Anda di halaman 1dari 9

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

PEKERJAAN : BELANJA JASA KONSULTAN PERENCANA


PEMBANGUNAN GEDUNG RUMAH SAKIT
SATUAN KERJA : RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAB. WAKATOBI
LOKASI : KABUPATEN WAKATOBI
TAHUN ANGGARAN : 2017.

I. PENDAHULUAN

A. U M U M

1. Setiap bangunan gedung negara harus diwujudkan dengan sebaik-baiknya,


sehingga mampu memenuhi secara optimal fungsi bangunannya, andal dan dapat
sebagai teladan bagi perkembangan arsitektur di Indonesia.

2. Setiap bangunan gedung negara harus direncanakan, dirancang dengan sebaik-


baiknya, sehingga dapat memenuhi kriteria teknis bangunan yang layak dari segi
mutu, biaya dan kriteria administrasi bagi bangunan gedung negara.

3. Pemberi jasa perencanaan untuk bangunan gedung negara perlu diarahkan secara
baik dan menyeluruh, sehingga mampu menghasilkan karya perencanaan teknis
bangunan yang memadai dan layak diterima menurut kaidah, norma serta tata
laku profesional.

4. Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk pekerjaan perencanaan perlu disiapkan


secara matang sehingga memang mampu mendorong perwujudan karya
perencanaan yang sesuai dengan kepentingan kegiatan.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini merupakan petunjuk bagi konsultan perencana
yang memuat masukan, azas, kriteria, keluaran dan proses yang dipenuhi dan
diperhatikan serta diinterpretasikan ke dalam pelaksanaan tugas perencana.

2. Dengan penugasan ini diharapkan konsultan perencana dapat melaksanakan


tanggung jawabnya dengan baik untuk menghasilkan keluaran yang memadai
sesuai KAK ini.

C. LATAR BELAKANG

1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah merupakan lingkup Rumah Sakit


Umum Daerah Kabupaten Wakatobi Tahun Anggaran 2017.

2. Pemegang mata anggaran adalah Pemerintah RI yang dalam hal ini adalah
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi.
D. LINGKUP KEGIATAN.

1. Lingkup kegiatan adalah Belanja Jasa Konsultan Perencana Pembangunan


Gedung Rumah Sakit.

II. KEGIATAN PERENCANAAN

Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh Konsultan Perencana adalah berpedoman
pada ketentuan yang berlaku, khususnya Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara, Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor : 45/KPTS/M/2007, tanggal 12
Desember 2007, yang dapat meliputi tugas perencanaan lingkungan, site/tapak bangunan,
dan perencanaan fisik bangunan gedung negara yang terdiri dari :

A. Persiapan perencanaan seperti mengumpulkan data dan informasi lapangan


(termasuk penyelidikan tanah sederhana), membuat interpretasi secara garis besar
terhadap KAK, dan konsultasi dengan pemerintah daerah setempat mengenai
peraturan daerah/perjanjian bangunan.

B. Penyusunan pra-rencana seperti rencana tapak, pra-rencana bangunan termasuk


program dan konsep ruang, perkiraan biaya, dan mengurus perijinan sampai
mendapatkan keterangan rencana kota, keterangan persyaratan bangunan dan
lingkungan, dan IMB pendahuluan dari Pemerintah Daerah Setempat.

C. Penyusunan pengembangan rencana, antara lain membuat :


1. Rencana Arsitektur, beserta uraian konsep dan visualisasi atau studi maket yang
mudah dimengerti oleh pemberi tugas.
2. Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
3. Rencana utilitas, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
4. Perkiraan biaya.

D. Penyusunan rencana detail antara lain membuat :


1. Gambar-gambar detail arsitektur, detail struktur, detail utilitas yang sesuai dengan
gambar rencana yang telah disetujui.
2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
3. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan biaya pekerjaan konstruksi.
4. Laporan akhir perencanaan secara ringkas dan jelas.

E. Mengadakan persiapan pelelangan, seperti membantu Kuasa Pengguna Anggaran


didalam menyusun dokumen pelelangan dan membantu panitia pelelangan menyusun
dokumen pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang
ulang.

F. Membantu panitia lelang pada waktu penjelasan pekerjaan, termasuk penyusunana


berita acara, evaluasi penawaran menyusun kembali dokumen pelelangan dan
melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang ulang.

G. Mengadakan pengawasan berkala selama pelaksanaan konstruksi fisik dan


melaksanakan kegiatan seperti :
1. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada
perubahan.
2. Memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama masa
pelaksanaan konstruksi.
3. Memberikan sasaran-sasaran, pertimbangan dan rekomendasi tentang
penggunaan bahan.
4. Membuat laporan akhir pengawasan berkala.

H. Menyusun buku petunjuk penggunaan peralatan bangunan dan perawatannya termasuk


petunjuk yang menyangkut peralatan dan perlengkapan mekanikal-elektrikal
bangunan.

III. TANGGUNG JAWAB PERENCANAAN

A. Konsultan Perencana bertanggung jawab secara profesional atas jasa perencanaan


yang dilakukan sesuai ketentuan dan kode tata laku profesi yang berlaku.

B. Secara umum tanggung jawab konsultan adalah minimal sebagai berikut :


1. Hasil karya perencana yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan standar hasil
karya perencanaan yang berlaku.
2. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah mengakomodasikan
batasan-batasan yang telah diberikan oleh proyek, termasuk melalui KAK ini,
seperti dari segi pembiayaan, waktu penyelesaian pekerjaan dan mutu bangunan
yang akan diwujudkan.
3. Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah memenuhi peraturan,
standar dan pedoman teknis bangunan gedung yang berlaku untuk bangunan
gedung pada umumnya dan yang khusus bangunan gedung negara.

IV. B I A Y A

A. Biaya Perencanaan

1. Besarnya biaya pekerjaan perencanaan mengikuti pedoman dalam Surat


Keputusan Menteri Kimpraswil : 45/KPTS/M/2007 tanggal 12 Desember 2007
tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara yaitu :
a. Untuk pekerjaan standar berlaku maksimum sesuai yang tercantum dalam
tebel A s/d tebel D (ralat) atau ketentuan peraturan daerah yang berlaku.
b. Bila terdapat pekerjaan non standar, maka dihitung secara orang bulan dan
biaya dihitung yang dapat diganti sesuai dengan ketentuan biling rate yang
berlaku.
c. Pengaturan komponen pembiayaan pada butir a dan b diatas adalah
dipisahkan antara bangunan standar, serta non standar dan harus terbaca
dalam suatu rekapitulasi akhir yang membuat angka dan huruf.
d. Besarnya biaya konsultan perencanaan merupakan biaya yang tetap dan
pasti.
e. Ketentuan pembiayaan lebih lanjut mengikuti surat perjanjian pekerjaan
perencanaan yang dibuat oleh Kuasa Pengguna Anggaran dan konsultan
perencana.
2. Biaya pekerjaan konsultan perencanaan dan tata cara pembayaran diatur secara
kontraktual setelah melalui tahapan-tahapan proses pengadaan konsultan
perencana sesuai peraturan yang berlaku yang terdiri dari :
a. Honorarium tenaga ahli dan tenaga penunjang.
b. Materi dan penggandaan laporan.
c. Pembelian dan atau sewa kendaraan.
d. Sewa kendaraan.
e. Biaya rapat-rapat.
f. Perjalanan (lokal atau luar kota)
g. Jasa dan overhead perencanaan.
h. Pajak dan iuran daerah lain.

3. Pembayaran biaya konsultan perencana didasarkan pada prestasi kemajuan


pekerjaan perencanaan.

B. Sumber Dana.
Sumber dana dari keseluruhan pekerjaan perencanaan dibebankan pada :DPA pada
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi.

V. KELUARAN.

Keluaran yang dihasilkan oleh Konsultan Perencana berdasarkan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) ini adalah lebih lanjut akan diatur dalam surat perjanjian, yang minimal meliputi :

A. Tahap Konsep Rencana Teknis.


1. Konsep penyiapan rencana teknis, termasuk konsep organisasi, jumlah dan
kualifikasi tim perencana, metode pelaksanaan dan tanggung jawab waktu
perencanaan.
2. Konsep skematik rencana teknis, termasuk program ruang, organisasi hubungan
ruang dll.
3. Laporan data dan informasi lapangan, termasuk peyelidikan tanah sederhana,
keterangan rencana kota dll.
4. Gambar-gambar rencana tapak.
5. Gambar-gambar pra-rencana bangunan.
6. Perkiraan biaya bangunan.
7. Garis besar Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
8. Hasil konsultasi rencana dengan Pemda setempat.
9. Gambar perspektif dan maket (sepanjang diwajibkan)

B. Tahap Pengembangan Rencana.


1. Gambar-gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur utilitas.
2. Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan yang diperlukan.
3. Draft Rencana anggaran Biaya (RAB).
4. Draft Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).

C. Tahap Rencana Detail.


1. Gambar rencana teknis bangunan lengkap.
2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
3. Rencana kegiatan dan volume pekerjaan (BQ).
4. Rencana anggaran Biaya.
5. Laporan perencanaan arsitektur, struktur, utilitas lengkap dengan perhitungan
yang diperlukan.

D. Tahap Pelelangan.
1. Dokumen tambahan hasil penjelasan pekerjaan.
2. Laporan bantuan teknis dan administrasi pada waktu pelelangan.

E. Tahap Pengawasan Berkala.


1. Laporan pengawasan berkala.
2. Dokumen petunjuk penggunaan, pemeliharaan dan perawatan peralatan
/perlengkapan/ bangunan (bila ada).

VI. K R I T E R I A.
A. Kriteria Umum.

Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Perencana seperti yang dimaksud
pada KAK harus memperhatikan kriteria umum bangunan disesuaikan berdasarkan
fungsi dan kompleksitas bangunan yaitu :

1. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas :


a. Jaminan bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan
tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.
b. Menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.
c. Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat dan lingkungan.

2. Persyaratan arsitektur dan lingkungan.


a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan
karakteristik lingkungan, ketentuan wujud bangunan dan budaya daerah,
sehingga seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya.
b. Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan
keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya.
c. Menjamin bangunan gedung dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan.

3. Persyaratan Struktur Bangunan.


a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang
timbul akibat perilaku alam dan manusia.
b. Menjamin keselamatan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh
kegagalan struktur bangunan.
c. Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang
disebabkan oleh prilaku struktur.
d. Menjamin perlindungan seperti lainnya dari kerusakan fisik yang
disebabkan oleh kegagalan struktur.

4. Persyaratan Kesehatan terhadap kebakaran.


a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban
yang timbul akibat prilaku alam dan manusia.
b. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa
sehingga mampu secara struktural stabilitas selama kebakaran, sehingga :
Cukup waktu bagi penghuni melakukan evaluasi secara umum.
Cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk
memadamkan api.
Dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

5. Persyaratan sarana Jalan Masuk dan Keluar.


a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang
layak, aman dan nyaman kedalam bangunan dan fasilitas serta layanan
didalamnya.
b. Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari kesakitan atau luka
saat evakuasi pada keadaan darurat.
c. Menjamin tersediannya aksesibilitas bagi penyandang cacat, khususnya
untuk bangunan fasilitas umum dan sosial.

6. Persyaratan transportasi dalam gedung.


a. Menjamin tersedianya sarana transportasi yang layak, aman, dan nyaman di
dalam bangunan gedung.
b. Menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat khususnya untuk
bangunan fasilitas umum dan social.

7. Persyaratan pencahayaan darurat tanda arah keluar, dan system peringatan


bahaya yaitu :
a. Menjamin tersedianya pertandaan dini yang informative didalam bangunan
gedung apabila terjadi keadaan darurat.
b. Menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman apabila
terjadi keadaan darurat.

8. Pesyaratan instalasi listrik, penangkal petir dan komunikasi.


a. Menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam
menunjang terselenggaranya kegiatan didalam bangunan gedung sesuai
dengan fungsinya.
b. Menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari
bahaya akibat petir.
c. Menjamin tersediannya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan didalam bangunan gedung sesuai dengan
fungsinya.

9. Persyaratan sanitasi dalam bangunan.


a. Menjamin tersediannya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan
fungsinya.
b. Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan
bagi penghuni bangunan dan lingkungannya.
c. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara
baik

10. Persyaratan Ventilasi dan Pengkondisian Udara.


a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup baik alami maupun
bantuan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan
gedung sesuai dengan fungsinya.
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara
secara baik.

11. Persyaratan pencahayaan.


a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup baik alami
maupun bantuan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam
bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan
secara baik.

12. Persyaratan Kebisingan.


a. Menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan
getaran yang tidak diinginkan.
b. Menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang
menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya
pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan.

B. Kriteria Khusus.

Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang khusus, spesifik


berkaitan dengan bangunan gedung yang akan direncanakan, baik dari bangunan
gedung yang akan direncanakan, baik dari segi fungsi khusus bangunan, segi teknis
lainya misalnya :

1. Kesatuan perencanaan bangunan dengan lingkungan yang ada disekitar, seperti


dalam rangka implementasi penataan bangunan dan lingkungan.
2. Solusi dan batasan-batasan kotekstual, seperti faktor sosial budaya setempat,
geografi, klimatologi dan lain-lain.

VII. AZAS-AZAS

Selain dari kriteria diatas, didalam melaksanakan tugasnya konsultan perencana


hendaknya memperhatikan azas-azas bangunan gedung negara sebagai berikut:
1. Bangunan gedung negara hendaknya fungsional, efisien, menarik tetapi tidak
berlebihan.
2. Kreatifitas desain hendaknya tidak ditekankan pada kelatahan gaya dan kemewahan
material, tetapi pada kemampuan mengadakan subtimasi antara fungsi sosial
bangunan, terutama sebagai bangunan pelayanan kepada masyarakat.
3. Dengan batasan tidak mengganggu produktivitas kerja, biaya investasi dan
pemeliharaan bangunan sepanjang umumnya, hendaknya diupayakan serendah
mungkin.
4. Desain bangunan hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga bangunan dapat
dilaksanakan dalam waktu yang pendek dan dapat dimanfaatkan secepatnya.
5. Bangunan gedung negara hendaknya dapat meningkatkan kualitas lingkungan, dan
menjadi acuan tata bangunan lingkungan disekitarnya.

VIII. PROSES PERENCANAAN.

1. Dalam proses perencanaan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang diminta,


konsultan perencana harus menyusun jadwal pertemuan berkala dengan Pengelola
Teknik dan penanggung jawab kegiatan.
2. Dalam pertemuan berkala tersebut ditentukan produk awal, antara dan pokok yang
harus dihasilkan konsultan sesuai dengan rencana keluaran yang ditetapkan dalam
KAK ini.
3. Dalam melaksanakan tugas, konsultan perencana harus selalu memperhitungkan
bahwa waktu pelaksanaan pekerjaan adalah mengikat.
4. Jangka waktu pelaksanaan, khususnya sampai diserahkannya dokumen perencanaan
untuk siap diselenggarakan adalah 30 (tiga puluh) hari kalender.
IX. MASUKAN.

A. Informasi.
1. Untuk melaksanakan tugasnya konsultan perencana harus mencari informasi
yang dibutuhkan selain informasi yang diberikan oleh Kuasa Pengguna
Anggaran termasuk melalui Kerengka Acuan Kerja (KAK).
2. Konsultan perencana harus memeriksa kebenaran informasi yang digunakan
dalam pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari Kuasa Pengguna Angaran,
maupun yang dicari sendiri. Kesalahan / kelalaian pekerjaan perencanaan
sebagai akibat dari kesalahan informasi menjadi tanggung jawab konsultan
perencana.
3. Dalam hal ini informasi yang diperlukan dan harus diperoleh untuk bahan
perencanaan diantaranya mengenai hal-hal sebagai berikut :

a. Informasi tentang lahan, meliputi :


Kondisi fisik lokasi seperti : luasan, batas-batas dan topografinya.
Kondisi tanah.
Perincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan dan lain-lain.
b. Keinginan tentang bentuk-bentuk tertentu baik yang berhubungan dengan
pemakaian atau perlengkapan yang akan digunakan dalam ruang tersebut.
d. Keinginan tentang kemungkinan perubahan-perubahan fungsi
ruang/bangunan.

B. Tenaga.

Untuk melaksanakan tujuannya, konsultan perencana harus menyediakan tenaga yang


memenuhi ketentuan proyek, baik ditinjau dari segi lengkap (besar) proyek maupun
tingkat kompleksitas pekerjaan.
Tenaga-tenaga ahli yang diperlukan dalam kegiatan perencanaan minimal terdiri dari
(kualifikasi masing-masing tenaga ahli disesuaikan berdasarkan kebutuhan /
kompleksitas Proyek) yaitu
A. Tenaga Ahli:
1. Tim Leader (S1 Tek. Sipil / Tek. Arsitektur pengalaman 8 Tahun) : 1 Orang.
2. Ass. Perencana (S1 Tek. Sipil / Tek. Arsitektur pengalaman 5 Tahun : 1 Orang
B. Staff Pendukung:
3. Drafter : 1 Orang
4. Surveyor : 1 Orang
5. Operator Komputer/Adm, Umum. : 1 Orang

X. PROGRAM KERJA.

A. Konsultan Perencana harus segera menyusun program kerja minimal meliputi

1. Jadwal kegiatan secara detail.


2. Alokasi tenaga yang lengkap (disiplin dan keahliannya). Tenaga-tenaga yang
diusulkan oleh konsultan perencana harus mendapatkan persetujuan Kuasa
Pengguna Anggaran
3. Konsep penanganan pekerjaan perencanaan.
Program kerja secara keseluruhan harus mendapatkan persetujuan dari Pemimpin
Proyek setelah sebelumnya dipresentasikan oleh Konsultan Perencana dan
mendapatkan pendapat teknis dari Pengelola Teknis Proyek.

XI. P E N U T U P

A. Setelah Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini diterima maka konsultan perencana
hendaknya memeriksa semua bahan masukan yang diterima dan mencari bahan
masukan lain yang dibutuhkan.

B. Berdasarkan bahan-bahan tersebut konsultan agar segera menyusun program kerja


untuk dibahas dengan Kuasa Pengguna Anggaran.

Wangi-Wangi, Pebruari 2017.


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

...
NIP