Anda di halaman 1dari 20

BAB III

STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Tanggal Lahir : 13 April 1977
Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : KHT Sengkawang CST PT. THGP
Tanggal masuk RS : 5 April 2011

B. Identitas Suami
Nama : Tn. K
Umur : 36 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam

1
II. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 14 Januari 2013

Keluhan Utama :
Ari-ari belum lahir sejak 3 jam SMRS.

Keluhan Tambahan & Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSUD Palembang BARI dengan keluhan ari-ari belum lahir
sejak 10 jam SMRS. Pasien telah melahirkan di klinik Bidan May pada jam 04. 15
pagi hari yang sama tetapi ari-ari belum lahir setelah melahirkan. Pasien mengatakan
banyak darah merah segar keluar setelah melahirkan. Di klinik Bidan tersebut, pasien
dicoba untuk dikeluarkan plasenta tetapi tidak bisa lalu dirujuk ke RSOB. Pasien
mengeluh nyeri perut bagian bawah, pusing, lemas tetapi tidak mual dan tidak
muntah.

Riwayat Haid / Keluarga Berencana


Haid pertama kali umur : 13 tahun
Siklus haid : teratur, 28 hari / bulan
Durasi & banyaknya haid : 5-7 hari, 2-3 kali ganti softex
Hari pertama haid terakhir : 5 April 2012, lamanya 5 hari,
banyaknya 2-3 kali ganti softex.
Taksiran persalinan : 12 April 2013
KB : Tidak ada riwayat menggunakan kontrasepsi

2
Riwayat Antenatal Care
Pemeriksaan kehamilan di praktek bidan oleh bidan, teratur setiap bulan. Selama
pemeriksaan pasien tidak ada keluhan dan kelainan. Pasien pernah USG, dan pada
pemeriksaan USG tersebut pasien dinyatakan kondisi janin baik dengan presentasi
kepala.

Riwayat Perkawinan & Kehamilan


Pasien kawin baru 1 kali ini. Lama menikah dengan suami sekarang 2 tahun.
Anak :
1. Perempuan, 10 tahun, lahir pervaginam di bidan di RSUD BARI, berat badan
lahir : 3000 gram dengan riwayat KPSW. Namun setelah 3 hari dirawat bayi
meninggal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat asma (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat diabetes mellitus (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat penyakit ginjal (-)
Riwayat menjalani operasi (-)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Riwayat hipertensi (-)
Riwayat Diabetes mellitus (-)
Riwayat asma (+) / ibu pasien

3
III. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pertama kali pada tanggal 15 Januari 2012

STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Tanda Vital
Tekanan Darah : 130/70 mmHg
Nadi : 100 x/menit, reguler, cukup, simetris kanan kiri
Suhu : 36,8 C
Pernapasan : 28 x/menit, teratur

Kulit : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor normal,


kelembaban normal, pucat

Kepala dan Leher


Kepala : Normosefali, ubun-ubun normal, rambut warna hitam,
distribusi merata, tidak mudah dicabut, pucat
Mata : Konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung -
/-, sekret -/-,
Mulut : Bibir merah muda, kering (-), sianosis (-), trismus (-),
halitosis (-)
Lidah : Tidak dinilai
Tonsil : Tidak dinilai
Tenggorokan : Tidak dinilai
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba
membesar, trakea letak normal

4
Thorax
Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, pulsasi abnormal (-), gerak
pernapasan simetris, irama cepat, tipe abdomino-thorakal,
retraksi (-)
Palpasi : Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-)
Perkusi : Redup
Auskultasi : SISII reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Teraba supel, nyeri tekan di seluruh kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral dingin, edema (-), sianosis (-), pucat, CRT lebih 2
detik

PEMERIKSAAN OBSTETRIK
Status Lokalis Abdomen
1. Inspeksi : tampak datar, striae gravidarum (+), linea
nigra (+), terlihat tali pusat berukuran 5 cm di depan
vagina diklem dengan forcep.
2. Palpasi : Kontraksi (-), TFU teraba 2 jari di bawah pusar, nyeri
tekan seluruh abdomen

5
3. Auskultasi : tidak dilakukan

Pemeriksaan Dalam (Vaginal Toucher)


Teraba tali pusat keluar dari ostium uteri externa, stolcel +, portio terbuka sedikit

Pemeriksaan Pelvimetri
Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hemoglobin : 7,0 g/dl


Leukosit : 240, 000 ribu
Hematokrit : 17%
Trombosit : 180, 000 ribu
Golongan darah :O

IV. DAFTAR MASALAH


Anamnesis

Pasien datang ke IGD RSUD Palembang BARI dengan keluhan ari-ari belum lahir
sejak 10 jam SMRS. Pasien telah melahirkan di klinik Bidan May pada jam 04. 15
pagi hari yang sama tetapi ari-ari belum lahir setelah melahirkan. Pasien mengatakan
banyak darah merah segar keluar setelah melahirkan. Di klinik Bidan tersebut, pasien
dicoba untuk dikeluarkan plasenta tetapi tidak bisa lalu dirujuk ke RSOB. Pasien
mengeluh nyeri perut bagian bawah, pusing, lemas tetapi tidak mual dan tidak
muntah. Hari pertama haid terakhir adalah 5 April 2012, taksiran persalinan 12
Januari 2012, riwayat antenatal rutin di bidan dan sudah menikah 2 tahun menikah.
Riwayat kehamilan: P2A0.

6
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah pasien normal, nadi 100 x/menit,
pernapasan 28 x/ menit, akral dingin, pucat dan konjungtiva anemis. Pada
pemeriksaan obstetrik, abdomen tampak datar, linea nigra (+), striae gravidarum (+)
dan keluar tali pusat kira-kira sepanjang 5 cm dari vagina yang telah diklem dengan
forcep. Pada palpasi, teraba tinggi fundus uteri adalah 2 jari di bawah pusar dan nyeri
tekan di seluruh kuadran abdomen. Pada pemeriksaan vagina toucher, didapatkan tali
pusat yang keluar dari ostium uteri externa, stolcel dan portio serviks yang terbuka
sedikit.

Pemeriksaan Laboratorium
Ditemukan anemia.

V. DIAGNOSIS KERJA
P2 A0 H post partum dengan retensio plasenta 10 jam SMRS
Anemia ec perdarahan post partum ec retensio plasenta.

VI. PENATALAKSANAAN
Rencana Diagnostik:
Observasi tanda vital, keadaan umum, perdarahan pervaginam dan jumlah urin.

Rencana Terapi:
Oksigen 5 liter/menit dengan kanul oksigen
IVFD 2 line: 20 i.u Oxytocin drip 12 tetes/ menit dalam cairan RL 500 cc
: NaCl 0,9% 20 tetes/ menit + Rencana transfusi 2 kolf Whole Blood
(cc)
Memasang kateter urin
Pro manual plasenta dan kuretase

7
Manual Plasenta
- Melakukan tindakan plasenta saat dilakukan transfusi kolf WB yang kedua.
Diharapkan dengan tranfusi 700 cc whole blood, anemia pasien dapat teratasi
hingga tahap optimal Hb lebih dari 8.0 g/dL. Ini adalah untuk memperbaiki
kontraksi uterus dan mempersiapkan pasien untuk kehilangan lebih banyak
darah saat dan pasca tindakan melahirkan plasenta. Dilanjutkan dengan
tranfusi kolf yang ketiga.
- Melahirkan plasenta dengan teknik perengangan tali pusat. Apabila plasenta
telah lahir, diperiksa apakah plasenta lengkap. ( kotiledon dan selaput ketuban
lengkap). Dieksplorasi untuk memastikan tiada sisa plasenta atau selaput
ketuban.
- Jika plasenta tidak berjaya lahir dengan teknik ini, dilakukan manual plasenta.
Sebelumnya dipastikan dahulu apakah portio serviks terbuka. Jika masih
tertutup, teknik manual plasenta tidak dapat dilakukan. Pasien diberikan
nitrogliserin dosis rendah untuk relaksasi serviks supaya portio terbuka dan
tangan bisa dimasukkan ke dalam uterus.
- Sebelum dikerjakan penderita disiapkan pada posisi litotomi. Operator berdiri
atau duduk dihadapan vulva, lakukan desinfeksi pada genitalia eksterna begitu
pula tangan dan lengan bawah si penolong (setelah menggunakan sarung
tangan). Kemudian labia dibeberkan dan tangan kanan masuk secara obstetris
ke dalam vagina. Tangan luar menahan fundus uteri. Tangan dalam sekarang
menyusun tali pusat yang sedapat-dapatnya diregangkan oleh asisten. Setelah
tangan dalam sampai ke plasenta, maka tangan pergi ke pinggir plasenta dan
sedapat-dapatnya mencari pinggir yang sudah terlepas. Kemudian dengan sisi
tangan sebelah kelingking, plasenta dilepaskan ialah antara bagian plasenta
yang sudah terlepas dengan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar
dengan dinding rahim. Setelah plasenta terlepas seluruhnya, plasenta dipegang
dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar. Diperiksa apakah plasenta
dilahirkan lengkap. Lalu plasenta lahir lengkap, berat kurang lebih 450 cc,
ukuran 14 x 20 cm.

8
- Jika Perdarahan masih aktif, dilakukan massase uterus. Jika tidak berhasil,
palpasi bimanual untuk kompresi uterus sehingga perdarahan berhenti. Atau
bisa juga dilakukan tampon kondom kateter untuk kompresi. Dimasukkan
200-300 cc aqua steril ke dalam tampon kateter untuk kompresi pembuluh
darah uterus.
- Diperiksa lagi apakah terdapat penyebab lain perdarahan masih tidak berhenti.
Contohnya terdapat trauma pada serviks atau vagina atau kontraksi yang
masih belum baik. Jika terdapat laserasi, luka dijahit dan jika kontraksi masih
belum baik, dicoba dulu dengan massase uterus, pemberian oksitosin,
methylergometrin dan misoprostol.
Pada pasien didapatkan sisa plasenta, lalu direncanakan kuretasae
- Kosongkan kandung kemih
- Pasien tidur telentang dengan posisi litotomi dan pasien dalam keadaan narkose
umum
- Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah vulva, vagina dan
sekitarnya
- Pasang sims bawah lalu sims atas, tampak portio, jepit portio dengan
tenakulum di jam 11, sims atas dilepas dan sims bawah dipegang oleh asisten.
- Lakukan sondase uterus dengan alat sonde panjang kavum uteri 10 cm,
dengan arah anteflexi.
- Keluarkan jaringan dengan sendok kuret paling besar yang mungkin masuk
lubang portio
- Lakukan kuret secara tajam dan sistematis, mulai dari jam 12 searah jarum jam,
dari angka genap lalu ganjil,
- Keluar jaringan sebanyak 30 g, darah 50 cc
- Setelah kesan : bersih (tampak gelembung-gelembung dan suara kerokan),
kuret selesai dilakukan
- Tenakulum dilepas, spekulum bawah dilepas.
- Dilakukan kembali tindakan aseptik dan antiseptik pada vagina pasien
- Observasi keadaan umum dan tanda tanda vital : TD, nadi dan frekuensi nafas

9
Rencana Terapi Medikamentosa
Cefotaxime injeksi 2x1 gr IV
Metronidazole 3x500 mg IV
Asam Mefenamat 3x 500 mg tab
B. Comp 3 x 1 tab

Rencana Edukasi:
Informasikan kepada keluarga dan pasien tentang kemungkinan terjadi perdarahan
hebat setelah melahirkan plasenta
Intervensi informed consent untuk tindakan melahirkan plasenta

VII. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

10
FOLLOW UP

6 April 2011

S: nyeri perut berkurang, lemas -. pusing -, perdarahan -, belum BAB, BAK +,


O: TD: 120/80 mmHg N: 72 x/menit S: 36,5 oC P: 18 x/ menit

Status generalis
Kepala: CA +/+, tidak pucat
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan -, BU + normal
Ekstremitas: akral hangat, pucat

Status obstetrik
Payudara: bengkak -, nyeri tekan -, ASI +
Abdomen: datar, strias gravidarum +, line grissea +, supel, nyeri tekan -, TFU
teraba 1 jari bawah pusar
Genitalia: edema -, luka -, terpasang tampon kateter, tertampung 50 cc darah
merah segar di urine bag, terpasang kateter dengan 1600 cc urine warna kuning
jernih dalam urine bag.
A: P3A0H3 nifas hari ke 1 post kuretase ec retensio plasenta hari ke 1

P: Cefotaxime injeksi 3 x 1 gr IV
Amoxicillin tab 3 x 500 mg p.o
Methylergometrin tab 3x1 tab p.o
Misoprostol tab 2 x 1 tab p.o
Asam mefenamat tab 3 x 500 mg p.o
Edukasi pompa ASI untuk bayi di rumah

11
7 April 2011
S: nyeri perut -, lemas -. pusing -, perdarahan -, BAB +, BAK +,
O: TD: 130/90 mmHg N: 90 x/menit S: 37,0 oC P: 20 x/ menit
Status generalis
Kepala: CA -/-, tidak pucat
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan -, BU + normal
Ekstremitas: akral hangat, pucat

Status obstetrik
Payudara: bengkak -, nyeri tekan -, ASI +
Abdomen: datar, strias gravidarum +, line grissea +, supel, nyeri tekan -, TFU
teraba 1 jari bawah pusar
Genitalia: edema -, luka -, tampon kateter dan kateter sudah dilepas, lochia + di
pembalut.

Laboratorium 7/4/2011
Hb: 8,6 g/dl
Ht: 24,7%
Leukosit: 229,000 ribu
Trombosit: 171,000 ribu

A: P3A0H3 nifas hari ke 2 dengan post kuretase ec retensio plasenta hari ke 2


P: Amoxicillin tab 3 x 500 mg p.o
Methylergometrin tab 3x1 tab p.o
Misoprostol tab 2 x 1 tab p.o
Asam mefenamat tab 3 x 500 mg p.o
Hemafort tab 1x1 tab p.o
Edukasi pompa ASI untuk bayi di rumah
Rencana pulang dan nasihat pulang : bedrest di rumah, tidak melakukan kerja
berat, menyusui bayi

12
BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien Ny. M, usia 38 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama ari-ari belum
lahir. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang ditegakkanlah
diagnosis pasien ini yaitu P1A0 + Retensio Plasenta + Anemia

Penegakkan Diagnosis
a. Anamnesis
Teori Kasus
Plasenta belum lahir setengah jam Anak lahir spontan dan setelah
setelah janin lahir setengah jam plasenta tidak
lahir
Plasenta belum lepas dari dinding
uterus dapat karena : Pasien merasa lemas
a.Kontraksi uterus kurang kuat
untuk melepaskan plasenta
(plasenta adhesive)
b.Plasenta melekat erat pada
dinding uterus oleh sebab vili
korialis menembus desidua
sampai miometrium sampai
dibawah peritoneum (plasenta
akreta perkreta)

Penegakan diagnosis pada pasien dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan obstetrik dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis diperoleh adanya
amenorhea, perdarahan pervaginam, perut yang membesar seperti pada kehamilan Hal ini sesuai
dengan teori dimana dikatakan bahwa tanda dan gejala mola hidatidosa adalah amenorhea,
perdarahan pervaginam, adanya besarnya uterus tidak sesuai usia kehamilan, dan tidak
ditemukan tanda kehamilan pasti seperti ballottement dan detak jantung anak.

13
Perdarahan pervaginam sering terjadi sebagai komplikasi dari mola hidatidosa yang
terlambat didiagnosis, dimana telah terjadi ekspulsi jaringan menyerupai buah anggur secara
spontan. Keluarnya gelembung mola merupakan diagnosis yang paling tepat. Namun bila kita
menunggu sampai gelembung mola keluar biasanya sudah terlambat karena pengeluaran
gelembung umumnya disertai perdarahan yang banyak dan keadaan umum pasien menurun.
Prevalensi perdarahan sebelumnya dilaporkan muncul pada 97 % kasus, sekarang hanya
didapatkan pada 84% kasus dengan derajat bervariasi dari flek hingga perdarahan masif selama
trimester pertama. Perdarahan dapat terjadi selama beberapa minggu atau bulan secara
intermiten. Akibat perdarahan, maka anemia defisiensi besi dan anemia delusional akibat
hipervolemia seringkali terjadi pada beberapa kasus mola yang besar. Jaringan mola dapat
terpisah dari desidua dan mengganggu pembuluh darah maternal, yang akan mendistensi cavum
endometrium dikarenakan kumpulan darah. Anemia didapatkan pada setengah dari kasus, namun
sekarang hanya 8% kasus saja terdapat anemia.

b. Pemeriksaan Fisik
Teori Kasus
Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta Tinggi fundus uteri : 15 cm,
tidak ditemukan di dalam kanalis kontraksi: kurang baik
servikalis tetapi secara parsial atau Periksa Dalam: tampak
lengkap menempel di dalam uterus perdarahan tidak aktif dan tali
pusat dengan panjang 7 cm,
pembukaan 2 cm, porsio tebal
lunak.

Konjungtiva anemis (+/+)

Berdasarkan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, didapatkan beberapa tanda yang
mendukung diagnosis mola hidatidosa itu sendiri yaitu ukuran uterus yang membesar, dan pada
pemeriksaan tekanan darah tinggi adanya preeklamsia. Selain itu berdasarkan hasil pemeriksaan
darah diperoleh bahwa kadar hemoglobin pasien adalah 9,0 mg/dl yang didukung oleh
konjungtiva yang anemis akibat perdarahan pervaginam. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori.

14
Pemeriksaan Penunjang
Teori Kasus
- Darah Rutin
Hemoglobin : 8,0 gr %
Hematokrit : 23,4%
Trombosit : 260.000 / mm3
Bleeding Time : 3 menit
Clotting Time : 10 menit

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan sebelum evakuasi mola ialah pemeriksaan


laboratorium darah lengkap dan USG. Pada kasus ini pemeriksaan penunjang tersebut sudah
dilakukan dan sesuai dengan standar. Pada pemeriksaan USG menunjukkan adanya mola
hidatidosa.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan setelah dilakukan kuretase ialah pemeriksaan
histologi dari jaringan hasil kuret, pemeriksaan hCG secara kuantitatif dan pemeriksaan foto
thoraks. Pada pemeriksaan hCG secara kuantitatif dimana kadar yang lebih dari 100.000
mIU/ml biasanya diakibatkan oleh mola, sedangkan kehamilan normal kadarnya < 60.000
mIU/ml. Selain itu pemeriksaan hCG serum dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan
mengetahui apakah mola berisiko tinggi atau rendah, dimana ini sangat menentukan
penatalaksanaan maupun prognosis pasien. hasil histopatologi tampak di beberapa tempat, vili
yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan di tempat lain
masih tampak vili yang normal. Namun perlu diingat bahwa hasil pemeriksaan PA tidak mampu
memperkirakan terjadinya koriokarsinoma yang timbul setelah mola hidatidosa. Kemudian pada
literature lainnya dikatakan bahwa keganasan pada pemeriksaan specimen kuretase tidak
menyingkirkan adanya mola invasive karena diagnosis histologik mola invasive hanya bisa
didapat setelah pemeriksaan specimen histerektomi.

d. Komplikasi

15
Teori Kasus
- Perdarahan - Pada pasien ini terdapat adanya
- Preeklampsia perdarahan pervaginam
- Hipertiroidisme - Didapatkan tekanan darah
- Tirotoksikosis. Dapat diduga bila : pasien 150/90 mmHg sebelum
a. Nadi istirahat 100 umur kehamilan 20 minggu
kali/menit tanpa adanya - Pemeriksaan hormon tiroid :
sebab yang jelas seperti Hb tidak dilakukan
< 7 gr/dl atau demam - Pemeriksaan nadi istirahat : <
b. Besar uterus > 20 minggu 100 x/menit
- Komplikasi lanjut ialah terjadinya
tumor trofoblas gestasional
pascamola maupun perdarahan
yang mengancam

Pada pasien ini telah terjadi komplikasi berupa preeklamsia dimana tekanan darah pasien
150/90 mmHg sebelum usia kehamilan 20 mnggu. Preeklampsia pada mola hidatidosa berbeda
dengan kehamilan nonmola, preeklampsia pada mola hidatidosa sudah terjadi pada trimester
pertama kehamilan. Adapun pada pasien tidak di lakukan pemeriksaan hormon tyroid sehingga
adanya tirotoksikosis tidak diketahui. Pada pasien datang dengan keluhan adanya perdarahan
pervaginam, dimana perdarahan pervaginam merupakan salah satu komplikasi dari
molahidatidosa.

e. Penatalaksanaan
Teori Kasus
- Retensio plasenta tanpa perdarahan masih
dapat menunggu. Sementara itu kandung
kemih dikosongkan, masase uterus dan
suntikan oksitosin (i.v. atau i.m. atau
melalui infus).
- Perasat Crede
- Perasat Brandt

16
- Manual Plasenta

Penatalaksanaan pada kasus ini ialah dengan memperbaiki keadaan umum dan
melakukan evakuasi mola dengan kuretase yang sudah dilakukan sebanyak 1 kali. Perbaikan
keadaan umum yang dilakukan ialah dengan memberikan IVFD RL dan transfusi hingga Hb
mencapai 10 mg/dl. Kuretase yang telah dilakukan adalah untuk mengeluarkan jaringan mola.
Kerokan perlu dilakukan secara hati-hati karena adanya bahaya perforasi. Sebelum tindakan
kuret sebaiknya disediakan darah untuk menjaga apabila terjadi perdarahan yang banyak dan hal
ini telah dilakukan pada kasus dimana sebelum kuret telah disiapkan darah PRC sebanyak 2 kolf.
Tujuh sampai sepuluh hari sesudahnya dilakukan kerokan ulangan agar ada kepastian bahwa
uterus sudah benar-benar kosong dan untuk memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa trofoblas dan
mengetahui ada tidaknya infiltrasi jaringan mola ke miometrium. Pada pasien kuretase ke-2
direncanakan dilakukan seminggu setelah kuretase pertama. Selain itu penatalaksanaan terhadap
komplikasi berupa preeklamsia adalah nifedipe 2x 10 mg.
Setelah evakuasi mola maka tetap harus dilakukan pemeriksaan lanjutan dimana kadar
hCG pasien harus tetap dimonitor perminggu atau per 2 minggu sampai kadarnya normal 3
minggu berturut-turut, kemudian diikuti perbulan sampai kadarnya normal atau tak terdeteksi (<
5 mIU/ml) sampai 6 bulan berturut-turut.

f. Prognosis
Teori Fakta
- Sebagian besar dari pasien mola - Prognosis pada pasien ini masih
akan sehat kembali setelah bersifat dubia. Karena
jaringannya dikeluarkan, tetapi pemeriksaan hCG kualitatif
ada sekelompok wanita yang maupun kuantitatif setelah
kemudian menderita keganasan evakuasi mola hidatidosa belum
yakni koriokarsinoma diketahui hasilnya.
- Apabila dalam pemeriksaan
-
lanjutan diperoleh bahwa kadar
hCG preevakuasi < 100.000
mIU/ml, besar uterus < 20

17
minggu dan tidak ditemukan
kista teka lutein dengan
diameter > 6 cm maka
prognosis pasien baik.

Prognosis pada pasien ini adalah dubia karena hasil pemeriksaan hCG kualitatif
maupun kuantitatif setelah evakuasi mola hidatidosa belum diketahui.

18
BAB V
KESIMPULAN

1. Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir.
2.
Insiden perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16-17%.
3. Etiologi retensio plasenta, yaitu: 1). Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena
kontraksi uterus kurang kuat atau plasenta melekat erat erat pada dinding uterus, 2). Plasenta
sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan.
4. Diagnosis retensio plasenta apabila plasenta tidak lepas secara spontan setelah setengah jam
setelah bayi lahir dan pada pemeriksaan pervaginam plasenta menempel di dalam uterus.
5. Diagnosis banding retensio plasenta adalah plasenta akreta.
6. Penanganan retensio plasenta yang terbaik adalah dengan manual plasenta.
7. Pencegahan dilakukan dengan manajemen aktif kala III.

DAFTAR PUSTAKA
19
1. Cunningham, F.Gary, Norman F. Gant, et all. Williams Obstetrics international edition. 21 st
edition. Page 619-663.
2. Wainscott, Michael P. Pregnancy, Postpartum Hemorrhage. http://www.eMedicine.com. May
30, 2006
3. Smith, John R , Barbara G. Brennan. Postpartum Hemorrhage. http://www.eMedicine.com.
June 13, 2006
4. ALARM International. Hemorrhage in Pregnancy. 2nd edition. Page 49-53.
5. Wiknjosastro, Hanifa, Abdul Bari Saifudin, Triatmojo Rachimhadhi. Ilmu Kebidanan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo.Jakarta. 2002
6. www. General Java Online. Maternal & Neonatal Health. OBSTETRIC & NEONATAL
EMERGENCY. 2003
7. http://www.pregnancyinfo.net. PostPartum Hemorrhage.
8. Arias, Fernando. Practical Guide to High Risk Pregnancy and Delivery. 2nd edition. Mosby
Year Book.1993
9. htpp://www.WHO.int. Managing Complication in Pregnancy and Childbirth.
10. Walling, D. Anne. American Academy Family of Physician. Risk of Hemorrhage and
scarring in placenta accreta. August 1999

20