Anda di halaman 1dari 6

Rohman :

Aku bebas beranjak sesuka hat

Menghela nafas segar yang kukira kan abadi

Dengan hijau nan biru yang berpagut asri

Seolah ingin mencumbu tampakkan peduli

Namun kini

Aku tak lagi sanggup menahan pedih

Menatap sekeliling dengan indah yang bersembunyi

Kurasa angin kian menghela nafasnya

Melepas beban yang kian memberatkannya

Rantng pohon menari kian menggila

Menebang diri tertunduk pasrah

Bumiku mengalun nada sengsara

Memuntahkan potongan syurga dalam kandungannya

Manusia berhambur tak menentu arah

Diiringi tangis langit yang menyesali perbuatannya

Aku tak sama sepert mereka

Manusia berperut buncit dengan kumis tebalnya

Diiringi seiringi seringai tawa menyombongkan tahta

Aku manusia yang memelukmu penuh cinta

Berharapkan tetap baik-baik saja

Namun mengapa kau menggolongkanku bersama mereka

Mereka yang tada berhat mulia

Termasuk dia

Tidak
Jangan

Bumi ini pemberi kita kehidupan

Merelakan kandungannya bak sebuah hidangan

Kandungan yang merenta mengharap perlukan kasih sayang

Pantaskah kita berdusta

Sedang dia telah berjasa

Sudah cukup kau berpura-pura

Acuh pada mereka


Syafitri

Dulu hijauku berpadu asri dengan biru

Melembutkan jingga di ujung senja

Terselimut kasih sayang disetap sudutnya

Mencumbu cinta dalam pelukan mesra

Hariku berubah menjadi minggu

Minggu berubah menjadi bulan

Hingga kini tahun demi tahun bergant

Entah sudah berapa abat aku menanam peduli

Jaman bergulir silih bergant

Kini pandangku menjadi abu

Melihat tubuh tak seindah dulu

Hijau yang tak lagi menampakkan diri

Bersembunyi diantara kejamnya hat

Aku tak mengert harus berbuat apa lagi

Kucoba memuntahkan semuanya

Menjerit mengharapkan iba

Langit jinggaku ku paksa meneteskan air mata

Menjerumuskan diri pada kejamnya mereka

Kau

Kau kalian semua sama saja

Mencumbuku secara paksa

Memangsa hijauku tanpa rasa iba

Egomu tak lagi waras

Terus menerus menuntut tahta


Aku lelah ditpu daya

Kalian terus menanam harapan palsu pada diriku

Dan kemudian memperlakukan ku layaknya aku pemuas nafsumu

Membantaiku penuh rasa bangga

Seolah kalian adalah sang penguasa

Penguasa yang tada berhat mulia

Aku lelah
Faisal

Hai rakyat jelata

Akulah raja daripada raja

Akulah manusia yang termulia

Tidakkah kau berfikir untuk apa dunia diciptakan

Dunia ini diciptakan untuk kita

Lalu pantaskan aku disalahkan sepenuhnya

Sedangkan kodrat tampak jelas dan nyata

Aku tak mengingkari satu hal

Saat api tahta menyulut penuh gairah

Mencoba merayu waras yang kian dimunafikkannya

Memaksa tuk tundukkan semua menjaring rupiah

Menghendaki derajat dimata mereka

Alat-alat berat berada di atas perintahku

Mencabuli kehidupan yang terdengar menagis syahdu

Jika kalian mengganggapku salah

Maka aku mengganggap ini adalah kesalahan terindah

Hei rakyat jelata

Hidup adalah sandiwara yang sesungguhnya

Tidakkah kalian lelah berpura-pura peduli pada dunia

Dunia yang harus kau renggut kayanya

Mari melangkah bersama memainkan peran dengan topeng baja

Menanam harapan tuk mengais rupiah

Menjunjung tahta dimata mereka

Eksploitasi jaya