Anda di halaman 1dari 10

REFLEKSI KASUS

GRANULOMA PIOGENIKUM/HEMANGIOMA KAPILER LOBULAR

DISUSUN OLEH:

NAMA : Farah Dina

NIM : 16/411549/KU/19813

KELOMPOK : 17205

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2017
DESKRIPSI KASUS

Pasien datang ke RSUD Wates pada tanggal 7 Juli 2017 pukul 10.30.

1. Identitas Pasien
Nama : Pinky Handika Andriani
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 17 tahun
Alamat : Pleret, Kulon Progo
Pekerjaan : Siswa
Nomor RM : 595153
2. Anamnesis
a. Keluhan utama :
Benjolan merah di atas mata kanan.
b. RPS :
Pasien mengeluhkan benjolan merah di atas mata kanan sejak 1 bulan yang
lalu. Bentuk awal lesi seperti jerawat atau gigitan nyamuk, kemudian
membesar. Pasien tidak merasakan nyeri dan tidak gatal. Tidak mengonsumsi
obat tertentu. Sudah dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke dokter spesialis kulit
dan kelamin.
c. RPD :
Riwayat keluhan serupa (-)
Riwayat trauma (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat keganasan (-)
d. RPK :
Riwayat keluhan serupa pada anggota keluarga (-)
Riwayat keganasan (-)

3. Pemeriksaan Fisik
a. Kondisi umum: Compos Mentis, Gizi cukup
b. Status lokasi dermato-venerologi: Pada periorbital dekstra (superolateral
palpebra superior) tampak nodul eritema, berbentuk kubah, permukaan
halus, batas tegas, soliter, single, dan konsistensi lembut.

4. Pemeriksaan Penunjang
Biopsi jaringan: Pada tampakan histopatologis, di stroma terdapat lobus
berbatas tegas dengan agregat proliferasi kapiler dan infiltrat neutrofil
CT-scan: Ditemukan massa jaringan lunak dengan densitas yang variatif
(isodens/hipodens)

5. Diagnosis Banding
1. Granuloma Piogenikum
2. Cherry Angioma
3. Nevus Spitz

6. Diagnosis Kerja
Granuloma Piogenikum

7. Terapi
Elektrokauterisasi

8. Edukasi
Observasi perkembangan benjolan
Menjaga agar benjolan tidak pecah
Rujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin
DISKUSI KASUS

1. Definisi
Granuloma piogenik atau hemangioma kapiler lobular adalah proliferasi kapiler
secara cepat yang sering terjadi setelah trauma, jadi bukan karena proses
peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder.

2. Epidemiologi
Piogenik granuloma jarang dialami oleh anak usia di bawah 6 bulan. Rata-rata usia
anak yang mengalami adalah 6 tahun. Penyakit ini sering dialami oleh orang dewasa
dengan puncak insidensi yaitu dekade kedua dan ketiga kehidupan. Pada wanita
hamil, juga sering terjadi pembentukan piogenik granuloma.

3. Etiologi dan Patogenesis


Penyebab granuloma piogenikum belum diketahui. Salah satu teori oleh Lawley
(2016), dinyatakan bahwa dasar patogenesis penyakit ini adalah hiperplastik
pembuluh darah sebagai respon neovaskular oleh stimulus angiogenik dengan
ketidakseimbangan promoter dan inhibitor. Faktor pertumbuhan angiogenik seperti
Vascular Endothelial Growth Factor, dekorin, faktor transkripsi (pATF2 dan pSTAT3),
dan protein sinyal transduksi mitogen-activated protein kinase (MAPK) diekspresikan
secara berlebihan pada penyakit ini, tetapi peran faktor tersebut belum dapat
ditentukan secara pasti. Dari penelitian oleh Godfraind et. al (2013), ditemukan salah
satu gen spesifik yang berhubungan dengan piogenik granuloma, yaitu FLT4, suatu
reseptor tirosin kinase yang berperan dalam angiogenesis patologis akibat trauma
jaringan dan respon penyembuhan luka yang tidak sesuai. Pengambilan sampel
dilakukan pada jaringan yang kaya pembuluh darah, plasenta, dan hemangioma.

4. Faktor predisposisi
a. Riwayat trauma pada lokasi munculnya lesi
b. Riwayat malformasi kapiler (port-wine stain)

5. Manifestasi Klinis
Bermula dari papul eritematosa dengan pembesaran cepat. Lesi soliter, ukuran
diameter dapat mencapai 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi mudah berdarah.
Predileksi di bagian distal tubuh yang sering mengalami trauma, termasuk wajah,
bibir, mulut, jari, dan batang tubuh.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Histopatologis
Pada stroma terdapat lobus berbatas tegas dengan agregat proliferasi kapiler
dan infiltrat neutrofil. Area epidermis biasanya sudah terkikis.

b. CT-scan
Ditemukan massa jaringan lunak dengan densitas yang variatif (isodens atau
hipodens).
7. Diagnosis Banding
a. Cherry Angioma
b. Nevus Spitz

c. Amelanotic Nodular Melanoma


d. Hemangioma infantil pada infant

8. Terapi
Terapi dengan eksisi atau kuretase dengan elektrodesikasi pada dasar lesi. Lesi
dengan diameter < 5 mm pada area tubuh yang penting secara kosmetik dapat
ditangani dengan pulse dye laser (V-beam).
9. Prognosis
Granuloma piogenikum adalah salah satu bentuk tumor jinak. Pada sebagian besar
kasus, massa dapat tumbuh kembali, terutama pada usia dewasa muda dengan
predileksi di area punggung atas. Massa dapat tumbuh kembali dengan jumlah lebih
dari satu di area massa yang sudah diangkat sebelumnya. Jika massa tidak diangkat
secara utuh, proliferasi pembuluh darah di area yang sama dapat terjadi kembali.

Referensi

Gofraind, C, Calicchio, M, dan Kozakewich, H. 2012. Pyogenic granuloma, an impaired


wound healing process, linked to vascular growth driven by FLT4 and the nitric oxide
pathway.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Irwin, M, Freedberg, Arthur, Z, Eisen, Klauss, Wolff, K, Frank, Austen, Lowell, A,


Goldsmith, dan Stephen, Katz. 2003. Fitzpatrick's Dermatology In General Medicine (Two
Vol. Set) ed 6. McGraw-Hill Professional.

Lawley, Leslie. 2016. Pyogenic Granuloma (Lobular Capillary Hemangioma).


Wolff, K, Johnson, RA, dan Suurmond D. 2007. Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, ed 5. McGraw Hill.
http://emedicine.medscape.com/article/1997597-technique