Anda di halaman 1dari 25

Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

BAB II

SISTEM PROSES

II.1. BAHAN BAKU


PT. PG. Candi Baru dalam proses produksi Gula Kristal Putih
menggunakan dua bahan baku, yaitu bahan baku utama dan bahan baku
penunjang. Kedua jenis bahan baku tersebut saling terkait dalam proses
pengolahan agar diperoleh hasil produksi yang maksimal. Berikut
merupakan bahan-bahan yang digunakan.

II.1.1 BAHAN BAKU UTAMA


PT. PG Candi Baru menggunakan tebu sebagai bahan baku utama
dalam produksi gula. Tebu yang digunakan oleh PT. PG. Candi Baru
diklasifikasikan menjadi :
a. Tebu Sendiri (TS)
TS adalah tebu milik pabrik dengan sistem menyewa tanah rakyat
dan penggarapannya dibiayai oleh PT. PG. Candi Baru.
b. Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)
TRI adalah tebu yang modal kerjanya dibiayai oleh bank dan
mendapatkan bimbingan teknis budidaya dari PT. PG. Candi Baru.
Cara ini menggunakan sistem bagi hasil (66% untuk Petani dan
34% untuk Pabrik).
c. Tebu Rakyat Mandiri (TRM) atau Tebu Bebas (TRB)
TRM adalah tebu rakyat milik petani disekitar pabrik atau diluar
daerah yang tidak mendapatkan kredit dari pihak bank maupun
pabrik.

Karakteristik tebu yang digunakan sebagai bahan baku harus


memenuhi kriteria standar Bersih, Segar dan Manis (BSM), yaitu :
a. Bersih : tebu yang digunakan harus bersih dari pucuk, akar serta
kadar kotoran tidak lebih dari 5%.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-1
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

b. Segar : tebu yang di giling merupakan tebu yang memiliki waktu


tebang dan waktu pengiriman kurang dari 48 jam. Hal ini ditujukan
untuk menjaga kadar gula pada tebu tidak mengalami penurunan
yang terlalu besar dan pH tebu harus < 4,8.
c. Manis : tebu yang digunakan harus memiliki potensi rendemen
yang tinggi (Brix > 17) dengan kriteria : kadar nira tinggi (85%) dan
nilai nira perahan pertama (n.p.p) tinggi (lebih dari 12%)

Tanaman tebu memiliki komposisi sebagai berikut:


Tabel 2.1 Komposisi Tebu
Komponen Kadar
Saccharosa 11 - 19%
Gula reduksi 0,5 - 1,5%
Asam organik 0,5%
Bahan organik 0,5 1,5%
Sabut 11 19%
Air 65 - 75%

Penjelasan masing-masing komponen:


1. Saccharosa
Saccharosa merupakan disakarida yang tersusun oleh dua molekul
monosakarida dengan rumus C12H22O11. Saccharosa lebih dikenal
dengan nama gula sukrosa. Berikut merupakan sifat-sifat dari
sukrosa:
a. Sifat fisis
Memiliki rasa manis
Larut dalam air, kelarutan naik dengan kenaikan suhu
Bentuk Kristal monoklin rhombik, tidak berwarna dan
bebas air.
Berat molekul sebesar 342 gr/mol
Titik lebur : 100-105C

b. Sifat kimia
Merupakan senyawa disakarida

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-2
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Mempunyai sifat optis aktif, yaitu dapat memutar bidang


polarisasi. Baik glukosa maupun fruktosa memutar bidang
polarisasi ke kanan.
Pada pemanasan suhu tinggi dan suasana asam, akan
menyebabkan proses hidrolisis. Adanya proses hidrolisis
menyebabkan saccharosa terurai menjadi glukosa dan
fruktosa.
2. Gula reduksi
Di dalam tebu terdapat gula yang mereduksi, diperoleh dari
pemerahan tebu yang terdiri dari monosakarida aldo hexose (D-
Glukosa) dan ketohexose (D-Fruktosa). Semakin masak tebu, maka
makin banyak pula gula yang tereduksi. Gula tereduksi terbentuk
langsung dari asimilasi pada tanaman, sebagian lagi terbentuk dari
degradasi.
3. Asam organik
Semakin masak tebu, maka kandungan asam organik di dalam tebu
semakin banyak. Asam-asam organik yang umumnya terkandung
dalam Saccharosa adalah:
Asam Glycol
Asam Gallus
Asam Batu Ambar
Asam Oksalat
4. Bahan-bahan organik
Bahan-bahan organik dalam tebu dapat diketahui dengan cara
membakar tebu hingga tingkat abu, kemudian hasilnya direaksikan
dengan HCl untuk dianalisa. Bahan-bahan organik yang umum
terdapat dalam tebu yaitu:
Senyawa Fe2O3
Senyawa CrO
Senyawa MgO
Senyawa Al2O3
Senyawa SO3

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-3
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Senyawa K2O
Senyawa P2O3
5. Sabut
Sabut merupakan ampas dari gilingan tebu yang berupa serabut dan
tidak dapat larut dalam nira. Sabut dapat dimanfaatkan untuk bahan
bakar serta bahan baku pembuatan kertas.
6. Air
Air merupakan komponen terbesar yang terkandung di dalam tebu.
Untuk menghilangkan kandungan air dapat menggunakan metode
penggilingan, akan tetapi pada proses penggilingan tebu diperlukan
tambahan air sekitar 25% dari berat tebu yang digiling. Penambahan
air dilakukan untuk melarutkan gula yang masih terkandung di dalam
ampas. Jika kandungan air dalam ampas kurang dari 50% maka akan
sulit untuk memerah tebu dalam proses gilingan.

Tebu yang bersih mengandung air (73 76 %), zat padat terlarut
(10 16 %) dan sabut (11 16 %). Setelah tebu dicacah dan diperah pada
mesin penggilingan, maka akan menghasilkan nira dan ampas. Nira tebu
pada dasarnya terdiri dari dua zat, yaitu zat padat terlarut dan air. Zat padat
yang terlarut ini terdiri dari dua zat lagi yaitu gula dan bukan gula.
Zat padat terlarut atau yang biasa disebut dengan Brix mengandung
gula, pati, garam-garam dan zat organik. Bagus atau tidaknya kualitas nira
tergantung dari banyaknya jumlah gula yang terkandung dalam nira tersebut.
Untuk mengetahui banyaknya gula yang terkandung dalam gula umumnya
dilakukan dengan analisa Brix dan Pol. Kadar Pol menunjukkan resultante
dari gula (sukrosa dan gula reduksi) yang terkandung dalam nira.
Brix adalah zat kering terlarut (semu) dalam satu larutan sakarosa
murni yang penentuannya dipergunakan (didapat) dengan alat penimbang
brix atau diperhitungkan dari berat jenis menurut cara yang sudah
ditentukan. Sedangkan % brix adalah berapa bagian zat kering (gula dalam
kotoran) terlarut dalam 100 bagian larutan yang penentuannya didasarkan
atas berat jenis larutan dengan alat penimbang brix.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-4
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

II.1.2 BAHAN BAKU PENUNJANG


Bahan baku penunjang ditambahkan untuk menghasilkan mutu
gula yang lebih baik. Bahan baku penunjang yang digunakan dalam proses
pembuatan gula tebu antara lain:
1. Air imbisi

Air imbisi berasal dari kondensat yang berfungsi untuk


mendapatkan presentase pemerahan yang tinggi dan menekan kadar
sukrosa yang tertinggal pada ampas. Suhu air imbibisi yang digunakan
adalah 60-70C. Banyaknya air imbisi yang digunakan yaitu 20-30% dari
berat tebu.

2. Kapur Tohor (CaO)

Kapur tohor merupakan bahan baku yang digunakan untuk


membuat susu kapur. Proses pembuatan susu kapur yaitu tangki yang
sudah diisi dengan CaO kemudian ditambahkan dengan air panas. Hal ini
dilakukan agar diperoleh tingkat dispersitas yang tinggi sehingga kapur
menjadi lebih larut membentuk susu kapur. Reaksi yang terjadi adalah:

CaO + H2O Ca(OH)2 + panas

Takaran susu kapur yang digunakan adalah 120-150 kg/100 ton


tebu. Penambahan susu kapur ini bertujuan untuk :

Meningkatkan pH nira menjadi alkalis (basa).

Mencegah terjadinya inversi saccharosa menjadi D-glukosa


dan D-fruktosa.

Menjernihkan nira : ketika kapur beraksi dengan fosfat dan


belerang maka akan terbentuk garam yang dapat menyerap
kotoran dalam nira dan mengendapkannya.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-5
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

3. Asam Fosfat (H3PO4)


Penambahan asam fosfat dimaksudkan untuk membentuk endapan
kalsium fosfat yang bersifat untuk menggumpalkan kotoran, sehingga
nira dan kotoran mudah dipisahkan. Nira yang sudah dipisahkan dari
kotoran menjadi lebih jernih.

4. Belerang
Belerang adalah kristal padat berwarna kuning, namun
keberadaannya di alam dapat berupa elemen murni atau sebagai sulfida
dan mineral sulfat. Belerang ditambahkan dalam bentuk gas SO2 pada
proses sulfitasi. Gas SO2 berfungsi sebagai bleacher atau pemucat warna.
Gas SO2 berperan sebagai reduktor ion ferri sehingga warna nira menjadi
lebih pucat dan viskositas akan berkurang.
Belerang padat mula-mula dimasukkan ke dalam tobong belerang
kemudian dilelehkan dengan steam pemanas lalu dibakar dengan O2 pada
suhu 200C. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
S(s) S(l) + panas
S(l) S(g)
S(g) + O2 SO2(g) + panas

5. Flokulan
Flokulan berfungsi untuk mengikat partikel-partikel pengotor/
impurities pada nira agar membentuk flok-flok yang berukuran lebih
besar sehingga lebih mudah mengendap. Flokulan akan ditambahkan ke
dalam flocculator tank setelah dilarutkan dengan air.

6. Fondan
Fondan adalah bahan baku penunjang proses produksi yang
berguna untuk membentuk kristal pada proses pemasakan. Fondan dibuat
dari gula berkualitas tinggi.

7. Kaporit

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-6
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Penambahan kaporit berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada


pada nira. Kaporit ditambahkan pada saat penggilingan, kebutuhan rata-
rata per hari sebanyak 9 kg.
8. Tawas
Tawas berfungsi untuk mengendapkan kotoran air sungai yang
digunakan sebagai feed water boiler di bak pengendapan air. Penambahan
tawas ke dalam air sungai disesuaikan dengan tingkat kekeruhan air
sungai.

9. Sodaflake
Penggunaan soda flake bertujuan untuk melunakkan kerak-kerak
yang ada pada evaporator. Kebutuhan untuk tiap pembersihan evaporator
adalah 150 kg, jumlah tersebut juga tergantung pada kondisi kerak yang
terbentuk.

II.2. URAIAN PROSES


PT. PG. Candi Baru menggunakan Sulfitasi Katalis Kontinyu
sebagai proses produksi untuk memproduksi gula SHS- IA. Proses ini
melalui beberapa tahapan yang dilakukan di tujuh stasiun yang berbeda,
yaitu:
II.2.1. STASIUN PERSIAPAN
Tujuan : untuk mempersiapkan tebu sampai tebu siap giling.
Peralatan :
1. Railban yaitu rel yang digunakan lori menuju ke tempat
penimbangan tebu.
2. Lori, yaitu kereta yang digunakan untuk mengangkut tebu.
Berat lori dapat diketahui berdasarkan kode warna yang terdapat
pada ujung lori. Ketiga kode warna tersebut yaitu:
Warna hijau untuk berat lori sebesar 6 kuintal
Warna kuning untuk berat lori sebesar 7 kuintal
Warna putih untuk berat lori sebesar 8 kuintal

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-7
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

3. Truk, yaitu alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut


tebu dari daerah penghasil tebu yang jaraknya jauh dari pabrik.
4. Timbangan, yaitu alat yang digunakan untuk menimbang berat
tebu. Terdapat dua macam timbangan yang digunakan, yaitu:
a. Timbangan truk merupakan alat untuk menimbang tebu
yang sebenarnya dengan mengetahui berat tebu dan truk
saat memasuki pabrik dan berat truk saat keluar pabrik.
Timbangan truk ini tidak hanya menimbang tebu saja,
tetapi juga digunakan untuk menimbang tetes, gula,
blotong, limbah, abu, ampas serta belerang.
b. Timbangan digital crane scale adalah alat untuk
menimbang tebu secara otomatis dengan cara
mengangkat tebu dari truk, kemudian tebu diletakkan di
lori.
5. Meja tebu, yaitu alat untuk membongkar dan meratakan tebu
yang diangkat oleh crane dari emplasemen tebu.
6. Cane carrier, yaitu alat untuk membawa tebu ke pencacah tebu.
Cane carrier digerakkan oleh electromotor dengan kecepatan
790 rpm.
7. Pencacah tebu, yaitu alat yang berfungsi untuk menghancurkan
tebu. Alat ini terdiri dari dua bagian, yaitu:
Cane cutter adalah alat yang berfungsi untuk memotong tebu
menjadi potongan yang lebih pendek untuk dibawa ke
unigrator.
Unigrator adalah alat yang berfungsi untuk merobek dan
mengoyak tebu menjadi serabut, sehingga memudahkan
dalam proses penggilingan.Unigrator dilengkapi dengan 36
buah hammer mill yang digerakkan oleh turbin uap.

Proses :
Pada stasiun persiapan terdapat tiga pos, yaitu :
a. Pos Penerimaan atau Pos Pantau

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-8
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Pada pos penerimaan dilakukan pemeriksaan kadar gula


(brix) tebu menggunakan refraktometer dan pemeriksaan pH tebu
menggunakan pH meter.

b. Pos Penimbangan
Pada pos penimbangan, truk yang bermuatan tebu di
timbang terlebih dahulu, setelah muatan truk diturunkan, truk
kemudian ditimbang kembali. Berat muatan yang diperoleh
merupakan selisih dari berat truk bermuatan dan berat truk kosong.
c. Pos Pembongkaran
Pada pos pembongkaran, tebu dari truk dipindahkan ke lori
menggunakan cane crane kemudian dipindahkan ke meja tebu
sebelum masuk ke dalam stasiun gilingan. Dengan bantuan cane
leveler dan pisau perata, tebu dimasukkan ke dalam cane carrier.
d. Pos persiapan akhir
Dari cane carrier tebu kemudian dipotong-potong menjadi
bagian kecil oleh cane cutter untuk memudahkan proses
penggilingan. Setelah itu, tebu dimasukkan ke unigrator sehingga
tebu dapat dicacah menjadi serabut yang lebih mudah diekstrak.

II.2.2. STASIUN GILINGAN


Tujuan : untuk memperoleh nira sebanyak-banyaknya dan
meminimalkan kandungan nira pada ampas tebu.
Peralatan :
1. Sugar cane mill (Gilingan tebu), yaitu alat untuk memperoleh
nira mentah dengan memerah tebu yang telah dicacah.
2. Intermediet carrier, yaitu alat pemindah tebu dari satu gilingan
ke gilingan yang lain.
3. Sikat ampas, yaitu alat pembawa ampas halus ke gilingan. Alat
ini terbuat dari tembaga yang dilengkapi dengan karet agar tidak
merusak talang tembaga yang ada dibawahnya.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-9
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

4. Dutch States Mines (DSM) screen, yaitu alat penyaring ampas


halus yang terbawa oleh nira.
5. Crush elevator, yaitu alat pemindah ampas yang tertahan pada
DSM Screen ke gilingan.
6. Bagasse carrier, yaitu alat untuk membawa ampas dari gilingan
ke ketel Cheng-Cheng dan FBC.
7. Bagasse KTR, yaitu alat untuk memindahkan ampas dari
gilingan IV ke ketel lama.
8. Rotary bagasse thumbler, yaitu alat yang berfungsi untuk
memisahkan ampas kasar dan ampas halus. Ampas kasar masuk
ke dalam bagasse reclaimer, sedangkan ampas halus masuk ke
dalam rotary vacuum filter.
9. Bagasse reclaimer, yaitu tempat untuk menampung ampas kasar
sebelum masuk ke ketel Cheng-Cheng dan FBC.
10. Pompa nira mentah, yaitu alat yang digunakan untuk memompa
nira mentah hasil dari gilingan I dan II.

Proses :
Tebu yang telah dicacah oleh unigrator dibawa dengan rol
pnegumpan (feeding roll) menuju gilingan I. Sebelum serabut tebu
masuk ke dalam penggilingan dilakukan proses preliming, yaitu
penambahan susu kapur pada tebu. Penambahan susu kapur
bertujuan untuk menaikkan pH nira dari 4 menjadi 6. Hal ini
dilakukan karena pada pH yang terlalu asam, nira akan mudah
terkontaminasi oleh bakteri.
Serabut yang telah bercampur dengan susu kapur masuk ke
gilingan I. Nira perahan pertama langsung menuju saringan Dutch
States Mines Screen (DSM screen) untuk dipisahkan antara nira dan
ampas yang masih terbawa dan ditampung dalam bak nira
tertimbang. Ampas dari gilingan I dibawa oleh intermediate carrier
menuju gilingan II, pada gilingan dua terjadi penambahan air
imbibisi. Nira hasil gilingan II menuju penampung II yang

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-10
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

berhubungan dengan DSM screen, sedangkan ampas gilingan II


dibawa menuju gilingan III. Nira dari gilingan I dan II yang telah
disaring diberi larutan asam fosfat hingga kadar P 2O5 dalam nira
mentah menjadi sekitar 300 ppm agar terjadi pengikatan oksida
logam dalam nira, kemudian nira dialirkan ke bak pengendapan
lumpur atau kotoran.
Pada gilingan III juga terjadi penambahan air imbibisi.
Penambahan air imbisi sebanyak 30% dari kapasitas gilingan. Air ini
berasal dari kondensat yang memiliki suhu 60-70C. Bila suhunya
kurang dari 60C maka proses ekstraksi nira dalam tebu tidak
optimal karena masih banyak nira yang akan tertinggal dalam ampas.
Sementara bila suhunya lebih dari 70C, komponen lilin pada tebu
akan larut sehingga menyebabkan selip pada gilingan.
Nira dari gilingan III, dibawa kembali menuju gilingan II sebagai
nira imbibisi. Ampas gilingan III dibawa ke gilingan IV. Kaporit
ditambahkan pada nira gilingan IV untuk membunuh bakteri
pembusuk lalu ditampung di bak nira imbisi. Nira dari gilingan IV
digunakan sebagai nira imbisi pada gilingan II. Sedangkan ampas
dari gilingan IV dibawa ke stasiun ketel oleh baggase carrier.
Dibawah baggase carrier terdapat saringan yang berfungsi untuk
memisahkan ampas kasar dan ampas halus. Ampas kasar dikirim
menuju ketel, yang akan digunakan sebagai bahan bakar dapur ketel.
Ampas halus di blower menuju mixer untuk dicampur dengan nira
kotor untuk dijadikan blotong.

II.2.3. STASIUN PEMURNIAN


Tujuan : untuk memisahkan pengotor-pengotor yang terdapat dalam
nira mentah sehingga diperoleh nira yang jernih.
Peralatan :
1. Flow meter, yaitu alat untuk mengetahui volume nira yan
dihasilkam dari stasiun penggilingan.
2. Voor warmer / Juice heater

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-11
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Terdapat 7 pan pemanas yang terdiri dari :


4 buah pemanas pendahulan I (VW I), dengan
menggunakan 12 sirkulasi untuk memanaskan nira
mentah sebelum masuk static mixer.
3 buah VW II, dengan menggunakan 12 sirkulasi untuk
memanaskan nira yang keluar dari tangka sulfitasi I.
3. Pompa nira mentah tertimbang, yaitu alat untuk memompa nira
yang telah tertimbang ke VW I.
4. Peti tarik nira mentah, yaitu tempat untuk menampung nira
mentah setelah melalui flowmeter.
5. Pre-contactor, yaitu untuk mengatur jumlah susu kapur yang
harus ditambahkan ke dalam nira sehinhha tercapai pH
mendekati netral.
6. Static mixer, yaitu alat untuk mencampur nira dengan susu kapur.
7. Tangki sulfitasi nira mentah, yaitu berfungsi untuk menetralkan
nira encer terkapur dari static mixer dengan penambahan gas SO2
sehingga mencapai pH 7,2.
8. Peti tarik nira mentah tersulfitir, yaitu tempat untuk menampung
nira encer tersulfitir yang berasal dari tangka sulfitasi nira encer.
9. Expander, yaitu alat untuk menghilangkan gas-gas dalam nira
yang selanjutnya akan masuk ke single tray sehingga proses
pengendapan berjalan dengan baik.
10. Single tray clarifier, yaitu alat untuk memisahkan kotoran atau
flok dalam nira dengan cara pengendapan sehingga diperoleh
nira jernih dan nira kotor.
11. Saringan nira jernih (DSM Screen), yaitu alat untuk menyaring
nira jernih yang keluar dari single tray clarifier.
12. Pompa nira jernih, yaitu alat untuk memindahkan nira dari peto
tarik nira jernih ke VW II.
13. Rotary vacuum filter, yaitu alat untuk menyaring nira kotor yang
berasal dari single tray clarifier.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-12
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Proses :
Nira yang telah disaring oleh DSM screen dan ditampung pada
bak nira tertimbang, ditambahkan asam fosfat hingga kadar fosfat
dalam nira mentah sebesar 300-350 ppm. Nira kemudian dialirkan
menuju juice heater I atau pemanas pendahuluan I dan dipanaskan
hingga suhu 70-80C. Pemanas yang digunakan adalah uap bekas
dari evaporator II. Pemanasan pendahuluan ini bertujuan untuk
mempercepat reaksi pengendapan kalsium fosfat dan membunuh
bakteri dalam nira, sehingga tidak mengganggu proses pembentukan
kristal gula. Kalsium fosfat berfungsi sebagai agen penyerap dan
pengikat kotoran pada nira. Jika kandungan kapur masih rendah,
maka pengendapan komponen selain gula menjadi tidak sempurna.
Sebaliknya jika terlalu tinggi, maka akan terjadi pelarutan kembali
protein dan menambah jumlah nitrogen dalam nira. Serta terjadinya
inversi gula reduksi yang menyebabkan gelapnya warna nira.
Nira dari juice heater I masuk ke dalam tabung Ca-sakarat untuk
dicampur dengan susu kapur dan nira kental guna menyempurnakan
pembentukan flok, sehingga pH sakarat naik menjadi naik menjadi
8,6. Nira dari tabung sakarat dialirkan menuju sulfur tower untuk
dicampurkan dengan gas SO2 atau biasa disebut sebagai proses
sulfitasi. Gas SO2 berfungsi untuk mereduksi ion Ferri menjadi Ferro
sebagai pemucat warna dan menurunkan viskositas larutan.
Pembentukan CaSO3 dari reaksi Ca(OH)2 dan gas SO2 berfungsi
sebagai penyerap kotoran. Indikator yang digunakan adalah Phtalein
Alpha Naphtol (PAN) dan Brom Tymol Blue (BTB). Saat diteteskan
PAN, maka sampel nira tidak berubah warna (kuning kecoklatan).
Dan saat diteteskan BTB, warna sampel berubah menjadi hijau.
Proses sulfitasi menghasilkan kisaran pH nira dari 7-7,2 yakni pH
optimum untuk menghilangkan protein. Gas SO2 dari sulfur burner
masuk melewati bawah sulfur tower, sedangkan nira masuk melalui
atas sulfur tower.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-13
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Nira dari tangka sulfitasi dipompa menuju juice heater II, nira
dipanaskan hingga mencapai suhu 105-110C. Pemanasan ini
bertujuan untuk menyempurnakan reaksi pengendapan, membunuh
mikroba yang resisten pada suhu 75-85C dan menguapkan gas-gas
yang terlarut yang dapat menguap, sehingga tidak mengganggu
proses pengendapan. Kemudian nira dialirkan ke expander atau flash
tank untuk melepaskan uap gas (gas yang mengganggu/gas amonia).
Nira dari flash tank masuk ke dalam Single Tray Clarifier.
Penambahan flokulan dilakukan agar molekul-molekul yang
terbentuk saling berikatan satu sama lain membentuk partikel yang
lebih besar (flok-flok), sehingga kotoran yang membentuk flok lebih
mudah mengendap. Nira jernih dari single tray disaring terlebih
dahulu sebelum masuk ke bak penampung nira jernih. Sedangkan
nira yang keluar bersama flok disebut nira kotor, selanjutnya
ditambahkan susu kapur untuk kemudian dipompa menuju rotary
vacuum filter.
Rotary vacuum filter adalah silinder berpori yang berfungsi
untuk menyaring nira kotor. Cara kerjanya adalah silinder yang
dicelupkan sebagian dalam nira kotor. Silinder ini terbagi dalam 18
bgaian dan tiap bagian terhubung dengan pipa yang berakhir pada
pengatur mekanik vacuum. Ada 3 sektor berbeda pada pengatur
mekanik vacuum ini, yaitu unit low vacuum (15-30 cmHg), unit
high vacuum (40-50 cmHg) dan unit no vacuum. Alat vacuum yang
digunakan adalah kondensor yang dilengkapi dengan pompa
hampa udara dan air injeksi. Bagian silinder yang tercelup dalam nira
adalah bagian yang berhubungan dengan unit low vacuum. Sehingga
menyebabkan nira tertarik masuk dan padatan yang terkandung
tertahan di pori-pori silinder. Padatan ini akan membentuk lapisan
tipis yang disebut blotong. Lapisan ini terdiri dari ampas halus
(bagacillo) yang sengaja ditambahkan agar menjadi media
penyaring tambahan. Nira hasil penyaringan ini disebut filter kotor.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-14
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Dengan berputarnya bagian silinder, blotong memasuki area


high vacuum yang menyebabkan nira yang terkandung dalam
blotong dapat terambil kembali. Namun, karena kualitasnya belum
layak, maka nira yang lolos filter (nira tapis) dikembalikan ke tangka
sulfitasi I. Setelah lapisan blotong melalui area high vacuum
selanjutnya ditambahkan air panas untuk menurunkan konsentrasi
nira tapis. Kemudian terjadi pengeringan blotong karena air yang
terhisap ke dalam silinder dan pelepasan blotong oleh scrapper.
Silinder yang telah bersih terus berputar untuk menghisap nira kotor
yang akan disaring selanjutnya. Sedangkan blotong ditampung oleh
truk-truk dan dibawa pada pihak ketiga.

II.2.4. STASIUN PENGUAPAN


Tujuan : untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam nira
jernih dengan kadar brix antara 13-14% sehingga diperoleh nira
kental dengan kadar brix 60-65%.
Peralatan :
1. Evaporator, yaitu alat yang digunakan untuk menguapkan air
pada nira encer sehingga diperoleh nira kental. Tipe evaporator
yang digunakan adalah kalendria short tube, dengan sistem
Quintiple Effect Evaporator, yaitu evaporator yang digunakan
sebanyak 5 unit, sedangkan yang lain dibersihkan.
2. Pompa hampa udara sentral, yaitu alat yang digunakan untuk
menciptakan tekanan vakum. Alat ini terdiri dari 2 bagian yaitu
pompa vakum dan kondensor.
3. Pompa kondensat, yaitu alat untuk mengeluarkan kondensat dari
kondensor.
4. Tangki sulfitasi II, yaitu tangki yang digunakan untuk proses
sulfitasi nira kental.
5. Peti diksap, yaitu sebagai tempat penampungan nira kental.
6. Tandon, yaitu sebagai tempat penampungan kondensat.
Terdapat 3 buah tendon, yaitu

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-15
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

a. Tandon I : untuk menampung kondensat yang tidak


mengandung gula. Kondensat ini digunakan sebagai air
pengisi ketel tekanan rendah.
b. Tandon II : untuk menampung kondensat yang tidak
mengandung gula. Kondensat ini digunakan sebagai air
pengisi ketel tekanan menengah.
c. Tandon III : menampung kondensat yang mengandung
gula, digunakan sebagai pencuci pada pan masakan,
putaran, dan air imbisi pada ampas gilingan III.

Proses
Bahan baku untuk poses penguapan berupa nira jernih hasil dari
stasiun pemurnian. Pada pabrik PG Candi Baru menggunakan
evaporator multiple effect dengan 5 efek. Tekanan dan suhu pada
evaporator I hingga evaporator V semakin kecil. Hal ini dikarenakan
uap nira yang diambil dari evaporator sebelumnya semakin sedikit.
Tekanan yang semakin kecil menyebabkan nira dapat mengalir dari
satu evaporator ke evaporator lain tanpa membutuhkan pompa.
Proses ini dilakukan dalam kondisi vakum untuk mengurangi
kerusakan gula karena suhu tinggi.
Fungsi evaporator, selain mengentalkan nira juga untuk
menghasilkan air kondensat. Air kondensasi dari evaporator I, II, III
masuk ke ketel, sementara air kondensasi evaporator IV dan V
digunakan untuk proses masakan dan puteran. Nira jernih dipompa
menuju evaporator I, diuapkan dengan uap bekas yang memiliki
suhu 120C. Digunakan suhu 120C agar tidak terjadi kerusakan
nira, kerusakan tersebut berupa terjadinya karamelisasi dam
terbentuknya asam asam organik. Uap bekas ini masuk lewat pipa
dan memanaskan nira yang mengalir pada pipa calandria. Dengan
adanya perbedaan suhu antara steam dan nira, maka steam akan
terkondensasi menjadi air kondensat dan larutan nira akan menguap.
Ketinggian nira pada evaporator harus diperhatikan, karena jika

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-16
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

ketinggian nira dibawah standar (1/3 dari tinggi pipa calandria)


maka uap nira yang terbentuk tidak akan tertarik, sedangkan jika
melebihi standar maka nira akan ikut tertarik. Jadi disetiap
evaporator dilengkapi dengan penangkap nira (lovre) yang dipasang
pada lubang pengeluaran uap untuk menahan gula yang menguap
agar jatuh kembali ke dalam evaporator.
Nira yang keluar dari evaporator memiliki tekstur lebih kental
dibanding nira dari evaporator sebelumnya. Pengecekan brix
dilakukan pada nira dari evaporator terakhir, standartnya nilai brix
sebesar 30-32Be. Jika nilai brix berada dibawah standar tersebut,
maka proses untuk kristalisasi membutuhkan waktu yang lebih lama.
Selanjutnya nira kental dipompa ke tangka sulfitasi II. Nira kental
tersebut ditambahkan dengan gas SO2 dengan cara membakar
belerang, penambahan SO2 bertujuan untuk mendapatkan gula
dengan warna putih. Penambahan ini menaikkan pH nira menjadi
5,4-5,6. Kemudian nira dari sulfur tower mengalir menuju bak
penampung nira tersulfitasi.
Pemeliharaan evaporator dilakukan tiga hari sekali untuk
mencegah kerak di dalam evaporator. Kerak ini terbentuk karena
adanya garam-garam dari kalsium dan magnesium, seperti Ca3(PO4)2,
CaSO3 dan kalsium silikat. Senyawa ini terbentuk dari proses
pemurnian karena penambahan Ca(OH)2 dan kaporit yang tidak
terendapkan. Kerak terbentuk paling banyak pada evaporator
terakhir, hal ini disebakan nira yang bersikulasi didalamnya adalah
nira yang paling kental. Kerak mengakibatkan korosi pada
evaporator, sehingga dibutuhkan pemeliharaan.

II.2.5. STASIUN MASAKAN


Tujuan : untuk memasak nira kental dengan proses pembentukan
dan pembesaran kristal gula menjadi gula produk.
Peralatan :

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-17
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

1. Pan masakan (vacuum pan), yaitu alat yang berfungsi untuk


membuat kondisi lewat jenuh pada larutan gula dan mempercepat
proses kristalisasi.
Terdapat 7 buah pan masakan, yaitu:
Pan I dan II untuk masakan D
Pan III untuk masakan C
Pan IV, V, VI, VII untuk masakan A
2. Alat vakum, yaitu alat untuk membuat kondisi vacuum pada pan
masakan. Alat ini berupa pompa vacuum dan kondensor.
3. Palung pendingin (koeltrog), yaitu sebagaia tempat untuk
menampung hasil masakan dan sebagai tempat terjadinya proses
kristalisasi lebih lanjut.
4. Rapid crystallizer (Rapid cooler), yaitu alat untuk mendinginkan
masakan gula D dari suhu 60C menjadi 40C sehingga
kristalisasi berlanjut. Agar masakan dari rapid cooler tidak
membeku, maka dipanaskan lagi menjadi 50C. Sehingga rapid
cooler dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
2/3 bagian untuk pendingin dengan suhu air pendingin
18C.
1/3 bagian untuk pemanasan dengan suhu air pemanas
60C yang bertujuan untuk tidak memberatkan kerja
pompa untuk memompa masakan gula ke putaran gula D.
5. Peti tunggu, yaitu sebagai tempat penampungan gula C, gula D-II,
klare D, klare SHS, stroop A, stroop C dan nira kental.
6. Coarting, yaitu alat yang digunakan untuk menurunkan suhu air
dan menimbulkan kontak tidak langsung dengan gula D yang
masih panas, sehingga suhu air yang keluar dari rapid cooler lebih
tinggi.

Proses
Pada pan masakan, terdapat 4 tahapan proses yang terjadi :
1. Tahap Pemekatan Nira

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-18
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Yaitu penguapan nira sampai lewat jenuh, keadaan ini


menyebabkan terbentuknya suatu pola kristal sukrosa. Proses
kristalisasi dijaga pada suhu rendah agar molekul sukrosa tidak
rusak oleh karena itu sistem yang digunakan sistem vakum.
2. Tahap Pembibitan
Yaitu penambahan bibit ke dalam nira sebagai inti kristal.
Pembuatan bibit berasal dari gula berkualitas tinggi. Apabila
tidak menggunakan bibit, maka kristal yang dihasilkan tidak bisa
keluar dan membutuhkan waktu yang lama.
3. Tahap Penumbuhan Kristal
Yaitu proses penempelan molekul gula terhadap inti kristal (bibit)
sehingga diperoleh kristal gula dengan ukuran yang diinginkan.
4. Tahap Pemasakan
Yaitu proses pemasakan dimana kecepatan kristalisasi bertambah
pada suhu tinggi dan diperlukan kejenuhan yang lebih besar
sehingga proses pemasakan dilakukan lebih dari satu kali untuk
menghasilkan gula A, gula C, dan gula D

Terdapat tiga tahap daerah pembentukan pada proses kristalisasi,


yaitu:
a. Daerah menstabil
Proses penguapan merupakan daerah pembesaran inti kristal
sehingga pemekatan tidak boleh melewati daerah menstabil,
sebab akan terjadi inti baru yang berupa kristal halus yang
disebut gula palsu.
b. Daerah intermediet
Merupakan daerah dimana molekul mampu membentuk kristal
sendiri apabila ada penambahan inti kristal dari luar.
c. Daerah labil
Merupakan daerah dimana molekul saccharosa mampu
membentuk inti kristal sendiri tanpa adanya penambahan inti
kristal dari luar.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-19
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

Kecepatan kristalisasi dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:


Temperatur
Temperatur akan mempengaruhi viskositas dan koefisien
kejenuhan.
Viskositas larutan, apabila temperatur turun, maka viskositas
akan naik dan sebaliknya.
Koefisien kejenuhan, apabila temperatur turun, maka
koefisien turun sehingga kecepatan kristalisasi berkurang
Kemurnian larutan induk
Kecepatan kristalisasi akan menurun, ketika kemurnian larutan
induk menurun.

PT. PG. Candi Baru menggunakan skema masakan ACD untuk


menghasilkan gula SHS IA. Berikut ini merupakan skema masakan
ACD:
a. Masakan D
Bahan untuk masakan D adalah nira kental, stroop A,
stroop C, fondan dan klare D. Mula-mula nira kental dari bak
penampungan nira tersulfitasi dialirkan menuju pan masakan I
untuk dipanaskan dengan suhu 100C, sampai terbentuk
benangan dan diusahakan tidak terjadi pengkristalan terlebih
dahulu. Kemudian fondan dimasukkan sebagai bibit, dan
ditambahkan stroop A sampai dengan 200 hl . Larutan gula ini
dipanaskan, selama pemanasan (pembentukan inti kristal),
bentuk kristal dikontrol agar diperoleh bentuk inti kristal yang
dikehendaki. Untuk mengurangi kistal palsu yang terbentuk,
dilakukan penyiraman air. Kemudian masakan seluruhnya
dipindahkan seluruhnya ke pan II.
Pada pan II, masakan ditambah lagi dengan klare D dan
stroop C, untuk menurunkan harga HK. Pada pelaksanaan di
lapangan, umumnya jumlah stroop C dan klare D sama, masing-

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-20
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

masing 100 hl. Setelah itu, masakan di pan I sebagian dipindah


ke pan II ( 200 hl), dan ke vacum trog ( 80 hl). Sisa di pan I
( 120 hl), ditambah stroop C dan klare D hingga 400 hl,
dipanaskan hingga diperoleh bentuk kristal yang diinginkan, lalu
turun ke palung pendingin. Masakan di pan II dipanaskan,
kemudian turun ke palung pendingin. Sedangkan masakan di
vacuum trog, akan dipindah ke pan I atau II, untuk dimasak lagi.
Hasil masakan pada pan I dan II disebut masakan D, masakan
tersebut turun ke palung pendingin, kemudian ditarik ke putaran
gula D. Pada proses masakan D harga kemurnian sebesar 60-62
dan harga brix sebesar 99-100.
b. Masakan C
Bahan untuk masakan C adalah babonan D-II, stroop A, dan
nira kental. Ketiga bahan tersebut dipanaskan menggunakan pan
III dengan suhu 70C sampai kristal cukup besar, proses
pemasakan memakan waktu sekitar 4-5 jam tergantung suplai
uap dari stasiun ketel. Pada pemasakan di pan III ini juga
dilakukan pengontrolan ukuran kristal dan ada tidaknya kristal
palsu dengan penambahan air. Pada proses masakan C harga
kemurnian sebesar 72-74 dan harga brix sebesar 96-97. Gula dari
masakan C setelah itu diturunkan ke palung pendingin, dan
dipompa ke putaran gula C.
c. Masakan A
Bahan masakan A adalah nira kental, babonan C, dan klare
SHS. Mula-mula, nira kental dialirkan ke pan masakan V dan
diuapkan sampai timbul benangan, kemudian gula babonan C
ditambahkan sebagai bibit. Proses pembibitan dikontrol agar
tidak terbentuk inti kristal palsu. Setelah terbentuk inti kristal
dengan ukuran yang diinginkan, masakan dipindahkan
seluruhnya ke pan IV atau pan VI. Proses pembesaran kristal
dilanjutkan dengan penambahan klare SHS sampai pembesaran
memenuhi syarat. Proses pemasakan berlangsung antara 3-4 jam

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-21
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

dengan harga kemurnian yang dikehendaki sebesar diatas 80,


brix sebesar 94-96 dan BJB sebesar (1 mm). Kemudian hasil
masakan A diturunkan ke palung pendingin dan dipompa ke
putaran gula A.

II.2.6. STASIUN PUTARAN


Tujuan : untuk memisahkan kristal gula dari larutannya dengan cara
sentrifugal sehingga diperoleh kristal gula yang bersih.
Peralatan :
1. Penyaringan sentrifugal, yaitu alat berbentuk tromol yang
berputar. Sebagai media penyaringan adalah saringan kasar yang
terbuat dari tembaga atau baja tahan karat.
2. Putaran, yaitu alat yang berfungsi untuk memisahkan gula.
Terdapat 3 buah putaran yang digunakan antara lain:
Continous centrifuge
Digunakan untuk memisahkan gula hasil masakan C dan D.
Alat ini terdiri dari 6 buah putaran BMA, 2 buah untuk
masakan C, 3 buah untuk putaran D-I dan 1 buah untuk
putaran gula D-II.
Semi automatic centrifuge
Alat ini digunakan untuk memisahkan gula hasil masakan A
menjadi gula A dan stroop A.
Manual batch centrifuge
Manual batch centrifuge berfungsi untuk memisahkan gula
A dan masuk memutar gula SHS. Alat ini terdiri dari 8 buah
untuk memutar masakan A dan 12 buah untuk memutar gula
SHS. Putaran centrifuge dilengkapi dengan saringan rangkap
3 yaitu:
Plat tembaga yang berlubang
Kasa kuningan yang berlubang besar
Kasa stainless steel/monel yang berlubang besar

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-22
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

3. Mixer (alat pencampuran), yaitu alat yang digunakan untuk


mencuci lapisan stroop. Mixer terletak pada as yang dilengkapi
pasak dari besi bulat.
4. Rapid cooler, yaitu alat untuk mendinginkan hasil masakan D
sehingga terjadi kristalisasi berlanjut.
5. Peti tunggu, yaitu tempat untuk menampung klare SHS, stroop A,
stroop C dan klare D.
6. Peti babonan D, yaitu tempat untuk menampung gula D-II yang
digunakan untuk bibitan masakan C.
7. Talang ulir (screw conveyor), yaitu alat yang terletak di atas
putaran diskontinyu untuk lalu lintas mascuite yang akan diputar.
Alat ini dilengkapi pengaduk agar mascuite mudah didorong
turun ke putaran.

Proses
Pada stasiun putaran, kristal gula dipisahkan dari cairannya
dengan gaya sentrifugal, dengan bantuan air kondensat dari tandon
II. Air kondensat ini berfungsi untuk mencuci kotoran dan
melarutkan stroop yang masih menempel. Kristal gula akan tertahan,
melekat pada dinding putaran, sedangkan cairannya akan turun
keluar melalui saringan yang berbentuk tromol berputar.

Pemisahan Kristal pada Masakan D :


Dari palung pendingin, masakan D dibawa oleh screw conveyor /
talang ulir (khusus untuk larutan kental), kemudian dipompa
ke rapid cooler, untuk dikristalkan lagi sehingga diperoleh kristal
yang lebih banyak. Di rapid cooler, terjadi dua tahapan kristalisasi,
pendinginan dan pemanasan. Tahap pertama, masakan D didinginkan
hingga 40 - 420C, dengan air pendingin bersuhu 180C. Tujuan
pendinginan ini, untuk pembentukan kristal yang lebih banyak lagi.
Masakan akan menjadi lebih kental. Masakan yang seperti ini akan
mempersulit pemisahan kristal gula dengan tetesnya ( kristal banyak

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-23
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

yang terikut tetes ), sehingga dilakukan tahapan kedua. Tahap kedua,


masakan dipanaskan hingga 52 - 55C dengan air panas yang
bersuhu 70C. Dengan pemanasan ini, viskositas masakan akan turun
sehingga masakan menjadi lebih encer.
Dari rapid cooler, masakan D dipompa ke talang U, yang terletak
di atas putaran BMA D1. Proses selanjutnya adalah Putaran BMA
D2. Putaran BMA D2 terdiri atas 2 unit. Dengan proses yang sama
pada putaran BMA D1, akan diperoleh cairan yang disebut dengan
klare D dan kristal gula disebut gula D2. Klare D kemudian dialirkan
ke peti tunggu klare D. Gula D2 juga disebut kristal bibitan D2,
ditampung di talang penampung D2, kemudian dialirkan ke peti
babonan, digunakan untuk bibitan kristal pada masakan.

Pemisahan Kristal pada Masakan C :


Dari pan masakan, gula C dialirkan ke putaran BMA. Putaran
BMA yang dipakai adalah putaran keenam. Hasil pemisahan adalah
gula C dan stroop C. Gula C ditampung pada bejana bibitan C untuk
digunakan pada proses masakan A. Sedangkan stroop C dialirkan ke
tangki penampung stroop C.

Pemisahan Kristal pada Masakan A :


Masakan A dari palung pendingin dialirkan menuju putaran A
dan ditambahkan air, sehingga dihasilkan stroop A dan gula A.
Stroop A dipompa ke peti tunggu stroop A sedangkan gula A diproses
lebih lanjut di mixer SHS dengan penambahan air kondensat. Dari
mixer SHS ini, gula diputar lagi di putaran SHS. Pada putaran SHS,
gula diputar lagi untuk menyempurnakan penghilangan kotoran.
Hasil putaran SHS adalah gula SHS dan klare SHS. Klare SHS
dialirkan ke peti tunggu klare SHS, sedangkan gula SHS yang
terbentuk akan diproses lebih lanjut di stasiun penyelesaian.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-24
Universitas Surabaya Bab II Sistem Proses

II.2.7. STASIUN PENYELESAIAN


Tujuan : untuk mengeringkan gula SHS dan menyeleksi ukuran gula
serta menghasilkan gula produk.
Peralatan :
1. Talang goyang (grass hopper), yaitu talang yang digunakan
untuk mengeringkan gula dari stasiun putaran.
2. Tangga Yacob, yaitu alat untuk membawa gula dari talang
goyang ke sugar bin untuk penampungan sementara.
3. Sugar bin, yaitu sebagai tempat penampungan sementara gula
produk sebelum dikemas ke dalam karung.
4. Mesin jahit, yaitu alat untuk menjahit karung gula.
5. Timbangan, yaitu alat untuk menimbang berat gula produk.
6. Gudang gula, yaitu sebagai tempat penyimpanan gula produk
yang telah dikemas dalam karung.

Proses
Pada stasiun penyelesaian ini gula SHS yang keluar dari putaran
SHS dibawa menuju talang goyang. Pada talang goyang tersebut
terdapat 2 jenis ayakan yang mempunyai ukuran yang berbeda. Yang
pertama berukuran 8 mesh, berfungsi untuk menyaring gula kasar.
Dan yang kedua berukuran 23 mesh, berfungsi untuk menyaring gula
halus.
Dari talang goyang, gula yang lolos dari ayakan 23 mesh tersebut
(disebut gula normal) diangkut ke atas ke tempat penampungan gula
(sugar bin) yang akan dikemas. Pengemasan dilakukan dengan
memasukkan gula ke karung, ditimbang tiap 50 kg kemudian dijahit.
Selain itu, terdapat produk gula yang dikemas menggunakan
kemasan plastik dengan berat bersih 1 kg. Selanjutnya gula yang
telah dikemas, disimpan dalam gudang penyimpanan dan siap
dipasarkan.

Laporan K erj a Prakt ek Ju ru san Te kni k K i mi a


PG. C an di Baru Sidoarjo II-25