Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN BEDAH REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JUNI 2017


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LUKA DAN PENANGANANNYA

Oleh:
Muamar Ghiffary

111 2015 2210

Pembimbing Supervisor :
dr. Irwan Wijaya, Sp.B, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika
kulit terpapar suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi.
Respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks
dan dinamis menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus
disebut dengan penyembuhan luka. Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi
sel sampai fungsi organ tubuh kembali pulih, ditunjukkan dengan tanda-tanda dan
respon yang berurutan dimana sel secara bersama-sama berinteraksi, melakukan
tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal
secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan.

Metode perawatan luka berkembang cepat dalam 20 tahun terakhir, jika


tenaga kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi canggih yang sesuai dengan
perkembangan, akan memberikan dasar pemahaman yang lebih besar terhadap
pentingnya perawatan luka. Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat
luka stabil dengan perkembangan granulasi jaringan yang baik dan suplai darah
yang adekuat, hanya cara tersebut yang membuat penyembuhan luka bisa
sempurna.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau terjadinya
gangguan kontinuitas suatu jaringan, sehingga terjadi pemisahan jaringan yang
semula normal. Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan
tulang atau organ tubuh yang lain. Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul
seperti hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stress simpatis,
perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan kematian sel.

2.2 JENIS-JENIS LUKA

Menurut bentuknya luka dibagi atas :

a. Luka tertutup (closed wound)


Luka tertutup yaitu dimana tidak terjadi
hubungan antara luka dengan dunia luar.
Contoh dari luka tertutup yaitu luka memar Gamabar 01 : luka memar
yang dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu :
contusio, dimana kerusakan jaringan dibawah kulit dari luar hanya tampak
sebagian benjolan
Hematoma, dimana kerusakan jaringan di bawah kulit disertai perdarahan
sehingga dari luar tampak kebiruan.
b. Luka terbuka (open wound)
Luka terbuka yaitu luka yang berhubungan langsung dengan dunia luar.
Contoh dari luka terbuka yaitu luka lecet (vulnus excoriatum), luka sayat
(vulnus scissum), luka tusuk (vulnus ictum), luka robek (vulnus laceratum),
luka tembak (vulnus sclopectorum), luka gigitan (vulnus morsum).
Menurut penyebabnya, luka di bagi atas :
a. Luka tajam
Memiliki sifat luka yang licin, tidak ada jembatan jaringan dan tidak
mempunyai jaringan yang mati diantaranya. Contohnya :
Luka lecet (vulnus excoriatum)
Merupakan luka yang paling ringan dan
paling mudah sembuh. Luka ini terjadi
karena adanya gesekan tubuh dengan
benda-benda rata, misalnya aspal, semen
atau tanah.
Gambar 02: luka lecet
Luka sayat (vulnus scissum)
Luka dengan tepi luka yang tajam dan licin.
Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit,
maka luka tidak terlalu terbuka. Bula luka
memotong pembuluh darah, maka darah
akan sukar berhenti karena sukar terbentuk
cincin trombosis (trombose ring). Gambar 03: luka sayat
Luka tusuk (vulnus ictum)
Luka ini disebabkan oleh benda runcing
memanjang. Dari luar luka tampak kecil,
tetapi didalam mungkin rusak berat.
Derajat bahaya tergantung atas
benda yang menusuknya (besarnya/kotornya)
dan daerah yang tertusuk. Gambar 04 : luka tusuk

b. Luka tumpul
Sifat tepi luka tidak rata banyak jembatan jaringan dan diantaranya terdapat
jaringan yang mati (nekrosis), contohnya :
Luka robek (vulnus laceratum)
Biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi
luka tidak rata, dan perdarahan sedikit karena
mudah terbentuk cincin trombosis akibat
pembuluh darah yang hancur dan memar.

Gambar 05: luka robek

Luka tembak (vulnus sclopectorum)


Luka ini terjadi karena tembakan. Tepi luka
dapat tidak teratur dan dapat pula dijumpai
benda asing (corpus alienum) dalam luka,
misalnya anak peluru.

Gambar 06: luka tembak

Luka gigitan (vulnus morsum)


Luka yang disebabkan oleh gigitan binatang
atau manusia. Kemungkinan infeksi lebih
besar. Bentuk luka tergantung bentuk gigi
penggigit.

Gambar 07 : luka gigitan


2.3 KLASIFIKASI LUKA

Luka dibagi atas 4 kategori berdasarkan atas penilaian klinik terhadap


kontaminasi bakteri dan resiko terjadinya infeksi :
a. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak
terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase
tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan
dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan
timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.
c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh,
luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik
aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk
insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10%-17%.
d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka

a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang


terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada
lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial
dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas
sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya
sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai
otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan
atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

2.4 PERBAIKAN LUKA

Beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah :


a. Umur pasien
Makin tua pasien makin menurun daya tahan tubuhnya dan semakin mudah
terjadi infeksi dengan proses penyembuhan yang lama. Hal ini dapat
dihubungkan dengan kemungkinan adanya degenerasi, tidak adekuatnya
masukan makanan, dan menurunnya sirkulasi
b. Berat badan pasien
Kelebihan lemak pada daerah luka dapat menghambat penyembuhan luka.
Hal ini disebabkan karena lemak kurang mendapat suplai darah, sehingga
jaringan mudah mengalami trauma dan infeksi.
c. Status nutrisi
Protein memperbaiki proliferasi, neoangiogenesis, sintesis kolagen &
remodeling
Karbohidrat supali energi seluler
Vit. A sintesis kolagen & epitelisasi
Vit. C sintesis kolagen & meningkatkan resistensi terhadap infeksi
Vit. K sintesis protombin & faktor pembekuan darah
Zat besi sintesis kolagen, sintesis Hb, mencegah iskemik
Vit. B-comp Produksi energi, imunitas seluler, sintesis sel darah
merah
Zinc Sintesis protein
d. Dehidrasi
Dehidrasi dapat menyebakan gangguan keseimbangan elektrolit yang dapat
mempengaruhi fungsi jantung, ginjal oksigenasi metabolisme seluler oleh
darah dan fungsi hormon.
e. Suplai darah tidak adekuat ke daerah luka
Luka akan sembuh dengan cepat pada daerah wajah, dan leher bila
dibandingkan dengan daerah ekstremitas.
f. Keadaan respon imun pasien
Pasien yang terinfeksi HIV, kemoterapi, pemakaian lama steroid dosis tinggi
dapat melemahkan respon imun.
g. Adanya penyakit kronik dan keganasan
Pasien dengan penyakit menahun, gangguan endokrin seperti diabetes, dapat
menghambat penembuhan luka.
h. Obat-obatan
Contoh Immunosupressif kortikosteroid, antikanker hormon, radiasi.

2.5 FASE PENYEMBUHAN LUKA


A. Fase Inflamasi
Fase inflamasi dimulai dari saat terjadinya luka hingga hari ke lima. Saat
terjadi luka maka tubuh akan berusaha untuk menghentikan perdarahan dengan
cara memvasokonstriksikan pembuluh darah, pengerutan ujung pembuluh darah
(retraksi), dan reaksi hemostasis. Dalam fase inflamasi ini trombosit yang keluar
pembuluh darah akan saling menempel dan bersama-sama dengan benang-benang
fibrin trombosit akan membekukan darah sehingga perdarahan dapat dikontrol
Disisi lain tubuh memiliki sel mast yang berfungsi untuk meningkatkan
permeabilitas kapiler sehingga sel-sel darah putih sebagai pemakan bakteri atau
sel-sel yang mati dapat masuk dengan mudah. Sel mast mengeluarkan serotonin
yang menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat dan vasodilatasi di sekitar
tempat inflamasi, hal inilah yang menyebakan cairan di pembuluh darah masuk di
sekitar tempat inflamasi sehingga menyebabkan oedema (pembengkakan).
Tanda dan gejala pada fase inflamasi:
Kalor : Terasa hangat
Rubor : Berwarna kemerahan
Dolor : Nyeri
Tumor : Pembengkakan
Fungsiolesa : Penurunan fungsi
Terjadinya luka menyebabkan terjadinya perpindahan sel-sel darah putih
(Leukosit) ke tempat peradangan. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang
membantu mencerna bakteri beserta sel-sel yang rusak. Setelah itu barulah
muncul limfosit dan monosit yang memiliki kemampuan mencerna bakteri lebih
baik untuk membantu pertempuran melawan bakteri.
Fase ini disebut juga dengan fase lamban karena luka masih belum stabil,
pembentukan kolagen masih minimal dan luka hanya ditautkan dengan benang-
benang fibrin yang amat lemah.

B. Fase Proliferasi
Fase proliferasi terjadi antara 3 sampai 24 hari setelah luka terjadi. Tujuan
utama dari fase ini adalah menumbuhkan jaringan baru dari dasar luka dengan
jaringan penyambung atau biasa juga disebut sebagai granulasi dan menutup bagian
atas luka dengan jaringan epitel (epitelisasi). Fibroblas adalah sel-sel yang
mensintetis kolagen yang akan menutup luka. Fibroblas membutuhkan vitamin B,
vitamin C, oksigen dan asam amino agar dapat berfungsi dengan baik.
Luka akan tertutup oleh jaringan-jaringan baru pada periode ini, elastisitas
jaringan yang menutup luka mulai meningkat dan risiko ruptur (robek/terpisah)
luka akan menurun.

C. Fase Maturasi/Remodeling
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan
kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dan akhirnya membentuk
jaringan baru yang merupai jaringan normal lainnya. Fase ini dapat berlangsung
berbulan-bulan hingga 1 tahun dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang
sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi
abnormal karena proses penyembuhan. Oedema dan sel radang diserap, sel muda
menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang
berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.
Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat karena jaringan parut
mengandung lebih sedikit sel-sel pigmentasi. Terlihat pengerutan maksimal pada
luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira-kira
80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah
penyembuhan . perupaan luka tulang (patah tulang) memerlukan waktu satu tahun
atau lebih untuk membentuk jaringan yang normal secara histologi atau secara
bentuk.

2.6 KLASIFIKASI PENYEMBUHAN LUKA


A. Penyembuhan Luka Primer
Jenis penyembuhan luka primer terjadi bila luka segera diusahakan
bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Parut yang terjadi biasanya lebih halus
dan kecil.

B. Penyembuhan Luka Sekunder


Penyembuhan luka sekunder merupakan penyembuhan luka kulit yang
terjadi tanpa pertolongan dari luar. Penyembuhan ini berjalan alami atau mandiri
dilakukan oleh tubuh. Luka akan terisi jaringan granulasi yang tumbuh dari dasar
luka dan akhirnya akan ditutup oleh jaringan epitel. Penyembuhan seperti ini
biasanya memerlukan waktu uang cukup lama dan akan meninggalkan jaringan
parut yang kurang baik, terutama bila luka terbuka/mengaga lebar.

C. Penyembuhan Luka Tersier (Primer Tertunda)


Namun, jahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka
terkontaminasi berat dan/ atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping
seperti luka tembak, sering meniggalkan jaringan yang tidak dapat hidup yang
pada pemeriksaan pertama sukar dikenal. Keadaan ini diperkirakan akan
2.7 PERAWATAN LUKA

Perawatan Luka bersih 3 hari sekali ganti verban sedangkan Luka kotor
tiap hari 2 kali ganti verban (luka berbau dan ada sekret).
a. Perawatan luka secara umum:
1. Pada setiap perlukaan perhatikan keadaan umum terlebih dulu. Apabila
keadaan umum buruk usahakan terlebih dulu perbaikan keadaan
umum.Apabila perdarahan tampak terus berlanjut dan merupakan
penyebab dari keadaan umum yang buruk maka perdarahan dan keadaan
umum buruk diatasi secara bersama-sama.
2. Saat terjadinya perlukaan :
Luka kurang dari 6 jam :
luka ini dianggap luka bersih (clean wound) . Luka seperti ini
diharapkan akan sembuh per-primam (dengan tindakan yang adekuat)
dan dapat dilakukan tindakan primer / penjahitan primer.
Luka terkontaminasi:
Luka ini diragukan untuk dapat sembuh secara primer karena itu
diberikan tindakan ekspektatip (kompres zat antiseptika dan diberikan
antibiotika). Apabila pada hari ke-3-7 tidak timbul radang bila perlu
dapat dilakukan tindakan penjahitan ; penjahitan disini disebut jahitan
primer tertunda (delayed primary suture). Bila antara hari ke-3-7
timbul pus maka luka dianggap luka terinfeksi.
Luka terinfeksi :
setiap luka diatas 12 jam dianggap luka terinfeksi. Pada luka ini diberi
kompres dan antibiotika sambil menunggu hasil kultur dan resistensi
test untuk pemberianantibiotika yang sesuai.. Apabila kemudian
proses radang sudah tenang dan timbul jaringan granulasi sehat dapat
dilakukan jahitan sekunder. Perkecualian untuk penanganan ini:
Luka lebih lama dari 6 jam tanpa tanda-tanda radang dan sudah
diberi zat antiseptika sebelumnya dapat dilakukan tindakan
primer.
Luka terkontaminas didaerah wajah tetap dilakukan penjahitan
primer.
Luka kurang dari 6 jam didaerah perineum tetap dianggap luka
terkontaminasi.
Perlukaan lebih dari 6 jam tetap dapat dilakukan eksplorasi
3. Profilaksis tetanus :
Dapat diberikan dalam bentuk Toksoid, ATS atau imunoglobulin. ATS
diberikan 1500U,Toksoid 1cc atau imunoglobulin 250U (pada orang
dewasa).
4. Medikamentosa Sebaiknya diberikan antibiotika profilaksis.
5. Pembukaan jahitan :
Pada daerah wajah jahitan dibuka hari ke-4 untuk menghindari terjadinya
"railroad track" yang akan sangat sulit untuk dikoreksi. Apabila pada saat
kontrol tampak adanya pus, maka jahitan segera dibuka pada dimana
tampak pernanahan.
b. Perawatan luka khusus:
1. Perlukaan pembuluh darah :
Apabila terdapat perlukaan pada pembuluh darah sebagai tindakan sementara
dapat dilakukan tindakan penekanan daerah luka atau penekanan pada nadi
proksimal dari luka.Sebagai tindakan definitip adalah ligasi atau repair dari
perlukaan pembuluh darah.
2. Perlukaan syaraf perifer :
Pada luka bersih, maka repair syaraf dapat dilakukan secara primer, pada luka
terkontaminasi atau terinfeksi dilakukan secara sekunder.
3. Perlukaan tendo :
Bila luka dijahit primer maka tendo juga diusahakan untuk dijahit secara
primer. Perkecualian adalah pada daerah "no mans land" pada tangan dimana
dimana repair dilakukan secara sekunder.
4. Perlukaan daerah toraks dan abdomen :
Harus selalu ditentukan apakah luka tembus atau tidak.
5. Perlukaan daerah wajah dan kepala :
Apabila terdapat luka pada daerah kepala maka rambut harus dicukur terlebih
dahulu. Alis tidak diperbolehkan untuk dicukur. Apabila terdapat perdarahan
maka langsung dilakukan penjahitan tanpa hemostasis kecuali bila terkena
pembuluh darah sedang atau besar. Perlukaan pada daerah pipi harus
dipastikan bahwa tidak terdapat kerusakan pada n.VII ataupun ductus
Stenoni.
6. Perlukaan daerah leher :
Apabila luka dalam dan ada kemungkinan terkena organ penting (pembuluh
darah dsb) maka perlu eksplorasi.
PERTOLONGAN PERTAMA PADA LUKA
Pertama-tama, lakukan pemeriksaan secara teliti untuk memastikan apakah
ada perdarahan yang harus dihentikan. Kemudian, tentukan jenis trauma, tajam
atau tumpul. Luasnya kematian jaringan, banyaknya kontaminasi dan berat
ringannya luka.

Tindakan
Perawatan luka akan tergantung pada jenis luka, berat ringannya luka, ada
tidaknya perdarahan dan risiko yang dapat menimbulkan infeksi. Prinsip umum
pertolongan pertama pada luka sebagai berikut
Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau larutan antiseptik

Segera pantau luka kemungkinan adanya benda asing dalam luka

Bersihkan pinggiran luka dengan antiseptik atau sabun antiseptik. Bila


luka dalam, bersihkan dengan normal saline (cairan infus/NS, jika tidak
ada gunakan air matang beri sedikit garam) dari pusat luka ke arah luar,
setelah luka dibersihkan kemudian lakukan irigasi luka dengan normal
salin.

Keringkan luka dengan kasa steril yang lembut

Berikan antibiotk atau obat antiseptik yang sesuai

Tutup luka dengan kasa steril dan paten

Tinggikan posisi luka bia terjadi perdarahan dan imobilisasi

Kontrol perdarahan
Pantau keadaan luka (angkat atau gunting pakaian pada area injury) bila
diperlukan

Ambil benda asing secara perlahan bila terdapat benda asing dalam luka

Lakukan penekanan area perdarahan dengan kasa steril

Lakukan penutupan area luka dengan kasa steril


Lakukan pembalutan

Dressing/Pembalutan
Tujuan :
a. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
b. absorbsi drainase
c. menekan dan imobilisasi luka
d. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
e. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
f. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
g. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien

Alat Dan Bahan Balutan Untuk Luka


Bahan untuk Membersihkan Luka
a. Alkohol 70%
Banyak digunakan untuk disinfeksi
Sifat bakterisida kurang
Tidak digunakan untuk sterilisasi

b. Klorheksin aquous
Antiseptik yang ideal
Toksisitas rendah
efektif terhadap bakyeri gram (+) & gram (-)
tidak efektif terhadap BTA, spora bakteri, jamur & virus
Savlon, Hibiscrub
c. Povidone-iodine
anti-mikroba paten yang digunakan secara luas
efektif pada disinfeksi dan pembersihan dalam pre-pasca bedah

d. Hidrogen Peroksida (3%) (H2O2)


membersihkan dan menghilangkan bau pada luka infeksi
efek dalam waktu singkat selama oksigen dibebaskan
berbahaya pada rongga tertutup (emboli gas)
menyebabkan iritasi pada kulit

Bahan untuk Menutup Luka : Verband dengan berbagai ukuran


Bahan untuk mempertahankan balutan
a. Adhesive tapes
b. Bandages and binders

2.8 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN

a. Infeksi
Kunci pengobatan yang efektif adalah dengan cepat mengidentifikasi
patogenesanya
Kultur jaringan harus dianalisis dan diidentifikasi mikroorganismenya.
Penggunaan antibiotik harus segera dimulai pada selulitis dan fascitis
berdasarkan hasil kultur.
b. Gangguan terhadap Luka
Terutama pada orang tua dan lemah.
Laki-laki lebih sering.
Sering hari ke 5 - 12 postoperasi.
c. Dehisensi
Luka terlipat dan terbuka (splitting open).
Luka terbuka adalah pemisahan sebahagian atau seluruhnya lapisan
jaringan setelah penutupan.
Terlipatnya jaringan dapat terjadi akibat: Banyaknya tekanan pada
jaringan yang baru dijahit.
d. Eviserasi
Ditandai dengan menonjolnya usus melalui luka pada abdomen yang
sebelumnya telah ditutup.
Akibat tingginya tekanan intra abdominal kembung, mual, dan batuk
setelah pembedahan akan meningkatkan tekanan pada luka.

BAB III

KESIMPULAN

Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat luka stabil dengan
perkembangan granulasi jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat, hanya
cara tersebut yang membuat penyembuhan luka bisa sempurna.

Untuk memulai perawatan luka, pengkajian awal yang harus dijawab


adalah, apakah luka tersebut bersih, atau ada jaringan nekrotik yang harus
dibuang, apakah ada tanda klinik yang memperlihatkan masalah infeksi, apakah
kondisi luka kelihatan kering dan terdapat resiko kekeringan pada sel, apakah
absorpsi atau drainage objektif terhadap obat topical dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul, Hidayat, Musrifatul, (2012), Keterampilan Dasar


Praktik Klinik, Salemba Medika, Jakarta.

Allen Gabriel, MD, Joseph A Molnar, MD. Wound Healing and Growth Factor.
Medscape. Update 4 Oktober 2015.

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2012. Pedoman Tindakan Medik


dan Bedah. Jakarta: EGC.

Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2010. Kiat Sukses menghadapi
Operasi. Yogyakarta: Sahabat Setia
Sjamsuhidajat, De Jong. 2012. Buku ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta : EGC
Grace, Pierce A & Borley Neil R. 2013. At a Glance Ilmu Bedah. Surabaya:
Erlangga