Anda di halaman 1dari 112

MATERI PEMBELAJARAN

MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN


AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS INDONESIA
TAHUN 2016 - 2017

1
Tim Penulis:

Drs. Mujilan, M.Ag.


Dr, Drs. Kaelany HD, M.Ag.
Dr. Drs. Nurwahidin, M.Ag.
Sihabudin Afroni, Lc., MA.
A. Rozaq, SS., M.Hum.
Pepen Apendi, S.Ag., M.Hum.
Ahmad, SQ., M.Ag.

2
KATA PENGANTAR

Universitas Indonesia sebagai salah satu Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia


memiliki tanggung jawab dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu,
pelaksanaan program akademik berorientasi pada tercapainya sasaran pembelajaran yang
berkualitas. Dengan program itu diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki
kualitas intelektual, spiritual dan kehandalan profesional, memiliki komitmen moral dan
kepedulian sosial. Universitas Indonesia membekali mahasiswanya agar berpikir kritis, kreatif
dan inovatif. Karena itu sejak awal proses pembelajarannya, diterapkan suatu kegiatan yang
disebut Program Pengembangan Kepribadian Pendidikan Tinggi (PPKPT).
Materi Pembelajaran MPK Agama Islam ini disusun berdasarkan :
1. Agama Islam merupakan realita sejarah yang berkembang dari masa kemasa. Oleh
karena itu, tahap pertama dalam proses pembelajaran MPK Agama Islam melakukan
kajian sejarah agama Islam, makna agama Islam bagi kehidupan, dan manusia beragama
Islam
2. Agama Islam memiliki pokok-pokok ajaran yang mendasari sikap dan perilaku
penganutnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian tentang pokok-pokok ajaran
agama Islam dari Kitab Suci Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw/Hadis.
3. Agama Islam mengandung ajaran dalam dimensi sosial dan budaya Islam. Oleh karena
itu, perlu kajian tentang keluarga Islam, masyarakat Islam, kerukunan hidup umat
beragama dan hubungan antara agama Islam dengan bangsa dan negara, serta
pengembangan budaya, seni, dan iptek berdasar ajaran agama Islam.
Proses pembelajaran dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahapan perolehan
pengetahuan, tahapan latihan dan tahapan umpan balik. Mahasiswa melakukan tugas
pembelajaran secara berkelompok dan kegiatan mandiri. Kemampuan mahasiswa melakukan
tugas membahas pokok bahasan tertentu merupakan komponen keberhasilan yang diharapkan
dan pada saat membahas masalah tersebut mereka mengacu pada nilai-nilai ajaran agama
Islam dan akademik. Pada setiap pokok bahasan mahasiswa ditugaskan untuk membuat
Latihan Tugas Mandiri (LTM) yang kemudian didiskusikan bersama teman dalam
kelompoknya agar terjadi proses pembelajaran yang mendalam tentang pokok bahasan itu.
Hasil belajar mahasiswa dituangkan dalam bentuk makalah kelompok. Di akhir kegiatan
mahasiswa menyampaikan presentasi sebagi hasil belajar mandiri dan kelompoknya. Sampai
akhir kegiatan masing-masing mahasiswa memperoleh kesempatan melakukan presentasi
sebanyak satu kali. Dengan presentasi mahasiswa diharapkan lebih mampu menyampaikan
ide-ide dengan sikap dan bobot ilmiah.
Untuk mendukung tercapainya pengembangan kemampuan intelektual mahasiswa,
pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah active learning dengan menggunakan
metode collaborative learning (CL) dan problem based learning (PBL). Melalui metode
tersebut kemampuan yang diharapkan dapat dicapai mahasiswa adalah kemampuan
berkomunikasi dan bekerjasama dalam kelompok, mengelola informasi secara efektif,
berpikir kritis dan analitis, bersikap rasional dan mandiri, bertanggung jawab meningkatkan
iman, takwa dan akhlak mulia/etika akademik, serta menerapkan langkah-langkah solusi
masalah secara ilmiah dan didasari ajaran agama Islam yang dianutnya.
Materi pembelajaran MPK Agama Islam ini diharapkan dapat membantu mahasiswa
untuk mengembangkan kajian tentang Islam secara komprehensif guna membentuk pribadi
muslim yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berilmu, beramal,
berakhlak mulia, memiliki etos kerja yang tinggi, menjunjung tinggi dan menerapkan nilai-
nilai ajaran agama Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,
serta menjadikan ajaran agama Islam tersebut sebagai landasan berpikir dan berperilaku
dalam pengembangan budaya, seni, iptek, dan profesinya kelak.
3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I SEJARAH DAN MAKNA AGAMA ISLAM


1. Sejarah dan Perkembangan Agama Islam
2. Makna Agama Islam Bagi Kehidupan
3. Manusia Beragama Islam

BAB II POKOK-POKOK AJARAN AGAMA ISLAM


1. Akidah atau Iman
2. Syariah Islam
3. Akhlak Islam atau Ihsan

BAB III DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA ISLAM


1. Keluarga Islam
2. Masyarakat Islam
3. Pranata Sosial Islam
4. Lembaga Ekonomi Islam
5. Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
6. Pengembangan Budaya, Seni dan Iptek Berdasar Ajaran Agama Islam

DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I
SEJARAH DAN MAKNA AGAMA ISLAM

1. Sejarah dan Perkembangan Agama Islam


1.1. Sejarah Turun dan Perkembangan Agama Islam Pada Masa Nabi Muhammad
saw.
1.1.1. Geografis dan Sejarah Masyarakat Arab

Jazirah Arab hanya dikelilingi padang sahara dan gurun pasir dari seluruh sisinya.
Penduduk Arab hidup bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Padahal mereka
bertetangga dengan dua imperium raksasa yaitu Rum di utara dan Parsi di selatan. Sebaliknya
kebebasan itu telah menempatkan kehidupan bangsa Arab terutama yang berada di Mekkah
dan sekitarnya dalam kehidupan yang dikenal dengan zaman Jahiliah. Masyarakat Arab ketika
itu hidup berdasarkan kesukuan. Wilayahnya kebanyakan terdiri dari padang pasir dan stepa.
Mayoritas penduduknya adalah suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan
padang pasir dan nomadik, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari
air dan padang rumput bagi hewan-hewan gembala mereka. Sebagian lainnya adalah
penduduk yang menetap di kota-kota, seperti Mekah dan Madinah.
Diantara suku-suku yang hidup dan berpengaruh di jazirah Arab adalah suku Quraisy,
dan suku Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, diantaranya yang terkenal adalah Jumh,
Sham, Ady, Makhzum, Taim, Zuhroh, dan marga-marga Qushay bin Kilab, yaitu: Abdud Dar
bin Qushay, Asad bin Abdul Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin Qushay.
Abdu Manaf memiliki 4 anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib, dan Hasyim. Dari
keluarga Hasyim inilah Muhammad saw lahir. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai.

1.1.2. Latar Belakang dan Tujuan Turunnya Agama Islam Kepada Nabi Muhammad
saw.

Di zaman Jahiliyah, kebebasan dan dekadensi moral melampau batas kemanusiaan.


Dalam kondisi seperti itu Muhammad saw diutus menjadi Rasulullah. Beliau lahir di kota
Mekah pada 12 Rabiul Awal, atau 20 April 570, dan wafat di Madinah pada 13 Rabiul Awal
11 H, atau 8 Juni 632M. Muhammad saw adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang
paling mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama
Abdullah, putra Abdul Muttalib, seorang Kepala Suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibu
Muhammad adalah Aminah binti Abdul Wahhab dari Bani Zuhrah.
Sejak masih muda Muhammad saw telah menunjukkan sifat yang istimewa. Umur 6
tahun menjadi yatim piatu, dia dipelihara oleh kakeknya, Abdul Mutthalib. Dua tahun
kemudian kakeknya meninggal, dan dia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika umur 12
tahun, Muhammad dibawa pamannya turut serta dengan kafilah dagang ke Syam (Suriah).
Seorang pendeta Kristen bernama Buhairah, bergetar hatinya ketika memandang dari atas
biaranya. Awan yang bergumpal menaungi seorang anak muda mengendarai unta di dalam
kafilah yang sedang menuju kota, Inilah roh kebenaran yang dijanjikan itu, pikirnya.
Berdasarkan petunjuk Taurat dan Injil, Pendeta itu mengetahui ciri-ciri seorang Nabi yang
akan datang di akhir zaman. Maka ia berpesan kepada Abu Talib agar menjaga anak tersebut,
jangan sampai diketahui orang-orang yang dengki.
Umur 25 tahun Muhammad saw menikah dengan Khadijah dan dikaruniai 6 orang anak:
2 putra: Qasim dan Abdullah, dan 4 putri: Zainab, Ruqaiyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah.
Pada umur 35 tahun Muhammad saw dapat menyelesaikan suatu peristiwa yang hampir
5
menimbulkan perselisihan di antara suku, ketika para suku itu masing-masing merasa lebih
berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Muhammad saw mengambil surbannya
dan meletakkan batu itu di atasnya, dan mempersilakan secara bersama setiap kepala suku
membawanya. Atas keputusannya yang melegakan semua pihak itu ia dijuluki Al-Amin,
artinya orang yang terpercaya. Menjelang umur 40 tahun ia sering mengasingkan diri ke Gua
Hira', sekitar 6 km dari Kota Mekah.

1.1.3. Proses Turunnya Agama Islam Kepada Nabi Muhammad saw.

Pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang


memenuhi ruang gua Hira'. Tiba-tiba suatu makhluk unik berada di depannya lalu
memerintah: Iqra! (bacalah). Muhammad menjawab, Saya tak pandai membaca. Setelah
tiga kali diulang, dan Muhammad menjawab serupa, makhluk unik yang kemudian diketahui
sebagai Jibril itu memeluk Muhammad saw erat-erat, lalu menyampaikan wahyu sebagaimana
tertera dalam QS. 96 (Al-'Alaq) : 1-5 yang artinya :

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manu-
sia) dengan perantaraan qalam. Dan yang mengajarkan kepada manusia apa yang belum
diketahuinya. (QS.96 :1-5).

Dengan turunnya wahyu pertama ini resmilah Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul.
Beberapa minggu kemudian Jibril datang kembali dan menyampaikan wahyu sebagaimana
tertera dalam QS. 68 (Al-Qalam) : 1-7 yang artinya:

Nundemi kalam dan apa yang mereka tulis, demi nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad)
sekali-kali bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang
besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung. Maka kelak kamu akan melihat dan (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapa di
antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang
sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. 68:1-7).

1.1.4. Hubungan Agama Islam Dengan Agama Para Nabi Sebelumnya.

Para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah kehidupan manusia dari manusia pertama, Adam
as sampai ke nabi terakhir, Muhammad saw cukup banyak. Namun secara pasti jumlahnya
tidak diketahui. Dalam QS. 35 (Fathir) : 24 Allah berfirman yang artinya :

Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah pernah diutus kepadanya seorang
pembawa peringatan. (QS. 35:24).

Sedangkan dalam QS. 16 (al-Nahl) : 36 Allah berfirman yang artinya :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang
yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. (QS 16:36).

6
Ada Nabi-nabi yang diceritakan dalam Al-Qur'an, tetapi ada lagi yang tidak. Dalam QS.
40 (Ghafir) : 78 Allah berfirman yang artinya:

Kami telah mengutus nabi-nabi sebelummu, di antara mereka ada yang telah Kami
sampaikan kisahnya, dan ada pula yang tidak kami sampaikan kepadamu (QS. 40:78).

Sedangkan dalam QS. 4 (al-Nisa') : 163 Allah berfirman yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah


memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa,
Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. 4:163)

Pada dasarnya setiap manusia telah ada hidayah yang menyertai kelahirannya, yaitu
instink (naluri) untuk mempertahankan hidupnya, kemudian dilengkapi dengan panca-indera,
akal atau fitrah dan qolbu untuk menerima kebenaran. Dan dengan akal sehatnya seseorang
akan memahami apa yang baik dan apa yang buruk. Dalam QS. 17 (al-Isra') : 15 Allah
berfirman yang artinya :

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat
itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia
tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. (QS 17:15).

1.1.5. Methode Dakwah Nabi Muhammad saw.

Wahyu yang turun berikutnya dan mengandung pemantapan aqidah Islam adalah QS. 73
(Al-Muzammil) :1-8 yang atinya:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari,
kecuali sedikit dari padanya, (yaitu) seperdua atau kuranglah dari seperdua itu sedikit atau
lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya
Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu
malam adalah lebih tepat (untukmu khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (QS Al-Muzammil,
73:1-8).

Wahyu-wahyu pertama sampai ketiga di atas turun dengan tema-tema yang sesuai
dengan masa pemantapan, yaitu perintah:
1. Membaca, iqra (sebagai sarana yang paling penting dalam menuntut ilmu)
2. Dalam menuntut (mencari dan menggali ilmu pengetahuan) hendaklah atas dasar iman
kepada Pencipta, sehingga segala ilmu yang diperoleh senantiasa berorientasi untuk
mengabdi kepada-Nya, dan untuk menggapai keridhaan-Nya.
3. Pentingnya alat (sarana) mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan: Iqra (membaca),
perlunya menulis dan alat tulis (allama bil-qalam) dan Nun (ada yang menafsirkan
dengan tinta).
4. Sebelum adanya kewajiban shalat 5 waktu, telah ada perintah kepada Nabi shalat malam
(tahajud), dan agar Nabi banyak membaca Al-Qur'an.
5. Keseimbangan antara memperbanyak ibadah (di waktu malam) dan bekerja keras (di
siang hari) untuk kehidupan dan perjuangan di jalan Allah.
7
Wahyu ke empat adalah QS. 74 (Al-Muddatstsir) : 1-7 yang memerintah Nabi untuk
bangkit menyampaikan dakwah, yang artinya :

Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringa-an! Dan Tuhanmu
agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan
janganlah kamu memberi (dengan bermaksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS Al-Mudatstsir, 74:1-7)

Dengan turunnya Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7 tersebut, mulailah Rasulullah saw
berdakwah. Pertama-tama, ia melakukannya secara diam-diam di lingkungan rumah dan
keluarganya sendiri serta di kalangan rekan-rekannya. Dengan demikian, maka orang yang
pertama kali menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah wanita yang pertama
kali masuk Islam, menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, dialah pemuda muslim
pertama. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Ia merupakan pria
dewasa yang pertama masuk Islam. Lalu menyusul Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah
menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Muhammad saw sejak ibunya
masih hidup.
Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa teman dekatnya, seperti
Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdur Rahman bin Auf, Sad bin Abi Waqqas, dan
Talhah bin Ubaidillah. Mereka diajak Abu Bakar langsung menemui Nabi saw. Dengan cara
dakwah diam-diam ini, belasan orang telah masuk Islam.
Setelah beberapa lama Nabi saw menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah
perintah agar Nabi saw melakukan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula dia
mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Dalam kesempatan itu Nabi Muhammad
saw bersabda yang artinya:

Sesungguhnya orang yang menjadi mata-mata musuhnya sekalipun, tidak akan sampai hati
berdusta kepada kaum kerabatnya sendiri. Demi Allah, kalau saya berdusta kepada orang
ramai, saya tidak akan berdusta kepada kaum kerabatku.

Setelah cukup mendapat perhatian, ia meneruskan: Demi Allah yang tiada Tuhan
selain Dia, saya adalah utusan Allah kepada kalian dan kepada manusia umumnya. Ada
sebagian kerabatnya yang menolak dengan cara yang lemah-lembut dan ada pula yang
menolaknya secara kasar. Salah seorang yang menolak secara kasar adalah Abu Lahab.
Langkah dakwah selanjutnya yang diambil Nabi Muhammad saw adalah pertemuan yang
lebih besar. Nabi saw pergi ke Bukit Safa, dekat Kabah. Di atas bukit itu, Nabi saw berdiri
dan berteriak memanggil orang banyak. Penduduk segera berkumpul di sekitar Nabi saw.
Karena Nabi Muhammad adalah orang yang terpercaya dan belum pernah berbuat seperti itu,
maka penduduk berpendapat bahwa pastilah terdapat masalah yang penting. Untuk menarik
perhatian mereka, Nabi saw pertama-tama berkata, Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di
belakang bukit ini ada musuh yang besar siap menyerang kalian, percayakah kalian? Dengan
serentak mereka menjawab, Percaya! Kami tahu, saudara belum pernah bohong. Kejujuran
saudara tidak ada duanya, saudaralah yang mendapat gelar Al-Amin. Kemudian Nabi saw
meneruskan, Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang pemberi peringatan
(nadzir). Allah memerintahkanku agar aku memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya
kamu hanya menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar,
saudara akan terkena azab-Nya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan di kemudian
tiada gunanya.
Khutbah Nabi saw tersebut membuat orang marah. Sebagian yang hadir ada yang
berteriak-teriak marah dan ada yang mengejeknya gila. Namun ada pula yang diam saja. Pada
8
kesempatan itu Abu Lahab berteriak, Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah
engkau mengumpulkan kami? Sebagai balasan terhadap ucapan Abu Lahab ini turunlah ayat
yang membalas Abu Lahab, QS. Al-Lahab, 111: 1-5).
Reaksi-reaksi keras yang menentang dakwah Nabi saw bermunculan. Namun, usaha-
usaha dakwahnya tetap dilanjutkan terus tanpa mengenal lelah, sehingga hasilnya mulai nyata.
Jumlah pengikut Nabi saw yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah.
Hampir setiap hari ada yang bergabung ke dalam barisan pemeluk Islam. Mereka terutama
terdiri dari kaum wanita, kaum budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah, namun
semangat yang mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan yang paling keras terhadap dakwah Nabi saw datang dari para penguasa dan
pengusaha Mekah, kaum feodal, dan para pemilik budak. Mereka menyusun siasat untuk
dapat melepaskan hubungan antara Abu Talib dan Nabi Muhammad saw. Mereka meminta
agar Abu Talib memilih satu di antara dua: memerintahkan Muhammad saw agar berhenti
dari dakwah atau menyerahkan keponakannya itu kepada mereka. Abu Talib terpengaruh
dengan ancaman tersebut dan dia minta agar Nabi Muhammad saw menghentikan
dakwahnya, tetapi Nabi Muhammad saw menolak permintaan pamannya itu, dan bersabda
yang artinya: Demi Allah, saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini,
walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara mengucilkan saya. Mendengar
jawaban kemenakannya itu, Abu Talib kemudian berkata: Teruskanlah, demi Allah aku akan
terus membelamu.
Gagal dengan cara ini, mereka kemudian mengutus Walid bin Mughirah dengan
membawa seorang pemuda untuk dipertukarkan dengan Muhammad saw. Pemuda itu
bernama Umarah bin Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan. Walid bin Mughirah
berkata: Ambillah dia menjadi anak saudara, tetapi serahkan kepada kami Muhammad untuk
kami bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah belah kita. Usul Quraisy itu
langsung ditolak keras oleh Abu Talib dengan berkata: Sungguh jahat pikiran kalian. Kalian
serahkan anak kalian untuk saya asuh dan beri makan, dan saya serahkan kemenakan saya
untuk kalian bunuh. Sungguh suatu saran yang tak mungkin bisa saya terima.
Setelah orang-orang Quraisy kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka meng-
hadapi Nabi Muhammad saw secara langsung. Orang Quraisy mengutus Utbah bin Rabiah
seorang ahli retorika untuk membujuk Nabi Muhammad saw. Mereka menawarkan takhta,
wanita, dan harta yang diduga diinginkan oleh Nabi Muhammad saw asalkan Nabi
Muhammad saw bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak Nabi
Muhammad saw dengan mengatakan:

Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan
kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah ini, hingga agama ini menang atau
aku binasa karenanya.

Setelah gagal membujuk Nabi Muhammad saw dengan diplomatik dan bujuk rayu,
kaum Quraisy mulai melakukan tindakan kekerasan. Mereka mempergunakan kekerasan fisik
setelah mengetahui bahwa rumah tangga mereka sendiri, para budak mereka juga sudah
banyak yang telah pemeluk agama Islam. Setiap suku menghukum dan menyiksa anggota
keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad kembali. Usman bin Affan, misalnya,
dikurung dalam kamar gelap dan dipukuli sampai babak belur oleh anggota keluarganya
sendiri. Kekejaman yang dilakukan oleh penduduk Mekah terhadap kaum muslimin itu
mendorong Nabi Muhammad saw untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar Mekah.
Dengan pertimbangan yang mendalam, pada tahun kelima kerasulannya, Nabi Muhammad
saw menetapkan Abessinia atau Habasyah (Ethiopia) sebagai negeri tempat pengungsian,
karena raja negeri itu adalah seorang yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Ia
9
merasa pasti bahwa pengikutnya akan diterima dengan terbuka. Rombongan pertama yang
terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita berangkat. Di antara anggota rombongan terdapat
Usman bin Affan beserta isterinya Ruqaiyah, (putri Rasulullah SAW), Zubair bin Awwam,
dan Abdurrahman bin Auf. Kemudian menyusul rombongan kedua dipimpin oleh Jafar bin
Abi Talib. Ada yang mengatakan rombongan ini terdiri dari 80 pria. Sumber lain
menyebutkan mereka terdiri dari 83 pria dan 18 wanita.
Berbagai usaha dilakukan orang-orang Quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habasyah
ini, termasuk membujuk raja agar menolak kehadiran umat Islam di sana. Namun berbagai
usaha itu gagal juga. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, semakin bertambah
jumlah yang memeluknya. bahkan di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat
Quraisy masuk Islam, yakni Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab. Dengan
masuk Islamnya dua orang yang dijuluki Singa Arab itu, semakin kuatlah posisi umat Islam
dan dakwah Nabi Muhammad saw pada waktu itu.
Menguatnya posisi Nabi Muhammad saw dan umat Islam tersebut membuat reaksi
kaum Quraisy semakin keras. Karena mereka berpendapat bahwa kekuatan Nabi Muhammad
saw terletak pada perlindungan Bani Hasyim, maka mereka berusaha melumpuhkan Bani
Hasyim secara keseluruhan dengan melaksanakan blokade. Mereka memutuskan segala
bentuk hubungan dengan suku ini. Tidak seorang pun penduduk Mekah boleh melakukan
hubungan dengan Bani Hasyim, termasuk hubungan jual-beli dan pernikahan. Persetujuan
yang mereka buat dalam bentuk piagam itu mereka tandatangani bersama-sama dan mereka
gantungkan di atas Kabah. Akibatnya, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan
kesengsaraan.
Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian ini berlangsung selama
tiga tahun dan merupakan tindakan yang paling menyiksa. Pemboikotan itu baru berhenti
karena terdapat beberapa pemimpin Quraisy yang menyadari bahwa tindakan pemboikotan itu
sungguh suatu tindakan yang keterlaluan. Kesadaran itulah yang kemudian mendorong
mereka untuk melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri. Dengan demikian, Bani
Hasyim seakan dapat bernapas kembali dan pulang ke rumah masing-masing.
Setelah Bani Hasyim sampai di rumah masing-masing, Abu Talib, paman Nabi
Muhammad saw yang selalu membelanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari
setelah itu, Khadijah, istri Nabi yang tercinta dan teman seperjuangan yang selalu
mendampinginya, juga meninggal. Tahun ke-10 dari kenabian ini benar-benar merupakan
tahun kesedihan (Am al-Huzn) bagi Nabi Muhammad saw. Apalagi, sepeninggal dua
pendukung itu, orang Quraisy tidak segan-segan melampiaskan kebencian kepada Nabi
Muhammad saw.

1.1.6. Nabi Muhammad saw Diutus Untuk Seluruh Umat Manusia

Ada sementara orientalis menduga bahwa Nabi Muhammad saw mulanya hanya
bermaksud mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di
Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia. Pendapat ini keliru, karena
Allah dalam QS. 34 (Saba') : 28 telaf berfirman yang artinya:

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui. (QS 34:28).

1.2. Sejarah Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Indonesia


1.2.1. Asal Mula Islam Masuk ke Indonesia

10
Para sejarawan berbeda pendapat tentang awal mula masuknya Islam ke Indonesia.
Pendapat yang umum mengatakan Islam baru berkembang di nusantara pada abad ke 13 M.
Mereka berpatokan pada bukti-bukti keberadaan pemerintahan Islam. Bukti perkembangan
Islam di Indonesia yang cepat pada abad ke 15-16 M dan pendapat yang menyatakan bahwa
Islam baru ada di Indonesia pada abad ke 13, bukan berarti sebelum itu Islam belum masuk ke
Indonesia. Di Jawa Timur, Leran (Gresik), telah ditemukan batu nisan bertanggal 1082 M dari
Fatimah Binti Maimun yang menunjukkan adanya penganut Islam pada abad ke 11 M. Selain
itu, catatan perjalanan yang dibuat orang Cina dari zaman dinasti Tang, menunjukkan bahwa
telah ada komunitas muslim, khususnya di Utara Sumatera, pada abad ke 7 Masehi (Thomas W.
Arnold, tt.) Ironisnya, tidak ada catatan dari orang Arab tentang komunitas mereka di Asia
Tenggara. Catatan orang Arab tentang Islam di Indonesia baru ada pada abad ke 14 M dari
Ibnu Batutah.
Di samping perdebatan soal waktu, sejarawan juga memperdebatkan dari mana asal
Islam dan siapa yang menyebarkannya. Ada yang mengatakan Islam di Indonesia berasal
langsung dari Arab. Akan tetapi, kultur dan struktur Islam di Indonesia nampaknya lebih
dekat dengan Persia atau India. Inilah yang menjadi dasar argumen bahwa Islam di Indonesia
tidak langsung dari Arab. Mengenai siapa yang menyebarkan, pendapat yang paling umum
adalah bahwa para penyebar Islam itu adalah para pedagang. Dalam perkembangan
selanjutnya, tarekat-tarekat sufi berperan dalam percepatan Islamisasi di Indonesia.

1.2.2. Kegiatan Dakwah di Indonesia

Dakwah artinya mengajak atau menyerukan orang untuk mentaati ajaran Islam dengan
berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dakwah ini merupakan kewajiban bagi setiap
muslim, sebagaimana dijelaskan dalam QS. 16 (Al-Nahl) : 125 yang artinya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk (QS.16:125).

Allah menegur Nabi Muhammad saw agar berlaku lembut kepada setiap orang, dan
perlakuan lemah lembut itulah yang melapangkan jalan serta membukakan hati orang untuk
menerima Islam, sebagaimana dinyatakan dalam QS. 3 (Ali Imran) : 159 yang artinya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu(QS.3:159).

Dakwah yang dilakukan oleh para ulama' di Indonesia sangat memperhatikan kondisi
sosial budaya masyarakat Indonesia. Karena itu metode yang dipergunakan dalam berdakwah
adalah :
a. Keteladanan
Para ulama' menunjukkan contoh yang konkrit dalam menjalani kehidupan sehari-hari
sebagai manusia teladan. Praktik kehidupan yang mereka tampilkan menjadi daya tarik
betapa indahnya hidup dalam Islam, seperti kesantunan dalam berbicara, kejujuran,
murah hati dengan suka menolong orang yang kesusahan, dll.
b. Ceramah
Ceramah agama Islam merupakan dakwah model klasik dengan mengajak orang untuk
diberikan pencerahan tentang ajaran Islam.
11
c. Perkawinan
Perkawinan menjadi metode dakwah yang sangat efektif dalam berdakwah hingga saat
ini, hanya saja jangkauannya yang sangat terbatas, biasanya terbatas pada istri dan
keluarganya.
d. Menggunakan kesenian sebagai daya tarik massa;
Pada masa awal perkembangan Islam di Indonesia ketika media massa belum
berkembang seperti saat ini, kesenian mempunyai daya tarik yang kuat untuk memanggil
massa. Melalui pagelaran kesenian tersebut dakwah dimasukkan dalam substansi
kesenian atau disajikan disela-sela pagelaran kesenian.
e. Pendekatan tasawuf (mistik Islam).
Ketika Islam masuk ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia menganut agama
Hindu dan Buddha. Titik temu antara ajaran agama Islam dengan ajaran Hindu dan
Buddha adalah melalui ajaran tasawuf, seperti dzikir, doa, i'tikaf, dll.

Diantara para ulama' yang sangat berperan dalam dakwah Islam di Indonesia adalah
yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, artinya wali yang jumlahnya ada sembilan orang,
yaitu :
a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
d. Sunan Drajat atau Raden Qasim
e. Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
g. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said
h. Sunan Muria atau Raden Umar Said
i. Sunan Gunung Jati atau Syarif hidayatullah.

1.2.3. Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia adalah di Aceh pada abad ke 13
M, yaitu kerajaan Samudera Pasai. Posisi Aceh sangat strategis karena menjadi pelabuhan
persinggahan dalam pelayaran antara India dengan Cina, antara Timur dengan Barat, sejak
abad ke 5 M, yang dikenal dengan jalur emas; satu posisi strategis yang saat ini diambil alih
Singapura.
Berikutnya adalah kerajaan Malaka yang berdiri pada abad ke 15 M. Pendiri kerajaan
Malaka adalah Paramisora, orang Jawa Timur yang mulanya beragama Hindu. Kerajaan Islam
Malaka mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan abad ke 15 M. Runtuhnya Malaka
karena ditaklukkan Portugis tahun 1511 M di bawah pimpinan Laksamana Alfonso D
Albuquerque.
Kerajaan Islam di Jawa pertama kali berdiri pada abad ke 16 M, yaitu Kerajaan Demak,
dengan Raden Patah sebagai raja pertamanya. Demak berupaya untuk merebut Malaka dari
Portugis pada masa Pati Unus, namun gagal. Dari 1000 perahu yang dikirim untuk menyerang
Portugis, hanya 2 yang kembali ke Demak. Namun Demak berhasil menggagalkan upaya
Portugis untuk menguasai pelabuhan Sunda Kalapa. Kerajaan Islam lainnya yang ada di Jawa,
dan lebih besar wilayah kekuasaannya adalah Mataram. Kerajaan ini mencapai puncak
kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Munculnya Mataram mengubah struktur
politik dan masyarakat di Jawa. Terjadi sentralisasi kekuasaan di zaman Mataram, khususnya
zaman Amangkurat I, suatu hal yang berbeda dengan masa Kerajaan Demak. Di samping itu,
wajah Islam di Jawa menjadi semakin mistik; penuh takhyul, khurafat dan bidah.

12
Pada abad ke 15 M, berdiri kerajaan Islam di Kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore).
Walaupun pulau Ternate dan Tidore termasuk pulau kecil di Maluku, tetapi kekuasaannya
meliputi seluruh kepulauan Maluku, sebagian Sulawesi dan Irian. Dari Ternate dan Tidore
Islam berkembang ke Sulawesi, dan kemudian di Sulawesi Selatan berdiri sebuah kerajaan
Islam yang besar yaitu Goa, dengan rajanya yang terkenal Sultan Hasanuddin. Pada awal abad
ke 17 M, Makassar, ibukota kerajaan Goa, menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian
Timur.

1.2.4. Umat Islam Indonesia Zaman Kolonial


a. Kontak Ekonomi, Eksploitasi dan Kolonialisme Eropa

Terdapat sejumlah faktor yang menjadi pemicu kedatangan bangsa Barat ke Indonesia
dan kemudian melakukan penjajahan. Pertama, pengalaman perjalanan Marcopolo yang
dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul Le Livre de Marco Polo. Di dalam buku tersebut
Marcopolo menceritakan keindahan Dunia Timur dan menyatakan bahwa Dunia Timur lebih
maju dari Dunia Barat. Kedua, sebagai dampak renaissans, Eropa mengalami kemajuan dalam
sains dan teknologi. Orang Barat tidak percaya lagi pada dogma gereja bahwa dunia ini
seperti meja, mereka mulai percaya bahwa bumi ini bulat seperti bola. Oleh karena itu,
mereka berani berlayar di lautan yang sebelumnya tidak pernah mereka jelajahi. Ketiga,
suplai kebutuhan Eropa dari Timur berupa rempah-rempah menjadi berkurang dan mahal
sebagai dampak lanjut dari penaklukan Turki terhadap Konstantinopel. Hal ini memicu
mereka untuk mendapatkan kebutuhannya langsung dari sumbernya.
Awal kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke nusantara adalah untuk berdagang. Bangsa
Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali sampai di Asia Tenggara. Di samping
berdagang, Portugis juga menyebarkan agama Kristen dengan seorang pendeta yang terkenal
bernama Fransiscus Xaverius. Mereka berhasil menaklukkan ibukota kerajaan Islam Malaka
dan mendirikan benteng di sana. Namun, mereka gagal menaklukkan Sunda Kalapa, yang
sekarang bernama Jakarta. Di bawah pimpinan Fatahillah, Demak berhasil mengalahkan
Portugis di Sunda Kalapa tahun 1527 M. Portugis juga dipacu oleh semangat reconquesta,
artinya semangat menaklukkan kembali wilayah yang dianggap mereka dulunya milik
kerajaan Romawi Kristen.
Bangsa Eropa berikutnya yang datang adalah Belanda dan kemudian Inggris. Belanda
dan Inggris adalah pesaing utama Portugis dan Spanyol di lautan lepas. Persaingan itu selain
dipicu oleh kepentingan ekonomi, khususnya rempah-rempah, juga karena adanya perbedaan
aliran antara Katolik yang dianut Portugis dan Spanyol dengan Protestan yang dianut Balanda
dan Inggris. Inggris tidak banyak pengaruh kolonialismenya terhadap Indonesia dibandingkan
dengan Belanda karena hanya menduduki Indonesia selama 5 tahun. Di samping itu, Inggris
hanya menguasai sebagian kecil wilayah Indonesia, yaitu Bengkulu, dan itu pun kemudian
ditukar dengan koloni Belanda di Semenanjung Malaysia.
Pada tahun 1596 M, Cornelis de Houtman, pelaut Belanda pertama tiba di Banten.
Berdasarkan laporannya, dibentuklah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dan
menetapkan Pieter Both sebagai Gubernur Jenderal pertama Belanda di Indonesia. Tahun
1621 M Belanda berhasil menduduki Jayakarta (sekarang Jakarta) dan mengubah namanya
menjadi Batavia. Tahun 1641 M, Belanda menduduki Malaka. Jan Pieter Zoon Coen memulai
proyek kolonialisme dengan Maluku sebagai pilot project nya, khususnya pulau Banda yang
penduduk aslinya dimusnahkan Belanda.
Taktik devide et impera (mengadu-domba) dilakukan Belanda di Banten dan Mataram.
Dua kerajaan besar di Jawa (H.J. De Graaf dan Th.G.Th. 1986). ini pada akhirnya berhasil
dikuasai Belanda. Di Banten, Belanda berhasil memprovokasi Sultan Haji untuk memerangi
ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam peperangan itu, pasukan Sultan Haji yang didukung
13
Belanda berhasil mengalahkan dan memenjarakan Sultan Ageng Tirtayasa serta membuang
Syekh Yusuf, ulama besar kerajaan Banten ke Afrika Selatan, sehingga Banten kemudian
menjadi wilayah jajahan Belanda.
Sementara di Mataram, Belanda agak mengalami kesulitan karena Kerajaan Mataram
adalah sebuah negara dengan penduduk yang besar dan wilayah pedalaman yang luas. Di
zaman Sultan Agung, Mataram dua kali menyerang benteng Batavia, yaitu tahun 1627 M dari
arah laut dan 1628 M dari arah darat, walaupun tidak berhasil karena bocornya rencana
penyerangan. Keberhasilan Belanda mengendalikan Mataram bermula dari kebijakan
ambisius Susuhunan Amangkurat I yang ingin memusatkan seluruh kekuasaan di tangannya.
Orang-orang kuat kerajaan Mataram dan daerah-daerah penting yang menentang kebijakan
raja dikucilkan dan diasingkan. Hal ini memicu timbulnya pemberontakan. Dia tidak segan-
segan membantai lebih dari 5.000 orang terdiri dari ulama, pria, wanita dan anak-anak.
Bahkan pada tahun 1659 M, Pangeran Pekik, ayah mertuanya sendiri, dibunuh. Tahun 1675
M muncul pemberontakan besar menentang Raja Amangkurat I. Tahun 1676 M Belanda
membantu Amangkurat I menghadapi pemberontakan.

b. Perlawanan Kaum Muslimin Indonesia

Bentuk perlawanan kaum muslimin Indonesia terhadap kolonialisme Belanda terbagi


menjadi 2, yaitu: sebelum abad ke 20 yang berbentuk perlawanan fisik dan perlawanan pada
abad ke 20 dengan menggunakan metode baru.

(a). Perlawanan Awal, Sebelum Abad ke 20

Sebenarnya perlawanan-perlawanan kaum muslimin Indonesia terhadap kolonialisme


sudah berlangsung sejak awal kedatangan bangsa Barat di nusantara. Terdapat perbedaan
bentuk perlawanan muslim Indonesia abad ke 19 dengan abad sebelumnya. Sebelum abad ke
19, yang berperang adalah kerajaan Islam di Indonesia menghadapi persekutuan para
pedagang Belanda yang dipersenjatai (VOC). Sedangkan pada abad ke19, kerajaan-kerajaan
Islam di nusantara tidak lagi memerangi Belanda karena sudah di taklukkan, jadi yang
berperang terhadap Belanda adalah rakyat muslim menghadapi pemerintah kolonial Belanda.
Pada Abad ke 19, seluruh wilayah Indonesia sudah ditaklukkan dan dikuasai Belanda,
kecuali Aceh. Pada masa ini muncul pertempuran-pertempuran besar di berbagai wilayah. Di
Sumatera muncul perang Paderi (1821-1838), Perang Aceh (1873-1912); di Jawa timbul
perang Diponegoro (1825-1830); di Kalimantan ada perang Banjar (1859-1862); di Indonesia
Timur berkobar perang yang dipimpin Patimura (1817) Di samping perang besar, muncul pula
perlawanan dengan skala kecil seperti: pemberontakan petani Cilegon di Banten (1888),
gerakan Baujaya di Semarang (1841), gerakan Haji Jenal Ngarip di Kudus (1847), Peristiwa
Ciomas, Bogor (1886), gerakan Cikandi Udik (1845) yang kesemuanya bertujuan
melenyapkan orang-orang Eropa. Namun, semua itu dapat dipatahkan Belanda.
Bagaimanapun, Islam menjadi inspirator munculnya perlawanan itu. Setidaknya ada 5
aspek dari Islam yang mendorong munculnya semangat perlawanan yaitu: 1) izin berperang
(QS, 22:39), 2) ideologi Jihad, 3) cinta tanah air, 4) pekikan takbir, 5) doktrin amar maruf
nahi munkar.
Berkaitan dengan belum ditaklukkannya Aceh hingga awal abad ke 20, maka
ditugaskanlah Christian Snouck Hurgronje untuk menyelidiki kekuatan dan kelemaham umat
Islam. Dalam kerangka tugas tersebut, Dr. Snouck pergi ke Mekah dan mengaku telah
beragama Islam dengan nama Abdul Gafar. Dia sempat meneliti pola perilaku orang
Indonesia yang bermukim di Mekah selama 6 bulan hingga akhirnya diusir setelah terbukti
hanya berpura-pura Islam. Dari hasil pengamatan Snouck, kemudian menjadi buku berjudul
14
De Atjehers, dia menasehatkan Belanda jika ingin memenangkan pertempuran dengan kaum
Muslim Aceh adalah: 1) dirikan sekolah sekuler sebanyak mungkin, 2) adu domba antara
muslim abangan dengan putihan, 3) adu domba antara tokoh adat dengan ulama, 4) tindas
gerakan politik Islam, 5) bantu umat Islam dalam melaksanakan ritual agama.
Awal Pembaharuan Islam di Indonesia bermula pada abad ke 19. Fenomena dan dampak
pembaharuan Islam ini muncul pertama kali di Minangkabau (Sumatera Barat). Perang Paderi
(Paderi sebutan Belanda terhadap perang tersebut yang berasal dari bahasa Portugis, Pader
yang berarti Bapak/ Pendeta) adalah konsekwensi logis dari adanya pembaharuan pemikiran
tentang Islam. Kaum Paderi adalah orang-orang Minang yang bermukim di Mekah dan belajar
Islam dari kaum Wahabi (pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahab). Mereka membawa
paham Wahabi ke Indonesia. Oleh karena itu, kaum Adat yang juga beragama Islam,
dianggap oleh kaum paderi tidak melaksanakan Islam dengan sungguh-sungguh. Hal itu
terlihat dari peri kehidupan mereka sehari-hari yang suka mengadu ayam, berjudi dan mabuk-
mabukan. Persoalan itulah yang kemudian menimbulkan perang besar di Minangkabau.
Dari Minangkabau muncul pembaharu bernama Syekh Ahmad Khatib yang kemudian
berpengaruh pada gerakan pembaharuan Islam di abad ke 20. Puncak karirnya adalah menjadi
imam mazhab Syafii di Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai tokoh yang menentang pola
pembagian waris di Minangkabau yang berdasarkan keturunan dari pihak Ibu dan tarekat
Naqsabandiyah. Walaupun menjadi imam mazhab Syafii, tetapi ia tidak pernah melarang
murid-muridnya membaca tulisan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Murid-muridnya
tidak hanya dari orang Minang seperti Mohammad Jamil Jambek, Haji Abdul Karim
Amrullah (Ayahnya Hamka, Ketua MUI pertama), tetapi ada juga orang Jawa seperti KH
Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Di tanah Jawa juga muncul pembaharuan Islam. Di belahan Barat Jawa terdapat Syekh
Nawawi Banten. Di bawah pengaruh dan bimbingannya makin banyak orang Sunda, Jawa dan
Melayu yang memperdalam agama Islam. Sementara itu, di Jawa Tengah ada Ahmad
Ripangi. Ia mengarang buku dalam bahasa Jawa dalam bentuk puisi yang meliputi
ushuluddin, fikih dan tasawuf. Ia sangat militan dalam mengritik perilaku umat Islam di Jawa
yang dianggapnya tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Oleh karena para pemimpin
agama di Jawa yang diangkat Belanda merasa terganggu dengan ajaran Ahmad Ripangi, maka
kemudian Belanda mengasingkannya ke Ambon.

(b). Perlawanan Lanjutan pada Abad ke 20

Pada awal abad ke 20, perlawanan kaum muslimin terhadap penjajahan tidak lagi dalam
bentuk militer, walaupun masih ada sejumlah pemberontakan bersenjata. Para tokoh
perlawanan menyadari perlunya pengorganisasian dalam melawan kolonialisme, sehingga
pertumpahan darah sia-sia dapat dihindarkan. Oleh karena itu, muncullah pada masa ini
organisasi-organisasi yang bergerak menyadarkan umat tentang pentingnya kemerdekaan dan
bebas dari penjajahan. Akan tetapi, sayangnya di antara organisasi itu sebagiannya tidak
mendasarkan perjuangannya kepada Islam walaupun tokoh-tokohnya adalah muslim.
Bentuk perlawanan terhadap penjajah pada abad 20 memperlihatkan adanya perubahan
paradigma, yaitu tidak menekankan unsur militer saja, tetapi memanfaatkan hampir semua
aspek yang ada seperti partai politik, organisasi sosial dan pendidikan, media massa untuk
membentuk opini, lobi dengan kaum oposisi di Parlemen Belanda dsb. Inilah yang kemudian
menuai hasilnya dalam bentuk kemerdekaan Indonesia kemudian.
Unsur yang menjadi perhatian utama gerakan Islam pada awal abad ke 20 adalah
pendidikan dengan menggunakan sistem organisasi moderen. Di samping itu, pengajaran
agama Islam umumnya masih menggunakan bahasa atau tulisan Arab tanpa memperdulikan
apakah masyarakat umum dapat mengerti dan memahaminya. Pada masa ini Al-Quran
15
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga lebih dipahami. Bahkan, khutbah Jumat
yang pada abad sebelumnya menggunakan bahasa Arab, diganti dengan bahasa Indonesia
kecuali dalam menukil ayat Al-Quran atau Hadis. Hal lain yang menambah kemajuan umat
Islam Indonesia pada masa ini adalah adanya kajian fiqih kontemporer yang sesuai dengan
perkembangan yang ada.
Di bidang ekonomi dan politik, pada masa ini muncul Sarekat Islam tahun 1911 M.
Organisasi ini awalnya bernama Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi.
Sejarawan berbeda pendapat mengenai tahun berdirinya. Deliar Noer menyebut tahun 1911;
Ahmad Mansur Suryanegara menyebut tahun 1906. Warna politik organisasi ini semakin
kental dengan masuknya tokoh yang bernama HOS Cokroaminoto tahun 1912. Pada tahun
1915 Haji Agus Salim ikut menjadi aktivis organisasi tersebut. Organisasi ini berhasil
merekrut anggota dalam jumlah yang besar hingga diproklamasikannya kemerdekaan RI.
Di bidang sosial dan pendidikan muncul organisasi Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama
(NU), Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad, Sumatra Thawalib, Jamiatul Wasshliyah dan
Persatuan Umat Islam (PUI). Muhammadiyah berdiri tahun 1912 yang pendiriannya sebagai
reaksi atas gerakan kristenisasi. Aktivitas kristenisasi yang meningkat dengan banyak
dibangunnya sekolah dan rumah sakit, merangsang tokoh-tokoh agama di Yogya melakukan
hal serupa.
Berdirinya NU adalah reaksi dari berkuasanya kaum Wahabi di bawah Ibnu Saud di
Jazirah Arab. Para Ulama yang berpegang pada mazhab Syafii cemas jika penguasa Haramain
tidak mengizinkan dipraktekkannya ibadah yang berdasarkan mazhab, khususnya Syafii. Di
samping itu, NU juga menjadi sarana kaum Tua (tradisional) membendung berkembangnya
pembaharuan Islam yang diprakarsai kaum muda (modernis).
Persatuan Islam (Persis) dan Al Irsyad sebenarnya juga termasuk ke dalam kelompok
pembaharu, namun fokus kerja mereka berbeda. Persis cenderung lebih menekankan pada
pemurnian ibadah (khas) sesuai dengan sunnah Nabi tanpa harus berpegang kaku pada
mazhab. Sementara Al Irsyad cenderung khusus untuk memperbaiki stratifikasi kelompok
orang Arab di Indonesia.

1.2.5. Dakwah di Era Kemerdekaan

Awalnya, Kerajaan Jepang berjanji akan membantu Indonesia bebas dari penjajahan
Belanda. Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah eksploitasi Indonesia untuk kepentingan
industri Jepang dan Perang Dunia II dimana Jepang terlibat di dalamnya. Setelah Jepang
mengalami kekalahan dalam PD II, mereka menjajikan kemerdekaan Indonesia dan
mewadahinya dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Persiapan
Kemerdekaan) dan Dokuritsu Zyunbi Inkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan). Badan tersebut
menghasilkan Konstitusi (UUD) yang di dalamnya ada peraturan tentang Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Peraturan ini disepakati
tanggal 22 Juni 1945 dan dikenal dengan Piagam Jakarta. Akan tetapi, sayangnya peraturan
tersebut dihapus dan diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa pada tanggal 18 Agustus
1945 atas desakan dan tekanan kaum Nasrani.
Betapapun ada perbedaan antara kaum tradisional dengan modernis dalam masalah
fiqih, namun sikap mereka terhadap kolonialisme Belanda sama. Hal ini terbukti setelah
proklamasi kemerdekaan 1945, mereka bahu-membahu berjihad mempertahankan
kemerdekaan. Tokoh dan pendiri NU, KH. Hasyim Asyari, bahkan mengeluarkan fatwa yang
menyatakan wajib hukumnya memerangi Belanda, dan kalau mati termasuk syahid.
Sementara itu, Sudirman, salah seorang anggota Muhammadiyah dan mantan komandan
tentara Pembela Tanah Air (PETA, semacam milisi bentukan Jepang untuk melawan sekutu)
Jawa Tengah, diangkat menjadi panglima angkatan bersenjata Indonesia.
16
1.2.6. Dakwah di Era Demokrasi Liberal

Awal keterlibatan kaum muslimin dalam mengelola pemerintahan Indonesia merdeka


sebenarnya telah dimulai sejak terbentuknya Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia)
pada bulam November 1945. Tokoh-tokoh Masyumi pada revolusi fisik telah turut dalam
pemerintahan seperti M. Natsir yang menjabat Menteri Penerangan dan Moh. Roem yang
terlibat perundingan dengan Belanda (yang terkenal dengan perundingan Roem-Rojen).
M. Natsir berperan penting dalam mengembalikan bentuk negara Republik Indonesia
Serikat (RIS) menjadi negara kesatuan dengan mosi integralnya. Peran itulah yang kemudian
menjadi sebab dipercayanya M. Natsir oleh Presiden Sukarno untuk menjadi Perdana Menteri
dan membentuk kabinet pada tahun 1950; kabinet pertama yang dipercayakan kepada tokoh
dari partai politik Islam. Peran Kabinet Natsir (1950-1951) yang penting adalah menjadikan
Indonesia sebagai anggota PBB yang ke-60. Di samping itu, Natsir mencoba mengupayakan
jalan damai dalam kasus Darul Islam pimpinan Kartosuwirjo.
Setelah jatuhnya kabinet Natsir akibat mosi Hadikusumo, dibentuklah kabinet Sukiman
(1951-1952). Sukiman, dokter medis, juga merupakan tokoh partai Masyumi. Ia berhasil
dalam menjalankan program untuk menempatkan eks pejuang pada posisi non militer.
Sukiman juga mengupayakan jalan damai dalam kasus Darul Islam.
Kabinet berikutnya yang dipimpin tokoh Masyumi adalah Burhanudin Harahap (1955-
1956). Burhanudin berhenti menjadi Perdana Menteri bukan karena mendapatkan mosi tidak
percaya dari anggota parlemen ataupun karena kesalahan dalam keputusan politik, tetapi
justru karena sukses menjalankan program utama kabinet yaitu Pemilihan Umum 1955, yang
dinilai paling berkualitas sepanjang abad ke 20. Dalam pemilu pertama itu, partai-partai
politik Islam menguasai lebih dari 40% kursi parlemen.
Pada masa ini pula muncul Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di
Sumatra Barat, yang dikenal umum sebagai pemberontakan dan sering dikaitkan dengan
Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi Utara. Sebenarnya PRRI adalah sebuah
gerakan yang timbul karena kekecewaan sejumlah tokoh politik terhadap presiden Sukarno
yang semakin menunjukkan kediktatorannya. Sejumlah tokoh partai Masyumi terlibat dalam
kasus tersebut seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara. Pemberontakan PRRI
akhirnya ditumpas Sukarno dan tokoh-tokohnya dipenjarakan.
Pada masa yang bersamaan, tahun 1956-1957, gerakan Darul Islam mencapai puncak
kekuatannya. Hampir sebagian besar wilayah Indonesia berada di dalam pengaruh gerakan
tersebut. Dapat dikatakan kalau siang Indonesia dipimpin Sukarno, sementara di malam hari
Indonesia di pimpin Kartosuwiryo. Berbeda dengan Darul Islam, pemberontakan yang
dilakukan sebagian tokoh Masyumi dalam kasus PRRI walaupun menggunakan kekerasan
namun dimaksudkan untuk melunakkan pemberontakan petinggi militer di daerah terhadap
pemerintah pusat. Pada akhirnya, Sukarno berhasil menumpas gerakan Darul Islam dengan
menangkap Kartosuwiryo dan menjatuhkan hukuman mati terhadapnya.

1.2.7. Dakwah di Era Demokrasi Terpimpin

Era ini dimulai pada tanggal 5 Juli 1959, yaitu sesaat setelah dikeluarkannya Dekrit
Presiden yang membubarkan parlemen. Zaman ini diwarnai dengan pembubaran partai politik
yang menentang kebijakan Presiden Sukarno, termasuk di dalamnya partai Masyumi. Partai
Islam yang bertahan di masa ini dan ikut terlibat dalam pemerintahan Sukarno adalah
Nahdhatul Ulama. Kehadiran NU sangat dibutuhkan Sukarno dalam rangka mendukung
konsepsinya, sebuah sinkretisme: Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom).
Pada tingkat massa, terjadi pemiskinan luar biasa. Masyarakat kesulitan untuk
mendapatkan makanan pokok seperti beras dan obat-obatan. Inflasi meroket hingga mencapai
17
600%. Bahkan sebagian masyarakat ada yang kesulitan untuk mendapatkan bahan pakaian.
Walaupun di tingkat elit nasional terjadi kerjasama antara tokoh NU yang dipimpin KH
Idham Khalid dengan petinggi PKI, akan tetapi di tingkat desa banyak terjadi pertikaian
antara santri dengan aktivis komunis; beberapa kyai bahkan diberitakan dibunuh oleh
komunis. Zaman ini diakhiri dengan munculnya pemberontakan yang didukung Partai
Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965.

1.2.8. Dakwah di Era Orde Baru

Presiden Sukarno akhirnya harus turun dari kursi kekuasaan dan kemudian digantikan
Suharto. Pertama karena Sukarno memberikan mandat politis kepada Suharto dalam bentuk
Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret) tahun 1966 M. Kedua karena Suharto dianggap
sebagai pemimpin yang berhasil menumpas gerakan komunis. Pada mulanya, perubahan
rezim kekuasaan dari Sukarno ke Suharto dianggap sebagai peluang untuk berperannya
kembali Islam dalam panggung politik. Hal ini dibuktikan dengan dibebaskannya tokoh-tokoh
penentang Sukarno dari penjara seperti Natsir, Hamka dsb.
Kebijakan Suharto setelah resmi diangkat sebagai Presiden tahun 1967, adalah
mengorbitkan Golongan Karya (Golkar) sebagai mesin politiknya. Pada tahun 1970-an,
kebijakan deislamisasi politik yang dilakukan Suharto mendapat dukungan tidak langsung
dari tokoh intelektual Nurcholis Madjid. Nurcholis, pernah menjabat sebagai ketua Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), mengeluarkan slogannya yang terkenal: Islam Yes. Partai Islam
No; dia tetap teguh pada pendapatnya walaupun mendapat kritik dari Prof. Dr. HM. Rasjidi.
Slogan tersebut, sedikit banyak berpengaruh dalam mengeliminir Islam dari pentas politik
nasional.
Pada pemilu pertama zaman Orde Baru tahun 1971, terdapat sepuluh partai yang
bersaing berebut kursi parlemen; 4 diantaranya adalah partai Islam, yaitu: NU, PSII, Perti dan
Parmusi. Akan tetapi pada pemilu berikutnya tahun 1977, terjadi penggabungan partai
sehingga hanya ada tiga partai yang bersaing yaitu: 1. PPP, yang dianggap mewakili Islam 2.
Golkar, partainya pemerintah yang berkuasa dan 3. PDI, yang dianggap mewakili nasionalis.
Pada pemilu 1987, tidak ada lagi partai Islam. PPP telah mengubah simbol partai dari Kabah
menjadi Bintang dan mengganti asasnya dari Islam menjadi Pancasila.
Dekade 1980-an terjadi fenomena deislamisasi politik dan kampanye negatif terhadap
Islam yang dilakukan besar-besaran oleh pemerintah. Tahun 1982, Pancasila ditetapkan
sebagai satu-satunya azas (atau dikenal juga dengan azas tunggal) yang dianggap sebagian
tokoh Muslim sebagai kampanye anti Islam.

1.2.9. Dakwah di Era Reformasi

Munculnya kembali peran Islam, terutama di lapangan politik, pada masa reformasi
bermula dari kebijkan depolitisasi Islam pada zaman Suharto. Ketika Islam dilarang dijadikan
label politik tahun 1980-an, sebagaimana air yang dibendung, ia mencari format dan bentuk
baru sebagai manifestasinya. Oleh karena itu, pada tahun 1990-an muncul gerakan
mengartikulasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari yang lebih personal seperti: semangat
mengkaji Islam dalam bentuk grup-grup halaqoh, penerjemahan dan penerbitan buku-buku
dan majalah-majalah yang lebih komprehensif dan mendetil dalam membahas Islam,
fenomena semakin banyaknya wanita yang menggunakan jilbab, dsb. Disamping itu, gerakan
Islam tahun 1990-an mempunyai perhatian dan keterkaitan dengan perkembangan isu-isu
Islam internasional seperti Palestina, Afghanistan dan Irak.
Krisis moneter yang terjadi tahun 1997, menyebabkan dasar-dasar ekonomi yang
menjadi legitimasi orde baru menjadi rapuh. Ketika krisis moneter itu berkembang menjadi
18
krisis ekonomi yang menyebabkan inflasi hingga 150%, dan kemudian berkembang lagi
menjadi krisis multi dimensi, maka pemerintahan Suharto tidak dapat dipertahankan lagi.
Peristiwa Trisakti tahun 1998, yang menyebabkan tewasnya 4 mahasiswa akibat peluru yang
dilepaskan aparat keamanan menjadi pemicu kerusuhan yang timbul di mana-mana.
Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa dengan mengepung dan
menduduki gedung parlemen untuk menuntut adanya reformasi, yang artinya menuntut
mundurnya Suharto dari kursi kekuasaan. Organisasi kepemudaan yang terlibat dalam
peristiwa itu antara lain HMI, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia); saat
ini beberapa tokohnya duduk di parlemen. Pada akhirnya gerakan reformasi mencapai
puncaknya tanggal 20 Mei 1998. Pada tanggal tersebut, Suharto menyatakan mundur sebagai
Presiden RI di Istana Negara dan posisinya digantikan oleh BJ. Habibie.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Habibie (yang juga pendiri dan ketua ICMI
[Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia] pertama) berhasil menurunkan inflasi dan
menstabilkan nilai tukar rupiah dari Rp 17.000 per 1 dolar AS menjadi Rp 7.000. Pada masa
pemerintahanya muncul banyak partai politik baru berbasis Islam seperti Partai Amanat
Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai
Keadilan (PK). Pemilu yang diadakan oleh Presiden Habibie tahun 1999 dianggap lebih
berkualitas dibandingkan dengan pemilu di zaman Orde Baru. Dari 550 kursi parlemen, kira-
kira 40%nya diduduki oleh partai berbasis Islam.

1.2.10. Islam Sebagai Inspirasi Pembebasan

Dalam uraian terdahulu telah tergambarkan bagaimana Islam menjadi inspirasi


perlawanan terhadap muncul dan berkembangnya kezaliman dan ketidakadilan. Kolonisasi
dan eksploitasi yang dilakukan bangsa Barat (Portugis, Inggris dan Belanda) mendapatkan
perlawanan sengit dari kerajaan-kerajaan Islam di nusantara. Bahkan pada abad ke 19,
perlawanan semakin meluas dan tidak hanya dilakukan oleh elit kerajaan tetapi juga
dilakukan oleh rakyat jelata di pelosok pedesaan. Jutaan Gulden dan ribuan nyawa telah
diderita Belanda sebagai dampak perlawanan muslim Indonesia.
Pada abad ke 20, perlawanan bangsa Indonesia tidak hanya dalam bentuk perlawanan
militer, tetapi meluas ke dalam hampir semua bidang kehidupan seperti politik, ekonomi dan
sosial. Pada masa ini muncul sejumlah organisasi Islam moderen yang menerapkan prinsip
pengetahuan rasional dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Jika pada masa
sebelumnya banyak digunakan jimat-jimat kekebalan untuk melawan Belanda, sementara
teknologi dianggap sebagai produk kafir yang harus dihindari; maka pada abad ke 20 metode
atau cara-cara Barat yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam banyak dimanfaatkan.

1.2.11.Masalah Mentalitas dan Mistisisme

Berdirinya negara Indonesia bukan akhir dari dakwah Islam di Indonesia, walaupun
sebagian ulama ada yang membuat pernyataan bahwa negara Indonesia adalah final atau akhir
dari perjuangan. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan sehingga
mendekati model Islam yang ideal sebagaimana yang terwujud dalam generasi para sahabat
Nabi.
Dilihat dari berbagai aspek dan sudut pandang, masih banyak hal yang perlu dikerjakan.
Dari segi pendidikan, baru terdapat sekitar 4 juta sarjana dari 200 juta lebih penduduk, atau
2% dari populasi; belum dukurangi sarjana yang non-muslim. Dari segi ekonomi, lebih dari
40 juta rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Kombinasi antara rendahnya pendidikan dan
kemiskinan pada akhirnya mendorong orang untuk percaya kepada hal-hal mistik. Masih

19
banyak dijumpai orang Islam yang ingin cepat kaya dengan mengikuti ritual mistik di kuburan
orang saleh yang dianggap keramat.

1.2.12.Pengalaman Bernegara

Umat Islam di Indonesia setidaknya mengalami dua masa terlibat dalam mengelola
negara. Pertama, pada dekade 1950-an yang dikenal dengan zaman demokrasi liberal. Pada
masa ini, elit politik Masyumi memanfaatkan peluang sebagai pembuat kebijakan. Natsir
misalnya, berperan dalam menjaga keutuhan Indonesia dengan mosi integralnya. Syafrudin
Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi lainnya, berperan dalam mengatasi persoalan moneter
Indonesia pasca revolusi. Selain itu, Burhanudin Harahap berperan meletakkan dasar-dasar
pemilu yang demokratis. Mereka memberikan keteladanan tentang kesederhaan dan
komitmen dalam melayani rakyat. Oleh karena itu, diantatara mereka ada yang wafat tanpa
memiliki rumah. Kedua, pada zaman pemilihan presiden langsung oleh rakyat. Pada zaman
ini, pola keterlibatan dalam politik nampaknya justru lebih menguntungkan perkembangan
Islam di Indonesia; di samping itu, menumbuhkan citra Islam yang damai dan demokratis
pada dunia. Terlibatnya sejumlah tokoh partai Islam dalam pemerintahan justru semakin
memperbesar akses dakwah kedalam bidang publik.

2. Makna Agama Islam Bagi Kehidupan


2.1. Pengertian Agama Islam

Secara etimologi, kata Islam berasal dari bahasa Arab, diambil dari derivasi kata dasar
salima-yaslamu-salamatan wasalaman, yang artinya selamat, damai, tunduk, patuh, pasrah,
menyerahkan diri, rela, puas , menerima, sejahtera dan tidak cacat (Al-Munawir, 1984 : 669).
Dari ilmu morfologi, kata Islam diambil dari aslama-yuslimu-islaman, memiliki beragam
makna, antara lain dijelaskan dalam Al-Qur'an :
1. Ketaatan, dijelaskan, QS.72 (Al-Jin) : 14
2. Menyerahkan diri, QS.2 (Al-Baqarah) : 112
3. Tunduk dan patuh, QS.3 (Ali Imran) : 85.
Pengertian Islam secara terminologis atau istilah adalah agama atau peraturan-peraturan Allah
yang diwahyukan kepada Nabi dan Rasul-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia agar
mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Zakky Mubarak Syamrakh, 2010 : 51). Jadi,
kata agama dalam bahasa Indonesia mempunyai pengertian sama dengan kata al-dien dalam
bahasa Arab dan Semit, atau dalam bahasa-bahasa Eropa sama dengan religion (Inggris), la
religion (Perancis), de religie (Belanda), die religion (Jerman).
Secara bahasa, perkataan agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak pergi,
tetap di tempat, diwarisi turun temurun. Sedang kata dien mengandung arti menguasai,
menundukkan, patuh, utang, balasan, atau kebiasaan. Dien juga mengandung pengertian
peraturan-peraturan, berupa hukum yang harus dipatuhi, baik dalam bentuk perintah yang
wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan berikut balasan dan
ganjarannya.
Kata dien dan kata jadiannya dalam Al-Quran disebut sebanyak 94 kali dalam berbagai
makna dan konteks, antara lain berarti pembalasan (QS 1:4); undang-undang duniawi atau
peraturan yang dibuat (QS 12:76); agama yang datang dari Allah: Dienullah (QS 3:83). Bila
Dien dirangkaikan dengan kata al-haq sehingga membentuk kata Dienulhaq, maknanya
adalah agama yang dibawa Rasulullah saw sebagai agama yang benar, yakni Islam (QS 9:33).
Pada ayat lain, kata din menunjukkan arti bukan hanya agama Islam saja, tetapi juga selain
Islam, seperti ayat Al-Quran yang berbunyi Lakum dienukum wa liya dien. (bagimu
agamamu dan bagiku agamaku) (QS 109:6 dan QS 61:9).
20
Inti agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang berimplikasi pada kepercayaan
kepada aturan Tuhan bagi manusia. Kepercayaan tersebut tumbuh dalam kehidupan manusia
sejak pertama manusia diciptakan. Kepercayaan manusia kepada ajaran agama, khususnya
Tuhan, dilandasi oleh:
1. Adanya kepercayaan bahwa di luar kekuatan manusia ada kekuatan yang lebih perkasa
yaitu kekuatan Ghaib. Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan ghaib
itu sebagi tempat memohon pertolongan. Manusia merasa harus mengadakan hubungan
baik dengan kekuatan Ghaib tersebut dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.
2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia dan kebahagiaan hidupnya di
akhirat tergantung pada adanya hubunan baik dengan kekuatan Ghaib tersebut.
3. Adanya respon yang bersifat emosional dari manusia, baik dalam bentuk perasaan takut
atau perasaan cinta. Selanjutnya respons itu mengambil bentuk pemujaan atau
penyembahan dan tatacara hidup tertentu bagi masyarakat yang besangkutan.
4. Paham adanya yang kudus (the sacred) dan suci, seperti kitab suci, tempat ibadah, dan
sebagainya.
Suatu kepercayaan dikategorikan sebagai sebuah agama apabila memenuhi empat
kriteria berikut:
1. Adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi asal dari segala yang
ada;
2. Adanya ajaran ibadah yang mengatur pengabdian manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa
tersebut;
3. Adanya Nabi yang menerima wayu Tuhan Yang Maha Esa, yang berisi ajaran-ajaran
Tuhan dalam sebuah Kitab Suci;
4. Adanya ajaran akhlak/moral untuk berbuat baik, yang berisi nilai-nilai kebaikan dan
bersumber pada nilai ke-Tuhanan yang Maha Esa tersebut.
Orang Islam, dalam bahasa Arab disebut muslim/muslimat, yaitu orang yang selamat
hidupnya di dunia dan di akhirat, yang hidup damai dan sentosa serta menyebarkan keduanya
dalam kehidupan bermasyarakat, yang tunduk, patuh, taat, dan berserah diri kepada Allah
sebagai Pencipta melalui ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan kepada ajaran agama Islam
yang diturunkan Allah. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah Muhammad saw bersabda yang
artinya :

Artinya: Orang Islam adalah orang yang menyebabkan orang lain selamat melalui ucapan
dan perbuatannya.

Keselamatan, kedamaian, dan kesentosaan hidup manusia merupakan wujud rahmat,


kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Karena itu agama Islam yang diturunkannya kepada
manusia melalui Rasulullah Muhammad saw merupakan rahmat, kasih sayang Allah yang
harus diterima sebagai wujud rasa syukur manusia kepada Allah. Kerasulan Muhammad saw
yang menerima agama Islam untuk disampaikan kepada umat manusia, juga disebut sebagai
rahmat bagi manusia, dan bahkan bagi semua alam ini, seperti yang difirmankan oleh Allah
dalam QS. 21 (Al-Anbiya) : 107 yang artinya:

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam"(QS.21 : 107)

Dalam ajaran agama Islam, Allah hanya menurunkan satu agama saja, yaitu Islam.
Karena itu sekalipun di dunia ini banyak sekali agama yang berkembang, Allah hanya

21
mengakui kebenaran satu agama saja, yaitu Islam, seperti dinyatakan dalam QS. 3 (Ali Imran)
: 19 yang artinya :

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat
Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya" (QS. 3 : 19)

Dalam QS. 5 (Al-Maidah): 3 Allah juga berfirman yang artinya :

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS.5:3)

Allah juga mengingatkan agar umat manusia tidak mencari agama selain Islam, karena
usaha tersebut justru akan merugikan manusia itu sendiri, seperti yang difirmankan dalam QS.
3 (Ali Imran): 85 yang artinya:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS.3:85).

2.2. Fungsi agama Islam

Pernyataan yang pada dewasa ini mengganggu pikiran kita ialah, apakah agama itu
benar-benar diperlukan oleh manusia? Jika kita mau meninjau sejenak sejarah peradaban
manusia, kita akan tahu, bahwa agama adalah kekuatan raksasa yang telah mewujudkan
perkembangan manusia seperti sekarang ini. Bahkan semua yang baik dan mulia dalam diri
manusia itu dilandasi oleh iman kepada Allah. Ini adalah kebenaran yang tak dapat dibantah
sekalipun oleh orang atheis (orang yang tak percaya kepada Allah). Para nabi, seperti:
Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, telah mengubah sejarah manusia dan mengangkat derajat
mereka dari lembah kehinaan menuju puncak ketinggian akhlak yang tak pernah diimpikan.
Fungi utama agama Islam dalam kehidupan umat manusia secara umum adalah:
a. Sebagai hidayah, yaitu petunjuk kebenaran sehingga manusia mengetahui jalan kehidupan
yang benar, yang mengantarkannya pada kehidupan yang damai, yang menjaga
keselamatan agar tidak tersesat pada kehidupan yang menyengsarakannya. Dalam QS. 2
(Al-Baqarah): 185 Allah berfirman yang artinya:

"(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)" (QS.2:
185)

b. Sebagai aturan atau jalan kehidupan yang menjaga manusia dari kesesatan, seperti
dinyatakan dalam QS. 45 (Al-Jatsiyah): 18 yang artinya :

"Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
(agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui" (QS.45:18).

c. Sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit hati, seperti pemarah, dengki, kikir,
malas, dsb. Dalam QS. 10 (Yunus): 57 Allah berfirman yang artinya:
22
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman" (QS.10:57).

Dalam QS. 17 (Al-Isra): 82 Allah juga berfirman yang artinya:

"Dan kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang
zalim selain kerugian" (QS.17:82).

d. Sebagai penolong manusia untuk memperoleh kemudahan dalam menghadapi berbagai


permasalahan yang sulit, seperti bagaimana proses perkembangan embrio sejak terjadi
konsepsi. Dalam QS. 23 (Al-Mukminun): 12-14 Allah menjelaskan yang artinya:

(12). Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)
dari tanah.(13). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim).(14). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta
yang paling baik (QS.23:12-14).

e. Sebagai motivator agar manusia tetap tabah menghadapi berbagai cobaan dan kesulitan
hidup, atau bahkan mungkin perlakuan tidak adil dari penguasa yang dhalim, sehingga
manusia tidak putus asa, karena setiap usaha menegakkan kebenaran itu pasti ada
cobaannya, dan setiap kesulitan itu akan mendatangkan kemudahan. Dalam QS. 65 (Al-
Thalaq): 7 Allah berfirman yang artinya:

"Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah
berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan"
(QS.65:7).

Dalam QS. 12 (Yusuf): 87 Allah mengingatkan, yang artinya:

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS.12:87).

Dari aspek hukum, tujuan agama Islam diturunkan oleh Allah kepada manusia ada lima,
yaitu:
a. Memelihara agama dengan mentauhidkan Allah disertai dengan ketaatan menjalankan
aturan Allah.
b. Memelihara jiwa (diri) dengan kewajiban mempertahankan hidup, dan dilarang membunuh
diri maupun jiwa orang lain dan apapun yang berkaitan dengan kerusakan diri.
c. Memelihara keturunan dengan adanya lembaga pernikahan untuk memelihara kejelasan
keturunan seseorang, dan dilarang melakukan perzinaan (hubungan seks di luar nikah).
d. Memelihara akal dengan kewajiban menghindari segala macam hal yang menyebabkan
akal cidera dan tidak normal, seperti meminum minuman yang memabukkan, termasuk
macam-macam narkoba: narkotika, putaw, heroin, morfin, eksatasi dsb.

23
e. Memelihara harta dengan keharusan memperoleh harta secara halal serta dilarang
mendapatkannya dengan cara yang haram, seperti mencuri, merampas, merampok, menipu,
korupsi, dll.

2.3. Karakteristik Ajaran Agama Islam

Sebagai satu-satunya agama yang diturunkan oleh Allah, Islam merupakan agama yang
memiliki karakteristik berikut:
a. Agama Tauhid, artinya Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan ke-Esakan
Allah secara murni, bahkan dalam agama Islam, Tauhid merupakan ajaran yang mendasari
semua ajaran Islam. Dalam QS. 112 (Al-Ikhlash): 1-4 Allah berfirman, yang artinya:

(1).Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.(2). Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu.(3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,(4).
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."(QS.112:1-4).

Dalam QS.2 (al-Baqarah) : 163 Allah juga berfirman yang artinya:

"Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang".(QS.2 : 163)

b. Agama sempurna, artinya agama Islam mengandung ajaran yang memberi petunjuk pada
seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan kesempurnaan ajaran Islam tersebut, orang
Islam memiliki landasan dasar dalam berbuat, sehingga apabila perbuatannya sesuai
dengan ajaran Islam, akan memperoleh nilai ibadah, dan diberikan balasan pahala oleh
Allah. Kesempurnaan ajaran agama Islam tersebut secara tegas disebutkan dalam QS. 5
(Al-Maidah): 3 yang artinya:

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS.5:3).

c. Agama fitrah, artinya ajaran agama Islam itu sesuai dengan fitrah kehidupan manusia.
Karena itu ajaran agama Islam tidak menimbulkan efek negatif dalam kehidupan manusia.
Dalam QS. 30 (Al-Rum): 30 Allah berfirman yang artinya:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah
Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"
(QS.30:30).

d. Agama universal, artinya agama yang berlaku sampai akhir masa. Nabi Muhammad saw
adalah nabi yang terakhir, nabi penutup, sehingga agama Islam yang diterimanya dari
Allah merupakan agama yang berlaku terus menerus sampai akhir masa. Dalam QS. 34
(Saba): 28 Allah berfirman yang artinya:

"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada mengetahui" (QS.34:28).

24
Rasulullah Muhammad saw sebagai pembawa agama Islam adalah rasul terakhir. Dalam
QS. 33 (Al-Ahzab): 40 Allah berfirman yang artinya:

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu" (QS.33:40).

e. Agama yang mengandung kebenaran mutlak, artinya kebenaran ajaran Islam tidak
bergantung pada dukungan pembenaran unsur lain, karena agama Islam berupa firman-
firman Allah, dan Allah adalah Yang Maha Benar Mutlak. Dalam QS. 2 (Al-Baqarah): 147
Allah menegaskan dengan firman-Nya yang artinya:

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-
orang yang ragu" (QS.2:147).

Dalam QS. 2 (Al-Baqarah): 2 secara tegas Allah juga menyatakan yang artinya:

"Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"
(QS.2:2).

f. Agama mudah dan fleksibel, artinya pelaksanaan ajaran agama Islam sangat mudah dan
memberikan kemudahan kepada umat Islam untuk mengamalkannya sesuai dengan
kemampuannya. Islam menghargai kondisi-kondisi tertentu dalam kehidupan manusia.
Karena itu Islam tidak menuntut agar semua ajaran agama Islam diamalkan secara
sempurna apabila kondisinya tidak memungkinkan, seperti apabila sedang sakit. Dalam
QS. 2 (Al-Baqarah): 286 Allah berfirman yang artinya:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia


mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-
orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang
tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (QS.2:286).

2.4. Ruang lingkup Ajaran Agama Islam

Secara garis besar, agama Islam mengandung tiga ajaran pokok, yaitu (1) akidah atau
iman; (2) syari'ah atau islam; dan (3) akhlak atau ihsan. Pembagian ruang lingkup ajaran
agama Islam pada ketiga ajaran tersebut didasarkan aspek hubungan antara fungsi ajaran
agama Islam dengan potensi kehidupan manusia yang menerima amanah sebagai khalifah
Allah di bumi untuk menunaikannya sehingga agama Islam sebagai "rohmatan lil 'alamin" di
alam kehidupan ini dapat terealisasi. Potensi kehidupan manusia tersebut adalah (1) qolbu
untuk beriman; (2) akal untuk memahami; dan indera serta fisik untuk beramal. Materi ajaran
agama Islam dalam ketiga ruang lingkup tersebut akan diuraikan pada pokok bahasan dua.

2.5. Sumber Ajaran Agama Islam

25
Dalam sebuah Hadis dikisahkan, bahwa Nabi Muhammad saw melakukan uji kelayakan
dan kepatutan semacam fit and proper tes terhadap seorang sahabat yang akan diangkat
sebagai gubernur di Yaman: yang artinya : Diriwayatkan dari al-Harits bin Amr, bahwa
Rasulullah s.a.w. mengutus Muadz ke Yaman. Beliau bertanya, Bagaimana kamu mengambil
dasar hukum di sana/Yaman) ? Muadz menjawab Aku akan menghukumi perkara dengan
apa yang terdapat di dalam Kitabullah (Al-Quran), Jika di Kitabullah, hukum tersebut tidak
ada ? tanya beliau lagi. Aku akan menghukuminya dengan apa yang terdapat di dalam
Sunnah Rasulullah saw. Jika di Sunnah Rasulullah, hukum itu tidak ada ? Muadz kembali
menjawab, Aku akan berijtihad dengan pikiranku, maka beliaupun berkata, Segala puji
bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah saw. (H.R.al-
Tirmidzi, no:1249, Abu Dawud, no. 3119, dan Ahmad : 21000).
Mengambil hikmah atau intisari dari dialog yang terjadi antara Rasulullah s.a.w. dengan
Muadz bi Jabbal r.a, tersebut di atas ditegaskan bahwa sumber ajaran Islam adalah Al-Quran,
Sunnah atau Hadis dan ijtihad (rayu), (Zakky Mubarak. Sy, hal 89). Dalam riwayat yang lain
Rasulullah saw berpesan yang artinya:

Kutinggalkan kepadamu dua perkara, dan kamu sekalian tidak akan sesat selama
berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur`an) dan (Sunnah) Rasul-Nya.

Dari pesan Nabi ini, para sahabat dan para ulama sesudahnya berpendapat bahwa sumber
ajaran Islam ada 2 (dua), yaitu: Al-Qur`an dan Sunnah atau Hadis. Sedangkan menurut Hadis
Muadz, sebagian ulama lagi mengatakan bahwa sumber ajaran Islam ada 3 (tiga), yaitu: Al-
Qur'an, Sunnah atau Hadis dan Rakyu atau Ijtihad.
Disamping itu, ada pula ulama yang berpendapat bahwa ketiga sumber tersebut
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Menurut mereka, tidak bisa Al-
Quran berdiri sendiri tanpa Sunnah, dan begitu pula Sunnah tanpa Al-Quran. Sebagai contoh
dikemukakan, ketika Al-Quran menyuruh kita melakukan shalat Aqimusshalah!, kita
tidak dapat melakukan shalat dengan benar, tanpa adanya penjelasan Sunnh, karena memang
Al-Quran pada umumnya ayat-ayatnya bersifat global atau garis besar, dan Sunnah salah satu
fungsinya adalah menjelaskan, atau menafsirkan Al-Quran. Sebaliknya Sunnah tidak bisa
pula dipergunakan kalau bertentangan dengan Al-Quran. Akal pikiran mempunyai peran
yang sangat penting untuk memecahkan berbagai permasalahan yang tidak diatur secara tegas
di dalam Al-Qur'an dan Hadis melalui ijtihad.
Penegasan tentang sumber ajaran agama Islam yang menyebutkan ketiga sumber ajaran
tersebut dan tertibnya terdapat di dalam QS.4 (Al-Nisa'): 59 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(QS.4:59).

2.5.1. Al-Qur'an
a. Pengertian Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah Kalamullah, diturunkan dengan bahasa Arab yang membacanya


ibadah. Al-Qur'an juga Kitabullah yang merupakan sumber ajaran Islam yang utama. Dengan
ketentuan tersebut, maka terjemahan bahasa lain, yang bukan bahasa Arab, bukanlah Al-
Quran. Dengan kata lain Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw secara berangsur-angsur melalui malaikat Jibril sebagai mukjizat dan
26
pedoman hidup bagi umatnya, yang bernilai ibadah bagi orang yang membacanya, di awali
dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas.
Dari definisi di atas dapat diungkapkan bahwa :
1. Al-Quran itu adalah kalamullah atau firman Allah. Tidak ada sepatah katapun ucapan
Nabi dalam Al-Quran, sehingga pada saat Al-Quran diturunkan, Nabi melarang
menghafal atau mencatat, apalagi mengumpulkan ucapannya. Beliau hanya menyuruh
menghafal dan menuliskan Al-Quran ini semata-mata untuk menjaga kemurnian firman
Allah.
2. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu Muhammad bin Abdullah yang
dilahirkan di Mekah pada tahun 574 M, Rasul yang terakhir, penutup segala wahyu yang
diturunkan Allah kemuka bumi.
3. Al-Quran diturunkan Allah melalui perantaraan malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu
yang menyampaikannya secara berangsurangsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari kepada
Nabi Muhammad saw. baik di Mekkah maupun di Madinah.
4. Al-Quran dikumpulkan dalam Mushaf yang sejak masa turunnya dihapalkan dan ditulis
oleh para sahabat dan kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf yang seluruhnya berisi
6.666 ayat dan 114 surat dan 30 juz.
5. Al-Quran itu jika dibaca bernilai ibadah bagi pembaca dan pendengarnya. Ini berarti
membaca Al-Quran itu merupakan bentuk kegiatan ritual yang bernilai ibadah, kendatipun
pembaca atau pendengarnya tidak mengetahui arti yang dibacanya.
6. Al-Quran itu isinya dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat Al-Nas. Ini
mengandung arti bahwa susunan surat dan ayat Al-Quran bersifat tetap sejak
diturunkannya sampai akhir zaman. Karena itu sejak diturunkannya sampai sekarang yang
telah berusia hampir lima belas abad Al-Quran yang ada di tangan umat Islam di berbagai
penjuru dunia isi, susunan surat, ayat dan bacaannya sama, tidak ada dan tidak akan pernah
ada versi yang laian. (Toto Suryana dkk, 1996 : 39-40.)

b. Sejaran Turun dan Penulisan Al-Quran

Al-Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur selama lebih kurang 23 tahun (sejak Nabi
diangkat menjadi Rasul umur 40 tahun sampai menjelang wafatnya pada umur 63 tahun).
Sebagaimana lazimnya setiap Rasul diutus dengan bahasa kaumnya, maka demikian juga Al-
Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan bahasa Arab. Dalam QS. 43 (Al-
Zukhruf): 2-3 Allah berfirman yang artinya:

(2). Demi Kitab (Al-Qur`an) yang menerangkan.(3).Sesungguhnya Kami menjadikan Al-


Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya) (QS.43:2-3).

Sebagai firman Allah, Al-Qur'an dalam bentuk aslinya berada dalam Induk Al-Kitab
yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), sebagaimana dinyatakan dalam QS. 43 (Al-Zukhruf): 4
yang artinya:

Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami,
adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat mengandung hikmah (QS.43:4).

Untuk menyampaikan firman-Nya kepada manusia, Allah memilih Nabi atau Rasul lalu
Allah menyampaikannya dengan 3 cara:
a. Dengan wahyu (langsung ke dalam hati Nabi)
b. Dari belakang tabir (wahyu diserap oleh indra Nabi tanpa melihat pembawa wahyu).
c. Dengan mengutus malaikat (Jibril) yang membawa wahyu.
27
Dalam QS. 42 (Al-Syura):51 Allah berfirman yang artinya:

"Dan tidak ada seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (lalu
diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya) apa yang dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha
Tinggi lagi Maha Bijaksana" (QS.42:51).

Dalam QS. 75 (Al-Insan): 16-19 Allah juga berfirman yang artinya:

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur`an karena hendak cepat-cepat
(menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpukannya (di dadamu)
dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah
bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menjelaskannya"
(QS.75:16-19).

Al-Quran selain enak dibaca karena bahasanya yang bersastra tinggi dan mengandung
nada yang ajaib (tajwid), mudah sekali membedakannya dari teks yang bukan Al-Quran.
Ayat-ayatnya tidak sulit dihapal, sehingga ribuan orang menghapalkannya, baik sebahagian
atau keseluruhannya. Inilah sebagian dari maksud jaminan Allah bahwa Dialah yang
menurunkan Al-Quran dan Dia pula yang memelihara (keotentikan) nya, sebagaimana
dinyatakan dalam QS. 15 (Al-Hijr): 9 yang artinya:

"Sesunguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar


memeliharanya" (QS.15:9).

c. Kandungan Al-Quran

Al-Quran terdiri dari 114 surat dan 30 juz, mengandung pokok-pokok dari berbagai hal
di dalamnya. Kelengkapan kandungan Al-Quran diterangkan sendiri di dalam Al-Quran
sebagai berikut yang artinya Dan tidaklah ada yang Kami luputkan (tinggalkan) di dalam
al-Kitab (Al-Quran) sesuatu pun (Q.S. Al-Anam, 6 : 38).
Dengan demikian, secara garis besar/umum, Al-Qur'an mengandung prinsip-prinsip
pokok ajaran sebagai petunjuk, pedoman bagi manusia dalam menghadapi kehidupan yang
luas dan terus berkembang, yaitu:
a. Pokok-pokok keimanan/keyakinan
b. Prinsip-prinsip syariah
c. Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang
berbuat dosa (nadzir)
d. Kisah-kisah, sejarah
e. Dasar-dasar dan isyrat-isyarat ilmu pengetahuan, seperti: astronomi, fisika, kimia, ilmu
hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi dan lain sebagainya.

d. Fungsi Al-Quran

Berdasarkan uraian di atas, agama Islam merupakan agama samawi (berasal dari langit)
yang diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam, kepada Nabi Muhammad saw. sebagai
kelanjutan dan penyempurnaan dari misi nabi-nabi sebelumnya. Tujuannya adalah untuk
mengesakan Allah dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang bertakwa kepada Allah,
beradab dan berbudi luhur, baik terhadap sesama manusia, makhluk lainnya maupun terhadap
28
lingkungan di sekitarnya. (Mohammad Daud Ali, 1995 : 14/ Zakky Mubarak Syamrakh, 2010
: 61). Secara garis besar, fungsi Al-Qur'an tersebut adalah :
1. Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk (hidayah) bagi manusia.
Kehidupan manusia di muka bumi bertujuan untuk mencapai kebahagiaan. Setiap orang
memiliki penilaian tentang kebahagiaan yang hendak dicapainya yang sesuai dengan
pandangan dasarnya dalam melihat kehidupan. Al-Quran memberikan petunjuk kearah
pencapaian kebahagiaan, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui penghambaan diri
kepada Allah dengan mentaati aturan-Nya. Apabila hidup telah diletakkan dalam
penghambaan yang mutlak kepada Allah, maka ridha Allah akan turun dan kebahagiaan
yang hakiki akan dapat dicapai. (A. Toto Suryana AF dkk, 1996 : 42)
2. Al-Quran memberikan penjelasan terhadap segala sesuatu.
Al-Quran diturunkan Allah ke muka bumi untuk memberikan penjelasan terhadap segala
sesuatu, sehingga manusia memiliki pedoman dan arahan yang jelas dalam rangka
melaksanakan tugas hidupnya sebagai makhluk Allah. Yang dimaksud dengan segala
sesuatu bukanlah apa saja yang ada di bumi ini, karena Al-Quran bukanlah kamus atau
ensiklopedi, tetapi Al-Quran memberikan dasar-dasar yang bersifat global dan mendasar.
Ini berarti bahwa di dalam Al-Quran telah ada pokok-pokok agama, norma-norma,
hukum-hukum dan pokok-pokok segala sesuatu yang dapat membawa manusia kearah
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
3. Al-Quran berfungsi memberikan rahmat dan menyampaikan kabar gembira kepada
manusia yang berserah diri. Yang dimaksud dengan kabar gembira adalah bahwa Al-
Quran memberikan harapan-harapan masa depan bagi orang-orang yang beriman, beramal
shaleh, tunduk dan patuh kepada aturan Allah, yaitu janji Allah untuk memberikan
kesenangan dan kenikmatan yang tiada tara. Sehingga dengan demikian seorang muslim
dapat hidup optimis dan tidak putus asa dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup
yang dihadapinya.
3. Al-Quran sebagai penawar jiwa yang sakit (syifa')
Al-Quran berfungsi juga sebagai obat (penawar) bagi manusia, sebagaimana firman Allah
dalam QS.17 : 82 yang artinya Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah
menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Syifa' artinya obat, penawar
atau penyembuh. Sasaran dari penyembuhan ini adalah hati, yaitu memberikan
penyembuhan terhadap segala penyakit hati yang menjadikan manusia menderita sakit
rohaniah. Penyakit rohaniah dapat menghinggapi manusia setiap saat dalam bentuk
kecemasan, kegelisahan, dan kekecewaan yang dapat mengakibatkan kekosongan dan
kegoncangan jiwa. (A. Toto Suryana AF, dkk, 1996 : 43-44).

e. Kedudukan Al-Quran

Dalam Tarikh Tasyri Islami (sejarah pembinaan hukum Islam), kita menemukan
bahwa Al-Quran merupakan pedoman pertama dan utama bagi umat Islam. Pada masa
Rasulullah saw., setiap persoalan selalu dikembalikan solusi dan pemecahannya kepada Al-
Quran. Rasulullah saw. sendiri, dalam tata perilaku sehari-hari, selalu mengacu kepada Al-
Quran. Hidup beliau kata Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra, merupakan
pengejawantahan dan refleksi dari nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Quran.
Akhlaknya adalah Al-Quran, demikian jawab Aisyah ketika di tanya Saad bin Hisyam
soal budi pekerti (akhlak) Rasulullah saw. (H.R. Ahmad, no. 24629).
Mengenai dalil yang menunjukan kehujahan Al-Quran, selain yang di atas, ada
beberapa dalil yang lain yang mewajibkan kaum mukmin untuk secara totalitas menaati Allah
dan Rasul-Nya, antara lain dalam Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 31: yang artinya
29
Katakanlah:Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang".

Menurut Zakky Mubarak yang mengutip dari Syaikh Rasyid Ridha, bahwa mayoritas
ulama Ushul Fiqh berpendapat bahwa ayat-ayat hukum yang berhubungan dengan masalah
ibadah, masalah pengadilan, dan masalah politik, di dalam Al-Quran tidak lebih dari
sepersepuluh isi Al-Quran. Sebagian ulama menghitung bahwa ayat-ayat hukum yang
berhubungan dengan masalah ibadah dan muamalah ada lima ratus (sebagian ahli lain ada
yang berpendapat bahwa hanya dua ratus ayat). Ayat-ayat hukum tersebut kebanyakan
berhubungan dengan masalah ibadah atau masalah keagamaan secara khusus, karena masalah
duniawi kebanyakan berdasarkan 'urf (kebiasaan), pengetahuan, dan ijtihad ulama. (Rasyid
Ridha, 1983: 470).

2.5.2. Sunnah/Hadis
a. Pengertian Sunnah/Hadis

Menurut wasiat Nabi yang menjadi pedoman umatnya dari kehidupan beliau adalah
Sunnah, tetapi juga dikenal dengan istilah Hadis. Istilah hadis menurut para ahli hadis adalah
sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw, baik berupa pebuatan, perkataan,
maupun persetujuan beliau (taqrir). Kata sunnah menurut kamus bahasa Arab bermakna jalan,
arah, peraturan, mode atau cara tentang tindakan atau sikap hidup.
Artikel definit Al (alif dan lam) merupakan simbol untuk menunjukkan makna spesifik.
Jadi Sunnah bermakna keteladanan kehidupan Nabi (yang benar-benar dilakukannya). Sedang
hadis mempunyai arti cerita, riwayat atau kabar yang dinisbahkan kepada Nabi. Sebuah hadis
mungkin tidak mencakup sunnah, atau boleh jadi hadis bisa merangkum lebih dari sebuah
sunnah. Maka para muhadisin mengklasifikasi suatu hadis dan mendudukkannya apakah hadis
tersebut dapat dijadikan pedoman dan rujukan sebagai sunnah atau hadis tersebut berstatus
dhaif atau lemah, atau palsu yang ditolak (mardud) untuk dijadikan pedoman atau sumber
ajaran Islam.

b. Sejarah Sunnah/Hadis.

Seratus tahun setelah hijrah (abad ke-1), ketika para ahli hadis mengumpulkan dan
menuliskan hadis-hadis Nabi, terdapat banyak sekali hadis. Untuk menguji validitas dan
kebenaran suatu hadis, para muhadisin (pengumpul dan periwayat hadis) menyeleksi berbagai
riwayat tentang hadis dengan memperhatikan jumlah dan kualitas jaringan periwayat hadis
tersebut yang dikenal dengan sanad. Bila periwayat hadis itu dalam jaringan pertama (yang
menyaksikan kejadian suatu hadis, umpamanya menyangkut cara Nabi shalat adalah orang
banyak, kemudian menceritakannya kepada orang banyak pula, dan seterusnya hingga sampai
ke pencatat hadis sehingga tidak dimungkinkan orang-orang itu berbohong, maka hadis yang
serupa ini disebut mutawatir. Jika perawinya sedikit (penyampaian riwayat dengan jumlah
terbatas) dan seterusnya sampai pada pencatat hadis (perawi), maka jalur periwayatan serupa
ini disebut ahad.

c. Klasifikasi Sunnah/Hadits

Ditinjau dari segi bentuknya, hadis diklasifikasikan kepada:


1) Fili (perbuatn Nabi)
2) Qauli (perkatan Nabi)

30
3) Taqriri (keiizinan atau persetujuan Nabi), seperti perbuatan sahabat yang disaksikan
Nabi, dan Nabi tidak menegornya.
Ditinjau berdasarkan jumlah perawinya (dari segi jumlah orang yang menyampaikan
hadis, atau sanadnya), hadis dapat diklasifikasikan kepada:
1) Mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak
mungkin mereka bersepakat dusta.
2) Masyhur, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak kepada orang banyak pula,
tetapi jumlahnya tidak sampai kepada derajat mutawatir.
3) Ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai pada
tingkat masyhur maupun mutawatir. Ada ulama yang memasukkan hadis masyhur kepada
golongan hadis ahad.
Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, hadis dibagi menjadi:
a. Hadis maqbul, yaitu hadis yang dapat diterima
b. Hadis mardud, yaitu hadis yang ditolak.
Ditinjau dari kualitasnya, hadis dibagi menjadi:
1) Shahih, yaitu hadis yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang baik dan kuat
hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkan.
2) Hasan, yaitu hadis yang memenuhi persyaratan hadis shahih kecuali dari segi hafalan
perawinya kurang baik.
3) Dhaif, yaitu lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang
pembawanya kurang baik.
4) Maudhu, yaitu hadis palsu, hadis yang dibikin oleh seseorang dan dikatakannya sebagai
sabda atau perbuatan Nabi .

d. Kedudukan dan Fungsi Sunnah/Hadis

Dalam konteks sumber ajaran Islam, Sunnah/Hadis mempunyai kedudukan berikut:


a) Sunnah adalah sumber ajaran agama Islam kedua setelah Al-Quran.
Perintah untuk menjadikan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam, antara lain disebutkan di
dalam QS. 8 (Al-Anfal) : 20 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah
kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)"
(QS.8:20).

b) Kepatuhan kepada Sunnah Rasulullah berarti patuh dan cinta kepada Allah.
Di dalam QS. 4 (Al-Nisa) : 80 Allah menyatakan yang artinya:

"Barangsiapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa


yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka" (QS.4:80).

c) Sunnah berfungsi sebagai penafsir Al-Qur'an


Dalam hubungannya dengan Al-Qur'an, Sunnah berfungsi sebagai tafsir, syarah, penjelas
terhadap ayat Al-Qur'an. Sunnah berfungsi menerangkan ayat-ayat yang sangat umum
dan global, seperti: hadis Shallu kama raaitumuni ushalli (shalatlah kamu sebagaimana
kamu melihatku shalat), adalah penjelasan dari ayat Al-Quran Aqimush-shalah
(dirikanlah shalat).
Al-Quran bersifat global dan kadang bersifat sangat umum, sehingga maknanya sulit
untuk dipahami kalau tidak dibantu oleh Sunnah. Dalam kondisi seperti itu, maka Sunnah
31
berfungsi selaku penjelas dan penafsir. Kedudukan Sunnah adalah kuat dan strategis dalam
menafsirkan Al-Qur'an. Perintah shalat umpamanya, dalam Al-Quran berbunyi:
Aqimushshalah.!, tidak diketahui bagaimana cara melakukannya, sekiranya Sunnah tidak
menjelaskannya. Untunglah Nabi mengatakan: Shalluu kamaa raitumunii ushalli (shalatlah
kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat). Nabi mewariskan Sunnah kepada umatnya
yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan berbagai praktk ibadah dan muamalah
yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.
Kitab-kitab hadis banyak sekali, dan diantara kitab-kitab tersebut ada 7 kitab hadis
yang dianggap para ulama sebagai kitab hadis yang utama sehingga disebut Kutub Sittah,
yaitu:
a) Shahih Bukhari
b) Sahahih Muslim
c) Sunan Abu Daud
d) Sunan Nasai
e) Sunan Tirmidzi
f) Sunan Ibnu Majah
g) Musnad Imam Ahmad

2.5.3. Ijtihad/Rakyu
a. Pengertian Ijtihad/Rakyu

Al-rayu artinya penglihatan yang berasal dari kata ra`a (melihat). Akan tetapi yang
dimaksud dengan penglihatan di sini bukanlah penglihatan mata, melainkan penglihatan akal.
Al-ra`yu merupakan hasil suatu proses yang terjadi pada otak manusia setelah terlebih dahulu
memperoleh masukan (input). Oleh karena itu, sering terjadi bahwa proses pemikiran itu
sangat tergantung kepada jumlah masukan yang dimiliki seseorang (seperti: penguasaan
tentang Al-Qur'an dan Sunnah, penguasaan bahasa Arab dan perangkatnya, keluasan ilmu
pengetahuan dan pengalamannya, dsb). Makin kaya masukan, makin dalam proses
pemikirannya. Proses pemikiran ini sering juga disebut ijtihad.
Ijtihad diambil dari kata ijtahada - yajtahidu ijtihadan, yang artinya mengerahkan
segala kesungguhan dan ketekunan secara optimal untuk menggali dan menetapkan suatu
hukum (syara) dari sumber Al-Qur`an dan Sunnah. Karena itu ijtihad tidak boleh
bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah. Kesungguhan memahami sumber ajaran Islam
(Al-Qur`an dan Sunnah) dilakukan para mujtahid dengan jalan memahami apa yang tersurat
(teks) dan apa yang tersirat (konteks) dalam nash (Al-Qur`an dan Sunnah) seraya pula
memperhatikan jiwa, rahasia hukum, 'illat (alasan atau sebab-akibat), dan unsur-unsur
kemaslahatan yang dikandung kedua sumber tersebut.

2). Dasar, Kedudukan dan Fungsi Ijtihad/Rakyu

Ijtihad merupakan keunikan yang spesifik dalam ajaran Islam yang universal, sehingga
penerapan hukum-hukum syara serta pengalihan hukum dan norma baru dapat diselaraskan
dengan situasi dan kondisi yang berlaku tanpa keluar atau meninggalkan sumber pokoknya
(Al-Qur`an dan As-Sunnah). Berbagai masalah kontemporer yang muncul dewasa ini, yang
secara teknis belum didapati di dalam Al-Qur`an dan Sunnah, menempatkan kedudukan
ijtihad makin terasa penting.
Al-Quran menghargai, menghimbau dan menyeru para pemikir (mujtahid) untuk
mengerahkan segala kemampuannya untuk memahami kitab suci Al-Quran sedalam-
dalamnya dan seluas-luasnya. Di dalam QS. 59 (Al-Hasyr): 2 Allah menyatakan yang artinya:

32
Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai
wawasan (QS.59:2).

Ayat tersebyt menyatakan, beritibarlah, berpikirlah, hai orang-orang yang berakal, patutilah
Al-Quran ini sebagai rahmat bagi manusia dalam menjalankan agama dengan
memperhatikan prinsip-prinsip dasarnya.

b. Syarat-Syarat Berijtihad

Para ulama menetapkan beberapa syarat bagi orang yang hendak melakukan ijtihad,
syarat-syarat tersebut adalah:
a. Mengetahui nash Al-Qur`an dan Sunnah
b. Mengetahui dan menguasai bahasa Arab
c. Mengetahui soal-soal ijma
d. Mengetahui ushul fiqih.
e. Mengetahui nasikh dan mansukh.
f. Mengetahui ilmu-ilmu penunjang lainnya.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, sumber ajaran Islam ada
tiga (1) Al-Quran; (2) Sunnah/Hadis; dan (3) Ijtihad/rakyu. Menurut Prof.H.Mohammad
Daud Ali, guru besar Hukum Islam Universitas Indonesia: (a) ketiganya merupakan satu
rangkaian kesatuan dengan urutan keutamaan yang telah mantap dan konsisten serta stabil,
tidak dapat diubah-ubah; (b) Al-Quran dan Sunnah/Hadis merupakan sumber utama,
sedangkan ijtihad/rakyu merupakan sumber tambahan atau sumber pengembangan yang
dihasilkan oleh para mujtahid.

c. Menyikapi Hasil Ijtihad/Rakyu

Ijtihad dapat dilakukan secara individu, kelompok, atau oleh seluruh mujtahid. Dalam
sejarah ijtihad, masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khathab ketika para
mujtahid dari kalangan sahabat belum berpencar keberbagai daerah Islam, ijtihad seluruh para
mujtahid dari para sahabat telah melahirkan kesepakatan tentang sesuatu masalah hukum yang
disebut ijma'. Mulai masa kekhalifahan Usman bin 'Affan setelah para mujtahid berpencar
keberbagai daerah Islam, ijma' tidak terjadi lagi. Karena itu hasil ijtihad para mujtahid dapat
saja terjadi perbedaan disebabkan oleh perbedaan tingkat pengetahuan, pengalaman, budaya
masyarakat dimana mujtahid hidup, kekhasan masalah yang diijtihadi, metode ijtihad yang
dipergunakan, dan lain sebagainya (A.Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam : 52).
Menyikapi adanya perbedaan hasil ijtihad tersebut bagi umat Islam yang tidak punya
kompentensi untuk melakukan ijtihad sendiri adalah :
a). Ittiba', yaitu melakukan kajian berbagai aspek ijtihad secara komprehensif dari para
mujtahid yang menghasilkan ijtihad yang berbeda-beda tersebut. Kajian tersebut akan
menghasilkan pengetahuan tentang hasil ijtihad yang lebih kuat atau meyakinkan untuk
diikuti. Orang yang melakukan kajian ijtihad tersebut disebut muttabi'.
b). Muqollid, yaitu mengikuti hasil ijtihad ulama' mujtahid yang diyakini kekuatannya tanpa
melakukan kajian proses dan hasil ijtihad tersebut bagi umat Islam yang tidak
mempunyai kompetensi untuk melakukan kajian ijtihad. Yang tidak diperbolehkan dalam
Islam adalah taqlid buta, yaitu mengikuti hasil ijtihad orang tanpa meyakini kekuatan
hasil ijtihad tersebut. Biasanya taqlid buta terjadi karena faktor-faktor yang tidak
dibenarkan dalam Islam, seperti faktor kultus dan ta'ashub atau fanatisme.
c). Menghargai hasil ijtihad lain yang tidak diikuti. Ijtihad tidak mengandung kebenaran
mutlak, tetapi kebenaran relatif karena dilakukan oleh mujtahid yang tidak ma'shum,
33
hanya Al-Qur'an dan Sunnah/Hadis yang mengandung kebenaran mutlak. Apabila ijtihad
didasarkan pada indikator-indikator yang sifatnya situasional atau kondisional, maka
dapat saja terjadi pada masa yang sama terdapat ijtihad yang berbeda-beda, yang hanya
tepat untuk situasi dan atau kondisinya masing-masing, atau tepat pada masa tertentu
tetapi pada masa yang lain justru memerlukan ijtihad yang berbeda karena situasi atau
kondisinya berubah.

3. Manusia Beragama Islam

3.1. Karakteristik Manusia Beragama Islam


3.1.1. Penyebutan Manusia Dalam Al-Qur'an

Konsep manusia di dalam Al-Quran dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang


saling menunjuk pada makna manusia, yaitu kata basyar, insan, an-nas, bani Adam, dan
abdun. Allah memakai konsep basyar dalam Al-Quran sebanyak 37 kali, salah satunya QS.
18 (al-Kahfi) : 110, yaitu : innama anaa basyarun mitslukum (sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis
manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (QS. 15 : al-Hijr : 33; dan QS. 30
: 20), manusia makan dan minum (QS. 23 : al-Mukminun : 33). Basyar adalah makhluk yang
sekedar ada (being), yang statis seperti hewan. Kata insan disebutkan dalam Al-Quran
sebanyak 65 kali, diantaranya adalah dalam QS. 96 : al-Alaq : 5, yaitu : allamal insaana
maa lam yalam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep insan
selalu dihubungkan dengan sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang
berpikir, berilmu, dan memikul amanah (QS. 33 : al-Ahyzab : 72). Insan adalah makhluk
yang menjadi (becoming), dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan. Kata al-nas
disebut sebanyak 240 kali, seperti dalam QS. 39 : al-Zumar : 27 : wa laqad dharabna
linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah Kami buatkan bagi
manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada
semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif. Kata Bani Adam, menunjuk pada
aspek historis, bahwa semua umat manusia berasal dari Nabi Adam, seperti disebutkan dalam
QS. 7 (al-Araf) : 31 : ya bani Adam, khudzuu ziinatakum inda kulli masjidin (Hai anak
Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid). Adapun kata abdun,
menunjuk aspek posisi manusia sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-
Nya, seperti disebut dalam QS. 34 (Saba) : 9 : ... inna fii dzalika la aayatin li kulli abdin
muniib (... Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan
Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)

3.1.2. Tujuan Penciptaan Manusia

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada penciptanya, yaitu Allah.
Pengertian beribadah kepada Allah tidak boleh diartikan secara sempit, dengan membatasi
pengertian pada aspek ritual yang tercermin dalam shalat saja. Peribadahan berarti
ketundukan manusia pada hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini, baik
yang berupa hubungan vertikal dengan Allah, maupun horizontal dengan sesama manusia dan
makhluk Allah lainnya.
Peribadahan manusia kepada Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap
terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang baik dan adil. Oleh karena itu
peribadahan harus dilakukan secara sadar dan suka rela, karena Allah sebenarnya tidak
membutuhkan peribadahan manusia. Dalam hal ini, dalam QS. 51 (al-Dzariyat) : 56 Allah
menjelaskan yang artinya :
34
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"
(QS.51:56).

3.1.3. Proses Penciptaan Manusia

Dalam QS. 23 (al-Mukminun) : 12-14 Allah berfirman yang artinya:

(12).Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah.(13).Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim).(14). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik
(QS.23:12-14).

Ayat tersebut menjelaskan tentang penciptaan manusia dari unsur fisik, sedangkan manusia
dicipta dari dua unsur, yaitu unsur fisik dan unsur ruh. Karena itu dalam QS.15 (al-Hijr) : 28-
29 Allah berfirman yang artinya:

"(28).Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk, (29).Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud" (QS.15:28-29).

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari dua unsur, yaitu (1) unsur
materi tanah; dan (2) unsur non materi ruh dari Allah. Dalam Hadis dijelaskan bahwa setelah
terjadi konsepsi, proses pertumbuhan sebagaimana disebutkan dalam QS. 23 (Al-Mukminun)
: 12-14 tersebut adalah (1) nuthfah selama 40 hari; (2) 'alaqah selama 40 hari; dan (3)
mudhghah selama 40 hari, dan kemudian Allah meniupkan ruh-Nya sehingga sempurnalah
calon manusia sebagai janin yang hidup secara materi dan ruh.

3.1.4. Alam Kehidupan Manusia

Kehidupan manusia berlangsung dalam empat tahapan kehidupan, yaitu :


a. Alam rahim, yaitu alam kehidupan sejak terjadi konsepsi sampai lahir;
b. Alam dunia, yaitu alam kehidupan sejak kelahiran sampai meninggal dunia;
c. Alam barzah atau alam kubur, yaitu alam kehidupan sejak kematian sampai kiamat;
d. Alam akhirat, yaitu alam kehidupan sejak kiamat, yaitu kehancuran alam beserta isinya
sampai kehidupan di surga atau neraka sebagai balasan terhadap perbuatan manusia
selama hidup di dunia. Alam akhirat terdiri dari empat tahadap, yaitu (1) yaumu ba'ats
atau hari kebangkitan; (2) yaumu mahsyar atau hari dikumpulkannya manusia di
mahsyar; (30 yaumu miizan atau yaumu hisab, yaitu hari penimbangan/perhitungan amal
perbuatan; dan (4) yaumu jaza' atau hari pembalasan terhadap hasil
penimbangan/perhitungan amal perbuatan manusia, kalau hasilnya baik manusia akan
dibalas dengan kehidupan yang menyenangkan di surga, dan kalau sebaliknya hasilnya
buruk, manusia akan dibalas dengan kehidupan yang menyengsarakan di neraka.

3.1.5. Kedudukan Manusia


35
Sejak sebelum manusia diciptakan, Allah telah menyampaikan irodahnya kepada para
malaikat bahwa manusia akan diciptakan sebagai khalifah-Nya di bumi sebagaimana Allah
firmankan dalam QS. 2 (Al-Baqarah) 30 yang artinya :

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."(QS.2:30).

Dalam QS. 6 (Al-An'am) 165 : Allah juga berfirman yang artinya :

"Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan
sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang
apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan
sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS.6:165).

Makna khalifah Allah adalah pengemban amanah Allah. Amanah yang Allah
percayakan kepada manusia adalah menegakkan aturan Allah di bumi ini sehingga tercipta
kehidupan yang harmonis, yang adil, sehingga manusia khususnya dan semua makhluk pada
umumnya merasakan rahmat Allah. Rahmat Allah tersebut dalam kehidupan manusia
digambarkan dengan kehidupan yang makmur sebagaimana firman Allah dalam QS. 11(Hud)
: 61 yang artinya :

"Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan
kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-
Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya)
lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."(QS.11:61).

3.1.6. Potensi Manusia

Manusia memiliki potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke
dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua aspek, yaitu potensi
fisik, dan potensi ruhaniah. Potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu,
sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, qalb, dan emosi atau perasaan. Dalam Al-Quran
akal diartikan dengan kebijaksanaan (wisdom), inteligensia (intelligent), dan pengertian
(understanding). Dengan demikian, di dalam Al-Quran akal diletakkan bukan hanya pada
ranah rasio semata, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu, akal diartikan dengan hikmah
atau kebijaksanaan.

Al-Qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah, atau berbalik. Musa
Asyari (1992) menyebutkan arti qalb dengan dua pengertian, yaitu pengertian kasar atau
fisik, yang berupa segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak disebelah kiri,
yang sering disebut jantung, dan pengertian yang halus yang bersifat Ketuhanan serta
ruhaniah, yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan,
dan arif. Dengan demikian, akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam,
sedangkan mengimani Allah adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Keduanya merupakan

36
kesatuan daya ruhani untuk dapat memahami kebenaran, sehingga manusia dapat memasuki
kesadaran tertinggi yang menerima, memahami, dan meyakini kebenaran Ilahi.

Adapun nafsu (bahasa Arab al-Hawa, dalam bahasa Indonesia sering disebut hawa
nafsu), adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya.
Dorongan ini sering disebut dorongan ghoriziyah, insting, karena sifatnya yang bebas tanpa
mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak
bebas. Dengan nafsu, manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang
lain. Kecenderungan nafsu yang bebas, jika tidak terkendali dapat menyebabkan manusia
memasuki kondisi yang membahayakan dirinya. Untuk mengendalikan nafsu, manusia
menggunakan akalnya, sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif
yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Agar manusia dapat bergerak
ke arah yang jelas dan baik, maka agama berperan untuk menunjukkan jalan yang harus
ditempuhnya. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan agama
disebut al-nafs al-muthmainnah, yang diungkapkan dalam QS.89 (al-Fajr):27-30 yang artinya:

(27). Hai jiwa yang tenang.(28).Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya.(29).Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,(30).Masuklah ke
dalam syurga-Ku (QS.89:27-30).

Dalam QS.12 (Yusuf) : 53 diingatkan oleh Allah bahwa nafsu yang baik tersebut adalah nafsu
yang dirahmati Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang" (QS.12:53)

Dengan demikian, manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrah (hanif) nya, dan
mampu mengelola serta memadukan potensi akal, qalb, dan nafsunya secara harmonis.

3.1.7. Karakter Manusia

Pada diri manusia terdapat perpaduan karakter yang berlawanan. Manusia adalah hadis,
baru, dari sifat jasmiahnya, dan azali dari roh Ilahiahnya. Oleh karena itu pada diri manusia
terdapat karakter baik yang mencerminkan sifat Tuhan dan karakter buruk yang
mencerminkan sifat buruk nafsu dari materi. Dalam QS. 91 (Al-Syams) : 7-10 Allah
berfirman yang artinya :

(7). Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),(8). Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.(9). Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu,(10).Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS.91:7-
10).

3.1.8. Martabat Manusia

Dihadapan Allah, manusia sama dengan makhluk Allah lainnya, seperti hewan, tumbuh-
tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya, tetapi manusia diberikan anugerah khusus berupa
akal dan qalbu. Karena itu Allah menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang
terbaik sebagaimana firman Allah dalam QS. 95 (Al-Tin) : 4 yang artinya:

37
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"
(QS.95:4).

Dalam QS. 17 (al-Isra) : 70 Allah juga berfirman yang artinya :

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" (QS.17:70).

Sekalipun manusia telah Allah ciptakan dalam bentuk yang terbaik dan dimuliakan dibanding
makhluk lainnya, tetapi martabat manusia ditentukan oleh nilai kehidupannya. Martabat
manusia tersebut adalah :
1). Muttaqun, orang yang bertakwa, yaitu orang yang mentaati aturan Allah dengan
mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
2). Mukmin, orang yang beriman, yaitu orang yang mempercayai ke enam rukun iman dan
mengikrarkannya secara lisan, serta mengamalkan perintah-perintah Allah.
3). Muslim, orang yang beragama Islam, yaitu orang yang mengikrarkan dua kalimat
syahadat disertai dengan ketaatan, kepatuhan, kepasrahan, dan ketundukan terhadap
aturan-aturan Allah.
4). Muhsin, orang yang berbuat baik, yaitu orang yang beramal untuk kebaikan hidup
dirinya, orang lain, dan makhluk lain.
5). Mukhlish, orang yang ikhlash, yaitu orang yang melakukan kegiatan dengan niat hanya
karena Allah.
6). Mushlih, orang yang menciptakan kebaikan, yaitu orang yang beramal untuk memberikan
kemanfaatan hidup diri sendiri, orang lain, dan makhluk lain.
7). Kafir, orang yang mengingkari atau menolak, yaitu orang yang mengingkari ada-Nya
Allah, atau menolak perintah Allah.
8). Fasik, orang yang keluar dari kebenaran, yaitu orang yang semula mukmin tetapi
kemudian tidak mau taat pada aturan Allah dan melakukan perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan aturan Allah.
9). Munafik, orang yang pura-pura dalam beragama Islam atau beriman, yaitu orang yang
apabila berkata dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila diberikan amanah berkhianat.
10). Musyrik, orang yang menyekutukan, yaitu orang yang menyekutukan Allah dengan
selain Allah sebagai Tuhan, atau menyekutukan peribadahan kepada Allah dan kepada
selain Allah.
11). Murtad, orang yang kembali keluar atau keluar dari Islam, yaitu orang yang semula
beragama Islam kemudian keluar dari Islam, baik orang tersebut kemudian menganut
agama selain Islam atau tidak beragama.

3.1.9. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama Islam

Sekalipun manusia telah Allah ciptakan sebagai makhluk terbaik dan Allah karuniakan
potensi yang terlengkap dibandingkan dengan potensi makhluk lainnya, tetapi manusia tetap
relatif, artinya punya keterbatasan. Relativitas manusia tersebut mengakibatkan manusia tidak
mampu mencapai kepastian yang mengandung kebenaran mutlak. Karena itu sejak awal
manusia diciptakan, Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia untuk membimbing
relativitas potensinya agar manusia tidak tersesat atau bimbang dalam ketidak-pastian.
Petunjuk tersebut Allah berikan melalui wahyu yang Allah turunkan kepada rasul-Nya.
Ajaran yang terdapat didalam wahyu Allah tersebut yang disebut agama, atau dalam istilah
Al-Qur'an disebut syariah, artinya jalan kehidupan. Secara universal, manusia memiliki
38
karakter yang sama. Karena itu Allah turunkan satu syariah, satu agama sejak manusia yang
pertama Allah ciptakan sekaligus rasul pertama, yaitu Rasulullah Adam as sampai manusia
terakhir yang hidup di bumi ini kepada rasul terakhir, yaitu Rasulullah Muhammad saw.
Syariah atau agama yang Allah turunkan kepada semua manusia adalah Islam. Dalam QS.3
(Ali Imran) : 19 Allah berfirman yang artinya :

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah
maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya" QS.3:19).

Kemudian Allah mengingatkan manusia untuk tidak mencari agama selain Islam agar tidak
merugi sebagaimana firman Allah dalam QS.3 (Ali Imran) : 85 yang artinya :

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripada-Nya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS.3:85).

3.2. Tanggung Jawab Manusia Beragama Islam


3.2.1.Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba Allah

Makna yang esensial dari kata abdun (hamba) adalah pengabdian sebagai wujud
ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya
layak diberikan kepada Allah, yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan
pada kebenaran dan keadilan berdasarkan ketentuan Allah.
Dalam hubungan dengan Allah, manusia menempati posisi sebagai ciptaan, dan Allah
sebagai Pencipta. Posisi ini mempunyai konsekuensi adanya keharusan manusia
menghambakan diri kepada Allah, dan dilarang menghamba pada sesama manusia atau
makhluk lainnya. Kesediaan manusia untuk menghamba hanya kepada Allah dengan sepenuh
hatinya, akan mencegah manusia pada penghambaan terhadap sesama manusia atau makhluk
lainnya. Tanggung jawab abdullah terhadap dirinya adalah memelihara ketakwaan yang
melahirkan ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tanggung
jawab manusia kepada Allah untuk mengabdi tersebut di dalam Al-Qur'an disebut hablun min
Allah.

3.2.2. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi
khalifah memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi.
Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya
mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan kehidupan.
Sebagai wakil Allah, Allah mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-
Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum kebenaran yang
terkandung dalam ciptaan-Nya. Kekuasaan manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-
aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang mewakilkannya, yaitu
hukum-hukum Allah, baik yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran (ayat Quraniyah),
maupun yang tersirat dalam alam semesta (ayat kauniyah).
Dengan demikian, manusia sebagai hamba dan khalifah Allah merupakan kesatuan yang
saling menyempurnakan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang memiliki kebebasan
berkreasi dan sekaligus menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya
pada keterbatasan. Kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada kontek individu dan

39
sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam QS. 3 (Ali Imran) : 112 yang
artinya:

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali
mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena
mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar.
Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas" (QS.3:112).

40
BAB II
POKOK POKOK AJARAN AGAMA ISLAM

1. Akidah atau Iman Islam


1.1. Pengertian, Ruang Lingkup Materi, Kedudukan Akidah atau Iman Islam

1.1.1. Pengertian Akidah atau Iman Islam

Akidah secara etimologi berasal dari kata 'aqada ya'qidu 'aqdan, artinya simpul atau
ikatan dari dua utas tali dalam satu buhul sehingga menjadi tersambung. Aqada berarti pula
janji yang kokoh, karena janji merupakan ikatan kesepakatan antara dua pihak yang
mengadakan perjanjian. Akidah menurut terminologi adalah sesuatu yang mengharuskan hati
membenarkannya, yang membuat jiwa tenang dan menjadi kepercayaan yang bersih dari
kebimbangan dan keraguan. Atau sering juga disebut dengan keyakinan. Istilah akidah masih
bersifat umum untuk berbagai agama, misalnya akidah Trinitas pada Kristen atau Trimurti
pada Hindu dan sebagainya. Sedangkan iman dari segi bahasa berarti kepercayaan atau
keyakinan, dan dari segi istilah sama dengan akidah.
Dalam redaksi Al-Quran, akidah Islam disebut dengan iman. Iman bukan hanya berarti
percaya, melainkan keyakinan yang kuat yang mendorong dan mendasari seorang muslim
untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman itu sangat luas. Iman senantiasa bersinergi
dengan perbuatan atau amal saleh. Karena itu iman didefinisikan dengan : Mengucapkan
dengan lisan, membenarkan dengan hati dan melaksanakan dengan segala anggota badan
(perbuatan)". Iman hendaknya berwujud penyataan dengan lidah, dilandasi dengan keyaknian
dalam hati dan sebagai buktinya disertai dengan perbuatan baik dan ikhlas yang sesuai dengan
perintah Allah dan Rasul-Nya.
Dalam ajaran Islam, akidah Islam (al-aqidah al-Islamiyah) merupakan keyakinan atas
sesuatu yang terdapat dalam apa yang disebut dengan rukun iman, yaitu keyakinan kepada
Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qadha' dan qadar. Hal
ini didasarkan kepada Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Shahabat Umar bin
Khathab ra yang dikenal dengan Hadits Jibril. Akidah Islam adalah pokok kepercayaan
seorang muslim yang harus dipegang sebagai sumber keyakinan yang mengikat. Ketika ia
berakidah Islam maka ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Menjadi
seorang mukmin berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran
agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS 2 (Al-Baqarah) : 208 yang artinya :

Hai orang yang beriman, masukalah ke dalam Islam secara keseluruhan dan jangan kamu
turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimau
(QS.2:208)

Akidah Islam membentuk perilaku kehidupan seorang muslim. Ada beberapa pokok manfaat
dan pengaruh iman dalam kehidupaan manusia antara lain:
1. Iman menyelapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda
2. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
3. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
4. Iman memberikan ketentraman jiwa
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan thayibah)
6. Iman memelihara sikap ikhlas dan konsekuen
7. Iman memberikan keberuntungan.

41
1.1.2. Ruang Lingkup Akidah atau Iman Islam

Para ulama membagi ruang lingkup akidah ke dalam 4 (empat) pembahasan, yaitu : (1)
Ilahiyat, yaitu pembahasan yang berkenaan dengan masalah Ketuhanan utamanya
pembahasan tentang Allah. (2) Nubuwwat, yaitu pembahasan yang berkenaan dengan utusan-
utusan Allah, yaitu para nabi dan para rasul Allah. (3) Ruhaniyat, yaitu pembahasan yang
berkenaan dengan makhluk gaib, seperti Jin, Malaikat, dan Iblis. (4) Samiyyat, yaitu pem-
bahasan yang bekenaan dengan alam ghaib, seperti alam kubur, akhirat, surga neraka, dan
lain-lain.
Materi iman atau yang sering disebut dengan Rukun Iman yang harus diyakini seorang
muslim ada enam, sebagai mana sabda Rasulullah : Iman itu hendaknya engkau percaya
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadha
dan qadar Allah yang baik dan yang buruk (HR. Muslim.). Enam hal di atas merupakan
materi keimanan yang harus diyakini dan dihayati setiap muslim. Berikut penjelasan
singkatnya :
a. Iman kepada Allah. Beriman kepada Allah maksudnya adalah meyakini dalam hati
dengan sesungguhnya tanpa keraguan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan
Maha Kuasa, tidak beranak dan tidak diperanakkandan, serta tidak ada satupun yang
menyerupai-Nya. Allah Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam dzat-Nya, Esa dalam sifat-
sifat-Nya, dan Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Ajaran Keesaaan Allah disebut
dengan Tauhid. Selanjutnya Keesaan Allah dijabarkan dalam Tauhid Uluhiyyah, Tauhid
Rububiyah, dan Tauhid Asma wa Sifat.
b. Iman kepada Malaikat. Beriman kepada malaikat artinya meyakini bahwa Allah
menciptakan malaikat, yaitu mahluk ghaib yang diciptakan dari cahaya, senantiasa patuh
dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan Allah. Malaikat merupakan hamba yang
mulia dan terpelihara dari berbuat kesalahan. Para malaikat diberi berbagai tugas oleh
Allah, diantaranya menyampaikan wahyu, mencatat amal baik dan buruk, menyampaikan
rizki, memberikan dorongan/spirit untuk berbuat kebajikan pada manusia dan sebagainya.
c. Iman kepada Kitab. Beriman kepada Kitab-kitab Allah artinya meyakini bahwa Allah
menurunkan wahyunya kepada para Nabi dan Rasul yang tertulis dalam kitab-kitab-Nya.
Kitab-kitab Allah berisi berbagai informasi, aturan dan hukum-hukum Allah bagi
manusia. Kitab suci yang disebutkan dalam Al-Quran ada empat, yaitu: (1) Kitab Taurat,
yang diturunkan kepada Nabi Musa as, (2) Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi
Daud as., (3) Kitab Injil, yang diturunkan ada Nabi Isa as, dan (4) Kitab Al-Qur'an, yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-
Quran, ada yang telah hilang atau sebagian mengalami perubahan, karena perkembangan
waktu dan intervensi pikiran manusia. Al-Quran datang meluruskan berbagai
penyimpngan, kesalahan dan menghapus keberlakuan kitab-kitab sebelumnya. Oleh
karena itu kitab-kitab terdahulu sudah berakhir masa berlakunya sejak Al-Quran
diturunkan.
d. Iman kepada para Rasul. Beriman kepada Rasul maksudnya adalah meyakini bahwa
Allah memilih hamba-Nya yang dijadikan Rasul. Hamba terpilih ini menjadi pembimbing
bagi umat manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah. Rasul menerangkan segala
sesuatu yang datang dari Allah. Manusia juga memerlukan contoh perilaku yang dapat
mereka teladani dalam kehidupan nyata. Salah satu bukti tentang kerasulan mereka,
Allah membekali para utusan-Nya dengan mukjizat. Mukjizat dapat diartikan dengan
suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung
kebenaran kenabian seorang nabi atau rasul, sekaligus melemahkan lawan-lawan/musuh-
musuh yang meragukan kebenarannya. Menurut Imam Ahmad Ibnu Hambal, Nabi
seluruhnya berjumlah 124 ribu, sedangkan Rasul berjumlah 313 orang, (dalam riwayat
42
lain 315 orang). (Zaki Mubarak : 45). Adapun Rasul yang disebutkan dalam Al-Quran
berjumlah 25 orang, dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw. Iman kepada
Rasul juga mengharuskan kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para
Nabi, tidak ada Nabi sesudahnya.
e. Iman kepada Hari Akhir. Beriman kepada Hari Akhir adalah meyakini akan kedatangan
Hari Akhirat. Iman kepada hari akhir meyakini adanya kehidupan yang kekal abadi
setelah hancurnya alam semesta ini. Manusia akan mendapat balasan yang seadil-adilnya
atas amal perbuatan yang dilakukan sewaktu hidup di dunia. Tentang kapan datangnya
kiamat yang mengakhiri kehidupan dunia dan mengawali kehidupan akhirat, tidak ada
orang yang dapat memastikannya termasuk Nabi dan Rasul kecuali Allah.
f. Iman kepada Qadha dan Qadar Allah. Beriman kepada Qadha dan Qadar Allah
maksudnya meyakini bahwa Allah menetapkan ketentuan atau takdir-Nya terhadap segala
sesuatu, yang baik maupun buruk. Qadha pengertiannya menurut bahasa adalah
ketetapan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Segala sesuatu yang ada di alam nyata
maupun ghaib terwujud menurut qadha dan qadar Allah. Semua kejadian dan peristiwa
telah direncanakan dan dalam ketetapan ilmu Allah. Semua makhluk tidak dapat
melampaui batas ketetapan tersebut dan Allah menuntun mereka ke arah yang seharusnya
mereka tuju. Dalam iman kepada Qadha' dan Qadar Allah ini, hendaknya manusia tetap
husnudzan atau berbaik sangka terhadap ketentuan Allah. Apapun yang menimpa
manusia pasti ada hikmah yang terkandung di balik peristiwa tersebut.

1.1.3. Kedudukan Akidah atau Iman Islam

Dalam ajaran Islam, akidah memiliki kedudukan yang sangat penting, ibarat suatu
bangunan, akidah adalah pondasinya. Sedangkan ajaran Islam yang lain, seperti Syariah dan
Akhlak merupakan sesuatu yang dibangun di atasnya. Rumah yang dibangun tanpa pondasi
adalah bangunan yang sangat rapuh. Tidak perlu ada gempa atau badai yang menerpanya,
bahkan sekedar menahan beban atap saja, bangunan tersebut akan runtuh dan hancur
berantakan. Akidah dapat pula diibaratkan akar dalam sebuah pohon. Perumpamaan yang
sangat menarik dalam Al-Quran bahwa seorang mukmin itu laksana "Kalimatan thoyyibah"
(kalimat yang baik), dan laksana pohon yang baik (syajaratun thoyyibah). (QS.14:24-25).
Kalimat yang baik itu adalah laa ilaha illa Allah (syahadat). Dalam Tafsir Jaamiul Bayan,
Ibnu Jarir Ath Thabari juga menjelaskan kalimatan thoyyibah adalah persaksian tiada Tuhan
selain Allah, dan syajarotun toyyibah adalah seorang mukmin, ashluha tsabitun artinya laa
ilaha illa Allah yang tertanam di dalam hati seorang mukmin, wa faruha fis-samaai yakni
amal perbuatannya akan menjulang ke langit.
Jika kita renungkan ayat di atas, indikator pohon yang baik atau berkualitas ada tiga
hal:
a. Ashluha tsabitun (akarnya menghujam ke perut bumi). Akar yang kuat menjadi dasar dan
tumpuan tumbuhnya pohon yang besar. Di sinilah pentingnya peran sang penanam yang
ikhlas dan sungguh-sungguh, berkorban tanaga, pikiran dan membutuhkan waktu yang
cukup lama. Semakin dalam akarnya, maka semakin kuat pula pohon itu, tidak mudah
tumbang walau dihantam badai. Akar ibarat akidah tauhid (iman) yang tertanam di dalam
lubuk hati sanubari seorang mukmin. Jika akidahnya kuat, maka ia mampu menghadapi
cobaan dan godaan hidup seberat apapun. Akidah tauhid harus ditanamkan oleh orang tua
dan guru kepada anak sejak dini. Peran keduanya sebagai pendidik sangat penting agar
akar akidah anak menghujam ke lubuk hati sanubari. (QS.31:13).
b. Faruha fis-samai (dahannya menjulang ke langit). Pohon yang sudah berurat berakar,
akan menumbuhkan batang yang besar, dahan dan ranting yang banyak serta berdaun
lebat. Ia akan membagikan oksigen yang bersih dan kesejukan bagi manusia, hijau dan
43
menyejukkan. Inilah ibarat seorang mukmin yang taat dalam menjalankan syariah Islam,
baik dalam ibadah ritual maupun sosial (muamalah).
c. Tutii ukulaha kulla hiin (berbuah setiap waktu). Pohon yang baik tidak hanya berakar
kuat dan berdahan besar, tapi juga berbuah banyak dan enak. Bukan hanya pada
musimnya, tapi di setiap musim tiada henti. Pohon berbuah menguntungkan pemiliknya
dan orang lain. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi pula harganya.
Inilah perumpamaan mukmin yang taat pada syariah dan berakhlak karimah. Akidah dan
syariah yang kuat dan benar mestilah berbuah akhlak mulia (karakter Islami). Sebaik-baik
Keislaman seseorang adalah yang terbaik akhlaknya. (HR. At-Turmudzi).

Dalam Islam, akidah yang benar merupakan pokok tegaknya agama dan kunci
diterimanya amal perbuatan manusia. Akidah Islam yang bersendikan Tauhid atau
mengesakan Allah, menegaskan bahwa Tauhid tidak boleh tercampur dengan syirik. Banyak
ayat Al-Quran menunjukkan bahwa amal perbuatan manusia tidak akan diterima apabila
tercampur dengan syirik. (QS. 19: 110.) Oleh sebab itu para Rasul yang diutus oleh Allah ke
muka bumi ini sangat memperhatikan tegaknya akidah. Prioritas dakwah mereka adalah
Akidah.

1.2. Implementasi Akidah atau Iman Islam Dalam Kehidupan.


1.2.1. Pengaruh Akidah atau Iman Islam Dalam Kehidupan

Dalam Islam, antara iman dan amal shaleh terdapat hubungan yang terintegtasi. Iman
berorientasi pada rukun iman yang enam, sedangkan amal shaleh berorientasi pada rukun
Islam yang lima, yaitu tentang ibadah dan pengamalannya, dan muamalah dengan sesama
manusia. Meskipun hal yang paling menentukan adalah akidah/iman, tetapi tanpa integrasi
amal dalam perilaku seorang muslim, maka keislaman seorang menjadi tidak utuh. Sebab
eksistensi perilaku luar seorang muslim cermin batinnya. Amal merupakan wujud keimanan
seseorang. Orang yang beriman kepada Allah harus menampakkan imannya dalam amal.
Iman dan amal ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam Al-Quran banyak sekali dijelaskan sifat atau tanda orang beriman. Implementasi
iman seseorang dapat terlihat pada sifat yang melekat pada tingkah lakunya. Orang yang
menerapkan iman maka akan muncul darinya amal dan ketinggian akhlak dalam kehidupan
sehari-hari. Sifat orang beriman dipaparkan dalam berbagai surat Al-Quran, diantaranya; QS.
3 (Ali Imron) : 120; QS. 5 (Al Maidah) : 12; QS. 8 (Al Anfal) : 2;, QS. 9 ( At Taubah) : 52;
QS. 23 (Al Mukminun) : 2-11; dll. Sebagai contoh disebutkan sifat/tanda orang beriman
dalam QS.23 (Al Mukminun) : 2-11, antara lain : (1) Khusyu' dalam menjalankan shalat, (2)
Menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna, (3) Menunaikan zakat, (4) Menjaga
amanah dan janji, (5) Menjaga shalat.
Seorang hamba yang beriman pada Allah akan taat menjalankan amal ibadah,
menyembah hanya kepada Alllah semata, tidak mensekutukan-Nya dengan apapun. Apabila
menghadapi tantangan, hambatan, dan masalah, maka ia akan bertawakkal dengan berserah
diri kepada-Nya. Ia meyakini bahwa segala sesuatu di dunia terjadi dengan kehendak Allah.
Di samping itu, ketika manusia beriman dengan malaikat-Nya, maka ia wujudkan dalam
kehidupan ini untuk selalu menjalankan kebaikan, sebagaimana juga malaikat berbuat baik
menjalankan perintah Allah. Ia percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan diawasi
oleh Allah melalui malaikat-Nya. Ia akan selalu berhati-hati berbuat sesuatu karena semua
akan dipertanggungjawabkan.
Implementasi iman kepada kitab suci, dapat diwujudkan dengan memiliki kepercayaan
diri yang kuat akan kebenaran aturan Allah dalam kitab suci-Nya. Maka ia akan menata

44
hidupnya menyesuaikan dengan rencana Allah, sehingga hidupnya memiliki harapan masa
depan yang jelas dan pasti.
Iman kepada Rasul dapat diwujudkan dengan meneladani perilaku para Rasul dalam
kehidupan. Setiap Rasul merupakan suri tauladan hidup bagi umatnya, baik itu ibadah
maupun muamalah, tingkah laku maupun tutur katanya. Iman kepada para rasul dapat
direalisasikan dengan berusaha selau berlaku jujur (shidiq), bertanggungjawab mengemban
amanah, menyampaikan nasehat/misi kebenaran (tabligh), berlaku cerdas dan bijaksana
(fathonah). Sejarah hidup para Rasul merupakan inspirasi bagi umat beriman untk menjalani
hidup dengan benar, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan.
Iman kepada Hari Akhir akan berdampak pada perilaku sehari-hari. Keimanan ini
melahirkan keyakinan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, semua akan dihitung.
Setiap detik diupayakan memiliki makna yang baik yang akan berbuah pahala di akhirat.
Diantara perilaku yang dapat mencerminkan iman kepada hari akhir adalah taat dan patuh
beribadah, menjauhi kemaksiatan, suka bersedekah, suka membantu orang lain, tidak silau
pada gemerlap dunia, bersyukur, bersikap jujur dan adil, selalu berusaha menjadi lebih baik,
bersikap rendah hati, optimis dan lapang dada.
Iman kepada hari Qadha dan Qadar menumbuhkan kesadaran bahwa segala yang ada
dan terjadi di alam semesta ini merupakan kehendak dan kuasa Allah. Maka sebagai orang
yang beriman tidak boleh meratapi takdir, mencela bagian/nasib yang diberikan Allah. Allah
memberikan yang terbaik sesuai dengan sifat Kasih dan Sayang-Nya. Iman kepada Qadha dan
Qadar melahirkan sikap optimis, tidak mudah putus asa dan kecewa. Orang beriman bila
mendapat keberuntungan, ia bersyukur dan merasa bahwa semua karunia Allah, sehingga ia
ingin berbagi dengan orang lain. Ketika ia mendapat kemalangan atau musibah ia hadapi
dengan sabar dan tabah. Sikap positif ini akan dapat pahala yang luar biasa dari Allah.

1.2.2. Tantangan Akidah atau Iman Islam Dalam Kehidupan Modern

Kehidupan masyarakat modern identik dengan kecenderungan mendewakan ilmu


pengetahuan dan teknologi, mengutamakan kehidupan dunia dan mengesampingkan agama.
Mereka beranggapan bahwa hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat meningkatkan
taraf kehidupan. Padahal tidak selamanya seperti yang diharapkan karena kemajuan di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pada masyarakat modern akan
memberikan dua dampak bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan dampak positif
dan, pada sisi lain, juga dapat menimbulkan dampak negatif.
Selain problematika dalam aspek pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dalam masyarakat modern mengalami berbagai problem dalam aspek lainnya, seperti dalam
aspek politik, aspek sosial, aspek spiritual, dan aspek etika. Dalam aspek politik, banyak
terjadi perebutan kekuasaan, politik menghalalkan segala cara dan politik mampu menjadikan
manusia lupa akan kehidupan akhirat. Selain itu aspek sosial, terkait dengan masyarakat
majemuk. Dengan multi ras, suku dan agama yang hidup di tengah masyarakat maka
berpotensi menimbulkan gesekan dan konflik. Sikap fanatisme dan intoleransi menimbulkan
perpecahan antar elemen masyarakat. Padahal, pluralitas dalam masyarakat modern adalah
sesuatu yang wajar, yang sudah menjadi sunnatullah. Dalam aspek spiritual, masyarakat
modern senantiasa terbuai dalam situasi keglamoran, hedonis, meninggalkan pemahamn
agama, hidup dalam sikap sekuler yang menghapus visi keilahian. Hilangnya visi keilahian
tersebut mengakibatkan kehampaan spiritual dan mengakibatkan manusia jauh dengan Sang
Maha Pencipta, meninggalkan ajaran-ajaran yang dimuat dalam dogma agama. Akibat dari
itu, dalam kehidupan masyarakat modern sering dijumpai banyak orang yang merasa gelisah,
tidak percaya diri, stres dan tidak memiliki pegangan hidup. Kegelisahan hidup mereka sering
disebabkan karena takut kehilangan apa yang dimiliki. Rasa khawatir terhadap masa depan
45
yang tidak dapat dicapai sesuai dengan harapan, persaingan yang tinggi dalam memenuhi
kebutuhan hidup, dan akibat banyak pelanggaran dosa yang dilakukan.
Dalam aspek etika, masyarakat moderen mengalami krisis moral yang berkepanjangan.
Masyarakat modern seringkali menampilkan sifat-sifat yang kurang dan tidak terpuji dan
menyimpang dari norma-norma yang berlaku, baik norma agama, adat istiadat, susila, dan
hukum. Bentuk penyimpangan moral tersebut seperti, menurunnya kualitas moral bangsa
yang dicirikan dengan membudayanya praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme),
meningkatnya kriminalitas diberbagai kalangan, serta menurunnya etos kerja di berbagai
instansi-instansi pemerintahan, merosotnya nilai-nilai keadilan, spiritual, kemanusiaan dll.
Dengan banyaknya problematika di atas, masyarakat modern dituntut untuk tetap eksis dalam
kehidupan sehari-hari. Disinilah tantangan iman agar dapat berperan dalam kehidupan
manusia modern untuk mengatasi kehampaan spiritual. Terhadap semua krisis yang dialami
manusia sekarang ini, maka akidah Islam dapat menjadi penawar atas berbagai problema.
Islam adalah agama yang rohmatan lilalamin.

2. Syariah Islam
2.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Syariah Islam

2.1.1. Pengertian Syariah Islam.

Syariah menurut bahasa berarti jalan. Dahulu orang Arab mempergunakan kata itu
untuk menyebut jalan setapak menuju ke sumber mata air. Dalam hal ini syariah dapat berarti
jalan yang harus dilalui oleh setiap muslim. Secara terminologi syariah berarti sistem norma
yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan
hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Syariah merupakan aspek norma, aturan atau
hukum dalam ajaran Islam. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari aqidah Islam.
Menjalankan syariah merupakan bukti dan wujud keimanan dalam Islam. Akidah takkan
sempurna tanpa syariah. Melaksanakan syariahpun akan dinilai sia-sia apabila tanpa
berakidah terlebih dahulu. Syariah adalah norma hukum dasar, yang wajib diikuti setiap
muslim yang diwahyukan Allah. Norma hukum dasar ini dijelaskan dan dirinci oleh Nabi
Muhammad saw melalui Sunnahnya. Oleh karena itu syariah terdapat dalam Al-Quran dan
Sunnah Rasulullah..
Ilmu yang membahas syariah, dinamakan Ilmu Fikih. Jadi Ilmu Fikih adalah ilmu yang
membahas hukum Islam yang berhubungan dengan perbuatan para orang mukallaf.
Pemahaman hukum syariah dituangkan dalam kitab-kitab fikih dan disebut dengan hukum
fikih.
Syariah Islam diturunkan Allah kepada manusia sebagai pedoman yang memberikan
bimbingan dan pengarahan agar manusia dapat menjalani hidup di dunia ini dengan benar
sesuai kehendak Allah. Syariah merupakan aturan yang ditetapkan Allah yang berisi peritah
yang harus ditaati dan larangan yang mesti dijauhi. Manusia dapat bebas berperan sebagai
khalifah Allah di muka bumi sesuai panduan syariah yang menjamin kesejahteraan lahir dan
batin dan menghindarkan diri dari kesesatan. Syariah menunjukkan jalan menuju tercapainya
kebahagiaan yang abadi, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian syariah
berperan memberikan petunjuk tentang hakikat hidup manusia.

2.1.2. Ruang Lingkup Syariah Islam

Syariah Islam mencakup semua aspek kehidupan manusia baik sebagai individu
maupun sebagai anggota masyarakat, dalam hubungan dengan diri sendiri, manusia lain, alam
lingkungan maupun hubungan dengan Tuhan. Secara umum syariah terbagi menjadi dua
46
bagian, yaitu ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus sering disebut dengan istilah
ibadah saja atau ibadah), sedangkan ibadah umum sering diungkapkan dengan istilah
muamalah atau ibadah ghairu mahdhah. Bidang ibadah melingkupi berbagai ritual yang wajib
dilakukan seorang muslim dalam berhubungan dengan Allah, seperti Shalat, Puasa, Zakat dan
Haji. Adapun muamalah dalam pengertian yang luas mencakup ketetapan Allah yang
langsung berhubungan dengan kehidupan sosial manusia, seperti ekonomi, pernikahan,
hutang piutang, kesehatan, politik dan sebagainya.
Tata-cara ibadah khusus lazimnya diuraikan secara terperinci dan dicontohkan langsung
oleh Rasulullah saw. Oleh karenanya umat Islam harus mengikuti ketentuan yang
diperintahkan Allah dan diajarkan Rasullullah saw. Ibadah bersifat tertutup, tidak seorangpun
boleh menambah aturan atau tatacara yang baku tersebut. Pelanggaran terhadap tatacara,
syarat-rukun dalam ibadah ini menjadikan ibadah tersebut tidak sah alias batal. Akan tetapi
muamalah biasanya hanya dijabarkan pokok-pokoknya saja. Karena itu sifatnya terbuka untuk
dikembangkan melalui ijtihad.
Dalam ibadah khusus, para ulama menetapkan kaidah yaitu Semua tidak boleh
dilaksankan, kecuali yang diperintahkan Allah atau diconttohkan Rasul-Nya". Melakukan hal
baru (bidah) dalam ibadah menjadikan praktik ibadah itu ditolak. Adapun dalam bidang
muamalah, maka berlaku kaidah Semua boleh dilakukan, kecuali yang dilarang Allah dan
Rasul-Nya". Ruang lingkup muamalah sangat luas. Jenis dan macamnya tidak ditentukan
dalam Al-Quran maupun Sunnah. Suatu perbuatan dapat dikategorikan dalam ibadah yang
bersifat umum apabila perbuatan tersebut bukan termasuk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya
dan dilakukan dengan niat karena Allah.
Ibadah khusus, keberadaanya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Al-
Quran maupun dari Sunnah. Tatacaranya juga harus mengacu pada contoh dari Nabi
Muhammad saw. Shalat, mislanya, maka gerakan, doa dan tatacaranya harus mengikuti apa
yang dipraktikkan Rasulullah saw. Sebagaimana dalam sebuah sabdanya, beliau menyatakan :
"Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat". Asas ibadah adalah ketataan. Sebagai
hamba kita wajib meyakini bahwa apa yang diperintahklan Allah swt semata-mata untuk
kebaikan manusia itu sendiri, bukan untuk kebaikan Allah.
Adapun prinsip muamalah adalah menjaga hubungan dengan sesama manusia berjalan
dengan harmonis, adil, saling meridloi antar pihak yang terlibat, mendatangkan kemaslahatan,
menghindari kemudaratan, tidak merugikan dan tidak dirugikan serta selaras dengan aturan
yang ditetapkan Allah. Oleh karenanya, muamalah dalam ajaran Islam bersifat fleksibel dan
luas. Semua aktivitas muamalah boleh selama tidak ada larangan. Kaidah perumusan fikihnya
mungkin saja mengikuti perkembngan zaman. Boleh saja tatacaranya mengalami modernisasi
dengan syarat tidak melanggar aturan umum yang ditetapkan syariah Islam.

2.1.3. Perbedaan Syariah Islam Dengan Fikih Islam

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan merupakan bagian dari ajaran Islam.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan hukum Islam tersebut. Pertama Syariah; dan kedua
adalah Fikih. Syariah merupakan hukum Islam yang ditetapkan langsung dan tegas oleh
Allah. Materi hukum yang terdapat dalam syariah seringkali menyangkut hal- hal yang pokok
dan utama. Hukum ini dapat dan perlu dikembangkan dengan ijtihad. Hasil pengembangannya
inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Fikih.
Dalam praktiknya dalam kehidupan sehari-hari, kedua istilah itu (Syariah dan Fikih)
dirangkum dalam istilah Hukum Islam. Hal ini dapat dimengerti karena keduanya sangat erat
hubungannya, dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Syariah merupakan landasan
fikih dan fikih merupakan pemahaman orang (yang memenuhi syarat) tentang syariah

47
tersebut. Oleh karena itu seseorang yang akan memahami hukum Islam dengan baik dan
benar harus dapat membedakan antara syariah Islam dengan Fikih Islam.
Hukum Islam kategori syariah bersifat konstan, tetap, berlaku sepanjang zaman. Ia tidak
mengenal perubahan dan tidak boleh disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Situasi dan
kondisilah yang menyesuaikan dengan syariah. Sedang hukum Islam kategori Fikih bersifat
fleksibel, elastis, relatif, mengenal perubahan, dan dapat disesuaikan dengan situasi dan
kondisi.
Di dalam kepustakaan hukum Islam berbahasa Inggris, syariah Islam disebut Islamic
Law, sedangkan Fikih Islam diistilahkan dengan Islamic Jurisprudence. Secara sederhana
syariah merupakan ketentuan hukum yang disebut langsung oleh Allah melalui firman-Nya
dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw dalam kitab-kitab Hadits. Sedang Fikih
adalah rumusanrumusan hukum yang dihasilkan oleh ijtihad para ahli hukum Islam. Oleh
karena Fikih adalah hukum yang dikembangkan dari pemahaman manusia, maka produk fikih
sangat mungkin berbeda-beda.
Hukum Fikih, sebagai hukum yang diterapkan pada kasus tertentu secara kongkrit,
mungkin berubah dari masa ke masa dan mungkin pula berbeda dari satu tempat ke tempat
lain. Ada satu kaidah Fikih yang menyatakan bahwa perubahan tempat dan waktu
menyebabkan perubahan hukum (fikih). Jadi hukum Fikih cenderung relatif, bersifat dhanni
(dugaan kuat) , tidak absolut (qathi) sebagaimana hukum syariah yang menjadi norma dasar
hukum fikih. Karena hukum Fikih harus berlandaskan hukum syariah, maka hukum fikih
tidak boleh bertentangan dengan hukum syariah, apalagi kalau ketentuan syariah itu jelas
bunyinya (qathi), tidak mungkin diartikan lain dari makna yang dikandungnya. Contoh:
Ketentuan syariah Islam tentang wanita dan pria sama-sama menjadi ahli waris almarhum
orangtuanya. Hukum fikih tidak boleh menyatakan suatu ketentuan, misalnya, wanita tidak
berhak menjadi ahli waris seperti keadaan masyarakat Arab sebelum Islam.
Pada pokok perbedaan antara syariah dan Fikih adalah sebagai berikut :
1. Syariah terdapat dalam Al-Quran dan Hadits, dan Fikih terdapat dalam kitab-kitab Fiqih.
2. Syariah bersifat fundamental, ruang lingkupnya lebih luas dari Fikih, sedang Fikih
bersifat instrumental.
3. Syariah berlaku abadi sebagai suatu ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sedang Fikih
merupakan karya manusia, sifatnya berubah dari masa ke masa.
4. Syariah hanya satu, sedang Fikih amat mungkin lebih dari satu. Hal ini dapat kita lihat
pada aliran-aliran fikih yang disebut mazahib atau kelompok-kelompok.
5. Syariah menujukkan kesatuan dalam Islam, sedang fikih menunjukkan keragamannya.
(M. Daud Ali, 1999)
Sebagaimana diuraikan di atas, Fikih senantiasa berubah. Karena sifatnya yang berubah-
ubah Fikih biasanya disandarkan kepada ulama mujtahid yang memformulasikannya. Seperti
Fiqh Hanafi, Fikih Syafii, Fikih Maliki, Fikih Hambali dan sebagainya, sedangkan syariah
senantiasa disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

2.2. Implementasi Syariah Islam Dalam Kehidupan.


2.2.1. Implementasi Ibadah Mahdhah Dalam Kehidupan.

Dalam ajaran Islam, syariah dengan dua bagiannya ibadah dan muamalah merupakan
aspek operasional dalam beragama. Ruang lingkup ibadah berkisar sekitar bersuci dan rukun
Islam (minus syahadat). Jadi pembahasan ibadah khusus meliputi Thaharah, Shalat, Zakat,
Puasa dan Haji. Syahadat merupakan kajian akidah karena menyangkut pernyataan keyakinan
kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Namun syahadat merupakan hal yang amat
penting karena ketiadaannya menjadikan seluruh ibadah tidak berguna dan sia-sia dihadapan
Allah swt. Begitu pula, keislaman seseorang tidaklah cukup hanya dalam ucapan syahadat
48
saja, namun harus diwujudkan dengan melaksanakan ritual ibadah dan interaksi sosial yang
sesuai ajaran Islam.
Setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat seorang muslim diwajibkan melaksanakan
shalat lima waktu sehari semalam, yang didahului dengan thaharah (bersuci). Thaharah secara
garis besar terdiri dari beberapa bagian, yaitu bersuci dari najis dan bersuci dari hadas.
Bersuci dari hadas terdiri dari dua bagian, yaitu hadas besar yang dapat dihilangkan dengan
mandi dan hadas kecil, cara bersucinya dengan berwudhu. Zakat adalah memberikan sebagian
harta yang telah ditetapkan bagi orang-orang yang mampu dan diberikan kepada mereka yang
berhak menerimanya, yang disebut mustahik. Mustahik terdiri dari delapan golongan, yaitu
fakir, miskin, ibnu sabil, gharim, 'amil, muallaf, budak yang ingin memerdekakan dirinya dan
sabilillah.
Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam. Puasa dilakukan dengan
meninggalkan makan, minum, bercampur dengan istri/suami dan segala yang
membatalkannya dari fajar di waktu subuh sampai terbenam matahari di waktu maghrib.
Melaksanakan ibadah haji, diwajibkan seumur hidup sekali bagi setiap orang muslim yang
memiliki kemampuan, baik biaya maupun keamanan perjalanan. Berhaji artinya mengunjungi
Baitullah di Makkah dan tempat-tempat lain yang disyariatkan dalam rangka ibadah mencari
keridhaan Allah swt.
Seorang muslim yang menerapkan ibadah dengan benar, maka ia akan memiliki pribadi
yang tangguh berakhlak mulia. Ibadah dalam Islam adalah sarana penerapan nilai-nilai utama
dalam kehidupan. Ritual Ibadah bukan hanya kumpulan doa tanpa makna atau gerakan tanpa
tujuan. Berbagai ritual ibadah diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul banyak
bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah shalat. Shalat adalah salah satu
ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah. Perintah shalat disebutkan dalam banyak ayat
Al-Quran. Begitu pentingnya shalat sehingga kelak shalat adalah ibadah pertama yang
diperiksa dalam perhitungan amal di akhirat dan menjadi tolok ukur seluruh amal ibadah
lainnya. Dalam QS.29 (Al-Ankabut) :45 Allah berfirman yang artinya:

Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan
mungkar,(QS.29: 45).

Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah shalat adalah terbentuknya
pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar. Pada hakikatnya adalah terbentuknya
manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual shalat selalu dimulai dengan
berbagai persyaratan tertentu, seperti harus suci badan, pakaian dan tempat, dengan cara
mandi dan berwudhu. Intinya shalat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu
bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.
Ibadah puasa dilakukan untuk meninggikan kualitas manusia yang di dalam bahasa Al-
Quran dipergunakan sebutan takwa. Berdasarkan hal ini, maka puasa sangat berhubungan
erat dengan pembentukan mental dan karakter manusia. Ritual puasa bertujuan membentuk
akhlak mulia. Bila sedang berpuasa, kita dilarang mencaci, bergunjing, berbohong, berbuat
maksiat, berkata kotor. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Jika salah seorang di antaramu melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor,
menipu, jika seseorang mencelamu atau hendak membunuhmu, maka katakanlah
sesungguhnya saya sedang puasa, (HR. Muslim).

Ternyata ritual puasa disiapkan untuk mendidik dan membentuk kita agar berperilaku terpuji,
sebuah kepribadian yang mencerminkan sebagai muslim yang berakhlak mulia.

49
Zakat mempunyai dampak sosial yang dahsyat dalam rangka mengatasi persoalan
ekonomi dan kesejahteraan umat. Zakat menumbuhkan sifat solidaritas, kepedulian sesama
manusia. Bagi orang yang menunaikan zakat atau muzakki, zakat membersihkan jiwa dari
sifat kikir, egois dan tamak. Zakat merupakan wujud kesyukuran muslim terhadap karunia
harta yang diberikan Allah kepadanya.
Adapun ibadah haji sebagai ritual dalam Islam mempunyai peran penting dalam
pembentukan akhlak mulia. Hal ini dapat kita ketahui dari berbagai larangan selama
pelaksanaan haji berlangsung, seperti larangan membunuh binatang, berkata kotor, berbuat
keji, fasik, bertengkar, bergunjing, saling berbantahan, mencuri dan berbagai tindakan maksiat
lainnya. Demikian juga hikmah ritual haji di antaranya adalah saling pengertian, rasa
tanggung jawab, persamaan hak, saling menghargai, berfikir universal, persaudaraan universal
dan bersabar dalam berbagai situasi. Dalam QS. 2 (Al-Baqarah): 197 Allah berfirman yang
artinya:

Haji adalah bulan yang dimaklumi, siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan
mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantahan di dalam masa
mengerjakan haji, (QS. 2 : 197).

Dalam haji kita dididik untuk meninggalkan perbuatan asusila, maksiat, dan berbagai
tindakan amoral lainnya. Ini semua merupakan bukti bahwa ibadah haji dipersiapkan untuk
membentuk manusia berakhlak mulia. Bila dalam ibadah haji berperilaku tercela maka ibadah
haji secara spiritual akan sia-sia. Haji seperti itu tidak bernilai spiritual di sisi Allah, hanya
menjadi sebuah wisata untuk menghilangkan kejenuhan sehari-hari tanpa memberi arti.

2.2.2. Implementasi Muamalah Dalam Kehidupan Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa interaksi dengan
manusia lainnya. Untuk itu, Allah telah menetapkan berbagai aturan norma yang menjamin
keharmonisan, keadilan dan kesejahteraan hidup manusia di muka bumi ini. Aturanaturan
yang berkaiitan dengan kehidupan antar sesama manusia ini dalam ajaran Islam dihimpun
dalam ajaran muamalah. Mengacu kepada pembagian hukum menurut isinya seperti yang
dipelajari dalam ilmu hukum, maka muamalah dapat dibagi dalam dua bagian besar, yakni (1)
Hukum perdata atau privat, seperti munakahat (perkawinan), wirasah (kewarisan), wasiat, dll.
(2), Hukum Publik misalnya hukum a) jinayah (pidana), b). maliyah/iqtishad (ekonomi), c)
siyasah atau al-ahkam al-sulthaniyah (politik dan ketatanegaraan, d) siyar (hukum
internasional), dll.

a. Implementasi Muamalah di Bidang Ekonomi

Muamalah di bidang ekonomi yang dimaksud disini adalah aturan hukum Islam tentang
usaha-usaha memperoleh dan mengembangkan harta, jual beli, hutang piutang, jasa penitipan
dsb. Ekonomi Islam berwatak ke-Tuhanan. Hal ini tercermin pada aturan dan sistem yang
harus dipedomani oleh pelaku ekonomi. Ciri tersebut bermula dari suatu keyakinan bahwa
kepunyaan Allahlah semua faktor ekonomi termasuk diri manusia itu sendiri. Kepada-Nya
dikembalikan segala sesuatu. Manusia dapat mengumpulkan nafkah sebanyak mungkin
namun tetap dalam batas koridor aturan main Allah swt. (Q.S; Al-Radu 26, QS. Al-Syuura:
12). Ekonomi Islam mempunyai nilai-nilai normatif yang mengikat. Setiap tindakan seorang
muslim tidak boleh lepas dari nilai. Jadi dalam mengimplentasikan muamalah di bidang
ekonomi nilai-nilai moral merupakan syarat nilai (value loaded), bukan sekedar nilai tambah
(added value), apalagi bebas nilai (value neutral). Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ekonomi
50
Islam mepunyai empat ciri kahs atau karakteristik. Empat karakteristik tersebut adalah :
Rabbaniyyah (ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan, dan Pertengahan.

a). Ekonomi Rabbaniyyah, yaitu ekonomi Islam sebagai ekonomi Ilahiah. Seorang muslim
ketika menanam, bekerja, ataupun berdagang dan lain-lain adalah dalam rangka
beribadah kepada Allah. Ketika mengkonsumsi dan menikmati berbagai harta yang baik
menyadari itu sebagai rezki dari Allah. Seorang muslim tunduk kepada aturan Allah,
tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram, tidak akan melakukan yang riba, tidak
melakukan penimbunan, tidak akan berlaku zalim, tidak akan menipu, tidak akan berjudi,
tidak akan mencuri, tidak akan menyuap dan tidak akan menerima suap. Seorang muslim
tidak akan melakukan pemborosan, dan tidak kikir.
b). Ekonomi Akhlak, artinya tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak.
Islam tidak mengizinkan umatnya untuk mendahulukan kepentingan ekonomi di atas
nilai-nilai dan keutamaan yang diajarkan agama.
c). Ekonomi Kemanusiaan, yaitu kegiatan ekonomi yang tujuan utamanya adalah
merealisasikan kehidupan yang baik bagi umat manusia dengan segala unsur dan
pilarnya. Selain itu bertujuan untuk memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan
hidupnya yang disyariatkan. Nilai kemanusaian terhimpun dalam ekonomi Islam seperti
nilai kemerdekaan, kemuliaan, keadilan, persaudaraan, saling mencintai dan saling tolong
menolong di antara sesama manusia.
d). Ekonomi Pertengahan, yaitu nilai pertengahan atau nilai keseimbangan. Pertengahan yang
adil diantara dua sistem, sistem kapitalis yang sangat individualistis, berpihak pada
kelompok pemilik modal dan sistem sosialis yang memasung kebebasan individu dan
memandang kepentingan negara di atas segala sesuatu.

Secara umum beberapa nilai prinsipil dalam ekonomi Islam adalah : a) Alam ini mutlak
milik Allah; b).Alam merupakan karunia Allah untuk dinikmati dan dimanfaatkan secara
bijak oleh manusia dalam bata-batas kewajaran; c) Hak milik perseorangan diakui sebagai
hasil usaha yang halal dan dipergunakan dengan cara halal untuk hal yang halal pula; d) Allah
melarang menimbun kekayaan tanpa ada manfaat bagi sesama manusia; e) Di dalam harta
orang kaya itu terdapat hak orang fakir miskin dan kelompok penerima lainnya dengan
menunaikan zakat; f) Kegiatan ekonomi berjalan atas asas kebersamaan dan keadilan, tidak
merugikan pihak lain maupun dirugikan .

b. Implementasi Muamalah di Bidang Sosial (Pergaulan Antar Manusia)

Salah satu fungsi hukum Islam adalah sarana untuk mengatur sebaik mungkin proses
interaksi sosial sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera.
Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari aturannya mengenai kehidupan sosial, hubungan antar
manusia dalam masyarakat. Al-Quran demikian rinci menyampaikan hal-hal tersebut.
Sebagai contoh, Al-Quran menyebutkan bagaimana aturan hubungan antara laki-laki dan
perempuan, larangan memperolok-olok orang lain, larangan mengejek orang lain, dan
perintah untuk tidak sombong. Islam juga membahas mengenai karakteristik masyarakat
Islam yang di dalamnya diatur nilai-nilai Islam.
Pergaulan merupakan suatu fitrah bagi manusia karena sesungguhnya manusia
merupakan makhluk sosial. Karena ruang lingkup kehidupan sosial sangat luas, dalam kajian
ini hanya mengulas tentang norma/aturan pergaulan antar manusia. Berikut dijelaskan dalam
syariah Islam terkait dengan hubungan/pergaualan antar sesama manusia:

a) Pergaulan Antar Lawan Jenis


51
Pada prinsipnya pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam Islam selama berasaskan
kepada tujuan kebaikan ataupun keperluan yang dibenarkan syara', maka dibolehkan,
meskipun perlu menjaga batas-batas pergaulan sebagaimana yang telah digariskan Islam.
Allah swt telah mengatur sedemikian rupa mengenai pergaulan antara lawan jenis. Allah
swt berfirman dalam QS. 17 (Al-Isra') : 32 yang artinya:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. dan suatu jalan yang buruk (QS. 17:32).

Syariat muamalah yang terkait pergaulan lawan jenis dalam Islam meliputi : (1)
hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara
berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas.
Perhatikanlah firman Allah berikut ini, (QS. 24:300; (2) hendaknya setiap muslim
menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana Islami agar terhindar dari fitnah.
Secara khusus bagi wanita dijelaskan dalam QS. 24 :31. Batasan aurat bagi pria adalah
antara pusat ke lutut, sedangkan wanita adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak
tangan; (3) tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS.
17: 32), misalnya berkhalwat (berdua-duaan di tepat yang terlindung dari pandangan
orang lain) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda yang artinya:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan
seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah
syaithan (HR. Ahmad); (4) menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa
membangkitkan syahwat. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam
QS.33:31;(5) hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan
wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, bahwa Rasulullah saw
pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di
jalan, maka beliau bersabda: Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian
bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).

b) Pergaulan Sejenis.
Nabi Muhammad saw menetapkan tata krama yang harus diperhatikan, beliau
bersabda: Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu
juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki
berkemul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak
boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain. (HR. Muslim)

c. Implementasi Muamalah di Bidang Politik

Sejarah membuktikan, bahwa Nabi Muhammad saw disamping sebagai Rasul, sebagai
kepala agama, juga kepala negara. Nabi menguasai suatu wilayah Yatsrib yang kemudian
diganti oleh beliau dengan nama Madinah al-Munawwarah sebagai wilayah kekuasaan Nabi.
Kota tersebut sekaligus menjadi pusat pemerintahannya dengan piagam Madinah sebagai
aturan dasar kegenaraannya. (Harun Nasution, Islam Rasional, gagasan dan Pemikiran,
1996:227). Penyelenggaraan pemerintahan dalam ajaran Islam harus mendasarkan
pada prinsip-prinsip politik dan perundang-undangan pada kitab Al-Quran dan Sunnah.
Karena itu setiap bentuk peraturan perundang-undangan yang diterapkan oleh pemerintah
mengikat setiap muslim untuk mentaatinya. Muhammad S. El. Wa dalam bukunya On The
Political System of Islamic State bahwa prinsip politik Islam pada hakekatnya terdiri atas
Musyawarah (syura), Keadilan, Kebebasan, Persamaan dan pertanggungjawaban pemimpin
atas berbagai kebijakan yang diambilnya..
52
a). Prinsip Musyawarah
Musyawarah merupakan prinsip pertama dalam tata aturan politik Islam yang amat
penting, artinya penentuan kebijaksanaan pemerintah dalam sistem pemerintahan Islam
haruslah berdasarkan atas kesepakatan musyawarah. Kalau kita kembali pada nash, maka
prinsip ini sesuai dengan ketentuan QS.3 (Ali Imran) : 159. Rasulullah saw sendiri sering
bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam segala urusan. Setiap pemimpin
pemerintahan (penguasa, pejabat, atau imam) harus selalu bermusyawarah dengan rakyat
atau umatnya. Musyawarah merupakan media pertemuan dari kelompok orang-orang
yang mempunyai kepentingan akan hasil keputusan itu. Dengan musyawarah itu pula
semua pihak ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan. Dengan demikian hasil
musyawarah itupun akan diikuti mereka, karena merasa ikut menentukan dalam
keputusan itu.
b). Prinsip Keadilan
Kata ini sering digunakan dalam Al-Quran dan telah dimanfaatkan secara terus menerus
untuk membangun teori kenegaraan Islam. Banyak sekali ayat Al-Quran yang
memerintahkan berbuat adil dalam segala aspek kehidupan manusia, seperti disebutkan
dalam firman Allah QS.16 (Al-Nahl):90. Dijadikan keadilan sebagai prinsip politik Islam,
mengandung suatu konsekuensi bahwa para penguasa atau penyelenggara pemerintahan
harus melaksanakan tugasnya dengan baik dan juga berlaku adil terhadap suatu perkara
yang dihadapi. Penguasa haruslah adil dan mempertimbangkan hak-hak warganya dan
juga mempertimbangkan kebebasan berbuat bagi warganya berdasarkan kewajiban yang
telah mereka laksanakan. Adil menjadi prinsip politik Islam dikenakan pada penguasa
untuk melaksanakan pemerintahannya dan bagi warganya harus pula adil dalam
memenuhi kewajiban dan memperoleh haknya.
c). Prinsip Kebebasan
Kebebasan di sini mengandung makna positif, yaitu kebebasan bagi warga negara untuk
memilih sesuatu yang lebih baik, maksudnya kebebasan berfikir untuk menentukam mana
yang baik dan mana yang buruk, sehingga proses berfikir ini dapat melakukan perbuatan
yang baik sesuai dengan hasil pemikirannya. Kebebasan berfikir dan kebebasan berbuat
ini pernah diberikan oleh Allah kepada Adam dan Hawa untuk mengikuti petunjuk atau
tidak mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam
QS.20 (Toha) : 123 yang artinya:

"Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu
menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-
Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka" (QS.20:123).

d). Prinsip Persamaan


Prinsip ini berarti bahwa setiap individu dalam masyarakat mempunyai hak yang sama,
juga mempunyai persamaan mendapat kebebasan, tanggung jawab, tugas-tugas
kemasyarakatan tanpa diskriminasi rasial, asal-usul, bahasa dan keyakinan. Dengan
prinsip ini sebenarnya tidak ada rakyat yang diperintah secara sewenang-wenang, dan
tidak ada penguasa yang memperbudak rakyatnya karena ini merupakan kewajiban yang
harus dilaksanakan oleh penguasa.
e). Prinsip Pertanggungjawaban dari Pemimpin Pemerintah tentang Kebijakan yang
diambilnya.
Jika seorang pemimpin pemerintahan melakukan hal yang cenderung merusak atau
menuruti kehendak sendiri maka umat berhak memperingatkannya agar tidak meneruskan
53
perbuatannya itu, sebab pemimpin tersebut berarti telah meninggalkan kewajibannya
untuk memenuhi hak rakyatnya. Penguasa di dunia ini merupakan khalifah yang
menjalankan amanat Allah, maka tindakan penyalahgunaan jabatan berati berjalan di atas
jalan yang dilaknat Allah, menindas rakyat, melanggar perintah Al-Quran dan Sunnah.
Pemimpin tersebut berhak diturunkan dari jabatannya.

Demikian diantara prinsip-prinsip Politik Islam yang dapat kita implementasikan dalam
kehidupan bernegara. Paparan di atas, tidak menutup kemungkinan adanya prinsip-prinsip
yang lain.

3. Akhlak Islam atau Ihsan


3.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Akhlak Islam

3.1.1. Pengertian Akhlak

Kata akhlak merupakan bentuk jamaK (plural) dari kata khuluk, berasal dari bahasa
Arab yang berarti tabiat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya,
akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan
sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI,
akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak ialah sifat yang
tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Perkataan akhlak bersumber dari kalimat dalam
Al-Quran, diantaranya QS.68 (Al-Qolam) : 4 yang artinya:

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung (QS.68:4).

Definisi di atas menggambarkan bahwa akhlak secara substansial adalah sifat hati
(kondisi hati), bisa baik bisa buruk yang tercermin pada perilaku. Tingkah laku yang dapat
dikatakan sebagai akhlak seseorang haruslah dilakukan berulang-ulang, tidak cukup hanya
sekali melakukan perbuatan tersebut. Akhlak bukan hanya perbuatan lahir, namun merupakan
cermin keadaan jiwa. Perbuatan itu sudah melekat dalam jiwanya sehingga dapat dilakukan
secara spontan tanpa banyak pertimbangan. Umat Islam senantiasa berpatokan pada akhlak
Nabi Muhammad saw. Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah saw patut kita
jadikan contoh dan suri tauladan yang baik. Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai
pegangan hidup yakni Al-Quran dan Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak
Islamiyah.
Dalam bahasan ini akhlak tidak terlepas dari akidah dan syariah, karena akhlak
merupakan pola tingkah laku yang timbul sebagi manifestasi dari aspek keyakinan dan
ketaatan kepada norma. Akhlak merupakan perilaku yang tampak terlihat jelas dalam kata-
kata maupun perbuatan yang dimotivasi oleh iman dan amaliah ibadah. Jika iman dan praktik
ibadahnya baik semestinya yang muncul adalah akhlak yang baik (al-akhlak al-karimah). Jika
iman dan ibadahnya buruk, maka yang keluar dalam perilakunya adalah akhlak yang buruk
(al-akhlak al-mazmumah).
Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Bahkan boleh
dinyatakan bahwa tujuan seseorang beragama adalah terciptanya idividu dan masyarakat yang
berakhlak mulia. Al-Qur'an banyak memuat secara spesifik ayat-ayat yang berbicara masalah
akhlak. Bahkan setiap ayat yang berbicara ibadahpun, seringkali dikaitkan di ujung ayat
dengan tujuan ibadah yaitu pembentukkan akhlak. Seperti perintah menjalankan shalat agar
manusia dapat menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. (QS.29:45).Ketika Allah
mewajibkan orang-orang beriman untuk berpuasa Ramadhan (QS.2:183), maka Allah jelaskan
54
tujuannya supaya menjadi orang-orang yang bertakwa. Bertakwa berarti menjauhi perbuatan
buruk dan senantiasa melakukan perbuatan baik.

3.1.2. Ruang Lingkup Akhlak Islam

Ruang lingkup akhlak Islam sama dengan ruang lingkup ajaran agama Islam itu sendiri.
Karena Hukum Islam mencakup segenap aktivitas manusia, maka ruang lingkup akhlakpun
dalam Islam mencakup semua aktivitas manusia di seluruh bidang kehidupan. Sasaran akhlak
Islam mencakup pola perilaku kepada Allah, kepada sesama manusia, hingga pola perilaku
kepada alam sekitarnya (binatang, tumbuhan dan makhluk yang tak bernyawa).
Uraian singkat ketiga ruang lingkup akhlak Islam tersebut adalah:
a. Akhlak Kepada Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya
dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Khalik. Setidaknya ada empat
alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah, yaitu (1). karena Allahlah yang telah
menciptakan manusia; (2). karena Allahlah yang telah memberikan perlengkapan
pancaindera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan qolbu atau hati sanubari,
disamping anggota tubuh yang kokoh dan sempurna kepada manusia; (3). karena Allahlah
yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup
manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang
ternak dan sebagainya; (4). karena Allahlah yang telah memuliakan manusia dengan
diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan. Banyak cara yang dapat dilakuka
dalam berakhlak kepada Allah, diantaranya dengan cara men-Tauhidkan-Nya, takwa kepada-
Nya, mencintai-Nya, ridho dan ikhlas terhadap segala ketentuan-Nya dan bertaubat,
mensyukuri nikmat-Nya, bertasbih, beristighfar, selalu bedoa kepada-Nya, beribadah, dan
selalu mencari keridhoan-Nya.
Tiitik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa
tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji yang demikian Agung. Berkenaan
dengan akhlak kepada Allah, dapat dilakukan dengan cara banyak memujinya. Selajutnya
sikap tersebut dilanjutkan dengan senantiasa bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya, yaitu
dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang menguasai diri manusia.
b. Akhlak Kepada Manusia
Akhlak kepada manusia melingkupi akhlak kepada diri sendiri dan kepada orang lain.
Akhlak kepada diri sendiri adalah menyayangi diri sendiri dengan menjaga diri dari pebuatan
buruk. Menjaga kesehatan diri, fisik dan jiwa kita. Bersuci, mandi setiap hari merupakan
bentuk pemeliharaan diri secara fisik, sedangkan memelihara hati agar selalu ikhlas, rendah
hati, sabar, jujur, mengendalikan dorongan hawa nafsu, dll. merupakan akhlak baik dengan
jiwa spiritual kita.
Berakhlak yang baik kepada orang lain dapat dirinci sasarannya kepada: a) Rasulullah
selaku pemimpin dan suri tauladan umat Islam, diantaranya dengan mencintai Rasulullah,
meneladani sifat dan sunnah Rasulullah dalam kehidupan; b) Orang tua dan keluarga,
diantaranya dengan mencintai kedua orang tua, merendahkan diri di hadapan mereka, berkata
dengan lemah lembut, mendoakan keselamatan dan ampunan bagi mereka; c) Tetangga,
diantaranya dengan saling mengunjungi, saling memberi, saling menghindari permusuhan
dsb; d) Masyarakat, diantaranya dengan saling menghormati, saling menasehati, saling
bermusyawarah, saling menolong dsb; e) Anggota masyarakat lainnya, dengan menghormati
tamu, memberi makan fakir miskin, menunaikan amanat, dsb.
c. Akhlak Kepada Alam Sekitar
Berakhlak kepada alam sekitar berarti menyikapi alam dengan cara memelihara
kelestariannya. Alam ini Allah tundukkan untuk kepentingan manusia dan Allah memberi
55
amanat kepada manusia untuk menjaganya. Maka manusia harus mengendalikan dirinya
dalam mengeksploitasi alam. Manusia harus memberi kesempatan kepada alam untuk
merehabilitasi. Pemanfaatan alam didasari sikap tanggung jawab, tanpa merusaknya, sebab
alam yang rusak akan dapat merugikan manusia sendiri. Sikap yang baik terhadap alam
antara lain: 1) sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup; b) menyayangi dan
menjaga kelestrian flora dan fauna; dan c) memanfaatkan alam secara bertanggung jawab,
dsb.
Pembagian Akhlak dari sisi sifatnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1). akhlak yang
baik, atau disebut juga akhlak mahmudah; dan 2). akhlak yang buruk atau akhlak
madzmumah. Akhlak baik antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepda rasul, taat beribadah,
senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur
atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur,
menepati janji, khusyu' dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri,
silaturrahim, menghargai orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka menolong
kaum yang lemah, suka bekerja, hidup bersih dll. Sifat yang termasuk akhlak mazmumah
adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik,
munafik, fasik, murtad, takabbur, riya', dengki, bohong, menghasut, kikil, bakhil, boros,
dendam, khianat, tamak, fitnah, qatiurrahim, ujub, mengadu domba, sombong, dll.

3.1.3. Nilai-Nilai Akhlak Islam

Diantara nilai-nilai akhlak Islam yang potensial menciptakan kehidupan sosial yang
harmonis adalah:

a. Ikhlas
Ikhlas adalah salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima
Allah. Yang dimaksud dengan pengertian ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih
hanya untuk Allah dengan mengharap ridho dari Nya semata. Jadi dalam beramal kita hanya
mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Hal-hal
yang merusak keikhlasan misalnya riya' (pamer), 'ujub (membanggakan diri) dan sumah
(ingin kesohor). Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas, yaitu meng-Esakan Allah di
dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan. Ia juga menjelaskan bahwa makna
ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya. Inilah bentuk pengamalan
dari firman Allah dalam QS.1 (Al-Fatihah) : 5 yang artinya:

"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon


pertolongan."(QS.1:5).

b. Jujur
Jujur adalah sifat penting dalam ajaran agama Islam. Jujur adalah berkata terus terang.
Lawan kata kejujuran adalah kebohongan. Orang yang bohong atau pendusta tidak ada
nilainya dalam Islam. Bohong adalah modal utama seorang munafik, penfitnah, pengadu
domba, penipu, koruptor, dsb. Kebohongan merupakan pembuka sifat buruk lainnya. Salah
satu akhlak menonjol dari Rasulullah saw adalah shidiq (jujur). Shidiq berarti benar atau jujur.
Akhlak jujur seperti Rasulullah tersebut wajib dimiliki juga oleh setiap muslim dan muslimah
di mana dan kapanpun berada. Seorang muslim dituntut selalu berada dalam
keadaan jujur lahir batin. Jujur hati (shidq al-qalb), jujur dalam perkataan (shidq al-hadits)
dan jujur dalam perbuatan (shidq al-`amal). Kejujuran sangat dijunjung tinggi dalam Islam.
Allah swt mensifati diri-Nya dengan sifat jujur sebagaimana disebutkan dalam QS.4 (Al-
Nisa') : 87 yang artinya:
56
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan
mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang
yang lebih benar perkataan (Nya) dari pada Allah ? (Qs. an-Nisa: 87).

c. Adil
Kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti seimbang, proporsional, tidak berat
sebelah. Adil secara istilah ada beberapa makna antara lain: menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Menurut Al Ghozali, adil adalah keseimbangan antara sesuatu yang lebih dan
yang kurang. Sedangkan menurut Ibnu Miskawaih, keadilan adalah memberikan sesuatu yang
semestinya kepada orang yang berhak terhadap sesuatu itu. Kata adil dilawankan dengan kata
dzalim, yang berarti aniaya, menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Islam
memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia
Allah menurunkan ajaran Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat yang
menyelamatkan dan membawa rahmat pada seluruh alam (rahmatan lil alamin) (Qs.21: Al-
Anbiya: 107). Untuk itu, Islam meletakkan ajaran adil sebagai salah satu di antara nilai-nilai
kemanusiaan yang asasi dan dijadikan sebagai pilar kehidupan pribadi, rumah tangga dan
masyarakat. Allah mengutus para Rasul dalam rangka untuk menegakkan dan mewujudkan
keadilan di muka bumi. Dalam QS.57 (Al-Hadid) : 25 Allah berfirman yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang
nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan)
supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.(Qs.57: 25).

d. Rendah Hati
Sifat rendah hati adalah diantara sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim.
Sifat rendah hati ini dalam QS.25 (Al-Furqn) : 63 disebutkan yang artinya :

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS. 25:63)

Hamba-hamba Allah yang rendah hati adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini
dengan tenang, mantap dan tidak menyombongkan diri. Andaikata kebetulan sedang diberi
nikmat oleh Allah berupa kekayaan, maka ia tidak memamerkan kekayaannya itu. Andaikata
ia seorang yang diberi ilmu oleh Allah, maka ia tidak sombong dengan ilmunya. Andaikata ia
adalah orang yang berpangkat, maka kepangkatan dan jabatannya tidak lantas membuatnya
merendahkan orang lain. Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan yang artinya:

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap


rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang
lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain. (HR. Muslim).

e. Kasih Sayang
Nabi Muhammad saw diutus Allah tiada lain untuk merahmati semesta alam (QS.
21:107). Maka tentulah bukan kebetulan bila ternyata Nabi Muhammad saw dan agama yang
dibawanya merupakan rahmat. Merupakan kasih sayang bagi semesta alam. Dalam QS.9
(Taubah) : 128 Allah berfirman yang artinya:

57
Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, yang
terasa berat baginya penderitaan kalian; penuh perhatian terhadap kalian; dan terhadap
orang-orang mukmin sangat pengasih lagi penyayang (QS. 9:128).

Siapapun yang mempelajari sirah Nabi Muhammad saw akan menjumpai kisah-kisah
kasih sayang Nabi Muhammad saw, sebagaimana siapapun yang mempelajari syariah agama
Islam akan dengan mudah menemukan bukti hikmah-hikmah kasih sayang Islam. Kasih
sayang bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari sang Rasul, baik sebagai
bapak dan suami dalam lingkungan keluarga, sebagai saudara di kalangan kerabat, sebagai
teman di kalangan sahabat, sebagai guru di antara para murid, sebagai pemimpin di kalangan
ummat, bahkan sebagai manusia di tengah mahluk-mahluk Allah yang lain.

f. Sabar
Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi
sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga
dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa
orang yang memilikinya. Sabar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan tahan
menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati) dan lain-
lainnya. Allah telah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya untuk sabar bukan saja dalam
menghadapi cobaan dan ujian, namun juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya .
Ada banyak persoalan dan situasi yang kita hadapi di dunia yang harus kita sikapi
dengan sabar. Para ulama menerangkan bahwa kesabaran dapat kita implementaskan dalam
situasi berikut : 1) Sabar dalam melaksanakan perintah Allah; b) Sabar untuk meninggalkan
dan menjauhi larangan Allah; c). Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan; dan d). Sabar
dengan orang-orang sekitar yang tidak senang dengan kita.

3.2. Implementasi Akhlak atau Ihsan Dalam Kehidupan.

Perbaikan akhlak merupakan bagian dari tujuan pendidikan Islam. Pendidikan haruslah
berorientasi pada implementasi nilai-nilai yang diajarkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang hanya berfokus pada kecerdasan intelektual telah gagal membawa manusia
menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Pendidikan yang berhasil
hendaknya mampu membangun kebaikan sikap dan perilaku peserta didik disamping
kecerdasannya. Upaya impelmentasi nilai harus terus mendapat sokongan agar nilai-nilai
tersebut menjadi bagian dari kehidupan diri seseorang. Dalam akhlak, nilai-nilai keutamaan
tidaklah cukup dengan hanya mengetahuinya. Tetapi harus ditambah dengan melatihnya terus
menerus untuk menjadi orang-orang yang memiliki keutamaan tersebut. Dalam ilmu tasawuf,
perbaikan akhlak harus berawal dari pensucian hati atau tasfiat al-qalb. Pensucian hati diawali
dengan menjauhi berbagai larangan Allah dan melaksanakan kewajibankewajibann-Nya.
Juga diikuti dengan melaksanakan hal-hal yang disunnatkan. Barulah kemudian melakukan
ar-Riyadhah. Ar-Riyadah artinya latihan spiritual, membiasakan diri dengan berzikir
mengingat Allah dan melakukan berbagai macam kebajikan.
Hati orang beriman itu bersih. Kemaksiatan yang diperbuat manusia menjadikan hatinya
kotor, kelam dan berkarat. Taat kepada perintah Allah tidak mengikuti godaan syahwat dapat
mengkilaukan hati. Sebaliknya hati menjadi hitam akibat dosa dan maksiat. Maka barang
siapa melakukan dosa, segera hapuskan dengan istighfar dan diikuti dengan kebajikan.
Kebajikan dapat mengembalikan cahaya yang redup. Di dalam hati yang bersih, akan muncul
cahaya yang menyebar ke seluruh anggota badan. Cahaya itu terlihat dengan tutur kata yang
lembut, bijak, suka memaafkan, suka menolong orang lain dan perilaku baik lainnya dalam
kehidupannya sehari-hari.
58
Upaya mengubah kebiasaan yang buruk menurut Ahmad Amin, yang dikutip Ishak
Soleh adalah dengan melakukan hal-hal berikut ini :
a. Menyadari perbuatan buruk, bertekad untuk meninggalkannya.
b. Mencari waktu yang baik untuk mengubah kebiasaan itu untuk mewujudkan niat dan
tekad semula.
c. Menghindarkan diri dari segala yang dapat menyebabkan kebiasaan buruk itu terulang.
d. Berusaha untuk tetap berada dalam keadaan yang baik.
e. Menghindarkan diri dari kebiasaan buruk dan meninggalkannya sekaligus.
f. Menjaga dan memelihara baik-baik kekuatan penolak kemaksiatan dalam jiwa, berusaha
selalu istiqamah, ikhlas, dan jiwa tenang.
g. Memilih teman bergaul yang baik, sebab pengaruh kawan itu besar sekali dalam
pembentukkan watak pribadi.
h. Menyibukkan diri dengan pekerjaan yang bermanfaat.

3.3. Hubungan Akhlak Dengan Akidah atau Iman dan Syariah atau Islam

3.3.1. Hubungan Akhlak Dengan Akidah atau Iman

Rasulullah saw menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada


kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau: Orang mukmin yang paling sempurna
imannya ialah mereka yang paling bagus akhlaknya . (HR. Muslim). Akidah tanpa akhlak
ibarat sebatang pohon yang tak banyak guna, tidak dapat menjadi tempat berlindung di saat
kepanasan dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah
hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Kuat atau
lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang. Tingkah laku
seseorang cerminan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia
mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatannya buruk, maka dapat dikatakan ia
mempunyai iman yang lemah. Imam Al-Ghazali mengatakan, bahwa iman yang kuat
memunculkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah melahirkan akhlak yang
buruk. Orang yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagai orang yang kehilangan
iman. Beliau bersabda :Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah
satunya, maka hilang pula yang lain. (HR. Hakim). Rasa malu sangat berpautan dengan
iman hingga boleh dikatakan bahwa tiap orang yang beriman pastilah ia mempunyai rasa
malu, dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti tidak beriman atau lemah imannya.
Allah menjadikan keimanan (aqidah) sebagai dasar (pondasi) agama-Nya, ibadat (syariah)
sebagai rukun (tiang) ataupun bangunan yang berdiri di atasnya. Kedua hal inilah yang akan
menimbulkan akhlak yang luhur.
Akidah mampu menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk berpegang teguh
kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Keberadaan akhlak memiliki peranan yang
istimewa dalam akidah Islam sebagaimana yang termaktub dalam hadis berikut: Orang
mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya, (HR. Tirmidzi). Dari hadis
ini dapat disimpulkan bahwa akhlak itu harus berpijak pada keimanan. Iman tidak cukup
disimpan dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku
(akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang
ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat, dan jika
perbuatannya buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah.

3.3.2. Hubungan Akhlak dengan Syariah atau Islam

59
Sebagai bentuk perwujudan iman (aqidah), akhlaq mesti berada dalam bingkai aturan
syariah Islam. Karena seperti dijelaskan diatas, berakhlak baik juga dalam rangka ibadah
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Syariah menjadi standard ukuran yang menentukan
apakah suatu amal-perbuatan itu benar atau salah. Ketentuan syariah merupakan aturan dan
rambu-rambu yang berfungsi membatasi, mengatur dan menetapkan mana perbuatan yang
mesti dijalankan dan yang mesti ditinggalkan. Ketentuan hukum pada syariah pada asasnya
berisi tentang keharusan, larangan dan kewenangan untuk memilih. Ketentuan ini meliputi
wajib, sunnah/mandub, mubah (wenang), makruh dan haram. Syariah memberi batasan-
batasan terhadap akhlaq sehingga praktik akhlaq tersebut berada didalam kerangka aturan
yang benar tentang benar dan salahnya suatu amal perbuatan (ibadah).
Jadi, jelas bahwa akhlaq tidak boleh lepas dari batasan dan kendali syariah. Syariah
menjadi bingkai dan praktik akhlaq, atau aturan yang mengatasi dan mengendalikan akhlaq.
Praktik akhlaq tidak melebihi apalagi mengatasi syariah, tetapi akhlaq harus lahir sebagai
penguat dan penyempurna terhadap pelaksanaan syariah. Sedangkan akhlaq yang tidak
menjadi penyempurna pelaksanaan syariah adalah perbuatan batal. Jadi, kedudukan akhlak
adalah sebagai penguat dan penyempurna proses ibadah seseorang.
Dengan demikian, syariah berfungsi sebagai jalan yang akan menghantarkan
seseorang kepada kesempurnaan akhlak. Sedangkan akhlak adalah nilai-nilai keutamaan yang
bisa menghantarkan seseorang menuju tercapainya kesempurnaan keyakinan. Akhlak adalah
perwujudan dari proses amal ibadah, sehingga seseorang hamba dapat meningkatkan kualitas
iman dan amal ibadahnya dengan akhlak tersebut.

60
BAB III
DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA ISLAM

1. Keluarga Islam
1.1. Pengertian Keluarga Islam

Di dalam bahasa Arab, kata keluarga disebut ahl atau ahila yang berarti keluarga
secara menyeluruh termasuk kakek, nenek, paman, bibi dan keponakan. Dalam pengertian
yang lebih luas, keluarga dalam Islam merupakan satu kesatuan unit yang besar yang
disebut ummah atau komunitas umat Islam. Keluarga Islam adalah keluarga yang rumah
tangganya ditegakkan adab-adab Islam, baik yang menyangkut individu maupun keseluruhan
anggota rumah tangga. Keluarga Islam adalah sebuah rumah tangga yang didirikan di atas
landasan ibadah, mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang
mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah swt. Keluarga Islam adalah keluarga yang
rumah tangganya menjadi teladan, panutan dan dambaan umat, mereka betah tinggal di
dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan rohani, mereka berkhidmat kepada Allah
dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.
Kata sakinah berasal dari bahasa Arab yang berarti tenang atau ketenangan. Al-
Jurjani mengemukakan satu definisi, yaitu adanya ketenteraman bahwa Allah senantiasa
bersifat Rahmah yang selalu dilimpahkan kepada makhluk-Nya ke dalam hati pada saat
datangnya goncangan dan cobaan. Dalam keseluruhannya sakinah merupakan ketentraman
jiwa dan ketenangan batin (al-Jurjani, t.th.:106). Sakinah merupakan suatu ketenangan yang
sering didahului oleh gejolak, karena dalam setiap rumah tangga diwarnai dengan gejolak,
bahkan kesalahpahaman, namun ia dapat segera tertanggulangi lalu melahirkan sakinah
(ketenangan). Kata Mawaddah, memiliki arti kelapangan dada dan terhindarnya jiwa
seseorang dari kehendak yang buruk. Mawaddah artinya adalah cinta sejati, cinta tidak
lengkap kecuali bila semua unsur-unsur terpenuhi, yaitu perhatian, tanggung jawab,
penghormatan, serta pengetahuan. Cinta yang dibingkai dalam hati yang mawaddah, tidak
lagi akan memutuskan hubungan. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan terhindar
dari keburukan-keburukan. Sedangkan Rahmah adalah kasih sayang, kondisi psikologis yang
muncul di dalam hati, karena menyaksikan ketidakberdayaan, sehingga mendorong yang
bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu, dalam kehidupan keluarga, masing-
masing suami istri rela bersusah payah demi mendatangkan kebaikan bagi pasangannya serta
menolak segala yang mengganggu dan mengeruhkannya. (M. Quraish Shihab, 2013: 209).
Dengan demikian keluarga Islam yang sakinah, mawaddah dan rahmah adalah keluarga yang
didalamnya penuh dengan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan, akibat menyatunya
pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang
kuat.

1.2. Karakteristik Keluarga Islam

Rasulullah saw. adalah orang yang sangat berhasil memberikan suri tauladan yang baik
bagi umatnya, mulai dari masalah memimpin umat sampai kepada memimpin keluarga.
Dalam hal memimpin keluarga misalnya, Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada
umatnya agar membina rumah tangga yang harmonis, keluarga yang bahagia, yang dipenuhi
dengan ketenangan dan cinta kasih, Beliau bersabda yang artinya:

61
Ada tiga kebahagiaan, yaitu: (1) memiliki istri yang shalihah, bila engkau memandangnya
menyenangkanmu, dan bila engkau pergi hatimu mempercayai bahwa ia dapat menjaga
dirinya dan menjaga hartamu, (2) kendaraan yang layak, dan (3) rumah yang luas yang
banyak didatangi tamu. (HR. Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mubarak ala al-Shahihain, II/175
No. 2684).

Dalam hadis di atas digambarkan tentang kebahagiaan manusia atau keluarga Islam
akan tercapai bila memenuhi beberapa hal, yaitu rumah yang luas, maksudnya bukan berarti
rumah yang secara fisik berukuran luas, tetapi merupakan tempat tinggal yang memberikan
kenyamanan, ketentraman, dan kelapangan hati seperti rumah yang dimiliki oleh Rasulullah
saw., kendaraan yang layak maksudnya tidak terbatas pada mobil pribadi atau kendaraan lain,
tetapi kendaraan yang bisa menghantarkan pemiliknya ke tempat-tempat yang baik dan
diridhai oleh Allah, sedangkan istri atau suami yang shalihah dan shalih merupakan
pendamping hidup yang senantiasa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah serta selalu
mengingatkan jika salah satu di antara keluarga melakukan kesalahan.
Keluarga Islam adalah keluarga yang rumah tangganya sakinah, mawadah, dan rahmah
(perasaan tenang, cinta dan kasih sayang). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah
setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana surga di dalamnya. Baiti
jannati (rumahku surgaku), demikian slogan mereka sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah
saw. untuk membentuk ummah yang kuat. Fatima Heeren dalam bukunya Women in Islam
(1993), menyebutkan empat syarat dalam membangun keluarga Islam, yaitu : (1) keluarga
Islam harus menjadikan keluarga sebagai tempat utama pembentukan generasi yang kuat
dengan cara menyediakan keluarga sebagai tempat yang aman, sehat dan nyaman bagi
interaksi antara orang tua dan anak; (2) kehidupan berkeluarga harus dijadikan sarana untuk
menjaga nafsu seksual laki-laki dan perempuan; (3) keluarga Islam harus menjadikan
keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti cinta
dan kasih sayang; (4) keluarga Islam harus dijadikan sebagai tempat bagi setiap anggotanya
untuk berlindung dan tempat memecahkan segala permasalahan yang dihadapi anggotanya.

1.3. Ketentuan Agama Islam dalam Pembentukan Keluarga Islam

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang anggota-anggotanya terikat


secara lahir dan batin dan terkait secara hukum karena pertalian darah dan pernikahan. Ikatan
itu menetapkan kedudukan tertentu pada masing-masing anggota keluarga, ada hak dan
kewajiban, tanggung jawab bersama, saling mengharapkan, dan saling mengasihi. Suatu
keluarga biasanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Ini merupakan keluarga inti.
Keluarga yang lebih besar bisa juga tediri dari kakek, nenek, keponakan, paman dan bibi, baik
dari pihak ayah maupun ibu. Ketentuan agama Islam dalam pembentukan keluarga Islam
diantaranya berdasarkan firman Allah dalam QS.30 (Al-Rum) : 21 yang artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. 30: 21).

Agama Islam adalah ketentuan-ketentuan Allah yang membimbing dan mengarahkan


manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia berperan ketika pemeluknya memahami,
menghayati, dan mengamalkan dengan baik secara sungguh-sungguh. Ayat di atas
menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama pernikahan adalah menciptakan keluarga

62
sakinah, mawaddah, dan rahmah antara suami, istri, anak-anaknya serta keluarga lain, yaitu
sebuah keluarga yang dicita-citakan dan diidamkan oleh umat secara keseluruhan.
Dalam proses pembentukan keluarga Islam, ada beberapa ketentuan yang harus
diperhatikan, yaitu :
a. Calon suami atau istri sama-sama orang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam QS. 2 (Al-
Baqarah) : 221. Dalam sebuah Hadis Rasulullah saw bersabda bahwa wanita dinikahi
karena empat faktor : kecantikannya, hartanya, masabnya, dan agamanya. Pilihlah karena
agamanya, maka engkau akan beruntung.
b. Calon suami bukan mahram, artinya tidak terdapat halangan untuk menikah.
c. Calon suami dan calon istri ridha, setuju untuk menikah.
d. Memenuhi ketentuan khusus poligami dalam pernikahan poligami.
e. Calon istri tidak sedang dalam masa iddah atau dalam pinangan orang lain.
f. Calon istri tidak terikat pernikahan dengan pria lain.
g. Calon suami menyiapkan mahar atau mas kawin. Apabila pada waktu akad nikah calon
suami belum memiliki mahar, boleh dihutang dan dibayar setelah akad nikah sesuai
kesepakatan dengan calon istri.
h. Pada saat akad nikah dilakukan pencatatan nikah oleh Pegawai Pencatat Nikah.
Dalam proses akad nikah harus memenuhi rukun nikah, yaitu :
a. Ada calon suami dan calon istri;
b. Ada dua orang saksi;
c. Ada wali nikah;
d. Ada akad nikah, yaitu ijab dan qabul.

1.4. Tanggungjawab Kehidupan Keluarga

Apabila keluarga Islam telah terbentuk maka tugas dan tanggungjawab dalam
kehidupan keluarga Islam adalah :
a. Mendidik Keluarga Secara Islam
Setelah mampu membina keluarga dalam kehidupan secara mandiri sesuai dengan perintah
Allah, maka tugas selanjutnya adalah mendidik keluarga dan anak-anak agar menjadi
generasi penerus yang saleh. (QS.3 (Ali Imran) :9), dan juga menjadi orang-orang yang
senantiasa menjaga diri dan keluarga dari segala hal yang menjerumuskan ke dalam api
neraka. (QS.66 (Al-Tahrim) :6).
b. Berbakti kepada orang tua.
Setelah hidup mandiri dengan keluarga yang sakinah, dipenuhi dengan ketentraman dan
kebahagiaan, jangan lupa hendaknya selalu berbakti kepada orang tua yang telah
melahirkan, menyusui, merawat dan membimbing selama bertahun-tahun, sehingga
menjadi anak yang baik dan terpuji. Berbakti kepada orang tua dalam pandangan Islam,
merupakan keharusan yang selalu dijaga dengan baik. Dalam beberapa ayat Al-Quran
disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua demikian pentingnya, sehingga
diletakkan pada posisi yang signifikan, setelah kita berbakti kepada Allah. (QS.31
(Luqman) :14, dan QS.46 (Al-Ahqaf) :15).

2. Masyarakat Islam
2.1.Pengertian Masyarakat Islam

Sebagai agama besar yang dianut oleh satu milyar lebih umat manusia, Islam telah
membentuk masyarakat yang kuat dalam tatanan yang penting dan teratur yang disebut
dengan masyarakat Islam. Islam adalah agama wahyu terakhir yang disebarkan oleh Nabi
Muhammad saw. Beliau menyebarkan agama ini sehingga banyak orang yang masuk Islam
63
dan menjadikan umat Islam menjadi umat yang kuat dalam masyarakat yang aman, tertib dan
tentram. Agama Islam menjadikan orang-orang yang menganutnya menjadi sebuah
masyarakat Islam yang sangat erat. Pengertian dari masyarakat Islam itu sendiri adalah
masyarakat yang seluruh atau sebagian besar anggotanya merupakan orang-orang Islam dan
berpedoman pada akidah dan hukum Islam.
Menurut Muhammad Quthb, bahwa masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang
segala sesuatunya bertitik tolak dari Islam dan tunduk pada sistematika Islam. Berangkat dari
hal tersebut di atas, maka suatu masyarakat yang tidak diliputi oleh suasana Islam, corak
Islam, bobot Islam, prinsip Islam, syariat dan aturan Islam serta berakhlak Islam, bukan
termasuk masyarakat Islam. Masyarakat Islam bukan hanya sekedar masyarakat yang
beranggotakan orang Islam, sementara syariat Islam tidak ditegakkan di atasnya, meskipun
mereka shalat, puasa, zakat dan haji. Lebih jauh lagi bahwa masyarakat Islam bukanlah
masyarakat yang melahirkan suatu jenis Islam khusus untuk dirinya sendiri, diluar ketetapan
Allah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Atas dasar itulah, masyarakat Islam harus
menjadikan segalah aspek hidupnya, prinsip-prinsipnya, amal perbuatannya, nilai hidupnya,
jiwa dan raganya, hidup dan matinya terpancar dari sistem Islam. Oleh karena itu, kekuasaan
yang mengatur kehidupan manusia haruslah kekuasaan yang mengatur adanya manusia itu
sendiri. Dengan demikian, tetaplah Allah saja yang mempunyai kekuasaan tertinggi, sehingga
masyarakat Islam senantiasa diperintah dan diatur oleh pola syariat-Nya.
Dalam pandangan Muhammad Quthb bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang
berbeda dengan masyarakat lain. Letak perbedaanya yaitu, peraturan-peraturannya khusus,
undang-undangnya yang Qurani, anggota-anggotanya yang beraqidah satu, aqidah islamiyah
dan berkiblat satu. Sedangkan menurut Mahdi Fadhlullah bahwa yang dimaksud dengan
masyarakat Islam adalah satu-satunya masyarakat yang tunduk kepada Allah dalam segala
masalah dan memahami bahwa makna ibadah itu tidak cukup dengan melakukan syiar-syiar
keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya, karena itu hanya bentuk ibadah
nyata. Dari pengertian di atas, terdapat kejelasan bahwa yang menjadi dasar pengikat
masyarakat Islam adalah rasa iman kepada Allah. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa
yang mengikat masyarakat Islam adalah dasar persamaan aqidah, bukan didasarkan atas
ikatan jenis bangsa, tanah air, warna kulit, maupun bahasa. Masyarakat Islam inilah yang
memiliki watak dan adat istiadat yang terpadu walaupun terdiri dari beberapa suku bangsa,
warna kulit, dan bahasa. Ia tetap memiliki dan menjalin ikatan yang kuat berupa tali
persaudaraan yang mengakar dari nilai-nilai agama Islam.

2.2. Karakteristik Masyarakat Islam

Masyarakat Islam memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan masyarakat


non Islam, yaitu :
a. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang ber-Tauhid, artinya beriman kepada Allah
Yang Maha Esa. Dasar Ketauhidan ini tidak mengurangi toleransi, kebebasan yang
diberikan oleh Islam kepada individu dalam beragama.
b. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terbuka berdasarkan pengakuan pada kesatuan
umat dan cita-cita persaudaraan sesama manusia. Islam menganggap rasisme, sukuisme,
kastaisme, dan dinastiisme sebagai suatu hal yang mengingkari ketentuan Allah dan
berkhianat terhadap sesama umat manusia.
c. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terpadu, integratif, dimana agama menjadi
perekat yang menyatukannya. Masyarakat yang demikian hanya mungkin terbina, apabila
mengikuti prinsip-prinsip keseimbangan dalam segala aspek kehidupan mereka. Karena
itu masyarakat yang terpadu merupakan masyarakat yang seimbang.

64
d. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang dinamis dan progresif, karena manusia
ditugaskan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka diperintahkan untuk
mewujudkan shibghah Allah dan keagungan serta kemuliaan-Nya (al-Asma al-Husna).
Dengan demikian, ia seharusnya berfungsi secara dinamis dan progresif dalam
menciptakan sarana dan prasarana bagi wujudnya kesejahteraan manusia, lahir dan batin
dalam segala aspeknya.
e. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang demokratis, baik secara spiritual, sosial,
ekonomi, maupun demokrasi politik. Islam membentuk lembaga keilmuan dan
menghapus feodalisme spiritual. Menjadikan ilmu pengetahuan dan takwa sebagai hak
setiap orang untuk mencapai kesempurnaan kehidupan pribadinya. Islam menciptakan
kesetaraan sosial dengan menghilangkan perbedaan berdasarkan ras, bangsa, suku, dinasti
dan lainnya. Ia menciptakan sestem ekonomi dengan berbagai hukum dan kelembagaan,
sehingga memberikan perhatian dan kesempatan yang adil bagi semua anggota
masyarakat untuk menjamin kehidupan yang layak dan seimbang.
f. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang berkeadilan, yang membentuk semua aspek
dari keadilan sosial baik di bidang moral, hukum, ekonomi, dan politik yang telah
ditetapkan dalam aturan dan kelembagaan yang telah disepakati.
g. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang berwawasan ilmiyah, terpelajar, karena sangat
menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Nabi Muhammad saw. telah
menetapkan pencarian ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim, dan menuntut ilmu
walau ke tempat yang jauh sekalipun. Kehidupan seperti ini, akan menjadi pondasi yang
kokoh bagi kehidupan masyarakat modern, bukan sebagai masyarakat yang hanya pandai
meniru budaya asing.
h. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang disiplin. Allah telah menetapkan segenap
ajaran-Nya berdasarkan aturan-aturan dan batas-batas yang terang, yang berkaitan
langsung dengan kedisiplinan baik dalam bidang ibadah maupun muamalah.
i. Masyarakat Islam menentukan pada kegiatan keumatan yang memiliki tujuan yang jelas
dan perencanaan yang sempurna, menggunakan menejemen yang rasional dan efektif,
serta dilakukan dengan disiplin yang tinggi dalam melaksanakan prinsip-prinsip
kehidupan dan kemasyarakatan.
j. Masyarakat Islam membentuk persaudaraan yang tangguh, menekankan kasih sayang
antara sesama. Penduduk negeri atau masyarakat digambarkan sebagai keluarga besar,
yang kaya dan kuat melindungi yang miskin dan lemah, sebaliknya yang miskin dan
lemah hormat kepada yang kaya dan kuat, saling memerintahkan kebaikan dan mencegah
kemungkaran.
k. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang sederhana, yang berkesinambungan. Islam
mengutuk kesenangan duniawi yang berlebihan, melarang mengeluarkan dan
menghamburkan harta secara boros dan sia-sia, memerintahkan anggota masyarakat agar
tidak mengikuti nafsu yang bersifat hewani.

2.3. Ketentuan Agama Islam Dalam Pembentukan Masyarakat Islam

Masyarakat Islam dibentuk berdasarkan ajaran dan tata nilai Islam, yang mengandung
arti bahwa prinsip-prinsip dasar yang membentuk dan membina masyarakat itu adalah nilai-
nilai luhur ajaran agama Islam. Masyarakat ini berorientasi pada pondasi tauhid, karena itu,
falsafah sosialnya didasarkan pada sistem nilai yang paling utama. Masyarakat itulah yang
mampu mempraktikkan sanksi-sanksi yang murni dalam upaya menegakkan kebenaran,
keadilan, kasih sayang serta pelayanan masyarakat yang dibentuk berdasarkan etika
Ketuhanan Yang Maha Esa yang bertopang pada: (a) mentaati perintah Allah yang
dicerminkan dengan kasih sayang terhadap sesama anggota masyarakat; (b) bersyukur
65
terhadap rahmat dan nikmat Allah, segala puji bagi-Nya semata, yang dicerminkan pada
upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat material dan spiritual,
berlandaskan pada kaidah-kaidah moral yang mulia; (c) rasa dekat dengan Tuhan yang
dicerminkan dalam perasaan takut pada larangan-Nya yang akan membentuk sikap dan jiwa
yang adil dan bertanggungjawab, menghindari tingkah laku curang dan menolak kejahatan
dalam anggota masyarakat (Departemen Agama RI, 1997: 50).
Masyarakat Islam dibentuk dan dibina berdasarkan azas dan prinsip dasar etika
kemulian manusia. Semua anggota masyarakat diarahkan untuk melaksanakan kebaikan
sehingga meraih kemuliaan lahir dan batin, di dunia maupun akhirat. Dalam QS. 49 (Al-
Hujurat): 133 Allah berfirman, yang artinya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
49: 13)

Untuk mencapai kemuliaan itu, memerlukan pembentukan kekuatan iman bagi setiap
individu anggota masyarakat, yang apabila disebut asma Allah, merasakan dan menghayati
sifat-sifat keagungan dan kemuliaan-Nya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. Mereka adalah anggota masyarakat yang mendirikan shalat
dengan khusyu dan menafkahkan sebagian rizki yang mereka miliki. Kemuliaan manusia,
mengharuskan setiap orang menghormati orang lain dalam segala interaksi sosialnya.
Manusia lain perlu dihargai dan diberikan hak-haknya sebagai anggota masyarakat secara
adil, atas dasar persamaan derajat di hadapan Tuhannya. Takwalah yang menentukan derajat
seseorang dan status kedudukannya dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Pranata Sosial Islam


3.1. Masjid

3.1.1. Pengertian Masjid

Secara etimologis kata masjid merupakan isim makan dari kata sajada-yasjudu-
sujudan, yang artinya tempat sujud, dalam rangka beribadah kepada Allah, atau tempat
untuk mengerjakan shalat. Sedangkan pengertian masjid secara sosiologis, yang berkembang
pada masyarakat Islam Indonesia, ia dipahamai sebagai suatu tempat atau bangunan tertentu
yang diperuntukkan bagi orang-orang muslim untuk mengerjakan shalat, baik secara
perorangan maupun berjamaah. Ia juga diperuntukkan untuk ibadah-ibadah lain dan
melaksanakan shalat Jumat. Dalam perkembangan selanjutnya, masjid dipahami sebagai
tempat yang dipakai untuk shalat sehari-hari dan dipakai untuk ibadah shalat Jumat, yang
disebut jami atau disebut masjid jami. Sedangkan bangunan yang serupa masjid yang
dipakai untuk mengerjakan shalat wajib dan sunnah, yang tidak dipakai untuk shalat Jumat
disebut mushalla. Kata ini merupakan isim makan dari shalla-yushalli-shalatan
yang artinya tempat shalat. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa setiap masjid berarti
mushalla, tetapi tidaklah semua mushalla adalah masjid. Mushalla sering disebut dengan
nama tajug, langgar, surau, meunasah dan sebagainya.

3.1.2. Fungsi Masjid.

Fungsi masjid pada masa Rasululah saw. dapat diuraikan antara lain sebagai berikut: (1)
untuk melaksanakan ibadah mahdhah seperti shalat wajib, shalat sunnah, sujud, itikaf, dan
shalat-shalat sunnah yang bersifat insidental seperti shalat 'Id, shalat gerhana, dan sebagainya;
66
(2) sebagai pusat pendidikan dan pengajaran Islam; (3) sebagai pusat informasi Islam; (4)
tempat penyelesaian perkara dan pertikaian, menyelesaikan masalah hukum dan peradilan
serta menjadi pusat penyelesaian berbagai problem yang terjadi pada masyarakat; (5) masjid
sebagai pusat kegiatan ekonomi. Yang dimaksud kegiatan ekonomi, tidak berarti sebagai
pusat perdagangan atau industri, tetapi sebagai pusat untuk melahirkan ide-ide dan sistem
ekonomi yang Islami, yang melahirkan kemakmuran dan pemerataan pendapatan bagi umat
manusia secara adil dan berimbang; (6) sebagai pusat kegiatan sosial dan politik. Kegiatan
sosial tidak bisa dipisahkan dari masjid sebagai tempat berkumpulnya para jamaah dalam
berbagai lapisan masyarakat.
Masjid merupakan pusat ibadah, dakwah dan peradaban Islam dalam sejarahnya yang
panjang, mengalami berbagai macam perubahan dan pergeseran, mulai dari perubahan yang
bersifat positif sampai pergeseran yang bersifat negatif. Selama berada dalam pergeseran yang
bersifat negatif, ia bergeser dari fungsi yang sesungguhnya sampai pada fungsi yang sangat
terbatas. Ia tidak lagi menjadi pusat dakwah dan perubahan Islam, tetapi hanya berfungsi
sebagai tempat ibadah mahdhah saja. Bila kita melakukan pengamatan secara teliti terhadap
kenyataan yang berkembang dewasa ini, pada umumnya masjid-masjid yang ada dapat
dikategorikan dalam dua bagian, yaitu (1) masjid yang sesuai dengan konsep ajaran Islam,
atau paling tidak, bisa mendekati fungsi masjid yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan
(2) masjid-masjid yang tidak sesuai lagi dengan profil mesjid yang dikehendaki ajaran Islam.

3.2. Lembaga Pendidikan Islam


3.2.1. Pengertian Lembaga Pendidikan Islam.

Lembaga menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah bakal dari sesuatu, asal mula
yang akan menjadi sesuatu, bakal, bentuk, wujud, rupa, acuan, ikatan, badan atau organisasi
yang mempunyai tujuan jelas terutama dalam bidang keilmuan. Menurut Ensiklopedi
Indonesia, lembaga pendidikan yaitu suatu wadah pendidikan yang dikelola demi mencapai
hasil pendidikan yang diinginkan. Badan pendidikan sesungguhnya termasuk pula dalam alat-
alat pendidikan, jadi badan/lembaga pendidikan yaitu organisasi atau kelompok manusia yang
karena sesuatu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan agar
proses pendidikan dapat berjalan dengan wajar.
Secara terminologi lembaga pendidikan Islam adalah suatu wadah, atau tempat
berlangsungnya proses pendidikan Islam. Lembaga pendidikan itu bersifat konkrit berupa
sarana dan prasarana dan juga bersifat yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan
peraturan-peraturan tertentu, serta penanggung jawab pendidikan itu sendiri.

3.2.2. Macam-macam Lembaga Pendidikan Islam

Lembaga Pendidikan Islam formal di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam tiga


golongan, yakni: (1) pesantren, (2) madrasah, dan (3) sekolah Islam. Dalam hal ini akan
diuraikan beberapa garis besarnya saja agar dapat dibedakan sifat dan wataknya masing-
masing, yaitu :
a. Pesantren.
Pesantren atau pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang tradisional
di Indonesia. Menurut para ahli, lembaga pendidikan ini sudah ada sebelum Islam datang
ke Indonesia. Oleh karena itu, namanya berasal dari dua kosa kata bahasa asing yang
berbeda. Pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti tempat menginap atau
asrama (Zamakhsyari Dhofier, 1983:18), sedangkan pesantren dengan awalan pe dan
akhiran an, berasal dari kata santri, bahasa Tamil yang berarti para penuntut ilmu (Yusuf
67
Amir Feisal, 1984:19) atau diartikan juga guru mengaji (Zamakhsyari Dhofier, 1983:18).
Karena makna yang dikandung oleh namanya itu, sebuah pesantren, selalu
mempertahankan unsur-unsur aslinya, yaitu: (a) pondok; (b) masjid; (c) pengajian kitab-
kitab klasik yang disebut kitab-kitab kuning; (d) santri; dan (e) kiai atau guru mengaji
(Zamakhsyari Dhofier, 1983:43). Kelima unsur ini, selalu ada dalam setiap pondok
pesantren.
b. Madrasah.
Pada permulaan abad ke-20 muncul lembaga pendidikan Islam baru yang disebut
madrasah. Perkataan madrasah berasal dari bahasa Arab darasa yang artinya belajar.
Dengan demikian, madrasah berarti tempat belajar. Lembaga pendidikan baru ini hadir di
tengah-tengah dunia pendidikan Islam di Indonesia, terutama di luar Jawa, karena berbagai
dorongan dan alasan: (1) sebagai manifestasi dan realisasi cita-cita pembaharuan dan
sistem pendidikan Islam di Indonesia; (2) sebagai salah satu usaha menyempurnakan
sistem pendidikan pesantren, yang dipandang tidak memungkinkan lulusannya
memperoleh kesempatan kerja seperti sekolah umum yang didirikan oleh pemerintah
Belanda; (3) adanya sikap sementara umat Islam yang lebih condong mengikuti sistem
pendidikan model Barat yang lebih memungkinkan (anak-anak) mereka maju dalam ilmu,
ekonomi, dan teknologi.
c. Sekolah Islam.
Lembaga pendidikan Islam ketiga ini merupakan pengembangan madrasah dengan falsafah
pendidikan yang dipengaruhi oleh ajaran Barat. Kurikulumnya lebih dekat pada kurikulum
sekolah-sekolah umum. Kendatipun predikatnya Islam, namun pelajaran Islam kurang
mendapat tempat dalam kurikulumnya. Yang diutamakan adalah persamaan status dan
pengakuan yang sama dengan sekolah umum. Antara sekolah umum dengan sekolah Islam
ini terdapat persamaan, hanya dalam pelaksanaan pengajaran agamanya saja yang berbeda.
Perkembangan yang terakhir inilah yang menyebabkan para pemikir Islam di dunia
pendidikan merumuskan kembali dasar filsafat pendidikan Islam, tujuan, materi, dan
metodenya. Pendidikan Islam sangat penting artinya bagi pembinaan umat atau masyarakat
Islam. Selain itu, juga sangat erat hubungannya dengan komunikasi, khutbah, dan dakwah.

3.2.3. Fungsi Lembaga Pendidikan Islam

Lembaga Pendidikan Islam adalah sistem norma yang didasarkan pada ajaran Islam, dan
sengaja diadakan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam. Kebutuhan itu bermacam-macam,
antara lain kebutuhan keluarga, hukum, ekonomi, politik, sosial, budaya, termasuk kebutuhan
pendidikan. Sebagai lembaga, ia mempunyai beberapa fungsi, di anataranya adalah: (1)
memberikan pedoman pada anggota masyarakat (muslim) bagaimana mereka harus
bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul dan
berkembang dalam masyarakat, terutama yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pokok
mereka; (2) memberikan pegangan kepada masyarakat dalam melakukan pengendalian sosial
menurut sistem tertentu yakni sistem pengawasan tingkah laku para anggotanya; dan (3)
menjaga keutuhan masyarakat.
Lembaga pendidikan Islam memiliki peran yang sangat fundamental dalam memberikan
berbagai ilmu pengetahuan kepada umat Islam. Oleh karena itu peran lembaga pendidikan
bukanlah sekedar mentransfer ilmu pengetahuan (knowledge), tetapi juga melakukan transfer
nilai (values) kepada setiap peserta didik. Pada era modern ini, setiap keluarga tentu
membutuhkan lembaga pendidikan yang berkualitas untuk mendidik putra-putrinya. Oleh
karena itu para pengelola lembaga pendidikan Islam harus bekerja profesional, sebab lembaga
pendidikan yang terorganisasi dengan baiklah yang bisa menjawab kebutuhan itu. Munculnya
lembaga pendidikan yang berkualitas tentu akan menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk
68
melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman, yaitu sumber
daya manusia yang tidak hanya berkualitas secara akademis, tetapi juga secara non akademis.
Melihat pentingnya lembaga pendidikan Islam dalam menyiapkan sumber daya manusia
yang berkualitas, sejak awal Rasulullah saw. telah memberikan perhatian khusus kepada
pengembangan pendidikan. Ketika pertama kali mengembangkan ajaran Islam di kota Mekah,
beliau telah menggunakan beberapa lembaga sebagai sentra pendidikan untuk mengajarkan
agama Islam. Melalui sentra-sentra pendidikan yang ada ketika itu, kaum muslimin
memperoleh berbagai pengetahuan yang menjadi modal bagi mereka untuk keluar dari
kebodohan dan penindasan orang lain. Pengetahuan-pengetahuan yang mereka peroleh itu,
kemudian mereka ajarkan kepada istri, anak, dan sanak keluarga mereka, sehingga lahirlah
sebuah komunitas muslim yang sangat kuat.
Melihat dari beberapa fungsi yang melekat pada lembaga sosial tersebut di atas, jelas
bahwa kalau seseorang hendak mempelajari dan memahami masyarakat tertentu, ia harus
memperhatikan dengan seksama lembaga yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan
(Soerjono Soekanto, 1982:193).

4. Lembaga Ekonomi Islam


4.1. Pengertian Lembaga Ekonomi Islam

Lembaga ekonomi Islam merupakan salah satu instrument yang digunakan untuk
mengatur aturan-aturan ekonomi Islam. Sebagai bagian dari sistem ekonomi, lembaga
tersebut merupakan bagian dari keseluruhan sistem sosial. Oleh karenanya, keberadaannya
harus dipandang dalam konteks keseluruhan keberadaan masyarakat, serta nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

4.2. Macam-macam Lembaga Ekonomi Islam

4.2.1. Ziswaf (Zakat, Infak, Shadaqah, dan Wakaf)


a. Zakat.
Zakat adalah pembayaran sejumlah harta tertentu kepada mustahik, yaitu orang atau
badan menurut ketentuan secara khusus. Zakat ada dua macam, yaitu : (1) zakat fitrah,
yaitu pembayaran sejumlah harta dalam bentuk makanan pokok kepada mustahik pada
hari raya 'Idul Fitri. Zakat fitrah berorientasi pada pensucian jiwa dari sifat-sifat buruk
sebagai rasa syukur atas nikmat Allah dan menumbuhkan kepekaan sosial untuk menjalin
solidaritas sosial; dan (2) zakat mal, yaitu pembayaran sejumlah harta kepada mustahik
atas nikmat harta yang dikaruniakan oleh Allah yang telah mencapai nishab.
b. Infak.
Infak secara umum infak adalah mempergunakan harta yang dikaruniakan Allah menurut
ketentuan syariah Islam. Secara khusus, infak adalah mempergunakan sebagian harta
untuk kepentingan Islam.
c. Shadaqah.
Shadaqah adalah mempergunakan sebagian harta untuk diberikan kepada umat Islam
yang membutuhkan bantuan, seperti fakir dan miskin. Disamping sebagai rasa syukur
kepada Allah atas rizki yang dikaruniakan Allah, shadaqah juga sebagai bentuk
kepedulian sosial kepada orang yang kekurangan dan membutuhkan bantuannya.
d. Wakaf.
Wakaf adalah menyerahkan harta untuk diambil manfaatnya bagi kepentingan umat Islam
dengan tetap mempertahankan kelestarian harta pokok wakafnya. Pada umumnya wakaf
berupa harta tidak bergerak, tetapi dalam perkembangannya wakaf juga dapat dilakukan
dalam bentuk wakaf tunai berupa uang.
69
4.2.2. Bank Perkreditan Rakyat Syariah

Menurut undang undang (UU) perbankan No. 7 tahun 1992, BPR adalah lembaga
keuangan yang menerima simpanan uang hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan.
Pada UU perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adalah lembaga keuangan
bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip
syariah. Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip syariah tertuang pada surat
direksi Bank Indosnesia No. 32/36/KEP/ tentang Bank Perkreditan Rakyat berdasarkan
prinsip syariah tanggal 12 Mei 1999. Dalam hal ini pada teknisnya BPR syariah beroperasi
layaknya BPR konvensional namun menggunakan prinsip syariah.

4.2.3. Bank Syariah

Istilah bank tanpa bunga sebenarnya dapat memberikan konotasi yang berbeda dari
esensi bank syariah. Istilah tanpa bunga sering diasosiasikan dengan tanpa biaya (no interest)
yang sebenarnya tidak tepat. Oleh karena itu sebaiknya kita pakai saja istilah bank bagi hasil
yang juga dipakai bank Indonesia atau tepatnya bank syariah. Bank syariah merupakan sebuah
lembaga keuangan yang berdasarkan hukum Islam yang merupakan sebuah lembaga baru
yang amat penting dan strategis peranannya dalam mengatur perekonomian dan
mensejahterakan umat Islam.
Cara beroperasi bank syariah ini hakikatnya sama dengan bank konvensional biasa,
yang berbeda hanya dalam masalah bunga dan praktik lainya yang menurut syariah Islam
tidak dibenarkan. Bank syariah memang tidak menggunakan konsep bunga seperti bank
konvensional lainnya, namun bukan berarti bank syariah tidak mengenakan beban kepada
mereka yang menikmati jasanya. Beban tetap ada namun konsep dan cara perhitungannya
tidak seperti perhitungan bunga dalam bank konvensional.

4.2.4. Asuransi Syariah

Pengertian asuransi syariah menurut fatwa DSN-MUI adalah usaha saling melindungi
dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset
atau tabarru' memberikan pola pengembalian resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan
syariah.

4.2.5. Pegadaian Syariah

Pegadaian syariah dalam hukum Islam berjalan di atas dua akad transaksi syariah yaitu:
a. Akad Rahn. Secara istilah, rahn berarti menjadikan sesuatu barang yang berharga sebagai
jaminan hutang dengan dasar bisa diambil kembali oleh orang yang berhutang setelah dia
mampu menebusnya.
b. Akad Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa melalui
pembayaran upah sewa. Melalui akad ini dimungkinkan bagi penggadai untuk menarik
sewa atas penyimpanan barang yang berharga milik nasabah yang telah melakukan akad.

4.2.6. BMT atau Baitul Mal wa Tamwil

BTM terdiri dari dua istilah yaitu baitul mal dan baitul tamwil. Baitul maal lebih
mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat,
infak dan shadaqah, sedangkan baitul tamwil sebagai usaha pengumpulan dana dan
70
penyaluran dana komersial. Baitul Maal wal Tamwil (BMT) atau Usaha Mandiri Terpadu,
adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh
kembangakan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta
membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari
tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salaam:
keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan. BMT bersifat terbuka,
independen, tidak partisan, berorientasi pada pengembangan tabungan dan pembiayaan untuk
mendukung bisnis ekonomi yang produktif bagi anggota dan kesejahteraan sosial masyarakat
sekitar, terutama usaha mikro dan fakir miskin.

4.3. Fungsi Lembaga Ekonomi Islam


Fungsi semua lembaga Islam di Indonesia sebetulnya sama saja, termasuk fungsi
lembaga ekonomi itu sendiri, yaitu sebagai sistem norma yang didasarkan pada ajaran Islam,
dan sengaja diadakan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam. Kebutuhan itu bermacam-
macam, antara lain kebutuhan keluarga, pendidikan, hukum, politik, sosial, budaya maupun
kebutuhan ekonomi. Sebagai lembaga, ia mempunyai beberapa fungsi, di antaranya adalah :
(1) memberikan pedoman pada anggota masyarakat (muslim) bagaimana mereka harus
bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul dan
berkembang dalam masyarakat, terutama yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pokok
mereka; (2) memberikan pegangan kepada masyarakat bersangkutan dalam melakukan
pengendalian sosial menurut sistem pengawasan tingkah laku para anggotanya; dan (3)
menjaga keutuhan masyarakat. Hanya saja yang membedakan antara lembaga Islam yang satu
dengan lembaga Islam yang lain adalah konsentrasinya. Lembaga ekonomi Islam tentu saja
lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan ekonomi Islam di
Indonesia, begitu juga dengan lembaga Islam yang lainnya.

5. Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

5.1. Persatuan

Persatuan adalah gabungan (ikatan, kumpulan dan sebagainya) beberapa bagian yang
sudah bersatu. Dalam persatuan itu bisa saja banyak hal yang berbeda seperti perbedaan
agama, suku bangsa, bahasa daerah, adat istiadat, agama dsb bersatu dalam suatu wadah.
Wadah itu bisa umpamanya organisasi, kumpulan pada suatu lembaga pendidikan, pada suatu
wilayah umpamanya tingkat RT, Kelurahan, Kecamatan, dan bisa dalam satu negara. Contoh
persatuan adalah apa yang kita pupuk dan kembangkan secara terus menerus di negara kita
Indonesia ini. Dalam keaneka-ragaman kita bersatu dalam suatu negara, Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Kita bersatu diikat oleh komitmen bersama: Satu nusa, satu
bangsa, satu bahasa (Indonesia). Semboyan kita Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tapi
tetap satu). Satu negara, satu bangsa, satu bahasa, bersatu mengisi kemerdekaan, membangun
bersama dengan tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menciptakan negara
adil dan makmur yang merata.
Al-Quran memerintahkan persatuan dan kesatuan, karena pada hakikatnya manusia
adalah umat yang satu. Arti umat adalah kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, baik
persamaan tempat, wilayah, waktu, bahasa, agama, atau mungkin satu keturunan. Dalam QS.
21 (Al-Anbiya) : 92 Allah berfirman, yang artinya :

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku
adalah Tuhanmu,maka sembahlah Aku (QS.21:92).
71
Walaupun Al-Quran mengakui adanya kelompok, suku, dsb, namun Al-Quran juga
mengisyaratkan bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan sifat dapat digabungkan ke dalam
satu wadah. Dalam konteks paham kebangsaan, Rasulullah saw memasukkan sahabatnya
Salman Al-Farisi dari Persia, Suhaib dari Rumawi, dan Bilal dari Ethiopia ke dalam kelompok
orang Arab. Jumlah anggota satu ummat tidak dijelaskan oleh Al-Quran. Ada yang
berpendapat minimal empat puluh orang atau seratus orang. Tetapi Al-Quran pun
menggunakan kata ummat bahkan untuk seseorang yang memiliki sekian banyak
keistimewaan atau jasa, yang biasanya hanya dimiliki oleh banyak orang. Nabi Ibrahim a.s.
misalnya disebut sebagai umat oleh Allah dalam QS. 16 (Al-Nahl) : 120 yang artinya:

"Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada
Allah, hanif, dan tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan (Tuhan)" (QS.16:120).

Kalau demikian, dapat dikatakan bahwa makna kata ummat dalam Al-Quran sangat
lentur, dan menyesuaikan diri. Tidak ada batas minimal atau maksimal untuk suatu persatuan.
Al-Quran juga menjelaskan bahwa manusia mulanya memang berasal dari satu keturunan,
dan kemudian berkembang menjadi golongan-golongan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Tuhan menghendaki adanya bangsa-bangsa, dengan proses yang dilakukan umat manusia
yang secara sepakat ingin bersatu menjadi suatu golongan dari yang terkecil hingga terbesar.
Dalam QS. 49 (Al-Hujurat) : 13 Allah berfirman yang artinya :

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal" (QS.49:13).

Al-Quran mengakui manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.


Manusia berasal dari satu pasang kemudian berkembang biak, lalu berkelompok-kelompok,
berbangsa-bangsa, menurut suku, wilayah, dan bisa menurut ras dsb. Tetapi dalam
bertanggung jawab kepada Allah tentang amal perbuatannya adalah secara individu. Dalam
QS 49:13 tersebut dijelaskan bahwa Tuhan memandang tinggi rendahnya derajat martabat tiap
orang tergantung pada tingkat takwa masing-masing individu. Dasar kemuliaan manusia
bukan keturunan, suku, atau jenis kelamin, tetapi ketakwaannya kepada Allah. Tanggung
jawab individual manusia tersebut dijelaskan dalam QS. 2 (Al-Baqarah) : 286 yang artinya :

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat


pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya ......."(QS.2:286).

5.2. Kerukunan

Bermacam-macam suku, golongan, bahasa, etnis, ras, kulit, adat istiadat manusia
merupakan salah satu bentuk dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Hal tersebut ditegaskan dalam
QS. 30 (Al-Rum) : 22 yang artinya :

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-
lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (QS.30:22).
72
Pengelompokan dalam suku bangsa tidak boleh menyebabkan fanatisme buta, apalagi
menimbulkan sikap superioritas, dan pelecehan. Harmoni sosial hanya akan terwujud apabila
masing-masing anggota masyarakat saling menghargai dan menghormati.
Agama Islam adalah agama damai. Dari arti etimologisnya Islam artinya selamat,
damai, sejahtera dan berserah diri (kepada Tuhan Yang Maha Esa). Kita tidak ingin
mengganggu pemeluk agama lain, baik dengan cara memaksa, atau menghalang-halangi
mereka dalam menjalankan agamanya. Sebaliknya kita pun tidak ingin diganggu pemeluk
agama lain. Inilah hakikat kedamaian. Kita bersikap toleransi terhadap semua umat sebagai
satu umat manusia. Tetapi tidak dalam arti kita mencampur-adukkan ajaran-ajaran agama
dalam satu paham sinkretisme. Kita masing-masing tetap dalam agama, kepercayaan dan
sistem pengamalan agama kita masing-masing. Dalam QS. 109 (Al-Kafirun) : 1-6 Allah
menegaskan yang artinya :

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,


2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."(QS.109:1-6).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, kita menemukan keragaman dalam berbagai bidang,


seperti suku bangsa, bahasa daerah, adat istiadat, budaya, warna kulit dan sebagainya, tapi
kita sepakat untuk bersatu membentuk suatu bangsa yang besar, Bangsa Indonesia dalam
suatu Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Meski kita berbeda bahasa daerah, tapi kita
sepakat untuk mempergunakan satu bahasa nasional Bahasa Indonesia. Kita terikat dalam
suatu kesepakatan bersama untuk membangun suatu negara kesatuan dengan semboyan
Bhineka Tunggal Ika. Meski kita berbeda tapi tetap satu. Kita bersatu dalam keberagaman.

5.3. Islam dan Toleransi

Kata toleransi berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti bertahan atau memikul.
Toleran disini diartikan saling memikul walaupun pekerjaan itu tidak di sukai, atau
memberikan tempat kepada orang lain, walaupun kedua belah pihak tidak sependapat
(Siagian, 1993:115). Dengan demikian, toleransi menunjuk pada adanya suatu kerelaan untuk
menerima kenyataan adanya orang lain yang berbeda. Menurut Wabstes New Amarica
Dictionary, arti toleransi adalah liberty toword the option others, patients with other
(memberikan kebebasan (membiarkan) pendapat orang lain berlaku sabar menghadapi orang
lain). Toleransi diartikan memberikan tempat kepada pendapat yang berbeda. Pada saat
bersamaan sikap menghargai pendapat yang berbeda itu disertai dengan sikap menahan diri
atau sabar. Oleh kerena itu, diantara orang-orang yang berbeda pendapat harus
memperlihatkan sikap yang sama, yaitu saling menghargai dengan sikap yang sabar.
Persamaan kata toleransi dalam bahasa Arab adalah kata tasamuh. Tasamuh dalam
bahasa Arab berarti membiarkan suatu untuk dapat saling mengizinkan dan saling
memudahkan. Dari kata tasamuh tersebut dapat diartikan agar diantara mereka yang berbeda
pendapat hendaknya bisa saling memberikan tempat dalam berpendapat. Masing-masing
kelompok yang berbeda pendapat memperoleh hak untuk mengembangkan pendapat dan
tidak saling menjegal satu sama lain.
Dari beberapa pendapat di atas toleransi dapat diartikan sebagai sikap menenggang,
memberikan, membolehkan, baik berupa pendirian, kepercayaan, dan kelakuan yang dimiliki
73
seseorang atas yang lainnya. Dengan kata lain toleransi adalah sikap lapang dada terhadap
prinsip-prinsip orang lain. Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan
atau prinsip yang di anutnya. Dalam toleransi sebaliknya tercermin sikap yang kuat atau
istiqomah untuk memegang keyakinan atau pendapat sendiri.
Toleransi adalah suatu sikap menenggang rasa dengan menghargai, membiarkan atau
membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan orang lain
yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Sikap ini perlu dan penting dimiliki
setiap orang, kelompok, golongan yang hidup dalam masyarakat yang pluralistik (yang terdiri
dari berbagi suku, agama, budaya, bahasa, kebiasaan, adat-istiadat) seperti halnya dalam
masyarakat kita di Indonesia. Semboyan yang merekat kehidupan kita menjadi satu bangsa
yang bersatu Bhineka Tunggal Ika sangat sesuai dengan jiwa dan sikap hidup bertoleransi
ini.
Dalam setiap agama, begitu juga dalam Islam kehidupan toleransi sangat dianjurkan.
Anjuran ini dapat kita petik dari berbagai ayat Al-Quran antara lain:
1. Manusia diciptakan oleh Allah mulanya dari satu pasang kemudian berkembang biak dan
dijadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar satu sama yang lain saling kenal
mengenal, dan berlomba meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Karena kemuliaan
yang hakiki disisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. Firman Allah dalam QS. 49
(Al-Hujurat) : 13 menegaskan, yang artinya :

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnnya orang yang paling mulia diantara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu, Seungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS.49:13).
2. Tidak boleh dan tidak seyogyanya seseorang atau satu golongan manusia menghina,
mencela, mencemooh memperolok-olok orang lain. Boleh jadi yang dicemooh lebih baik
dari yang mencemooh, seperti yang diingatkan oleh Allah dalam QS. 49 (Al-Hujurat) : 11
yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-
olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita yang lain (karena boleh
jadi) wanita-wanita yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-
olok)(QS.49:11)
3. Dalam kehidupan beragama tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti agama
yang dianutnya. Dalam QS. 2 (Al-Baqarah) : 256 Allah mengingatkan yang artinya :

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui" (QS.2:256).
4. Sekalipun Allah telah menurunkan agama Islam sebagai agama yang benar dan agar umat
manusia mengimaninya, tetapi Allah memberi kebebasan kepada umat manusia sebagai
pertanggungjawaban pribadi, apakah ia mau beriman kepada Allah atau mau kufur
kepada-Nya. Hal tersebut ditegaskan dalam QS. 18 (Al-Kahfi) : 29 yang artinya:

"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang
ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia
74
kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang
gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan
diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah
minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek" (QS.18:29).

Toleransi secara aktif adalah sikap turut serta merasakan perasaan atau pikiran yang
sama dengan orang atau kelompok lain, seperti ikut serta merasakan sedih dan turut
belasungkawa atas bencana, musibah yang menimpa tetangga, kenalan, sahabat, tanpa
membedakan agama, suku, golongan dsb. Sebagai sesama manusia, kita merasakan perasaan
tetangga itu. Begitu juga kalau ada tetangga yang kekurangan, yang mengalami kesulitan
dalam hidup. Setiap agama mengajarkan sikap toleransi. Nabi Muhammad mengatakan:
Tidak beriman seseorang yang tidur kenyang sedang tetangganya tidak bisa tidur karena
lapar.
Toleransi dalam sikap pasif bisa berarti memberikan kebebasan (membiarkan) orang
lain untuk melakukan kesukaannya sesuai dengan bakat, kesenangan, pekerjaan, hobby, adat
istiadat, atau mungkin menjalankan ajaran agamanya. Akan tetapi perlu diingat bahwa batas-
batas kebebasan melakukan sesuatu dalam rangka bertoleransi hendaklah memperhatikan
kebebasan orang lain. Seorang pemuda yang senang musik umpamanya ia bebas untuk
menyetel musik yang ia sukai, tetapi kebebasannya terbatas dengan kebebasn orang lain yang
sedang membutuhkan ketenangan, umpamanya sedang belajar, sedang tidur dsb.
Dalam sejarah kehidupan umat Islam sikap toleransi telah diletakakan pada saat awal
Nabi Muhammad saw. membangun Negara Madinah. Nabi melihat adanya pluralitas yang
terdapat dikota Madinah. Pluralitas yang dihadapi Nabi antara lain tidak hanya karena
perbedaan etnis semata, tetapi juga perbedaan yang disebabkan agama. Madinah tidak besifat
homogen dengan agama, tetapi di Madinah disamping sebagian penduduknya beragama
Islam, terdapat pula penduduk yang bergama Yahudi bahkan Watsani. Melihat pluralitas
keagamaan ini Nabi berinisiatif untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan bangsa
yang berbeda agama. Inisiatif itu kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan Piagam
Madinah. Dalam pandangan Nurholish Madjid (1992:195) Piagam Madinah merupakan
dokumen politik resmi pertama yang meletakkan prinsip kebebasan beragama dan berusaha.
Bahkan sesungguhnya Nabi menjamin keamanan ummat non Islam dimana saja, sepanjang
masa, sepanjang mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Contoh lain dari wujud toleransi Islam terhadap agama diperlihatkan oleh Umar Ibn al-
Khaththab. Umar Ibn al-Khaththab membuat pernjanjian dengan penduduk Yerusalem setelah
kota suci itu ditaklukan oleh kaum muslimin. Isi perjanjian tersebut antara lain berbunyi: Ia
(Umar) menjamin mereka keamanan untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja
dan salib-salib mereka, serta yang dalam keadaan sakit ataupun sehat, dan untuk beragama
secara keseluruhan. Gerejagereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, tidak
akan dikurangi sesuatu apapun dari garejagareja itu dan tidak pula dari lingkungannya.
Kebijakan politik yang dilakukan baik Nabi maupun Umar diatas tentu dengan dasar-
dasar pijakan yang terdapat dalam QS. 2 (Al-Baqarah) : 256 yang artinya:

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan
beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS.2:256).

Di dalam QS. 18 (Al-Kahfi) : 99 Allah juga berfirman yang artinya:

75
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin
(beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia
kafir".....(QS.18:99).

Dalam QS. 10 (Yunus) : 99 Allah menjelaskan yang artinya :

"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi
seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-
orang yang beriman semuanya?(QS.10:99).

Ayatayat terebut menjadi dasar tentang adanya kebebasan manusia untuk menentukan
pilihan atas agama. Prinsipprinsip itulah yang seharusnya menjadi dasar kebijakan politik
umat Islam pada zaman modern ini, sebagaimana prinsip-prinsip kebebasan beragama yang
terjadi pada zaman klasik, tetapi hal itu kelihatannya jauh dari kenyataan saat ini. Dalam
hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat Islam
berbuat baik dan bertindak adil dengan siapapun yang tidak memerangi umat Islam. Islam
mengutamakan terciptanya suasana perdamaian. Adanya kerjasama yang baik antara umat
Islam dengan umat bergama lain tidakkah menjadi halangan dalam Islam. Kedaan demikian
digambarkan dalam QS. 9 (Al-Taubah) : 6 yang artinya :

"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu,
maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia
ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui
(QS.9:6).

Dalam QS. 60 (Al-Mumtahanah) : 7-8 secara tegas Allah juga menjelaskan, bahwa
sikap toleran umat Islam dapat menimbulkan rasa simpati umat non Islam, dan hal itu bisa
memotivasi lahirnya iman di dalam dada mereka, sebagaimana firman-Nya yang artinya:

(7).Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang


kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
(8).Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS.60:7-8).

Seiring arti toleransi di atas yaitu memberikan tempat kepada orang yang berbeda
agama, tidak berarti mengakuai kebenaran semua agama. Toleransi tidak dapat diartikan
melakukan pembenaran semua agama dan tidak pula diartikan kesedian untuk mengikuti
ibadah-ibadah agama lain. Allah telah menentukan bahwa agama yang diridhoi di sisi-Nya
hanyalah agama Islam. Antara agama Islam dengan agama kenabian mungkin ditemukan
adanya persamaan, tidak ada perbedaan dalam beberapa hal, yang menurut keyakinan Islam,
hal itu karena semula agama tersebut juga berasal dari Allah, tetapi dalam perkembangan
terjadi campur tangan manusia. Begitu pula agama Islam dan agama bukan kenabian,
kemungkinan terdapat persamaan, terutama dalam ajaran moralnya, karena akal budi manusia
bisa sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang sejalan dengan wahyu. Islam merupakan
agama fitrah, yang mampu dikenali dalam ajaran kemanusiaannya dengan pikiran dan hati
nurani yang jernih. Itulah sebabnya, Islam berkali-kali menegaskan untuk menegakkan yang
maruf dan mencegah yang munkar, yang mampu dikenali dengan potensi diri manusia yang
jernih, seperti perintah Allah dalam QS. 3 (Ali Imran) : 104 yang artinya :
76
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung (QS.3:104).

Toleransi harus dibedakan dari kompromisme, yaitu menerima apa saja yang dikatakan
orang lain asal bisa menciptakan kedamaian dan kerukunan, atau saling memberikan dan
menerima demi tercapai kebersamaan. Kompromisme tidak dapat diterapkan dalam
kehidupan beragama. Kompromisme dalam beragama akan melahirkan corak keagamaan
yang sinkretik. Nabi saw pernah diminta kaum musyrik Mekah ikut melakukan ibadah
menurut ajaran mereka, dan mereka secara bergiliran akan melakukan peribadahan menurut
ajaran yang disampaikan oleh Nabi, yaitu Islam. Menghadapi ajakan kaum musyrik tersebut
Allah menurunkan wahyu dalam QS. 109 (Al-Kafirun) : 1-6 yang artinya:

(1). Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,


(2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
(3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
(4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
(5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
(6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."(QS.109:1-6).

Betapun baiknya ajaran Islam tentang bagaimana seharusnya ummat Islam bersikap
terhadap kaum agama lain, tetapi BILA menyangkut pelaksanaan ibadah tidak terjadi
kompromi di dalamnya. Ibadah adalah kekhasan hubungan manusia dengan Allah, dan hanya
Allah sendiri yang mengetahui cara yang harus dilakukan umat manusia untuk beribadah
kepada Allah, Tuhannya tersebut. Karena itu umat manusia harus mengikuti cara-cara yang
telah diperintahkan oleh Allah.

5.4. Kerukunan Umat Beragama Dengan Pemerintah

Dalam QS. 4 (Al-Nisa) : 59 secara tegas Allah memerintahkan mentaati Ulil Amri
disamping taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan firman-Nya yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(QS.4:59).

Pemerintah adalah orang yang diberikan amanah, kepercayaan untuk memimpin agar
tercipta kehidupan yang harmonis, yang aman, yang sejahtera, yang dilindungi oleh Allah
sebagaimana digambarkan dalam QS. 34 (Saba) : 15 yang artinya:

"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka
yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan):
"Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu
kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha
Pengampun"(QS.34:15).

77
Program-program Pemerintah tidak akan dapat berjalan dengan baik kalau tidak didukung
oleh rakyat. Begitu pula sebaliknya, keinginan dan usaha rakyat juga tidak akan membuahkan
hasil dengan baik kalau tidak didukung oleh Pemerintah. Karena itu diperlukan kebersamaan
antara rakyat dengan Pemerintah untuk menciptakan kehidupan yang aman, sentosa, makmur,
dan memperoleh ampunan Allah.

6. Pengembangan Budaya, Seni, dan Iptek Berdasar Ajaran Agama Islam

6.1. Pengembangan Budaya Islam


6.1.1. Pengertian Budaya Islam

Budaya atau kebudayaan atau kultur menurut definisi Sir Edward B. Taylor dari
pertengahan abad ke-19 adalah Keseluruhan kompleks yang terbentuk di dalam sejarah dan
diteruskan dari angkatan ke angkatan melalui tradisi yang mencakup organisasi sosial:
ekonomi, agama, kepercayaan, kebiasaan, hukum, seni, teknik dan ilmu. Dari definisi ini
dapatlah disimpulkan bahwa kebudayaan dapat mencakup rohani dan maddi (material), baik
potensi-potensi, maupun keterampilan (Inggr: technique; Yun: technikos, dari techne =
keterampilan, kepandaian membuat/mencapai sesuatu). Kebudayaan selalu bersifat sosial,
karena tidak ada kebudayaan perseorangan, melainkan selalu meliputi sekelompok manusia:
suku, sukubangsa, dan bangsa (nation). Kebudayan juga mengalami evolusi, dan perubahan
dari masa ke masa. Maka kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah, perkembangan ilmu dan
kreasi manusia (berevolusi dan historic). Dalam pengertian sempit ada yang membatasi
dengan seni dan ilmu. Di dalam arti ini orang berbudaya adalah orang yang berilmu dan
mencintai seni. (lih. Ensiklopedi Indonesia, Van Hoeve, Jilid 1, hal 531-532).
Islam sebagai agama sempurna yang seimbang antara mementingkan kehidupan akhirat
dan tak melupakan dunia, sangat membuka luas upaya manusia dalam menciptakan berbagai
kreasi, berbagai bentuk dan warna budaya untuk kemakmuran hidup di dunia ini. Dalam
Kerangka Dasar Ajaran Islam atau ruang lingkup ajaran agama Islam, bidang ini
dikategorikan sebagai muamalah. Islam menghargai budaya yang muncul dari berbagai
masyarakat sebagai suatu kekayaan peradaban. Tradisi-tradisi, adat istiadat, dan aturan-aturan
yang mewarnai prilaku masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tidak dilarang
selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah.
Banyak kita temukan bentuk yang sama dan juga berbeda dalam perikehidupan kaum
muslimin di berbagai belahan bumi, umpamanya: mode pakaian, bahasa, masakan dan
makanan, adat istiadat, sistem pendidikan, hukum, ekonomi, dan tata cara pergaulan sehari-
hari, pemerintahan, penciptaan alat-alat tradisional maupun modern, dsb. Dalam
perkembangannya, ada diantaranya yang tetap mempertahankan budaya lama, dan ada lagi
yang berubah, dan kadang berakulturasi antara berbagai budaya masyarakat. Justru Islam
menganjurkan agar dalam menciptakan kemajuan-kemajuan peradaban, sebagai bagian dari
budaya manusia, berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan terunggul. Dalam QS.2
(Al-Baqarah) : 148 Allah berfirman yang artinya:

....Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. (QS.2:148).

6.1.2. Ruang Lingkup Budaya Islam

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw memang turun dan berkembang
bermula di Jazirah Arab. Juga, baik Nabi Muhammad saw sendiri maupun sumber ajaran
78
Islam, Al-Quran dan Sunnah dengan berbahasa Arab. Contoh-contoh kasus, seperti jenis
makanan, cara makan-minum, berpakaian, kendaraan, tata cara kehidupan banyak yang khas
Arab dan dikemukakan dalam tataran kehidupan di zaman Nabi hidup, abad ke-6 dan ke-7 M.
Tidak dapat disangkal, beberapa corak budaya Arab, sedikit banyak ada pengaruhnya
terhadap kehidupan masyarakat muslim di berbagai belahan bumi. Malah ada pula kelompok
masyarakat yang ingin meniru sedekat-dekatnya tata-cara kehidupan sehari-hari seperti Nabi
yang khas Arab itu. Sebagai contoh untuk meniru Nabi, orang memakai jubah, surban,
memelihara jenggot, dsb. Apakah boleh? Tentu ya. Tetapi Nabi sendiri mengatakan bahwa
hal-hal yang berkaitan dengan agama, seperti soal akidah dan ibadah, kepadanyalah kita
merujuk dan meniru, tapi dalam masalah dunia, yang erat kaitannya dengan budaya dan
peradaban yang lebih berdimensi urusan dunia, dia mengatakan, Anda lebih tahu tentang
dunia Anda. Tentulah Nabi tahu akan sifat budaya dan peradaban dari masa ke masa, dari
suatu tempat ke tempat lain, memang selalu berubah dan terus berkembang, sehingga karakter
agama kita yang menghendaki kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan, tidak mau
membelenggu umat yang memiliki sifat berubah dan berkembang.
Al-Quran memiliki kata-kata, kalimat-kalimat dengan istilah yang kaya makna. Suatu
kata umpamanya telah ditemukan maknanya di suatu zaman, tapi di zaman lain, makna itu,
dapat berubah dan berkembang. Sebagai contoh kita ambil, kata: sayyaroh (dulu artinya
kafilah, atau para pelancong yang berkelompok-kelompok, kini artinya mobil yang jenisnya
sangat banyak); sulthon (yang dulu artinya kekuasaan, atau penguasa, kini ada yang
mengartikannya sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek. Qalam yang dulu artinya
pena, kini ada yang mengartikannya sebagai teknologi informasi, atau apa saja media alat
menyebarkan ilmu pengetahuan dan informasi.

6.1.3. Perspektif Al-Quran dan Sunnah Tentang Budaya Islam

a. Ayat-ayat Al-Quran Tentang Budaya Islam

Salah satu unsur budaya yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat adalah
bahasa. Al-Quran yang diturunkan dengan bahasa Arab, selain memang kitab ini sangat kaya
makna, juga mengandung keindahan sastra, mudah dihafal dan enak didengar. Jutaan orang
menyimpan mushafnya, dan setiap orang muslim belajar membacanya, menghafalnya
sebagian atau seluruhnya, dan ada pula oang-orang yang secara khusus menggali makna,
terjamahan, tafsir dan takwilnya. Dalam QS.39 (Al-Zumar) : 28 Allah berfirman yang artinya:

(ialah) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya
mereka bertakwa. (QS. 39:28).

Setiap orang dalam masyarakat dituntut untuk berbudaya, berkreasi menciptakan hal-hal
yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Budaya yang baik dalam Islam dikenal
sebagai amal shalih. Amal saleh tidak terbatas pada ibadah saja, bahkan segala perbuatan,
aktivitas, kreasi, ciptaan-ciptaan seni berupa sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat adalah
amal shalih. Dalam QS. 16 (Al-Nahl) : 97 Allah berfirman yang artinya:

Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.16:97)

79
Dalam istilah lain budaya di dalam Al-Quran dikenal dengan kasab (usaha, perbuatan,
tindakan, perkataan, kreasi, dsb). Dalam QS.2 (Al-Baqarah) : 286 Allah berfirman yang
artinya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat


pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya.(QS.2:286)

Kasab bisa berupa perbuatan (budaya) yang baik dan bermanfaat, dan bisa pula berupa
perbuatan (budaya) yang buruk. Budaya buruk seperti ketidak pedulian pada lingkungan,
membabat hutan semena-mena, membuang sampah sembarangan, dsb. Dalam QS.30 (Al-
Rum) :41 Allah mensinyalir masalah tersebut, yang artinya:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41).

Berbudaya di dalam Al-Quran juga dikenal sebagai mustamir (pemakmur), beramal dan
berbuat berbagai hal serta menciptakan alat-alat (teknologi) untuk memakmurkan bumi,
sebagaimana firman Allah dalam QS. 11 (Hud): 61 yang artinya:

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena
itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku
amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS.11:61)

b. Sunnah Rasulullah saw Tentang Budaya Islam

Budaya adalah usaha, perbuatan, perkataan, tindakan, ciptaan, kreasi, yang telah
menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Nabi saw mengingatkan, yang artinya:

"Allah menyenangi pekerja, yang melakukan pekerjaannya dengan baik (HR. Ath-Thabrani).

Budaya dan kebiasaan bertegur sapa menurut Sunnah Nabi Muhammad saw dijelaskan, yang
artinya:

"(Agar kiranya) yang muda memberi salam kepada yang tua (lebih besar), yang berjalan
kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak. (HR. Muttafaq 'alaih).

Budaya memakai tangan kanan. Suatu hal yang perlu dipertahankan dan dididikkan kepada
anak-anak dan keluarga, supaya dalam memberi, menerima dan melakukan hal-hal yang baik
dan terpuji dilakukan dengan memakai tangan kanan sebagaimana sabda Rasulullah saw yang
artinya:

"Jika Anda makan, makanlah dengan tangan kanan, minum dengan tangan kanan,
mengambil dengan tangan kanan, dan memberi dengan tangan kanan. (HR. Al-Hasan bin
Saifan)

Budaya saling menolong dan menghargai pertolongan perlu terus dipertahankan dan dalam
ragka ini budaya saling mengungkapkan rasa terima kasih juga demikian, sebagaimana sabda
Rasulullah saw yang artinya:
80
Bercerita tentang nikmat Allah adalah kesyukuran, mendiamkannya adalah kekufuran.
Siapa yang tidak bersyukur yang sedikit, dia tak bersyukur yang banyak. Siapa tak bersyukur
(berterimakasih) kepada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat,
bercerai adalah azab (siksa) (HR. Baihaqy).

6.1.4. Konsep Pengembangan Budaya Islam


a. Tujuan Pengembang Budaya Islam

Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memasuki agama kita, karena memang tidak
ada paksaan dalam beragama. Akan tetapi kebiasaan-kebiasaan umat Islam dalam
melaksanakan agamanya dengan baik, akan menjadi daya tarik yang kuat bagi umat lain
untuk sekurang-kurangnya bersimpati kepada agama Islam. Banyak hal yang khas dari
budaya Islam yang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Budaya mudik pada hari
lebaran umpamanya, adalah khas budaya Islam Indonesia. Budaya-budaya lain seperti
bersalam-salaman, menerima tamu dengan ramah, murah senyum, dan saling memaafkan,
agar tetap dipertahankan sebagai budaya yang mulia.
Budaya meliputi juga ilmu dan seni perlu ditingkatkan dan dikembangkan supaya
menjadi sistem pergaulan yang baik dalam masyarakat. Dalam mengembangkan budaya,
agama Islam tidak menutup kesempatan untuk saling menerima dan memberi dengan
perilaku, adat istiadat yang telah ada dalam masyarakat. Selama hal itu tidak merusak akidah
dan ibadah, kita tidak menutup diri untuk menerima budaya itu sebagai bagian dari tata hidup.
Justru salah satu maksud dari pengembangan budaya Islam adalah untuk menghapus dan
membebaskan umat dari perilaku syirik umpamanya, atau melenyapkan budaya-budaya yang
dilarang dan bertentangan dengan agama Islam.

b. Ketentuan Dalam Pengembangan Budaya Islam

Islam dapat menerima seluruh hasil karya manusia selama sejalan dengan ajaran Islam.
Namun demikian, perlu kehati-hatian dalam menginterpretasi ajaran Islam dibidang budaya
agar disatu sisi tidak menimbulkan kesulitan, dan disisi lain tidak terjebak dalam persoalan
subhat. Dalam konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa Al-Quran memerintahkan kaum
muslimin untuk menegakkan kebajikan, memerintahkan perbuatan maruf (hal yang sudah
dekenal oleh orang banyak sebagai kebaikan) dan mencegah perbuatan mungkar (hal yang
berlawanan dengan kebaikan). Maruf merupakan budaya masyarakat yang sejalan dengan
nilai-nilai agama Islam, sedangkan mungkar adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan
ajaran Islam.
Dari sini, hendaknya setiap muslim memelihara nilai-nilai budaya yang maruf dan
sejalan dengan ajaran Islam, dan ini akan mengantarkan mereka untuk memelihara hasil seni
budaya setiap masyarakat yang bermanfaat. Seandainya terdapat pengaruh yang negatif dan
dapat merusak adat-istiadat serta kreasi seni dari suatu masyarakat, maka kaum muslimin
daerah itu harus tampil mempertahankan maruf yang diakui oleh masyarakatnya, serta
membendung setiap usaha, dari manapun datangnya, yang dapat merongrong maruf tersebut.
Bukankah Al-Qur'an memerintahkan untuk menegakkan yang maruf dan mencegah yang
munkar sebagaimana disebutkan dalam QS. 9 (Al-Taubah) : 71 yang artinya:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang munkar. (QS 9:71).

81
Islam dengan demikian sangat menghargai segala kreasi manusia, termasuk kreasi
manusia yang lahir dari penghayatan rasa manusia terhadap seluruh wujud ini, selama kreasi
tersebut sejalan dengan fitrah kesucian jiwa manusia.

6.1.5. Kegunaan Budaya Islam

Adakah kegunaan budaya Islam? Ya, tentulah sangat berguna, dan sangat banyak
gunanya, karena kebudayaan merupakan suatu identitas ummat. Ada ungkapan, Jangan lihat
sepatu seseorang, tapi perhatikan berapa jauh dia melangkah. Sepatu adalah alat melangkah,
tapi kalau sepatu tak dipakai untuk melangkah apa gunanya? Islam adalah agama yang bagus
dan terpuji, memiliki aturan-aturan yang luas dan lengkap agar pemeluknya dapat berhubngan
dengan Tuhannya (hablun minallah) dan tampil berwibawa di dalam gelanggang dunia, dalam
tataran pergaulan ummat manusia (hablun minannas). Tapi kalau umatnya tidak mau
menjalankan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya dengan baik dan benar, sehingga berperilaku
yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka hal itu ibarat orang memiliki sepatu yang bagus
tetapi tidak dipakai untuk melangkah. Budaya yang baik, dan perilaku terpuji, merupakan
ajaran utama dalam agama Islam.
Orang Islam hendaknya menjadi orang yang berbudaya mulia dan terpuji. Arti asli dari
Islam sebagai damai dan cinta kedamaian, merupakan pijakan yang pas dalam
mengembangkan budaya Islam, sehingga sikap toleransi, tenggang rasa, ramah, saling
memaafkan, tidak pendendam, dan segala bentuk akhlak terpuji tampil dan muncul dari
perilaku yang membudaya dalam masyarakat Islam. Sebaliknya perilaku teror, senang
membuat huru hara, beringas, tidak menenggang rasa, penyebar fitnah, dsb bukanlah datang
dari ajaran Islam. Umat Islam seyogyanya menjadi ummat yang mulia, terpuji dan pelopor
kebaikan, kedamaian dan keadilan. Allah berfirman dalam QS 2 (Al-Baqarah):143 yang
artinya:

...Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu... (QS 2:143).

6.2. Pengembangan Seni Islam

6.2.1. Perkembangan Seni Islam Masa Awal

Perkembangan seni Islam diawali dari munculnya hubungan timbal balik antara
peradaban orang-orang Arab dengan bermacam peradaban penduduk asli di Timur Tengah
dan Timur Dekat, serta percampuran beberapa tradisi kebudayaan di bawah naungan Islam.
Kaum muslimin, baik mereka yang berkebangsaan Arab maupun yang bukan Arab, telah
mewarisi seni artistik kebudayaan Timur Tengah zaman kuno. Bentuk-bentuk seni yang
mereka bangun sesuai dengan perspektif nilai Islam. Para tukang dan seniman muslim
berusaha menanpilkan cita Keesaan Tuhan (tauhid) dalam karya seninya.
Bentuk-bentuk seni yang ada pada masa awal adalah :
1. Puisi.
Islam tidak mengizinkan jenis puisi tertentu yang sifatnya tidak Islami. Para penyair harus
mengubah isi puisi-puisinya sesuai dengan citarasa Islam dan mengungkapkan cita-cita
Islam lewat syair. Diantara tokoh-tokoh penyair Islam adalah Hasan bin Tsabit dan Kab
bin Zuhayr.
2. Masjid.

82
Pada masa perkembangan seni Islam pada masa awal, konsep masjid adalah Islamis, tapi
tenaga/tukangnya non-muslim. Pada masa itu asal-usul kebangsaan atau keyakinan dari
sang tukang atau senimam kurang penting, misalnya masjid Al-Nabawi (Masjid Nabi) di
Madinah dibangun abad pertama hijriyah/abad ke-7 M, masjid Jami Al-Umawi (masjid
Umayyah) di Damaskus, dan Qubbat Al-Sakhra (Kubah Batu) di Yerussalem dibangun
tahun 72 H/691 M. Lewat Kubah Batu ini dapat dikenali tanda kebesaran bangunan
arsitektur Islam masa awal. Kubah Batu dibangun oleh arsitek-arsitek Syiria. Ruang dalam
bangunan disinari oleh lima puluh enam jendela. Mosaik dengan warna-warna cemerlang
dipakai untuk menghiasi bangunan ini. Di antara karya-karya mosaik pada bangunan ini,
ada hiasan tanaman merambat yang ke luar dari jambang di tengah dan membentuk
lengkungan ke kiri dan ke kanan, masing-masing berisi seikat buah anggur dan lima
lembar dedaunan. Kumpulan hiasan ini dapat dianggap sebagai salah satu tema asli yang
paling penting pada masa awal seni Islam.

6.2.2. Kebangkitan Seni Islam Pada Abad Pertengahan

Kebangkitan Seni Islam pada abad pertengahan terjadi pada bidang:


a. Seni sastra.
Seorang tokoh seni sastra yang bernama Jalaluddin Muhammad bin Muhammad Al-
Balkhi Al-Qanawi, yang dikenal dengan nama Jalaludin Rumi menjadi pujangga sastra
dengan karyanya yang terbesar, yaitu "Diwani Syamsi Tabriz" dan "Al-Masnawi". Dua
karya besar tersebut diakui dunia hingga kini. Karya-karya dia yang lain adalah Maqabati
Syamsi Tabriz, Rubaiyyat dan Maktubat. Dari karya-karya ini kemudian ia dikenal
sebagai tokoh aliran sufi mualawiyah. Selain itu, di zaman pertengahan Islam juga lahir
penyair sufi yang ternama dari India. Dia adalah Malik Muhammad Jayadi dengan karya
alegorisnya yang mengandung pesan kebajikkan berjudul Padmawat.
b. Seni kaligrafi
Seni kaligrafi adalah seni menulis indah dan sudah berkembang sejak masa Nabi
Muhammad saw. Sebagai sarana keindahan dalam membentuk huruf-huruf dalam tulisan
Arab. seni kaligrafi berkembang pesat di zaman pertengahan dengan menggunakan media
kertas, dinding bangunan, maupun kayu daun pintu jendela, dan tiang yang menghiasi
bangunan masjid-masjid, istana, makam orang-orang penting, dan fasilitas umum seperti
perpustakaan, sekolah serta sarana lainnya.
c. Arsitektur.
Dalam hal ini yang berkembang pada zaman pertengahan merupakan perpaduan antara
seni arsitektur Yunani, Romawi, Persia, dan Arab. Bentuk bangunan-bangunan berupa
istana, masjid, makam dan lain sebagainya. seperti beberapa masjid indah yang dibangun
oleh Dinasti Usmani diantaranya adalah Masjid Muhammad AI-Fatih, Masjid Sulaiman,
Masjid Salim, dan beberapa masjid lainnya. Di masa Dinasti Safawi masjid-masjid indah
juga didirikan di kota Isfahan, ibukota Safawi

Diantara kaedah-kaedah (rambu-rambu) yang menjadi kriteria pengembangan seni


dalam Islam tersebut, menurut Yusuf al-Qardhawi adalah :
a. Harus mengandung pesan-pesan kebijakan dan ajaran kebaikan diantara sentuhan
estetikanya agar terhindar laghwun (perilaku absurdisme, hampa, sia-sia),
b. Menjaga dan menghormati nilai-nilai susila Islam dalam pertunjukannya,
c. Tetap menjaga aurat dan menghindari erotisme dan keseronokan,
d. Menghindari semua syair, teknik, metode, sarana dan instrumen yang diharamkan syariah
terutama yang meniru gaya khas ritual religius agama lain (tasyabbuh bil kuffar) dan
yang menjurus kemusyrikan,
83
e. Menjauhi kata-kata, gerakan, gambaran yang tidak mendidik atau meracuni fitrah,
f. Menjaga disiplin dan prinsip hijab,
g. Menghindari perilaku takhonnuts (kebancian),
h. Menghindari fitnah dan prakatik kemaksiatan dalam penyajian dan pertunjukannya,
i. Dilakukan dan dinikmati sebatas keperluan dan menghindari berlebihan (israf dan
tabdzir) sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah.

Menurut Islam, seni bukan sekedar untuk seni yang absurb dan hampa nilai (laghwun).
Keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetis, sebab semua aktivitas hidup
tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal. Seni Islam harus memiliki semua unsur
pembentuknya yang penting, yaitu : jiwanya, prinsipnya, metode, cara penyampaiannya,
tujuan dan sasarannya. Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah swt, bukan
mencari popularitas ataupun materi duniawi semata.
Seni Islam harus memiliki risalah dakwah melalui sajian seninya, yaitu melalui tiga
pesan :
a. Ketauhidan dengan menguak dan mengungkap kekuasaan, keagungan dan transendensi
(kemahaan-Nya) dalam segala-galanya, ekspresi dan penghayatan keindahan alam,
ketakberdayaan manusia dan ketergantungannya terhadap Allah, prinsip-prinsip uluhiyah
dan 'ubudiyah.
b. Kemanusiaan dan penyelamatan HAM serta memelihara lingkungan, seperti mengutuk
kedzaliman/penindasan, penjajahan, perampasan hak, penyalahgunaan wewenang dan
kekuasaan, memberantas kriminalitas, kejahatan, kebodohan, kemiskinan, perusakan
lingkungan hidup, menganjurkan keadilan, kasih sayang, kepedulian sosial, dsb.
c. Akhlak dan kepribadian Islam, seperti pengabdian, kesetiaan, kepahlawanan atau
kesatriaan, solidaritas, kedermawanan, kerendahan hati, keramahan, kebijaksanaan,
perjuangan atau kesungguhan, keikhlasan, dst. Juga penjelasan nilai-nilai ke-Islaman
dalam berbagai segi yang menyangkut keluarga dan kemasyarakatan, pendidikan,
ekonomi, dan politik.

Seni adalah sesuatu yang bersifat abstrak, dapat dipandang, didengar dan disentuh oleh
jiwa tetapi sulit dinyatakan melalui kata-kata. Sukar untuk mentakrifkan seni secara tepat
sesukar untuk menerangkan konsep keindahan dan kesenangan itu sendiri. Al-Farabi
menjelaskan bahwa seni adalah ciptaan yang berbentuk keindahan. Al-Ghazali juga
menjelaskan bahwa seni adalah kerja yang berkaitan dengan rasa jiwa manusia yang sesuai
dengan fitrahnya.
Menurut perspektif Islam, daya kreatif seni adalah dorongan atau desakan yang
diberikan oleh Allah yang perlu digunakan sebagai bantuan untuk
memeriahkan/mensyiarkan kebesaran Allah. Berseni haruslah beralamatkan kepada perkara-
perkara makruf (kebaikan), halal, dan berakhlak. Jiwa seni mestilah ditundukkan kepada
fitrah asal kejadian manusia kerana kebebasan jiwa. Dalam membentuk seni hendaklah
menurut kesucian fitrahnya yang dikaruniakan Allah. Fungsi seni lebih kurang sama dengan
akal supaya manusia menyadari keterkaitan antara alam, Ketuhanan dan rohani atau dengan
alam fisikal. Lantas ia menyadari keagungan Tuhan dan keunikan penciptaan-Nya. Konsep
kesenian menurut perspektif Islam ialah membimbing manusia ke arah konsep Tauhid dan
pengabadian diri kepada Allah. Seni dibentuk untuk melahirkan manusia yang benar-benar
baik dan beradab. Motif seni beralamatkan kebaikan dan berakhlak. Selain itu, seni juga
seharusnya lahir sebagai satu proses pendidikan yang bersifat positif dan tidak lari dari pada
batas-batas syariah.

84
6.2.3. Perspektif Al-Quran dan Sunnah tentang Seni Islam

a. Ayat-ayat Al-Quran Tentang Seni Islam

Ada tiga ayat yang dijadikan alasan oleh sementara ulama untuk melarang, paling
sedikit dalam arti memakruhkan nyanyian, yaitu QS.17 (Al-Isra') :64, QS.53 (Al-Najm)
:59-61, dan QS.31 (Luqman):6. QS. 17 (al-Isra): 64 tersebut adalah perintah Allah kepada
setan yang artinya:

Hasunglah siapa yang kamu sanggup (hasung) diantara mereka (manusia) dengan
suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan
kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka
kecuali tipuan belaka. (QS.17:64).

Kata suaramu dalam ayat tersebut menurut sementara ulama adalah nyanyian. Tetapi
benarkah demikian? Membatasi arti suara dengan nyanyian merupakan pembatasan yang
tidak berdasar, dan kalaupun itu diartikan nyanyian, maka nyanyian yang dimaksud adalah
yang didendangkan oleh setan, sebagaimana bunyi ayat ini. Dan suatu ketika ada nyanyian
yang dilagukan oleh bukan setan, maka belum tentu termasuk yang dikecam oleh ayat ini.
Dalam QS.53 (Al-Najm):59 menyebutkan yang artinya adalah:

Apakah kamu merasa heran terhadap pembentukan ini (adanya kiamat)? Kamu
menertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu samidun (QS.53:59).

Kata samidun diartikan oleh yang melarang seni suara dengan arti dalam keadaan
menyanyi-nyanyi. Arti ini tidak disepakati oleh ulama, karena kata tersebut walaupun
digunakan oleh suku Himyar (salah satu suku bangsa Arab) dalam arti demikian, tetapi dalam
kamus-kamus bahasa, seperti Mujam Maqayis Al-Lughah, dijelaskan bahwa akar kata
samidun adalah samada yang maknanya berkisar pada berjalan bersungguh-sungguh tanpa
menoleh ke kiri dan ke kanan, atau secara majazi dapat diartikan serius atau tidak
mengindahkan selain apa yang dihadapinya.
Dengan demikian, kata samidun dalam ayat tersebut dapat diartikan lengah, karena
seorang yang lengah biasanya serius dalam menghadapi sesuatu dan tidak mengindahkan
orang lain. Dalam Al-Quran dan Terjemahnya Departemen Agama RI, kata samidun diartikan
seperti keterangan di atas, yakni lengah. Kalaupun kata di atas dibatasi dalam arti nyanyian,
maka nyanyian yang dikecam di sini adalah yang dilakukan oleh orang-orang yang
menertawakan adanya hari kiamat, dan atau melengahkan mereka dari peristiwa yang
seharusnya memilukan mereka.
Ayat ketiga yang dijadikan argumen keharaman menyanyi atau mendengarkannya
adalah QS.31 (Luqman): 6 yang artinya:

"Di antara manusia ada yang mempergunakan lahwa al-hadits (kata-kata yang tidak
berguna) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan
jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh siksa yang menghinakan.
(QS.31:6).

Mereka mengartikan kata-kata yang tidak berguna "(lahwa al-hadits)" sebagai


nyanyian. Pendapat ini jelas tidak beralasan untuk menolak seni suara, bukan saja karena
lahwa al-hadits tidak berarti nyanyi-nyanyian, yang dikecam di sini adalah bila kata-kata

85
yang tidak berguna itu menjadi alat untuk menyesatkan manusia. Jadi masalahya bukan
terletak pada nyanyiannya, melainkan pada dampak yang diakibatkannya.
Imam Malik, Imam Ja'far, Imam Al-Ghazali, dan Imam Abu Daud Azh-Zhahiri telah
mencantumkan berbagai dalil tentang bolehnya nyanyian dan menggunakan alat-alat musik.
Alasan-alasan mereka antara lain firman Allah dalam QS.31 (Luqman): 19 yang artinya:

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-
buruk suara ialah suara keledai. (QS 31:19)

Imam Al-Ghazali mengambil pengertian ayat ini dari mafhum mukhalafah. Allah
memuji suara yang baik. Dengan demikian dibolehkan mendengarkan nyanyian yang baik.
(Lihat Imam AL-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz IV Jilid II, hal 141).
Allah tidak hanya menciptakan langit, melainkan juga memeliharanya. Bukan hanya
hifdhon, tetapi juga zinatan (hiasan yang indah). Begitulah pernyataan Allah dalam QS.37
(Al-Shoffat): 6-7, dan QS. 41 (Fushshilat) :12. Laut pun diciptakan antara lain agar dapat
diperoleh darinya bukan sekedar daging segar, tetapi juga hiasan yang memperindah
penampilan seseorang. Dalam QS.16 (Al-Nahl) : 14 Allah berfirman yang artinya:

Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan untukmu, agar kamu dapat memakan darinya
(laut itu) daging yang segar (ikan), dan kamu dapat mengeluarkan darinya (lautan itu)
perhiasan yang kamu pakai, serta kamu dapat melihat bahtera yang berlayar padanya
(QS.16 :14).

Gunung-gunung dengan ketegarannya, bintang ketika terbenam, matahari saat naik


sepenggalan, malam ketika hening, dan masih banyak yang lain, semua diungkapkan oleh
Allah melalui Al-Quran. Bahkan pemandangan ternak dinyatakannya dalam QS.16 (al-Nahl)
:6 yang artinya:

Dan kamu memperoleh pandangan yang indah ketika kamu membawanya kembali ke
kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan (QS.16:6).

Ayat tersebut melepaskan kendali kepada manusia yang memandangnya untuk


menikmati dan melukiskan keindahannya itu sesuai dengan subyektivitas perasaannya.
Begitu, kurang lebih uraian para mufasir ketika menganalisis redaksi ayat tersebut. Ini berarti
bahwa seni dapat dicetuskan oleh perorangan sesuai dengan kecenderungannya, atau oleh
kelompok masyarakat sesuai dengan budayanya, tanpa diberi batasan ketat kecuali yang
digariskan-Nya pada QS.16 (Al-Nahl) : 1 yang artinya:

Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS.:1).

Dalam QS.7 (Al-A'raf): 31 bahkan Allah memerintahkan umat manusia untuk memakai
pakaian yang indah ketika pergi ke masjid sebagaimana firman-Nya yang artinya :

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, Makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan" (QS.7:31).

b. Sunnah Rasulullah saw Tentang Seni Islam


Ada Sunnah Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Buhkari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
lain-lain dari Rubayyi' binti Mu'awwiz 'Afra, Rubayyi' berkata bahwa Rasulullah saw. datang
86
ke rumah pada pesta pernikahannya (Pesta yang dimaksud di sini adalah pesta pernikahan
yang didalamnya ada lelaki dan perempuan, tetapi dipisahkan jaraknya. Di dalam Islam ada
tiga pesta, yakni (1) pesta pertunangan, (2) pesta pernikahan, (3) pesta percampuran. Lalu
Nabi saw. duduk di atas tikar. Tak lama kemudian beberapa orang dari jariah (wanita
budak)nya segera memukul rebana sambil memuji-muji (dengan menyenandungkan) untuk
orang tuanya yang syahid di medan perang Badar. Tiba-tiba salah seorang dari jariah itu
berkata: "Diantara kita ini ada Nabi saw. yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada
esok hari." Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah ra. katanya (Lihat Shahih
Bukhari, Hadis No. 949, 952; lihat juga Shahih Muslim, Hadis No. 892 dengan lafazh lain),
pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Ketika itu disampingku ada dua gadis
perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari bu'ats) (bu'ats adalah
nama salah satu benteng untuk Al-Aws yang jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari Madi-
nah. Di sana pernah terjadi perang dahsyat antara kabilah Aus dan Khazraj tepat 3 tahun
sebelum hijrah.) Kulihat Rasulullah saw. berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya.
Pada saat itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepadaku. Katanya: "Di tempat/rumah Nabi
ada seruling setan?". Mendengar seruan itu Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu
Bakar seraya berkata: Biarkan keduanya, hai Abu Bakar
Tatkala Abu Bakar memperhatikan lagi maka aku suruh kedua budak perempuan itu
keluar. Waktu itu adalah hari raya dimana orang-orang sedang menari dengan memainkan
alat-alat penangkis dan senjata perang (di dalam masjid).

Dalam hadis riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. dikisahkan, katanya:
Aku pernah mengawinkan seorang wanita dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshar.
Maka Nabi saw bersabda yang artinya :

Hai Aisyah, tidak adakah padamu hiburan (nyanyian) karena sesungguhnya orang-orang
Anshar senang dengan hiburan (nyanyian) (HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad terdapat lafaz (lihat Imam Al-
Syaukani dalam Nailul Author, Jilid VI, hal 187).

"Bagaimana kalau diikuti pengantin itu oleh (orang-orang) wanita untuk bernyanyi sambil
berkata dengan senada: "Kami datang kepadamu. Hormatilah kami dan kami pun
menghormati kamu. Sebab kaum Anshar senang menyanyikan (lagu) tentang
wanita."(HR.Ahmad)

Ada hadis Nabi yang memberi kesan bolehnya memperhatikan keindahan diri sampai
pada batas bersaing untuk menjadi yang terindah. Seorang sahabat Nabi bernama Malik bin
Mararah Ar-Rahawi, pernah bertanya kepada Nabi saw:

Sahabat Rasul Malik Mararah Al-Rahawi bertanya kepada Nabi saw : Wahai Rasul, Allah
telah menganugerahkan kepadaku keindahan seperti yang engkau lihat. Aku tidak ada
seseorang yang melebihiku walau dengan sepasang alas kaki atau melebihinya, apakah yang
demikian merupakan keangkuhan? Nabi saw menjawab: Tidak. Keangkuhan adalah
meremehkan hak dan merendahkan orang lain. (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah saw sendiri memakai pakaian yang indah, bahkan suatu ketika beliau
memperoleh hadiah berupa pakaian yang bersulam benang emas, lalu beliau naik ke mimbar,
namun beliau tidak berkhutbah dan kemudian turun. Sahabat-sahabatnya sedemikian kagum
dengan baju itu, sampai mereka memegang dan merabanya, Nabi saw bersabda:
87
Apakah kalian mengagumi baju ini? Mereka berkata, kami sama sekali belum pernah
melihat pakaian yang lebih indah dari ini. Nabi bersabda : Sesungguhnya saputangan Sad
bin Muadz di surga jauh lebih indah dari yang kalian lihat.

Demikian beliau memakai baju yang indah, tetapi beliau tetap menyadari sepenuhnya
tentang keindahan surgawi.

6.2.4. Pandangan Islam Tentang Seni


a. Pengertian Seni Islam

Secara umum kata atau term seni berarti halus(dalam rabaan) kecil dan halus, tipis
dan halus, lembut dan enak (didengar), mungil dan elok(tubuh), sifat halus. Secara
etimologis seni dapat didefinisikan sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu
yang bermutu tinggi (Kamus, 1990 : 816). Ukuran tinggi itu jika orang lain bisa mengatakan
indah, kagum, atau luar biasa terhadap ciptaan tersebut. Kata seni sering dirangkai dengan
kata lain, umpama budaya sehingga menjadi seni budaya, gelar seni budaya. Pengertian ini
sebenarnya rancu karena seni itu sebenarnya merupakan satu unsur dari budaya. Dalam kajian
budaya, unsurnya yang mesti ada mencakup tujuh hal, yaitu: sosial, politik, bahasa, agama,
ekonomi, seni, dan eistetika. Seni budaya sebenarnya hanya seni itu sendiri atau bagian dari
seni, dan biasanya secaara praktis terbatas pada seni tari, seni suara, seni panggung, atau
gabungan dari ketiga seni itu seperti kalau kita mendengar sebuah pernyataan Saputra dan
kawan-kawannya menjadi duta seni budaya Indonesia ke berbagai manca negara. Apa yang
mereka lakukan di luar negeri atas nama bangsa Indonesia hanya menggelar seni dalam
panggung di hadapan pemirsa.

b. Ciri Seni Islam

Bolehlah dikatakan bahwa Islam ya terhadap seni, tetapi seperti apa? Jawaban
pertanyaan ini dapat dijelaskan dalam dua level, operasional dan konsepsional tentang seni.
Inti ajaran Islam dalam rumusan verbal dan perbandingan antar agama-agama adalah Tauhid.
Essensi tauhid adalah meng-Esa-kan Tuhan, bukan hanya dalam level keyakinan, melainkan
total kehidupan. Karena itu, fenomena apa pun yang berlabel Islam pasti dan harus berasal,
beroperasional, dan bermuara pada tauhid. Islam yang sumber ajaran pokoknya Al-Quran dan
Sunnah, kandungannya menyediakan pembentukan kebudayaan lengkap. Semuanya
terbawahkan oleh posisi tauhid. Tauhid berada di puncak piramida sesuatu yang disebut
Islam. Atas dasar alur pikir ini maka mendevinisikan seni Islam kiranya dapat dipahami. Seni
Islam dapat didevinisikan sebagai segala produk historis yang memiliki nilai eistetis yang
telah dihasilkan oleh orang-orang Islam dan dalam kurun sejarah Islam, berdasarkan
pandangan eistetika Tauhid dan selaras dengan semangat keseluruhan peradaban Islam,
dengan enam ciri yang diambilkan dari ideal Al-Quran: abstraksi, struktur modular,
kombinasi suksesif, repetisi, dinamis, dan rumit (Alfaruqi, l999 : vii-viii). Pertama-tama yang
harus disadari dalam devinisi ini adalah sifatnya yang aplikatif dalam arti mengabstraksi
prestasi seni yang telah dicapai, meskipun dapat juga dikenakan sebagai kerangka
paradigmatik.
Penjelasan ke enam ciri tersebut adalah sebagai berikut:
a). Abstraksi
Yang dimaksud ciri abstraksi dalam seni Islam adalah pengingkaran naturalisme dan
pencegahan menghadirkan fenomena natural dalam karya seni, khususnya adalah seni patung.
Kalau pun harus akan mencipta karya-karya figuratif alami harus diupayakan denaturalisasi
88
(Alfaruqi, 1999 : 8). Demikian inilah diagnosa pengamat seni Islam. Iqbal yang filosof dan
seniman (Syarif, 1973 : 99) menyarankan bahwa seni yang benar adalah seni yang bebas dari
belenggu alam (Darb-I Kalim : 115). Seni yang meniru alam dianggap pengemis di depan
pintu alam. Dalam idea Insan Kamil, Iqbal menggubah syair yang potongannya sebagai
berikut:
Thou dist Create night and I made the lamp
Thou dist Create cly and I made the cup
Thou dist Create desert, mountains, and forrests
I produce the orchards, gardens, and grocests
It is I who turneth stone into a mirror
And it is I who turneth passion into an antitode
(Audah, 1981: xvi, Danusiri, 1996 : 139, mengutip dari Iqbal)

Dalam bait tersebut nampak jelas bahwa hasil karya yang dikehendaki adalah sama
sekali baru dan orisinal, tidak duplikatif, tidak pula meniru dari yang sudah ada. Secara
kebetulan banyak teks hadis Nabi Muhammad yang mencela seniman yang berkarya secara
naturalis mulai tingkat rendah hingga amat berat, padahal hadis tersebut diyakini
kebenarannya secara mutlak oleh umat Islam karena memang itu juga wahyu. Diantara teks-
teks yang dimaksud adalah:
(1) Allah melaknat seniman naturalisme: Laana . . . almusawwir (Allah melaknat . . .
pematung/naturalis (H.R.Bukhari dari Ibnu Juhaifah).
(2) Malaikat menjauh dari rumah yang di dalamnya ada patung naturalis. Demikian sabda
Rasulullah yang artinya: Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk pada rumah yang di
dalamnya ada patung naturalis; (H.R.Bukhari dari Ibnu Abbas). Hadis ini tercatat
hingga 49 kali.
(3) Pembuat patung naturalis akan disiksa : "Dan sesungguhnya orang yang membuat patung
(naturalis) akan disiksa besok pada hari kiamat" (HR.Bukhari dan Muslim)
(4) Siksaan, pada nomor tiga di atas amat pedih: "Sesungguhnya diantara yang amat berat
siksaannya adalah orang yang memahat menyerupai atau menyamai ciptaan Allah"
(HR. Bukhari dan Muslim).
(5) Pematung naturalis memang menjadi penghuni neraka: "Sesungguhnya sebagian
penduduk neraka besok pada hari kiamat untuk mendapat siksa yang amat berat adalah
para seniman naturalis" (HR. Muslim).
(6). Pematung naturalis dituntut untuk memberi nyawa atau menghidupkan hasil karyanya:
"Barang siapa membuat patung naturalis di dunia, ia dituntut untuk meniupkan roh di
dalamnya besok pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa meniupnya" (H.R. Muslim dari
Ibnu Abbas; atau beliau bersabda: Hidupkanlah!(HR.-Bukhari).

Dalam memahami ancaman tersebut hendaklah mempetimbangkan dua keadaan:


Pertama, Nabi amat sensitif terhadap patung. Islam, ketika pertama kali menguasai kota
Makah (fath al-Makkah) benar-benar tegas dalam melakukan pemberantasan terhadap patung
(al-ashnam). Di sekeliling kakbah tidak kurang dari 360 buah, belum lagi di tempat-tempat
lain. Patung-patung ini menjadi sarana atau objek penyembahan dan pengorbanan kepada para
dewa (ilah), sementara Islam memperkenalkan Tauhid. Jadi, penghancuran ini dilakukan
supaya orang tidak musyrik. Jika karya patung naturalis tidak dalam konteks sebagai sarana
penyembahan, pengorbanan, atau sebagai ritus-ritus keagamaan, tentunya lain ceritanya.
Penjelasannya demikian: Seandainya berkarya seni patung naturalisme harus ditetapkan
putusan hukumnya, haram itulah penetapannya karena (1) Allah dan Rasulullah melaknat, (2)
Allah dan Rasulullah memberi ancaman siksaan besok di hari akhirat, (3) Rasulullah sama
sekali tidak pernah melakukannya. Sesuatu diharamkan itu karena mengandung madharat
89
bagi pelaku yang diputusi haram. Jika tidak pernah melakukannya justru memperoleh
manfaat, sekalipun bersifat janji-janji eskatologis. Tetapi, di dalam proses penetapan hukum
dalam Islam itu berlaku kaidah bahwa, Hukum itu tergantung pada illat ; sebab, konteks,
alasannya: "inna al-ahkam tunathu bi al-'illah" (Zahra, 1958 : 224,250). Jika patung naturalis
dibuat tidak dalam konteks sarana atau dalam penyembahan dan pengorbanan, atau secara
umum ritus-ritus sakral, alasan menetapkan hukum haram pada patung naturalis tidak cukup.
Kedua, alam dengan segala isinya natural adalah ciptaaan dan hak paten Allah. Wajar jika
orisinalitas ciptaan-Nya ditiru orang yang itu adalah juga makhluk-Nya. Dalam dunia manusia
saja, karya yang telah ada hak patennya, tidak boleh dijiplak atau dibajak, kecuali telah
mendapat ijin pengarang atau pembuat aslinya. Ini sebenarnya mengandung ajaran supaya
seorang seniman senantiasa berkarya kreatif dan orisinal. Meskipun deminian, masih ada
peluang bagi orang Islam untuk membuat karya patung bukan yang bernyawa. Dalam hal ini
Rasulullah bersabda yang artinya:

"jika kamu terpaksa harus membuat patung naturalis, maka buatlah pohon atau sesuatu lain
yang tidak bernyawa" (HR. Muslim dari Ibnu Abbas).

b). Struktur Modular


Karya seni Islam tersusun atas berbagai bagian atau modul yang dikombinasikan untuk
membangun rancangan atau kesatuan yang lebih besar. Masing-masing modul ini adalah
sebuah entitas yang memiliki keutuhan dan kesempurnaan diri, yang memungkinkan mereka
untuk diamati sebagai sebuah unit ekspresif dan mandiri dalam dirinya sendiri maupun
sebagai bagian penting dari kompleksitas yang lebih besar. Ciri ini bisa dipadatkan dalam
term ekspresionisme. Hanya saja, kadang-kadang seorang seniman tidak bisa mengontrol
karya seninya secara utuh. Kalimuddin menulis demikian:

" An artist may not know anything about the nature of art. The process of cration is often
incomprehensible to the artist. He created, and be creates in a particular manner, but very
often he can not explain why he work in a certain way and not other. He knows he is right; he
feels it in his hones that a thing should be just so that the least alternation would spoil it, but
for the life of him he can not give any clear and convincing reasons wich would be obvious to
critic" (Kalim, 1973 : 249).

Dalam kasus seperti ini sang seniman hanya menyadari bahwa tindakannya benar dan hasil
karyanya indah. Secara etis memang tidak ada masalah dengan hukum, artinya tidak haram
sepanjang ciri-ciri naturalisme tidak ada.

c). Kombinasi Suksesif


Pola-pola infinit seni Islam menunjukkan adanya kombinasi berkelanjutan (suksesif)
dari modular dasar penyusunannya. Elemen-elemen tersebut disusun untuk membangun
sebuah desain lebih besar, utuh, dan independen. Kombinasi tersebut dapat diulang, divariasi,
dan digabung dengn entitas lain yang lebih besar dan lebih kompleks untuk membentuk
kombinasi yang lebih kompleks lagi. Dengan demikian dalam pola infinit tidak hanya ada
satu fokus perhatian eistetis, melainkan terdapat sejumlah penglihatan yang harus dialami
ketika mengamati modul, entitas, atau motif-motif yang lebih kecil. Tidak ada desain yang
hanya memiliki satu titik tolak eistetik, atau perkembangan progresif yang mengarah kepada
poinvokal yang kulminatif atau konklusif. Desain Islam selalu memiliki titik pusat yang tak
terhitung jumlahnya, dan sebuah gaya persepsi internal yang menghilangkan adanya
permualaan maupun akhir yang konklusif (Alfaruqi, l999 : 9).

90
d). Repetisi
Ciri ke empat yang diperlukan dalam rangka menciptakan infinitas dalam sebuah objek
seni adalah pengulangan dalam intensitas yang cukup tinggi. Kombinasi aditif (pertambahan)
dalam seni Islam melakukan berbagai pengulangan motif, modul, struktural maupun
kombinasi suksesif mereka yang nampak terus berlanjut. Kesan abstrak diperkuat dengan
pengekangan individuasi bagi bagian-bagian penyusunannya. Ia juga mencegah modul
manapun dalam desain tersebut untuk lebih menonjol dibanding yang lain.

e). Dinamisme
Seni Islam amat dinamis atas dasar ruang dan waktu. Kombinasi antara keduanya, satu
dengan yang lain lebih mendominasi bisa saja terjadi sepanjang menghasilkan eistetika di
bawah siraman Islam.

f). Rumit
Detail yang rumit merupakan ciri ke enam sebuah karya seni Islam. Kerumitan
memperkuat kemampuan suatu pola Arabeks untuk menarik perhatian pengamat dan
mendorong konsentrasi kepada entitas struktural yang dipresentasikannya. Sebuah garis atau
figur, selembut apa pun diolah, tidak akan pernah menjadi satu-satunya ikon dalam rancangan
seni Islam. Hanya dengan multiplikasi elemen-elemen internal serta peningkatan kerumitan
penataan dan kombinasi, akan dapat dihasilkan dinamisme dan momentum pola infinit.
Ke enam ciri tersebut harus selalu ada dalam sebuah karya seni Islam, sifatnya
situasional tergantung macam apa sebuah karya seni hendak dicipta. Dan, ciri-ciri tersebut
secara umum kiranya, dalam tampilan praktis, bukan monopoli seni Islam. Ke enam ciri ini
akan lebih menjadi ciri-ciri yang benar-benar hakiki jika indahnya sebuah karya seni muncul
dari pandangan Tauhid atau keindahan yang dapat membawa kesadaran transendensi Ilahiah
(Alfaruqi, l999 : vii).

6.2.5. Aliran Filsafat Seni

Sekurang-kurangnya terdapat dua aliran besar dalam seni, yaitu seni untuk seni (the art
for the art) dan seni untuk sesuatu (the art for the others).

a. Seni Untuk Seni


Pada awal abad 19 ditengarai munculnya gerakan seni untuk seni (the art for the art) .
Di Perancis gerakan ini didukung oleh Flaubert, Gauthier, dan Baudelaire, di Rusia oleh
Pushkein, di Inggris oleh Walter Patter Oscar Wilde, di Amerika oleh sastrawan Allan Poe.
Aliran ini berakar dari Romantisme Romawi yang dapat ditemukan akar-akarnya pada
Friedrich Schlegel dan Henrich Heine (Syarif, 1984 : 114). Mereka meyakini slogan Seni
untuk seni. Dengan slogan ini dimaksudkan bahwa keindahan sebagai produk seni, adalah
kualitas seni yang khusus. Ia adalah nilai dasar yang absolut, menyeluruh dan tertinggi. Nilai-
nilai lain seperti kebenaran dan kebaikan berada di bawahnya atau malah sama sekali tidak
relefan. Di dalam panggung kehidupan, seni memiliki daerahnya sendiri, mempunyai
tujuannya sendiri, tidak mempunyai misi yang harus dipenuhi kecuali membangkitkan jiwa
sang kontemprator untuk menciptakan sensasi-sensasi keindahan tertinggi. Moralitas,
instruksi, uang, dan populalaritas tidak boleh menjadi tujuan seni, tetapi malah merendahkan
nilai artistik sesuatu seni (Syarif, l984 : 115). Buat mereka, seni adalah otonom tidak
bergantung pada yang di luar seni. Gauthier, utamanya, ia mengatakan bahwa seni bukan
suatu cara, tetapi tujuan. Seorang seniman yang mengejar tujuan lain di luar keindahan adalah
bukan seniman (Syarif, l984 : 115). Sementara itu, Orcar Wilde memisahkan secara penuh
antara lingkungan etika dan seni (Syarif, l984 : 1). Sebuah patung naturalis telanjang bulat
91
yang dipasang di pusat keramaian, jika ini dipandang indah, tentu dilakukan dengan tanpa
mermpertimbankan nilai etis. Jika peristiwa ini benar-benar ada, pasti menjadi heboh. Tokoh
agama dan kaum moralis lainnya pasti memprotesnya, karena dipandang bertentangan dengan
nilai moral. Beberapa tahun yang lalu, kasus pembuatan gambar-gambar bugil Dewi Sukarno
Putri pada suatu majalah menjadi heboh. Tabloid yang pernah muncul penaka kecambah,
beberapa diantaranya mengintrodusir gambar-gambar bugil atau hampir bugil atau secara
umum seronok pada halaman sampulnya mendapat reaksi keras dari tokoh maupun lembaga-
lembaga penjunjung tinggi moralitas. Goyang ngebor Inul Daratista, goyang patah-patah
Anisa bahar, Goyang gergaji dari Dewi persik dalam seni panggung menjadi heboh dan
mendapat protes keras dari pendukung kaum moralis yang anti pornografi dan pornoaksi atau
sekurang-kurang erotisme. Karya Taman Eden yang menampilkan pose bugil Anjasmoro
dan kawan-kawannya tidak luput dari hujatan keras dari kaum pendukung seni untuk sesuatu
di luar seni. Mulai Maret 2008 Pemerintah Republik Indonesia, demi menjaga supaya
generasi muda tidak rusak parah moralitasnya menutup situs pornografi maupun pornoaksi
dalam dunia internet, adalah sikap dan gerak nyata anti semboyan seni untuk seni
Seni untuk seni yang produksi seninya dinilai seronok oleh masyarakat tidak akan
menjadi masalah manakala semua orang mendukung paham itu. Mungkinkah ini bisa terjadi?
rasanya tidak mungkin atau malah pasti tidak mungkin. Manusia tidak bisa diseragamkan
dalam paham seni. Justru kebanyakan manusia tidak sadar akan dunia seni atau malah tidak
menyadarkan diri akan dunia seni. Bagi mereka, sebagian berpendirian bahwa yang penting
tuntutan ekonomi dasar (pangan, sandang, papan). Seni bagi kebanyakan orang adalah
komoditas mewah. Orang-orang semacam ini biasanya dalam penghayatan agama juga
terbatas pada aturan-aturan pokok kehidupan agama seperti pelaksanaan ritus dalam Islam.
Agama, dalam kasus Islam dilihat melalui tolok ukur wajib-haram, sunnah-makruh, dosa-
pahala, ketika melihat patung naturalis bugil di pusat keramaian, tidak dipandang sebagai
karya seni yang indah, melainkan dihukumi haram, dosa, dan membinatangkan manusia.
Jadi, sebenarnya doktrin seni untuk seni bukanlah sesuatu yang ideal, justru ditentukan
oleh persoalan-persoalan eksternal non seni, seperti etika jika harus dihadapkan dengan etika
sebagai lawan seni. Seni menjadi sesuatu yang menentang kodrat Ilahi. Tujuan utama
keutusan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia justru mengenai etika. Nabi dan
Rasul terakhir Islam adalah Muhammad saw (570:622) mengaku bahwa tugas pokoknya
sebagaimana ia katakan yang artinya sebagai berikut:

"Aku diutus hanyalah utuk menyempurnakan kebaikan akhlak" (HR. al-Laisi dari Malik bin
Anas).

Suatu hal lain menjadi kelemahan doktrin seni untuk seni adalah menyaksikan alam
semesta, yang menurut pandangan iman adalah refleksi karya Agung Sang Maha Pencipta,
dipandang sebagai sesuatu yang statis dan tidak bermakna karena lepas dari sensasi-sensai
keindahan dari sang seniman. Flaubert si pendukung mazhab ini amat membenci kenyataan.
Keindahan pegunungan Alpen tidak menimbulkan daya tarik baginya. Baudelaire menatap
alam dalam penampakan keasliannya, ia pandang sebagai sesuatu yang monoton dan
menjemukan. Menurutnya, seni harus berhubungan nilai absolut dan tertinggi, yaitu dipakai
untuk menggantikan filsafat dan agama (Syarif, l984 : 116). Kalau sudah sampai tahap begini,
seniman tidak bisa menjadi filosof dan agamawan, demikian sebaliknya. Tidak pula ia
menjadi seniman yang berdoktrin Seni untuk seni secara setengah-setengah dan menjadi
agamawan atau filosof setengah-setengah. Menjadi agamawan setengah-setengah adalah fasiq
yang secara praktis adalah rusak. Bahkan, arti fasiq semula adalah sesuatu yang keluar dari
kulitnya atau keluar dari perlindungan. Fasiq dalam arti agama berarti keluar dari ketaatannya
pada Allah (Anis,II : 687). Kalau agama seniman yang menjunjung tinggi doktrin seni untuk
92
seni dan ia amat kuat dukungannya, sementara ia adalah seorang agamawan, boleh jadi ia
kurang kesadarannya terhadap agamanya. Dalam kasus Islam, agama ini menuntut kepada
pemeluknya supaya masuk ke dalam Islam secara total dan menyeluruh. Demikian seruan
Allah dalam QS. 2 (al-Baqarah) : 228 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan
janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata
bagimu" QS. 2 : 228)

Dalam ayat tersebut dapat dipahami bahwa ketika seseorang memeluk agama Islam
secara tidak totalitas, sisanya adalah pengikut langkah syetan. Dengan demikian seniman yang
menjunjung tinggi doktrin seni untuk seni hingga tahap menepikan filsafat dan agama
menurut pandangan Islam seni itu adalah seni syetan. Karena itu seniman yang bermazhab
seni untuk seni dan mereka ini memeluk agama, khususnya Islam, hendaklah bertaubat dan
pindah kepada paham seni yang fungsionalis-religius. Seandainya harus dicari manfaatnya
dari doktrin seni untuk seni sebenarnya masih ada, tetapi amat terbatas dan sifatnya terapiutik
yang dalam hasanah Froedian termasuk orang-orang gila yang asyik dengan dunianya sendiri
dan tidak hirau dengan dunia sekelilingnya. Segi positif yang lain adalah karya ciptaannya
selalu fres, orisinal, dan kreatif karena anti naturalisme. .

b. Seni Untuk Sesuatu (Seni Fungsionalisme)

Islam sebagai salah satu agama besar dunia dan yang paling belakangan menyatakan
bahwa Al-Quran diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu. Dalam hal ini Allah berfirman
yang artinya: "Dan Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab untuk menjelaskan segala
sesuatu, Q.S. 16 : 138). Sudah barang tentu bukan dalam arti penjelasan teknis dan detail
yang diberikan oleh Al-Quran, melainkan hanya prinsip-prinsip dasarnya. Keluasan
jangkauan Islam ini diakui juga oleh Orientalis seperti H.A.R. Gibb dengan pernyataannya:
Islam is much more than system of theology. It is a complite civilization. Noor Cholish
Madjid menyatakan Islam sebagai agama doktrin dan peradaban. Point yang diperoleh dari
premis ini adalah Islam mengandung soal seni. Kandungan ini amat kecil barangkali sehingga
amat samar dan akibatnya sulit memotret secara jelas apa itu seni Islam, bagaimana umat
Islam mengapresiasi kesenian yang semuanya menjadi wacana yang hangat yang secara
keseluruhan atau sekurang-kurangnya secara mayor mencurigai seni.

6.2.6. Problematika Seni Dalam Islam

Mengkaji Seni Islam selalu tertumbuk pada jalan buntu ketika hendak memasuki
wilayah kajian seni Islam. Di kalangan Islam terdapat pro dan kontra.
a. Hingga kini belumn ada lembaga apapun juga yang secara formal dan sistematis
melakukan kajian seni secara komprehensif, filosofis (eistetika atau filsafat seni Islam,
yang merumuskan batasan nilai keindahan sesuai dengan ajaran Islam), teoritik (sejarah,
struktur, dan klasifikasi: apakah ada seni Islam ataukah hanya ada seni muslim), praktik
(kajian tentang teknik-teknik perbidang), dan apresiatif (kritik seni yang mengkaji
perkembangan seni Islam dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat
muslim) yang mengatasnamakan lembaga seni Islam. Inti pendirian kelompok ini
menyatakan bahwa Seni Islam itu tidak ada, dan yang ada adalah orang Islam berseni.
b. Sebagian umat Islam atau bisa disebut seniman muslim bersemangat menunjukkan
berbagai dalil aqliyah (rasional) bahwa Al-Quran sendiri mengandung nilai seni yang
amat tinggi dan demonstratif bahwa Musabaqah Tilawatil Quran digelar di mana-mana,
93
demikian juga seni kaligrafi Islam-Arab, maupun naqliyah (teks yang bersumber dari Al-
Quran maupun Sunnah (Alfaruqi, 1999: v-vi). Inti pendirian kelompok ini adalah seni
merupakan salah satu dari kandungan atau jangkauan Islam. Dalam bab ini tentu
dinyatakan bahwa seni Islam itu ada.
c. Seni lukis, Pahat, atau Patung

Al-Quran secara tegas dan dengan bahasa yang sangat jelas berbicara tentang patung
pada tiga surat Al-Quran.

a. Dalam QS.21 (Al-Anbiya) : 51-58 diuraikan tentang patung-patung yang disembah oleh
ayah Nabi Ibrahim dan kaumnya. Sikap Al-Quran terhadap patung-patung itu, bukan sekedar
menolaknya, tetapi merestui penghancurannya, sebagaimana firman Allah dalam QS.21 (Al-
Anbiya') : 58 yang artinya :

Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang


terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya)
kepadanya. (QS.21:58).

Ada satu catatan kecil yang dapat memberikan arti dari sikap Nabi Ibrahim di atas, yaitu
bahwa beliau menghancurkan semua berhala kecuali satu yang terbesar. Membiarkan satu di
antaranya dibenarkan, karena ketika itu berhala tersebut diharapkan dapat berperan sesuai
dengan ajaran tauhid. Melalui berhala itulah Nabi Ibrahim membuktikan kepada mereka
bahwa berhala, betapapun besar dan indahnya, tidak wajar untuk disembah. Dalam QS.21
(Al-Anbiya') : 63-64 Allah berfirman yang artinya:

Sebenarnya patung yang besar inilah yang melakukannya (penghancuran berhala-berhala


itu). Maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara. Maka mereka kembali
kepada kesadaran diri mereka, lalu mereka berkata, Sesungguhnya kalian semua adalah
orang-orang yang menganiaya (diri sendiri) (QS.21: 63-64).

Sekali lagi Nabi Ibrahim tidak menghancurkan berhala yang terbesar pada saat berhala
itu difungsikan untuk satu tujuan yang benar. Jika demikian, yang dipersoalkan bukan
berhalanya, tetapi sikap terhadap berhala, serta peranan yang diharapkan darinya.

b. Dalam QS.34 (Saba) :12-13 diuraikan tentang nikmat yang dianugerahan Allah kepada
Nabi Sulaiman, yang artinya adalah:

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang
tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang
tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS.34:12-13).

Dalam tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa patung-patung itu terbuat dari kaca,
marmer, dan tembaga, dan konon menampilkan para ulama dan nabi-nabi terdahulu. (Baca
tafsirnya menyangkut ayat tersebut). Di sini, patung-patung tersebut, karena tidak disembah
atau diduga akan disembah, maka keterampilan membuatnya serta pemilikannya dinilai
sebagai bagian dari anugerah Ilahi.
Dalam QS.3 (Ali Imran) : 48-49 dan QS. 5 (Al-Maidah) :110 diuraikan mukjizat Nabi Isa
antara lain adalah menciptakan patung berbentuk burung dari tanah liat dan setelah ditiupnya,

94
kreasinya itu menjadi burung yang sebenarnya atas izin Allah, sebagaimana firman Allah
dalam QS.3 (Ali Imran) : 49 yang artinya:

Aku membuat untuk kamu dari tanah (sesuatu) berbentuk seperti burung kemudian aku
meniupnya, maka ia menjadi seekor burung seizin Allah. (QS.3:49).

Di sini, karena kekhawatiran kepada penyembahan berhala atau karena faktor syirik tidak
ditemukan, maka Allah membenarkan pembuatan patung burung oleh Nabi Isa as. Dengan
demikian, penolakan Al-Quran bukan disebabkan oleh patungnya, melainkan karena
kemusyrikan dan penyembahannya.
Kaum Nabi Shaleh terkenal dengan keahlian mereka memahat, sehingga Allah
berfirman dalam QS.7 (al-A'raf) 74 yang artinya:

Ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)


sesudah kaum Ad, dan memberikan tempat bagimu di bumi, kamu dirikan istana-istana di
tanah yang datar, dan kamu pahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah, maka ingatlah
nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela di bumi membuat kerusakan.
(QS.7:74).

Kaum Tsamud amat gandrung melukis dan memahat, serta amat ahli dalam bidang ini
sampai-sampai relief yang mereka buat demikian indah bagaikan sesuatu yang hidup,
menghiasi gunung-gunung tempat tinggal mereka. Kaum ini enggan beriman, maka kepada
mereka disodorkan mukjizat yang sesuai dengan keahliannya itu, yakni keluarnya seekor
unta yang benar-benar hidup dari sebuah batu karang. Mereka melihat unta itu makan dan
minum (QS Al-Araf, 7:73 dan QS Al-Syuara, 26:155-156), bahkan mereka meminum
susunya. Ketika itu relief-relief yang mereka lukis tidak berarti sama sekali dibanding dengan
unta yang menjadi mukjizat itu. Sayang mereka begitu keras kepala dan kesal sampai mereka
tidak mendapat jalan lain kecuali menyembelih unta itu, sehingga Tuhan pun menjatuhkan
palu godam terhadap mereka (Baca QS 91:13-15). Yang digaris bawahi di sini adalah pahat-
memahat yang mereka tekuni itu ialah nikmat Allah yang harus disyukuri, dan harus
mengantar kepada pengakuan dan kesadaran akan kebesaran dan keesaan Allah. Allah sendiri
yang menantang kaum Tsamud dalam bidang keahlian mereka itu, pada hakikatnya
merupakan Seniman Agung kalau istilah ini dapat diterima.
Dalam hal sikap Islam terhadap seni pahat atau patung, Syaikh Muhammad At-Tahir bin
Asyur ketika menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang patung-patung Nabi Sulaiman
menegaskan, bahwa Islam mengharamkan patung karena agama ini sangat tegas dalam
memberantas segala bentuk kemusyrikan yang demikian mendarah daging dalam jiwa orang-
orang Arab serta orang-orang selain mereka ketika itu. Sebagian besar berhala adalah patung-
patung, maka Islam mengharamkannya karena alasan tersebut bukan karena dalam patung
terdapat keburukan, tetapi karena patung tersebut dijadikan sarana bagi kemusyrikan. Atas
dasar inilah, hendaknya dipahami hadis-hadis yang melarang menggambar atau melukis dan
memahat makhluk-makhluk hidup.
Apabila seni membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang
dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta
mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka Sunnah Nabi
mendukung, tidak menentangnya. Karena ketika itu ia telah menjadi salah satu nikmat Allah
yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad Imarah dalam bukunya Maalim
al-Manhaj a-Islami yang penerbitannya disponsori oleh Dewan Tertinggi Dawah Islam, Al-
Azhar bekerja sama dengan Al-Mahad Al-Alami lil Fikr al-Islami (International Institute for
Islamic Thought).
95
Sejarah kehidupan Rasulullah membuktikan bahwa beliau tidak melarang nyanyian
yang tidak mengantar kepada kemaksiatan. Bukankah sangat populer di kalangan umat Islam,
lagu-lagu yang dinyanikan oleh kaum Anshar di Madinah dalam menyambut Rasulullah ?
Memang benar, apabila nyayian mengandung kata-kata yang tidak sejalan dengan ajaran
Islam, maka ia harus ditolak. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa dua orang wanita
mendendangkan lagu yang isinya mengenang para pahlawan yang telah gugur dalam
peperangan Badr sambil menabuh gendang. Di antara syairnya adalah:

Dan kami mempunyai Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok..

Mendengar ini Nabi menegur mereka sambil bersabda:

"Adapun yang demikian, maka jangan kalian ucapkan. Tidak ada yang mengetahui (secara
pasti) apa yang terjadi esok kecuali Allah" (HR. Ahmad).

6.2.7. Kegunaan Seni Islam

Al-Quran sendiri memperhatikan nada dan langgam ketika memilih kata-kata yang
digunakannya setelah terlebih dahulu memperhatikan kaitan antara kandungan kata dan pesan
yang ingin disampaikannya. Sebelum seseorang terpesona dengan keunikan atau
kemukjizatan kandungan Al-Quran, terlebih dahulu ia akan terpukau oleh beberapa hal yang
berkaitan dengan susunan kata-kata dan kalimatnya, antara lain menyangkut nada dan
langgamnya.
Walaupun ayat-ayat Al-Quran ditegaskan oleh Allah bukan syair, atau puisi, namun ia
terasa dan terdengar mempunai keunikan dalam irama dan ritmenya. Ini disebabkan karena
huruf dari kata-kata yang dipilihnya melahirkan keserasian bunyi, dan kemudian kumpulan
kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya.
Bacalah misalnya surat Al-Syams, atau Al-Dhuha atau Al-Lahab dan surat-surat lainnya, atau
baca misalnya surat Al-Naziat ayat 15-26.
Yang ingin digarisbawahi di sini adalah nada dan irama yang unik itu. Ini berarti bahwa
Allah sendiri berfirman dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang memiliki irama dan
nada. Nada dan irama itu tidak lain dari apa yang kemudian diistilahkan oleh sementara
ilmuwan Al-Quran dengan Musiqa Al-Quran (Musik Al-Quran). Ini belum lagi jika ditinjau
dari segi ilmu tajwid yang mengatur antara lain panjang pendeknya nada bacaan, bahkan
belum lagi dari lagu-lagu yang diperkenalkan oleh ulama-ulama Al-Quran. Imam Bukhari,
dan Abu Daud meriwayatkan sabda Nabi yang artinya:

Perindahlah Al-Quran dengan suara kamu.

Bukankah semua ini menunjukkan bahwa menyanyikan Al-Quran tidak terlarang, dan
karena itu menyanyi secara umum pun tidak terlarang kecuali kalau nyanyian tersebut tidak
sejalan dengan tuntunan Islam. Apakah seni suara (nyanyian) harus dalam bahasa Arab?
Ataukah harus berbicara tentang ajaran Islam? Dengan tegas jawabannya adalah: Tidak.

6.2.8. Ketentuan Dalam Pengembangan Seni Islam

Kesenian tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung,
atau anjuran untuk berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni
Islam adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta
sesuai degan cetusan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi
96
pandangan Islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan
sempurna antara kebenaran dan keindahan. Boleh jadi seseorang menggambarkan Nami
Muhammad saw dengan sangat indah sebagai tokoh genius yang memiliki berbagai
keistimewaan. Penggambaran semacam ini belum menjadikan karya seni yang
ditampilkannya adalah seni Islam, karena ketika menggambarkan hubungan beliau dengan
hakikat mutlak yaitu Allah, penggambaran itu tidak sejalan dengan pandangan Islam
menyangkut manusia. (Baca selengkapnya Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, hlm. 119)
Anda boleh memilih objek dan cara menampilkan seni. Anda boleh menggambarkan
kenyataan yang hidup dalam masyarakat di mana Anda berada. Anda boleh memadukannya
dengan apa saja, boleh berimajinasi karena lapangan seni Islam adalah semua wujud, tetapi
sedikit catatan yaitu jangan sampai seni yang Anda tampilkan bertentangan dengan fitrah
atau pandangan Islam tentang wujud itu sendiri. Jangan sampai, misalnya, pemaparan tentang
manusia hanya terbatas pada jasmaninya semata atau yang ditonjolkan hanya manusia dalam
aspek debu tanahnya, tidak disertai dengan unsur ruh yang menjadikannya sebagai manusia.
Jika catatan ini diindahkan, maka pada saat itu pula, seni telah mengayunkan langkah untuk
berfugsi sebagai sarana dakwah Islamiyah.
Islam, melalui sumber utamanya Al-Quran, bahkan melukiskan dengan sangat indah,
kelemahan-kelemahan manusia; gejolak nafsu birahi pun ditampilkannya, Dan dirayunya
pemuda yang ada di rumahya, ditutupnya semua pintu amat rapat, sambil berkata inilah
daku. Sesungguhya dia telah bermaksud melakukan itu dan pemuda itu pun bermaksud.
Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang diabadikan oleh Allah dalam QS.12
(Yusuf) : 23-24) yang artinya:

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke
sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan
aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan
Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda
(dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS.12:23-
24)

Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf as. punya keinginan yang buruk
terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata
dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.
Tetapi Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya, karena ini dapat menghanyutkan, tetapi
juga dia tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah manusia, kisahnya
dilanjutkan dengan menggambarkan kesadaran para pelaku, sehigga pada akhirnya bertemu
debu tanah dan ruh itu pada sosok kedua hamba Allah itu.
Allah SWT meyakinkan manusia tentang ajaran-Nya dengan menyentuh seluruh
totalitas manusia, termasuk menyentuh hati mereka melalui seni yang ditampilkan Al-Quran,
antara lain melalui kisah-kisah nyata atau simbolik yang dipadu oleh imajinasi melalui
gambaran-gambaran konkret dari gagasan abstrak yang dipaparkan dalam bahasa seni yang
mencapai puncaknya. Dapat dipastikan bahwa Al-Quran menggunakan seni untuk dakwah,
dan dapat pula dipastikan bahwa selama ini, kita belum memanfaatkan secara maksimal
apalagi mengembangkan apa yang dicontohkan Al-Quran itu.
Kalau Al-Quran menggambarkan dalam bahasa lisan sikap dan gejolak hati manusia,
maka tentu tidak ada salahnya jika sikap dan gejolak hati itu digambarkan dalam bahasa
gerak dan mimik, bersama dengan bahasa lisan. Itulah salah satu contoh pengembangan,
97
karena menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk bukan berarti kita harus menirunya dalam
segala hal, tetapi dalam bidang seni misalnya, ia berarti menghayati jiwa bimbingan dan nafas
penampilannya, kemudian setelah itu mempersilakan setiap seniman untuk menerjemahkan
jiwa dan nafas tersebut dalam kreasi seninya. Al-Quran misalnya menjadikan kisah sebagai
salah satu sarana pendidikan yang sejalan dengan pandangannya tentang alam, manusia, dan
kehidupan. Maka pada saat seseorang menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan seni dan
hiburan dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia,
menggambarkan akibat baik atau buruk dari satu pengalaman, maka pada saat itu, seni yang
ditampilkannya adalah seni yang bernafaskan Islam, walaupun di celah-celah kisahnya
dilukiskjan kelemahan manusia dalam batas dan penampilannya yang tidak mendorong
kejatuhannya.
Al-Quran dan Sunnah misalnya melukiskan alam dengan begitu indah, berdialog, dan
bersambung rasa dengan manusia. Dan pada saat kita menikmati suatu lukisan yang hidup,
maka lukisan itu telah menjelaskan pandangan Islam tentang alam, tidak jauh berbeda dengan
ungkapan Rasulullah saw ketika melukiskannya dengan bahasa lisan : Gunung ini (Uhud)
mencintai kita dan kita pun mencintainya.

Memang Al-Quran, demikian juga Sunnah, sangat memperhatikan sisi hidup pada
penggambaran yang diberikannya. Perhatikan bagaimana Al-Quran melukiskan tanah yang
gersang sebagai tanah yang mati, dan tanah yang subur sebagai tanah yang hidup (QS Al-
Baqarah, 2:164). Bahkan, bagaimana Al-Quran melukiskan alam raya ini bagai sesuatu yang
hidup dan mampu berdialog sebagaimana dikisahkan dalam QS.41 (Fushshilat) : 11 yang
artinya:

Kemudian Allah menuju kepada penciptaan langit, dan langit (ketika itu) masih merupakan
asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi,Datanglah kamu berdua menurut
perintah-Ku suka atau tidak suka! Keduanya menjawab, Kami datang dengan suka hati
(QS. 41: 11).

Bahkan segala sesuatu yang hidup bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam
QS. 17 (Al-Isra') : 44 yang artinya :

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya (Allah).
Tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak
mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun. (QS. 17:44).

Tentu penggambaran alam raya ini sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekedar bertujuan
seni, tetapi untuk mengingatkan kepada manusia bahwa alam raya adalah sesuatu yang hidup
dan memiliki kepribadian. Sehingga, manusia perlu menjalin hubungan persahabatan
dengannya, atau paling tidak alam raya perlu dipelihara, dijaga kesinambungannya serta
dilimpahkan kepadanya rahmat dan kasih sayang.

6.3. Pengembangan IPTEK Dalam Islam


6.3.1. Pengertian Iptek
Iptek singkatan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kata ilmu adalah pengetahuan
tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang
dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di (bidang pengetahuan) itu.
Pengetahuan berasal dari kata tahu (mengerti) sesudah melihat (menyaksikan), mendengar,
98
atau mengalaminya sendiri. Pengetahuan itu akan menjadi suatu ilmu setelah disusun dan
dirumuskan secara sistematis. Dalam agama Islam istilah ilmu sangat dikenal, bahkan di
dalam Al-Quran kata ilmu dengan berbagai bentuknya disebutkan dengan berulang-ulang
sebanyak 854 kali. Kata ini digunakan berkaitan dengan arti suatu proses pencapaian
pengetahuan dan obyek pengetahuan.
Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar
katanya mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata alamun jamaknya alam
(bendera), ulmat (bibir sumbing), alam (gunung-gunung), alamat (alamat), dan sebagainya.
Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Sekalipun demikian, kata ini berbeda
dengan arafa (mengetahui), arif (yang mengetahui), dan marifah (pengetahuan).
Allah tidak dinamakan arif, tetapi alim, yang berkata kerja yalam (Dia Mengetahui),
dan biasanya Al-Quran menggunakan kata itu untuk Allah dalam hal-hal yang diketahui-Nya,
walaupun gaib, tersembunyi, atau dirahasiakan. Perhatikanlah: yalamu maa fi al-arhaam
(Allah mengetahui sesuatu yang berada di dalam rahim), maa tahmil kullu untsa (apa yang
dikandung oleh setiap betina/perempuan), maa fi anfusikum (yang di dalam dirimu), maa fis
samawat wa maa fil ardh (yang ada di langit dan di bumi), khaainat al-ayun wa maa tukhfiy
ash-shuduur (kedipan mata dan yang disembunyikan dalam dada). Demikian juga ilm yang
disandarkan kepada manusia, semuanya mengandung makna kejelasan.
Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia
unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin
dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan dalam QS.2 (Al-Baqarah) : 31 dan 32
yang artinya:

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam, nama-nama (benda-benda) semuanya.


Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat seraya berfirman, Sebutkanlah
kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orag yang benar (menurut
dugaanmu). Mereka (para malaikat) menjawab, Maha Suci Engkau tiada pengetahuan
kecuali yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS.2: 31-32)

Teknologi, adalah kemampuan teknik dalam pengertiannya yang utuh dan menyeluruh,
bertopang kepada pengetahuan ilmu-ilmu alam yang bersandar kepada proses teknis tertentu.
Sedangkan teknik adalah pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenanan
dengan hasil industri (bangunan, mesin dsb). Istilah teknik, berasal dari bahasa Yunani
teknikos, artinya dibuat dengan keahlian. Secara luas, teknik adalah semua manifestasi dalam
arti materiil yang lahir dari daya cipta manusia untuk membuat segala sesuatu yang
bermanfaat guna mempertahankan kehidupan. Dalam arti klasik, teknik adalah ilmu
pengetahuan dalam pengertian luas, yang bertopang kepada ilmu-ilmu alam dan eksakta yang
mewujudkan ilmu-ilmu: perencanaan, konstruksi, pengamanan, utilitas, tepat guna, dan
sebagainya dari semua bangunan teknik, sipil maupun militer.
Menelusuri pandangan Al-Quran tentang teknologi, mengundang kita menengok sekian
banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian ulama, terdapat
sekitar 750 ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan yang
memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas dan
berulang-ulang al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah
untuk manusia. Dalam QS.45 (Al-Jatsiyah) : 13 Allah berfirman yang artinya:

Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
semuanya (sebagai anugerah) dari-Nya (QS.45:13).

99
Penundukan tersebut secara potensial, terlaksana melalui hukum-hukum alam yang
ditetapkan Allah dan kemampuan yang dianugerahkan-Nya kepada menusia. Segala sesuatu
di alam raya ini memiliki ciri dan hukum-hukumnya. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki
ukuran (QS.13:8). Matahari dan bulan yang beredar dan memancarkan sinar, hingga rumput
yang hijau subur atau layu dan kering, semuanya telah ditetapkan oleh Allah sesuai ukuran
dan hukum-hukumnya. Demikian antara lain dejelaskan dalam QS. 87 (al-A'la) :2-3 yang
artinya:

Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar


(masing-masing) dan memberi petunjuk, (QS.87:2-3)

Semua yang berada di alam raya ini tunduk kepada-Nya. Hal tersebut difirmankan dalam
QS.13 (Al-Ra'du) :15 yang artinya:

Hanya kepada Allah-lah tunduk segala yang di langit dan dibumi secara sukarela atau
terpaksa (QS.13:15).

Benda-benda alam apalagi yang tidak bernyawa tidak diberi kemampuan memilih, tetapi
sepenuhnya tunduk kepada Allah melalui hukum-hukum-Nya, sebagaimana firman Allah
dalam QS. 41 (Fushshilat) : 11 yang artinya:

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit yang ketika itu masih
merupakan asap, lalu Dia (Allah) berkata kepadanya, Datanglah (tunduklah) kamu berdua
(langit dan bumi) menurut perintah-Ku suka atau tidak suka! Mereka berdua berkata Kami
datang dengan suka hati (QS. 41:11).

Pada sisi lain, manusia diberi kemampuan untuk mengetahui ciri hukum-hukum yang
berkaitan dengan alam raya, sebagaimana diinformasikan oleh Allah dalam QS.2 (Al-
Baqarah) : 31 yang artinya:

"Allah mengajarkan Adam nama-nama semuanya" (QS.2:31).

Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini
berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya. Adanya potensi itu dan tersedianya
lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap
perintah dan hukum-hukum Allah, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian
mengenai hukum-hukum tersebut. Karenanya, semua itu mengantarkan manusia berpotensi
untuk memanfaatkan alam yang telah ditundukkan Allah. Keberhasilan memanfaatkan alam
itu merupakan buah teknologi.
Al-Quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab. Ciri mereka antara
lain disebutkan dalam QS.3 (Ali Imran) : 190-191 yang artinya:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa
neraka. (QS.3:190-191)

100
Dalam ayat-ayat di atas tergambar dua ciri pokok ulil albab, yaitu tafakkur dan dzikir.
Kemudian keduanya menghasilkan natijah yang diuraikan pada ayat 195. Natijah bukanlah
sekadar ide-ide yang tersusun dalam benak, melainkan melampauinya sampai kepada
pengalaman dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh dapat ditambahkan
bahwa khalq as-samawat wal ardh disamping berarti membuka tabir sejarah penciptaan
langit dan bumi, juga bermakna memikirkan tentang sistem tata kerja alam semesta. Karena
kata khalq selain berarti penciptaan, juga berarti pengaturan dan pengukuran yang cermat.
Pengetahuan tentang hal terakhir ini mengantarkan ilmuwan kepada penciptaan teknologi
yang menghasilkan kemudahan dan manfaat bagi umat manusia.
Jadi dapatkah dikatakan bahwa teknologi merupakan sesuatu yang dianjurkan oleh Al-
Quran. Dalam QS.27 (Al-Naml) : 88 Allah berfirman yang artinya:

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal, ia
berjalan sebagai jalannya awan. (begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh
tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS.27:88)

Ini berarti bahwa sains dan hasil-hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap
kehadiran dan Kemahakuasaan Allah, selain juga harus memberi manfaat bagi kemanusiaan,
sesuai dengan prinsip Bismi Rabbik. Teknologi dan hasil-hasilnya disamping harus
mengingatkan manusia kepada Allah, juga harus mengingatkan bahwa manusia adalah
khalifah yang kepada-Nya tunduk segala yang berada di alam raya ini.

6.3.2. Ayat-ayat Al-Quran Tentang Iptek

Al-Quran memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan


ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah Muhammad saw pun diperintahkan berusaha
dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya: Qul Rabbi zidni ilma (berdoalah [hai
Muhammad], Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmuku) (QS Thaha, 20:114), karena
fauqa kullu dzi ilmin aliim (di atas setiap yang berilmu ada yang lebih mengetahui.
Manusia memiliki naluri selalu haus akan pengetahuan. Rasulullah saw bersabda: Dua
keinginan yang tidak pernah puas, keinginan menuntut ilmu dan keinginan menuntut harta.
Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan teknologi dengan
memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Karena itu, laju teknologi
memang tidak dapat dibendung. Hanya saja menusia dapat berusaha mengarahkan diri agar
tidak memperturutkan nafsunya untuk mengumpulkan harta dan ilmu/tekologi yang dapat
membahayakan dirinya. Agar ia, tidak menjadi seperti kepompong yang membahayakan
dirinya sendiri karena kepandaiannya, dalam QS.10 (Yunus) : 24 Allah menegaskan yang
artinya:

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di
antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu
malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang
sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan
tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS. 10:24).

101
Al-Qur`an memuji sekelompok manusia yang dinamainya albab. Ciri mereka antara
lain disebutkan dalam QS 3:190-191. Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan non
materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dapat dilihat,
diketahui manusia pun tidak. Dalam QS.16 (Al-Nahl) : 8 Allah berfirman yang artinya:

"Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui" (QS.16: 8)

Dari sini jelas pula bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas. Karena itu wajar
sekali Allah menegaskan dalam QS.17 (Al-Isra') :85 yang artinya:

Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit" (QS.17: 85).

Kemudian dalam QS.3 (Ali Imran) : 190-191 Allah menegaskan yang artinya:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa
neraka. (QS. 3: 190-191).

Al-Qur`an ketika mula pertama diturunkan, telah menegur kekeliruan yang dilakukan
manusia. Selama di era kejahilan Tuhan-tuhan diciptakan dan disembah sebagai berhala.
Masyarakat tersentak ketika muncul suatu informasi bahwa diri mereka sendiri diciptakan
secara berproses dari segumpal darah kemudian diciptakan menjadi manusia, lalu lahir ke
dunia. Agar mereka belajar, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan
membaca, mencoba, memperhatikan, menyelidiki dan merumuskan suatu teori. Kesemuanya
hendaklah dilakukan dengan berbasis iman, dengan menyebut nama Tuhan atau mengucap
bismi rabbika allazi khalaq (Membaca dan belajar dengan nama Tuhanmu Yang
Menciptakan), sebagaimana firman-Nya dalam QS. 96 (Al-'Alaq) : 1-5 yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya. (QS 96:1-5).

Tuhan mengajar manusia (wa `allama Aadamal asma-a kullaha), mengajari Adam nama-
nama benda seluruhnya. Alam semesta ini sebagai kosmos yang berarti serasi, harmonis.
Dalam bahasa Arab alam adalah satu akar kata dengan ilmu (ilmu pengetahuan) dan
`alamah (alamat, pertanda). Disebut demikian karena jagad raya ini adalah pertanda adanya
Yang Maha Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu sebagai pertanda adanya
Tuhan, jagad raya ini disebut ayat-ayat yang menjadi sumber ajaran dan pelajaran bagi
manusia. Salah satu pelajaran dan ajaran yang diambil dari pengamatan terhadap alam
semesta ialah keserasian, keharmonisan dan ketertiban.
Hakikat kosmos adalah teologis, yakni penuh maksud, memenuhi maksud penciptanya,
dan kosmos bersifat demikian adalah karena adanya rancangan (teknologi). Alam tidaklah
diciptakan dengan sia-sia, atau secara main-main. Alam bukanlah ada secara kebetulan, ada
dengan tidak disengaja. Alam diciptakan dengan kondisi sempurna sebagaimana firman Allah
dalam QS.21 (Al-Anbiya') : 16 yang artinya:

102
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya
dengan main-main. (QS 21:16).

Al-Quran sangat konsen dalam mendorong manusia untuk terus mencari ilmu
pengetahuan dan mengembangkannya menjadi nyata dalam teknologi agar manusia
menyadari akan kebesaran PenciptaNya. Apapun yang akan ditemukan oleh manusia dalam
kemajuan ilmu dan teknologi akan mengantar manusia pada suatu pengakuan terhadap
kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai Pencipta, sebagaimana firman-Nya dalam QS. 41
(Fushshilat) : 53 yang artinya:

Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga nyata bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan
apakah tidak cukup Tuhanmu itu bagimu, bahwa Dia sungguh menyaksikan segala sesuatu.
(QS 41:53).

Diantara ayat-ayat Al-Qur'an ada yang berbicara tentang teknologi khusus, seperti :
a. Teknologi Transportasi
Di dalam QS.16 (al-Nahl) : 8 Allah berfirman y6ang artinya:

Dan (dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan
(menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak menge-tahuinya"
(QS. 16:8).

b. Teknologi Informasi
Dalam QS.96 (Al-'Alaq) : 4-5 Allah berfirman yang artinya:

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar manusia apa yang
tidak diketahuinya. (QS. 96:4-5)

c. Teknol\ogi Antariksa
Dalam QS.55 (Al-Rahman) : 33 Allah berfirman yang artinya:

Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
(QS. 55:33).

6.3.3. Sunnah Rasulullah saw Tentang Iptek

Sunnah-sunnah Rasulullah saw yang menjelaskan tentang iptek sangat banyak karena
memang Islam sangat memperhatikan iptek. Karena itu hanya sebagian kecil saja yang dinukil
dalam tulisan ini, yaitu :
a. Dari Abud Darda` ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan
mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para
malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan
sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-
makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan
pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu
103
atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas
seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi
tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan
ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian
yang sangat banyak. (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683, dan isnadnya
hasan, lihat Jamiul Ushuul 8/6)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu dia berkata: Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia
menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang dia dengar, maka kadang-
kadang orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada orang yang
mendengarnya. (HR. At-Tirmidziy no. 2659 dan isnadnya shahih, lihat Jaamiul Ushuul
8/18)

b. Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda yang artinya:

Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali
dari tiga hal: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih
yang mendoakannya. (HR. Muslim no.1631)

c. Adapun pahala menuntut ilmu Rasululllah saw. bersabda: Orang yang menuntut ilmu
berarti menuntut rahmat; orang yang menuntut ilmu berarti menjalankan rukun Islam dan
pahala yang diberikan kepadanya sama dengan pahala para nabi. (H.R. Ad-Dailami dari
Anas r.a).
d. Nabi Muhammad saw juga sangat menghargai orang yang berilmu. Ulama adalah pewaris
para Nabi Begitu sabdanya seperti yang dimuat dalam HR Abu Dawud.
e. Bahkan Nabi tidak tanggung-tanggung lebih menghargai seorang ilmuwan daripada satu
kabilah, :Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang
alim. (HR Thabrani)
f. Seorang alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu-waktu bisa
tersesat karena kurangnya ilmu. Keutamaan orang alim atas orang ahli ibadah adalah
seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku. (HR At Tirmidzi).
g. Nabi Muhammad saw mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu
wajib bagi muslimin dan muslimah begitu sabdanya. Tuntutlah ilmu dari sejak lahir
hingga sampai ke liang lahat.
h. Perintah untuk berguru sangat dianjurkan walaupun harus sampai kenegeri Cina. Uthlubul
ilma walaw bishshiin, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Hadits ini diriwayatkan dari
jalan Abu Atikah Al Bashri, dari Anas bin Malik.
i. Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya,
Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu? Nabi saw menjawab,
Majelis-majelis taklim. (HR. Ath-Thabrani)
j. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke
surga. (HR. Muslim)
k. Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang abid (ahli ibadah) ibarat bulan
purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

6.3.4. Konsep Pengembangan Iptek

104
Dalam ajaran Islam, usaha pengembangan iptek merupakan bagian dari pengabdian
manusia kepada Allah, untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah, sehingga
tidak ada kegiatan yang sia-sia atau yang hanya berakhir di kehidupan dunia ini semata.
Untuk meraih nilai pengabdian tersebut, pengembangan iptek harus memenuhi ketentuan sbb:
a. Niat karena Allah.
Karena menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap orang Islam, maka mengembangkan
iptek merupakan perwujudan ketaatan seorang muslim terhadap kewajiban tersebut. Niat
karena Allah dalam setiap usaha akan melandasi keikhlasan dan ketundukan pada aturan
Allah.
b. Mengintegrasikan pengetahuan yang disediakan oleh Allah dalam bentuk ayat-ayat kauniah
dan ayat-ayat tanziliah. Ayat kauniah adalah pengetahuan yang terhampar di alam
kehidupan dan ayat tanziliah adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw
berupa Al-Qur'an.
c. Berorientasi pada kemashlahatan umat manusia. Rasulullah saw mengingatkan bahwa
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling tinggi kebaikannya terhadap orang lain.
Karena itu iptek jangan sampai menimbulkan kerugian bagi kehidupan umat manusia.
d. Menjaga keseimbangan alam. Kegiatan penelitian dalam rangka pengembangan iptek harus
memperhatikan keseimbangan alam, jangan sampai menimbulkan kerusakan yang dapat
mengganggu keseimbangannya yang justru akan merugikan manusia sendiri.
e. Menyadari bahwa iptek adalah hasil kerja manusia yang tidak dapat menghasilkan
kebenaran mutlak. Kebenaran mutlak hanyalah datang dari Allah Yang Maha Mutlak.
karena itu kebenaran iptek harus diposisikan dibawah kebenaran mutlak yang ditunjukkan
oleh Allah.

6.3.5. Tujuan Pengembangan Iptek

Al-Quran sangat konsen dalam mendorong manusia untuk terus mencari ilmu pengetahuan
dan mengembangkannya menjadi nyata dalam teknologi agar manusia menyadari akan
kebesaran Penciptanya. Apapun yang akan ditemukan oleh manusia dalam kemajuan ilmu dan
teknologi akan mengantar manusia pada suatu pengakuan terhadap kebesaran dan kekuasaan
Allah sebagai Pencipta:
Manusia bukan hanya dituntut menguasai bumi, malah ditantang untuk menerobos
langit, dan manusia memang juga diberi potensi-potensi untuk keluar batas-batas bumi agar
dapat mengamati alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah, Penciptanya. Di dalam
Al-Qur'an, Allah menantang makhluk-Nya, jin dan manusia:

Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu ingin menembus langit dan bumi, cobalah, tapi
kamu tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sultan. (QS 55:33).

Perkataan sultan dalam kitab ayat tersebut memiliki arti kekuatan, dari masa ke
masa membawa makna yang terus berkembang. Kalau dulu mungkin diartikan sebagai sultan
(penguasa), sekarang ini arti harfiah penguasa dan kekuatan lebih dapat disumbangkan
oleh kekuatan dan kekuasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan iptek itu manusia telah
dapat mencapai tepian ufuk langit hingga sampai ke bulan, dan kini serta terus menerus tiada
henti manusia terus berupaya untuk menggapai cakrawala, ufuk langit yang lebih tinggi.
Sebaliknya menembus bumi dan langit tanpa teknologi akan sia-sia. Petani dengan alat
sederhana, seperti cangkul dan linggis umpamanya, seberapa dalamkah ia dapat menggali
menembus bumi. Paling dalam 10 sampai 20 m. Lebih dalam dari itu, manusia sudah mulai
memerlukan alat-alat yang lebih canggih, dan itu akan dapat dipenuhi melalui teknologi.
Dengan teknologi, manusia telah mampu menggali sampai jauh ke dasar bumi, malah ke
105
bawah dasar laut telah dibuat jalan kereta api, seperti terowongan yang menghubungkan
Inggris dan Prancis. Dengan teknologi manusia dapat mengirimkan robot-robot untuk
menyelidiki dasar laut. Malah ada yang telah mengancang-ancang ingin membuat
permukiman di dalam laut. Manusia bukan hanya dituntut menguasai misteri bumi, melainkan
juga diberi potensai-potensi ke luar batas-batas bumi guna menemukan dan meyakini
kebesaran Allah yang telah menciptakannya: Wahai golongan jin dan manusia jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silakan lintasi, tapi kamu tidak akan
dapat melintasinya kecuali dengan sulthan (kekuatan).(QS 55:33). Penundukan Allah
terhadap alam raya bersama potensi yang dimiliki manusia bila digunakan secara baik akan
menimbulkan teknolgi. Karena itu teknologi dan hasil-hasilnya di samping harus
mengingatkan manusia kepada Allah Pencipta alam semesta ini, juga memberi ingat agar
manusia menyadari bahwa ia adalah khaaliah Allah yang dapat menundukkan alam semesta
atas izin Penciptanya.
Al-Qur`an menyodorkan kepada manusia dengan pedoman sains-sains (pengetahuan)
yang berhubungan dengan pengetahuan bumi dan pengetahuan angkasa luar dan memberinya
dengan perlengkapan-perlengkapan agar memperoleh dan menyelidiki segala sesuatu demi
membuka dan membedah urai akan materi-materinya. Cara demikian yang mendorongnya
memperoleh segala sesuatu yang dapat dimungkinkan di dunia dan menggunakannya demi
mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Dengan teknologi, Tuhan menganjurkan kepada
jin dan manusia untuk mencoba meningkatkan kemampuannya supaya dapat menjelajahi
jarak-jarak yang sangat jauh dan yang sulit sekali ditempuh, kemana saja, yang termasuk juga
ke langit. Untuk menjelajah angkasa luar manusia telah menemukan teknologi antariksa, yaitu
suatu ilmu teknik dalam arti luas yang bertujuan memperoleh manfaat dari penempatan
peralatan, dan kesanggupan manusia untuk mengarungi dan bertempat tinggal di antariksa.
Dengan kapal udara dan jet, manusia dapat melesat dengan cepat menembus cakrawala,
menggapai langit dan luar angkasa. Malah sudah dikirim pesawat tanpa awak penjelajah
pelanet-planet yang dikirim selama bertahun tahun yang lalu sampai sekarang. Secara aktif
pesawat-pesawat tanpa awak itu mendeteksi dan mengirimkan berbagai informasi yang
direkamnya dari angkasa luar.
Setelah manusia diciptakan Allah tidaklah dibiarkan dalam kebodohan sehingga
makhluk ini mengembara di atas bumi dengan tidak berdaya. Tapi, Tuhan Yang Maha
Pengasih telah melimpahkan potensi berupa akal dan qalbu, diajarkannya untuk memahami
elemen-elemen alam lalu menyelidiki dan menggunakan benda-benda yang terpendam dalam
bumi dan yang tersebar di langit demi memenuhi kebutuhannya. Nama-nama benda telah
memberikan indikasi tata-nama lewat manusia yang dapat melihat dan mengerti tentang alam
serta karakteristik-karakteristiknya, dari segala benda-benda (segala sesuatu). Yang demikian
itu adalah jelas-jelas merupakan penghargaan yang sangat tinggi bagi manusia:
Manusia mulai berpikir dari apa yang telah diberikan kepadanya berbagai kekuatan dan
kemampuan untuk lebih mendalami rahasia-rahasia dunia fisik. Siapakah sebenarya yang
memberikan kekuatan dan kemampuan kecerdasan manusia untuk menguasi benda-benda
material dan memanfaatkannya demi mencukupi kebutuhannnya sendiri? Ini semua untuk
memberikan keuntungan, dari Allah, bahwa manusia diharapkan mampu mengemban amanah
sebagai khalifah-Nya di atas bumi.
Ingatlah iqra bismirabikalladzi khalaq (bacalah dengan nama Tuhanmu yang
Menciptakan", bukan Tuhan-tuhan yang diciptakan dan bukan pula tuhan yang tak mampu
menciptakan sesuatu). Itulah tempat manusia tunduk, bukan kepada alam dan segala yang
diciptakan. `Allama bil-qalam (yang mengajar dengan qalam). Apakah arti qalam? Makna
qalam terus berkembang dari zaman ke zaman, mulai dari alat tulis sederhana, sampai arti
qalam di abad modern ini, seperti: mesin tik, komputer, mesin-mesin percetakan, cetak jarak
jauh, internet, dan kini yang mengagumkan adalah hand-phone dengan aneka fungsinya yang
106
terus berkembang. Qalam adalah alat tulis dan alat rekam, sebagai lambang teknologi,
karena sesungguhnya Tuhan bisa saja mengajar manusia bukan dengan cara biasa seperti
umpamanya ia mengajar para nabi dan orang-orang tertentu tanpa alat. Tapi Tuhan hendak
memberi pengertian kepada manusia, bahwa dengan alat manusia akan dapat menguasai alam
dan menciptakan peradaban yang lebih maju.

6.3.6. Kegunaan Iptek

Dari wahyu pertama ditemukan petunjuk tentang pemanfaatan ilmu. Melalui Iqra bismi
Rabbika, digariskan bahwa titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, demikian juga tujuan
akhirnya, haruslah karena Allah. Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi
Al-Azhar, memahami Bacalah demi Allah dengan arti untuk kemashlahatan makhluk-Nya.
Bukankah Allah tidak membutuhkan sesuatu, dan justru makhluk yang membutuhkan Allah ?
Semboyan Ilmu untuk ilmu tidak dikenal dan tidak dibenarkan oleh Islam. Apapun
ilmunya, materi pembahasannya harus Bismi Rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai
Rabbani, sehigga ilmu yang dalam kenyataan dewasa ini mengikuti pendapat sebagian ahli
bebas nilai, harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuwan muslim. Umat Islam harus
menghindari cara berpikir tentang bidang-bidang yang tidak menghasilkan manfaat, apalagi
tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan energi. Rasulullah saw sering berdoa: Wahai
Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.Atas dasar ini pula,
berpikir atau menggunakan akal untuk mengungkap rahasia alam metafisika, tidak boleh
dilakukan. Artinya, hatilah mesti dipergunakan untuk menjelajahi alam metafisika.
Menarik untuk dikemukakan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam
raya, menggunakan redaksi yang berlainan ketika menunjukkan manfaat yang diperoleh dari
alam raya, walaupun objek atau bagian alam yang diuraikan sama. Perhatikan misalnya ketika
Al-Quran menguraikan as-samawat wal ardh. Dalam QS.2 (Al-Baqarah) :164, penjelasan
ditutup dengan menyatakan, la ayatin liqaum(in) yaqilun (sungguh terdapat tanda-tanda bagi
orang yang berakal). Sedangkan dalam QS.3 (Ali Imran) :190, ketika menguraikan persoalan
yang sama diakhiri dengan kalimat la ayatin li-ulil albab (pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda bagi Ulil Albab atau orang-orang yang memiliki saripati segala sesuatu).
Inilah antara lain fashilat (penutup) ayat-ayat yang berbicara tentang alam raya, yang
darinya dapat ditarik kesan adanya beragam tingkat dan manfaat yang seharusnya dapat diraih
oleh mereka yang mempelajari fenomena alam: yatafakkarun (yang berpikir), (QS.10
(Yunus):24), yalamun (yang mengetahui), (QS.10 (Yunus):5), yatazakkarun (yang
mengambil pelajaran), (QS.16 (Al-Nahl) :13), yaqilun (yang memahami), (QS.16 (Al-Nahl)
:12), yasmaun (yang mendengarkan), (QS.30 (Al-Rum) :23), yuuqinun (yang meyakini),
(QS.45 (Al-Jatsiyah) :4), al-muminin (orang-orang yang beriman), (QS.45 (Al-Jatsiyah) :3),
alalimin (orang-orang yang mengetahui), (QS.30 (Al-Rum) :22).
Bagaimanakah hubungan antara agama dan ilmu, apakah tak berlawanan? Sama sekali
tidak! Dapat ditegaskan di sini bahwa tak pernah ada sarjana-sarjana muslim yang dibunuh
atau dipenjarakan seperti yang dialami Miklas Kopernigk (Latin: Nicolaus Copernicus) yang
mati merana pada tahun 1543 M, Giordano Bruno yang dibunuh pada tahun 1600 M, dan
Galileo Galilei yang mati merana di penjara pada tahun 1642 M (setelah dipaksa mengingkari
teorinya yang sejalan dengan teori Koppernigk) dibawah pengadilan iman (inquisition) Gereja
Roma. Atau seperti yang dialami oleh Miguel Serveto (Michael Servet) penemu peredaran
darah (dengan menukil dari Abu al-Hasan Ali ibn an-Nafis, wafat 1288 M), yang dibakar
tahun 1553 M di bawah reformator Jean Calvin.
Sarjana-sarjana muslim bertolak dari Tauhid menganggap hukum-hukum alam sebagai
sunnatullah yang objektif, tertib dan teratur. Mereka tidak merancukan kepercayaan dengan
metoda pembahasan ilmiah atau memutarbalikkan fakta-fakta. Khurafat memang dilarang
107
oleh Islam. Mereka tidak dibelenggu oleh kedunguan-kedunguan gambaran alam semesta
yang dipunyai Ptolemaios dan dilindungi oleh gereja berdasarkan nash-nash kitab Kejadian
(1:6-8; 1:14-19 dan Kitab Yushak 10-12), Perjanjian Lama. Segala kesimpulan objektif tak
pernah berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah, bahkan Al-Quran mereka anggap selalu
memperkuat hasil-hasil penelitian ilmiah mereka.
Islam menjadi ahli waris pusaka kecendekiaan semua peradaban besar sebelumnya,
kecuali peradaban besar Timur Jauh, serta Islam menjadi sebuah tempat belindung di sebuah
jagat ruhani baru. Pasal ini haruslah diulangi, khususnya karena sekian banyak orang di Barat
keliru mengira, bahwa Islam hanya bertindak sebagai sebuah jembatan yang dilalui oleh
gagasan-gagasan masa purba diserahkan kepada Eropa abad-abad tengah. Sebetulnya tiada
sesuatu pun yang lebih jauh dari kebenaran, karena tak ada gagasan, teori, atau ajaran
memasuki benteng pikiran Islam, kalau tidak lebih dahulu dimuslimkan dan diutuh padukan
ke dalam pandangan dunia Islam yang menyeluruh. Apa pun juga yang tak dapat mengikat
perdamaian (salam) dengan Islam, lambat laun terusir dari gelanggang kehidupan cendekia
Islam atau sepenuhnya dibuang ke tepi permadani warna-warni ilmu pengetahuan Islam.
Tertarik oleh metoda ilmiah Islam seorang Katholik Roma anggota Ordo Fransiskan
dari Inggris bernama Roger Bacon (1214-1292) datang belajar bahasa Arab ke Paris antara
tahun 1240 dan 1250 serta antara 1257 dan 1268. Di sana terdapat banyak terjemahan buku-
buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin dan juga naskah-naskah asli di dalam bahasa Arab.
Ada juga terdapat orang-orang Perancis yang pandai berbahasa Arab disamping mungkin
terdapat pula orang-orang muslimin Spanyol yang bekerja sebagai penerjemah.
Dengan modal bahasa Arab, Bacon kemudian mempelajari ilmu pasti dan ilmu
pengetahuan alam seperti juga beberapa orang sarjana Kristen lainnya pada masa itu. Dengan
membawa sejumlah besar buku-buku ilmiah Islam dari Paris kemudian antara tahun 1250 dan
1257 ia pulang dan melanjutkan pelajaran bahasa Arabnya pada Universitas Oxford. Beberapa
buah karya sarjna-sarjana muslim di antaranya Al-Manazhir karya Ali al-Hasan ibn Haitam
(965-1038 M) diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin, bahasa ilmiah Eropa pada masa itu.
Di dalam naskah-naskah tersebut terdapat keterangan-keterangan mengenai mesiu dan
mikroskop. Secara tak jujur ia mencantumkan namanya sendiri pada terjemahan-terjemahan
itu dan dengan demikian melakukan plagiat terang-terangan. Hal itu sama sekali berlainan
dengan yang dilakukan kaum muslimin dengan menerjemahkan karya-karya Phytagoras (
530 - 495 pra-M), Plato (425 347 pra-M), Aristoteles (388-322 pra-M), Aritarchos (310-
230 pra-M), Euclides (lahir 330 pra-M) dan Klaudios Plotemaios (87-168 M) dan lain-lain
dengan menyebutkan pengarang-pengarang aslinya.
Kira-kira empat abad kemudian seorang Ingris lain bernama Francis Bacon (1561-1627)
menyebarkluaskan teori induksi dan percobaan-percobaan (experiment) ilmiah atau
empirisme ilmiah di dalam karya-karyanya The Advancement of Learning (1605), Novum
Organum (1620), De Augmentis Scientiarum (1623), Sylva Sylvarum (1624) dan New
Atlantis (1624). Dengan adanya penemuan cetak buku (1450) oleh Johann Gutenberg (1400-
1468-an) buku-buku tersebut telah dicetak dan sekalipun dibakar oleh gereja, sebagian dapat
diselamatkan dan kemudian dicetak ulang. Demikianlah Dunia Barat yang buta mengenai
asal-usul apa yang disebut Baconian philosophy itu kemudian telah mengasalkan (ascribed)
metoda ilmiah kepadanya. Barulah atas dasar metoda ilmiah itu kemudian ilmu pengetahuan
dan teknologi berkembang dengan pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Kegiatan
menterjemahkan buku-buku ilmiah Islam sebenarnya memang telah dimulai oleh seorang
Perancis bernama Gerbert dAurignac (940-1003) ke dalam bahasa Latin, karena bahasa-
bahasa nasional belum lagi berkembang pada masa itu. Ilmu Gerbert yang bersekolah di
Catalonia, Spanyol Timur-Laut, pada masa itu demikian unggul dan menonjol, hingga di
kemudian hari ia menaiki tahta Paus sebagai orang Perancis pertama yang menjadi Paus
Sylvester II. Pengikutnya adalah Gerard de Cremona, lahir di Cremona, Lombardia, Italia
108
Utara. Ia tinggal di Toledo, Spanyol, dimana terdapat banyak kaum muslimin yang pandai
berbahasa Latin, di samping bahasa Spanyol. Dengan bantuan mereka ia telah selesai
menterjemahkan 92 buah buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin, antara lain buku Al-Asrar
(Rahasia-rahasia) karya Abu Bakr Muhammad ibn Zakaria Ar-Razi (Razes, Rases, atau
Rhazes, 866-926) dan karya dokter Abul Qasim Az-Zahrawi (w. 926) tentang metoda
pembedahan, serta buku Abu Muhammad Dhiyauddin Al-Baithar (Alpetragius, w. 1248)
tentang ilmu tumbuh-tumbuhan. Kebangkitan kembali (renaissance) pada abad ke-14,
reformasi abad ke-15, rasionalisme abad ke-17, dan pencerahan (aufklaerung, enlightenment)
abad ke-18, memancar karya-karya ilmiah kaum muslimin itu, tetapi telah terlepas dari
Tauhid serta berubah menjadi antroposentrik dan menjadi duniawiah (secularistic).
Uraian di atas, mengemukakan bahwa buku-buku filsafat dan ilmiah dilatinkan dari atau
melalui bahasa Arab diakui sendiri oleh sarjana-sarjana Barat. Dr. W.F. Stuterheim berkata,
Tak perlu dikatakan betapa besar peranan mereka (kaum muslimin) di dalam menyimpan
perbendaharaan Yunani bagi Barat pada suatu masa ketika Barat belum lagi berminat
kepadanya. Berkata pula A. Armitage, Dengan jalan ini kadang-kadang pada abad ke-12
sarjana-sarjana Kristen-Eropa memperoleh pemilikan Almagest karangan Ptolemaios dan
karya-karya ilmiah Aristoteles belum lagi di dalam asli-asli Yunaninya, melainkan di dalam
terjemahan-terjemahan Latin dari Bahasa Arab.
Di bidang ilmu alam jumlah penemuan-penemuan mereka lebih besar lagi. Kesimpulan
ringkas berikut membuktikan pentingnya suatu pengetahuan tingkat tinggi mengenai ilmu
alam teoretik khususnya mengenai optika dan mengenai penciptaan-penciptaan alat-alat
mekanika yang paling berguna; penemuan bahan-bahan kimia yang paling pokok seperti
alkohol, asam sendawa dan asam belerang; tindakan-tindakan hakiki seperti penyulingan
(distilasi); penerapan kimia kepada farmasi dan perdagangan, terutama pembuatan oksida-
oksida dari logam-logam, pembuatan kertas dari kain-kain usang yang mereka jadikan
pengganti papyrus, atau kertas sutera Tiongkok. Mungkin merekalah yang pertama kalinya
menggunakan pedoman untuk pelayaran; betapapun juga merekalah yang membawa
penemuan pokok ini ke bawah perhatian Eropa.
Pada akhirnya penemuan senjata-senjata api. Pada tahun 1205 Amir Yaqub di dalam
pertempuran Mahdiyya telah menggunakan artileri sebagai senjata terakhir; pada tahun 1273
Sultan Abu Yusuf pada pertempuran Sijilmasa (di Maroko Selatan) mempergunakan meriam-
meriam. Pada tahun 1342 dua orang Inggris, Lord Derby dan Lord Salisbury, hadir pada
pertempuran Algericas, yang dipertahankan dengan cara yang sama oleh orang-orang Arab.
Ketika musafir-musafir ini telah menyaksikan daya akibat mesiu, maka mereka bawa
penemuan ini ke negeri mereka. Karena merekalah orang-orang Inggris di Cressy
mempergunakannya empat tahun kemudian.
Di dalam ilmu kedokteran kaum Muslimin mengikuti pengarang-pengarang Yunani
serta kemudian membuat kemajuan-kemajuan yang sangat pesat. Hampir seluruh pengetahuan
kedokteran Eropa pada kurun Renaissance berasal dari mereka. Kemajuan yang paling
menonjol yang mereka capai di dalam ilmu kedokteran ialah di dalam pembedahan; pelukisan
penyakit-penyakit; material medica (bahan-bahan obat) dan farmasi. Mereka menemukan
sejumlah cara kerja yang banyak di antaranya: penggunaan air dingin pada typhus, pada
zaman modern muncul kembali setelah berabad-abad dilupakan. Materia medica berutang
budi kepada mereka mengenai banyak obat-obatan seperti kassia, daun sena Mekah (obat
pencahar), kelembak, buah asam, kamper, alkohol, ammonia, dan lain-lain. Merekalah
pencipta-pencipta farmasi yang sebenarnya. Kebanyakan preparat-preparat yang sekarang
masih dipakai diasalkan kepada mereka: sirop, emulsi. pomade, salep, air sulingan dan lain
sebagainya.
Ilmu bedah berutang budi mengenai perkembangannya yang pertama kepada orang-
orang Arab. Karya mereka dipergunakan sebagai dasar bagi pengajaran pada fakultas-fakultas
109
kedokteran sampai belum lama berselang. Pada abad ke-sebelas hitungan tahun kita, mereka
telah mengetahui pengobatan catarac dengan pengenceran atau ekstrak kristalin; lithonomi;
pengobatan perdarahan-perdarahan dengan membasahinya dengan air dingin; pemakaian
obat-obatan yang menggigit kulit; seton-seton dan pembakaran dengan api. Pembiusan, yang
penemuannya dianggap dari jaman modern, rupa-rupanya telah mereka ketahui. Memang
mereka berbicara tentang kegemaran mereka akan pembiusan sebelum melakukan
pembedahan-pembedahan, agar si sakit dapat ditidurkan, hingga muncul hilangnya kesadaran
dan daya rasanya. Mereka pun mempunyai kepercayaan yang tak tanggung-tanggung akan
ilmu kesehatan di dalam pengobatan kedokteran serta menaruh kepercayaan yang besar akan
alat-alat bantuan alam. Ilmu kedokteran yang dinanti-nantikan yang sekarang tampak-
tampaknya merupakan kata putus ilmu pengetahuan modern, bersoal jawab dengan cara yang
sama

110
Daftar Pustaka
Abdul Jabbar, M, Seni di dalam Peradaban Islam. Bandung: Pustaka, 1988
Abdullah, Taufik (editor), Ensiklopedi Tematik Dunia Islam, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta,
2002.
Abdul Mujib, M.Ag. dan Jusuf Mudzakir, M.Si., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada, 2001
Abdushshamad, Muhammad kamil, Penerjemah Alimin, Lc., M.Ag. dkk., Mukjizat Ilmiah
dalam Al-Quran, Jakarta : Akbar, 2003.
Adabi Darban, Peranserta Islam Dalam Perjuangan Indonesia, Yogyakarta: UII, 1990.
Ali, Mohammad Daud, 1998, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Pers
Ali, Muhammad, Teologi Pluralis-Multikultural Menghargai Kemajemukan Menjalin
Kebersamaan, Jakarta : Kompas, 2003.
Anshari, Endang Saifudin. Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Bandung: Pustaka, 1983
Arnold, T.W., Sejarah Dakwah Islam, Jakarta: Widjaya, 1979.
Benda, H.J., Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan
Jepang, Jakarta: Pustaka Jaya, 1985.
Boland, B.J., Pergumulan Islam di Indonesia, Jakarta: Grafitipers, 1985.
Darwis Hude, M., Emosi Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi manusia di dalam A-
Quran, Jakarta : Erlangga, 2006
Noer, Deliar, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1982.
_____, Partai Islam di Pentas Nasional, Jakarta: Grafitipers, 1987.
Departemen Agama RI, Dirjen Bimbaga Islam, Buku Teks Pendidikan Agama Islam, Bulan
Bintang, 2002.
_____, Alquran dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Alquran, Jakarta.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 1997.
Dijk. C. Van., Darul Islam, Jakarta: Grafitipers, 1987.
Djatnika, Rahmat, 1990, Sistem Etika Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas.
Federspiel, Howard., Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, New
York: Cornell Univ., 1970.
Graaf, H.J. De, dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Jakarta:
Grafitipers, 1986.
Graaf H.J. De, Disintegrasi Mataram di Bawah Amangkurat I., Jakarta: Grafitipers, 1987.
_____, Runtuhnya Istana Mataram, Jakarta: Grafitipers, 1987.
Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid IV, Jakarta: Bulan Bintang, 1981.
Ibnu Miskawaih, Abu Ali Ahmad, Menuju Kesempurnaan Akhlak, Penerjemah Heri Hidayat,
Bandung: Mizan.
Imarah, Muhammad, Dr., Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kattanie, Islam dan Pluralitas
Perbedaan dan Kemajemukan dalam bingkai Persatuan, Jakarta : Gema Insani Press,
1999
Kaelany HD, Dr.MA., 2007, Islam Agama Universal, Jakarta: Midada Rahma Press.
_____, 2007, Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, Cet.2, Jakarta: Bumi Aksara
Kartodirdjo, Sartono, Pengantar Sejarah Indonesia Baru:1500-1900, Jilid 1. Jakarta:
Gramedia, 1987.
Maarif, A. Syafii, Islam dan Politik di Indonesia pada Masa Demokrasi Terpimpin,
Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988
Majelis Ulama Indonesia, Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta: 1991.
Mujilan, Drs., M.Ag., dkk, 2009, Sistem Evaluasi Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Departemen Agama RI

111
Mujilan, Drs, MA dan Dr. Nurwahidin, MA. MPK Pendidikan Agama Islam (Mahasiswa
Universitas Indonesia),Jakarta, Midada Press, 2013.
Nasution, Harun, 1995, Islam Rasional, Bandung: Mizan.
_____, 1978, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
_____, 1975, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan
Bintang
Qaiyim, Ibn, Drs., Islam Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni, dalam Islam Agamaku,
Buku Teks UP, Midada Rahma Press, Jakarta, 2008.
Qardhawi, Yusuf, Dr., Penerjemah KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., dkk., Peran Nilai dan
Moral dalam Perekonomian Islam, Jakarta : Rabbani Press, 2001
Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: UGM Press, 1991.
Shafiyyurrahman, Syaikh, al-Mubarakfuri, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad
saw dari Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir, Kantor Atase Agama Kerajaan Saudi
Mahdi Fadulullah, Titik Temu Agama Dan Politik, Solo: Ramadhani, 1991.
Shihab, Muhammad Quraish, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 1996
_____, Wawasan al-Quran, Mizan, Bandung, 1999.
Thaba, Abdul Azis, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru, Jakarta: GIP, 1996.
Tim Prima Pena, tth. Kamus Besar Bahasa Indonesia, ttp : Gita Media Press.
Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islam, Jakarta: Gema Insani Pers, 2002
Van Hoeve, tth. Ensiklopedi Indonesia, Jakarta : PT. Ikhtiar Baru, cet. Ke VI.
Zakky Mubarak Syamrakh, Dr. Menjadi Cendikiawan Muslim (Kuliah Islam di Perguruan
Tinggi), Jakarta, Yayasan Ukhuwah Insaniah, 2010.

112