Anda di halaman 1dari 114

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

WATER TREATMENT PLANT (WTP) BTG POWER PLANT


PT. SEMEN TONASA

Oleh :

SALFIA YUNUS
442 13 007
TEKNIK PEMBANGKIT ENERGI

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK PEMBANGKIT ENERGI


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2016
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)
BTG POWER PLANT
P.T. SEMEN TONASA

LEMBAR PENGESAHAN POLITEKNIK

Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa:

SALFIA YUNUS 442 13 007

adalah benar Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang Jurusan Teknik Mesin
Program Studi Teknik Pembagkit Energi, telah melaksanakan Kerja Praktik di
BTG Power Plant P.T. Semen Tonasa selama 2 (dua) bulan terhitung dari tanggal
1 Agustus s.d 30 September 2016.
Demikianlah pengesahan ini dibuat dengan sebenarnya untuk digunakan
sebagaimana mestinya.

Makassar, Oktober 2016

Disetujui Oleh:
Ketua Program Studi
Teknik Pembangkit Energi Pembimbing KP

Ir. La Ode Musa, M.T. Sukma Abadi, S.T., M.T.


NIP. 19601231 199003 1 021 NIP. 19741117 200212 1001

Mengetahui:
Ketua Jurusan Teknik Mesin

Dr. Jamal, S.T., M.T.


NIP. 19730228 200012 1 002

ii
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)
BTG POWER PLANT
P.T. SEMEN TONASA

LEMBAR PENILAIAN POLITEKNIK


Laporan ini merupakan salah satu syarat akhir dari Kerja Praktik pada
BTG Power Plant P.T. Semen Tonasa mulai dari tanggal 1 Agustus sampai 30
September 2016, guna memenuhi kurikulum pada Jurusan Teknik Mesin Program
Studi Teknik Pembangkit Energi Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Nilai yang diperoleh selama melakukan Kerja Praktik dilihat dari tingkat
kedisiplinan, kekompakan, kerajinan dan penguasaan materi sebagai berikut:

Nilai
Total Huruf
No Nama Stambuk
Tempat Nilai Mutu
Pembimbing
PKL

1 Salfia yunus 442 13 007

Demikianlah lembar penilaian ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana


mestinya.

Makassar, Oktober 2016

Disetujui Oleh :
Pembimbing KP

Sukma Abadi, S.T., M.T.


NIP. 19741117 200212 1001

iii
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)
BTG POWER PLANT
P.T. SEMEN TONASA

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas berkat-Nya penulis dapat melaksanakan Kerja Praktik dengan lancar dan
menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Kerja Praktik kali ini dimaksudkan untuk menambah pengalaman dan
mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh di bangku kuliah. Kerja Praktik
ini dilaksanakan di BTG Power Plant PT. Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep,
Sulawesi Selatan.
Pelaksanaan Kerja Praktik dan penyusunan laporan ini dapat terlaksana
karena bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penyusun
menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada.
1. Ibu/Bapak dan seluruh keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan
moral, materi, dan doa.
2. Bapak Dr. Jamal, S.T., M.T, selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin
Politeknik Negeri Ujung Pandang.
3. Bapak Ir. La Ode Musa, M.T, selaku Ketua Program Studi Pembangkit
Energi.
4. Bapak Sukma Abadi, S.ST., M.T, selaku Pembimbing PKL (Praktek Kerja
Lapangan).
5. Para staf dan dosen Politeknik Negeri Ujung Pandang yang tidak
disebutkan namanya satu persatu atas torehan ilmunya kepada kami;
6. Bapak Dr. Ir. H. Rego Devila, MM, selaku S.M. of Training PT. Semen
Tonasa.
7. Ibu Zam Zam, SE, selaku Manager of Training Organizing PT. Semen
Tonasa.
8. Bapak Bakri Syafar, ST, selaku Kepala Biro Pemeliharaan Ellins BTG
Power Plant PT. Semen Tonasa.
9. Bapak Gazaly, ST selaku Kepala Seksi Pemeliharaan Ellins BTG Power
Plant PT. Semen Tonasa.

iii
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)
BTG POWER PLANT
P.T. SEMEN TONASA

10. Bapak Andi Rahmat, ST, Kepala Regu Instalasi dan Transmisi BTG Power
Plant PT. Semen Tonasa.
11. Bapak Ir.Herdy Musa, Kepala Biro Pemeliharaan Mesin Pembangkit BTG
Power Plant PT. Semen Tonasa.
12. Bapak M. Alwi, ST, Kepala Seksi Pemeliharaan Mesin Pembangkit I BTG
Power Plant PT. Semen Tonasa.
13. Bapak Ruben Bondo, SE, Kepala Regu Pemeliharaan Mesin Pembangkit I
BTG Power Plant PT. Semen Tonasa.
14. Bapak Ir. Zainal Arifin, Kepala Operasi Mesin Pembangkit BTG Power
Plant PT. Semen Tonasa.
15. Bapak Muh. Musafir, ST, Kepala Seksi Operasi Mesin Pembangkit I BTG
Power Plant PT. Semen Tonasa.
16. Bapak Abd. Wahid, Kepala Seksi Pemeliharaan Instument Pembangkit I
BTG Power Plant PT. Semen Tonasa.
17. Segenap staff dan karyawan PT. Semen Tonasa, khususnya unit BTG
Power Plant. Terima kasih atas bantuannya selama Kerja Praktik dan
pembuatan laporan.
18. Semua pihak yang telah membantu yang tidak sempat penulis sebutkan
satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini tentu saja masih
terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
akan kami terima dengan tangan terbuka. Semoga tulisan ini dapat memberikan
manfaat bagi kami pribadi dan pihak lain yang membutuhkannya.

Makassar, 2016

Penulis

iv
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN POLITEKNIK ........................................................ii

LEMBAR PENILAIAN POLITEKNIK ............................................................ iii

KATA PENGANTAR ...........................................................................................iv

DAFTAR ISI..........................................................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1

1.2 Tujuan dan Manfaat Kerja Praktik ......................................................... 3

1.3 Ruang Lingkup Permasalahan ............................................................... 4

1.4 Metode Pengambilan Data ..................................................................... 4

BAB II SEJARAH SINGKAT INDUSTRI.......................................................... 5

2.1 Sejarah Singkat P.T. Semen Tonasa ..................................................... 5

2.2 Sejarah Singkat BTG Power Plant 8

2.3 Visi dan Misi PT. Semen Tonasa .9

2.4 Filosofi PT. Semen Tonasa ...........9

2.5 Motto PT Semen Tonasa ...........9

2.6 Struktur Organisasi ......10

BAB III LANDASAN TEORI............................................................................. 12

3.1 Pengertian BTG Power Plant .............................................................. 12

3.2 Bagian-Bagian PLTU........................................................................... 13

3.3 Prinsip Kerja PLTU ............................................................................. 20

3.4 Proses Kerja BTG Power Plant ............................................................ 23

1
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB IV PEMBAHASAN.51

4.1 Pengertian Water Treatment Plant (WTP) .......................................... 51

4.2 Bagian-bagian Water Treatment Plant (WTP) .................................... 51

4.3 Proses Water Treatment Plant (WTP)................................................. 62

BAB V KEGIATAN KERJA PRAKTIK LAPANGAN ................................... 66

5.1 Kegiatan Kerja Praktik Lapangan ....................................................... 66


BAB VI PENUTUP .............................................................................................74

6.1 Kesimpulan ........................................................................................... 74

6.2 Saran ..................................................................................................... 75

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 76

LAMPIRAN

2
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Kebutuhan akan energi listrik cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal


ini disebabkan karena semakin banyaknya penduduk memerlukan dan menyadari
arti pentingnya listrik untuk menunjang kehidupan sehari-hari, bisa dibayangkan
bagaimana kehidupan manusia saat ini tanpa adanya energi listrik.
Mengingat kebutuhan masyarakat tersebut maka sangat dibutuhkan
pusat-pusat pembangkit tenaga listrik (Power Plant) untuk menyediakan energi
listrik yang cukup untuk memenuhi konsumsi listrik. Pusat tenaga listrik tersebut
dapat berupa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik
Tenaga Angin/Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG),
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU), Pembangkit Listrik Tenaga Panas
Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) serta pembangkitan
energi listrik yang saat ini sedang menjadi perhatian dunia untuk penggunaanya
secara global diantaranya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa dan Biogas.
Ketersediaan energi dalam jumlah yang memadai sangat dituntut, hal ini
disebabkan karena semakin berkembangnya teknologi khususnya teknologi
elektronik yang dalam pengoperasiannya sebagian besar membutuhkan energi
listrik sebagai sumber energi utama yang sering dipergunakan manusia. Selain hal
tersebut, perkembangan dunia industri juga menuntut adanya ketersediaan energi
dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus
meningkat, baik kebutuhan energi oleh masyarakat maupun oleh industri maka
inovasi teknologi pembangkit energi terus berkembang. Teknologi yang murah,
tepat guna, efisien, dan ramah lingkungan menjadi target ideal dalam teknologi
keenergian dewasa ini.
Praktik kerja lapangan salah satu mata kuliah wajib pada jurusan Teknik
Mesin Politeknik Negeri Ujung Pandang dapat memberikan kesempatan luas
kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmunya dan memperoleh pengalaman

3
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

dunia kerja pada perusahaan atau instansi yang dipilih sebagai tempat kerja
praktek.
Sebagai tempat kerja praktek PT. Semen Tonasa Unit BTG Power Plant
yang berlokasi di Biringkassi, Kabupaten Pangkajene Kepulauan sekitar 17 km
dari lokasi pabrik Semen Tonasa II, III, IV dan V, Provinsi Sulawesi Selatan
merupakan Badan Usaha Milik Negara. Peran perusahaan sebagai industri
strategis dan vital dalam memenuhi kebutuhan energi yang bisa bersaing dengan
berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri, terus menerus diusahakan seiring
dengan pemenuhan akan layanan kepada masyarakat secara baik dan profesional.
Hal tersebut juga diiringi dengan tuntutan untuk memperoleh sertifikasi.

4
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

1.2. Tujuan dan Manfaat Kerja Praktik


1.2.1 Tujuan Kerja Praktik
a. Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari kerja praktik di Power Plant PT. Semen Tonasa
adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi Satuan kredit semester (SKS) yang harus ditempuh
sebagai persyaratan akademis pada program studi D3 Teknik Konversi
Energi Politeknik Negeri Ujung Pandang.

2. Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman di bidang sistem pembangkit


listrik

3. Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan secara teoritis yang telah


diperoleh pada waktu perkuliahan kedalam ilmu praktis dilapangan pada
saat pelaksanaan praktek kerja lapangan.
b. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari kerja praktik di Power Plant PT. Semen Tonasa adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui proses kerja yang ada di Power Plant PT. Semen Tonasa.
2. Memahami proses Water Treatment Plant di Power Plant PT. Semen
Tonasa

1.2.2 Manfaat Kerja Praktik


a) Bagi Perguruan Tinggi

Sebagai tambahan referensi, khususnya mengenai perkembangan teknologi


di Indonesia, serta dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.

b) Bagi Perusahaan

Hasil studi dan penelitian yang dilakukan selama praktik kerja lapangan
dapat menjadi masukan bagi perusahaan untuk mengoptimalkan kinerja
dari sistem yang digunakan.

1
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

c) Bagi Mahasiswa

Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui lebih mendalam tentang


kenyataan yang ada dalam dunia industri dan teknologi. Sehingga
diharapkan nantinya mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang telah
didapatkan di bangku kuliah pada dunia industri.

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan yang dibahas oleh penulis adalah yang
meliputi pengertian Water Treatment Plant, bagian-bagian Water Treatment Plant
dan proses Water Treatment Plant pada Power Plant PT. Semen Tonasa.

1.4 Metode Pengambilan Data


Dalam memperoleh data guna menyusun laporan praktik kerja lapangan
pada Power Plant PT. Semen Tonasa, maka penulis menggunakan metode sebagai
berikut:
a. Orientasi materi
Orientasi materi dimaksudkan untuk memperkenalkan secara khusus
pengoperasian dan sistem yang digunakan pada pembangkit listrik (Power
Plant) sebelum ke lokasi.
b. Orientasi Lapangan
Tinjauan Lapangan dimaksudkan untuk memperoleh data yang merupakan
gambaran kenyataan yang terjadi di Power Plant I PT. Semen Tonasa
dengan cara observasi yaitu dengan melakukan pengamatan secara
langsung pada berbagai kegiatan pengoperasian sistem yang ada dan
sarana pendukung lainnya.
c. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan bertujuan sebagai landasan teori dari laporan ini
dilakukan dengan membaca buku-buku dan tulisan-tulisan ilmiah yang
berkaitan dengan topik laporan ini.

2
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB II
SEJARAH SINGKAT INDUSTRI

2.1 Sejarah Singkat PT. Semen Tonasa

PT. Semen Tonasa adalah produsen semen terbesar di Kawasan Timur


Indonesia yang menempati lahan seluas 715 hektar di desa Biringere Kecamatan
Bungoro Kabupaten Pangkajene Kepulauan, sekitar 68 km dari kota Makassar.
PT. Semen Tonasa yang memiliki kapasitas terpasang 6,8 juta sampai 7 juta
metrik ton semen per tahun yang dihasilkan oleh 4 (empat) unit pabrik yaitu
Tonasa II, III, IV dan V. terdapat juga pelabuhan Biringkassi yang berjarak 17 km
dari lokasi pabrik dan dibangun sendiri oleh PT.Semen Tonasa yang berfungsi
sebagai jaringan distribusi antar pulau maupun ekspor dan dapat disandari kapal
dengan muatan di atas 17.500 ton. Pelabuhan ini juga digunakan untuk bongkar
muat barang-barang kebutuhan pabrik seperti batubara, gypsum, dll. Untuk
kelancaran operasi, pelabuhan ini dilengkapi dengan rambu-rambu laut.
Pelabuhan Biringkassi dilengkapi 5 unit packer dengan kapasitas masing-masing
100 ton per jam serta 7 unit ship loader, 4 unit digunakan untuk pengisian semen
sak dengan kapasitas masing-masing 100-200 ton per jam atau sekitar 4.000 ton
per hari, 3 unit lainnya digunakan untuk pengisian semen curah dengan kapasitas
masing-masing 500 ton per jam. Dermaga pelabuhan Biringkassi memiliki
panjang sekitar 2 km yang diukur dari garis pantai ke laut. Sedangkan panjang
dermaga untuk standar kapal adalah:
Dermaga I :
Sebelah utara : 429 m dengan kedalaman 10,5 m (LWL)
Sebelah selatan : 445,50 m dengan kedalaman 7,5 m (LWL)
Dermaga II :
Panjang dari Dermaga II yaitu sekitar 65 m dengan kedalaman 5 m (LWL)

3
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2.1.1 Pabrik Semen Tonasa Unit I


Tonasa Unit I didirikan berdasarkan Tap MPRS RI No.11/MPRS/1960
pada tanggal 6 Desember 1960 tentang pola pembangunan nasional semesta
berencana tahapan 1961-1969. Tonasa Unit I memulai produksinya pada tahun
1968 dengan produksi semen 120.000 metrik ton semen pertahun dengan proses
basah (proses ini merupakan proses berupa luluhan/slurry dengan kadar air
25/40%). Pabrik yang berlokasi di desa Tonasa kecamatan Balocci kabupaten
Pangkajene ini sejak tahun 1984 tidak lagi dioperasikan karena pertimbanagan
ekonomis. Namun operasinya dihentikan sejak tahun 1984 karena proses basah
menggunakan bahan bakar yang cukup tinggi sehingga tidak efisien lagi.

2.1.2 Pabrik Semen Tonasa Unit II


Tonasa unit II yang berlokasi di Biringere kecamatan Bungoro Kabupaten
Pangkajene, yang lokasinya sekitar 23 km dari lokasi Tonasa Unit I didirikan atas
dasar persetujuan BAPENAS: No. 023XC-LC/B.V.76 (No. 285/D.I/IX/76).
Tonasa Unit II yang menggunakan proses kering (proses ini umpan kiln berupa
tepung kering dengan kadar air 0,5-1 %) mulai beroperasi secara komersial pada
tahun 1980 dengan kapasitas terpasang 510.000 metrik ton semen per tahun.
Program optimalisasi Tonasa Unit II dirampungkan tahun 1991 secara swakelola
dan berhasil meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 590.000 metrik ton per
tahun.

2.1.3 Pabrik Semen Tonasa Unit III


Tonasa Unit III yang berlokasi di tempat yang sama dengan pabrik Semen
Tonasa Unit II dibangun berdasarkan persetujuan BAPENAS No.32/XC-
LC/B.V/1981 (No.2177/WK/10/1981). Tonasa Unit III yang menggunakan proses
kering mulai beroperasi secar komersial pada atahun 1985 dengan kapasitas
terpasang 590.000 metrik ton per tahun.

4
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2.1.4 Pabrik Semen Tonasa Unit IV


Tonasa Unit IV didirikan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Mentri
Perindustrian No.182/MPP.IX/1990 tanggal 2 Oktober 1990 dan SK Mentri RI
No.154/MK.013/1990 tanggal 29 November 1990. Tonasa Unit IV dengan
kapasitas terpasang 2.300.000 metrik ton per tahun dioperasikan secara komersial
pada tanggal 1 November 1996, menggunakan proses kering dan treletak di lokasi
yang sama dengan Tonasa Unit II, unit III dan Unit V.
PT. Semen Tonasa memiliki 7 unit pengantongan semen yang berlokasi di
Makassar, Bitung, Samarinda, Banjarmasin, Bali, dan Ambon dengan kapasitas
masing-masing 300.000 metrik ton semen per tahun kecuali Makassar dan Bali
yang berkapasitas 600.000 metrik ton semen per tahun dan Palu yang berkapasitas
175.000 metrik ton per tahun. PT. Semen Tonasa juga memiliki Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) yaitu Boiler Turbin Generator (BTG) Power Plant
dengan kapasitas 2 x 25 MW yang berlokasi di Biringkassi, Kabupaten
Pangkajene Kepulauan sekitar 17 km dari lokasi Pabrik Semen Tonasa II, III, IV
dan V.
2.1.5 Pabrik Semen Tonasa Unit V
Tonasa V yang didukung power plant 70 MW menelan investasi Rp3,5
triliun. Proyek ini, dikerjakan dua tahun lebih. Sumber dana investasi tersebut
merupakan hasil patungan sejumlah anak usaha Semen Gresik Group. Dana
tersebut termasuk untuk membangun sejumlah fasilitas pendukung, diantaranya
dermaga dan pembangkit listrik 2x35 MW.
Tonasa V, memiliki kapasitas produksi 2,5 juta ton semen. Saat ini, sudah
memproduksi 4,6 juta ton semen setiap tahun. Dengan beroperasinya Tonasa V
akan ada tambahan 2,5 juta ton, sehingga total produksi per tahun akan mencapai
6,8-7 juta ton.Tonasa V didukung ketersediaan bahan baku (batu kapur dan tanah
liat) yang melimpah. Diperkiraan volumenya masih 1.351,5 juta ton batu kapur
dan 152,4 juta ton tanah liat. Bahan baku dapat dimanfaatkan lebih dari 100 tahun.

5
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2.1.6 Konsolidasi dengan PT.Semen Gresik (Persero) Tbk


Pendapatan utama perseroan adalah hasil penjualan Semen Portland
(OPC), semen non OPC yaitu tipe komposit (PCC) tersebar di wilayah Sulawesi,
Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tengggara, Maluku dan Papua. Didukung dengan
merk produk yang solid di Kawasan Indonesia Timur Indonesia, perseroan
berusaha terus menerus dan mempertahankan brand image produk dengan
menjaga kestabilan pasokan di pasar semen, selain itu di dukung sistem distribusi
yang optimal juga merupakan unsur kesuksesan penjualan semen perseroan.
Disamping itu, penjualan ekspor juga dilakukan perseroan jika terjadi kelebihan
produksi setelah pemenuhan pasar dalam negeri. Sebelum konsolidasi dengan
PT.Semen Gresik (Persero) Tbk, pemegang saham Semen Tonasa adalah
pemerintah Republik Indonesia, konsolidasi dengan PT. Semen Gresik (Persero)
Tbk dilaksanakan pada tanggal 15 September 1995 dan sesuai dengan keputusan
RUPSLB pada tanggal 13 Mei 1997, 500 saham portepel dijual kepada Koperasi
Karyawan Semen Tonasa (KKST) sehingga pemegang saham PT.Semen Tonasa
adalah PT. Semen Gresik (Persero) Tbk dengan 304 juta lembar saham dan
Koperasi Karyawan Semen Tonasa (KKST) dengan 500 lembar saham.

2.2 Sejarah Singkat BTG Power Plant

Pembangkit Listrik Tenaga Uap PT. Semen Tonasa dikenal dengan istilah
BTG Power Plant. BTG adalah singkatan dari Boiler, Turbin, dan Generator. BTG
merupakan unit pembangkit listrik menggunakan tenaga uap yang dihasilkan oleh
boiler untuk menggerakkan sudu-sudu turbin. BTG Power Plant menggunakan
batu bara sebagai bahan bakar utamanya, dengan total kapasitas terpasang 110
MW yang terdiri dari 2 unit Pembangkit. Pembangkit I memiliki kapasitas sebesar
2x25 MW sedangkan Pembangkit unit II memiliki kapasitas sebesar 2x35 MW.

Pada tanggal 21 mei 2013, PT Semen Tonasa memulai pengoperasian


pembangkit listrik BTG 2. Pembangkit Listrik BTG 2 ini berlokasi di Pelabuhan
Biringkassi Pangkep berdampingan dengan Pembangkit Listrik BTG 1. Power on

6
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

merupakan tanda dimulainya operasional Pembangkit Listrik BTG 2 milik PT


Semen Tonasa yang berkapasitas 2 x 35 MW dengan nilai investasi 123 juta USD.

Pembangkit Listrik BTG 2 menggunakan teknologi dari Eropa dan Jepang dan
untuk membangun Pembangkit Listrik BTG 2 ini, PT Semen Tonasa
menggandeng konsorsium PT Rekayasa Industri dan Kawasaki Heavy Indutri.
Peralatan utama Boiler buatan dari Kawasaki, Turbin buatan dari Siemens
Industrial Trubo Machinery dan Generator dipasok oleh ABB Sweden.

Sebelumnya PT Semen Tonasa telah memiliki Pembangkit Listrik BTG 1


dengan kapasitas 2 x 25 MW. Pembangkit Listrik BTG 2 dibangun untuk
mensupport ketersediaan power di pabrik Tonasa unit 5.

2.3 Visi dan Misi PT. Semen Tonasa


1. Visi :
Untuk menjadi perusahaan persemenan terkemuka di Indonesia yang
efisien dan ramah lingkungan di Indonesia.
2. Misi :
- Meningkatkan nilai perusahaan sesuai stakeholders.
- Memproduksi semen untuk memenuhi kebutuhan konsumen
dengan kualitas dan harga bersaing serta penyerahan tepat waktu.
- Senantiasa berupaya melakukan improvement di segala bidang,
guna meningkatkan daya saing di pasar dan ebitda margin
perusahaan.
- Membangun lingkungan kerja yang mampu membangkitkan
motivasi karyawan untuk bekerja secara profesional
2.4 Filosofi
Setiap orang didalam perusahaan senantiasa memiliki keyakinan dan
pemikiran untuk dapat menciptakan peningkatan keinerja perusahaan dengan
motto:
Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari pada
hari ini

7
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2.5 Motto PT. Semen Tonasa


Berdiri, Kokoh, Kuat dan Terpercaya

2.6 Struktur Organisasi


A. Struktur Organisasi PT. Semen Tonasa

President Directorate

Departement
Production Commercial Finance
Of Internal
Audit Directorate Directorate Directorate

Departement Departement Departement


Corporate Of Raw Of Of Accounting
Secretary Material Distribution % & Financial
Production Transport

Departement Departement Departement Of


Of CCR & Of Line 2/3 Procurement & Departement Of
General Prodection Ivent Human Capital
Management

Departement
Of Line 4
Production

Departement
Of Line 5
Production

Departement
Of Tehnical
Planning

Departement
Of Power
Plant

Departement
Of
Environment/
Mngmt Repr

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Semen Tonasa

8
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

B. Struktur Organisasi BTG Power Plant

DEPARTEMEN
PEMBANGKIT

BIRO BIRO
BIRO
PEMELIHARAA PEMELIHARAA BIRO OPERASI
DISTRIBUSI
N MESIN N ELINS PEMBANGKIT
DAYA
PEMBANGKIT PEMBANGKIT

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI PEM. SEKSI PEM. SEKSI SEKSI


PENGENDAL PEMLIHARAA PEMLIHARAA SEKSI JARINGAN & JARINGAN & PEMLIHARAA PEMLIHARAA
SEKSI PPOP IAN MUTU N MESIN N MESIN PENGATURAN LISTRIK LUAR LISTRIK N LISTRIK N INSTRUMEN
SEKSI PPOP I
II AIR & BATU PEMBANGKIT PEMBANGKIT BEBAN PABRIK PABRIK PEMBANGKIT PEMBANGKIT
BARA I II

Gambar 1.2 Struktur Organisasi BTG Power Plant

9
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian BTG Power Plant


BTG merupakan singkatan dari Boiler, Turbin dan Generator atau yang
secara umum di kenal dengan istilah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
yaitu merupakan unit pembangkit listrik yang menggunakan uap hasil
pembakaran pada boiler untuk menggerakkan sudu-sudu turbin.
Pembangkit listrik jenis PLTU menggunakan bahan bakar berupa batu
bara dan minyak sebagai sumber energi primer. Dalam hal ini, BTG Power Plant
PT Semen Tonasa menggunakan Batu Bara sebagai bahan bakar utama dalam
pembakaran pada boiler dan menggunakan solar pada saat star up awal.
Proses konversi energi pada PLTU berlangsung melalui 3 (tiga) tahapan yaitu
1. Energi kimia dalam bahan bakar diubah menjadi energi panas dalam bentuk
uap bertekanan dan temperatur tinggi.
2. Energi panas (uap) diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran.
3. Energi mekanik diubah menjadi energi listrik.

Gambar 1.3 Proses Konversi Energi pada PLTU


.

10
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.2 Bagian- bagian PLTU


PLTU adalah mesin pembangkit yang terdiri dari bagian utama dan
peralatan penunjang / peralatan bantu. Bagian utama dari PLTU pada umumnya
adalah :

3.2.1 Boiler

Boiler atau ketel uap adalah alat yang berfungsi untuk mengubah air
menjadi uap. Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan memanaskan air
yang berada didalam pipa-pipa dengan memanfaatkan panas dari hasil
pembakaran bahan bakar. Pembakaran dilakukan secara kontinu didalam ruang
bakar dengan mengalirkan bahan bakar dan udara. Uap yang dihasilkan boiler
adalah uap superheat dengan tekanan dan temperatur yang tinggi. Boiler yang
konstruksinya terdiri dari pipa-pipa berisi air disebut dengan water tube boiler.
Dalam pembangkit listrik, untuk memutar turbin dibutuhkan uap yang
sifatnya kering yang dikenal sebagai superheating steam. Hal ini disebabkan
apabila uap mengandung butir-butir air akan merusak sudu-sudu turbin. Untuk
membuat uap kering, maka uap jenuh dimasukkan kedalam superheater.
Superheater adalah heat exchanger yang ditambahkan dan diletakkan dalam
ruang bakar untuk menghasilkan uap kering.
Sistem boiler terdiri dari:
1. Sistem air umpan
Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis
sesuai dengan kebutuhan steam. Berbagai valve disediakan untuk
keperluan perawatan dan perbaikan dari sistem air umpan, penanganan air
umpan diperlukan sebagai bentuk pemeliharaan untuk mencegah terjadi
kerusakan dari sistem steam. Air yang disuplai ke boiler untuk diubah
menjadi steam disebut air umpan. Untuk mendapatkan efisiensi boiler
yang lebih tinggi, digunakan economizer untuk memanaskan awal air
umpan menggunakan panas gas buang.

11
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2. Sistem steam
Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam
dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna.
Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan keran dan
dipantau dengan alat pemantau tekanan.
3. Sistem bahan bakar
Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk
menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis
bahan bakar yang digunakan pada sistem.

Gambar 1.4 Skema Pembentukan Steam

12
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.2.2 Turbin
Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial
menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi
mekanik dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin langsung atau dengan
bantuan elemen lain, dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan.
Tergantung dari jenis mekanisme yang digerakkan turbin uap dapat digunakan
pada berbagai bidang industri, seperti untuk pembangkit listrik.
Komponen-komponen utama pada turbin uap yaitu:
1. Cassing yaitu sebagai penutup (rumah) bagian-bagian utama turbin;
2. Rotor yaitu bagian turbin yang berputar terdiri dari:
a. Poros. Berfungsi sebagai komponen utama tempat dipasangnya
cakram-cakram sepanjang sumbu.
b. Sudu turbin atau deretan sudu. Berfungsi sebagai alat yang
menerima gaya dari energi kinetik uap melalui nosel.
c. Cakram. Berfungsi sebagai tempat sudu-sudu dipasang secara radial
pada poros.
d. Nozzel. Berfungsi sebagai media ekspansi uap yang merubah energi
potensial menjadi energi kinetik.
e. Bantalan (bearing). Merupakan bagian yang berfungsi uuntuk
menyokong kedua ujung poros dan banyak menerima beban.
f. Perapat (seal). Berfungsi untuk mencegah kebocoran uap, perapatan
ini terpasang mengelilingi poros.
g. Kopling. Berfungsi sebagai penghubung antara mekanisme turbin
uap dengan mekanisme yang digerakkan.

3.2.3 Kondensor
Kondensor adalah alat yang berfungsi untuk mengkondensasikan uap basah
dari turbin menjadi air kondensat untuk dapat disirkulasikan kembali. Hal ini
dilaksanakan melalui proses pendinginan uap oleh air pendingin air yang mengalir
di bagian dalam pipa-pipa kondensor.

13
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.2.4 Generator
`Generator listrik adalah sebuah alat yang mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik, biasanya dengan menggunakan induksi elektromagnetik.
Generator arus bolak-balik sering disebut juga sebagai alternator, generator AC
(Alternating Current), atau generator sinkron. Dikatakan generator sinkron karena
jumlah putaran rotornya sama dengan jumlah putaran medan magnet pada stator.
Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub-kutub
magnet yang berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan putar pada
stator. Kumparan medan generator sinkron terletak pada rotornya sedangkan
kumparan jangkarnya terletak pada stator.
Konstruksi generator arus bolak-balik ini terdiri dari dua bagian utama,
yaitu stator adalah bagian diam yang mengeluarkan tegangan bolak-balik dan
rotor adalah bagian bergerak yang menghasilkan medan magnet yang
menginduksikan ke stator.
Kumparan medan adalah kumparan yang diberi supply arus DC sehingga
membangkitkan medan magnet. Medan magnet itu menimbulkan flux magnet,
sedangkan kumparan yang lain membangkitkan gaya gerak listrik. Generator
kutub dalam ialah apabila kumparan medan terletak pada rotor dan kumparan
jangkar terletak pada statornya. Generator kutub luar ialah apabila kumparan
medan terletak pada statornya dan kumparan jangkar terletak pada rotornya atau
kumparan jangkar berputar.
Pada generator AC sinkron, stator ditempatkan pada rumah (kerangka)
yang diberikan isolasi. Stator terbuat dari laminasi inti-besi yang diberikan slot
sebagai tempat untuk kumparan. Tujuan menggunakan laminasi inti besi adalah
untuk mengurangi rugi-rugi arus eddy (eddy current).

3.2.4.1 Prinsip Kerja Generator Sinkron


Prinsip dasar generator arus bolak-balik menggunakan hukum Faraday
yang menyatakan jika sebatang penghantar berada pada medan magnet yang
berubah-ubah, maka pada penghantar tersebut akan terbentuk gaya gerak listrik,
dimana rotor berlaku sebagai kumparan medan (yang menghasilkan medan

14
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

magnet) dan akan menginduksi stator sebagai kumparan jangkar yang akan
menghasilkan energi listrik. Pada belitan rotor diberi arus eksitasi DC yang akan
menciptakan medan magnet. Rotor ini dikopel dengan turbin putar dan ikut
berputar sehingga akan menghasilkan medan magnet putar. Medan magnet putar
ini akan memotong kumparan jangkar yang berada di stator. Oleh karena adanya
perubahan fluks magnetik pada tiap waktunya maka pada kumparan jangkar akan
mengalir gaya gerak listrik yang diinduksikan oleh rotor.
Besarnya GGL yang dibangkitkan adalah :

E = C .n .

Dimana : E = Gaya gerak induksi (Volt)


C = konstanta
N = kecepatan putaran generator
= fluks
Bila suatu generator mendapatkan pembebanan yang melebihi dari
kapasitasnya, maka dapat mengakibatkan generator tersebut tidak bekerja atau
bahkan akan mengalami kerusakan. Untuk mengatasi kebutuhan listrik atau beban
yang terus meningkat tersebut, bisa diatasi dengan menjalankan generator lain
yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja
sebelumnya, pada satu jaringan listrik yang sama. Keuntungan dari
menggabungkan 2 generator atau lebih dalam suatu jaringan listrik adalah salah
satu generator tiba-tiba mengalami gangguan, maka generator tersebut dapat
dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain, sehingga pemutusan listrik
secara total bisa dihindari.
Terhubungnya suatu generator dengan generator lainnya dalam suatu jaringan
interkoneksi yang disebut kerja paralel harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama;
b. Tegangan generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang
sama;

15
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

c. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus


sama;
d. Urutan fasa dari kedua generator harus sama.
Sedangkan peralatan penunjang terdiri dari:
1. Desal-Demin
Desal demin berfungsi sebagai tempat proses kimiawi dan biologi
dengan cara mengikat unsur anion dan kation pada air baku dengan
menggunakan resin yang berada pada sebuah SWRO yang mengalir
melalui membran vessel guna mendapatkan conductivity yang diharapkan
lalu air tersebut ditampung ke SWRO tank. Air yang ditampung di SWRO
tank akan dialirkan ke BWRO untuk menghilangkan kadar mineral yang
terkandung pada air.

2. Water Cooling System


Water Cooling System berfungsi sebagai pendingin untuk mendinginkan
komponen-komponen atau peralatan-peralatan yang beroperasi pada unit
pembangkit sehingga komponen atau peralatan tersebut terhindar dari
kerusakan yang diakibatkan oleh panas yang berlebih (over heating).

3. Coal Handling System


Coal Handling System berfungsi menangani mulai dari pembongkaran
batubara dari kapal (unloading area) sampai ke area
penimbunan/penyimpanan di stock pile ataupun langsung pengisian ke
bunker (power plant), yang selanjutnya digunakan untuk pembakaran di
boiler.

4. Ash Handling System


Ash Handling System berfungsi untuk menampung abu sisa hasil
pembakaran dan kemudian disalurkan ke tempat pembuangan akhir (silo
fly ash). Pada sistem Ash Handling abu akan disimpan sementara di
Cyclone Deducter dan Electrikstatik Precipitator (EP).

16
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Tiap-tiap komponen utama dan peralatan penunjang dilengkapi dengan


sistem-sistem dan alat bantu yang mendukung kerja komponen tersebut.

Gambar 1.5 Skema PLTU


Ketarangan gambar:
1. Coal Hopper 18. LPH 36. Slang Crusher
2. Coal Transport No.1 19. Daerator 37. Slang Hopper
3. Ring Hammer 20. BFW Pump 38. Slang Water Pump
Crusher 21. HPH 39. Air Blower
4. Coal Transport No.2 22. Turbin 40. Cyclon Deduster
5. Raw Coal Bunker 23. Generator 41. Electrostatic
6. Matering Feeder 24. SWI Pump Precipitator
7. Coal Mill 25. Automatic Filter 42. I.D Fan
8. Coarse Powder 26. Sea Water Storage 43. Stack
Separator Pond 44. Cyclon Collector
9. Fine Powder 27. Desal Demin 45. Bag Filter
Separator 28. Demineralized Water 46. Air Lock Valve
10. Powder Bin Tank 47. Tree Way Chute
11. Mill Fan 29. Boiler 48. Screw Conveyor
12. Powder Feeder 30. Fumace 49. Rotary Fan
13. Diesel Oil Tank 31. Superheater 50. Ash Silo
14. Diesel Oil Pump 32. Economizer 51. Compressor
15. Gun Burner 33. Slang Remover 52. Cana
16. Condensor 34. Slang Transport No.1
17. Condensor Pump 35. Slang Transport No.2

17
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.3 Prinsip Kerja PLTU


PLTU adalah unit pembangkitan listrik menggunakan generator yang
digerakkan oleh turbin uap. Putaran turbin Uap pada PLTU tentu saja didapatkan
dari energi kinetik uap kering.

Gambar 1.6 Skema PLTU secara umum

Keterangan :
(1 2) - Air dari kondensor dipompakan/ditekan ke dalam boiler.
(2 3) - Air menerima energi panas di dalam boiler, berubah menjadi uap panas.
(3 4) - Uap memutar turbin yang seporos dengan generator, merubah energi
panas menjadi energi mekanik yang menggerakkan turbin dan energi
listrik dibangkitkan oleh generator.
(4 1) - Uap melepaskan energi panas di kondensor, kembali menjadi air.

Dibanding jenis pembangkit lainnya PLTU memiliki beberapa keunggulan.


Keunggulan tersebut antara lain :
Dapat dioperasikan dengan menggunakan jenis bahan bakar padat dan cair.
Dapat dibangun dengan kapasitas yang bervariasi.
Dapat dioperasikan dengan berbagai mode pembebanan.
Kontinyuitas operasinya tinggi.
Usia pakai (life time) relatif lama

18
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Namun disamping itu, PLTU juga mempunyai beberapa kelemahan yang


harus dipertimbangkan dalam memilih jenis pembangkit termal. Kelemahan itu
adalah:
Sangat tergantung pada tersedianya pasokan bahan bakar.
Memerlukan tersedianya air pendingin yang sangat banyak dan kontinyu.
Memerlukan penyediaan air pendingin dalam jumlah yang sangat banyak dan
kontinyu.
Investasi awalnya mahal.

Gambar 1.7 Proses kerja PLTU dengan Bahan Bakar Batu Bara

3.4 Siklus Rankine


Siklus dasar yang digunakan untuk sistem PLTU adalah siklus Rankine.
Secara sederhana siklus Rankine yang ideal dapat diperlihatkan pada gambar
Sedangkan untuk diagram aliran siklus Rankine dalam suatu pembangkitan dapat
dilihat pula pada gambar

19
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

(a) (b)

Gambar 1.8 Siklus Rankine Ideal, (a) diagram T-s, (b) diagram h-s.

1. 1 2 : Air dipompa dari tekanan P2 menjadi P1. Langkah ini adalah


langkah kompresi isentropis, dan proses ini terjadi pada pompa air pengisi.
2. 2 2 : Air bertekanan ini dinaikkan temperaturnya hingga mencapai titik
didih. Terjadi di LP heater, HP heater dan Economiser. .
3. 2 3 : Air berubah wujud menjadi uap jenuh. Langkah ini disebut
vapourising (penguapan) dengan proses isobar isothermis, terjadi di boiler
yaitu di wall tube (riser) dan steam drum.
4. 3 3: Uap dipanaskan lebih lanjut hingga uap mencapai temperatur
kerjanya menjadi uap panas lanjut (superheated vapour). Langkah ini
terjadi di superheater boiler dengan proses isobar.
5. 3 4 : Uap melakukan kerja sehingga tekanan dan temperaturnya turun.
Langkah ini adalah langkah ekspansi isentropis, dan terjadi didalam
turbin.
6. 4 1: Pembuangan panas laten uap sehingga berubah menjadi air
kondensat. Langkah ini adalah isobar isothermis, dan terjadi didalam
kondensor.

Pertama air diisikan ke boiler hingga mengisi penuh seluruh luas


permukaan pemindah panas. Didalam boiler air ini dipanaskan dengan gas

20
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

panas hasil pembakaran bahan bakar dengan udara sehingga berubah


menjadi uap.
Kedua, uap hasil produksi boiler dengan tekanan dan temperatur tertentu
diarahkan untuk memutar turbin sehingga menghasilkan daya mekanik
berupa putaran.
Ketiga, generator yang dikopel langsung dengan turbin berputar
menghasilkan energi listrik sebagai hasil dari perputaran medan magnet
dalam kumparan, sehingga ketika turbin berputar dihasilkan energi listrik
dari terminal output generator
Keempat, Uap bekas keluar turbin masuk ke kondensor untuk didinginkan
dengan air pendingin agar berubah kembali menjadi air yang disebut air
kondensat. Air kondensat hasil kondensasi uap kemudian digunakan lagi
sebagai air pengisi boiler.
Demikian siklus ini berlangsung terus menerus dan berulang-ulang.

Dalam pengoperasian idealnya, PLTU menggunakan siklus tertutup (closed


system). Air yang digunakan sebagai fluida kerjanya dapat digunakan kembali
untuk proses berikutnya. Siklus PLTU mengikuti prinsip kerja siklus rankine,
yaitu pemanasan suatu fluida (air) oleh heat exchanger kemudian berubah menjadi
uap panas. Lalu uap panas tadi masuk ke dalam steam turbin sehingga dapat
menggerakkan generator. Setelah itu uap yang keluar dari generator masuk dalam
condensor dan berubah menjadi air kembali. Setelah itu air dipompa masuk ke
dalam heat exchanger untuk dipanaskan. Dan seterusnya sehingga membentuk
suatu siklus yang dinamakan siklus rankine.

3.5 Proses Kerja BTG Power Plant


Secara umum pada BTG Power Plant terdapat lima proses yaitu:
A. Coal Handling System;
B. Diesel Oil (Solar);
C. Boiler System (Unit Penghasil Uap dan Pembangkit Listrik);
D. Water System;

21
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

E. Ash Handling System;

3. 5.1 Coal Handling System


Batubara yang digunakan sebagai bahan bakar untuk Boiler berasal dari
Kalimantan yang diangkut dengan ponton/tongkang ke Pelabuhan Biringkassi.
Batubara ditransport dari pelabuhan Biringkassi ke storage yard dengan
menggunakan dump truck yang berkapasitas 10 ~ 15 ton.
Storage yard terdiri dari :
Shelter storage yard, merupakam bagian utama dari storage house
Luas = 4.750 m kapasitas = 7.500 ton
Open air storage yard
Luas = 6.000 m kapasitas = 9.500 ton
Total luas keseluruhan 10.750 m dengan kapasitas 17.000 ton, cukup untuk
kebutuhan 24 hari.
Untuk umpan batubara ke coal mill digunakan bucket loader. Sedangkan
bulldozer hanya digunakan untuk pendorongan batubara sehingga terkumpul
dalam bentuk stock pile.
Dari hopper batubara berkapasitas 80 Ton/hour ditransport dengan belt
convenyor 1 sepanjang 76.381 m dan ketinggian 19.06 m sudut elevasi 14.5 dan
pada ujung belt dilengkapi iron magnetic remover untuk menangkap
potongan/serpihan besi yang terkait dengan batubara, masuk umpan lewat jalur
bypass atau langsung kering hammer cruser untuk dicrushing hingga ukuran 30
mm untuk selanjutnya dengan belt conveyor II sepanjang 86.668 m dan
ketinggian 10.785 m dan sudut elevasi 13 ditrasport ke raw coal bunker dibantu
dengan pengarah unloader. Ada empat raw coal bunker, masing-masing kapasitas
80 m
Belt conveyor I dan II dilengkapi pengaman emergency stop yaitu two way
pull rope terletak disamping sepanjang belt I & belt II.

Pengoperasian Coal Transport

Periksa level oli dan kondisi dari masing-masing peralatan.

22
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Periksa scraper belt, aligment, pull rope, intermediate belt dan belt conveyor
dalam posisi yang tepat (tidak miring).
Lakukan loading setelah semua peralatan beroperasi dengan baik.
Lakukan pengecekan secara kontinyu selama operasi.
Apabila bunker batubara sudah penuh, maka stop masing-masing peralatan
sesuai urutan baliknya.
Lakukan pembersihan batubara yang menempel pada drum roller dan yang
terbuang kelantai, sehingga selalu dalam keadaan siap operasi.

Spesifikasi alat.
Ring hammer cruser (J0401) Motor Vibrating Feeder
Model HSZ -30 Kapasitas umpan 0-100
ton/jam
Kapasitas 30 t/h Daya motor 2 x 0.4 kw
Ukuran inlet <200 mm Ukuran material/bahan 0
200mm
Ukurang inlet < 30 mm
Daya motor 37 KW Magnetic Iron Remover
Tegangan 380 V Lebar 650 mm
Kuat Arus 78.9 A Tinggi 200 mm
Kecepatan putaran 740 rpm

Belt conveyor No. 1 ( V0404) Belt conveyor No. 2 (V0405)


Kapasitas 80t/h Kapasitas 80 t/h
Lebar belt 650 mm Lebar belt 650 mm
Kecepatan 1 m/s Kecepatan 0 m/s
Tinggi elevasi belt 19.06 m Tinggi elevasi belt 10.785 m
Panjang belt 76.318 m Panjang belt 86.668 m
Sudut elevasi 14.5 Sudut elevasi 13
Daya motor 15 KW Daya motor 11 KW
Tegangan 380 V Tegangan 380 V

23
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Kuat Arus 30.3 A


Kecepatan putaran 1460 rpm

Motor Vibrating screen Motor unloader


Wilayah ayakan 2000 x 780 mm Kapasitas unloadng80ton/jam
Daya motor 0.18 kw Daya tuas/ pengungkit 0.37
Gaya getar 5000 N Raw coal funnel (F0116)
Raw coal bunker (F0103) Volume 19 3
Volume 83 3

Sistem Penggilingan Batubara

Penggilingan batubara adalah proses mereduksi partikel menjadi ukuran yang


lebih kecil atau membuat luas permukaan menjadi lebih besar. Sedangkan tujuan
penggilingan batubara adalah untuk menaikkan luas permukaan spesifik material
untuk meningkatkan reaktivitas batubara terhadap oksigen dalam proses
pembakaran didalam ruang bakar Boiler. Bentuk spesifikasi pada coal mill
sebagai berikut:
No.Item : J0105 a d
Model : MG 250 /320
Type : Low Speed Cylinder Steel Mil
Capacity : 10 t/h
Max. Ball Loading : 18 ton
Volume : 15,71 m3
Quantity : 2 sets perboiler
Model Motor : YRKK480-80TH
Power : 280 KW
Voltage : 6 KV

24
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Proses sistem aliran material pada coal mill PLTU Biringkassi Tonasa
termasuk aliran closed circuit dengan drying during grinding dengan media
pemanas udara panas yang telah melewati air heater Boiler.
Pengeringan bertujuan untuk menghindari lengket pada penggilingan dan
menambah efek penggilingan.
Mekanisme proses Tube Mill :
Alat :Feeding sistem : feeder : belt conveyor
Main equipment : tube mill, main drive, slide bearing, master gear
Product transport sistem : air swept, screw pump
Pemisah produk : coarse separator, fine separator (cyclone), dust collector
Mill fan dan Air blower.
Penggilingan dimaksudkan untuk menyiapkan campuran yang homogen
dengan kehalusan tertentu.
Mesin penggiling jenis Tube Mill (Horizontal Mill) mekanismenya yaitu
silinder baja yang berputar sendiri dengan grinding media (grinding ball), terjadi
milling karena dari tumbukan grinding media. Dengan berputarnya mill maka
akan terangkat grinding ball dan lalu jatuh yang memberikan impact pada
material. Penggilingan terjadi karena efek gesekan (friksi) antar sesama grinding
ball atau dengan liner.

Gambar 1.9 Aliran Proses Material Batu Bara

25
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gerakan material dalam mill dari inlet ke outlet akibat faktor :


- Bertambahnya volume arah material karena ukuran partikel mengecil
- Sifat flowability (karena halus semakin banyak)
- Sifat alir material sendiri
- Tarikan dan fan.

Variabel produk coal mill terhadap jumlah dan kualitasnya yaitu :


- Jumlah produk :
Dari chute metering feeder (menyimpang) ini buntu dengan cara pukul
Kadar air
Material terlalu kasar
Gas panas sedikit
Lifter lifting banyak yang aus
grinding ball aus / ada kotoran (sehingga kurang)
- Kualitas produk :
Kehalusan 90 24%
Kadar air
Kasar karena setting bukaan flap pada coarse separator, kadar air produk
tinggi, pendulum flap pada coarse separator tipis, grinding ball banyak aus.
Gap antara cone - housing separator terlalu besar, terdapat lubang pada cone
separator.
- Temperatur :
Gas outlet mill normal 60 ~ 70 C
Temperatur gas inlet << 200 C maka minta tambah panas
Kadar air material
Pembukaan damper mill fan
Besarnya fresh feed
Jika suhu rendah maka transport produk sulit.

26
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Flow reject mempengaruhi fresh feed, jika FF tetap diamati : setting separator,
pembukaan damper mill fan, bukan gate air support, grindability material.
Sedangkan jika FF 0 (nol) maka buntu pada mill.

Variabel - variable yang dapat diamati selama operasi :


Produk : kontinuitas produk dan jumlah yang cukup (bin powder terbatas).
kualitas produk : kehalusan nilai kalor, kadar air, kadar sulfur, kadar
abu.
Suhu outlet mill : kadar air dan suhu material inlet mill, jumlah material yang
masuk.
Suhu gas inlet mill : suhu air heater, suhu furnance Boiler, tekanan air blower,
umpan batubara masuk mill.
Level mill : bunyi mill
Aliran material in - out mill : gerakan air lock, kebersihan wood peace & chip
separator.

Pengendalian mutu dapat diatur dari input material yang akan diproses dan
selama proses pengolahannya dalam hal ini mutu penggilingan batubara dapat
dikendalikan dari input material yang berupa raw coal (batubara kasar, kemudian
pengendalian operasi selama penggilingan batubara yaitu ukuran bubuk batubara
dengan penunjang operasi yaitu pemanasan batubara selama penggilingan hingga
menghasilkan bubuk batubara sesuai standart mutu yang diinginkan.
Target mutu batubara di PLTU Tonasa :
Batubara kasar :
Inlet coal mill : Kadar Air : 5~25 %
Komposit : Nilai kalor > 5600 kcal/kg
Sulfur 0.4 ~ 1.2 %
Volatile matter 35 ~ 50 %
Outlet coal mill Kadar Air 1.0 ~ 6 %
Fineness Residu 0,090 mm < 24

27
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.2 Diesel Oil (Solar)


Penyiapan solar dilakukan untuk proses pembakaran pada saat boiler akan
strat beroperasi karena batubara yang digunakan sebagai bahan bakar utama susah
terbakar pada suhu yang rendah. Oleh karena itu untuk pembakaran awal
digunakan solar yang merupakan bahan bakar yang mudah terbakar. Adapun
proses penyiapan solar untuk digunakan pada boiler untuk pembakaran awal
adalah sebagai berikut:
Pertama-tama solar ditampung dalam sebuah Diesel Oil Tank. Dari diesel
oil tank ini solar dipompa dan disalurkan melalui delapan buah pipa dimana empat
buah pipa ditempatkan di bagian atas dari upper gun batubara dan empat buah
pipa lainnya di bagian bawah dari bagian lower gun batubara.

3.5.3 Boiler System (Unit Penghasil Uap dan Pembangkit Listrik)


3.5.3.1 Deaerator
Setelah air laut mengalami pengolahan, maka sebelum air diuapkan di
boiler pertama kali air tersebut melalui deaerator. Deaerator berfungsi untuk
menaikkan temperatur air sebelum masuk ketel dan sekaligus membuang
oksigen dengan cara pemanasan serta sekaligus berfungsi menampung air.
Pada setiap deaerator dilengkapi dengan storage tank dan dome deaerator,
dimana storage tank terletak memanjang horizontal dan dome deaerator posisi
vertikal. Storage tank berfungsi menampung hasil air kondensat yang telah
dikeluarkan gas-gasnya dan sebagai pasokan air untuk BFWP, sedangkan pada
dome deaerator terjadi pemanasan kontak langsung antara air kondensat dan
uap.
Disamping sebagai pemanas air kondensat, pada dome deaerator berfungsi
juga menghembuskan atau mengeluarkan gas yang tidak dapat mengembun
yang larut dalam air kondensat seperti O2, CO2, agar tidak terbawa pada sistem
air pengisi (Fit Water) karena bisa menimbulkan korosi pada pipa-pipa boiler.
Uap ekstraksi pada deaerator juga memberikan tekanan pada permukaan air
pengisi sehingga tidak menguap. Pada outlet storage, deaerator biasanya
diinjeksikan hyidrazin (N2H4) atau Sodium Sulfit (Na2SO3) untuk mengikat

28
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

oksigen, tujuan injeksi untuk mengikat oksigen terlarut yang tidak bisa dibuang
pada dome deaerator sehingga konsentrasinya serendah mungkin.
Bentuk spesifik pada daerator sebagai berikut:
No.Item : F0206 a/b
No.Model : PY-150 MT / Jam sprying Type
Tekanan Design : 0,21 MPa
Temperatur Design : 135 derajat Celsius
Tekanan Kerja : 0.0196 Mpa
Temperatur Inlet : 90 derajat Celsius
Temperatur Outlet : 104 derajat Celsius
Kapasitas Kerja : 150 MT/Jam
Media Kerja : Uap/ air

Gambar 1.10 Prinsip Kerja Daerator

3.5.3.2 Boiler Feed Water Pump (BFWP)

Gambar 1.11 Proses Boiler Feed Water Pump (BFWP)

29
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Setelah melewati deaerator, maka air kemudian disalurkan ke Boiler Feed Water
Pump (BFWP). BFW Pump adalah pompa air bertekanan tinggi untuk memompa
air dari dearator ke boiler dengan melalui pemanas tekanan tinggi (HPH) dan
economizer. Tekanan yang dihasilkan oleh BFWP harus mampu mengatasi
tekanan steam drum agar air pengisi bisa masuk. Air pengisi yang dipompa oleh
BFWP dari storage tank deaerator yang bersuhu tinggi kurang lebih 104oC akibat
pemanasan di deaerator, memerlukan perhatian khusus terhadap pompa, artinya
pompa yang stanby harus sesuai atau mendekati dengan temperatur air yang akan
dipompa agara tidak terjadi pemuaian yang mendadak sehingga berakibat
merusakkan pompa. Untuk menghindari terjadinya kavitasi BFWP diperlukan
tekanan section yang lebih tinggi dari NPSH BFWP (tekanan suction positif
netto), dimana harga NPSH (Net Preasure Section Heed) untuk BFWP pada BTG
P.T. Semen Tonasa kurang lebih 9,7 mH2O apabila tekanan section dibawah
NPSH pompa maka pada section pompa akan timbul gelembung uap dan
gelembung ini akan hilang saat tekanan dinaikkan dalam pompa atau disebut
kavitasi. Kavitasi membawa akibat buruk bagi pompa antara lain:
a) Suara berisik;
b) Vibrasi (dapat membengkokan poros, merusak bantalan, melelahkan
material);
c) Membuat pitting (bopengan) pada impeller;
d) Mengurangi kapasitas dan menurunkan efisiensi pompa.
Untuk memenuhi NPSH pompa BFW sesuai yang dibutuhkan diatasi dengan
menempatkan Storage Tank Daerator pada ketingian tertentu. Selain itu, BFWP
adalah pompa yang digunakan tanpa menaikkan pompa air. Berikut spesifikasi
pompa yang digunakan :
No.Item : P0208 a- e
No.Model : 100 G100X6
Laju Aliran (Flow rate) : 75 m3/jam
Head Suction : 600 m
Model Motor : JK- 250
Power : 250
Kecepatan Putar : 2950 rpm
Voltase : 6000 Volt

30
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.3.3 LPH (Low Pressure Heater)


Setelah melewati gland steam heater untuk pemanasan tahap awal,
pemanas air selanjutnya yaitu low pressure heater. LPH merupakan alat yang
berfungsi untuk memanaskan kembali air kondensasi setelah sebelumnya
dipanaskan di gland steam heater dengan media uap ekstraksi turbin temperature
rendah, temperatur air setelah melewati alat ini 70 oC
No Item H0201a /b H0201b/d
No.Model JD-80-V JD-80-VI
Luas Perpindahan Panas 80 m2 80 m2
Tekanan Uap Design 0,05 Mpa 0,05 MPa
Temperatur Ektraksi Uap 10 derajat Celsius 74,4 derajat
Celsius
Temperature air inlet 69,4 derajat celsu\ius 45,4 derajat
Celsius
Temperature air outlet 90 derajat Celsius 69,4 derajat
Celsius

3.5.3.4 HPH (High Pressure Heater)


HPH adalah pemanas air pengisi tahap akhir dengan media uap ekstraksi
turbin temperature tinggi sebelum dialirkan ke economizer. HPH adalah alat yang
berfungsi juga untuk memanaskan air kondensasi yang sebelumnya telah diproses
di daerator dan dipompakan oleh boiler feed pump (BFP), temperatur air setelah
melewati pemanas ini sekitar 104oC dan selanjutnya akan di alirkan ke boiler guna
melangsungkan proses pemanasan selanjutnya.
No. Item H0202a H0202b
No.Model : JG-100-1 JG-100-H
Luas Perpindahan Panas : 100 m2 100 m2
Tekanan Desain Sisi Uap : 1,18 Mpa 1,18 MPa
Tekana Desain Sisi Air : 6,1 MPa 6,1 MPa.g
Tekanan Uap kerja : 1,003 Mpa.G 0,415 Mpa.G
Temparatur Kerja : 299,6 derajat celcius 250 derajat
Celsius
Tekanan Air Inlet : 5.884 MPa.G 5.884 MPa.G
Temperatue air Inlet : 137,4 derajat Celsius 104,3 Derajat
Celsius
Tekanan air Outlet : 5,884 MPa.G 5,884 Mpa.G
Temperatur Air Outlet : 171,6 derajat Celsius 137,4 derajat
celcius

31
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.3.5 Air Heater


Air heater adalah suatu alat yang digunakan untuk memanaskan udara
pembakaran sebelum masuk ke ruang bakar (furnance). Alat ini tersusun dari
pipa pipa kecil yang didalamnya dilewati udara bertekanan, sama seperti
economizer kalor yang diterima oleh air heater diambil dari gas buang dari
pembakaran di furnance, suhu gas buang yang melewati air heater berkisar antara
180 190 C.

3.5.3.6 Economizer
Economizer adalah alat yang digunakan untuk memanaskan air pengisi/air
umpan yang diguanakan untuk menghasilkan uap sebelum dialirkan ke steam
drum. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan air pengisi yang suhunya tidak
jauh berbeda dengan air yang terdapat pada steam drum, serta untuk menaikkan
efisiensi boiler. Kalor yang diterima oleh economizer diambil dari gas buang dari
pembakaran di furnance yang suhunya antara 470 490 C, sedangkan air pengisi
setelah mengalami pemanasan di economizer memiliki suhu antara 200 300 C
Setelah air melalui HPH, air kemudian disalurkan ke economizer, dimana
di economizer temperatur air dinaikkan hingga mencapai 240oC dengan tekanan
3,8 - 4,2 MPa. Panas yang diserap oleh economizer berasal dari gas buang yang
diserap oleh economizer berasal dari gas buang hasil pembakaran yang melewati
economizer. Di BTG Power Plant P.T. Semen Tonasa, economizer disusun dua
tingkat (economizer 1 dan 2). Fungsi dari economizer adalah untuk menaikkan
temperatur feed water sebelum masuk ke boiler sehingga bahan yang dibutuhkan
untuk menguapkan air dapat lebih ekonomis.

32
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.12 Economizer

3.5.3.7 Boiler
Boiler merupakan salah satu komponen utama dalam instalasi mesin uap.
Setelah melalui economizer air yang bertemperatur kurang lebih 500oC ini
disalurkan dan ditampung di steam drum dan dari steam drum, air yang dialirkan
turun dengan sistem gravitasi ke dalam boiler melalui empat pipa pendistribusi
(down comer tubes) yang dihubungkan dengan header. Header ini berfungsi
untuk menyalurkan air ke ribuan pipa kecil (membran wall tubes) dengan
diameter 60x4 mm dan ketebalan membran 6 mm yang memenuhi dinding
keseluruhan pada boiler. Setelah membran-membran tersebut terisi air maka
dilakukan pembakaran di dalam boiler. Gunanya air yang dimasukkan ke dalam
membran tersebut supaya pendidihan air yang diinginkan dan penguapan cepat
tercapai. Apabila boiler shut down maka untuk start awal dalam kondisi dingin
dibutuhkan waktu lebih dari 48 jam. Sedangkan start up dalam kondisi panas
membutuhkan 4,5 jam serta untuk kondisi hangat waktu yang dibutuhkan yaitu 5
jam. Pemanasan air pada boiler ini mampu menaikkan temperatur air menjadi
300-400oC. Ada pun boiler yang dipakai di BTG Biringkassi adalah boiler tipe
water tube. Untuk menghindari ekstraksi uap, plat grid dipasang pada inlet pipa
down take.
Meskipun temperatur gas bekas keluar rendah dapat dinaikkan efisiensi
Boiler, namun temperatur tersebut tidak boleh diturunkan hingga di bawah 80C
yaitu di atas temperatur titik embun gas bekas. Bila temperatur direndahkan jauh
33
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

dibawah ini kemungkinan akan terjadi kondensasi pada permukaan saluran gas
buang yang dingin itu. Semua kondensasi pada sistem gas asap harus
dihindarkan, karena cairan tersebut asam & korosif karena mengandung sulfur
dioksida dan sulfur trioksida, sedikit saja sulfur dioksida didalam gas asap secara
drastis akan menaikkan temperatur titik embunnya.

Spesifik data pada boiler sebagai berikut :


Model : B&WB 130/3.82 M
Kapasitas : 130 Ton/Jam
Tekanan Kerja Steam Drum : 4.22 Mpa
Tekanan uap superheated : 3.82 Mpa
Temperatur Uap Super heated : 450 derajat Celsius
Temperatur air Umpan BFW : 170 derajat Celsius
Temperatur air panas : 317 derajat Celsius
Efisiensi boiler : 91 %
Konsumsi Bahan Bakar : 15,720 kg/jam
Temperature cerobong pembuangan : 131 derajat Celsius

3.5.3.8 Superheater
Superheater Merupakan suatu bagian yang berfungsi untuk menaikkan
temperatur uap basah yang dihasilkan pada boiler (evaporator) menjadi uap
kering. Setelah uap basah yang dihasilkan pada eveporator tertampung dalam
suatu bagian pada steam drum, maka uap tersebut kemudian disalurkan ke
superheater untuk dinaikkan suhunya. Superheater disusun dalam dua tingkat,
kontrol temperatur oleh feed water spraying attemperator, yaitu dari superheater
tingkat 1 water spraying attemperator Superheater 2 Box Pengumpulan
uap. Superheater tingkat 1 dan 2 masing-masing disusun atas mixed flow dan co-
current. Dibagian tengah dilengkapi dengan 2 buah long extraktable soot blower.

34
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.13 Superheater


3.5.3.9 Steam Drum

Steam drum berfungsi untuk menampung dan mengontrol kebutuhan air di boiler.
Fungsi lain yang tidak kalah pentingnya adalah memisahkan uap dan air. Untuk
mengontrol kebutuhan air boiler, maka level air di drum harus dijaga konstan
pada level normalnya. Level ini dapat dilihat di CCR maupun pengamatan secara
lokal. Level air pengisi pada steam drum dijaga agar berada pada titik nol drum,
dimana jika level air melebih titik nol maka akan mengakibatkan penurunan
volume uap yang keluar dari steam drum karena level air yang memenuhi drum
sedangkan jika level air di bawah titik nol maka akan mengakibatkan over heating
pada pipa pipa.

3.5.3.10 Turbin
Uap kering yang dihasilkan pada superheater kemudian disalurkan ke
turbin dimana uap ini merupakan tenaga yang digunakan untuk sudu-sudu
turbin. Turbin merupakan salah satu komponen utama dalam suatu pembangkit
tenaga uap. Turbin berfungsi untuk memutar generator, sehingga generator
dapat membangkitkan energi listrik. Turbin yang digunakan BTG mempunyai
kontruksi yang terdiri dari lima sudu-sudu rotor dan setiap sudu rotor
mempunyai pembuangan uap bekas dari turbin. Kelima uap saluran bekas ini
disalurkan ke pemanas awal untuk memansakan air dari deaerator. Sebagian
uap bekas yang tidak dimanfaatkan panasnya dibuang ke kondensator untuk

35
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

dikondensasikan dari uap menjadi air. Dengan menggunakan uap ekstraksi ini,
air pengisi boiler lebih cepat untuk mencapai uap jenuh.
Uap kering hasil pembakaran boiler akan digunakan untuk memutar turbin.
Turbin berputar dengan kecepatan kurang lebih 5500 rpm. Pada BTG Power Plan
Pembangkit I terdapat 2 unit turbin yang masing masing data spesifikasinya
adalah sebagai berikut:
TURBIN I
Merek : NANJING TURBINE
Type : N25-3.43-2
Buatan : RRC
Tahun : 1994
Daya : 25 MW
Rpm : 3000
Nomor Seri : 9401

TURBIN II
Merek : NANJING TURBINE
Type : N25-3.43-2
Buatan : RRC
Tahun : 1994
Daya : 25 MW
Rpm : 3000
Nomor Seri : 9402

Poros turbin di couple dengan poros generator sehingga ketika turbin


berputar maka generator juga akan berputar. Pada generator energi mekanik
akan diubah menjadi energi listrik.

3.5.3.11 Generator
Untuk turbin unit A/B dimana putaran poros yang dihasilkan dikopel
dengan gear box guna menurunkan putaran menjadi 1500 rpm kemudian
dikopel dengan generator. Putaran poros tersebut memutar rotor, dimana belitan
rotor diinjeksikan arus DC untuk menghasilkan fluks medan magnet rotor. Fluks
medan magnet ini menginduksi tegangan tiga phasa pada kumparan stator
generator sehingga menghasilkan tegangan keluaran sesuai dengan desain dari

36
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

generator. Tegangan keluaran generator sebelum ditransmisikan terlebih dahulu


dinaikkan menggunakan step-up transformer dengan tujuan tegangan yang
ditransmisikan tidak drop (turun) sampai kesisi beban. BTG Power Plant
Pembangkit I memiliki 2 unit generator, dengan kapasitas setiap unitnya sebesar
25 MW. Spesifikasi dari genarator yang digunakan adalah sebagai berikut:
GENERATOR I
Merek : NANJING
Type : QF-25-2W
Buatan : RRC
Tahun : 1994
Capacity : 25 MW
Efficiency : 97,4 %
Phase : 3 Phase
Frekuensi : 50 Hz
KVA (Rated Capacity) : 31.250
KW (Active Capacity) : 25.000
Volt : 6300
Ampere : 2860
Cos : 0,8
Rpm : 3000
Nomor Seri : 9402002
GENERATOR II
Merek : NANJING
Type : QF-25-2W
Buatan : RRC
Tahun : 1994
Capacity : 25 MW
Efficiency : 97,4 %
Phase : 3 Phase
Frekuensi : 50 Hz
KVA (Rated Capacity) : 31.250 KVA
KW (Active Capacity) : 25.000
KVAR : 41666 KVAR
Volt : 6300
Ampere : 2860
Cos : 0,8
Rpm : 3000
Nomor Seri : 9401001

37
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.3.12 Kondensor
Kondensor adalah suatu alat yang dapat mengubah fasa uap menjadi
fasa cair/air. Proses perubahannya dilakukan dengan cara mengalirkan uap panas
kedalam ruangan yang berisi pipa-pipa (tubes). Uap mengalir diluar pipa
sedangkan air sebagai pendingin mengalir didalam pipa. Kebutuhan air untuk
pendingin di kondensor sangat besar sehingga dalam perencanaan biasanya sudah
diperhitungkan. Air pendingin diambil langsung dari sumber air laut dan
dipompakan melalui CWP (Circulating Water Pump).
Dalam pengoperasiannya kondensor harus berada dalam tekanan ruang
vacum, kevacuman kondensor berfungsi untuk membantu proses penyerapan uap
yang telah digunakan untuk memutar turbin dan untuk mengalirkan air make up
dari demin tank di WTP menuju hotwell untuk memulai proses air pengisi boiler.

Gambar 1.14 Prinsip Kerja Kondensor

Setelah uap mengalami ekspansi dalam turbin sampai tingkat terakhir,


maka tekanan uap tersebut akan menurun. Uap ini kemudian diteruskan ke
kondensor untuk dikondensasikan, karena jika uap tersebut tidak
dikondensasikan maka uap tersebut sukar untuk dipompa ke dalam boiler yang
mempunyai tekanan yang jauh lebih tinggi. Uap tersebut dikondensasikan
dengan cara menyerap panas uap itu, yaitu melalui air pendingin yang terdapat
dalam tube kondensor, yang dalam hal ini air pendingin yang digunakan adalah
air laut. Adapun kecepatan air pendingin dalam tube kondensor bervariasi,
yaitu antara 1,9 m/detik-2,5 m/detik, dimana kecepatan air pendingin ini
digunakan sesuai dengan kebersihan air pendingin yang digunakan. Dalam hal
ini yang perlu diperhatikan suhu air pendingin yang digunakan. Karena jika

38
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

suhu air pendingin tinggi maka akan mengakibatkan penurunan hampa


kondensor. Uap yang sudah dikondensasikan tersebut akan berubah fasa
menjadi cairan (air) atau biasa disebut kondensat. Kondensat ini kemudian
disalurkan ke kondensat tank dan sebagian dibuang ke laut.
Spesifik data condenser sebagai berikut :
No. Model : N-2000-2
Type : Two Channel system and Surface Heat Return

Material Pipa Pendingin : Titanium


Spesifikasi Pipa : 25 x 0.8 x 7566 (328 buah)
Luas Pendinginan : 2000 m 2
Jumlah Air Pendingin : 1611 kg/detik
Temperatur Air Pendingin : 32 derajat Celsius
Kecepatan Alir air Pendingin : 2,11 m/detik
Resistansi Air : 0.09 Mpa
Tekanan Air Maksimun : 0.245 Mpa
Berat Bersih Tanpa Air : 30 Metrik Ton

3.5.4 Water System


3.5.4.1 Sea Water Intake Pump (SWI Pump)
Sea Water intake merupakan suatu siklus dimana, air laut dipompa dengan
Sea water pump untuk ditransfer menuju ke Automatic Filter. Didalam Sea Water
Intake (SWI) terdapat 3 buah pompa, 2 pompa beroperasi dan 1 buah pompa stand
by. Jika terdapat kerusakaan ataupun ada salah satu dari kedua pompa yang
beroperasi, maka pompa yang stand by digunakan.

39
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.15 Sea Water Pump


Spesifik data pada pompa sebagai berikut:
No. Item : P0901 a- c
No.Model : 30 mn-33B
Flow Rate : 6324 m3/jam
Head suction : 21 m
Model Motor : YRKK- 560-10
Power : 480 KW
Kecepatan Putar : 592 rpm
Voltage : 6000 Volt

3.5.4.2 Automatic Filter


Penampungan air yang berfungsi untuk proses pretreatment air baku dimana
akan terjadi pengikatan partikel pada air yang kemudian menjadi lumpur/kotoran
dan mengendap ke bawah serta sebagai tempat proses sedimentasi air. Media yang
digunakan untuk mengendapkan kotoran menggunakan Alum/ Tawas Al2(SO4)3.

40
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.16 Automatic Filter

3.5.4.3 Desal-Demin
Berfungsi sebagai tempat desalinasi air laut menjadi air tawar dan juga
merupakan tempat penyerapan mineral pada air yang sudah di tawarkan.

Gambar 1.17 Desal-Demin

41
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.5 Ash Handling System


Electrostatic Precipitator adalah peralatan yang berfungsi menangkap abu
sisa pembakaran yang berada dalam gas buang yang akan dibuang ke atmosfir
melalui stack, sehinga gas buang yang akan dibuang tidak mengandung
partikel-partikel abu yang dapat mencemari lingkungan. Prinsip kerja
Electrostatic Precipitator (ESP) adalah partikel partikel abu dari boiler/ruang
bakar (furnace) yang belum bermuatan, akan diberi muatan () negatif oleh
Electroda dan selanjutnya dengan teori Electric magnet akan ditangkap oleh
Collecting Plate. Discharge electroda (wire)/emiting dengan dialiri arus DC
sebagai kutup negatif dan collecting electroda plate sebagai kutup positif. Di
dalam daerah penangkapan yang terdiri dari collecting plate dan discharge
electrode (kawat) akan dibangkitkan suatu medan listrik yang cukup besar.
Selain itu juga akan menyebabkan molekul - molekul udara dipercepat
gerakannya sehingga bertabrakan yang mengakibatkan electronnya terlepas
dari orbitnya dan menjadi electron bebas. Bila tegangan yang dibangkitkan
semakin besar maka akan tercipta suatu corona dan electron bebas yang
terbentuk semakin banyak.
Abu terbang yang melewati medan corona ini akan bertabrakan dengan
iondan electron bebas, sehingga partikel abu yang tidak bermuatan akan
menjadi bermuatan. Karena pengaruh medan listrik partikel tersebut bergerak
menuju collecting plate. Partikel abu ini akan jatuh ke bawah karena gravitasi.
Sisa abu yang masih menempel pada collecting plate dan discharge electroda
akan dibersihkan dengan system penghentakan (rapping). Abu pada Collecting
Plate dan Discharge akan jatuh ke Hopper setelah proses rapping. Mekanisme
penghentakan bekerja dalam selang waktu tertentu secara periodik. Abu yang
telah terkumpul ini harus disalurkan agar tidak menimbulkan masalah pada
internal penangkap abu ESP menggunakan blower.
No.Item : FAA3X37.5M-72
Flue Duct Cross Section : 60 m2
Total Ash Collecting Area : 3200 m2
Inlet Flue Gas Volume : 142,800 Nm3/h
Inlet Flue Gas Temperatur :140 derajat Celsius
Eficiency : > 98 %
42
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.18 Prinsip Kerja ESP

3.5.5.1 Penanganan Slag / Bottom Ash Handling System


Slag adalah sisa dari batubara yang terbakar dalam boiler, dimana ukuran
partikel dari slag ini agak besar, sehingga tidak dapat terbang oleh gas buang.
Dengan demikian slag ini akan berkumpul di dasar boiler, yang kemudian akan
jatuh ke slag remover yang berisi air. Slag remover berisi air, dengan maksud
untuk mendinginkan slag yang panas. Supaya air pada slag remover dapat
berfungsi dengan baik sebagai pendingin, maka air tersebut akan mengalami
sirkulasi dimana air itu akan disaring dan kemudian akan disalurkan ke cooling
tower. Dari cooling tower, air dingin dan bersih ini kemudian disalurkan
kembali ke slag remover. Endapan slag pada slag remover akan diangkut oleh
rail baja pada slag remover. Slag tersebut kemudian akan diangkut melalui belt
conveyor. Dengan belt conveyor ini, slag diangkut ke fixed slag bunker dan
selanjutnya diangkut ke slag hopper melalui slag remover. Sebelum masuk ke
slag hopper terlebih dahulu akan dihaluskan melalui slag crusher. Kemudian
slag dapat dikrim langsung ke tonasa II, III, IV dengan mengunakan dump truk
untuk pencampuran Portland Pozzolan Cement (PPC).

43
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.5.2 Penanganan Ash:


Ash/debu adalah bubuk halus yang juga merupakan sisa pembakaran
batubara dalam boiler, dimana ukuran lebih kecil dibandingkan dengan slag
sehingga ash dapat terbawa bersama gas buang yang akan dikeluarkan di
cerobong. Supaya kondisi lingkungan tetap terjaga, maka syarat kandungan
material/debu yang keluar dari cerobong adalah 150 mg/m3. Karena gas buang
bercampur dengan ash, maka untuk memenuhi syarat di atas harus diadakan
penyaringan terhadap gas buang dimana penyaringan tersebut dilakukan melalui
dua tahap yaitu pada cyclone deduster dan electrik precipicator (EP). Gas buang
yang bercampur dengan ash dihisap oleh ID Fan yang kemudian dikeluarkan
melalui cerobong.
Adapun proses penyaringan gas buang pada cyclone deduster adalah dengan
sistem mekanik, yaitu dengan menggunakan gaya sentrifugal yang dihasilkan
dari kipas yang dipasang di dalam cyclone deduster. Gaya sentrifugal ini akan
memutar debuyang bercampur dengan gas buang sehingga debu yang berat akan
jatuh. Dari cyclone deduster gas buang diteruskan ke EP. Pada EP ini, gas buang
yang bercampur dengan gas buang akan disaring dengan menggunakan sistem
elektrik, dimana pada alat ini dipasang sebuah alat yang bertegangan listrik yang
berfungsi untuk menangkap ash. Setelah itu digunakan alat penggetar yang akan
menggetarkan alat bertegangan listrik tersebut sehingga debu yang melekat akan
jatuh ke tempat yang diinginkan. Setelah melewati EP, maka gas buang itu
diteruskan ke stack untuk dikeluarkan. Adapun ash yang tersaring pada cyclone
deduster dan EP akan dicampur dan kemudian ditampung pada silo ash I dan II
yang disalurkan melalui ash handling, dimana ash tersebut dihisap dengan
menggunakan rotary fan. Dengan menggunakan pneumatic conveyor kemudian
di kirim ke Tonasa II, III, IV dan V. Slag dan debu tersebut digunakan lebih
lanjut dalam proses pembuatan semen.

44
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3.5.6 Sistem instrumentasi

Sistem instrumentasi berfungsi untuk mengetahui dan memantau tingkat keadaan


atau kondisi proses suatu sistem yang sedang berlangsung, serta pencatatan dan
pendataan parameter prosesnya. Tingkat keadaan atau kondisi proses dapat
diketahui dengan cara mengukur dengan sensor atau transmitter (measuring with
sensor or transmitter) dan dipantau melalui alat penunjuk atau tampilan
(monitored by indicator or display).

Sistem instrumentasi juga meliputi sistem peringatan alarm, sistem annunsiasi


serta sistem penerimaan dan penyimpanan data (data acquisition system), juga
sistem tombol ataupun saklar pengoperasian (termasuk monitor operasi).

Sistem kontrol memerlukan pengukuran dan hasil pengkontrolan perlu


ditampilkan, sehingga dapat dikatakan bahwa Instrumentasi adalah seni dan
pengetahuan tentang pengukuran dan kontrol ("the art and science of
measurement and control")

Gambar. 1.19 Sistem Kontrol & Instrumen terpadu berbasis computer

Fungsi sistem instrumentasi dan dapat diklasifikasikan ke dalam kategori berikut


ini.

a) Penilaian harga atau kualitas (Value or quality assessment)

b) Keselamatan dan Proteksi (Safety and Protection)

45
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

c) Kendali otomatis (Automatic Control)

d) Pengumpulan data (Data collection)

Klasifikasi Sensor berdasar Kegunaan :


LEVEL (tinggi permukaan)
PRESSURE (tekanan)
TEMPERATURE (suhu)
FLOW (laju aliran)

3.5.6.1 Temperature Indicator (TI) / Thermometer

Sensor ini adalah sensor yang paling banyak digunakan dalam


pembangkitan listrik, penujukkan temperatur suatu variabel ukur khusunya di
PLTU sangat fital dalam menjaga sistem dari gangguan. Pemasangan TI
banyak dipasang di lokal sebagai penujukkan data langsung selain data yang
bisa dilihat di CCR. Prinsip kerja alat ini sama seperti Bourdon tube-C pada
penujukkan tekanan Bourdon tube (BT) berbentuk busur dengan sudut 250
terikat pada satu ujungnya dengan socket sedangkan ujung lainnya bebas.

Gambar 1.20 TI Bourdon Tube-C


Apabila tekanan dimasukkan, BT akan cenderung untuk meluruskan diri, akan
tetapi karena adanya sifat pegas yang dimiliki oleh BT, maka hanya ujung BT

46
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

yang bebas saja yang bergerak, dengan ujung TI yang berfungsi sebagai
elemen pemanas yang akan menghantarkan panas ke busur pengukuran dan
dengan adanya panas busur akan memuai dan menujukkan pembacaan
temperatur.

Gambar 1.21 Temperature Indicator

TI digunakan pada aliran masuk dan keluar uap ekstraksi pada HPH, LPH, dan
Daerator. TI juga digunakan pada kondensor untuk mengukur temperatur air
masuk dan keluar kondensor.

3.5.6.2 Thermocouple

Sensor ini terdiri dari sepasang konduktor tidak sama, yang dikeling pada
satu bagian (satu sisi). Sisi yang di keling merupakan persambungan untuk
pengukuran, Sedangkan sisi yang tidak di keling merupakan persambungan
referensi.Dalam fungsinya sebagai thermocouple, maka akan terdapat perbedaan
temperatur pada kedua sisi ini. Jika terdapat perbedaan, maka akan ada tegangan
DC.

Gambar 1.22 Thermocouple

47
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Pembuatan termokopel didasarkan atas sifat thermal bahan logam. Jika


sebuah batang logam dipanaskan pada salah satu ujungnya maka pada ujung
tersebut elektron-elektron dalam logam akan bergerak semakin aktif dan akan
menempati ruang yang semakin luas, elektron-elektron saling desak dan bergerak
ke arah ujung batang yang tidak dipanaskan. Dengan demikian pada ujung batang
yang dipanaskan akan terjadi muatan positif.

Gambar 1.23 Prinsip Kerja Thermocouple

Sensor thermocouple digunakan pada Daerator dan Turbin uap sendiri


guna memonitoring temperatur uap masuk dan keluar, pada HPH, LPH dan
Kondensor tidak terdapat thermocouple tetapi digantikan oleh Temperature
Indicator (TI) yang dipasang pada pipa masuk dan keluar uap ektraksi dan air
pengisi, penujukkan temperatur untuk HPH, LPH , dan Kondensor langsung
dilakukan di lokal.

3.5.6.3 RTD (Resistance Thermal Detector)

RTD mendeteksi suhu dengan prinsip nilai hambatan pemuaian logam


tertentu, akan berbanding lurus dengan nilai suhu yangditerimanya. RTD dibuat
dari bahan kawat tahan korosi, kawat tersebut dililitkan padabahan keramik
isolator. Bahan tersebut antara lain : platina, emas, perak,nikel dan tembaga, dan
yang terbaik adalah bahan platina karena dapat digunakan menyensor suhu sampai
1500o C. Tembaga dapat digunakan untuk sensor suhu yang lebih rendah dan
lebih murah, tetapi tembaga mudah terserang korosi.

48
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.24 Konstruksi RTD

3.5.6.4 Pressure Indicator (PI)

Tekanan pada pengkuran sistem PLTU sangatlah fital. Siklus dan


hukum thermodinamika sebagai dasar penerapan di pembangkitan listrik
membuat pengukuran dan pengambilan data tekanan sangat penting. Sama
seperti TI, PI merupakan Bourdon - tube (BT) berbentuk busur dengan sudut
250 terikat pada satu ujungnya dengan socket sedangkan ujung lainnya
bebas. Gerakan BT yang kecil diperbesar oleh susunan batang-penghubung
dan roda-gigi yang berfungsi sebagai amplifer mekanis untuk menghasilkan
simpangan jarum-penunjuk yang besar, jarum-penunjuk (pointer) bergerak
diatas papan skala yang terkalibrasi. Ketelitian BT jenis ini berkisar antara
(0,5 - 2 % ).

Gambar 1.25 Prinsip Kerja Pressure Indicator

49
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

PI digunakan untuk mengukur tekanan uap ekstraksi masuk dan keluar dari
HPH, LPH, Daerator, dan digunakan pada kondensor untuk mengukur tekanan
masuk dan keluar air pendingin pada proses kondensasi uap turbin.

3.5.6.5 Level Switch

Pengkuran level air pada sistem ekstraksi sangat penting, kelangsungan


persediaan air untuk dipanaskan pada alat pemanas/heater menggunakan uap
ektraksi guna mengisi steam drum. Data level air akan sangat berguna untuk
memberikan aksi jika SOP level air pada komponen ekstraksi tidak sesuai.
Level switch digunakan untuk mengukur level air pengisi yang dipanaskan di
LPH, HPH, dan Daerator serta pada hotwell untuk mengukur level air
kondensat di kondensor.

50
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Water Treatment Plant (WTP)


Untuk menghasilkan air bebas mineral di unit pembangkitan diperlukan
suatu sistem pengolahan air yang disebut Water Treatment Plant (WTP). WTP
adalah proses menghilangkan kadar mineral (demineralisasi) dari air laut menjadi
air tawar. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas air yang layak
digunakan di boiler, selain itu untuk mencegah terjadinya korosi pada komponen-
komponen pembangkit dan garam tidak menyebabkan kerak dalam Boiler.
Fungsi utama WTP ini adalah sebagai penyedia air demineralisasi untuk
kebutuhan boiler. Air ini akan dipanaskan menjadi uap didalam boiler yang
selanjutnya dialirkan untuk menggerakkan turbin.

4.2 Bagian-Bagian dari Water Treatment Plant (WTP)


4.2.1 Sea Water Intake Pump (SWI Pump)
Sea Water intake merupakan suatu siklus dimana, air laut dipompa dengan
Sea water pump untuk ditransfer menuju ke Automatic Filter. Didalam Sea Water
Intake (SWI) terdapat 3 buah pompa, 2 pompa beroperasi dan 1 buah pompa stand
by. Jika terdapat kerusakaan ataupun ada salah satu dari kedua pompa yang
beroperasi, maka pompa yang stand by digunakan.

51
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.26 Sea Water Intake

Gambar 1.27 Sea Water Pump


Spesifik data pada pompa sebagai berikut:
No. Item : P0901 a- c
No.Model : 30 mn-33B
Flow Rate : 6324 m3/jam
Head suction : 21 m
Model Motor : YRKK- 560-10
Power : 480 KW
Kecepatan Putar : 592 rpm
Voltage : 6000 Volt

52
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

4.2.2 Automatic Filter


Penampungan air yang berfungsi untuk proses pretreatment air baku dimana
akan terjadi pengikatan partikel pada air yang kemudian menjadi lumpur/kotoran
dan mengendap ke bawah serta sebagai tempat proses sedimentasi air. Media yang
digunakan untuk mengendapkan kotoran menggunakan Alum/ Tawas Al2(SO4)3.

Gambar 1.28 Automatic Filter


4.2.3 Sea Water Storage Pond
Sea Water Pond ini berfungsi sebagai tempat penampungan air dari
Automatic Filter

Gambar 1.29 Sea Water Storage Pond

53
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

4.2.4 Desal Demin


Desal Demin ini berfungsi sebagai tempat desalinasi air laut menjadi air
tawar dan juga merupakan tempat penyerapan mineral pada air yang sudah di
tawarkan.

Gambar 1.30 Desal-Demin


Adapun komponen-komponen yang terdapat pada desal demin yaitu
sebagai berikut:
1. Multimedia Filter

Sebagai penyaringan pertama yang menyaring kotoran / flok, partikel pada


air yang kemungkinan lolos pada proses pretreatment. Alat ini terdiri dari pasir
silica dan antrasit sebagai media filternya.

Gambar 1.31 Multimedia Filter

54
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

2. Sea Water Reserve Osmosis (SWRO)

Reverse osmosis adalah proses pemisahan zat-zat padat terlarut dari


molekul - molekul air dalam suatu larutan. Dilakukan dalam proses
pemurnian air dengan cara memberikan tekanan hydrostatic pada air umpan
sehingga mampu menembus sel membrane permeable dan menghasilkan air
murni. Metode yang dipergunakan pada proses operasi RO merupakan salah
satu tipe metode penyaringan dalam ukuran yang sangat kecil (nano filtration)
dan dapat menurunkan conductivity sampai <1000 microsiemen/cm.

Gambar 1.32 Sea Water Reserve Osmosis

Spesifikasi dari Sea Water Reserve Osmosis (SWRO) dari :


SWRO Specification
Jumlah : 2 rangkaian/set
Aliran umpan tahap 1 : 58 m3/hr (tiap rangkaian)
Tekanan : 53,5 bar
Aliran permeat yang lewat : 23,2 m3/hr (tiap rangkaian)
Pass 1 Recovery : 40%
Jumlah wadah (housing) : 7 buah
Element Membrane
Jumlah Elemen : 42 unit (tiap rangkaian)
Jenis Membrane : Thin Film ComPosite
55
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Ukuran : 8 inch
Merek : FilmTec
Pressure Vessel
Jumlah : 7 units (tiap rangkaian)
Ukuran : 8 inch
Jenis : Cylindrical Vessel
Merek : CodeLine
Bahan : FRP
Tag No. : C03FR504A/B
Cartridqe
Jumlah : 2 unit (tiap rangkaian)
Kapasitas : 60 m3/hr
Ukuran Saringan : 5 Micron
Jenis : Al5-60B
Merek : Aqualine
Tag No. : C03FR503A/B
P&ID NO. : BP-203-WTP-REKIND-11

3. SWRO Tank

Berfungsi sebagai tempat penampungan air laut hasil dari Sea Water
Reserve Osmosis, dimana pada penampungan ini air laut sudah menjadi tawar
tetapi masih mengandung mineral.

56
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.33 SWRO Tank

4. Brackish Water Reserve Osmosis (BWRO)

Berfungsi memproses air brackish / air tawar menjadi air murni (pure
water), yang sebelumnya sudah diolah di 1st Sea Water Reverse Osmosisdan dapat
menurunkan conductivity air sampai 20 mikrosiemen/cm.

Gambar 1.34 Brackish Water Reserve Osmosis

57
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Spesifikasi dari Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO):


Spesifikasi BWRO
BRACKISH WATER REVERSE OSMOSIS (BWRO)
Jumlah : 2 rangkaian
Aliran umpan tahap 1 : 23.2 m3/hr (tiap rangkaian)
Tekanan air umpan : 9.79 bar
Aliran permeat tahap 1 : 18,5 m3/hr (tiap rangkaian)
Pass 1 Recovery : 80%
Jumlah housing : 3 buah
Element Membran
Jumlah elemen : 18 unit
Type membran : Thin Film Composite
Ukuran : 8 inch
Merek : FilmTec
Pressure Vessel
Jumlah : 3 unit
Ukuran : 8 inch
Type : Cylindrical Vessel
Merek : Code Line
Material (bahan) : FRP
Tag No. : C03FR505A/B
Cartridge
Jumlah : 1 unit (tiap rangkaian)
Kapasitas : 24 m3/hr
Jumlah catridge : 6 pcs (tiap rangkaian)
Ukuran filter : 10 micron
Type : PX10-40
Merek : Putrex
Tag No. : C03FR511A/B
P&ID NO. : BP-205-WTP-REKIND-11
BP-206-WTP-REKIND-11

58
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

5. BWRO Tank

Berfungsi sebagai tempat penampungan air hasil dari pengolahan Brackish


Water Reserve Osmosis, dimana pada penampungan ini mineral yang
mengandung pada air tawar sudah dihilangkan pada proses BWRO.

Gambar 1.35 BWRO Tank

6. Mixes Bed

Pada dasarnya vessel mixbed adalah gabungan antara vessel anion dan
kation dimana resin anion dan kation berada dalam satu vessel.Digunakan untuk
mengikat mineral-mineral yang masih lolos dari resin kation maupun anion,
sehingga dihasilkan air yang benar-benar bebas mineral.Resin anion dan kation
tidak mungkin bercampur karena adanya perbedaan berat jenis (anion>kation).

59
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Mixed bed adalah penyaring terakhir dari treatment proses dalam system SWI, air
yang diolah di mixed bed berasal dari pure water tank.

Gambar 1.36 Mixed Bed

Spesifikasi dari Mixed Bed:


Spesifikasi Mixed Bed
Jumlah : 2 unit (2 beroperasi)
Kapasitas : 10.5 m3/hr (per unit)
Type : Cylindrical Vertical
Operasi : Automatic Regeneration
Ukuran : 660 DIA. x 3650 H
Desain Tekanan : 3 bar

60
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Material (bahan) : Mild Steel Rubber Lined (MSRL)


Resin Kation dan Anion : Resin Anion Monoplus M800 : 400
Liters
Resin Kation Monoplus S200 KR : 200 Liters
Waktu Operasi : 20 jam/cycle
Tag No. : C03VL504A/B
P&ID No. : BP-208-WTP-REKIND-11
BP-208.1-WTP-REKIND-11

4.2.5 Demineralized Water Tank


Berfungsi sebagai tempat penampungan air yang sudah di demineraliser
atau air yang sudahdi hilangkan ion-ion dan mineralnya dari hasil pengolahan air
di mixed bed. Air yang didalam demin tank ini adalah air yang sudah siap
dialirkan ke boiler sebagai air pengisi dalam proses pembakaran, air demin ini air
yang sudah tidak memiliki kadar O2 sehingga molekul air hanya terdiri dari H2
saja. Volume tangki 100 m3.

Gambar 1.37 Demineralized Water Tank

61
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

4.2.6 HCL & NaoH Feeding System


Alat yang berfungsi untuk menginjeksikan larutan HCL & NaOH ke aliran
air yang akan digunakan sebagai air pengisi. Penambahan larutan ini
berfungsi untuk memperkuat kemurnian air dan membunuh kotoran yang
mungkin masih ada pada demin water.

Gambar 1.38 HCL & NaoH Feeding System

4.3 Proses Water Treatmen Plant (WTP)

Pada umumnya PLTU di Indonesia dibangun di daerah pantai karena jumlah


konsumsi air sangat banyak digunakan dalam memproduksi uap super heated
untuk menggerakkan turbin juga untuk sistem pendinginan mesin dalam proses
pembangkitan. Demikian halnya dengan BTG Power Plant PT Semen Tonasa.
Namun disisi lain air laut mengandung banyak mineral yang sangat beresiko
untuk peralatan yang bekerja pada sistem pembangkit. Sehingga air yang
digunakan di dalam boiler harus ditreatment terlebih dahulu. Air laut yang telah
diinjection dengan ClO2 (untuk menghambat pertumbuhan alga, kerang-kerang
dalam pipa air laut) dalam pipa Sea Water Intake (SWI) dipompa dengan
menggunakan dua unit Sea Water Intake pump dari tiga unit yang ada dengan
kapasitas masing-masing pompa 6300 m3/jam, sedangkan satu unit pompa
standby. Lalu air laut ditreatment menjadi air tawar dengan menggunakan dua unit
desalinasi dan air tawar ditreatment lagi untuk menghilangkan kandungan
mineralnya dengan menggunakan satu unit demineralisasi. Proses yang digunakan
dalam unit desalinasi dan demineralisasi ini adalah Proses Reverse Osmosis

62
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

sedangkan untuk proses penukaran ion (Kation Anion Excharnger) yang


berlangsung di dalam Mixed Bed.
Air laut akan masuk melalui sea water intake yang mana akan di saring
terlebih dahulu dengan menggunakan Automatic filter sehingga biota laut yang
berukuran besar maupun sedang tidak akan ikut masuk ke sea water pond.
Selanjutnya air laut yang ditampung pada sea water pond akan di pompa menuju
multi media filter, di sini air laut akan di tambahkan polyaluminium chloride dan
chlorine untuk mengikat kandungan kandungan lumpur yang terdapat di dalam
air sehingga akan menjadi padat. Selain itu, di multi media filter juga akan di
tambahkan Ph Adjustment untuk menjaga kestabilan Ph air yang dibutuhkan
yakni antara Ph 6 Ph 8. Hasil dari proses yang terjadi di multi media filter akan
di pompa menuju
Air dari multi media filter akan di alirkan melewati membran membran
filter pada unit Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Air hasil keluaran SWRO ini
bukan lagi dalam bentuk air laut melainkan sudah menjadi air payau dengan kadar
konduktiviti masih diatas 10 mho/cm. Air ini selanjutnya akan di alirkan dan di
tampung pada SWRO Tank. Air payau dari penampungan selanjutnya akan di
alirkan melewati membran membran vessel pada unit British Water Reverse
Osmosis (BWRO). Air keluaran BWRO ini sudah dalam keadaan air tawar dengan
kadar konduktiviti di bawah 10. Air ini akan di alirkan menuju Mixed Bed untuk
dilakukan penambahan resin kation NaOH dan anion HCL untuk meminimalkan
tingkat kandungan mineral dalam air. Air hasil akhir proses akan ditampung di
Demineralized Water Tank dan kemudian di transfer ke Boiler. Sebelum di
transfer ke Boiler, air di alirkan ke Deaerator yang berfungsi untuk menaikkan
temperatur air sebelum masuk ketel dan sekaligus membuang oksigen dengan cara
pemanasan serta sekaligus berfungsi menampung air. Kemudian di pompa dengan
BFWP menuju ke HPH. Temperatur air setelah melewati pemanas ini (HPH)
sekitar 104 oC dan selanjutnya akan di alirkan ke Boiler.

63
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.39 Lay Out Sea Water Treatment ke Boiler

Gambar 1.40 Sistem Kontrol Sea Water Treatment


64
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.41 Sistem Kontrol Sea Water Desalination Section

Gambar 1.42 Sistem Kontrol Demin Water Section

65
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB V
KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

BTG Power Plant adalah pembangkit listrik tenaga uap yang di bangun oleh
PT. Semen Tonasa atas dasar ketidakmampuan PLN menyediakan daya sebesar
60 MW. BTG Power Plant merupakan tempat penulis melihat secara langsung
proses pembangkitan energi listrik. BTG Power Plant berkapasitas 120 MW yang
terdiri dari 2 unit pembangkit yaitu pembangkit I dengan kapasitas 2 x 25 MW
dan pembangkit II dengan kapasitas 2 x 35 MW.
Sebelum diarahkan menuju BTG Power Plant, penulis terlebih dahulu
diarahkan untuk menyelesaikan seluruh urusan administrasi di Gedung Diklat
serta pembagian tanda pengenal peserta PKL dan mengikuti safety induction.
Tujuan utama dilakukannya safety induction yakni memberikan pengarahan
kepada mahasiswa mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sebelum memasuki
kawasan pembangkit serta pengenalan jalur evakuasi pada mahasiswa jika terjadi
keadaan darurat.
Mahasiswa yang berasal dari Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Teknik
Pembangkit Energi akan di tempatkan dibagian Pemeliharaan Mesin Pembangkit
I, Electrical Control Room, Central Control Room dan Instrumentasi Room.
Perusahaan sangat menekankan penggunaan alat safety dalam melakukan setiap
pekerjaan baik berupa helm, sepatu safety, masker, kacamata, sarung tangan dan
earplug.
Pada bagian pembangkitan, kegiatan mahasiswa peserta Praktek Kerja
Lapangan berupa mengikuti penjelasan dan pemaparan materi oleh manager atau
pembimbing mengenai sistem pembangkitan energi pada BTG Power Plant PT.
Semen Tonasa.
Adapun kegiatan yang dilakukan mahasiswa PKL selama 2 bulan terhitung
sejak tanggal 01 Agustus 30 September 2016 di BTG Power Plant PT. Semen
Tonasa diantaranya:

66
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Pengenalan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Safety induction disini dilakukan agar mahasiswa disini dapat
mengetahui dengan jelas apa apa saja yang disiapkan sebelum masuk ke
area pembangkit. Mahasiswa juga diharapkan mengenakan peralatan
keselamatan seperti helm, sepatu safety dan masker serta mengenali jalur
evakuasi jka menghadapi situasi darurat.

Pengenalan secara umum BTG Power Plant.


Pendamping memperkenalkan tentang BTG (Boiler, Turbin dan
Generator) dan membawa mahasiswa ke bagian mainteance.

PMC terjadwal
Mengecek mesin mesin yang sedang beroperasi sekaligus
membersihkan mesin dari debu hasil peleburan batu bara agar tidak
menyebabkan korosi mulai dari boiler, turbin, generator dan komponen
komponen penunjang lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan setiap hari. Hal
ini dilakukan agar kondisi mesin terlihat selalu bersih dan bisa beroperasi
secara optimal.

Gambar 1.43 Pelumasan Terjadwal

67
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.44 Perawatan Panel Kontrol

Gambar 1.45 Perawatan Kompressor

68
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.46 Perawatan Diesel Oil Pump

Pengenalan sistem kerja kompresor


Kompresor merupakan komponen utama dalam sistem penyiapanudara yang akan
digunakan dalam sistem pembangkitan terutama dalam ruang bakar. Produk yang
dihasilkan pada kompresor berupa Instrument air (udara kering) dan plant air
(udara basah). Instrument air akan digunakan untuk pembakaran pada boiler
sedangkan plant air digunakan untuk pembersihan pada sistem pembangkit.
Karena fungsi kerjanya yang sangat penting, maka perawatan kompresor harus
dilakukan secara berkala. Salah satunya dengan melakukan pembersihan secara
rutin pada bagian dalam kompresor untuk mempertahankan kinerja dari
kompresor tersebut.

69
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.47 Bagian Dalam Kompressor

Penggantian Spiral di Electrostatic Precipitator (EP)


EP (Electrostatic Recifitator) adalah salah satu alternatif
penangkap debu dengan effisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dan
rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electro
static precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari
cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu
mencapai 99,84%). Cara kerja dari electro static precipitator (ESP) adalah
(1) melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yangsss
terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang
mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat
melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga
partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-). (2) Partikel debu
yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat
pengumpul (collector plate). Debu yang dikumpulkan di collector plate
dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu
getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash
hopper), dan ditransport (dipindahkan) ke flyash silo dengan cara di
vakum atau dihembuskan.

70
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.48 Penggantian Electric Spiral

Penggantian Membran Vessel di Area Desal Demin


Melihat hasil penyaringan dari membran yang kurang maksimal
begitupula dengan kondisi barang yang mau di ganti tiap tahunya,maka
sudah waktunya dilakukan pergantian membran yang baru, hal ini
dimaksudkan fungsi membran yang sangat urgen yaitu menyaring air laut
menjadi air tawar. pergantian ini dilakukan apabila penyaringan dari
membran kurang maksimal.dan apabila tidak dilakukan pergantiaan maka
tidak menghasilkan uap panas yang cukup baik.

71
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Gambar 1.49 Penggantian Membran Vessel

Jumat Bersih

Jumat bersih merupakan suatu rutinitas yang dilakukan para


karyawan di BTG Power Plant Setiap hari Jumat

Gambar 1.50 Jumat Bersih

72
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Melakukan Pengelasan pada wall pipe Boiler

Gambar 1.51 Wall Pipe dalam Boiler

Memonitoring Proses PLTU pada CCR (Centre Control Room)

Gambar 1.52 Penjelasan Proses PLTU oleh CCR


73
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Setelah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. WTP adalah proses menghilangkan kadar mineral (demineralisasi) dari air
laut menjadi air tawar. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas air
yang layak digunakan di boiler, selain itu untuk mencegah terjadinya
korosi pada komponen-komponen pembangkit dan garam tidak
menyebabkan kerak dalam Boiler.
2. Fungsi WTP ini adalah sebagai penyedia air demineralisasi untuk
kebutuhan boiler. Air ini akan dipanaskan menjadi uap didalam boiler
yang selanjutnya dialirkan untuk menggerakkan turbin.
3. Bagian-bagian padaWater Treatment Plant (WTP) BTG Power Plant PT.
Semen Tonasa :
Sea Water Intake Pump (SWI Pump)
Automatic Filter
Sea Water Storage Pond
Desal Demin :
1. Multimedia Filter
2. Sea Water Reserve Osmosis
3. SWRO Tank
4. Brackish Water Reserve Osmosis
5. BWRO Tank
6. Mixed Bed
Demineralized Water Tank
HCL & NaoH Feeding System

74
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

4. Proses Air laut dimulai dari SWI kemudian dipompa menuju ke Automatic
Filter dengan menggunakan Sea Water Pump , hasil dari Automatic filter
ditampung di Sea Water Pond. Kemudian dipompa menuju Multimedia
filter. Hasil dari penyaringan di Multimedia filter kemudian akan dialirkan
menuju SWRO melewati membrane vessel. Air hasil olahan SWRO yang
ditampung pada SWRO Tank kemudian dialirkan lagi menuju BWRO dan
ditampung di BWRO tank. Hasil pengolahan air pada BWRO dialirkan
masuk menuju Mixed Bed dan kemudian ke ditampung di Demineralized
Water Tank untuk di alirkan ke Boiler dengan BFW Pump.

6.2 SARAN
1. Sebaiknya peserta kerja praktek diberi pengarahan awal mengenai seluk
beluk pekerjaan yang akan dilaksanakan di tempat kerja.
2. Pengadaan jadwal maintenance / perawatan rutin terhadap komponen-
komponen sistem pembangkit lebih di perhatikan agar kerusakan
mendadak dapat dihindari.
3. Menekankan kepada setiap karyawan agar selalu mengutamakan faktor
keselamatan kerja.

75
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, Antono, dan Kuwahara. 1993. Teknik Tenaga Listrik Jilid II.
P.T. Pradanya Paramita.

Muin, Syamsir. 1998. Pesawat-Pesawat Konversi Energi I (Ketel Uap). Jakarta.


Rajawali Pers.

Mulyanto, Tri Aji. 2015. Siklus Rankine. Artikel, (Online).


http://www.academia.edu/4622476/Siklus_Rankine. Diakses pada tanggal
28 September 2016

Nur Rahmi, dkk. 2007. Laporan Kerja Praktik pada Pembangkit Listrik Tenaga
Uap (PLTU) BTG Power Plant P.T. Semen Tonasa. Jurusan Teknik Mesin
Program Studi Teknik Konversi Energi. Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Makassar.

Rakhman, Alief. 2013. Fungsi dan Prinsip Kerja PLTU. Artikel, (Online).
http://rakhman.net/2013/04/fungsi-dan-prinsip-kerja-pltu.html. Diakses
pada tanggal 29 Agustus 2016.

Robby, Kurnia. 2016. Water Treatmen Plant. P.T Gowima Bangun Sejahtera,
(Online).
http://www.caesarvery.com/2015/06/water-treatment-plant-in-power-
plant.html
Diakses pada tanggal 28 September 2016

Wijaya, Asngat. Penyajian Materi Diklat: Pengendalian PLTU. Makassar.

76
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

LAMPIRAN

77
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

78
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

79
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

80
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

81
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

82
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

83
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

KARTU ASISTENSI
PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Nama Mahasiswa : Salfia Yunus


NIM : 442 13 007
Jurusan/Program Studi : Teknik Mesin/Teknik Pembangkit Energi
Tempat : Power Plant PT. Semen Tonasa

No. Hari/Tanggal Uraian Paraf Pembimbing

Makassar, Oktober 2016

Pembimbing Prodi,

Sukma Abadi, S.T., M.T.


NIP. 19741117 200212 1001
84
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Lembar kegiatan praktek kerja lapangan


Program Studi Teknik Pembangkit Energi Jurusan Teknik Mesin Politeknik
Negeri Ujung Pandang

NAMA : Salfia Yunus


NIM : 442 13 007

Minggu ke -1

No. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Pengumpulan berkas dan Gedung Diklat, Kantor Pusat


pembagian unit kerja PT. Semen Tonasa
Gedung Diklat, Kantor Pusat
2. Pembagian ID card
Senin, 01 PT. Semen Tonasa
1
Agustus 2016 3. Penjelasan mengenai K3 Biro K3 PT. Semen Tonasa
4. Mengambil surat pengantar Gedung Diklat, Kantor Pusat
PKL PT. Semen Tonasa
5. Berangkat ke lokasi PKL BTG Biringkassi
1. Pengarahan K3 Biringkassi Kantor Biringkassi
2. Pembagian tempat kerja Kantor Biringkassi
3. Berkunjung ke Pemeliharaan
BTG 1
Selasa, 02 Mesin Pembangkit 1
2
Agustus 2016 4. Penjelasan mengenai BTG 1 BTG 1
5. Penjelasan mengenai Proses
Ruangan Karu Pemeliharaan
SWI (Sea - Water Intake) -
Mesin Pembangkit 1
Denim Tank
1. Menjaga kebersihan bengkel
BTG 1
Rabu, 03 pemeliharaan mesin pembangkit
3
Agustus 2016 2. Pemeliharaan saluran air Powder
Feeder Area Powder Feeder BTG 1

85
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3. Kunjungan Ke SWI (Sea Water


Intake) Area SWI
4. Kunjungan ke Desaldemin,
Area Desaldemin
Pengelohan air laut - air tawar

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan mesin pembangkit

2. PMC Terjadwal, melakukan


Kamis, 04 Area Kompressor
4 Pembersihan pada Kompressor
Agustus 2016
3. Penjelasan mengenai Siklus Ruangan Karu Pemeliharaan
Batu Bara ( coal stroage - Belt Mesin Pembangkit 1
Konveyor)
1. Jumat Bersih BTG 1
2. Penjelasan Lanjutan Siklus Batu Ruangan Karu Pemeliharaan
Bara (Belt Konvenyor - Boiler) Mesin Pembangkit 1
Jumat, 05
5 3. Kunjungan Ke Belt Konveyor -
Agustus 2016
yang meng angkut batu bara dari
BTG 1
tempat penampung an masuk ke
coal bunker.

Minggu ke - 2

No. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan mesin pembangkit.
2. PMC Terjadwal, melakukan

Senin, 08 Agustus Pelumasan gear master pada coal Area Coal Mill BTG 1
1
2016 mill.

3. Kunjungan Ke Coal Bunker -


Area Boiler BTG 1
Pembakaran pada Boiler.

4. Kunjungan Pada Oil Diesel Pump BTG 1

86
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

5. Penjelasan perpindahan panas pada


BTG 1
HPH dan Ekonomiser.

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan mesin pembangkit
2. PMC Terjadwal, melakukan
Pengecekan, Pembersihan dan
Area BFWP BTG 1
Pelumasan Pada mesin BFWP
Selasa, 09 Agustus
2 (Boiler Feed Water Pump).
2016
3. Penjelasan mengenai Siklus air - ke Ruangan Karu
kondensor Pemeliharaan Mesin
4. Kunjungan Ke Boiler, HPH, LPH,
BTG 1
Daerator dan Kondensor

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan mesin pembangkit
2. Perawatan poros pada mesin Desal
3 Rabu, 10 Agustus Area Desaldemin
Denim
2016
3. Penjelasan mengenai Ash handling Ruangan Karu
Sistem, Electrostatic Presipitator Pemeliharaan Mesin
dan Silo Fly Ash Pembangkit 1

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan mesin pembangkit

2. PMC Terjadwal, melakukan


Kamis, 11 Agustus Pembersihan dan Peluma san pada Area Kompressor
4
2016 Kompressor

3. Kunjugan Ke BTG 2 Karena


mengalami Trip, akibat Kerusakan Area Bag Filter BTG 2
Pada Bag Filter.

Jumat, 12 Agustus 1. Jumat Bersih BTG 1


5
2016 2. PMC Terjadwal, melakukan Area Kompressor BTG

87
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Perawatan pada dush Remufing Fan 1

3. Kunjungan dan Pengenalan pada


bagian mesin Top Silo dan proses
Silo Fly Ash Area TOP SILO BTG 1
4. Pengantian Rotary Fan pada Silo
Fly Ash

Minggu ke 3

No. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Pengarahan untuk pemindahan


BTG 1
unit kerja.

2. Melakukan Pengantian Spiral Pada Area EP BTG 1


Elektrostatic Presipitator
Senin, 15
1
Agustus 2016
3. Perawatan Pada Trafo Electrostatic Area EP BTG 1
Presipitator Boiler

4. Melakukan Pengamatan secara


langsung dalam Boiler, Karena Area Boiler BTG 1
terjadi kebocoran Pipa

Selasa, 16 1. Menjaga kebersihan bengkel


2 BTG 1
Agustus 2016 pemeliharaan Listrik pembangkit

88
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Ruangan Karu
2. Pengarahan dari Fasilitator
Pemeliharaan Listrik
Pemeliharaan Listrik Pembangkit.

3. Pemberian Tugas Untuk Ruangan Karu


Pemanfaatan air pembua ngan dari
Pemeliharaan Listrik
Kondensor

4. Perencanaan PLTMH untuk Ruangan Karu


pemanfaatan air Kondensor Pemeliharaan Listrik

Rabu, 17
3
Agustus 2016
LIBUR -

1. Menjaga kebersihan bengkel BTG 1


pemeliharaan Listrik pembangkit

Kamis, 18
4 2. Pengambilan data untuk Panjang,
Agustus 2016 Area Kanal BTG 1
Lebar dan Kedalaman air Kanal pada
Pembuangan air kondensor.

3. Menganalisis Potensi PLTMH Ruangan Karu


4. Asistensi Hasil Analisis Pemeliharaan Listrik

BTG 1
1. Jumat Bersih

Jumat, 19 2. PMC Terjadwal, melakukan


5
Agustus 2016 Perawatan pada Electrostatic Area Kompressor BTG 1
Presipitator dan Id Fan

3. Melanjutkan Tugas PLTMH Ruangan Karu

89
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

4. Penjelasan Mengenai PLTMH Pemeliharaan Listrik


5. Asistensi Tugas PLTMH

Minggu ke 4

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan Listrik pembangkit
Ruangan Karu
Senin, 22 2. Asistensi Tugas PLTMH
1 Pemeliharaan Listrik
Agustus 2016
3. Assembly Poros Pada Id Fan Area Id Fan BTG 1
4. Perawatan dan Pembersihan pada
Area Id Fan BTG 1
area Id Fan
1. Menjaga kebersihan bengkel
BTG 1
pemeliharaan Listrik pembangkit
Ruangan Karu
Selasa, 23
2 2. Asistensi Tugas PLTMH Pemeliharaan Listrik
Agustus 2016
3. PMC terjadwal, pemeliharaan
motor motor yang ada pada Sea Area SWI BTG 1
Water Intake (SWI)

4. Menjaga kebersihan bengkel


BTG 1
pemeliharaan Listrik pembangkit
Rabu, 24
3 Ruangan Karu
Agustus 2016 5. Asistensi Tugas PLTMH
Pemeliharaan Listrik
6. Pemasangan Id Fan Pada Unit A Area Id Fan BTG 1
1. Menjaga kebersihan bengkel
BTG 1
Kamis, pemeliharaan Listrik pembangkit
4
25Agustus 2016 2. Perbaikan Motor Pada Belt
Area Konveyor BTG 1
Konveyor sebelum Coal Mill

90
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3. Menjaga kebersihan bengkel


pemeliharaan Listrik pembangkit BTG 1
Jumat, 26
5
Agustus 2016 4. Pergi ke Biro DIKLAT PT. Semen
Tonasa untuk penambahan waktu Kantor Diklat
PKL

Minggu ke 5

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Pergantian unit kerja ke CCR


CCR (Central Control Room)
(Central Control Room)

Senin, 29 2. Pengenalan unit kerja CCR untuk


1 CCR (Central Control Room)
Agustus 2016 BTG I & BTG II

3. Penjelasan tentang pengoperasian


CCR (Central Control Room)
coal mill pada BTG 1

1. Menjaga kebersihan ruang


CCR (Central Control Room)
kontrol
Selasa, 30
2
Agustus 2016 Gedung Diklat, Kantor Pusat
2. Perpanjangan ID Card PKL
PT. Semen Tonasa
1. Menjaga kebersihan ruang
CCR (Central Control Room)
kontrol
Rabu, 31 2. Penjelasan tentang pengoperasian
3
Agustus 2016 Sea Water Treatment pada
CCR (Central Control Room)
BTG 1

1. Menjaga kebersihan ruang


CCR (Central Control Room)
Kamis, 1 kontrol
4 September
2016 2. Penjelasan tentang pengoperasian
CCR (Central Control Room)
Boiler pada BTG 1

Jumat, 2 1. Jumat Bersih CCR (Central Control Room)


5 September 2. Penjelasan tentang pengoperasian
2016 CCR (Central Control Room)
BTG 2
91
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

3. Penjelasan tentang pengoperasian CCR (Central Control Room)


WTP BTG 2

Minggu ke 6

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Menjaga kebersihan ruang kontrol


Senin, 5 2. Penjelasan tentang pengoperasian Boiler CCR (Central
1
Agustus 2016 pada BTG 1 Control Room)
3. Penjelasan tentang Kondensor pada BTG 1
1. Menjaga kebersihan ruang kontrol
Selasa, 6 2. Penjelasan tentang pembakaran pada BTG 1 CCR (Central
2
Agustus 2016 Control Room)
3. Penjelasan tentang pengoperasian SWI pada
BTG 1
1. Menjaga kebersihan Centre Control Room
Rabu, 7 Agustus CCR (Central
3 2. Memonitoring Proses PLTU
2016 Control Room)
3. Penjelasan Proses Dari Superheater - Turbin
1. Menjaga kebersihan Centre Control Room
Kamis, 8 CCR (Central
4
September 2016 2. Memonitoring Proses PLTU Control Room)

1. Menjaga kebersihan Centre Control Room


Jumat, 9 2. Memonitoring Proses PLTU CCR (Central
5
September 2016 3. Kunjungan Ke Lapangan BTG 2 Karena Control Room)
Terjadi Trip di coal mill di C

92
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Minggu ke 7

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

Senin, 12
1 LIBUR
September 2016

Selasa, 13
2 IZIN
September 2016

Rabu, 14
3 IZIN
September 2016

1. Menjaga kebersihan Centre Control


Room
Kamis, 15 CCR (Central Control
4 2. Memonitoring Proses PLTU
September 2016 Room)
3. Evaluasi mengenai materi yang telah
didapat selama PKL
1. Menjaga kebersihan Centre Control
Jumat, 16 Room CCR (Central Control
5
September 2016 2. Memonitoring Proses PLTU Room)
3. Konsultasi judul laporan

93
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Minggu ke 8

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

Senin, 19 1. Perpindahan unit kerja ke Instrumen


Ruangan Kasi
1 September
Instrumen
2016 2. Pengenalan dan arahan dari Pembimbing

1. Menjaga kebersihan ruang Instrumen Ruangan Instrumen


Selasa, 20 2. Meeting Pagi Meeting Room
2 September
3. Kunjungan ke Area BTG 2 dan Penjelasan
2016
tentang sensor yang dipakai di Coal Mill BTG 2
dan Coal handling
1. Menjaga kebersihan ruangan Instrumen Ruangan Instrumen
Rabu, 21
3 September 2. Meeting Pagi Meeting Room
2016 3. Kunjungan ke Area BTG 2 dan Pemeriksaan
BTG 2
pada Panel Kontrol Ash Handling
1. Menjaga kebersihan ruangan Instrumen Ruangan Instrumen
Kamis, 22
4 September 2. Meeting Pagi Meeting Room
2016 3. Mempelajari serta mengaplikasikan program
Ruangan Instrumen
PLC menggunakan snaider
1. Jumat Bersih
Jumat, 23
2. Pemeliharaan kontrol panel pada bunker
5 September BTG 2
2016 3. Melakukan pengecekan dan pembersihan
sensor pada Bunker

94
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

Minggu ke 9

NO. Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Tempat

1. Menjaga kebersihan ruang Instrumen Ruangan Instrumen


Senin, 26
1 2. Meeting pagi Meeting Room
September 2016
Ruang Mekanik
3. Asistensi Laporan
BTG 1
1. Menjaga kebersihan ruang Instrumen Ruangan Instrumen
2. Meeting Pagi Meeting Room
Selasa, 27
2 3. PMC Terjadwal BTG 2
September 2016
Ruang Mekanik
4. Asistensi Laporan
BTG 1
1. Menjaga kebersihan ruangan Instrumen Ruangan Instrumen
Rabu, 28 2. Meeting Pagi Meeting Room
3
September 2016 3. Kunjungan ke area Boiler, Turbin,
BTG 2
Generator dan WTP BTG 2
1. Menjaga kebersihan ruangan Instrumen Ruangan Instrumen
Kamis, 29 2. Meeting Pagi Meeting Room
4
September 2016 Ruang Mekanik
3. Asistensi Laporan
BTG 1
1. Jumat Bersih Ruangan Instrumen
Jumat, 30 2. Meeting Pagi Meeting Room
5
September 2016 Kantor Diklat Pt.
3. Kumpul Laporan
Semen Tonasa

Pangkep, September 2016


Pembimbing Lapangan,

Muh. Taufik
NIK : 7495118

95
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

LAY OUT BTG POWER PLANT


PT. SEMEN TONASA

Ketarangan gambar:
1. Coal Hopper 18. LPH 36. Slang Crusher
2. Coal Transport No.1 19. Daerator 37. Slang Hopper
3. Ring Hammer 20. BFW Pump 38. Slang Water Pump
Crusher 21. HPH 39. Air Blower
4. Coal Transport No.2 22. Turbin 40. Cyclon Deduster
5. Raw Coal Bunker 23. Generator 41. Electrostatic
6. Matering Feeder 24. SWI Pump Precipitator
7. Coal Mill 25. Automatic Filter 42. I.D Fan
8. Coarse Powder 26. Sea Water Storage 43. Stack
Separator Pond 44. Cyclon Collector
9. Fine Powder 27. Desal Demin 45. Bag Filter
Separator 28. Demineralized Water 46. Air Lock Valve
10. Powder Bin Tank 47. Tree Way Chute
11. Mill Fan 29. Boiler 48. Screw Conveyor
12. Powder Feeder 30. Fumace 49. Rotary Fan
13. Diesel Oil Tank 31. Superheater 50. Ash Silo
14. Diesel Oil Pump 32. Economizer 51. Compressor
15. Gun Burner 33. Slang Remover 52. Cana
16. Condensor 34. Slang Transport No.1
17. Condensor Pump 35. Slang Transport No.2

96
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

STORAGE YARD

BELT KONVEYOR

97
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

COAL MILL

CYCLONE DEDUSTER DAN ELECTROSTATIC PRECIPITATOR

98
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

ELECTROSTATIC PRECIPITATOR

SILO FLY ASH

99
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

SLAG

STACK

100
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

SEA WATER INTAKE

DESAL DEMIN

101
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

KONDENSOR

BFWP

102
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

BOILER

STEAM DRUM

103
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

TURBIN

GENERATOR

104
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL
BTG POWER PLANT
PT. SEMEN TONASA

COMPRESSOR STATION

TRANSFORMATOR

105