Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

OSTEOMYELITIS

Perceptor :

dr. Tantri Kaniya, Sp. Rad

Oleh:

Airi Firdausia Kudsi

1518012157

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI

RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi jaringan tulang disebut sebagai osteomyelitis, dan dapat timbul akut atau kronik.
Bentuk akut dicirikan dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi local yang
berjalan dengan cepat. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagai komplikasi dari
infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis media) dan kulit
(impetigo). Bakterinya (Staphylococcus aureus, Streptococcus, Haemophylus influenzae)
berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana
darah mengalir ke dalam sinusoid.

Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang
terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan. Perlu sekali mendiagnosis osteomyelitis ini sedini
mungkin, terutama pada anak-anak, sehingga pengobatan dengan antibiotika dapat dimulai,
dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan dengan pencegahan penyebaran
infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami
kerusakan yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak-anak yang
menderita osteomyelitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan pengobatan
yang memadai.

Pada orang dewasa, osteomyelitis juga dapat awali oleh bakteri dalam aliran darah, namun
biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau operasi. Osteomyeelitis kronik adalah
akibat dari osteomyelitis akut yang tidak ditangani dengan baik. Seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya, osteomyelitis sangan resisten terhadap pengobatan dengan antibiotika. Infeksi
tulang sangat sulit untuk ditangani, bahkan tindakan drainase dan debridement, serta pemberian
antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi dan Etiologi


Osteomyelitis adalah suatu inflamasi pada tulang yang disebabkan oleh organisme
infeksius. Infeksi dapat hanya mengenai salah satu atau beberapa bagian tulang, seperti
sumsum tulang, korteks, periosteum, dan jaringan lunak di sekitarnya.(Canale & Beaty,
2007)
Organisme penyebab osteomyelitis hematogen akut baik pada orang dewasa maupun
pada anak-anak baisanya adalah Staphylococcus aureus, dan dapat juga ditemukan bakteri
kokus gram positif seperti Streptococcus beta hemolitik grup A. Bakteri anaerob juga
ditemukan pada pasien osteomielitis dengan infeksi campuran.(Solomon, Warwick, &
Nayagam, 2010)

2.2. Epidemiologi
Pada keseluruhan insiden terbanyak pada negara berkembang. Osteomyelitis pada
anak-anak sering bersifat akut dan menyebar secara hematogen, sedangkan osteomielitis
pada orang dewasa merupakan infeksi subakut atau kronik yang berkembang secara
sekunder dari fraktur terbuka dan meliputi jaringan lunak (Siregar, 1995 dan King, 2008).
Kejadian pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan
dengan perbandingan 4:1. Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang panjang, misalnya
femur, tibia, humerus, radius, ulna dan fibula. Namun tibia menjadi lokasi tersering untuk
osteomielitis post trauma karena pada tibia hanya terdapat sedikit pembuluh darah
(Siregar, 1995 dan King, 2008).
Faktor-faktor pasien seperti perubahan pertahanan netrofil, imunitas humoral, dan
imunitas selular dapat meningkatkan resiko osteomielitis (King, 2008).
Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi neonates adalah
sekitar 1 kasus per 1.000 kejadian. Sedangkan kejadian pada pasien dengan anemia sel
sabit adalah sekitar 0,36%. Prevalensi osteomielitis setelah trauma pada kaki sekitar 16%
(30-40% pada pasien dengan DM). insidensi osteomielitis vertebral adalah sekitar 2,4
kasus per 100.000 penduduk. Osteomielitis hematogen akut banyak ditemukan pada anak-
anak, anak laki-laki lebih sering terkena dibanding perempuan (3:1). Tulang yang sering
terkena adalah tulang panjang dan tersering adalah femur, tibia, humerus, radius, ulna,
fibula. Pada dewasa infeksi hematogen biasanya paling banyak pada tulang vertebra
dibandingkan tulang panjang.
Orang dewasa terkena karena menurunnya pertahanan tubuh karena kelemahan,
penyakit ataupun obat-obatan. Diabetes juga berhubungan dengan osteomielitis,
imunosupresi sementara baik yang didapat ataupun di induksi meningkatkan faktor
predisposisi, trauma menentukan tempat infeksi, kemungkinan disebabkan oleh hematom
kecil atau terkumpulnya cairan di tulang. Morbiditas dapat signifikan dan dapat termasuk
penyebaran infeksi lokal ke jaringan lunak yang terkait atau sendi; berevolusi menjadi
infeksi kronis, dengan rasa nyeri dan kecacatan; amputasi ekstremitas yang terlibat; infeksi
umum; atau sepsis. Sebanyak10-15% pasien dengan osteomielitis vertebral
mengembangkan temuan neurologis atau kompresi corda spinalis. Sebanyak 30% dari
pasien anak dengan osteomielitis tulang panjang dapat berkembang menjadi trombosis
vena dalam (DVT). Perkembangan DVT juga dapat menjadi penanda adanya
penyebarluasan infeksi.
2.3. Klasifikasi
Berdasarkan durasi gejala (Canale & Beaty, 2007):
a. Akut
b. Subakut
c. Kronik
Berdasarkan mekanisme infeksi(Canale & Beaty, 2007):
a. Eksogen : infeksi yang terjadi berasal dari adanya fraktur terbuka, pembedahan, atau
penyebaran kontinyu dari jaringan lokal yang terinfeksi.
b. Hematogen : infeksi berasal dari adanya keadaan bakteremia
Berdasarkan respon hospes (Canale & Beaty, 2007):
a. Piogenik
b. Nonpiogenik

Osteomyelitis merupakan penyakit yang kompleks, sehingga sistem klasifikasi yang


bervariasi telah dikembangkan disamping kategori umum yaitu akut, sub-akut, dan kronik.
System klasifikasi Waldvogel membagi osteomielitis dalam kategori hematogenous,
contiguous and chronic, sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut sistem klasifikasi
Cierny-Mader berdasarkan status dari proses penyakit, bukan etiologi, kronisitas, atau
factor lainnya sehingga istilah akut dan kronik tidak dipergunakan pada system Cierny-
Mader derajat pada system ini bersifat dinamik dan dapat berubah-ubah sesuai sesuai
kondisi medik pasien, keberhasilan terapi antibiotic dan pengobatan lainnya (Lew,
Waldvogel dan Francis, 1997, Khoshhal dan Letts, 2008).
Waldvogel Classification System for Cierny-Mader Staging System for
Osteomyelitis Osteomyelitis
Hematogenous osteomyelitis Anatomic type
Osteomyelitis secondary to contiguous focus of Stage 1: medullary osteomyelitis
infection Stage 2: superficial osteomyelitis
No generalized vascular disease Stage 3: localized osteomyelitis
Generalized vascular disease Stage 4: diffuse osteomyelitis
Chronic osteomyelitis (necrotic bone) Physiologic class
A host: healthy
Information from Waldvogel FA, Medoff G, Swartz MN. B host:
Osteomyelitis: a review of clinical features, therapeutic
considerations and unusual aspects (first of three parts). N Engl J Med Bs: systemic compromise
1970;282:198-206. Bl: local compromise
Bls: local and systemic compromise
C host: treatment worse than the disease
Factors affecting immune surveillance,
metabolism and local vascularity
- Systemic factors (Bs): malnutrition, renal or
hepatic failure, diabetes mellitus, chronic
hypoxia, immune disease, extremes of age,
immunosuppression or immune deficiency
- Local factors (Bl): chronic lymphedema, venous
stasis, major vessel compromise, arteritis,
extensive scarring, radiation fibrosis, small-
vessel disease, neuropathy, tobacco abuse

Adapted with permission from Cierny G, Mader JT, Pennick JJ. A


clinical staging system for adult osteomyelitis. Contemp Orthop
1985;10:17-37

Ross dan Cole (1985) membagi lesi-lesi ini sebagai yang bersifat agresif atau rongga
di dalam daerah metafisis atau diafisis. Klasifikasi ini membantu dalam perencanaan
pengobatan sebagai lesi yang sifatnya menyerang yang seharusnya diobati dengan
pembedahan untuk mendiagnosisnya. Gledhill mengklasifikasikan osteomyelitis
subakut berdasarkan gambaran radiologinya (1973), dan klasifikasi ini telah
dimodifikasi oleh Robert, dkk pada tahun 1982. Klasifikasi ini berguna untuk
pelaporan hasil pengobatan berdasarkan lokasi dan ini bukan merupakan suatu
prognosis atau rencana pengobatan (Lew, Waldvogel dan Francis, 1997, Khoshhal dan
Letts, 2008).
A. Tipe I adalah lesi metafisis
- Tipe Ia merupakan lesi di sentral metafisis sebagai gambaran radiolusen,
sering merupakan sugestif dari histiositosis sel Langerhans.
- Tipe Ib merupakan lesi di metafisis yang aneh yang berlokasi pada erosi
korteks, yang mungkin memberikan gambaran dari sarkoma osteogenik.
B. Tipe II merupakan lesi diafisis
- Tipe IIa berlokasi di korteks dan reaksi periosteal meniru osteoid osteoma.
- Lesi tipe IIb merupakan abses meduler diafisis tanpa perusakan korteks
tetapi merupakan reaksi periosteal yang menyerupai kulit bawang mirip
sarkoma Ewing.
C. Tipe III merupakan lesi epifisis
- Tipe IIIa merupakan osteomielitis primer pada epifisis dan tampak sebagai
gambaran konsentrik radiolusen. Tipe ini biasanya tampak pada anak-anak
usia 4-5 tahun.
- Tipe IIIb adalah osteomielitis subakut yang menyilang epifisis dan meliputi
baik epifisis maupun metafisis.
D. Lesi tipe IV merupakan lesi yang sama dengan lesi metafisis, yang didefinisikan
sebagai bagian dari tulang yang rata atau ireguler yang dibatasi oleh kartilago
(pertumbuhan lempeng apofisis, kartilago artikuler, atau fibrokartilago), seperti
vertebra, pelvis, dan tulang-tulang pendek seperti tulang tarsal dan klavikula.
- Tipe IVa meliputi tulang belakang dengan proses erosi atau destruksi.
- Tipe IVb meliputi penutup tulang dari pelvis dan paling sklerotik tidak
adanya proses erosi maupun destruksi. Ezra, dkk menyebutkan tipe ini pada
tahun 1993 dan 1997.
- Tipe IVc meliputi tulang-tulang pendek, seperti tulang tarsal dan klavikula.

Walaupun sistem klasifikasi osteomielitis membantu mendiskripsikan infeksi dan


menentukan diperlukan atau tidaknya pembedahan, namun kategori ini tidak dapat
digunakan pada keadaan tertentu (infeksi pada sendi prostetik, material yang di
implantasi, atau pada tulang-tulang kecil dan osteomielitis vertebra) (Lew, Waldvogel
dan Francis, 1997, Khoshhal dan Letts, 2008).
2.4. Patogenesis
2.4.1. Osteomielitis primer
Osteomyelitis primer disebabkan penyebaran secara hematogen dari fokus lain.
Osteomyelitis primer disebabkan oleh implantasi mikroorganisme secara langsung ke
dalam tulang dan biasanya terbatas pada tempat tersebut. Fraktur terbuka (compound
fracture), luka tembus (terutama disebabkan oleh senjata api), dan operasi bedah pada
tulang merupakan kausa-kausa tersering. Terapi operatif biasanya perlu dilakukan, terapi
dengan obat antimikroba hanya sebagai pembantu saja (King dan Johnson, 2008).

2.4.1.1. Osteomielitis akut


Osteomielitis hematogenous akut
Penyebaran osteomielitis dapat terjadi melalui dua cara yaitu (Rasjad, 2007):
1. penyebaran umum
melalui sirkulasi darah berupa bakterimia dan septikemia
melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi mltifokal pada daerah-
daerah lain
2. penyebaran lokal
subperiosteal abses, akibat penerobosan abses melalui periost
selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit
penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi artritis septik
penyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi dalam
tulang terganggu. Hal ini menyebabkan kematian tulang lokal dengan
terbentuknya tulang mati yang disebut sekuestrum.
Gambar Patogenesis Osteomielitis hematogen. Pus yang terdesak dapat keluar melalui kanal
Volkman ke subperiosteal dan masuk ke rongga medulla (Canale & Beaty, 2007)

Teori terjadinya infeksi pada daerah metafisis yaitu: 3


Teori vaskuler (trueta)
Pembuluh darah pada daerah metafisis berkelok-kelok dan membentuk sinus-sinus
sehingga menyebabkan aliran darah menjadi lambat. Aliran darah yang lambat pasda
daerah ini memudahkan bakteri berkembang biak.
Teori fagositosis (rang)
Daerah metafisis merupakan daerah pembentukan sistem retikuloendotelial. Bila
terjadi infeksi, bakteri akan difagosit oleh sel-sel fagosit matur di tempat ini.
Meskipun demikian, di daerah ini juga terdapat sel-sel fagosit imatur yang tidak dapat
memfagosit bakteri sehingga beberapa bakteri tidak difagosit dan berkembang biak di
daerah ini.
Teori trauma
Bila trauma artifisial dilakukan pada binatang percobaan, maka akan terjadi hematoma
pada daerah lempeng epifisis. Dengan penyuntikan bakteri secara intravena, akan
terjadi infeksi pada daerah hematoma tersebut.

Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung pada umur, daya
tahan penderita, lokasi infeksi, serta virulensi kuman. Infeksi terjadi melalui aliran darah
dari fokus tempat lain dari tubuh pada fase bakterimia dan dapat menimbulkan
septikemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juxta epifisis pada daerah
metafisis tulang panjang. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan udem di daerah
metafisis disertai pembentukan pus di tulang panjang. Terbentuknya pus dalam tulang
di mana jaringan ulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dlam tulang
bertambah, peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan
timbul trombosis pada pembuluh darah tulang yang akhirnya menyebabkan nekrosis
tulang. Di samping proses yang disebutkan di atas, pembentukan tulang baru yang
ekstendsif terjadi pada bagian dalam periostem sepanjang diafisis (terutama pada anak-
anak) sehingga terbentuk lingkungan tulang seperti peti mayat yang disebut involukrum
dengan jaringan sekuestrum di dalamnya. Proses ini terlihat jelas pada akhir minggu
kedua. Apabila pus menembus tulang, maka terjadi pengaliran pus atau (discharge) dari
involukrum keluar melalui lubang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan
lunak dan kulit (Rasjad, 2007)

Direct or contigous inoculation osteomyelitis


Direct or contigous inoculation osteomyelitis disebabkan kontak langsung antara
jaringan tulang dengan bakteri, biasa terjadi karena trauma terbuka dan tindakan
pembedahan. Manisfestasinya terlokalisasi dan lebih jelas dari pada hematogenous
osteomyelitis (King dan Johnson, 2008).
Osteomyelitis sering menyertai penyakit lain seperti diabetes melitus, anemia sel
sabit, AIDS, penggunaan obat-obatan intra vena, alkoholisme, penggunaan steroid yang
berkepanjangan, imunosupresan dan penyakit sendi yang kronik. Pemakaian prostetik
adalah salah satu faktor resiko, begitu juga dengan pembedahan ortopedi dan fraktur
terbuka (King dan Johnson, 2008).
2.4.1.2. Osteomielitis subakut
Osteomyelitis subakut adalah bentuk lain dari osteomyelitis, dan abses Brodie adalah
salah satu tipe yang paling umum dari osteomyelitis subakut. Abses ini biasanya
ditemukan dalam spongiosa tulang dekat ujung tulang. Bentuk abses ini biasanya bulat
atau lonjong dengan pinggiran skleroti, kadang-kadang terlihat sekuester. Abses tetap
terlokalisasi dan kavitas dapat secara bertahap terisi jaringan granulasi. Abses Brodie
juga dapat ditemukan pada osteomielitis kronik (Khoshhal dan Letts, 2008 dan Rasad
dan Kartoleksono, 1995)
Osteomyelitis subakut terjadi lebih banyak pada tulang-tulang dibandingkan dengan
tipe akut, dan itu terjadi pada bermacam-macam daerah diantara tulang-tulang yang
terinfeksi. Ekstremitas bawah terinfeksi lebih banyak dibandingkan ekstremitas atas.
Tibia terinfeksi lebih sering dibandingkan femur (Rasjad, 2007 dan Khoshhal dan
Letts, 2008)
Osteomyelitis subakut mungkin hanya terjadi pada epifisis, yang merupakan
kebalikan dari yang dipercaya bahwa infeksi tulang pertama tidak terjadi di epifisis.
Diafisis kadang-kadang terinfeksi, meskipun lebih sering pada dewasa dibandingkan
pada anak-anak; daerah yang paling sering terinfeksi adalah metafisis. Daerah lain yang
dilaporkan sebagai osteomielitis subakut adalah metafisis sesuai lokasi, seperti di pelvis,
tulang belakang, calcaneus, clavicula, dan talus. Osteomyelitis subakut yang terjadi
pada tulang tarsal biasanya terjadi pada daerah subkondral atau batas apofisis dari
calcaneus. Lesi subakut dari tulang belakang terjadi lebih sering pada orang dewasa
dibandingkan pada anak-anak. Pada osteomyelitis subakut yang terjadi pada tulang
panjang pada orang dewasa, diafisis sering terkena sama seperti metafisis, sedangkan
lutut jarang terkena (Khoshhal dan Letts, 2008 dan Rasad dan Kartoleksono, 1995).
2.4.1.3. Osteomielitis Kronik
Osteomyelitis akut yang tidak diterapi secara adekuat, akan berkembang menjadi
osteomyelitis kronik. Organisme yang biasa berperan adalah Staphylococcus aureus
(75%), Escherichia coli, Streptococcus pyogenes, Proteus, dan Pseudomonas.
Kebanyakan penyebab dari osteomielitis polimikroba. Kadang-kadang infeksi ini tidak
terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan
atau beberapa tahun (Rasjad, 2007 dan Jong dan Sjamsuhidayat, 2005)
Destruksi tulang tidak hanya pada fokus infeksi tetapi meluas. Kavitas berisi potongan
tulang mati (sekuestra) yang dikelilingi jaringan vaskular, dan di luar jaringan vaskular
tersebut ada daerah sklerosis, hasil dari reaksi kronis pembentukan tulang baru.
Sekuester berperan sebagai substrat bagi adesi bakteri, lama-kelamaan terbentuk
sinus. Destruksi tulang dan dengan meningkatnya sklerosis berakibat terjadinya fraktur
patologis. Gambaran histologis berupa sebukan sel radang kronis di sekitar daerah
aselular tulang atau sekuestra.
2.4.2. Osteomielitis sekunder
Osteomyelitis sekunder (perkontinuitatum/hematogen akut) yang disebabkan penyebaran
kuman dari sekitarnya, seperti bisul dan luka; melalui aliran darah. Kadang-kadang,
osteomielitis sekunder dapat disebabkan oleh perluasan infeksi secara langsung dari
jaringan lunak di dekatnya atau dari arthritis septic pada sendi yang berdekatan.
Infeksi di jaringan lunak kaki atau tangan, terutama di jari kaki atau jari tangan dapat
menjalar ke dalam tulang dan menyebabkan osteomielitis. Panarisium subkutan
menyebabkan osteomielitis falang terminal. Yang sering ditemukan adalah osteomielitis
tulang tangan atau kaki karena neuropati perifer, misalnya pada lepra atau diabetes
mellitus (Jong dan Sjamsuhidayat, 2005)
2.5. Faktor Risiko
Adapun faktor predisposisi dari infeksi tulang adalah (Solomon et al., 2010):
a. Malnutrisi
b. Diabetes mellitus
c. Penggunaan kortikosteroid
d. Defisiensi imun
e. Obat imunosupresan
f. Stasis vena pada ekstremitas
g. Penyakit vaskular perifer
h. Kehilangan sensibilitas
i. Tindakan invasif iatrogenic
j. Trauma
2.6. Gambaran Klinis

Osteomyelitis hematogeneus biasanya memiliki progresivitas gejala yang


lambat.osteomielitis langsung (direct osteomyelitis) umumnya lebih terlokalisasi dengan tanda
dan gejala yang menonjol. Gejala umum dari osteomielitis meliputi :

2.6.1 Osteomyelitis hematogenus tulang panjang


Demam yang memiliki onset tiba-tiba tinggi (demam hanya terdapat dalam 50% dari
osteomielitis pada neonates)
Kelelahan
Rasa tidak nyaman
Irritabilitas
Keterbatasan gerak (pseudoparalisis anggota badan pada neonates)
Edema lokal, eritema dan nyeri.

2.6.2. Osteomyelitis hematogenus vertebral


Onset cepat
Adanya riwayat episode bakterimia akut
Diduga berhubungan dengan insufisiensi pembuluh darah disampingnya
Edema lokal, eritema dan nyeri
Kegagalan pada anak-anak untuk berdiri secara normal.
2.6.3. Osteomyelitis kronik
Ulkus yang tidak sembuh
Drainase saluran sinus
Kelelahan kronik
Rasa tidak nyaman

Drainase saluran sinus (biasanya ditamukan pada stadium lanjut atau jika terjadi infeksi
kronis).

Berdasarkan lama infeksi, osteomyelitis terbagi menjadi 3, yaitu:


Osteomyelitis akut, yaitu osteomyelitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama
atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomyelitis akut ini biasanya terjadi pada anak-
anak daripada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam
darah (osteomyelitis hematogen)
Osteomyelitis akut terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
- Osteomyelitis hematogen, merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah.
Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari
daerah yang jauh. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering
terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis yang
bervaskular banyak. Aliran darah yang lambat pada daerah distal metafisis menyebabkan
thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri.
Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan onset yang lambat.
- Osteomyelitis direk, disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat
trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat
inokulasi bakteri yang disebabkan oleh trauma, yang menyebar dari fokus infeksi atau
sepsis setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih
terlokalisasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
- Osteomyelitis sub-akut, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi
pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.
- Osteomyelitis kronis, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak
infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.

Osteomyelitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya terjadi
karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya osteomielitis yang terjadi
pada tulang yang fraktur. Berikut merupakan beberapa pembagian osteomielitis yang lain :
1. Osteomyelitis pada vertebra
Kelainan ini lebih sulit untuk didiagnosis. Biasanya ada demam, rasa sakit pada tulang
dan spasme otot. Proses ini lebih sering mengenai korpus vertebra dan dapat timbul sebagai
komplikasi infeksi saluran kencing dan operasi panggul.
Pada stadium awal tanda tanda destruksi tulang yang menonjol, selanjutnya terjadi
pembentukan tulang baru yang terlihat sebagai skelerosis. Lesi dapat bermula dibagian
sentral atau tepi korpus vertebra .
Pada lesi yang bermula ditepi korpus vertebra, diskus cepat mengalami destruksi dan
sela diskus akan menyempit. Dapat timbul abses para vertebral yang terlihat sebagai
bayangan berdensitas jaringan lunak sekitar lesi. Di daerah torakal, abses ini lebih mudah
dilihat karena terdapat kontras paru. Daerah Lumbal lebih sukar untuk dilihat, tanda yang
penting adalah bayangan psoas menjadi kabur.
Untuk membedakan penyakit ini dengan spondilitis tuberkulosa sukar, biasanya pada
osteomielitis akan terlihat sklerosis, destruksi diskus kurang dan sering timbul penulangan
antara vertebra yang terkena proses dengan vertebra di dekatnya (bony bridging).
2. Osteomyelitis pada tulang lain

Tengkorak

Biasanya osteomielitis pada tulang tengkorak terjadi sebagai akibat perluasan infeksi di kulit
kepala atau sinusitis frontalis. Proses detruksi bias setempat atau difuse. Reaksi periosteal
biasanya tidak ada atau sedikit sekali.

Mandibula

Biasanya terjadi akibat komplikasi fraktur atau abses gigi.

Pelvis

Osteomielitis pada tulang pelvis paling sering terjadi pada bagian sayap tulang ilium dan dapat
meluas ke sendi sakroiliaka. Pada foto terlihat gambaran destruksi tulang yang luas, bentuk
tidak teratur, biasanya dengan skwester yang multiple. Sering terlihat sklerosis pada tepi lesi.
Secara klinis sering disertai abses dan fistula.

Bedanya dengan tuberculosis, ialah destruksi berlangsung lebih cepat dan pada tuberculosis
abses sering mengalami kalsifikasi. Dalam diagnosis differential perlu dipikirkan kemungkinan
keganasan.

3. Tipe khusus osteomyelitis

Abses Brodie

Abses ini bersifat kronis, biasanya ditemukan dalam spondilosa tulang dekat ujung tulang.
Bentuk abses biasanya bulat atau lonjong dengan pinggiran sklerotik, kadang-kadang terlihat
skwester. Abses tetap terlokalisasi dan kavitas dapat secara bertahap terisi jaringan granulasi.

Osteomyelitis sklerosing Garre

Pada kelainan ini yang menonjol adalah sklerosis tulang dengan tanda-tanda destruksi yang
tidak nyata. Bersifat kronis, dan biasanya hany satu tulang yang terkena dengan pelebaran
tulang yang bersifat fusiform. Diagnosis differential yang penting adalah osteoid osteoma.

4. Osteomyelitis pada neonatus dan bayi


Osteomielitis pada neonatus dan bayi sering kali hanya dengan gejala klinis yang
ringan, dapat mengenai satu atau banyak tulang dan mudah meluas ke sendi di dekatnya.
Biasanya lebih sering terjadi pada bayi dengan resiko tinggi seperti prematur, berat badan
kurang. Tindakan-tindakan seperti resusitasi, vena seksi, kateterisasi dan infuse secara
potensial dapat merupakan penyebab Infeksi. Kuman penyebab tersering adalah
Streptococcus.
Osteomielitis pada bayi biasanya disertai destruksi yang luas dari tulang, tulang rawan dan
jaringan lunak sekitarnya. Pada neonatus ada hubungan antara pembuluh darah epifisis
dengan pembuluh darah metafisis, yang disebut pembuluh darah transfiseal, Hubungan ini
menyebabkan mudahnya infeksi meluas dari metafisis ke epifisis dan sendi. Kadang-
kadang osteomielitis pada bayi juga dapat mengenai tulang lain seperti maksila, vertebra,
tengkorak, iga dan pelvis. Tanda paling dini yang dapat ditemukan pada foto rontgen ialah
pembengkakan jaringan lunak dekat tulang yang terlihat kira-kira 3 hari setelah infeksi.
Demineralisasi tulang terlihat kira-kira 7 hari setelah infeksi dan disebabkan hyperemia
dan destruksi trabekula. Destruksi korteks dan sebagai akibatnya pembentukan tulang sub-
periosteal terlihat pada kira-kira 2 minggu setelah infeksi.
2.7. Penegakan Diagnosis
Diagnosis dari osteomyelitis pada awalnya didasarkan pada penemuan klinik, melalui data dari
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium memberikan data dimana
respon terapi dapat diukur.
Untuk menegakkan diagnosis osteomielitis dapat ditentukan melalui pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Demam (terdapat pada 50% dari neonates)


Edema
Teraba hangat
Fluktuasi
Penurunan dalam penggunaan ekstremitas (misalnya ketidakmampuan dalam berjalan
jika tungkai bawah yang terlibat atau terdapat pseudoparalisis anggota badan pada
neonatus).
Kegagalan pada anak-anak untuk berdiri secara normal.

Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah lengkap
Jumlah leukosit mungkin tinggi, tetapi sering normal. Adanya pergeseran ke kiri
biasanya disertai dengan peningkatan jumlah leukosit polimorfonuklear. Tingkat C-reaktif
protein biasanya tinggi dan nonspesifik; penelitian ini mungkin lebih berguna daripada laju
endapan darah (LED) karena menunjukan adanya peningkatan LED pada permulaan. LED
biasanya meningkat (90%), namun, temuan ini secara klinis tidak spesifik. CRP dan LED
memiliki peran terbatas dalam menentukan osteomielitis kronis seringkali didapatkan hasil
yang normal. Lekositosis, peningkatan laju endap darah, dan C-reaktif protein harus
diperhatikan.

- Kultur
Kultur dari luka superficial atau saluran sinus sering tidak berkorelasi dengan bakteri
yang menyebabkan osteomielitis dan memiliki penggunaan yang terbatas. Darah hasil kultur,
positif pada sekitar 50% pasien dengan osteomielitis hematogen. Bagaimanapun, kultur darah
positif mungkin menghalangi kebutuhan untuk prosedur invasif lebih lanjut untuk mengisolasi
organisme. Kultur tulang dari biopsi atau aspirasi memiliki hasil diagnostik sekitar 77% pada
semua studi.
Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos
Pada osteomielitis awal, tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiograf. Setelah
7-10 hari, dapat ditemukan adanya area osteopeni, yang mengawali destruksi
cancellous bone. Seiring berkembangnya infeksi, reaksi periosteal akan tampak, dan
area destruksi pada korteks tulang tampak lebih jelas. Osteomielitis kronik
diidentifikasi dengan adanya detruksi tulang yang masif dan adanya involukrum, yang
membungkus fokus sklerotik dari tulang yang nekrotik yaitu sequestrum.
Infeksi jaringan lunak biasanya tidak dapat dilihat pada radiograf kecuali apabila
terdapat oedem. Pengecualian lainnya adalah apabila terdapat infeksi yang
menghasilkan udara yang menyebabkan terjadinya gas gangrene. Udara pada jaringan
lumak ini dapat dilihat sebagai area radiolusen, analog dengan udara usus pada foto
abdomen.
b. Ultrasound
USG dapat menunjukkan perubahan sedini mungkin 1-2 hari setelah timbulnya gejala.
USG dapat menunjukkan ketidakabnormalan termasuk abses jaringan lunak atau
penumpukan cairan (seperti abses) dan elevasi periosteal. 6
USG juga dapat digunakan untuk menuntun dalam melakukan aspirasi. Tapi, USG
tidak digunakan untuk mengevaluasi cortex tulang. Berguna untuk mengidentifikasi
efusi sendi dan menguntungkan untuk mengevaluasi pasien pediatrik dengan suspek
infeksi sendi panggul. Teknik sederhana dan murah telah menjanjikan, terutama pada
anak dengan osteomielitis akut. Ultrasonografi dapat menunjukkan perubahan sejak 1-
2 hari setelah timbulnya gejala. Kelainan termasuk abses jaringan lunak atau kumpulan
cairan dan elevasi periosteal. Ultrasonografi memungkinkan untuk petunjuk ultrasound
aspirasi. Tidak memungkinkan untuk evaluasi korteks tulang.

c. Radionuklir
Untuk pencitraan nuclir, Technetium Tc-99m metilen difosfonat adalah agen
pilihan utama. Sensitivitas pemeriksaan ini terbatas pada minggu pertama dan sama
sekali tidak spesifik. Jarang dipakai untuk mendeteksi osteomielitis akut. Pencitraan ini
sangat sensitif namun tidak spesifik untuk mendeteksi infeksi tulang. Umumnya,
infeksi tidak bisa dibedakan dari neoplasma, infark, trauma, gout, stress fracture, infeksi
jaringan lunak, dan artritis. Namun, radionuklir dapat membantu untuk mendeteksi
adanya proses infeksi sebelum dilakukan prosedur invasif dilakukan.

d. CT Scan
CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi
abnormal, osifikasi dan ketidaknormalan
intrakortikal. CT scan mungkin dapat membantu
dalam mengevaluasi lesi pada tulang vetebra. CT
scan juga lebih unggul dalam area dengan
anatomi yang kompleks, contohnya pelvis,
6
sternum, dan calcaneus. CT scan dengan
potongan koronal dan sagital berguna untuk
menidentifikasi sequestra pada osteomielitis
kronik. Sequestra akan tampak lebih radiodense dibanding involukrum disekelilingnya.
e. MRI
Magnetic resonance imaging (MRI) sangat
membantu dalam mendeteksi osteomielitis. MRI
lebih unggul jika dibandingkan dengan radiografi,
CT scan dan scintigrafi tulang MRI memiliki
sensitifitas 90-100% dalam mendeteksi
osteomielitis. MRI juga memberikan gambaran
resolusi ruang anatomi dari perluasan infeksi. MRI
efektif dalam deteksi dini dan lokalisasi operasi osteomyelitis. Penelitian telah
menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan radiografi polos, CT, dan scanning
radionuklida dan dianggap sebagai pencitraan pilihan. Sensitivitas berkisar antara 90-
100%. Tomografi emisi positron (PET) scanning memiliki akurasi yang mirip dengan
MRI.
f. Radionuklida scanning tulang

Tiga fase scan tulang, scan gallium dan scan sel darah putih menjadi pertimbangan pada
pasien yang tidak mampu melakukan pencitraan MRI. Sebuah fase tiga scan tulang
memiliki sensitivitas yang tinggi dan spesifisitas pada orang dewasa dengan temuan
normal pada radiograf. Spesifisitas secara dramatis menurun dalam pengaturan operasi
sebelumnya atau trauma tulang. Dalam keadaan khusus, informasi tambahan dapat
diperoleh dari pemindaian lebih lanjut dengan leukosit berlabel dengan 67 gallium dan
/ atau indium 111.

Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi


Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi merupakan gold standard dalam mendiagnosa
osteomielitis. Kultur dari sediaan sinus tidak dapat dipercaya sepenuhnya untuk
mengidentifikasi etiologi dari osteomielitis, sehingga biopsi merupakan anjuran untuk
menentukan etiologi dari osteomielitis. Namun keakuratan biopsi seringkali terbatas oleh
kurangnya pengumpulan spesimen yang sama dan penggunaan antibiotik sebelumnya (Lew et
al., 1997)
Gambar Destruksi tulang pada osteomielitis
2.8. Tatalaksana
2.8.1. Osteomyelitis akut

Osteomielitis akut harus diobati segera. Biakan darah diambil dan pemberian
antibiotika intravena dimulai tanpa menunggu hasil biakan. Karena Staphylococcus merupakan
kuman penyebab tersering, maka antibiotika yang dipilih harus memiliki spektrum
antistafilokokus. Jika biakan darah negatif, maka diperlukan aspirasi subperiosteum atau
aspirasi intramedula pada tulang yang terlibat. Pasien diharuskan untuk tirah baring,
keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan, diberikan antipiretik bila demam, dan
ekstremitas diimobilisasi dengan gips. Perbaikan klinis biasanya terlihat dalam 24 jam setelah
pemberian antibiotika. Jika tidak ditemukan perbaikan, maka diperlukan intervensi bedah.
Terapi antibiotik biasanya diteruskan hingga 6 minggu pada pasien dengan osteomielitis. LED
dan CRP sebaiknya diperiksa secara serial setiap minggu untuk memantau keberhasilan terapi.

Bila ada cairan yang keluar perlu dibor di beberapa tempat untuk mengurangi tekanan
intraosteal. Cairan tersebut perlu dibiakkan untuk menentukan jenis kuman dan resistensinya.
Bila terdapat perbaikan, antibiotik parenteral diteruskan sampai 2 minggu, kemudian
diteruskan secara oral paling sedikit 4 minggu (Rasjad, 2007 dan Jong dan Sjamsuhidayat,
2005). 3,4
Penyulit berupa kekambuhan yang dapat mencapai 20%, cacat berupa dekstruksi sendi,
gangguan pertumbuhan karena kerusakan cakram epifisis, dan osteomielitis kronik.
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah (Siregar, 1995)
a. Adanya abses.
b. Rasa sakit yang hebat.
c. Adanya sekuester.
d. Bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan (karsinoma epidermoid).
Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum telah
cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pasca pembedahan (Siregar, 1995).

2.8.2. Osteomyelitis subakut

Pengobatan osteomyelitis subakut tergantung dari diagnosis. Kebanyakan 1/3 kasus


tidak dapat dibedakan dari keganasan primer dari tumor tulang. Biopsi dan kuretase diperlukan
untuk penegakan diagnosis pada kasus-kasus ini. Pada saat diagnosis ditegakkan, pemberian
antibiotik yang sesuai dengan kelompok gram, kultur, dan sensitivitas harus sudah dimulai
secara intravena selama 2-7 hari, diikuti dengan antibiotik oral selama 6 minggu (Khoshhal
dan Letts, 2008)
Kegagalan gejala untuk timbulnya perbaikan setelah 6 minggu pengobatan dengan
antibiotik atau perburukan kondisi selama pengobatan harus dipikirkan untuk mengevaluasi
ulang dan mendiagnosis secara bakteriologis, diikuti penatalaksanaan operasi dan antibiotik
yang sesuai. Indikasi lain untuk operasi adalah perubahan bentuk sinus yang selanjutnya dan
drainase ke dalam sendi sinovial. Tanda-tanda klinis dari pus subperiosteal atau sinovitis
mengindikasikan bahwa infeksi subakut telah berubah menjadi komponen akut, dan ini harus
dilakukan drainase secara bedah (Khoshhal dan Letts, 2008).
Indikasi tindakan bedah :
a. Kegagalan gejala untuk memperbaiki setelah lebih dari 6 bulan dilakukan pengobatan
dengan antibiotik atau perburukan kondisi selama pengobatan.
b. Lesi yang cepat berkembang (tidak dapat dibedakan dari keganasan tulang).
c. Perubahan bentuk sinus atau drainase ke dalam sendi sinovial.
d. Tanda-tanda klinis dari pus subperiosteal atau sinovitis.
Literatur yang ada tidak dapat mendukung pengobatan pada orang dewasa, dikarenakan
penyakit ini paling banyak menyerang kelompok usia anak. Operasi diindikasikan dalam
pengobatan pada orang dewasa (Khoshhal dan Letts, 2008).

2.8.3. Osteomyelitis kronik


Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan adjuvan terhadap debridemen bedah.
Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat
mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan
rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan
kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang
permanen.Pada beberapa kasus, infeksi sudah terlalu berat dan luas sehingga satu-satunya
tindakan terbaik adalah amputasi dan pemasangan prothesa.
Pengobatan Osteomielitis Kronik (Rasjad, 2007)
1. Pemberian antibiotik
Osteomielitis kronis tidak dapat diobati dengan antibiotik semata-mata
Pemberian antibiotik ditujukan untuk:

Mencegah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang sehat lainnya

Mengontrol eksaserbasi
2. Tindakan operatif
Tindakan operatif dilakukan bila fase eksaserbasi akut telah reda setelah pemberian dan
pemayungan antibiotik yang adekuat.
Operasi yang dilakukan bertujuan:
Mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik, baik jaringan lunak maupun jaringan
tulang(sekuestrum) sampai ke jaringan sehat sekitarnya. Selanjutnya dilakukan
drainase dan irigasi secara kontinu selama beberapa hari. Adakalanya diperlukan
penanaman rantai antibiotik di dalam bagian tulang yang infeksi
Sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan antibiotik mencapai sasaran dan
mencegah penyebaran osteomielitis lebih lanjut

Kegagalan pemberian antibiotik dapat disebabkan oleh : 5


a. Pemberian antibiotik yang tidak sesuai dengan mikroorganisme penyebab
b. Dosis tidak adekuat
c. Lama pemberian tidak cukup
d. Timbulnya resistensi
e. Kesalahan hasil biakan (laboratorium)
f. Antibiotik antagonis
g. Pemberian pengobatan suportif yang buruk
h. Kesalahan diagnostik

Bila proses akut telah dikendalikan, maka terapi fisik harian dalam rentang gerakan diberikan.
Kapan aktivitas penuh dapat dimulai tergantung pada jumlah tulang yang terlibat. Pada infeksi
luas, kelemahan akibat hilangnya tulang dapat mengakibatkan terjadinya fraktur patologis.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar
dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang
drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi
larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian
irigasi ini. (Canale, 2007)

Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang
penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang
berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun
dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah;
perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi
infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan.
Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau
penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya
patah tulang. Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum
telah cukup kuat; mencegah terjadinya fraktur pasca pembedahan.

Initial Antibiotic Regimens for Patients with Osteomyelitis

Organism Antibiotic(s) of first choice Alternative antibiotics


Staphylococcus aureus or coagulase- Nafcillin (Unipen), 2 g IV every 6 First-generation cephalosporin or
negative (methicillin-sensitive) hours, or clindamycin phosphate vancomycin (Vancocin)
staphylococci (Cleocin Phosphate), 900 mg IV every
8 hours
S. aureus or coagulase-negative Vancomycin, 1 g IV every 12 hours Teicoplanin (Targocid),*
(methicillin-resistant) staphylococci trimethoprim- sulfamethoxazole
(Bactrim, Septra) or minocycline
(Minocin) plus rifampin (Rifadin)
Various streptococci (groups A and B Penicillin G, 4 million units IV every 6 Clindamycin, erythromycin,
b-hemolytic organisms or penicillin- hours vancomycin or ceftriaxone
sensitive Streptococcus pneumoniae) (Rocephin)
Intermediate penicillin-resistant S. Cefotaxime (Claforan), 1 g IV every 6 Erythromycin or clindamycin
Pneumoniae hours, or ceftriaxone, 2 g IV once daily
Penicillin-resistant S. pneumonia Vancomycin, 1 g IV every 12 hours Levofloxacin (Levaquin)
Enterococcus species Ampicillin, 1 g IV every 6 hours, Ampicillin-sulbactam (Unasyn)
orvancomycin, 1 g IV every 12 hours
Enteric gram-negative rods Fluoroquinolone (e.g., ciprofloxacin Third-generation cephalosporin
[Cipro], 750 mg orally every 12 hours)
Serratia species or Pseudomonas Ceftazidime (Fortaz), 2 g IV every 8 Imipenem (Primaxin I.V.),
aeruginosa hours (with an aminoglycoside given IV piperacillin-tazobactam (Zosyn) or
once daily or in multiple doses for at cefepime (Maxipime; given with an
least the first 2 weeks) aminoglycoside)
Anaerobes Clindamycin, 600 mg IV or orally every For gram-negative anaerobes:
6 hours amoxicillin-clavulanate (Augmentin)
or metronidazole (Flagyl)
Mixed aerobic and anaerobic Amoxicillin-clavulanate, 875 mg and Imipenem
organisms 125 mg, respectively, orally every 12
hours

IV = intravenous.
*--Currently available only in Europe.

Adapted with permission from Lew DP, Waldvogel FA. Osteomyelitis. N Engl J Med 1997;336:999-1007, and Mader JT,
Shirtliff ME, Bergquist SC, Calhoun J. Antimicrobial treatment of chronic osteomyelitis. Clin Orthop 1999;(360):46-65.

Debridement
Debridement pada pasien dengan osteomielitis kronis dapat dilakukan. Kualitas debridement
merupakan faktor penting dalam suksesnya pengobatan. Setelah debridement dengan eksisi
tulang, adalah hal yang perlu untuk menghapuskan/ menghilangkan dead space yang dilakukan
dengan memindahkan jaringan di atasnya. Pengobatan dead space termasuk myoplasty lokal,
pemindahan jaringan dan penggunaan antibiotik. Pelaksanaan pada jaringan lunak telah
dikembangkan untuk meningkatkan aliran darah lokal dan pendistribusian antibiotik.

2.9. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada osteomyelitis adalah (Rasjad, 2007 dan Jong dan
Sjamsuhidayat, 2005):

- Septikemia
Dengan makin tersedianya obat-obatan antibiotik yang memadai, kematian akibat
septikemia pada saat ini jarang ditemukan.
- Kematian tulang (osteonekrosis)
Infeksi pada tulang dapat menghambat sirkulasi darah dalam tulang, menyebabkan
kematian tulang. Jika terjadi nekrosis pada area yang luas, kemungkinan harus
diamputasi untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi.
- Arthritis septic
Dalam beberapa kasus, infeksi dalam tuolang bias menyebar ke dalam sendi di
dekatnya.
- Artritis Supuratif
Artritis Supuratif dapat terjadai pada bayi muda karena lempeng epifisis bayi
(yang bertindak sebagai barier) belum berfungsi dengan baik. Komplikasi terutama
terjadi pada osteomielitis hematogen akut di daerah metafisis yang bersifat intra-
kapsuler (misalnya pada sendi panggul) atau melalui infeksi metastatik
- Gangguan Pertumbuhan
Osteomielitis hematogen akut pada bayi dapat menyebabkan kerusakan lempeng
epifsisis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan, sehingga tulang yang
terkena akan menjadi lebih pendek. Pada anak yang lebih besar akan terjadi hiperemi
pada daerah metafisis yang merupakan stimulasi bagi tulang untuk bertumbuh. Pada
keadaan ini tulang bertumbuh lebih cepat dan menyebabkan terjadinya pemanjangan
tulang
- Osteomielitis Kronik
Apabila diagnosis dan terapi yang tepat tidak dilakukan, maka osteomielitis akut
akan berlanjut menjadi osteomielitis kronik
- Fraktur Patologis
- Ankilosis
- Abses Tulang
- Kanker kulit
- Selulitis
2.10. Prognosis

Angka mortalitas pada osteomielitis akut yang diobati adalah kira-kira 1 %, tetapi
morbiditas tetap tinggi. Bila terapi efektif dimulai dalam waktu 48 jam setelah
timbulnya gejala, kesembuhan yang cepat dapat diharapkan pada kira-kira 2/3 kasus.
Kronisitas dan kambuhnya infeksi mungkin terjadi bila terapinya terlambat (King dan
Johnson, 2008)

Empat faktor penting yang menentukan keefektifan terapi antimikroba dalam terapi
osteomielitis hematogenous akut, sehingga akan mempengaruhi prognosis adalah (King
dan Johnson, 2008):
1. Interval waktu diantara onset penyakit dan permulaan terapi.
Terapi yang dimulai dalam 3 hari pertama adalah yang paling ideal karena pada tahap
ini area lokal dari osteomielitis masih belum menjadi iskemi. Dengan pengobatan
dini, organisme penyebab akan lebih sensitif terhadap obat yang dipilih dan dapat
mengontrol infeksi sehingga osteolisis, nekrosis tulang dan pembentukan tulang baru
akan dihambat. Dengan keadaan seperti ini maka perubahan gambaran radiologik
tidak akan muncul kemudian pengobatan dalam tiga sampai tujuh hari akan
mengurangi infeksi baik sistemik maupun lokal, namun terlalu lambat untuk
mencegah kerusakan tulang. Pengobatan yang dimulai setelah satu minggu infeksi
hanya dapat mengontrol septikemia dan menyelamatkan jiwa, tetapi memiliki efek
yang kecil dalam mencegah kerusakan tulang lebih lanjut.
2. Keefektifan obat antimikroba dalam melawan kuman penyebab
Hal ini bergantung pada jenis kuman penyebab yang bersangkutan apakah kuman
tersebut resisten atau sensitif terhadap antibiotik yang digunakan.
3. Dosis dari obat antimikroba
Faktor lokal dari vaskularisasi tulang yang terganggu memerlukan dosis antibiotik
yang lebih besar untuk osteomielitis daripada infeksi jaringan lunak.
4. Durasi terapi antimikroba
Penghentian terapi yang terlalu awal terutama bila kurang dari empat minggu akan
mengakibatkan terjadinya infeksi kronik dan rekuren dari osteomielitis.
BAB III

PENUTUP

Osteomielitis merupakan infeksi tulang ataupun sum-sum tulang, biasanya disebabkan


oleh bakteri piogenik atau mikobakteri. Osteomielitis bisa mengenai semua usia tetapi
umumnya mengenai anak-anak dan orang tua. Oteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri,
diantaranya dari species staphylococcus dan stertococcus. Selain bakteri, jamur dan virus juga
dapat menginfeksi langsung melalui fraktur terbuka. Tibia bagian distal, femur bagian distal,
humerus , radius dan ulna bagian proksimal dan distal, vertebra, maksila, dan mandibula
merupakan tulang yang paling beresiko untuk terkena osteomielitis karena merupakan tulang
yang banyak vaskularisasinya.

Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu : osteomielitis akut,


sub akut dan kronis. Gambaran klinis terlihat daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan
membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri. Osteomielitis menahun sering
menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran
nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari
tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk
dari tulang menuju kulit.

Oteomielitis didiagnosis banding dengan osteosarkoma dan Ewing sarkoma sebab


memiliki gambaran radiologik yang mirip. Gambaran radiologik osteomielitis baru terlihat
setelah 10-14 hari setelah infeksi, yang akan memperlihatkan reaksi periosteal, sklerosis,
sekwestrum dan involikrum.
Osteomielitis dapat diobati dengan terapi antibiotik selama 2-4 minggu atau dengan
debridement. Prognosis osteomielitis bergantung pada lama perjalanan penyakitnya, untuk
yang akut prognosisnya umumnya baik, tetapi yang kronis umumnya buruk.
DAFTAR PUSTAKA

Lew, Daniel P., Waldvogel, Francis A. 1997. Osteomyelitis. The New England Journal of
Medicine.
Jong W., Sjamsuhidayat R. 2005. Infeksi Muskuloskeletal. In Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi
kedua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 903 910.

King R., Johnson D. Osteomyelitis. www.emedicine.com. Last updated: Nov 4, 2008

Khoshhal K., Letts R. M. Subacute Osteomyelitis (Brodie Abscess). www.emedicine.com.


Last updated: Jul 18, 2008.

Rasad S., Kartoleksono S, Ekayuda I. Infeksi Tulang dan Sendi. Radiologi Diagnostik. Bagian
Radilogi FKUI. Jakarta. 1995. Hal: 62-72
Rasjad C., Infeksi dan Inflamasi. Dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Penerbit
Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 132- 41.
Siregar P. Osteomielitis. Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staff Pengajar
FK UI. Binarupa Aksara. Jakarta. 1995. Hal 472 74