukan mastektomi radikal dapat dikurangi. M.pektoralis minor dapat pula dipertahankan, atau
diangkat, atau diretraksi untuk mendapatkan akses ke aksila. Bukti-bukti menunjukkan tidak ada
perbedaan pada tingkat rekurensi lokal dan survival antara mastektomi radikal dan mastektomi radikal
modifikasi.
Pada mastektomi simpel dilakukan pengangkatan payudara saja tanpa mengangkat limfonodus atau
otot. Pembesaran KGB aksila diterapi dengan radioterapi. Metode ini dipopulerkan oleh MacWhirter di
Inggris. Bila dilakukan pengangkatan payudara pertimbangkan kemungkinan rekonstruksi mammae
dengan implantasi prostesis atau cangkok flap muskulokutan. Rekonstruksi ini dapat dilakukan
sekaligus dengan bedah kuratif atau beberapa waktu setelah radioterapi atau kemoterapi adjuvan. Bila
hal ini tidak dapat dilakukan usahakan prostesis eksterna.
Jenis tindakan lainnya ialah dengan breast conversing therapy (BCS), merupakan tindakan untuk
kanker mamae. Dengan tujuan mempertahankan payudara. BCS meliputi pengangkatan tumor dengan
beberapa jenis antara lain lumpektomi, kuadranektomi, atau eksisi segmental ditambah dengan
pengangkatan kelenjar getah bening aksilla.
Sekarang, biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan mempertahankan payudara yang disebut
dengan breast conserving therapy (BCT). BCT merupakan satu paket yang terdiri dari tiga tindakan
yaitu pengangkatan tumor (lumpektomi luas atau tumorektomi atau segmentektomi atau
kuadrantektomi) ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi pada sisa payudara tersebut, atau
dengan kata lain BCS diikuti dengan radioterapi. Penyinaran diperlukan untuk mencegah kambuhnya
tumor di payudara dari jaringan tumor yang tertinggal atau dari sarang tumor lain (karsinoma
multisentrik). BCT secara kosmetik lebih baik dari mastektomi bahkan yang telah direkonstruksi
sekalipun. Tapi diseksi aksila disini lebih sulit dikerjakan karena otot-otot pektoral tetap intact dan
jaringan payudara masih ada sehingga pembukaan lapangan operasi aksila terhambat.
Indikasi BCT:
T: 3 cm (stadium I atau II)
Pasien ingin mempertahankan payudaranya
Syarat BCT:
Keinginan penderita setelah dilakukan informed consent
Penderita dapat melakukan kontrol rutin setelah pengobatan
Tumor terletak tidak sentral
Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk kosmetik pasca BCT
Mammografi tidak memperlihatkan mikrokalsifikasi atau tanda keganasan lain yang difus (luas)
Tumor tidak multipel
Belum pernah terapi radiasi di dada
Tidak menderita SLE atau penyakit kolagen
Terdapat sarana radioterapi yang memadai (megavolt)

Radiasi 2,3,6,7
Radioterapi untuk kanker payudara dapat diberikan sebagai terapi primer, adjuvan atau paliatif.
Radioterapi kuratif tunggal tidak begitu efektif tetapi radioterapi adjuvan cukup bermanfaat.
Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu terbatas bila tumor sudah tidak
operabel.
Radioterapi adjuvant diberikan bila ditemukan keadaan sebagai berikut:
Setelah tindakan operasi terbatas (BCS)
Tepi sayatan dekat (T T2) atau tidak bebas tumor
Tumor sentral atau medial
KGB (+) dengan ekstensi ekstra kapsuler

Kemoterapi 2,3,6,7
Kemoterapi merupakan salah satu terapi sistemik yang dapat digunakan sebagai terapi adjuvan atau
paliatif. Kemoterapi adjuvan dapat diberikan pada pasien pascamastektomi yang pada pemeriksaan
histopatologik ditemukan metastasis di sebuah atau beberapa kelenjar. Kemoterapi juga dapat diberikan
sebelum pembedahan pada kanker payudara yang besar namun masih operabel pada stadium lokal
lanjut. Berdasarkan penelitian kemoterapi yang disebut kemoterapi neo adjuvan ini dapat mengecilkan
ukuran tumor sehingga memudahkan pembedahan. Kemoterapi paliatif dapat diberikan pada pasien
yang telah menderita metastasis sistemik.
Hormonal 2,3,6,7
Dasar dari pemberian terapi hormonal adalah fakta bahwa 30-40% kanker payudara adalah hormon
dependen. Terapi ini semakin berkembang dengan ditemukannya reseptor estrogen dan progesteron.
Kanker payudara dengan reseptor estrogen dan progesteron yang merespons positif terapi hormonal
mencapai 77%. Terapi hormonal merupakan terapi utama stadium IV di samping kemoterapi karena
kedua-duanya merupakan terapi sistemik. Terapi hormonal biasanya diberikan sebelum kemoterapi
karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya lebih sedikit.
Sebelum pemberian terapi hormonal dilakukan uji reseptor (estrogen receptor/ER positif atau
progesteron receptor/PR positif) dan dipertimbangkan status hormonal penderita (premenopause, 1-5
tahun menopause, dan pascamenopause). Setelah itu dapat ditentukan apakah terapi hormonal akan
diberikan secara additif atau ablatif. Terapi additif berupa pemberian obat-obatan (antiestrogen,
aromatase inhibitor, megestrol acetate dan androgen atau estrogen) dilakukan pada pasien
pascamenopause. Yang tergolong antiestrogen adalah tamoxifen citrate, toremifene, dan raloxifene tapi
raloxifene lebih banyak digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Aromatase inhibitor seperti
anastrozole dan letrozole menghambat konversi androgen menjadi estrogen. Terapi ablatif berupa
ovarektomi bilateral, dilakukan bila tanpa pemeriksaan reseptor, pada wanita premenopause dan wanita
yang sudah 1-5 tahun menopause dengan ER (+) dan pada penyakit yang bersifat slow growing dan
intermediate growing.
Imunologik
Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER-2 secara
berlebihan dan untuk pasien seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secara khusus dirancang untuk
menyerang HER-2 dan menghambat pertumbuhan tumor, bisa menjadi pilihan terapi. Pasien sebaiknya
juga menjalani tes HER-2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab.
Pilihan terapi berdasarkan stadium 2
Pada stadium I, II, dan III awal (stadium operabel) sifat pengobatan adalah kuratif dengan pembedahan
sebagai terapi primer, terapi lainnya hanya bersifat adjuvan. Semakin cepat dilakukan pembedahan
semakin tinggi kurasinya. Sedangkan untuk stadium III akhir dan IV sifat pengobatannya adalah
paliatif yaitu terutama untuk mengurangi penderitaan pasien dan memperbaiki kualitas hidup.
Kanker payudara stadium 0
Dilakukan BCS atau mastektomi simpel. Terapi definitif pada T0 tergantung pada pemeriksaan blok
parafin, lokasinya didasarkan pada hasil pemeriksaan imaging.
Kanker payudara stadium dini/operabel
Dilakukan BCS (harus memenuhi syarat) atau mastektomi radikal modifikasi atau mastektomi radikal
dengan atau tanpa terapi adjuvan. Terapi adjuvan diberikan berdasarkan ada atau tidaknya metastase ke
kelenjar getah bening aksila, reseptor estrogen atau reseptor progesteron, dan usia premenopause atau
postmenopause atau usia tua.

Tabel 1. Terapi adjuvan pada node negative (KGB histopatologi negatif)


Status menopause
Reseptor hormonal
Risiko tinggi

Premenopause
ER (+) / PR (+)
ER (-) / PR (-)
Ke + Tam / Ov
Ke

Postmenopause
ER (+) / PR (+)
ER (-) / PR (-)
Tam + Kemo
Ke

Usia tua
ER (+) / PR (+)
ER (-) / PR (-)
Tam + Kemo
Ke

Tabel 2. Terapi adjuvan pada node positive (KGB histopatologi positif)


Status menopause
Reseptor hormonal
Risiko tinggi

Premenopause
ER (+) / PR (+)
ER (-) / PR (-)
Ke + Tam / Ov
Ke

Postmenopause
ER (+) / PR (+)
ER (-) dan / PR (-)
Ke + Tam
Ke

Usia tua
ER (+) / PR (+)
ER (-) dan PR (-)
Tam + Kemo
Ke

Kanker payudara lokal lanjut/ locally advanced


Operable locally advanced
Mastektomi simpel/MRM + radiasi kuratif + kemoterapi adjuvant + terapi hormonal
Inoperable locally advanced
Radiasi kuratif + kemoterapi + terapi hormonal
Radiasi + operasi + kemoterapi + terapi hormonal
Kemoterapi neoadjuvan + operasi + kemoterapi + radiasi + hormonal terapi

Kanker payudara lanjut metastase jauh


Terapi primer pada stadium IV adalah terapi sistemik yaitu terapi hormonal dan kemoterapi. Terapi
lokoregional seperti radiasi dan pembedahan hanya dilakukan bila perlu. Radiasi kadang diperlukan
untuk paliasi pada daerah-daerah tulang weight bearing yang mengandung metastase atau pada tumor
bed yang berdarah, difus, dan berbau yang mengganggu sekitarnya.
2.9 Prognosis
5-year survival rate untuk stadium I yaitu 94%, untuk stadium IIa yaitu 85%, untuk stadium IIb
yaitu 70%, sedangkan untuk stadium IIIa yaitu 52%, stadium IIIb yaitu 48% dan untuk stadium IV
yaitu 18% (Schwartzs, 2006)

DAFTAR PUSTAKA
World Health Organization. Breast cancer : Prevention and Control .2009. Available from :
HYPERLINK "http://www.who.int" www.who.int .
Ramli, Muchlis. Kanker Payudara. Soelarto Reksoprodjo dkk (editor). Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.
Edisi Pertama. Binarupa Aksara. 1995. Hlm: 342-364.
Albar, Zafiral Azdi dkk (editor). Protokol PERABOI 2003. PERABOI. Jakarta. Edisi Pertama. 2004.
Hlm: 2-15.
Asrul. Hubungan antara Besar Tumor dan Tipe Histologi Kanker Payudara dengan Adanya Metastase
pada Kelenjar Getah Bening Aksila. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara. 2003. Available from: HYPERLINK "http://www.usu.ac.id" http://www.usu.ac.id .
De Jong, Wim . Buku Ajar Ilmu Bedah . EGC. Jakarta. Edisi Pertama . 2005 . Hlm : 387-402.
Manuaba, Tjakra W. Payudara. R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (editor). Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi Kedua. EGC. 2004. Hlm: 387-402.
Haskell, Charles M. and Dennis A. Casciato. Breast Cancer. Dennis A. Casciato and Berry B. Lowitz
(editors). Manual on Clinical Oncology. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia. 2000. Page: 11.
Souhami, Robert L. Et al (editors). Oxford Textbook of Oncology. 2nd Ed. Oxford Press. Page: 110-
116
American Cancer Society . Detailed Guide : Breast Cancer . 2009. Available from : HYPERLINK
"http://www.acs.org" www.acs.org .
Makhoul, Issam. Breast Cancer: Overview. 2006 Available from: HYPERLINK
"http://www.emedicine.com" http://www.emedicine.com .
Toward Optimized Practice (TOP) Program. Guideline for the Early Detection of Breast Cancer.
Available from: HYPERLINK "http://www.albertadoctors.org" http://www.albertadoctors.org e19