Anda di halaman 1dari 10

ANALISA PENGAKUAN PENDAPATAN PADA PT TUNAS BARU

SULAWESI DI MAKASSAR

RUSDIAH HASANUDDIN
STIE YPUP Makassar

ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengetahui metode pengakuan pendapatan yang ditetapkan oleh PT.
Tunas Baru sulawesi sebagai perusahaan pengembang real estate,, apakah telah sesuai dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 44. Metode Analisa yang digunakan adalah ,analisa
deskriptif. Komparatif ,yaitu suatu analisa yang menguraikan serta membandingkan Pengakuan
Pendapatan yang diterapkan oleh PT. Tunas Baru Sulawesi dengan metode Pengakuan Pendapatan
yang sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi No 44, Hasilnya PT. Tunas Baru Sulawesi
menggunakan Accrual penuh, sedangkan Pernyataan Standar Akuntansi No. 44 Menganjurkan
untuk mengakui Pendapatan atas penjualan cicilan yang melebihi 12 bulan berdasarkan nilai
sekarang dengan mengakui pendapatan bunga sebesar 2%.
Kata kunci : Metode Pengakuan Pendapatan, PSAK no. 44.

PENDAHULUAN
Pembangunan nasional mempunyai tujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang
adil, makmur, dan sejahtera baik secara spiritual maupun materiil. Untuk itu pemerintah berusaha
meningkatkan, mengembangkan dan mendorong seluruh sumber daya yang dimiliki agar dapat
mewujudkan tujuan perkembangan tersebut. Banyak sumber daya yang telah kita manfaatkan untuk
mencapai tujuan-tujuan pembangunan tersebut, salah satunya ialah industri real estat.
Sistem pembayaran atas transaksi penjualan dalam suatu perusahaan pengembang real estat
umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu secara tunai dan kredit (cicilan) yang mana sistem
pembayaran atas transaksi penjualan tersebut dilunasi dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat
menimbulkan permasalahan dalam pengakuan pendapatan dan dapat menyebabkan kemungkinan
munculnya kredit macet yang sangat tinggi serta peningkatan terhadap jumlah pajak yang hraus
dibayar oleh perusahaan pengembang real estate.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mencoba membahas masalah di atas yang
berjudul Analisis Pengakuan Pendapatan Pada PT. Tunas Baru Sulawesi (TBS), Makassar.
Rumusan Masalah
Apakah penerapan metode pengakuan pendapatan yang digunakan oleh PT. Tunas Baru Sulawesi
(PT.TBS) Telah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 44.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui metode pengakuan pendapatan yang ditetapkan oleh PT. TBS sebagai
perusahaan pengembang real estat, apakah telah sesuai dengan PSAK no. 44.
Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka hipotesis yang dapat dikemukakan adalah Diduga
bahwa metode pengakuan pendapatan yang diterapkan oleh perusahaan belum sesuai dengan PSAK
no. 44.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada PT. Tunas Baru Sulawesi, yang terletak di JL. Dahlia No. 34
Makassar.
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan penulis adalah Analisis Deskriptif Komparatif, yaitu suatu analisis
yang menguraikan serta membandingkan pengakuan pendapatan yang diterapkan pada PT. Tunas
Baru Sulawesi, dengan metode pengakuan pendapatan yang sesuai dengan PSAK no. 44.

TINJAUAN PUSTAKA
Pendapatan
Committee on terminology, APB statement dan FASB statement, mendefinisikan pendapatan
sebagai berikut (Harahap, 2007: 239):
a). Committee on terminology mendefinisikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang dan jasa
yang dibebankan kepada pelanggan atau mereka yang menerima jasa. Definisi ini
menggunakan pendekatan revenue expense.
b). APB mendefinisikan sebagai kenaikan gross di dalam asset dan penurunan gross dalam
kewajiban yang dinilai berdasarkan prinsip akuntansi yang berasal dari kegiatan mencari laba.
Definisi ini seolah-olah merupakan pendekatan revenue expense, tetapi kalimat sesuai dengan
prinsip akuntansi, jelas ini menunjukkan pendekatan asset liability.
Dalam literatur akuntansi terdapat tiga konsep yang membahas sifat-sifat dasar dan definisi
pendapatan berdasarkan proses aliran (flow process). Adapun konsep-konsep tersebut meliputi :
1). Konsep produk (product concept).
2). Konsep aliran keluar (out flow concept).
3). Konsep aliran masuk (inflow concept).
Konsep produk (product concept) yang dikembangkan oleh Paton dan Littleton,
beranggapan bahwa penciptaan barang atau jasa adalah produk (hasil) dari sebuah perusahaan.
Konsep ini tidak banyak digunakan karena definisi pendapatan menurut konsep ini tidak
menjelaskan pengukuran (jumlah) dan saat pengakuan dari pendapatan.
Disamping menjelaskan pengertian pendapatan, FASB juga menetapkan tiga karakteristik
dari pendapatan yang rinciannya adalah sebagai berikut:
1). Pendapatan (revenue) merupakan puncak (culmination) dan suatu proses usaha (earning
process).
2). Pendapatan (revenue) adalah arus masuk atau diharapkan akan masuk sebagai akibat dari
operasi utama perusahaan.
Suatu penghasilan akan diakui sebagai penghasilan pada periode kapan kegiatan utama yang
perlu untuk menciptakan dan menjual barang dan jasa itu telah selesai (Weygandt, dkk. 2008:54).
Dalam hal waktu yang dimaksud disini ada empat alternatif, yaitu :
1). Selama produksi;
2). Pada saat produksi selesai;
3). Pada saat penjualan;
4). Pada saat penagihan kas;
Ke empat alternatif ini sama-sama dipakai dalam pengakuan pendapatan. Pengakuan
pendapatan selama proses produksi berlangsung diterapkan pada proyek pembangunan jangka
panjang. Pada saat selesainya produksi dapat diterapkan pada kegiatan pertanian atau
pertambangan, pada saat penjualan dipakai untuk barang perdagangan, pada saat penagihan
diterapkan pada metode penjualan angsuran.
Berdasarkan pendekatan di atas, pengakuan pendapatan (revenue) dapat diikhtisarkan pada
tabel 1, sebagai berikut :
Tabel 1.
Kriteria Pengakuan Pendapatan

No Pengakuan Pendapatan Kriteria Contoh

Tersedia harga pada Kontrak Jangka

1 kontrak atau pada setiap panjang


Selama produksi
tahap produksi
Harga pasar tidak dapat Produk pertanian,
2 Saat produksi selesai
dipastikan atau stabil, pekerjaan jasa,
perkiraan biaya pemasaran dan lain-lain
tidak materiil
Penagihan diestimasikan Barang dagangan
3 Saat penjualan
secara baik pada umumnya
Adanya ketidakpastian Penjualan dengan

4 Saat penerimaan yang tinggi dalam cicilan atau


tagihan penjualan penagihan piutang angsuran
Sumber : Hendriksen ,2000:176). Teori Accounting.

Definisi Beban
FASB (SFAC 6, paragraph 80) mendefinisikan biaya (beban) sebagai arus keluar atau
penggunaan harta lainnya atau peningkatan hutang atau kombinasi keduanya dalam suatu periode,
karena penyerahan atau produksi barang-barang, jasa-jasa, atau aktivitas-aktivitas lainnya yang
merupakan operasi utama perusahaan.
Berdasarkan definisinya, FASB menetapkan karakteristik dari beban sebagai berikut :
Beban merupakan pengorbanan dari suatu proses usaha (earnings process). Beban adalah arus
keluar atau diharapkan akan keluar sebagai akibat dari operasi utama perusahaan.
Arus keluar tersebut disajikan secara bruto, dalam arti tidak dikurangkan (offset) secara langsung
dengan pendapatannya.
Kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, paragraph 70(b)
mendefinisikan beban sebagai berikut:
Pengukuran Beban
Banyak pembahasan controversial tentang pengukuran beban. Pada dasarnya pengukuran
beban melibatkan besaran jumlah yang harus dicatat sebagai beban. Pengukuran beban yang paling
umum, adalah :
1) Harga perolehan historis (cost).
2) Nilai sekarang (current price).
Oleh karena banyak beban yang terikat dalam waktu yang relatif singkat, selisih antara
harga pokok historis dan nilai sekarang dianggap tidak material.
Pengakuan beban
Dalam akuntansi, pengakuan beban dilakukan dengan menerapkan prinsip penandingan
(matching principle). Prinsip penandingan mengatakan bahwa beban harus diakui dalam periode
yang sama dengan pengakuan pendapatannya (Hery, 2009:142).
Metode ini juga digunakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia seperti dapat dilihat dari kutipan
berikut ini ( SAK, Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, paragraf 95) :
Berdasarkan perbedaan tersebut di atas, Fischer dkk (2005:26) berpendapat bahwa Terdapat
beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengakui pendapatan real estat, yaitu metode akrual
penuh, metode persentase penyelesaian, metode angsuran, metode deposit dan metode recovery.

Pendapatan atas Penjualan dan Biaya Pengembangan Proyek Real Estat Berdasarkan PSAK
no. 44
Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk transaksi-transaksi yang
secara khusus, berkaitan dengan aktivitas pengembangan real estat (real estate development
activities). Hak-hak umum atau hal-hal yang tidak diatur dalam pernyataan ini, harus diperlakukan
dengan mengacu pada prinsip yang berlaku umum. PSAK no. 44 merupakan suatu pedoman bagi
perusahaan yang bergerak dalam bidang properti, walupun aktivitas pengembangan real estat
tersebut bukan aktivitas utama perusahaan.
Unit real estat mencakup (1) unit properti perumahan dan atau komersial dan atau industri
beserta kapling tanahnya, dan (2) kapling tanah tanpa bangunan.
Pengakuan pendapatan atas transaksi penjualan unit real estat
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 44, mendefinisikan pendapatan sebagai:
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomik yang timbul dari aktivitas
normal perusahaan selama suatu periode akuntansi apabila arus masuk tersebut meningkatkan
jumlah ekuitas selain peningkatan yang berasal dari kontribusi penanaman modal.
a. Pendapatan penjualan bangunan rumah, ruko, bangunan sejenis lainnya beserta kapling
tanahnya.
b. Pendapatan penjualam bangunan rumah, ruko, beserta bangunan sejenis lainnya beserta kapling
tanahnya diakui dengan metode akrual penuh (full accrual method) apabila seluruh kriteria
berikut terpenuhi :
1) Proses penjualan telah selesai.
2) Harga jual akan tertagih.
Pengakuan pendapatan dengan metode akrual penuh dilakukan atas seluruh nilai jual dengan
cara sebagai berikut :
(a) Piutang bersih didiskontokan ke nilai sekarang dengan menggunakan tingkat bunga yang
sesuai, yang tidak boleh lebih dari tingkat bunga yang diperjanjikan dalam pengikatan atau
perjanjian jual beli. Diskonto tidak dilakukan apabila umur sisa tagihan kurang dari 12 bulan.
(b) Dibuat penyisihan untuk piutang yang diperkirakan tidak akan tertagih.
Tagihan penjual bersifat subordinasi terhadap pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli
dimasa mendatang bila penjual mengizinkan pembeli untuk menggunakan aktiva real estat yang
dijualnya tersebut sebagai hipotik pertama dan tagihannya subordinasi terhadap hak penagih hipotik
tersebut.
Pendapatan penjualan kapling tanah tanpa bangunan, diakui dengan menggunakan metode
akrual penuh (full acrcrual method) pada saat pengikatan jual beli apabila seluruh kriteria berikut
ini terpenuhi:
1) Jumlah pembayaran oleh pembeli telah mencapai 20 % dari harga jual yang telah disepakati
dan jumlah tersebut tidak dapat diminta kembali.
2) Harga jual akan tertagih.
3) Tagihan penjual tidak subordinasi terhadap pinjaman lain yang diperoleh pembeli di masa
Untuk pengakuan pendapatan penjualan kapling tanah tanpa bangunan, kewajiban penjual
untuk membangun fasilitas yang dijanjikan atau kewajiban penjual dianggap telah terpenuhi
apabila fasilitas-fasilitas pokok (seperti jalan penghubung dan saluran drainase / pembuangan)
telah selesai dibangun.
Apabila kriteria pengakuan pendapatan penjualan kapling tanpa bangunan dengan metode
akrual penuh (full accrual method) tidak terpenuhi, maka penjualan kapling tanah tanpa bangunan
diakui dengan metode deposit (deposit method).
Pengakuan Biaya (Beban) Pengembangan Proyek Real Estat
Biaya yang berhubungan langsung dengan aktivitas pengembangan real estat dan biaya
proyek tidak alngsung yang berhubugan dengan beberapa proyek real estat dialokasi ke proyek
pengembangan real estat. Biaya yang tidak jelas hubungannya dengan suatu proyek real estat,
seperti biaya umum dan administrasi, diakui sebagai beban pada saat terjadinya.
Berikut ini adalah biaya aktivitas pengembangan real estat yang dikapitalisasi ke proyek
pengembangan real estat:
(a) Biaya praperolehan tanah (preacquisition cost).
(b) Biaya perolehan tanah.
(c) Biaya yang secara langsung berhubungan dengan proyek.
(d) praperolehan tanah yang dikapitalisasi adalah biaya yang berhubungan dengan aktivitas
perolehan tanah. Biaya praperolehan tanah mencakup, tetapi tidak terbatas pada komponen
biaya sebagai berikut :
a) Biaya pengurusan izin pemerintah.
b) Biaya konsultasi hukum.
c) Biaya studi kelayakan.
Pada saat tanah berhasil diperoleh, biaya praperolehan tanah dipindahkan ke biaya proyek
pengembangan real estat. Apabila besar kemungkinan (probable) tanah tidak akan berhasil
diperoleh, biaya praperolehan tanah langsung diakui sebagai beban pada laporan laba rugi.

ANALISIS PEMBAHASAN
Sesuai dengan uraian diatas, terlihat bahwa perusahaan mengakui pendapatan dan profit
seluruhnya pada saat terjadinya penjualan. Hal tersebut sangat beresiko mengingat perusahaan pada
kenyataannya belum menerima secara penuh uang yang diakui sebagai pendapatan tersebut. Selain
itu piutang yang dimiliki perusahaan belum seutuhnya tertagih namun perusahaan telah mengakui
adanya pendapatan dan profit.
1. Pengunaan metode instalment sales
a) Pada saat penjualan
Dengan metode installment sales yang mengakui laba kotor pada saat penagihan:
Pencatatan transaksi penjualan tanggal 07-07-2009 secara cicilan (kredit) kepada H.
Makkalawang sebesar Rp.290.000.000,- sebagai berikut:
Piutang KPR Rp.290.000.000,-
Penjualan T.60 Aroepala Rp.290.000.000,-

(Pencatatan penjualan oleh perusahaan)

Piutang KPR Rp.290.000.000,-


Penjualan T.60 Aroepala Rp.290.000.000,-
(Pencatatan penjualan berdasarkan metode installment sales)

Dalam pencatatan transaksi penjualan tersebut tidak terdapat perbedaan antara pencatatan
yang dilakukan oleh perusahaan dengan pencatatan dengan menggunakan metode
installment sales.
b) Pembebanan harga pokok penjualan
Dengan metode installment sales yang mengakui laba kotor pada saat penagihan, maka
pencatatan pembebanan harga pokok penjualan yang dilakukan sebagai berikut :

HPP T.60 Aroepala Rp.163.150.000,-


Hutang konstruksi T.60 Aroepala Rp.163.150.000,-

(Pencatatan pembebanan HPP oleh perusahaan)

HPP T.60 Aroepala Rp.163.150.000,-


Persediaan rumah siap dijual Rp.163.150.000,-

(Pencatatan pembebanan HPP berdasarkan metode installment sales)

Antara penjurnalan yang dilakukan oleh perusahaan atas pembebanan harga pokok
penjualan terlihat perbedaan. PT. TBS pada saat pembebanan HPP pada sisi kredit
menggunakan akun Hutang konstruksi T.46 Aroepala, bukan akun Persediaan rumah siap
dijual. Hal ini disebabkan oleh strategi perusahaan yang mempengaruhi kebijakan
akuntansi yang diterapkan.

c) Penerimaan pembayaran uang muka dan pembayaran cicilan


Pencatatan penerimaan pembayaran uang muka dari H. Makkalawang sejak penerimaan
tanda jadi hingga pelunasan, sebagai berikut:
Kas Rp.43.000.000,-
Uang Muka T.60 Aroepala Rp.43.000.000,-

(Pencatatan penerimaan uang muka tanggal 07-07-2009 oleh perusahaan)

Kas Rp.44.000.000,-
Uang Muka T.60 Aroepala Rp.44.000.000,-

(Pencatatan penerimaan uang muka tanggal 28-07-2009 oleh perusahaan)

Kas Rp.43.000.000,-
Piutang KPR Rp.43.000.000,-
(Pencatatan penerimaan uang muka tanggal 07-07-2009 bedasarkan metode
installment sales)

Kas Rp.44.000.000,-
Piutang KPR Rp.44.000.000,-

(Pencatatan penerimaan uang muka tanggal 28-07-2009 berdasarkan metode


installment sales)

Dari pencatatan-pencatatan diatas, dapat dilihat bahwa perusahaan mencatat kas masuk
sebagai hutang. Sedangkan berdasarkan metode installment sales, kas masuk harus dicatat sebagai
piutang. Hal ini terjadi disebabkan perusahaan menerapkan kebijakan uang muka 30%, sehingga
uang masuk diasumsikan sebagai hutang yang mana apabila sewaktu-waktu pelanggan
membatalkan pembelian rumah, maka berdasarkan ketentuan yang telah disepakati pelanggan
masih mungkin untuk mendapatkan uangnya kembali yang telah dibayarkan ke perusahaan.
Saldo penerimaan atas pembayaran uang muka sampai pada transaksi ini adalah:
Tanggal pembayaran :

07-07-2009 Rp.43.000.000,-

28-07-2009 Rp.44.000.000,- (+)

Jumlah Pembayaran Rp 87.000.000,-

Jumlah penerimaan uang muka telah mencapai 30% dari harga jual rumah, yaitu
Rp.290.000.000,- X 30% = Rp.87.000.000,-, oleh sebab itu perusahaan melakukan jurnal
penyesuaian untuk mengalihkan hutang penerimaan uang muka menjadi penerimaan piutang KPR,
sebagai berikut :

Uang Muka T.60 Aroepala Rp. 87.000.000,-


Piutang KPR Rp. 87.000.000,-

(Pencatatan penyesuaian uang muka ke piutang KPR oleh perusahaan)

Setelah penyesuaian uang muka ke piutang KPR, antara pencatatan yang dilakukan oleh
perusahaan dan pencatatan angsuran berdasarkan metode installment sales, tidak terdapat
perbedaan.
Saldo piutang KPR yang terdapat dalam buku besar setelah perusahaan menerima
pembayaran uang muka dari pembeli sebesar 30% adalah sebesar Rp.203.000.000,- dari
pembayaran cicilan pertama dan kedua, seperti yang terlihat pada tabel 3.
d) Pada saat tutup buku
Untuk mengetahui seberapa besar laba kotor yang direalisasi, dilakukan perhitungan
sebagai berikut :
Tabel 2
Penerimaan Kas 2009
2009
Penjualan Rp 290.000.000,00
Harga Pokok Penjualan Rp 163.150.000,00
Laba kotor Rp 126.850.000,00

Penerimaan kas selama tahun 2009


07/07/2009 Rp 43.000.000,00
28/07/2009 Rp 44.000.000,00
31/08/2009 Rp 14.500.000,00
30/09/2009 Rp 14.500.000,00
31/10/2009 Rp 14.500.000,00
30/11/2009 Rp 14.500.000,00
31/12/2009 Rp 14.500.000,00 +
Jumlah Rp 159.500.000,00

Sumber : Data diolah.


Dari data tabel penerimaan kas diatas dapat diketahui tingkat realisasi laba kotor sebagai
berikut :

Laba kotor
% Laba yang direalisasi = x 100%
Penjualan

Rp 126.850.000,00
= x 100%
Rp 290.000.000,00

% Laba yang direalisasi = 44%


Laba kotor yang direalisasi dan ditangguhkan untuk tahun 2009 dapat dihitung sebagai
berikut :

Tingkat laba kotor tahun berjalan 44%


Kas yang tertagih dari penjualan tahun berjalan Rp 159.500.000,00

Laba kotor yang direalisasi Rp 70.180.000,00


(44% x Rp. 159.500.000,-)
Laba kotor yang ditangguhkan Rp 56.670.000,00
(Rp. 126.850.000,- - Rp. 70.180.000,-)

Berdasarkan perhitungan-perhitungan tersebut, maka pada saat penutupan buku, pencatatan


yang dilakukan berdasarkan metode installment sales sebagai berikut :
Penjualan T.60 Aroepala Rp.290.000.000,-
HPP T.60 Aroepala Rp.163.150.000,-
Laba kotor yang ditangguhkan Rp.126.850.000,-

(Untuk menutup penjualan dan HPP)

Laba kotor yang ditangguhkan Rp.70.150.000,-


Laba kotor yang direalisasi Rp.70.150.000,-

(Untuk menutup laba kotor yang ditangguhkan pada laba kotor yang direalisasi)

Laba kotor yang direalisasi Rp.70.150.000,-


Ikhtisar laba rugi Rp.70.150.000,-

(Untuk menutup laba kotor yang direalisasi pada ikhtisar laba rugi)

Berdasarkan pencatatan oleh perusahaan saat penutupan buku pada halaman 47, dapat
diketahui bahwa perusahaan mengakui pendapatan atas penjualan kavling 1E.01 sebesar
Rp.126.850.000,-. Sedangkan berdasarkan metode installment sales yang mengakui pendapatan
berdasarkan kas yang diterima, maka pendapatan yang diterima oleh perusahaan selama tahun 2009
atas penjualan kavling 1E.01 hanyalah sebesar Rp. 70.150.000,-. Berarti pengakuan pendapatan
yang dilakukan perusahaan lebih besar daripada kas yang diterima, yakni Rp.56.670.000,- yang
akan diterima pada tahun 2010.

Tabel 5.
Rincian Pembayaran Present Value
.
Bunga Cicilan Piutang Saldo
cash
2% Rp 175.539.900
1 Rp 14.500.000 Rp 3.510.798 Rp 10.989.202 Rp 164.550.698
2 Rp 14.500.000 Rp 3.291.014 Rp 11.208.986 Rp 153.341.712
3 Rp 14.500.000 Rp 3.066.834 Rp 11.433.166 Rp 141.908.546
4 Rp 14.500.000 Rp 2.838.171 Rp 11.661.829 Rp 130.246.717
5 Rp 14.500.000 Rp 2.604.934 Rp 11.895.066 Rp 118.351.651
6 Rp 14.500.000 Rp 2.367.033 Rp 12.132.967 Rp 106.218.684
7 Rp 14.500.000 Rp 2.124.374 Rp 12.375.626 Rp 93.843.058
8 Rp 14.500.000 Rp 1.876.861 Rp 12.623.139 Rp 81.219.919
9 Rp 14.500.001 Rp 1.624.398 Rp 12.875.603 Rp 68.344.317
10 Rp 14.500.002 Rp 1.366.886 Rp 13.133.116 Rp 55.211.201
11 Rp 14.500.003 Rp 1.104.224 Rp 13.395.779 Rp 41.815.422
12 Rp 14.500.004 Rp 836.308 Rp 13.663.696 Rp 28.151.727
13 Rp 14.500.005 Rp 563.035 Rp 13.936.970 Rp 14.214.756
14 Rp 14.500.006 Rp 284.295 Rp 14.215.711 Rp -
Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dapat diperoleh realisasi dari laba kotor
yang diterima oleh perusahaan pada akhir tahun adalah sebagai berikut :

Laba kotor ditangguhkan = Rp.260.000.000,- ( - ) Rp.126.850.000,-


= Rp.133.150.000,-
% Laba kotor = Laba kotor ditangguhkan : piutang x 100%
= ( Rp.133.150.000,- : Rp.290.000.000,-)x 100%
= 45%
Laba kotor yang direalisasi = 45% x Rp.159.500.000,-
= Rp.71.775.000,-

Dengan metode pengakuan pendapatan yang digunakan perusahaan, terlihat bahwa pengakuan
laba oleh perusahaan untuk penjualan yang telah mencapai 30% diakui terlalu besar, yaitu Rp.
126.850.000,-. Padahal dalam kenyataannya kas yang diterima perusahaan belum sesuai dengan
laba kotor yang diakui oleh perusahaan.

KESIMPULAN
1. Dalam mengakui pendapatannya, perusahaan menggunakan metode akrual penuh.
2. Pengakuan pendapatan diakui oleh perusahaan selama produksi berlangsung, yakni setelah
tersedia harga kontrak yang disepakati antara perusahaan dan pembeli.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Riah dan Belkouni. 2006. Teori Akuntansi. Buku Satu; Edisi Lima. Salemba Empat.
Jakarta.
Arifin, S. 1999. Pokok-Pokok Akuntansi Lanjutan. Edisi Revisi. Liberty. Yogyakarta.
Fischer, Taylor, Lee. 2005. Advance Accounting (Akuntansi Keuangan Lanjutan). Erlangga.
Jakarta.
Harahap, Sofyan. S. 2007. Teori Akuntansi, edisi revisi, Penerbit : PT.Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Hendriksen, Eldon. S dan F. Van Breda. 2000. Teori Accounting. Interaksara. Batam.
Hery, SE. Msi. 2009. Teori Akuntansi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Horngren, Charles T. Walter T. Bamber, Linda Smith. 2006. Akuntansi. edisi enam. jilid satu.
PT.Indeks kelompok Gramedia. Jakarta
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.
Kieso, Donald E. Weygand, Jerry J. Warfield , Terry D. 2007. Akuntansi Intermediate. edisi dua
belas. Erlangga. Jakarta.
Santoso, Imam . 2009. Akuntansi Keuangan Menengah. Buku dua. Refika Aditama. Bandung.
Skousen, K. Fred, Stice, Earl K. Stice, James D. 2009. Akuntansi Keuangan. edisi enam belas.
Salemba Empat. Jakarta.
Weygandt, Jery J., Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel. 2008. Pengantar Akuntansi. Buku dua.
Edisi 7. Salemba Empat. Jakarta.