Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)


DEFISIT PERAWATAN DIRI : GOSOK GIGI

Pelaksanaan
Hari : Kamis, 29 Juni 2017
Jam : 10.00- 11.30
Tempat : Ruang Transit Wanita RSJD Sambang Lihum
Sasaran/kriteria klien :
- Klien dengan defisit perawatan diri, halusinasi dan isolasi sosial
- Klien yang tenang, kooperatif
- Klien yang mempunyai emosi yang terkontrol
- Klien yang mudah mendengarkan dan mempraktekkannya.
- Klien yang tidak mengalami gangguan kesehatan fisik.

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien mampu mandiri dalam menggosok gigi
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengetahui manfaat dan waktu menggosok gigi
b. Klien dapat mengetahui langkah-langkah menggosok gigi
c. Klien dapat menggosok gigi dengan bantuan perawat.
d. Klien dapat menggosok gigi dengan mandiri.
B. TINJAUAN TEORI TAK
1. Latar Belakang
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan kelompok
pasien bersama-sama dengan jalan berdislusi satu sama lain yang dipimpin
atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah
telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di
Indonesia dalam Yoseph, 2007).
Sedangkan jumlah minimum 4 dan maksimum adalah 10 orang. Kriteria
anggota yang memenuhi syarat untuk mengikuti TAK adalah : sudah punya
diagnosa yang jelas, tidak terlalu gelisah, tidak agresif, waham tidak terlalu
berat (Yoseph, 2007).
Terapi aktivitas kelompok (TAK) dibagi menjadi empat, yaitu terapi aktivitas
kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi
sensori, terapi aktivitas orientasi realita danterapi aktivitas kelompok
sosialisasi (Keliat, 2006). Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi
persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus terkait
dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok
(Keliat, 2006).

2. Landasan Teori
a. Defisit Perawatan Diri
1) Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan
dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan
terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri.
(Depkes 2000)
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting). (Nurjannah,
2004)
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik
dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak
mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya. (Tarwoto dan
Wartonah 2000)

2) Rentang Respon

Adaptif Maladaptif

Pola perawatan Kadang perawatan diri Tidak melakukan perawatan


diri seimbang kadang tidak diri pada saat stress

1. Pola perawatan diri seimbang : saat klien mendapatkan stresor dan


mampu untuk berprilaku adaptif, maka pola perawatan yang
dilakukan klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
2. Kadang perawatan diri kadang tidak: saat klien mendapatkan stresor
kadang kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya,
3. Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan dia tidak peduli
dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresor. ( Stuart , 2002)

3) Faktor Predisposisi
(a) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
(b) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
(c) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
(d) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan di lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan
diri.

4) Faktor presipitasi
Antara lain:
(a) Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
terhadap kebersihannya.
(b) Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
(c) Status sosio ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi,sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang
untukmenyediakannya.
(d) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderitadiabetes mellitus dia harus menjaga kebersihan kakinya.Yang
merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalahkurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perseptual,hambatan
lingkungan, cemas, lelah atau lemah yang dialami individusehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatandiri (Nanda,
2006).

5) Manifestasi Klinis/Tanda dan Gejala


(a) Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit
berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor
(b) Ketidakmampuan berhias atau berdandan, ditandai dengan rambut acak-
acakan,pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasienlaki-
laki tidak bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.
(c) Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai dengan
ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan
makan tidak padatempatnya.
(d) Ketidakmampuan bab atau bak secara mandiri, ditandai dengan babatau
bak tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baiksetelah
bab atau bak.

Adapun jenis dan karakteristik kurang perawatan diri tanda dan gejala
meliputi :
(a) Kurang perawatan diri mandi atau hygiene
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas mandi ataukebersihan
diri secara mandiri, dengan batasan karakteristikketidakmampuan klien
dalam memperoleh atau mendapatkan sumber air,mengatur suhu atau
aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi,mengeringkan tubuh,
serta masuk dan keluar kamar mandi.
(b) Kurang perawatan diri berpakaian atau berhias
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas berpakaian dan berhias
untuk diri sendiri, dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien
dalammengenakan pakaian dalam, memilih pakaian, menggunakan alat
tambahan,menggunakan kancing tarik, melepaskan pakaian, menggunakan
kaos kaki,mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan,
mengambil pakaiandan mengenakan sepatu
(c) Kurang perawatan diri makan
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas makan, denganbatasan
karakteristik ketidakmampuan klien dalam mempersiapkanmakanan,
menangani perkakas, mengunyah makanan, menggunakan alattambahan,
mendapatkan makanan, membuka container, memanipulasimakanan
dalam mulut, mengambil makanan dari wadah lalumemasukkannya ke
mulut, melengkapi makan, mencerna makananmenurut cara yang diterima
masyarakat, mengambil cangkir atau gelas,serta mencerna cukup makanan
dengan aman.
(d) Kurang perawatan diri toileting
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas toileting,
denganbatasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam pergi ke toilet
ataumenggunakan pispot, duduk atau bangkit dari jamban,
memanipulasipakaian untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB
atau BAK dengantepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.

b. Halusinasi
adalah kesalahan persepsi yang berasal dari lima panca indra yaitu
pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap, penghidu (Stuart & Laria, 2005).
Halusinasi adalah ketidakmampuan klien menilai dan merespon pada realitas
klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksteral, tidak dapat
membedakan lamunan dan kenyataan, klien tidak mampu memberi respon
secara akurat sehingga tampak berlaku yang sukar dimengerti dan mungkin
menakutkan (Keliat, 2006).
Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsangan
yang menimbulkannya atau tidak ada obyek (Sunardi, 2005). Pada klien
dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik
tertentu, diantaranya :
1) Halusinasi pendengaran
Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara-suara
orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu.
2) Halusinasi penglihatan
Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk
pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan/atau
panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan
atau menakutkan.
3) Halusinasi penciuman
Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang
menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadangkadang terhirup
bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan
dementia.
4) Halusinasi peraba
Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa
stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari
tanah, benda mati atau orang lain.
5) Halusinasi pengecap
Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis
dan menjijikkan.
6) Halusinasi sinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah
mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan
urine.

c. Isolasi sosial
Perilaku isolasi sosial/menarik diri merupakan suatu gangguan hubungan
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel
yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000).
Isolasi sosial adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari
interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan
hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi
perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk
berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifeetasikan
dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup
membagi pengamatan dengan orang lain (Balitbang, 2007). Isolasi sosial
adalah percobaan menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain. (Keliat, budi anna 1998 dalam Yosep 2011).

d. Menggosok Gigi
1) Definisi
Menggosok gigi adalah membersihkan gigi dengan sikat gigi dan
pasta gigi. Untuk mendapatakan gigi yang sehat.
2) Manfaat menggosok gigi
(a) Mulut bersih dan gigi bersih
(b) Menurunkan mikroorganisme dalam mulut, dangigi
(c) Menurunkan penyakit gigi dan gusi
(d) Menurunkan pembentukan sisa makanan pada gigi
(e) Memperbaiki nafsu makan dan rasa pada makanan
(f) Memudahkan kenyamanan
(g) Merangsang sirkulasi pada jaringan lidah dan gusi
(h) Memperbaiki penampilan

3) Hal yang perlu diperhatikan dalam menggosok gigi


(a) Waktu menggosok gigi, menggosok gigi minimal dua kali
dalam sehari, yaitu pagi hari setelah sarapan dan malam hari
sebelum tidur. Hal ini disebabkan karena dalam waktu 4 jam,
bakteri mulai bercampur dengan makanan dan membentuk
plak gigi. Menyikat gigi setelah makan bertujuan untuk
menghambat proses tersebut.
(b) Menggosok gigi dengan lembut, menyikat gigi yang terlalu
keras dapat menyebabkan kerusakan gigi dan gusi.
(c) Durasi dalam menggosok gigi, menggosok gigi yang terlalu
cepat tidak akan efektif membersihkan plak. Mengosok gigi
yang tepat dibutuhkan durasi minimal 2 menit
(d) Rutin mengganti sikat gigi.

4) Cara Menggosok gigi


Menurut Depkes RI (1996), cara menggosok gigi adalah:
Pada permukaan Labial sikat gigi digerakkan dengan gerakan
maju mundur yang pendek. Artinya sikat gigi digerakk-
gerakkan ditempat. Gosok terlebih dahulu gigi-gigi yang
terletak dibelakang
Sesudah itu, barulah sikat gigi dipindahkan ke tempat
berikutnya, kemudian gosoklah gigi depan
Pada permukaan dekat lidah, gosok dahulu gigi-gigi yang
terletak di belakang, kemudian dilanjutkan bagian depan.
Pada permukaan dataran pengunyahan dari gigi
Rahang atas maupun rahang bawah digosok dengan gerakan
maju mundur. Cara ini merupakan cara yang dianjurkan,
karena menyikat giginya dilakukan berulang-ulang pada satu
tempat dahulu baru pindah ketempat lain.

C. PENGORGANISASIAN KELOMPOK
Leader :
Fasilitator :
Observer :
Uraian Tugas Pelaksanaan
1. Leader
a. Memimpin kegiatan : menjelaskan tujuan dan hasil yang diharapkan
b. Menjelaskan peraturan dan membuat kontrak dengan peserta
c. Menciptakan suasana dimana anggotanya dapat menerima perbedaan
dalam perasaan dan perilaku dengan anggota lain
d. Menetapkan tata tertib bagi anggota kelompok demi kelancaran acara
e. Memberikan reinforcemen positif terhadap peserta
2. Fasilitator
a. Ikut serta dalam kegiatan kelompok
b. Memotivasi klien kurang aktif ataupun yang tidak aktif dalam TAK
c. Menjadi contoh bagi klien selama proses kegiatan TAK
d. Membantu melakukan evaluasi hasil

3. Observer
a. Mengamati jalannya proses kegiatan sebagai acuan untuk evaluasi
b. Mencatat perkembangan dan perubahan perilaku verbal dan nonverbal
klien selama kegiatan TAK berlangsung

D. METODE
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab
3. Bermain peran / simulasi

E. SETTING TEMPAT
1. Klien dan terapi duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.
Gambar Setting Tempat

K K

F K K O

K
K

K K
Keterangan:

: Leader

: Observasi

: Fasilitator

: Klien

F. MEDIA DAN ALAT


1. Kursi
2. Alat peraga gigi
3. Gelas
4. Sikat gigi
5. Pasta gigi
6. Air untuk menggosok gigi
7. Spidol
8. Name tag

G. PESERTA TAK
Peserta yang mengikuti TAK ada 8 orang dengan diagnosa Defisit perawatan
diri/ halusinasi/ isolasi sosial
H. LANGKAH KEGIATAN
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu gangguan Defisit perawatan
diri, halusinasi, dan isolasi sosial
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik :
1) Salam dari terapis
2) Perkenalan nama dan panggilan terapis
3) Perkenalan nama dan panggilan klien
b. Evaluasi / validasi :
1) Menanyakan perasaan klien saat ini.
2) Menanyakan masalah yang dialami
c. Kontrak
Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu klien mampu:
Klien dapat mengetahui manfaat dan waktu menggosok gigi
Klien dapat mengetahui langkah-langkah menggosok gigi
Klien dapat menggosok gigi dengan bantuan perawat.
Klien dapat menggosok gigi dengan mandiri.
d. Waktu : lama kegiatan maksimal 30 menit
e. Tempat : Di ruang Intensif Wanita
f. Menjelaskan tata tertib aturan main berikut :
1) Peserta diharapkan mengikuti seluruh acara dari awal hingga akhir
2) Peserta diharapkan mampu menjawab sesuai pada tujuan khusus
3) Peserta tidak boleh berbicara bila belum diberi kesempatan; peserta
tidak diperkenankan memotong pembicaraan orang lain.
4) Tidak boleh ada peserta lain yang ikut ketika acara TAK sudah berjalan
5) Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus meminta izin
kepada terapis.
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu leader menjelaskan satu persatu ke pasien tentang
gosok gigi, setelah dijelaskan. leader akan mengevaluasi pada pasien
tentang yang sudah dijelaskan oleh leader, sesuai tujuan khusus dari TAK
dengan yang di katakan oleh leader. Yang di evaluasi leader adalah:
b. Manfaat dan waktu menggosok gigi
c. Langkah-langkah menggosok gigi
d. Cara menggosok gigi yang benar
e. Ulangi sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.
f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Mengevaluasi kembali kegiatan yang sudah diajarkan
3) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
Terapis meminta kepada pasien untuk mengingat dan mengaplikasikan cara
menggosok gigi yang benar saat melakukan sikat gigi.
c. Kontrak Yang Akan Datang
-

I. EVALUASI DAN DOKUMENTASI


1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja untuk menilai kemampuan klien melakukan TAK. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK ,
dievaluasi kemampuan klien untuk gosok gigi yang meliputi:
a. Manfaat dan waktu menggosok gigi
b. Langkah-langkah menggosok gigi
c. Cara menggosok gigi yang benar
2. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Misalnya, Klien mengikuti TAK, Klien mampu
untuk menyebutkan identitasnya.

J. TARGET PENCAPAIAN HASIL


1. Diharapkan minimal 6 dari 8 peserta TAK mampu menyebutkan tentang
manfaat gosok gigi.
2. Diharapkan minimal 6 dari 8 peserta TAK mampu Memperagakan gosok gigi
yang benar
K. TARGET PENCAPAIAN HASIL EVALUASI NON VERBAL
1. Diharapkan minimal 80% peserta TAK mampu mempertahankan kontak
mata.
2. Diharapkan minimal 80% peserta TAK mampu Mendengarkan dengan
seksama materi yang disampaikan oleh Leader.
3. Dihaharapkan minimal 80% peserta TAK mampu Menggunakan bahasa tubuh
yang sesuai
4. Diharapkan minimal 80% peserta TAK dapat mengikuti kegiatan dari awal
sampai akhir.
Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

(...) (..)