Anda di halaman 1dari 4

HAZARDOUS WASTE TREATMENT WITH CEMENT KILN CO-PROCESSING

Anggota kelompok :

1. Alan Widiatmoko 14513020


2. Arief Muhanza 14513087
3. Multazam Kamaludin 14513089
4. Dwi Arif Pamungkas 14513140
5. Rachmad Fajrin Al Khoiri 14513172

A. Pengertian Cement Kiln Co-Processing

Cement kiln yaitu pemusnahan limbah bahan berbahaya dan beracun


menggunakan thermal dengan tinggi suhu hingga 20000C. Limbah B3 sisa yang
dimusnahkan dengan menggunakan teknologi co-processing digunakan sebagai bahan
baku alternatif.

Co-Processing adalah pemanfaatan atau pemusnahan limbah industri untuk


menggantikan bahan baku mineral alam (material recycling) melalui pembakaran
terkendali yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah limbah dalam bentuk
recovery energi dan material sebagai bahan baku proses produksi sehingga lebih ramah
lingkungan.

B. Jenis Limbah B3

Limbah B3 yang sudah dimusnahkan sebagai bahan baku alternatif adalah

1. Paper sludge (industri kertas),


2. Dust EAF (industri besi & baja),
3. Bottom ash & fly ash (pembangkit listrik),
4. Spent earth (industri minyak goreng),
5. Filter Aid (industri bahan makanan),
6. Drilling cutting (pengeboran minyak bumi),
7. Resin & clay alumina (indsutri petrochemical),
8. Dust aluminium(industri aluminium),
9. Navgart & flux (industri pipa),
10. BFS / Blast Furnace Slag (limbah besi & baja) dan
11. COCS (tanah terkontaminasi).

Limbah B3 tersebut diatas bisa digunakan sebagai subtitusi bahan baku batu kapur
& tanah liat. Komponen mineral limbah B3 tersebut hampir sama dengan komponen
mineral batu kapur dan tanah liat yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan
semen. Semua limbah B3 tersebut rata-rata memiliki kandungan SiO2, Al2O3 dan
CaCO3 diatas 40 %.
C. Proses Pengolahan

Quality Monitoring & Pembuatan Raw Mix Design

Monitoring kualitas berfungsi untuk mengetahui komponen mineral (SiO2,


Al2O3, CaO, Fe2O3) dan logam berat dalam limbah B3 yang diterima. Monitoring
kualitas dilakukan dengan mengambil sampel setiap kedatangan limbah B3. Raw Mix
Design berfungsi untuk menentukan komposisi mineral dalam raw meal. Rew meal
terdiri dari campuran bahan baku utama (batukapur, tanah liat, pasir besi & pasir
silika) dengan limbah B3. Komposisi mineral yang harus diatur adalah SiO2, Al2O3,
CaO, MgO, AM (Alumina Modulus), SM (Silika Modulus), LSF dan H2O.
Feed Preparation

Limbah B3 yang akan dimusnahkan dihandling terlebih dahulu sebelum masuk ke


dalam hopper. Limbah B3 dicampur (mix) dengan bahan baku tanah liat untuk
mendapatkan komposisi mineral raw meal sesuai dengan raw mix design.
Pencampuran dilakukan menggunakan loader, setelah mendapat instruksi dari Seksi
Pengendalian Proses terkait dengan perbandingan komposisi mix diantara bahan baku
utama dengan limbah B3 tersebut.

Proses Feeding System.

Setelah limbah B3 selesai di preparasi, maka limbah B3 tersebut dimasukkan ke


dalam hopper. Didalam hopper telah dilengkapi dengan crusher jenis cutter yang
berfungsi untuk mencacah limbah apabila masih dalam bentuk bongkahan atau ukuran
besar. Dari hopper, limbah masuk ke dalam belt conveyor yang sudah dilengkapi
dengan magnetic sparator dan belt scale (timbangan) menuju ke titi pertemuan belt
conveyor yang membawa batukapur. Setelah limbah B3 dan bahan baku (batukapur &
tanah liat) bertemu, maka campuran material ini dibawa belt conveyor lagi menuju
tempat pembuatan mix pile. Didalam mix pile ini campuran material dilakukan
homogenisasi lagi dengan menggunakan alat tripper untuk memperoleh raw meal
yang berkualitas tinggi. Setelah mix pile jadi, maka campuran material tersebut
diambil oleh tripper secara layer per layer untuk dibawa ke Raw Mill. Didalam Raw
Mill, campuran material tersebut diperkecil ukurannya (size reduction) dan
dikeringkan hingga kadar air tertentu. Setelah masuk kedalam Raw Mill, maka
campuran material tersebut menjadi Kiln Feed yang akan dibakar di dalam Kiln
dengan suhu 1400 oC. Pada suhu ini, limbah B3 tadi akan melebur menjadi produk
dan logam beratnya akan musnah.

Environmental Monitoring

Monitoring lingkungan harus dilakukan setelah menggunakan limbah B3.


Kegiatan monitoring lingkungan yaitu terdiri dari pengukuran udara emisi (partikulat,
Nox, Sox) disetiap cerobong dan udara ambient dilingkungan pabrik yang dilakukan
setiap 3 bulan sekali, pengukuran dioxin furans yang dilakukan setiap 3 tahun
sekali, pengukuran water (surface & ground), odor dan noise setiap 3 bulan
sekali, human monitoring (medical checkup) setiap satu tahun sekali, dan product
monitoring (clinker & semen) setiap bulan sekali.
D. Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan
Dapat menghemat biaya produksi utama karena bahan baku yang digunakan berasal
dari limbah b3, Mengurangi limbah b3 dengan cara mengolahnya menjadi bahan baku
produk semen, serta menghilangkan kandungan berbahaya yang dapat mencemari
lingkungan,

Kerugian
Biaya instalasi dan monitoring serta perawatan relatif mahal untuk skala industri
karena diperlukan pemanas dan pendingin, cement kiln dikenal untuk melepaskan
debu, CO2, NOx dan SO2 keudara hal ini akan berdampak terkontaminasinya
lingkungan sekitar yang tercemar baik manusia maupun mahluk hidup lainnya.

E. Daftar Pustaka

Vijgen , J, Dr.Ir. Ron McDowall.2010.Cement Kiln Co-Processing (High Temperature


Treatment). Auckland New Zealand for Secretariat of the Basel Convention
Lauber, J.1982. Burning Chemical Waste as Fuels in Cement Kilns.Departemen of
Environmental Consservation : New york