Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN PERUSAHAAN

PT. SINAR SOSRO MEDAN


2014

DISUSUN OLEH :
dr. Desi Yustra Sari Dewi
dr. Handayan Hutabarat
dr. Harry Haryanto
dr. Yoser Thamtono

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-
Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang tepat pada waktunya
Makalah ini merupakan tugas akhir untuk pelatihan HIPERKES dan Keselamatan Kerja bagi
dokter perusahaan yang berlangsung selama 4 hari, makalah ini berisikan tentang hasil observasi
dan analisa kami saat bekunjung ke PT. Sinar Sosro berdasarkan peraturan dan standar yang
berlaku di Indonesia. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua
tentang penerapan ilmu kesehatan dan keselamatan kerja dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala
usaha kita. Amin.

Medan, November 2014

Penyusun

Bab I Pendahuluan

PT. Sinar Sosro adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minuman ringan,
terutama yang berbahan dasar teh. PT Sinar Sosro merupakan perusahaan minuman teh siap
minum dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia dan di dunia. Perusahaan ini
memproduksi minuman teh dalam botol yang bernama Teh Botol, Joy Green Tea, Fruit Tea, dll.
Pembentukan perusahaan Sosro tidak lepas dari sejarah terciptanya Teh Botol yang
diciptakan oleh keluarga Sosrodjojo. Tahun 1940, Keluarga Sosrodjojo memulai usahanya di
sebuah kota kecil bernama Slawi di Jawa Tengah. Pada saat memulai bisnisnya, produk yang
dijual adalah teh kering dengan merek Teh Cap Botol dimana daerah penyebarannya masih di
seputar wilayah Jawa Tengah. Tahun 1953, Keluarga Sosrodjojo mulai memperluas bisnisnya
dengan merambah ke ibukota Jakarta untuk memperkenalkan produk Teh Cap Botol yang sudah
sangat terkenal di daerah Jawa Tengah. Perjalanan memperkenalkan produk Teh Cap Botol ini
dimulai dengan melakukan strategi CICIP RASA (product sampling) ke beberapa pasar di kota
Jakarta. Awalnya, datang ke pasar-pasar untuk memperkenalkan Teh Cap Botol dengan cara
memasak dan menyeduh teh langsung di tempat. Setelah seduhan tersebut siap, teh tersebut
dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. Tetapi cara ini kurang berhasil karena teh yang
telah diseduh terlalu panas dan proses penyajiannya terlampau lama sehingga pengunjung di
pasar yang ingin mencicipinya tidak sabar menunggu. Cara kedua, teh tidak lagi diseduh
langsung di pasar, tetapi dimasukkan kedalam panci-panci besar untuk selanjutnya dibawa ke
pasar dengan menggunakan mobil bak terbuka. Lagi-lagi cara ini kurang berhasil karena teh
yang dibawa, sebagian besar tumpah dalam perjalanan dari kantor ke pasar. Hal ini disebabkan
pada saat tersebut jalanan di kota Jakarta masih berlubang dan belum sebagus sekarang.
Akhirnya muncul ide untuk membawa teh yang telah diseduh di kantor, dikemas kedalam botol
yang sudah dibersihkan. Ternyata cara ini cukup menarik minat pengunjung karena selain praktis
juga bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu menunggu tehnya dimasak seperti cara sebelumnya.
Pada tahun 1969 muncul gagasan untuk menjual teh siap minum (ready to drink tea) dalam
kemasan botol, dan pada tahun 1974 didirikan PT SINAR SOSRO.
Bahan baku teh untuk PT. Sinar Sosro berasal dari perkebunan teh Gunung Rosa (Cianjur),
Gunung Manik (Cianjur), Gunung Cempaka (Cianjur), Gunung Satria (Garut), daerah Neglasari
(Garut), daerah Cukul (Pangelengan), dan daerah Sambawa (Tasikmalaya).
Produk yang telah diproduksi oleh PT Sinar Sosro antara lain Teh Botol Sosro, Teh Celup
Sosro, Joy Green Tea, Fruit Tea, Happy Jus, Country Choice (Jus Buah), TEBS, S-Tee, dan
Prim-A (Air Mineral) freso.

Tujuan kunjungan perusahaan yang dilakukan adalah melakukan pengamatan terhadap


penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Sinar Sosro cabang Sumatera Utara-NAD
dalam meminimalisir kecelakaan akibat kerja.
Bab II Pembahasan

A. FAKTOR BAHAYA
1. Faktor Fisik
a. Bising
Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang
merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang
menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.
Tipe-tipe Kebisingan:
Kebisingan spesifik : Kebisingan di antara jumlah kebisingan yang dapat
dengan jelas dibedakan untuk alasan-alasan akustik.
Seringkali sumber kebisingan dapat
diidentifikasikan
Kebisingan residual: Kebisingan yang tertinggal sesudahpenghapusan
seluruh kebisingan spesifik dari jumlah kebisingan
di suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu
Kebisingan latar belakang: Semua kebisingan lainnya ketika memusatkan
perhatian pada suatu kebisingan tertentu. Penting
untuk membedakan antara kebisingan residual
dengan kebisingan latar belakang
Akibat Kebisingan
Tipe Uraian
Akibat lahiriah Kehilangan Perubahan ambang batas sementara akibat
pendengaran kebisingan, perubahan ambang batas permanen
akibat kebisingan
Akibat fisiologis Rasa tidak nyaman atau stress meningkat, tekanan
darah meningkat, sakit kepala, bunyi dering
Akibat Gangguan emosional Kejengkelan, kebingungan
psikologis Gangguan Gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi
gaya hidup waktu bekerja, membaca dan sebagainya.
Gangguan Merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio,
pendengaran percakapan, telpon dan sebagainya.

Kebisingan yang dapat diterima oleh tanaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit
atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8
jam sehari atau 40 jam seminggu yaitu 85 dB(A) (KepMenNaker No.51 Tahun 1999,
KepMenKes No.1405 Tahun 2002). Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan
atau membahayakan perlu diambil tindakan seperti penggunaan peredam pada
sumber bising, penyekatan, pemindahan, pemeliharaan, penanaman pohon,
pembuatan bukit buatan ataupun pengaturan tata letak ruang dan penggunaan alat
pelindung diri sehingga kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau
membahayakan.

b. Getaran
Yang dimaksud dengan getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau
media dengan arah bolakbalik dari kedudukan keseimbangan. Getaran terjadi
saat mesin atau alat dijalankan dengan motor, sehingga pengaruhnya bersifat
mekanis.
Jenis Getaran:
- Getaran karena gerakan udara, pengaruhnya terutama pada akustik . Getaran
udara juga disebabkan oleh benda bergetar dan diteruskan melalui udara sehingga
akan mencapai telinga.
- Getaran karena getaran mekanis, mengakibatkan resonansi atau turut bergetarnya
alat-alat tubuh. Terdapat dua bentuk yaitu getaran seluruh badan dan getaran pada
lengan dan tangan.
Getaran Seluruh Tubuh
Getaran pada seluruh tubuh atau umum (whole body vibration)
yaitu terjadi getaran pada tubuh pekerja yang bekerja sambil duduk atau
sedang berdiri dimana landasanya yang menimbulkan getaran. Biasanya
frekuensi getaran ini adalah sebesar 5-20 Hz.
Getaran Tangan Lengan
Getaran setempat yaitu getaran yang merambat melalui tangan
akibat pemakaian peralatan yang bergetar, frekuensinya biasnya antara 20-
500 Hz. Frekuensi yang paling berbahaya adalah pada 128Hz, karena
tubuh manusia sangat peka pada frekuensi ini. Getaran ini berbahaya pada
pekerjaan seperti :1.Operator gergaji rantai 2. Tukang semprot, potong
rumput 3. Gerinda, 4. Penempa palu
c. Iklim dan Suhu
Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja secara efisien dan produktif
bila lingkungan tempat kerjanya nyaman. Suhu nyaman bagi orang indonesia
adalah 24C 26C. Bila iklim kerja panas dapat menimbulkan ketidaknyamanan
dalam bekerja dan gangguan kesehatan.

Intervensi yang dapat dilakukan terhadap lingkungan kerja antara lain:


1. Mereduksi panas konveksi
2. Memperbaiki sistem ventilasi
3. Mereduksi panas radiasi
4. Mengatur warna yang cerah pada ruangan

Intervensi yang dapat dilakukan terhadap lingkungan kerja antara lain:


1. Menyediakan minuman dekat tempat kerja
2. Pakaian dengan bahan mudah menyerap keringat dan berwarna cerah
3. Seleksi pekerja yang bekerja di lingkungan kerja panas : tidak terlalu gemuk
dan tidak mempunyai penyakit kardiovaskuler

d. Pencahayaan
Sifat-sifat pencahayaan yang baik :
1. Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan
2. Pencegahan kesilauan
3. Arah sinar
4. Warna
5. Panas penerangan terhadap keadaan lingkungan

Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap penglihatan :


1. Iritasi, mata berair dan mata merah
2. Penglihatan rangkap
3. Sakit kepala
4. Ketajaman penglihatan menurun, begitu juga sensitifitas terhadap kontras
warna juga kecepatan pandangan
5. Akomodasi dan konvergensi menurun

Intensitas cahaya di ruang kerja adalah sebagai berikut :


Tingkat pencahayaan
Jenis Kegiatan Keterangan
minimal (Lux)
Ruang penimpanan dan ruang
Pekerjaan kasar & tidak peralatan/instalasi yang
100
terus-menerus memerlukan pekerjaan yang
kontinyu
Pekerjaan kasar dan terus- Pekerjaan dengan mesin dan
200
menerus perakitan kasar
Pekerjaan kantor/administrasi,
ruang kontrol dan pekerjaan
Pekerjaan rutin 300
mesin dan perakitan atau
penyusun
Pembuatan gambar atau bekerja
dengan mesin kantor pekerja
Pekerjaan agak halus 500
pemeriksaan atau pekerjaan
dengan mesin
Pemilihan warna, pemrosesan,
Pekerjaan halus 1000 tekstil, pekerjaan mesin halus
dan perakitan halus
1500 Mengukir dengan tangan,
Pekerjaan amat halus (tidak menimbulkan pekerjaan mesin dan perakitan
bayangan) yang sangat halus
3000
Pemeriksaan pekerjaan,
Pekerjaan detail (tidak menimbulkan
perakitan sangat halus
bayangan)
Beberapa hal yang dapat menurunkan intensitas penerangan :
1. Adanya debu atau kotoran pada bola lampu
2. Bola lampu yang sudah lama
3. Kotornya kaca jendela, untuk penerangan alami
4. Perubahan letak barang-barang

2. FAKTOR BIOLOGIS
Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah Kepres
No. 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja (point) penyakit
infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu
pekerjaan yang memiliki resiko kontaminan khusus.
Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup dan
produknya yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Faktor
biologis dapat dikategorikan menjadi:
- Mikroorganisme dan toksinnya (virus, bakteri, fungi, dan produknya)
- Arthopoda (crustacea, arachmid, insect)
- Alergen dan toksin tumbuhan tingkat tinggi (dermatitis kontak, rhinitis, asma)
- Protein alergen dari tumbuhan tingkat rendah (lichen, liverwort, fern) dan hewan
invertebrata (protozoa, ascaris)
Faktor biologis dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara:
- Inhalasi/ pernafasan (udara terhirup)
- Ingesti/ saluran pencernaan
- Kontak dengan kulit
- Kontak dengan mata, hidung, mulut

3. FAKTOR KIMIA
a. Klasifikasi:
Berdasarkan Bentuknya:
- Partikulat:
yaitu setiap sistem titik-titik cairan atau debu yang mendispersi diudara yang
mempunyai ukuran demikian lembutnya sehingga kecepatan jatuhnya
mempunyai stabilitas cukup sebagi suspensi diudara. Perlu diingat bahwa
partikel-partikel debu selalu berupa suspensi.
Partikel dapat diklasifikasikan:
Debu diudara (airbon dust) adalah suspensi partikel benda padat
diudara . Butiran debu ini dihasilkan oleh pekerjaan yang berkaitan
dengan gerinda, pemboran dan penghancuran pada proses pemecahan
bahan-bahan padat.
Kabut (mist) adalah sebaran butir-butir cairan diudara. Kabut biasanya
dihasilkan oleh proses penyemprotan dimana cairanh tersebar,
terpercik atau menjadi busa partikel buih yang sangat kecil.
Asap (fume) adalah butiran-butiran benda padat hasil kondensasi
bahan-bahan dari bentuk uap. Asap juga ditemui pada sisa pembakaran
tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon, karbon
ini mempunyai ukuran lebih kecil dari 0,5 m (micron)
- Non Partikulat
Gas adalah Bahan seperti oksigen, nitrogen, atau karbon dioksida
dalam bentuk gas pada suhu dan tekanan normal, dapat dirubah
bentuknya hanya dengan kombinasi penurunan suhu dan penambahan
tekanan.
Uap Air (Vavor) adalah bentuk gas dari cairan pada suhu dan tekanan
ruangan cairan mengeluarkan uap, jumlahnya tergantung dari
kemampuan penguapannya. Bahan-bahan yang memiliki titik didih
yang rendah lebih mudah menguap dari pada yang memiliki titik didih
yang tinggi.
b. Pengaruh Bahan Kimia
- Iritasi
adalah diartikan suatu keadaan yang dapat menimbulkan bahaya apabila
tubuh kontak dengan bahan kimia. Bagian tubuh yang terkena biasanya kulit,
mata dan saluran pernapasan.
Iritasi melalui kulit, apabila terjadi kontak antara bahan kimia tertentu
dengan klulit, bahan itu akan merusak lapisan yang berfungsi sebagai
pelindung. Keadaan ini disebut dermatitis (peradangan kulit).
Iritasi melalui mata kontak yang terjadi antara bahan-bahan kimia
dengan mata bisa menyebabkan rusaknya mulai yang ringan sampai
kerusakan permanen.
Iritasi saluran pernapasan oleh karena bahan-bahan kimia berupa
bercak-bercak cair, gas atau uap akan menimbulkan rasa terbakar
apabila terkena pada daerah saluran pernapasan bagian atas (hidung
dan Kerongkongan).
- Asfiksia
Adalah istilah sesak napas dihubungkan dengan gangguan proses oksigensi
dalam jaringan tubuh yaitu ada dua jenis: Simple asphyxiantion dan chemical
asphyxiantion
Simple asphyxiation (sesak napas yang sederhana) karena ini
berhubungan dengan kadar oksigen di udara yang digantikan dan
didominasi oleh gas seperti nitrogen, karbon dioksida, ethane,
hydrogen atau helium yang kadar tertentu mempengaruhi
kelangsungan hidup.
Chemical asphyxiation (sesak napas karena bahan-bahan kimia). Pada
situasi ini, bahan-bahan kimia langsung dapat mempengaruhi dan
mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut dan menggunakan
zat asam, sebagai contoh adalah karbon monoksida.
- Kehilangan kesadaran dan mati rasa. Paparan terhadap konsentrasi yang relatif
tinggi dari bahan kimia tertentu seperti ethyl dan prophyl alcohol (alipaphatic
alcohol), dan methylethyl keton (aliphatic keton), acetylene hydrocarbon ethyl
dan isoprophyl ether, dapat menekan susunan syaraf pusat.
- Keracunan Tubuh
Manusia memiliki sistem yang komplek. Keracunan sistemika dihubungkan
dengan reaksi dari salah satu sistem atau lebih dari tubuh terhadap bahan-
bahan kimia yang mana reaksi ini merugikan dan dapat menyebar keseluruh
tubuh.
- Kanker
Paparan bakan-bahan kimia tertentu bisa menyebabkan pertumbuhan sel-sel
yang tidak terkendali, menimbulkan tumor (benjolan-benjolan) yang bersifat
karsinogen. Tumor tersebut mungkin baru muncul setelah beberapa tahun
bevariasi antara 4 tahun sampai 40 tahun. Bahan kimia seperti arsenic,
asbestos, chromium, nikel dapat menyebabkan kanker paru-paru.
- Paru-paru kotor (pneumoconiosis) adalah suatu keadaan yang disebabkan
oleh mengendapnya partikel-partikel debu halus daerah pertukaran gas dalam
paru-paru dan adanya reaksi dari jaringan paru.. Contoh bahan-bahan yang
menyebabkan pneumoconiosis adalah crystalline silica, asbestos, talc,
batubara dan beryllium.

4. PSIKOLOGIS
Aspek psikologis seringkali terkait dengan stress di lingkungan kerja yang meliputi interaksi
dengan faktor fisika, kimia, biologi dan ergonomi di lingkungan kerja, beban kerja secara fisik
ataupun mental, serta kapasitas kerja yang menyangkut status kesehatan dan gizi. Stress akibat
kerja dapat menyebabkan gangguan perilaku dan jiwa di lingkungan kerja. Stress akibat kerja
didefinisikan sebagai stress dalam kesehatan kerja akibat ketidakseimbangan antara hasil kerja
yang diharapkan dengan kemampuan untuk merealisasikannya. Stress merupakan problem
kesehatan kerja yang penting karena secara signifikan menyebabkan kerugian ekonomis. Stres
kerja merupakan reaksi pekerja terhadap situasi dan kondisi di tempat kerja yang berdampak
fisik dan psikososial bagi pekerja. Klasifikasi stress menurut Hans Selye adalah distress yang
destruktif, dan eustress yang positif. Terdapat 3 aspek yang dapat menjadi dampak stress kerja
yaitu gejala fisiologis seperti peningkatan debar jantung, dan pernapasan serta tekanan darah;
gejala psikologis seperti ketidakpuasan dan marah marah; serta gejala perilaku antara lain
meliputi perubahan kebiasaan makan, banyak merokok, gangguan tidur, tidak masuk kerja, dan
penurunan prestasi kerja.

5. ERGONOMIS
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (ILO = International Labor Organization)
adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum agar bermanfaat demi
efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja (ahli
hiperkes), manusia (dokter dan paramedik) serta mesin perusahaan (ahli tehnik). Kerjasama ini
disebut segitiga ergonomi. Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkait
erat dengan produktivitas dan kepuasan kerja. Adalah sasaran dari ergonomi adalah seluruh
tenaga kerja baik sektor formal, informal dan tradisional.
Pendekatan ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin, dan lingkungan yang
bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan secara efisien, selamat dan nyaman.
Dengan demikian dalam penerapannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat kerja,
posisi kerja, proses kerja. Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut: 1)
meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja tambahan (fisik
dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja. 2)
meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kerja sesama pekerja,
pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja. 3)
berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi
dan budaya dari sistem manusia mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia
mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnnya angka kesakitan akibat
kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, stress akibat
kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman karena bebas dari
gangguan cedera, kepuasan kerja meningkat.

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi;


1. Tehnik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhububungan dengan kekuatan dan gerakan otot
dan persendian.
5. Antropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terumata hubungan dengan temperatur tubuh, oxygen uptake dan
aktivitas otot
8. Desain

Aplikasi/ penerapan ergonomik pada tenaga kerja;


1. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk di mana kaki tidak terbebani dengan
berat tubuh dan posisi stabil selama kerja. Sedangkan posisi dimana posisi tulang belakang
vertikal dan berat bandan tertumpu secara seimbang pada kedua kaki.

2. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai
dengan ukuran antropometrinya. Harus dibedakan ukuran antropometri barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja


Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan symbol yang
berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni ,dengan kepala, bahu, tangan, punggung
dan lain-lain.Beban yang terlalau berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot
dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

Penyakit-penyakit di tempat kerja yang berkaitan dengan Ergonomi


Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. Supervisi medis
yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain;
1. Pemeriksaan sebelum kerja
Bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.
2. Pemeriksaan berkala
Bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaan dan mendeteksi bila ada kelainan.
3. Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kebersihan khususnya pada wanita muda dan yang sudah
berumur.

B. KECELAKAAN KERJA
Kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang
merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses. Kecelakaan
biasanya menimbulkan penderitaan baik yang paling ringan bahkan mungkin yang paling berat
bagi yang mengalaminya, juga menimbulkan kerugian material.

1. Golongan kecelakaan kerja


a. kecelakaan industri (industrial accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena
adanya sumber bahaya atau bahaya kerja.
b. kecelakaan dalam perjalanan (community accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di luar
tempat kerja yang berkaitan dengan hubungan kerja.

2. Etiologi kecelakaan kerja


a. etiologi langsung
Suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, dibagi dalam 2
kelompok yaitu tindakan tindakan tidak aman (unsafe act) yaitu tingkah laku atau perbuatan
yang akan menyebabkan kecelakaan serta kondisi kondisi yang tidak aman (unsafe condition)
yaitu keadaan yang akan menyebabkan kecelakaan.
b. penyebab dasar (basic causes)
Terdiri dari 2 faktor yaitu manusia atau pribadi (personal factor) dan faktor kerja atau
lingkungan kerja (job or work environment factor), yaitu faktor manusia atau pribadi, antara lain
karena kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurang atau lemahnya pengetahuan
ataupun keahlian, stress, dan motivasi yang tidak cukup atau salah. Serta dari faktor kerja atau
lingkungan, antara lain karena tidak cukup kepemimpinan dan atau pengawasan, tidak cukup
rekayasa (engineering),tidak cukup pembelian atau pengadaan barang, tidak cukup perawatan
(maintenance), tidak cukup alat alat, perlengkapan, barang- barang, dan bahan bahan, tidak
cukup standar kerja dan karena penyalahgunaan.

3. Pencegahan Kecelakaan Kerja


a. lingkungan mikro (micro system)
merupakan tugas perusahaan dan system managemennya. Pada tingkat ini, usaha pertama dapat
diarahkan pada lingkungan fisik, antara lain melalui perencanaan peralatan, dengan
memperhatikan segi segi keselamatan dan kesehatan kerjanya, merancang perawatan atau
lingkungan kerja yang sesuai dengan batas kemampuan pekerja dan cara pembuangan bahan
buangan memperhitungkan kemungkinan bahayanya, baik bagi masyarakat maupun lingkungan.
Usaha kedua diarahkan pada manusia, di mana dilakukan pengamatan terhadap pemilihan,
penempatan, pembinaan pegawai yang benar, agar terwujud The Right Man in The Right Job
dengan kesadaran yang tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
b. lingkungan makro (macro system)
merupakan tugas pemerintah beserta aparat pelaksananya.

C Alat Pelindung Diri


Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada dasarnya bartujuan untuk mencegah dan
mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Untuk mewujudkan tujuan tersebut
maka, di setiap tempat kerja diwajibkan memenuhi syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) yang ditetapkan dalam Undang-undang no. 1 tahun 1970 beserta peraturan pelaksanannya.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan upaya pengendalian yang banyak digunakan
di industri-industri, namun tidak sedikit industri-industri yang belum menggunakan alat
pelindung diri sebagai salah satu pengendalian bahaya di tempat kerja.
Upaya pengendalian bahaya harus didukung dengan kebijakan perusahaan maupun
program-program K3 lainnya, seperti diadakannya pelatihan, pengawasan, sehingga pekerja
dapat meningkatkan pemaakaian alat pelindung diri agar lebih optimal dan terciptanya suasana
kerja yang sehat, aman dan nyaman.
1. Definisi Alat Pelindung Diri
Seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau
sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja.
APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha
rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun
pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha
akhir.
2. Dasar Hukum Alat Pelindung Diri
a. Undang-undang No.1 tahun 1970.
Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat
untuk memberikan APD.
Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada
tiap tenaga kerja baru tentang APD.
Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak
tenaga kerja untuk memakai APD.
Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma - cuma.
b. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981 Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban
pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk
menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
c. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982 Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan
nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung
diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja.
d. Permenakertrans No.Per.03/Men/1986 Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang
mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja,
sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan
pelindung pernafasan.
3. Pemilihan Alat Pelindung Diri
Aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan APD adalah:
- Bentuknya cukup menarik
- Dapat diapakai secara fleksibel
- Tahan untuk pemakaian yang cukup lama
- Seringan mungkin dan tidak menyebabkan rasa ketidak nyamanan yang lebih
- Dapat memberiakn perlindungan yang adekuat terhadap bahaya yang spesifik yang
dihadapi oleh pekerja
- Tidak menimbulkan bahaya tambahan bagi pemakaiannya yang dikarenakan bentuk dan
bahayanya tidak tepat atau salah dalam penggunaannya.
- Suku cadang mudah diperoleh untuk mempermudah pemeliharaan
4. Jenis-jenis APD dan Penggunaannya
a. Alat pelindung Kepala
Alat pelindung kepala (Safety Helmet) melindungi kepala dari benda keras, pukulan dan
benturan, terjatuh dan terkena arus listrik. Kemudian melindungi kepala dari kebakaran,
korosif, uap-uap, panas atau dingin. Adapun pengujian mekanik dengan menjatuhkan
benda seberat 3 kg dari ketinggian 1m, pelindung kepala tidak boleh pecah atau benda
tak boleh menyentuh kepala. Jarak antara lapisan luar dan lapisan dalam dibagian
puncak ; 4-5 cm. Tidak menyerap air dengan direndam dalam air selama 24 jam. Air
yang diserap kurang 5% beratnya. Kemudian pengujian daya tahan terhadap api.
Pelindung kepala dibakar selama 10 detik dengan pembakar bunsen atau propan, dengan
nyala api bergaris tengah 1 cm. Api harus padam setelah 5 detik. Pengujian listrik tahan
terhadap listrik tegangan tinggi diuji dengan mengalirkan arus bolak-balik 20.000 volt
dengan frekuensi 60 Hz, selama 3 menit,kebocoran arus harus lebih kecil dari 9 mA.
Tahan terhadap listrik tegangan rendah, diuji dengan mengalirkan arus bolak-balik 2200
volt dengan frekuensi 60 Hz selama 1 menit kebocoran arus harus kurang dari 9mA.
b. Alat Pelindung Mata
Mudah dikenakan cocok untuk kasus berisiko kecil dan menengah. Lemparan benda
benda kecil, pengaruh cahaya dan pengaruh radiasi tertentu. Bahan pembuat alat
pelindung mata dari plastic, ada beberapa jenis tergantung dari bahan dasarnya seperti
selulosa asetat, akrilik, poli karbonat dll. Syarat optis tertentu adalah lensa tidak boleh
mempunyai efek distorsi atau efek prisma lebih dari 1/16 prisma dioptri, artinya
perbedaan refraksi harus lebih kecil dari 1/16 dioptri. Alat pelindung mata terhadap
radiasi prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang gelombang tertentu
standar Amerika, ada 16 jenis kaca dengan sifat-sifat tertentu.
c. Alat Pelindung Telinga
Sumbat telinga (ear plug) dapat mengurangi intensitas suara 10 s/d 15 dB dan tutup
telinga (ear muff) dapat mengurangi intensitas suara 20 s/d 30 dB. Sumbat telinga yang
baik adalah menahan frekuensi tertentu saja, sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya
(komunikasi) tak terganggu. Kelemahan alat pelindung telinga yaitu tidak tepat
ukurannya dengan lobang telinga pemakai, kadang-kadang lobang telinga kanan tak
sama dengan yang kiri bahan sumbat telinga karet, plastik keras, plastik yang lunak,
lilin, kapas. Penggunanan alat pelindung telinga yang banyak diminati adalah jenis karet
dan plastic lunak, karena bisa menyusaikan bentuk dengan lobang telinga. Daya
atenuasi (daya lindung): 25-30 dB jika ada kebocoran dapat mengurangi atenuasi + 15
dB. Ada yang terbuat dari bahan lilin seperti penggunaan lilin murni yang dilapisi kertas
atau kapas. Akan tetapi ada kelemahan dari bahan lilin ini yaitu kurang nyaman dan
mudah kotor. Kemudian ada yang terbuat dari kapas mempunyai daya atenuasi paling
kecil antara 2 12 dB. Alat pelindung telinga ada beberapa jenis atenuasinya yaitu pada
frekuensi 28004000 Hz sampai 42 dB (3545 dB). Untuk frekuensi biasa 25-30 dB.
Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dan sumbat telinga
sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi akan tetapi tak lebih dari 50 dB, karena
hantaran suara melalui tulang masih ada.
c. Alat Pelindung Pernafasan
Memberikan perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya seperti kekurangan oksigen
dan pencemaran oleh partikel debu, kabut, asap dan uap logam kemudian pencemaran
oleh gas atau uap.
d. Alat Pelindung Kaki
Sepatu keselamatan kerja dipergunakan untuk melindungi kaki dari bahaya kejatuhan
benda-benda berat, percikan cairan, dan tertusuk oleh benda-benda tajam.
e. Alat Pelindung Tangan
Sarung tangan merupakan alat pelindung diri yang banyak digunakan, fungsinya untuk
melindungi tangan dari luka lecet, luka teriris, luka terkena bahan kimia dan terhadap
temperature ekstrim.
f. Pakaian Pelindung
Berdasarkan jenis bahayanya pakaian pelindung terdiri atas :
- Flame resistant catton atau duck untuk bahaya panas atau percikan api yang sedang.
- Special flame- resistant and heat resistant synthetic fabrics untuk memadamkan api
atau untuk pekerjaan-pekerjaan disekeliling api yang terbuka.
- Rubber, neoprene, vinyl or other protective material untuk pekerjaan-pekerjaan yang
basah atau menanggulangi asam, korosi dan zat-zat kimia.
- Sabuk Pengaman untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya
digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup atau boiler.
Harus dapat menahan beban sebesar 80 Kg. Jenis penggantung unifilar penggantung
berbentuk U. Gabungan penggantung unifilar dan bentuk U, ada beberapa macam safety
harness yaitu penunjang dada (chest harness), penunjang dada dan punggung (chest
waist harness), penunjang seluruh tubuh (full body harness).
Secara umum pemeliharaan APD dapat dilakukan antara lain dengan menyimpan
dengan benar alat pelindung diri, mencuci dengan air sabun, kemudian dibilas dengan air
secukupnya. Terutama untuk helm, kaca mata, sepatu kerja, pakaian kerja, sarung tangan
kain/kulit/karet, dan berjemur di bawah sinar matahari untuk menghilangkan bau, terutama pada
sepatu dan helm.
Untuk menjaga daya guna dari APD, hendaknya disimpan ditempat khusus sehingga
terbebas dari debu, kotoran, gas beracun, dan gigitan serangga/binatang. Tempat tersebut
hendaknya kering dan mudah dalam pengambilannya. Daya lindung tidak sempurna, karena cara
pemakaian APD yang salah, memakai APD tidak tepat dan APD tidak memenuhi persyaratan
yang diperlukan.
Bab III Analisa

A. ANALISA LINGKUNGAN KERJA

NO Unit yang Identifikasi Resiko Analisa Resiko Saran


dikunjungi
1 Raw Material - Kebisingan - Kebisingan yang - Pemakaian ear plug sudah disediakan
dihasilkan oleh oleh perusahaan namun masih banyak
mesin unit water pekerja yang tidak memakai karena alasan
treatment dan bottle tidak nyaman, perlu dilakukan edukasi
washer melebihi 85 terhadap pekerja
db

-Iklim Kerja Iklim kerja panas Mengatur sistem ventilasi agar memadai
dan lembap Menggunakan sistem pengatur udara
menyebabkan ruangan
berbagai masalah Pemberian air kepada pekerja
diantaranya heat Mengatur seragam pekerja dari bahan yang
rash, heat syncope, mudah menyerap keringat dan tidak tebal
heat cramps, heat serta dengan warna yang sejuk
exhaustion

- Faktor Biologi Ruang dengan Perbaikan sistem ventilasi dan


ventilasi yang buruk, pembersihan sistem saluran udara
sistem saluran udara
yang kotor dan iklim
yang lembap dengan
jumlah pekerja yang
banyak memudahkan
perkembangan
mikroorganisme dan
penularan diantara
pekerja

2 Setengah Jadi - Kebisingan - Kebisingan yang - Pemakaian ear plug sudah disediakan
dihasilkan oleh oleh perusahaan namun masih banyak
mesin unit water pekerja yang tidak memakai karena alasan
treatment dan bottle tidak nyaman, perlu dilakukan edukasi
washer melebihi 85 terhadap pekerja
db

-Iklim Kerja Iklim kerja panas Mengatur sistem ventilasi agar memadai
dan lembap Menggunakan sistem pengatur udara
menyebabkan ruangan
berbagai masalah Pemberian air kepada pekerja
diantaranya heat Mengatur seragam pekerja dari bahan yang
rash, heat syncope, mudah menyerap keringat dan tidak tebal
heat cramps, heat serta dengan warna yang sejuk
exhaustion
- Faktor kimia Potensi penghirupan Pemberian APD kepada pekerja seperti
gas-gas hasil masker yang sesuai.
pemanasan air dan
botol plastik oleh
pekerja
- Faktor Biologi Ruang dengan Perbaikan sistem ventilasi dan
ventilasi yang buruk, pembersihan sistem saluran udara
sistem saluran udara
yang kotor dan iklim
yang lembap dengan
jumlah pekerja yang
banyak memudahkan
perkembangan
mikroorganisme dan
penularan diantara
pekerja

3 Bahan Jadi - Kebisingan - Kebisingan yang - Pemakaian ear plug sudah disediakan
dihasilkan oleh oleh perusahaan namun masih banyak
mesin unit water pekerja yang tidak memakai karena alasan
treatment dan bottle tidak nyaman, perlu dilakukan edukasi
washer melebihi 85 terhadap pekerja
db

-Iklim Kerja Iklim kerja panas Mengatur sistem ventilasi agar memadai
dan lembap Menggunakan sistem pengatur udara
menyebabkan ruangan
berbagai masalah Pemberian air kepada pekerja
diantaranya heat Mengatur seragam pekerja dari bahan yang
rash, heat syncope, mudah menyerap keringat dan tidak tebal
heat cramps, heat serta dengan warna yang sejuk
exhaustion
- Faktor Biologi Ruang dengan Perbaikan sistem ventilasi dan
ventilasi yang buruk, pembersihan sistem saluran udara
sistem saluran udara
yang kotor dan iklim
yang lembap dengan
jumlah pekerja yang
banyak memudahkan
perkembangan
mikroorganisme dan
penularan diantara
pekerja

4 Pengepakan - Kebisingan - Kebisingan yang - Pemakaian ear plug sudah disediakan


dihasilkan oleh oleh perusahaan namun masih banyak
mesin unit water pekerja yang tidak memakai karena alasan
treatment dan bottle tidak nyaman, perlu dilakukan edukasi
washer melebihi 85 terhadap pekerja
db

-Iklim Kerja Iklim kerja panas Mengatur sistem ventilasi agar memadai
dan lembap Menggunakan sistem pengatur udara
menyebabkan ruangan
berbagai masalah Pemberian air kepada pekerja
diantaranya heat Mengatur seragam pekerja dari bahan yang
rash, heat syncope, mudah menyerap keringat dan tidak tebal
heat cramps, heat serta dengan warna yang sejuk
exhaustion

- Faktor Biologi Ruang dengan Perbaikan sistem ventilasi dan


ventilasi yang buruk, pembersihan sistem saluran udara
sistem saluran udara
yang kotor dan iklim
yang lembap dengan
jumlah pekerja yang
banyak memudahkan
perkembangan
mikroorganisme dan
penularan diantara
pekerja

5 Penyimpanan - Iklim Kerja - Iklim kerja panas Mengatur sistem ventilasi agar memadai
dan lembap Menggunakan sistem pengatur udara
menyebabkan ruangan
berbagai masalah Pemberian air kepada pekerja
diantaranya heat Mengatur seragam pekerja dari bahan yang
rash, heat syncope, mudah menyerap keringat dan tidak tebal
heat cramps, heat serta dengan warna yang sejuk
exhaustion

6 Kantin Tidak terdapat - -


faktor risiko
kecelakaan kerja
dan penyakit akibat
kerja
7 Limbah Tidak terdapat risiko -
kecelakaan kerja
dan penyakit akibat
kerja

B. Analisis Penyelenggaraan Kesehatan Kerja oleh PT Sosro Indonesia


b.1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja
Menurut Permenakertrans No. Per03/Men/1982, perusahaan yang mempunyai
tenaga kerja 200-500 orang dengan resiko kerja harus mempunytai klinik yang
dipimpin oleh dokter yang praktek sekali 2 hari dengan paramedik yang berpraktek
setiap hari.
Pada pengamatan kami, pabrik Sosro dengan jumlah pekerja 258 orang dengan
resiko rendah tidak mempunyai klinik sendiri. Namun mereka sudah mengadakan
kerjasama dengan RS PTPN dengan pemeriksaan kesehatan setahun sekali.

b.3. Promosi kesehatan kerja


Dari hasil kunjungan diketahui tidak adanya program promosi kesehatan kerja
oleh pihak perusahaan karena tidak terdapat unit dan tim medis K3 di perusahaan
tersebut.

b.4. Gizi kerja


Berdasarkan permenakertrans no Per01/Men/1976 tentang Pengadaan kantin dan
ruang makan, tempat kerja dengan jumlah pekerja diatas 200 orang harus memiliki
kantin. Pada kunjungan kami, PT. Sosro dengan jumlah pekerja 258 orang sudah
memiliki kantin bagi pekerjanya.
b.5. Ergonomi
Dari hasil kunjungan kami mengenai sikap tengaga kerja banyak yang sudah
sesuai dengan aspek ergonomis. Terbukti dengan posisi duduk pekerja yang
disesuaikan dengan tinggi mesin sehingga siku dalam posisi relaks. Untuk
pengangkatan barang juga sudah menggunakan troli kemas. Namun tidak diketahui
apakah ada rolling antara pekerja yang duduk dan berdiri, serta antara pekerja yang
menggunakan tenaga fisik dan yang mengandalkan mata dalam bekerja. Sistem
pekerja sudah baik dengan pekerjaan dalam 24 jam yang dibagi dalam 3 shift.
Bab IV Kesimpulan dan saran

4.1.Kesimpulan
a. Berdasarkan hasil kunjungan perusahaan yang kami lakukan, penerapan K3 di PT.
Sinar Sosro sudah cukup bagus baik dalam hal lingkungan kerja maupun kesehatan
pekerjanya.
b. Tedapat beberapa potensi bahaya PAK pada pekerja PT Sinar Sosro berkaitan
dengan kebisingan, iklim kerja dan ventilasi yang buruk.
c. PT Sosro sudah menyelenggarakan gizi kerja sesuai peraturan Per01/Men/1976
tentang Pengadaan kantin dan ruang makan, tempat kerja dengan jumlah pekerja
diatas 200 orang harus memiliki kantin.
d. PT Sosro belum mandiri dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja
menurut Permenakertrans No. Per03/Men/1982 karena belum memiliki klinik
pekerja yang seharusnya buka setiap hari dengan dokter yang berpraktek setiap 2
hari.

4.2.Saran
a. Perlu dilakukan promosi kesehatan kerja dan penggunaan APD pada pekerja sebagai
upaya untuk mencegah penyakit akibat kerja
b. Perlu dilakukan beberapa perbaikan terkait iklim kerja dan ventilasi kerja.
c. Upaya Pelayanan Kesehatan Kerja mandiri agar dapat diterapkan sebagai langkah
penerapan K3 di perusahaan.