Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Trauma merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Tingkat
kematian (mortality rate) kasus trauma lebih tinggi pada negara-negara
berpenghasilan menengah ke bawah, hal ini berhubungan dengan penggunaan
transportasi bermotor, kurang maksimalnya pembangunan jalan, dan sistem
penanganan trauma yang terbatas. Secara statistik, lebih banyak yang berakhir dengan
kecacatan baik sementara maupun permanen. Statistik gabungan kasus trauma akibat
jatuh dan kecelakaan lalu lintas, mendapatkan angka antara 1000-2600/100.000 jiwa
per tahun pada negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Di negara-negara
berpenghasilan tinggi angka ini hanya sekitar 500/100.000 jiwa per tahun.1

Patah tulang atau fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang
yang disebabkan oleh trauma atau non trauma. Gejala klasik fraktur adalah adanya
riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas
(angulasi, rotasi, diskerepansi), rasa nyeri tekan, krepitasi, gangguan fungsi
muskuloskeletaslakibat nyeri, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan
neurovascular. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur
tidak lengkap adalah fraktur yang tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Pada
beberapa keadaan trauma musculoskeletal, fraktur dan dislokasi dapat terjadi
bersamaan. Hal ini terjadi apabila kehilangan hubungan yang normal antara kedua
permukaan tulang disertai dengan fraktur persendian tersebut.2,3

Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur yang tidak
ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan
dalam penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan kecatatan. Penanganan
fraktur yang salahini biasanya dilakukan oleh bone setter (dukun patah) yang masiih
sering dijumpai di masyarakat Indonesia.2
Pelayanan kesehatan tradisional yang cukup populer di masyarakat Indonesia
adalah pengobatan fraktur, atau sering disebut masyarakat sebagai dukun patah

4
3

tulang,guru singa, atau lebih dikenal dengan sebutan sangkal putung.Tidak sedikit
pasien fraktur yang datang ke pengobatan tradisional terlebih dahulu. Sehingga pada
saat datang ke rumah sakit sudah mengalami komplikasi akibat penanganan
pertamanya yang tidak baik atau tidak sesuai prinsip yang benar.4
Secara epidemiologis, presentase kejadian patah tulang tertinggi di Indonesia
terdapat di propinsi Papua yaitu sebesar 8,3 % sedangkan di Jawa Barat memiliki
presentase sebesar 6,0%. Berdasarkan kelompok umur, angka kejadian patah tulang
tertinggi terjadi pada usia diatas 75 tahun akan tetapi banyak pulaterjadi pada usia
produktif yakni usia sekitar 15-44 tahun. Berdasarkan kelompok jenis kelamin, angka
kejadian patah tulang lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan
presentase 6,6%. Berdasarkan tingkat pendidikan, angka kejadian patah tulang
tertinggi pada tingkat diploma/perguruan tinggi. Berdasarkan status pekerjaan, angka
kejadian patah tulang tertinggi terjadi pada wiraswasta dengan presentase sebesar
7,3%. Berdasarkan tempat tinggal, angka kejadian patah tulang lebih banyak terjadi
di perdesaan daripada di perkotaan dengan presentase 6,0%. Berdasarkan kuintil
indeks kepemilikan, angka kejadian patah tulang tertinggi terjadi pada kelompok
menengah dan teratas dengan presentase sebesar 6,0%.5
Berdasarkan hasil penelitian penderita neglected fracture di RSUD dr. Abdoer
Rahem pada periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013 didapatkan
data 26 pasien neglected fracture yang terdiri dari 11 kasus (42,31%) pada tahun
2012 dan 15 kasus (57,69%) pada tahun 2013. Dari 26 penderita neglected fracture,
20 orang (76,92%) laki-laki dan 6 orang (23,08%) perempuan. Sebanyak 1 orang
(3,85%) berusia kurang dari 24 tahun, 24 orang (92,5%) berusia dewasa atau
produktif, dan 1 orang (3,85%) lanjut usia. Umur rata-rata penderita neglected
fracture adalah 36,38 tahun. Sebanyak 10 orang (38,46%) masuk kelas I, 1 orang
(3,85%) masuk pelayanan kelas 2, sisanya 15 orang (57,69%) masuk pelayanan kelas
3. Dari 26 orang penderita tersebut, sebagian besar (69,23%) pasien mengalami
neglected fracture di ektremitas bawah, yaitu femur, tibia, dan fi bula, sebanyak
30,76% pasien me-ngalami neglected fracture pada ekstremitas atas Sebanyak 12
4

orang (46,155%) mengalami komplikasi nonunion, 12 orang (46,155%) mengalami


komplikasi malunion, dan 2 orang (7,69%) mengalami komplikasi infeksi.6

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat dikemukakan
yaitu:
Bagaimana karakteristik neglected fracture berdasarkan usia, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, latar belakang pekerjaan dan ekonomi serta lokasi anatomis
fraktur yang ditemukan pada pasien di bagian Bedah Rumah Sakit Dustira?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik neglected fracture pada pasien di bagian Bedah
Rumah Sakit Dustira.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mengetahui karakteristik neglected fracture berdasarkan usia, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, latar belakang pekerjaan dan ekonomi serta lokasi anatomis
fraktur yang ditemukan pada pasien di bagian Bedah Rumah Sakit Dustira

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademik
Memberikan informasi mengenai karakteristik neglected fracture dan data hasil
penelitian bisa dipakai untuk penelitian selanjutnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai karakteristik neglected fracture
di masyarakat, dan data ini sebagai dasar pertimbangan bagi Rumah Sakit Dustira
untuk dapat meningkatkan program penanganan fraktur kedepannyax
4
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Patah tulang atau fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang
yang disebabkan oleh trauma atau non trauma. Neglected fracture dengan atau tanpa
dislokasi adalah suatu fraktur yang tidak ditangani dengan tidak semestinya sehingga
menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi yang lebih
buruk dan bahkan kecatatan adalah hilangnya kontinuitas.2,8,9
Patah tulang (fraktur) adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epiphysis, baik yang bersifat total maupun parsial yang pada umumnya
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik
berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung, biasanya disertai cidera di
jaringan sekitarnya.7
Menurut Subroto Sapardan (RSCM dan RS Fatmawati Jakarta, Februari April
1974), Neglected Fracture adalah penanganan patah tulang pada extremitas (anggota
gerak) yang salah oleh bone setter (dukun patah), yang masih sering dijumpai di
masyarakat Indonesia. Pada umumnya neglected fracture terjadi pada orang yang
berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi rendah.10
2.2 Anatomi dan Histologi Tulang
Tulang adalah jaringan ikat hidup yang mengalami kalsifikasi, yang membentuk
sebagian besar kerangka. Tulang berfungsi sebagai penyokong struktur tubuh,
pelindung organ vital, tempat penyimpanan kalsium dan fosfor, pengunngkit otot
untuk menghasilkan gerak serta tempat untuk sel-sel yang memproduksi darah. Ada
dua jenis tulang, yakni compacta dan spongiosa (trabekularis atau cancellous).
Tulang compacta adalah tulang padat yang membentuk lapisan/ cangkang terluar dari
semua tulang dan mengelilingi tulang spongiosa. Tulang spongiosa terdiri dari
spiculae/ berkas-berkas tulang di antara rongga-rongga yang mengandung sel-sel
pembentuk darah (sumsum).11
5

Tulang mendapat vaskularisasi dan persarafan. Umumnya, arteria yang berdekatan


berfungsi sebagai arteria nutriciae, biasanya satu di setiap tulang yang secara
langsung memasuki rongga di dalam tulang dan menyuplai sumsum tulang., tulang
spongiosa, dan lapisan-lapisan dalam tulang compacta. Selain itu, semua tulang
ditutupi dari luar oleh suatu jaringan ikat, membrane fibrosum yang disebut
periosteum, yan g memiliki kemamuan unik untuk membentuk tulang baru, kecuali
pada daerah persendian, dimana didapatkan persendian tulang rawan. Membrane ini
menerima pembuluh-pembuluh darah yang cabang-cabangnya menyuplai lapisan-
lapisan luar tulang compacta. Tulang yang dilepaskan dari periosteumnya tidak akan
bertahan hidup.12

Gambar 2.1 Jenis tulang pada sistem kerangka (Dikutip dari Drake, R.L., Vogl, A.W., Mitchell,
A.W.M., 2012).11

Persarafan beserta pembuluh-pembuluh darah menyuplai tulang dan periosteum.


Sebagian besar nervus/ saraf yang memasuki rongga dalam dengan arteria nutriciae
adalah serabut nervus vasomotorius yang mengatur aliran darah. Tulang sendiri
6

mempunyai sedikit serabut nervus sensorius. Di sisi lain, periosteum disuplai oleh
banyak serabut nervus sensorius dan sangat sensitif terhadap setiap jenis cedera.12
Di sepanjang garis tengah tulang panjang (seperti femur, tibia atau humerus)
terdapat kanal medulari atau rongga sumsum. Rongga ini berisi sumsum tulang merah
yang menghasilkan sel darah; sumsum kuning yang sebagian besar berupa jaringan
lemak; dan banyak pembuluh darah. Lapisan tulang spons mengelilingi rongga
sumsum, dengan rongga menyerupai sarang lebah di lapisan tersebut yang juga
mengandung sumsum. Lapisan spons dikelilingi lapisan tulang padat yang
menyerupai cangkang keras, padat, dan kuat. Kanal-kanal kecil menghubungkan
rongga sumsum dengan periosteum, yaitu membrane yang menyelubungi permukaan
tulang.13

Gambar 2.2 Komponen tulang (Dikutip dari Mescher AL. Histologi dasar junqueira. 12 ed. Jakarta:
EGC; 2011)14

Jaringan tulang terbentuk dari sel khusus dan serta protein, terutama kolagen,
terajut dengan air, kristal mineral dan garam, karbohidrat, dan zat lain. Di dalam
tulang terdiri atas materi antar sel berkapur yaitu matriks tulang dan sel-sel tulang
(osteosit, osteoblast, dan osteoklas). Osteoblas berperan dalam sintesis komponen
7

organik matriks tulang yang terdiri atas kolagen tipe I, proteoglikan dan glikoprotein
termasuk osteonektin. Osteoblas melepaskan vesikel berselubung membran yang
kaya akan fosfatase alkali dan enzim lain yang aktivitasnya meningkatkan konsentrasi
ion PO4- setempat. Dengan konsentrasi kedua ion tersebut yang tinggi, vesikel
matriks tersebut berfungsi sebagai tempat untuk pembentukan Kristal hidroksiapatit
[Ca10(PO4)6(OH)2], yang merupakan permulaan dari kalsifikasi.13,14

Gambar 2.3 Sel-sel tulang (Dikutip dari Eroschenko VP. Atlas histologi diFiore. 11 ed. Jakarta:
EGC; 2010)15

Osteosit merupakan hasil dari sekresi osteoblas yang terselubung dalam lakuna
dan mengelilingi osteoblast. Osteosit memiliki sedikit retikulo endotelial kasar dan
apparatus Golgi serta kromatin inti yang padat. Sel-sel ini secara aktif terlibat dalam
mempertahankan matriks tulang dan kematiannya diikuti oleh resorpsi matriks
tersebut. Osteoklas adalah sel motil bercabang yang sangat besar dengan inti multipel
yang berasal dari penggabungan sel dari sumsum tulang. Osteoklas terdapat di
lekukan atau kriptus yang terbentuk akibat kerja enzim pada matriks di area
terjadinya resorpsi tulang. Osteoklas menyekresi kolagenase, proton dan enzim lain
ke dalam kantong subseluler yang menciptakan suasana asam untuk pencernaan
kolagen.13,14
8

Pertukaran antara osteosit dan kapiler darah bergantung pada komunikasi pada
kanalikuli hal ini karena metabolit tidak dapat berdifusi melalui matriks tulang yang
telah mengapur. Permukaan luar dan dalam tulang ditutupu lapisan sel-sel pembentuk
tulang dan jaringan ikat yang disebut periosteum dan endosterum. Periosteum terdiri
atas lapisan luar berkas kolagen dan fibroblas. Lapisan ini mengandung sel punca
mesenkimal yang disebut sel osteoprogenitor yang berpotensi membelah melalui
mitosis dan berkembang menjadi osteoblast. Sel osteoprogenitor berperan penting
dalam pertumbuhan dan perbaika tulang. Endosteum melapisi rongga dalam di bagian
dalam tulang yang merupakan selapis sel jaringan ikat yang sangat tipis berisi
trabekula atau spikula kecil tulang yang berprojeksi ke dalam rongga. Fungsi utama
periosteum dan endosteum adalah memberi nutrisi pada jaringan tulang dan
menyediakan osteoblast baru secara kontinu untuk perbaikan atau pertumbuhan
tulang.14,15

2.3 Epidemiologi
Secara epidemiologis, presentase kejadian patah tulang tertinggi di Indonesia
terdapat di propinsi Papua yaitu sebesar 8,3 % sedangkan di Jawa Barat memiliki
presentase sebesar 6,0%. Berdasarkan kelompok umur, angka kejadian patah tulang
tertinggi terjadi pada usia diatas 75 tahun. Berdasarkan kelompok jenis kelamin,
angka kejadian patah tulang lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan
dengan presentase 6,6%. Berdasarkan tingkat pendidikan, angka kejadian patah
tulang tertinggi pada tingkat diploma/perguruan tinggi. Berdasarkan status pekerjaan,
angka kejadian patah tulang tertinggi terjadi pada wiraswasta dengan presentase
sebesar 7,3%. Berdasarkan tempat tinggal, angka kejadian patah tulang lebih banyak
terjadi di perdesaan daripada di perkotaan dengan presentase 6,0%. Berdasarkan
kuintil indeks kepemilikan, angka kejadian patah tulang tertinggi terjadi pada
kelompok menengah dan teratas dengan presentase sebesar 6,0%.5
Berdasarkan hasil penelitian penderita neglected fracture di RSUD dr. Abdoer
Rahem pada periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013 didapatkan
9

data 26 pasien neglected fracture yang terdiri dari 11 kasus (42,31%) pada tahun
2012 dan 15 kasus (57,69%) pada tahun 2013. Dari 26 penderita neglected fracture,
20 orang (76,92%) laki-laki dan 6 orang (23,08%) perempuan. Sebanyak 1 orang
(3,85%) berusia kurang dari 24 tahun, 24 orang (92,5%) berusia dewasa atau
produktif, dan 1 orang (3,85%) lanjut usia. Umur rata-rata penderita neglected
fracture adalah 36,38 tahun. Sebanyak 10 orang (38,46%) masuk kelas I, 1 orang
(3,85%) masuk pelayanan kelas 2, sisanya 15 orang (57,69%) masuk pelayanan kelas
3. Dari 26 orang penderita tersebut, sebagian besar (69,23%) pasien mengalami
neglected fracture di ektremitas bawah, yaitu femur, tibia, dan fi bula, sebanyak
30,76% pasien me-ngalami neglected fracture pada ekstremitas atas Sebanyak 12
orang (46,155%) mengalami komplikasi nonunion, 12 orang (46,155%) mengalami
komplikasi malunion, dan 2 orang (7,69%) mengalami komplikasi infeksi.6

2.4 Faktor Risiko Pada Neglected Fracture


2.4.1 Usia
Risiko untuk terjadinya neglected fracture meningkat pada usia 15-64 tahun atau
usia produktif (92,5 %). Dominasi penderita berusia 15-64 tahun ini sesuai data
Riskesdas (2013), yaitu 35,7%.Hal ini dapat disebabkan karena usia 15-64 tahun
merupakan usia produktif, sebagian besar bekerja dan memiliki mobilitas tinggi,
sehingga meningkatkan risiko trauma.5,6

2.4.2 Jenis kelamin


Penderita neglected fracture lebih banyak berjenis kelamin laki-laki daripada
perempuan. Data Riskesdas (2013) juga menghasilkan prevalensi penderita patah
tulang pada pasien laki-laki lebih besar daripada perempuan. Hal ini dapat terjadi
karena laki-laki secara umum bekerja dan memiliki mobilitas tinggi, sehingga lebih
berisiko menderita trauma yang menyebabkan patah tulang, termasuk neglected
fracture.5,6
10

2.4.3 Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan biasanya berhubungan erat dengan pekerjaan dan pendapatan
rumah tangga, serta mempengaruhi sikap dan kecenderungan dalam memilih barang-
barang konsumsi termasuk jasa pelayanan kesehatan. Menurut Broewer, faktor
pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan
penerimaan informasi. Pendidikan yang kurang menyebabkan daya intelektualnya
masih terbatas sehingga perilakunya masih dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya.
Sedangkan seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki pandangan
lebih luas tentang suatu hal dan lebih mudah untuk menerima ide atau cara kehidupan
baru.16
2.4.4 Ekonomi
Adanya biaya yang relatif murah dengan pembayaran uang muka serta dapat
dicicil merupakan salah satu pertimbangan yang mempengaruhi masyarakat untuk
memilih pengobatan tradisional patah tulang. Sebanyak 57,69% penderita neglected
fracture dirawat di kelas pelayanan III diasumsikan bahwa para penderita dengan
status ekonomi lebih rendah.6,17
2.4.5 Lokasi Anatomis Fraktur
Risiko untuk terjadinya neglected fracture ditemukan pada kasus fraktur
ekstremitas bawah yakni 69,23% penderita neglected fractured femur. Hal ini dapat
terjadi karena efek disabilitas fraktur femur yang besar sehingga mendorong pasien
yang gagal di dukun tulang untuk ke dokter. Hal ini sesuai penelitian Sanders, dkk.
(2008) bahwa fraktur femur meninggalkan disabilitas yang besar, bahkan setelah
operasi. 6,18

2.5 Proses Terjadinya Fraktur


Proses terjadinya fraktur tergantung pada keadaan fisik tulang dan keadaan trauma
yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang
dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir.Kebanyakan fraktur terjadi karena
kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar dan
11

tarikan. Trauma dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Trauma langsung
menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan.
Fraktur yang terjadi bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut rusak. Seddangkan
rauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh
dari daerah fraktur dan biasanya jaringan lunak tetap utuh.3

Gambar 2.4 Mekanisme fraktur (Dikutip dari De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta : EGC. 2004)3

2.6 Pemeriksaan Radiologi


Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua:
1. Dua posisi proyeksi, yaitu antero-posterior dan lateral. Jika keadaan pasien
tidak mengizinkan, dibuat dua proyeksi yang tegak lurus satu sama lain. Ada
kalanya perlu proyeksi khusus, misalnya proyeksi aksial, bila ada fraktur pada
femur proksimal atau humerus proksimal.
2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di bawah
sendi yang mengalami fraktur
3. Dua anggota gerak
12

4. Dua trauma, pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah
tulang
5. Dua kali dilakukan foto
Pemeriksaan radiologis selanjutnya adalah untuk kontrol:
a. Segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan
reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen intrameduler (terkadang
pen menembus tulang), plate dan screw (terkadang screw lepas)
b. Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur
- Pembentukan kalus
- Konsolidasi
- Remodeling
- Adanya komplikasi: osteomielitis, nekrosis avaskuler, nonunion,
delayed union, malunion, atrofi Sudeck
Pemeriksaan radiologis lainnya:

1. Tomografi, misalnya pada fraktur vertebra atau kondilus tibia


2. CT-scan
3. MRI
4. Radioisotop scanning

2.7 Penyembuhan Fraktur


Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha
tubuh untuk memperbaiki kerusakan kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan
dari fraktur dipengaruhi oleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor
lokal:19

1. Lokasi fraktur
2. Jenis tulang yang mengalami fraktur
3. Reposisi anatomis dan immobilasi yang stabil
4. Adanya kontak antar fragmen
13

5. Ada tidaknya infeksi


6. Tingkatan dari fraktur

Adapun faktor sistemik adalah :

1. Keadaan umum pasien


2. Umur
3. Malnutrisi
4. Penyakit sistemik.
Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut:19

1. Fase Reaktif
a. Fase hematom dan inflamasi
b. Pembentukan jaringan granulasi
2. Fase Reparatif
a. Fase pembentukan callus
b. Pembentukan tulang lamellar
3. Fase Remodelling
a. Remodelling ke bentuk tulang semula

Gambar 2.5 Gambar Proses Penyembuhan Fraktur (Dikutip dari : De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu
Bedah Edisi 2. Jakarta : EGC. 2004)3

Dalam istilah-istilah histologi klasik, penyembuhan fraktur telah dibagi atas


penyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder.20
14

1. Proses penyembuhan fraktur primer


Penyembuhan cara ini terjadi internal remodelling yang meliputi upaya
langsung oleh korteks untuk membangun kembali dirinya ketika kontinuitas
terganggu. Agar fraktur menjadi menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks
harus menyatu dengan tulang pada sisi lainnya (kontak langsung) untuk
membangun kontinuitas mekanis.
Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling
dari haversian system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah
2. Proses penyembuhan fraktur sekunder
Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-
jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar
dibedakan atas 5 fase, yakni fase hematom (inflamasi), fase proliferasi, fase kalus,
osifikasi dan remodelling.
Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-
jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar
dibedakan atas 5 fase, yakni fase hematom (inflamasi), fase proliferasi, fase kalus,
osifikasi dan remodelling.19

a. Fase Inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan
berkurangnya pembengkakan dan nyeri.

b. Fase proliferasi
15

Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-


benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.

c. Fase Pembentukan Kalus


Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai
terbentuk jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai
tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan.

d. Stadium Konsolidasi
Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus, tulang
yang immature (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone).10
e. Stadium Remodelling.
Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan
bentuk yang berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang
yang terus menerus lamella yang tebal akan terbentuk pada sisi dengan
tekanan yang tinggi.
16

2.8 Kerangka Pemikiran


Patah tulang (fraktur) adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epiphysis, baik yang bersifat total maupun parsial yang pada umumnya
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik
berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung, biasanya disertai cidera di
jaringan sekitarnya.7 Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu
fraktur yang tidak ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan
keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan
kecatatan adalah hilangnya kontinuitas.2,8,9
Di Indonesia sendiri, neglected fracture masih cukup tinggi di Jawa Barat memiliki
presentase sebesar 6,0%. Berdasarkan kelompok umur, angka kejadian patah tulang
tertinggi terjadi pada usia diatas 75 tahun. Berdasarkan kelompok jenis kelamin,
angka kejadian patah tulang lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan
dengan presentase 6,6%. Pemeriksaan radiologi yang umum digunakan untuk
menunjang diagnosis neglected fracture.5