Anda di halaman 1dari 31

PENYAKIT MENULAR DAN PENCEGAHANNYA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat

Oleh:

Susan Aminah 201010070311066

Kelas 6B

JURUSAN P.MIPA BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

0
PENYAKIT MENULAR DAN PENCEGAHANNYA

1. VARIOLA (CACAR)
a. Etiologi Penyakit

Penyebab variola adalah virus variolae ada 2 tipe virus yang identik yaitu
Variela dan Varicella. Tetapi menimbulkan 2 tipe variola yang berbeda yaitu
variola mayor dan variola minor (alastrim). Perbedaan kedua virus itu adalah
bahwa penyebab variola mayor bila dimokulasikan pada membrane karioalontrik
tubuh pada suhu 38o C. Sedangkan yang menyebabkan variola minor tumbuh
dibawah suhu itu. Variola major menyebabkan penyakit yang lebih serius dengan
tingkat kematian 3035%. Variola minor menyebabkan penyakit yang lebih ringan
(dikenal juga dengan alastrim, cottonpox, milkpox, whitepox, dan Cuban itch)
yang menyebabkan kematian pada 1% penderitanya. Akibat jangka panjang
infeksi Variola major adalah bekas luka, umumnya di wajah, yang terjadi pada
6585% penderita (Watiamma, Asma.2013 ) .
http://asmawatiamma.blogspot.com/2013/03/makalah-variola.html

b. Masa Tunas / Inkubasi

Masa tunas dari 7 19 hari, rata-rata 10 14 hari sejak infeksi dan 2 4


hari lebih setelah timbul ruam.
(http://penyakitdalam.wordpress.com/category/manual-pemberantasan-
penyakit-menular/smallpox-cacar/).
c. Cara Penularan / Transmisi
Mekanisme transmisinya dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung misalnya lewat udara yang terkontaminasi virus variola, yang
selanjutnya terhirup oleh kita. Selain itu adanya kontak atau tatap muka dengan
orang yang terinfeks. Kontak langsung atau bersentuhan mengenai ruam-ruam dan
cairan tubuh si penderita. Kadang-kadang dapat pula menyebar di udara ditempat-
tempat tertutup seperti bangunan, bus, kereta api.
Adapun secara tidak langsung misalnya melalui benda atau obyek yang
terkontaminasi seperti pakaian yang terinfeksi atau mengandung virus dari
penderita dan tempat tidur yang terkontaminasi. Cacar hanya ditularkan oleh
manusia, sedangkan serangga dan reservoir hewan tidak memiliki peranan dalam

1
mekanisme transmisi. Seseorang dengan cacar terkadang dapat menularkan ke
orang lain ketika berada pada fase demam (fase prodromal), tetapi orang yang
berpotensi paling besar dalam penularan adalah ketika fase munculnya ruam.
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/03/makalah-tentang-
varicella.html

d. Gejala penyakit

1. Stadium prodromal/invasi
Stadium ini berlangsung selama 3-4 hari yang ditandai dengan :
a. Suhu tubuh naik (40oC)
b. Nyeri kepala
c. Nyeri tulang
d. Sedih dan gelisah
e. Lemas
f. Muntah-muntah
2. Stadium makulao papular /erupsi
Suhu tubuh kembali nomal, tetapi timbul makula-makula eritematosa
dengan cepat akan berubah menjadi papula-papula terutama dimuka dan
ektremitas (termasuk telapak tangan dan kaki) dan timbul lesi baru.
3. Stadium vesikula pustulosa / supurasi
Dalam waktu 5 10 hari timbul vesikula-vesikula yang cepat berubah
menjadi pustule. Pada saat ini suhu tubuh akan meningkat dan lesi-lesinya
akan mengalami umblikasi.
4. Stadium resolusi
a. Stadium krustasi
Suhu tubuh mulai menurun, pustule-pustula mengering menjadi krusta.
b. Stadium dekrustasi
Krusta-krusta mengelupas, meninggalkan bekas sebagai sifakriks atrofi.
Kadang-kadang ada rasa gatal dan stadium ini masih menular.

2
c. Stadium rekon valensensi.
Lesi-lesi menyembuh, semua krusta rontok, suhu tubuh kembali normal,
penderita betul-betul sembuh dan tidak menularkan penyakit lagi.
(Watiamma, Asma.2013 )
e. Usaha Pencegahan & Pemberantasan

1. Melakukan vaksinasi
Jika vaksin diberikan kepada seseorang sebelum paparan cacar, vaksin
benar-benar dapat melindungi mereka. Vaksinasi dalam waktu 3 hari
setelah terpapar akan mencegah atau sangat mengurangi keparahan
penyakit cacar pada kebanyakan orang. Vaksinasi 4 sampai 7 hari setelah
pajanan dan kemungkinan menawarkan beberapa perlindungan dari
penyakit atau dapat menurunkan keparahan penyakit.
2. Hindari kontak langsung atau tatap muka dengan penderita.
3. Hindari bersentuhan atau kontak dengan benda-benda atau tempat yang
terkontaminasi virus seperti pakaian dan tempat tidur penderita (Diana,
Uci. 2011).
2. TBC (Tuberkulosis )
a. Etiologi Penyakit

Tuberkulosis disebabkan karena infeksi yang oleh bakteri Mycobacterium


tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga
dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).

1. Mycobacterium tuberculosis bersifat aerob yaitu organisme yang melakukan


metabolisme dengan bantuan oksigen.
2.Sifat pertumbuhan lambat (waktu generasi 2 sampai 6 minggu), sedangkan
koloninya muncul pada pembiakan 2 minggu sampai 6 minggu.
3.Suhu optimum pertumbuhan pada 37C dan pH optimum 6,4 sampai 7.
( http://analismuslim.blogspot.com/2012/02/mycobacterium-tuberculosis.html)
b. Masa Tunas / Inkubasi
Masa inkubasi 4- 12 minggu tuberkulosis paru. Pada pulmonair progressif
dan extrapulmonair, tuberkulosis biasanya memakan waktu yang lebih lama,
sampai beberapa tahun.

3
c. Cara Penularan / Transmisi
Penularan penyakit ini karena kontak dengan dahak atau menghirup titik-
titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis,
anak anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di sekitar rumah
maupun saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum, rumah sakit
dan dari lingkungan sekitar rumah.
d. Gejala penyakit
1. Gejala umum (Sistemik)
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2. Gejala Khusus
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara
"mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
Jika ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
http://intanpuja.blogspot.com/2011/10/makalah-penyakit-tbc.html
e. Usaha Pencegahan & Pemberantasan

Konsumsi makanan bergizi


Vaksinasi
Dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah
putih menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri
TBC.

Lingkungan
Menjaga lingkungan agar sehat dan kebersihan makanan dan minuman
sangat perlu untuk dijaga

4
Pencegahan penularan bagi penderita
- Jangan meludah di sembarang tempat .
- Gunakan tempat yang tertutup untuk menampung dahak.
- Dahak jangan dibuang di sembarang tempat.
- Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (tidak merokok, jemur kasur
dan tikar secara teratur, ventilasi udara serta sinar matahari.

3. KORELA
a. Etiologi Penyakit
Penyakit kolera adalah penyakit yang menginfeksi saluran usus bersifat
akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam
tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri
tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga
terjadilah diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya
seseorang dalam waktu hanya beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh
dan masuk pada kondisi dehidrasi.
b. Masa Tunas / Inkubasi
Penyakit ini mempunyai masa inkubasi yang pendek, yaitu 1 sampai 5
hari.
c. Cara Penularan

Seseorang bisa mendapatkan kolera dengan minum air atau makan makanan
tercemar dengan Vibrio cholerae. Sumber kontaminasi cholerae Vibrio,
selama epidemi, biasanya tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat
menyebar dengan cepat di daerah dengan pengobatan yang tidak memadai
limbah dan air minum.
Vibrio cholerae tidak mungkin menyebar langsung dari satu orang ke orang
lain, kontak biasa dengan penderita tidak risiko untuk menjadi sakit.
Setelah Vibrio cholerae yang tertelan, bakteri perjalanan ke usus kecil di
mana mereka mulai berkembang biak. Penyebab utama diare berair, gejala
kolera karakteristik, adalah ketika Vibrio cholerae mulai memproduksi
racun mereka.

5
Penyakit dapat menyebar lebih lanjut jika orang yang terinfeksi mulai
menggunakan sumber air kotor untuk membersihkan diri mereka sendiri dan
untuk buang dari limbah.
d. Gejala Penyakit
Gejala awal kolera biasanya ditunjukkan beberapa jam sampai lima hari
setelah infeksi terjadi. Ada gejala yang tergolong ringan hingga sangat serius.
Bahkan satu di antara 20 orang bisa terkena diare disertai dengan muntah yang
memicu dehidrasi. Meskipun seseorang tidak mengalami gejala apapun, bukan
berarti penyebaran infeksinya berhenti. Beberapa tanda dari dehidrasi itu sendiri
adalah detak jantung yang lebih cepat, kehilangan elastisitas kulit, membran yang
mengering (seperti mulut, tenggorokan, hidung, dan kelopak mata), tekanan darah
rendah, rasa haus, dan nyeri otot. Jika tidak segera diobati, dehidrasi ini bisa
berujung pada kematian dalam beberapa jam.
e. Usaha Pencegahan
Meminum air yang sudah masak atau benar-benar bersih. Gunakan air
tersebut untuk minuman, masakan, membuat es batu, menggosok gigi, mandi,
mencuci buah dan sayur, serta mencuci peralatan memasak dan makan. Selain itu
hindari makanan mentah, buah atau sayur yang belum dikupas, produk susu yang
tidak dipasteurisasi, daging mentah atau setengah matang, dan ikan yang berisiko
terkontaminasi air kotor. Jika Anda menderita diare dan muntah yang
berkepanjangan, segera hubungi dokter. Kolera sebenarnya bisa diobati. Namun
dehidrasi bisa sangat cepat menyerang dan berbahaya jika diabaikan.

4. PES
a. Etiologi Penyakit

Penyebab penyakit pes ini adalah hama penyakit basil pes yang disebut juga
Pasteurella pestis. Basil ini ditemukan oleh Kitasato dan Yersin di Hongkong pada
tahun 1894. Setelah hasil itu (basil) diberi warna menurut Loefler terlihat, bahwa
pewarnan pada kedua ujungnya adalah lebih tebal, dan basil itu disebut berkutub
dua atau bipolar. Besarnya lebih kurang 2 mikron. Basil pes ini dapat dibunuh
oleh sinar matahari. Larutan karbol 1% sublimate 1% dan susu kapur dapat
membunuh basil ini dalam beberapa menit. Bila di atas tanah, basil ini akan mati
selama 24 jam.

6
b. Masa Tunas / Inkubasi

Masa inkubasi 2-8 hari.

c. Cara Penularan/Transmisi

Beberapa penularan penyakit pes tersebut. Adapun bagan penularan


penyakit pes sebagai berikut.

Penularan pes secara eksidental dapat terjadi pada orangorang yang bila
digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif. Ini dapat terjadi pada pekerja-
pekerja di hutan, ataupun pada orang-orang yang mengadakan
rekreasi/camping di hutan.

Penularan pes ini dapat terjadi pada orang yang berhubungan erat dengan
tikus hutan, misalnya para ahli Biologi yang sedang mengadakan penelitian di
hutan, dimana orang tersebut terkena darah atau organ tikus yang mengandung
kuman pes.

Kasus yang umum terjadi dimana penularan pes pada seseorang karena
digigit oleh pinjal infeksi setelah menggigit tikus domestik/komersial yang
mengandung kuman pes.

Penularan pes dari tikus hutan komersial melalui pinjal. Pinjal yang efektif
kemudian menggigit manusia.

7
Penularan pes dari seseorang ke orang lain dapat juga terjadi melalui
gigitan pinjal manusia Culex Irritans (Human flea)

Penularan pes dari seseorang yang menderita pes paru-paru kepada orang
lain melalui percikan ludah atau pernapasan. Pada no.1 sampai dengan 5,
penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo. Pes bubo
dapat berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes).

d. Gejala Penyakit

Demam tinggi secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas


Sesak napas padahal orang yang bersangkutan bukan penderita asma.
Serta batuk kadang-kadang disertai darah.
Timbulnya pembengkakan kelenjar getah Bening (limfe) di daerah ketiak,
lipat paha, dan daerah sekitar leher.
e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan
Pencegahan
Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan melalui penyuluhan dan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan cara mengurangi atau
mencegah terjadinya kontak dengan tikus serta pinjalnya.
Cara mengurangi atau mencegah terjadinya kontak antara tikus beserta
pinjalnya dengan manusia dapat dilakukan seperti berikut.

1. Penempatan kandang ternak di luar rumah.

2. Perbaikan konstruksi rumah dan gedung-gedung sehingga mengurangi


kesempatan bagi tikus untuk bersarang (rat proof).

8
3. Membuka beberapa buah genting pada siang hari atau memasang genting
kaca sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah sebanyak-
banyaknya.

4. Menggunakan lantai semen.

5. Menyimpan bahan makanan dan makanan jadi di tempat yang tidak


mungkin dicapai atau mengundang tikus.

6. Melaporkan kepada petugas Puskesmas bilamana menjumpai adanya tikus


mati tanpa sebab yang jelas (rat fall).

7. Tinggi tempat tidur lebih dari 20 cm dari tanah.

Pemberantasan
Keharusan melaporkan terjadinya penyakit pes oleh para dokter supaya
tindakan pencegahan dan pemberantasan penyakit dapat dijalankan. Keharusan ini
tercantum dalam undang-undang karantina dan epidemi (UU Wabah 1962).

1. Keharusan melaporkan adanya kematian sebelum mayat dikubur. Pada


mayat itu dilakukan fungsi paru, limfa dan pada bubo. Pes paru primer
dapat dinyatakan bila cairan paru pasitif dan pes cairan limpa negatif. Pes
paru sekunder terjadi bila cairan paru dan cairan limpa positif. Pes
septichaemi jika cairan paru negatif dan cairan limpa positif.

2. Tindakan selanjutnya jika telah dinyatakan diagnosa pes adalah penderita


pes paru (primer dan sekunder) harus diisolasi dan dirawat di rumah sakit.
Penduduk di sekitar rumah pes divaksinasi. Rumah disemprot dengan
DDT. Kemudian rumah itu dibuka atapnya agar matahari dapat masuk.
Lalu rumah tersebut diperbaiki kembali.

3. Suntikan anti pes secara umum.

4. Pembasmian pinjal tikus dilakukan dengan bubuk DDT yang ditaruh pada
tempat yang biasa dilalui oleh tikus. Bubuk DDT akan melekat pada bulu

9
tikus sehingga akan membunuh pinjal-pinjal itu. Hal ini dapat pula
dilakukan serangkaian pemberantasan nyamuk malaria melalui
penyemprotan.

5. Pembasmian tikus dengan racun, perangkap dan kucing.

6. Pengawasan angkutan padi dan lain-lain dengan pikulan, gerobak, dan


sebagainya agar tikus yang tertular pes tidak terangkut dari satu daerah ke
daerah yang lain.

7. Perbaikan rumah agar tikus tidak bersarang di dalam rumah.

8. Tindakan kebersihan seperti menjemur alat-alat tidur setiap minggu.


Jangan ada sisa-sisa makanan yang berhamburan dan menarik tikus.

5. LEPRA
a. Etiologi Penyakit

Myobacterium leprae merupakan penyebab dari penyakit ini. Merupakan


satu famili dengan M. tuberculosis penyebab TBC. Memiliki sifat obligat
intraseluler dan tahan asam, pada beberapa jenis telah mengalami perubahan
dari sifat akibat perubahan gen yang menyebabkan bakteri dapat bertahan di
lingkungan selama beberapa bulan. Pada penderita yang tidak dilakukan terapi
dengan baik akan terjadi peningkatan angka bakteri di kulit (MI), dan ketebalan
bakteri di kulit (BI) hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan terapi efektif.
Bakteri lepra merupakan salah satu bakteri yang hanya tumbuh dan
berkembang pada manusia saja. Walaupun demikian bakteri ini masih belum
dapat di biakan karena sulitnya mencari media yang cocok, media yang paling
baik sampai saat ini adalah telapak kaki tikus. Bakteri lepra akan berkembang
biak dengan baik pada jaringan yang lembab (kulit, saraf perifer, ruang depan
mata, saluran nafas bagian atas, dan testis), dan pada daerah yang lebih hangat
dari tubuh (ketiak, lipat paha, kepala, dan pertengahan punggung).

b. Masa Tunas / Inkubasi


Masa inkubasi lepra bervariasi dari 2 minggu sampai 4 tahun, walaupun
secara umum durasi sepanjang 5 7 tahun. Manifestasi lepra sangat bervariasi

10
bergantung terhadap penyebaran bakteri dan gejala yang timbul pada kulit dan
sistem persarafan.
c. Cara Penularan
Tranmisi lepra masih belum dapat dijelaskan dengan baik, tetapi sampai
sekarang masih dipercaya bahwa penularan melalui infeksi lendir hidung yang
menginfeksi secara langsung, atau melalui tanah yang subur, seperti di India
insidensi paling sering pada perkotaan dari pada desa. Hal ini terbukti bahwa
bakteri lepra terdapat pada tanah di daerah yang endemik lepra tinggi.
Inokulasi pada kulit yang pecah dapat menular secara langsung.
d. Gejala Penyakit

Bakteri penyebab lepra berkembang biak sangat lambat, sehingga gejalanya


baru muncul minimal 1 tahun setelah terinfeksi (rata-rata muncul pada tahun
ke 5-7).
Gejala dan tanda muncul tergantung kepada respon kekebalan penderita.
Jenis lepra menentukan prognosis jangka panjang, komplikasi yang mungkin
terjadi dan kebutuhan akan antibiotik.
Lepra tuberkuloid ditandai dengan ruam kulit berupa 1 atau beberapa daerah
putih yang datar. Daerah tersebut bebal terhadap sentuhan karena
mikrobakteri telah merusak saraf-sarafnya.
Lepra Lepromatosa muncul benjolan kecil atau ruam meonjol yang lebih
besar dengan berbagai ukuran dan bentuk. Terjadi kerontokan rambut tubuh,
termasuk alis dan bulu mata.
Lepra Perbatasan merupakan suatu keadaanyang tidak stabil yang memiliki
gambaran kedua bentuk lepra. Jika keaadaan membaik, maka akan
menyerupai lepra tuberkuloi, jika keaadannya memburuk, maka akan
menyerupai lepra lepromatosa. Selama perjalan penyakit, baik diobati
maupun tidak diobati, bisa reaksi kekebalan tertentu, yang kadang timbul
sebagai demam dan peradangan kulit, saraf tepi dan kkelenjar getah
bening ,sendi, buah zakar, ginjal, hati dan mata.
e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan
Pencegahan
Menciptakan lingkungan sanitasi yang bersih. Daya tahan tubuh
seseorang harus baik. Selain itu, lebih baik segera memeriksakan diri jika ada

11
bercak putih seperti panu yang mati rasa, agar pengobatannya dapat dilakukan
lebih dini.

Pemberantasan

Mereduksi stigma negatif tentang penyakit kusta di masyarakat.


Menemukan dan mendiagnosis penyakit kusta secara cepat dan tepat.
Mengobati dan melakukan penatalaksanaan yang komprehensif terhadap
penderita kusta.
Menemukan dan melanjutkan pengobatan terhadap defaulter (penderita
yang putus pengobatan)
Melakukan pengawasan dan pencegahan kecacatan penderita (Prevention
of Disability).
Meningkatkan dan melakukan promosi pencegahan dan pengendalian
penyakit kusta.
Memutus rantai penularan penyakit kusta.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas petugas kusta terlatih

6. FRAMBOESIA
a. Etiologi Penyakit

Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh


Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema
penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang
dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit
sehat. Framboesia adalah infeksi kronis terutama mempengaruhi kulit, tulang, dan
tulang rawan. Penyebabnya adalah bakteri treponema perteneu, yang juga
menyebabkan sifilis. Namun feamboesia tidak menyerang kelamin sebagaimana
sifilis.

b. Masa Tunas / Inkubasi

Masa inkubasi antara 9-90 hari (rata-rata 3 minggu)

c. Cara Penularan
Penularan penyakit frambusia dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung (Depkes,2005), yaitu :

12
Penularan secara langsung (direct contact) .
Penularan penyakit frambusia banyak terjadi secara langsung dari
penderita ke orang lain. Hal ini dapat terjadi jika jejas dengan gejala
menular (mengandung Treponema pertenue) yang terdapat pada kulit
seorang penderita bersentuhan dengan kulit orang lain yang ada lukanya.
Penularan mungkin juga terjadi dalam persentuhan antara jejas dengan
gejala menular dengan selaput lendir.
Penularan secara tidak langsung (indirect contact) .
Penularan secara tidak langsung mungkin dapat terjadi dengan
perantaraan benda atau serangga, tetapi hal ini sangat jarang. Dalam
persentuhan antara jejas dengan gejala menular dengan kulit (selaput lendir)
yang luka, Treponema pertenue yang terdapat pada jejas itu masuk ke dalam
kulit melalui luka tersebut.

d. Gejala Penyakit
Gejala klinis terdiri atas 3 stadium pertama pada tungkai bawah
sebagai tempat yang mudah trauma, Kelainan papul yang eritematosa,
menjadi besar berupa ulkus dengan dasar papilomatosa. Jaringan granulasi
banyak mengeluarkan serum bercampur darah yang mengandung
treponema. Serum mengering menjadi krusta berwarna kuning-kehijauan,
pembesaran kelenjar limfe regional konsistensi keras dan tidak nyeri.
Stadium satu dapat menetap beberapa bulan kemudian sembuh sendiri
dengan meninggalkan sikatriks yang cekung dan atrofik. Stadium kedua;
dapat timbul setelah stadium pertama sembuh atau sering terjadi tumpang
tindih antara stadium satu dan stadium dua

e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan


Pencegahan
1. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada factor
penyebab, lingkungan serta factor penjamu.

13
a. Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk
mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah
mungkin dengan usaha antara lain : desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi,
yang bertujuan untuk menghilangkan mikro-organisme penyebab
penyakit, penyemprotan/insektisida dalam rangka menurunkan dan
menghilangkan sumebr penularan maupun memutuskan rantai penularan,
disamping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka memutuskan
rantai penularan.
b. Mengatasi atau modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan
fisik seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan
serta bentuk pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan
biologis seperti pemberantasan serangga dan binatang pengerat, serta
peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga,
hubungan antar individu dan kehidupan sosial masayarakat.
c. Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi perbaikan status gizi,
status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian
imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan
status psikologis, persiapan perkawinan serta usaha menghindari
pengaruh factor keturunan, dan peningkatan ketahanan fisik melalui
peningkatan kualitas gizi, serta olahraga kesehatan.
2. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan kepada mereka yang menderita
atau dianggap menderita (suspect) atau yang terancam akan menderita
(masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat kedua ini yang
meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah
meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk
segera mencegah proses penyakit untuk lebih lanjut serta mencegah
terjadinya akibat samping atau komplikasi.
a. Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha
surveillance penyakit tertentu, pemeriksaan berjala serta pemeriksaan
kelompok tertentu ( calon pegawai, ABRI, Mahasiswa, dan lain

14
sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara
umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang efektif.
b. Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai
berada pada proses prepatogenesis Framboesia.
3. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Sasaran pencegahan tingkat ketiga adalah penderita penyakit Framboesia
dengan tujuan mencegah jangan sampai cacat atau kelainan permanen,
mencegah bertambah parahnya penyakit tersebut atau mencegah
kematian akibat penyakit tersebut.
Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah
terjadinya akibat samping dari penyembuhan penyakit Framboesia.
a. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan Masyarakat (tahap
Patogenesis)
Pemberantasan
Strategi Pemberantasan frambusia terdiri dari 4 hal pokok yaitu:
a. Skrining terhadap anak sekolah dan masyarakat usia di bawah 15 tahun
untuk menemukan penderita.
b. Memberikan pengobatan yang akurat kepada penderita di unit
pelayanan kesehatan (UPK) dan dilakukan pencarian kontak.
c. Penyuluhan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS).
d. Perbaikan kebersihan perorangan melalui penyediaan sarana dan
prasarana air bersih serta penyediaan sabun untuk mandi.

7. FILARIASIS
a. Etiologi Penyakit

Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi tiga macam, berdasarkan


bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya: filariasis
limfatik, filariasis subkutan (bawah jaringan kulit), dan filariasis rongga serosa

15
(serous cavity). Filariasis limfatik disebabkan Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi, dan Brugia timori[1]. bagian kelamin, tetapi W. bancrofti dapat
menyerang tungkai dada, serta alat kelamin. Filariasis subkutan disebabkan
oleh Loa loa (cacing mata Afrika), Mansonella streptocerca, Onchocerca
volvulus, dan Dracunculus medinensis Gejala elefantiasis (penebalan kulit dan
jaringan-jaringan di bawahnya) sebenarnya hanya disebabkan oleh filariasis
limfatik ini. B. timori diketahui jarang menyerang (cacing guinea). Mereka
menghuni lapisan lemak yang ada di bawah lapisan kulit. Jenis filariasis yang
terakhir disebabkan oleh Mansonella perstans dan Mansonella ozzardi, yang
menghuni rongga perut. Semua parasit ini disebarkan melalui nyamuk atau
lalat pengisap darah, atau, untuk Dracunculus, oleh kopepoda (Crustacea).

Wuchereria bancrofti hanya ditemukan pada manusia; Brugia malayi


sering kali menyebar kepada manusia melalui inang hewan. Parasit dewasa
hidup di sistem limphatik. Microfilaria yang dilepaskan oleh betina gravit
ditemukan di darah perifer, biasanya pada malam hari. Infeksi menyebar
melalui banyak genera nyamuk; vektor Wuchereria bancrofti adalah aedes,
culex, dan anopheles; vektor Brugia malayi adalah anopheles dan mansonia.
Microfilaria dimakan oleh nyamuk, berkembang di otot torax serangga, dan
kemudian matur dan bermigrasi ke bagian mulut serangga. Jika nyamuk
terinfeksi menggigit inang baru, microfilaria masuk ke tempat gigitan dan
akhirnya mencapai saluran limfatik, dimana mereka manjadi matur.

b. Masa Tunas / Inkubasi

a. Masa inkubasi antara 3-8 bulan tapi kadang-kadang hingga 12 bulan


b. Pada manusia antara 3-15 bulan sedangkan pada hewan bervariasi sampai
beberapa bulan
c. Periode pra paten (dari saat infeksi sampai tampaknya microfilaria di
dalam darah) sekurang-kurangnya 8 bulan.

c. Cara Penularan / Transmisi

16
Penularan ke manusia melalui gigitan vektor nyamuk (Mansonia dan
Anopheles). Bila manusia digigit maka microfilaria akan menempel di kulit
dan menembus kulit melalui luka tusuk dan melalui sistem limfe ke kelenjar
getah bening. Cacing yang sedang hamil akan menghasilkan microfilaria.
Cacing tersebut muncul dalam darah dan menginfeksi kembali serangga yang
menggigit.

d. Gejala Penyakit

Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis (peradangan


kelenjar getah bening) disertai panas dan malaise. Kelanjar yang terkena biasanya
unilateral.

a. Filariasis brancofti

Pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis,


epididimitis, dan orchitis. Umumnya sembuh dalam 3-15 hari dan serangan terjadi
beberapa kali dalam setahun.

b. Filariasis brugia

Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada
pergelangan kaki dan kaki. Serangan dapat terjadi 1-2 kali per tahun sampai
beberapa kali per bulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses,
memecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3
minggu-3 bulan.

Gejala menahun

Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Gejala
yang ditimbulkan biasanya elephantiasis (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di
bawahnya). Elephantiasis biasanya menyerang bagian bawah tubuh, namun hal ini
juga tergantung pada species filaria. W. bancrofti dapat menyerang kaki, tangan,
vulva, dada, sedangkan Brugia timori jarang menyerang bagian kelamin. Infeksi
oleh Onchocerca volvulus dan migrasi microfilariae lewat kornea adalah salah

17
satu penyebab kebutaan (Onchocerciasis). Gejala menahun ini dapat
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta
membebani keluarganya.

e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan


Pencegahan :

1. Tidur berkelambu
2. Perlunya pengenalan penyakit secara dini dan pengobatan
yang segera
3. Agar setiap anggota masyarakat turun aktif dalam usaha-
usaha pemberantasan penyakit
4. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan mengontrol
vektor dan menghindari gigitannya, serta pengobatan anjing dengan
tiasetarsamida setiap 6 bulan pada daerah yang sangat enzootic
Pemberantasan:
Pemberantasan jangka pendek dengan cara pengobatan hasilnya
cukup baik dan sebaiknya diteruskan melalui parti-sipasi masyarakat dan
diulang menurut keperluan, untuk mengurangi infection rate dan disease rate,
sehingga dapat menaikkan daya kerja dan daya produksi masyarakat
didaerah endemik. Pemberantasan jangka pendek ini sebaiknya disusul
dengan pemberantasan jangka panjang yang mencakup pengendalian vektor
jangka panjang melalui kerjasama lintassektoral dan partisipasi masyarakat

8. PENYAKIT PERUT MENULAR


I. DISENTRI
a. Etiologi Penyakit

Bakteri (Disentri basiler)


- Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering ( 60%
kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang
berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella [2].
- Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)

18
- Salmonella
- Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih
sering pada anak usia > 5 tahun
b. Masa Tunas / Inkubasi

Bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga beberapa bulan atau


tahun biasanya 2 4 minggu. Diare mendadak yang disertai darah dan
lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa
terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-
72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.

c. Cara Penularan / Transmisi

1. Langsung

Faecal oral transmission dari penderita atau carrier. Bakteri masuk


ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga
menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang
menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah.
Penularan mungkin terjadi secara seksual melalui kontak oral-anal.
Penderita dengan disentri amoeba akut mungkin tidak akan
membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada
kotoran

2. Tidak Langsung

Melalui vektor lalat, seperti air,susu,makanan yang terkontaminasi


oleh tinja penderita. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat
yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di
tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi

d. Gejala Penyakit

19
1. Buang air besar dengan tinja berdarah

2. Diare encer dengan volume sedikit

3. Buang air besar dengan tinja bercampur lendir/mukus

4. Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan

1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun


secara teratur dan teliti.

2. Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.

3. Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan


makanan.

4. Memasak makanan sampai matang.

5. Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.

6. Mengatur pembuangan sampah dengan baik.

7. Mengendalikan vector dan binatang pengerat.

8. Perbaikan lingkungan hidup

II. MUNTABER

a. Etiologi Penyakit
Penyebab utama penyakit muntaber adalah peradangan usus oleh bakteri,
virus, parasit lain (jamur, cacing, protozoa), keracunan makanan atau
minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia serta kurang
gizi, misalnya kelaparan atau kekurangan protein. Penyakit yang dapat
disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Selain itu, penyakit muntaber
juga dapat disebabkan oleh virus Vibrio parahaemolyticus yang termasuk

20
jenis vibrio halofilik dan telah diidentifikasi ada 12 grup antigen O dan
sekitar 60 tipe antigen K yang berbeda. Strain patogen pada umumnya
(tetapi tidak selalu) dapat menimbulkan reaksi hemolitik yang khas
(fenomena Kanagawa).
b. Masa Tunas / Inkubasi
Masa inkubasi Vibrio parahaemolyticus biasanya antara 12 24 jam,
tetapi dapat berkisar antara 4 30 jam.
c. Cara Penularan / Transmisi

Tinja atau muntahan tersebut dikeluarkan oleh penderita atau


pembawa kuman (carrier) yang buang air besar atau muntah di
sembarang tempat. Tinja dan muntahan tadi kemudian mencemari
lingkungan misalnya tanah, sungai dan air sumur. Orang sehat yang
menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemari kemudian
dapat menderita muntaber. Penularan langsung juga dapat terjadi apabila
tangan kotor atau tercemar kuman dipergunakan untuk menyuap
makanan.
d. Gejala Penyakit

Gejala muntaber ditandai dengan muntah, diare dan bahkan demam


yang disertai dengan dehidrasi. Awal gejala muntaber ditandai dengan
rasa sakit dan kram pada perut.
Terjadi perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, melembek
sampai mencair, yang kadang juga mengandung darah atau lendir.
Lazimnya, penyakit muntaber memang menyerang anak-anak, terutama
pada usia dua hingga delapan tahun. Mereka mudah tertular karena daya
tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.
Setelah terkontaminasi makanan yang mengandung bakteri, perut
penderita terasa perih, nyeri, mual-mual hingga muntah, dan tak lama
kemudian menderita muntaber. Nyeri di perut biasanya timbul pada
perut bagian bawah, diikuti kekejangan otot yang serupa.
Suhu badan penderita biasanya menaik tajam dan kurang nafsu
makan. Setelah beberapa hari mengalami muntah-muntah dan diare,

21
penderita akhirnya mengalami kekurangan cairan tubuh atau lazim
disebut dehidrasi.

e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan

1. Tidak membeli makanan disembarang tempat yang tidak terjamin


kebersihannya.
2. Cuci tangan sebelum makan
3. Buang air sesuai tempatnya (toilet)

9. PENYAKIT KELAMIN MENULAR

I. HIV/AID
a. Etiologi Penyakit

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut
Human Immun odeficiency Virus ( HIV) . Virus ini pertamakali diisolasi
oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada ta hun 1983 dengan nama
Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika
Serikat pada tahun 1984 mengisola si (HIV) I II . Kemudian atas
kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam
bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang
atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel
Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-
4. Di dala m sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus
yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif .
Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap
infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup
penderita tersebut.

b. Masa Tunas / Inkubasi

Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar


virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang di

22
butuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan
semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit.

Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini
terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan
laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal
dengan masa wndow periode. Selama masa in kubasi penderita HIV sudah
berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai
cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif
lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat
besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

c. Cara Penularan / Transmisi

Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga
kini cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui :
1. Transmisi Seksual
Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun
Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi.
Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik.
Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan
seksnya.
2. Transmisi Non Seksual
a Transmisi Parenral
Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang
telah terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik suntik yang
menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping
dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh petugas kesehatan
tanpa di sterilkan terlebih dahulu . Resiko tertular cara transmisi parental ini k
rang dari 1%.
b. Darah/Produk Darah
Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara- negara barat
sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara
barat sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa sebelum ditransfusikan.
Resiko tertular infeksi/ HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari 90%.

3. Transmisi Transplasental

23
Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai
resiko sebesar 50% . Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan
dan sewaktu menyusui . Penularan melalui ai r susu ibu termasuk penularan
dengan resiko rendah.
d. Gejala Penyakit

Terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu :

1. Gejala awal stadium infeksi yaitu :

Demam

Kelemahan

Nyeri sendi menyerupai influenza/

Nyeri tenggorok

Pembesaran kelenjaran getah bening

2. Stadium tanpa gejala

Stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan


sumber penularan infeksi HIV.

3. Gejala stadium ARC

Demam lebih dari 38C secara berkala atau terus

Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan

Pembesaran kelenjar getah bening

Diare yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa
sebab yang jelas

Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik

24
4. Gejala AIDS

Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut


Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya
kanker kelenjar getah bening.

Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia,


pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti
teksoplasmosis dsb.

5. Gejala gangguan susunan saraf

Kesadaran menurun

Perubahan Kepribadian

Gejalagejala peradangan otak atau selaput otak

e. Upaya Pencegahan & Pemberantasan

Upaya pencegahan yang dapat di lakukan adalah :

1. Pencegahan penularan melalui jalur non seksual :

a. Transfusi darah cara ini dapat dicegah dengan mengadakan pemeriksaan


donor darah sehingga darah yang bebas HIV saja yang ditransfusikan.

b. Penularan AIDS melalui jarum suntik oleh dokter paramedis dapat


dicegah dengan upaya sterilisasi yang baku atau menggunakan jarum suntik
sekali pakai.

25
2. Pencegahan penularan melalui jalur seksual

Pencegahan ini dapat dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan yang


intensif yang ditujukan pada perubahan cara hidup dan perilaku seksual,
serta bahayanya AIDS pada usia remaja sampai usia tua.

II. GONOROE
a. Etiologi Penyakit

Penyakit Gonoroe disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae. Bakteri ini bisa


menyebar melalui aliran darah ke seluruh bagian tubuh. Terutama kulit dan
persendian. Pada kaum wanita, bakteri ini dapat naik ke saluran kelamin dan
menginfeksi dalam panggul hingga timbul nyeri panggul dan gangguan
reproduksi.
Penyebab utama penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang
bersifat patogen. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan
mukosa epitel atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum
pubertas.

b. Masa Tunas / Inkubasi

Masa inkubasi gonorrhea sangat singkat, pada pria umumnya berkisar


antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa inkubasi sulit untuk
ditentukan karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala.

c. Cara Penularan / Transmisi

Meski gonore merupakan PMS, ada beberapa bukti yang menunjukkan


bahwa hal itu dapat terjadi karena kutu pubis, yang bisa terdapat pada
tempat-tempat kotor
Gonore biasanya ditularkan melalui hubungan seks vagina dan anus
Kontak oral sering tidak menularkan gonore
Bakteri gonore menyukai daerah hangat dan lembab seperti mulut, rektum,
vagina dan uretra

26
Gonore dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya selama proses kelahiran

d. Gejala Penyakit

Pada pria, awalnya terdapat rasa gatal dan panas di sekitar uretra, saluran
yang menghantarkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh. Selanjutnya,
terdapat rasa nyeri saat buang air kecil dan keluar sekret kental berwarna
keruh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah. Bila infeksi
sudah semakin lanjut, nyeri akan semakin bertambah dan sekret semakin
kental dan keruh. Selain itu terdapat nyeri pada waktu ereksi dan
terkadang terdapat pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan.

Pada wanita, gejala, kalaupun ada, dapat sangat ringan sehingga penderita
tidak menyadarinya. Sebanyak 30%-60% wanita penderita gonore tidak
memberikan gejala.Gejala yang timbul dapat berupa nyeri saat buang air
kecil, buang air kecil menjadi lebih sering, dan kadang-kadang
menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah. Selain itu, terdapat sekret
kental dan keruh yang keluar dari vagina.

e. Cara Pencegahan & Pemberantasan

Untuk mencegah penularan gonore, gunakan kondom dalam melakukan


hubungan seksual. Jika menderita gonore, hindari hubungan seksual sampai
pengobatan antibiotik selesai. Walaupun sudah pernah terkena gonore, seseorang
dapat terkena kembali, karena tidak akan terbentuk imunitas untuk gonore.
Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa untuk mencegah infeksi
lebih jauh dan mencegah penularan. Selain itu, juga menyarankan para wanita
tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena
infeksi dapat segera diobati dengan benar.

27
DAFTAR PUSTAKA

Anas kurniawan. 2012. Penyakit PES. http:// lenkabelajar. blogspot.com /2012/09/


penyakit-pes.html. Diakses 3 April 2013.

Anonymous. 2012. Gejala Dan Pencegahan Penyakit Lepra. http://


childrengrowup. wordpress.com /2012/04/05/ gejala-dan -pencegahan
-penyakit-lepra/. Diakses 3 April 2013.

Anonymous. 2012. Pencegahan Gonore. http://fenisaherbal.blogspot.com /


2012/02/ pencegahan-gonore.html. Diakses 4 April 2013

Anonymous. 2011. Penyakit Muntaber. http://obatpropolis.com /2011/10/19.


penyakit-muntaber -atau -vibrio-parahaemolyticus enteritis. Diakses3 April
2013.

Anonymous. 2010. Cara Penularan Kencing Nanah.


http://health.detik.com/read/2010/06/29/093227/1388968/763/cara-
penularan-kencing-nanah. Diakses 4 April 2013.

Anonymous. 2009. Filariasis.http:/ /recyclearea. wordpress.com /2009/09/03


/filariasis/. Diakses 3 April 2013.

Anonymous. 2009. Filariasis http://epidemiologi-natural.blogspot.com/2009/07/


filariasis.html. Diakses 3 April 2013

Bekti, Maya. 2011. Makalah Gonorhoe. http:/ /maiabekti. blogspot.com/ 2011/11/


makalah- gonorhoe. html. Diakses 3 April 2013.

28
Binongko, Adin. 2012. Epidemologi Disentri Sebagai Penyakit Menular.
http://adhienbinongko.wordpress.com/2012/12/01/disentri-epidemiologi-
penyakit-menular/. Diakses 3 April 2013.

Diana, Uci. 2011. Epidemologi penyakit Variola. http:// epidemiologiunsri.


blogspot.com /2011/11/ smallpox-cacar.html. Diakses 3 April 2013.

Dinkes Tsikmalaya. 2008. Informasi Penyakit Lepra.


http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-penyakit/2008-
kusta-lepra.html. Diakses 3 April 2013.

Hanifatunnisa. 2012. Penyakit HIV/AID. http:// hanifatunnisaa. wordpress.com /


2012/08/24/ definisi-sejarah-gejala-cara-penularan-dan-pencegahan-
penyakit-hiv-aids/. Diakses 4 April 2013.

Intan. 2011. Mkalah penyakit TBC. http://intanpuja.blogspot .com/2011/10


/makalah-penyakit-tbc.html. Diakses 3 April 2013.

Nurhidayah. Evi. 2012. Makalah Filariasis. http:// evynurhidayah.


wordpress.com /2012/01/17/ makalah-filariasis/. Diakses 3 April 2013.

Siregar, Fazidah A. 2010. Pengenalan Dan Pencegahan Aids. Fakultas Kesehatan


Masyarakat : Universitas Sumatera Utara

29
30