Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN

HEPATITIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Pendidikan Profesi Ners Departemen Emergensi
Di IGD Rumah Sakit Dr.Soepraoen Malang

Disusun Oleh :

FATIMAH AZ ZAHRA

NIM. 150070300011107

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN HEPATITIS

A. PENGERTIAN
Hepatitis merupakan infeksi sistemik oleh virus diserati nekrosis dan klinis,
biokimia, serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)
Hepatitis merupakan proses penyakit hepar yang mengenai parenkim, sel-
sel kuffer, duktus empedu, dan pembuluh darah (Andra S.W dan Yessie M.P
2013).
Hepatitis merupakan peradangan luas pada jaringan hati yang
menyebabkan nekrosis dan degenarasi sel (Charlene J. Reveens, 2001)
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat
disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serat
bahan-bahan kimia (Sujono Hadi, 1999)

B. KLASIFIKASI HEPATITIS
Menurut Andra Saferi Wijaya dan Yessie M. Putri (2013), klasifikasi pada
pasien dengan hepatitis adalah :
1. Hepatitis Virus
1) Hepatitis A
Penyebabnya adalah virus hepatitis A, dan merupakan penyakit endemis
di beberapa negara berkembang. Selain itu hepatitis A merupakan hepatits
yang ringan, bersifat akut, sembuh spontan/sempurna tanpa gejala sisa
dan tidak menyebabkan infeksi kronik. Penularan penyakit ini melalui fekal
oral. Sumber penularannya umumnya terjadi karena pencemaran air
minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi
yang buruk, dan personal hygiene yang rendah. Diagnosis ditegakkan
dengan ditemukannya IgM antibody serum penderita. Gejalanya bersifat
akut, tidak khas bisa berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah,
sampai icterus, bahkan sampai menyebabkan pembengkakan hati. Tidak
ada pengobatan khusus untuk penyakit ini tetapi hanya pengobatan
pendukung dan menjaga keseimbangan nutrisi. Pencegahan penyakit ini
dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama
terhadap makanan dan minuman serta melakukan PHBS

2) Hepatitis B akut
Penyebab penyakit hepatitis B ini adalah HBV yaitu virus hepatitis B dari
golongan virus DNA. Masa inkubasinya 60-90 hari. Penularannya vertical
terjadi pada masa perinatal dan 5% intra uterine. Penularan horizontal
melalui transfuse darah, jarum suntik tercemar, pisau cukur, tattoo, dan
transplantasi organ. Gejala hepatitis B akut tidak khas, seperti rasa terlalu
lesu, nafsu makan berkurang, demam ringan, nyeri abdomen sebelah
kanan, dapat timbul icterus, dan air kencing warna teh. Diagnosis
diteggakkan dengan tes fungsi hati serum transaminase (ALT meningkat),
serologi HBsAg dan IgM anti HBC dalam serum. Pengobatan tidak
diperlukan antiviral, pengobatan umumnya bersifat simtomasis.
Pencegahannya : telah dilakukan penapisan darah sejak tahun1992
terhadap bank darah melalui PMI, Imunisasi yang sudah masuk dalam
program nasional : HBO (<12 jam), DPT/HB1 (2 bulan), DPT/HB2 (3
bulan) DPT/HB3 (4 bulan), dan menghindari faktor resiko yang
menyebabkan terjadinya penularan.
3) Hepatitis B kronik
Hepatitis B kronik berkembang dari Hepatitis B akut. Usia saat terjadinya
ifeksi mempengaruhi kronisitas penyakit. Bila penularan terjadi saat bayi
maka 95% akan menjadi hepatitis B kronik. Sedangkan bila penularan
terjadi pada usia balita, maka 20-30% menjadi hepatitis B kronik dan bila
penularan saat dewasa maka hanya 5% yang menjadi penderita hepatitis
B kronik. Hepatitis B kronik ditandai dengan HBsAG (Hepatitis B surface
antigen) positif (> 6 bulan). Selain HBsAG, perlu diperiksa HBeAG
(hepatitis B E-Antigen, anti-HBe dalam serum, kadar ALT (Alanin Amino
Transferase), HBV-DNA (hepatitis B virus-Deoxyribunukleic Acid) serta
biopsy hati. Biasanya tanpa gejala. Sedangkan untuk pengobatannya saat
ini telah tersedia 7 macam obat untuk hepatitis B. prinsip pengobatan tidak
perlu terburu buru tapi jangan terlambat. Adapun tujuan pengobatan
memperpanjang harapan hidup, menurunkan kemungkinan terjadinya
sirosis hepatis atau hepatoma
4) Hepatitis C
Penyebab utamanya adalah sirosis dan kanker hati. Etiologi virus hepatitis
C termasuk golongan virus RNA (ribo nucleic acid). Masa inkubasi 2-24
minggu. Penularan hepatitis C melalui darah dan cairan tubuh, penularan
masa perinatal sangat kecil melalui jarum suntik (IDUs, tattoo) transpaltasi
organ, kecelakaan kerja (petugas kesehatan), hubungan seks dapat
menularkan tetapi sangat kecil. Kronisitasnya 80% penderita akan menjadi
kronik. Pengobatan hepatitis C: kombinasi pegylated interferon dan
ribavirin. Pencegahan hepatitis C dengan menghindari faktor resiko
karena sampai saat ini belum tersedianya vaksin untuk hepatitis C.
5) Hepatitis D
Virus hepatitis D paling jarang ditemukan tapi paling berbahaya. Hepatitis
D juga disebut virus delta, virus ini memerlukan virus hepatitis B untuk
berkembang biak sehingga hanya ditemukan pada orang yang telah
terinfeksi virus hepatitis B. tidak ada vaksin tetapi secara otomatis orang
akan terlindungi jika telah diberikan imunisasi hepatitis B.
6) Hepatitis E
Dahulu dikenal sebagai hepatitis non A-non B. etiologi virus hepatitis E
termasuk virus RNA. Masa inkubasi 2-9 minggu. Penularan melalui fecal
oral seperti hepatitis A. diagnosis dengan didapatkannya IgM dan IgG
antiHEV pada penderita yang terinfeksi. Gejalanya ringan menyerupai
gejala flu, sampai icterus. Pengobatannya belum ada pengobatan
antivirus. Pencegahannya dengan menjaga kebersihan lingkungan,
terutama kebersihan makanan dan minuman. Vaksinasi hepatitis E belum
tersedia.
2. Hepatitis Kronik
Jika penyakit pasien menetap tidak sembuh secara klinik labolatorik atau
gambaran patologik anatomi dalam waktu 4 bulan. Dikatakan hepatitis kronik
jika kelainan menetap lebih dari 6 bulan. Ada 2 jenis hepatitis kronik, yaitu :
a. Hepatitis kronik persisten biasa yang akan sembuh sempurna
b. Hepatitis kronik aktif yang umumnya berakhir menjadi sirosis hepatis
3. Hepatitis Fulminan
Hepatitis yang perjalanan penyakitnya berjalan dengan cepat, icterus menjadi
hebat, kuning seluruh tubuh, timbul gejala neurologi/ensefalopati dan masuk
ke dalam keadaan koma dan kegagalan hati dan ditemukan tanda-tanda
perdarahan. Biasanya penderita meninggal 1 minggu sampai 10 hari
C. ETIOLOGI
Menurut Andra Saferi Wijaya dan Yessie M. Putri (2013) etiologi hepatitis yaitu :
1. Infeksi virus
Type A Type B Type C Type D Type E
Metode Fekal-oral Parentera Parenteral, Parenteral, Fekal oral
transmisi melalui l, seksual, seksual perinatal,
orang lain perinatal jarang, memeluka
orang ke n koinfeksi
orang, dengan
perinatal type B
Keparaha Tak ikterik Parah Menyebar Peningkata Peningkata
n dan luas, dapat n insiden n insiden
asimtomati berkemban kronis dan kronis dan
k g sampai gagal gagal
kronis hepar akut hepar akut
Sumber Darah, Darah, Terutama Melalui Darah,
Virus feses, saliva, melalui darah feses,
saliva semen, darah saliva
sekresi
vagina

2. Reaksi toksik terhadap obat-obatan : menyebabkan toksik untuk hati,


sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut
3. Alcohol : menyebabkan alcohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alcohol
sirosis
4. Bahan-bahan kimia

D. TANDA DAN GEJALA


Manifestasi klinis hepatitis menurut FKUI (2006) terdiri dari:
1. Masa tunas
Virus A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)

2. Fase Pre Ikterik


Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus
berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul),
nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan
pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama
sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39 oC berlangsung selama 2-5 hari,
pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus
B.
3. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu
badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus
meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-
14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pada seluruh badan, rasa lesu
dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4. Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu
hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah
timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa
segar kembali, namun lemas dan lekas capai.

E. PATOFISIOLOGI
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh
infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia.
Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki
suplai darah sendiri. Seiring dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola
normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-
sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat
masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon
sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya,
sebagian besar pasien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar
normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan
suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak
nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya
rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah
billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal,
tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka
terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut di dalam hati. Selain itu juga
terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna
dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel
ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi
(bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin
direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran
dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat
(abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi
ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna
gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan
garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada
icterus (Andra Saferi Wijaya dan Yessie M. Putri, 2013)

Pengaruh alcohol, virus


hepatitis, dan toksin

Inflamasi pada hepar

Gangguan sel-sel darah Hipertermi Peregangan kapsula hati


normal pada sel hepar
Perasaan tidak nyaman di Hepatomegali
kuadran kanan atas
Anoreksia
F. POHON MASALAH Nyeri akut
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

Gangguan metabolisme Obstruksi


karboidrat lemak dan protein Kerusakan konjugasi
Gangguan ekskresi empedu
Bilirubin tidak sempurna
Glikogenesis glukoneogenesis
dikeluarkan melalui duktus
menurun menurun Retensi bilirubin
hepatikus

Regurgitasi pada duktuli Bilirubin direk meningkat


Glikogen dalam hepar
empedu intra hepatik
berkurang
Icterus
Bilirubin direk meningkat
Glikogenolisis menurun
Larut dalam air
Peningkatan garam
Glukosa dalam darah berkurang empedu dalam darah

Prusitus
Cepat lelah
Risiko
ketidakstabilan Perubahan kenyamanan Ekskresi kedalam kemih
Intoleransi kadar glukosa
aktivitas darah Bilirubin dan kemih
berwarna gelap
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Andra Saferi Wijaya dan Yessie M. Putri (2013) pemerikasaan
penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan hepatitis adalah :
1. ASR (SGOT) / ALT (SGPT)
Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian
tampak menurun. SGOT/SGPT merupakan enzim enzim intra seluler yang
terutama berada di jantung, hati dan jaringan skelet, terlepas dari jaringan
yang rusak, meningkat pada kerusakan sel hati
2. Darah Lengkap (DL)
Eritrosit menurun sehubungan dengan penurunan hidup eritrosit (gangguan
enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
3. Leukopeni
Trombositopenia mungkin ada (splenomegali)
4. Diferensia Darah Lengkap
Leukositosis, monositosis, limfosit, atipikal dan sel plasma.
5. Feses
Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
6. Albumin Serum
Menurun, hal ini disebabkan karena sebagian besar protein serum disintesis
oleh hati dan karena itu kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati.
7. Anti HAVIgM
Positif pada tipe A
8. HbsAG
Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
9. Masa Protrombin
Mungkin memanjang (disfungsi hati), akibat kerusakan sel hati atau
berkurang. Meningkat absorbsi vitamin K yang penting untuk sintesis
protombin.
10. Bilirubin serum
Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk, mungkin
berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler)
11. Biopsi Hati
Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis
12. Scan Hati
Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin hati.
13. Urinalisa
Peningkatan kadar bilirubin. Gangguan eksresi bilirubin mengakibatkan
hiperbilirubinemia terkonjugasi. Karena bilirubin terkonjugasi larut dalam air, ia
dsekresi dalam urin menimbulkan bilirubinuria.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan menurut Syaifuddin (2002) adalah:
1. Pada periode akut dan keadaan lemah diberikan cukup istirahat. Istirahat
mutlak tidak terbukti dapat mempercepat penyembuhan tetapi banyak pasien
akan merasakan lebih baik dengan pembatas aktivitas fisik, kecuali diberikan
pada mereka dengan umur orang tua dan keadaan umum yang buruk
2. Obat-obatan
a. Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat penurunan bilirubin
darah. Pemberian bila untuk menyelamatkan nyawa dimana ada reaksi
imun yang berlebihan.
b. Berikan obat-obatan yang bersifat melindungi hati.
Contoh obat : Asam glukoronat/ asam asetat, Becompion, kortikosteroid.
c. Vitamin K pada kasus dengan kecenderungan perdarahan. Obat-obatan
yang memetabolisme hati hendaknya dihindari.
Karena terbatasnya pengobatan terhadap hepatitis maka penekanan lebih
dialirkan pada pencegahan hepatitis, termasuk penyediaan makanan dan air
bersih dan aman. Higien umum, pembuangan kemih dan feses dari pasien
yang terinfeksi secara aman, pemakaian kateter, jarum suntik dan spuit sekali
pakai akan menghilangkan sumber infeksi. Semua donor darah perlu disaring
terhadap HAV, HBV, dan HCV sebelum diterima menjadi panel donor.

I. KOMPLIKASI
Komplikasi hepatitis menurut FKUI (2006) adalah:
1. Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh
akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut
ensefalopati hepatik.
2. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis
hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.
3. Komplikasi yang sering adalah serosis, pada serosis kerusakan sel hati akan
diganti oleh jaringan parut (sikatrik) semakin parah kerusakan, semakin besar
jaringan parut yang terbentuk dan semakin berkurang jumlah sel hati yang
sehat.

J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Biodata pasien
2. Riwayat kesehatan
a. Data demografi
Apakah pasien tinggal / bekerja di lingkungan yang terpapar dengan
infeksi virus dan bahan-bahan kimia ?
b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien bisa datang dengan keluhan demam, sakit kepala, nyeri pada
kuadran kanan atas, mual, muntah, ikterik, lemah, letih, lesu, dan
anoreksia
c. Riwayat kesehatan dahulu
1) Penyakit apa yang pernah diderita pasien ?
2) Apakah pasien memiliki kebiasaan minum alcohol ?
3) Apakah pasien pernah menjalani operasi batu empedu ?
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit hepatitis dan
penyakit infeksi lain ?
3. Data bio-psiko-sosio
Menurut pola fungsi Gordon 1982, terdapat 11 pengkajian pola fungsi
kesehatan :
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pada pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan kaji pasien mengenai:
1) Apakah pasien menjaga kesehatan kebersihan diri dan
lingkungannya ?
2) Apakah pasien mengetahui tentang penyakit hepatitis ?
3) Bagaimana cara pasien menjaga kesehatanya selama sakit ?
b. Pola nutrisi
Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola nutrisi kaji pasien
mengenai:
1) Apakah pasien mengalami kehilangan nafsu makan (anoreksia) ?
2) Apakah pasien mengalami penurunan atau peningkatan berat badan ?
3) Apakah pasien mangalami mual muntah ?
4) Apakah terjadi penimbunan cairan di perut pasien ?

c. Pola eliminasi
Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola eliminasi kaji pasien
mengenai:
1) Apakah urine pasien berwarna gelap ?
2) Apakah pasien mengalami konstipasi atau diare ?
3) Bagaimana konsistensi dari feses pasien ?
4) Apakah feses pasien berwarna seperti tanah liat ?
d. Aktivitas dan Latihan
Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola aktivitas dan latihan
kaji pasien mengenai:
Aktivitas sehari-hari
1) Bagaimanakah pasien beraktifitas dalam pekerjaannya?
2) Apakah tanda gejala dari penyakit hepatitisnya mengganggu
aktifitasnya ?
3) Apakah pasien mengalami kelemahan, kelelahan dan malaise umum
selama beraktifitas ?
Olah raga
1) Apakah pasien bisa melakukan kegiatan olah raga? Jika iya, jenis olah
raga apa yang dilakukan pasien?
e. Tidur dan Istirahat
Dalam pola ini kaji pasien mengenai :
1) Apakah penyakit hepatitisnya mengganggu pola tidurnya ?
2) Apakah selama sakit pasien cenderung ingin tidur ?
f. Sensori, Presepsi dan Kognitif
Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola ini kaji pasien
mengenai:
1) Bagaimanakah tingkat ansietas pasien selama sakit hepatitis?
2) Apakah pasien mengalami nyeri?
Jika iya, lakukan pengkajian dengan menggunakan:
a) P (provoking atau pemacu) : factor yang memperparah atau
meringankan nyeri
b) Q (quality atau kualitas) : kualitas nyeri (misalnya, tumpul, tajam,
merobek)
c) R (region atau daerah) : daerah penjalaran nyeri
d) S (severity atau keganasan) : intensitasnya
e) T (time atau waktu) : serangan, lamanya, frekuensi, dan sebab
g. Konsep diri
Pola ini tidak menjadi focus pengkajian
h. Pola Peran Hubungan
Pada pola peran hubungan kaji pasien mengenai:
1) Apakah pekerjaan pasien?
2) Bagaimanakah kualitas pekerjaan pasien Selama sakit ?
3) Bagaimanakah pasien berhubungan dengan orang lain selama sakit?
i. Manajemen Koping Setress
Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pada pola ini kaji pasien
mengenai :
1) Apakah pasien mengalami stres sejak selama hepatitis ?
2) Bagaimana pasien menghadapi stres yang dimilikinya ?
j. Sistem Nilai Dan Keyakinan
Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola ini menggambarkan
bagaimana keyakinan serta spiritual pasien terhadap penyakitnya
k. Seksual dan Repruduksi
Pola ini tidak menjadi focus pengkajian

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnose keperawatan menurut NANDA 2015-2017 :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (infeksi virus)
2. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient
L. RENCANA KEPARAWATAN
Diagnosea
No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC : Manajemen Nyeri
berhubungan keperawatan diharapkan a. Gali bersama pasien faktor-
dengan agens pasien: faktor yang dapat
cedera biologis NOC : Pain Level menurunkan atau
(infeksi virus) Kriteria Hasil : memperberat nyeri
1. Tidak ada nyeri yang b. Beri informasi mengenai
dilaporkan nyeri seperti penyebab nyeri,
2. Tidak ada ekspresi wajah berapa lama nyeri akan
nyeri dirasakan, dan antisipasi dari
3. Tanda-tanda vital dalam ketikanyamanan akibat
kisaran normal prosedur
c. Ajarkan teknik non
farmakologi (relaksasi) untuk
mengurangi nyeri
d. Kolaborasi dalam pemberian
analgetik
2 Hipertermi Setelah dilakukan asuhan NIC: Manajemen Hipertermi
berhubungan keperawatan diharapkan a. Monitor tanda-tanda vital
dengan penyakit pasien: b. Longgarkan atau lepaskan
NOC : Termoregulasi pakaian
Kriteria Hasil : c. Berikan metode pendinginan
1. Tanda-tanda vital dalam eksternal (misalnya kompres
kisaran normal pada leher, abdomen, ketiak
2. Tidak terjadi hipertermia dan selangkangan serta
3. Melaporkan kenyamanan selimut dingin), sesuai
suhu kebutuhan
d. Monitor suhu tubuh
menggunakan alat yang
sesuai
e. Instruksikan pasien tindakan-
tindakan untuk mencegah
terpapar sinar matahari yang
berlebihan, cari tempat
dimana tersedia AC, dan
pakai pakaian yang tidak
ketat, warna terang dan
ringan
3 Ketidakseimbang Setelah dilakukan asuhan NIC: Manajemen nutrisi
an nutrisi kurang keperawatan diharapkan a. Berikan makanan yang
dari kebutuhan pasien: sudah terpilh (sudah
tubuh NOC : Nutritional status dikonsultasikan dengan ahli
berhubungan Kriteria Hasil : gizi)
dengan 1. Nafsu makan tidak b. Monitor jumlah nutrisi dan
ketidakmampuan terganggu kandungan kalori
mengabsorpsi 2. Tidak ada nyeri perut c. Berikan informasi tentang
nutrient 3. Tidak ada mual dan kebutuhan nutrisi
muntah d. Kaji kemampuan klien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
Daftar Pustaka
Bulechek, G.M. Butcher, H.K. Dochterman, J.M. Wagner, C.M. 2016. Nursing
Interventions Classification (NIC). Singapore : Elsevier Global Rights.

Herdman, T.H. 2015-2017. NANDA Internasional Inc. Diagnosis Keperawatan:


definisi & klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC

Moorhead, S. Johnson, M. Maas, M.L. Swanson, E. 2016. Nursing Outcomes


Classification (NOC). Singapore: Elsevier Global Rights.

Nurarif, A.H dan Kusuma, Hardi. 2015. Aplikasi Asuhan


KeperawatanBerdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC Jilid 2.
Jogjakarta : Medi Action

Reeves J. Charlene, dkk. 2001. Keperawatan medikal bedah. Jakarta : Salemba


Medika

Smeltzer. Suzanne C.2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan
Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8. Jakarta : EGC

Sudoyo A, et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI

Sujono, Hadi. 1999. Gastroenterologi. Alumni Bandung

Wijaya, andra saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
2. Yogyakarta: Nuha Medika