Anda di halaman 1dari 14

Referat

MANAJEMEN TERKINI
DERMATITIS SEBOROIK

Oleh :
Erriza Yuni Elpia
Fetty Try Rahmadani
Intan Rosaline Simangunsong
Iriandanu Nugraha
Rizki Giofani
Tesa Willda
Vicennia Serly

Pembimbing :
dr. Alida Widiawaty, M.Biomed, SpKK

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2017

0
MANAJEMEN TERKINI KERATOSIS SEBOROIK

Erriza Yuni Elpia1, Fetty Try Ramadhani1,Intan Rosaline Simangunsong1,Iriandanu Nugraha


1
,Rizki Giofani1, Tesa Willda1,Vicennia Serly1,Alida Widiawaty2
1
Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
2
Fakultas Kedokteran Universitas Riau / RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru

ABSTRACT
Seborrheic dermatitis is a papulosquamous skin disorder with predilection in area rich in
sebaceous glands, scalp, face and body. Seborrheic dermatitis associated with increased sebum
secreation, alterations normal flora of skin and host immune-response. An update management
of seborrheic dermatitis is a need to determine appropriate treatment. Various treatment options
ranging from topical to systemic such as anti fungals, steroids, Calcineurin inhibitor
(Pimecrolimus dan Tacrolimus), Selenium sulfide, Ciclopirox, Zinc pyrithione, tar preparations
and Narrowband UVB. Systemic therapy is only used in some cases of severe seborrheic
dermatitis.

Key words:Seborrheic dermatitis, papulosquamous skin disorder, therapies.

ABSTRAK
Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa dengan predileksi di daerah
kaya kelenjar sebasea, skalp, wajah, dan dada bagian atas. Terdapat berbagai etiopatogenesis
yang mendasari terjadinya dermatitis seboroik baik berupa peningkatan sekresi sebum,
perubahan kolonisasi flora normal kulit, dan respon imun. Modalitas terapi terkini diperlukan
dalam penanganan dermatitis seboroik secara tepat dan sesuai. Berbagai pilihan terapi mulai dari
topikal berupa obat anti jamur, steroid, Calcineurin inhibitor (Pimecrolimus dan Tacrolimus),
Selenium sulfide, Ciclopirox, Zinc pyrithione, preparat ter dan terapi sistemik berupa obat anti
jamur dan Narrowband UVB. Untuk terapi sistemik hanya digunakan dalam beberapa kasus
dermatitis seboroik yang berat.

Kata kunci : Dermatitis seboroik, kelainan kulit papuloskuamosa, terapi.

PENDAHULUAN
Dermatitis seboroik adalah dermatosis papuloskuamosa kronis yang mudah dikenali.
Penyakit ini dapat timbul pada bayi maupun dewasa dan seringkali dihubungkan dengan

1
peningkatan produksi sebum pada daerah skalp. Wajah dan leher merupakan daerah yang
memiliki banyak kelenjar sebasea. Kulit yang terkena akan berwarna merah muda, bengkak, dan
ditutupi dengan sisik berwarna kuning-coklat dan krusta.1
Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua golongan umur mulai bayi sampai dewasa.
Dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada bulan-bulan pertama kehidupan, dan insidennya
mencapai puncak pada umur 18-40 tahun. Puncak kedua biasanya terjadi pada umur 40 tahun
hingga umur 70 tahun.2 Penyakit ini lebih sering diderita laki-laki daripada perempuan. 3
Prevalensi dermatitis seboroik di dunia adalah 3-5%.4 Prevalensi dermatitis seboroik di Amerika
adalah sekitar 1-3%.2 Angka kejadian dermatitis seboroik pada tahun 2014 di Malaysia 17,2%,
di Singapura 7%, sedangkan angka kejadian dermatitis seboroik di Indonesia berkisar 10,20
-26,5%.5,6
Patogenesis penyakit ini belum sepenuhnya dimengerti. Dermatitis seboroik memiliki
hubungan dengan produksi sebum yang berlebih dan peran Malassezia spp.1 Orang Asia sering
melakukan self-treatment terhadap kasus dermatitis seboroik. Hal tersebut tidak
direkomendasikan, karena respon kulit orang Asia lebih tinggi terhadap iritasi dibandingkan kulit
orang diluar Asia. Berdasarkan faktor tersebut maka diperlukan pengetahuan untuk manajemen
terkini dermatitis seboroik.5

DEFINISI
Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa dengan predileksi di daerah
kaya kelenjar sebasea, skalp, wajah dan dada bagian atas. Penyakit ini dapat timbul pada bayi
maupun dewasa dan seringkali dihubungkan dengan peningkatan produksi sebum (sebasea atau
seborrhea). Dermatitis ini dikaitkan dengan Malassezia spp. dan gangguan imunologis dengan
penyebaran lesi dimulai dari derajat ringan, misalnya ketombe sampai bentuk eritoderma,
pengelupasan, peradangan, dan pruritus.7,8

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi dermatitis seboroik secara umum berkisar 3-5%. Penyakit ini lebih sering
diderita laki-laki daripada perempuan. Umumnya diawali sejak usia pubertas dan memuncak
pada umur 40 tahun. Ketombe sebagai bentuk yang lebih sering dijumpai pada kelompok remaja.

2
Dermatitis seboroik sering ditemukan pada pasien HIV/AIDS, transplantasi organ malignansi,
pankreatitis alkoholik kronik, hepatitis C dan parkinson. Dermatitis seboroik ditemukan pada
36% pasien dengan infeksi HIV, serta sering dijumpai pada pasien dengan gangguan paralisis
saraf.7

ETIOPATOGENESIS
Peranan kelenjar sebasea dalam patogenesis dermatitis seboroik masih diperdebatkan. 7
Terdapat 3 faktor yang berperan dalam dermatitis seboroik yaitu, sekresi kelenjar sebasea,
perubahan pada kolonisasi dan metabolisme mikroflora kulit (Malassezia spp), serta kerentanan
individu dan respon pejamu (host).8
Meningkatnya lapisan sebum pada kulit, kualitas sebum, respon imunologis terhadap
Pityrosporum, degradasi sebum dapat mengiritasi kulit sehingga terjadi mekanisme eksema.
Telah banyak bukti yang mengaitkan dermatitis seboroik dengan Malassezia spp.7 Jamur tersebut
merupakan genus jamur monofilik yang ditemukan dikulit manusia dan berhubungan dengan
beragam kondisi termasuk ketombe, dermatitis seboroik, atopik eksema/dermatitis, pitiriasis
vesikolor dan folikulitis. Genus ini mencakup 14 spesies diantaranya,M. furfur,
M.pachydermatis, M. sympodialis,M. globosa, M. obtusa, M. restricta, M. slooffiae, M. dermatis,
M. japonica, M. yamatoensis, M. nana, M. caprae, M. equina, and M. cuniculi, yang berperan
pada dermatitis seboroik yaitu M. globosa dan M. restrictika merupakan jamur yang
membutuhkan sumber lipid. Spesies ini mampu menurunkan lipid pada sebum dengan produksi
asam lemak bebas dan trigliserida, diikuti dengan produksi asam lemak jenuh tertentu. M.
globosa cenderung memenuhi kebutuhan lipidnya dengan cara hidrolisis sebum trigliserida. 8
Pasien dengan ketombe menunjukkan peningkatan titer antibodi terhadap Malassezia spp, serta
mengalami perubahan imunitas selular. Kelenjar sebasea aktif pada saat bayi dilahirkan, namun
dengan menurunnya androgen ibu, kelenjar ini menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun.7

GEJALA KLINIS
Lokasi yang sering terkena yaitu daerah kulit kepala berambut seperti wajah, alis, lipat
nasolabial, telinga dan liang telinga, bagian atas-tengah dada dan punggung, lipat gluteus,
inguinal, genital dan ketiak. Kelainan kulit terdiri atas eritem dan skuama yang berminyak, batas
kurang tegas, kadang disertai gatal dan rasa menyengat. 7 Gejala yang ringan hanya mengenai

3
kulit kepala berupa skuama yang halus, dimulai dengan bercak kecil yang kemudian mengenai
seluruh kulit kepala dengan skuama yang halus dan kasar, kelainan tersebut disebut pitiriasis sika
(ketombe). Bentuk berminyak disebut pitiriasis steatoides yang dapat disertai eritema dan krusta-
krusta yng tebal.9 Pada tahap lanjut didapatkan warna kemerahan perifolikular menjadi plak
eritematosa berkonfluensi, dapat menjadi plak sepanjang batas rambut frontal (korona
seboroika).7 Pada bayi, skuama yang kekuningan dan kumpulan debris-debris epitel yang lekat
pada kulit kepala disebut cradle cap.9
Pada fase kronis dapat dijumpai kerontokan rambut dan lesi pada daerah retroaurikular.
Pada liang telinga lesi berupa otitis ekstema dan kelopak mata sebagai blefaritis. Pada tubuh
dapat dijumpai pitiriasiform (mirip pitiriais rosea) atau anular. Dermatitis seboroik dapat
berkembang menjadi eritoderma, dan pada bayi disebut penyakit Leiner.7,9

KLASIFIKASI DERMATITIS SEBOROIK SECARA KLINIS


Berikut beberapa klasifikasi dermatitis seboroik :5
1. Ringan
Bila mengenai wajah atau skalp, dengan sedikit skuama dan tanpa adanya papul.
2. Sedang
Bila mengenai wajah dan/atau skalp dan/atau leher sedikit eritema, skuama sedang,
sedikit krusta, sedikit papul dengan gatal ringan.
3. Berat
Bila mengenai sebagian besar tubuh atau general. Disertai dengan eritem, skuama tebal,
krusta, dan rasa gatal hebat.

DIAGNOSIS BANDING DERMATITIS SEBOROIK


Berikut beberapa diagnosis banding dermatitis seboroik :8
1. Psoriasis: skuama lebih tebal berlapis transparan seperti mika.
2. Dermatitis atopik dewasa: terdapat kecenderungan stigmata atopi
3. Dermatitis kontak iritan: riwayat kontak misalnya dengan sabun pencuci wajah
atau kontak dengan bahan iritan lainnya.

4
4. Dermatofitosis: perlu pemeriksaan skraping kulit dengan KOH

PEMERIKSAAN PENUNJANG DERMATITIS SEBOROIK


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis dermatitis
seboroik adalah dengan pemeriksaan histopatologi.10

MANA JEMEN TERDAHULU DERMATITIS SEBOROIK


Pengobatan sistemik pada dermatitis seboroik, yaitu:10
1. Kortikosteroid
Pada bentuk yang berat, dapat digunakan kortikosteroid dengan dosis prednison 20-30
mg sehari. Dosis dapat diturunkan perlahan-lahan bila telah ada perbaikan. Jika
dermatitis seboroik disertai dengan infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik.
2. Isotretinoin
Pada kasus rekalsitran, dapat kita gunakan isotretinoin. Efek isotretinoin ini dapat
mengurangi aktivitas kelenjar sebasea. Dosis isotretinoin adalah 0,1-0,3 mg/kgBB
perhari. Setelah 4 minggu dapat kita lihat perbaikannya. Kemudian dapat diberikan dosis
pemeliharaan 5-10 mg perhari selama beberapa tahun yang efektif untuk mengontrol
penyakitnya.
3. Narrow band UVB
Narrow band UVB (TL-01) dapat digunakan pada kasus dermatitis seboroik yang berat
karena cukup aman dan efektif. Sebagian besar penderita mengalami perbaikan setelah
pemberian terapi 3 kali seminggu selama 8 minggu.
4. Ketokonazol
Pada kasus yang berat, ketokonazol dapat diberikan dengan dosis 200 mg perhari.

Pengobatan topikal pada dermatitis seboroik, antara lain :10


1. Ter
Misalnya likuor karbonais detergens 2-5%.
2. Sulfur praesipitatum
Sulfur praesipitatum 4-20% dapat digabungkan dengan asam salisilat 3-6%.
3. Kortikosteroid
Contoh kortikosteroid yang dapat diberikan yaitu krim hidrokortison 2 %. Pada kasus
dengan inflamasi berat, kortikosteroid yang lebih kuat dapat diberikan, tetapi tidak boleh
dipakai terlalu lama karena memiliki efek samping.
4. Krim ketokonazol
Pada kasus yang berat dapat diberikan krim ketokonazol 2 %.

5
TERAPI TERKINI DERMATITIS SEBOROIK
Terapi medikamentosa pada dermatitis seboroik terdiri atas terapi topikal, sistemik,
maupun dengan bahan lain sebagai adjuvan ataupun pencegahan kekambuhan. 11 Tujuan terapi
dermatitis seboroik bukan hanya menyingkirkan tanda dan gejalanya tetapi juga untuk
memperbaiki struktur dan fungsi kulit.12 Berbagai pilihan terapi di Asia terdiri atas terapi topikal
berupa obat anti jamur, steroid, Calcineurin inhibitor (CI) (Pimecrolimus dan Tacrolimus),
Selenium sulfide, Ciclopirox, Zinc pyrithione, preparat ter, tea tree oil dan terapi sistemik berupa
obat anti jamur dan Narrowband UVB. Terapi sistemik hanya digunakan pada kasus dermatitis
seboroik yang luas dan berat serta tidak mengalami perbaikan dengan terapi topikal. 13 Pilihan
terapi dermatitis seboroik terkini yang dapat digunakan terdapat dalam tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Pilihan terapi topikal dermatitis seboroik


Obat Sediaan Lokasi
Ketokonazol Shampoo 2% Skalp dan nonskalp
Krim 2% Nonskalp
Ciclopirox olamine Shampoo 1,5% Skalp
Mikonazol Krim 2% Nonskalp
Selenium Sulfide Shampoo 2,5% Skalp
Zinc pyrithione Shampoo 1% Skalp
Preparat ter Shampoo Skalp

Tabel 2. Terapi topikal penunjang dermatitis seboroik


Obat Sediaan Lokasi
Kortikosteroid potensi rendah Krim, solusio Skalp dan nonskalp
Pimecrolimus Krim 1% Nonskalp
Tacrolimus Ointment 0,1% Nonskalp
Ointment 0,03% Skalp
Tea tree oil Shampo 5% Skalp
Terapi sistemik anti jamur hanya digunakan pada pasien dermatitis seboroik sedang-berat
yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi topikal. Itrakonazol, terbinafin dan ketokonazol
merupakan anti jamur sistemik pilihan pada dermatitis seboroik. Pemberian itrakonazol dengan
dosis 200mg perhari selama seminggu diikuti dengan dosis rumatan menunjukkan perbaikan
pada dermatitis seboroik sedang-berat.14

6
Terapi penyinaran dengan Narrowband UVB hanya di berikan dermatitis seboroik berat
dan luas. Penelitian menunjukkan pemberian Narrowband UVB 3 kali perminggu hingga 2 bulan
pada kasus dermatitis berat menunjukkan respon terapi yang baik.15

Tabel 3. Terapi sistemik dermatitis seboroik


Obat Sediaan Instruksi
Itrakonazol Kapsul 100 mg 200mg/hari selama satu minggu diikuti dosis
rumatan 200mg dosis tunggal / 2 minggu
Terbinafin Tablet 250 mg 250mg/hari selama 4 minggu
Ketokonazol Tablet 200 mg 200mg/hari selama 4 minggu

A. Terapi dermatitis seboroik


a. Skalp
Terapi pilihan lini pertama pada dermatitis seboroik ringan hingga sedang terdiri dari
pemberian obat antiinflamasi non steroid atau obat anti jamur. Terapi tambahan berupa
steroid topikal potensi ringan-sedang juga efektif dalam meringankan tanda dan gejala
pada dermatitis seboroik.16 Rekomendasi terapi dermatitis seboroik skalp sesuai derajat
dapat dilihat pada tabel 4 dan 5.

Tabel 4. Rekomendasi terapi dermatitis seboroik skalp ringan-sedang


Obat Sediaan Instruksi
Ketokonazol Shampoo 2% 2-3 kali/minggu selama 4 minggu
Ciclopirox olamine Shampoo 1% 2-3 kali/minggu selama 4 minggu
Selenium Sulfide Shampoo 2,5% 2-3 kali/minggu selama 4 minggu
Zinc pyrithione Shampoo 1% atau 2% 2-3 kali/minggu selama 4 minggu
Preparat ter Shampoo 1% atau 2% 2-3 kali/minggu selama 4 minggu

Tabel 5. Rekomendasi terapi dermatitis seboroik skalp sedang-berat


Obat Sediaan Instruksi
Betametason valerate Krim 0,1% 1 kali/hari selama 1-2 minggu dan
obat dermatitis skalp ringan-sedang
(pada tabel 4)

7
Terapi dermatitis seboroik skalp sedang-berat terutama dengan gejala gatal,
pemberian kortikosteroid topikal potensi tinggi diperlukan sekali sehari selama 1-2
minggu.17 Berdasarkan penelitian terhadap lebih dari 300 kasus dermatitis seboroik
sedang-berat, terapi kombinasi menunjukkan hasil yang lebih baik. Efikasi terapi
kombinasi berupa Ketokonazol Shampoo 2% selama 4 minggu dengan Clobetasol
propionate shampoo 0,5% lebih baik dibandingkan dengan monoterapi ketokonazol
shampoo.18
b. Nonskalp
Pada dermatitis seboroik nonskalp ringan-sedang, terutama wajah, banyak kasus
yang mengalami perbaikan dengan terapi obat non-steroid. Biasanya perbaikan tanda
dan gejala terjadi dalam 1 hingga 4 minggu.19 Terapi dermatitis seboroik nonskalp
ringan-sedang ditampilkan dalam tabel 6.

Tabel 6. Terapi Dermatitis seboroik nonskalp ringan-sedang


Obat Sediaan Instruksi
Ketokonazol Krim 2% 2 kali/hari selama 4 minggu
Calcineurin Pimecrolimus krim 1% 2 kali/hari selama 4 minggu
inhibitortopikal Takrolimus ointment 0,1%
Takrolimus ointment 0,03%

Pada pasien dermatitis seboroik ini perlu untuk mengendalikan tanda dan gejala
secara cepat, kortikosteroid topikal dengan potensi rendah hingga sedang dapat
diberikan 2 kali sehari selama 1 hingga 2 minggu diikuti bersamaan dengan pemberian
obat non-steroid selama 4 minggu.5
Pada kasus dermatitis seboroik nonskalp sedang-berat potensi kortikosteroid yang
disesuaikan dapat diberikan dengan monoterapi 1 hingga 2 minggu atau dengan
kombinasi dengan obat non-steroid selama 1-2 minggu untuk mengontrol tanda dan

8
gejala secara cepat.16 Secara praktis berbagai pilihan terapi tersebut dapat dilihat pada
gambar 1.

Tingkat Dermatitis Seboroik

Ringan hingga sedang Sedang hingga berat


Nonsteroid anti-inflammatory
agent dengan bahan anti jamur Kortikosteroid topikal 1-2minggu
(AlAFp) dengan kombinasi antijamur
Atau anti jamur topikal topikal, CI topikal, atau AlAFp

Perbaikan Tidak

Atau CI topikal
Obat non-steroid Jika memburuk atau
selama 4 minggu dan tidak ada perbaikan
Tambahkan steroid topikal potensi ringan-sedang
perpanjang masa selama 2 minggu,
Perbaikan selama 2 minggu atau terapi kombinasi dengan dua
Tidak rumatan konsultasi dengan
obat diatas
spesialis kulit dan
Hubungi spesialis kulit dan kelamin jika memburuk kelamin 9
Perpanjang masa rumatan
dengan anti jamur topikal atau
AlAFp
Gambar 1. Algoritma terapi dermatitis seboroik.5

Tabel 4. Ringkasan perbandingan terapi sistemik dermatitis seboroik


Terapi Dahulu Terapi Terkini

Terapi sistemik pada dermatitis seboroik, yaitu:10 Terapi sistemik pada dermatitis seboroik, yaitu:11-17
1. Kortikosteroid 1. Kortikosteroid
Dosis prednisone yaitu 20-30 mg sehari. Dosis dapat Penggunaan kortikosteroid sistemik tidak lagi digunakan dalam
diturunkan perlahan-lahan bila telah ada perbaikan. terapi terkini dermatitis seboroik.

2. Isotretinoin 2. Isotretinoin
Dosis dari isotretinoin adalah 0,1-0,3 mg/kgBB Penggunaan isotretinoin tidak lagi digunakan dalam terapi
perhari selama 4 minggu. Kemudian dapat diberikan terkini dermatitis seboroik.
dosis pemeliharaan 5-10 mg perhari selama beberapa
tahun.

3. Narrow band UVB 3. Narrow band UVB


Penggunaan Narrow band UVB pada kasus dermatitis Penggunaan Narrow band UVB masih digunakan dalam terapi
seboroik yang berat. terkini dermatitis seboroik pada kasus berat dan luas.

4. Anti Jamur 4. Anti jamur


Ketokonazol dapat diberikan dengan dosis 200 mg Pemberian itrakonazol, terbinafin dan ketokonazol merupakan
perhari pada kasus dermatitis seboroik berat. terapi sistemik pada dermatitis seboroik sedang-berat yang
tidak mengalami perbaikan dengan terapi topikal.

Tabel 5. Ringkasan perbandingan terapi topikal dermatitis seboroik


Terapi Dahulu Terapi Terkini
Terapi topikal pada dermatitis seboroik, yaitu:10 Terapi sistemik pada dermatitis seboroik, yaitu:11-17
1. Ter 1. Ter
Misalnya likuor karbonas detergens 2-5%. Penggunaan preparat ter dalam sediaan shampoo 1-2% pada
dermatitis seboroik skalp.

2. Sulfur praesipitatum 2. Sulfur praesipitatum


Sulfur praesipitatum 4-20% dapat digabungkan Penggunaan sulfur praesipitatum tidak lagi digunakan dalam
dengan asam salisilat 3-6%. terapi terkini dermatitis seboroik.

3. Kortikosteroid 3. Kortikosteroid
Pada kasus dengan inflamasi berat, dapat diberikan Pada dermatitis seboroik dapat diberikan kortikosteroid potensi
kortikosteroid yang lebih kuat. Contoh rendah dalam bentuk krim dan solusio. Potensi tergantung
kortikosteroid yang dapat diberikan yaitu krim tingkat keparahan dan lokasinya.
hidrokortison 2 %.

10
4. Ketokonazol 4. Ketokonazol
Pada kasus yang berat dapat diberikan krim Pada dermatitis seboroik ringan-sedang dapat diberikan
ketokonazol 2 %. ketokonazole dalam bentuk krim dan shampoo.
5. Cicloporox olamine
Pada dermatitis seboroik kepala dapat diberikan Cicloporox
olamine dalam bentuk shampoo 1,5%.
6. Selenium sulfide
Selenium sulfide shampoo 2,5% pada dermatitis seboroik skalp.
7. Zinc pyrithione
Zinc pyrithione shampoo 1% pada dermatitis seborik kepala.
8. Pimecrolimus
Pimecrolimus krim 1% pada dermatitis seboroik nonskalp.
9.Tacrolimus
Pada dermatitis seboroik nonskalp dapat diberikan tacrolimus
ointment 0,1%, pada dermatitis seboroik skalp dapat diberikan
tacrolimus ointment 0,03%.
10.Tea tree oil
Tea tree oil shampo 5% Efektif dan toleransi dengan baik bila
digunakan setiap hari.

KESIMPULAN
Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa dengan predileksi di daerah
kaya kelenjar sebasea, seperti wajah, alis, lipat nasolabial, telinga dan liang telinga, bagian atas-
tengah dada dan punggung, lipat gluteus, inguinal, genital dan ketiak. Dengan penyebaran lesi
dimulai dari derajat ringan, misalnya ketombe sampai bentuk eritoderma. Kelainan kulit terdiri
atas eritem dan skuama yang berminyak, batas kurang tegas, kadang disertai gatal dan
menyengat7,8
Tujuan terapi dermatitis seboroik yaitu meringankan gejala, memperlama waktu remisi,
serta mengembalikan struktur dan fungsi kulit normal. 11 Terdapat berbagai pilihan terapi mulai
dari topikal hingga sistemik berupa obat anti jamur, steroid, Calcineurin inhibitor (Pimecrolimus
dan Tacrolimus), Selenium sulfide, Ciclopirox, Zinc pyrithione, preparat ter, terapi sinar
Narrowband UVB. Terapi sistemik hanya digunakan dalam beberapa kasus terutama kasus
dermatitis seboroik yang luas dan berat serta tidak mengalami perbaikan dengan terapi topikal.12

DAFTAR PUSTAKA
1. Fritsch PO and Reider N. Other eczematous eruptions: Stasis dermatitis. In: Bologna JL,
Jorizzo JL, Schaffer J. Dermatology. 2nd Ed. New York: Elsevier Mosby; 2008, p. 197-
200.
2. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook's textbook of dermatology. 8th ed.
Chichester: Wiley-Blackwell, 2010.

11
3. Schwartz RA, Janusz CA, Janninger CK. Seborrheic dermatitis: an overview. American
Family Physicians. 2006; 74.
4. Selden S, Travers R, Vinson R, Meffert J. Seborrheic dermatitis overview [internet].
Medscape; 2014 [cited 2017 Juli 10]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1108312overview#aw2aab6b2b3aa
5. Kwong CW, Azizan NZ, Sheng CW. Consensus recommendations for the diagnosis and
management of seborrheic dermatitis in asian patients. Asia-Pacific Seborrheic Dermatitis
Leaders Summit 2014.
6. Oktaviani F, Mukaddas A, Faustine I. Profil penggunaan obat pasien penyakit kulit di
poliklinik kulit dan kelamin Rumah Sakit Umum Anutapura Palu. GALENIKA Journal of
Pharmacy 2016; 2 (1): 38 42.
7. Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed 7.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2016.
8. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed 6. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013; 200-1
9. Agrirov A, Bakardzhiev I. New insights into the etiopathogenesis of seborrheic
dermatitis. Clinical Research in Dermatology: Open Acces; 2017.
10. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed 6. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010; 201-2
11. Schwartz JR, Messenger AG, Tosti A, et al. A comprehensive pathophysiology of
dandruff and seborrheic dermatitis towards a more precise definition of scalp health.
Acta Derm Venereol. 2013; 93(2):131-7.
12. Hald M, Arendrup MC, Svejgaard EL, Lindskov R, Foged EK, Sunte DM. Evidence-
based danish guidelines for the treatment of malassezia-related skin diseases. Acta Derm
Venereol. 2014; 95(1):12-9.
13. Bukvic Mokos Z, Kralj M, Basta-Juzbasic A, Lakos Jukic I. Seborrheic dermatitis: an
update. Acta Dermatovenerol Croat. 2012; 20(2):98-104.
14. Shemer A, Kaplan B, Nathansohn N, Grunwal MH, Amichai B, Trau H. Treatment of
moderate to severe facial seborrheic dermatitis with itraconazole: an open non-
comparative study. Isr Med Assoc J. 2008; 10(6):417-8.
15. Pirkhammer D, Seeber A, Hnigsmann H, Tenew A. Narrow-band ultraviolet B (TL-01)
phototherapy is an effective and safe treatment option for patients with severe
seborrhoeic dermatitis[internet]. Br J Dermatol. 2000[disitasi tanggal 10 Juli
2017];143(5): 964-8. Diakses pada: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1046/j.1365-
2133.2000.03828.x/full
16. Del Ropsso JQ. Adult seborrheic dermatitis: a status report on practical topical
management. J Clin Aesthet dermatol. 2011; 4(5):32-8.
17. Dessinioti C, Katsambas A. Seborrheic dermatitis: etiology, risk factors, and treatments:
fact and controversies. Clin Dermatol. 2013; 31(4):343-51.
18. Ortonne JP, Nikkels AF, Reich K, et al. Efficacious and safe management of moderate to
severe scalp seborrheic dermatitis using clobetasol propionate shampoo 0,05% combined

12
with ketoconazole shampoo 2 a randomized, controlled study. Br J Dermatol. 2011;
165:171-6.
19. Elewski B. An investigator-blind, randomized, 4-week, parallel-group, multicenter pilot
study to compare the safety and efficay of a nonsteroidal cream (Promiseb Topical
Cream) and desonide cream 0,05% in the twice daily treatment of mild to moderate
seborrheic dermatitis of the face. Clin Dermatol. 2009; 27: 548-53.

13