Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

ANALISIS KASUS

Pada anamnesis didapatkan bahwa os datang dengan keluhan utama sesak


semakin berat sejak 1 hari SMRS. Keluhan sesak telah ada sejak 3 tahun yang
lalu, namun semakin hari sesak dirasakan semakin parah. Dapat disimpulkan
bahwa sesak bersifat kronis. Kemungkinan penyakit pada os dengan sesak kronis
antara lain Asma, TB, PPOK, penyakit jantung, efusi pleura, dan gangguan ginjal.
Pertimbangan klinis mengenai keluhan sesak napas dapat di bagi menjadi
beberapa gangguan pada organ tubuh. Gangguan pada organ paru terutama
menjadi petimbangan utama, diikuti gangguan jantung yang dapat menimbulkan
sesak napas apabila terjadi edema paru, gangguan pada ginjal juga dapat
menimbulkan retensi cairan dan berakibat pada edem paru.
Os adalah seorang pria, berusia 76 tahun. Pada anamnesis dan
pemeriksaan fisik didapatkan bahwa os tidak ada keluhan demam dan gejala
sistemik lainnya, serta pada rontgent tidak ditemukan infiltrat di lapangan atas
paru, sehingga kemungkinan keluhan disebabkan oleh TB dapat disingkirkan.
Selain itu, sesak pada os ini tidak dipengaruhi oleh cuaca, emosi, dan debu, serta
tidak ada keluhan mengi. Sesak juga tidak muncul sejak os masih anak-anak,
riwayat asma dan alergi dalam keluarga juga disangkal sehingga kemungkinan
asma dapat disingkirkan.
Os tidak merasakan timbul sembab di kedua tungkai, perut maupun di
muka. Os tidak terbangun malam hari karena sesak dan tidur menggunakan satu
bantal di kepala. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan peningkatan tekanan
vena jugularis, pada pemeriksaan laboratorium kadar ureum dan kreatinin pasien
normal. Oleh karena itu, sembab kemungkinan bukan disebabkan oleh gangguan
ginjal atau penyakit jantung.
Dari anamnesis, os mengeluh sesak dan batuk kronis yang disertai dengan
produksi dahak. Selain itu terdapat faktor risiko PPOK yaitu riwayat merokok
sejak os berusia 20 tahun dan berhenti merokok sejak 1 tahun SMRS. Kira-kira os
sudah merokok selama 50 tahun, setiap hari sekitar 1 bungkus rokok.

32
Kemudian dari pemeriksaan fisik thorax, pemeriksaan paru didapatkan
sela iga yang melebar dan barrel chest positif. Pada perkusi didapatkan hipersonor
dikedua hemithorax, dan batas paru hepar menurun pada ICS VII, hal ini
menandakan terjadinya penekanan diagfragma akibat PPOK. Auskultasi
didapatkan suara nafas pokok vesikuler menurun pada kedua hemithorax, ronkhi
basah halus pada kedua basal paru, ekspirasi memanjang, dan suara nafas
tambahan berupa wheezing ekspirasi di seluruh lapang paru. Pada foto rontgen
thorax PA, didapatkan gambaran hiperaerasi dan sela iga melebar yang merupakan
tanda tanda terjadinya PPOK. Pada kasus ini didapatkan keluhan batuk dahak
purulen yang disertai dengan leukositosis, hal ini menandakan terjadinya
kemungkinan terjadinya ISPA.
Tatalaksana pada pasien ini dengan pemberian oksigen 3 l/m, nebulisasi
farbivent yang mengandung salbutamol yang merupakan SABA dan ipratroprium
bromide 1 ampul setiap 8 jam. Drip aminofilin 2 ampul dalam infus D5% 500cc
gtt XV, injeksi dexametason 3x1 ampul IV, injeksi ceftriaxone 2x1 gr IV sebagai
antibiotik untuk ISPA dan diberikan juga N asetil sistein dan ambroxol untuk
membantu pengeluaran dahak agar mempermudah proses napas dan berguna
untuk pemeriksaan sputum. Untuk hipertensi stage 2 diberikan kombinasi ace
inhibitor dan calsium channel blocker yaitu captopril 2x25 mg dan amlodipin
1x5mg. Namun, dari semua terapi diatas, berhenti merokok merupakan terapi
yang paling efektif pada pasien PPOK. Proses berhenti merokok harus melibatkan
beberapa intervensi dan harus didukung oleh diri sendiri, kelompok, dokter,
tempat kerja, dan masyarakat. Os juga harus menghindari menghirup polutan
seperti asap rokok dan polusi udara karena dapat terkena ISPA yang memicu
PPOK eksaserbasi. Os juga harus memiliki pola hidup yang baik, sering
berolahraga dan mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung
garam. Os juga harus rutin mengonsumsi obat antihipertensi.

33