Anda di halaman 1dari 20

1

Tinjauan Pustaka

SKISTOSOMIASIS

oleh:
Alzena Dwi, S.Ked 04084821618152

Pembimbing:
dr. Harun Hudari, Sp.PD

BAGIAN/DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2016
2

HALAMAN PENGESAHAN

Referat

SKISTOSOMIASIS

oleh:
Alzena Dwi, S.Ked

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan
klinik senior di Bagian/Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya, RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Periode 30 Juni 11 September 2016.

Palembang, September 2016

dr. Harun Hudari, Sp.PD


3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis bisa menyelesaikan referat yang berjudul Skistosomiasis. Referat ini
adalah salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di Bagian/Departemen
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam
pembuatan referat ini, terutama kepada dr. Harun Hudari, Sp.PD, yang telah meluangkan
waktunya untuk memberikan pengarahan kepada penulis dalam proses pembuatan referat ini.
Penulis berharap referat ini dapat digunakan sebagai proses pembelajaran. Atas
perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.

Palembang, September 2016

Penulis
4

DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iv
BAB I .................................................................................................................... 1
BAB II................................................................................................................... 2
BAB III ................................................................................................................. 9
BAB IV ................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14
5

BAB I

PENDAHULUAN

Schistosoma merupakan salah satu jenis cacing dari kelompok trematoda darah yang
secara morfologi berbentuk pipih seperti daun yang umumnya menginfeksi manusia hidup di
dalam usus, sistem bilier, paru, dan venula usus serta saluran genitourinarius.1 Cacing
schistosoma terbagi lagi menjadi 3 jenis spesies yang menimbulkan infeksi pada manusia,
yaitu S. japonicum, S. mansoni, S. haematobium. Penyakit yang ditimbulkan oleh parasit ini
biasa disebut schistosomiasis.

Terdapat 74 negara yang endemis schistosomiasis dan diseluruh dunia lebih dari 200 juta
orang menderita schistosomiasis, 20 juta diantaranya menderita sakit berat, serta ada 120 juta
yang menunjukkan tanda-tanda klinis. Tahun 2011, WHO melaporkan ada 243 juta orang
yang memerlukan pengobatan untuk schsitosomiasis, dengan jumlah 28,1 juta orang yang
dilaporkan dirawat karena penyakit ini. Secara global, terdapat 200.000 jumlah kematian
yang disebabkan oleh schistosomiasis setiap tahunnya. 2

Di Asia, penyakit ini tersebar di 7 negara, antara lain Jepang, China, Philipina, Indonesia,
Malaysia, Kamboja, Laos dan Thailand. Di Indonesia daerah endemik schistosomiasis adalah
daerah terpencil di Sulawesi Tengah. Penyakit ini baru ditemukan di lembah Lindu dan
lembah Napu Besoa. Prevalensi penyakit ini di daerah endemis lembah Lindu tahun 2003
(0,64%) dan tahun 2014 mengalami penurunan menjadi (0,17%). Di lembah Napu pada tahun
2003 menunjukkan angka (0,70%) dan tahun 2004 meningkat menjadi (1,71%).3

Gejala awal yang muncul biasanya adalah demam, menggigil, diare, yang biasanya akan
hilang setelah beberapa minggu-bulan. Namun, jika tidak ditangani secara tepat, penyakit ini
akan berlanjut menjadi schistosomiasis kronis yang dmeyebabkan gangguan hati,
glomerulonefritis, hipertensi pulmonalis dan beberapa gangguan neurologis.

Maka dari itu, tinjauan pustaka ini dibuat agar dapat diketahui gejala awal dari
schistosomiasis dan dapat mencegah terjadinya komplikasi pada penyakit ini yang
penangannya akan lebih berat serta pengobatan untuk schistosomiasis akut agar tidak
berlanjut menjadi schistosomiasis kronis.
6

BAB II

SKISTOSOMIASIS

2.1 Definisi

Schistosomiasis atau yang disebut demam keong merupakan penyakit parasitik yang
disebabkan infeksi cacing schistosoma. Schistosoma termasuk dalam:

Phylum: Platyhelminthes

Kelas: Trematoda

Ordo: Strigeidida

Famili: Schistosomatidae

Genus: Schistosoma

Terdapat 3 jenis spesies schsitosoma yang menimbulkan masalah kesehatan pada manusia
yaitu: S. japonicum, S. haematobium dan S. mansoni.

2.2 Etiologi

Infeksi schistosomiasis berasal dari larva parasit schistosoma yang terdapat di tubuh
hospes sementara yaitu siput. Parasit ini biasa ditemukan pada feses serta urin penderita
schistosomiasis. Ada beberapa jenis schistosomiasis yang sering menginfeksi manusia,
1,2
cacing ini paling sering menginfeksi sistem intestinal dan urogential. Jenis-jenis yang
sering menginfeksi manusia adalah S. mansoni, S. japonicum, S. haematobium. Ketiga jenis
schistosoma ini merupakan penyebab angka kesakitan yang mencapai 24-29 juta.

1. S. mansoni

- bentuk oval, dengan salah satu kutubnya membulat dan lebih runcing

- duri terletak lateral dekat bagian yang membulat, besar dan berbentuk segitiga

- berukuran 150 x 60 um

- berisi embrio besar bersilia, diliputi membrane (kulit dalam)

- habitat di vena mesenterika inferior


7

2. S. haematobium

- bentuk oval, salah satu ujungnya membulat

- duri terletak di ujung yang lain

- berukuran 120 150 um

- habitat di vena vesicalis

3. S. japonicum

- bulat, agak lonjong dengan tonjolan di bagian lateral

- berukuran 100 x 65 um

- telur berisi embrio

- tidak punya operculum

- habitat di vena mesenterika superior

Manusia merupakan hospes definitif dimana telur akan berkembang menjadi cacing.
Hospes sementara parasit schistosoma adalah siput. Setiap schistosoma memiliki hospes
perantara yang berbeda. Jenis-jenis siput yang menjadi hospes sementara schistosoma adalah:
8

Biomphalaria pada S. mansoni

Oncomelania pada S. japonicum

Tricula (Neotricula aperta) pada S. mekongi

Bulinus pada S. haematobium dan S. intercalatum

Manusia terinfeksi setelah mengalami kontak dengan air yang mengandung parasit dalam
stadium inefektif yang disebut serkaria, yang merupakan bentuk mikroskopis schistosoma,
memiliki ekor seperti garpu yang digunakan untuk berenang dan kepala yang merupakan
primordial cacing tersebut. Serkaria akan menjadi skistosomul atau schistosoma yang sedang
tumbuh saat masuk ke dalam tubuh hospes. Selama 2-3 hari skistosomul akan bermigrasi ke
paru lalu ke vena porta. Skistosomul yang berada di vena porta akan berubah menjadi
skistosoma berpasangan, jantan dan betina, bermigrasi lagi ke dalam venula mesenterium,
kadung kemih, atau ureter, dimana mereka akan menghasilkan telur. Telur-telur ini adalah
antigen kuat, dapat menginduksi reaksi granulomatosa yang hebat dan akan bermigrasi ke
usus atau dinding kandung kemih yang kemudian keluar melalui feses atau urin.

Telur-telur yang keluar dari tubuh akan kembali ke air dan lebih kurang 10 hari telur ini
berubah menjadi miracidia. Mirasidia akan kembali ke air dan melanjutkan siklus hidup.
Telur yang tidak dapat keluar dari tubuh manusia akan menetap di jaringan atau dibawa
kembali ke aliran vena porta atau ke aliran vena pulmonal, menyebabkan reaksi imun dan
kerusakan progresif organ.
9

2.3 Epidemiologi

Angka penyebaran penyakit di dunia cukup tinggi mengingat setelah penyakit malaria,
cacing usus schistosomiasis adalah penyakit infeksi tropis nomor 3 paling berbahaya.
Penyakit ini banyak terdapat di negara Afrika, Amerika Selatan, daerah Karibean, Timur
Tenagh dan Asia. Gejala awal yang sering muncul adalah ruam, demam, nyeri otot dan
kadang menimbulkan nyeri perut, diare, nyeri berkemih serta pendarahan.

Spesies Penyebaran
Intestinal Schistosoma mansoni Africa, the Middle East, Carribean dan
schistosomiasis (mesenteric venules of the South America
colon)
Schistosoma japonicum Asia only: China, Indonesia, the
(mesenteric venules of the Philippines, and Thailand
small intestine)
10

Schistosoma mekongi Several districts of Cambodia and the


(mesenteric venules of the Lao Peoples Democratic Republic. 200-
small intestine) km area of Mekong river basin; now
extending toward northern provinces
Schistosoma intercalatum Rain forest areas of Central and West
(mesenteric venules of the Africa
colon)
Urogenital Schistosoma haematobium Africa, the Middle East, India, and
schistosomiasis (vesical venous plexus) Turkey

Angka kejadian schistosomiasis di seluruh dunia mencapai 200 juta, dimana 20 juta
diantaranya menderita sakit berat dan 120 juta menunjukkan tanda-tanda klinis.
Schistosomiasis juga salah satu penyebab utama angka kematian dan kesakitan pada daerah-
daerah endemis, seperti daerah tropikal dan subtropical, serta daerah ini tersebar di seluruh
dunia dan bisa berhubungan dengan kegiatan bercocok tanam. Penyakit schistosomiasis
penyebarannya memang melalui aliran air seperti sungai atau air danau, namun waduk buatan
dan sistem irigasi pada beberapa negara menyebabkan munculnya penyakit ini, sehingga di
negara-negara berkembang dengan sistem perairan yang buruk dapat menjadi salah satu
penyebab munculnya penyakit ini.

Indonesia sendiri merupakan daerah endemis schistosomiasis dimana angka tertinggi


kejadiannya adalah 72%. Disebutkan bahwa Sulawesi Tengah merupakan tempat pertama
kalinya penyakit ini ditemukan di Indonesia, tepatnya di lembah Lindu (Kec. Kulawi, Kab.
Donggala) dan lembah Napu Besoa (Kec. Lore Utara, Kab. Poso). Hewan-hewan liar seperti
sapi, rusa, kerbau dan tikus liar dapat menjadi hospes penyebaran penyakit ini.5

2.4 Patogenesis

2.4.1 Skistosomiasis Akut

Masuknya serkaria dari kulit akan menimbulkan ruam-ruam sementara yang kadang
bertahan selama beberapa hari yang disebut lesi papulopruriginous, khusunya setelah infeksi
awal pada turis atau imigran yang baru pertama kali berkunjung.6

Acute schistosomiasis atau Demam Katayama adalah reaksi hipersensitivitas sistemik


untuk melawan skistosomule yang ada di dalam tubuh, muncul beberapa minggu-bulan
11

setelah infeksi pertama.8,9 Penyakit ini dapat saja asimptomatik atau muncul gejala yang
diawali demam, kelelahan, myalgia, muntah, batuk tidak berdahak, eosinophilia dan pada
pemeriksaan foto thorax terdapat bercak-bercak infiltrat. Gejala-gejala gastrointestinal dapat
muncul belakangan yang disebabkan oleh cacing dewasa. Kebanyakan penderita akan
sembuh secara spontan setelah 2-10 minggu, namun beberapa berlanjut menjadi penyakit
yang lebih serius dengan penurunan berat badan, sesak napas, diare, nyeri perut yang ,
toaxemia, pembesaran hepar dan lien serta ruam luas.

Demam Katayama biasanya muncul setelah pajanan awal dengan S. mansoni dan S.
japonicum dan jarang muncul pada populasi yang terus-menerus terekspos. Pada berapa
kasus, Demam Katayama yang disebabkan S. japonicum dapat terjadi pada penduduk yang
tinggal di daerah endemis dengan riwayat infeksi sebelumnya. Negara China dilaporkan
terkena Demam Katayama yang dihubungkan dengan banjir.9

2.4.2 Skistosomiasis Kronis

Manifestasi klinis pada penderita dengan schistosomiasis kronis adalah munculnya gejala
gastrointestinal dan pembesaran organ seperti hepar dan lien. Hal ini tidak disebabkan karena
cacing dewasa namun karena timbunan telur-telur parasit yang menetap di dalam jaringan.
Telur-telur parasit ini mengelurakan enzim proteolitik yang menimbulkan inflamasi eosinifili
dan reaksi granulomatosa, yang secara bertahap digantikan oleh jaringan fibrotik. 10 Beratnya
gejala juga berhubungan dengan sistem imunitas serta pajanan infeksi.

Penumpukan telur dan pembentukan granuloma pada dinding usus (biasanya S. mansoni
atau S. japonicum) dapat menyebabkan melena, kram perut dan inflamasi polip kolon.
Penderita dengan infeksi berat pada usus dapat meingktakan infeksi berulang salmonella
biasanya dengan hasil positif pada kultur darah dan kultur feses negatif. Chronic
schistosomiasis pada usus dapat meninmbulkan komplikasi apendisitis11,12, perforasi dan
pendarahan yang tidak berhenti setelah perjalanan dari daerah endemis. Adanya perforasi
rectum telah dilaporkan pada schistosomiasis yang disebabkan oleh S. haematobium.

Salah satu komplikasi pada schistosomiasis adalah terjadinya fibrosis periportal atau
fibrosis Syammers dan hipertensi porta (schistosomiasis hepatosplenik). Gambaran yang
patognomonik ini terjadi pada infeksi S. mansoni, S. japonicum, dan S.mekongi. Penelitian
paling jelas ditemukan adanya fibrosis hati pada infeksi S. mansoni, yang kejadiannya timbul
10-15 tahun setelah penderita megalami infeksi dan pajanan yang lama. Penderita sering
12

ditemuakn dengan hematemesis dan/ gejala serta tanda splenomegali. Asites, koma
hepatikum, edema, spider angioma, genkomastia, dan tanda gagal hati lainnya tidak begitu
seing dijumpai bila dibandingkan dengan sirosis alkoholik dan pascanektorik. Penegakkan
diagnosis pada fibrosis hati karena schistosomiasis adalah dengan menggunakan USG
abdomen yang nilai spesifitas dan sensitivitasnya mencapai 100%.

Hipertensi porta yang terjadi pada pasien schistosomiasis memiliki komplikasi


glomerulonephritis dan hipertensi pulmonalis. Hipertensi pulmonalis tampaknya terjadi
karena obliterasi arteri pulmonalis oleh inflamasi granulomatosa karena telur schistosoma
yang menyebabkan munculnya shunt (pintasan) dan embolisasi. Manifestasi klinis yang
muncul adalah proteinuria dan/ gagal ginjal.1

Manifestasi klinis schistosomiasis dari berbagai spesies schistosoma

Manifestasi S. mansoni S. japonicum S. haematobium


Skistosomiasis toksemia + + +
akut
Skistosomiasis asimtomatik + + +
akut
Skistosomiasis + + 0
hepatosplenika
-Cor pulmonale + +
-Glomerulonephritis + + 0 (ada jika berkaitan
(bermakna secara klinis) dgn infeksi
Salmonella)
Poliposis kolon + +
Lesi-lesi ektopik
-Otak +
-Batang otak + +
-Kulit + + +
Sistitis kronik dan uretritis 0 0 +
-Lesi bermassa pada 0 0 +
kandung kemih dan ureter
-Kanker kandung kemih 0 0 +
Berkaitan dengan
13

Salmonella + + +
-Demam lama + + +
-Tahap carrier saluran
kemih ? ? +
Swimmers itch + + +
+= komplikasi-komplikasi yang diketahui akibat spesies-spesies ini; = ditemukan lebih sedikit pada
individu yang diinfeksi oleh spesies ini; 0 = tidak ditemukan komplikasi pada infeksi yang disebabkan oleh
spesies ini.
14

BAB III

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA

3.1 Diagnosis

3.1.1 Anamnesis

A. Keluhan yang sering muncul pada fase akut saat penderita datang adalah ruam-ruam
pada tubuh yang bervariasi ukurannya yaitu 1-3 cm. Keluhan ruam biasanya bersaaan dengan
demam, nyeri kepala, nyeri tungkai, nyeri abdomen. Tanyakan pada penderita apa pekerjaan
sehari-hari, apakah jika bekerja menggunakan alas kaki, higien sehari-hari dan apakah ada
keluhan lainnya. Tanyakan juga jika penderita baru saja berkunjung ke daerah endemis
parasit schistosoma 4-8 minggu sebelumnya.

B. Keluhan yang muncul pada fase kronis, biasanya tergantung pada letak lesi, contohnya:

1. Terdapat hematuria, rasa tidak nyaman hingga nyeri saat berkemih. Hal ini disebabkan
schistosomiasis yang menyerang traktus urinarius oleh S. haematobium.

2. Nyeri abdomen dan diare berdarah biasanya disebabkan oleh schistosomiasis yang
menyerang usus oleh S. mansoni, S. japonicum, S. mekongi.

3. Ada pembesaran perut, ikterus yang biasanya disebabkan oleh S. japonicum.

Pemeriksaan Fisik

A. Pada acute schistosomiasis dapat ditemukan:

- Gatal pada kulit

- Demam

- Urtikaria

- BAB berdarah
15

Swimmers itch pada schistosomiasis

B. Pada chronic schistosomiasis dapat ditemukan:

- Hipertensi vena porta dengan distensi abdomen, hepatosplenomegaly

- Gagal ginjal + anemia dan hipertensi

- Polip usus

- Ikterus

Pembesaran perut yang biasa disebabkan oleh S. japonicum

3.1.2 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan baku standar untuk schistosomiasis adalah mendeteksi parasit di dalam urin
serta feses penderita. Untuk orang-orang dari daerah non-endemik atau tinggal di daerah yang
jarang terpapar, pemeriksaan serologi dan imunologi dapat berguna untuk menunjukkan
paparan infeksi serta kebutuhan untuk penatalaksanaan. Diagnosis cepat untuk S. mansoni, S.
japonicum, S. mekongi, dan S. intercalatum pengambilan sampel feses digunakan teknik
16

pemeriksaan apusan tebal Kato-Katz. Namun, pemeriksaan ini kurang sensitif jika feses yang
diambil hanya sekali pada psetiap penderita, sehingga memakan waktu dan tempat untuk
dilakukan pemeriksaan menggunakan teknik ini.15

Pada schistosoma yang menyerang kandung kemih, pemeriksaan dilakukan dengan teknik
filtrasi dan mikrosokpi untuk mendeteksi telur S. haematobium di dalam urin.

Infeksi yang menyerang schistosoma manusia termasuk S. haematobium bias di diagnosa


menggunakan pemeriksaan mikroskopis jaringan dengan biopsi mukosa rektum.16 namun,
prosedur ini invasif dan hanya bisa dilakukan di fasilitas kesehatan lengkap dengan tenaga
ahli. Pendeteksian apakah penyakit sudah menyerang organ dapat dilakukan pemeriksaan
canggih seperti USG, CT Scan dan MRI, yang dapat memperlihatkan fibrosis hati dan
hipertensi portal dan juga fibrosis pada saluran kemih, polip dan ulcer.17-19

3.2 Penatalaksanaan

Tatalaksana awal pada komplikasi dari schistosomiasis adalah menstabilkan keadaan


pasien. Pasien dengan keadaan komplikasi akut seperti pendarahan usus harus segera
ditangani sebisa mungkin sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan
lakukan pengambilan sampel urin serta feses untuk menegakkan diagnosis.

Pengobatan utama pada schistosomiasis adalah praziquantel. Didapatkan bahwa tingkat


kesembuhan penderita dengan schistosomiasis adalah 65-95% setelah diobati hanya dengan
praiquantel. Cara kerja praziquantel ialah memengaruhi permeabilitas membran parasit, yang
menyebabkan vakuolasi pada tegumen parasit, menyebabkan cacing rentan terhadap sistem
imun tubuh. Beberapa efek samping yang muncul pada saat pemakaian praziquantel adalah
pusing, sakit kepala, mual, muntah, diare, dll yang merupakan tanda-tanda reaksi tubuh
terhadap matinya cacing schistosoma dalam tubuh.

Terapi kombinasi dapat diberikan jika pada pasien didapatkan komplikasi seperti pada
nuerologis dapat diberikan praziquantel dengan gluckokortikoid. Jika pasien didapatkan
mengalami kejang antikonvulsan dapat diberikan. Penderita dengan komplikasi harus segera
dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Pengobatan telur cacing harus tetap diberikan hingga
telur dinyatakan tidak ada lagi baik pada feses maupun urin.
17

Spesies Obat Dosis total (mg/kg Susunan pemberian


BB)
S. haematobium Praziquantel 40 Dosis tunggal atau
pemberian 2x
20mg/kbBB
Metrifonat 22,5-30 Dosis tunggal 7,5-10
mg/kgBB yang
diberikan setiap 2
minggu sekali x3
S. mansoni
Amerika dan Karibia Oksaminikum 15 Dosis tunggal PO
setelah makan
Praziquantel 40 Dosis tunggal atau
pemberian
20mg/kgBB dengan
interval 4 jam sesudah
makan atau sebelum
Afrika Timur dan Tengah Oksaminikum 60 15 mg/kgBB 2x1
selama 2 hari sesudah
makan
Praziquantel 40 Dosis tunggal atau
pemberian 2x
20mg/kgBB dengan
interval 4 jam sesudah
atau sebelum makan
S. japonicum Praziquantel 60 20mg/kgBB setiap 4
Atau S. mekongi jam sekali sesudah
makan
18

BAB IV

KESIMPULAN

Schistosomiasis adalah suatu penyakit yang disebabkan infeksi parasit cacing schistosoma
yang berasal dari kelompok trematoda. Siklus transmisi melibatkan kontaminasi air dengan
serkaria yang masuk ke dalam tubuh siput tertentu sebagai hospes yang kemudian saat
manusia kontak dengan air yang tercemar akan masuk melalui pori-pori kulit.
Schistosomiasis paling sering disebabkan oleh S. haematobium, S. mansoni dan S. japonicum.
Menurut WHO ada 200 juta orang yang terinfeksi penyakit ini dan 200.00 orang meninggal
setiap tahunnya karena schistosomiasis.

Acute schistosomiasis biasanya muncul pada pengujung yang pertama kali datang ke
daerah endemis. Gejala yang muncul biasanya adalah demam, kelelahan, myalgia, muntah,
batuk tidak berdahak, eosinophilia dan pada pemeriksaan foto thorax terdapat bercak-bercak
infiltrat. Chronic schistosomiasis biasanya muncul pada orang dengan infeksi berulang yang
tinggal di daerah endemis. Komplikasi yang biasa mucul lebih sering menyerang hepar dan
saluran kemih. Pada hepar akan terjadi fibrosis hati dan pada saluran kemih muncul
glomerulonefritis.

Penegakkan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang yang merupakan gold standard pada schistosomiasis. Penemuan telur schistosoma
menunjukkan bahwa memang penderita terkena schistosomiasis.

Penatalaksanaannya merupakan hal yang harus dilakukan segera agar acute


schistosomiasis tidak berlanjut menjadi chronic schistosomiasis yang komplikasinya sulit
ditangani. Pemberian obat cacing praziquantel merupakan pengobatan utama pada
schistosomiasis dikarenakan obat ini dapat membunuh semua jenis schistosoma. Pemberian
obat dilakukan sampai 4 minggu, kemudian dilakukan pemeriksaan kembali untuk melihat
apakah masih ada parasit di dalam feses maupun urin. Pengulangan pemberian 2-4 minggu
setelah pemberian obat pertama dapat meningkatkan efektivitas pengobatan. Penderita
dengan komplikasi dan schistosomiasis kronis harus segera dirujuk untuk penanganan
komplikasi. Pemberian obat cacing tetap dilakukan bersamaan dengan terapi komplikasi yang
timbul pada penderita.
19

DAFTAR PUSTAKA

1. Isselbacher, Braunwald, et al. 2000. Prinsip-prinsip Penyakit Dalam, Penyakit Infeksi.


Vol.2. EGC. Jakarta

2. Schistosomiasis, Fact Sheet No 115; February 2010. World Health Organization. Available
at http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs115/en/

3. Hariyanto, M.E., 2007.Pemanfaatan Air Sungai dan Infeksi Schistosoma Japonicum di


Napu Poso Sulawesi Tengah Tahun 2006. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 1 (5):
219-225.

4. Weekly epidemiological record 30 April No.18, 2010, 85, 157-164. World health
Organization. Available at http://www.who.int/wer

5. Plan, A. I. Neglected Tropical Diseases in Indonesia TROPICAL Neglected Tropical


Diseases in Indonesia. (2015).

6. Bottieau E, Clerinx J, De Vega MR, et al. Imported Katayama fever: clinical and biological
features at presentation and during treatment. J Infect 2006; 52: 33945.

7. Lambertucci JR. Acute schistosomiasis: clinical, diagnostic and therapeutic features. Rev
Inst Med Trop Sao Paulo 1993; 35: 399404.

8. Rocha MO, Pedroso ER, Lambertucci JR, et al. Gastro-intestinal manifestations of the
initial phase of schistosomiasis mansoni. Ann Trop Med Parasitol 1995; 89: 27178.

9. Ross AG, Sleigh AC, Li Y, et al. Schistosomiasis in the Peoples Republic of China:

prospects and challenges for the 21st century. Clin Microbiol Rev 2001; 14: 27095.

10. Cheever AW, Hoff mann KF, Wynn TA. Immunopathology of schistosomiasis mansoni
in mice and men. Immunol Today 2000; 21: 46566.

11. Badmos KB, Komolafe AO, Rotimi O. Schistosomiasis presenting as acute


appendicitis. East Afr Med J. 2006 Oct. 83(10):528-32

12. Terada T. Schistosomal appendicitis: incidence in Japan and a case report. World J
Gastroenterol. 2009 Apr 7. 15(13):1648-9

13. WHO Expert Committee. Prevention and control of schistosomiasis and soil-transmitted
helminthiasis. World Health Organ Tech Rep Ser. 2002; 912:ivi. 157. back cover.
20

14. King CH, Dickman K, Tisch DJ. Reassessment of the cost of chronic helmintic infection:
a meta-analysis of disability-related outcomes in endemic schistosomiasis. Lancet. 2005;
365:15611569.

15. Katz N, Chaves A, Pellegrino J. A simple device for quantitative stool thick-smear
technique in Schistosomiasis mansoni. Rev Inst Med Trop Sao Paulo. 1972; 14:397400.

16. Al-Sherbiny MM, Osman AM, Hancock K, Deelder AM, Tsang VC. Application of
immunodiagnostic assays: detection of antibodies and circulating antigens in human
schistosomiasis and correlation with clinical findings. Am J Trop Med Hyg. 1999; 60:960
966.

17. BADRAN A, EL-ALFI O, PFISCHNER WC, KILLOUGH JH, BURNS TW. The value
of routine rectal biopsy in the diagnosis of schistosomiasis. Am J Trop Med Hyg. 1955;
4:10681071.

18. Homeida M, Abdel-Gadir AF, Cheever AW, Bennett JL, Arbab BM, et al. Diagnosis of
pathologically confirmed Symmers' periportal fibrosis by ultrasonography: a prospective
blinded study. Am J Trop Med Hyg. 1988; 38:8691.

19. Hatz C, Murakami H, Jenkins JM. A review of the literature on the use of
ultrasonography in schistosomiasis with special reference to its use in field studies. 3.
Schistosoma japonicum. Acta Trop. 1992; 51:2936.