Anda di halaman 1dari 83

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi

Modul yang berjudul Sistem Common Rail Diesel merupakan panduan pembelajaran
mesin diesel. Modul ini digunakan untuk tingkat SMK bidang keahlian teknik kendaraan
ringan, yang di susun dengan memperhatikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik agar
siswa dapat menguasai materi dan memahami serta mengidentifikasi sistem common rail
pada mesin diesel.

Pada proses penyampaiannya modul ini dapat di padukan dengan berbagai model, dan
pendekatan,. Namun secara khusus dalam penyampaianya menggunakan perpaduan model
pembelajaran problem based learning dan course review horey,serta pendekatan scientific
approach. Adapun penjelasanya akan di jabarkan pada RPP serta petunjuk proses
pembelajaran.

Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan memahami tentang sistem common
rail pada diesel serta dapat memperbaiki sistem common rail pada diesel.

1
Common Rail Diesel
B. Petunjuk Proses Pembelajaran
MODEL PETUNJUK BAGI
PETUNJUK BAGI MURID
PEMBELAJARAN GURU

1. Umum a. Membantu siswa dalam a. Perhatikan setiap hal yang


menetukan sumber dijelaskan/digambarkan
belajar lain yang dapat oleh guru.
digunakan untuk belajar.

b. Mengawasi dan b. Catat hal-hal yang


menjelaskan siswa yang dianggap perlu saat guru
mengalami kesulitan. menjelaskan

c. Memberikan test kepada c. Selesaikan tugas-tugas


siswa setiap sub dengan baik yang
kompetensi berakhir. diberikan untuk
mengetahui tingkat
penguasaan materi yang
anda pelajari.
d. Menilai dan mencatat d. Jangan mempelajari
setiap hasil test siswa. modul berikutnya jika
belum memahami benar
pada modul sebelumnya.
e. Memberikan hasil test e. Bertanyalah kepada guru
kepada siswa jika anda mengalami
kesulitan dalam
memahami modul ini.
f. Memberikan umpan f. Carilah sumber belajar
balik kepada siswa lain yang mendukung
berdasarkan hasil dalam mempelajari
testnya. materi.

2
Common Rail Diesel
g. Evaluasi diri sendiri
dengan mengerjakan soal-
soal latihan yang ada pada
modul teori.

2. Model a. Menciptakan dan a. Diam, dan memperhatikan


pembelajaran mengorganisasikan guru dalam
Problem Based kelas yang sesuai untuk mengorganisasikan kelas.
Learning memulai pembelajaran.
b. Menyiapkan alat bantu b. Membantu guru
ajar sesuai petunjuk menyiapkan alat bantu ajar
modul. sesuai petunjuk modul.

c. Memutarkan vidio c. Memperhatikan dan


tentang sistem common menganalisis vidio dan
rail diesel atau power point tentang sistem
menampilkan power common rail diesel.
point yang memancing
minat siswa untuk
menganalisis sistem
common rail.
.
d. Membagi siswa d. Mengikuti perintah guru
menjadi beberapa untuk berpencar menjadi
kelompok sesuai beberapa kelompok dan
dengan bobot materi memberi nama kelompok
yang di pelajari, dan sesuai dengan materi
menamai beberapa komponen yang di
kelompok tersebut pelajari.
dengan komponen pada
sistem common rail.

3
Common Rail Diesel
e. Guru memberi kisi-kisi e. Siswa mengecek kisi-kisi
materi problem yang materi problem yang
akan di pecahkan, kisi- akan di pecahkan yang
kisi telah terlampir pada terlampir pada modul.
modul yang telah
dibagikan pada siswa
f. Siswa di bimbing untuk f. Siswa berdiskusi sesuai
berdiskusi sesuai materi materi yang di pelajari
dan kisi-kisi materi dan memecahkan masalah
problem yang akan di yang ada pada kisi-kisi
pelajari dengan soal dengan bantuan
bantuan bahan ajar yang bahan ajar yang telah
telah dimiliki. disediakan oleh guru.

g. Selama proses g. Siswa berdiskusi dengan


berdiskusi guru baik, tertib, dan aktif.
mendampingi dan
mengamati proses
belajar siswa serta
memberi penilaian
sikap.

3. Model a. Setelah proses diskusi a. Siswa membuat tempat


pembelajaran selesai, untuk menguji jawaban berbentuk tabel
Kooperatif Tipe pemahaman siswa, siswa (kotak) yang berisi sembilan
Course Review disuruh membuat tempat tempat, enam belas kotak
Horay. jawaban berbentuk tabel ataupun dua puluh lima
(kotak) yang berisi kotak. Banyaknya kotak
sembilan tempat, enam tempat jawaban di sesuakian
belas kotak ataupun dua dengan kebutuhan dan tiap
puluh lima kotak. kotak jawaban diisi angka
Banyaknya kotak tempat sesuai selara murid.

4
Common Rail Diesel
jawaban di sesuakian
dengan kebutuhan dan
tiap kotak jawaban diisi
angka sesuai selara
murid.
b. Guru membacakan soal b. Siswa menyimak soal yang
terbaru yang berbanding di bacakan oleh guru secara
lurus dengan kisi-kisi acak sesuai dengan nomor
soal yang diberikan yang telah disiapkan
sebelumnya secara acak sebelumnya. Siswa menulis
sesuai dengan nomor jawaban didalam kotak yang
yang telah disiapkan nomornya disebutkan oleh
sebelumnya. Siswa guru. Soal yang telah
menulis jawaban dibacakan langsung di
didalam kotak yang diskusikan, kalau benar diisi
nomornya disebutkan tanda benar (√) dan salah
oleh guru. Soal yang diisi tanda silang (x). Disini
telah dibacakan langsung dibutuhkan kejujuran dari
di diskusikan, kalau siswa yang telah menjawab
benar diisi tanda benar salah ataupun benar.
(√) dan salah diisi tanda
silang (x). Disini
dibutuhkan kejujuran
dari siswa yang telah
menjawab salah ataupun
benar.
c. Guru memerintahkan c. Siswa/kelompok yang
siswa/kelompok yang sudah mendapatkan tanda
sudah mendapatkan (√) harus segera berteriak
tanda (√) harus segera “horey” atau yel-yel lainya.
berteriak “horey” atau
yel-yel lainya.

5
Common Rail Diesel
d. Nilai siswa di hitung dari d. Siswa menerima penilaian
jawaban benar dan dari guru dengan jumlah
jumlah horey yang jawaban benar dan horey
diperoleh. yang di peroleh.

e. Penutupan pembahasan. e. Siswa menyimak refleksi


Berupa simpulan dari dari guru dan salah satu
guru ataupun perwakilan siswa.
disimpulkan sendiri oleh
siswa.

C. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari dan melaksanakan buku teori common rail diesel ini, siswa
diharapkan mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan memahami :

1. Sistem comon rail


2. Memelihara/servis sistem Common Rail Diesel

6
Common Rail Diesel
D. Cek Penguasaan Materi

Saya telah
menguasai
kompetensi ini Bila jawaban
Kompetensi Dasar Pertanyaan
ya kerjakan

Ya Tidak

1. Memahami sistem Apakah anda sudah dapat


Common Rail Diesel. memahami,sistem Uji
Common Rail pada Diesel
mulai dari sejarah, nama Kompetensi 1
komponen, fungsi dan
cara kerjanya? Halaman 32

2. Memelihara/servis sistem Apakah anda sudah dapat Uji


Common Rail Diesel. memahami cara
Kompetensi 2
memelihara/merawat
sistem Common Rail
Diesel? Halaman 71

Isilah tabel di bawah dengan cek list (√) dengan sikap jujur dan dapat
dipertanggungjawabkan untuk mengetahui kemampuan awal yang telah anda miliki.

Apabila anda menjawab tidak, pada salah satu pertanyaan yang ada pada tabel di
atas maka pelajarilah modul ini. Jika anda menjawab ya maka kerjakanlah soal -soal uji
kompetensi yang tersedia pada setiap kegiatan pembelajaran untuk mengetahui pengusaan
materi anda. Jika anda merasa kesulitan dalam menjawabnya maka pelajarilah modul ini.

7
Common Rail Diesel
BAB II

PEMBELAJARAN

A. Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini
dan mintalah bukti belajar Guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Alasan Tanda
Jenis Kegiatan Tanggal Waktu Tempat Belajar
Perubahan Tangan Guru

1. Memahami dan
menjelaskan
sejarah, komponen,
dan fungsi
Common Rail

2. Memahami dan
menjelaskan cara
kerja, kekurangan
dan kelebihan serta
pengaplikasian
Common Rail Diesel.
3. Menjelaskan, dan
mendeteksi
kerusakan dan cara
memperbaiki sistem
common rail diesel.

8
Common Rail Diesel
B. Kegiatan Belajar

Isi dari kegiatan belajar pada modul ini merupakan materi-materi berisi tentang
pembelajaran yang terbagi menjadi tiga kelompok materi belajar dimana kelompok pertama
terdiri dari sejarah, nama komponen, dan fungsi komponen sistem common rail diesel .
Kelompok kedua terdiri dari cara kerja, kekurangan dan kelebihan serta pengaplikasian alat
sistem common rail diesel. Dan kelompok ke tiga terdiri dari mendeteksi kerusakan dan cara
memperbaiki sistem common rail pada diesel. Dengan mempelajari secara baik-baik isi materi
pada kegiatan belajar, anda akan lebih menguasai kompetensi yang harus dicapai dalam mata
pelajaran menginterpretasikan gambar teknik.

Berikut kompetensi serta judul pembelajaran dalam modul menginterpretasikan


gambar teknik yang akan anda pelajari:

1. Menjelaskan dan memahai sejarah sistem common rail diesel.

2. Menjelaskan dan memahai nama komponen sistem common rail diesel.

3. Menjelaskan dan memahai fungsi sistem common rail diesel.

4. Menjelaskan dan memahai kekurangan dan kelebihan common rail diesel.

5. Menjelaskan dan memahai pengalikasian sistem common rail diesel.

6. Mendeteksi kerusakan dan cara memperbaiki sistem common rail pada diesel.

9
Common Rail Diesel
BAB III

KEGIATAN PEMBELAJAR

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pembelajaran ini meliputi Tujuan Umum Pembelajaran (TUP) dan Tujuan
Khusus Pembelajaran (TKP):

B. Tujuan Umum Pembelajaran

Siswa dapat memahami, mengidentifikasi serta dapat menjelaskan sitem Common Rail
Disel

C. Tujuan Khusus Pembelajaran

Setelah mempelajari pokok bahasan ini siswa diharapkan dapat:

1. Memahami sejarah sistem common rail diesel.

2. Menyebutkan nama komponen sistem common rail diesel.

3. Menyebutkan fungsi komponen sistem common rail diesel.

4. Memahami cara kerja sistem common rail diesel.

5. Mendeteksi kerusakan pada sistem common rail diesel.

6. Memahami cara memperbaiki sistem common rail diesel.

7. Menyebutkan kekurangan dan kelebihan sistem common rail diesel.

8. Menyebutkan pengaplikasian sistem common rail diesel pada kendaraan

10
Common Rail Diesel
BAB IV

URAIAN MATERI

MODUL BAGIAN I

A. SEJARAH SISTEM COMON RAIL DIESEL

Direct Injection Electronic Commonrail (Common Rail) adalah sistem injeksi


bahan bakar langsung pada berbagai mesin diesel modern yang setara dengan sistem injeksi
bahan bakar langsung pada mesin bensin. Teknologi ini sebetulnya telah dikenal sejak satu
abad silam, yang digunakan pada mesin lokomotif dan kapal selam. Hanya saja common rail
di masa itu masih menggunakan sistem mekanis dalam membuka katup injektor. Common Rail
modern, yang berbasis elektronik kemudian dikembangkan pertama kali pada tahun 1960 oleh
ilmuwan asal Swiss Robert Huber, yang kemudian dikembangkan lebih jauh lagi oleh Dr.
Marco Ganser. Pada tahun 1990-an, Magneti Marelli, Centro Ricerche Fiat dan Elasis
berkolaborasi membuat prototipe Common rail. Robert Bosch Gmbh, kemudian membeli
paten prototipe tersebut dari Fiat Group untuk dirpoduksi massal. Mobil penumpang pertama
yang mengadopsi Common Rail adalah Alfa Romeo 156 pada 1997.

Gambar.1.1. Alfa Romeo 156 pada 1997.

Namun, penggunaan Common rail modern secara massal sebetulnya dilakukan di


Jepang pada tahun 1995. Hanya saja kendaraan yang memakai teknologi tersebut adalah truk,

11
Common Rail Diesel
bukan mobil penumpang. Pengembangan di Jepang dilakukan oleh Dr. Shohei Itoh dan
Masahiko Miyaki. Dua insinyur yang bekerja untuk Denso Corporation itu mengembangkan
Common Rail untuk kendaraan berat. Pada Tahun 1995, Common Rail buatan Denso
diaplikasikan pada truk Hino.

Sebelum Common rail hadir, sistem yang digunakan adalah sistem dimana pompa
bahan bakar dengan tekanan rendah memberikan tekanan diesel ke masing-masing injector
Unit (Pump/Duse atau pompa nozel).

Menurut Macamnya, diesel common rail terhitung direct injection, di mana bahan bakar
segera disemprotkan ke piston. Pembakaran dipicu oleh angin yang dimampat atau
dikompresikan di dalam silinder. Disebabkan pemampatan itu, desakan angin serta suhunya
jadi benar-benar tinggi, serta meraih titik bakar solar, saat solar disemprotkan ke angin yang
dimampatkan itu, solar segera terbakar. Lewat cara ini, mesin diesel tak membutuhkan busi
untuk pemantik api.

Perbedaan utama common rail dengan jenis diesel yang lama yaitu system injeksinya,
system common rail ini dipadukan dengan system injeksi yang dikontrol dengan cara
elektronik, sedang jenis diesel yang lama injektor buka lantaran desakan bahan bakar, namun
pada common rail yang buka injektor yaitu arus listrik dari ECU (computer). Jumlah bahan
bakar serta putaran mesin diatur dengan cara terpisah oleh control module (ECU).

Teknologi Common Rail Injection (Injeksi Rel Berbarengan) adalah satu diantara
teknologi injeksi pada bahan bakar yang ada pada area bakar dengan system desakan yang
dihasilkan dengan cara terpisah oleh mesin injektor. Teknologi common rail injection
membutuhkan alat penampung yang memilikei tEkanan tinggi pada nozzel. System desakan
injeksi itu bisa ditata dengan cara terpisah dari putaran mesin serta jumlah bahan bakar yang
sudah terinjeksi menurut hitung spesifik. Tingkat desakan injeksi di dalam penampung itu
meraih 1600 bar yang mengalir menuju injector.

12
Common Rail Diesel
Gambar 1.2. Sistem Supply Bahan Bakar Dari Tangki Hingga Ke ruang Mesin

Teknologi common rail injector berperan untuk mengurangi emisi gas buang pada
mesin serta untuk melakukan penghematan bahan bakar hingga lebih efektif. Karenanya ada
teknologi common rail injeksi diinginkan system pembakaran pada mesin jadi lebih maksimal.
Dengan system kerja yang optimal pada teknologi common rail injection dapat membuat mesin
menjadi panas serta bisa menyebabkan kebakaran dan ledakan jika berlangsung kebocoran.

Common Rail Injector pada mesin generasi baru menyemprotkan bahan bakar solar
langsung ke ruang pembakaran (bukan intake manifold) dengan tekanan yang sangat tinggi,
sehingga menghasilkan uap pengabutan bahan bakar yang sangat halus. Akibatnya proses
pembakaran menjadi jauh lebih sempurna.

13
Common Rail Diesel
Gambar 1.3. Sistem Supply Bahan Bakar Dari Tangki Hingga Ke ruang Mesin

B. PENGERTIAN DAN FUNGSI SISTEM COMMON RAIL

Injeksi rel bersama atau dalam bahasa Inggris disebut dengan common-rail injection
adalah salah satu metode injeksi bahan bakar ke dalam ruang bakar dengan sistem penghasil
tekanan yang ditempatkan terpisah dari injektor itu sendiri. Dalam injeksi rel bersama
diperlukan suatu penampung tekanan tinggi yang terdiri dari pipa rel (Rail) dan jalur bahan
bakar tekanan tinggi menuju nosel yang di injeksikan menggunakan sistem electrik terpadu.
Tekanan injeksi dapat diatur terpisah dari putaran mesin dan kuantitas bahan bakar yang
terinjeksikan dapat diatur menurut batasan tertentu. Tekanan di dalam penampung dapat
mencapai 1.600 bar dan dialirkan melalui pipa tegar menuju injektor.

Sistem injeksi rel bersama umum digunakan untuk efisiensi bahan bakar yang lebih
baik dan pengurangan emisi mesin diesel. Hasil akhir dari penggunaan sistem ini adalah
pembakaran yang optimal dalam semua rentang beban. Sistem bahan bakar Common Rail biasa

14
Common Rail Diesel
disebut dengan CRFIS. (Common Rail Fuel Injection System) atau CRICS (Comon Rail
Injection Control System).

Gambar.2.1. Pengaplikasian sistem Common Rail

Gambar.2.2. Skema alairan bahan bakar sistem Comon Rail

15
Common Rail Diesel
Fungsi common rail adalah :

➢ Menyediakan bahan bakar terhadap engine


➢ Membangkitkan tekanan tinggi bahan bakar yang diperlukan serta
mendistribusikannya ke masing-masing silinder
➢ Menginjeksikan bahan bakar dengan jumlah dan waktu injeksi yang tepat / presisi

C. KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM COMMON RAIL

Komponen-komponen utama dari sistem common rail adalah :

➢ Pre-supply pump
➢ High-pressure pump
➢ High-pressure accumulator (rail)
➢ Pressure-control valve
➢ Rail-pressure sensor
➢ Injectors
➢ ECU with sensors
➢ Pressure-limitter valve
➢ Flow limiter

1. Pre Supply Pump (Pompa pengalir)

Adalah pompa yang yang berfungsi untuk menyalurkan bahan bakar dari tangki ke
pompa tekanan tinggi. Letaknya berada didalam tangki bahan bakar atau jadi satu dengan high.

Gambar. 3.1. Pre Supply Pump (Pompa pengalir)

16
Common Rail Diesel
Pre Suply Pump ada dua jenis, yaitu :

a) Tipe mekanik

1) Menggunakan putaran engine untuk memutar drive gear

2) Pengiriman jumlah bahan bakar proporsional sesuai putaran engine

3) Terdapat shut off elektromagnetis untuk menutup saluran

Suction Discharge

Gambar.3.2. Pre Suply Pump Mekanik

b) Tipe elektrik

Terdiri dari :

1) Roller cell pump

2) Roller cell digerakkan oleh elecrik motor

3) Electric motor

4) Non-return valve

17
Common Rail Diesel
Elecric motor
Non-return
valve
Gambar.3.3. Pre Suply Pump eletrik

2. High Pressure Pump

Adalah pompa yang yang berfungsi untuk menyalurkan bahan bakar dari tangki ke
pompa tekanan injektor dengan tekanan yang tinggi.

Gambar.3.3. High Pressure Pump

Cara kerja :

a) Ketika plunyer bergerak ke bawah, katup inlet terbuka sehingga bahan bakar
masuk ke ruangan pompa.

18
Common Rail Diesel
b) Pada posisi titik mati bawah dan plunyer mulai bergerak naik, katup tertutup
karena katup ini jenis katup satu arah, dan bahan bakar terkompresi akibat
plunyer yang bergerak naik, sehingga bahan bakar terdorong keluar.

c) Terdapat electromagnetic switch off yang berfungsi untuk menghentikan aliran


bahan bakar saat engine stop

3. High-Pressure Accumulator (Pipa Rel)

Merupakan penampung bahan bakar bertekanan tinggi yang dijhasilkan oleh pompa
tekanan tingggi, yang terdapat pada saluran tekanan tinggi, yang dihubungkan pada sisi intake
manifold dengan pipa-pipa injector. Rail digunakan sebagai penyimpanan tekanan tinggi.
Selain berfungsi untuk menyimpan bahan bakar rel juga berfungsi untuk mencegah fluktuasi
bahan bakar.

Gambar.3.6. High-Pressure Accumulator (Pipa Rel)

Kontruksi :

a) Rail dibuat dari pipa baja tempa

b) Diameter dalam kira-kira 10 mm

c) Panjang rail antara 280-600 mm

d) Volume bias dibuat sekecil mungkin dan sebesar yang diperlukan

Gambar.3.7. Kontruksi High-Pressure Accumulator (Pipa Rel)

19
Common Rail Diesel
4. Pressure Control Valve

Katup pengontrol tekanan bahan bakar yang terletak dibagian belakang rail merupakan
komponen yang berperan mengontrol tekanan bahan bakar pada rail dan mempertahankan
tekanan pada rail agar selalu pada keadaan konstan

Gambar.3.8. Pressure Control Valve

Pada Pressure Control Valve dalam kerjanya dilengkapi dengan sebuah sensor tekanan
rail (Rail-Pressure Sensor) yang fungsinya adalah :

a) Memeriksa/mengukur tekanan di dalam pipa rel

b) Memberikan data input yang selanjutnya dikirimkan ke ECU (Control system)

Data dari ECU nanti yang akan menentukan kerja dari Pressure Control Valve sebagai
pengatur/penjaga tekanan didalam pipa rel.

Gambar.3.9. Cara kerja Pressure Control Valve

20
Common Rail Diesel
5. Injector

Berfungsi sebagai pengabut bahan bakar, sehingga bahan bakar mudah bercampur
dengan udara dan sehingga memudahkan terjadinya proses pembakaran. Besarnya jumlah
injeksi bahan bakar tergantung dari lamanya pengendalian selenoid, lamanya membuka dan
menutup jarum nozzle, aliran bahan bakar pada nozzle, membukanya jarum nozlle dan tekanan
rail.

Gambar.3.10. Injector dan komponennya

Pada generasi ketiga common rail diesel sekarang telah menggunakan fitur injector
piezoelektrik untuk meningkatkan presisi, dengan tekanan bahan bakar diesel hingga 3.000 bar
atau setara 44.000 psi. Bandingkan saja dengan pompa bensin pada berbagai kendaraan balap
yang hanya menggunakan tekanan pompa bensin antara 25-75-psi. Pompa bahan bakar yang
digunakan juga khusus, karena tidak mudah untuk memampatkan bahan bakar cair ini menjadi
puluhan ribu psi. Pada umumnya digunakan mechanical pump (bukan electric fuel pump) untuk
mampu menghasilkan tekanan sebesar ini

21
Common Rail Diesel
Gambar.3.11. Piezo Injector (Bosch)

6. Flow Limiter (komponen tambahan)

Fungsi :

a) Untuk mencegah terjadinya injeksi yang berlanjut ketika terjadi ganguan salah
satu injector membuka terus.
b) Cara kerjanya adalah Flow limiter akan menutup saluran ke injector segera
setelah bahan bakar keluar dari pipa rel apabila terjadi ganguan tersebut.

7. ECU (Electronic Control Unit) dan Sensor

Common rail adalah system injeksi yang dikontrol oleh ECU (Electronic Control Unit).
ECU berfungsi mengontrol dan memonitor system injeksi secara menyeluruh. Sensor berfungsi
untuk membaca data yang terukur didalam proses yang nantinya akan dikirim ke ECU dengan
akurasi yang tepat dan secepat mungkin

Gambar.3.12. ECU (Electronic Control Unit)

22
Common Rail Diesel
8. Sensor – sensor

Dalam sistem common rail yang notabennya adalan sistem contol elektronik yang
diatur oleh ECU, pastilah terdapan sensor -sensor unruk mendukung ECU tersebut. Adapun
sensor – sensor adalah sebagai berikut :

Gambar.3.13. ECU (Electronic Control Unit) dan Sensor

a) Rail-Pressure Sensor
Berfungsi untuk membaca dan mengetahui ekanan di dalam rel.
b) Crankshaft-speed sensor
Berfungsi untuk mendeteksi seberapa kecepatan yang dihasilkan dari poros engkol.
c) Camshaft sensor
Berfungsi untuk mendeteksi posisi dari camshaft.
d) Accelerator-pedal traveler sensor
Berfungsi untuk mendeteksi seberapa sudut yang dihasilkan dari penekanan pedal
gas (pedal akselerasi).
e) Boost – pressure sensor
Berfungsi untuk mendeteksi tekanan udara dalm intake manifold.
f) Coolant-temperature sensor
Berfungsi untuk mendeteksi seberapa suhu/temperature dari air pendingin untuk
menegetahui suhu engine.
g) Air temperature sensor
Berfungsi untuk mendeteksi suhu/temperature dari udara masuk.
h) Air – mass meter
Berfungsi untuk mendeteksi massa udara yang masuk.

23
Common Rail Diesel
NOTES

Catatlah dan ringkaslah pengetahuan yang kamu dapatkan dari berbagai sumber
untukmemperluas pemahaman mu tentang sistem common rail diesel.

Semakin banyak catatan mu semakin luas pengetahuan mu.

24
Common Rail Diesel
TUGAS SISWA I

A. Tugas Diskusi

1. Berdiskusilah dengan teman/kelompok anda dan kerjakan soal yang ada pada modul.

B. Tugas Diskusi

2. Buatlah rangkuman pada buku tulis anda mulai dari sejarah, nama komponen, dan
fungsi masing masing komponen.

3. Berdiskusilah dengan teman/kelompok anda dan kerjakan soal yang ada pada modul.

C. Kisi-Kisi Soal

I. Pilihan Ganda
1. Pada tahun berapakah sistem common rail diesel berbasis electronic di kembangkan?
a. 1940
b. 1950
c. 1960
d. 1970
e. 1980
a. Siapakah nama ilmuwan yang pertama kali mengembangkan sistem common rail
diesel berbasis electronic?
a. Robert Huber
b. Dr. Marco Ganser
c. Dr. Shohei Itoh
d. Robert Bosch Gmbh
e. Mashahiko Miyaki
b. Mobil merek apakah yang pertama kali menggunakan sistem common rail?
a. Alfa Romero 154
b. Alfa Romero 155
c. Alfa Romeo 156
d. Mercedes Benz E425

25
Common Rail Diesel
e. Mercedes Benz E420
c. Berapakah tekanan yang dihasilkan oleh injector piezoelectrik?
a. 2.000 bar
b. 3.000 bar
c. 4.000 bar
d. 5.000 bar
e. 6.000 bar
d. Berikut adalah fungsi Common Rail diesel adalah kecuali?
a. Menyediakan bahan bakar terhadap engine
b. Membangkitkan tekanan tinggi bahan bakar yang diperlukan serta
mendistribusikannya ke masing-masing silinder
c. Memberikan tekanan tinggi bahan bakar yang diperlukan untuk
mendistribusikannya ke masing-masing silinder.
d. Menginjeksikan bahan bakar dengan jumlah dan waktu injeksi yang tepat /
presisi.
e. Menyuplay bahan bakar ke dalam raung bakar
e. Menyalurkan bahan bakar dari tangki ke pompa tekanan tinggi merupakan fungsi
dari?
a. High Pressure Pump
b. Pre Supply Pump
c. High-Pressure Accumulator
d. Pressure Control Valve
e. Injector
f. Apakah fungsi dari Flow Limiter?
a. Untuk menambah Untuk mencegah terjadinya injeksi yang berlanjut ketika
terjadi ganguan salah satu injector membuka terus.

b. Terjadinya injeksi yang berlanjut ketika terjadi ganguan salah satu injector
membuka terus.

c. Untuk membatasi tekanan yang ada dalam pipa rel agar tidak berlebihan .

d. Untuk menginjeksikan bahan bakar dengan jumlah yang tepat kedalam ruang
bakar pada waktu (timing injection) yang tepat.

26
Common Rail Diesel
e. Memberikan tekanan tinggi bahan bakar yang diperlukan untuk
mendistribusikannya ke masing-masing silinder

g. Apakah nama alat berikut?

a. Armature
b. Pressure Control Valve
c. Pressure Control Unit
d. Injector
e. High-Pressure Accumulator
h. Pada tahun berapakah penggunaan common rail diesel dilakukan ?
a. 1991
b. 1992
c. 1993
d. 1994
e. 1995
i. Berikut merupakan komponen utma sistem common rail kecuali?
a. Flow timmer
b. ECU with sensors
c. Pressure-limitter valve
d. Flow limiter
e. High-Pressure Accumulator

27
Common Rail Diesel
II. Isian
1. Sebutkan komponen-komponen utama dari sistem common rail adalah !
2. Jelaskan cara kerja dari Rail-Pressure Sensor !
3. Pada Pressure Control Valve dalam kerjanya dilengkapi dengan sebuah sensor
tekanan rail (Rail-Pressure Sensor) yang fungsinya adalah :
4. Apa nama alat berikut, serta jelaskan fungsinya.

5. Jelaskan fungsi dan cara kerja dari pressure-Limitter Valve


6. Jelaskan pengertian dari sistem Common Rail pada Diesel
7. Apakah nama alat berikut dan sebutkan fungsinya.

8. Jelaskan alur kerja dari sistem common rail diesel.


9. Coba anda analisis mengapa daya yang dihasilkan oleh sistem common rail diesel
tipe terbaru lebih besar di bandingkan dengan tipe diesel non common rail?
10. Sebutkan dan jelaskan nama serta cara kerja dari komponen berikut.

28
Common Rail Diesel
MODUL BAGIAN II

A. CARA KERJA SISTEM COMMON RAIL DIESEL

Pada dasarnya, pembagian kerja common rail dibagi tiga skema, yaitu :

Sub functions of a CRFI system

COMMON RAIL FUEL INJECTION SYSTEM

Low pressure circuit High pressure circuit ECU with sensors


Gambar.1.1. Skema cara kerja common rail

1. Low-Pressure Circuit

Low-pressure circuit bertujuan untuk mengalirkan bahan bakar menuju High-pressure


circuit. Aliran bahan bakar pada low-pressure circuit adalah :

Fuel tank Pre-supply pump Fuel filter Saluran pengembali


bahan bakar

Gamabar.1.2. Low-Pressure Circuit

29
Common Rail Diesel
Bahan bakar dialirkan dari tangki bahan bakar oleh pre-supply pump menuju ke pompa
tekanan tinggi melewati saringan bahan bakar.

2. High-Pressure Circuit

High-pressure circuit berfungsi untuk membangkitkan tekanan tinggi yang konstan


didalam pipa rel (Rail), dan juga untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar melewati
injector. Aliran bahan bakarnya pada high-pressure circuit adalah :

High – pressure pump Pressure-control valve Rail (pipa rel)

Injectors Saluran tekanan Rail –pressure sensor


tinggi

Gambar.1.3. High-Pressure Circuit

a) Bahan bakar dari sirkuit tekanan rendah masuk ke pompa tekanan tinggi.
b) Didalam pompa tekanan tinggi ini, tekanan bahan bakar dibangkitkan/dinaikkan
menjadi tekanan tinggi.
c) Bahan bakar bertekanan tinggi tadi akan melewati pressure control valve yang
berfungsi untuk mengontrol/mengatur tekanan bahan bakar sesuai dengan kondisi
yang ada (berdasarkan ECU).
d) Selanjutnya, bahan bakar bertekanan tinggi masuk ke pipa rel (High accumulator
rail). Tekanan dalam pipa rel bisa mencapai maksimal 1350 atau 1500 bar (untuk
kendaraan baru bisa mencapai 1800 bar).

30
Common Rail Diesel
e) Pada pipa rel dilengkapi dengan rail-pressure sensor untuk mendeteksi tekanan
yang ada didalam pipa rel tersebut dan kemudian dikirimkan ke ECU dalam bentuk
sinyal elektrik (impuls).
f) Diujung pipa rel juga terdapat Pressure-limitter valve (katup pembatas tekanan).
Apabila tekanan didalam pipa rel berlebihan, tekanan bahan bakar tadi mampu
membuka katup yang berhubungan dengan saluran pengembali, sehingga bahan
bakar akan mengalir ke saluran pengembali bahan bakar.
g) Tekanan yang didijinkan oleh Pressure control valve didalam pipa rel adalah
maksimal 1350, 1500 atau 1800 bar tergantung jenis kendaraan.
h) Bahan bakar bertekanan tinggi selanjutnya mengalir ke injektor untuk diinjeksikan
kedalam ruang bakar. Penginjeksian bahan bakar pada injektor tergantung ECU
sesuai urutan saat penyemprotan.
i) Pada injektor juga terdapat saluran pengembali bahan bakar untuk mengembalikan
sisa bahan bakar yang tidak diinjeksikan.

3. ECU dan Sensor-Sensor

a) Common rail adalah system injeksi yang dikontrol oleh EDC (Electronic Driver
Control)
b) ECU mengontrol dan memonitor sistem injeksi secara menyeluruh
c) Sensor berfungsi untuk membaca data yang terukur didalam proses yang nantinya
akan dikirim ke ECU dengan akurasi yang tepat dan secepat mungkin.

31
Common Rail Diesel
Gambar.1.4. ECU Pada Common Rail

Seperti yang diketahui diatas, sensor-sensor yang digunakan pada sistem common rail
diantaranya :

• Rail Presure sensor


• Crankshaft-speed sensor
• Camshaft sensor
• Accelerator-pedal traveler sensor
• Boost – pressure sensor
• Coolant-temperature sensor
• Air temperature sensor
• Air – mass meter

32
Common Rail Diesel
Gambar.1.5. Sensor-Sensor

Berdasarkan data-data dari sensor-sensor tersebut, ECU kemudian menghitung dan


mengolah data-data seperti banyaknya bahan bakar yang telah diinjeksikan, awal waktu injeksi,
waktu/durasi injeksi, dan sebagainya, sehingga akan menghasilkan komposisi sistem injeksi
yang sangat akurat.

B. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PADA SISTEM COMON RAIL DIESEL

1. Kelebihan Penggunaan Common Rail:

a) Sistem common rail menawarkan peningkatan atomisasi bahan bakar, sehingga


meningkatkan pengapian dan pembakaran dalam mesin.

b) Sistem common rail juga memberikan peningkatan kinerja, menurunkan konsumsi


bahan bakar, dan membuat getaran mesin lebih halus.

c) Waktu pembakaran yang lebih sempurna, sehingga menghasilkan tenaga mesin


yang jauh lebih baik dan lebih efisien serta proses gas buang yang jauh lebih
bersahabat.

2. Kelemahan penggunaan Common Rail:

a) Di sisi lain Common rail membutuhkan BBM Solar berkualitas tinggi. Solar yang
direkomendasikan adalah Solar DEX. Kandungan sulfur pada Solar DEX paling

33
Common Rail Diesel
rendah yakni 300 ppm. Lebih rendah dibandingkan dengan Biosolar 500 ppm atau
Solar biasa yang mencapai 3500 ppm. Selain itu cetane number (nilai oktan) Solar
DEX paling tinggi yakni 53. Biosolar di angka 51 dan solar biasa hanya 48.
Penggunaan BBM Solar biasa dapat membuat injektor mampet dan jebol.

b) Selain itu kelemahan dari sistem injeksi rel bersama adalah tekanan kerja yang
sangat tinggi menyebabkan ketegangan material yang tinggi. Implikasi dari hal ini
adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila terjadi kebocoran sehingga
perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

c) Dengan kombinasi tekanan bahan bakar yang sangat besar, penggunaan injector
piezoelektrik serta engine control unit (ECU), maka proses pemberian bahan bakar
tidak terjadi satu kali dalam proses pembakaran seperti layaknya pada mesin biasa,
namun pemberian bahan bakar dapat terjadi beberapa kali dalam satu kali dalam
proses pembakaran yang dikontrol oleh engine control unit (ECU).

34
Common Rail Diesel
C. PENGAPLIKASIAN SISTEM COMMON RAIL DIESEL

Pengaplikasian Sistem Common Rail Diesel pada kendaraan AUDI 4.2 I V8 TDI

Exhaust emission standard : EU IV

High-pressure 200-1600 bar

Return pressure from injector 10 -11 bar

Supply pressure max. 1.8 bar

Return pressure max. 1.8 bar

Gambar.3.1. Exhaust emission standard

Keterangan :

1) Fuel tank module with suction jet pump, non-return valve and prefilter fuel
pump (pre-supply pump)

2) Fuel filter with water separator

35
Common Rail Diesel
3) High-pressure pump

4) Fuel temperature sender

5) Rail element, cylinder bank I

6) Rail element, cylinder bank II

7) Injectors

8) Retention valve

9) Temperature-dependent switchover

10) Fuel cooler (air) on vehicle underbody

1. Tangki bahan bakar menggunakan double tangki yang dilengkapi dengan


pre- supply pump

Gambar.3.2. Fuel tank

Pre-supply pump mengalirkan bahan bakar ke pompa tekanan tinggi dengan tekanan
0,8-1,8 bar.

2. High-Pressure Pump Unit

Unit :

1. High-pressure pump

2. Fuel metering valve (fuel metering unit


fuel metering unit)

3 3. Mechanical fuel pump 4.5-6.2 bar


2
1 Gambar.3.3. High-pressure pump unit

36
Common Rail Diesel
High pressure pump berfungsi untuk membangkitkan tekanan tinggi dari supply
tekanan rendah sampai pada injektor. Awalnya, pompa mekanik (mechanical fuel pump)
mengalirkan bahan bakar ke sisi pompa tekanan tinggi dengan tekanan antara 4,5 – 6,2 bar.

Pompa tekanan tinggi menggunakan tiga piston yang terletak di dalam inner chamber
dan digerakkan oleh puli intake camshaft yang tersambung dengan sabuk bergigi, mengalirkan
bahan bakar ke pipa rel hingga ke injektor dengan tekanan tinggi (maksimal 1600 bar).

3. Fuel pressure regulating valve (katup pengatur tekanan bahan bakar)

Pada pipa rel dilengkapi dengan katup pengatur tekanan bahan bakar yang berfungsi
untuk mengatur/mengontrol tekanan tinggi didalam pipa rel yang kerjanya tergantung dari
output sinyal elektrik dari ECU. Tekanan yang dijinkan didalam pipa rel adalah maksimal 1600
bar.

Iron plate

Armature

Valve seat ball

Compression spring

Gambar.3.4. Fuel pressure regulating valve

37
Common Rail Diesel
4. Rail (Pipa rel)

Gamabar.3.5. Rail (Pipa rel)

Pipa rel yang digunakan adalah dua buah pipa rel yang masing-masing melayani empat
injektor (Rail 1 untuk injektor 1-4 dan rail 2 untuk injektor 5-8). Pipa rel berfungsi untuk
menampung bahan bakar dengan tekanan tinggi yang konstan sebelum dialirkan ke injektor.
Tekanan maksimal yang diijinkan adalah 1600 bar, dengan saluran kembali bahan bakar yang
mengurangi tekanan bahan bakar apabila terjadi tekanan berlebih.

High pressure line

Cap nut

Restrictor

Rail

Gambar.3.6. Pipa rel

38
Common Rail Diesel
5. Injektor

Injektor yang digunakan pada sistem common rail yang diterapkan pada AUDI
adalah tipe piezoelectric injector model multi hole (7-8 hole).

Gambar.3.7. Injektor

Keunggulan injektor jenis ini adalah :

1) Membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk mengawali tiap siklus kerja
injeksi.

2) Mampu menerima tekanan yang sangat tinggi dari tekanan bahan bakar.

3) Langkah siklus sangat presisi (memiliki akurasi yang sangat tinggi).

4) Piezoelectric injector membutuhkan tegangan pembangkit sebesar 110-148 V


melalui sebuah kapasitor yang ada pada control unit.

39
Common Rail Diesel
NOTES

Catatlah dan ringkaslah pengetahuan yang kamu dapatkan dari berbagai sumber
untukmemperluas pemahaman mu tentang sistem common rail diesel.

Semakin banyak catatan mu semakin luas pengetahuan mu.

40
Common Rail Diesel
TUGAS SISWA II

A. Tugas Diskusi

1. Berdiskusilah dengan teman/kelompok anda dan kerjakan soal yang ada pada modul.

B. Kisi-Kisi Soal

Pilihan Ganda
1. Low-pressure circuit bertujuan untuk mengalirkan bahan bakar menuju High-
pressure circuit. Aliran bahan bakar pada low-pressure circuit adalah ?

a. Fuel tank - Pre supply pump – Saluran Pengembali Bahan Bakar

b. Fuel tank - – Saluran Pengembali Bahan Bakar - Pre supply pump - Injector

c. Pre supply pump – Saluran Pengembali Bahan Bakar - Fuel tank

d. Fuel tank - Pre supply pump – Saluran Pengembali Bahan Bakar – Injector

e. Fuel tank - Pre supply pump – Saluran Pengembali Bahan Bakar – rail - Injector

2. Nama komponen yang di beri tanda panah pada gambar di samping adalah ?

a. Low-Pressure pump

b. Pre-supply pump

c. Saluran pengembali

41
Common Rail Diesel
d. High Presure pump

e. Rail

3. Komponen pada sistem common rail yang berfungsi untuk membangkitkan tekanan
tinggi yang konstan didalam pipa rel (Rail), dan juga untuk menginjeksikan bahan
bakar ke ruang bakar melewati injector. Aliran bahan bakarnya pada high-pressure
circuit adalah ?

a. Rail Presure Pump

b. Injectors

c. High Presure Circuit

d. High Presure Pump

e. Rail

4. Bagaimanakah urutan dari kerja dari High Presure Pump ?

a. High Presur Pump – Presure Control Valve – Rail – Rail Presure Pump – Saluran
Tekanan – Injectors

b. High Presur Pump – Rail – Rail Presure Pump – Presure Control Valve - Saluran
Tekanan – Injectors

c. High Presur Pump – Rail Presure Pump - Rail – Presure Control Valve - Saluran
Tekanan – Injectors

d. High Presur Pump – Rail Presure Pump - Rail - Saluran Tekanan – Presure
Control Valve – Injectors

e. High Presur Pump – Rail Presure Pump - Rail - Saluran Tekanan – Presure
Control Valve – Injectors – ruang bakar

5. Tekanan yang didijinkan oleh Pressure control valve didalam pipa rel maksimal
adalah ?

a. 1200 - 1400

b. 1300 - 1400

c. 1350 - 1500

42
Common Rail Diesel
d. 1350 – 1600

e. 1400 – 1600

6. Berapakah jumlah sesnsor pada sistem common rail secara umum yang di kontrol oleh
ECU?

a. 6

b. 7

c. 8

d. 9

e. 10

7. Sensor pada sistem common rail yang berfungsi untuk mendeteksi seberapa kecepatan
yang dihasilkan dari poros engkol adalah?

a. Camshaft sensor

b. Crankshaft-speed sensor

c. Accelerator-pedal traveler sensor

d. Boost – pressure sensor

e. Air temperature sensor

8. Sensor pada sistem common rail yang berfungsi untuk mendeteksi suhu/temperature
dari udara masuk?

a. Camshaft sensor

b. Crankshaft-speed sensor

c. Accelerator-pedal traveler sensor

d. Boost – pressure sensor

e. Air temperature sensor

9. Kelemahan dari sistem injeksi common rail adalah?

43
Common Rail Diesel
a. Tekanan kerja yang sangat tinggi menyebabkan ketegangan material yang tinggi.
Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila terjadi
kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

b. Tekanan kompresi yang sangat tinggi menyebabkan tekanan kompresi yang


tinggi. Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila
terjadi kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

c. Tekanan kerja yang sangat tinggi menyebabkan ketegangan material yang tinggi.
Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila terjadi
kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

d. Tekanan kompresi yang sangat tinggi menyebabkan ketegangan material yang


tinggi. Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila
terjadi kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

e. Tekanan piston yang sangat tinggi menyebabkan ketegangan kompresi yang


tinggi. Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila
terjadi kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.

10. Kelebihan dari penggunaan sistem common rail adalah kecuali?

a. Sistem common rail menawarkan peningkatan atomisasi bahan bakar, sehingga


meningkatkan pengapian dan pembakaran dalam mesin

b. Sistem common rail juga memberikan peningkatan kinerja, menurunkan


konsumsi bahan bakar, dan membuat getaran mesin lebih halus

c. Waktu pembakaran yang lebih sempurna, sehingga menghasilkan tenaga mesin


yang jauh lebih baik.

d. Bahan bakar lebih irit karena tekanan yang dihasilkan lebih besar

e. Menggunkan sistem ECU yang di pisahkan dari sistem

44
Common Rail Diesel
Isian
1. Apa nama dari komponen yang bertanda panah dibawah dan jelaskan bagaimanakah
proses kerjanya?

2. Jelaskan proses kerja dari High Presure Pump?

3. Fungsi utama injector pada sistim bahan bakar motor diesel adalah?

4. Fungsi utama Electronic Control Unit pada mosin diesel Common Rail adalah?

5. Sebutkan minimal 5 input signal ke kontrol unit pada gambar berikut

45
Common Rail Diesel
MODUL BAGIAN III

A. Diagnosis Pada Sistem Common Rail

Proses diagnosis pada sistem common rail bertujuan untuk merawat dan memelihara
sistem tersebut. Diagonosis tersebut dilakukan dalam tiga tahapan dan tiga bagian yang di
diagnosis, bagian tersebut adalah Trouble Area (Area Kerusakan), Detection Condition
(kondisis Pendeteksian), dan Fail-Safe.

DTC Untuk Common Rail

Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Item Pendeteksian Area Kerusakan (Trouble Area)

P0087 Fuel Rail/System Tekanan - • Open atau short pada fuel pressure sensor circuit
(49) terlalu rendah • Fuel pressure sensor •Engine ECU

• Short pada supply pump (SCV) circuit


P0088 Fuel Rail/System Tekanan –
• Supply pump (SCV)
(78) terlalu tinggi
• Engine ECU

• Jalur bahan bakar high pressure

• Open pada short pada EDU circuit

• Open atau short pada injector circuit


P0093 Terdeteksi Bahan Bakar bocor,
• Supply pump •Common-rail
(78) bocor besar
• Injectors

• EDU

• Engine ECU

P0190 Fuel Rail Pressure Sensor


(49) Circuit Malfunction • Open atau short pada fuel pressure sensor circuit

• Fuel pressure sensor


P0192 Fuel Rail Pressure Sensor • Engine ECU
(49) Circuit Low Input

46
Common Rail Diesel
P0193 Fuel Rail Pressure Sensor
(49) Circuit High Input

Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Item Pendeteksian Detectoin Condition (Kondisi Pendektisan)

P0087 Fuel Rail/System Pressure - Fuel pressure sensor output voltage nilainya tidak
(49) Terlalu rendah berubah

P0088 Fuel Rail/System Pressure -


Tekanan melebihi 200 MPa (2039 kgf/cm2)
(78) Terlalu tinggi

Terdeteksi kebocoran pada Perbedaan tekanan common-rail sebelum dan


P0093
sistem Bahan Bakar – Bocor setelah injeksi bahan bakar berbeda jauh dari yang
(78)
besar sudah di hitung ECU sebelum dan sesudah injeksi

P0190 Fuel Rail Pressure Sensor Fuel pressure sensor output voltage 0.55V atau
(49) Circuit Malfunction kurang, atau 4.9V atau lebih selama 0.5 sec.

P0192 Fuel Rail Pressure Sensor Fuel pressure sensor output voltage 0.55V atau
(49) Circuit Low Input kurang selama 0.5 sec.

P0193 Fuel Rail Pressure Sensor Fuel pressure sensor output voltage 4.9V atau
(49) Circuit High Input lebih selama 0.5 sec.

47
Common Rail Diesel
Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Detection Item Fail-safe

P0087 Fuel Rail/System Pressure -


(49) Terlalu rendah
Membatasi power mesin
P0088 Fuel Rail/System Pressure -
(78) Terlalu tinggi

P0093 Terdeteksi kebocoran sistem Membatasi power mesin selama 1 min., kemudian
(78) Bahan Bakar – Bocor besar mematikan mesin

P0190 Fuel Rail Pressure Sensor


(49) Circuit Malfunction

P0192 Fuel Rail Pressure Sensor


Circuit Low Input Membatasi power mesin
(49)

P0193 Fuel Rail Pressure Sensor


(49) Circuit High Input

Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Item Pendeteksian Area Kerusakan

• Open atau short pada EDU circuit

P0200 • EDU
Injector Circuit / Open
(97) • Injector

• Engine ECU

• Open atau short pada (SCV) circuit


P0627 Fuel Pump Control Circuit /
• SCV
(78) Open
• Engine ECU

P1229 • Short pada supply pump (SCV) circuit


Fuel Pump System
(78) • Supply pump (SCV)

48
Common Rail Diesel
• Engine ECU

P1601 Injector Correction Circuit • Injector compensation code


(89) Malfunction (EEPROM) • Engine ECU

Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Item Pendeteksian Detectoin Condition (Kondisi Pendektisan)

P0200 Fuel Pump Control Circuit / Open atau short pada suction control valve circuit
(97) Open lebih dari 0.5 sec.

Terlalu banyak bahan bakar:


P0627
Fuel Pump System Tekanan bahan bakar melewati target walaupun
(78)
ECU telah menutup SCV.

P1229 Injector Correction Circuit


Injector compensation code tidak ter-register
(78) Malfunction (EEPROM)

Open atau short pada EDU atau injector circuit.

P1601 Setelah mesin hidup, tak ada injection


Injector Circuit / Open confirmation (INJF) signal dari EDU ke engine
(89)
ECU, walau engine ECU mengirim injection
command (IJT) signal ke EDU

49
Common Rail Diesel
Detecdion
Trouble Area Fail-Safe
Condition

DTC No. Detection Item Fail-safe

P0200
Injector Circuit / Open
(97)

P0627 Fuel Pump Control Circuit /


Membatasi Power Mesin
(78) Open

P1229
Fuel Pump System
(78)

P1601 Injector Correction Circuit


-
(89) Malfunction (EEPROM)

B. Service Point untuk Sistem Common Rail Diesel

Dalam sistem Commom rail ada beberapa bagian yang memerlukan perawatan karena
proses penggunakan sistem tersebut. Setelah melakukan proses diaognosis diatas, bagian –
bagian yang memerlukan perawantan sebagai berikut:

1. Inisialisasi dan kalibrasi Supply Pump

2. Penggantian Common-rail

3. Program ulang injector compensation code

4. Penggantian parts baru

5. Penggantian pipa baru

6. Periksa kebocoran bahan bakar ( Leakage Pipe No.1 / Sistem Bahan Bakar )

7. Servis gs buang

1. Inisialisasi Dan Kalibrasi Supply Pump

Jika Mengganti Supply Pump Atau Engine Ecu, Perlu Inisialisasi Dan Kalibrasi Untuk
Engine Ecu, hal ini dimaksudkan agar data dari supply pump yang baru belum tentu sesuai
dengan data ECU yang sebelumnya.

50
Common Rail Diesel
2. Cara Penggantian Supply Pump

Supply Pump Initialization and Calibration Prosedur

a) Saat Engine Mati

• Setelah penggantian Suply pump hidupkan kunci kontak.

51
Common Rail Diesel
• Setel dan cocokan terminal CG dan terminal TC.

• Pastikan kembali kontak ON untuk mereset ulang program.

Matikan kunci kontak


b) Saat Engine Hidup

• Setelah penggantian Suply pump hidupkan kunci kontak dan engine

• Kalibrasi Supply Pump dengan cara warm-up (memanaskan engine)


sampai dengan suhu pada THW > 600C dan suhu pada THC > 200C.

• Setelah warm-up, biarkan engine idling selama 1 menit untuk proses


penyesuaian.

• Meatikan engine

3. Penggantian Common Rail (Common-rail Replacement)

Saat proses penggantian Common-rail tak boleh di bongkar, common-rail hanya boleh
dilepas dalam satu rangkaian. Hal ini disebabkan karena dalam penggantian common-rail
dilakukan dalam satu rangkaian (Penggantian Assembly)

52
Common Rail Diesel
4. Program ulang Injector Compensation Code

Jika injector atau ECU mesin diganti, perlu memprogram ulang nilai injector
compensation

Proses Program Ulang Keterangan

Pada saat penggantian injecor


baru, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dan
dilakukan seperti pada gambar
disaamping.

53
Common Rail Diesel
Begitu juga ada saat
penggantian ECU baru, ada
beberapa hal yang perlu
diperhatikan dan dilakukan
seperti pada gambar
disaamping.

Penyimpanan Compensation Codes sebelum penggantian Injektor atau ECU Baru

Sebelum penggantiaan ECU


maupun Injektor baru catat dan
simpan Compensation Codes

Save the
terlebih dahulu.
Compensation Codes

CLIK

54
Common Rail Diesel
Select
Lakukan langkah sesuai pada
Powertrain
 gambar disamping untuk
Engine and ECT
 meyimpan Compensation
Utility
 Codes. Pada fungsi ini
Injector
Compensation dilakukan untuk meyetel
Next Compensation Codes injektor
baru atau injektor lama ke
ECU apabila ada penggantian.

Pilih “Next” untuk melajutkan

Pada langkah ini tidak boleh


dilakukan berbarengn dengan
service manual.

Next

Lakuakan langkah disamping


untuk membaca/melihat
Compensation Codes.

55
Common Rail Diesel
Pilih “Next” untuk
melanjutkan.

Akan muncul menu untuk


memilih silinder berapa yang
ingin dilihat Compensation
Codes-nya.

Misal memilih silinder 1, pilih


“Next” untuk melanjutkan.

56
Common Rail Diesel
Setelah itu akan mucul jendela
proses pembacaan
Compensation Codes, tunggu
hingga proses selesai.

Setelah proses pembacaan


Compensation Codes, akan
mucul Compensation Codes.

Untuk menyimpan
Compensation Codes, pilih
“Save”

Sebelum menyimpan pastikan


bahwa Compensation Codes
benar, dengan melihat kode
pada injector.

Jika sudah benar, pilih “Save”


untuk menyimpan.

57
Common Rail Diesel
Akan muncul jendela proses
penyimpanan Compensation
Codes, tunggu hingga proses
selesai.

Setelah menyimpan
Compensation Codes pada
silinder 1, pilih “Next” unruk
menyimpan Compensation
Codes, pada silinder yang lain,
atau pilih “cancel” jika tidak
perlu menyimpan
Compensation Codes silinder
yang lain dan mengakhiri
proses.

Jika ingin mengakhiri proses,


akan muncul jendela menu
seperti gambar disamping.

Pilih “Yes” untuk mengakhiri


proses.

Pilih “No” untuk kembali


melakukan proses pada silinder
yang lain.

Penyimpanan Compensation Codes setelah penggantian Injektor atau ECU Baru

58
Common Rail Diesel
Setelah penggantiaan ECU
maupun Injektor baru catat dan
simpan Compensation Codes
terlebih dahulu.

Lakukan langkah sesuai pada


gambar disamping untuk
meyimpan Compensation
Codes. Pada fungsi ini
dilakukan untuk meyetel
Compensation Codes injektor
baru atau injektor lama ke
ECU apabila ada penggantian

Pilih “Next” untuk melajutkan

Pada langkah ini tidak boleh


dilakukan berbarengn dengan
service manual.

59
Common Rail Diesel
Lakukan langkah disamping
untuk meyetel Compensation
Codes.

Pilih “Next” untuk


melanjutkan proses.

Akan muncul jendela menu


untuk memilih silinder berapa
yang ingin si setel
Compensation Codes-nya.

60
Common Rail Diesel
Misal memilih silinder 1, pilih
“Next” untuk melanjutkan.

Setelah itu akan mucul jendela


menu untuk memilih cara
memasukkan Compensation
Codes.

Pilih “Input” untuk


memasukkan Compensation
Codes secara manual.

Pilih “Open” untuk


memasukkan Compensation
Codes secara otomatis melalui
data yang telah tersimpan.

Jika memilih “Input”, akan


muncul jendela menu untuk
memasukan Compensation
Codes secara manual seperti
pada gambar.

Masukan Compensation Codes


yang terera pada injector

61
Common Rail Diesel
(Umumnya langkah ini
dilakukan apabila terjadi
proses penggantian Injektor)

Jika sudah memasukkan


Compensation Codes, pilih
“Oke” untuk melajutkan.

Jika memilih “Open”, akan


muncul jendela menu data
Compensation Codes yang
telah tersimpan sebelumnya
seperti pada gambar.

Pilih “Open” untuk


melanjutkan.

62
Common Rail Diesel
Akan muncul jendela menu
proses pembukaan/pembacaan
kembali Compensation Codes
yang telah tersimpan, tunggu
hingga proses selesai.

Akan muncul jendela menu


Compensation Codes yang
Periksa bahwa telah tersimpan.
compensation
code benar
Pastikan kembali bahwa
Compensation Codes benar.

“Next” Pilih “Next” untuk


melanjutkan.

Akan muncul jendela menu


proses penyetelan
Compensation Codes, tunggu
hingga proses selesai.

63
Common Rail Diesel
Setelah menyetel
Selesai setting No.1 Compensation Codes pada
cylinder’s injector
compensation code silinder 1, pilih “Next” untuk
menyetel Compensation
Codes, pada silinder yang lain,
atau pilih “cancel” jika tidak
Set injector perlu menyeel Compensation
compensation Selesai
codes yang Codes silinder yang lain dan
lainnya mengakhiri proses.

Jika ingin mengakhiri proses,


akan muncul jendela menu
seperti gambar disamping.

Pilih “Yes” untuk mengakhiri


proses.

Pilih “No” untuk kembali


melakukan proses penyetelan
pada silinder yang lain.

64
Common Rail Diesel
5. Penggantian parts baru

Pada saat pengantian parts baru ada beberapat parts yang tidak boleh dipakai ulang.
Parts tersebut tertulis dengan huruf merah.

Injector Nozzle Holder Seal

Back-up Ring

O-ring
Head Cover
Nozzle Seat

Gasket

O-ring

Leakage
Pipe Supply Pump

6. Penggantian pipa baru

Pada proses penggantian pipa baru, ada dua pipa yng diganti. Pipa tersebut yaitu
Injection Pipe (Pipa saluran Injektor) dan Fuel Inlet Pipe ( Pipa saluran masuk bahan bakar)
seperti yang tertera pada gambar.

65
Common Rail Diesel
Injection Pipes

Fuel Inlet Pipe

Penggantian pipa baru dilakukan jika mengganti komponen-komponen berikut :

Komponen yang perlu diganti Pipa yang diganti


Injector

Common Rail Ijectoin Pipes

Cylinder Head

Spply Pump

Common Rail

Cylinder Block Fuel Inlet Pipe

Cylinder Head

Cylinder Gasket

66
Common Rail Diesel
7. Pemeriksaaan Kebocoran

a) Nozzle Leakage Pipe

Tahan pada tekanan 250 kPa (2.5 kgf /cm2, 35.5 psi) selama 60 detik dan periksa tidak
ada gelembung.

Nozzle SST
Oles dengan air sabun pada sambungan, Leakage (09268-45014)
periksa ada nya gelembung Pipe [90405-06167]

250 kPa

SST (09992-00242) Lepas

67
Common Rail Diesel
b) Sistem Bahan Bakar

Proses pemeriksaan Bahan Bakar secara manual :

1) Mesin berhenti

Tak ada kebocoran

2) Start mesin

Tak ada kebocoran

3) Lepas selang balik dari common-rail


Start mesin
Tak bocor (dari selang
balik)
4) Dengan Intelligent Tester II,
lakukan Fuel Leak Test (Active Test)

Tak ada kebocoran

Sistem Bahan Bakar normal

Proses pemeriksaan Bahan Bakar menggunakan Power Balance Check

Gunakan Intelligent Tester II (Active Test) untuk pemeriksaan power balance

68
Common Rail Diesel
Active Test
Tegangan
• Injector Cut #1
Tinggi
• Injector Cut #2
• Injector Cut #3
• Injector Cut #4

Jangan Melepas Konektor Injektor

c) Test Pengabutan Bahan Bakar

Untuk melakukan test pengabutan


bahan bakar, gunakan Nozzle Tester.
Pasang Injektor pada nozzle tester

69
Common Rail Diesel
Pada gambar disamping adalah
kondisi – kondisi proses
penyemprotan pada Injektor.
1) Adalah proses saat katup pada
injektor menutup.
2) Adalah proses saat mulai
pembukaan awal katup pada
injektor.
1 2 3 3) Adalah proses saat pembukaan
katup pada injektor (saat
bekerja).

Pada gambar disamping


menunjukkan penyemprotan bahan
bakar pada injektor
1) Adalah proses penyemprotan
pada injektor secara normal
(dengan sudut kemiringan
penyemprotan 40).
2) Adalah proses penyemprotan
pada injektor secara tidak
nomal.
3) Adalah proses penyemprotan
1 2 3 pada injektor secara tidak
nomal.

Pada gambar disamping


menunjuukkan sudut penyemprotan
bahan bakar pada injektor

70
Common Rail Diesel
d) Hasil Test Pengabutan

Sebelum tekanan
Setelah tekanan di
mencapai Hasil Test
Saat Pengabutan bawan tekan
pembukaan katup Pengabutan
penutupan katup
nosel

Pengabutan Baik

Pengabutan Diferent

Pengabutan Jelek

71
Common Rail Diesel
8. Servis Gas Buang

MOTOR DIESEL JUGA BISA DIBUAT TIDAK BERASAP !

a) Langkah Kerja

1) Sebelum pengetesan dilakukan perhatikanlah hal-hal sebagai berikut :

2) Motor harus dijalankan dengan beban sampai mencapai temperatur kerja


mesin

3) Elemen saringan udara telah diservis

4) Gerakan maksimum pedal gas harus menghasilkan gerak maksimum pada rak
kontrol pompa injeksi

5) Sebelum tes, tekan 3 kali pedal gas sampai motor mencapai putaran maksimum

72
Common Rail Diesel
Pasangkan pengetes gas buang, ujung slang diklem pada ujung knalpot seperti gambar
dibawah :

1) Hidupkan motor

2) Tekan bola karet sampai tuas pompa bergerak ke atas sambil menekan pedal
gas maksimum (penekanan pedal gas dihentikan bila tuas pompa tidak naik
lagi)

3) Tekan tuas pompa kembali ke bawah sampai tuas tidak bergerak lagi

4) Keluarkan kertas bekas penekanan gas buang dari pompa. Lakukan pengetesan
dua kali lagi, agar diperoleh hasil kekotoran gas buang yang rata-rata pada
kertas

5) Cocokkan hasil kekotoran gas buang pada kertas dengan daftar evaluasi
kekotoran gas buang

6) Supaya tingkat kekotoran gas buang pada kertas dapat dinyatakan dalam angka
yang pasti, gunakan tester evaluasi elektronik !

73
Common Rail Diesel
b) Langkah tes dengan tester evaluasi elektronik

Kenalilah bagian-bagian tester sebagai berikut :

1. Pemegang tes
2. Lampu
3. Elemen foto sel
4. Kertas filter
5. Skala digital
6. Tombol penyetel angka nol (0)
7. Tomboltes
8. Tempat kertas filter
9. Tempat baterai (2 x 9V)

1) Ambil minimal 5 kertas filter di atas meja kerja, tekan pemegang tes tegak
lurus terhadap kertas filter
2) Tekan tombol penyetel angka nol sampai digital menunjukkan angka 0,0
3) Elemen foto sel sekarang dipindahkan ke kertas hasil pengukuran kekotoran
gas buang, posisikan juga tegak lurus terhadap kertas itu sambil ditekan
4) Tekan tombol ( c ) sampai keluar angka tingkat kekotoran gas buang pada
digital

Petunjuk :

1) Tester evaluasi elektronik sebaiknya dipakai untuk membedakan tingkat


kekotoran gas buang antar 1 sampai 4

2) Bila kekotoran gas buang mempunyuai nilai 5 sampai 9, maka untuk


menentukan tingkat kekotorannya cukup memakai kertas daftar evaluasi saja,
karena tingkat kekotoran 5 sampai 9 sudah tidak diperbolehkan lagi

3) Lakukan perbaikan bila tingkat kekotoran gas buang sudah menunjukkan


angka 5 sampai 9

74
Common Rail Diesel
4) Kemungkinan penyebab kekotoran gas buang adalah sebagai berikut :

c) Hasil Pengetesan

Gas buang berwarna hitam

Penyebab Keterangan Solusi

Saringan udara kotor Meskipun volume penyemprotan pada pompa


Ganti atau
injeksi sudah sesuai, tapi karena saringan udara
bersihkan
kotor, maka udara yang masuk ke dalam silinder
saringan udara
tidak sebanding dengan solar yang disemprotkan
(udara terlalu sedikit). Solar tidak terbakar dengan
sempurna, akibatnya asap hitam

Bentuk penyemprotan Periksa tahanan


Bentuk penyemprotan atau ada tetesan pada nosel
nosel injeksi tidak injeksi, bentuk
injeksi akan menyebabkan solar tidak bercampur
bagus/ada tetesan penyemprotan
dengan udara secara sempurna. Sebagian solar tidak
dan tetesan pada
terbakar, asap akan hitam
injektor

Saat penyemprotan Stel saat


Solar juga tidak akan terbakar dengan sempurna
terlambat penyemprotan

Taken turbo carjer Pada motor-motor yang dilengkapi dengan sistem


kurang pengisian udara tekan pengisian silinder akan
Periksa tekanan
berkurang bila tekanan pengisian kurang. Hal ini
pengisian
disebabkan kerusakan pada turbocarjer itu sendiri
atau kebocoran-kebocoran pada salurannya

Knalpot/saluran gas Pada motor dengan turbocarjer, knalpot yang Periksa dan
buang tersumbat tersumbat akan menyebabkan asap hitam. Apabila bersihkan
gas buang tidak keluar silinder dengan lancar, maka knalpot atau
udara bersih yang masuk kesilinder berkurang, ganti bila perlu
tetapi jumlah penyemprotan bahan bakar tetap
sesuai untuk pengisian udara yang normal

Volume penyemprotan Sampai batas tertentu, penambahan volume Stel volume


tidak sesuai (terlalu penyemprotan akan menambah daya motor, tapi penyemprotan
banyak) penambahan volume yang terlalu banyak tidak akan pada pompa
menaikkan lagi daya motor dan akan injeksi
mengakibatkan asap hitam karena solar tidak
terbakar dengan sempurna

75
Common Rail Diesel
Gas Buang Berwarna Putih

Penyebab Keterangan Solusi

Bahan bakar di injeksikan ketika piston berada pada Stel ulang


titik mati bawah putaran mesin
dan volume
Taken kompresi rendah
penyemprotan
pada pompa
injeksi
Suhu mesin rendah Stel ulang
(motor belum panas) Pengapian terjadi terlambat dan proses pembakaran
sistem
berlangsung lama
pengapian

Saat penyemprotan Pengapian terjadi terlambat dan proses pembakaran Stel ulang
terlalu awal berlangsung lama Injecktor
Naik Dan Turunya Ada air pendingin yang masuk ke dalam silinder Bersihkan
Tekanan kompresi (melalui paking kepala silinder, atau retak) dan aliran saluran
bahan bakar mengalami kerusakan termal parsial. bahan bakar

Gas buang berwarna biru

Penyebab Keterangan Solusi


Oli ikut terbakar Kebocoran oli pada cincin torak atau pada sil katup Ganti cincin
torak dan
bersihkan
kotoran pada sil
katup

76
Common Rail Diesel
NOTES

Catatlah dan ringkaslah pengetahuan yang kamu dapatkan dari berbagai sumber
untukmemperluas pemahaman mu tentang sistem common rail diesel.

Semakin banyak catatanmu semakin luas pengetahuanmu.

77
Common Rail Diesel
TUGAS SISWA III

A. Tugas Diskusi

1. Berdiskusilah dengan teman/kelompok anda dan kerjakan soal yang ada pada modul.

Soal Pilihan Ganda


1. Apa singkatan dari DTC pada sistem ECU pada Common Rail ?

f. Double Trouble Control

g. Delivery Trouble Code

h. Driver Trouble Code

i. Diagnosis Trouble Control

j. Diagnosis Trouble Code

2. Item pendeteksi an dari DTC No P0087 (49) adalah ?

a. Terdeteksi Bahan Bakar bocor, bocor besar

b. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit High Input

c. Fuel Rail/System Tekanan - terlalu rendah

d. Fuel Rail/System Tekanan – terlalu tinggi

e. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Malfunction

3. Area kerusakan dari DTC No P0087 (49) adalah ?

a. Open atau short pada fuel pressure sensor circuit •Fuel pressure sensor Engine
ECU

b. Short pada supply pump (SCV) circuit •Supply pump (SCV) Engine ECU

c. Jalur bahan bakar high pressure

d. Open pada short pada EDU circuit

e. Engine ECU

78
Common Rail Diesel
4. Item pendeteksian pada DTC No P0193 (49) adalah?

a. Fuel Rail/System Pressure - Terlalu rendah

b. Fuel Rail/System Pressure - Terlalu tinggi

c. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Malfunction

d. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Low Input

e. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit High Input

5. Kondisi pendeteksian pada DTC No P0193 (49) adalah ?

a. Fuel pressure sensor output voltage 0.55V atau kurang selama 0.5 sec.

b. Fuel pressure sensor output voltage 4.9V atau lebih selama 0.5 sec.

c. Fuel pressure sensor output voltage 0.55V atau kurang, atau 4.9V atau lebih
selama 0.5 sec.

d. Tekanan melebihi 200 MPa (2039 kgf/cm2)

e. Fuel pressure sensor output voltage nilainya tidak berubah

6. Item pendeteksian pada DTC No P0093 (78) adalah ?

a. Terdeteksi kebocoran sistem Bahan Bakar – Bocor besar

b. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Malfunction

c. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Low Input

d. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit High Input

e. Fuel Rail Pressure Sensor Circuit Malfunction

7. Fail safe pada DTC No P0093 (78) adalah ?

a. Membatasi power mesin

b. Membatasi torsi mesin

c. Membatasi power mesin selama 1 min., kemudian mematikan mesin

d. Membatasi torsi mesin selama 1 min., kemudian menghidupkan mesin

e. Membatasi power mesin dalam keadaan tidak stabil

79
Common Rail Diesel
8. Area kerusakan pada DTC No P0627 dengan item pendeteksian Fuel Pump Control
Circuit / Open adalah?

a. Sd -Open atau short-pada EDUcircuit – EDU – Injector - Engine ECU

b. Open atau short pada (SCV) - circuit SCV - Engine ECU

c. Short pada supply pump (SCV) circu Engine ECU

d. Injector compensation code Engine ECU

e. Injector compustion ensation code Engine ECU

9. Apa maksud dari keterangan gambar bagan di bawah?

a. Inisialisasi hanya dibutuhkan jika mesin tak bisa hidup

b. Inisialisasi hanya dibutuhkan jika mesin tak bisa hidup setelah penggantian

c. Inisialisasi hanya dibutuhkan jika tekanan bahan bakar mesin berlebihan.

d. Inisialisasi hanya dibutuhkan jika putaran mesin berlebihan

e. Inisialisasi hanya dibutuhkan jika high presure pump tidak stabil

10. Proses apakah yang terjadi pada gambar di bawah?

80
Common Rail Diesel
a. Program ulang Injector Compensation Code

b. Registrasi injector compensation code (setelah penggantian)

c. Program ulang Injector Compensation Code Registrasi injector compensation


code.

d. Program ulang Injector Compensation Code Registrasi injector compensation


code (setelah penggantian)

e. Program ulang Injector Compensation Code Registrasi injector compensation


code (setelah perbaikan)

81
Common Rail Diesel
BAB IV

PENUTUP

Apabila hasil nilai mengerjakan evaluasi anda pada tiap modul tidak memenui kriteria
ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan atau kurang dari 75 anda harus mempelajari
modul ini kembali. Sebaliknya, jika hasil evaluasi anda pada tiap modul memenuhi kriteria
ketuntasan minimal (KKM) yaitu lebih dari 75 maka anda berhak melanjutkan pada kegiatan
belajar berikutnya.

82
Common Rail Diesel
DAFTAR RUJUKAN

Delphi France SAS, 2007, Common Rail Manual Principles of Operation


(DDGX200(EN) France.

Tony Kitche, 2009, AK Training Common Rail Diesel Fuel System IRTEC
Approved Awards Assessment Center Motor Industry Professional Training
and Deveopment.

Nissan Service Manual Common Rail System For Nissan YD1-K2 Type Engine
June 2003

Bosch, 1999, Diesel fuel-injection: An overview, Technical Instruction, 3rd


Edition, Robert Bosch GmBH, Germany.

Bosch, 1996, Governor for Diesel In-Line Fuel-Injection Pumps, Technical


Instruction, 3rd Edition, Robert Bosch GmBH, Germany.

DaimlerChrysler, 2000, Common Rail Diesel Injection (CDI), Systim Injeksi Bahan
Bakar Diesel, Edisi 1, Central Training Departement PT. DaimlerChrysler
Distribution Indonesia, Jakarta Indonesia

Isuzu, 2001, Buku Pedoman Perbaikan Seri TBR Mesin Isuzu, Isuzu Motor
Limited, Japan.Scania, 1995 Service-Handbuch Last wagen, Scania AB.

VEDC, 1990, Servis Mobil, VEDC Malang Bagian Automotif, Vocational


Education Development Center Malang, Indonesia

Swisscontact, 2000, Motor Diesel Materi Training, Jakarta Clean Air Project,
Swsisscontact, Jakarta, Indonesia

Toyota, 1980, Toyota Diesel Engine, Service Training Information, Toyota Motor
Sales CO. LTD, Japan

83
Common Rail Diesel