Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Permasalah geoteknik di muka bumi sangat beragam tergantung dari kondisi


alam yang ada disuatu daerah, seperti kondisi tektonik, jenis batuan, iklim, lama
sinar matahari dalam setahun, kelembaban udara, dan lain-lain. Semua faktor
tersebut akan berpengaruh kepada jenis tanah yang dihasilkannya sehingga
permasalahan geoteknik yang muncul akan berbeda-beda di setiap daerah.
Salah satu permasalahan dalam geoteknik adalah collapse soil yang biasa
muncul di negara-negara beriklim kering dan (sejauh ini) tidak pernah ditemukan di
Indonesia. Collapse soil atau tanah yang runtuh secara tiba-tiba adalah masalah yang
cukup membahayakan, karena pada kondisi normal tanah tersebut nampak seperti
tanah biasa namun ketika terjadi penambahan air, menyebabkan tanah runtuh
seketika.
Pengetahuan mengenai collapse soil sangat diperlukan agar tidak terjadi
kesalahan dalam pembuatan rencana sipil yang mengakibatkan bencana setelah
dibangunnya suatu bangunan atau jalan. Makalah ini dibuat untuk membahas
masalah masalah yang muncul dalam collapse soil, dan mencoba untuk mencari
solusi dan penanganan terbaik dalam mengatasinya.

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Pengertian Collapse Soil


Istilah collapsing soil dalam bahasa Inggris tidak selalu dipakai dengan
arti yang sama. Umumnya istilah ini dipakai pada tanah yang sudah dibebani
akibat pembuatan fondasi, kemudian mengalami penurunan mendadak setelah
terkena air. Walaupun demikian, keruntuhan (atau penurunan) mendadak ini
masih dapat terjadi akibat berat tanah itu sendiri, seandainya ada sumber air yang
bisa masuk ke tanah (Wesley, 2012).
Menurut referensi lain collapsible soil adalah jenis tanah yang akan
mengembang pada saat ditambahkan air, namun apabila kadar air meningkat
melebihi kondisi optimum sehingga kejenuhan melebihi 100%, tanah akan runtuh
akibat hancurnya ikatan antar butiran tanah (tanah berperilaku seperti lumpur).
Umumnya terjadi pada tanah yang memiliki kohesi rendah seperti silt, tanah
unsaturated, tanah loess, tanah timbunan yang dipadatkan pada kondisi dry
optimum (Kamil, 2010).

Gambar 1. Contoh Collapsing soil di Mokattam Cliff, Mesir

2
2.2. Jenis-jenis Collapse Soil
Jenis tanah yang dapat mengalami penurunan mendadak menurut Wesley,
2012 ada tiga, yaitu:
1. Tanah Loess
Loess adalah lapisan endapan yang terbawa oleh angin, terdiri atas butir
sebesar lanau dan pasir. Cara pengendapan biasanya menghasilkan tanah
dengan struktur yang tidak padat. Pelapukan selanjutnya dapat menjadikan
sedikit mineral lempung yang bersifat seperti bahan pelekat antara butir-butir
yang lebih kasar. Endapan ini paling sering terdapat pada iklim yang kering
ataupun keadaan desert.

Gambar 2. Peta persebaran Loess deposit di cekungan sungan Mississippi (Das,


2004)

2. Tanah Residu
Tanah residu yang sudah mengalami pelapukan intensif. Pada keadaan
iklim dan topografi tertentu, cara pelapukan dapat menghasilkan tanah dengan
struktur yang tidak padat, yaitu porositas sangat tinggi. Pelapukan cara ini

3
dapat terjadi pada berbagai jenis batuan, termasuk granit, batupasir, basalt, dan
batu metamorphic.
3. Tanah Saline
Tanah semacam ini dapat terbentuk di daerah dengan iklim kering,
seperti digambarkan pada gambar 2. Hal ini terjadi apabila air tanah yang
mengalir dari daerah pegunungan (catchment area) mengandung garam yang
terlarut walaupun konsentrasinya sangat rendah. Akibat penguapan yang
berjalan terus-menerus, konsentrasi garam naik sedikit demi sedikit sampai
bersifat seperti bahan pelekat antara butiran tanah.

Gambar 2. Proses terbentuknya tanah saline di daerah dengan iklim kering (Wesley, 2012)

2.3. Identifikasi Collapsible Soil


Beberapa ahli sipil telah mencoba mengidentifikasi suatu tanah apakah
dapat disebut sebagai collapsible soil ataupun tidak. Seperti terlihat pada tabel 1
yang mencoba merangkumkan pendapat-pendapat beberapa peneliti mengenai
collapsible soil. Walaupun collapsible soil sendiri jarang (bahkan tidak pernah)
terjadi di Indonesia, namun para ahli sipil di Indonesia paling tidak harus tau
secara garis besar tanah seperti apa yang disebut collapsible soil tersebut.

4
Table 2.1 Kriteria yang Dilaporkan Untuk Identifikasi Tanah yang Runtuh (Das, 2004)
Peneliti Tahun Kriteria
Denisov 1951 Koefisien penurunan:
K = Void rasio pada batas cair
Void rasio alami
K = 0.5-0.75 : sangat kuat
K = 1.0 : loam yang tidak dapat dilepas
K = 1.5-2.0 : tanah yang tidak dapat dilepas

Clevenger 1958 Jika berat unit kering kurang dari 12.56 kN/m3
(80 lb/ft3), penurunan akan semakin besar;
Jika berat unit kering lebih besar dari 14.13 kN/m3
(90 lb/ft3), penyelesaian akan kecil.

(Kandungan air alami) (batas plastik)


Priklokonski 1952 D =
KD < 0 : highly collapsible soils
KD < 0.5 : noncollapsible soils
KD < 1.0 : swelling soils

kadar air jenuh


Gibbs 1961 Collapse ratio, R =

Ini dimasukkan ke dalam bentuk grafik.

eoeL
Soviet Building Code 1962 L=
1+
Dimana eo = rasio void alami dan rasio eL = void ratio pada
batas cair. Untuk tingkat kejenuhan alami < 60%, if
L > -0.1, itu adalah tanah yang roboh.
Wo PL
Feda 1964 KL = -
S1
Dimana eo = kadar air alami, S, = alami
Derajat kejenuhan, PL = batas plastik, dan
PI = indeks plastisitas. untuk S, < 100% , if KL > 0.85,
Ini adalah tanah subsidentitas.

Benites 1968 Uji dispersi dilakukan dengan memasukan 2 gram tanah


ke dalam 12 ml air suling dan dihitung waktu sampai
sampel terdispersi; Untuk tanah Arizona lama dispersinya
dikisaran 20 sampai 30 detik untuk runtuh.

Handy 1973 lowa loess dengan kandungan lempung( <0.002 mm):


< 16% : kemungkinan runtuh yang tinggi
16 24% : kemungkinan runtuh
24 32% : kurang dari 50% kemungkinan runtuh
32% : biasanya aman dari runtuh.

5
2.4. Collapsing Soils (Termasuk Loess)
Collapse Soils (juga bisa disebut tanah metastabil) adalah tanah kering atau
sebagian jenuh yang mengalami kehilangan volume total akibat pembasahan.
Jelas, struktur yang terbentuk pada tanah semacam itu akan menetap sebanding
dengan jumlah perubahan volume yang dialami tanah pada bawah permukaan.
Perubahan volume terjadi melalui penyusunan ulang partikel skala besar dari
kondisi in situ. Struktur tanah utama terdiri dari partikel berukuran besar (pasir
dan lumpur) yang terikat lemah oleh air, tanah liat, atau lumpur dengan cara yang
relatif tidak stabil. Setelah membasahi, atau getaran, kolaps dan penurunan
volume besar akan terjadi. Situasi tanah seperti itu tersebar luas, seperti
ditunjukkan oleh sejumlah review artikel mengenai subyek tersebut.
Fenomena ini ditandai oleh jenis tanah tertentu, dan strukturnya disebut
loess. Loess adalah endapan angin (aeolian) partikel berukuran lumpur yang
terjadi di banyak wilayah di Eropa, Rusia, China, dan Amerika Serikat. Deposito
menumpuk di daerah dengan kelembaban tinggi, sering di dekat sungai besar,
menyebabkan endapan pada kedalaman 3 sampai 15 kaki tapi kadang-kadang
sampai 50 kaki Loess sering ditandai dengan rasio void tinggi (sampai 1,50) dan
kerapatan rendah (seperti Sedikit seperti 70 lb/ft3). Situasi ini dapat dievaluasi
secara kuantitatif dengan uji konsolidasi standar. Knight menyarankan konsolidasi
sampel yang tidak terganggu sampai 30 lb/in2, kemudian saturasi selama 24 jam,
diikuti oleh kenaikan beban yang lebih tinggi berikutnya. Rasio void menurun
selama kenaikan ini menunjukkan potensi keruntuhan (CP) sebagai berikut:


CP = =
1 +

Dimana ;
CP = Potensi keruntuhan
= Perubahan rasio void pada saat pembasahan
= Ratio void pada keadaan awal
= Perubahan tinggi spesimen pada saat pembasahan
= Tinggi awal spesimen

6
Tabel 2.2 Nilai Potensi Keruntuhan

Collapse
Tingkat Permasalahan
Potential (CP), %
0 s/d 1 Tidak Bermasalah
1 s/d 5 Tingkat Permasalahan Sedang
5 s/d 10 Bermasalah
10 s/d 20 Tingkat Permasalahan Berat
> 20 Tingkat Permasalahan Sangat Berat

7
BAB III
PERMASALAHAN

3.1. Penurunan Secara Tiba-tiba


Kasus collapsible soil banyak ditemukan di daerah-daerah beriklim kering
yang biasanya nilai tekanan air porinya negatif. Tekanan air pori negatif
merupakan fenomena penting untuk memahami perilaku tanah unsaturated seperti
pada collapsible soil. Tekanan yang bernilai negatif akan memberikan rekatan
pada butiran tanah yang membuat tanah seolah-olah memiliki kohesi tambahan
yang tentu saja memberi tambahan kekuatan pada tanah. Kontribusi tekanan air
pori negatif ini sering tidak disadari misalnya saat menguji undisturbed sample di
uji tekan tak terkekang (Oetomo, 2016).
Gambar dibawah ini menunjukkan profil tegangan air pori untuk bagian
tanah yang tersaturasi dan tak-tersaturasi. Untuk tanah tersaturasi, nilainya
tergantung dari tekanan hidrostatik air, yaitu nol pada muka air tanah dan akan
bernilai positif untuk lapisan tanah dibawahnya. Pada tanah unsaturated nilai
tekanan porinya semakin keatas semakin negatif dan seakan-akan meningkatkan
kekuatan tanah.

Gambar 2. Tekanan air pori (Oetomo, 2016)

8
Pada saat terbentuk, collapsible soil dapat terekat dan menanggung
bebannya sendiri, dimana tidak terpengaruh oleh tekanan air pori positif. Namun
ketika tekanan air pori meningkat yang dapat disebabkan oleh hujan saat musim
tertentu, atau kebocoran saluran irigasi di bawah tanah akan menyebabkan
terjadinya perubahan tekanan air pori yang awalnya negatif menjadi positif dan
mengurangi kekuatan tanah. Akibat hal ini, tanah dapat langsung runtuh seketika
karena tidak mampu menopang bebannya sendiri.

3.2. Tidak Mampu Menopang Beban Besar


Perlu diingat bahwa collapsible soil adalah tanah yang sangat rentan dan
tergolong endapan yang labil. Sehingga kekuatan tanahnya terkadang hanya kuat
untuk menopang dirinya sendiri (bila tidak ada penambahan air pori). Maka bila
ada penambahan beban yang berlebihan di atas collapsible soil dapat
menyebabkan keruntuhan (Wesley, 2012).
Collapsible soil secara alami bukan tanah yang baik untuk dilakukan
pembangunan. Namun karena keterbatasan lahan, terkadang tanah yang buruk
seperti collapsible soil terpaksa untuk dimanfaatkan. Sehingga sebelum
dimanfaatkan perlu dilakukan rekayasa perkuatan agar kuat untuk menopang
bangunan.

9
BAB IV
SOLUSI DAN PENANGANAN

Pada beberapa negara ada yang melakukan pembangunan diatas collapsible soil.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan rekayasa untuk memperbaiki kondisi tanah.
Untuk tanah collapsible soil diperlukan beberapa penanganan yaitu diperlukan proses
pemampatan atau menjenuhkan tanah sebelum kegiatan konstruksi, dan pemberian
drainase yang baik agar terhindar dari pengaruh air.
Untuk pondasi pada collapsible soil dalam beberapa kasus, pondasi yang
berkesinambungan lebih aman dibandingkan pondasi yang terisolasi, karena dapat
secara efektif meminimalkan terjadinya penurunan. Jika telah dilakukan tindakan
pencegahan yang cukup di lapangan untuk mencegah kelembaban meningkat di bawah
struktur, spread foundation dan raft foundation dapat dibangun di atas tanah yang
berpotensi untuk runtuh. Namun pondasi yang dibuat harus proporsional sedemikian
rupa sehingga tekanan kritis di lapangan tidak pernah terlampaui. Faktor keamanan
sekitar 2,5 sampai 3 harus digunakan untuk menghitung tekanan tanah yang diijinkan
(Braja, 2004).
Perhatian yang khusus harus digunakan dalam membangun struktur berat diatas
collapsible soil. Untuk pembangunan permukiman besar, dapat dipertimbangkan
menggunakan pondasi tiang, karena pondasi ini dapat mentransfer beban ke lapisan
tanah/batuan yang kuat.
Selain solusi diatas juga dapat ditambahkan dengan stabilisasi tanah
menggunakan bahan kimia yaitu berupa kapur, semen, fly ash, ASP, dan lain-lain untuk
mengubah sifat tanah menjadi lebih baik.
Perbaikan konstruksi biasa untuk membangun sesuatu di mana loess ditemui
adalah sebagai berikut:
1. Penggalian dan penggantian tanah. Untuk deposit permukaan dangkal,
pilihan ini sangat sesuai karena tanah itu sendiri tidak sesuai, hanya
strukturnya yang harus dimodifikasi. Kepadatan relatif dan berat satuan
mungkin merupakan parameter kontrol terbaik selama penggantian.
2. Membasahi tanah in situ (hydro consolidation). Untuk endapan tebal tanah
yang rawan rontok, prewetting atau banjir tanah bisa digunakan. Di sini

10
struktur yang tidak stabil sengaja dipecah sebelum konstruksi dimulai.
Efisiensi obat ini harus diverifikasi dengan tes in situ.
3. Permukaan densifikasi melalui getaran. Untuk deposit yang relatif dangkal,
rol permukaan bergetar dapat digunakan; Untuk deposit yang lebih dalam,
metode pemadatan dinamis yang dalam dapat digunakan.
4. Di situ densifikasi melalui getaran. Untuk deposit dalam, Vibroflotation atau
Terra-Probe densification (keduanya metode getaran) dapat digunakan.
5. Pondasi dalam. Sebagai upaya terakhir, pondasi dalam (tumpukan atau
caissons) ditempatkan melalui tanah yang runtuh hingga lapisan bawah yang
kuat dapat digunakan (Koerner, 1984).

11
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan perjabaran pada bab-bab sebelumnya didapatkan beberapa poin


kesimpulan, antara lain:
1. Collapse soil adalah tanah yang sudah terbebani akibat pembangunan, ataupun yang
belum terbebani, yang mengalami keruntuhan secara mendadak akibat adanya
sumber air yang masuk ke tanah (kenaikan tekanan air pori).
2. Collapse soil dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu tanah loess, tanah residu, dan
tanah saline.
3. Collape soil banyak terjadi di negera-negara dengan iklim kering dimana banyak
terjadi tekanan air pori bernilai negatif.
4. Permasalahan yang timbul pada collapsible soil adalah penurunan secara tiba-tiba
dan ketidak mampuannya menopang beban besar.
5. Solusi untuk Collapsible soil adalah berupa sistem drainase yang baik, pemampatan
atau menjenuhkan tanah sebelum kegiatan konstruksi, stabilisasi tanah
menggunakan bahan kimia (kapur, semen, fly ash, ASP, dll), pemasangan pondasi
dengan menggunakan spread dan raft foundation, serta pondasi tiang untuk beban
berat.

12
DAFTAR PUSTAKA

Das, Braja M., 2004. Principles of Foundation Engineering, Fifth Edition, Thomson
Learning, Inc, USA.
Kamil, Ali. 2010. Slide Presentasi Perbaikan Tanah Bermasalah.
www.alinteristi.files.wordpress.com/2010/06/tpt0.ppt. Diakses 20 Mei 2017
Koerner, Robert M., 1984. Construction and Geotechnical Methods In Foundation
Engineering, pg 18 21. McGraw-Hill Book Company, Singapore.
Oetomo, James. 2016. Unsaturated Soils Gambaran Umum. www.james-
oetomo.com/2016/05/15/unsaturated-soils-gambaran-umum. Diakses 20 Mei
2017
Wesley, L.D., 2012. Mekanika Tanah. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

13