Anda di halaman 1dari 14

Lex Crimen Vol. I/No.

2/Apr-Jun/2013

PENGAWASAN DALAM PROSES Pengawasan tersebut telah dikacaukan oleh


PENYIDIKAN TINDAK PIDANA MENURUT bunyi Pasal 284 ayat (2) KUHAP, yang
KUHAP1 walaupun bersifat sementara, ternyata
Oleh : Erwin Rompas2 tetap dipertahankan oleh Kejaksaan,
menyimpang dari maksud pembentuk
ABSTRAK undang-undang di waktu itu. Karena itu
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah Pasal 284 KUHAP yang hanya bersifat
untuk mengetahui bagaimanakah sementara sudah seharusnya
keberadaan lembaga Kepolisian Dan dicabut/dinyatakan tidak berlaku oleh
Kejaksaan Sebagai Subsistem Penegakan pemerintah sesuai dengan kehendak
Hukum Dalam Proses Penyidikan dan pembuat undang-undang ketika itu. Kontrol
bagaiamanakah sifat dan bentuk hakim terhadap jaksa selaku penuntut
pengawasan terhadap kejaksaan selaku umum harus diperluas dengan kewenangan
penyidik dan penuntut umum menurut memeriksa apakah dakwaan yang
KUHAP. Dengan menggunakan metode dimajukan telah memenuhi unsur atau
penelitian hukum normatif dapat tidak.
disimpulkan bahwa: 1. Maksud pembentuk Kata Kunci : Pengawasan
undang-undang membuat KUHAP (UU No.
8 Tahun 1981) adalah untuk memisahkan PENDAHULUAN
penyidikan yang hanya diperuntukkan bagi Kelahiran KUHAP disambut gembira dan
Kepolisian dan penuntutan bagi Kejaksaan. diakui oleh dunia hukum sebagai tonggak
Hal itu jelas tercermin dalam Pasal 1 angka terjadinya pembaharuan hukum, khususnya
1 - 5 bahwa penyidik adalah pejabat polisi hukum Acara Pidana di Indonesia. KUHAP
negara dengan tugas penyidikan, juncto menjadi pegangan bagi polisi, jaksa, serta
Pasal 4 - 12 dan Bab XIV yang dimulai dari hakim (bahkan terrnasuk penasihat hukum)
Pasal 102 -136. Dan Pasal 1 angka 6 - 7 di dalam melaksanakan tugas penyelidikan,
junctis Pasal 13 - 15 juncto Bab XV yang penyidikan, penangkapan; penahanan dan
dimulai dari Pasal 137-144 yang mengatur pemeriksaan dalam persidangan di
mengenai pejabat yang diberi wewenang Pengadilan. Di dalam KUHAP,3 wewenang
sebagai penuntut umum yaitu jaksa. penyelidikan, penyidikan; penangkapan,
Pemisahan tersebut dengan tegas diatur dan penahanan berada di tangan lembaga
dalam KUHAP. Pasal 284 ayat (2) hanya Kepolisian, sedangkan penuntutan berada
bersifat transisi. Atas dasar tersebut, di tangan lembaga Kejaksaan.4 Dengan
KUHAP sudah berada pada jalur yang tepat,
tatkala pembuat undang-undang 3
UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
memisahkan kekuasaan penyidikan dan Pidana, biasanya disingkat "KUHAP"; LN Tahun
penuntutan kepada dua instansi yang 1981 No. 76, TLN-RI No. 3209. Merupakan
sederajat, yaitu Kepolisian selaku penyidik pengganti Her Herziene lnlands Reglement (HlR),
Staatsblad Tahun 1941 No. 44: hukum, acara
dan Kejaksaan selaku penuntut umum yang
rnasa kolonialisasi yang berdasarkan Pasal 6 Ayat
berkonsentrasi membuat dakwaan dan 1 UU No. 1 Drt. Tahun 1951 (LN tahun 1951 No.
membuktikan dakwaannya di Pengadilan. 59, TLN-RI No. 81) dinyatakan tetap berlaku
Tentunya pemisahan tersebut menyiratkan sebagai pedoman tentang acara perkara pidana
suatu fungsi pengawasan antar instansi sipil oleh semua Pengadilan dan Kejaksaan Negeri
dalam wilayah Rl.
yang harus berjalan demi mencapai tujuan 4
Lihat Pasal 4 dan Pasal 6 KUHAP untuk tugas
keadilan materiel yang sebenar-benarnya. lernbaga Kepolisian selaku penyelidik dan
penyidik; sedangkan untuk tugas dan wewenang
1
Artikel Skripsi Kejaksaan selaku penuntut umum dapat dilihat
2
NIM 080711140 pada Pasal 13 KUHAP.

65
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

pemisahan lembaga Kepolisian sebagai pidana ekonomi (UU No. 7 Drt. Tahun
penyidik, dan lembaga Kejaksaan sebagai 1955);
penuntut umum, maka telah tercermin 2. Undang-undang tentang
adanya suatu sistem pengawasan, dengan pemberantasan tindak pidana korupsi
alasan demi kepentingan hak-hak (UU No. 3 Tahun 1971);
5
tersangka/terdakwa.
Meskipun secara yuridis-normatif, baik Pasal ini dalam kehidupan praktiknya telah
dalam Herziene lnlands Reglement (HIR) menimbulkan 2 (dua) interpretasi yang
maupun dalam KUHAP, telah diatur berbeda di antara lembaga Kepolisian dengan
mengenai tugas dan kewenangan serta lembaga Kejaksaan. Bagi Kejaksaan, yang
masing-masing lembaga yang harus melak- dimaksudkan dengan jangka waktu "2
sanakannya, perselisihan dan (dua) tahun" hanyalah penaroganan
ketidakharmonisan tugas dan kewenangan perkaraperkara tindak pidana umum saja,
antar lembaga dalam sistem peradilan artinya setiap pelanggaran yang ada dalam
pidana masih sering timbul: Apabila KUH Pidana (Hukum Pidana Materiel)
diperhatikan bunyi Pasal 284 Ayat (2) sajalah yang menjadi vvewenang polisi.
KUHAP, maka dapat disimpulkan bahwa Sedangkan meskipun Pasal 284 (2) KUHAP
tindak pidana korupsi dikecualikan dari dicabut ataupun selama pasal tersebut
penerapan KUHAP ini, yang menetapkan belum dicabut, jaksa merupakan penyidik
sebagai berikut: tunggal untuk perkara tindak pidana
Dalam waktu dua tahun setelah undang- khusus tersebut, yaitu perkara tindak
undang ini diundangkan, maka terhadap pidana ekonomi, subversi dan korupsi.
semua perkara diberlakukan ketentuan Pencabutan Ketentuan ini tetap
undang-undang ini, dengan memberikan pengecualian kepada jaksa
pengecualian untuk sementara sebagai pemegang wewenang penyidikan
mengenai ketentuan khusus acara terhadap tindak pidana yang bersifat
pidana' sebagaimana tersebut pzda khusus. Hal ini menjadi lebih dipertegas
undang-undang tertentu, sampai ada lagi melalui Pasal 17 Peraturan Pemerintah
perubahan dan atau dinyatakan tidak Nomor 27 Tahun 1983.
berlaku lagi. Pertanyaannya mengapa lembaga
Yang dimaksud dengan pengertian Kejaksaan masih terus diberikan
"pengecualian sebagaimana tersebut pada wewenang untuk menangani penyidikan
undang-undang tertentu", diterangkan dalam tindak pidana korupsi, sekalipun waktu
penjelasan pasal tersebut, sebagai berikut: yang ditentukan oleh Pasal 284 KUHAP -
Yang dimaksud dengan ketentuan khusus yaitu 2 (dua) tahun - sudah lewat.
acara pidana sebagaimana tersebut pada Bukankah hal tersebut bertentangan
Undang-undaog tertentu ialah ketentuan dengan Pasal 109 KUHAP yang
khusus acara pidaoa sebagamana tersebut mengatakan, begitu penyidikan dimulai,
pada antara lain: polisi harus memberitahukan tindakan pro
1. Undang-undang tentang pengusutan, justitia tersebut, kepada jaksa. Sejak saat
penuntutan dan peradilan tindak itu penyidikan yang dilakukan polisi di
bawah pengawasan jaksa. Funcjsi
5
Dijelaskan dalam Surat Keputusan Menteri pengawasan ini juga dapat diperoleh
Kehakiman Nomor M.01.PW.07.03 Tahun 1982 melalui lembaga praperadilan. Sejak per -
tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana, tertanggal 4
tama kali diperkenalkan dalam KUHAP,
Pebruari 1982, Bab I. Lihat KUHAP Lengkap, lembaga ini telah merupakan suatu upaya
Jakarta: Bumi Aksara, 1995, h. 239. hukum yang cukup ampuh untuk

66
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

mengawasi tindakan polisi-jaksa dalam Lembaga Kepolisian RI berpendapat


melaksanakan tindakan pro justitia.6 bahwa apabila jangka waktu 2 (dua) tahun
Dalam Pasal 2 UU Pokok Kejaksaan telah lampau, maka polisi mempunyai
Pdomor 15 Tahun' 1961 jo. UU No. 5 Tahun wewenang melakukan penyelidikan dan
1991 dirumuskan tugas Kejaksaan yang penyidikan terhadap semua tindak pidana,
meliputi tugas di bidang yustisial dan baik yang umum maupun yang khusus
bidang non-yustisial.7 Di bidang yustisial, termasuk perkara-perkara tindak pidana
tugas jaksa adalah pemeriksaan penyelundupan (tindak pidana ekonomi
pendahuluan, yanu meliputi: penyidikan, vide UU Drt No. 5 Tahun 1955),
penyidikan lanjutan dan mengadakan Pemberantasan Kegiatan Subversi (UU No.
pengawasan dan koordinasi alat-alat 11 Pnps Tahun 1963), maupun
penyidikan lainnya. Hadirnya undang- pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
undang ini telah memperkokoh landasan Membenahi korupsi dalam sekejap;
hukum bagi lembaga Kejaksaan untuk terus dapat dikatakan tidak mungkin dapat
menyidik tindak pidana korupsi. Bahkan, dilaksanakan, jika dalam kondisi budaya
kewenangan penyidikan dan penuntutan birokrasi dewasa ini. Mungkin, kalau
tersebut telah berada di tangan satu pemerintahan dipegang oleh seorang tiran
lembaga (istilah lain: "penyidikan satu bertangan besi atau seperti dalam model
atap"). Kondisi ini merupakan kelemahan, pemerintahan diktator. Korupsi merajalela
sehingga hampir semua kasus korupsi yang tidak saja terjadi pada lembaga eksekutif
disidangkan oleh Pengadilan adalah dan legislatif, tetapi lebih parah lagi, telah
merupakan hasil kerja penyidikan dan melanda lembaga yudikatif. Secara teknis,
penuntutan lembaga Kejaksaan.8 pemberantasan korupsi sulit dilakukan,
karena menyangkut pembuktian yang sulit.
6
Sekalipun dalam praktiknya, jika praperadilan Manakala seseorang memberikan uang
diajukan oleh tersangka, polisi dan jaksa sering sogok atau hadiah kepada seorang pejabat,
"menekan" si tersangka, menimbulkan ketakutan maka kedua pihak (pihak pemberi dan
dan menyebabkan tersangka mencabut kuasanya. pihak penerima) tentu saja tidak
Selain itu, hakim praperadilan seringkali terlalu
memberikan tanda terima/kuintansinya.
bersikap yuridis-normatif, tidak, memperhatikan
latar belakang dan alasan pencabutan kuasa, Keduanya juga tentu tidak akan mau
padahal penasihat hukum telah menjalankan mengakuinya, karena berdasarkan UU Anti-
tugasnya dengan baik. korupsi, baik penerima maupun pemberi
7
Tugas non-yustisial, antara lain adalah mengawasi diancam pidana.
aliran-aliran kepercayaan atau hal-hal lain yang
Dalam beberapa kasus, penyidikan dan
berupa klausula terbuka, sepanjang dipandang
dapat membahayakan masyarakat dan negara. penuntutan kasus korupsi yang "satu atap"
Misalnya: pelarangan buku-buku karangan tersebut dapat "mempetieskan" suatu
Pramoedya Ananta Toer di masa Orde Baru, perkara korupsi, melalui berbagai cara dan
pembredelan koran, dan lain-lain. . dengan alasap yang hanya diketahui oleh
8
Sebagai contoh dapat dikemukakan kasus tindak
pihak Kejaksaan itu sendiri.?' Selain itu,
pidana korupsi atas terdakwa Ida Bagus Oka,
Mantan Gubernur Propinsi Bali, Penyidikan kasus hambatan penyidikan perkara tindak
ini cukup "aneh", di mana laporan informasi yang pidana korupsi juga terhalang dengan
mendahului penyidikan berasal dari jaksa bernama
Urip Tri Gunawan. Kemudian jaksa yang sama, ingin dijadikannya sebagai tersangka, atau
selaku penyidik, membuat Berita Acara rnengubah kedudukan seseorang yang karena
Pemeriksaan. Jaksa Urip kemudian juga bertindak jabatannya seharusnya ikut menjadi tersangka,
sebagai jaksa penuntut umumnya. Masih banyak tetapi dapat "diatur" sehingga hanya duduk
perkara korupsi lainnya, yang mengalami nasib sebagai saksi dalam kasus tindak pidana tersebut,
yang sama. Untuk kejahatan korporasi, jaksa sebagaimana kasus Tindak Pidana Bank
dengan "seenaknya" menempatkan siapa yang Andromeda.

67
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

budaya penghargaan senioritas dan memberitahukan hal itu kepada


kebiasaan daerah tertentu yang Penuntut Umum.
menyebabkan penyidikan dan penuntutan Untuk memahami Pasal 109 KUHAP
perkara tidak berjalan dengan baik. sebagai landasan bagi hubungan antara
Kepolisian dan Kejaksaan selaku penegak penyidik dengan penuntut umum 11, maka
huhurn, masing-masing merupakan di dalam Surat Keputusan Menteri
lembaga terpisah/independen. Kepolisian Kehakiman Nomor M.01.PW.07.03 Tahun
Negara RI,. merupakan lembaga yang diatur 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab
dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun l.'ndangUndang Hukum Acara Pidana,
2002 tenfang Kepolisian Negara R1.9 tertanggal 4 Februari 1982, dijelaskan
Kepolisian nerjara merupakan lembaga bahwa hubungan antara. penuntut umum
yang langsung berada di bawah Presiden.10 dan penyidik dalam hal pelaksanaan
Kepolisian berkoordinasi dengan Kejaksaan penyidikan sebagaimana Pasal 109 ayat (1)
dalam urusan yustisial dan dengan di atas adalah bersifat Koordinasi
Departemen Dalam Negeri dalam urusan Fungsional dan Institusional.
ketentraman dan kctertiban umum.
Sedangkan Kejaksaan RI, merupakan Perumusan Masalah
lembaga negara yang diatur dalam Undang- 1. Bagaimanakah keberadaan lembaga
Undang Nomor 5 Tahun 1991, yang Kepolisian Dan Kejaksaan Sebagai Sub-
menjalankan tugas dan wakil perr erintah sistem Penegakan Hukum Dalam
dalam menegakkan hukum negara yang Proses Penyidikan ?
bersifat publik. Hubungan antara polisi 2. Bagaiamanakah sifat dan bentuk
selaku penyidik tindak pidana dengan jaksa pengawasan terhadap kejaksaan selaku
selaku penuntut umum roenurut KUHAP, penyidik dan penuntut umum menurut
diatur dalam Pasal 109 Ayat (1) k;UHAP, KUHAP ?
sebagai berikut:
Dalam hal Penyidik telah mulai Metode Penelitian.
melakus{an penyidikan suatu peristiwa Metode yang dipergunakan adalah
yang merupakan tindak pidana, Penyidik pendekatan yang bersifat yuridis normatif,
dengan menggunakan data-data yang
9
Disahkan pada tangcoI 8 Januari 2002, LNRI Tahun diperoleh melalui penelitian kepustakaan.
2002 No. 2, TLN No. 4168. Sebelumnya Kepolisian
Negara RI diatur dengan UU No. 28 Tahun 1997 (LN PEMBAHASAN
1997 No. 81; TLN No 3710). A. Kepolisian Dan Kejaksaan Sebagai
10
Perubahan struktural ini merupakan perubahan
mendasar yang dilakukan seiring dengan gerakan
Subsistem Penegakan Hukum Dalam
reforrnasi di Indonesia dan berakhirnya era Proses Penyidikan
pemerintahan Orde Baru. 5etetah kemerdekaao RI, Integrated Criminal Justice System
Kepolisian Negara RI merupakan bagian dari menurut Sukarton Marmosudjono, adalah
Departemen Dalam Negeri. Kemudian dengan UU sistem peradilan perkara pidana terpadu,
No. 13 Tahun 1961 (LN 1961 No. 145; TLN No.
2287), Kepolisian menjadi bagian dari Angkatan
yang unsur-unsurnya terdiri dari
Bersenjata RI (ABRI! dan melalui TAP MPR No. persamaan persepsi tentang keadilan dan
VIIMPR/2000, kedudukan Kepolisian Negara RI
11
dipisahdari TNI, sehingga lahirlah UU No. 2 Tahun Lihat penjelasan dalam Surat Keputusan
2002, di mana Kepolisian menjadi lembaga yang Menteri Kehakim-an Nomor M.01.PW.07.03
berdiri sendiri, terpisah dari Departemen Dalam Tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab
Negeri maupun ABRI, di rnana Kepala Kepolisian RI Undang-Undang Hukum Acara Pidana, tertanggal 4
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Februari 1982, Bab I. Lihat KUHAP Lengkap,
Jakarta: Bumi Aksara, 1995, h. 239.

68
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

pola penyelenggaraan peradilan perkara "wershandhaver" yang merujuk pada


pidana secara keseluruhan dan kesatuan. kewenangan "memaksakan hukum", adalah
Pelaksanaan peradilan terdiri dari beberapa hanya untuk profesi polisi (police officer)
komponen seperti penyidikan, penuntutan, dan profesi penuntut umum (public
pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. prosecutor). 14
Integrated criminal justice system Penegak hukum dapat dibedakan dalam
adalah suatu usaha untuk mengintegrasikan pengertian luas dan pengertian yang
semua komponen tersebut sehingga sempit.
peradilan dapat berjalan sesuai dengan yang a) Dalam arti luas, Penegak Hukum adalah
dicita-citakan.12 setiap orang yang mentaati hukum;
Dalam UU No. 28 Tahun 1997 tentang b) Dalam pengertian sempit terbatas pada
Kepolisian Negara RI, Pasal 3, menyatakan orangorang yang diberi wewenang
bahwa: "...Fungsi Kepolisian adalah salah memaksa oleh undang-undang untuk
satu fungsi pemerintahan negara di bidang menegakkan hukum.15
penegakan hukum,...." Sedangkan menurut Marjono
Sedangkan jika dibandingkan dengan UU Reksodiputro, istilah penegak hukum dalam
No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan RI, arti sempit hanya berarti polisi, tetapi dapat
pada pertimbangan huruf (a) yang berbunyi: juga mencakup jaksa. Sedangkan di
"... untuk lebih memantapkan Indonesia, pengertian tersebut biasanya
kedudukan dan peranan Kejaksaan RI d:perluas lagi dan rneliputi juga para hakim,
sebagai lembaga pemerintahan yang dan ada kecenderungan kuat memasukkan
melaksanakan kekuasaan negara di pula dalam pengertian penegak hukum ini
bidang penuntutan dalam susunan adalah para advokat.16
kekuasaan badan-badan penegak Secara umum lembaga Kepolisian
hukum dan keadilan..." memiliki 3 (tiga) fungsi17, yaitu:
Dari isi kedua UU tersebut, dapat 1) fungsi memelihara keamanan;
diketahui bahwa baik Kepolisian maupun 2) fungsi pelayanan masyarakat;
Kejaksaan merupakan lembaga 3) fungsi peradilan pidana.
pemerintahan di bidang penegakan Dengan demikian, fungsi Kepolisian
hukum.13 Hal ini sudah sesuai dengan sebagai bagian dari sistem peradilan pidana
pengertian dalam kepustakaan sesungguhnya hanyalah merupakan
internasional, yaitu istilah "law sebagian atau salah satu dari fungsi
enforcement officer" atau Kepolisian. Namun, karena fungsi ini paling

12 14
Sukarton Marmosudjono, Penegakan Hukum di Tim Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
-
Negai a Pancasila, Jakarta: Pustaka Kartini, 1989, Sinkronisasi Ketentuan Perundang-Undangan .
h. 30. Mengenai Sistem Peradilan Pidana Terpadu
13
Dalam UU No. 14 Tahun 1970 tentang Melalui Penerapan Asas-Asas-Asas Umum, Jakarta,
Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Juni 2001, h. 135 136.
15
Kehakiman, Pasal 27 Ayat (1) dikatakan juga Tim Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ibid.,
bahwa "Hakim sebagai penegak hukum dan h. 137.
16
keadilan". Juga pada UU No. 12 Tahun 1995 Marjono Reksodiputro, Kedudukan Advokat
tentang Pemasyarakatan, Pasal 8 ayat 1 dikatakan dalam Sistem Peradilan Pidana (dalam rangka
bahwa "Petugas pemasyarakatan ... merupakan, Integrated Judiciary System), makalah disampaikan
pejabat fungsional penegak hukum". Pendapat pada Semiloka di Fakultas Hukum Universitas In 13
bahwa hakim maupun petugas pemasyarakatan Desember 2000, h. 2.
17
adalah "penegak hukum" adalah kurang tepat M.L. Hc. Hulsman, Sistem Peradilan Pidana:
karena umumnya secara internasional, istilah Dalam Piespektif Perbandingan Hukum, Jakarta:
"penegak hukum" hanya ditujukan kepada polisi Rajawali Pets, 1984, h. 28.
dan jaksa.

69
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

banyak disorot oleh masyarakat, maka guna mewujudkan keamanan dan


kerap kali kegiatan polisi hanya ketertiban masyarakat dalam rangka
diidentikkan dengan fungsi ini saja. terpeliharanya keamanan dalam negeri,
Selain tiga fungsi di atas, maka terselenggaranya fungsi pertahanan
Kepolisian juga mempunyai 2 (dua tugas keamanan negara dan tercapainya tujuan
utama, yaitu: nasional dengan menjunjung tinggi, Hak
a) Tugas penegakan hukum; dan Asasi Manusia.
b) Tugas memelihara ketertiban dan Kemudian dalam Pasal 3, disebutkan
ketenteraman dalam masyarakat. tentang fungsi dari lembaga Kepolisian
Keseluruhan tugas dan fungsi polisi sebagai salah satu fungsi pemerintahan
tersebut tidak dapat dipisahkan karena negara di bidang penegakan hukum,
saling berhubungan. Tugas polisi dalam per-lindungan dan pelayanan masyarakat,
memelihara ketertiban dan ketenteraman serta pembimbing masyarakat dalam rangka
masyarakat berada pada perbatasan antara terjaminnya tertib dan tegaknya hukum
perilaku warga masyarakat yang bersifat serta terbinanya ketenteraman masyarakat
kriminal dengan yang bersifat non-kriminal. guna terwujudnya keamanan dan ketertiban
Dalam menjalankan tugas ini polisi masyarakat. Sedangkan Pasal 5 mengatur
diharapkan dapat memecahkan setiap tentang lembaga Kepolisian RI sebagai unsur
masalah yang dihadapinya. Kondisi tersebut ABRI yang terutama berperan memelihara
menuntut polisi harus bertindak menurut keamanan dalam negeri.
penilaiannya sendiri. Dan berkaitan dengan Ketiga pasal tersebut di atas telah
tugas penegakan hukum yang diembannya, menempatkan polisi dalam, posisi di
polisi memiliki tugas yang harus dijalankan, samping menjamin tertib dan tegaknya
yaitu tugas penyidikan dan penyelidikan hukum serta terbinanya ketenteraman
sebagaimana yang diamanatkan oleh masyarakat guna mewujudkan keamanan
KUHAP. Dalam menjalankan tugas ini, maka dan ketertiban masyarakat dalam rangka
polisi berhubungan dengan institusi terpeliharanya keamanan dalam negara,
peradilan pidana lainnya, yaitu Kejaksaan. juga menempatkan polisi dalam posisi
Dalam hal inilah kerap timbul masalah sebagai alat pertahanan keamanan negara.
mengenai mekanisme koordinasi Melalui Keputusan Presiden RI No. 89
pelaksanaan tugas dalam menjalankan Tahun 2000 tanggal 1 Juli 2000, fungsi
fungsi penyelidikan dan penyidikan. Kepolisian dipisahkan dari fungsi
Karena P.18 yang dikeluarkan oleh pertahanan- keamanan, sebagaimana
Kejaksaan, sering tidak dapat dipenuhi oleh disebut dalam Pasal 1 Keputusan Presiden
polisi, karena terlalu teknis, misalkan tersebut: ...Kepolisian Negara RI
Kejaksaan minta asli dari S.K. Menteri atau merupakan lembaga pemerintah yang
Peraturan Menteri. mempunyai tugas pokok menegakkan
hukum, ketertiban umum dan memelihara
1. Fungsi dan Tugas Kepolisian sebagai Sub- keamanan dalam negeri..."
sistem Peradilan Pidana Keputusan Presiden tersebut telah
Menyangkut tugas Kepolisian; maka disusul dengan UU No. 2 Tahun 2002
Pasal 2 UU No. 28 Tahun 1997 , menyatakan tentang Kepolisian Negara RI.18 Dalam
tujuan lembaga Kepolisian sebagai berikut: :konsideransnya-secara jelas dikatakan:
Kepolisian Negara RI bertujuan
untuk menjamin tertib dan tegaknya 18
Disahkan dan diundangkan pada tanggal 8
hukum serta Januari 2002, LN Tahun 2002 No. 2, TLN No.
terbinanya ketenteraman masyarakat 4168.

70
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

"bahwa telah terjadi perubahan Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang juga diberi
paradigma dalam sistem hak untuk melakukan penyidikan. Jadi KUHAP
ketatanegaraari yang menegaskan memungkinkan adanya penyidik yang bukan
pemisahan kelembagaan Tentara polisi. Dalam berbagai UU kita dapat
Nasional Indonesia dan Kepolisian menjumpai aturan tentang penyidikan yang-
Negara RI sesuai dengan peran dan harus dilakukan penyidik selain polisi, dalam
fungsi masing-masing." hal ini PPNS, misalnya antara lain:
Fungsi dan tugas Kepolisian sebagai sub-
sistem peradilan pidaria terkait dengan TINDAK PIDANA LANDASAN
fungsi penyelidikan dan penyidikan. Dalam HUKUM
Di bidang UU No. 9 'Tahun
praktiknya terriyata p'olisi bukan satu-
Perikanan 1985
satunya penyelidik. Terdapat beberapa Di bidang Imigrasi UU No. 9 Tahun 1992
insititusi tertentu yang juga melaksanakan Di bidang HaKI UU No. 14 Tahun
tugas penyelidikan meski untuk tindak 2001 tentang Paten
pidaria tertentu, misalnya sebagai berikut: UU No. 15 Tahun
2001 tentang Merek
UU No. 31 Tahun
2000 tentang Desain
PENYELIDIK TINDAK PIDANA LANDASAN Industri
HUKUM Di bidang Pasar UU No. 8 Tahun
Kepolisian Semua jenis KUHAP, UU Modal 1995
No. Tahun Di bidang UU No. 23 Tahun
1981 Lingkungan 1997
UU No. 28 Di bidang UU No. 30 Tahun
Tahun 1997 Kepabeanan 1997
Komnas Pelanggaran HAM UU No. 26
HAM Berat Tahun 2000
UU No. 31 Apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal
Tahun 1997 27 ayat (1) huruf d UU 5 Tahun 1991 tentang
TGPTPK Tindak Pidana UU No. 31 Kejaksaan RI, akan ditemukan tumpang tindih
Korupsi Tahun 1997 tugas penyidikan. Di bidang peradilan pidana,
Kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang
KPTPK Tindak Pidana UU No. 31
Korupsi Tahun 1997 untuk melengkapi berkas perkara tertentu.
KPPU Tindak Pidana UU No. 5 Oleh karena itu, Kejaksaan dapat melakukan
Ekonomi/Persaingan Tahun 1999 pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan
Usaha ke Pengadilan.
Kondisi tersebut di atas tentunya Bagaimana hubungan antara lernbaga
menimbulkan masalah tentang siapa Kepolisian dan lembaga-lembaga lainnya
sebenarnya yang paling berhak melakukan yang oleh UU diberikan wewenang untuk
penyelidikan atas suatu tindak pidana. menjalankan tugas penyelidikan atau tugas
Penulis belum pernah melihatlmendapatkan penyidikan, diatur dalam Pasal 26 ayat (2) UU
BAP pro justitia yang dilakukan oleh penyidik Kepolisian, yaitu :
sipil yang berkasnya langsung diberikan Hubungan dan kerja sama Kepolisian
kepada Kejaksaan. Negara RI dengan badan, lembaga serta
Sedangkan mengenai fungsi polisi sebagai instarisi di dalam dan di luar negeri
penyidik, polisi ternyata bukanlah satu- didasarkan atas sendi-sendi hubungan
satunya institusi yang berwenang menyidik fungsional, saling menghormati, saling
suatu tindak pidana (vide Pasal 1 ayat membantu, mengutamakan kepentingan,
(4) KUHAP). Masih terdapat umum serta memperhatikan hirarki.

71
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

2. Fungsi dan Tugas Kejaksaan sebagai 5, sedangkan definisi penuntutan diatur


Sub-sistem Peradilan Pidana dalam Pasal 1 angka 6 sld 7 KUHAP.
Hampir dalam semua yurisdiksi hukum Penyelidikan diatur dalam Pasal 1 angka
di dunia, baik dalam tradisi Anglo Saxon, 1 s/d 5 dan ditegaskan kembali dalam Pasal
atau tradisi Eropa Kontinental, jaksa 6 ayat (1) huruf a KUHAP, di mana
merupakan tokoh utama dalam Kepolisian Negara RI melakukan
penyelenggaraan peradilan pidana, karena penyelidikan dan penyidikan terhadap
ia memainkan peranan penting dalam semua tindak pidana sesuai dengan Hukum
proses pembuatan dakwaan/tuntutan. Acara Pidana dan peraturan perundang-
Sekalipun polisi lebih terlatih dalam undangan lainnya. Sedangkan penyidikan
mengumpulkan bukti-bukti di tempat menurut Pasal 1 angka 1 merupakan
terjadinya kejahatan, pun polisi memiliki wewenang dari pejabat polisi negara RI
komposisi sumberdaya manusia dan atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu
perlengkapan yang lebih baik, mereka tetap yang diberi wewenang khusus oleh UU
tergantung kepada jaksa dan tetap untuk melakukan penyidikan.
memerlukan nasihat dan pengarahan jaksa. Sehari-hari sering terdengar istilah
Salah satu sebabnya mungkin karena "Kepolisian sebagai penyidik tunggal":
umumnya jaksa lebih mahir dalam masalah Meskipun sering digunakan sebagai istilah
yuridis dan memiliki hak utama yang sehari-hari dan beberapa penulis juga
eksklusif da.lam menghubungi Pengadilan. menggunakan istilah ini, tetapi jika
Bahkan, di negaranegara di mana jaksa dicermati, maka Pasal 6 KUHAP telah
tidak melakukan penyidikan sendiri menyatakan bahwa penyidik itu terdiri dari
(termasuk di Indonesia), jaksa tetap pejabat polisi negara dan pegawai negeri
memiliki kebijaksanaan/discretion sipil tertentu yang diberi wewenang khusus
penuntutan yang luas. Dengan kata lain, oleh UU. Bahkari, dalam Pasal 17 PP. No. 27
jaksa memiliki kekuasaan untuk Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP20
menetapkan apakah akan menuntut atau dinyatakan: Penyidikan menurut ketentuan
tidak menuntut hampir semua perkara khusus acara pidana sebagaimana
pidana.19 dimaksud dalam Pasal 284 ayat (2) KUHAP
dilaksanakan oleh penyidik, jaksa dan
B. Pengawasan Terhadap Kejaksaan pejabat penyidik yang berwenang lainnya.
Selaku Penyidik Dan Penuntut Umum Sejak disampaikannya surat
Menurut KUHAP pemberitahuan dimulainya penyidikan
Sejak semula dengan ditinggalkannya kepada penuntut umum sebagaimana
HIR oleh KUHAP, pembentuk undang- dimaksud dalam Pasal 109 ayat (1) KUHAP,
undang telah dengan tegas memisahkan terjalinlah hubungan koordinasi fungsional
kekuasaan penyidikan dan penuntutan. antara penyidik dan penuntut umum dalam
Pasal-Pasal penyidikan ditempatkan pada penanganan perkara yang bersangkutan.
judul dan bab tersendiri. Demikian. pula Adanya hubungan koordinasi dan
dengan penuntutan. Sejak semula definisi konsultasi tersebut, telah dilaksanakan
penyidikan diatur dalam Pasal 1 angka 1 s/d sejak sebelum berlakunya KUHAP. Dasar
pelaksanaan koordinasi dan konsultasi
tersebut adalah Instruksi Bersama Jaksa
19 Agung RI dan Kapolri No. INS TR-
Kebijaksanaan (discretion) diterjemahkan juga
sebagai "keteluasaan bertindak" atau dalam
20
bahasa Jerman; "freies ermessen". . Ditetapkan pada tanggal 1 Agustus 1983, LN
Tahun 1983 No. 36, TLN No. 3258.

72
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

Q06iJ.A/10J13,0v - Nopol: INS/17/X/1981 kurang lengkap. Ini memberikan gambaran


tentang Peningkatan Usaha Pengamanan bahwa seolah-olah aparat Kepolisian tidak
dan Kelancaran Penyidangan Perkara- menguasai dan, lebih parah lagi, tidak
perkara Pidana. Dikeluarkannya instruksi mampu melakukan tugas penyidikan.
bersama tersebut, adalah sebagai langkah Hal ini kemudian menjadi alasan bagi
persiapan dalam rangka menyongsong Kejaksaan untuk terus mempertahankan
pelaksanaan KUHAP.21 waktu 2 (dua) tahun masa peralihan,
Instruksi Bersama Jaksa Agung dan khususnya untuk perkara-perkara "sulit"
Kapolri tersebut di atas, setelah berlakunya seperti misalnya perkara tindak pidana
KUHAP, dikukuhkan lagi dengan Keputusan korupsi dan tindak pidana ekonomi. Yang
Menteri Kehakiman RI No. M.14-PW-07.03 dimaksud dengan koordinasi fungsional
Tahun 1983 tanggal 10 Desember 1983. adalah hubungan kerja sama antara penyidik
Dalam butir ke-5 lampiran SK tersebut, dan penuntut umum menurut fungsi dan
dinyatakan: wewenangnya masing-masing dalam
Tidak dapat ditepatinya jangka waktu 14 penanganan perkara pidana. Hubungan
(empat belas) hari oleh penyidik tersebut adalah hubungan kerja sama yang
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 138 bersifat saling mengawasi antara penyidik
ayat (2) KUHAP, dan tidak dipenuhinya dan penuntut umum dalam proses
petunjuk penuntut umum, menyebabkan penanganan perkara pidana.22 Jadi,
berkas perkara tersebut bolak-balik lebih meskipun fungsi dan wewenang penyidikan
dari 2 (dua) kali antara penyidik dan dan penuntut umum dibedakan secara
penuntut umum. Hal tersebut disebabkan tegas, tetapi dalam pelaksanaannya, KUHAP
antara lain tidak jelasnya atau sulitnya untuk meletakkan dasar-dasar yang mewajibkan
memenuhi petunjuk yang diterima dari adanya mekanisme yang bersifat koordinatif
penuntut umum. Sehubungan dengan hal yang saling mengawasi. Akan tetapi, dalam
tersebut maka perlu: praktiknya, apa yang disebut sebagai "saling
a. mengintensifkan koordinasi antar mengawasi", di mana penuntut umum/
penegak hukum di daerah dan sejauh ;aksu plengawasi polisi dalarr prosea
mungkin koordinasi di daerah tingkat penyidikan, sebaliknya polisi mengawasi
II. jaksa dalam proses penuntutan, tidak
b. Melaksanakan isi Instruksi Bersama pernah terlaksana. Bahkan, penuntut
Jaksa Agung RI dan Kapolri No. INSTR- umum sama sekali tidak diawasi oleh
006/J.A/10/1981 - Nopol: lembaga atau institusi apapun (bahkan
INS/17/X/1981 tentang Peningkatan Pengadilan sekalipun), dalam membuat
Usaha Pengamanan dan Kelancaran tuntutan/dakwaannya, atau memberkas
Penyidangan Perkara-Perkara Pidana. perkaranya.
Berdasarkan KUHAP, apabila penyidik
Dari uraian tersebut di atas, dapat selesai melakukan penyidikan, maka sesuai
diketahui bahwa sejak KUHAP dinyatakan ketentuan Pasal 110 Ayat (1); penyidik
mulai berlaku 31 Desember 1981, maka harus menyerahkan hasil penyidikan
selama hampir 2, (dua) tahun, ternyata kepada penuntut umum. Hasil penyidikan
masih terdapat masaiah-masalah mengenai diserahkan pada penyerahan tahap I [Pasal
koordinasi di bidang penyidikan antara polisi 8 ayat (3) huruf a].
dan penuntut umum. Penuntut umum Setelah itu maka berdasarkan Pasal 138
seringkali mengembalikan berkas penyidikan KUHAP, penuntut umum harus
karena penyidikan yang dilakukan oleh polisi memberitahukan kepada penyidik apakah
21 22
Harun M. Husein, Op.Cit., h. 268. Harun M. Husein, Op.Cit., h. 269.

73
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

penyidikan itu sudah sempurna atau belum. selama masa transisi 2 (dua) tahun, selaku
Jika belum sempurna, maka berkas perkara penasihat (advisor) bagi polisi masih perlu,
dapat dikembalikan disertai petunjuk guna sementara perannya selaku penyidik
melengkapi hasil penyidikan tersebut dalam merupakan peran yang . omnisbaar /
batas waktu 14 hari [ayat (2)]. tidak mungkin dihilangkan demi
Dalam praktik sering terjadi, bahwa pembuktian dan penuntutan yang
petunjuk penuntut umum itu tidak dapat efektif. 23
dipenuhi oleh penyidik, antara lain Pengawasan di dalam KUHAP antara
disebabkan oleh: lain terdapat dalam Pasal 110 ayat (2),
1) Petunjuk pen untut umum kurang yaitu: "Dalam hal Penuntut Umum
jelas,sehingga penyidik ragu-ragu, atau berpendapat bahwa hasil penyidikan
malah petunjuk itu sama sekali tidak tersebut ternyata masih kurang lengkap,
dapat dipahami maksud dan tujuannya. Penuntut Umum segera mengembalikan
2) Petunjuk tersebut tidak mungkin berkas perkara itu kepada penyidik disertai
dipenuhi, karena hal-hal yang diminta petunjuk untuk dilengkapi".
oleh penuntut umum di luar Pengawasan lain itu berbentuk berita
bataskemampuan penyidik, karena acara pemeriksaan (sesuai dengan Pasal 75
petunjuk disusun terlalu bersifat teknis KUHAP) yang dibuat oleh penyidik. Itulah
yuridis. Atau dapat juga terjadi, petunjuk sebabnya dalam pengawasan jaksa
tersebut tidak dapat dipenuhi karena terhadap penyidik, dikeluarkan Pasal 138
menyesatkan. ayat (2) KUHAP yang berbunyi: "Dalam hal
3) Penyidik dan penuntut tidak saling hasil pen,yidikan ternyata belum `'lengkap,
berhadapan dalam mendiskusikan Penuntut Umum mengemba/ikan berkas
penyidikan lanjutan/ tambahan. Jadi, perkara kepada penyidik disertai
petunjuk iianya diberikan secara tertulis. petunjuk'tentang hal yang harus dilakukan
4) Sejak awal penyidik tidak untuk dilengkapi dan dalam waktu empat
mengkonsultasikan perkaranya . dengan belas hari sejak tanggal. penerimaan
penuntut umum, sehingga penyidikan berkas, penyidik harus . sudah men
semata-mata didasarkan pada kebu- yampaikan kembali berkas perkara itu
tuhan teknis reserse dan kurang kepada Penuntut Umum."
memperhatikan aspek teknis-yuridis Dalam Pasal 109 KUHAP terkandung
yang merupakan kebutuhan penuntutan. nilai pengawasan, yaitu pengawasan jaksa
Perubahan ini menunjukkan bahwa kepada tindakan penyidikan polisi. Bentuk
Indonesia, setelah KUHAP, memiliki pengawasan ini juga tercermin lebih lanjut
kecenderungan mengarah kepada sistem dalam Pasal 80 KUHAP, di mana Kejaksaan
peradilan pidana yang berlaku di negara-- bisa digugat praperadilan jika
negara Commonwealth. Sekalipun masih menghentikan penuntutan. Dalam perkara
terdapat dualisme, karena berdasarkan seperti ini, jika polisi sudah melimpahkan
Pasal 284 ayat (2), kewenangan Kejaksaan berkas hasil penyidikan kepada Kejaksaan,
sebagaimana HIR masih dipertahankan. HIR dan Kejaksaan sudah menyatakan berkas
yang berasal dari hukum Eropa Kontinental. tersebut lengkap (Kejaksaan mengeluarkan
mengenai istilah imagistratur duduk (zitten surat P-21), maka Kejaksaan harus
magistraat): hakim, dan magistratur berdiri
(stande magistraat): jaksa. Sedangkan polisi 23
Oemar Seno Adji, Kejaksaan, Sebelum dan
berada di bawah jaksa; sebagai hulp Sesudah KUHAP, artikel pada Kompas 26 April
magistraat. Pada pokoknya, Oemar Seno 1982, h. 4.
Adji menganggap bahwa peran jaksa

74
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

meneruskan perkara tersebut dengan b. penuntut umum minta penjelasan


membuat penuntutan. kepada penyidik atas perkembangan
Adanya kewajiban bagi polisi untuk penyidikan.
memberitahukan kegiatan penyidikannya Jadi, seharusnya fungsi kontrol atau
kepada penuntut umum, berdasarkan Pasal pengawasan tersebut berjalan dua
109 KUHAP, selain merupakan bentuk sisi/timbal balik. Bukan hanya pada saat
pengawasan dari lemhaga penuntut umum penyidik melaporkan kepada penuntut
kepada lembaga penyidik dalam tugas umum pada saat dimulainya penyidikan,
yustisial, juga menunjukkan bahwa dalam tetapi penuntut umum pun berhak
hal tugas yustisial, kedudukan fungsi kedua mempertanyakan atau meminta
instansi tersebut tidaklah sederajat atau penjelasan. kepada penyidik mengenai
sama. Sekalipun dalam kenyataannya perkembangan penyidikan suatu perkara.
kedudukan lembaga-lembaga negara Namun, kiranya perlu juga dipahami,
tersebut berdasarkan UU adalah sama dan bahwa dalam praktik hal ini jarang sekali
sederajat.24 terjadi.
Dalam Rapat Kerja Gabungan Pengawasan terhadap tindakan
MAHKEJAPOL I tahun 1984, pemberitahuan penuntut umum, menurut KUHAP, hanya
dimulainya penyidikan sebagaimana dapat dilakukan dalam hal:
dimaksud Pasal 109 ayat (1) KUHAP 1) kewajiban untuk menyelesaikan
merumuskan suatu kerangka kerja yang penuntutan paling lama 20 (dua
disesuaikan dengan praktik-sehari-hari yang puluh) hari dan segera melimpah-
terjadi:25 kannya kepada Pengadilan. Jika
"Dalam praktik sering terjadi adanya jangka waktu itu terlampaui dan
pemberitahuan dimulainya penyidikan yang penuntutan belum selesai, maka
berlarut-larut tanpa penyelesaian. Apakah demi hukum, si tersangka harus
penyidikan itu dihentikan atau berkasnya `dilepaskan dari tahanan [vide Pasal
akan diserahkan kepada penuntut umum. 25 ayat (1) KUHAP]. Apabila
Untuk mengatasi permasalahan ini; penuntut umum masih memerlukan
diperlukan rumusan yang jelas mengenai waktu lebih dari 20 hari, maka
pemberitahuan perkembangan penyidikan: penahanan si tersangka dapat
a. penyidik memberitahukan tentang diperpanjang atas perintah Ketua
perkembangan penyidikan kepada Pengadilan Negeri untuk masa
penuntut umum, atau paling lama 30 (tiga puluh) hari [vide
Pasal 25 ayat (2) KUHAP].
2) Dalam hal penuntut umum
24
Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman RI No. menghentikan . proses penuntutan
M.01-PW.07.03 Tahun 1982 tanggal 4 April '1982 (SP-3) (Pasal 140 ayat,2).
menjelaskan bah'wa maksud dari r'asai i 09 Namun, apa yang dikemukakan di atas,
KUHAP tersebut adalah bahwa pemberitahuan
hanyalah pengawasan yang tersirat dari
oleh penyidik kepada penuntut umum adalah
merupakan kewajiban bagi penyidik. Selanjutnya, pasal-pasal KUHAP. Sementara, tidak
dalam Rapat Kerja antara MA, Dep. Kehakiman satupun- pasal-pasal- dalam KUHAP yang
dan Ketua-Ketua Pengadilan Tinggi tanggal 15-19. mengatur nengawasan terhadap penuntUt
Februari 1982, dinyatakan bahwa maksud umum dalam membuat dan mengajukan
ketentuan Pasal 109 ayat (1) KUHAP adalah
tuntutannya. Kondisi ini bisa menjadi titik
merupakan kewajiban atas dasar batiwa
pemberitahuan tersebut merupakan rangkaian lemah dalam pelaksanaan KUHAP yang
tugas yustisial yang bersifat imperatif. Lihat Harun membuka kesempatan bagi terjadinya
M. Husein, Op.Cit., h. 103. praktikpraktik mariipulasi dan korupsi,
25
Harun M. Husein, Op.Cit., h. 208.

75
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

khususnya korupsi proses. Apabila dilaksanakan, sebab tidak ada kekuatan lain
gambaran tersebut di atas berlangsung di atau lembaga lain yang mempunyai
setiap tahapan proses, maka ketidakpastian wewenang melakukan atau memaksa jaksa
serta kesimpangsiuran justru diperlihatkan untuk melaksanakan putusan hakim dalam
dalam penanganan perkara-perkara perkara praperadilan.
korupsi. Dalam perkara ini, jaksa Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa
berdasarkan wewenang Pasal 284 ayat (2) lembaga praperadilan dalarn batasan-
KUHAP, bertindak sebagai penyidik, tetapi batasan tertentu dapat dianggap sebagai
hamper tidak pernah menjalankan bunyi/isi lembaga yang mengawasi tindakan jaksa,
Pasal 109 ayat (1) KUHAP tentang tetapi hanya terbatas dalarn hal
kewajiban menyampaikan kepada penuntut penangkapan, penahanan tidak sah yang
umum, saat dimulainya suatu penyidikan dilakukan oleh penyidik jaksa dan
perkara. Akan tetapi, prosedur perighentian penuntutan oleh jaksa selaku
penangkapan, penahanan, dan hukum penuntut umum. Namun, praperadilan
acara lainnya justru diikuti. tidak menjamin hak-hak tersangka dalam
Sekalipun lembaga praperadilan adalah memperjuangkan keadilan dan tidak
alat kontrol bagi penegak hukum, merupakan pengawasan terhadap jaksa
khususnya penyidik dan penuntut umum, 26 selaku penyidik dan penuntut umum di
tetapi dalam praktik dialami bahwa putusan dalarn melakukan tindakan pro justitia
hakim dalam perkara praperadilan adalah dalarn perkara-perkara korupsi. Kondisi
putusan yang bersifat deklaratoir, yaitu seperti ini akan sangat merugikan saksi
menyatakan bahwa penghentian pelapor/korban. karena berbeda dengan
penuntutan oleh Kejaksaan/penuntut praperadilan yang diajukan terhadap
umum adalah tidak sah dan penyidik/polisi mengenai penangkapan
memerintahkan Kejaksaan untuk atau penahanan yang tidak sat,, di mana
meneruskan penuntutan, tidak pihak ketiga yang dirugikan dapat meminta
dilaksanakan oleh penuntut umum. Hal ini ganti rugi atas kebebasannya yang
terbukti dalam perkara permohonan dirampas secara tidak sah; maka para
praperadilan terhadap Manulife. Terhadap pemohon praperadilan yang ditujukan
penghentian penuntutan yang dilakukan terhadap penghentian penuntutan, tujuan
oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, sekalipun atau maksud saksi pelapor/korban
oleh hakim dinyatakan bahwa penghentian bukanlah untuk meminta ganti rugi, tetapi
penuntutan oleh Kejaksaan Tinggi tidak sah untuk memperoleh keadilan yang sebenar-
dan penuntutan harus diteruskan, tetapi benarnya (due process). karena itu, dapat
sampai hari ini Kejaksaan tidak meneruskan dikatakan bahwa KUHAP tidak mengatur
penuntutan tersebut. Kesulitan eksekusi bagaimana fungsi pengawasan terhadap
dalam perkara ini dapat dipahami karena penuntut umum secara umum, dan jaksa
fungsi Kejaksaan menurut Pasal 270 secara khususnya, dalam menjalankan
KUHAP, merupakan pelaksana putusan tugas-tugasnya di bidang peradilan pidana.
Pengadilan (eksekutor). Jadi, tanpa ada Tidak adanya fungsi pengawasan atau
political will dari Kejaksaan sendiri untuk kontrol terhadap lembaga Kejaksaan telah
mentaati putusan praperadilan tersebut, menimbulkan berbagai penyelewengan dan
maka putusan tersebut tidak akan dapat penyimpangan.
Sementara itu, pada saat ini mulai timbul
26
Lihat Kompas 30 November 1982, Seminar
pendapat yang menghendaki perubahan
Peradin: Dipersoalkan, Penangkapan Bukan oleh KUHAP. Sebaiknya, sebelum hal itu
Polisi, h. 3. dilakukan dibuat pengkajian yang benar-

76
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

benar mendalam dan empiris mengenai kekuasaan penyidikan dan penuntutan


hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki. kepada dua instansi yang sederajat,
Dalam usaha melakukan perbaikan KUHAP, yaitu Kepolisian selaku penyidik dan
perlu juga diperhatikan norma-norma Kejaksaan selaku penuntut umum yang
hukum baru dari "Trans-national Organized berkonsentrasi membuat dakwaan dan
Crimes (TOC)" yang sekarang telah membuktikan dakwaannya di
dirumuskan oleh PBB dalam perjanjian Pengadilan. Tentunya pemisahan
internasional. Indonesia ikut serta secara tersebut menyiratkan suatu fungsi
aktif dalam pembentukan hukum baru ini pengawasan antar instansi yang harus
dan telah menjadi peserta perjanjian berjalan demi mencapai tujuan keadilan
internasional ini. Dengan materiel yang sebenar-benarnya.
ditandatanganinya TOC menjadikan semua Pengawasan tersebut telah dikacaukan
kejahatan yang mencakup korupsi, money oleh bunyi Pasal 284 ayat (2) KUHAP,
laundering, ekstradisi, rahasia bank, mutual yang walaupun bersifat sementara,
legal assistance agreement dan lain-lainnya ternyata tetap dipertahankan oleh
tergolong sebagai TOC. Penyesuaian KUHAP Kejaksaan, menyimpang dari maksud
haruslah sesuai dengan normanorma atau pembentuk undang-undang di waktu
kaidah-kaidah hukum internasional yang itu. Karena itu Pasal 284 KUHAP yang
berlaku, khususnya yang terkait dengan hanya bersifat sementara sudah
TOC. Pada akhirnya, hendaknya undang- seharusnya dicabut/dinyatakan tidak
undang yang mengatur wewenang berlaku oleh pemerintah sesuai dengan
Kejaksaan dan Kepolisian harus konsisten kehendak pembuat undang-undang
dengan KUHAP yang diperbaharui. ketika itu. Kontrol hakim terhadap jaksa
selaku penuntut umum harus diperluas
KESIMPULAN dengan kewenangan memeriksa apakah
1. Maksud pembentuk undang-undang dakwaan yang dimajukan telah
membuat KUHAP (UU No. 8 Tahun memenuhi unsur atau tidak.
1981) adalah untuk memisahkan
penyidikan yang hanya diperuntukkan SARAN
bagi Kepolisian dan penuntutan bagi 1. Sudah tiba waktunya, seharusnya
Kejaksaan. Hal itu jelas tercermin mengembalikan penyidikan hanya
dalam Pasal 1 angka 1 - 5 bahwa kepada polisi dan jaksa tidak lagi
penyidik adalah pejabat polisi negara melakukan penyidikan untuk perkara
dengan tugas penyidikan, juncto Pasal pidana apapun.
4 - 12 dan Bab XIV yang dimulai dari 2. Bahwa sangat diperlukan adanya
Pasal 102 -136. Dan Pasal 1 angka 6 - 7 koordinasi antara penyidik dan
junctis Pasal 13 - 15 juncto Bab XV yang penuntut um um secara timbal balik
dimulai dari Pasal 137-144 yang yang benar-benar, efektif dan kontinu
mengatur mengenai pejabat yang demi penegakan hukum dan penegakan
diberi wewenang sebagai penuntut hak-hak tersangka. Koordinasi bukan
umum yaitu jaksa. Pemisahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan
dengan tegas diatur dalam KUHAP. penyatuan persepsi sebagaimana yang
Pasal 284 ayat (2) hanya bersifat terjadi selama ini, tetapi dikembalikan
transisi. kepada peran penyidik dan penuntut
2. Atas dasar tersebut, KUHAP`sudah umum, dalam melaksanakan tugas pro
berada pada jalur yang tepat, tatkala justitia-nya. Karena itu, koordinasi
pembuat undang-undang memisahkan harus mengedepankan penegakan

77
Lex Crimen Vol. I/No. 2/Apr-Jun/2013

kebenaran dan keadilan, dengan Hukum Acara Pidana Lama (HIR) dengan
mementingkan hak tersangka selaku Hukum Acara Pidana Baru. Bandung :
pencari keadilan, di mana selama ini. Tarsito, 1983.
tersangka dijadikan objek untuk tindak Reksodiputro, Marjono., Kedudukan
pidana korupsi yang dilakukan oleh Advokat dalam Sistem Peradilan Pidana
oknum-oknum Kejaksaan karena (dalam rangka Integrated Judiciary
kekuasaan di bawah "satu atap". Peran System), makalah disampaikan pada
tersangka dalam memajukan. Semiloka di Fakultas Hukum Universitas
praperadilan tidak hanya sebatas In 13 Desember 2000.
mengenai penangkapan, penahanan Roestandi, Achmad dan Effendie,
tidak sah, tetapi harus juga diperluas Muchjidin., Kornentar atas UU No. 5
dengan laik tidaknya perkara tersangka Tahun 1991 tentang Kejaksaan RI,
dimajukan ke Pengadilan. Jakarta: Pradnya Paramita, 1993.
Saleh, Ismail., Ketertiban dan Pengawasan,
Jakarta: Haji Masagung, 1988.
DAFTAR PUSTAKA Seno Adji, Oemar, KUHAP Sekarang,
Jakarta: Erlangga, 1985
Black, Henry Campbell, Black's Law Sumartini, L., Pembahasan Perkembangan
Dictionary, 6th edition, Washington: Pembangunan Hukum Nasional Tentang
West Group Publishing, 1979. Hukum Acara Pidana. Jakarta: Badan
Hamzah, Andi., Hukum Acara Pidana Pembinaan Hukum Nasional
Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2008. Departemen Kehakiman, 1996.
Harahap, M. Yahya., Pembahasan
Permasalahan dan Penerapan KUHAP
Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta:
Sinar Grafika, 2002.
http://itjen-depdagri.go.id/article-25-
pengertian-pengawasan.html
Hulsman, M.L. Hc., Sistem Peradilan
Pidana: Dalam Piespektif Perbandingan
Hukum, Jakarta: Rajawali Pets, 1984.
Lev, Daniel S., Hukum dan Politik di
Indonesia: Kesinambungan dan
Perubahan, Jakarta: LP3ES, 1990.
Marmosudjono, Sukarton, Penegakan
Hukum di Negai -a Pancasila, Jakarta:
Pustaka Kartini, 1989.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum
Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa, Depdikbud, Balai Pustaka,
1986.
Ramelan, Hukum Acara Pidana Teori dan
Implementasi. Jakarta: Sumber Ilmu
Jaya, 2006.
Ranoemihardja, Atang., Hukum Acara
Pidana Studi Perbandingan Antara

78