Anda di halaman 1dari 58

Teknik pemantauan dan analisa pemeliharaan prediktif

1. Vibrasi
Digunakan untuk pemantauan dan analisa sifat-sifat getaran mesin untuk mencari
sumber-sumber penyebab vibrasi yang dapat menyebabkan kerusakan. Alat ukur
yang dipakai adalah : Vibration meter, Vibration monitor dan Vibration analyzer,
yang dipasang permanen atau portable, dapat dipasang pada bagian mesin yang
diperkirakan sensitif terhadap vibrasi seperti : rumah bearing, motor listrik, pompa
dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil pengukuran dan analisa vibrasi yang
optimal, dapat dilakukan pada suatu beban tertentu atau minimal pada beban : 60
%, 75 % dan 90 %. Untuk beban 100 % bisa dilakukan jika dianggap perlu. Grafik
data bisa digabung dengan parameter lain seperti : temperatur minyak pelumas
bearing dan tekanan minyak pelumas bearing.
2. Kualitas Air Pendingin
Pemantauan dilaksanakan pada saat operasi dengan memantau temperatur air
pendingin masuk dan keluar mesin, memantau peralatan-peralatan sirkulasi air
pendingin seperti bekerjanya pompa-pompa air, radiator, jacket water tank,
bekerjanya termostat, water softener dan lain-lain. Sedangkan secara periodik
dilakukan pemeriksaan kualitas dan sifat kimia air pendingin di laboratorium
seperti : deposit (endapan), pH, senyawa kimia (Na, SiO2 dll), laju korosi dan
lain-lain. Dengan adanya analisa kualitas air pendingin, maka dapat diketahui
apakah diperlukan water treatment khusus atau tidak.
3. Thermografi
Pemantauan dilakukan untuk mencari lokasi sumber panas yang tidak normal
dengan menggunakan termometer (manual atau digital), thermocouple, radiasi
infra merah (infrared temperature). Ketidaknormalan disebabkan : isolasi yang
tidak baik, kurangnya pelumasan, kebocoran, korosi, keausan bearing, beban lebih
dan panas berlebih. Objek yang diamati dan dimonitor seperti : generator, cylinder
head, motor listrik, pompa, rumah bearing.
4. Tribologi
Fokus pelaksanaannya adalah mengamati dan menganalisa minyak pelumas.
Untuk kondisi harian, analisa minyak pelumas dapat dimonitoring dari kondisi
seperti : laju aliran minyak pelumas, suhu, tekanan dan sebagainya. Sedangkan
secara periodik adalah hasil analisa dari laboratorium seperti : viskositas, kadar
air, TAN, TBN, titik nyala, titik beku, warna, sediment dan lain-lain. Dari hasil
analisa, maka dapat ditentukan kapan penggantian atau treatment minyak pelumas
dilakukan.

Guide vane (sudu pengarah) atau wicket gate merupakan bagian dari turbin air
yang fungsi utamanya adalah mengubah energi tekanan cair menjadi energi
momentum
Gerakan turbin diatur oleh suatu mekanisme peralatan dalam governor cabinet,
gerakan buka tutup guide vane terjadi secara hidrolik dengan menggunakan
servomotor yang akan berkerja
isobutana (C4H10), amonia atau propana

Off Grid System


Merupakan sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk daerah-daerah
terpencil/pedesaan yang tidak terjangkau oleh jaringan PLN.
Off Grid System disebut juga Stand-Alone PV system yaitu sistem pembangkit
listrik yang hanya mengandalkan energi matahari sebagai satu-satunya sumber
energi utama
On Grid /Grid Tie System
Sistem ini menggunakan solar panel (panel photovoltaic) untuk menghasilkan
listrik yang ramah lingkungan dan bebas emisi. Dengan adanya sistem ini akan
mengurangi tagihan listrik rumah tangga, dan memberikan nilai tambah pada
pemiliknya.
Rangkaian sistem ini akan tetap berhubungan dengan jaringan PLN dengan
mengoptimalkan pemanfaatan energi dari panel surya untuk menghasilkan energi
listrik semaksimal mungkin.
ybrid System
Adalah penggunaan 2 sistem atau lebih pembangkit listrik dengan sumber energi
yang berbeda. Umumnya sistem pembangkit yang banyak digunakan untuk hybrid
adalah genset, PLTS, mikrohydro, tenaga angin.
Sistem ini merupakan salah satu alternatif sistem pembangkit yang tepat
diaplikasikan pada daerah-daerah yang sukar dijangkau oleh sistem pembangkit
besar seperti jaringan PLN atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

pabila sumber daya panas bumi mempunyai temperatur sedang, fluida panas
bumimasih dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik
dengan menggunakan pembangkit listrik

Siklus binari (binary plant). Dalam siklus pembangkit ini, fluida sekunder
((isobutane,isopentane or ammonia) dipanasi oleh fluida panasbumi melalui mesin
penukar kalor atau heat

Injector Salah satu komponen utama dalam sistem bahan bakar diesel di antarnya
adalah Injector atau pengabut atau Nozle. Injector berfungsi untuk menghantarkan
bahan bakar diesel dariinjection pump ke dalam silinder pada setiap akhir langkah
kompresi dimana torak (piston) mendekati posisi TMA.
Nozzle adalalah klep yang digunakan menyemprotkan bahan bakar ke
dalam cylinder dalam bentuk kabut, sehingga bahan bakar dapat tercampur
dengan udara secara merata ( homogen ) dan mudah terbakar

exchanger
i dalam menyemprotkan bahan bakar, nozzle memiliki bentuk bentuk
penyemprotan bahan bakar , bentuk penyemprotan ini sangat berpengaruh
terhadap kualitas campuran bahan bakar di dalam selinder.Di bawah ini akan
dijelaskan mengenai bentuk penyemprotan nozzle serta pengaruhnya terhadap
pembakaran

Katup penyalur pada nozzle merupakan suatu bagian dari injrktor yang berfungsi
untuk menyalurkan bahan bakar yang akan dikabutkan .

Xchanger

Baik tidaknya pengabutan ditentukan dengan kekuatan spring nozzle. Nozzle


dibagi menjadi dua macam yaitu pintle type nozzle dan hole type nozzle.

Deaerasi adalah proses pembuangan pencemar gas dari dalam air


kondensat seperti oksigen (O2), carbondioksida (CO2) dan non condensable gas
lainnya. Pencemar gas dapat menyebabkan korosi pada saluran dan komponen-
komponen yang dilaui air kondensat

Gland steam condensor adalah penukar panas untuk mengkondensasikan uap bekas dari
perapat turbin dan BFPT. Uap bekas ini akan memanaskan air kondensat dari pompa
kondensat yang dialirkan melintasi gland steam condensor.

Materi pltu PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP PLTU MATAKULIAH : SISTIM


PEMBANGKIT TENAGA PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI POLITEKNIK
NEGERI JAKARTA Pengenalan PLTU Batubara Hal.1 / 55
Materi pltu I. Pengenalan PLTU Batubara 1.1. Sistem Pembakaran Batubara
Mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar, maka kian hari kian banyak
PLTU berbahan bakar batubara dibangun di Indonesia. Bila ditinjau dari keragaman
sistemnya, PLTU batubara memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibanding
PLTU minyak. Berkenaan dengan itu, session ini akan diulas mengenai sistem
pembakaran batubara. Lingkup pembakaran dalam session ini hanya dibatasi mulai
dari bungker batubara sampai ke burner seperti terlihat pada gambar 1. Gambar 1:
Sistem Pembakaran PLTU Komponen-komponen dalam sistem pembakaran
batubara adalah : 1.1.1. Bungker Batubara (Coal Bunker). Merupakan sarana
penampung (storage) sementara batubara untuk memasok kebutuhan ketel.
Kapasitas bungker umumnya dirancang agar dapat memasok kebutuhan ketel
selama beberapa jam, tanpa ada tambahan pemasokan batubara kebungker. Setiap
Unit PLTU umumnya memiliki beberapa buah bungker dimana setiap bungker
melayani sebuah penggiling batubara (Pulverizer / Mill). Setiap bungker dilengkapi
level indikator untuk mengetahui level batubara didalam bungker. Pengenalan PLTU
Batubara Hal.2 / 55
Materi pltu Dimulut bagian bawah bungker dipasang Discharge Isolation Gate/Bin
Gate, yang berfungsi untuk memblokir aliran batubara dari bungker. Pada beberapa
jenis bungker, juga dilengkapi dengan penghembus udara atau vibrator yang
berfungsi untuk mencegah menempelnya batubara pada dinding-dinding bungker,
yang lebih umum dikenal dengan istilah Channeling. Channeling merupakan salah
satu masalah yang sering terjadi pada bungker. Masalah lain yang juga kerap terjadi
adalah kebakaran dan penyumbatan (blockage). Untuk menanggulangi kebakaran
bungker dilengkapi dengan sistem pemadam beruapa deluge atau CO2.
Penyumbatan sering terjadi terutama ketika batubara dalam keadaan basah.
Pengoperasian vibrator yang lebih intensif cukup dapat diandalkan untuk mengatasi
masalah ini. 1.1.2.Coal Feeder. Coal feeder memiliki dua fungsi penting yaitu untuk
memberikan pasokan batubara secara kontinyu manakala penggiling batubara
(mill/pulverizer) dalam keadaan operasi serta mengatur aliran batubara. Pada PLTU
batubara, laju aliran bahan bakar untuk ketel dikontrol oleh coal feeder. Ada
beberapa jenis coal feeder namun yang bayak dipakai adalah jenis belt feeder
seperti terlihat pada gambar 2. Gambar 2: Belt Feeder Belt feeder dapat beroperasi
dalam mode gravimetric atau volumetric yang berarti dapat mengontrol aliran
batubara dalam satuan berat atau satuan volume. 1.1.3.Penggiling Batubara
(Pulverizer/Mill). Penggiling berfungsi untuk menggiling bongkahan batubara menjadi
serbuk halus (PF), agar lebih mudah bercampur dengan udara pembakaran didalam
ketel sehingga proses pembakaran sempurna akan berlangsung lebih cepat.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.3 / 55
Materi pltu Seperti halnya coal feeder, Pulverizer juga memiliki banyak tipe.
Sekalipun demikian, dalam session ini hanya akan dibahas tipe yang paling banyak
dipakai yaitu tipe MPS seperti yang terlihat pada gambar 3. Gambar 3: Pulverizer
1.2. Sistem Udara Pembakaran. Fungsi dari sistem udara Pembakaran adalah
menyediakan udara yang cukup untuk kebutuhan proses pembakaran bahan bakar
didalam ruang bakar ketel. Karena proses pembakaran berlangsung terus selama
ketel beroperasi, maka pasokan udara pembakaranpun harus dilakukan secara terus
menerus. Sementara itu, secara simultan, produk gas hasil pembakaran juga harus
dikeluarkan secara terus menerus dari cerobong. Guna mendapatkan pasokan udara
yang kontinyu, maka dibutuhkan adanya aliran. Untuk menghasilkan aliran,
dibutuhkan adanya perbedaan tekanan. Pengenalan PLTU Batubara Hal.4 / 55
Materi pltu Dalam sistem udara pembakaran, dikenal istilah draft (draught) yang
menyatakan tekanan statis dalam ruang bakar ketel. Ada 4 macam draft yang dikenal
yaitu : Natural draft Forced Draft , Induced Draft dan Balanced Draft, sebagaimana
terlihat pada gambar 4. Gambar 4: Sistem Udara Pembakaran Dari keempat macam
draft tersebut, yang banyak diaplikasikan untuk PLTU adalah (Forced draft serta
balanced draft). 1.2.1. Sistem Udara Pembakaran pada Forced Draft. Dalam sistem
ini, seluruh saluran udara, ruang bakar ketel hingga ke saluran gas bekas
bertekanan positif (lebih tinggi dari tekanan atmosfir). Gambar 5. merupakan ilustrasi
sistem ini. Umumnya diterapkan pada ketel - ketel berbahan bakar minyak.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.5 / 55
Materi pltu Gambar 5: Sistem Udara Pembakaran pada Forced Draft Aliran udara
pembakaran dan gas bekas dihasilkan oleh kipas tekan paksa (Forced draft Fan
/FDF). Pada sistem ini, tekanan yang paling tinggi berada pada sisi tekan (discharge)
FDF dan semakin mendekati cerobong tekanan semakin rendah. FDF menghisap
udara atmosfir dan mengalirkannya melalui saluran udara (air duct) melintasi
pemanas awal udara (Air preheater) yang menggunakan uap untuk memanaskan
udara . Dari sini udara terus mengalir ke pemanas udara (air heater) yang
memanfaatkan gas bekas sebagai media pemanas. Setelah melintasi air heater,
udara kemudian masuk kedalam windbox. Dari windbox, udara kemudian
didistribusikan ke damper - damper atau air register disekitar burner untuk keperluan
proses pembakaran didalam ruang bakar. Pada gambar 1.2.5, garis yang tercetak
tebal merupakan sistem udara pembakaran. Sistem umumnya dilengkapi dengan 2
buah FDF serta 2 saluran (duct) yang dihubungkan oleh saluran penghubung (cross
tie). Umumnya kedua FDF senantiasa beroperasi secara kontinyu. Dalam keadaan
darurat, ketel dapat beroperasi hanya dengan 1 FDF. Pengaturan aliran udara dapat
dilakukan melalui pengaturan inlet vanes ataupun melalui variasi putaran fan. 1.2.2.
Sistem Udara Pembakaran Pada Balanced Draft. Pada sistem Balanced draft, FDF
dipakai untuk menghembuskan udara pembakaran sementara kipas hisap paksa
(Induce Draft Fan / IDF) dipakai untuk menghisap gas bekas hasil pembakaran dari
ruang bakar ketel. Pengenalan PLTU Batubara Hal.6 / 55
Materi pltu Karenanya, sepanjang laluan udara dan gas bekas, ada daerah yang
bertekanan positif (lebih tinggi dari tekanan atmosfir), dan ada daerah yang
bertekanan negatif (lebih rendah dari tekanan atmosfir). Itulah sebabnya sistem ini
disebut balanced draft. Ruang bakar biasanya termasuk kedalam daerah yang
bertekanan negatif. Daerah bertekanan paling tinggi adalah disisi tekan (discharge)
FDF dan secara bertahap turun menuju negatif dimana tekanan paling rendah
adalah disisi hisap IDF. Ilustrasi sistem ini terlihat seperti gambar 6 dan umumnya
diaplikasikan pada ketel-ketel batubara. Gambar 6: Sistem Udara Pembakaran
Balanced Draft Sistem udara pada ketel-ketel batubara terdiri dari 2 macam udara
yaitu udara primer (primary air) dan udara sekunder (secondary air). a. Udara Primer
(primary air). Seperti diketahui bahwa pada ketel-ketel batubara, untuk mendapatkan
efisiensi pembakaran yang baik, bongkahan batubara harus digiling menjadi bubuk
halus didalam pulverizer. Setelah menjadi serbuk halus, baru dialirkan melaui pipa-
pipa ke burner-burner batubara. Untuk mengalirkan serbuk batubara dari pulverizer
ke burner diperlukan media transportasi. Adapun media yang digunakan adalah
udara yang dihembuskan melalui sebuah Fan. Udara ini dikenal dengan istilah udara
primer (primary air) dan dihembuskan oleh Primary Air Fan (PAF). Sistem udara
primer terlihat pada gambar 7, dalam garis yang dicetak tebal. Pengenalan PLTU
Batubara Hal.7 / 55
Materi pltu Gambar 7: Udara Primer Dalam gambar terlihat bahwa PAF menerima
pasokan udara dari Discharge FDF. Dari PAF udara primer dihembuskan ke
Pulverizer dan setelah bercampur dengan bubuk batubara, selanjutnya mengalir
bersama bubuk batubara keburner - burner batubara. Disamping sebagai sarana
transportasi serbuk batubara, udara primer juga berfungsi untuk mengeringkan
batubara didalam Pulverizer. Guna memenuhi fungsi ini, maka temperatur udara
primer harus cukup tinggi untuk menguapkan air dari batubara. Karena itu umumnya
dilengkapi dengan pemanas udara tersendiri yang dipasang disisi hisap PA Fan.
Pemanas ini disebut Pemanas udara primer (Primary Air Heater) dan menggunakan
gas bekas sebagai media pemanas. b. Udara Sekunder (secondary air). Udara
sekunder pada ketel batubara sama halnya dengan udara pembakaran (combustion
air) pada ketel berbahan bakar minyak. Fungsi udara sekunder adalah memasok
kebutuhan udara untuk proses pembakaran yang sempurna didalam ruang bakar.
Sistem udara sekunder terlihat gambar 8. dalam garis tercetak tebal. Pengenalan
PLTU Batubara Hal.8 / 55
Materi pltu Gambar 8: Sistem Udara Sekunder Pasokan udara sekunder disediakan
oleh FDF yang dialirkan melintasi pemanas awal udara (steam coil air heater) dan
terus kepemanas udara (air heater) untuk selanjutnya masuk kedalan windbox dan
akhirnya didistribusikan melalui air register kedalam ruang bakar. Didalam ruang
bakar udara sekunder bertemu dengan campuran antara udara primer dengan
serbuk batubara sehingga terjadi proses pembakaran yang sempurna. Gas-gas
bekas hasil pembakaran kemudian dihisap keluar dari ruang bakar oleh IDF. 1.3.
Sistem Gas Bekas. Gas bekas (Flue gas) adalah merupakan gas-gas hasil dari
proses pembakaran diruang bakar ketel. Didalam ruang bakar, gas bekas mengalir
kearah atas sambil menyerahkan kandungan panasnya keair yang berada didalam
pipa-pipa dinding ruang bakar (water wall tube). Dari ruang bakar, gas bekas
selanjutnya mengalir melintasi elemen-elemen secondary superheater dan reheater
untuk memanaskan uap. Dari sini, gas bekas kemudian berbalik arah menuju
kebawah melintasi primary superheater dan ekonomizer. Didalam ekonomiser, sisa-
sia panas yang masih terkandung dalam gas bekas dipakai untuk memanaskan air
pengisi yang akan masuk ke Boiler drum. Setelah melintasi economizer, gas
kemudian keluar meninggalkan ketel dan mengalir didalam laluan Pengenalan PLTU
Batubara Hal.9 / 55
Materi pltu gas (gas duct) menuju pemanas udara (air heater). Air heater adalah
komponen terakhir yang memanfaatkan sissa panas dalam gas bekas untuk
memanaskan udara pembakaran dalam perjalanannya menuju winbox. Dari Air
heater, gas bekas selanjutnya mengalir kedalam pengumpul abu (Precipitator / Dust
Colector) baik yang mekanik (Mechanical dust colector) ataupun yang elektrik
(Electrostatic Precipitator). Pengumpul abu berfungsi untuk memisahkan gas bekas
dari partikel abu dalam rangka mengurangi emisi pencemar padat dari gas bekas
manakala gas bekas dibuang ke atmosfir melalui cerobong. Setelah melalui
pengumpul abu, untuk ketel-ketel Forced draft, gas bekas langsung menuju
cerobong sedang untuk ketel - ketel Balanced draft, gas bekas dihisap dulu oleh IDF
dan baru dibuang ke atmosfir lewat cerobong. Gambar 9, merupakan contoh sistem
gas bekas pada ketel Balanced draft. Sedangkan garis yang tercetak tipis pada
gambar 8, merupakan sistem gas bekas untuk ketel Forced draft. Gambar 9: Sistem
Gas Bekas Pada Ketel Balanced Draft a. Gas Recirculation. Sistem resirkulasi gas
bekas (gas recirculation) banyak diterapkan pada ketel dengan tujuan untuk
mengatur temperatur uap keluar reheater dan superheater. Prinsip dari sistem
resirkulasi gas cukup sederhana yaitu dengan mengalirkan sebagian gas bekas
bertemperatur rendah, kembali keruang bakar ketel sehingga bercampur dengan gas
bekas baru hasil proses pembakaran. Gas bekas yang akan disirkulasikan dicerat
dari saluran gas bekas keluar economizer yang dihisap oleh Gas Recirculation Fan
(GRF) untuk selanjutnya dihembuskan kembali ke bagian bawah ruang bakar ketel
seperti terlihat pada gambar 10. Pengenalan PLTU Batubara Hal.10 / 55
Materi pltu Gambar 10: Sistem Resirkulasi Gas Dengan GRF Karena temperatur gas
yang dialirkan kembali oleh GRF lebih rendah, maka efeknya akan menurunkan
temperatur campuran kedua gas dalam ruang bakar, tetapi meningkatkan massa gas
yang akan melintasi elemen - elemen superheater dan reheater. Akibatnya gas
bekas akan membawa panas lebih banyak dari ruang bakar untuk diserahkan ke
superheater dan reheater. Hal ini akan mengakibatkan kenaikkan temperatur uap
keluar superheater maupun reheater. Ini berarti bahwa pada laju pembakaran yang
tetap, semakin banyak gas bekas yang disirkulasikan kembali ke ruang bakar, akan
semakin tinggi temperatur uap. Pengaturan aliran gas yang disirkulasikan dapat
dilakukan melaui GRF inlet damper atau memalui variasi putaran GRF. b. Meter
Kepekatan Gas Bekas (smoke opacity meter). Umumnya dipasang pada saluran gas
bekas menuju cerobong. berfungsi untuk mendeteksi kepekatan gas bekas. Gas
bekas yang jernih menandakan bahwa proses pembakaran didalam ruang bakar
berlangsung secara baik. Sedang gas bekas yang pekat, menandakan adanya suatu
ketidak beresan dalam proses pembakaran. Jadi meter kepekatan gas bekas
merupakan indikator bagi para operator untuk melakukan tindakan koreksi
seperlunya. Salah satu jenis perangkat ini adalah tipe fotocell seperti terlihat pada
gambar 11. Pengenalan PLTU Batubara Hal.11 / 55
Materi pltu Gambar 11: Smoke Opacity Sebuah proyektor sinar ditempatkan disatu
sisi laluan gas bekas sedang pasangannya, berupa menangkap sinar (Receiver),
dipasang sisi yang berseberangan. Intensitas cahaya yang diterima oleh receiver
akan menggerakkan jarum penunjuk kepekatan asap secara proporsional. Bila gas
asap yang lewat diantara proyektor dan receiver cukup pekat, maka sinar yang
diproyeksikan oleh proyektor akan terhalang oleh pekatnya gas. Hal ini
mengakibatkan sinar yang ditangkap receiver berkurang dan akibatnya, jarum
penunjuk meter kepekatan gas akan bergerak naik. Pada beberapa sistem, bila
kepekatan gas cukup tinggi, akan memberikan sinyal alarm sebagai peringatan bagi
operator untuk melakukan tindakan koreksi. 1.4. Sistem Bahan Bakar Minyak. Baik
PLTU berbahan bakar minyak maupun PLTU berbahan bakar batubara selalu
dilengkapi dengan sistem bahan bakar minyak. Fungsi sistem ini adalah untuk
menyediakan pasokan bahan bakar minyak bagi kebutuhan ketel. Konfigurasi sistem
bahan bakar minyak serta komponen-komponennya sangat beragam Mengingat
keterbatasan waktu, maka pada session ini hanya akan dibahas sistem bahan bakar
minyak tipikal yang umum diterapkan pada PLTU minyak maupun PLTU batubara.
Seperti diketahui bahwa bahan bakar minyak yang banyak dipakai di PLTU adalah
jenis Heavy Oil (HFO) grade 6 yang juga dikenal sebagai minyak bungker C.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.12 / 55
Materi pltu Selain itu juga digunakan minyak yang lebih ringan (Lighter Oil) seperti
grade 2 atau minyak diesel (Inland Diesel Oil/IDO) yang umumnya dipakai untuk
penyalaan awal ketel. Contoh tipikal untuk sistem bahan bakar minyak dapat dilihat
sepeti pada gambar 12. Gambar 12: Sistem Bahan Bakar Minyak Sistem bahan
bakar minyak mencakup pengisian, penimbunan, transfer serta pemanasan minyak
terutama untuk HFO. Adapun komponen-komponen sistem bahan bakar minyak
diantaranya adalah : a. Tangki Penyimpan. Berfungsi sebagai sarana penampung
bahan bakar minyak. Untuk HFO terdiri dari tangki penampung utama (Main Storage
Tank) dengan kapasitas cukup besar dan tangki harian (Day Tank) dengan kapasitas
yang lebih kecil. Storage Tank umumnya diisi dari sumber pasokan minyak diluar
sistem seperti Tongkang, Truk dan lain sebagainya. Tangki ini biasanya juga
dilengkapi dengan pemanas (heater) minyak yang berfungsi untuk memanaskan
minyak guna menurunkan kekentalan agar lebih mudah dipompakan. Pengenalan
PLTU Batubara Hal.13 / 55
Materi pltu Pemanasan dilakukan dengan metode Trace Heating yang dapat
menggunakan media berupa air panas atau listrik. Dari storage tank, HFO
dipompakan ke day tank oleh transfer pump melaui katup pengatur (CRV) yang
dikendalikan oleh level day tank. Bila level day tank sudah cukup maka katup akan
menutup dan HFO dari pompa disirkulasikan kembali ke storage tank. Untuk minyak
diesel (IDO) umumnya hanya disediakan satu tangki dan tanpa pemanas, minyak
langsung dialirkan ke ignitor melalui katup pengurang tekanan (Pressure Reducing
Valve). Aliran minyak ke ignitor umumnya tidak variablel. Bila ignitor stop maka
minyak akan disirkulasikan kembali kedalam tangki. Gambar 13., merupakan ilustrasi
storage tank sedang gambar 14, merupakan tipikal day tank dengan pemanas uap.
Gambar 13: Storage Tank Gambar 14: Day Tank b. Pompa Minyak. Baik transfer
pump, supply pump maupun booster pump memiliki fungsi yang sama yaitu untuk
mengalirkan minyak. Gambar.15, merupakan jenis-jenis pompa yang banyak dipakai.
Transfer pump maupun supply pump umumnya berupa pompa ulir yang digerakkan
oleh motor listrik pada putaran konstan dengan kapasitas untuk setiap pompa
melebihi Pengenalan PLTU Batubara Hal.14 / 55
Materi pltu kebutuhan. Kelebihan pasokan minyak dialirkan kembali ke Tangki melalui
katup pengatur 3 jalan (Three Way Control valve) lewat saluran resirkulasi. Bagi
minyak yang sudah dipanasi dengan cukup sehingga memenuhi kualifikasiuntuk
rentang atomisasi, dapat digunakan pompa centrifugal untuk mengalirkannya.
Karena itu, pompa centrifugal banyak dipakai sebagai booster pump. Gambar 15:
Pompa Minyak Karena mengalirkan minyak bertemperatur tinggi, booster pump
biasanya dilengkapi dengan sistem pendingin dari auxiliary cooling water system. c.
Fuel Oil heater. Fuel oil heater memiliki beberapa fungsi diantaranya untuk
menaikkan temperatur minyak disisi masuk pompa. Tujuan pemanasan ini adalah
agar minyak memiliki viskositas yang memenuhi kriteria bagi rentang pemompaan
(Pumping Range). Pemanas semacam ini umumnya dipasang didalam tangki
dengan media pemanas berupa uap atau air panas. Fungsi lain adalah untuk
menjaga temperatur minyak sepanjang saluran. Untuk ini biasanya digunakan
metode Trace Heating, baik dengan media uap, air panas ataupun listrik.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.15 / 55
Materi pltu Fungsi yang paling utama dari fuel oil heater adalah untuk memanaskan
minyak hingga mencapai temperatur yang cukup tinggi sehingga viskositas minyak
memenuhi kriteria untuk kebutuhan atomisasi (Atomizing Range). Pemanas ini
umumnya menggunakan uap sebagai media pemanas dimana aliran uap ke
pemanas diatur oleh control valve dengan temperatur minyak keluar pemanas
sebagai set point. Gambar 16, merupakan contoh pemanas minyak tipe permukaan
yang banyak dipakai. Gambar 16: Fuel Oil Heater Karena pemanas ini menggunakan
uap sebagai media pemanas, maka air kondensasi uap umumnya dikembalikan ke
kondensor. Bila terjadi kebocoran pipa-pipa pemanas, maka air kondensasi dari fuel
oil heater akan tercemar minyak. Operator harus memperhatikan masalah ini dengan
seksama. Pengenalan PLTU Batubara Hal.16 / 55
Materi pltu d. Saringan Minyak (Strainer). Fungsi dari saringan adalah untuk
menahan partikel-partikel padat atay semi padat dari minyak agar tidak menimbulkan
masalah pada komponen-komponen lain seperti pompa, oil heater dan sebagainya.
Karena itu disetiap sisi hisap (suction) pompa senantiasa dipasangi saringan ini.
Saringan minyak yang dipakai umumnya bertipe dupleks sehingga memungkinkan
satu saringan dibersihkan sedang satu saringan lain aktif beroperasi. Contoh tipikal
saringan dupleks terlihat seperti gambar 17 . Gambar 17: Stainer Saringan dupleks
biasanya dilengkapi dengan handel/tuas untuk memindahkan operasi dari kedua
saringan. Juga dilengkapi indikator untuk mengetahui saringan mana yang sedang
aktif. disamping itu, saringan umumnya dilengkapi Pressure Gauge disisi masuk dan
sisi keluar saringan sehingga perbedaan tekanan ( P) minyak melintas saringan
dapat diketahui. P ini merupakan indikator dari kondisi kebersihan saringan. Bila
P tinggi berarti saringan kotor dan perlu dicuci/dibersihkan. Sebelum melakukan
pencucian, saringan yang aktif harus dipindah terlebih dahulu dari yang kotor ke
yang bersih. Untuk saringan yang berukuran besar, ketika selesai dibersihkan perlu
diingat bahwa ruang saringan berisi udara dalam jumlah yang cukup besar. Bila
dalam keadaan seperti ini Pengenalan PLTU Batubara Hal.17 / 55
Materi pltu saringan diaktifkan, maka akan timbul kejutan aliran dan bahkan mungkin
dapat mengakibatkan ketel trip. Untuk mencegah terjadinya hal ini, maka udara
dalam rumah saringan harus dibuang terlebih dahulu. Bagi keperluan ini, saringan
yang besar biasanya dilengkapi dengan saluran venting untuk membuang udara dan
saluran bypass untuk pengisian minyak. Untuk membuang udara, buka katup saluran
venting dan buka katup pengisian minyak sedikit demi sedikit sehingga minyak akan
mengisi rumah saringan sambil menekan udara keluar lewat saluran venting.
Manakala dari saluran venting sudah keluar minyak, berarti udara dalam rumah
saringan sudah habis. Tutup katup venting dan katup bypass pengisian. Dalam
kondisi demikian, saringan dinyatakan standby dan siap untuk diaktifkan.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.18 / 55
Materi pltu II. SIKLUS FLUIDA KERJA. Seperti diketahui untuk merealisir terjadinya
transformasi energi pada berbagai komponen utama PLTU, diperlukan fluida
perantara yang disebut fluida kerja. Fluida kerja yang dipakai di PLTU adalah air.
Sebagai perantara, fluida kerja akan mengalir melintasi beberapa komponen utama
PLTU dalam suatu siklus tertutup, seperti tampak pada gambar 18. Energy Added
Energy Removed Turbine Boiler Exhaust Steam Condensed Energy Removed Pump
Condenser Gambar 18: Siklus Fluida Kerja Yang Disederhanakan Selama melewati
lintasan tertutup tersebut, fluida kerja mengalami perubahan wujud yaitu dari air
menjadi uap untuk kemudian menjadi air kembali. Karena itu siklus fluida kerja dapat
dipisahkan menjadi dua sistem, yaitu sistem uap dan sistem air. 2.1. Sistem uap.
Sistem uap merupakan bagian dari siklus dimana fluida kerja berada dalam wujud
uap dan dapat dikelompokkan menjadi : 2.1.1. Sistem Uap Utama (Main Steam
System). Merupakan rangkaian pipa saluran untuk mengalirkan uap yang keluar dari
ketel ke turbin. 2.1.2. Sistem Uap Panas Ulang (Reheat Steam System). Sistem ini
hanya terdapat pada pada PLTU dengan turbin reheat. Juga merupakan rangkaian
pipa saluran uap yang terdiri dari dua segmen yaitu yang menyalurkan uap bekas
Pengenalan PLTU Batubara Hal.19 / 55
Materi pltu dari turbin tekanan tinggi kembali ke ketel (cold reheat) dan yang
menyalurkan uap dari ketel ke Turbin tekenan menengah/rendah (hot reheat). 2.1.3.
Sistem Uap Ekstraksi (Extraction / Bled Steam System). Selama melintasi turbin
hingga keluar ke kondensor, uap dicerat/diekstrak di beberapa titik dan pada
umumnya uap ini dialirkan ke pemanas awal air pengisi (Feed water Heater) untuk
memanaskan air kondensat / air pengisi. Uap tersebut dinamakan uap ekstraksi.
Gambar 19, memperlihatkan ketiga sistem uap tersebut, dimana garis tebal putus-
putus menunjukkan sistem uap ekstraksi dan garis tebal menyatakan sistem uap
utama serta sistem uap reheat. Gambar 19: Sistem Uap 2.1.4. Sistem Uap Bantu
(Auxiliary Steam System). Beberapa komponen atau alat bantu PLTU memerlukan
pasokan uap untuk dapat beroperasi. Alat-alat bantu tersebut diantaranya adalah :
Steam Coil Air Heater (Air Pre Heater) Turbin untuk pompa air pengisi (BFPT)
Pengenalan PLTU Batubara Hal.20 / 55
Materi pltu Uap untuk pemanas minyak (Oil Heater) Uap untuk atomisasi
minyak (Steam Atomizing) Sistem uap perapat poros turbin (Seal Steam)
Desalination Plant Kebutuhan uap bantu pada periode start unit umumnya dipasok
oleh unit lain yang sudah beroperasi terlebih dahulu atau dari boiler kecil (Package
Boiler/Auxiliary Boiler) yang khusus disediakan untuk keperluan ini. Ketika unit sudah
beroprasi normal, pasokan dapat diambil dari ketel utama sehingga auxiliary boiler
dapat dimatikan. 2.2. Sistem Air Kondensat. Sistem air kondensat merupakan
sumber pasokan utama untuk sistem air pengisi ketel. Mayoritas air kondensat
berasal dari proses kondensasi uap bekas didalam kondensor. Rentang sistem air
kondensat adalah mulai dari hotwell sampai ke Dearator. Selama berada dalam
rentang sistem air kondensat, air mengalami 3 proses utama yaitu mengalami
pemanasan, mengalami pemurnian dan mengalami deaerasi. Pada saat melintasi
sistem air kondensat, air mengalami pemanasan pada berbagai komponen antara
lain di gland steam condensor, di air ejector dan dibeberapa pemanas awal air
pengisi tekanan rendah. Pemanasan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi
siklus serta menghemat pemakaian bahan bakar. Bila air kondensat tidak
dipanaskan, berarti membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk menaikkan
temperatur air didalam ketel. Selain itu, air kondensat juga mengalami proses
pemurnian untuk mengurangi pencemarpencemar padat dan cair yang terkandung
dalam air kondensat. Pemurnian yang dilakukan didalam sistem air kondensat
termasuk sistem pemurnian didalam siklus (Internal Treatment) yang dapat dilakukan
dengan cara mengalirkan air kondensat melintasi penukar ion (Condensate
Polishing) bila ada, maupun secara kimia melalui penginjeksian bahan - bahan kimia.
Melalui proses pemurnian internal ini, maka pencemar yang dapat mengakibatkan
deposit maupun korosi pada komponen-komponen ketel dapat dihilangkan sehingga
kualitas air kondensat menjadi lebih baik. Terjadinya deposit di ketel yang
disebabkan oleh kualitas air yang buruk, dapat mengakibatkan terhambatnya proses
perpindahan panas didalam ketel dan pada kondisi ekstrim dapat mengakibatkan
bocornya pipa-pipa ketel akibat over heating. Deaerasi adalah proses pembuangan
pencemar gas dari dalam air kondensat. Gas-gas pencemar yang ada dalam air
kondensat misalnya oksigen (O2), carbondioksida (CO2) dan non condensable gas
lainnya. Pencemar gas dapat menyebabkan korosi pada saluran dan Pengenalan
PLTU Batubara Hal.21 / 55
Materi pltu komponen-komponen yang dilaui air kondensat. Proses deaerasi ini
terjadi didalam deaerator yang merupakan komponen paling hilir dari sistem air
kondensat. Ilustarsi sistem air kondensat terlihat seperti pada gambar 20. Gambar
20: Sistem Air Kondensat Komponen-komponen yang terdapat pada sistem air
kondensat antara lain : 2.2.1. Hotwell. Hotwell adalah tangki penampung yang
terletak dibagian bawah kondensor dan berfungsi untuk menampung air hasil
kondensasi uap bekas didalam kondensor sebagai pemasok utama sistem air
kondensat. Tetapi perlu diketahui bahwa hasil kondensasi uap bekas tidak selalu
mencukupi kebutuhan untuk sistem kondensat. Karenanya, level air kondensat
dalam hotwell harus selalu dimonitor. Bila level hotwell terlalu rendah, maka pompa
kondesat akan trip untuk mengamankan pompa. Manakala level hotwell terlau tinggi,
maka air kondensat akan merendam pipa-pipa pendingin kondensor, sehingga dapat
mengurangi proses pendinginan dalam kondensor. Hal ini dapat mengakibatkan
menurunnya laju kondensasi uap bekas sehingga menurunkan vacum kondensor.
Untuk menjaga stabilitas level hotwell, umumnya disediakan Hotwell Level Control
yang akan mengontrol level hotwell decara otomatis. Bila level hotwell turun dari
harga yang semestinya, maka Hotwell Level Control akan memerintahkan katup air
penambah (make up water) untuk membuka sehingga air Pengenalan PLTU
Batubara Hal.22 / 55
Materi pltu penambah akan mengalir masuk kedalam hotwell akibat tarikan vacum
kondensor. Ketika level hotwell kembali ke kondisi normal, Hotwell Level Control
akan memerintahkan katup air penambah untuk menutup. Bila level hotwell terlalu
tinggi, maka Hotwell Level Control akan memerintahkan katup pelimpah (Spill
Over/Overflow Valve) untuk membuka dan mengalirkan air kondensat melaui pompa
kondensat, saluran pelimpah dan kembali ke Tangki air penambah. Ketika level
hotwell kembali normal, maka katup pelimpah akan menutup kembali. 2.2.2. Pompa
Kondesat (Condensate Pump). Berfungsi untuk mengalirkan air kondensat dari
hotwell melintasi sistem air kondensat menuju ke deaerator. Umumnya sistem
kondensat memiliki 2 buah pompa kondensat yaitu 1 untuk cadangan (stand by) dan
satu lagi beroperasi. Jenis pompa yang banyak dipakai adalah pompa sentrifugal
bertingkat (multy stage). Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sisi hisap pompa
kondensat berhubungan dengan hotwell yang vakum. Untuk menjamin kontinuitas
aliran air ke sisi hisap (suction) pompa, maka tekanan pada sisi hisap pompa paling
tidak harus sama dengan tekanan kondensor. Berkaitan dengan hal tersebut, maka
sisi hisap pompa dilengkapi dengan saluran penyeimbang tekanan (Equalizing /
Balancing Line) agar tekanan pada sisi hisap pompa selalu sama dengan tekanan
kondensor. Faktor yang perlu diperhatikan oleh operator adalah bahwa katup isolasi
(bila ada) pada saluran penyeimbang ini harus selalu terbuka selama pompa
beroperasi. Pada mulut saluran hisap pompa kondensat didalam hotwell biasanya
dipasang Vortex Eliminator untuk mencegah terjadinya pusaran air (vortex). Bila
pusaran ini sampai terjadi, maka pompa kondensat akan mengalami kavitasi yang
dapat merusak pompa. Kavitasi ini juga dapat timbul bila temperatur air kondensat
didalam hotwell terlalu tinggi. Pompa kondensat juga dilengkapi oleh saringan
(strainer) pada sisi hisapnya. Disamping itu juga dilengkapi oleh katup isolasi yang
dipasang sisi hisap dan sisi tekan pompa. Ketika akan mencuci saringan, kedua
katup isolasi ini harus ditutup rapat. Pada saat membuka katup isolasi sisi hisap,
lakukan secara hati-hati karena setelah pencucian strainer, rumah strainer masih
terisi udara. Pada sisi tekan pompa juga dipasang katup satu arah (check valve)
untuk mencegah aliran balik terhadap pompa. 2.2.3. Gland Steam Condensor. Gland
steam condensor adalah penukar panas untuk mengkondensasikan uap bekas dari
perapat poros turbin. Uap bekas ini akan memanaskan air kondensat dari pompa
kondensat yang dialirkan melintasi gland steam condensor. Karena panasnya
diserap oleh air kondensat, uap bekas dari perapat poros akan mengembun dan
selanjutnya dialirkan ke Pengenalan PLTU Batubara Hal.23 / 55
Materi pltu hotwell hingga bercampur dengan air hotwell. Didalam gland steam
condensor, air kondensat mengalir dibagian dalam pipa sedang uap bekas perapat
berada diluar pipa. Gland Steam Condensor dilengkapi dengan Fan penghisap
(exhauster Fan) yang berfungsi untuk membuat tekanan Gland Steam Condensor
sisi uap sedikit vacum. Dengan kevacuman ini, maka uap bekas perapat turbin akan
mudah mengalir kedalam gland steam condensor. Tekanan dalam Gland Steam
Condensor berkisar antara - 8 sampai - 15 inchi kolom air. 2.2.4. Condensate
Polisher (bila ada). Merupakan perangkat penukar ion seperti demineralizer plant
yang ditempatkan didalam siklus air kondensat. Fungsinya untuk menjaga kualitas
air kondensat. Condensate Polisher akan mengikat calcium, magnesium, sodium
sulphate, chlorid dan nitrat dari air kondensat melalui penukar ion. Cara ini telah
terbukti sangat efektif untuk menghilangkan garam-garam dari air kondensat.
Penukar ion yang dipakai umumnya dari jenis campuran resin penukar kation dan
resin penukar anion (mixbed). Pertama-tama, ion bermuatan positif (kation) dari air
kondesat (Calcium, magnesium dan sodium) akan ditukar oleh resin penukar kation.
Setelah itu baru ion bermuatan negatif (anion) dari air kondensat (sulphate, chloride
dan nitrate) akan ditukar oleh resin penukar anion. Setelah beroperasi beberapa
lama, resin resin tersebut akan menjadi jenuh dan tidak mampu lagi menukar ion.
Dalam kondisi seperti ini, resin-resin tersebut harus diregenerasi agar dapat aktif
kembali. Tangki mixbed dengan resin yang sudah jenuh harus dinon aktifkan dan
ditukar dengan tangki mixbed satunya lagi (umumnya tersedia 2 tangki mixbed).
Resin yang jenuh dalam tangki mixbed yang tidak aktif kemudian harus dipindahkan
ke tangki regenerasi. Salah satu sarana transportasi yang banyak digunakan untuk
memindakan resin yang jenuh ke tangki regenerasi adalah udara bertekanan
(compresed air). Dengan dihembus oleh udara bertekanan, resin dialirkan melalui
pipa ke tangki regenerasi. Setelah regenerasi selesai dilakukan di tangki regenerasi,
resin dialirkan kembali ke tangki mixbed agar dapat dipergunakan bila kondisi
membutuhkan. Condensate polisher juga dilengkapi dengan katup pintas (bypass)
untuk mengalirrkan air kondensat tanpa melewati condensate polisher. 2.2.5.
Condensate Polisher Booster Pump. Dengan adanya pompa booster ini, maka
tekanan kerja pompa kondensat dapat dibuat relatif rendah guna menjamin kondisi
yang aman bagiu condensate polisher. Setelah melewati condensate polisher,
tekanan air kondesat dinaikkan oleh pompa booster condensate polisher agar
mampu mengalir hinggga sampai kedeaerator. Umumnya sistem dilengkapi oleh 2
buah pompa booster dimana 1 buah beroperasi sedang satu lainnya stand by.
Pompa ini juga dilengkapi dengan proteksi terhadap tekanan sisi hisap rendah
sehingga bila tekanan sisi hisapnya terlalu rendah, maka pompa booster ini akan trip.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.24 / 55
Materi pltu 2.2.6. Steam Air Ejector Condensor. Pada PLTU yang menggunakan
ejector uap untuk mempertahankan vakum kondensor, maka uap bekas bercampur
non condensable gas yang masih mengandung energi panas dipakai untuk
memanaskan air kondensat yang dialirkan lewat steam air ejector condenser.
Dengan cara ini maka panas yang terkandung dalam campuran uap tadi akan
diserap oleh air kondensat sehingga temperatur air kondensat keluar dari steam air
ejector condenser akan mengalami kenaikkan. Uap yang telah diserap panasnya
akan mengembun dan airnya dialirkan ke hotwell. 2.2.7. Saluran Resirkulasi
(Condensate Recirculation Line). Dalam sistem air kondensat, pada lokasi setelah
condensate polisher terdapat saluran simpang kembali ke kondensor / hotwell.
Saluran simpang ini disebut saluran resirkulasi. Saluran ini berfungsi sebagai
proteksi terhadap komponen-komponen pompa condensat, gland steam condenser,
condensate polisher, condensate polisher booster pump dan steam air ejector
condensor. Saluran ini dilengkapi dengan katup pengatur otomatis yang mendapat
signal pengaturan dari besarnya aliran air kondensat yang menuju deaerator. Bila
aliran sangat rendah, maka katup resirkulasi ini akan membuka dan mengalirkan
kembali (meresirkulasi) sebagian air kondensat kembali kehotwell. Dengan cara ini
berarti komponen - komponen seperti tersebut diatas selalu dilewati aliran air
kondensat yang senantiasa cukup. Bila aliran air kondensat ke deaerator semakin
bertambah tinggi, maka katup resirkulasi akan menutup. Pada beberapa PLTU,
saluran ini juga disebut saluran minimum Flow karena berfungsi untuk menjamin
selalu tercapainya aliran minimum air kondensat sesuai kebutuhan dari komponen-
komponen yang disebut diatas. 2.2.8. Katup Pengatur Aliran Kondensat / Katup
Pengontrol Level Deaerator. Katup ini terpasang di saluran air kondensat menuju
deaerator yang berfungsi untuk mengontrol level deaerator. Dalam posisi pengaturan
otomatis katup ini dikendalikan oleh level deaerator. Bila level deaerator turun,
pembukaan katup akan bertambah besar sehingga aliran air kondensat menuju
deaerator juga akan meningkat. Pada saat level deaerator tinggi, pembukaan katup
akan berkurang untuk mengurangi aliran air kondensat ke deaerator. Pada beberapa
PLTU, terdapat 2 macam katup pengontrol level deaerator, yaitu katup pengontrol
untuk kondisi normal operasi dan katup pengontrol untuk kondisi start up/beban
rendah. Katup yang pertama berfungsi untuk mengatur aliran air kondensat ketika
unit sudah berada dalam kondisi normal operasi pada beban yang cukup dimana
aliran air kondensat sudah cukup tinggi. Katup yang kedua berfungsi untuk mengatur
aliran air kondensat ketika unit sedang start up atau ketika beroperasi pada beban
rendah. Pada saat ini, dibutuhkan aliran yang masih Pengenalan PLTU Batubara
Hal.25 / 55
Materi pltu relatif rendah, serta variasi perubahan aliran yang relatif kecil. Dimensi
katup maupun saluran pipa katup ini lebih kecil dibanding katup pertama sehingga
memungkinkan pengaturan aliran dengan variasi yang halus. Pada jenis PLTU yang
menggunakan variasi putaran untuk mengatur aliran air kondensat, katup pengatur
seperti tersebut tidak tersedia dalam sistem air kondensat. 2.2.9. Pemanas Awal Air
Tekanan Rendah. Pemanas awal air tekanan rendah berfungsi untuk meningkatkan
efisiensi siklus dengan cara memanaskan air kondensat yang melintasinya. Media
pemanas yang digunakan adalah uap yang dicerat / diekstrak dari turbin dan disebut
uap ekstraksi (bleed steam / extraction steam). Pemanas ini umumnya tipe
permukaan (surface) dimana air mengalir dibagian dalam pipa sedang uap ekstraksi
dibagian luar pipa. Kondensasi uap ekstraksi

yang terbentuk dialirkan ke pemanas awal air tingkat yang lebih rendah atau
langsung ke kondensor. Gambar 21, memperlihatkan sebuah pemanas awal beserta
kelengkapannya. Gambar 21: Pemanas Awal Air Perlengkapan pemanas awal antara
lain : Pengenalan PLTU Batubara Hal.26 / 55
Materi pltu Katup isolasi uap ekstraksi yang dipasang pada saluran uap ekstraksi
serta semuanya digerakkan oleh motor listrik. Berfungsi untuk memblokir uap
ekstraksi pada saat belum diperlukan. Katup satu arah ekstraksi (Extraction Line
Check Valve). Berfungsi untuk mencegah aliran balik uap dari pemanas ke turbin.
Indikator level pemanas. Kondensasi uap ektraksi akan terakumulasi dalam
pemanas. Permukaan air kondensasi didalam pemanas dapat dilihat secara visual
melalui gelas duga. Hal yang perlu dipahami operator adalah bahwa pemanas awal
dirancang untuk beroperasi dengan level air konedensasi tertentu. Bila level air
terlalu rendah, maka Transfer panas dari uap ke air kondensat menjadi kurang
sempurna. Karena terlalu singkatnya waktu bagi proses transfer panas, uap akan
keluar meningggalkan pemanas sebelum terkondensasi. Bila level terlalu tinggi,
maka sebagian pipa akan terendam. Dengan demikian maka proses transfer panas
dari uap juga terhambat. Katup pengatur aliran drain kondensasi uap. Katup ini
umumnya digerakkan oleh udara (CRV) dan berfungsi untuk mengatur aliran drain air
kondensasi guna mengontrol level pemanas awal. 2.2.10. Deaerator. Deaerator
merupakan komponen paling hilir dari sistem air kondensat. Merupakan pemanas
tipe kontak langsung (direct contact heater). Memiliki 2 fungsi utama yaitu untuk
memanaskan air kondensat dan sekaligus menghilangkan gas-gas (non
condensable gas) dari air kondensat. Media pemanas yang digunakan adalah juga
uap ekstraksi. Didalam deaerator terjadi kontak langsung antara air kondesat dengan
uap pemanas. Akibat percampuran ini, maka temperatur air kondensat akan naik
hingga hampir mencapai titik didihnya. Semakin dekat temperatur air kondensat
dengan titik didihnya, semakin mudah pula proses pemisahan air dengan oksigen
dan gas-gas lainnya yang terlarut dalam air kondensat. Ada beberapa tipe deaerator,
tetapi yang banyak dipakai adalah tipe Spray & Tray, seperti yang terlihat pada
gambar 22. Pengenalan PLTU Batubara Hal.27 / 55
Materi pltu Gambar 22: Deaerator Tipe Spray & Tray Pada deaerator tipe ini, air
kondensat yang masuk dikabutkan melalui jajaran pengabut (spray) untuk
memperluas bidang kontak antara air dengan pemanas serta menjamin pemerataan
distribusi air kondensat didalam pemanas. Air kondensat yang mengabut ini
kemudian turun kejajaran kisi-kisi (Tray). Dari bagian bawah tray, uap pemanas dari
saluran ekstraksi dihembuskan mengarah keatas dan bercampur dengan kabut air
kondensat yang menetes pada kisi-kisi. Akibatnya terjadi pertukaran panas antara
uap dengan air sekaligus terjadi pula proses deaerasi. Oksigen dan gas-gas lain
akan mengalir keatas dan keluar dari deaerator menuju atmosfir melalui saluran
venting. Proses deaerasi secara mekanis seperti ini ternyata tidak menjamin bahwa
air kondensat akan bebas 100% dari Oksigen. Guna membantu tugas deaerator
untuk menghilangkan oksigen, maka cara kimia pun dilaksanakan juga yaitu dengan
menginjeksikan Hydrazine kedalam air kondensat pada suatu titik sebelum air
kondensat masuk deaerator. Penginjeksian ini dilakukan oleh pompa khusus injeksi
bahan kimia. Air kondensat yang sudah bebas oksigen dan gas-gas lain ini kemudian
turun dan ditampung pada tangki penampung (storage tank) yang berada dibagian
bawah deaerator dan siap untuk dialirkan ke pompa air pengisi ketel. Beberapa
peralatan proteksi juga dipasang pada deaerator. Salah satunya adalah katup
pengaman tekanan lebih (Relief Valve). Bila tekanan didalam deaerator terlalu tinggi
hingga mencapai harga tertentu, maka katup pengaman akan terbuka sehinggga
deaerator akan terhubung ke atmosfir. Dalam keadaan ini, uap akan mengalir ke
atmosfir dan deaerator menjadi aman. Pengenalan PLTU Batubara Hal.28 / 55
Materi pltu Pada beberapa deaerator bahkan juga dilengkapi dengan vacum breaker
untuk melindungi deaerator dari kemungkinan terjadinya vacum dalam deaerator.
Perangkatnya berupa saluran yang ditutup dengan diapragma. Bila tekanan
deaerator turun hingga lebih rendah dari tekanan atmosfir, maka diapragma akan
pecah dengan udara atmosfir akan masuk guna mencegah vacum yang lebih tinggi
didalam deaerator. 2.3. Sistem Air Pengisi. Sistem air pengisi adalah merupakan
kelanjutan dari sistem air kondensat. Terminal akhir dari sistem air kondensat adalah
deaerator yang merupakan pemasok air kesisi hisap pompa air pengisi. Mulai dari
sini, air yang sama berubah nama menjadi air pengisi. Perbedaan yang mencolok
antara air kondensat dengan air pengisi terletak pada tekanannya. Tekanan air pada
sistem air pengisi naik hinggga lebih tinggi dari tekanan ketel. Fungsi dari sistem air
pengisi hampir sama dengan sistem air kondensat yaitu untuk menaikkan tekanan,
menaikkan temperatur serta memurnikan air pengisi. Tekanan air pengisi perlu
dinaikkan agar air pengisi dapat mengalir kedalam ketel. Tugas ini dilaksanakan oleh
pompa air pengisi ketel (BFP). Disamping itu, selama melintasi sistem, air pengisi
mengalami beberapa tahap pemanasan sehinggga mengalami kenaikkan
temperatur. Pemanasan ini dilakukan untuk dua tujuan. Pertama, semakin dekat
temperatur air pengisi masuk ketel dengan titik didih air pada tekanan ketel, maka
semakin sedikit bahan bakar yang diperlukan untuk proses penguapan didalam ketel.
Kedua, temperatur air pengisi yang akan masuk ketel sedapat mungkin harus
mendekati temperatur metal ketel sebab perbedaaan yang besar antara keduanya
dapat menimbulkan kerusakkan komponen ketel akibat thermal stress. Fungsi
pemurnian bertujuan untuk menghilangkan zat-zat pencemar padat dari air pengisi
melalui cara kimia yaitu dengan meninjeksikan bahan kimia guna menggumpalkan
zat-zat padat yang terlarut dalam air pengisi. Gumpalan zat-zat padat ini kemudian
dapat dibuang melalui saluran blowdown pada ketel. Agar dapat melaksanakan
semua tugas tersebut, maka sistem air pengisi memiliki beberapa komponen antara
lain : 2.3.1. Pompa air pengisi (BFP). Kebanyakan berjenis pompa centrifugal
bertingkat dengan putaran tetap ataupun putaran variabel. Jumlah pompa tergantung
pada kapasitas unit pembangkit. Beberapa PLTU memiliki 2 pompa air pengisi
dimana 1 pompa untuk beroperasi dan satu pompa untuk cadangan (stand by).
Beberapa PLTU lain dilengkapi dengan 3 buah pompa dengan 2 buah pompa
beroperasi (pada beban penuh) dan satu pompa stand by. Penggerak pompa juga
beberapa macam. Ada pompa air pengisi yang digerakkan oleh motor listrik, ada
juga yang digerakkan oleh turbin uap khusus yang memang dibuat hanya untuk
menggerakkan BFP. Saat ini, penggerak yang disebut terakhir semakin banyak
digunakan karena lebih efisien terutama untuk BFP berukuran besar. Pengenalan
PLTU Batubara Hal.29 / 55
Materi pltu Kelengkapan pompa air pengisi. Pompa air pengisi dilengkapi dengan
beberapa perlengkapan lain seperti : a. Kelengkapan sisi hisap (Suction Valve). Sisi
hisap BFP dilengkapi dengan katup isolasi baik berupa katup tangan maupun yang
digerakkan oleh motor. BFP hanya boleh beroperasi bila katup ini dalam keadaan
terbuka karena bila BFP beroperasi dalam keadaan katup hisap tertutup akan
membahayakan pompa. Karena itu, katup ini biasanya dilengkapi dengan limit switch
yang akan memberikan signal dimana signal ini merupakan salah satu syarat untuk
start pompa. b. Saringan sisi hisap (Suction Strainer). Pada sisi masuk, setelah katup
(suction valve) dipasang pula saringan (suction strainer) yang berfungsi untuk
menyaring partikel-partikel padat dari air pengisi. Operator harus selalu
memperhatikan kondisi saringan ini. Bila sarungan kotor, dapat mengakibatkan
kavitasi pada BFP. Untuk memonitor kondisi saringan, disediakan alat untuk
mengukur perbedaan tekanan (P) antara sebelum dan sesudah saringan. Bila P
tinggi, berarti saringan kotor. Dalam kondisi seperti ini, jalankan BFP yang standby,
lalu matikan BFP yang saringannya kotor. Lakukan pengisolasian terhadap pompa
dengan menutup katup hisap dan katup sisi tekan, kemudian bersihkan saringan
yang kotor. c. Katup - katup sisi tekan. Seperti halnya sisi hisap, sisi tekan BFP juga
dilengkapi katup isolasi. Selain itu juga dilengkapi katup searah (check valve) untuk
mencegah aliran balik terhadap pompa. d. Pengimbang gaya aksial. Gaya aksial
merupakan aspek yang perlu mendapat perhatian dalam BFP. Perbedaan tekanan
antara sisi tekan (discharge) dengan sisi hisap (suction) pada BFP sangat besar.
Perbedaan tekanan ini akan menimbulkan gaya aksial yang cenderung mendorong
rotor pompa kearah sisi tekanan rendah. Untuk mengantisipasi masalah ini, ada BFP
yang dilengkapi dengan bantalan aksial (Thrust bearing). Pada konstruksi BFP yang
lain, gaya aksial ini diantisipasi oleh piston pengimbang (balancing drum) yang
dipasang diujung poros sisi tekanan tinggi. Sebagian air dari sisi tekanan tinggi
dialirkan ke piston pengimbang sehingga menghasilkan gaya aksial yang berlawanan
arah dengan arah gaya aksial asli yang timbul pada poros pompa. Air yang
diarahkan ke piston pengimbang ini kemudian dapat dikembalikan lagi ke sisi hisap
(suction) pompa (internal) atau langsung ke deaerator (external) seperti terlihat pada
gambar 23. Pengenalan PLTU Batubara Hal.30 / 55
Materi pltu Gambar 23: Saluran Piston Pengimbang Pada BFP e. Saluran
pemanasan (Warming Line) Seperti diketahui bahwa BFP beroperasi pada
temperatur tinggi sehingga terjadi perbedaan temperatur yang tinggi antara pompa
yang beroperasi dengan pompa yang standby. Manakala situasi menuntut agar
pompa yang standby segera start, maka akan terjadi thermal stress akibat
perbedaan temperatur yang besar antara pompa dengan temperatur air pengsi.
Untuk menanggulangi masalah ini, maka BFP dilengkapi dengan saluran pemanasan
(warming line). Fungsinya adalah untuk menghangatkan (warming) pompa yang
standby agar pada saat start, perbedaaan temperatur pompa dengan temperatur air
pengisi tidak terlalu besar lagi. Proses pemanasannya sendiri adalah dengan cara
mengalirkan air pengisi dengan aliran yang sangat rendah secara kontinyu kedalam
pompa yang standby. Air yang digunakan dapat berasal dari sisi tekan BFP yang
beroperasi atau dapat juga dari deaerator. f. Saluran air pancar (Attemperator).
Beberapa ketel dilengkapi dengan peralatan pengatur uap dengan menggunakan air
pancar (Attemperator). Air yang digunakan untuk keperluan tersebut juga berasal
BFP. Saluran air pancar untuk superheater umumnya dicabangkan dari sisi tekan
BFP. Sedangkan saluran air pancar untuk Reheat, biasanya diekstrak dari tingkat
tertentu BFP. Pengenalan PLTU Batubara Hal.31 / 55
Materi pltu g. Sistem pelumasan. Mengingat ukuran BFP cukup besar, maka
umumnya dilengkapi dengan sistem pelumasan sirkulasi bertekanan. Sistem terdiri
dari tangki pelumas, pompa pelumas, pendingin minyak pelumas, saringan dan
katup-katup pengatur. Pada beberapa BFP terdapat 2 pompa pelumas yaitu pompa
pelumas utama dan pompa pelumas bantu. Pompa pelumas utama digerakkan oleh
poros pompa sedang pompa pelumas bantu digerakkan oleh motor listrik. Sebelum
pompa beroperasi, pelumasan dipasok oleh pompa pelumas bantu. Setelah pompa
berputar, tugas pelumasan diambil alih oleh pompa pelumas utama. Pada BFP yang
menggunakan kopling fluida, maka selain memasok sistem pelumasan minyak yang
sama juga digunakan sebagai fluida kerja pada kopling fluida. h. Sistem pengaturan
aliran air pengisi. Pengaturan aliran air pengisi dapat dilakukan dengan beberapa
cara diantaranya : Pengaturan aliran dengan variasi putaran pompa melalui kopling
fluida. Dalam sistem pengaturan ini, penggerak pompa umumnya motor listrik
dengan putaran konstan. Motor dihubungkan ke BFP dengan perantaraan kopling
fluida. Dengan pengaturan kopling fluida, maka putaran BFP dapat dibuat variabel.
Melalui variasi putaran BFP ini akan diperoleh variasi aliran air pengisi. Skema
sistem pengaturan ini dapat dilihat pada gambar 24. Gambar 24: Pengaturan Aliran
Dengan Kopling Fluida Pengaturan aliran dengan variasi putaran turbin. Sistem
pengaturan ini ditetapkan pada BFP yang digerakkan oleh turbin uap khusus untuk
menggerakkan BFP. Dalam hal ini BFP dikopel langsung dengan turbin. Untuk
mendapatkan variasi aliran, dilakukan dengan merubah putaran BFP. Variasi
pengaturan putaran turbin dilakukan oleh governor dengan sistem pengaturan yang
mirip dengan sistem yang diterapkan pada turbin PLTU. Bila aliran uap ditambah,
maka putaran pompa akan naik. Sebaliknya bila aliran uap dikurangi, maka putaran
pompa akan turun. Dengan cara ini diperoleh variasi aliran air pengisi ke ketel.
Skema pengaturan semacam ini dapat dilihat pada gambar 25. Pengenalan PLTU
Batubara Hal.32 / 55
Materi pltu Gambar 25: Pengaturan Aliran Air Pengisi Dengan Governor Pengaturan
aliran dengan katup. Pengaturan aliran dengan sistem ini dilakukan oleh katup
pengatur, seperti terlihat pada ilustrasi 26. Gambar 26: Pengaturan Aliran Dengan
Katup Umumnya BFP dihubungkan langsung dengan motor listrik yang putarannnya
tetap. Variasi aliran diperoleh melalui variasi pembukaan katup. i. Saluran Resirkulasi
BFP. Pada saluran sisi tekan (discharge) BFP terdapat percabangan saluran yang
dihubungkan kembali kedeaerator. Saluran ini disebut saluran Resirkulasi BFP yang
fungsinya untuk memproteksi BFP dengan cara menjamin selalu ada aliran air dari
BFP dalam kondisi apapun juga. Saluran ini kadangkala juga disebut saluran
minimum Flow. Hal.33 / 55 Pengenalan PLTU Batubara
Materi pltu Pada saluran ini dipasang katup yang hanya mengenal dua posisi yaitu
posisi tertutup penuh dan posisi buka penuh. Signal untuk membuka atau menutup
katup ini biasanya berasal dari aliran air pengisi menuju ketel (Feedwater Flow). Bila
aliran menuju ketel rendah, maka katup resirkulasi akan membuka sehingga
sebagian air dari BFP akan mengalir melintasi saluran resirkulasi dan kembali ke
Deaerator. Bila aliran air pengisi menuju ketel sudah cukup tinggi, katup resirkualsi
akan menutup. 2.3.2. Pemanas awal air pengisi. Seperti halnya pada sistem air
kondensat, sistem air pengisi juga dilengkapi dengan pemanas awal air pengisi.
Fungsinya juga sama yaitu untuk menaikkan temperatur air pengisi guna menghemat
pemakaian bahan bakar dan menaikkan efisiensi siklus. Media pemanas yang
digunakan adalah juga uap ekstraksi dari turbin namun berasal dari titik-titik ekstraksi
pada daerah tekanan uap yang lebih tinggi. Tipe pemanas yang dipakai adalah tipe
permukaan (surface) dimana air pengisi mengalir dalam pipa sedang uap ekstraksi
diluar pipa. Dalam usaha untuk mendapatkan efisiensi pemanas awal yang optimum,
pemanas air pengisi dirancang untuk terdiri dari 3 zona seperti terlihat pada gambar
27, yaitu : Zona desuperheating Pada zona ini terjadi penyerapan fraksi panas
Superheat dari uap ekstraksi oleh air pengisi. Zona panas laten. Merupakan area
perpindahan panas yang dominan dimana fraksi panas laten dari uap ekstraksi
diserap oleh air pengisi. Zona Subcooling. Merupakan area dimana sebagian fraksi
panas sensibel diserap olah air pengisi sehingga temperatur air kondensasi uap
ekstraksi mengalami penurunan hingga dibawah titik didih (subcooling), sebelum
mengalir kesaluran drain. Gambar 27: Pemanas Awal Air Pengisi Pengenalan PLTU
Batubara Hal.34 / 55
Materi pltu Perlengkapan pemanas awal air pengisi lainnya sama seperti yang telah
dibahas pada pemanas awal air pada sistem air kondensat. Pengenalan PLTU
Batubara Hal.35 / 55
Materi pltu III. SISTEM DRAIN DAN EKSTRAKSI UAP. Manakala aliran uap dalam
satu saluran terganggu, misalnya saat unit trip, maka sisa uap dalam saluran akan
terkondensasi. Air kondensasi yang terbentuk akan terkumpul dibagian saluran atau
dititik paling rendah dalam sistem dan dapat menimbulkan dua masalah : Adanya
butiran ataupun genangan air didalam sistem saluran dapat meningkatkan laju
korosi. Pada saat unit ditart kembali, genangan air akan kontak dengan uap yang
dapat mengakibatkan terjadinya letusan air (splashing), water hammer dan bahkan
dapat terbawa oleh uap kedalam turbin sehingga menimbulkan erosi. Karena alasan-
alasan tersebut, maka air yang terbentuk dalam sistem saluran uap sedapat mungkin
harus dikeluarkan. Untuk itu maka pada sistem saluran uap maupun turbin dilengkapi
dengan banyak saluran drain yang berfungsi untuk membuang air yang
terkondensasi. Selain untuk membuang air, saluran drain juga dipakai untuk
memanaskan pipa-pipa saluran pada tahap pemanasan (warming) sebelum
menjalankan unit. Proses pemanasan (warming) yang baik akan mengurangi thermal
stress dan pada akhirnya akan memperpanjang umur dari sistem saluran maupun
komponen-komponen PLTU pada umumnya. Adapun sistem drain mencakup :
Main Steam Line Drain. Main steam line drain berfungsi untuk mencegah terjadinya
akumulasi kondensasi uap disekitar Main Stop Valve, Governor Valve dan Main
Steam Line pada periode start maupun stop. Selain itu juga dipakai untuk
pemanasan (warming) main steam line terutama pada start dingin. Umumnya katup
drain ini baru ditutup setelah generator sinkron atau pada beban rendah tertentu.
Reheat Steam Line Drain. Juga berfungsi untuk mencegah terjadinya akumulasi
kondenasi uap disekitar reheat stop valve dan intercept valve saat start/shutdown.
Extraction Steam Line Drain. Saluran uap ekstraksi juga dilengkapi dengan saluran
drain untuk membuang kondensasi dalam saluran dan untuk keperluan pemanasan
sacara bertahap pada saat start. Katup drain biasanya baru ditutuip setelah ekstraksi
aktif dan stabil. Gambar 28, merupakan contoh sistem drain dan ekstraksi pada
PLTU. Pengenalan PLTU Batubara Hal.36 / 55
Materi pltu Gambar 28: merupakan contoh sistem drain dan ekstraksi pada PLTU
Dalam gambar diatas, selain drain dari saluran uap, juga diperlihatkan sistem drain
dari kondensat uap ekstraksi didalam pemanas awal air pengisi. Seperti diketahui
bahwa uap ekstraksi dipakai untuk memanaskan air pengisi didalam pemanas awal
air pengisi. Akibatnya, uap ekstraksi akan mengalami pendinginan didalam pemanas
awal dan terkondensasi. Air kondensasi yang terbentuk akibat proses tersebut harus
dialirkan keluar dari pemanas awal secara kontinyu. Karena PLTU umumnya
dilengkapi dengan beberapa tingkat pemanas awal, maka sistem drain kondensasi
uap ekstraksipun dibuat bertingkat yang dikenal dengan sistem drain bertingkat
(cascade drain system). Yang dimaksud dengan sistem drain bertingkat adalah drain
kondensasi uap ekstraksi dari pemanas awal yang lebih tinggi dialirkan ke pemanas
awal yang satu tingkat lebih rendah. Sebagai contoh, drain dari pemanas awal air
pengisi tingkat 6 akan dialirkan ke pemanas awal tingkat 5 drain dialirkan ke
pemanas awal tingkat 4 dan seterusnya. Dirancang demikian karena drain dari
pemanas awal tingkat yang lebih tinggi masih dapat dimanfaatkan untuk memanasi
air pengisi pada pemanas awal yang satu tingkat lebih rendah. Laju aliran drain dari
masing-masing pemanas dikontrol oleh level controller (LC) pada pemanas yang
bersangkutan. Selain saluran drain normal, sistem drain cascade juga dilengkapi
dengan saluran drain alternatif (alternate drain/emergen drain). Pengenalan PLTU
Batubara Hal.37 / 55
Materi pltu Bila level kondensasi dalam pemanas awal air tinggi, maka pertama-tama
katup saluran drain normal yang menuju ke pemanas awal setingkat lebih rendah
akan membuka. Bila katup ini sudah membuka penuh tetapi level dalam pemanas
masih naik terus, maka katup drain alternatif (alternate drain) akan membuka. Bila
kedua katup drain ini telah membuka tetapi level dalam pemanas awal masih naik
terus, maka pada suatu level tertentu, katup uap ekstraksi yang menuju ke pemanas
bersangkutan akan menutup. Kondisi ini dimaksudkan sebagai proteksi untuk
mencegah agar air kondensasi uap ekstraksi tidak sampai mencapai turbin. Sistem
saluran drain alternatif umumnya terbagi menjadi 2. Sistem saluran drain alternatif
dari pemanas awal tekanan tinggi (HP heater) biasanya dialirkan menuju deaerator.
Sedangkan saluran drain alternatif dari pemanas awal tekanan rendah (LH heater)
diarahkan ke kondensor. Pengenalan PLTU Batubara Hal.38 / 55
Materi pltu IV. SISTEM AIR. 4.1. Sistem Air Pendingin Utama. Sistem air pendingin
utama merupakan sistem yang menyediakan dan memasok air pendingin yang
diperlukan untuk mengkondensasikan uap bekas didalam kondensor dan memasok
kebutuhan untuk Auxiliary Coolingwater heat Exchanger. Air pendingin utama
(circulating water) merupakan media pendingin untuk menyerap panas laten uap
bekas dari turbin yang mengalir kedalam kondensor. Tanpa aliran air pendingin
utama yang cukup, vakum kondensor akan rendah dan dapat mengakibatkan unit
trip. Ada 2 macam sistem air pendingin utama yang lazim diterapkan di PLTU yaitu
sistem terbuka dan sistem tertutup. 4.1.1. Sistem air pendingin utama siklus terbuka.
Dalam sistem terbuka, air pendingin dipasok secara kontinyu dari sumber tak
terbatas seperti sungai, danau atau laut yang dipompakan ke kondensor untuk
akhirnya dibuang kembali keasalnya. Gambar 29: Sistem Air Pendingin Utama
Terbuka Gambar 29, merupakan ilustrasi dari sistem air pendingin utama terbuka
berserta komponen-komponen utamanya yang meliputi : a. Saringan Apung (Floating
dam). Fungsinya adalah untuk mencegah terbawanya sampah-sampah dan benda-
benda yang mengapung diatas permukaan air terutama yang berukuran besar.
Fungsi lainnnya adalah untuk menghambat aliran air dibagian permukaan yang relatif
lebih hangat dan membiarkan air yang lebih dingin dari daerah yang lebih dalam
untuk mengalir. Pengenalan PLTU Batubara Hal.39 / 55
Materi pltu b. Bar screen / Trash Rack. Merupakan saringan kasar yang berfungsi
untuk menyaring benda-benda berukuran sedang. Biasanya terbuat dari batang
logam pipih yang dirangkai sehingga membentuk semacam terali besi. c. Saringan
putar (Traveling screen). Berfungsi untuk menyaring semua benda sampai yang
berukuran relatif kecil. Dipasang vertikal pada sisi masuk kanal pompa air pendingin
utama (CWP) dimana sebagian besar segmen saringan berada dibawah permukaan
air. Sedang sebagian lagi diatas permukaan air seperti terlihat pada gambar 30.
Gambar 30: Saringan Putar (Traveling Screen) Konstruksi saringan adalah berupa
kawat baja berbentuk segmen-segmen persegi panjang yang dikaitkan pada rantai-
rantai dikedua sisinya. Rantai-rantai tersebut kemudian dikalungkan melingkari roda-
roda gigi yang ditempatkan diantara 2 poros. Salah satu poros dihubungkan ke
penggerak berupa motor listrik. Dalam keadaan Pengenalan PLTU Batubara Hal.40 /
55
Materi pltu terpasang, rangkaian segmen-segmen kasa baja tersebut akan
membentuk suatu pita raksasa / layar (screen) dan bila motor diputar, maka layar ini
akan bergerak mengelilingi roda gigi. Sampah-sampah dalam air pendingin akan
tersangkut pada saringan dan karena saringan bergerak, maka sampah-sampah
yang menempel juga akan terbawa keatas permukaan. Pada bagian saringan yang
berada diatas permukaan air dipasang nosel-nosel penyemprot (sprayer) yang
menggunakan media air bertekanan. Manakala sampah-sampah yang tersangkut
mencapai posisi nosel, maka semprotan air dari nosel akan merontokkan sampah-
sampah tersebut dan jatuh ke saluran khusus untuk menampung sampah-sampah
tersebut. Dengan cara ini maka setelah melewati posisi nosel, saringan akan bersih
kembali. Pada beberapa konstruksi juga disediakan penyemprot ikan (Fish spray)
yang posisinya berada dibawah nosel utama. Fish spray berfungsi untuk
menyemprot ikan-ikan kecil yang tersangkut disaringan dengan air bertekanan
rendah. Akibat semprotan ini ikan-ikan akan terlepas dari saringan dan masuk ke
saluran (got) yang khusus disediakan untuk selanjutnya dikembalikan ke air. d.
Pompa penyemprot saringan putar (screen wash pump). Merupakan pemasok air
bertekanan yang dialirkan ke nosel penyemprot guna membersihkan saringan putar.
Air yang digunakan adalah juga air pendingin utama. Pompa ini dapat dioperasikan
secara manual ataupun otomatis. Dalam posisi otomatis, pompa akan start secara
otomatis bila perbedaan tekanan (P) air melintasi saringan putar tinggi. P yang
tinggi mengindikasikan bahawa saringan sudah mulai tersumbat sampah. Manakala
P sudah normal kembali, maka pompa akan stop secara otomatis. e. Penginjeksi
chlor (chlorinator). Berfungsi untuk menginjeksi chlor kedalam air pendingin yang
tujuannya untuk membunuh atau sekurangnya mencegah berkembang biaknya
jasad-jasad renik (micro organisme) yang hidup dalam air pendingin agar tidak
menimbulkan gangguan dalam sistem air pendingin utama. Sumber pasokan chlor
dapat berupa tabung-tabung gas chlor ataupun unit penghasil chlor (Chlorination
plant) yang detilnya dibahas pada mata pelajaran lain. Metode penginjeksian chlor
ada beberapa macam misalnya metode penginjeksian kontinyu atau metode shock
therapy. Pada metode shock therapy, penginjeksian tidak dilakukan secara kontinyu
melainkan secara periodik. Selang waktu antar periodenya dapat diatur secara
otomatis dengan bantuan timer. Hal yang penting diperhatikan adalah konsentrasi
chlor yang diinjeksikan harus tepat. Bila dosisnya kurang, maka efeknya terhadap
microorganisme akan berkurang. Sedang bila dosisnya terlalu besar, dapat
mempengaruhi lingkungan terutama didaerah outfall. f. Pompa pendingin utama
(CWP). Berfungsi untuk mengalirkan air pendingin utama ke kondensor dan pada
beberapa sistem juga memasok air ke Auxiliary cooling water heat Exchanger.
Umumnya bertipe mixed flow dengan posisi vertikal seperti pada gambar 31.
Pengenalan PLTU Batubara Hal.41 / 55
Materi pltu Gambar 31: CWP Pada beberapa konstruksi pompa dilengkapi dengan
saluran air lincir dan sekaligus juga berfungsi sebagai perapat yang dialirkan
keperapat poros pompa (Gland seal). Sebelum pompa dijalankan, pasokan air ini
harus diaktifkan terlebih dahulu. Selain itu, beberapa pompa juga dilengkapi dengan
sistem pelumasan sirkulasi yang salah satu komponennya adalah pendingin pelumas
(Oil Cooler). Pasokan air untuk oil Pengenalan PLTU Batubara Hal.42 / 55
Materi pltu cooler ini juga harus diaktifkan sebelum pompa dijalankan. Perlu diingat
bahwa pelumasan memegang peranan penting mengingat pada pompa vertikal,
seluruh berat pompa beserta beban lain berupa gaya-gaya aksial yang timbul praktis
harus ditanggung hanya oleh satu bantalan. Pada sisi tekan pompa dipasang
penghubung fleksibel (expansion joint) untuk meredam getaran maupun tumbukan
air (water hammer) mengingat pompa ini mengalirkan air dalam jumlah yang sangat
besar. Pada saluran tekan pompa umumnya dipasang katup kupu-kupu (butterfly)
dengan maksud agar dapat menutup dengan cepat mengingat diameter pipa saluran
yang sangat besar. Katup ini umumnya digerakkan oleh motor listrik. Pembukaan
dan penutupan katup ini berlangsung scera otomatis. Katup akan membuka otomatis
beberapa saat setelah pompa start dan akan menutup secara otomatis pula bila
pompa distop. g. Kondensor. Fungsi utama kondensor adalah untuk
mengondensasikan uap bekas dari turbin menjadi air kondensat untuk dapat
disirkulasikan kembali. Hal ini dilaksanakan melalui proses prndinginan uap oleh air
pendingin yang mengalir dibagian dalam pipa-pipa kondensor. Tipe dan konstruksi
kondensor ada berbagai macam dan secara detil akan dibahas pada pelajaran lain.
Salah satu tipe yang akan dibahas disini sebagai contoh tipikal adalah tipe single
pass, single shell, double inlet & outlet, surface condenser, devided water boxes
seperti terlihat pada gambar 32. Gambar 32: Single Pass Condenser Pengenalan
PLTU Batubara Hal.43 / 55
Materi pltu Intinya merupakan sekumpulan pipa-pipa pendingin dimana uap bekas
berada dibagian luar pipa (disebut sisi uap) sedang air pendingin mengalir dibagian
dalam pipa (disebut sisi air). Akibat pendinginan ini, uap bekas disisi uap akan
terkondensasi dan ditampung dalam penampung dibagian dibawah kondensor yang
disebut hotwell. Proses kondensasi ini mengakibatkan sisi uap kondensor (termasuk
hotwell) berada dalam kondisi vacum. Bila aliran air pendingin berkurang misalnya
akibat pipa-pipa kondensor tersumbat kotoran, vacum akan turun dan pada kondisi
yang ekstrim dapat mengakibatkan unit trip karena vakum terlalu rendah. Karenanya,
air pendingin utama merupakan unsur yang cukup vital. Untuk meningkatkan
keandalan kondensor, katup air pendingin sisi masuk dan sisi keluar kondensor
biasanya digerakkan oleh motor dimana konfigurasi katup-katup tersebut dapat
diatur sedemikian rupa sehingga selain posisi normal operasi, juga memungkinkan
kondensor diposisikan Out of Service atau diposisikan Back Washing. Posisi Out
of Service adalah posisi me-non-aktifkan salah satu shell kondensor dengan
memblokir aliran air pendingin untuk shell tersebut sehingga shell dapat dibersihkan
dalam kondisi unit beroperasi. Tetapi karena hanya 1 shell yang beroperasi, maka
dalam kondisi out of service, biasanya unit hanya boleh beroperasi pada 50%
beban. Setelah pembersihan selesai, kondensor dapat dinormalkan kembali.
Sedangkan posisi blackwashing artinya membalik aliran air pendingin pada salah
satu shell. Back washing dilakukan bila pipa-pipa kondensor sudah mulai tersumbat
oleh kotoran. Dengan cara membalik arah aliran pada salah satu shell, maka
kotoran-kotoran yang menyumbat mulut pipa akan rontok sehingga pipa-pipa bersih
kembali. h. Sistem pembuang udara sisi air kondensor (Priming System). Fungsi
utama sistem priming adalah untuk membuang udara dari air pendingin utama agar
air pendingin dapat mengisi seluruh permukaan kondensor sehingga proses
pendinginan efektif. Saluran pembuang udara sisi air pendingin terletak pada bagian
atas water box sisi inlet dan sisi outlet kondensor. Ada 2 macam sistem priming yang
banyak dipakai yaitu sistem priming tertutup dan sistem priming terbuka. Ilustrasi
sistem priming tertutup terlihat seperti pada gambar 33. Pengenalan PLTU Batubara
Hal.44 / 55
Materi pltu Gambar 33: Sistem Priming Tertutup Pada sistem ini, pembuangan udara
dilakukan melalui saluran dan katup venting dibagian atas water box hanya dengan
mengandalkan tekanan air pendingin. Sedangkan pada sistem terbuka (gambar 34)
udara dikeluarkan dari water box melaui saluran yang sama tetapi dengan bantuan
perangkat vacum seperti vacum pump. Gambar 34: Sistem Priming Terbuka i.
Taproge. Taproge adalah sistem pembersih pipa kondensor sisi air pendingin dengan
menggunakan sarana pembersih berupa bola-bola karet yang disebut bola Taproge
Pengenalan PLTU Batubara Hal.45 / 55
Materi pltu dengan cara mensirkulasikan bola-bola tersebut bersama air pendingin
seperti terlihat pada gambar 35. Gambar 35: Taproge Bila pipa air pendingin
dinyatakan kotor dan tidak teratasi oleh backwashing, maka sistem Taproge dapat
dioperasikan. Untuk keperluan ini, pada saluran air pendingin keluar dipasang
semacam saringan berengsel yang terdiri dari 2 bagian seperti layaknya sepasang
daun pintu teralis. Perangkat ini disebut catcher yang berfungsi untuk menangkap
bola-bola Taproge agar tidak ikut terbuang ke outfall. Sebelum mengoperasikan
sistem Taproge, catcher harus dalam posisi tertutup (catch position). Bila
menggunakan bola - bola Taproge baru, bola-bola taproge sebaiknya terlebih dahulu
direndam dalam air dan diremas-remas guna menghilangkan udara dari dalam bola.
Bola kemudian dimasukkan pada penampung (ball collector) yang dilengkapi dengan
tingkap berlubang-lubang. Pengenalan PLTU Batubara Hal.46 / 55
Materi pltu Bila tingkap tertutup, maka hanya air yang dapat mengalir melalui lubang-
lubang tersebut sementara bola - bola Taproge tertahan didalam collector. Bila
tingkap dibuka, maka air dan bola - bola Taproge dapat mengalir. Setelah bola
Taproge dimasukkan ke collector dengan tingkap masih posisi tertutup, jalankan
pompa sirkulasi (Taproge Pump), kemudian buka tingkap pada collector dan bola-
bola Taproge akan mengalir bersama air kesisi masuk (inlet) kondensor. Untuk
selanjutnya masuk kepipa-pipa pendingin dan akhirnya keluar sambil membawa
kotoran-kotoran dari pipa kondensor. Ketika sampai outlet, bola-bola Taproge akan
tertahan pada catcher dan diarahkan kembali ke collector. Sirkulasi ini terus
dilakukan sampai selang waktu tertentu, sesuai instruksi buku manual. Bila dirasa
sudah cukup, tutup tingkap pada collector, dan biarkan sistem tetap beroperasi
beberapa saat guna memberi waktu bagi bola-bola Taproge untuk terkumpul
seluruhnya didalam collector. Bila dipandang cukup, matikan pompa dan catcher
dapat dibuka kembali. 4.1.2. Sistem air pendingin utama siklus tertutup. Secara
prinsip, sistem air pendingin utama siklus tertutup menggunakan media air pendingin
yang sama secara berulang dalam sirkulasi tertutup guna memasok kondensor
seperti terlihat pada gambar 36. Gambar 36: Prinsip Sistem Air Pendingin Siklus
Tertutup Air pendingin dipompakan ke kondensor oleh pompa air pendingin utama
(CWP) untuk mengkondensasikan uap bekas dengan cara menyerap panas laten
dari uap bekas tersebut. Akibat proses dikondensor, temperatur air pendingin keluar
kondensor akan mengalami kenaikkan. Karena air akan disirkulasikan kembali ke
kondensor, maka air pendingin ini harus didinginkan terlebih dahulu. Proses
pendinginan air dilaksanakan di Menara pendingin (Cooling Tower). Didalam menara
pendingin, air pendingin didinginkan oleh udara sehingga temperaturnya kembali
turun dan siap disirkulasikan kembali kedalam kondensor. Gambar 37, merupakan
contoh aplikasi sistem air pendingin utama siklus tertutup. Pengenalan PLTU
Batubara Hal.47 / 55
Materi pltu Gambar 37: Aplikasi Sistem Air Pendingin Utama Siklus Tertutup Dalam
contoh aplikasi sistem air pendingin utama siklus tertutup seperti gambar diatas,
fungsi sebagian besar komponennya seperti kondensor, Auxiliary Cooling water heat
Exchanger, Traveling Screen sama seperti yang telah diuraikan dalam sistem air
pendingin utama siklus terbuka pada session sebelumnya. Perbedaannya hanya
terletak pada menara pendingin (Cooling Tower) yang tidak terdapat pada sistem air
pendingin siklus terbuka. Menara Pendingin (Cooling Tower). Berfungsi untuk
mendinginkan air pendingin utama dengan menggunakan udara sebagai media
pendingin. Pada prinsipnya, ada dua tipe dasar cooling tower yaitu cooling tower tipe
kering (Dry Cooling Tower) berupa penukar panas tipe permukaan (Surface heat
Exchanger) dan cooling tower basah (Wet Cooling Tower) yang merupakan penukar
panas tipe kontak langsung (direct contact heat exchanger). Mengingat cooling tower
yang banyak dipakai di PLTU adalah tipe wet cooling tower, maka session ini hanya
akan membahas wet cooling tower. Pada wet cooling tower, air pendingin utama
yang akan didinginkan dialirkan dari bagian atas cooling water dan disemprotkan
pada kisi-kisi pendingin. Udara sebagai media pendingin dihembuskan dari arah
samping bagian bawah cooling tower dan mengalir kearah atas. Selanjutnya, butiran-
butiran air akan kontak langsung dengan udara sehingga terjadi transfer panas dari
air ke udara. Akibat proses ini, sebagian air akan menguap dan terbuang bersama
udara lewat bagian atas cooling tower. Manakala didalam air pendingin terdapat zat-
zat pencemar, maka ketika sebagian air menguap, Pengenalan PLTU Batubara
Hal.48 / 55
Materi pltu konsentrasi zat pencemar semakin tinggi, sehingga dapat mengakibatkan
timbulnya berbagai masalah dalam kondensor. Untuk mengatasi masalah ini, maka
secara periodik atau secara kontinyu, air pendingin harus dibuang / didrain dari
bagian bawah bak penampung (basin). Proses ini dikenal dengan istilah Blowdown
yang selain berfungsi untuk menurunkan konsentrasi zat pencemar dalam air
pendingin, sekaligus juga untuk membuang endapan-endapan / lumpur-lumpur
dibagian bawah bak penampung. Akibat proses penguapan dan blowdown, maka
untuk mempertahankan kuantitas air pendingin didalam siklus, diperlukan
penambahan air dari luar dengan jumlah yang sebanding. Air pendingin yang
ditambahkan dari luar siklus disebut make up. Ilustrasi dari semua proses diatas
dapat dilihat pada gambar 38. Gambar 38: Tipikal Aliran Air Pendingin Pada Cooling
Tower Wet Cooling Tower sendiri juga terdiri dari dua tipe yaitu : a. Natural draft
cooling tower dan Forced draft cooling tower. Berhubung natural draft cooling tower
belum lagi dipakai di PLTU yang dimiliki PLN, maka session ini hanya akan
membahas Forced draft cooling tower. b. Forced draft cooling tower sering juga
disebut Mechanical draft cooling tower menggunakan kipas yang digerakkan oleh
motor listrik untuk mengalirkan udara pendingin cooling tower. Dipandang dari sisi
aliran udaranya, cooling tower ini dibedakan menjadi cross flow cooling tower seperti
gambar 39 dan counter flow cooling seperti gambar 40. Pengenalan PLTU Batubara
Hal.49 / 55
Materi pltu Gambar 39: Cross Flow Cooling Tower Gambar 40: Counter Flow Cooling
Tower Pada cross flow cooling tower, aliran udara bersilangan tegak lurus terhadap
aliran udara sedang pada counter flow cooling tower, aliran udara berlawanan
dengan arah aliran air. Gambar 41, memperlihatkan konstruksi tipikal Mechanical
draft cooling tower yang banyak dipakai pada PLTU milik PLN yang umumnya
terbuat dari kayu atau beton. Gambar 41: Konstruksi Mechanical Draft Cooling Tower
Pengenalan PLTU Batubara Hal.50 / 55
Materi pltu Dibagian atas cooling tower dipasang beberapa kipas / Fan yang
digerakkan oleh motor listrik melalui rangkaian gigi reduksi (gearbox) untuk
menurunkan putaran motor. Air pendingin panas masuk ke header dibagian atas
cooling tower dan dispraykan kebawah menuju kisi-kisi (Fill) yang umumnya bertipe
pantul (splash). Disamping bagian luar kisikisi tempat udara masuk, dipasang sirip-
sirip (Louvre) untuk mencegah agar cipratan air tidak keluar dari cooling tower. Udara
atmosfir masuk melalui sirip-sirip akibat hisapan fan dan mengalir keatas menuju fan
sambil mendinginkan air. Udara panas akan dihembuskan kembali ke atmosfir oleh
fan lewat bagian atas cooling tower. Air dingin akan berkumpul di bak penampung
(basin) dibagian bawah cooling tower. Dari bak penampung ini, air selanjutnya
disirkulasikan kembali ke kondensor sebagai air pendingin utama. Ketika unit
berperasi pada beban penuh atau cuaca panas, seluruh fan pada cooling tower
mungkin harus dioperasikan. Tetapi pada beban rendah atau cuaca dingin, sebagian
fan dapat dimatikan untuk menghemat listrik. 4.2. Sistem Air Penambah. Secara
teoritis, fluida kerja didalam sikus PLTU akan terus bersirkulasi tanpa terjadi
pengurangan massa fluida kerja sehingga tidak memerlukan penambahan dari luar
siklus. Tetapi pada prakteknya, banyak terjadi kehilangan massa fluida kerja yang
antara lain disebabkan oleh adanya kebocoran - kebocoran didalam sistem.
Akibatnya diperlukan tambahan fluida kerja sejumlah tertentu dari luar siklus secara
kontinyu. Sistem air penambah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan akan
tambahan fluida kerja tersebut. Mengingat bahwa kualitas air penambah harus sama
baiknya dengan kualitas air yang telah berada dalam siklus, maka sistem air
penambah dilengkapi dengan unit pengolah air (demineralizer plant) yang berfungsi
untuk mengolah air sumber (raw water) menjadi air penambah (make up water). Raw
water untuk PLTU dapat berasal dari berbagai sumber seperti air PAM (City water),
air tanah (well water), air sungai atau air laut yang telah diolah melalui Desalination
Plant. Desalination Plant adalah unit untuk mengolah air laut melalui proses
evaporasi / penguapan air laut. Uap air ini kemudian dikondensasikan dan akhirnya
didapat air dengan kualifikasi yang memadai sebagai Raw Water. Pembahasan lebih
rinci mengenai Desalination Plant serta demineralizer plant akan diulas pada
pelajaran lain. Gambar 42, merupakan contoh sistem air penambah dengan raw
water yang berasal dari air tanah (well). Pengenalan PLTU Batubara Hal.51 / 55
Materi pltu Gambar 42: Well Water Supply System Pada gambar terlihat bahwa air
tanah dihisap oleh pompa (Well pump) dan dialirkan ke Aerator yang berfungsi
membuang gas-gas terlarut untuk selanjutnya dialirkan ke clarifier reactor.
Komponen ini akan menyaring partikel-partikel padat yang terlarut maupun
kotorankotoran lainnya. Dari sini air selanjutnya dialirkan ketangki penampung
(clearwell storage). Pada tahapan ini juga diinjeksikan bahan-bahan kimia baik untuk
mempercepat proses pemurnian maupun untuk mengurangi potensi penyebab
korosi.Jenis bahan kimia yang digunakan ada beberapa macam misalnya
Hypochrorite untuk menurunkan kadar besi (iron), koagulant untuk mempercepat
proses clarifikasi, caustic untuk mencegah korosi dan lain sebagainya. Bahan-bahan
kimia ini dapat diinjeksikan di clarifier reactor ataupun di clearwell dan disirkulasikan
kembali secara kontinyu melalui saluran resirkulasi untuk mendapatkan distribusi
yang merata. Dari tangki penampung air dipompakan kesaringan (Filter) dan
sebagian lagi kesaluran Backwash serta saluran Resirkulasi. Saluran Backwash
berfungsi untuk membersihkan clarifier reactor fdari partikel-partikel padat yang
menyumbat. Filter berfungsi sebagai saringan akhir untuk menyaring partikel-partikel
yang masih terlarut dalam air. Umumnya filter tersebut berupa carbon, gravel atau
pasir. Filter juga dilengkapi saluran backwash. Lewat dari filter, air kemudian masuk
ke tangki raw water (Service Water/Treated Water Storage Tank). Dari tangki ini, air
kemudian dialirkan ke Demineralizer yaitu unit pengolah air dengan metode penukar
ion ( Ion Exchanger). Mengenai demineralizer plant akan dibahas khusus pada
pelajaran tersendiri. Keluar dari demineralizer plant, kualitas air telah menjadi air
penambah (Make up water) yang ditampung dalam tangki air penambah. (Make up
water / Demineralizer Water Storage Tank) dan siap untuk dimasukkan kedalam
siklus bila diperlukan. Air penambah umumnya masuk kedalam siklus melalui
Hotwell, seperti terlihat pada gambar 43. Pengenalan PLTU Batubara Hal.52 / 55
Materi pltu Gambar 43: Sistem Air Penambah Aliran air penambah yang masuk ke
hotwell diatur oleh katup air penambah (make up valve). Pembukaan katup
dikendalikan oleh level Transmitter (LT) yangg menggunakan Parameter Level
Hotwell sebagai set point, karena variasi level hotwell merepresentasikan kebutuhan
air penambah. Bila level hotwell turun menjadi lebih rendah dari semestinya, maka
katup air penambah akan membuka sehingga air penambah dari tangki air
penambah (Make up / Condensate Storage Tank) akan mengalir kedalam hotwell
oleh tarikan vacum. Hal yang perlu diperhatikan oleh operator adalah bahwa jangan
biarkan level tangki air penambah terlalu rendah. Kalau sampai hal ini terjadi, maka
hisapan vacum akan menimbulkan pusaran air (vortex) dalam tangki air penambah
sehingga memungkinkan udara dari tangki akan terhisap kedalam hotwell. Hal ini
dapat mengakibatkan turunnya vacum dan bahkan mungkin dapat mengakibatkan
Unit trip. Bila level hotwell tinggi, maka hotwell level transmitter (LT) akan
memerintahkan katup pelimpah (Spill Valve) untuk membuka dan sebagian air
hotwell akan mengalir melalui pompa kondensat dan kembali ke tangki air
penambah. 4.3. Sistem air pendingin bantu (Auxiliary Cooling Water Sysem). Sistem
air pendingin bantu merupakan pemasok kebutuhan air pendingin untuk alat-alat
bantu PLTU seperti : Hydrogen Cooler (untuk generator berpendingin
hidrogen) Turbine Lube Oil Cooler Instrument & Service Air Compressor Pompa air
pengisi (BFP) Air Heater Lube Oil Cooler GRF Lube Oil Cooler FDF & IDF Lube Oil
Cooler Pengenalan PLTU Batubara Hal.53 / 55
Materi pltu dan lain sebagainya Yang merupakan suatu sistem tertutup seperti
terlihat pada gambar 4.3.1. Gambar 44: Sistem Air Pendingin Bantu Adapun
komponen dalam sistem air pendingin bantu adalah : Tangki air pendingin bantu
(head tank). Merupakan sarana penampung air pendingin bantu yang diisi air demin
(make up water) dimana umumnya diletakkan pada elevasi yang cukup tinggi dari
permukaan tanah dengan maksud untuk memberikan tekanan hisap positif (positive
suction head) pada pompa air pendingin bantu. Untuk mengantisipasi kebocoran-
kebocoran dalam sistem, maka disediakan sistem kontrol otomatis untuk menjaga
agar level tangki tetap konstan. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pada tangki
disediakan saluran untuk menambah air yang berasal dari percabangan sisi tekan
pompa air condensate. Pada saluran ini dipasang katup pengatur (control valve)
yang dikendalikan oleh level tangki (LT). Bila level tangki turun dari semestinya,
katup pengisian ini akan membuka sehingga air dari sisi tekan pompa condensate
akan mengalir mengisi tangki. Pompa air pendingin bantu (Auxiliary Cooling Water
Pump). Pompa ini berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin bantu. Biasanya
disediakan dua buah yang satunya untuk normal operasi sedang satunya untuk
cadangan (stand by). Masing-masing pompa dilengkapi dengan saringan (strainer)
pada sisi hisapnya. Operator harus memperhatikan kebersihan saringan ini. Kondisi
saringan dapat diidentifikasikan dari perbedaan tekanan ( P) melintasi saringan.
Bila perbedaan tekanan tinggi, berarti saringan dalam kondisi kotor dan perlu segera
dibersihkan. Sisi tekan masing-masing pompa dilengkapi katup satu arah (check
valve) untuk mencegah aliran balik manakala pompa sedang dalam keadaan stop.
Ketika pompa Pengenalan PLTU Batubara Hal.54 / 55
Materi pltu dimatikan, operator harus memastikan bahwa katup satu arah (check
valve) ini menutup dengan baik. Kedua pompa juga dilengkapi dengan Pressure
switch yang dipasang pada saluran tekan air pendingin bantu. Pressure switch ini
berfungsi untuk memberikan sinyal start otomatis terhadap pompa. Bila tekanan
saluran tekan air pendingin utama turun hingga batas tertentu, maka Pressure switch
akan memerintahkan pompa yang stand by untuk start secara otomatis. Penukar
panas air pendingin bantu (Auxiliary Cooling Waterheat Exchanger). Merupakan
penukar panas tipe permukaan (surface type) yang berfungsi untuk mendinginkan air
pendingin bantu dengan air pendingin utama sebagai media pendinginnya. Pada
penukar panas ini, air pendingin bantu mengalir diluar pipa - pipa pendingin
sedangkan media pendingin mengalir didalam pipa-pipa pendingin. Pada sisi masuk
dan sisi keluar penukar panas baik untuk sisi air pendingin bantu maupun untuk sisi
media pendingin dilengkapi dengan temperatur indikator. Operator harus
memperhatikan temperatur-temperatur indikator ini. Bila temperatur air pendingin
bantu keluar heat exchanger tinggi, berarti ada yang kurang beres. Bila ternyata hal
ini disebabkan oleh tersumbatnya saluran-saluran media pendingin, lakukan back
washing terhadap penukar panas atau bila perlu lakukan pembersihan. Pengenalan
PLTU Batubara Hal.55 / 55

Tes injector diperlukan agar pengabuta sempurna pada tekanan tertentu