Anda di halaman 1dari 149

USULAN TEKNIS

xxxxxxxx

E
Uraian Pendekatan, Metodologi & Program Kerja

E.1 Pendekatan Teknis


Secara umum dapat dikemukakan bahwa dalam melakukan kegiatan studi ini hasil
yang diharapkan dapat diperoleh adalah Penyusunan DED UPT Pembibitan
Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan yang terdiri dari :
1. Laporan Pendahuluan/ Pra Rencana
2. Laporan Pengembangan Rencana
3. Laporan Akhir
4. Dokumen lelang/ konstruksi terdiri dari gambar blue print ukuran A1,
5. RKS Teknis dan Bill of Quantity (BQ) ukuran A4
6. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
7. Laporan perhitungan struktur
8. File Elektronik
9. Gambar perspektif artist impression berwarna
10. Roll Banner
11. Maket
Dengan mengacu pada keluaran akhir ini, maka pendekatan yang dilakukan pada
kegiatan ini adalah pendekatan kesisteman, dimana tinjauan dilakukan pada
seluruh komponen yang ada dalam sistem. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
sistem dibatasi hanya pada lingkup sistem Penyusunan DED UPT Pembibitan
Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan. Dengan dasar ini maka dalam
pelaksanaannya, pekerjaan ini akan dilakukan dalam lima tahapan kegiatan, yaitu :

Tahap 1 : Desk Study (Kajian Literatur)


Tahap 2 : Survey dan pengumpulan data lapangan
Tahap 3 : Analisis Data
Tahap 4 : Perumusan dan Evaluasi Konsep Perencanaan
Tahap 5 : Penyusunan Rencana Teknis Detail

E-1
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Kelima Tahapan kegiatan ini meskipun merupakan tahapan dengan aspek bahasan
yang berbeda satu dengan lainnya, tetapi dalam pelaksanaannya merupakan aspek
yang terkait secara intens. Dengan demikian, maka dalam pelaksanaannya,
kesemua aspek itu ditinjau secara menyeluruh, dan pelaksanaannya dilakukan
secara mendalam.

Tahapan-tahapan di atas dapat dilihat secara lebih rinci dalam diagram alir yang
diperlihatkan dalam Diagram E.1. Pada diagram tersebut terlihat jelas bahwa
Perumusan Alter.
keterkaitan antara setiap aspek kajian sangatlah erat.Konsep
Untuk masing-masing aspek
Desain
Tapak

kajian rinciannya dilakukan dalam bentuk alur kegiatan dan alur data. Satu
Menyusun Analisis Pot &
kegiatan dihubungkan dengan kegiatan lainnya dalam
Konsepsi
Perancangan Konsepbentuk
Karakteristik
Perumusan Alt.
Tampilan
Penggunaan
transformasi data
Gedung khusus Arsitektur
ataupun alur data. Karena keterkaitan antara aspek kajian sangatlah erat, maka
Membuat Sketsa
pemilahan
Gagasanyang transparan antara satu aspek kajianPerumusan
Analisis
Kebutuhan Ruang
dengan Alt.aspek kajian lainnya
Konsep
Gedung khusus Tata Letak
secara diagramatis sulit dilakukan. Meskipun demikian pemilahanRencana
aspek
Penggambaran
kajian
Teknis
Review Detail
dapat dilihat
Metoda secara mudah.
Analisis
Perencanaan Perumusan Alt.
Kebutuhan Konsep Sistem
Selanjutnya, jika dikaji lebih dalam, masing-masing tahapan ini merupakan
Ruang Buangan
Review
Perhitungan
Kebijakan Sektor
sekumpulan aktifitas yang cukup Analisis
Pemerintahan beragam Kebutuhandimana uraian
Perumusan Alt. dari masing-masing
Bill & Quantity
Prasarana/Sarana Konsep Sistem
aktifitas tersebut dapat dilihat pada bagan pada halaman berikut :
Elektr/Mekanikal

Review Estimasi Biaya


Standard Teknis Analisis &
Penetapan Konstruksi
Gedung khusus Pembuatan Peta
Topografi Konsep Desain
Tapak
Penyusunan
Tahapan
Review Survey Topografi & Analisis Pembangunan
kebijakan Tata Kondisi Fisik Tapak Penetapan
Ruang Lahan
Konsep Tampilan
Arsitektur
Penyusunan
Analisis Skejul
Survey Tata Letak
Penetapan Pembiayaan
Karakteristik Bangunan
Tapak Konsep
Tata Letak

Penyusunan
Analisis Spesifikasi
Inventarisasi Struktur/ Penetapan Teknis
Prasarana dasar Konstruksi Konsep Sistem
Kota Buangan

Analisis Pembuatan
Kebutuhan Penetapan Visualisasi
Data Material. Konsep Sistem
Sistem Buangan Rancangan
Tenaga Kerja & Elektr/Mekanikal
Peralatan

Analisis
Kebutuhan
Komp.
Elekt/Mekanikal

Analisis E-2
Unit Price

Persiapan Survey Analisis Konsep Gambar


Detail
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Diagram E.1
Metodologi Pelaksanaan Kegiatan
Dengan demikian pelaksanaannya menjadi lebih terarah dan hasilnya
diharapkan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Adapun kegiatan yang
perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

E.1.1 Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura Dan


Peternakan
Pengertian sasaran di sini adalah suatu target atau kondisi yang ingin dicapai

E-3
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

dan menjadi tolok ukur keberhasilan. Untuk mencapai sasaran tersebut kita
harus menentukan arah, tahapan atau cara (misi) yang akan digunakan
sesuai dengan potensi yang dimiliki. Makin jelas sasaran yang ingin dicapai
serta makin mengetahui potensi yang dimiliki, makin mudah untuk
menentukan arah/cara pencapaiannya karena makin jelas masalah yang
dihadapinya.
Proses Perencanaan Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan,
Hortikultura Dan Peternakan tersebut disamping memberikan dampak
langsung sesuai dengan tujuan pembangunan, juga akan memberikan
dampak terhadap lingkungan sekitar dimana pembangunan tersebut terjadi.

E.1.2 Kondisi yang Ada


Kondisi yang ada merupakan keadaan yang terjadi saat ini terutama yang
dapat mempengaruhi terhadap proses perencanaan dan perancangan sesuai
lingkup pekerjaan, baik secara fisik maupun non fisik,

1. Kondisi Fisik Lokasi Perencanaan


Untuk mengetahui kondisi fisik lapangan, dapat dilakukan melalui
pengumpulan data sekunder (merupakan data yang sudah ada),
pengamatan lapangan serta pengumpulan/survey data primer. Seluruh
data dan informasi tersebut dikumpulkan dan dianalisis untuk digunakan
sebagai bahan pertimbangan perencanaan selanjutnya.
Data dan informasi yang diperlukan untuk mendukung proses
perencanaan dan perancangan fisik, antara lain :
Kondisi fisik lokasi, seperti : luasan, batas-batas, dan topografi.
Keadaan air tanah
Peruntukan tanah
Koefisien dasar bangunan
Koefisien lantai bangunan
Perincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan dan lain-
lain.

2. Ketentuan dan Peraturan yang Berlaku


Ketentuan dan peraturan yang mempengaruhi terutama terhadap

E-4
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

perencanaan bangunan perlu diketahui dan dipenuhi agar bangunan


yang direncanakan memenuhi persyaratan minimal, baik dari aspek
kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan.

E.1.3 Survey Data Lapangan


Yang dimaksud dengan survey data lapangan di sini adalah pengumpulan
data dan informasi mengenai kondisi fisik lapangan, antara lain berupa
konfigurasi lahan perencanaan dan benda-benda (bangunan) yang terdapat
di lahan perencanaan tersebut, sumber daya yang dapat dimanfaatkan (air,
listrik) serta daya dukung tanahnya. Dalam hal ini data dan informasi
tersebut diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan,
pengukuran dan penyelidikan tanah sederhana. Data dan informasi dari hasil
survey sebelumnya (data sekunder) dapat juga digunakan sebagai acuan.

Kondisi fisik lokasi perencanaan yang dapat mempengaruhi terhadap


perencanaan antara lain adalah sebagai berikut :
Konfigurasi lahan (batas kepemilikan) dan keadaan permukaan,
termasuk kontur tanah serta benda-benda (bangunan, pohon, dll) yang
perlu diperhatikan/dipertahankan.
Konfigurasi dan kondisi bangunan yang sudah/sedang dibangun yang
dapat mempengaruhi terhadap bentuk bangunan yang direncanakan,
antara lain terhadap orientasi bangunan, bentuk dasar dan penggunaan
bahan utama, dalam rangka mendapatkan keserasian.
Kondisi di sekitar lokasi perencanaan yang dapat mempengaruhi
terhadap perencanaan bangunan secara menyeluruh agar serasi baik dari
secara estetis maupun tata ruang.

Data dan informasinya dapat diperoleh dengan melakukan pengumpulan


data primer atau data sekunder melalui wawancara, diskusi dan studi
literatur.

E.1.4 Program Ruang

E-5
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja ( KAK ) Penyusunan DED UPT Pembibitan


Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan.

1) Disain Awal
Dari fakta dan analisa arsitek bisa membangun idea berupa usulan
bangun arsitektur yang memenuhi kriteria.
Kompleksitas fungsi Gedung dipadukan dengan kuatnya karakter site dan
sejarah serta diwarnai dengan pemahaman kesejamanan akan
menghasilkan karya arsitektur bernilai.
Disain usulan merupakan sintisis yang memperhatikan aspek: fungsional,
karakter site. struktural, budaya, estetika, ekonomi dan lingkungan serta
memasukan unsur inovasi.
Teknik presentasi design usulan dengan bantuan komputer bisa
ditampilkan dalam bentuk animasi, tiga dimensi, ataupun poto futuristik
sehingga tergambar suasana pada kondisi setelah terbangun.
Disain usulan yang memperhatikan aspek sseperti diatas disertai dengan
penampilan yang physical dan merupakan jawaban terhadap isu utama
dengan menerapkan sistem terbaru sehingga perwujudannya menjadi
lengkap dan utuh, dipastikan yang demikian akan menjadi arsitektur
futuris dan bernilai.

Contoh presentasi berupa gambar tiga dimensi

E-6
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Selain gambar tiga dimensi eksterior dapat pula ditampilkan tiga dimensi
ruang dalam gedung sehingga tampak suasana prediksi pada saat
bangunan telah dibangun dan digunakan.

2) Optimalisasi Disain

E-7
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Evaluasi di dalam design Arsitektur terjadi pada berbagai skala dan


tahapan, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait.
Fokus evaluasi terhadap semua aspek baik arsitektural, structural,
fungsional, financial, sejarah dan budaya, termasuk peraturan
lingkungan, zona peruntukan, juga dievaluasi terhadap daya dukung
bangunan terhadap fungsinya seiring berjalannya waktu.
Bagi Arsitek sendiri Evaluasi dilakukan dengan mengukur penampilan
gedung dibandingkan dengan tujuan design, kriteria yang telah
ditetapkan sebelumya.
Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat kembali tiga tahapan proses
sebelumnya, apakah konsisten terhadap tujuan dan kriteria gedung yang
dinginkan. Proses evaluasi sebenarnya terus berulang selama proses
disain.
3) Penyiapan Dokumen
Pada tahap ini aktivitasnya adalah menyiapkan dokumen pelaksanaan
seperti: gambar kerja, Gambar Detail, Rencana Kerja dan Sarat, serta
dokumen lelang.

Contoh potongan/Gambar kerja

E-8
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Dalam setiap tahapan diatas ada hasil kerja dan akan disampaikan
kepada pengguna jasa baik waktu maupun isi laporan sesuai seperti
tertuang dalam KAK ( Kerangka Acuan Kerja ) yang telah kami terima.
E.1.5 Analisis Potensi Lahan
Lahan/lokasi perencanaan sangat mempengaruhi terhadap perencanaan
fisik, baik tata letak, orientasi, sirkulasi maupun konfigurasi atau bentuk
bangunan yang direncanakan. Dari hasil analisis lahan akan diketahui potensi
yang dimiliki lahan perencanaan, antara lain :
Indonesia pada umumnya merupakan daerah tropikal basah yang
banyak matahari (panas) dan banyak hujan (basah), sehingga perlu
diperhatikan hubungan secara fisik antar bangunan agar kegiatan antar
bangunan/gedung tidak terganggu oleh panas akibat terik matahari
maupun hujan.
Morphologi (bentuk permukaan) tanah.
Kemungkinan terdapat benda (bangunan, pohon, dsb) di lahan
perencanaan yang statusnya boleh dibongkar atau yang harus
dipertahankan.
Kemungkinan terdapat bangunan/fasilitas di sekitar lahan
perencanaan yang perlu diperhatikan agar dari segi fungsi tidak
terganggu, bahkan dari segi kualitas ruang luarnya penempatan

E-9
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

bangunan yang direncanakan tidak boleh berkurang, justru idealnya


bertambah, sehingga penambahan fasilitas baru secara keseluruhan
justru memiliki nilai tambah.
Kemungkinan terdapat bangunan/fasilitas di lahan perencanaan yang
karena kefungsiannya harus berhubungan dengan bangunan yang
direncanakan.
Kemungkinan arah pencapaian ke bangunan rencana (aksesibilitas)
dikaitkan dengan tata letak bangunan yang ada serta permukaan tanah
yang ada.
Daya dukung tanah secara umum di lokasi perencanaan, khususnya di
lokasi bangunan yang direncanakan
Ketentuan yang berlaku untuk lokasi perencanaan, terutama peraturan
daerah yang dapat dijadikan pedoman dalam perencanaan fisik
bangunan antara lain Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai
Bangunan (KLB), ketinggian (jumlah lantai) maksimal bangunan, jarak
Garis Sempadan Bangunan (GSB), yang keseluruhannya tercakup dalam
perda mengenai Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
Hasil analisis potensi lahan dapat digunakan sebagai kriteria/parameter
perencanaan fisik bangunan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan melakukan
pengumpulan data sekunder, peninjauan lapangan atau pembuatan data
primer yang kemudian dilakukan pengkajian/analisis di studio untuk
disimpulkan (kompilasi) menjadi parameter perencanaan.

E.2 Metodologi
Lingkup pekerjaan dalam Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman
Pangan, Hortikultura Dan Peternakan antara lain :
1. Pekerjaan Persiapan yang meliputi studi kebutuhan ruangan-ruangan
sesuai ketentuan yang berlaku, survei lokasi, melakukan pengukuran site,
mengerjakan penyelidikan tanah, serta mengumpulkan keterangan
daerah untuk penataan bangunan.

2. Menyusun program ruang dan menata ruangan-ruangan yang diperlukan.

3. Penyusunan Rencana Tapak dan Pra - Rancangan Bangunan, serta

E - 10
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

menentukan garis besar material dan peralatan bangunan beserta


perkiraan kasar biaya pembangunannya, dimana perkiraan biaya ini
harus sudah meliputi perkiraan biaya bangunan yang memenuhi kaidah-
kaidah Bangunan Hijau dengan rating minimal GBCI Silver;

4. Penyusunan pengembangan rencana yang meliputi :

a. Rencana arsitektur, beserta uraian konsep dan visualisasinya;

b. Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;

c. Rencana mekanikal elektrikal - plumbing, beserta uraian konsep dan


perhitungannya;

5. Penyusunan rencana detail meliputi : membuat gambar-gambar detail


arsitektur, lansekap, interior, struktur, pondasi, serta mekanikal dan
elektrikal dan plumbing, menyusun spesifikasi umum dan teknis, serta
membuat Daftar Volume Pekerjaan (BQ) dan Rencana Anggaran Biaya
(RAB).

Kegiatan Perencanaan yang dilaksanakan oleh Konsultan Perencana adalah


berpedoman pada ketentuan yang berlaku, khususnya Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara, Keputusan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor : 45/PRT/M/2007 tanggal 27 Desember 2007 yang dapat
meliputi tugas-tugas perencanaan lingkungan, Site/Tapak bangunan dan
perencanaan fisik bangunan Gedung Negara yang terdiri dari :

a. Persiapan pra-rencana seperti pengumpulan data dan informasi


lapangan (termasuk penyelidikan tanah sederhana) membuat
interprestasi secara garis besar terhadap KAK dan Konsultan dengan
Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung.

b. Penyusunan Perencanaan seperti rencana tapak, pra-rencana bangunan


termasuk program dan konsep ruang, perkiraan biaya, serta rencana
kerja dan syarat.

c. Penyusunan pengembangan rencana, antara lain membuat :

- Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur, utilitas

E - 11
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

penunjang berdasarkan konsep rencana yang telah disetujui.


- Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan lain yang
diperlukan.

- Draft rencana anggaran biaya.

- Draft rencana kerja dan syarat-syarat.

d. Penyusunan rencana detail antara lain membuat :

- Gambar-gambar rencana bangunan dari aspek arsitektur,struktur,


utilitas bangunan dan lingkungan.

- Perkiraan biaya pembangunan.

- Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).

- Hasil konsultasi dengan pengguna gedung.

- Rencana desain ini harus mendapat persetujuan pemberitugas


terlebih dahulu yang telah melalui pembahasan bersama tim teknis
agar dapat dilanjutkan ke tahapan pengembangan rencana
Pembangunan.

e. Mengadakan persiapan pelelangan, seperti membantu Pejabat Pembuat


Komitmen di dalam menyusun dokumen Pelelangan.

f. Membantu Pejabat Pengadaan/Kelompok Kerja Pengadaan pada waktu


penjelasan pekerjaan (Aanwizing) apabila memang diperlukan.

E - 12
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Gambar E.1.
Diagram Metodologi dan Pendekatan

Kondisi eksisting perlu ditinjau dari setidaknya 4 aspek, yaitu: sosio-


ekonomis dan sosio-kultural, natural-ekologis, teknis-kerekayasaan serta
efisiensi-desain.

Kondisi tersebut perlu dinilai. Salah satu alatnya adalah Analisis SWOT
(SWOT analysis), yang meliputi :

1. Strengths (kekuatan), yaitu faktor positif internal


2. Weaknesses (kelemahan), yaitu faktor negatif internal
3. Opportunities (peluang), yaitu faktor positif eksternal
4. Threats (ancaman), yaitu faktor negatif eksternal visi

Visi dapat dirinci dalam waktu dimana visi tersebut diharapkan terjadi, dapat
berupa:

1. Jangka panjang, dengan durasi sekitar 25 tahun


2. Jangka menengah, dengan durasi sekitar 5 tahun
3. Jangka pendek, dengan durasi sekitar 1 tahun
Visi ini dapat juga tarkait dengan tujuan atau sasaran pembangunan, atau
developmental goals dan developmental objectives

Masalah adalah jarak (discrepancy) antara kondisi ideal yang diharapkan


dengan kondisi eksisting sekarang ini. Perumusan problem statement
membutuhkan langkah-langkah sebagaimana berikut:

E - 13
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

1. mempelajari secara mendalam masalah yang dihadapi


2. membatasi daerah masalah secara lokasional, temporal, serta melihat
kaitan dan pengaruhnya terhadap masalah yang lain
3. menyiapkan data-data/informasi pendukung masalah
4. menyiapkan daftar goals dan objectives
5. mengenali kisaran variabel-variabel yang perlu diperhitungkan
6. mengkaji ulang problem statement

Strategi adalah cara untuk mencapai visi, yang dijabarkan dalam rencana atau
rancangan. Perumusan strategi terkait erat dengan perumusan tujuan dan
sasaran bagi strategi tersebut. Jika tujuan (goals) lebih bersifat ultimate serta
tidak langsung, maka sasaran (objectives) lebih bersifat langsung serta
konkret. Tujuan pada dasarnya dapat berupa pemecahan masalah,
pemenuhan kebutuhan, atau pemanfaatan peluang.

Produk rancangan yang ada pada dasarnya dapat dibagi dalam:


1. Kebijakan (policy)
2. Rencana (plan)
3. Arahan (guidelines)
4. Program (program)

E.2.1 Kriteria
A. Kriteria Umum
Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Perencana harus
memperhatikan kriteria umum bangunan disesuaikan berdasarkan fungsi
dan kompleksitas bangunan, yaitu :

1. Persyaratan Peruntukan dan intensitas :


a. Menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata
ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di daerah yang
bersangkutan.
b. Menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.
c. Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat dan lingkungan.
2. Persyaratan Arsitektur dan Lingkungan :

E - 14
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan


berdasarkan karakteristik lingkungan, ketentuan wujud bangunan
dan budaya daerah, sehingga seimbang, serasi dan selaras dengan
lingkungannya (fisik, sosial dan budaya).
b. Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan
keseimbangan dan keselaran bangunan terhadap lingkungannya.
c. Menjamin bangunan gedung dibangun dan dimafaatkan dengan
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
3. Persyaratan Struktur Bangunan :
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukunng
beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia (gempa dll).
b. Menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan
atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan.
c. Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan
fisik yang disebabkan oleh prilaku struktur.
d. Menjamin perlindungan property lainnya dari kerusakan fisik yang
disebabkan oleh kegagalan struktur.
4. Persyaratan Ketahanan terhadap Kebakaran :
a. Menjamin terwujudnya sistem proteksi pasif dan aktif pada
bangunan gedung.
b. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung
beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia.
c. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun
sedemikian rupa sehingga mampu secara struktural stabil selama
kebakaran sehingga:
1) Cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman.
2) Cukup waktu dan mudah bagi pasukan pemadam kebakaran
memasuki lokasi untuk memadamkan api.
3) Dapat menghindari kerusakan pada property lainnya.

5. Persyaratan Sarana Jalan Masuk dan Keluar :

E - 15
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses


yang layak, aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta
layanan didalamnya.
b. Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari kesakitan
atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat.
c. Menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat,
khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan social.
6. Persyaratan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar dan Sistem
Peringatan Bahaya :
a. Menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif didalam
bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat.
b. Menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman
apabila terjadi keadaan darurat.
7. Persyaratan Instalasi Listrik, Penangkal Petir
a. Menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman
dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan
gedung sesuai dengan fungsinya.
b. Menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan
penghuninya dari bahaya akibat petir.
8. Persyaratan Ventilasi dan Pengkondisian Udara :
a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup, dan alami
maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya satuan keja
didalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
9. Persyaratan Pencahayaan :
a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup, dan
alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan
didalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan
pencahayaan secara baik.

B. Kriteria Khusus

E - 16
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Kriteria khusus yang dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang


khusus, spesifik berkaitan dengan bangunan gedung yang akan direncanakan,
baik dari segi fungsi khusus bangunan, segi teknis lainnya, misalnya :

1. Dikaitkan dengan upaya pelestarian atau konservasi bangunan yang


ada.
2. Kesatuan perencanaan bangunan dengan lingkungan yang ada disekitar,
seperti dalam rangka implementasi penataan bangunan dan lingkungan.
3. Solusi dan batasan-batasan konstektual, seperti factor social budaya
setempat, geografi klimatologi, dan lain-lain.

C. Metode Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan:


1. Pembuatan Bench Mark (BM). Bench Mark (BM) dibangun minimum 2
(dua) buah pada posisi yang aman dan saling terlihat dengan ketinggian
berdasarkan LWS dan jarak antara kedua BM minimal 100cm. BM
tersebut dibuat dari beton dengan ukuran 40x40x150 cm3 yang
ditanam sedalam 100cm dari permukaan tanah dan di plot dalam peta.

Penempatan BM harus mempertimbangkan rencana pengembang-an


bangunan, sehingga BM dapat bermanfaat untuk jangka waktu lama dan
mudah pengawasannya. BM berfungsi sebagai titik awal pemetaan, dicat
dengan warna biru muda dan pada bagian atas ditulis BM.1 dan BM2
serta tanggal pembuatan. Setelah survey selesai, BM harus diserahkan
kepada pejabat setempat dengan Berita Acara.

2. Pekerjaan Topografi
a. Pengamatan azimuth matahari (pengukuran azimuth) dilakukan
pada salah satu BM.
b. Pengukuran dengan menggunakan sistem triangulasi.
1). Dipakai titik BM sebagai basis.
2). Pengukuran jarak basis dengan alat elektronik atau optis (T2
dan interval basis) atau sejenis.
3). Pengukuran sudut dilakukan dengan 4 (empat) seri biasa-luar
biasa. Selisih sudut antara tipa bacaan titik boleh lebih dari
pada 10 detik.

E - 17
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

c. Pengukuran Poligon.
1). Pengukuran Poligon sepanjang titik-titik polygon dengan jarak
antara titik-titik polygon maksimum 50m dan radius survey
dari tiap polygon adalah 75m.
2). Pengukuran harus dimulai dari titik ikat awal dan pengukuran
polygon harus tertutup (dimulai dari titik ikat awal dan
berakhir pada titik yang sama atau ditutup pada titik lain yang
sudah diketahui koordinatnya sehingga kesalahan-kesalahan
sudut maupun jarak dapat dikontrol).
d. Pengukuran Sipat Datar.
1). Pengukuran sipat datar dilakukan sepanjang titik-titik polygon
diikatkan pada Bench Mark.
2). Pengukuran sipat datar dari Bench Mark ke Bench Mark dengan
alat waterpass dilakukan dengan teliti, dengan kesalahan
penutup tidak boleh lebih dari (3 Vd) mm dimana d= jarak jalur
pengukuran (dalam km).
3). Semua ketinggian harus mnegacu pada LWS.
4). Pengukuran sipat datar dilakukan dengan cara double stand
(pulang pergi). Selisih bacaan setiap stand maksimum 2 mm
dan selisih hasil ukuran total antara pergi dan pulang tidak
boleh lebih dari (8 Vd) mm dimana d= jarak jalur pengukuran
(dalam km).
e. Pengukuran Situasi dan Detail.
1). Bangunan yang penting dan berkaitan dengan pekerjaan desain
harus diambil posisinya.
2). Setiap ujung bangunan existing harus diambil posisinya dan
jarak antara ujung-ujung bangunan yang lain juga diukur (guna
pengecekan).
f. Buku ukur harus diperlihatkan kepada PPK atau Tim Teknis.
3. Pekerjaan Borring.
Pekerjaan lapangan disyaratkan mengikuti prosedur ASTM. Pengeboran
dilaksanakan sampai kedalaman -50 meter dari dasar laut dengan

E - 18
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

pengambilan contoh tanah dan pelaksanaan SPT setiap interval 2 meter


(SPT pertama kali dilaksanakan pada kedalaman -1 meter dari muka
tanah).

Pelaksanaan SPT diberhentikan setelah SPT >60 sebanyak 3 (tiga) kali


untuk penurunan berturut-turut setinggi 30 cm sampai dengan
ketebalan minimal 5 meter, sedangkan pengeborannya sendiri tetap
dilakukan sampai -30 meter dari muka tanah.

Apabila sampai pada kedalaman -30 meter dari muka tanah belum
dijumpai lapisan tanah keras (SPT>40) maka hal tersebut harus segera
dilaporkan kepada Pengguna Jasa untuk mendapat petunjuk lebih
lanjut.

Apabila sangat diperlukan, kedalaman pengeboran dapat ditambah atau


dikurangi dengan persetujuan Pengguna Jasa.

a. Metode Pelaksanaan Pengeboran. Sebelum pelaksanaan


pengeboran dimulai, semua peralatan yang akan dipergunakan
dalam pekerjaan tersebut harus sudah dipersiapkan terlebih
dahulu di tempat sehingga pelaksanaan dapat berjalan dengan
lancar. Pengeboran dilakukan dengan alat bor yang mempunyai
kemampuan dan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1). Mampu menembus tanah keras dengan nilai N-60.
2). Kemampuan alat bor dapat mencapai kedalaman 100 m.
3). Mesin diesel kapasitas 80 PK.
4). Water pump dengan kapasitas (50 s/d 60 liter/menit).
5). Casing dengan diameter minimum 97 mm..
6). Drilling rod (4,05 cm).
7). Tabung sample panjang 50 cm dan diameter 7,5 cm.
8). Mata bor klep.
9). Tabung SPT.
10). Piston dan piston rod untuk keperluan pengambilan
undisturbed sample.

E - 19
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Kapasitas pompa harus cukup besar sehingga terjamin bahwa


sisa pengeboran yang keluar dari lubang harus selalu diamati
agar diketahui bila ditemui perubahan lapisan tanah yang
dibor dengan melihat perubahan jenis tanah yang dibor
dengan melihat perubahan jenis tanah yang keluar.

Lubang bor yang terjadi sewaktu pengeboran harus dilindungi


dengan casing agar tidak terjadi kelongsoran sehingga
diperoleh hasil pengeboran yang baik dan teliti.

Pada setiap tambahan kedalaman tertentu, casing harus


diturunkan sampai dasar lubang dengan menambah
sambungan pada bagian atas casing.

Untuk tanah lunak (soft soil) sistem pengeboran harus


dilaksanakan dengan casing sistem yaitu mengebor dengan
casing yang berputar (drilling rod) dan ujung casing diberi
mata bor.

b. Data dan Hasil Pekerjaan Lapangan.


Dari setiap pengeboran harus dilakukan pencatatan pelaksanaan
pekerjaan terutama masalah teknis lapangan yang ditemui. Hasil
pekerjaan lapangan tersebut dituangkan ke dalam bor-log yang
menggambarkan:
1). Elevasi muka tanah terhadap Datum.
2). Number of blows pada standard penetration test dan
kedalamannya (dalam angka dan grafik).
3). Kedalaman tanah dimana undisturbed sample diambil.
4). Elevasi lapisan batas atas dan bawah dari setiap perubahan
lapisan tanah yang ditemui selama pengeboran.
5). Deskripsi dari jenis tanah untuk tiap interval kedalaman.
6). Hal-hal lain (khusus) yang ditemui/terjadi pada saat
pengeboran dilaksanakan.
7). Penjelasan teknis dari penyimpangan-penyimpangan atau

E - 20
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

kejanggalan yang terjadi selama pengeboran.

c. Undisturbed Sampling. Untuk setiap interval kedalaman 2 meter


diambil undisturbed sample dan untuk pertama kalinya diambil
sample pada kedalaman -3 m dari muka tanah yang bersangkutan.
Tabung contoh tanah (tube sample) yang disyaratkan adalah
seamless tube sampler ukuran OD 3 inch dan ID 2 7/8 inch
(ID=Internal Diameter, OD=Outer Diameter), tebal tabug 1/16 inch,
dengan panjang 50 cm. Tabung yang dipakai tipe fixed-piston
sampler terbuat dari baja atau kuningan. Tebal tabung baja 1,5 + 0,1
mm dan ID 75 + 0,5 mm. Bila akan dipakai ID yang lain dari harga di
atas harus dipenuhi persyaratan Degree of disturbance:
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi pada waktu pengambilan
contoh tanah adalah:
1). Dasar lubang bor di mana akan diambil contoh tanah harus
bersih dari sisa pengeboran dengan memompa air ke dalam
lobang bor yang berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa
tanah yang tertinggal, lama mencuci minimum 5 menit
sebelum diadakan pengambilan sample.
2). Ujung bawah casing pada saat itu harus berada pada dasar
lubang bor untuk menghindari adanya longsoran-longsoran
pada dasar lubang dan sisa pengeboran (sludge).
3). Segera setelah lubang bor bersih, tabung contoh tanah ditekan
ke dalam tanah dengan tekanan tenaga manusia.
4). Penekanaan harus dilakukan dengan hati-hati, continous
(single movement) dan perlahan agar air yang terdapat dalam
tabung diberi kesempatan keluar melalui katup (ball-valve)
yang terdapat pada kepala tabung (connector head). Dalam
segala hal tidak diperkenankan menekan tabung dengan
pukulan.
5). Sebelum tabung ditarik dari dalam tanah, tabung harus

E - 21
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

diputar 360o untuk melepaskan tabung bersama isinya dari


tanah dan kemudian diangkat keluar dari dalam tabung.

6). Tanah pada kedua ujung tabung harus dibuang secukupnya


dan ruangan itu kemudian diberi paraffin panas sebagai
penutup dan pelindung tanah dalam tabung. Tebal paraffin
pada bidang bawah minimum 1 cm dan pada bidang atas
minimum 3 cm.
7). Untuk pelaksanaan uji laboratorium, sample dapat dipotong
di lapangan dengan hati-hati sesuai degan panjang yang
diperlukan dan tidak boleh merusak keaslian sample sisanya
yang belum diuji.
8). Pengangkutan sample harus dilakukan hati-hati, dijaga dari
guncangan dan beda temperatur yang tinggi (panas sinar
matahari dll), sedapat mungkin pengujian dilakukan pada
laboratorium yang dekat jaraknya dengan lokasi pengeboran
(bila terdapat laboratorium yang memenuhi syarat).
9). Untuk jenis tanah khusus yang sukar diambil undisturbed
sampel-nya dengan cara biasa, harus digunakan tabung
sample yang sesuai: soft cohesive soil dengan alat piston
sampler non cohesive soil dengan alat piston sampler atau
core cutter sampler, dan hard cemented sil dengan core barrel.

E.2.2 Persyaratan Peruntukan Dan Intensitas


A. Peruntukan, Fungsi dan Klasifikasi Bangunan
1. Peruntukan Lokasi
a. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan
lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan
dari lokasi yang bersangkutan.
b. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui:
1). Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah,
2). Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR),

E - 22
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3). Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan


Lingkungan (RTBL).
c. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a, merupakan
peruntukan utama, sedangkan peruntukan penunjangnya
sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada
di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis
Dinas/Instansi terkait.
d. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang
dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui
Dinas/Instansi terkait.
e. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d
meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas
bangunan, seperti kepadatan bangunan, ketinggian bangunan, dan
garis sempadan bangunan.
f. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan
sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada, Kepala Daerah dapat
memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan, dengan
tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata
ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah.
g. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW, RRTR, ataupun peraturan
bangunan setempat dan RTBL, maka Kepala Daerah dapat
memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan
pertimbangan:
1). Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara
sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata
ruang yang lebih makro, kaidah perencanaan kota dan
penataan bangunan
2). Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR,
peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana
tata ruang yang lebih makro.
3). Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak
sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang

E - 23
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

ditetapkan kemudian, maka perlu diadakan penyesuaian


dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan.
4). Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah, Kepala Daerah
dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada
daerah tersebut untuk jangka waktu sementara.
5). Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah
yang bersangkutan, maka bangunan tersebut harus disesuaikan
dengan rencana tata ruang yang ditetapkan.
h. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum, saluran, atau
lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan
pertimbangan sebagai berikut:
1). Tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata
bangunan daerah,
2). Tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan,
orang, maupun barang,
3). Tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada
atau diatas tanah;
4). Tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap
lingkungannya,
i. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi
sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan
Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut:
1). Tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata
bangunan Daerah,
2). Tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal;
3). Tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada
dibawah tanah;
4). Penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi
persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan;
5). Memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan
keselamatan bagi pengguna bangunan.
j. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu
mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan
sebagai berikut:

E - 24
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

1). Tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata


bangunan Daerah;
2). Tidak mengganggu keseimbangan lingkungan, dan fungsi
indung kawasan;
3). Tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat
merusak lingkungan;
4). Tidak menimbulkan pencemaran;
5). Telah mempertimbangkan faktor keamaan, kenyamanan,
kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan.
k. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara
(transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala
Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut:
1). Tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata
bangunan Daerah;
2). Letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as
(proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar;
3). Letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis
sudut 45 (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi)
jalur tegangan tinggi terluar;
4). Setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait.
2. Fungsi Bangunan
a. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk
persyaratan teknis bangunan gedung, baik ditinjau dari segi
intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan, keselamatan,
keamanan, kesehatan, kenyamanan, maupun dari segi keserasian
bangunan terhadap lingkungannya.
b. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara
harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi, keamanan,
pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran, dan
sanitasi yang memadai.
c. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama
bangunan.
d. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian, fungsi
usaha, fungsi sosial dan budaya, dan fungsi khusus.

E - 25
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan


fungsi utama hunian yang merupakan:
1). Rumah tinggal tunggal
2). Rumah tinggal deret
3). Rumah tinggal susun
4). Rumah tinggal vila
5). Rumah tinggal asrama
f. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan
fungsi utama untuk:
1). Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah, perkantoran
niaga, dan sejenisnya.
2). Bangunan perdagangan: pasar, pertokoan, pusat perbelanjaan,
mal, dan sejenisnya.
3). Bangunan Perhotelan / Penginapan: hotel, motel, hostel,
penginapan, dan sejenisnya.
4). Bangunan Industri : industri kecil, industri sedang, industri
besar/berat.
5). Bangunan Terminal: stasiun kereta, terminal bus, terminal
udara, halte bus, pelabuhan laut.
6). Bangunan Penyimpanan: gudang, gedung tempat parkir, dan
sejenisnya.
7). Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi, bioskop, dan sejenisnya.
g. Bangunan dengan fungsi umum, sosial dan budaya, meliputi
bangunan gedung dengan fungsi utama untuk :
1). Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak, sekolah
dasar, sekolah lanjutan, sekolah tinggi/universitas.
2). Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas, poliklinik, rumah
bersalin, rumah sakit klas A, B. & C, dan sejenisnya.
3). Bangunan peribadatan: mesjid, gereja, pura, kelenteng, dan
vihara.
4). Bangunan kebudayaan : museum, gedung kesenian, dan
sejenisnya
h. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan
fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi, atau
tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran,
bangunan reaktor, dan sejenisnya.

E - 26
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

i. Dalam suatu persil, keveling, atau blok peruntukan dimungkinkan


adanya fungsi campuran (mixed use), sepanjang sesuai dengan
peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang
berlaku.
j. Setiap bangunan gedung, selain terdiri dari ruang-ruang dengan
fungsi utama, juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang, serta
dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang
dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan, sesuai dengan
persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini.
3. Klasifikasi Bangunan
Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan
fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan, pelaksanaan, atau
perubahan yang diperlukan pada bangunan.
a. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa
Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan:
1). Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa:
(a) satu rumah tunggal; atau
(b) satu atau lebih bangunan hunian gandeng, yang masing-
masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding
tahan api, termasuk rumah deret, rumah taman, unit town
house , villa, atau
2). Klas 1b : rumah asrama/kost, rumah tamu, hostel, atau
sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan
tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap, dan tidak
terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau
bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi.
b. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian
yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah.
c. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2, yang umum
digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh
sejumlah orang yang tidak berhubungan, termasuk:
1). rumah asrama, rumah tamu, losmen; atau
2). bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel; atau
3). bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah; atau
4). panti untuk orang berumur, cacat, atau anak-anak; atau

E - 27
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

5). bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan


kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya.
d. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran
Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5, 6,
7, 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan
tersebut
e. Klas 5: Bangunan kantor
Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan
usaha profesional, pengurusan administrasi, atau usaha komersial,
diluar bangunan klas 6, 7, 8, atau 9.
f. Klas 6: Bangunan Perdagangan
Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk
tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan
kebutuhan langsung kepada masyarakat, termasuk
1). ruang makan, kafe, restoran,; atau
2). ruang makan malam, bar, toko atau kios sebagai bagian dari
suatu hotel atau motel; atau
3). tempat potong rambut /salon, tempat cuci umum; atau
4). pasar, ruang penjualan, ruang pamer, atau bengkel.
g. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang
Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan,
termasuk:
1). tempat parkir umum; atau
2). gudang, atau tempat pamer barang-barang produksi untuk
dijual atau cuci gudang.
h. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik
Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang
dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi, perakitan,
perubahan, perbaikan, pengepakan, finishing, atau pembersihan
barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan.
i. Klas 9: Bangunan Umum
Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani
kebutuhan masyarakat umum, yaitu:

E - 28
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

1). Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan, termasuk bagian-


bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium;
2). Klas 9b: bangunan pertemuan, temmasuk bengkel kerja,
laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah
lanjutan, hall, bangunan peribadatan, bangunan budaya atau
sejenis, tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan
yang merupakan klas lain.
j. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian:
1). Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi
pribadi, carport, atau sejenisnya;
2). Klas 10b: struktur yang berupa pagar, tonggak, antena, dinding
penyangga atau dinding yang berdiri bebas, kolam renang, atau
sejenisnya.
k. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus
Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam
klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut, dalam Pedoman Teknis
dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan
peruntukannya
l. Bangunan yang penggunaannya insidentil
Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang
mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya, dianggap
memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya.
m. Klasifikasi jamak
Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari
bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah, dan:
1). bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak
melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan, dan
b' laboratorium, klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi
bangunan utamanya;
2). Klas-klas 1a, 1b, 9a, 9b, 10a dan 10b adalah klasifikasi yang
terpisah;
3). Ruang-ruang pengolah, ruang mesin, ruang mesin lift, ruang
boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian
bangunan dimana ruang tersebut terletak

E - 29
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

B. Intensitas Bangunan
1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan
a. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan
kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana
tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan, rencana tata
bangunan dan lingkungan yang ditetapkan, dan peraturan bangunan
setempat.
b. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a, meliputi
ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yang dibedakan
dalam tingkatan KDB padat, sedang, dan renggang.
c. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a, meliputi
ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB), dan Koefisien
Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi,
sedang, dan rendah.
d. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian
bangunan ditentukan oleh:
1). kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung
lahan dan optimalnya intensitas pembangunan,
2). kemampuannya dalam mencerminkan keserasian bangunan
dengan lingkungan,
3). kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan
pengguna serta masyarakat pada umumnya.
e. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu, seperti kawasan
wisata, pelestarian dan lain lain, dengan pertimbangan kepentingan
umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan
kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan,
ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan
tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan.
f. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak
diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara.
2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB
a. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung
sebagaimana dimaksud dalam II.2.1 butir b dan c, ditetapkan dengan
mempertimbangkan perkembangan kota, kebijaksanaan intensitas

E - 30
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

pembangunan, daya dukung lahan/ lingkungan, serta keseimbangan


dan keserasian lingkungan.
b. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata
ruang, rencana tata bangunan dan lingkungan, peraturan bangunan
setempat, maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan
berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis
para ahli terkait.
c. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan
dengan pertimbangan perkembangan kota, kebijaksanasn intensitas
pembangunan, daya dukung lahan/lingkungan, dan setelah
mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait.
d. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban
pembangunan, Kepala Daerah dapat menetapkan rencana
perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan:
1). setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana
perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang,
2). apabila perpetakan tidak ditetapkan, maka KDB dan KLB
diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis
sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki.
3). untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut
dilengkungkan atau disikukan, untuk memudahkan lalu lintas,
maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik
pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas
persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya.
4). penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan
dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui, dan dengan
memperhitungkan keadaan lapangan, keserasian dan
keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang
telah ditetapkan.
5). dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran
KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan, dengan tetap
menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian
lingkungan.

E - 31
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya


KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas
tanahnya untuk kepentingan umum.
f. Penetapan besamya KDB, JLB/KLB untuk pembangunan bangunan
gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan
keserasian, keseimbangan dan persyaratan teknis serta
mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait.
3. Perhitungan KDB dan KLB
Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai
berikut:
a. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang
diperhitungkan sampai batas dinding terluar;
b. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding
yang tingginya lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan tersebut
dihiitung penuh 100 %;
c. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-
sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,20 m diatas lantai
ruangan dihitung 50 %, selama tidak melebihi 10 % dari luas denah
yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan;
d. overstek atap yang melebihi lebar 1,50 m maka luas mendatar
kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah;
e. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari
1,20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai;
f. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak
diperhitungkan dalam perhitungan KLB, asal tidak melebihi 50 %
dari KLB yang ditetapkan, selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap
KLB;
g. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %, selama tidak melebihi l0%
dari luas lantai dasar yang diperkenankan;
h. Dalam perhitungan KDB dan KLB, luas tapak yang diperhitungkan
adalah yang dibelakang GSJ;
i. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan
Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan, keselamatan,
kesehatan, dan pendapat teknis para ahli terkait;

E - 32
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

j. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock),


perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh
lantai dasar bangunan, dan total keseluruhan luas lantai bangunan
dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan;
k. Dalam perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari
lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m, maka
ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai;
l. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap
sebagai lantai penuh;
C. Garis Sempadan Bangunan
1. Garis Sempadan (muka) Bangunan
a. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata
ruang,rencanatatabangunan dan lingkungan, serta peraturan
bangunan setempat.
b. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari
suatu bangunan, Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan
sebagaimana dimaksud dalam butir a. tidak boleh dilanggar.
c. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada
butir a. tersebut belum ditetapkan, maka Kepala Daerah dapat
menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada
setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan.
d. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada
pertimbangan keamanan, kesehatan, kenyamanan, dan keserasian
dengan lingkungan serta ketinggian bangunan.
e. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar, garis sempadan
muka bangunan, garis sempadan loteng, garis sempadan podium,
garis sempadan menara, begitu pula garis-garis sempadan untuk
pantai, sungai, danau, jaringan umum dan lapangan umum.
f. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya
beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan
campuran, untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-
garis sempadannya masing-masing.
g. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka
bangunan berimpit (GSB sama dengan nol), maka bagian muka
bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut.

E - 33
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

h. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan


dalam butir g, sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu
jalan dan penataan bangunan sekitarnya.
i. Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan
perkembangan kota, kepentingan umum, keserasian dengan
lingkungan, maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan
pendapat teknis para ahli terkait.
2. Garis sempadan samping dan belakang bangunan
a. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan, kesehatan dan
kenyamanan, juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan
kanan, serta belakang bangunan terhadap batas persil, yang diatur di
dalam rencana tata ruang, rencana tata bangunan dan lingkungan,
dan peraturan bangunan setempat.
b. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang
bangunan yang ditetapkan, maka Kepala Daerah menetapkan
besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah
mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan, yang
ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan.
c. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan
bahan-bahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan
berbahaya, maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat
lebih lanjut mengenai jarak-jarak yang harus dipatuhi, diluar yang
diatur dalam butir a.
d. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat, maka garis sempadan
samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan:
1). bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas
pekarangan;
2). struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak
sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas
pekarangan, kecuali untuk bangunan rumah tinggal;
3). untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula
menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan
bangunan di sebelahnya, disyaratkan untuk membuat dinding
batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu;

E - 34
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

4). pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas
samping, sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal
setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan.
e. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang, maka jarak
bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi
persyaratan:
1). jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan
minimum 4 m pada lantai dasar, dan pada setiap penambahan
lantai/tingkat bangunan, jarak bebas di atasnya ditambah 0,50
m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak
bebas terjauh 12,5 m, kecuali untuk bangunan rumah tinggal,
dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat
diatur tersendiri.
2). sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas
yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan
serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan.
f. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam
bentuk apapun.
g. Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai
berikut:
1). dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling
berhadapan, maka jarak antara dinding atau bidang tersebut
minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan;
2). dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan
dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang
terbuka dan atau berlubang, maka jarak antara dinding
tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan;
3). dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling
berhadapan, maka jarak dinding terluar minimal setengah kali
jarak bebas yang ditetapkan.
3. Pemisah Disepanjang Halaman Depan, Samping, Dan Belakang
Bangunan
a. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan
menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah, dengan

E - 35
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

memperhatikan keamanan, kenyamanan, serta keserasian


lingkungan.
b. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman
muka.
c. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu, Kepala Daerah dapat
menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan
dalam butir a.
d. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan
pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b, dengan
setelah mempertimbangkan hal teknis terkait.
e. Dalam hal pemisah berbentuk pagar, maka tinggi pagar pada GSJ dan
antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1,50
m di atas permukaan tanah, dan untuk bangunan bukan rumah
tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas
permukaan tanah pekarangan.
f. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang,
dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal
setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan.
g. Untuk bangunan-bangunan tertentu, Kepala Daerah dapat
menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
butir e dan f.
h. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan
umum tidak diperkenankan.
i. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan
belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas
permukaan tanah pekarangan, dan apabila pagar tersebut
merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok
maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan, atau ditetapkan
lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan
kesehatan lingkungan.
j. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus
diadakan pemagaran. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan
pintu-pintu masuk, kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota
direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum .

E - 36
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

k. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih


lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah
di sepanjang halaman depan, samping, dan belakang bangunan.
l. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah
halaman depan, samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas
jalan atau kawasan tertentu, dengan pertimbangan kepentingan
kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas), keserasian
lingkungan, dan penataan bangunan dan lingkungan yang
diharapkan.
E.2.3 Persyaratan Arsitektur Dan Lingkungan
A. Tata Letak Bangunan
1. Ketentuan Umum
a. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi
prasarana kota, lalu lintas dan ketertiban umum.
b. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara
khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan.
c. Pada jalan-jalan tertentu, perlu ditetapkan penampang-penampang
(profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang
memenuhi syarat keindahan dan keserasian.
d. Bilamana dianggap perlu, persyaratan lebih lanjut dari ketentuan-
ketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah
dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi
nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan.
2. Tapak Bangunan
a. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga
keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain.
b. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung
diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang
ditetapkan dalam rencana tata ruang kota, dengan ketentuan tidak
melebihi KLB, harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan
keserasian lingkungan.
c. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan
struktur.
d. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan:
1) Ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan
kosong atau sedang dibangun, pemasangan nama proyek dan

E - 37
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

sejenisnya dengan memperhatikan keamanan, keselamatan,


keindahan dan keserasian lingkungan,
2) Larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan.
3) Ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan
memperhatikan keamanan, keselamatan, keindahan dan
keserasian lingkungan.
4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan dapat diberikan
untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan
memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan.
B. Bentuk Bangunan
1. Ketentuan Umum
a. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan
bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di
sekitarnya, atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau
teladan bagi lingkungannya.
b. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan
bangunan yang dilestarikan, harus serasi dengan bangunan yang
dilestarikan tersebut.
c. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak
bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak
bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya.
d. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan
mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman
dan serasi terhadap lingkungannya.
e. Bentuk, tampak, profil, detail, material maupun warna bangunan
harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian
lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian
dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya.
f. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang
dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya
terhadap gempa.
g. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya
ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang,
dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk
daerah/lokasi tersebut.
2. Perancangan Bangunan

E - 38
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga


setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan
penghawaan alami.
b. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1.1.2.b.i tidak
berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem
pencahayaan dan penghawaan buatan.
c. Ketentuan pada butir II.1.1.2.b.ii harus tetap mengacu pada prinsip-
prinsip konservasi energi.
d. Untuk bangunan dengan lantai banyak, kulit atau selubung bangunan
harus memenuhi persyaratan konservasi energi.
e. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi
semua orang, termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut.
f. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan
penggunaannya, harus dilengkapi dengan perlengkapan yang
berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu
lintas laut.
C. Tata Ruang Dalam
1. Ketentuan Umum
a. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari
permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.
b. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk
fungsi yang diharapkan.
c. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang
dan arsitektur bangunannya.
d. Dalam hal tidak ada langit-langit, tinggi ruang diukur dari
permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di
atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso.
e. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan
perbaikan, perluasan, penambahan, tidak boleh menyebabkan
berubahnya fungsi/penggunaan utama, karakter arsitektur
bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh
mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk.
f. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau
bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan
penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan
keselamatan bangunan serta penghuninya.

E - 39
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

g. Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi


kebutuhan kegiatan bangunan, sepanjang tidak menyimpang dari
penggunaan utama bangunan.
h. Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus
disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh
Kepala Daerah.
i. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah, bangunan
monumental, gedung serbaguna, gedung pertemuan, gedung
pertunjukan, gedung sekolah, gedung olah raga, serta gedung sejenis
lainnya diatur secara khusus.
2. Perancangan Ruang Dalam
a. Bangunan sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang
mewadahi kegiatan toko, kegiatan umum dan pelayanan.
b. Suatu bangunan gudang, sekurang-kurangnya harus dilengkapi
dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan
c. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi
dengan fasilitas kamar mandi dan kakus, ruang ganti pakaian
karyawan, ruang makan, ruang istirahat, serta ruang pelayanan
kesehatan yang memadai.
d. Perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari lantai
penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter, maka
ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai, kecuali untuk
penggunaan ruang lobby, atau ruang pertemuan dalam bangunan
komersial (antara lain hotel, perkantoran, dan pertokoan).
e. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap
sebagai lantai penuh. ;
f. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita
harus terpisah.
g. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya
tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta
memperhatikan segi kesehatan, keamanan dan keselamatan
bangunan dan lingkungan.
h. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai
penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai.
i. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau
kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran

E - 40
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

j. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari
50% dari luas lantai di bawahnya, tidak dianggap sebagai
penambahan tingkat bangunan.
k. Setiap bukaan pada ruang atap, tidak boleh mengubah sifat dan
karakter arsitektur bangunannya.
l. Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas
harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya,
kecuali menggunakan alat bantu mekanis.
m. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan
pencegahan kebakaran.
n. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan
minimum yang ditetapkan.
o. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai
maksimal 1,20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau
tinggi rata-rata jalan, dengan memperhatikan keserasian lingkungan.
p. Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian
(peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau
perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan, maka
tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri.
q. Tinggi Lantai Denah:
1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus:
a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari
pekarangan yang sudah dipersiapkan.
b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu
jalan yang berbatasan.
2) Dalam hal-hal yang luar biasa, ketentuan dalam butir (1)
tersebut, tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari
60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya, atau untuk tanah-
tanah yang miring.
r. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan
sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat
kemiringan supaya air dapat mengalir.
D. Kelengkapan Bangunan
1. Ketentuan Umum
a. Bangunan tertentu berdasarkan letak, ketinggian dan
penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan

E - 41
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

perlengkapan bangunan, termasuk pengaman/ rambu-rambu


terhadap lalu-lintas udara dan atau laut.
b. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas
mengikuti standar teknis yang berlaku.
2. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung
a. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana
pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan,
kenyamanan, kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan
gedung.
b. Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan
secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya
c. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa
pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan
gedung lain dan lingkungan sekitarnya.
d. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-
baiknya, sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat
dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang, termasuk para
penyandang cacat dan warga usia lanjut.
e. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan
secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi
lingkungannya.
E. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan
1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan
a. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai
daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk
kepentingan ekologis, sosial, ekonomi maupun estetika.
b. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan
gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka
Hijau Pekarangan (RTHP).
c. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat
tumbuhnya tanaman, peresapan air, sirkulasi, unsur-unsur estetik,
baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.
d. Sebagai ruang transisi, RTHP menupakan bagian integral dari
penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap
kota.

E - 42
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam


rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak
langsung dalam bentuk ketetapan GSB, KDB, KDH, KLB, Parkir dan
ketetapan lainnya.
f. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam
rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam
mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari
bangunan.
g. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud
pada butir 111.2.1.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang
dan tata bangunan, maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat
sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap
pemmohonan bangunan.
h. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III.2.1.e dapat
dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan
bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur
lingkungan.
i. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi
unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau, sungai,
pohon-pohon menahun, tanah dan permukaan tanah.
j. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut,
sungai besar, gunung dan sebagainya, terhadap suatu
kawasan/daerah dapat diterapkan pengaturan khusus untok
orientasi tata letak bangunan yang mempertimbangkan potensi
arsitektural lansekap yang ada.
k. Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada,
dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin
mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal
pencagaran sumber daya alam, keselamatan pemakai dan
kepentingan umum.
l. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka
jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan, seperti
dari bahaya banjir, pengendalian bentuk estetika bangunan secara

E - 43
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

keseluruhan/ kesatuan lingkungan, dan aspek aksesibilitas, serta


tergantung pada kondisi lahan.
2. Ruang Sempadan Bangunan
1. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus
mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait
sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang
ada. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang,
vegetasi besar / pohon, bangunan penunjang seperti pos jaga, tiang
bendera, bak sampah dan papan nama bangunan.
2. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau
ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan
bangunan ruang sempadan depan bangunan, pagar, jalur pejalan
kaki, jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas
jalan lainnya seperti tiang listrik, tiang telepon di kedua sisi jalan /
ruas jalan yang dimaksud.
3. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan
dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. KDH
minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. KDH ditetapkan
meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan
berkurangnya kepadatan wilayah.
4. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan
bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. Dengan demikian area
parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh
ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah, tidak di dalam
wadah / container yang kedap air.
5. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan
dalam kawasan-kawasan bangunan, dimana terdapat beberapa klas
bangunan dan kawasan campuran.
3. Tapak Basement
a. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB)
ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan, ketentuan teknis
dan kebijaksanaan Daerah setempat.
b. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai, lantai basement
pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas
tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun

E - 44
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan


tanah tempat penanaman.
4. Hijau Pada Bangunan
a. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-
garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada
balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding
bangunan.
b. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk
menyediakan RTHP. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP
namun tidak lebih dari 25% luas RTHP.
5. Tata Tanaman
a. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan
karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan
dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Potensi bahaya terdapat
pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif, batang
dan cabangnya rapuh, mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang
berbahaya bagi kesehatan manusia.
b. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin, air,
kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat
keselamatan pemakai.
c. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan, tanaman
dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun
harus lebih diutamakan.
d. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir diatas Kepala
Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana
pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka
Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi
syarat keselamatan pemakai.
F. Pertandaan, Dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan
1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir
a. Ketentuan Umum
1) Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan
area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang
proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan.
2) Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah
penghijauan yang telah ditetapkan.

E - 45
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak


diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas, atau
mengganggu lingkungan di sekitarnya.
4) Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan
sesuai dengan standar teknis yang berlaku.

b. Sirkulasi
1) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung,
antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan, serta
antara individu pemakai bangunan dengan sarana
transportasinya. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang
mudah dan jelas, baik yang bersifat pelayanan publik maupun
pribadi.
2) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan
kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki.
3) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal
(clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian
darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan
pelayanan lainnya.
4) Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk
jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi, elemen pengarah
sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman),
guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta
memperhatikan unsur estetika.
c. Jalan
1) Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan
pedestrian, penghijauan, dan ruang terbuka umum.
2) Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang
antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija, dan
termasuk untuk penataan elemen lingkungan, penghijauan, dll.
3) Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan
identitas lingkungan yang dikehendaki, dan keJelasan
kontinyuitas pedestrian.
d. Pedestrian
1) Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem
pedestrian secara keseluruhan, aksesibilitas terhadap subsistem

E - 46
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

pedestrian dalam lingkungan, dan aksesibilitas dengan


lingkungan sekitarnya.
2) Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan
manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan.
3) Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya
ruang yang layak digunakan/manusiawi, aman, nyaman, dan
memberikan pemandangan yang menarik.
4) Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada
kepentingan pejalan kaki.
e. Parkir
1) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan
kaki, memudahkan aksesibilitas, dan tidak terganggu oleh
sirkulasi kendaraan.
2) Luas, distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak
mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya, serta
disesuaikan dengan daya tampung lahan.
3) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya
seperti untuk jalan, pedestrian dan penghijauan.
2. Pertandaan (Signage)
a. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame, harus
membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan
yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya
pada bangunan keveling, pagar, atau ruang publik.
b. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk
lingkungan/ kawasan tertentu, Kepala Daerah dapat mengatur
pembatasa-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari
signage.
3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan
a. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan
memperhatikan karakter lingkungan, fungsi dan arsitektur bangunan
estetika amenity, dan komponen promosi.
b. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan
pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan
umum

E - 47
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

c. Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan


ruang luar yang berlebihan, silau, visual yang tidak menarik, dan
telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan.
G. Pengelolaan Dampak Lingkungan
1. Dampak Penting
a. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang
mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang
berlaku.
b. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang
menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau
secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak
perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan:
1) menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati
lingkungan, yang melampaui baku mutu lingkungan menurut
peraturan penundang-undangan yang bertaku;
2) menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan
yang melampaui kriteria yang diakui, berdasarkan pertimbangan
ilmiah;
3) mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik,
dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku terancam punah; atau habitat alaminya mengalami
kerusakan;
4) menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan
lindung (hutan lindung, cagar alam, taman nasional, suaka
margasatwa, dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut
peraturan perundang-undangan;
5) merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan
peninggalan sejarah yang bernilai tinggi;
6) mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai
keindahan alami yang tinggi;

E - 48
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

7) mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan


masyarakat, dan atau pemerintah.
d. Kegiatan yang dimaksud merupakan kegiatan yang berdasarkan
pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting
terhadap lingkungan hidup.
2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan
Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau
lingkungannya yang wajib AMDAL, adalah sesuai Ketentuan pengelolaan
Dampak Lingkungan yang berlaku.
3. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL)
Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau
lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan
yang berlaku.
4. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan
a. Persyaratan Bangunan
1) Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya
menggunakanmenyimpan atau memproduksi bahan peledak dan
bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak, dapat diberikan
ijin apabila:
a) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan
atau berjarak tertentu dari jalan umum, jalan kereta api dan
bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis
terkait.
b) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu
dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam
pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait.
c) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut
diarahkan ke daerah yang paling aman.
2) Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan
atau memproduksi bahan radioaktif, racun, mudah terbakar atau

E - 49
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

bahan lain yang berbahaya, harus dapat menjamin keamanan


keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya.
3) Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak
bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan
dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan
terhadap matahari.
4) Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air
bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan
mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam
(deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang
bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan
darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM.
5) Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air
larian, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi
dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan
standar teknis yang berlaku.
6) Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan
LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai, maka rencana teknis
sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus
mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.
b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi
1) Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru
sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran
pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat
permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada.
2) Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat
menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus
dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan
dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas.
3) Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya
diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya, atau
tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan.
4) Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan
menimbulkan keretakan bangunan, sekelilingnya harus
dilengkapi dengan kolam peredam getaran.

E - 50
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

5) Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan


kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan
pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada
masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur
penduduk pulih seperti semula.
c. Pembuangan limbah cair dan padat
1) Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau
buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan
tanah, harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan
pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan
yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang
berwenang.
2) Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus
dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang
memenuhi standar baku mutu limbah cair.
3) Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah
padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar
lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan
lingkungan bangunan gedung.
5. Pengelolaan Daerah Bencana
a. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana, daerah
Banjir dan yang sejenisnya.
b. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada dapat ditetapkan
larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan
khusus di dalam membangun, dengan memperhatikan keamanan,
keselamatan dan kesehatan lingkungan.
c. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan
sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu, dibatasi, atau
dilarang membangun bangunan.
d. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami
bencana, dengan memperhatikan keamanan, keselamatan dan
kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat,
bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara
untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu
dan dapat dibebaskan dari izin.

E - 51
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. Daerah sebagaimana dimaksud dapat ditetapkan sebagai daerah


peremajaan kota.
E.2.4 Persyaratan Struktur Bangunan Gedung
A. Persyaratan Struktur dan Bahan
1. Persyaratan Struktur
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung
beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia (gempa dll).
b. Menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau
luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan.
c. Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan fisik
yang disebabkan oleh prilaku struktur.
d. Menjamin perlindungan property lainnya dari kerusakan fisik yang
disebabkan oleh kegagalan struktur.
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua
persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan
dan pengguna bangunan, serta sesuai standar teknis (SNI) yang
terkait.
b. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI
maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan
teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan.
c. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses
sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang
dimaksud.
d. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki
sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan
bahan-bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap
gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.
B. Pembebanan
1. Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur
terhadap beban - beban yang mungkin bekerja selama umur layan
struktur, termasuk beban tetap, beban sementara (angin, gempa) dan
beban khusus.
2. Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban harus
sesuai dengan standar teknis yang berlaku, seperti :

E - 52
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung


SNI 1726;2012
b. SNI 1727:2013 Beban minimum untuk perancangan bangunan
gedung dan struktur lain.
3. Beban Mati diperhitungkan berdasarkan data-data berikut ini.
a. Berat Jenis Beton Bertulang yang diambil sebagai acuan pembebanan
adalah 2400 kg/m3
b. Berat Jenis Beton Rabat untuk finishing = 2200 kg/m3.
c. Beban finishing lantai diambil setebal 4 cm = 88 kg/m2.
d. Beban Dinding Bata = 250 kg/m2.
e. Beban Dinding Hebel untuk partisi antar ruangan dalam 1 unit
f. Hebel tebal 8 cm difinish plester untuk 2 sisi = 80 kg/m2.
g. Beban Dinding Hebel untuk partisi antar unit apartemen
h. Hebel tebal 10 cm difinish plester untuk 2 sisi = 100 kg/m2.
i. Beban Curtain Wall (Glass/ Alumunium Panel) = 50 kg/m2.
j. Beban dinding panel precast tebal 10 cm untuk dinding luar = 240
kg/m2.
k. Beban plafon diambil sebesar 18 kg/m2.
l. Beban M&E di koridor diambil sebesar 20 kg/m2.
m. Beban M&E di dalam unit apartemen diambil sebesar 5 kg/m2.
n. Beban equipment M&E di ruang M&E = 600 kg/m2, kecuali ada
ketentuan lain yang lebih berat.
o. Beban tanah dan tanaman, sesuai dengan ketebalan tanah, dengan
mengambil tanah = 1800 kg/m3.
4. Beban Hidup (LL)
Beban Hidup disesuaikan dengan fungsi dari masing -masing ruangan.
a. Beban hidup unit-unit apartemen = 200 kg/m2
b. Beban hidup koridor antar unit = 250 kg/m2.
c. Beban hidup di lobi lift = 300 kg/m2.
d. Beban ruang pertokoan = 400 kg/m2.
e. Beban Hidup ruang serba guna / exhibition / gallery = 400 kg/m2.
f. Beban Hidup restoran = 250 kg/m2.
g. Beban Hidup kitchen restaurant = 400 kg/m2.
h. Beban Hidup gudang = 400 kg/m2.
i. Beban Hidup Parkir = 400 kg/m2.
j. Beban Hidup ruang M&E (personil maintanance) = 100 kg/m2
(Beban alat dihitung sebagai beban mati).
k. Beban Hidup atap dak beton yang tidak aksesibel = 100 kg/m2.
l. Beban Hidup atap dak beton yang aksesibel = 250 kg/m2.
m. Beban Hidup tangga = 300 kg/m2.
C. Struktur Atas
1. Konstruksi beton

E - 53
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis


yang berlaku, seperti:
a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI
2847; 2013
b. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung, SNI-
1728;1989
c. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal, SNI-2834;
2000

2. Konstruksi Baja
Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang
berlaku seperti:
a. Spesifikasi Desain Untuk Konstruksi Kayu SNI 7973;2013.
3. Konstruksi Kayu
Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis
yang berlaku seperti:
a. Spesifikasi Desain Untuk Konstruksi Kayu SNI 7073;2013 .
4. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus
a. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus
dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan
teknologi khusus tersebut.
b. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar
teknis padanan untuk spesifikasi teknis, tata cara, dan metoda uji
bahan dan teknologi khusus tersebut.
5. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi
Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi,
standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan
yang harus dipenuhi, antara lain:
a. Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk
Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung, SNI-
1735;2000
b. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya
Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, SNI-1745;2000
D. Struktur Bawah

E - 54
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

1. Pondasi Langsung
a. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan
daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya
bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.
b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai
teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek,
berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan
tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal
dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain.
c. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana
dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana
ahli yang memiiki sertifikasi sesuai.
d. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi
beton bertulang.
2. Pondasi Dalam
a. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah
dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan
tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan
penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi.
b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai
teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek,
berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan
tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal
dengan parameter tanah yang lain.
c. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi
dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah pondasi dalam
direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari
faktor keamanan yang lazim.
d. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan
berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh
perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.
e. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari
jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik

E - 55
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

secara random, kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta


disetujui oleh Dinas/Instansi terkait.

E. Penulangan Struktur
Penulangan struktur harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :
1. Penulangan balok harus mengikuti ketentuan SNI 03-2847-2013 untuk
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) butir 23.3.
TULANGAN LENTUR :
a. Tulangan minimum dari balok adalah :
As minimum = 1,4 x bw x d / fy
Dimana :
As = luas tulangan longitudinal total dalam balok
bw = lebar balok, mm
d = tinggi efektif balok, mm
fy = kuat leleh tulangan longitudinal, MPa
b. Sekurang-kurangnya harus ada 2 buah tulangan atas dan 2 tulangan
bawah yang dipasang menerus.
c. Rasio maksimum tulangan longitudinal total di dalam balok adalah
0,025
d. maksimum = 0,025 dimana = rasio tulangan longitudinal total di
dalam balok
e. Rasio luas tulangan tekan dibandingkan luas tulangan tarik tidak
boleh kurang dari 0.5
As / As 0,5
Dimana :
As = tulangan tekan
As = tulangan tarik
f. Sesuai D1-PPL-0901-01, maka luas tulangan tarik di atas pada
tumpuan adalah maksimum 1.2 % dan luas tulangan tarik di bawah
pada lapangan adalah maksimum 1.2 %.

E - 56
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

g. Dalam segala hal, luas tulangan tarik diusahakan selalu dibawah 1 %,


untuk menghasilkan desain yang efisien.
h. Pada balok dengan ketinggian di atas 500 mm harus dipasang
tulangan pinggang dan ties sesuai gambar standar penulangan
struktur agar menjamin daktilitas balok selama memencarkan energi
gempa.
TULANGAN GESER DI TUMPUAN :
a. Sengkang harus dipasang sebagai sengkang tertutup
b. Sengkang pertama harus dipasang pada jarak 50 mm dari muka
tumpuan
c. Jarak maksimum antar sengkang di tumpuan tidak boleh melebihi :
d/4 di mana d = tinggi efektif balok
8 D lentur di mana D lentur = diameter tulangan lentur yang
dipasang 24 D sengkang di mana D sengkang = diameter tulangan
sengkang yang dipasang 200 mm
d. Diameter sengkang minimum adalah 10 mm
e. Sesuai D1-PPL-0901-01, maka jarak minimum antar sengkang di
tumpuan harus 100 mm
f. Sesuai D1-PPL-0901-01, maka sengkang maksimum dipasang
sebanyak 4 penampang
g. Dalam menentukan momen kapasitas lentur untuk menentukan
tulangan geser balok di tumpuan, maka harus diambil besaran
overstrength untuk tulangan sebesar 1.25.
TULANGAN GESER DI LAPANGAN :
Jarak maksimum antar sengkang di lapangan tidak boleh melebihi : d/2
di mana d = tinggi efektif balok
2. Penulangan kolom harus mengikuti ketentuan SNI 03-2847-2013 untuk
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) butir 23.4.
TULANGAN LENTUR :
Dalam proses penulangan dengan program komputer ETABS harus selalu
dipilih kondisi Special Moment Resisting Frames, sehingga oleh program
komputer akan selalu terpenuhi persamaan berikut : Me 6/5 Mg
dalam menghitung tulangan utama kolom. Kondisi ini akan menyebabkan

E - 57
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

bahwa momen yang dipergunakan untuk menulangi kolom selalu 6/5


kali lebih besar dari jumlah momen kapasitas balok yang sudah diberi
overstrength.
Rasio penulangan kolom harus lebih besar dari 1 % dan harus lebih kecil
dari 4 %. Diameter minimum tulangan kolom adalah diameter ulir 13
mm.
Sehubungan dengan sendi plastis akan terjadi di dasar kolom maka
sambungan tulangan kolom tidak boleh dilakukan di dasar kolom.
Sambungan pertama minimal terjadi di tengah-tengah kolom pada lantai
dasar.
Sambungan lewatan pada kolom lantai-lantai selanjutnya juga harus
dilakukan di tengah-tengah bentang kolom. Hal ini karena masih
dimungkinkannya terjadi sendi plastis pada kolom-kolom lantai
selanjutnya. Sambungan lewatan tersebut harus diikat dengan sengkang
tertutup dengan jarak vertikal sesuai persyaratan sebagai berikut :
a. s d/4 dimana s = jarak vertikal antar sengkang tertutup
d = tinggi efektif kolom (jarak antara titik pusat tulangan tarik ke
daerah tekan beton terjauh)
b. s 100 mm dimana s = jarak vertikal antar sengkang tertutup
Ketentuan sambungan lewatan ini harus dijadikan standar dalam gambar
standar penulangan. Apabila ukuran kolom selalu 450 mm, maka d
selalu 400 mm, sehingga jarak sengkang tertutup untuk sambungan
lewatan (lap splice) selalu diambil s = 100 mm. Diameter sengkang
tertutup ini dapat diambil diameter ulir 10 mm. Ties dipasang sesuai
dengan diameter dan jarak sengkang tertutup dan mengikuti ketentuan
ties untuk kolom (bahwa jarak horizontalnya tidak boleh 350 mm).
TULANGAN GESER DI TUMPUAN :
a. Sengkang harus dipasang sebagai sengkang tertutup
b. Sengkang pertama harus dipasang pada jarak 50 mm dari muka
tumpuan
c. Jarak maksimum antar sengkang di tumpuan tidak boleh melebihi :

E - 58
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

dk/4 atau bk/4 di mana dk atau bk = dipilih ukuran terkecil dari


ukuran kolom 6 D lentur di mana D lentur = diameter tulangan
lentur yang dipasang sx di mana sx = 100 + (350-hx)/3 ; mm
Hx = spasi horizontal maksimum kaki-kaki sengkang tertutup atau
sengkat ikat pada semua muka kolom, mm
Nilai sx tidak perlu lebih besar dari 150 mm dan tidak perlu lebih
kecil dari 100 mm
d. Diameter sengkang minimum adalah 10 mm
e. Jarak antara 2 tulangan vertikal yang harus dikekang dengan ties :
350 mm. Pada daerah tumpuan, ties ini harus dipasang pada jarak
yang sama dengan jarak sengkang. Diameter ties ini dapat diambil
diameter yang sama dengan diameter sengkang.
f. Dalam menentukan momen kapasitas lentur kolom untuk
menentukan tulangan geser kolom di tumpuan, maka harus diambil
besaran overstrength untuk tulangan sebesar 1.25.
g. Pada kolom terbawah, sengkang harus dipasang masuk sampai ke
pile cap/pondasi raft sedalam 300 mm.
TULANGAN GESER DI LAPANGAN :
Tulangan geser di lapangan dapat dihitung berdasarkan gaya geser hasil
analisis struktur.
a. Jarak maksimum antar sengkang di lapangan tidak boleh melebihi :
b. 6 D lentur di mana D lentur = diameter tulangan lentur yang
dipasang 150 mm
c. Diameter sengkang minimum adalah 10 mm
d. Jarak antara 2 tulangan vertikal yang harus dikekang dengan ties :
350 mm. Pada daerah lapangan, ties ini dapat dipasang pada jarak
yang lebih besar, yaitu 3 x jarak sengkang. Diameter ties ini dapat
diambil diameter yang sama dengan diameter sengkang.
3. Penulangan hubungan balok-kolom harus mengikuti ketentuan SNI 03-
2847-2002 untuk Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK).

E - 59
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Reduction factor untuk geser pada hubungan balok-kolom adalah


0.8. Shear stress check pada hubungan balok-kolom harus diperiksa
dalam output ETABS nya.
b. Sengkang tertutup yang dipasang pada tumpuan kolom harus
diteruskan dengan jarak 150 mm ke dalam hubungan balok-kolom.
Ties tambahan tidak perlu dipasang dalam hubungan balok-kolom.

4. Penulangan shear wall harus mengikuti ketentuan SNI 03-2847-2013.


TULANGAN LENTUR :
a. Untuk menjamin agar pada gempa kuat shear wall tetap berperilaku
elastik kecuali pada dasar shear wall dimana sendi plastis dapat
terbentuk, maka bidang momen akibat gempa tak berfaktor harus
harus dimodifikasi terlebih dahulu untuk menjamin sendi plastis
hanya terjadi pada dasar shear wall.
b. vertikal minimum = 0,0025
dimana = rasio tulangan longitudinal vertikal di dalam shear wall
c. Diameter tulangan 1/10 tebal dinding
d. Jarak minimum antar tulangan vertikal dalam dinding :
200 mm di dalam daerah ujung
300 mm di luar daerah ujung
e. Untuk daerah ujung shear wall (boundary zone) :
Pu / Po harus < 0.35 dimana Pu = gaya aksial terfaktor
Po = kemampuan penampang dinding beton bertulang menahan
beban aksial
f. Tulangan vertikal di daerah ujung shear wall (boundary zone) :
g. Minimum 0.5 % dari luas penampang ujung, sesuai UBC 1997
1921.6.6.6. (4.2).
h. Tulangan vertikal di daerah ujung harus dikekang dengan sengkang
tertutup.

Sengkang tertutup ini tidak perlu mengikuti ketentuan SNI 03-2847-


2013, persamaan 124, karena concrete compressive strain shear wall

E - 60
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

selalu diambil 0.003, sesuai prosedur perhitungan yang dilakukan


ETABS untuk shear wall.

Sengkang tertutup untuk daerah ujung dapat diambil diameter deformed


D10. Jarak antara sengkang tertutup di daerah ujung harus mengikuti
ketentuan tulangan geser di bawah.

Tulangan vertikal di daerah ujung ini juga harus diperlakukan seperti


kolom dengan dipasang pengikat (ties). Jarak antara 2 tulangan vertikal
yang harus dikekang dengan ties : 350 mm. Jarak vertikal antar ties ini
dapat diambil sama dengan jarak vertikal sengkang tertutup pada daerah
ujung.

5. Tulangan vertikal di luar daerah ujung harus dikekang dengan ties dan
dipasang pada setiap jarak 450 mm. Jarak ties secara vertikal dapat
dipasang sejarak 450 mm.
TULANGAN GESER :
a. horizontal minimum = 0,0025
dimana = rasio tulangan transversal horizontal di dalam shear wall
b. Jarak antar tulangan horizontal di daerah ujung :
- 6 D vertical di mana D vertical = diameter tulangan vertical
yang dipasang dd di mana dd = tebal dinding shear wall
- 150 mm.
- Jarak antar tulangan horizontal di luar daerah ujung :
- 3 dd di mana dd = tebal dinding shear wall
- ld / 5 di mana ld = panjang dinding shear wall
- 450 mm
F. Keandalan Struktur
1. Keselamatan Struktur
a. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut
terhadap gaya-gaya yang dipikulnya, beban akibat perilaku manusia
maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam.
b. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus
dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai
dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara
Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.

E - 61
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

c. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan


sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung,
sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan
keselamatan struktur.
d. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara
berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau
didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.
2. Keruntuhan Struktur
a. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu
sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri, beban
yang didukungnya, beban akibat perilaku manusia, dan atau beban
yang diakibatkan oleh perilaku alam.
b. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang
didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara
teknis telah melebihi umur yang direncanakan, atau karena
dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai
akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam
pemanfaatannya.
c. Ketidakandalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau
manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran, gempa, maupun
bencana lainnya.
d. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak
diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan
secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang
berlaku.
G. Demolisi Struktur
1. Kriteria Demolisi
Demolisi struktur dilakukan apabila:
a. Struktur bangunan sudah tidak andal, dan kerusakan struktur sudah
tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan
atau ekonomis, serta dapat membahayakan pengguna bangunan,
masyarakat dan lingkungan.

E - 62
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

b. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan, dan secara


teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

2. Prosedur dan Metoda


a. Prosedur, metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi
persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk
mencegah kerusakan serta dampak lingkungan.
b. Penyusunan prosedur, metoda dan rencana demolisi struktur
dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.
E.2.5 Persyaratan ketahanan terhadap kebakaran
1. Sistem Proteksi Aktif
a. Ketahanan Api dan Stabilitas.
b. Menjamin terwujudnya sistem proteksi pasif dan aktif pada
bangunan gedung.
c. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung
beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia.
d. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian
rupa sehingga mampu secara struktural stabil selama kebakaran
sehingga:
- Cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman.
- Cukup waktu dan mudah bagi pasukan pemadam kebakaran
memasuki lokasi untuk memadamkan api.
- Dapat menghindari kerusakan pada property lainnya.
e. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama
kebakaran, sehingga:
f. Cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman;
g. Cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi
untuk memadamkan api;
h. Dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

E - 63
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

i. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana


pengamanan dan pencegahan penyebaran api, terutama pada
bangunan klas 2, 3 atau bagian dan bangunan klas 4:
j. yang menghubungkan kompartemen api, dan antara bangunan.
k. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan
yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas
struktural selama kebakaran, yang sesuai dengan:
l. Fungsi atau penggunaan bangunan;
m. Beban api;
n. Intensitas kebakaran;
o. Tingkat bahaya api;
p. Ketinggian bangunan;
q. Kedekatan dengan bangunan lain;
r. Sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan;
s. Ukuran setiap kompartemen api;
t. Intervensi pasukan pemadam kebakaran; dan
2. Elemen bangunan lainnya.
a. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari
penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk
evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat.
b. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api,
membatasi berkembangnya asap dan panas, serta gas-gas beracun
yang mungkin timbul, sampai dengan tingkat tertentu, yang sesuai
dengan:
c. Waktu evakuasi
d. Jumlah, mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya;
e. Fungsi atau penggunaan bangunan;
f. Sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan.
g. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh
(misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian
kebakaran dalam bangunan, keruntuhan tersebut dapat dihindari.

E - 64
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

h. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada


tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan
utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi, atau
potensial dapat meledak.
i. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada
tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api, sehingga peralatan
darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka
waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran.
j. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan
penyebaran api, yaitu pada bukaan, sambungan konstruksi, dan
lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian, sehingga
diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut.
k. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan
dan personil pemadam kebakaran, untuk memudahkan tindakan
pasukan pemadam kebakaran secara memadai, sesuai dengan:
l. Fungsi bangunan,
m. Beban api,
n. Intensitas kebakaran,
o. Tingkat bahaya api,
p. Sistem proteksi aktif, dan
q. Ukuran kompartemen.
3. Tipe Konstruksi Tahan Api.
Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api, terdapat 3 (tiga) tipe
konstruksi yaitu:
a. Tipe A:
Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan
api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada
bangunan minimal 2 (dua) jam. Pada konstruksi ini terdapat dinding
pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran
panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan
dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan
didekatnya.

E - 65
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

b. Tipe B:
Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen
penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-
ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya
mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama
sekurang kurangnya 1 (satu) jam.
c. Tipe C:
Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat
terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap
api.
4. Tipe konstruksi yang diwajibkan
Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai
dengan ketentuan pada tabel berikut:
Tabel E.1 Tipe Konstruksi yang diwajibkan

KETINGGIAN KLAS BANGUNAN


(dalam jumlah lantai) 2,3,9 5,6,7,8
4 atau lebih A A
3 A B
2 B C
1 C C

5. Kompartemenisasi dan Pemisahan


a. Ukuran Kompartemen
Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat
membatasi kobaran api yang potensial, perambatan api dan asap,
agar dapat:
1) Melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan
terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam
bangunan.
2) Mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan
lain yang berdekatan.
3) Menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.

E - 66
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Tabel E.2
Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran

Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi bangunan


Tipe A Tipe B Tipe C
Maksimum
luasan lantai 8.000 m2 5.500 m2 3.000 m2
Klas 5 atau 9b Maksimum 33.500
48.000 m3 18.000 m3
volume m3
Maksimum
5.000 m2 3.500 m2 2.000 m2
Klas 6,7,8 atau luasan lantai
9 (kecuali
daerah Maksimum 21.500
30.000m3 12.000 m3
volume m3
perawatan
pasien

b. Pemberlakuan.
1) bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10, dan
2) ketentuan pada butir c, d dan e tidak berlaku untuk tempat
parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler, tempat
parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.
c. Batasan umum luas lantai.
1) Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium
bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai
maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam
Tabel E.2.
2) Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan
pendingin udara, ventilasi, atau peralatan Lift, tanki air, atau unit
utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan, tidak
diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari
kompartemen atau atrium

E - 67
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium, maka bagian


dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan
pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak
diperhitungkan sebagai volume atrium.
4) Bagian bangunan, ruang dalam bangunan yang karena
fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran,
harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api,
asap dan gas beracun.
d. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.
Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari
yang tersebut dalam Tabel v.1.4 bila:
1) Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.000 m2 dan
volumenya tidak melebihi 108.000 m3 dengan ketentuan:
- bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat
ruangterbuka disekeliling bangunan tersebut, yang
memenuhi persyaratan sebagaimana lebamya tidak kurang
dari 18 meter,
- bangunan klas 5 s.d. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan
sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling
bangunan yang memenuhi ketentuan.
2) Bangunan dengan luasan melebihi 18.000 m2 atau 108.000
m3 dengan sistem sprinkler, dan dikelilingi jalan masuk
kendaraan dan apabila:
- ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12
meter, dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau
ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis
yang berlaku; atau
- ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter, dilengkapi
dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang
berlaku.

E - 68
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling, dan
setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di
atas; bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari
6 meter, maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan
secara bersama harus memenuhi ketentuan.
e. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan.
1) Ruang terbuka yang diperlukan harus:
- Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan,
sungai, atau tempat umum yang berdampingan dengan
kapling tersebut, namun berjarak tidak lebih dari 6 meter
dengannya;
- Termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan
- Tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material; dan
- Tidak ada bangunan diatasnya, kecuali untuk gardu jaga dan
bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang
pompa), yang tidak melanggar batas lebar dari ruang
terbuka, tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada
bagian manapun dari tepian kapling, atau akan menambah
risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan
dengan kapling tersebut.
2) Jalan masuk kendaraan harus:
- Sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan
dari jalan umum,
- Lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang
lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan, serta di atas
jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya
untuk kendaraan dan pejalan kaki
- Dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai;
- Memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang
memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran, dan ;

E - 69
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

- Bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s.d. (4) di atas
maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya
kendaraan atau bagian dari padanya.

f. Pemisahan
Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar, pemisahan oleh
dinding tahan api, dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat
teknis sesuai ketentuan yang berlaku.
g. Tangga dan Lift pada satu shaft.
Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama, bila
salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu
shaft tahan api.
h. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.
Pada bangunan klas 2 dan 3, koridor umum yang panjangnya lebih
dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40
meter dengan dinding yang tahan asap, mengikuti syarat teknis
sesuai ketentuan yang berlaku.
6. Proteksi Bukaan
a. Seluruh bukaan harus dilindungi, dan lubang utilitas harus diberi
penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin
pemisahan dan kompartemenisasi bangunan.
b. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa,
shaft ventilasi, dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup
dengan dinding dari bawah sampai atas, dan tertutup pada setiap
lantai.
c. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud
pada butir b, maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan
minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai.
d. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api, damper, dan
sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan
melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi.
e. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk:

E - 70
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

1) bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10;


2) sambungan pengendali, lubang tirai, dan sejenisnya di
dinding luar dari konstruksi pasangan, dan sambungan antara
panel di dinding luar dari beton pracetak, bila luas
lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang
diperlukan;
3) lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible
ventilators), bila luas penampang masing-masing tak melebihi
45.000 mm2, dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2
m pada dinding yang sama.
f. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar.
Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus:
1) berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari:
- 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai; atau
- 1,5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai; dan
2) bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber
api terletak kurang dari:
- 3 m dari batas belakang persil bangunan; atau
- 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil, dan tidak
berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan; atau
- 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama, yang bukan
dari klas 10, maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan
butir h, dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding
maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar
bangunan, dan
3) bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii,
maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar
dari lantai dimana bukaan tersebut berada, kecuali bila bukaan-
bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan
seperti bangunan panggung terbuka.

E - 71
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

g. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. Kecuali bila


dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9, jarak antara
bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak
kurang dari yang tercantum pada Tabel E.4

Tabel E.4
Jarak Antara Bukaan
Pada Kompartemen Kebakaran Yang Berbeda
Sudut Terhadap Dinding Jarak Minimal
Antara Bukaan
0 (dinding-dinding saling berhadapan) 6m
Lebih dari 0 s.d. 45 5m
Lebih dari 45 s.d. 90 4m
Lebih darii 90 s.d. 135 3m
Lebih dari 134 s.d kurang dari 180 2m
180 atau lebih nol

h. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan.


1) Bila diperlukan proteksi, maka jalan masuk, jendela dan
bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut:
- Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau
luar sesuai keperluan, atau memasang pintu kebakaran
dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara
otomatis);
- Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai
keperluan, atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/-
(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi
tertutup), atau memasang penutup api otomatis dengan TKA
-/60/-
- Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau
luar sesuai keperluan, atau konstruksi dengan TKA tidak
kurang dari-/60/-.

E - 72
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) Pintu, jendela, dan penutup kebakaran harus memenuhi


ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku.

E.2.6 Sistem Proteksi Aktif


1. Sistem Pemadam Kebakaran
a. Hidran kebakaran.
1) Sistem hidran harus dipasang pada bangunan:
a) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2, dan
b) terdapat regu pemadam kebakaran.
2) Sistem hidran kebakaran,
a) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku, SNI
1745; dan
b) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai
hidran tersebut ditempatkan, kecuali pada satuan
peruntukan bangunan, di mana:
- bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4,
dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada
lantai dimana ada jalur keluar, atau
- bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih
dari 2 (dua), dilayani oleh hidran tunggal yang
ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar,
asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan
peruntukan bangunan.
c) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari:
- 2 (dua) pompa, yang sekurang-kurangnya satu pompa
digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang
dicatu dari daya generator darurat,
- 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang
dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu
sama lain,

E - 73
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

d) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan


pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian
efektif kurang dari 25 m, satu pompa digerakkan oleh:
- motor-bakar, atau
- motor listrik yang dicatu dari generator darurat, atau
- motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga
yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah
daya otomatis;
e) Pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus
pada tempat yang:
- Mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka,
atau
- Jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan
sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku, tempat
pompa harus terpisah dari bangunan, dan dengan
konstruksi yang mempunysi tka tidak kurang dari yang
dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk
klasifikasi bangunannya;
f) Untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan, maka
bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat, tahan
cuaca, mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang
terbuka, dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan, maka
dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak
2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah
pompa, atau dinding antara bangunan dan rumah pompa
yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas
rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang
dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas
bangunannya.
g) Bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis,
maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan
masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan

E - 74
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber


tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan
dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air
dalam sistem gedung, serta harus dirancang untuk
memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk
operasi petugas pemadam kebakaran.
b. Hose Reel
1) Sistem Hose Reel harus disediakan:
a) untuk melayani seluruh bangunan, dimana satu atau lebih
hidran dalam dipasang, atau:
b) bila hidran dalam tidak dipasang, untuk melayani setiap
kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500
m2 dan untuk maksud butir ini, satu unit hunian bangunan
klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4,
dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran.
2) Sistem Hose Reel, harus:
a) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku.
b) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan, kecuali
pada satu unit hunian,
- pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4
dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada
jalur keluar dari unit hunian tersebut, dan
- pada bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9 yang tidak lebih dari
2 (dua) lantai, dilayani oleh Hose Reei tunggal yang
ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian
tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit
hunian.
c) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian
rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam
mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang
bersangkutan
d) Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas
ditempatkan:
- di luar bangunan, atau
- di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar, atau

E - 75
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

- di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam


(selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang
diisolasi tahan api); atau
- kombinasi (a), (b), dan (c), sehingga hose tidak perlu
melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan
pintu kebakaran atau pintu asap.
e) Bila dihubungkan dengan meteran air, maka:
- dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel;
- diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM
berdiameter tidak kurang dari 25 mm;
- jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air;
- tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air
utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka
oleh pengunci dari logam.
f) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter
nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan
dengan sumber air untuk hidran, sebuah katup yang
memenuhi butir 5.d harus dipasang pada sambungan ke
saluran utama.
c. Sistem Sprinkler
1) Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana
ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel E.5
Persyaratan Pemakaian Sprinkler
Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan:
Semua klas bangunan: Pada bangunan yang tinggi
1. Termasuk lapangan parkir efektifnya
terbuka dalam bangunan lebih dari 25 m
campuran,
2. Tidak termasuk lapangan
parkir terbuka, yang
merupakan bangunan
terpisah

E - 76
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Bangunan pertokoan (kbs 6). Dalam kompartemensasi dengan


salah satu
ketentuan berikut:
(a) luas lantai lebih dari 3.500
m2.
(b) volume ruangan lebih dari
21.000 m3.
Bangunan Rumah Sakit. Lebih dari 2 (dua) lantai.
Ruang Pertemuan Umum, Luas panggung dan belakang
Ruang Pertunjukan, Teater. panggung
lebih dari 200 m
Konstruksi Atrium. Tiap bangunan beratrium
Untuk memperoleh ukuran
kompartemen
yang lebih besar:
(a) bangunan klas 5 - 9 dengan
luas maksimum 18.000 m2 den
Bangunan berukuran besar dan
volume 108.000 m3.
terpisah.
(b) semua bangunan dengan
luas lantai lebih besar dari
18.000 m2 dan volume108.000
m3.
Ruang parkir, selain nuang Bila menampung lebih dari 40
parkir terbuka kendaraan.
Bangunan dengan risiko bahaya Pada kompartemen, dengan
kebakaran salah satu dari 2(dua)
2 (dua) persyaratan berikut: persyaratan :
amat tinggi. ) (a) Luas lantai melebihi 2.000
m2.
(b) Volume lebih dari 12.000
m3.

*) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai


standar teknis yang berlaku.

E - 77
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis


sesuai standar teknis yang berlaku, SNI-3989.
b) Bangunan bersprinkler.
Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku
bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler, jika:
(1) sprinkler terpasang diselunuh bangunan, atau:
(2) dalam hal sebagian bangunan:
(i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi
kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa
sprinkler, dan
(ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara
bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker
diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan
3) Katup kontrol sprinkler.

Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang


yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke
jalan atau ruang terbuka.
4) Pasokan air.

Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku


mengenai sprinkler, pasokan air untuk sistem sprinkler harus
memperhatikan tinggi efektif bangunan, luar bangunan yang
diisyaratkan menggunakan sprinkler, dan klasifikas bangunan
sesuai standar teknis yang berlaku.
5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya.

Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan


dapat mengaktifkan:
a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema
yang disyaratkan; atau

E - 78
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat


didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas
intemal tidak disyaratkan,
6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper).

Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater, ruang pertemuan


umum atau semacamnya, maka pada tiap katup yang berfungsi
mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang
peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau.
7) Sistem sprinkler di ruang parkir.

Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada


bangunan multi-klas, harus:
a) berdiri sendiri, tidak berhubungan dengan sistem sprinkler
di bagian bangunan lainnya.
b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi
bagian bangunan bukan ruang parkir, harus dirancang
sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan
nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu
aliran air, ataupun mempengaruhi efektivitas operasi
sprinkler yang melindungi ruang parkir.
2. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
a. APAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh
bangunan, kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3
atau sebagian bangunan klas 4, yang memungkinkan dilakukannya
pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni
bangunan.
b. APAR memenuhi butir i, jika:
1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku, SNI-
3987 kecuali APAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam
bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel,
dan

E - 79
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) APAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi


yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya
yang harus diatasi.

3. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran


a. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di:
1) bangunan klas 1b; dengan
2) bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus;
3) bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang
digunakan sebagai:
(a) bagian hunian dari bangunan sekolah; atau
(b) akomodasi bagi lanjut usia, anak-anak atau orang cacat; dan
4) bangunan klas 9a.
b. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran.
1) Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm
kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku, SNI-
3985.
2) Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus
dihubungkan dan mengaktifkan:
(a) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi
internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab
VIII; atau
(b) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi
intemal tidak dipersyaratkan, maka dapat dihubungkan
dengan sistem pengeras suara, alarm pengindera asap
ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat
didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai
ketentuan yang berlaku.
c. Penempatan Alat Pendeteksi Asap.
1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar
saluran unit pengkondisian udara, atau menggunakan sistem
point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum
0,5 % smoke obscuration/m;
2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan
memper-timbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada
lintasan perpindahan asap;
3) ditempatkan kurang dari 1,50 meter jaraknya dari pintu
kebakaran; dan

E - 80
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

4) dipilih tipe foto-elektrik, jika dipasang di dalam saluran udara


(ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan
ukuran kurang dari 1 m, dan bila terdapat partikel jenis lainnya
harus menggunakan detektor tipe ionisasi. :
d. Batas Ambang
1) Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku
tentang Tata Cara Perencanaan, Pemasangan, dan Pemeriksaan
Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis.
2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus
mengikuti ketentuan yang berlaku, yaitu:
(a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan
Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam
Bangunan Gedung; dan
(b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi
dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.
4. Pengendalian Asap Kebakaran
a. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk:
1) bangunan klas 1 atau 10; dan
2) setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu
yang cukup lama, seperti gudang dengan luas lantai 30 m2, ruang
kompartemen sanitasi, ruang tanaman atau sejenisnya; dan
3) ruang parkir terbuka atau panggung terbuka.

b. Persyaratan umum
1) Pada saat terjadi kebakaran, setiap rute evakuasi harus dijaga
dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2.10 m di atas level
lantai, sehingga
(a) temperatur ruang tidak membahayakan manusia;
(b) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute
evakuasinya,
(c) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan
manusia, untuk selama tenggang waktu sampai dengan
seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan.
2) Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan
bangunan dan mobilitas manusia.

E - 81
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan


evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan
keluar, ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran
serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan, termasuk
didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau
sebagian klas 4, sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas.
4) Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara
untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran:
(a) pada bangunan yang termasuk dalam butir v, harus:
- beroparasi seperti sistem pengendali asap; atau
- diatur sehingga pada kondisi kebakaran, setiap bagian
yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar
kompartemen;
(b) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi, harus:
- beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai
ketentuan, bersama-sama dengan kelengkapan
pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk
memenuhi ketentuan pada Tabel V.2.3., atau ketentuan
pada butir b; atau
- diatur sehingga pada kondisi kebakaran, sistem tidak
mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian
asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada
Tabel V.2.3., atau ketentuan pada butir b, dan tidak
mensirkulasikan asap diantara kompartemen
kebakaran.
Untuk keperluan ketentuan ini, setiap hunian tunggal pada
bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai
kompartemen terpisah.
(c) Untuk sistem pengatur udara lainnya, dan tidak membentuk
bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan
standar yang berlaku.
(d) Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk
Bahaya Khusus, bila suatu bangunan tidak termasuk dalam
Tabel V.2.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus

E - 82
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

memenuhi ketentuan i, dan persyaratan lain dari pedoman


teknis ini.
c. Persyaratan untuk bahaya khusus
Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin
dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan:
1) tata letak bangunan;
2) sifat penggunaan bangunan;
3) sifat dan jumlah bahan yang disimpan, ditaruh atau dipakai di
dalam bangunan.
d. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk
setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang
berlaku.
5. Pusat Pengendali Kebakaran
a. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran
adalah:
1) sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama
berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau
penanganan kondisi darurat lainnya;
2) dilengkapi sarana alat pengendali, panel kontrol, telepon,
meubel, peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam
penanganan kondisi kebakaran;
3) tidak digunakan bagi keperluan lain, selain:
(a) kegiatan pengendalian kebakaran; dan
(b) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau
keamanan bagi penghuni bangunan.
b. Konstruksi.
Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang
tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang
terpisah, dimana:
1) konstruksi penutupnya dari beton, dinding atau sejenisnya
mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat
kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari
120/120/120;
2) bahan lapis penutup, pembungkus atau sejenisnya harus
memenuhi persyaratan terhadap kebakaran;

E - 83
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) peralatan utilitas, pipa, saluran udara dan sejenisnya, yang tidak


diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali, tidak boleh
lewat ruang tersebut;
4) bukaan pada dinding, lantai atau langit-langit yang memisahkan
ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya
untuk pintu, ventilasi dan lubang perawatan lainnya, yang
khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut.
c. Proteksi pada bukaan.
Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran, seperti pada lantai,
langit-langit dan dinding dalam, untuk jendela, pintu, ventilasi,
saluran, dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi
bukaan pada Bab V.1.5
d. Pintu Keluar.
1) Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah
dalam ruang tersebut, dapat dikunci dan ditempatkan
sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute
evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi
jalan masuk ke ruang pengendali tersebut.
2) Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah
a) arah pintu masuk di depan bangunan; dan
b) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan
yang dilindungi terhadap api, yang menuju ke tempat umum
dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30.
e. Ukuran dan sarana.
1) Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-
kurangnya:
a) Panel indikator kebakaran, sakelar kontrol dan indikator
visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran, kipas
pengendali asap, dan peralatan pengamanan kebakaran
lainnya yang dipasang di dalam bangunan;
b) telepon sambungan langsung,
c) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board)
berukuran cukup; dan

E - 84
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

d) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan


rencana taktis yang disebutkan dalam (5); dan
e) rencana taktis penanggulangan kebakaran.
2) Sebagai tambahan, di ruang pengendali dapat disediakan:
a) Panel pengendali utama, panel indikator lif, sakelar
pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik, genset
darurat; dan
b) sistem keamanan bangunan, sistem pengamatan, dan sistem
manajemen, jika dikehendaki terpisah total dari sistem
lainnya.
3) Ruang pengendali harus:
a) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2, dan salah
satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari
2,50 m;
b) jika hanya menampung peralatan minimum, luas lantai
bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan
panel indikator tidak kurang dari 1,50 m2,
c) jika dipasang peralatan tambahan, luas lantai bersih daerah
tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat, ruang
bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1,50 m2
dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang
pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai
tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas.
f. Ventilasi dan pemasok daya.
Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara:
1) ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar
bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali; atau
2) Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali,
dan
a) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk
tangga kebakaran yang dilindungi;
b) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau
sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan;

E - 85
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

c) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30


kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem
beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka;
d) mempunyai kipas, motor dan pipa-pipa saluran udara yang
membentuk bagian dari sistem, tetapi tidak berada di dalam
ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang
mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120;
e) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau
peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali.
g. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang
dalam ruang pusat pengendali, dan tingkat iluminasi diatas meja
kerja tak kurang dari 400 Lux.
h. Beberapa peralatan seperti Motor bakar, pompa pengendali
sprinkler, pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh
dipasang dalam ruang pengendali, tetapi boleh dipasang di ruangan-
ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut.
i. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang
diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran
beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA
bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam
bangunan.
E.2.7 Sarana Jalan Masuk Dan Keluar
1. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang
layak, aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan
didalamnya.
2. Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari kesakitan atau
luka saat evakuasi pada keadaan darurat.
3. Menjamin tersedianya aksesbilitas bagi penyandang cacat, khususnya
untuk bangunan fasilitas umum dan social.
1. Fungsi Dan Persyaratan Kinerja
Fungsi

E - 86
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak, aman, nyaman, dan


memadai bagi semua orang.
b. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan
penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman
tanpa meraskan keadaan darurat.
c. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian
tunggal pada bangunan klas 2, 3, atau 4.
Persyaratan kinerja:
a. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan
pergerakan manusia secara aman, nyaman dan memadai.
b. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam
bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain:
1) Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki.
2) Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar
dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan.
3) Setiap tangga dan ramp memiliki:
a) Permukaan lantai tidak licin pada ramp, injakan dan akhiran
injakan tangga.
b) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk
membantu kestabilan pemakai tangga/ramp
c) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan
d) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut
tidak menjadi rintangan.
e) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan
frekwensi penggunaan.
c. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari
lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan, atau karena
perbedaan tinggi lantai dalam bangunan, harus dibuatkan
penghalang yang:
1) menerus sepanjang area yang berbahaya.
2) tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari
lantai /atap.
3) mampu menjaga lintasan anak-anak.
4) Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak, dan
tekanan orang pada penghalang tersebut.

E - 87
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

d. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut


digunakan untuk panggung, tempat bongkar muat barang dan
sejenisnya.
e. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk:
1) tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain
untuk tujuan darurat, kecuali tangga/ramp di luar bangunan.
2) bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8.
f. Jumlah, lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada
bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri
dengan aman, sesuai dengan:
1) Jarak tempuh
2) Jumlah, mobilitas dan karakter penghuni.
3) Fungsi bangunan
4) Tinggi bangunan
g. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan:
1) Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut
2) Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan
3) Fungsi bangunan
4) Intervensi pasukan pemadam kebakaran
h. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan, dimensi
jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan .
1) Jumlah, mobilitas dan karakter lain dan penghuni
2) Fungsi bangunan
i. Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal
pada bangunan klas 2, 3 dan 4.

2. Ketentuan Jalan Keluar


Persyaratan Keamanan
a. Tangga, ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas
pengguna bangunan.
b. Tangga, ramp, lantai, balkon, dan atap yang dapat dicapai oleh
manusia harus mempunyai dinding pembatas, balustrade atau
penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan
terhadap risiko jatuh .
c. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus
mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk
melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya.
Kebutuhan Jalan Keluar

E - 88
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1


jalan keluar dari setiap lantainya.
b. Bangunan klas 2 s.d. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada
setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25
m
c. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai
manapun, bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan
dimaksud naik lebih dari 1,5 m, kecuali:
1) luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2, dan
2) jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu
jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m.
d. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada:
1) setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari
6,atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m.
2) setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada
bangunan klas 9a.
3) setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan
sebagai pusat asuhan balita.
4) iv.setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah
lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih.
5) setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih
dari 50 orang sesuai fungsinya.
e. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada
1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat
menjadi kompartemen tahan api.
f. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih
dari 1 deret tempat duduk, setiap deret harus mempunyai minimal 2
tangga atau ramp, masing-masing merupakan bagian jelur lintasan
ke minimal 2 buah jalan keluar.
g. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya,
setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan
harus dapat mencapai ke:
1) 1 jalan keluar, atau
2) sedikitnya 2 jalan keluar, bila 2 atau lebih jalan keluar
diwajibkan.
3. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran

E - 89
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap


kebakaran, kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari:
1) 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2, atau
2) 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3, dan
termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat
menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya.
b. Bangunan kelas 5 s.d. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap
bahaya kebakaran kecuali:
1) pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis
lantai secara berurutan pada suatu tempat, selain area
perawatan pasien;
2) merupakan bagian dari tribun penonton terbuka;
3) tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan,
bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang
menyeluruh.
4. Jarak jalur menuju pintu keluar
a. Bangunan klas 2 dan 3
1) Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak
lebih dari:
a) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang
berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia, atau
b) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang
merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka.
2) Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian
tunggal, harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat
jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia.
b. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari
pintu keluar, atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2
pintu keluar tersedia.

c. Bangunan klas 5 s.d. 9: Terkena aturan butir d, e, f, dan:


1) Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar,
atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar
tersedia, jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut
tidak melebihi 40 m, dan

E - 90
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) Pada bangunan klas 5 atau 6, jarsk ke pintu keluar tunggal pada


lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka
dapat diperpanjang sampai 30 m.
d. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a.
1) Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari
tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang
dipersyaratkan tersedia.
2) Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar
tersebut tidak lebih dari 30 m.
e. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada
bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus
tidak lebih dari 60 m.
f. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah
atau pusat asuhan balita, jarak ke salah satu pintu keluar
dimungkinkan 60 m, bila :
1) jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui
lorong/koridor. lobby, ramp, atau ruang sirkulasi lainnya, dan
2) konstruksi ruang tersebut bebas asap, memiliki TKA tidak
kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung
serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari
35 mm.
5. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif.
Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus:
a. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke
minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat
termasuk area lif di lobby;
b. berjarak tidak kurang dari 9 m;
c. berjarak tidak lebih dari:
1) 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3, atau
2) 45 m pada bangunan klas 9a, bila disyaratkan untuk pintu keluar
pada tempat perawatan pasien, atau
3) 60 m, untuk bangunan lainnya.
d. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu
hingga berjarak kurang dari 6 m.
6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar.
Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar:

E - 91
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m;


b. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang,
lebar bebas, kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari:
1) 1 m, atau
2) 1,8 m pada lorong, koridor atau ramp yang digunakan untuk
jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal
perawatan
c. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi
tidak lebih dari 200 orang, lebar bebas, kecuali pintu keluar harus
tidak kurang dari:
1) 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang, atau
2) 1,8 m pada lorong, koridor atau ramp yang digunakan untuk
jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal
perawatan.
d. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang, lebar
bebas, kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi:
1) 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan
keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau
ramp dengan tinggi tanjakan 1:12, atau
2) pada kasus lain, 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan
75 orang.
e. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang,
lebar bebas, kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17
m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600.
f. lebar pintu keluar:
1) pada area perawatan pasien, jika membuka ke arah koridor
dengan
(a) lebar koridor antara 1,8 m - 2,2 m: 1200 mm.
(b) lebar koridor lebih dari 2,2 m: 1070 mm.
(c) pintu keluar horisontal: 1250 mm.
2) lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b,
c, d atau e, minus 250 mm;
3) 750 mm, bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau
kamar mandi.
g. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan
atau ruang terbuka.
7. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap
Kebakaran,

E - 92
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga,


lorong, atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran,
kecuali kalau pintu tersebut dari:
1) lobby umum, koridor, hall atau yang sejenisnya;
2) unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai;
3) komponen sanitasi, ruang transisi atau yang sejenisnya.
b. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar
tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara
langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran
yang ada di lantai tersebut:
1) ke jalan atau ruang terbuka, atau
2) ketempat:
- ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki,
parkir kendaraan atau sejenisnya, dan tertutup tidak lebih
dari 1/3 kelilingnya.
- lintasan tanpa rintangan, tidak lebih dari 20 m, tersedia
menuju ke jalan atau ruang terbuka.

3) ke area tertutup yang:


- berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka,
- terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut;
- mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian
termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3
m;
- mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke
jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m.
c. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari
dinding luar bangunan dimaksud, diukur tegak lurus ke jalur
lintasan, bagian dinding tersebut harus mempunyai:
1) TKA sedikitnya 60/60/60,
2) bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan
Proteksi Bukaan.
d. Jika Jebih dari dua akses pintu, bukan dari komponen sanitasi atau
sejenisnya, membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap
kebakaran pada lantai dimaksud
1) lobby bebas asap harus tersedia
2) pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku.

E - 93
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan


ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap
kebakaran.
8. Tangga Luar Bangunan
Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang
disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap
kebakaran, pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25
m, bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung)
secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar, dan
memenuhi ketentuan teknis yang berlaku.

9. Lintasan Melalui Tangga / Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap


Kebakaran
a. Tangga/ramp, yang tidak diisolasi terhadap kebakaran, yang
berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai
jalan lintasan menerus, dengan injakan dan tanjakan dari setiap
lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan
atau ruang terbuka disediakan
b. Pada bangunan klas 2, 3 atau 4, jarak antara pintu keluar dari ruang
atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau
ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii
terhadap kebakaran harus tidak melampaui:
1) 30 m pada konstruksi bangunan tipe C, atau
2) 60 m pada konstruksi bangunan lainnya.
c. Pada bangunan klas 5 s.d. 9, jarak antara sembarang tempat pada
lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui
tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak
melebihi 80 m.
d. Pada bangunan klas 2, 3 atau 9a, tangga/ramp yan tidak diisolasi
terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari :
1) 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke
jalan atau ruang terbuka, atau dari lorong yang diisolasi
terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka, atau

E - 94
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah
tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran
berlawanan atau hampir berlawanan arah.
e. Pada bangunan klas 5 s d. 8 ata u 9b, tangga/ramp yang tidak
diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih
dari:
1) 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju
ke jalan atau ruang terbuka, atau dari lorong yang diisolasi
terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka, atau
2) 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah
tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran
berlawanan atau hampir berlawanan arah.
f. Pada bangunan klas 2 atau 3, bila dua atau lebih pintu keluar
disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak
diisolasi. terhadap kebakaran dalam bangunan, maka masing-masing
pintu keluar tersebut harus :
1) menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang
terbuka;
2) bebas asap.
10. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar
a. Pintu keluar harus tidak terhalang, dan bila perlu dibuat penghalang
untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses
menuju ke pintu keluar tersebut.
b. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka, lintasan
ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m,
atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan, atau mana
yang lebih lebar.
c. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada
ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya,
jalur lintasan menuju ke jalan harus
1) berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8,
atau tidak setinggi 1.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab.
Vl.2.4;
2) kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a, tangga
memenuhi ketentuan dari pedoman ini.

E - 95
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

d. Pada bangunan klas 9b, panggung terbuka yang menampung lebih


dari 500 orang, tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak
keluar ke arah area di depan panggung tersebut.
e. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih
dan 500 orang, tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang
disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama.

11. Pintu Keluar Horisontal.


a. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang
disyaratkan apabila:
1) antara unit hunian tunggal;
2) pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan
balita bagunan SD atau SLTP.
b. Pada bangunan klas 9a, pintu keluar horisontal dapat dianggap
sebagai pintu keluar yang disyaratkan, bila jalur lintasan dari
kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar
horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya, dan
mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang
bukan pintu keluar horisontal
c. Kasus selain butir b di atas, pintu keluar horisontal harus tidak lebih
dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang
dipisahkan oleh dinding tahan api
d. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi
dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh
bagian lantai dengan tidak kurang dari:
1) 2.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a, dan
2) 0,5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya.
12. Tangga, Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan
Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi
terhadap kebakaran
a. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas
9a
b. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga, ramp
atau eskalator tersebut
1) pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup;
2) pada area parkir kendaraan atau atrium;

E - 96
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) di luar bangunan;
4) pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas
sprinkler menyeluruh, dan eskalator, tangga atau ramp
disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini
c. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas; tidak harus menghubungkan
lebih dari
1) 3 lantai, bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler
menyeluruh sesuai ketentuan Bab V.2. 1.c, atau
2) 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus
berurutan, dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada
ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau
ruang terbuka.
d. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas, harus tidak
menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2
lapis lantai pada bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9.
13. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift
a. Bila ruang peralatan atau ruang, motor lif mempunyai luasan
1) tidak lebih dari 100 m2, tangga pengait (ladder) dapat dipakai
sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan
keluar dari ruangan;
2) lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2, dan bila 2 atau
lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut,
tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga
seluruhnya, kecuali satu dari jalan keluar tersebut.
b. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas, bila:
1) merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga
yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf;
2) dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian
dari jalur lintasan;
3) harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang
peralatan dan untuk ruang motor lift.

Tabel E.6.
Jenis Penggunaan Jumlah Orang Yang Ditampung

E - 97
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Jenis Penggunaan m2/org Jenis Penggunaan m2/org


- Galeri seni, ruang pamer, 4 Kantor (pengetikan dan fotokopi) 10
museum Ruang Perawatan Pasien 10
- Bar, caf, gereja, ruang 1 Ruang industri : - ventilasi, 30
makan listrik, dll
50
- Ruang pengurus 2 - boiler/sumber tenaga
15 Ruang baca 2
- Pemondokan/losmen
25 Restoran 1
- Ruang komputer
Sekolah : r. kelas umum 2
- Ruang sidang pengadilan:
r. tunggu gedung serba guna 1
r. sidang 10 ruang staf 10
- Ruang dansa 1 ruang praktek: SD 4
0,5 SLTP
- Asrama
5 Pertokoan, r. penjualan:
- Pusat Penitipan Balita bengkel
4 Level langsung dari luar
- Pabrik: 3
5 Level lainnya
r. manufaktur, prosesing , 5
r. pamer : r. peragaan,mall,
r. kerja, workshop
50 arcade 5
- ruang untuk fabrikasi dan Panggung penonton: darah
proses selain di atas 0,3
30 panggung
- Garasi-garasi umum Kursi penonton
- Ruang senam/gymnasium 1
3 R. penyimpanan r. elktrikal, r.
- Hotel, hostel, motel, guest- 15 telepon 30
house 10 Kolam renang
- Stadion indoor area 1 Teater dan Hall 1,5
- Kios 10 R. ganti di teater 1
- Dapur, laboratorium, Terminal 4
tempat cuci 2 Bengkel / workshop : staf 2
- Perpustakaan : 30 pemeliharaan
30
r. baca, Proses manufaktur
r penyimpanan pabrik

14. Jumlah Orang Yang Ditampung


Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai, ruang atau mesanin
harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi
bangunan, tata letak lantai tersebut, dan luas lantai dengan:
a. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai
dari tiap lapis menurut Tabel Vl.2 sesuai jenis penghunian, tidak
termasuk area yang dirancang untuk:
1) lift, tangga, ramp, eskalator, koridor, hall, lobby dan yang sejenis,
dan
2) service duct dan yang sejenis, kompartemen sanitasi atau
penggunaan tambahan, atau

E - 98
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

b. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan


gedung pertemuan, atau
c. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.
E.2.8 Konstruksi Jalan Keluar
1. Penerapan
Kecuali ketentuan butir 13 den 16, persyaratan ini tidak berlaku untuk
unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.
2. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran
Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus
dengan konstruksi:
a. dari material tidak mudah terbakar;
b. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat
melemahkan ketahanan saf terhadap api.
3. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran
Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai, tangga dan ramp
yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan
konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas, atau dengan konstruksi
a. beton bertulang atau beton prestressed,
b. baja dengan tebal minimal 6 mm
c. kayu:
1) dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing
2) dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada
kelembaban 12%
3) yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol
formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde
4. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga
Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar, disyaratkan untuk diisolasi
terhadap kebakaran, dan:
a. harus tidak ada hubungan langsung antara
1) tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan
atau ruang terbuka; dan
2) turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar;
b. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga
harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal
60/60/60.
5. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka

E - 99
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan
keluar yang disyaratkan, maka harus:
a. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana:
1) luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon
2) tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon
6. Lobby Bebas Asap
Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI.2.7 harus:
a. mempunyai luas minimal 6 m2,
b. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap, di mana:
1) mempunyai TKA minimal 60/60/-;
2) terbentang antar balok lantai, atau ke bagian bawah langit-langit
yang tahan penjalaran api sampai 60 menit;
3) setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok
lantai, atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang
bebas asap;
c. di setiap bukaan dari area hunian, mempunyai pintu bebas asap
sesuai standar teknis yang berlaku, atau terdapat alat sensor asap
diletakkan dekat dengan sisi bukaan;
d. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar, bila pintu
keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara.
7. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan
a. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya, kecuali ke peralatan pemadam
atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini,
tidak harus disediakan dari tangga, lorong atau ramp yang diisolasi
terhadap kebakaran.
b. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran
yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan
keluar yang disyaratkan, koridor, gang, lobby, atau sejenisnya yang
menuju ke jalan keluar tersebut.
c. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar
yang disyaratkan.
d. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan, atau
koridor, gang, lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar
tersebut, bila peralatan dimaksud terdiri atas:
1) meter listrik, panel atau saluran distribusi,
2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral, dan

E - 100
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan, kecuali


terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau
tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari
penjalaran asap.
8. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp
a. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp
tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api, maka
bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup.
b. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp
tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya
tidak tertutup, kecuali:
1) dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal
60/60/60
2) setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan
pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara
otomatis
9. Lebar Tangga
a. Lebar tangga yang disyaratkan harus:
1) bebas halangan, seperti pegangan rambat (handrail), bagian dari
balustrade, dan sejenisnya,
2) lebar bebas halangan, kecuali untuk list langit-langit, sampai
ketinggian tidak kurang dari 2 m, vertikal di atas garis sepanjang
nosing injakan tangga atau lantai bordes.
b. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m,
kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus
antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2
m.
10. Ramp Pejalan Kaki
a. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga,
bila konstruksi yang menutup ramp, lebar dan tinggi langit-langit
sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran.
b. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus
mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari:
1) 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a
2) disyaratkan sesuai ketentuan.
3) 1:8 untuk kasus lainnya
c. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin.
11. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran

E - 101
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari


material yang tidak mudah terbakar, di mana:
1) Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap
kebakaran, TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf
tangga atau ramp,
2) pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60.
b. Meskipun dengan ketentuan butir a.ii, konstruksi atas dari lorong
yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA, bila
dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari:
1) penutup atap yang tidak mudah terbakar
2) langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak
kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran.
12. Atap Sebagai Ruang Terbuka
Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan, atap tersebut harus
a. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120,
b. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m
dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau
ruang terbuka.
13. Injakan Dan Tanjakan Tangga
Tangga harus mempunyai:
a. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan;
b. injakan, tanjakan, dan jumlah sesuai standar teknis;
c. injakan dan tanjakan konstan;
d. bukaan antara injakan maksimum 125 mm;
e. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin;
f. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau
menghubungkan lebih dari 3 lantai.
14. Bordes
a. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan,
untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus:
1) panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam
bordes,
2) tepi bordes diberi finishing yang tidak licin.
b. Bangunan klas 9a:
1) Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang
berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm,
2) Sudut arah naik dan turun tangga harus 180, lebar minimal
bordes 1,6 m dan panjangnya minimal 2,7 m.
15. Ambang Pintu

E - 102
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar
daun pintu kecuali:
a. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a, ambang pintu tidak lebih
dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka,
b. kasus lainnya
1) pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka, tangga atau
balkon luar
2) ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah,
balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka.
16. Balustrade
a. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka
untuk umum, tangga, ramp, lantai, koridor, balkon dan sejenisnya,
bila:
1) tidak dibatasi dengan dinding,
2) tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah,
kecuali sekeliling panggung, tempat bongkar muat barang atau
tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan.
b. Balustrade pada:
1) tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain
untuk keadaan darurat, kecuali tangga/ramp luar bangunan, dan
2) bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8, harus
mengikuti ketentuan butir f dan g.i.
c. Balustrade, tangga, dan ramp di luar ketentuan butir b harus
mengikuti ketentuan butir f dan g.i.
d. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti:
1) atap, yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke
bangunan,
2) lantai, koridor, balkon, lorong, mesanin dan sejenisnya, harus
mengikuti ketentuan butir f dan g.ii.
e. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen
pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai
ketentuan f.iii dan g.ii.
f. Tinggi balustrade:
1) minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp
2) tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk, balkon dan
sejenisnya,

E - 103
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

3) Balustrade sesuai ketentuan butir e, tinggi di atas lantai tidak


kurang dari 1m, atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian
atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m.
g. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b, bila dibuat
sesuai
1) Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm
2) Bila menggunakan jeruji, tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di
atas nosing injakan tangga atau lantai bordes, balkon atau
sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm.
17. Pegangan Rambat Pada Tangga
a. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman
menggunakan tangga atau ramp.
b. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila:
1) sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga
2) dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih
3) bangunan klas 9b untuk sekolah dasar, dipasang permanen
dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung
permanen setinggi minimal 700 mm.
c. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi
dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien, dan
harus:
1) permanen sedikitnya 50 mm dari dinding
2) dibuat menerus
18. Pintu
Sebagai pintu keluar yang disyaratkan:
a. bukan pintu berputar
b. bukan pintu gulung,
1) kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6, 7,
8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2,
2) merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam
bangunan
c. bukan pintu sorong, kecuali:
1) membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka
2) pintu dapat dibuka secara manual, dengan tenaga tidak lebih
dari 110 N.
d. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik:
1) harus dapat dibuka secara manual, dengan tenaga tidak lebih
dan 110 N. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga
listrik

E - 104
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2) membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat


membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya
listrik, alarm kebakaran dan lainnya.
19. Pintu Ayun
a. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan
dari tangga, lorong atau ramp, termasuk bordes.
b. Bila terbuka sempurna, lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar
yang disyaratkan.
c. Ayunan harus searah akses keluar, kecuali:
1) melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak
lebih dari 200 m2, merupakan satu-satunya pintu keluar dari
bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka,
2) melayani kompartemen saniter.
20. Pengoperasian Gerendel Pintu
Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan, bagian atau jalan keluar harus
siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan, dengan
mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0,9 - 1,2 m dari
lantai, kecuali bila:
a. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya,
b. hanya melayani:
1) unit hunian tunggal pada bangunan klas 2, 3, atau bagian klas 4,
2) unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2
pada bangunan klas 5, 6, 7, atau 8,
3) ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu
terkunci.
c. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera
dibuka:
1) dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan
alat untuk membuka pintu,
2) dengan tangan, khususnya oleh pemilik, sehingga orang dalam
bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi
kebakaran atau keadaan darurat lainnya.
d. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang,
pada bangunan klas 9b, kecuali bangunan sekolah, panti asuhan
balita atau bangunan keagamaan.
21. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran

E - 105
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi


terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke
lantai atau ruang yang dilayani pada :
a. bangunan klas 9a
b. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m, kecuali semua pintu
secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm
kebakaran, dan
1) sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan
terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui;
2) tersedia sistem komunikasi internal, sistem audibel/visual alarm
yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu, dan
juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya.
22. Rambu Pada Pintu
a. Rambu, untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu
harus tidak dihalangi, dipasang ditempat yang mudah dilihat atau
dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap.
b. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi
huruf 20 mm, warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan
dihalangi.
E.2.9 Akses Bagi Penyandang Cacat
1. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus
dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan
sirkulasi bagi semua orang, termasuk penyandang cacat.
2. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi
penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis
Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
E.2.10 Konsep Rencana Teknis

Yang dimaksud dengan Konsep Rencana Teknis disini adalah


kriteria/parameter perencanaan yang digunakan sebagai acuan dalam
perencanaan dan perancangan fisik. Dengan demikian kriteria perencanaan
tersebut akan mencakup seluruh disiplin (komponen bangunan dan
lingkungan) yang terlibat dalam proses perencanaan terkait. Konsep dasar
perencanaan yang akan dikembangkan dalam perencanaan ini adalah
perencanaan yang berwawasan lingkungan, sedangkan proses perencanaan
yang akan digunakan adalah perencanaan terpadu (total design), dimana

E - 106
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

seluruh disiplin (tenaga ahli) yang terlibat dalam perencanaan ini secara
proporsional dan bersama-sama menyelesaikan tahap demi tahap
perencanaan.

Untuk merumuskan konsep perencanaan tersebut diperlukan data dan


informasi yang lengkap mengenai kebutuhan dan persyaratan
bangunan/gedung yang direncanakan serta lingkungan di sekitarnya untuk
dijadikan bahan pertimbangan. Sedangkan proses perencanaan terpadu ini
dapat dilaksanakan apabila seluruh personil yang terlibat, khususnya para
tenaga ahlinya, mempunyai persepsi yang sama terhadap lingkup pekerjaan,
memiliki sikap saling mengisi serta secara konsisten masing-masing
menjalankan tugasnya.

Berdasarkan kajian sementara kriteria yang akan digunakan dan/atau yang


dapat mempengaruhi terhadap penentuan konsep perencanaan teknis
tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

A. Usulan (Konsep) Penataan Dataran

1. Perletakan bangunan diusahakan berada di daerah tanah asli


(galian), terutama untuk bangunan berat dan bertingkat
pembuatan pondasinya tidak cukup dalam. Daerah urugan
dimanfaatkan untuk menampung kegiatan/ bangunan ringan dan
(bila terjadi longsor atau ambles) tidak membahayakan
penggunanya, dalam hal ini antara lain seperti fasilitas olah raga,
penghijauan, jalan.

2. Menanggapi issue yang sangat penting bagi kelangsungan hidup


manusia, maka sekecil apapun terjadinya kerusakan lingkungan
dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kualitas lingkungan.
Pemanasan global yang terjadi saat ini adalah karena mengabaikan
hukum alam, yang mengakibatkan kerusakan struktur lingkungan
baik darat, laut maupun udara.

Terjadinya perubahan paradigma berfikir terhadap pentingnya


kualitas lingkungan adalah hal yang mutlak untuk dijadikan dasar

E - 107
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

pada setiap kebijakan dalam menentukan setiap rencana


pembangunan suatu kawasan

Salah satu aspek perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)


termasuk RTH kota, seperti tercantum dalam Inmendagri No.
14/1988 dan PP No. 63/2002, adalah disesuaikan dengan ciri dan
watak wilayah kota. Di samping itu meningkatkan daya dukung
lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya
tampung lingkungan merupakan salah satu pola pemanfaatan
ruang yang tercantum dalam kebijakan Rencana Tata Ruang
Propinsi Jawa Barat maupun Kota Bandung.

Kota Bandung memiliki kawasan yang ideal dalam menunjang


struktur lingkungan, dengan perencanaan yang menyeluruh dan
terpadu, diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara
pembangunan fisik baik sarana maupun prasarana kawasan dengan
ruang terbuka hijau.

Adanya RTH yang berupa lansekap, dalam hal ini taman-taman


dalam satu area, yang ditata dengan memperhatikan aspek-aspek
lingkungan secara langsung dapat memberikan kontribusi yang
bersifat inspiratif maupun fisik sehingga kawasan ini dapat
meningkatkan kualitas lingkungan serta menjaga keserasian
lingkungan untuk kepentingan masyarakat. Juga penataan lansekap
ini penting sebagai penyangga lingkungan untuk pengaturan tata
air, udara, habitat flora dan fauna yang memiliki nilai estetika
dengan pemilihan jenis tanaman, baik pohon, semak berbunga,
penutup tanah dan rumput, yang ditata dalam beragam bentuk dan
warna. Penataan pohon dan tanaman dapat memiliki fungsi sebagai
berikut :

a. Menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi aktifitas yang ada

b. Perlindungan terhadap panas matahari, angin, hujan, erosi,


longsor.

c. Dapat menjadi sumber atau bahan baku penunjang penelitian

E - 108
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

d. Menjadi ciri / pengenal.

e. Meningkatkan resapan air.

f. Menciptakan estetika lingkungan.

Secara umum tujuan perencanaan lansekap adalah :

a. Memperbaiki tata lingkungan dalam kaitan melaksanakan RTH.

b. Mengoptimalkan fungsi dari sarana ruang terbuka yang terkait


dengan perencanaan secara menyeluruh.

c. Menjaga keseimbangan lingkungan terhadap wilayah


sekitarnya.

d. Menyediakan fasilitas umum yang representatif berupa taman-


taman sebagai penunjang bangunan gedung maupun
prasarananya.

Konsep perencanaan lansekap pada dasarnya mengacu pada


rencana induk/ master plan yang diselaraskan dengan wilayah
sekitarnya.

Aspek yang dapat dijadikan bahan pertimbangan adalah :

a. Keadaan topografi, dimana pada umumnya permukaan tanah di


lokasi perencanaan bergelombang seperti permukaan tanah di
kaki bukit pada umumnya;

b. Vegetasi, pemilihan jenis serta pola penataannya dapat


direncanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
(misalnya: untuk mengurangi angin mengingat lahan
perencanaan di kawasan terbuka, sebagai filter dari suara
bising, untuk mengurangi sengatan sinar matahari);

c. Nilai estetik, komposisi jenis dan tata letak tanaman dapat


memberikan nilai estetik yang baik terhadap lingkungan.

Kehadiran ruang-ruang terbuka dilingkungan lembaga ini


memegang peranan penting, selain berfungsi untuk keindahan juga
memiliki fungsi ekologis yang tidak tergantikan oleh media apapun
diantaranya :

E - 109
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

a. Pembersih udara ( paru-paru kota)


b. Pencipta iklim mikro yang nyaman
c. Pelindung dan barrier dari gangguan alam
d. Fungsi hidro-orologis

Jenis-jenis tanaman yang dapat dipilih harus memenuhi beberapa


kriteria yaitu :
a. Tidak berbahaya
- tidak berduri
- dahan tidak mudah patah
- akar tidak mengganggu pondasi bangunan
- tidak mudah terserang hama penyakit
b. Tajuk rapat
c. Bentuk dan warna menarik
d. Disenangi unggas burung

Tanaman juga memiliki beberapa fungsi diantaranya :


a. Sebagai produsen 02
b. Sebagai buffer dari angin kencang
c. Sebagai resapan air tanah
d. Sebagai pengarah jalan
e. Sebagai penyeimbang terhadap proporsi bangunan
f. Sebagai elemen estetik

Sebagai elemen estetik, tanaman juga dapat dikomposisikan sesuai


tajuk , warna daun, bunga atau dibuat homogen yaitu tanaman yang
sejenis.

B. Struktur Bangunan

1. Dasar Perencanaan

Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus dirancang


sedemikian rupa dengan mengikuti kaidah-kaidah serta peraturan-
peraturan yang berlaku, sehingga :
a. Struktur bangunan cukup kuat untuk bisa menahan segala

E - 110
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

beban yang ada atau yang mungkin akan ada pada bangunan
tersebut. Kekuatan ini harus dimiliki oleh semua elemen
struktur secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan
rangka struktur tersebut,
b. Struktur harus cukup kaku untuk tidak mengalami lendutan
yang berlebihan pada setiap elemen atau pada seluruh
kerangka struktur akibat beban yang bekerja baik vertical
maupun horizontal. Lendutan yang berlebihan selain
mengurangi kenyamanan hunian juga mengurangi segi
keindahan penampilan.
c. Struktur cukup teguh dalam posisi berdirinya bangunan,
sehingga tidak akan mengalami perubahan bentuk permanen
akibat penurunan yang berbeda dari masing-masing struktur.
d. Kekuatan, kekakuan dan keteguhan yang dimiliki struktur
bangunan diusahakan sedemikian rupa sehingga memberikan
factor keamanan yang cukup terhadap keruntuhan, tetapi tidak
berlebihan. Dengan demikian akan dihasilkan sistem struktur
yang kuat namun ekonomis.

Perencana harus memperhatikan bukan saja perencanaan


strukturnya secara keseluruhan akan tetapi sistem pelaksanaan
struktur itu sendiri yang mudah dilaksanakan dalam kondisi
apapun namun tidak meninggalkan kaidah-kaidah perencanaan
struktur. Dalam hal ini sebagai perencana dapat memilih sebaik
mungkin sistem struktur yang tepat, sehingga tidak menimbulkan
gangguan lingkungan pada saat pelaksanaan.

2. Peraturan dan Standar

Pada prinsipnya seluruh peraturan dan standar berikut ini (edisi


terakhir), Standar lainnya yang ekivalen dapat digunakan dalam
perencanaan adalah sebagai berikut:

a. Kondisi Perencananaan

Dalam perencanaan struktur bangunan perlu

E - 111
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

dipertimbangkan/ ditinjau segala sesuatu yang akan


mempengaruhi hasil akhir dari perencanaan struktur
bangunanan.

Aspek-aspek perencanaan yang perlu diperhatikan antara lain :


1) Fungsi bangunan
Dengan memperhatikan fungsi bangunan yang direncanakan,
maka akan dapat ditentukan kriteria beban yang akan
diterapkan didalam perencanaan strukturnya sesua dengan
peraturan standar, termasuk adanya persyaratan khusus yang
harus dipenuhi sesuai kepekaan dari peralatan yang mungkin
akan berada didalam bangunan tersebut.
2) Denah dan bentuk bangunan
Denah dan bentuk bangunan akan sangat menentukan dalam
mempertimbangkan memilih sistem struktur bangunan
disamping material yang akan digunakan.
3) Daerah / lokasi bangunan
Daerah dimana bangunan akan dibangun sangat penting untuk
diketahui untuk kemudian diplotkan kedalam lokasi zona
gempa sesuai dengan zona gempa yang telah ditentukan dalam
peraturan gempa.

4) Bahan bangunan
Bahan bangunan yang akan digunakan dalam struktur harus
mengacu kepada peraturan dan standar berikut :
a. Beton - Mutu beton minimal K-250 (atau)
fc = 20 Mpa), sesuai SK SNI T-15-
1991-03
b. Baja - BJ-37 / ASTM A36
c. Tulangan - SII 0136 / BJTD 40 & BJTP 24
d. Tulangan Wire - ASTM A185 ( Deformed U-50)
Mesh
e. Baut - ASTM A307 (mutu normal)

E - 112
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

f. ASTM A325 - (mutu tinggi)


g. Baut Angkur - ASTM A36
h. Portland Semen - ASTM C150 Tipe I (normal)
i. Elektroda Las - AWS D1.1 / Elektroda A5.1 (E
7016 atau 7018 atau setara).
j. Steel Deck - ASTM A653 Grade Leleh minimal
320 Mpa.
k. Material lain - Sesuai spesifikasi masing-masing.
selain disebut
diatas.

5) Kondisi Tanah
Data kondisi tanah di lokasi perencanaan perlu diketahui,
kondisi tersebut diantaranya :
a) Muka air tanah.
Kondisi muka air tanah sangat penting untuk didapatkan
informasinya didalam memulai perencanaan.
b) Kedalaman tanah keras
Untuk mengetahui kondisi kedalaman tanah keras adalah
dengan melakukan soil investigasi. Mengetahui Informasi
mengenai kedalaman tanah keras lebih awal adalah sangat
menguntungkan didalam menentukan system pondasi yang
akan digunakan.
c) Rekomendasi dan daya dukung tanah
Dari hasil soil investigasi yang dilakukan, rekomendasi dan
daya dukung tanah harus didapatkan untuk menentukan
kedalaman pondasi dapat diletakan sesuai dengan beban
yang bekerja.
6) Kondisi Klimatologi
Tiupan angin dilokasi rencana perlu diketahui, sehinga dalam
perencanaan kurang lebih mendekati dalam menentukan
besarnya beban angin yang akan digunakan dalam disain,
terutama untuk perencanaan struktur rangka atap.

E - 113
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

7) Beban
Pembebanan dilakukan sesuai dengan peraturan pembebanan
SNI-1727-1989 (Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk
Rumah dan Gedung) dan SNI-1726-2013 (Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung),
serta data beban dari material tertentu yang dipergunakan
dalam gedung tersebut.
a). Beban Mati (DL)
Beban Mati diperhitungkan berdasarkan data-data berikut
ini.
(1) Berat Jenis Beton Bertulang yang diambil sebagai
acuan pembebanan adalah 2400 kg/m2
(2) Berat Jenis Beton Rabat untuk finishing = 2200
kg/m2.
(3) Beban Dinding Bata atau setara Con Block
Cisangkan = 250 kg/m2.
(4) Beban Dinding/ Partisi Ringan Buatan Pabrik
(misalnya Hebel) = 125 kg/m2.
(5) Beban plafon dan M&E (termasuk ducting AC)
diambil sebesar 30 kg/m2.
(6) Beban plafon dan M&E (apabila tidak berducting AC)
dapat diambil sebesar 20 kg/m2.
(7) Beban raised floor = 75 kg/m2.
(8) Beban equipment M&E di ruang M&E = 400 kg/m2.
(9) Beban peralatan fitness di ruang fitness = 400 kg/m2.
(10) Beban tanah dan tanaman di atas basement, sesuai
dengan ketebalan tanah, dengan mengambil tanah =
1800 kg/m3.
b). Beban Hidup (LL)
Beban Hidup disesuaikan dengan fungsi dari masing
-masing ruangan.
(1) Beban Hidup ruang kantor dan ruang umum lainnya =
250 kg/m2.
(2) Beban Hidup ruang perpustakaan = 400 kg/m2
(3) Beban Hidup ruang Mosholla = 400 kg/m2.

E - 114
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

(4) Beban Hidup ruang arsip / gudang = 400 kg/m2.


(5) Beban Hidup Toilet = 200 kg/m2.
(6) Beban Hidup Parkir = 400 kg/m2.
(7) Beban Hidup ruang M&E (personil maintanance) =
100 kg/m2 (Beban alat dihitung sebagai beban mati).
(8) Beban Hidup atap dak beton = 100 kg/m2.
(9) Beban Hidup koridor = 300 kg/m2.
(10) Beban Hidup tangga = 300 kg/m2.
c). Beban Gempa
Mengingat ketinggian struktur diperkirakan kurang dari 40
meter dari permukaan tanah asli, maka struktur bangunan
dapat dikategorikan sebagai bangunan bertingkat rendah.
Peninjauan terhadap gempa dilakukan hanya terhadap
gempa static saja.
Beban Gempa diperhitungkan 100 % pada arah yang
ditinjau ditambah dengan 30 % pada arah lainnya, sesuai
dengan ketentuan dalam SNI-1726-2012 - Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung.
I : Gravitasi 100 % Arah X 30 % Arah Y
II : Gravitasi 100 % Arah Y 30 % Arah X
Beban gempa ditentukan berdasarkan Peraturan
Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1987.
Gaya geser dasar ditentukan berdasarkan :
V = C . I . K . Wt ,
dimana :
V = Gaya geser dasar
C = Koefisien gempa dasar
I = Faktor keutamaan
K = Faktor jenis struktur
Wt = Berat total struktur
Gaya gempa statik untuk tiap lantai dihitung sebagai :

E - 115
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

W i . hi
Fi = .V
W i . hi

dimana :
Fi = Gaya gempa statik tiap lantai
Wi = Berat struktur tiap lantai
hi = Tinggi tiap lantai dari penjepitan lateral
V = Gaya geser dasar
i = tingkat ke - i
d). Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan :
DL + 1.6 LL
1.05 [ DL + LR (Ex 0.3 Ey) ]
1.05 [ DL + LR (Ey 0.3 Ex) ]
di mana : DL = Beban Mati
LL = Beban Hidup
E = Beban Gempa
x,y = Arah Beban Gempa
LR = Beban Hidup tereduksi
8) Persyaratan Defleksi Vertikal dan Lateral
a). Persyaratan Defleksi Vertikal
Dalam segala hal, tebal pelat lantai beton bertulang tidak
boleh kurang dari L/35, dimana L adalah bentang
terpendek.
Apabila pelat tersebut menahan atau berhubungan dengan
komponen non struktural yang mungkin rusak akibat
lendutan yang besar, maka baik lendutan jangka pendek
maupun jangka panjang dari pelat tersebut harus
memenuhi persyaratan sesuai SNI 1727:2013 Beban
minimum untuk perancangan bangunan gedung dan
struktur lain..

E - 116
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Sementara tinggi balok (balok induk ataupun balok anak)


tidak diperkenankan lebih kecil dari 1/16 bentang.
b). Persyaratan Defleksi Lateral Antar Tingkat
Untuk memenuhi kinerja batas layan, maka simpangan
lateral bangunan, sesuai SNI-1726-2013 - Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung,
butir 8.1.1 dan 8.1.2, tidak boleh melampui 0.03 / R dari
tinggi tingkat yang bersangkutan atau 3 cm (bergantung
mana yang lebih kecil).
c). Pemilihan Sistem Struktur.

Dengan memperhatikan semua persyaratan-persyaratan


dalam perencanaan struktur diatas dan memperhatikan
lokasi rencana maka perencana mencoba mengusulkan
beberapa sistem struktur yang dapat digunakan (terutama
untuk rencana bangunan Seraba Guna ) sebagai acuan
dalam memulai perencanaan.
9) Tipe Sub Struktur (Pondasi)
Pondasi suatu bangunan berfungsi untuk memindahkan beban-
beban struktur atas ke tanah. Fungsi ini dapat berlaku secara
baik bila kestabilan fondasi terhadap efek guling, geser,
penurunan dan daya dukung tanah terpenuhi. Meskipun
kondisi lapisan tanah sangat bevariasi yang membutuhkan
banyak kemungkinan perencanaan pondasi, tetapi secara
umum sebagian besar pondasi bangunan dapat digolongkan
menjadi salah satu jenis pondasi dibawah ini :
Pondasi setempat atau Pondasi Menerus dari pasangan
batu kali yang dapat berbentuk segiempat, atau bujur
sangkar, atau ltrapesium yang menahan kolom tunggal atau
menahan dinding bata.

E - 117
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pondasi telapak atau pondasi setempat dari beton


bertulang yang dapat berbentuk segiempat, atau bujur
sangkar, atau lingkaran yang menahan kolom tunggal.
Pondasi telapak gabungan berupa pelat segiempat yang
lebih panjang yang dapat menahan lebih dari satu kolom
tunggal.
Pondasi terapung (raft fondation), berupa pelat tebal yang
menahan keseluruhan struktur.
Pondasi terapung sistem KSLL atau sering disebut pondasi
Sistem Sarang Laba laba.
Pondasi bor atau bored pile atau pondasi sumuran atau
pondasai strauz yang dibor atau digali hingga mencapai
tanah keras kemudian diisi dengan beton atau dengan
beton cycloop.

E - 118
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Gambar E.2 Pondasi Telapak


Dari beberapa tipe pondasi tersebut diatas dan memperhatikan
kondisi lingkungan yaitu berupa pondasi dangkal dan pondasi
dalam, kemudian dapat dipilih beberapa alternatif pondasi
untuk rencana bangunan tersebut yaitu:
Pondasi bor, bor pile atau pondasi sumuran atau
Pondasi Mini Pile untuk pondasi dalam.
Dari kedua jenis pondasi tersebut yang akan diusulkan untuk
digunakan dalam perencanaan kelak, masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan, baik dari segi biaya,
teknik pelaksanaan, lingkungan maupun tenaga kerja dan alat
yang dilibatkan dalam pelaksanaan.
Pemilihan salah satu dari kedua tipe pondasi tersebut akan
sangat ditentukan dari hasil penyelidikan tanah pada lokasi
rencana bangunan, Walaupun dalam perencanaan kelak,
perencana akan merencanakan kedua jenis pondasi tersebut
dan akan membandingkan Jumlah waktu pelaksanaan maupun
jumlah Rencana Anggaran Biaya dari kedua jenis pondasi
tersebut.
Struktur Atas
Struktur atas terdiri dari Balok, Kolom dan Pelat termasuk
Rangka Atap. Kebebasan perencana dalam menentukan
material struktur sangatlah ditentukan dari pengalaman
seorang perencana struktur untuk memilih jenis bahan
yang akan digunakan. Struktur atas terutama kolom dan
balok dapat berupa Struktur Baja atau Beton, dalam
perencaan kelak Konsultan akan mengusulkan sistem
struktur atas dari baja.
Kolom dan Balok
Sistem struktur untuk Balok dan Kolom terdapat 2 (dua)
kemungkinan alternatif penggunaan sistem struktur, yaitu
konstruksi Baja dan Beton.

E - 119
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Dari kedua jenis sistem struktur ini, apabila dibandingkan


dengan biaya pelaksanaan, maka perencana akan
menggunakan sistem struktur balok dan kolom dari baja,
karena memperhatikan bentangan antar kolom dan tinggi
kolom yang diperlukan, maka akan lebih eifisien apabila
menggunakan strukur baja.
Plat Lantai
Sistem Plat Lantai dapat dibagi dalam beberapa macam
yaitu :
Sistem Lantai Flat Slab
Sistem Plat Lantai Grid
Sistem Plat Lajur Balok
Sistem Pelat dan Balok.
Dari keempat sistem plat lantai tersebut diatas, perancana
mengusulkan dalam perencanaan kelak akan
menggunakan sistem Pelat dan Balok.
Dari sistem Pelat dan Balok ini akan diuraikan lagi
menjadi :
Plat lantai dari beton konvensional dengan tulangan
polos atau dengan menggunakan tulangan mutu tinggi
yaitu Wire Mesh.

Plat lantai gabungan dari Plat Bondek sebagai tulangan


positif ditambah satu lapis tulangan wire mesh dan
beton konvensional.

E - 120
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Plat lantai dari Precast setara dengan produk PT. Beton


Elemen Indo.

Dalam perencanaan kelak, perencana akan


membandingkan alternatif 2 dan 3 dari segi waktu dan
biaya pelaksanaan, kecuali daerah basah akan tetap dipakai
alternatif konvesional.
10) Rangka Atap
Untuk Rangka Atap Bangunan Gedung dapat digunakan
beberapa alternatif struktur rangka atap dengan
mempertimbangkan bentangan bebas (clear distance) cukup
besar 25.00 m tanpa kolom ditengah bangunan. Struktur
tersebut dapat berupa :
Sistim Portal Baja IWF dengan gording dari besi Canal.
Rangka Atap Baja dari Pipa Baja (Hollow)
Rangka Atap Baja Siku

E - 121
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pemilihan Jenis dan Type Rangka Atap untuk Gedung


tergantung pada hasil analisa perhitungan struktur dan
jenis penutup atap yang akan dipergunakan dan type
plafond yang disetujui oleh pemberi kerja (User).
Dalam beberapa tahun belakangan ini, sistem struktur
rangka atap sangatlah banyak alternatif struktur untuk
digunakan dalam suatu bangunan, akan tetapi
perencanalah yang dapat memilih dan menentukan sistem
struktur rangka atap apa yang akan digunakan. Dalam hal
ini perencana harus sangat jeli dalam memilih sistem
struktur rangka atap.
Di negara kita, terutama daerah Kota Bandung yang
merupakan daerah tropis, saat ini terdapat beberapa jenis
rangka atap baja ringan dan rangka atap kayu (fabricated)
yang tersedia dan perencana struktur tidak harus
melakukan analisis secara detail untuk menggunakan
sistem struktur rangka atap tersebut.
Sistem struktur rangka atap tersebut adalah :
Struktur rangka atap dari kayu yaitu Pryda

Struktur rangka atap baja ringan dari Jaindo atau setara


dengannya.

E - 122
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Dari kedua jenis struktur rangka atap ini, masing masing


mempunyai keuntungan dan kekurangan, kelak yang akan
mementukan adalah selisih dari Rencana Anggaran Biaya yang
ditawarkan dari masing-masing suplier.
Apabila diinginkan oleh Owner untuk mencari alternatif lain
selain strktur rangka atap diatas untuk membandingkan
selisiah RAB, maka sebagai perencana yang berpengalaman
harus dapat memenuhi permintaan tersebut.

Gambar E.4 Potongan Prinsip


11) Efisiensi

E - 123
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pemilihan yang tepat baik sistem struktur maupaun bahan yang


digunakan akan memberikan hasil perencanaan yang efisien,
Koordinasi yang baik diantara semua disiplin tentunya dapat
mengasilkan sesuatu yang lebih baik. Koordinasi antara Arsitek,
Struktur, ME dan Interior adalah hal yang wajar dan harus
dilakukan dalam suatu perencanaan bangunan, sehingga
keinginan Owner dapat terlaksana akibat pemahaman yang
baik dari masing-masing disiplin Perencana.
Koordinasi yang kurang baik antara disiplin, tentunya tidak
akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik (waktu, bahan dan
terutama pikiran), hal ini dapat terlihat pada saat bangunan
tersebut dilaksanakan.

a) Sistem dan Jaringan Utilitas

Secara mendasar sistem dan jaringan utilitas harus dapat


mem-fungsikan seluruh fasilitas yang direncanakan sesuai
persyaratan minimal, baik untuk masing-masing ruang
fungsi, masing-masing bangunan maupun lingkungan, serta
terintegrasi ke dalam sistem bangunan dan lingkungan
secara menyeluruh (perencanaan terpadu total design).

Sistem dan jaringan Instalasi Listrik, Penangkal Petir dan


Komunikasi meliputi :

b) Sistem dan Jaringan Listrik


(1) Umum

Menyiapkan suatu perencanaan dari pada instalasi


listrik yang memenuhi standard dan kriteria
perencanaan yaitu mencangkup antara lain :

Sistem penerangan buatan sesuai kebutuhan dan


standard secara optimal dan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor bangunan,
fungsi ruangan dan faktor alamiah.

E - 124
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Supplai daya listrik dan penyediaan sarana


instalasi untuk melayani beban-beban listrik
keseluruhan sehingga memenuhi kebutuhan dan
operasionalnya.

Penyediaan sarana instalasi listrik yang memenuhi


kualitas performance listrik dan
pengamanan/proteksi yang baik untuk peralatan
dan operasinya, maupun untuk bangunan dan
pengamanan terhadap manusia.

Penyediaan sarana sumber daya listrik utama PLN


dan sumber daya listrik diesel genset.
(2) Standard dan Referensi

Peraturan umum instalasi listrik ( PUIL ) edisi


terakhir tahun 2000 yang berlaku.

Standard Penerangan Bangunan Indonesia oleh


Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan
(DPMB).

Standard dan peraturan-peraturan/ketentuan-


ketentuan yang berlaku pada PLN setempat.

Standard International Electrotechnical


Commission ( IEC ).

Standard-standard lain seperti ; VDE, JIS, ASTM,


ISO dan sebagainya yang setara sejauh tidak
bertentangan dengan peraturan-peraturan diatas.
(3) Tegangan, Variasi Tegangan dan Pengaturan Tegangan
Sesuai Standard Perusahaan Umum Listrik Negara
( SPLN ) maka tegangan nominal, variasi tegangan dan
pengaturan tegangan sebagai yang diuraikan dibawah
ini merupakan pula dasar perencanaan ini :

Sistem Distribusi Tegangan Menengah :

E - 125
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Tegangan Nominal : 20 kV

Variasi Tegangan : maks 5 % min 10 %

Pengaturan Tegangan : maks 5%

Sistem : phasa tiga, tiga kawat.

Sistem Distribusi Tegangan Rendah :

Tegangan Nominal : 231/400 Volt

Variasi Tegangan : maks 5 % min 10 %

Pengaturan Tegangan : maksimum 5%

Sistem : phasa tiga, empat kawat


(4) Sumber Daya Listrik

Penyediaan sumber daya listrik untuk bangunan akan


diambil dari Panel Utama Tegangan Rendah (LVMDP)
yang sudah ada di Kawasan tersebut.
(5) Sistem Proteksi

Pengamanan/Proteksi terhadap sistem, selektivitas


dan tingkap proteksi yang tepat dengan
memperhatikan kesederhanaan sistem, kemudahan
operasi namun dapat memenuhi pelayanan yang baik.
(6) Jaringan Tegangan Rendah :

Penggunaan kabel distribusi utama untuk


pelayanan daya listrik pada bangunan.

Penggunaan kabel untuk melayani beban-beban


tertentu seperti pompa-pompa dan lain-lain.

Pelayanan terhadap stop kontak dan penerangan.


(7) Beban Listrik

Dari perhitungan beban listrik untuk bangunan dan


penerangan outdoor/jalan/parkir terhadap beban-
beban penerangan, stop konntak, AC, peralatan dan
beban-beban lainnya seperti tertera pada gambar

E - 126
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

sistem kelistrikan
(8) Sistem Daya Listrik

Sumber Daya Listrik Utama

Sumber daya listrik utama diperoleh dari Panel


Utama Tegangan Rendah (PUTR) yang sudah ada
kemudian didistribusikan ke Panel-Panel
Distribusi bangunan.

Distribusi Daya Listrik

Sistem distrubusi listrik dari Panel Utama


Tegangan Rendah existing ke setiap bangunan
adalah dengan sistem Radial, dari load center daya
listrik didistribusikan dengan sistem tegangan
380/220 Volt, 50 Hz ke panel-panel cabang yang
merupakan panel pembagi. Selanjutnya daya listrik
didistribusikan dari panel pembagi ke masing-
masing sub panel.

Drop tegangan pada tegangan kerja dari load


center sampai titik beban terjauh diperhitungkan
maksimum sebesar 5 %.
(9) Kabel Distribusi

Jenis dari kabel distribusi yang digunakan antara


lain sebagai berikut :

Kabel tegangan menengah dengan XLPE 20 kV

Kabel tegangan rendah dengan NYFGBY, NYY dan


NYM

Kabel instalasi daya dengan NYY

Kabel instalasi penerangan dan stop kontak


dengan NYM.
(10)Sistem Proteksi

E - 127
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pemilihan/penentuan sistem proteksi pada


perencanaan ini adalah dengan sistem proteksi
bertingkat pada panel-panel daya sampai load
center terhadap sistem distribusi radial.

Jenis proteksi :
Proteksi terhadap gangguan hubung singkat
( over current )
Proteksi terhadap beban lebih ( over load )
Proteksi terhadap turunnya tegangan ( under
voltage )

Seluruh batasan (rated) dan tingkat kemampuan


dari komponen proteksi dipilih sedemikian rupa,
sehingga karakteristik proteksinya mempunyai
selektifitas pengaman yang diinginkan dan akan
memback-up kesalahan pada seksi lainnya.

Setiap komponen sistem dan komponen panel yang


dipasang, harus mempunyai kemampuan kapasitas
operasi yang lebih besar terhadap besar beban
listrik yang dilayani, dan harus mempunyai
kemampuan/ketahanan terhadap arus serta
akibat-akibatnya pada kemungkinan keadaan
hubung singkat yang terpisah.

Sistem pentanahan netral transformator


ditanahkan langsung (solidly grounding).

Setiap peralatan listrik metal/panel-panel


ditanahkan untuk mengamankan terhadap adanya
tegangan sentuh akibat bocoran arus (earth
leakage ).

c) Sistem Penangkal Petir Dan Sistem Grounding


Untuk menghindari timbulnya kecelakaan dan kerugian

E - 128
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

akibat sambaran petir, perlu diadakan usaha-usaha untuk


perlindungan terhadap bahaya akibat sambaran petir
tersebut. Sistem penangkal petir yang sempurna harus
terdiri 2 bagian, yaitu : proteksi external dan proteksi
internal.

Gambar E.6
Kepala Penangkal Petir dan Sambungan Klem

12) Proteksi External

a). Proteksi external adalah instalasi dari peralatan diluar


struktur bangunan yang berfungsi menerima
arus/sambaran petir langsung (direct stroke) dan
mengalirkan arus petir tersebut melalui kawat penghantar
(down conductor) dengan aman ke sistem pembumian di
tanah.

b). Proteksi external yang baik terdiri dari :

E - 129
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

(1) Batang tembaga diudara (air terminal) yang akan


menerima sambaran petir langsung,

(2) Kawat penghantar (down conductor) yang akan


mengalirkan arus petir dari air terminalbumi,

(3) Sistem pembumian (earthing system) yang akan


membuang arus petir dengan aman ke tanah.

(4) Sistem proteksi external ini melindungi bangunan dari


bahaya kebakaran dan kerusakan akibat sambaran
petir langsung dan juga melindungi manusia yang ada
didalam bangunan tersebut. Sistem proteksi external
yang akan dipakai pada bangunan-bangunan ini adalah
sistem Electrostatis dengan memasang Air terminal
diatap. Air terminal ini dihubungkan melalui
penghantar tembaga ke elektroda pembumian yang
dilengkapi dengan bak kontrol. Dengan hanya
mempunyai sistem proteksi external saja, maka
peralatan listrik dan elektronik yang terdapat didalam
bangunan belum terlindungi dengan aman.

c). Proteksi internal.

(1) Proteksi internal adalah proteksi terhadap tegangan


lebih yang ditimbulkan akibat adanya pengaruh
induksi medan listrik dan medan magnet pada bahan-
bahan metal yang terdapat pada sistem listrik dan
sistem elektronika akibat dari mengalirnya arus petir.

(2) Seluruh bagian peralatan metal pada instalasi listrik


(panel-panel, transformator, genset dan lain-lain)
maupun elektronika (komputer, peralatan
laboratorium dan lain-lain), harus dihubungkan satu
dan lainnya ke peralatan pembumian melalui jalan
terpendek (Potential Equalization Bar) dengan
menggunakan peralatan proteksi yang sesuai (lightning

E - 130
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

arrester, voltage limiter dan lain-lain).

d). Sistem grounding.

(1) Sistem grounding (elektroda batang, elektroda pita


atau elektroda pelat). Besarnya tahanan (resistensi)
pengetanahan maksimum sebesar dua (2) Ohm. Bila
nilai ini susah dicapai, maka semua titik grounding dari
penangkal petir dihubungkan dengan kawat tembaga
(disebut counter poise).

(2) Semua Peralatan/material logam terutama yang berada


diatas atap akan ikut dibumikan.

e). Standard dan Referensi

(1) Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir ( PUIPP )


untuk bangunan di Indonesia ( DPMB, Maret 1983 ).

(2) Pedoman Instalasi Penyalur Petir ( DEPNAKER 1987 )


NFPA, 1985.

d) Sistem Pengindera Kebakaran/Fire Alarm

(1) Umum

Sistem pengindera kebakaran berfungsi untuk


pemberitahuan secara otomatis dan cepat jika terjadi
kebakaran dengan tanda bunyi bell dan nyala lampu
indikator pada panel zone indikator dan sentral sistim
pengindera kebakaran yang ditempatkan di Ruang Kontrol
atau Ruang keamanan ( Security ).

Sistem pengindera kebakaran direncanakan menjadi satu


kesatuan dengan sistem pemadam kebakaran.

Perencanaan ini hanya menyangkup instalasi sistem fire


alarm, sedangkan untuk sistem pemadam kebakaran ( fire
fighting ) seperti sistem pompa hydrant, fire hydrant dan
fire extinguissher direncanakan pada lingkup
mekanikal/sistem pemadam kebakaran.

E - 131
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

(2) Standard dan Referensi

Keputusan Menteri P.U. Nomor : 02/KPTS/1985, tentang


Ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran
pada bangunan Gedung.

Kebutuhan dan pengarahan teknis dari pihak pemilik.

Rekomendasi dari standard-standard Negara lain seperti


NFPA dan lain-lain.

(3) Kriteria Perencanaan

Sistem pendeteksian kebakaran berupa temperatur


detector, smoke detector, break glass disesuaikan dengan
keadaan bangunan dan kemungkinan macam kebakaran.

Fungsi dan sifat bangunan.

Mempertimbangkan keadaan bangunan ; adanya sistem


tata udara/AC, ketinggian dan luasan setiap ruangan.

Kaitan teknis dengan sistem fire fighting/pemadam


kebakaran dan terhadap sarana instalasi lainnya seperti
listrik, pintu-pintu kebekaran, dan tanda-tanda lainnya.

(4) Deskripsi

Pendeteksian adanya bahaya kebakaran sedini mungkin


dengan cara deteksi otomatis maupun cara manual. Deteksi
kebakaran disesuaikan dengan kondisi ruangan serta
kemungkinan-kemungkinan sumber kebakaran melalui
peralatan : Temperature detector ( fixed atau rate of rise ),
smoke detector (optical smoke detector ), manual glass
detector dan lain-lain.

Melalui suatu central processor signal tanda kebakaran


diproses selanjutnya sesuai prosedur fire safety, antara lain
:

E - 132
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pengendalian ; pintu kebakaran, pintu pelarian, sistem


ventilasi tangga pelarian dan tempat-tempat vital.

Pengendalian dengan suara, peringatan untuk melakukan


pengungsian, tenggang waktu terhadap zone atau lantai.

Peralatan ( relay ) fungsi proteksi seperti ; stop AC,


motor/pompa, buka ventilasi asap/panas dan lain-lain.

Menyalakan lampu darurat.

Pengendalian pemadam kebakaran secara otomatis.

(5) Detector

Smoke detector ; digunakan optical smoke detector yang


lebih peka namun lebih aman terhadap false alarm dan
kecepatan udara.

Heat Detector ; Fixed atau Rate of Rise heat detector


digunakan pada tempat-tempat tertentu seperti
basement/parkir dan lain-lain.

Manual push button / manual call box.

(6) Central Processor

Sebagai pusat sistem fire alarm dan time delay terhadap


zone kebakaran dan kepada zone-zone / lantai-lantai
terdekat yang dapat diprogram sistem recording dan
supervisi.

Central Processor / Fire Management System ini akan


mempunyai kaitan operasional, kontrol dan supervisi
kepada sub-system lainnya seperti :

Sistem mati-nyala peralatan-peralatan tertentu.

Warning ke sistem fire fighting.

Fire Brigade kota.

Fire man telephone jack.

e) Sistem dan Jaringan Telepon

E - 133
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Sistem telepon sebagai prasarana telekomunikasi baik intern


maupun extern didalam memenuhi fungsi Gedung.

Berdasarkan peraturan-peraturan dan standard PERUMTEL.

Peraturan Umum Instalasi Listrik ( PUIL ) yang berlaku.

Arahan dan kebutuhan dari pihak pemilik.


(1) Sistem Distribusi

Dalam perancangan sistem telepon dari Private Automatic


Branch Exchange (PABX) yang sudah ada di, kemudian
didistribusikan ke terminal box - terminal box ( TB ) yang
ada disetiap gedung serbaguna dan guest house kemudian
dari TB ke outlet pesawat telepon dimana telepon langsung
yang disediakan untuk kebutuhan pada setiap lantai.

Untuk kabel distribusi telepon menggunakan kabel telepon


yang di rekomendasikan PERUMTEL.
(2) Sistem dan Jaringan Data
(3) Sistem Tata Suara
(4) Deskripsi

Sistem tata suara sebagai prasarana untuk paging, back


ground music dan car call.

Pada keadaan emergency atau pada keadaan kebakaran,


maka sistem tata suara ini dapat di Over - Ride oleh
sistem Voice & Evacuation System dari sistem fire alarm.

Pelayanan operasi sistem tata suara / paging system dapat


dilakukan secara bangunan, per-zone, per lantai dan lain-
lain sesuai kebutuhannya.
(5) Sistem Distribusi

Sentral Sound System/Tata Suara akan diambil dari yang sudah


ada atau pasang baru, dari Sentral Tata Suara sinyal disalurkan
ke Terminal Box ( TB ) pada setiap bangunan dengan
menggunakan kabel NYMHY yang kemudian didistribusikan ke

E - 134
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

ceiling speaker pada setiap lantai.


(6) Sistem Speaker

Loud speaker dengan sound pressure level ( SPL )


direncanakan berdasarkan standard bangunan Indonesia
sebesar 70 - 80 dB dengan memperhitungkan faktor-faktor
kerugian dengan fungsi jarak, dipilih ceiling speaker
dengan kapasitas 3 - 5 Watt output dengan SPL 90 dB dan
untuk didaerah parkir dengan horn speaker 10 - 20 Watt
output.

Penempatan ceiling speaker merata pada ceiling dengan


memperhatikan rencana ceiling.
(7) Sistem Tata Suara

Untuk pemanggilan dibuat sistem yang terpisah dengan


public address.

Signal dari paging mic diperkuat oleh power amplifier dan


didistribusikan ke ruang tunggu dengan menggunakan
kabel NYMHY 2 x 2,5 mm2.

f) Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara :


(1) Sistem Tata Udara & Ventilasi Mekanis dalam Gedung :

Konsep pengkondisian udara dan ventilasi didasarkan pada


konsep rancangan yang terpadu dengan konsep rancangan
bidang lainnya terutama dengan bidang arsitektural,
interior, tata cahaya serta penyediaan dan distribusi daya
listrik. Selain itu kriteria serta ketentuan-ketentuan khusus
yang dipersyaratkan, baik yang menyangkut fungsi
ruangan, serta karakteristik pemakaian setiap ruangan,
akan digunakan sebagai pertimbangan utama dalam
perancangan ini.

Keterkaitan konsep rancangan sistem tata udara ini dengan


bidang-bidang rancangan lainnya akan digunakan untuk

E - 135
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

menentukan beberapa acuan rancangan antara lain :

- Orientasi bangunan

- Jenis dan luas dinding bangunan

- Jenis dan luas bahan interior bangunan

- Jenis dan luas jendela

- Fungsi dan peruntukan ruangan

- Perkiraan beban kalor lampu dan peralatan lain

- Kondisi udara luar

- Kondisi udara perancangan

- Perkiraan jumlah hunian

- Fleksibilitas serta optimasi zoning dan distribusi udara


atau air dingin

- Pemilihan mesin-mesin utama sistem tata udara


(2) Sistem Pengkondisian Udara

Dasar Perencanaan

Dalam melakukan perhitungan beban pendinginan pada


perancangan ini berdasarkan :

(a) Temperatur udara luar

- TWB = 28 30 C

- TDB = 35 C (Badan Meteorologi & Geofisika)

(b) Temperatur udara ruangan perencanaan

- TDB = 23 24 C

- RH = 55%

(c) Perkiraan Beban Pendinginan (cooling load) 550


Btuh/m2.

(d) Pertukaran udara untuk ventilasi perjam adalah :

- Ruang Toilet/Pantry = 15 - 30 kali

- Ruang Ruangan = 15 - 30 kali

E - 136
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

- Ruang Toilet/Dapur = 10 - 15 kali

- Ruang Penyimpanan/Gudang = 2-4 kali

(e) Perhitungan beban pendinginan : berdasarkan ASHRAE


dan CARRIER dengan memperhatikan aspek-aspek
antara lain :

- Orientasi bangunan

- Kondisi luar

- Kondisi udara ruangan

- Bulan terpanas

- Lama operasi mesin A/C

- Data teknis gedung : dinding, jendela, orang, electric,


ventilasi dll.

Dasar Pemilihan Sistem A/C

Sistem A/C Single Split yang dipakai dengan pertimbangan


sebagai berikut :

(a) Efisiensi daya listrik

(b) Refrigerant yang non CFC

(c) Sistem peralatan tidak rumit

(d) Biaya perawatan rendah

g) Sistem dan Jaringan Air Bersih


Dasar perencanaan air bersih berdasarkan atas kebutuhan air
bersih untuk setiap orangnya adalah sebesar 50 60 liter perorang
perhari untuk Gedung Assesment.
Sumber air bersih berasal dari jaringan distribusi sumur dalam
(Deep Well) yang sudah ada dan untuk memenuhi kebutuhan air
bersih , direncanakan untuk membuat Menara Air Atas (elevated
reservoir), dengan volume yang akan ditentukan kemudian.
Air bersih digunakan untuk memenuhi kebutuhan :

1. Toilet

E - 137
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2. Shower, Wastafel, urinoir dll,


Sistem pendistribusian air bersih untuk bangunan dilakukan secara
gravitasi. Menara air disuplai dari ground reservoar yang sudah ada
atau pasang baru melalui sistem pemompaan.
Sistem pompa distribusi bekerja sebagai berikut :

1. Pompa air bersih start bila tinggi level air di roof tank pada
posisi minimum.

2. Pompa air bersih stop bila tinggi level air di roof tank pada
posisi maksimum

h) Sistem dan Jaringan Air Kotor


Seluruh air buangan dari bangunan berupa buangan air kotor yang
berasal dari water closet, urinal dibuang ke Septic tank. Sedangkan
air buangan yang berasal dari floor drain, lavatory dan dapur
dibuang langsung ke drainase.

i) Sistem dan Jaringan Air Hujan


Terjadinya konsentrasi aliran air hujan akibat dibangunnya
berbagai fasilitas perlu penyaluran yang terkendali/terintegrasi,
baik di dalam lokasi perencanaan maupun keluar agar tidak
menimbulhan dampak negatif terhadap lingkungan.
Sistem resapan (sumur resapan) diintegrasikan dengan sistem
saluran air hujan agar selain akan mengurangi beban keluar lokasi
perencanaan, juga untuk menjaga cadangan air dalam tanah.
Air hujan yang jatuh di atap bangunan disalurkan melalui pipa-pipa
tegak PVC yang kemudian disalurkan ke resapan setelah itu dibuang
ke saluran kota .

j) Sistem Persampahan

k) Sistem Penanggulangan Kebakaran


Beberapa pertimbangan dalam merencanakan sistem
penanggulangan kebakaran untuk bangunan ini adalah :
1. Faktor keselamatan penghuni dan peralatan gedung

E - 138
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

2. Jaminan keandalan peralatan-peralatan penanggulangan


kebakaran
3. Kemudahan operasional bagi operator dan atau penghuni
(1) Dasar-dasar Perencanaan

Perencanaan sistem penanggulangan kebakaran ini


didasarkan atas kriteria-kriteria sebagai berikut :

Peraturan Daerah Setempat

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum, No.


2/KPTS/1985

Setiap unit fire hose cabinet mencakup 800 m luas


lantai

Setiap unit tabung APAR (portable fire extinguisher)


mencakup 200 m luas lantai

Jarak masimum antara dua unit pillar hidran = 150 m

Tekanan pada ujung nozzle/hose kira-kira 45 meter


kolom air
(2) Peralatan pemadam kebakaran yang direncanakan adalah
sebagai berikut :

Unit-unit fire hose reel, termasuk tabung-tabung


pemadam kebakaran (portable fire extinguisher)

Unit-unit hidran yang dipasang ditapak (site),


termasuk unit siamese connection
Unit-unit fire hose cabinet dipasang, dengan masing-masing unit
melayani kira-kira 800 m. Unit ini dilengkapi dengan selang air
berdiameter 65 mm sepanjang 30 m dan katup kontrol. Selain itu,
disediakan pula landing valve untuk dimanfaatkan oleh Pemadam
Kebakaran.
Di tapak dipasang unit-unit siamese connection dan unit-unit pilar
hidran yang ditempatkan diluar bangunan, dilokasi yang strategis.
Unit-unit fire hose cabinet dan pilar hidran dilayani oleh suatu

E - 139
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

sistem pipa tertutup (loop system) dan pompa pemadam


kebakaran.
E.2.11 Pra Rencana Teknis
Pra Rencana Teknis merupakan penjabaran atau visualisasi dari Konsep
Rencana Teknis yang telah dibuat, dalam bentuk perencanaan sistem
bangunan secara menyeluruh, termasuk denah, tampak dan potongan
bangunan yang dilengkapi dengan pemilihan bahan utama, tata letak dan
sistem utilitasnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal perencanaan
tersebut dibuat dalam beberapa alternatif sehingga dapat dilakukan evaluasi
untuk mendapatkan alternatif terpilih yang optimal. Hasilnya tidak menutup
kemungkinan merupakan kombinasi dari beberapa altenatif yang diajukan.
Hasil dari Pra Rencana Teknis dapat digunakan untuk melakukan proses
perijinan yang diperlukan dalam pembangunan. Disamping itu juga untuk
membuat perkiraan biaya tahap awal untuk memberikan gambaran berapa
besar anggaran yang perlu disiapkan. Dalam kondisi pagu anggaran telah
ditentukan, maka perkiraan biaya tersebut dapat digunakan sebagai bahan
evaluasi tindakan apa yang diperlukan agar pagu anggaran tersebut tidak
dilampaui, atau bila secara fungsi hasil pra rencana tersebut perlu
dipertahankan, maka anggaran harus direvisi dan dibuat pentahapan.
Seluruh pekerjaan tersebut praktis dilakukan di studio, dengan melakukan
koordinasi seperlunya antar disiplin untuk mendapatkan hasil perencanaaan
yang menyeluruh (total design), sedangkan koordinasi dengan Pengguna Jasa
dilakukan untuk mendapatkan persetujuan dan arahan pelaksanaan
selanjutnya.
Dari hasil kajian sementara, berdasarkan hasil analisis perkiraan kebutuhan
fasilitas yang tercantum dalam KAK, hasil perencanaan yang ada serta
berdasarkan hasil pengamatan di lokasi perencanaan, Pra Rencana Teknis
bangunan yang diusulkan adalah seperti berikut :
1. Pembuatan gambar rencana tapak
2. Pembuatan gambar pra rencana bangunan (progam dan konsep ruang)
3. Pembuatan perkiraan biaya pembangunan
4. Pembuatan rencana kerja dan syarat-syarat

E - 140
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

5. Hasil konsultasi rencana dengan Dinas/Instansi.


Sesuai dengan konsep perencanaan yang menyeluruh tersebut, pra rencana
teknis ini dilengkapi dengan perkiraan awal biaya pembangunannya.
E.2.12 Ijin Perencanaan
Hasil dari Pra Rencana Teknis dapat digunakan untuk melakukan proses
perijinan yang diperlukan dalam pembangunan, dalam hal ini pengurusan ijin
perencanaan atau planning perencanaan. Dasar Hukum Izin peruntukkan
penggunaan tanah adalah Peraturan Daerah Kota Bandung, dan dasar hukum
izin mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan Pemerintah Kota
Bandung.
E.2.13 Pengembangan Rencana
Pengembangan rencana pada dasarnya adalah merupakan pengembangan
dari pra rencana teknis terpilih, dengan pendekatan lebih teknis dan analitis
yang didukung oleh perhitungan masing-masing disiplin yang terlibat. Dari
alternatif terpilih pra rencana teknis tersebut kemudian ditentukan bahan
utama bangunan yang akan digunakan (draft RKS), misalnya kolom dan lantai
dari bahan beton bertulang, rangka atap dari baja dengan penutup atapnya
dari genteng beton, serta bahan penutup/finishing.
Penentuan bahan utama tersebut digunakan untuk melakukan analisis dan
perencanaan dan perhitungan struktur bangunan yang menghasilkan
dimensi pasti dari sistem struktur bangunan yang direncanakan.
Setelah dimensi dari hasil perhitungan tersebut tertentu, maka dapat
dilanjutkan dengan pembuatan denah, tampak dan potongan arsitektur
bangunan dengan dimensi yang lebih akurat. Kemudian dibuat detail prinsip
untuk digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan gambar kerja dan
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). Pada tahap ini desain interior turut
berkoordinasi untuk mencapai arah desain yang diharapkan.
Berdasarkan gambar tersebut sistem dan jaringan utilitas dapat
dikembangkan pendetailannya.
Pengembangan rencana ini dilengkapi dengan perkiraan biaya untuk bahan
evaluasi agar arah pelaksanaan perencanaan masih sesuai dengan sasaran
yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam tahap ini koordinasi antar tenaga

E - 141
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

ahli/disiplin perlu dilakukan lebih intensif karena seluruh hasil kajian


masing-masing sudah menghasilkan dimensi yang lebih akurat sehingga
diperlukan gambar koordinasi yang mengakomodasi seluruh kepentingan
disiplin, dalam hal ini biasanya ditampung dalam gambar arsitektur.
Sedangkan koordinasi dengan Pengguna Jasa untuk tahap ini hanya dilakukan
bila kondisinya diperlukan, misalnya penentuan bahan utama. Hasil dari
pekerjaan ini digunakan untuk perencanaan yang lebih detail, untuk proses
perijinan (IMB), serta juga dapat digunakan untuk persiapan proses
prakualifikasi penentuan calon kontraktor pelaksanaan pembangunan.
E.2.14 Rencana Detail
Rencana Detail (Detail Rancangan) merupakan gambar kerja dari seluruh
disiplin yang diperlukan untuk digunakan sebagai dokumen pelelangan dan
pedoman pelaksanaan pembangunan di lapangan.
E.2.15 RKS dan RAB
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) merupakan penjelasan tertulis
mengenai lingkup (kuantitas) pekerjaan dan persyaratan (kualitas)
pelaksanaan pekerjaan yang harus dipenuhi oleh Kontraktor Pelaksana
terpilih.
Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan rincian perkiraan biaya yang
dibuat Konsultan Perencana (Penyedia Jasa) untuk memberikan gambaran
lebih rinci biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan yang
direncanakan. Dalam hal ini sebagai acuan digunakan selain dokumen yang
dikeluarkan secara resmi oleh pemda, juga data dan informasi hasil pantauan
di lapangan agar pelaksanaan pembangunan dapat dilaksakan lebih
mendekati kenyataan. Untuk hal ini dapat dilakukan dengan survei lapangan
untuk mengetahui perkembangan yang ada, termasuk keberadaan bahan
yang dipilih dan harga satuan yang terjadi. Rincian Rencana Anggaran Biaya
(RAB) antara lain:
a. Daftar upah pekerja bangunan
b. Daftar harga bahan bangunan
c. Harga satuan pekerjaan
d. Analisa harga satuan pekerjaan

E - 142
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

e. Rencana anggaran biaya pekerjaan struktur


f. Rencana anggaran biaya pekerjaan arsitektur
g. Rencana anggaran biaya pekerjaan mekanikal dan elektrikal
h. Rekapitulasi

E.2.16 Proses Lelang


Pada tahapan ini Penyedia Jasa/Konsultan Perencana membantu pemilik
proyek mulai dari persiapan, penyelenggaraan dan evaluasi penawaran
dalam rangka mendapatkan calon pelaksana/kontraktor yang paling dapat
dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini termasuk menyusun dokumen
pelelangan, serta membantu panitia pelelangan dalam program dan
pelaksanaan pelelangan.
Dokumen Perencanaan merupakan dokumen dari seluruh pekerjaan yang
dilakukan Konsultan Perencana (Penyedia Jasa), sedangkan Dokumen lelang
adalah dokumen yang dibuat untuk dijadikan bahan pelaksanaan lelang
dalam rangka memilih Kontraktor Pelaksana yang dapat dipertanggung-
jawabkan. Penyusunan Dokumen lelang tergantung dari sistem pelaksanaan
pembangunan yang dipilih :
Sistem pembangunan yang menggunakan cara kontraktor umum
(general contractor), seluruh dokumen perencanaan (gambar kerja)
dijadikan Dokumen Lelang karena Kontraktor Terpilih hanya satu.
Sistem pembangunan bertahap, Dokumen Lelang disusun berdasarkan
tahapan pembangunan yang dilakukan. Hal ini terjadi bila anggaran
tidak tersedia dalam satu tahun anggaran.
Sistem pembangunan secara bertahap lain yang hampir sama, yaitu
menggunakan cara kontraktor khusus sesuai komponen bangunan (fast
track), dimana Dokumen Lelang disusun berdasarkan lingkup pekerjaan
(komponen bangunan) yang direncanakan. Dalam hal ini biasanya
penentuan tahapan pelaksanaan (pemilihan Kontraktor Pelaksana)
berdasarkan pertimbangan bidang keahliannya sehingga diharapkan
akan mendapatkan biaya pembangunan yang lebih murah, tetapi di sisi
lain biaya pengawasan menjadi lebih besar.

E - 143
USULAN TEKNIS
xxxxxxxx

Pemilihan sistem pembangunan tersebut ditentukan berdasarkan


situasi dan kondisi masing-masing, sehingga masih memungkinkan
terjadinya perbedaan cara walaupun dalam lingkungan (pemerintahan)
yang sama. Dalam hal ini bahan pertimbangan yang digunakan biasanya
karena sifatnya non teknis yang tidak mungkin dilaksanakan dalam satu
tahun anggaran, atau karena anggarannya terbatas. Pemilihan sistem
pembangunan tersebut juga akan mempengaruhi terhadap pengawasan
pelaksanaan pembangunan (Konsultan Pengawas atau Konsultan
Manajeman Konstruksi).
Dalam hal penyusunan Dokumen Lelang tersebut sebaiknya dibuat
setelah IMB dikeluarkan agar dalam pembangunannya tidak mengalami
hambatan.
Proses lelang merupakan proses untuk menentukan Kontraktor
Pelaksana yang dapat dipertanggung-jawabkan, dalam hal ini sesuai
ketentuan yang berlaku untuk bangunan negara.

E - 144
USULAN TEKNIS
Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

DINAS PANGAN
DAN PERTANIAN
KOTA BANDUNG

PENYUSUNAN DED
UPT PEMBIBITAN
TANAMAN
PANGAN,
HORTIKULTURA
DAN PETERNAKAN

DIAGRAM ALIR PELAKSANAAN PEKERJAAN PENYUSUNAN DED UPT PEMBIBITAN


TANAMAN PANGAN, HORTIKULTURA DAN PETERNAKAN

E - 145
USULAN TEKNIS
Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

E.3. Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan


Organisasi pelaksanaan dalam pekerjaan Penyusunan DED UPT Pembibitan
Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan menyangkut hubungan antara
pemberi tugas dengan pelaksana kerja. Untuk memudahkan dan memelihara efisiensi
kerja, perlu disusun suatu organisasi pelaksanaan pekerjaan agar dapat berjalan
lancar sesuai dengan maksud, tujuan dan sasaran serta jadwal yang telah ditetapkan.
Pada dasarnya dalam penyusunan organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut
menyangkut hubungan kerja antara pemberi tugas dan penerima/pelaksana
pekerjaan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, konsultan akan bertanggung jawab kepada Kuasa
Pengguna Anggaran yang telah ditunjuk, dan akan melakukan konsultasi teknis
dengan tim teknis daerah yang telah ditunjuk atau ditetapkan.

E.3.1 Tim Konsultan

Tim Konsultan terdiri dari : ketua tim konsultan (team leader), tenaga ahli, dan
tenaga pendukung .

Manager Proyek bertanggung jawab kepada Direktur Utama Konsultan


terhadap pelaksanaan, kelancaran, dan penyelesaian proyek.
Ketua Tim Konsultan (team leader) bertanggung jawab secara
keseluruhan kepada tim supervisi, mengkoordinasikan seluruh pekerjaan tim
konsultan dengan dibantu oleh sub-bidang penelitian.
Tenaga Ahli yang merupakan sub-bidang penelitian, yang dirinci
berdasarkan disiplin ilmu yang digunakan dan bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

Tenaga pendukung bertugas melaksanakan tugas studio dan


kesekretariatan dalam pekerjaan ini.

E.3.2 Struktur Organisasi Pekerjaan

Penyusunan organisasi pelaksana kerja Penyusunan DED UPT Pembibitan


Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan menyangkut hubungan antara
pemberi kerja dengan pelaksana kerja (konsultan), yang terdiri dari tenaga-tenaga
ahli dari berbagai bidang beserta tenaga pendukungnya.

E - 146
USULAN TEKNIS
Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

Dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud, konsultan akan membentuk satu tim
yang dipimpin oleh team leader dengan didukung oleh beberapa tenaga ahli dan juga
beberapa tenaga pendukung yang berkompeten. Untuk mengetahui lebih jelas,
struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada gambar berikut.

E - 147
USULAN TEKNIS
Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

DINAS PANGAN DAN PERTANIAN


KOTA BANDUNG

KONSULTAN
PELAKSANA
Direktur
PENYUSUNAN DED UPT
PEMBIBITAN TANAMAN PANGAN,
HORTIKULTURA DAN
Office Manager PETERNAKAN

Team Leader Tim Teknis

Tenaga Ahli Bersertifikat


Ahli Landsekap
Ahli Interior Exterior
Ahli Struktur Konstruksi
Ahli Teknik Lingkungan
Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Ahli Pertanian
Ahli Peternakan
Ahli Cost Estimate Keterangan:
Ahli Planologi
Ahli Geoteknik Garis Tugas
Ahli Geodesi Garis Koordinasi
Asisten Muda Geodesi
Garis Perintah

Tenaga Pendukung

Gambar E.8.
Struktur Organisasi Pelaksanaan

E - 148
USULAN TEKNIS
Penyusunan DED UPT Pembibitan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

E - 149

Anda mungkin juga menyukai