Anda di halaman 1dari 72

PENETAPAN KADAR KAFEIN PADA MINUMAN BERENERGI YANG

BEREDAR DI KOTA PEKALONGAN PADA BEBERAPA MERK


DAGANG DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA
TINGGI (KCKT)

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan

Pendidikan Diploma III Kesehatan

Bidang Analis Kesehatan

Diajukan oleh:

PUSPA MAHARANI

A1415048

AKADEMI ANALIS KESEHATAN (AAK)

PEKALONGAN

2017
i
HALAMAN PERSETUJUAN

PENETAPAN KADAR KAFEIN PADA MINUMAN BERENERGI YANG


BEREDAR DI KOTA PEKALONGAN PADA BEBERAPA MERK
DAGANG DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA
TINGGI (KCKT)

Yang diajukan oleh :

PUSPA MAHARANI

A1415048

Telah di setujui oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

Okky Ratri Nawangsari, M. Pd Suparyati, M. Kes


NUPN.9906001024 NIDN.0617107601

Mengetahui :

Direktur

Akademi Analis Kesehatan (A AK)

Pekalongan

dr. Tuti Suparyati, M.Kes


NIDN.0612096701
ii
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini telah diujikan pada sidang Ujian jenjang Pendidikan Tinggi

Diploma III Kesehatan, Pendidikan Ahli Madya Analis Kesehatan Pekalongan.

Tanggal: 30 Mei 2017

Susunan Tim Penguji

Penguji I Penguji II

Okky Ratri Nawangsari, M. Pd Suparyati, M. Kes


NUPN.9906001024 NIDN.0617107601

Penguji III

Mulia Susanti S. Far, M. Pd, Apt


NIDN.062306810

iii
PUSPA MAHARANI, A1415048. PENETAPAN KADAR KAFEIN PADA
MINUMAN BERENERGI YANG BEREDAR DI KOTA PEKALONGAN
PADA BEBERAPA MERK DAGANG DENGAN METODE
KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT). DIBAWAH
BIMBINGAN OKKY RATRI NAWANGSARI, M. Pd dan SUPARYATI, M.
Kes.

ABSTRAK

Latar Belakang: Minuman berenergi merupakan minuman ringan yang


mengandung beberapa zat aktif, seperti taurine, kafein, inositol, gingseng,
nicotinamide, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6. Minuman berenergi memiliki
fungsi sebagai stimulasi sistem metabolik dan sistem syaraf pusat. Kafein
merupakan salah satu zat yang memiliki sifat sebagai stimulan. Keberadaan kafein
dalam minuman berenergi ini bertujuan untuk menghilangkan rasa kantuk dan
membuat tubuh menjadi bugar. Batas maksimal surat keputusan kepala BPOM
No. HK.00.05.23.3644 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen
Makanan.
Tujuan: Untuk mengetahui berapa kadar kafein yang terdapat pada minuman
berenergi dengan metode KCKT.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi deskriptif
yang dilaksanakan di laboratorium FMIPA UNNES. Sampel yang digunakan
adalah kafein pada minuaman berenergi. Sampel di periksa dengan menggunakan
metode KCKT dengan panjang gelombang 273 nm, laju alir 1.23ml/menit, fasa
gerak etanol:aquadest, kolom ODS C18.
Hasil: Berdasarkan penelitian penetapan kadar kafein pada minuman berenergi
didapatkan hasil yang berbeda-beda pada masing-masing sampel yaitu, kode
sampel A 58,1039mg, kode sampel B 32,5880mg, kode sampel C 95,9012mg.
Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa minuman berenergi dengan kode sampel A memiliki hasil 58,2393 mg,
kode sampel B 32,5877 mg, dan kode sampel C 95,9010 mg.

Kata Kunci: Minuman Berenergi, Kafein, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


(KCKT).

iv
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT Yang

Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, akhirnya penulis mampu menyelesaikan

karya tulis ilmiah dengan judul Penetapan Kadar Kafein pada Minuman

Berenergi yang dijual di Swalayan Kota Pekalongan dengan Metode

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam

menyelesaikan program Diploma III (D III) Akademi Analis Kesehatan (AAK)

Pekalongan tahun 2017.

Dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari sepenuhnya

bahwa dengan adanya bimbingan, bantuan, arahan, dan dorongan berbagai pihak,

semua masalah maupun kesulitan dapat terselesaikan. Untuk itu dalam

kesempatan ini dengan segala rendah hati, penulis menyampaikan terimakasih

yang sebesar-besarnya terutama kepada:

1. dr. Tuti Suparyati, M. Kes selaku direktur Akademi Analis Kesehatan (AAK)

Pekalongan

2. Okky Ratri Nawangsari, M. Pd selaku dosen pembimbing utama yang telah

meluangkan waktu, memberi saran, petunjuk pada bimbingan dan penulisan

karya tulis ilmiah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

3. Suparyati, M. Kes selaku dosen pembimbing pendamping yang telah

meluangkan waktu, memberi saran, petunjuk pada bimbingan dan penulisan

karya tulis ilmiah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

v
4. Mulia Susanti S. Far, M. Pd, Apt. Selaku penguji III

5. Dosen dan Penanggung jawab laboratorium FMIPA UNNES.

6. Segenap staff pengajar dan administrasi Akademi Analis Kesehatan (AAK)

Pekalongan yang telah membekali ilmu pengtahuan dan kelancaran proses

belajar.

7. Kedua orangtua saya yang tercinta, yang telah membekali ilmu dan

membiayai saya serta senantiasa memberikan dorongan moril, materil, serta

doa kepada saya.

8. Kakak-kakak yang saya sayangi Ahmad Taufik Ashari, Zarah Sahara

Rahmawai dan Yunus Anas Saputra yang senantiasa memberikan doa dan

dukungannya kepada saya dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

9. Sahabat-sahabat seperjuangan angkatan 2014 yang tidak dapat disebutkan

namanya satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan kkarya tulis ilmiah ini masih

jauh dari kata sempuran. Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima

kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca. Akhir kata penulis

berharap bahwa karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis

sendiri maupun bagi pihak-pihak yang memerlukan.

Pekalongan, 30 Mei 2017

Penulis

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................ ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ iii

ABSTRAK .............................................................................................. iv

KATA PENGANTAR ............................................................................ v

DAFTAR ISI .......................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. x

DAFTAR TABEL ................................................................................... xi

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ....................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 3

D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Minuman Berenergi .................................................................... 5

1. Definisi Minuman Berenergi .................................................. 5

2. Jenis-jenis Minuman Berenergi .............................................. 7

B. Kafein .......................................................................................... 8

1. Definisi Kafein ........................................................................ 8

2. Mekanisme Kafein didalam Tubuh ........................................ 10

3. Dampak Positif mengonsumsi Kafein ................................... 11

vii
4. Dampak Negatif Mengonsumsi Kafein ................................. 11

5. Metode Penetapan Kadar Kafein .......................................... 12

C. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC (High


Pressure Liquid Chromathography) ........................................... 13

1. Definisi KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau


HPLC(HighPressure Liquid Chromathography) .................... 13

2. Kelebihan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau


HPLC (High Pressure Liquid Chromathography) .................. 14

3. Prinsip KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau


HPLC (High Pressure Liquid Chromathography) .................. 15

4. Komponen KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)


atau HPLC (High Pressure Liquid Chromathography) .......... 16

D. Kerangka Teori .......................................................................... 20

E. Kerangka Konsep ....................................................................... 21

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian .......................................................................... 22

B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... 22

C. Objek Penelitian ......................................................................... 22

D. Populasi dan Sampel .................................................................. 22

E. Definisi Operasional ................................................................... 23

F. Teknik pengumpulan Data ......................................................... 23

G. Alat dan Bahan Penelitian .......................................................... 24

H. Prosedur Penelitian .................................................................... 25

I. Perhitungan .................................................................................. 26

J. Analisa Data ................................................................................ 27

K. Jadwal Penelitian ....................................................................... 27

viii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil ........................................................................................... 28

B. Pembahasan ................................................................................ 30

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................ 34

B. Saran .......................................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Senyawa Kimia Kafein ........................................ 9

Gambar 2. Kafein ................................................................................ 10

Gambar 3. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) ...................... 14

Gambar 4. Komponen KCKT ............................................................. 16

Gambar 5. Kerangka Teori Penetapan Kadar Kafein pada


Minuman Berenergi .......................................................... 20

Gambar 6. Kerangka Konsep Penetapan Kadar Kafein pada


Minuman Berenergi .......................................................... 21

Gambar 7. Kurva Standart Kafein ...................................................... 29

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Zat Kandungan Minuman Berenergi dan Efeknya


terhadap Tubuh ....................................................................... 6

Tabel 2. Kandungan Kafein dalam Minuman ...................................... 10

Tabel 3. Variasi Konsentrasi Kafein Terhadap luas Area ................... 28

Tabel 4. Luas Area Kafein dari Masing-masing Sampel ..................... 29

Tabel 5. Konsentrasi Kafein pada Masing-masing Sampel ................. 30

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Perhitungan Kadar Kafein

Lampiran 2. Dokumentasi

Lampiran 3. Print Out Hasil

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dari waktu ke waktu, konsumsi minuman berenergi berkembang

cukup pesat. Produksi dan konsumsi minuman berenergi masih

mengggairahkan. Pengonsumsi minuman ini sebagian besar adalah para

pekerja dengan beban dan tuntutan kerja yang tinggi di suatu perusahaan.

Alasan konsumsi minuman berenergi umumnya ialah untuk membuat

stamina tetap terjaga dalam melakukan aktivitas yang dilakukan.

Minuman berenergi merupakan minuman ringan yang mengandung

beberapa zat aktif, seperti taurine, kafein, inositol, gingseng, nicotinamide,

vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6. Minuman berenergi memiliki fungsi

sebagai stimulasi sistem metabolik dan sistem syaraf pusat, maka tidak

sedikit orang mengonsumsi minuman ini setiap hari. Alasan ini menguat

karena kandungan yang terdapat pada minuman berenergi tersebut. 1,2

Kafein merupakan salah satu zat yang memiliki sifat sebagai

stimulan. Keberadaan kafein dalam minuman berenergi ini bertujuan

untuk menghilangkan rasa kantuk dan membuat tubuh menjadi bugar. 3

Keberadaan kafein dalam minuman berenergi mungkin sangat jarang

terdengar, yang sering terdengar adalah kafein dalam kopi. Akan tetapi

beberapa minuman berenergi terang menyebutkan jumlah kandungan

kafein pada komposisi dalam minuman. BPOM secara tegas menetapkan

1
2

kadar kafein pada minuman berenergi maksimal 50 mg/kemasan. Hal ini

dibuktikan dengan dikeluarkannya surat keputusan kepala BPOM No.

HK.00.05.23.3644 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen

Makanan. Dalam keputusan ini, disebutkan bahwa batas konsumsi kafein

maksimum adalah 150 mg/hari dibagi minimal dalam 3 dosis.4 Kafein

memiliki dampak yang besar bagi kesehatan, apabila konsumsi kafein

melebihi kadar yang telah ditetapkan, maka detak jantung akan meningkat,

menurunkan sensitivitas insulin, dan disfungsi renal. 1,2 Untuk mengetahui

kadar kafein yang terdapat dalam minuman dapat dilakukan dengan

beberapa metode.

Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain titrimetri,

spektrofotometeri dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau

High Pressure Liquid Chromatography (HPLC). Penggunaan titrimetri

sebagai metode telah lama ditinggalkan, hal ini dikarenakan adanya

gangguan senyawa lain saat proses isolasi kafein terlebih dahulu. Selain

itu metode spektrofotometri juga terdapat beberapa kelemahan yaitu

panjang gelombang yang bervariasi sampai dengan komposisi

pencampuran reagen dengan sampel yang dapat mempengaruhi kadar

kafein. Metode KCKT merupakan metode terbaik untuk menetapkan kadar

kafein, karena lebih sensitif dan dapat mengetahui kadar senyawa yang

berupa campuran secara bersamaan.3,5,6

KCKT adalah metode analisis yang menggunakan teknik

kromatografi kolom dengan fasa gerak berupa cairan dan fasa diam berupa
3

padatan. Metode ini bisa digunakan untuk menganalisa secara kualitatif

dan kuantitatif pada suatu zat.5,6

Dalam penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Veronica

Suko D (2007) dengan judul penetapan kadar kafein dalam minuman

berenergi merk X dengan metode spektroforometri derivatif aplikasi

peak-to-peak memiliki hasil sebesar 0,139% b/v, jauh lebih besar daripada

kadar kafein maksimal yang ditetapkan oleh BPOM yaitu sebesar 50

mg/kemasan atau 0, 029% b/v.7

Dengan latar belakang tersebut, peneliti bermaksud untuk

mengembangkan metode pemeriksaan kafein dalam minuman berenergi

dengan menggunakan metode KCKT.

B. Rumusan Masalah

Dengan adanya kandungan kafein dalam minuman berenergi, maka

timbul permasalahan Berapa kadar kafein yang terdapat pada minuman

berenergi dengan metode KCKT?.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kafein yang

terdapat dalam minuman berenergi.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Mengaplikasikan ilmu mata kuliah analisa makanan dan minuman

yang telah diperoleh selama belajar di Akademi Analis Kesehatan

Pekalongan dalam penelitian karya tulis ilmiah yang berjudul


4

penetapan kadar kafein pada minuman berenergi menggunakan metode

KCKT.

2. Bagi Akademi

Sebagai penambahan pustaka tentang kadar kafein dalam minuman

berenergi di perpustakaan Akademi Analis Kesehatan (AAK)

Pekalongan.

3. Bagi Masyarakat

Memberi informasi kepada masyarakat tentang kadar kafein yang

terdapat dalam minuman berenergi dan dan dampaknya mengonsumsi

bagi kesehatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Minuman Berenergi

1. Definisi Minuman Berenergi

Minuman berenergi merupakan minuman ringan yang mengandung

beberapa zat aktif yang berfungsi untuk meningkatkan sitimulan sistem

metabolik dan sistem saraf pusat.2 Minuman berenergi termasuk dalam

golongan food supplement atau makanan tambahan.7 Minuman berenergi

merupakan produk yang dapat melengkapi kebutuhan zat gizi bertujuan

dalam memberikan energi pada penggunannya dengan kombinasi zat

stimulan seperti kafein, guarana, gingseng, gingko biloba, vitamin B1,

vitamin B6, vitamin B2, taurine, karnitin, dan glukuronalakton, dan

ribose.1,2,10 Dengan melimpahnya kandungan dalam minuman berenergi

maka tersimpan bahaya, hal ini dikuatkan dengan pernyataan Marci Clow,

direktur riset di Rainbow Light Nutritional System. Menurut Marci Clow,

minuman berenergi boleh saja dikonsumsi sesekali, tapi tidak dianjurkan

untuk dikonsumsi secara teratur, hal ini dikarenakan adanya kandungan

gula dan kafein serta pemanis buatan. Beberapa studi menemukan

konsumsi teratur sama saja melatih otak untuk ketagihan rasa minuman

berenergi tersebut dan menimbulkan dampak pada kesehatan. 8,9

5
6

Tabel 2.1 Zat Kandungan Minuman Berenergi dan Efeknya


terhadap Tubuh

Zat Kandungan Efek Terhadap Tubuh


Kafein Stimulasi sistem saraf pusat sehingga
memberi efek alert, menyebabkan
dehidrasi tubuh, meningkatkan denyut
jantung dan tekanan darah.
Taurin Meregulasi denyut jantung, kontraksi otot
dan tingkat energi. Merupakan inhibitor
neurotransmiter yang ringan.
Guarana Merupakan zat stimulan yang
meningkatkan alertness, mempunyai efek
samping kafein, dan energi
Vitamin B Membantu dalam konversi makanan
kepada energi
Gingseng Meningkatkan energi, mempunyai
komponen anti-lelah, melegakan stress,
menguatkan ingatan, menstimulasi
hypotalamus, dan kelenjar pituitary untuk
mengeksresi adreno corticotropic hormone
(ACTH).
Ginkgo biloba Membantu retensi ingatan, konsentrasi,
sirkulasi, mempunyai efek anti-depresan,
kandungan minuman berenergi terlalu
rendah untuk menimbulkan efek yang baik.
L-Carnitine Merupakan asam amino yang biasanya
diproduksi oleh hati dan ginjal. Bersifat
termogenik dan membantu dalam
pengurangan berat badan dan
meningkatkan daya tahan tubuh sewaktu
berolahraga.
Gula Sumber metabolisme karbohidrat tubuh
untuk menghasilkan tenaga.
Anti-oxidant Membantu pemulihan tubuh daripada efek
radikal bebas
7

Zat Kandungan Efek Terhadap Tubuh

Glucuronalactone Biasanya dijumpai dalam tubuh dan


merupakan glukosa yang dimetabolisme
oleh hati, membantu detoksifikasi, sekresi
hormone, biosintesa vitamin C, dalam
minuman berenrgi dipercai mencegah zat
lain menggunakan cadangan
glikogendalam otot.
Creatine Membekalkan tenaga kepada otot.

Sumber: Babu, K.M., Church, R.J., Lewander, W., 2008. Energy Drinks: The New Eye-
Opener for Adolescents, Clinical Pediatric Emergency Medicine.

2. Jenis-jenis Minuman Berenergi

Minuman berenergi merupakan suplemen yang diformulasikan

dalam bentuk cair, tablet, atau serbuk.

a. Cair

Minuman berenergi dalam bentuk cair lebih digemari karena mudah

untuk di konsumsi dan dapat diberi tambahan rasa, sehingga lebih

menarik untuk di minum.

b. Tablet

Mudah disimpan dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih

lama di bandingkan obat bentuk lainnya. Pada vitamin dalam bentuk

tabletdapat ditambahkan dengan zat pembawa yang disebut excipient.

Suplemen berbentuk tablet ini lebih mudah dicerna oleh usus.

c. Serbuk

Seseorang yang sulit menelan kapsul atau tablet dapat mengonsumsi

minuman berenergi dalam bentuk serbuk. Pada minuman berbentuk


8

serbuk ini memiliki formula effervescent yang mengandung natrium

bikarbonat (soda) dan asam sitrat, kedua bahan tersebut apabila

dicampur dengan air makan akan menghasilkan gelembung,

meningkatkan kelarutan, dan memberi efek antasid sistemik. 8

B. Kafein

1. Definisi Kafein

Kafein merupakan sistem stimulasi sistem saraf pusat dan

metabolik yang dapat menghambat phosphodiesterase dan mempunyai

efek antagonis pada reseptor adenosine sentral. Peran utama kafein

didalam tubuh yaitu meningkatkan kerja psikomotor sehingga tubuh dapat

tetap terjaga dan memberi efek fisiologis berupa peningkatan energi. 11

Kafein merupakan senyawa hasil metabolisme skunder golongan

alkoloid heterosiklik yang mengandung nitrogen mengandung dua-cincin

atau dual-siklik dengan rumus senyawa kimia C8H10N4O2 dan struktur

kimia 1,3,7-trymethylxanthine. Kafein mempunyai kemiripan struktur

kimia dengan 3 senyawa alkoloid yaitu, xanthin, theophylline, dan

theobromine.11,12,13
9

C8H10N4O2

Gambar 2.1 Struktur Senyawa Kimia Kafein.14

Kafein merupakan senyawa kimia yang sering dijumpai secara

alami. Kafein sendiri biasa ditemukan di dalam makanan dan minuman

contohnya seperti biji kopi, teh, biji kelapa, cokelat, buah kola, guaranan,

dan mate. Rentang kandungan kafein untuk berbagai jenis makanan ini,

yaitu 40-180 mg/150 ml untuk kopi, 24-50 mg/150 ml untuk teh, 2 sampai

7 mg/150 ml untuk koko, 15-29 mg/180 ml untuk kola, dan 1 sampai 36

mg/28 g untuk cokelat. Kafein berbentuk bedak kristal, berwarna putih,

tidak berbau, dan rasanya agak pahit. Kafein memiliki beberapa sifat fisik

anatar lain:

a. Berat molekul : 194,19 gmol1

b. Kepadatan : 1,2 gcm3

c. Titik lebur : 238 C

d. Titik didih : 178 C

e. pH : 6,9
10

Gambar 2.2 Kafein15

Kafein sendiri biasa digunakan sebagai bahan tambahan pada

minuman alkohol dan non alkohol. Kafein memiliki sifat yang mudah

larut dalam air sehingga mudah lewat dari memberan tubuh, dan secara

cepat diabsorbsi oleh tubuh dan dialarikan keseluruh organ dan jaringan. 13

Tabel 2.2 Kandungan Kafein dalam Minuman12

Produk Kandungan Kafein

Secangkir Kopi 110 mg


Secangkir Teh 50 mg
Sebotol Cola-cola 40 mg
Minuman Energi 50 mg

2. Mekanisme Kafein didalam Tubuh

Kafein bekerja didalam tubuh dengan cara menyaingi fungsi

reseptor adenosin. Kafein akan membalikkan semua kerja adenosin,

meskipun mekanisme utama kafein adalah antagonisme reseptor

adenosine, hal ini akan menjurus ke efek sekunder dari berbagai jenis

neurotransmitter seperti norepinefrin, dopamine, asetilkolin, glutamate

dan GABA yang akan mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh yang


11

berbeda, sehingga tubuh akan mengalami efek fisiologis seperti tidak lagi

mengantuk, muncul perasaan segar, sedikit gembira, mata terbuka lebih

lebar, namun irima jantung akan berdetak lebih cepat, tekanan darah yang

meningkat, otot-otot berkontraksi dan hati akan melepas gula ke aliran

darah yang akan membentuk energi ekstra.

Kafein cepat diabsorbsi didalam darah dan tersebar kejaringan

tubuh termasuk otak. Enzim dihati memecah kafein dan menyisakan

sedikit untuk dikeluarkan di urine. Kafein diabsorbsi secara cepat pada

saluran cerna dan kadar puncak dalam darah dicapai selama 30 hingga 45

menit.2,13

3. Dampak positif Mengonsumsi kafein

Kafein adalah stimulan dari sistem saraf pusat dan metabolisme,

digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi kelelahan

fisik dan dapat juga meningkatlan kewaspadaan sehingga rasa kantuk

dapat ditekan. Mengkonsumsi kafein sendiri mempunyai efek jangka

pendek yang positif bagi tubuh, yaitu seperti merasa tenang,

meningkatkan pemahaman atau pemikiran, meningkatkan daya ingat,

meningkatkan reflek, mengurangi keletihan.2,13

4. Dampak Negatif Mengkonsumsi Kafein

Dalam penggunaan kafein memang baik, namun pada penggunaan

sesuatu secara berlebihan akan berdampak negatif bagi penggunanya.

Pengunaan kafein dalam kehidupan manusia yang berlebihan memiliki

efek negatif seperti insomnia kronik, gelisah, kecemasan, meningkatnya


12

irama jantung, diuresis, kejang otot, aritmia, gangguan lambung, tangan

gemetar, keracunan, gangguan kesuburan pada wanita, ingatan berkurang,

kecanduan dan gangguan hati.11,13

5. Metode Penetapan Kadar Kafein

Penetapan kadar kafein pada bahan pangan dapat dilakukan dengan

beberapa metode, antara lain:

a. Iodometri

Titrasi iodometri (redoksimetri) merupakan titrasi secara tidak

langsung, karena pada prinsipnya ion iodide sebagai pereduksi diubah

menjadi iodium kemudian dititrasi dengan larutan baku Na 2S2O3.

Cara ini digunakan untuk penentuan oksidator H2O2. Pada oksidator

ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk iodium

yang akan dititrasi dengan Na2S2O3 dan amylum sebagai indikator.

Hasil titik akhir titrasi pada iodometri apabila warna biru telah

hilang.16

b. Spektofotometri UV

Spektrofotometri UV merupakan spektroskopik yang

menggunakan sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat

dengan panjang gelombang 190-380 nm. Spektrofotometri pada

dasarnya memiliki prinsip interaksi antara radiasai elektromagnetik

dengan materi (atom, ion, atau molekul). Interaksi yang

menyebabkan adanya perpindahan energi dari sinar radiasi kemateri

yang disebut absorbsi.7


13

c. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC (High

Pressure Liquid Chromathography)

KCKT merupakan suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak

cairan dan fasa diam cairan atau padatan. Pada prinsipnya luas

puncak kromatografi pada kurva elusi dipengaruhi oleh tiga proses

perpindahan massa, yaitu difusi eddy, difusi longitudional, dan

transfer massa tidak seimbang, sehingga pada hasil yang dikeluarkan

oleh alat ini memiliki keakuratan yang tinggi. 6

C. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC (High Pressure

Liquid Chromathography)

1. Definisi KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC

(High Pressure Liquid Chromathography)

Kromatografi adalah prosedur pemisahan senyawa campuran

berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi, karena adanya perbedaan

koefisien distribusi masing-masing senyawa diantara dua fasa yang saling

bersinggungan dan tidak saling campur, yaitu disebut sebagai fasa gerak

yang berupa cair atau zat gas, dan fasa diam yaitu berupa zat cair atau zat

padat.

KCKT merupakan salah satu metode kromatografi cair yang fasa

geraknya dialirkan secara cepat dengan bantuan tekanan dan hasil deteksi

dengan instrument, karena pada KCKT terdapat sistem pompa tekanan

tinggi yang mampu mengalirkan fasa gerak pada tekanan tinggi sampai

300 atmosfer dan tekanan pada bagian atas kolom kurang dari 70
14

atmosfer. KCKT menghasilkan pemisahan yang baik atau menghasilkan

penampilan peak yang baik.

Gambar 2.3 KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)


ParkinElmer Analyst

2. Kelebihan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC

(High Pressure Liquid Chromathography)

Pengembangan kromatografi sebagai suatu teknik analitik berjalan

sejajar dengan suatu ledakan teknologi yang membawa revolusi dalam

instrumentasi keilmuan. Pada akhir tahun 1960-an, analis menjadi terbiasa

akan pemisahan campuran yang rumit dalam beberapa menit bahkan detik

dengan hasil yang sangat bagus salah satunya dengan menggunakan

KCKT. KCKT sendiri memiliki kelebihan antara lain,:

a. Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran

b. Mudah melaksanakannya.

c. Kecepatan yang tinggi dan kepekaan yang tinggi.


15

d. Dapat dihindari terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan yang

dianalisis.

e. Resolusi yang baik.

f. Dapat digunakan bermacam-macam detektor.

g. Kolom dapat digunakan kembali.

h. Mudah melakukan sample recovery.

3. Prinsip KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC

(High Pressure Liquid Chromathography)

Luas puncak kromatografi pada kurva elusi dipengaruhi oleh tiga

proses perpindahan massa, yaitu difusi eddy, difusi longitudional, dan

transfer massa tidak seimbang. Sedangkan parameter-parameter yang

menentukan berlangsungnya proses-proses tersebut adalah laju aliran,

ukuran partikel, laju difusi dari ketebalan stasioner.


16

4. Komponen KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) atau HPLC

(High Pressure Liquid Chromathography)

Pada alat KCKT memiliki komponen-komponen penting yang

terdapat didalamnya antara lain:

Gambar 2.4 Komponen KCKT23

a. Pompa (Pump)

Untuk menggerakan fasa gerak melalui kolom diperlukan pompa.

Pompa harus mampu menghasilkan tekanan 600 psi pada kecepatan

alir 0,1-10ml/menit. Fasa gerak dalam KCKT adalah suatu cairan yang

bergerak melalui kolom. Ada dua tipe pompa yang digunakan, yaitu

kinerja konstan dan pemindahan konstan.

b. Injektor (Injector)

Cuplikan harus dimasukkan kedalam pangkal kolom. Injektor memiliki

3 jenis yaitu:

1) Stop-flow merupakan aliran dihentikan, injeksi dilakukan pada

kinerja atmosfir, sistem tertutup dan aliran dilanjutkan kembali.


17

2) Septum yang digunakan pada KCKT sama yang digunakan pada

kromatografi gas. Injektor ini dapat digunakan pada kinerja 60-70

atmosfir. Pada dasarnya septum tidak tahan dengan semua pelarut

kromatografi cair. Partikel kecil dari septum yang terkoyak akibat

jarum injektor dapat menyebabkan penyumbatan.

3) Loop valve merupakan tipe injektor yang digunakan untuk

menginjeksi volume lebih besar dari 10 dan dilakukan dengan

cara automatis (dengan adaptor khusus, volume-volume lebih kecil

dapat diinjeksikan secara manual). Pada posisi load, sampel loop

(cuplikan dalam putaran) diisi pada tekanan atmosfir. Bila katup

difungsikan maka cuplikan di dalam putaran akan bergerak

kedalam kolom.

c. Kolom (Column)

Kolom merupakan jantung kromatografi. Berhasil atau gagalnya suatu

analisa tergantung pada pemilihan kolom dan kondidi percobaan yang

sesuai. Kolom dibagi menjadi dua kelompok :

1) Kolom analitik memiliki diameter dalam 2-6 mm. Panjang kolom

tergantung pada jenis kemasan. Untuk kemasan material biasanya

panjang kolom 50-100cm, sedangkan untuk mikropartikel berpori,

umumnya 10-30cm dan ada yang 5 cm.

2) Kolom preparatif umunya memiliki diameter 6 mm atau lebih

besar dan panjang kolom 25-100 cm.


18

d. Detektor (Detector)

Suatu detektor dibutuhkan untuk mendeteksi adanya komponen sampel

di dalam kolom (analisis kualitatif) dan menghitung kadarnya (analisis

kuantitatif). Detektor yang bagus memiliki sensitifitas yang tinggi,

gangguan yang rendah, kisar serpon linear yang luas, dan memberi

respon yang luas untuk semua tipe senyawa. Pada detektor KCKT

umumnya digunakan detektir UV 254 nm.

e. Pengolahan Data

Komponen yang tereluasi mengalir ke detektor dan di catat sebagai

puncak-puncak yang secara keseluruhan disebut kromatogram.

Guna kromatogram:

1) Kualitatif

Waktu retensi selalu konstan dalam setiap kondisi kromatografi

yang sama dapat digunakan untuk identifikasi.

2) Kuantitatif

Luas puncak proposional engan jumlah smapel yang diinjeksi dan

dapt digunakan untuk menghitung konsentrasi.

3) Kromatogram dapat digunakan untuk mengevaluasi efisien

pemisahan dan kinerja kolom (kapasitask, selektifitas , jumlah

pelat teoritis N, jarak setara dengan pelat teoritis HELP dan

resolusi R).
19

f. Elusi Gradien

Elusi pada KCKT dapat dibagi menjadi dua sistem yaitu:

1) Sistem elusi isokratik, pada sistem ini elusi dilakukan dengan satu

macam atau lebih fasa gerak dengan perbandingan tetap.

2) Sistem elusi gradien, pada sistem ini elusi dilakukan dengan

campuran fasa gerak yang perbandingannya berubah-ubah dalam

waktu tertentu.

Elusi gradien didefinisikan sebagai penambahan kekuatan fasa gerak

selama analisis kromatografi berlangsung. Efek dari elusi gradien

adalah mempersingkat waktu retensi dari senyawa-senyawa yang

tertahan kuat pada kolom. Kelebihan elusi gradien antara lain :

1) Total waktu analisa direduksi

2) Resolusi persatuan waktu setiap senyawa dalam campuran

bertambah.

3) Ketajaman peak bertambah.

4) Efek sensitifitas bertambah karena sedikit variasi pada peak.

g. Fasa Gerak

Fasa gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang

dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi

dan resolusi. Daya elusi dan revolusi ini ditentukan oleh polaritas

keseluruhan pelarut, polaritas fasa diam, dan sifat komponen sampel.

Dalam kromatografi cair komposisi pelarut atau fasa gerak adalah satu

variabel yang mempengaruhi pemisahan. Terdapat keragaman yang


20

luas dari fasa gerak yang digunakan dalam semua mode KCKT, tetapi

ada beberapa sifat yang diinginkan pada fasa gerak antara lain;

1) Murni, tidak terdapat kontaminasi.

2) Tidak bereaksi dengan wadah.

3) Sesuai dengan detektor.

4) Melarutkan sampel.

5) Memiliki visikositas rendah.

6) Mudah untuk sample recovery.

D. Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan maka dapat disusun

kerangka teori sebagai berikut:

Minuman Berenergi

Penetapan Kadar Kadar Kafein


Kafein :
1. Iodometri
2. Spektrofotometri
UV
3. KCKT
(Kromatografi Cair
Kinerja Tinggi)
atau HPLC (High
Pressure Liquid
Chromathography)

Gambar 2.5 Kerangka Teori Penetapan Kadar Kafein pada Minuman

Berenergi
21

E. Kerangka Konsep

Dalam penelitian ini peneliti menganalisis kadar kafein pada minuman

berenergi dengan menggunakan alat KCKT sehingga dapat disusun kerangka

konsep sebagai berikut:

KCKT
Minuman Berenergi Kadar Kafein

Variabel Bebas Variabel Terikat

Gambar 2.6 Kerangka konsep Analisis Kadar Kafein pada Minuman

Berenergi
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah

(KTI) merupakan jenis penelitian observasi deskriptif, yaitu salah satu

metode penelitian yang berusaha menjelaskan atau menggambarkan tentang

kadar kafein dalam minuman berenergi.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Fakultas MIPA

Universitas Negeri Semarang.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Februari sampai bulan Mei 2017.

C. Objek Penelitian

Objek penelitian pada Karya Tulis Ilmiah ini adalah minuman berenergi.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah minuman berenergi yang beredar

dikalangan masyarakat Kota Pekalongan.

2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah 3 jenis minuman berenergi yang yang

beredar dikalangan masyarakat Kota Pekalongan di ambil secara acak.

22
23

E. Definisi Operasional

1. Minuman Berenergi adalah minuman ringan yang mengandungi zat-zat

seperti vitamin B kompleks dan kafein untuk menstimulan sistem

metabolik dan sistem saraf pusat. Minuman berenergi yang digunakan

untuk penelitian ini di peroleh dari swalayan Kota Pekalangan.

2. Kafein merupakan turunan metilxantin yang terdapat dalam beberapa

jenis bahan makanan dan minuman yang umum dikonsumsi. Kafein

sendiri bersifat sebagai stimulan ringan untuk meningkatkan aktivitas.

3. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid

Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan

fisikokimia. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik

kromatografi dengan fasa gerak cairan fasa diam cairan atau padatan.

KCKT digunakan sebagai alat penjamin mutu, karena KCKT mampu

memisahkan berbagai macam kandungan kimia dalam campuran.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

data skunder.

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian

penetapan kadar kafein dalam minuman berenergi yang dilakukan oleh

peneliti di laboratorium kimia fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri

Semarang.
24

2. Data Skunder

Data skunder merupakan data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan

data, informasi, dan keterangan yang bersumber dari buku, jurnal ataupun

internet sebagai bahan penunjang dan pembanding dengan data yang

diperoleh dari hasil penelitian.

G. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat penelitian

a) Alat sonikasi

b) Seperangkat alat KCKT merk perkinelmer

c) Seperangkat komputer merk hp

d) Tabung vial

e) Neraca analitik

f) Seperangkat alat gelas yang digunakan untuk analisis

g) Tisu

2. Bahan Penelitian

a) Larutan standar kafein

b) Minuman berenergi

c) Etanol

d) Aquadest
25

H. Prosedur Penelitian

1. Pembuatan Standar Kafein

a) Larutan induk kafein dibuat 50 ppm dengan cara melarutkan 5 mg

kafein dalam 100 ml aquadest.

b) Kemudian buat larutan baku standart kafein dari larutan baku dengan

konsentrasi 75, 100, dan 125 ppm.

2. Optimasi Metode KCKT

a) Larutan dibaca pada panjang gelombang 273 nm.

b) Kemudian larutan standar kafein disuntikan dalam injector port

dengan menggunakan KCKT syringe dengan laju alir 1.23 mL/menit.

c) Fase diam kolom ODS C18 sedangkan fase gerak etanol dan aquadest.

d) Kromatogram yang telah dihasilkan kemudian diamati dengan metode

regresi linier, sehingga di dapatkan persamaan y = ax + b

Keterangan : x : Konsentrasi sampel

y : Absorbansi sampel

a : Slope

b : Intersep

3. Pembuatan Larutan Sampel

a) Masing-masing sampel dimasukkan kedalam beaker glass kurang

lebih sebanyak 20 ml.

b) Sonikasi masing-masing sampel sebanyak 7 kali secara berulang

dengan cara menekan tombol on pada alat sonikasi tersebut.


26

4. Penetapan Kadar Kafein Pada Minuman Berenergi

a) Masing-masing sampel ditaruh pada tabung vial bertutup rapat

b) Masukkan tabung vial tersebut kedalam alat KCKT.

c) Setting alat KCKT pada komputer user yang terhubung pada alat

tersebut.

d) Secara langsung sampel akan di running pada alat KCKT dengan

menggunakan panjang gelombang 273 nm, KCKT syringe, laju alir

1.23 mL/menit, fase diam kolom ODS C18 sedangkan fase gerak

etanol dan aquadest.

e) Kromatogram yang dihasilkan sampel akan dibandingkan dengan

kromatogram yang dihasilkan oleh standar kurva.

I. Perhitungan

Dalam analisa KCKT menggunakan metode kurva kalibrasi.

Metode ini dibuat seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi dan

selanjutnya di buat grafik dalam persamaan regresi linear pada kurva

kalibrasi.

Mg Kafein = ppm x

Keterangan :

V : volume larutan (ml)

Ppm : konsentrasi (ppm)


27

J. Analisa Data

Dalam analisa yang dilakukan dalam penelitian ini secara KCKT adalah :

a) Analisa kualitatif

Analisa kualitatif deilakukan dengan membandingkan waktu retensi

(tR) yang didapat dalam sampel dengan waktu etensi (t R) senyawa

baku.

b) Analisa kuantitatif

Analisa kuantitaif yang dilakukan adalah penetapan kadar kafein

berdasarkan analisis data AUC sampel dan kurva baku. Data kadar

disajikan dalam bentuk Kafein = ppm X kemudian dibandingkan

dengan yang tertera pada kemasan, apakah kadarnya sudah sesuai

dalam yang tertera pada kemasan.

K. Jadwal Penelitian

WAKTU
URAIAN FEBRUARI MARET APRIL MEI
Usulan Penelitian
Pengambilan
Sampel
Penelitian Di
Laboratorium
Pengumpulan Data
Analisa Data
Pembuatan
Laporan
Ujian
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia fisika fakultas MIPA

UNNES secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan kromatografi

cair kinerja tinggi (KCKT). Sampel terdiri dari 3 minuman berenergi yang

diambil secara acak di swalayan kota Pekalongan.

Sebelum melakukan pemeriksaan pada sampel, langkah awal yaitu

dengan membaca serapan dari larutan baku standart dengan berbagai variasi

konsentrasi, sehingga diperoleh data dan kurva sebagai berikut:

Tabel 4.1 Variasi Konsentrasi Kafein terhadap Luas area.


Laju Alir 1.23 ml/menit, 273 nm, kolom ODS C18,
Eluen etanol:aquadest (20:80)

No Konsentrasi (ppm) Luas area


1 75 581296
2 100 775063
3 125 968824

Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk mendapatkan kurva linier

dan persamaan regresi linier seperti pada kurva dibawah ini:

28
29

Kurva Standart Kafein


1200000

1000000 y = 7750,6x + 5
R = 1
800000
Luas Puncak

600000
area
400000
Linear (area)
200000

0
0 50 100 150
Konsentrasi Kafein (ppm)

Gambar 4.2 Kurva Standart kafein

Dari variasi konsentrasi kafein dapat diperoleh bahwa persamaan garis

regresi linier adalah y = 7750,x + 5 dan koefisien korelasi (R 2) sebesar 1.

Angka koefisien kolerasi yang didapat yang menunjukan bahwa kurva linier

artinya sama seimbang.

Setelah diperoleh serapan dari larutan baku standart, langkah

selanjutnya adalah pemeriksaan sampel. Data hasil penetapan kadar kafein

pada minuman berenergi sebagai berikut:

Tabel 4.2 Luas area kafein dari masing-masing sampel.

No Sampel Waktu Retensi Luas area Tinggi Puncak


1 A 3.589 3002034 86736
2 B 3.812 1010225 28971
3 C 3.431 4954891 140673
30

Tabel 4.3 Konsentrasi Kafein pada masing-masing sampel

No Sampel Konsentrasi kafein Konsentrasi Kafein


(ppm) (mg)
1 A 387,3598 58,2393
2 B 130,3522 32,5877
3 C 639,3414 95,9010

B. Pembahasan

Tujuan dari penelitian penetapan kadar kafein pada minuman berenergi

yang dijual di swalayan kota pekalongan ini adalah mengetahui kadar kafein

yang terdapat dalam minuman berenergi dengan metode kromatografi cair

kinerja tinggi (KCKT).

Penentuan kadar kafein pada minuman berenergi kali ini menggunakan

metode KCKT. Prinsip metode ini yaitu, luas area kromatografi pada kurva

elusi dipengaruhi oleh tiga proses perpindahan massa, yaitu difusi eddy,

difusi longitudional, dan transfer massa tidak seimbang. Sedangkan

parameter-parameter yang menentukan berlangsungnya proses-proses

tersebut adalah laju aliran, ukuran partikel, laju difusi dari ketebalan

stasioner.

Pemeriksaan kafein pada minuman berenergi dibagi menjadi 3 tahap

yaitu sonikasi, pemeriksaan sampel dengan KCKT, dan perhitungan kadar

sampel dalam mg/kemasan. Tahap pertama, sampel terlebih dahulu dilakukan

proses sonikasi. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan gelembung atau

memecah senyawa. Proses pemecahan gelembung dilakukan dengan

memanfaatkan gelombang ultraviolet yang memiliki getaran dengan frekuensi


31

tinggi diatas 20 Hz. Sonikasi minimal dilakukan 5 kali sedangkan pada

penelitian dilakukan sebanyak 7 kali, agar gelembung dalam sampel hilang

dan tidak mempengaruhi hasil pemeriksaan sampel.

Sebelum dilakukan tahap pemeriksaan sampel, perlu adanya preparasi

alat terlebih dahulu. Preparasi alat dimulai dengan menentukan panjang

gelombang 273 nm, laju alir 1.23 ml/menit, fase gerak etanol:aquadest, kolom

ODS C18. Selanjutnya sampel yang telah di sonikasi kemudian ditaruh pada

botol vial kemudian sampel dimasukkan kedalam alat KCKT. Setelah itu

setting pada komputer untuk dilakukan pemeriksaan pada sampel.

Pemeriksaan sampel terhadap kafein dengan kromatografi mmencakup

pemeriksaan secara kualitatif dan kuantitatif. Dalam penentuan analisa kafein

secara kualitatif dilakukan berdasarkan waktu retensi (tR) sedangkan pada

analisa kafein secara kuantitatif berdasarkan luas area yang di dapat pada

pemeriksaan.

Perhitungan kadar kafein pada penelitian ini dilakukan dengan metode

kurva standart. Larutan standart dibuat dalam beberapa konsentrasi yang

diukur dengan alat KCKT. Langkah selanjutnya adalah membuat grafik atau

persamaan kurva baku yang menyatakan hubungan linier antara konsentrasi

dan luas area yang dilhasilkan. Pemilihan data yang digunakan pada kurva

baku didasarkan pada nilai r yang digunakan, karena nilai r menunjukan

persamaan kurva tersebut memiliki kolerasi yang baik sehingga dapat

digunakan untuk menghitung kadar kafein. Nilai r pada kurva baku kafein
32

memperoleh hasil yang baik yaitu 1, sehingga persamaan kurva yang

diperoleh kafein adalah y = 7750,x + 5.

Berdasarkan perhitungan kadar kafein pada minuman berenergi bahwa

kadar kafein yang diperoleh pada sampel A, B, dan C adalah 387,3598 ppm,

130,3522 ppm, 639,3414 ppm kemudian dikonversikan kedalam bentuk mg

sesuai dengan yang tertera pada masing-masing kemasan minuman berenergi,

yaitu 58,2393 mg, 32,5877 mg, 95,9010 mg.

Kadar kafein pada kode sampel A, B, dan C memiliki hasil yang

berbeda-beda, hal ini disebabkan karena sampel tersebut memiliki luas area,

waktu retensi, dan tinggi puncak yang berbeda-beda. Pada sampel A memiliki

waktu retensi 3.589, luas area 3002034, tinggi puncak 86736, sampel B

memiliki waktu retensi 3.431, luas area 4594891, tinggi puncak 140673,

sampel C memiliki waktu retensi 3.812, luas area 101025, tinggi puncak

28971. Berdasarkan waktu retensi didapatkan persamaan, bahwa semakin

lama waktu retensi maka semakin sedikit kadar kafein pada sampel tersebut,

sedangkan berdasarkan luas area dan tinggi puncak didapatkan persamaan

bahwa semakin luas dan tinggi puncak maka semakin banyak kadar

kafeinnya. Persamaan diatas sesuai dengan jenis kromatografi partisi. Jenis

ini memiliki sifat yang stabil, karena fase diamnya tidak terbawa oleh fase

gerak.

Berdasarkan hasil penetapan kadar kafein pada minuman berenergi

yang dijual di swalayan Kota Pekalongan mengandung kafein yang tinggi

pada kode sampel A, dan C sedangkan pada kode sampel B kandungan kafein
33

masih dibawah standar yang di tetapkan oleh BPOM. Menurut surat

keputusan kepala BPOM No. HK.00.05.23.3644 tentang Ketentuan Pokok

Pengawasan Suplemen Makanan menyebutkan bahwa batas konsumsi kafein

maksimum adalah 150 mg/hari dibagi minimal dalam 3 dosis, karena sifat

kafein yang dapat menimbulkan rasa ingin mengonsumsi kembali. Sifat

kafein ini di klarifikasi pada sifat stimulan yang dapat mengurangi kelelahan

fisik dan dapat juga meningkatlan kewaspadaan sehingga rasa kantuk dapat

ditekan. Apabila mengonsumsi kafein dalam jumlah yang melebihi batas akan

menimbulkan efek negatif antara lain yaitu, insomnia kronik, gelisah,

kecemasan, meningkatnya irama jantung, gangguan lambung.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa

minuman berenergi dengan kode sampel A memiliki hasil 58,2393 mg, kode

sampel B 32,5877 mg, dan kode sampel C 95,9010 mg.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan :

1. Bagi konsumen atau masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi minuman

berenergi secara terus-menerus dan berlebihan, karena minuman

berenergi memiliki efek samping yang membahayakan.

2. Bagi peneliti selanjutnya perlu dilakukan perbandingan hasil penelitian

pada penetapan kadar kafein menggunakan metode kromatografi cair

kinerja tinggi (KCKT) dan KLT densitometri.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Kusbaryanto. 2003. Kandungan Zat Aktif pada BeberapA Jenis Minuman


Berenergi. From: (mutiara medika vol 3 no. 1 artikel )
http://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/viewFile/1548/15
94
2. Singh, Kiran Kaur A/P Harbhajan. 2010. Pengaruh Penggunaan Minuman
Berenergi Dikalangan Mahasiswa Fakultas Kesehatan
Masyarakat. From:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/2199777
3. Widyastari, Rizky. Yanti, Purnama Putri. Falepi, Reza. 2015. penetapan
kadar kafein dalam minuman dengan HPLC Diambil dari:
http://www.scribd.com/dokument_download/direct/291329886?
extensions=pdf&ft=1488906421&lt=1488910031&user_id=319
166490&uahk=8TJIAGT7dkMVZjYcvnnEBTH/9bk
4. BPOM, 2004. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.00.05.23.3644. Diambil dari:
http://asrot.pom.go.id/img/peraturan/keputusan%20kepala%20B
POM%20No.%20HK.00.05.23.3644%20tentang%20Ketentuan
%20Pokok%20Pengawasan%20SM.pdf
5. Auliya Puspitaningtyas, Surjani Wonorahardjo, Neena Zakia. Pengaruh
komposisi fasa gerak pada penetapan kadar asam benzoat dan
kafein dalam kopi kemasan mengguankan metode kckt
(kromatografi cair kinerja tinggi) http://jurnal-
online.um.ac.id/data/artikel/artikelC922B78CFA676418EC358
D0E5ABB21CC.pdf
6. Dr. Rohman, Abdul, Msi., Apt. 2011. Analisa Bahan Pangan Pendekatan
Praktek : Vitamin Bahan Tambahan Makanan Turunan Babi
Untuk Autentikasi Halal. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
7. Danasrayaningsih, Suko Veronica. 2007. Penetapan Kadar dalam
minuman berenergi merek X dengan metode Spektrofotometri
derivat aplikadi Peak to peak. Diambil dari
https://repository.usd.ac.id/2548/2/038114015_Full.pdf
8. Anonim. 2006. Minuman Berenergi. Artikel Diambil dari:
http://www.pom.go.id/new/index.php/view/berita/156/minuman
-berenergi.html
9. Dhorothea.2017. bahayakah sesekali menegug minuman berenergi?.
Article Diambil dari :
http://lifestyle.kompas.com/read/2017/02/25/111500723/bahaya
kah.sesekali.meneguk.minuman.berenergi
10. Nugroho, Samodra Andita. 2010. Gambaran Kalsium Darah Pada
Peminum Suplemen Minuman Berenergi Di Daerah Muktiharjo
Semarang. Diambil dari:
http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=j
tptunimus-gdl-anditasamo-5699
11. Nurdiana binti T Daswin. 2012. Pengaruh pengguanaan kafein terhadap
kualitas tidur mahasiswa semester VII fakultas kedokteran
universitas sumatera utara tahun 2012. Diambil dari:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/38963
12. Dalimunthe, Andayani Rina. 2009. Pengaruh Kafein terhadap toksisitas
parasetamol ditinjau dari parameter farmakokinetik, kadar
ast,alt, dan gambaran histopatologi jaringan hati, ginjal, dan
jantung tikus putih. Diambil dari:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/25641
13. Amar, Akmarulhail Bin Mahzan.2011. Pengaruh Kafein Terhadap Fungsi
Kognitif Mahasiswa Institut Perguruan Darul Aman (Ipda)
Berdasarkan Mental Serial Subtraction. Diambil dari:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31382
14. Anonim. Kafeina. Diambil dari: https://ms.wikipedia.org/wiki/Kafeina
15. Anonim. Kafeina. Diambil dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina
16. Putri, Randi Yulistia. 2013. Laporan Praktikum Kimia Analitik penentuan
kadar kafeina (titrasi iodometri). Diambil dari:
https://www.scribd.com/doc/172362804/titrasi-iodometri
17. Putra Lux De Effendy. 2004. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam
Bidang Farmasi. Diambil dari:
http://library.usu.ac.id/download/fmipa/farmasi-effendy2.pdf
18. Anonim. Ebook PerkinElmer
19. S,R, Khopkar.2014. konsep dasar kimia analitik.jakarta. universitas
indonesia
20. Drs. Soebagio, dkk. 2005. Kimia analitik II. Malang. Universitas negeri
malang.
21. R.A. Day, Jay. A.L,Underwood. 1989. Analisis kimia kunatitatif. Jakarta,
erlangga
22. Kurniawati, Desy. Nasra, Edi. 2011. Penentuan Kadar Sakarin dan Kafein
pada Beberapa Minuman Soft Drink secara HPLC. Diambil dari:
http://repository.unp.ac.id/557/1/Penentuan%20Sakarin%20004.
pdf
23. Anonim. 2012. HPLC. Diambil dari:
https://tewewe.wordpress.com/2012/09/05/hplc/
LAMPIRAN

PERHITUNGAN KADAR KAFEIN

No. Standart Luas Area


1 75 581296
2 100 775063
3 125 968824

Didapatkan persamaan linier sebagai berikut:

y = 7750,x + 5 dimana R2 = 1

1. Sampel A

mg kafein ,

= 58,2393 mg

2. Sampel B

mg kafein ,
= 32,5877 mg

3. Sampel C

= 95,9010 mg
LAMPIRAN

GAMBAR PENELITIAN

Gambar 1 : sampel minuman Gambar 2: Preparasi sampel


berenergi

Gambar 3 : Proses Sonikasi


LAMPIRAN

GAMBAR PENELITIAN

Gambar 5: Sampel dimasukan pada Gambar 6: sampel yang telah di taruh

botol vial pada botol vial

Gambar 7 : Sampel dimasukan alat Gambar 8 : Sperangkat alat KCKT


LAMPIRAN

PRIN OUT HASIL

1. Standart 75 mg
2. Standart 100 mg
3. Standart 125 mg
4. Sampel H
5. Sampel M
6. Sampel R