Anda di halaman 1dari 3

STANDAR OPERATING PROCEDURE (SOP)

TUBEKTOMI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

SPO Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur RSU MUTIASARI

dr. Suhatman, MARS


NIK. 260100001

1. Pengertian Tindakan pembedahan dengan melakukan laparatomi dan insisi


dinding uterus untuk melakukan pengikatan/pemotongan tuba fallopii

2. Tujuan Untuk menghentikan kesuburan seorang wanita usia reproduksi

3. Kebijakan 1. Dilakukan pada pasien yang memiliki penyakit kronik

2. Dilakukan pada pasien yang memilki resiko dalam kehamilan

3. Pasien yang tidak ingin memiliki anak lagi

4. Prosedur PERSIAPAN
1. Persiapan pasien :
a. Puasa
b. Laboratorium
c. Darah k/p
d. Posisi tidur terlentang
e. Cateter
f. Cukur
g. Pasang invus
h. Paket Anastesi
2. Persiapan alat:
a. Set tubektomi
b. Bowl umum
3. Assesoris :
a. Dram kassa
b. Slang suction
c. Rubber sheet
4. BHP
Betadin,kasa,handscoon,mp23,slangsuction k/p,cauter k/p
a. Benang cromik 2/0 non ATR
b. Cromik 1 non ATR
c. Plain 2/0 ATR
d. Polipropilin 3/0 ATR
CARA KERJA
1. Minta persetujuan tindakan medic
2. Mencuci tangan steril
3. Antisepsis daerah operasi dan seklitarnya
4. Dilakukan pembiusan oleh dokter spesialis anastesi
5. Infiltrasikan lidokain 1% ke sub kutis dibawah umbilikus
6. Jepit ujung lateral kanan dan kiri kulit di bawah umbilikus dengan
menggunakan kocher
7. Angkat kedua kocher tinggi-tinggi, tusukkan ujung pisau bedah
pada ujung lateral kanan, setelah menembus kulit, tarik pisau bedah
ke ujung kiri dengan satu gerakan
8. Masukkan bilah retraktor kemudian lepaskan kocher dan tarik
retractor ke arah atas dan bawah sehingga tampak fasia
9. Jepit fasia-peritoneum dengan arah atas bawah kemudian gunting
fasia-peritoneum di antara kedua kocher
10. Masukkan ujung gunting pada sayatan fasia-peritoneum, perlebar
guntingan fasia-peritoneum ke lateral kanan dan kiri sehingga
visualisasi rongga abdomen menjadi lebih baik
11. Dengan ujung bilah retraktor , tarik fasia-peritoneum, lepaskan
kedua kocher, lakukan orientasi lapangan operasi
12. Orientasi dilakukan dengan menggeser retraktor & mendorong
dinding lateral uterus. Kenali uterus, tuba dan sekitarnya
13. Gerakkan retraktor ke kiri & dinding lateral kiri uterus ke arah
medial sehingga tampak kornu dan tuba kiri.Bila gagal
menampilkan tuba, gunakan pengait tuba. Bila tidak tersedia
pengait tuba, pakai jari telunjuk untuk menampilkan tuba
14. Jepit tuba dengan menggunakan pinset anatomis panjang.
15. Telusuri tuba hingga mencapai mencapai fimbriae
16. Setelah dipastikan tuba, ambil bagian tengah (pars isthmika) dengan
klem Babcock dan keluarkan dari kavum abdomen melalui luka
insisi
17. Lakukan pengikatan tuba secara angka delapan (lengkung tuba
hingga ikatan berjarak 1,5-2 cm) dengan simpul kunci
18. Potong tuba di antara simpul dan jepitan Babcock (perhatikan
hemostasis ikatan)
19. Bila ikatan baik dan tidak ada perdarahan, potong benang 0,5 cm
dari simpul ikatan
20. Kembalikan tuba kiri ke tempatnya semula, atur kembali Gerakan
retractor dan dinding lateral uterus sehingga dapat Menampilkan
tuba kanan. Ulangi langkah yang sama pada Tuba kanan hingga
selesai.
21. Setelah kedua tuba diikat dan dipotong dan dikembalikan ke dalam
kavum abdomen, bersihkan sisa darah pada dinding perut. Lihat
kembali kondisi dalam rongga perut. Keluarkan Kassa gulung (jika
dipakai) atau instrument
22. Pindahkan bilah retraktor pada kulit, angkat retractor, lalu jepit
fascia-peritoneum dengan kocher pada 2 tempat (kranial dan
kaudal)
23. Lakukan penjahitan fascia-peritoneum secara terputus dengan
benang kromik no. 1/0
24. Bersihkan luka operasi dan kulit dengan laruran antiseptic jahit
kulit secara subkutikuler dengan kromik no 3/0
25. Mencuci tangan
26. Lakukan pengawasan pasca tindakan
5. Unit Terkait SMF Anastesi, Instalasi Bedah Sentral