Anda di halaman 1dari 6

Perencanaan Kantong Lumpur

Dalam perencanaan kantong Lumpur data-data yang dibutuhkan antara lain:


Pembagian ukuran butir sedimen, sedimen dasar maupun sedimen layang.
Banyaknya sedimen yang masuk ke pengambilan selama periode antara satu
pembilasan dengan pembilasan berikutnya.
Hubungan antara Q-h sungai pada pintu pembilas.
Kebutuhan pengambilan (diversion requirement) air irigasi.
Data topografi pada lokasi kantung lumpur.
Ukuran partikel rencana

Dalam perencanaan kantong lumpur PLTMH Cilaki ini digunakan asumsi bahwa
ukuran partikel yang berukuran kurang dari 70 m (7 x 10-5m) terangkut sebagai
sedimen layang melalui saluran, asumsi lainnya adalah bahwa air yang dielakan
mengandung 0.5 0/00 sedimen yang harus diendapkan dalam kantong lumpur.
Volume Kantong Lumpur direncanakan akan dibilas dengan interval 1 minggu.
Berikut adalah langkah perhitungannya

1. Menghitung Volume Sedimen yang akan diendapkan


= = 0.0005
Dengan :
T = Interval Pembilasan (sekon)
Qn = debit yang masuk melewati kantong lumpur (m3/s)
Berdasarkan rumus di atas dapat dihitung volume kantong lumpur:
3
= 0.0005 2.0 24 3600 = 6043

2. Menghitung Penampang Saluran
Kecepatan endap dibaca dari grafik hubungan antara kecepatan endap dan
diameter partikel. Dalam hal ini digunakan asumsi suhu air 200 celcius dengan
ukuran partikel yang 70 m = 0.07 mm. Dari plot grafik diperoleh nilai kecepatan
endap = 0.004 m/s. Dari nilai kecepatan jatuh dapat diketahui ukuran panjang
dan lebar kantong lumpur
3
2.0
= = = 500 2
0.004 /
Dengan kriteria sesuai L/B > 8 maka dapat dibuat kondisi pertidaksamaan L>8B,
sehingga diperoleh:
= (8) = 8 2

525
= = 8.1
8

Dari perhitungan tersebut maka dapat diperoleh kriteria bahwa B < 8.1 meter dan
L > 64.4 meter. Dalam hal ini ditetapkan untuk perhitungan selanjutnya B = 7
meter dan L akan ditetapkan kemudian. Selanjutnya menentukan In ( kemiringan
normal batas bawah saluran dengan zona pengendapan ). Untuk menghitung nilai
In digunakan persamaan manning dengan asumsi bahwa nilai n = 0.017 (pasangan
Batu) dan kecepatan normal vn = 0.4 m/s. Dengan asumsi tersebut dilakukan
perhitungan :
2
= = = 5.0 2
0.4
5
= = 7 = 0.7 m (kedalaman rat-rata)

Kedalaman berdasarkan bentuk penampang saluran dapat dihitung dengan


persamaan berikut:

= ( + )

5 = (7 + 2 )

= 0.60

Dari nilai di atas dapat diperoleh keliling basah dan jari-jari saluran trapesium serta
nilai kemiringan saluran In.

Keliling Basah dapat dihitung dengan persamaan:

= + 2 1 + 2

= 7 + 2 (0.6) 1 + 22 = 9.72

Jari-jari hidrolik diperoleh:

5.0 2
= = 0.51
9.72
Selanjutnya dengan persamaan manning diperoleh In :

2
= 2 = 1.12 104
1 2
( 3 )

3. Dimensi saluran lumpur (bagian bawah kantong Lumpur untuk Pembilas)


Ditentukan bahwa untuk pembilasan diasumsikan bahwa kecepatan aliran untuk
pembilasan adalah 1.3 m/s dan debit untuk pembilasan diambil Qs = 1.2*Qn = 2.4
m3/s. Selanjutnya dengan prosedur yang serupa dengan perhitungan sebelumnya
diperoleh nilai-nilai:
2.4
= = = 1.8 2
1.3
= = 1.8 2
1.8
= = 0.27
7
Keliling basah dan jari-jari hidrolik diperoleh:
= + 2 = 7 + 2 0.22 = 7.52
1.8
= = = 0.24
7.52

2
= 2 = 0.0032
1 2
( 3 )

4. Kontrol Aliran
Untuk dapat menjamin agar pembilasan berlangsung dengan baik maka nilai Fr<1
dan kecepatan aliran dibawah kecepatan tidak melebihi kecepatan izin saluran (v
1.5 m/s). Sehingga ditetapkan dengan trial & error vs= 1.3 m/s sehingga
diperoleh:
1.3
= = = 0.8 <1 (aman)
9.810.27

Untuk mengetahui diameter partikel yang dapat dibilas dapat digunakan diagram
shield dan hasilnya diperoleh:

= = 1000 9.8 0.27 0.0032 = 8.47
2
Dari plot grafik diperoleh hasilnya partikel yang lebih kecil dari 10 mm akan
terbilas. Selanjutnya dilakukan perhitungan panjang kantong lumpur sesuai
dengan kebutuhan volume pengendapan. Volume kantong lumpur yang
diperlukan mengikuti persamaan :
= 0.5 + 0.5 ( )2
Dengan menyelesaikan persamaan di atas diperoleh L = 124.8 meter

Gambar, Hubungan antara kecepatan endap dengan diameter ayak


Gambar, Grafik Shield untuk Menentukan Partikel yang dapat Dibilas

Perencanaan Saluran Headrace

Dalam perencanaan saluran headrace digunakan persamaan dasar manning yaitu:

1 2
= 3 0.5

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa saluran dapat menampung kapasitas
debit sesuai dengan keperluan untuk penstock. Direncanakan bahwa saluran memiliki
panjang 1.67 km dan selanjutnya saluran dapat mengalirkan debit sebesar 2.0 m3/s dan
saluran terbuat dari beton (n= 0.013). Saluran berbentuk persegi panjang dan memenuhi
kaidah penampang Ekonomis B = 2H. Dengan metode trial and error akan ditentukan nilai
kedalaman aliran pada saluran dan slope rencana dengan asumsi aliran seragam, diperoleh
hasil:

h = 0.97 meter 1 meter

B = 2*h = 2 meter

So = 7*10-4 (direncanakan)

A = b x h = 2 x 1 = 2m2
P = b + 2h = 2 + 2(1) = 4 m

2
R = = 4 = 0.5

2
1
= 0.013 (0.53 0.00070.5 ) = 1.28 / < 1.5 m/s (aman)

Q = A x v =2 m2 x 1.28 m/s = 2.56 m3/s