Anda di halaman 1dari 16

SISTEM INDERA PADA HEWAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Fisiologi Hewan

Disusun Oleh :

Dwi Septi Ningsih 201010070311064


Susan Aminah 201010070311066
Febri Retno Kartika N 201010070311099

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
serta hidayah Nya sehingga penyusun dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Dalam
menyelesaikan makalah ini penyusun mengalami banyak hambatan. Dalam proses penyelesaian
makalah ini tidak lepas dari bantuan segala pihak. Untuk itu penyusun mengucapkan terima
kasih kepada:
Bpk Drs. Nur Widodo M,kes selaku pembimbing mata kuliah Fisiologi Hewan yang telah
memberikan pengarahan dalam perumusan makalah ini sehingga selesai.
Teman teman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya Jurusan Pendidikan
Biologi kelas 4B yang berkenan membantu penyelesaian makalah ini.
Semua tim penyusun beserta segenap pihak yang telah membantu dan tidak bisa disebut satu
persatu.
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dalam
mata kuliah Fisiologi Hewan khususnya mengenai subbab pembahasan Sisten Indera pada
Hewan. Tatkala pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak begitu pula dengan
makalah ini yang jauh dari sempurna. Untuk itu kami selaku tim penyusun mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.

Malang, 13 Maret 2012

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
Kata Pengantar...................................................................................... ii
Daftar isi............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang...................................................................................... 1
Rumusan Masalah................................................................................. 2
Tujuan................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Indera................................................................ 3
2.2 Penyebab Homoseksual.................................................................. 4
2.3 Beberapa Spesies Homoseksual..................................................... 5
2.4 Dampak Akibat Homoseksualitas Hewan...................................... 13
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN .................................................................................... 14
SARAN................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap organisme hidup mempunyai sistem koordinasi yang disebut koordinasi indera
untuk melakukan aktivitas sehari- hari baik itu pada hewan vetebrata ataupun pada hewan in
vetebrata. Hewan- hewan ini memiliki suatu alat indera. Misalnya untuk melihat. Hewan
vetebrata atau hewan bertulang belakang memiliki indera penglihat atau mata, indra pencium
(hidung), indera peraba (kulit) dan indera pendengar (telinga). Sebenarnya alat indera pada
hewan invertebrata tidak selengkap pada hewan vertebrata, akan tetapi sistem indera mereka juga
dapat bekerja dengan baik.
Pada hewan invetebratanya seperti protozoa hewan ini tidak memiliki indera, akan tetapi
peka terhadap rangsangan, Coloenterata menggunakan Tentakel sebagai alat peraba, pada cacing
tanah memiliki indera yang berada dipermukaan tubuhnya dan peka terhadap rangsangan. Hewan
ini hanya mampu membedakan antara gelap dan terang saja.
Pada hewan vetebrata yang memiliki sistem indera yang sempurna menggunakan mata
untuk melihat, hidung yang berfungsi sebagai indra pencium, tangan atau kulit sebagai indra
peraba dan telinga yang berfungsi sebagai indra pendengar. Begitu juga pada manusia. Kita
memiliki hidung, mata kulit atau tangan dan telinga untuk menjalankan fungsinya masing-
masing sesuai dengan kegunaannya.

Setiap indra menerima stimulus khusus untuk penginderaan yang sesuai. Impuls sensoris
yang berakhir pada pusat-pusat indera di otak, akan menimbulkan penginderaan yang
disadari. Oleh karena fungsinya yang fital bagi mahkluk hidup kiranya akan lebih baik jika
kita mempelajari hal ini lebih lanjut.

B. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisannya antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui fungsi sistem indra pada hewan
2. Untuk mengetahui struktur masing masing alat indera pada hewan khususnya vertebrata
3. Untuk Mengetahui perbedaan sistem indra antara satu hewan dengan yang dengan hewan yang
lainya.
4. Untuk Mengetahui macam macam dan cara kerja reseptor
5. Untuk Mengetahui
C. Manfaat Penulisan
Adapun yang mamfaat penulisannya adalah :
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perkembangan dan sistem indera pada hewan
2. Memahami tentang perbedaan sistem indera antara satu hewan dengan yang lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Sistem Indera
Sistem Indera adalah kumpulan reseptor yang khas untuk menyadari suatu bentuk
perubahan lingkungan. Agar dapat terjadi suatu penginderaan harus dipenuhi empat syarat
mutlak yaitu:
1. Adanya stimulus atau perubahan lingkungan yang mampu unuk membangkitkan respon
sistem saraf.
2. Reseptor atau organ indra harus dapat menerima stimulus dan mengubahnya menjadi
impuls saraf .
3. Impuls saraf harus dihantarkan sepanjang lintasan saraf dari reseptor atau organ indra ke
otak.
4. Pusat indra yang bersangkutan di otak harus menterjemahkan impuls saraf yang
diterimanya menjadi sebuah kesan.
Setiap indra menerima stimulus khusus untuk penginderaan yang sesuai. Impuls sensoris
yang berakhir pada pusat-pusat indera di otak, akan menimbulkan penginderaan yang
disadari. Jika impuls dari organ indera dihantarkan ke medula spinalis maka akan terjadi
juga aktivitas motoris tetapi penginderaan yang dihasilkan bersifat tidak disadari.

1.2 Macam Macam Reseptor


Apabila dibagi kedalam kelompok alat indera, maka dapat kita bagi kedalam tiga grup
kelompok, yakni :
1. Kemoreseptor
Yaitu alat indera yang merespon terhadap rangsangan zat kimia yaitu indera pembau
(hidung) dan indera pengecap (lidah). Penciuman, penghiduan, atau olfaksi, adalah penangkapan
atau perasaan bau. Perasaan ini dimediasi oleh sel sensor tespesialisasi pada rongga hidung
vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor pada antena invertebrata.
Untuk hewan penghirup udara, sistem olfaktori mendeteksi zat kimia asiri atau, pada
kasus sistem olfaktori aksesori, fase cair. Pada organisme yang hidup di air, seperti ikan atau
krustasea, zat kimia terkandung pada medium air di sekitarnya.
Penciuman, seperti halnya pengecapan, adalah suatu bentuk kemosensor. Zat kimia yang
mengaktifkan sistem olfaktori, biasanya dalam konsentrasi yang sangat kecil, disebut dengan
bau.
2. Mekanoreseptor
Yaitu alata indera yang merespon terhadap rangsangan gaya berat, tegangan suara dan
tekanan yakni indera peraba (kulit) dan indera pendengaran (telinga). Pendengaran adalah
kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini
dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak.
Tidak semua suara dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat
mengenali amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai
20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus, sistem
pendengaran dapat menjadi rusak.
3. Photoreseptor/ Fotoreseptor
Yaitu alat indera yang merespon terhadap rangsangan cahaya seperti indera penglihatan
atau mata. Penglihatan adalah kemampuan untuk mengenali cahaya dan menafsirkannya, salah
satu dari indra. Alat tubuh yang digunakan untuk melihat adalah mata.
Banyak binatang yang indra penglihatannya tidak terlalu tajam dan menggunakan indra
lain untuk mengenali lingkungannya, misalnya pendengaran untuk kelelawar.
4. Interoreseptor
Interoreseptor stimulus dari dalam tubuh, terletak di dalam otot, sendi, tendon, dan organ-
organ visera. Tiap otot rangka, tendon dan persendian memiliki proprioreseptor, yang peka
terhadap perubahan tegangan atau regangan otot. Impuls dari proprioreseptor sangat penting
untuk dapat terjadi kontraksi yang serasi dari beberapa otot yang terlibat dalam suatu gerakan,
dan untuk mempertahankan keseimbangan posisi tubuh.

Indera berperan sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima
rangsangan. Ada lima macam indera yaitu :
Mata, sebagai penerima rangsang cahaya (fotoreseptor)
Telinga, sebagai penerima rangsang getaran bunyi (fonoreseptor) dan tempat beradanya
indera keseimbangan 9statoreseptor)
Hidung, sebagai penerima rangsang bau berupa gas (kemoreseptor)
Lidah, sebagai penerima rangsang zat yang terlarut (kemoreseptor)
Kulit, sebagai penerima rangsang sentuhan (tangoreseptor)
Tiap indera akan berfungsi dengan sempurna apabila :
1. Indera tersebut secara anatomi tidak ada kelainan
2. Bagian untuk penerima rangsang bekerja dengan baik
3. Saraf-saraf yang membawa rangsang dari dan ke otak bekerja dengan baik
4. Pusat pengolahan rangsang di otak bekerja dengan baik.
Alat indera dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Menurut distribusinya
Indra umum
Tersebar luas di seluruh tubuh, contohnya adalah indra rasa sakit.
Indra khusus
Indra ini hanya berada di tempat-tempat tertentu, contohnya adalah fotoreseptor pada
retina mata.
2. Menurut lingkungan fisik yang mempengaruhinya
Eksteroreseptor
Eksteroreseptor menerima stimulus dari luar tubuh, terletak di bagian tubuh. Terletak
pada bagian tubuh yang dapat berhubungan langsung dengan lingkungan luar.
Ada beberapa jenis eksoreseptor pada hewan yaitu:

1. Pit organ
Merupaka indera perasa panas yang digunakan oleh hewan untuk menangkap mangsanya.
Alat ini dimiliki oleh ular. Pit organ terletak diantara mata dengan lubang hidung dan pada
bagian muka. Bentuknya berupa saluran berisi darah dan ujung-ujung sarfa yang sangat peka
terhadap panas.
2. Gurat Sisi
Ditemukan pada hewan vertebrata rendah seperti ikan dan amphibi. Gurat sisi ini
merupakan suatu saluran di bawah kulit yang mempuntai saluran ke luar tubuhnya. Di
permukaan tubuhnya saluran-saluran itu merupakan lubang-lubang membentuk barisan dalam
satu garis. Pada saluran gurat sisi terdapat rambut-rambut sensoris yang letaknya teratur disebut
neuromast. Fungsi neuromast adalah sebagai indera yang peka terhadap tekanan dan arus air,
mengetahui objek yang bergerak berupa mangsa atau musuhnya.

3. Rheotaksis

Merupakan suatu kecenderungan dari makhluk hidup utnuk menerima rangsang mekanis
dari arus air karena daa gerakan misalnya pada Planaria yang akan mengadakan reaksi terhadap
arus air debagn reseptor yang ada pada seluruh tubuhnya.

4. Anemotaksis
Kemampuan hewan untuk mengetahui aliran udara di sekitarnya. Anemotaksis ini
terdapat pada insect. Mereka berorientasi di udara dengan menggunakan reseptor untuk
mengetahui tekanan udara dan arus udara. Reseptor ini terdapat pada bagian dasar dan kepala.

5. Indera Pengecap

Indera pengecap sangat penting bagi kelangsungan hidup hewan. Pada umunya pada
hewan yang memiliki alat penciuman yang kurang tajam, kurang berkembang pula alat
pengecapnya. Pada ikan dan amphibi ditemukan alat pengecap pada kulitnya. Pada jenis ikan
tertentu indera pengecap terdapat pada moncong bagian bawah. Selain pada hewan-hewan
vertebrata, alat kecap ini juga terdapat pada invertebrate seperti Hydra, walaupun belum
mempunyai putting pengecap.

6. Kemoreseptor

Indera penciuman dan pengecap disebut juga kemoreseptor sebab indera penciuman bisa
mencium berbagi sifat zat kimia terutama bahaya dan indera pengecap meruapakan alat yang
bisa merasakan zat kimia. Hewan invertebrate memiliki beberapa kemoreseptor yang
berkembang baik dan berperan penting dalam kelangsungan hidupnya. Misalnya pada Protozoa
jika ditetesi dengan asam lemah maka dia akan menggerakan pseudopodinya. Hydra dapat
membendakan makanan yang hidup dan mati. Planaria mempunyai kemoreseptor yang
berkembang baik pada bagian samping kepala, dengan alat ini planaria dapat menentukan adanya
makanan begitu pula dangan Mollusca.

INDERA PENGLIHATAN
Susunan indera penglihatan dalam garis besar terdiri dari:
1. Kedua mata (the eye).
2. Saraf optik, yaitu saluran saraf yang menghubungkan mata dengan otak (the visual
pathway).
3. Pusat penglihatan dalam otak (visural korteks).
Disamping itu terdapat organ-organ aseseori yang penting untuk melindungi dan
mempertahankan fungsi mata, yaitu kelopak mata, bulu mata, alis dan kelenjar air mata.
1. The Eye
Mata merupakan bagian indera yang fungsinya hanya terbatas pada menerima dan
menyiapkan rangsang agar dapat diteruskan ke pusat-pusat penglihatan yang terletak di
dalam otak. Mata merupakan organ penglihat (apparatus visual) yang bersifat peka
cahaya (foto sensitif).
Bagian bola mata manusia yang bertdedah ke permukaan anterior hanya 1/6 (seper-enam)
bagian saja. Sedangkan sisanya terlindung dalam orbita mata. Secara anatomi, bola mata
dapat dibedakan menjadi tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu:
a. Sklera (selaput putih)
Sklera merupakan selaput jaringan ikat yang kuat, berfungsi untuk bagian-bagian
dalam bola mata dan untuk mempertahankan kekakuan bola mata.
b. Kornea
Kornea merupakan selaput bening yang melapisi bagian anterior bola mata. Kornea
juga merupakan jalan masuk cahaya pada mata dengan menempatkannya pada retina.
Lapisan luar kornea ditutup oleh lapisan epitel yang berkesinambungan dengan
epidermis yang disebut konjungtiva.
2. Lapisan Vaskular, terdiri dari:
a. Koroid
Merupakan menbran tipis yang mengandung pigmen dan melapisi permukaan sebelah
dalam sklera. Koroid mengandung banyak pembuluh darah yang menyalurkan nutrisi
ke retina.
b. Iris
Iris merupakan diafragma yang terletak diantara kornea dan mata. Pada iris terdapat
dua perangkat otot polos yang tersusun sirkuler dan radial. Iris berfungsi untuk
mengatur jumlah cahaya yang memasuki mata, dengan jalan membesarkan atau
mengecilkan pupil, yaitu lubang yang terletak di tengah-tengah iris.
c. Lensa
Lensa mata berfungsi untuk membiaskan cahaya yang masuk dan memfokuskan
cahaya pada retina. Lensa berada tepat di belakang iris dan tergantung pada ligamen
suspensori. Bentuk lensa dapat berubah-ubah, diatur oleh otot siliaris. Ruang yang
terletak diantara lensa mata dan retina disebut ruang viterus, berisi cairan yang lebih
kental (humor viterus), yang bersama dengan humor akueus berperan dalam
memelihara bentuk bola mata.
d. Retina
Retina adalah bagian mata vertebrata yang peka terhadap cahaya, merupakan lapisan
terdalam dari bola mata. Bagian ini berfungsi untuk menerima cahaya, mengubahnya
menjadi impuls saraf dan menghantarkan impuls ke saraf optik (II). Retina tersusun
atas lapisan jaringan saraf (sebelah dalam merupakan bagian visual) dan lapisan
berpigmen (sebelah luar merupakan bagian non visual).
3. Lapisan jaringan saraf pada retina mengandung tiga daerah neuron yaitu:
a. Neuron Fotoreseptor
b. Neuron Bipolar
c. Neuron Ganglion
INDERA PEMBAU
Indra pembau berfungsi untuk menerima bau suatu zat terlarut dalam udara atau air.
Reseptor pembau terletak pada langit-langit rongga hidung, pada bagian yang disebut
epitelium olfaktori. Epitelium olfaktori terdiri dari sel-sel reseptor dan sel-sel penyokong.
Sel resptor olfaktori berbentuk silindris dan mempunyai filamen-filamen seperti rambut pada
permukaan bebasnya. Akson sel olfaktorius berjalan menuju bulbus olfaktorius pada sistem
saraf pusat. Sel-sel olfaktorius didampingi oleh sel-sel penunjang yang berupa sebaris sel-sel
epitel silindris berlapis banyak semu.
Dalam lamina propria tunika mukosa penciuman, selain terdapat banyak pembuluh
darah dan saraf, ditemukan juga kelenjar-kelenjar jenis tubulo alveolar dengan sel-sel
seromukosa yang dengan PAS-positif. Saluran ekskresi kelenjar ini bermuara ke epitel
permukaan dan aliran ekskresinya terus-menerus membersihkan bagian apikal sel-sel
penciuman. Dalam hal ini senyawa-senyawa yang merangsang rasa penciuman secara tetap
disingkirkan, jadi mempertahankan reseptor-reseptor selalu dalam keadaan siap menerima
stimulus yang baru.
Pembau dan pengecap saling bekerja sama, sebab rangsangan bau dari makanan dalam
rongga mulut dapat mencapai rongga hidung dan diterima oleh reseptor olfaktori. Keadaan
ini akan terganggu ketika kita sakit pilek, di mana hubungan antara rongga hidung dan
rongga mulut terganggu, sehingga uap makann dari makanan di mulut tidak dapat mencapai
rongga hidung dan makanan seakan-akan kehilangan rasanya.

gambar reseptor pembau


INDERA PENDENGAR
Indra pendengar dan keseimbangan terdapat di dalam telinga. Telinga manusia terdiri
atas tiga bagian, yaitu:
1. Telinga luar, yang menerima gelombang suara.
2. Telinga tengah, dimana gelombang suara dipindahkan dari udara ke tulang dan oleh
tulang ke telinga dalam.
3. Telinga dalam, dimana getaran ini diubah menjadi impuls saraf spesifik yang berjalan
melalui nervus akustikus ke susunan saraf pusat. Telinga dalam juga mengandung organ
vestibuler yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan.
1.3 Sistem Indra Hewan Invertebrata
Sistem indera invetebrata masih sangat sederhana. Berikut ini dijelaskan sistem indera
protozoa. Coulenterata, Molusca, cacing pipih, cacing tanah dan serangga.
1. Sistem Indra pada Hewan bersel Satu (Protozoa)
Pada umumnya tidak memiliki indera, tetapi peka terhadap rangsangan cahaya. Bila ada
cahaya kuat, amoeba dan paramaecium akan menjauh. Englena hanya memiliki alat menerima
rangsang cahaya berupa bintik mata berwarna merah didekat flagelnya. Bila ada cahaya tersebut.
2. Sistem Indra pada Hewan Berongga (Coelenterata)
Hewan berongga seperti ubur- ubur memiliki sel- sel pigmen dan sel sensori yang peka
tehadap cahay serta sejumlah tentakel sebagai alat peraba.
3. Sintem Indra pada Hewan Lunak (Mollusca)
Bekicot mempunyai dua pasang antena. Pada sepasang antenna yang panjang, diujungnya
terdapat mata sebagai indra penglihatan, sedangkan sepasang antena yang pendek berfungsi
sebagai indera peraba.
4. Sistem Indra pada Cacing Pipih
Cacing pipih, contohnya planaria memiliki sepasang bintik mata pada bagian interior
tubuhnya. Bintik mata tersebut sangat peka terhadap rangsangan cahaya. Planaria cenderung
bergerak menjahui cahaya.
5. Sistem Indra pada Cacing Tanah
Cacing tanah memiliki indera penerima rangsangan yang cukup baik. Indera tersebut
berada di permukaan tubuhnya dan hanya mampu membedakan gelap terang. Sel- sel yang sesitif
terhadap rangsangan cahaya tersebut di lapisan kulit bagian dorsal,(atas), terutama pada bagian
anterior (depan). Cacing tanah cenderung bergerak menjauhi cahaya. Cacing tanah juga peka
terhadap rangsangan- rangsangan sentuhan, zat- zat kimia, dan suhu.
6. Sistem Indra pada Serangga
Serangga memiliki indera penglihatan berupa mata tunggal (oseli), mata majemuk (mata
faset) dan ada pula yang memiliki keduanya. Mata tunggal umumnya berbentuk segitiga, mata
majemuk terdiri dari ribuan alat penerima rangsangan cahaya yang disebut Omatidium. Setiap
omatidiun terdiri dari lensa, sel konus, pigmen, sel fotoreseptor, dan jatuh tegak lurus pada lensa.
1.4 Sistem Indra pada Hewan Vetebrata

Veterbrata memiliki sistem indera yang lebih berkembang dari hewan invetebrata.

Berikut ini penjelasan indera pada ikan, katak, burung dan mamalia.

1. Sistem Indra pada Ikan

Ikan memiliki indera yang disebut gurat sisi, mata, alat pedengaran dan alat pencium.

Gurat sisi berfungsi mengetahui perubahan air. Sehingga ikan mengetahui kedudukannya

didalam air.

Indra yang berkembang baik pada ikan adalah indra pecium dan indra penglihat. Indra

penglihatan pada ikan berupa sepasang mata yang dilindungi selaput yang tembus cahaya. Indera

pencium pada ikan terdapat didekat mulutnya. Indera pendengar ikan hanya terdiri dari atas

telinga dalam saja yang berfungsi sebagai organ pendengar dan alat keseimbangan indra

pendengar ini kurang berkembang dengan baik.

2. Sistem Indra pada katak

Pada katak indera penglihatan dan indera pencium berkembang lebih baik dari pada

organ indera lainnya. Inder apenglihatan pada katak berupa mata yang dilindungi kelopak dan

membran tembus cahaya yang disebut membran niktitans.

Membran ini berfungsi menjaga kelembaban mata selama didarat dan menghindari

gesekan selama di air. Indera pendengar pada katak hanya terdiri dari telinga bagian tengaj dan

telinga bagian dalam. Bagian telinga paling luar berupa selaput gendang telingan (Membran

timpani) yng berfungsi menangkap getaran suara.


3. Sistem Indra pada Reptil

Indera reptil yang berkembang dengan baik adalah indera pencium. Pada kadal dan ular,

indera penciumnya terletak di langit- langit rongga mulutnya, berupa lubang- lubang kecil yang

tepinya mengandung sel- sel saraf pencium.

4. Sistem Indra pada Burung

Indera pada burung yang berkembang dengan baik adalah indera penglihatan yaitu mata.

Mata burung dapat berakomodasi dengan baik. Burung yang hiduo dan mencari makanan pada

malam hari pada retinanya banyak mengandung sel batang. Sedangkan burung yang hidup dan

mencari makanan pada retinanya banyak mengandung sel kerucut.

Umumnya burung memiliki daya akomodasi yang sangat baik sehingga dapat melihat

mangsanya dari jauh.

5. Sistem Indra pada Mamalia

Indera mamalia umumnya berkembang dengan baik. Kepekaan indera pada masing-

masing mamalia berbeda- beda misalnnya kuncing, anjing mempunyai indera pendengaran yang

istimewa.

Selain indera pendengran, anjing memiliki indera pencium yang sangat tajam. Menangkap
getaran bunyi setinggo 150.000 Hz.
Struktur Dan Fungsi Mata Majemuk
Mata majemuk ditemukan di antara arthropoda (kerabat serangga), dan terdiri dari banyak sisi
sederhana yang putus berpiksel citra (tak ada tampilan lipat ganda seperti yang sering dipercaya)..
Penelitian lebih dekat pada lalat memunculkan penjelasan mengapa lalat sedemikian tangkas, mampu
menghindari serangan yang datang dari segala arah. Ternyata mata majemuk lalat memungkinkannya
melihat ke segala arah dan pada sudut pandang yang lebar.

Sebuah mata majemuk tersusun atas satuan optik berjumlah sangat banyak, masing-
masing dengan lensa optiknya sendiri, dan menghasilkan sejumlah besar gambar. Rangkaian
saraf dari setiap satuan optik mengambil hasil rata-rata dari gambar yang ada, sehingga
dihasilkanlah sebuah bayangan gambar yang lebih jelas daripada latar belakang yang dipenuhi
pengotor. Mata lalat dapat mengindra getaran cahaya 330 kali per detik. Ditinjau dari sisi ini,
mata lalat enam kali lebih peka daripada mata manusia. Pada saat yang sama, mata lalat juga
dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh
kita. Perangkat ini memudahkan lalat untuk menghidar dari musuhnya, terutama di lingkungan
gelap.

Mata majemuk lalat merupakan alat tubuh terpenting yang memainkan peran dalam sistem
penglihatan, sebuah fungsi teramat penting dalam kelangsungan hidup binatang tersebut.
Ketika alat tubuh ini diteliti, akan kita saksikan lensa-lensa, yang secara khusus
menghamburkan cahaya, membentuk permukaan cekung yang memberikan ruang penglihatan
yang luas dan memusatkan bayangan pada satu titik pusat. Sisi-sisi satuan optik pada
permukaan tersebut berbentuk segienam. Berkat bentuk segienam ini, satuan-satuan optik itu
satu sama lain terpasang rapat. Dengan cara ini, celah-celah kosong yang tidak diinginkan yang
muncul jika bentuk geometris lain digunakan tidaklah terbentuk, dengan demikian
penggunaan paling menguntungkan dari luasan yang ada telah diterapkan. Meskipun
berkas-berkas cahaya yang berasal dari sejumlah besar lensa diperkirakan akan menghasilkan
sebuah bayangan gambar yang kacau, ini tidak pernah terjadi, dan lalat dapat melihat
sebuah ruang penglihatan yang luas dalam satu bayangan gambar.

Terdapat rancangan unggul pada mata lalat. Prinsip teknik ini, yang telah digunakan oleh
manusia sejak beberapa ratus tahun lalu, telah ada pada lalat selama sekitar 390 juta tahun.
Pengkajian yang lebih umum pada sejarah alam kehidupan menunjukkan bahwa rancangan
mata majemuk berasal sejak kurang lebih 530 juta tahun yang lalu. Lalat telah memiliki struktur
mata ini sejak saat binatang ini muncul menjadi ada.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/21749702/sistem-indera-pada-hewan
Semua di akses tanggal 14 maret 2012
http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/03/sistem-koordinasi-dan-alat-indera-manusia/

http://www.crayonpedia.org/mw/Alat_Indra_Pada_Manusia_9.1

http://nyaknurul.blogspot.com/2011/03/sistem-indra-pada-hewan.html