Anda di halaman 1dari 9

1.

1 Batuan Reservoir

Didefinisikan sebagai suatu wadah yang diisi dan dijenuhi minyak dan/atau gas, merupakan
suatu lapisan berongga/berpori-pori. Secara teoritis semua batuan, baik batuan beku maupun
batuan metaforf dapat bertindak sebagai batuan reservoir, tetapi pada kenyataan ternyata 99%
batuan reservoir adalah batuan sedimen.

Jenis batuan reservoir ini akan berpengaruh terhadap besarnya porositas dan permeabilitas.
Porositas merupakan perbandingan volume pori-pori terhadap volume batuan keseluruhan,
sedangkan permeabilitas merupakan kemampuan dari medium berpori untuk mengalirkan

fluida yang dipengaruhi oleh ukuran butiran, bentuk butiran serta distribusi butiran. Disamping
itu batuan reservoir akan dipengaruhi juga oleh fasa fluida yang mengisi pori-pori tersebut
berhubungan atau tidak satu sama lainnya.

1.2 Lapisan Penutup

Minyak dan/atau gas terdapat di dalam reservoir. Untuk dapat menahan dan melindungi fluida
tersebut, lapisan reservoir ini harus mempunyai penutup di bagial luar lapisannya. Sebagai
penutup lapisan reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat kedap
(impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida yang dibatasinya.

Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang berada di bagian atas dan tepi reservoir
yang dapat dan melindungi fluida yang berada di dalam lapisan di bawahnya, hal ini akan
mengakumulasikan minyak dalam reservoir.

1.3 Batuan Asal

Pada saat terjadinya minyak dan/atau gas yang berasal dari organisme purba terdapat di dalam
batuan asal (source rock), dengan kondisi tekanan dan temperatur tertentu kemudian berubah
menjadi minyak atau gas bumi, kemudian bermigrasi dan terperangkap pada batuan berpori yang
disebut sebagai batuan reservoir.

2. Sifat Batuan Reservoir

2.1 Porositas

Porositas didefinisikan sebagai perbandingan antara volume batuan yang tidak terisi oleh
padatan terhadap volume batuan secara keseluruhan. Berdasarkan sifat-sifat batuan
reservoir, maka porositas dapat dibagi lagi menjadi porositas effektif dan porositas absolut.

Porositas effektif yaitu perbandingan volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap
volume batuan secara keseluruhan. Porositas absolut adalah perbandingan volume pori-pori total
tanpa memandang saling berhubungan atau tidak, terhadap volume batuan secara keseluruhan.

2.2 Permeabilitas
Permeabilitas batuan didefinisikan sebagai kemampuan batuan tersebut untuk melewatkan fluida
dalam medium berpori-pori yang saling berhubungan.

Dikenal tiga istilah untuk permeabilitas yaitu permeabilitis absolut, permeabilitas effektif dan
permeabilitas relatif.

Permeabilitas absolut dipakai untuk aliran fluida satu fasa. Permeabilitas effektif digunakan
untuk aliran yang terdiri dari dua phasa atau lebih yang dikenal sebagai : Ko, Kw, Kg.
Permeabilitas relatif adalah perbandingan permeabilitas effektif terhadap permeabilitas
absolut, ini tergantung pada jenis fluidanya.

2.3 Saturasi

Reservoir mengandung fluida-fluida berupa; minyak, gas, atau air. Saturasi didefisikan sebagai
fraksi salah satu fluida terhadap pori-pori dari batuan. Di sini dikenal So, Sw, dan Sg,

di mana :

Untuk mendapatkan harga saturasi dapat dilakukan di laboratorium dengan prinsip


penguapan air dan pelarutan minyak. Untuk ini dapat digunakan alat-alat : ASTM Extraction,
Soxlet Extractor.

2.4 Kebasahan (wettability)

Kebasahan didefinisikan sebagai suatu kecenderungan suatu fluida untuk menyebar atau
menempel pada permukaan padatan dengan adanya fluida lain yang immiscible.

Kecenderungan untuk menyebar atau menempel ini karena adanya gaya adhesi, yang merupakan
faktor tegangan permukaan. Faktor inii pula yang menentukan fluida mana yang akan lebih
membasahi suatu padatan.
Untuk menentukan energi antar muka sistem di atas, biasanya dapat dilakukan di
laboratorium secara langsung. Harga disebut sebagai sudut kontak, berkisar antara 0o dan180o.
Untuk > 90o, sifat kebasahan batuan reservoir disebut sebagai basah minyak (oil wet),
sedangkan Untuk < 90o, sifat kebasahan batuan reservoir disebut sebagai basah air (water wet).

3. Tekanan Reservoir

Didefisikan sebagai tekanan fluida di dalam pori-pori reservoir, yang berada dalam keadaan
setimbang, baik sebelum maupun sesudah dilakukannya suatu proses produksi.

Berdasarkan hasil penyelidikan, besarnya tekanan reservoir mengikuti suatu hubungan yang
linier dengan kedalaman reservoir tersebut. Hal ini diinterpretasikan sebagai akibat dari
penyingkapan perluasan formasi batuan reservoir tersebut ke permukaan, sehingga reservoir
menerima tekanan hidrostatis fluida pengisi formasi. Berdasarkan ketentuan ini, maka pada
umumnya gradient tekanan berkisar antara 0,435 psi/ft.

Dengan adanya tekanan overburden dari batuan di atasnya, gradient tekanan dapat lebih besar
dari harga tersebut di atas, hal ini tergantung pada kedalaman reservoir. Dengan adanya
kebocoran gas sebelum/selama umur geologi migrasi minyak, dapat mengakibatkan tekanan
reservoir akan lebih rendah.

Besarnya tekanan reservoir dapat diketahui dengan merata-ratakan hasil pengukuran bottom hole
pressure sumur statis. Pengukurannya dapat diperoleh langsung dengan pengukuran sub surface
bomb.

Dengan metoda analisa pressure buildup, sebagaimana suatu persamaan telah


disederhanakan oleh Horner, dapat diketahui bottom hole pressure sebagai fungsi dari waktu
penutupan.
Dalam sejarah produksi, besarnya tekanan akan selalu menurun. Kecepatan penurunannya
tergantung pada pengaruh-pengaruh tenaga yang berada di luar reservoir, dalam hal ini adalah
mekanisme pendorong.

4. Temperatur Reservoir

Temperatur reservoir merupakan fungsi dari kedalaman. Hubungan ini dinyatakan oleh gradient
geothermal. Harga gradient geothermal itu berkisar antara 0,3 oF/100 ft sampai dengan 4 oF/ 100
ft.

5. Perubahan Phasa

Perubahan fasa sistem hidrokarbon dalam bentuk cairan dan gas merupakan fungsi dari tekanan,
temperatur serta komposisinya.

Menurut Hawkin NF., fasa adalah bagian dan sistem yang sifat-sifatnya homogen dalam
komposisi, memiliki batas permukaan secara fisis serta terpisah secara mekanis dengan fasa
lainnya yang mungkin ada.

Fluida hidrokarbon suatu sistem yang heterogen, sangat dipengaruhi oleh jumlah komponen yang
ada di dalamnya. Untuk itu analisa fasa fluida hidrokarbon dilakukan dalam berbagai komponen
yang kemudian diinterpretasikan dalam diagram tekanan dan temperatur.

Berdasarkan posisi tekanan dan temperatur pada diagram phasa, kita dapat membedakan
berbagai type reservoir, misalnya gas condensate reservoir, gas reservoir dan lain-lain.
Berdasarkan penomena perubahan fasa fluida ini, kita dapat merencanakan fasilitas yang baik
untuk sistem produksi, separator, pemipaan serta storage/cara penyimpanannya.

6. Karakteristik fluida hidrokarbon

Fluida reservoir umumnya terdiri dari minyak, gas dan air formasi. Minyak dan gas
kebanyakan merupakan campuran yang rumit berbagai senyawa hidrokarbon, yang terdiri dari
golongan naftan, parafin, aromatik dan sejumlah kecil gabungan oksigen, nitrogen, dan belerang.
Karakteristik-karakteristik fluida hidrokarbon yang berhubungan dengan sifat fisis, dinyatakan
dalam berbagai besaran :

1. Faktor volume formasi gas.


2. Kelarutan gas.
3. Faktor volume formasi minyak.
4. Faktor volume formasi dwi-fasa.
5. Viskositas.
6. Berat jenis (oAPI)

6.1 Faktor volume formasi gas (Bg)

Faktor volume formasi gas didefinisikan sebagal volume (dalam barrels) yang ditempati oleh
suatu standard cubic feet gas (60 oF, 14,7 psi) bila dikembalikan pada keadaan temperatur dan
tekanan reservoir sebagal berikut :

6.2 Kelarutan gas dalam minyak (Rs)

Kelarutan gas (Rs) didefinisikan sebagai banyaknya cubic feet gas (dalam tekanan dan
temperatur standard) yang berada dalam larutan minyak mentah satu barrel tangki
pengumpulan minyak, ketika minyak dan gas kedua-duanya masih berada dalam keadaan
temperatur dan tekanan reservoir.

Rs merupakan fungsi dari tekanan, untuk minyak mentah yang jenuh, penurunan tekanan akan
nengakibatkan kelarutan gas menurun karena gas yang semula larut dalam minyak mentah pada
tekanan yang lebih rendah. Untuk minyak mentah yang tak jenuh, penurunan tekanan sampai
tekanan gelembung, tidak akan menurunkan kelarutan gas, tetapi setelah melewati tekanan
gelembung, penurunan tekanan mengakibatkan menurunnya kelarutan gas.

6.3 Faktor volume formasi minyak (Bo)

Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai perbandingan V1 barrel minyak pada
keadaan reservoir terhadap V2 barrel minyak pada tangki pengumpul (60 oF, 14,7 psi). V1 - V2
adalah berupa gas yang dibebaskan karena penurunan tekanan dan temperatur.
Penaksiran faktor volume formasi minyak dapat dilakukan dengan tiga cara, berdasarkan data-
data yang tersedia dan prosen ketelitian yang dibutuhkan.

6.4 Faktor volume formasi dwi-fasa (Bt)

Faktor volume formasi dwi-fasa (Bt) didefinisikan sebagai volume yang ditempati oleh minyak
sebanyak satu barrel tangki pengumpul ditambah dengan gas bebas yang semula larut dalam
sejumlah minyak tersebut.

Harga Bt dapat ditentukan dan karakteristik cairan reservoir yang disebutkan terdahulu, yang
digambarkan sebagai :

6.5 Viskositas ()

Viskositas suatu cairan adalah suatu ukuran tentang besarnya keengganan cairan itu untuk
mengalir. Viskositas didefinisikan sebagai besarnya gaya yang harus bekerja pada satu satuan
luas bidang horizontal yang terpisah sejauh satu satuan jarak dan suatu bidang horizontal lain,
agar relatip terhadap bidang kedua ini, bidang pertama bergerak sebesar satu satuan kecepatan.
Diantara kedua bidang horizontal inii terdapat cairan yang dimaksud.

Umumnya viskositas dipengaruhi langsung oleh tekanan dan temperatur. Hubungan tersebut
adalah :

Viskositas akan menurun dengan naiknya temperatur.


Viskositas akan naik dengan naiknya tekanan, dimana tekanan tersebut semata-mata
untuk pemanfaatan cairan.
Viskositas akan naik dengan bertambahnya gas dalam larutan.

6.6 Berat jenis (oAPI)

Berat jenis (oAPI) minyak menunjukkan kualitas fluida hidrokarbon. Apakah hidrokarbon
tersebut termasuk minyak ringan, gas atau minyak berat. Besaran ini dinyatakan dalam :
Semakin besar harga oAPI berarti berat jenis minyak semakin kecil dan sebaliknya.

7. Mekanisme Pendorongan

Berdasarkan mekanisme pendorongan yang menyebabkan minyak dan/atau gas dapat


bergerak ke titik serap (sumur produksi), reservoir minyak dan/atau gas dapat dibagi atas :

1. Water drive reservoir


2. Solution gas drive
3. Gas cap drive reservoir
4. Combination drive reservoir

7.1 Water drive reservoir

Pada reservoir dengan type pendorongan "water drive, energi yang menyebabkan
perpindahan minyak dari reservoir ke titik serap adalah disebabkan oleh; pengembangan air,
penyempitan pori-pori dari lapisan dan sumber air di permukaan bumi yang berhubungan dengan
formasi yang mengandung 100% air (aquifer) sebagai akibat adanya penurunan tekanan selama
produksi.

Air sebagai suatu fasa yang sering berada bersama-sama dengan minyak dan/atau gas dalam
suatu reservoir yang mengandung hidrokarbon tersebut seringkali merupakan suatu fasa kontinu
dalam suatu formasi sedimen yang berdekatan dengan reservoir tersebut.

Perubahan tekanan dalam reservoir minyak sebagai akibat dan pada produksi minyak melalui
sumur akan diteruskan kedalam aquifer. Terbentuknya gradient tekanan ini akan mengakibatkan
air mengalir ke dalam lapisan minyak (merembes) bila permeabilitas disekitarnya
memungkinkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa aquifer merupakan suatu tenaga yang
membantu dalam hal pendorongan minyak.

Dilihat dari sudut gerakan air dari aquifer ke dalam Iapisan minyak, maka aquifer dapat
dibedakan atas 3 macam :

1. Gerakan air dari bawah (bottom water drive).


2. Gerakan air dari samping (edge water drive).
3. Gerakan air dari bawah dan dari samping (bottom & edge water drive).

7.1.1. Gerakan air dari bawah (bottom water drive)

Dalam hal ini, reservoir minyak terdapat pada puncak suatu batuan reservoir, sedangkan di
bawahnya adalah air yang mengandung tenaga pendorongan. Tebal dan lapisan yang
mengandung minyak relatif tipis dibandingkan tebal aquifer.

7.1.2. Gerakan air dari samping (edge water drive)


Dalam keadaan ini tenaga pendorongan minyak berasal dari aquifer dalam arah tidak vertikal
dari bawah ke atas, tetapi dari samping.

7.1.3. Gerakan air dari bawah dan dari samping (bottom & edge water drive)

Pada keadaan ini tenaga pendorongan minyak berasal dari kombinasi antara bottom water
drive dan edge water drive".

Dari kurva sejarah produksi suatu reservoir dengan water-drive, memperlihatkan bahwa pada
permulaan produksi, tekanan akan turun dengan sedikit tajam. Karena air memerlukan waktu
dulu untuk mengisi ruangan yang ditinggalkan oleh minyak yang diproduksi. Kemudian tekanan
akan menurun secara perlahan-lahan.

Pada reservoir water drive, gas tidak memegang peranan, sehingga perbandingan produksi gas
terhadap produksi minyak (GOR) dapat dianggap konstan. Sedangkan perbandingan produksi air
terhadap produksi minyak (WOR) akan naik, karena air yang mendorong dari belakang mungkin
saja akan melewati minyak yang didorongnya akibat dari sifat mobiIity-nya, sehingga air akan
terproduksi. Recovery minyak dari type pendorongan "water drive" ini berkisar 30% - 60%.

7.2. Solution Gas Drive Reservoir

Pada reservoir dengan type pendorongan solution gas drive energi yang menyebabkan minyak
bergerak ke titik serap berasal dari ekspansi volumetrik larutan gas yang berada dalam minyak
dan pendesakan minyak akibat berkurangnya tekanan karena produksi. Hal ini akan
menyebabkan gas yang larut di dalam minyak akan ke luar berupa gelembunggelembung yang
tersebar merata di dalam phasa minyak. Penurunan tekanan selanjutnya akan menyebabkan
gelembung-gelembung gas tadi akan berkembang, sehingga mendesak minyak untuk mengalir ke
daerah yang bertekanan rendah.

Pada kurva sejarah produksi suatu lapangan yang reservoirnya mempunyai mekanisme
pendorong "solution gas drive" akan memperlihatkan bahwa pada saat produksi baru dimulai,
tekanan turun dengan perlahan dan selanjutnya menurun dengan cepat. Hal ini disebabkan
karena pada saat pertama, gas belum bisa bergerak, karena saturasinya masih berada di bawah
saturasi kritis, setelah saturasi kritis dilampaui, barulah tekanan turun dengan cepat.

Perbandingan gas terhadap minyak (GOR), terlihat mula-mula hampir konstan, selanjutnya akan
naik dengan cepat, dan kemudian turun lagi. Hal ini disebabkan karena mula-mula saturasi gas
masih berada dibawah saturasi kritisnya. Sehingga permeabilitasnya masih sama dengan nol.
Setelah saturasi kritis dilampaui, gas mulai bergerak dan membentuk saturasi yang kontinu.
Kemudian gas ikut terproduksi bersama minyak.

Semakin lama GOR semakin besar, ini disebabkan karena mobility gas lebih besar dari mobility
minyak sehingga terjadi penyimpangan/slippage dimana gas bergerak lebih cepat dari minyak.
Oleh karena gas lebih banyak diproduksikan, lama kelamaan kandungan gasnya semakin
berkurang sehingga recovery-nya akan turun. Recovery minyak dengan jenis solution gas drive
reservoir berkisar 5 - 20 %.

7.3. Gas Cap Drive Reservoir

Pada reservoir dengan mekanisme pendorongan gas cap drive energi pendorongan berasal dari
ekspansi gas bebas yang terdapat pada gas bebas (gas cap). Hal ini akan mendorong minyak ke
arah posisi yang bertekanan rendah yaitu ke arah bawah struktur dan selanjutnya ke arah sumur
produksi.

Gas yang berada di gas cap ini sudah ada sewaktu reservoir itu ditemukan atau bisa juga berasal
dari gas yang terlarut dalam minyak dan akan ke luar dari zone minyak bila tekanan reservoirnya
di bawah bubble point pressure.

Sejarah produksi dari reservoir dengan gas cap drive memperlihatkan suatu kurva dimana
tekanan akan menurun lebih cepat dibandingkan dengan water drive reservoir. Sedangkan GOR-
nya akan terus naik sampai akhirnya hanya gas yang terproduksi. Hal ini disebabkan karena
mobilitas gas lebih besar dibandingkan dengan mobilitas minyak. Kemungkinan slippage dimana
gas akan mendahului minyak, lebih besar sehingga gas ikut terproduksi. Akibatnya effisiensi
pendorongannya akan berkurang dari semestinya. Recovery minyak pada jenis gas cap
reservoir berkisar 20 - 40 %.

7.4. Combination Drive Reservoir

Pada reservoir type ini, mekanisme pendorongan minyak dapat berasal dari kombinasi antara
water drive dengan solution gas drive ataupun kombinasi antara water drive dengan gas cap
drive. Pada banyak reservoir, keempat mekanisme pendorongan dapat bekerja secara simultan,
tetapi biasanya salah satu atau dua yang lebih dominan.

8. Perolehan Minyak Tahap Lanjut (Enhanced Oil Recovery)

Adalah tahap lanjut untuk memperoleh bagian minyak bumi yang masih tertinggal di dalam
batuan reservoir pada tahap perolehan awal (primary recovery). Terdapat berbagai cara
perolehan minyak tahap lanjut ini, yaitu dengan cara injeksi fluida tak tercampur (non miscible
flood) : injeksi air, injeksi gas; injeksi fluida tercampur (miscible flood) : injeksi gas CO2,
injeksi

gas tak reaktif, injeksi gas yang diperkaya, injeksi gas kering ; injeksi kimiawi (chemical
injection) : injeksi alkalin, injeksi polimer, injeksi surfactant; injeksi termal (thermal injection) :
injeksi air panas, injeksi uap air, pembakaran di lubang sumur dan lain-lain.

Dari : Buku Pintar Migas Indonesia, Reservoir Minyak Dan Gas Bumi oleh Sudjati Rachmat.