Anda di halaman 1dari 7

PEMANFAATAN VARIASI SOMAKLONAL DAN

SELEKSI IN VITRO DALAM PERAKITAN


TANAMAN TOLERAN CEKAMAN ABIOTIK
Rossa Yunita

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian,
Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111
Telp. (0251) 8337975, Faks. (0251) 8338820, E-mail: barif@indo.net.id, rossa_yunita@yahoo.com

Diajukan: 11 Maret 2009; Diterima: 15 Oktober 2009

ABSTRAK
Permintaan akan produk pertanian terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya. Upaya untuk memenuhi
permintaan tersebut dapat dilakukan melalui perluasan areal. Namun, upaya tersebut menghadapi masalah cekaman
abiotik, seperti kekeringan, keracunan aluminium (Al) dan unsur mikro pada lahan masam, serta salinitas. Salah
satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan merakit varietas baru yang toleran terhadap
cekaman abiotik. Perakitan varietas memerlukan sumber genetik dengan keragaman yang luas. Peningkatan
keragaman genetik dapat dilakukan dengan teknik variasi somaklonal dan induksi mutasi. Perubahan genetik yang
ditimbulkan oleh variasi somaklonal dan induksi mutasi bersifat acak. Untuk mengarahkan keragaman somaklonal
maupun induksi mutasi ke perubahan yang diinginkan, dapat digunakan teknik seleksi in vitro. Teknik ini berhasil
diterapkan dalam perakitan varietas kedelai, padi, dan nilam yang toleran terhadap cekaman abiotik.
Kata kunci: Variasi somaklonal, induksi mutasi, seleksi in vitro, cekaman abiotik

ABSTRACT
Application of somaclonal variation and in vitro selection in improving plant tolerance to abiotic stresses

The needs for agricultural products are continuously increasing in quantity and quality. To meet the demand, crop
production may be conducted by area expansion. However, this effort faces some problems, especially abiotic
stresses, including drought, acid dry land, and tidal swampy area. One of the promising ways to solve the problems
is by improving plant tolerance to abiotic stresses. Improvements of plant tolerance to abiotic stresses need much
genetic variation sources. Somaclonal variation and mutation induction methods can be used to increase genetic
variation in plants. However, the genetic changes resulted would be random. In vitro selection can be used to obtain
genetic changes needed. The method was successfully applied to improve plant tolerance to abiotic stresses on
soybean, rice, and patchoully.
Keywords: Somaclonal variation, mutation induction, in vitro selection, abiotic stresses

K ebutuhan k o m o d i t a s p e r t a n i a n
t e r u s bertambah seiring dengan
meningkatnya permintaan pasar dan
pada semua jenis tanaman, terutama
tanaman yang membutuhkan air dalam
jumlah banyak seperti padi dan palawija.
tropis dan subtropis (Haug 1984; Moller
et al. 1984). Indonesia mempunyai sekitar
47,60 juta hektar lahan podzolik merah
konsumsi masyarakat. Upaya untuk Keracunan Al dan kahat hara meru- kuning yang bersifat masam (Syarifuddin
meningkatkan produksi komoditas per- pakan cekaman abiotik yang sering di- dan Abdurachman 1993).
tanian dapat ditempuh melalui perluasan jumpai pada lahan pertanian di Indonesia, Tanah masam dapat diperbaiki melalui
lahan dan peningkatan produktivitas. terutama pada tanah masam. Tanaman pengapuran sehingga sesuai untuk per-
Namun, upaya tersebut menghadapi yang keracunan Al akan terhambat per- tumbuhan tanaman. Namun, pengapuran
masalah cekaman abiotik seperti ke- kembangan akarnya sehingga menggang- membutuhkan biaya yang mahal dan ber-
keringan, keracunan aluminium (Al) dan gu pertumbuhan bagian atas tanaman. sifat tidak permanen. Penggunaan tanam-
unsur mikro pada lahan masam, dan Terganggunya pertumbuhan bagian atas an yang toleran tanah masam merupakan
salinitas. Kekurangan air akan terus tanaman disebabkan oleh kahat hara pilihan yang lebih baik sehingga tanaman
menjadi masalah dalam budi daya tanaman seperti Mg, Ca, dan P, dan tidak seimbang- mampu berproduksi di lahan masam.
seiring makin kuatnya persaingan dalam nya hormon. Cekaman abiotik seperti keracunan Fe
penggunaan air antara sektor pertanian Lahan masam di dunia meliputi areal dan Mn, salinitas maupun suhu rendah
dan nonpertanian. Kekurangan air terjadi satu miliar hektar, yang tersebar di daerah juga mempengaruhi produktivitas ta-

142 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009


naman. Masalah ini perlu diupayakan diwariskan, yakni yang dikendalikan tanaman induk. Mattjik (2005) menyata-
pemecahannya, antara lain dengan secara epigenetik. Keragaman somaklonal kan, dalam perbanyakan secara in vitro,
menanam varietas yang toleran. Teknik yang dikendalikan secara genetik biasa- yang terjadi adalah mutasi somatik. Sel
bioteknologi dapat dimanfaatkan dalam nya bersifat stabil dan dapat diturunkan yang bermutasi saat membelah akan
perakitan varietas toleran cekaman biotik, secara seksual ke generasi selanjutnya. membentuk sekumpulan sel yang berbeda
seperti kekeringan, keracunan Al, dan Keragaman epigenetik biasanya akan dengan sel asalnya. Tanaman yang berasal
cekaman abiotik lainnya. hilang bila diturunkan secara seksual dari sel-sel yang bermutasi akan mem-
Pada saat ini sangat sulit mencari (Skirvin et al. 1993). bentuk tanaman yang mungkin merupakan
sumber gen ketahanan terhadap cekaman Pemuliaan tanaman melalui kultur klon baru yang berbeda dengan induknya.
abiotik dari tanaman yang sejenis. Untuk jaringan bermanfaat dalam merangsang Beberapa hasil pemanfaatan variasi soma-
meningkatkan keragaman genetik pada keragaman genetik dan mempertahankan klonal untuk menghasilkan tanaman
tanaman yang bernilai ekonomis tinggi kestabilan genetik. Wattimena dan Mattjik unggul baru disajikan pada Tabel 1.
dapat memanfaatkan teknik variasi (1992) menyatakan, keragaman genetik Perbaikan tanaman melalui variasi
somaklonal dan induksi mutasi. Perubahan pada kultur jaringan dapat dicapai melalui somaklonal telah banyak dilakukan, antara
sifat genetik yang dihasilkan dengan fase tak berdiferensiasi (fase kalus dan sel lain untuk sifat ketahanan terhadap cekam-
metode ini sangat beragam. Untuk meng- bebas) yang relatif lebih panjang. Untuk an biotik dan abiotik. Cara tersebut ber-
arahkan perubahan sifat ke arah yang mendapatkan kestabilan genetik pada manfaat bila dapat menambah komponen
diinginkan dapat digunakan metode teknik kultur jaringan, dapat dilakukan keragaman genetik yang tidak ditemukan
seleksi in vitro. Dalam makalah ini akan dengan cara menginduksi sesingkat di alam serta mengubah sifat dari kultivar
dibahas perakitan varietas tanaman toleran mungkin fase pertumbuhan tak berdiferen- yang ada menjadi lebih baik, terutama
terhadap cekaman biotik dengan meman- siasi. untuk tanaman yang diperbanyak secara
faatkan teknik bioteknologi tersebut. Variasi somaklonal dalam kultur jaring- vegetatif atau menyerbuk sendiri (Ahloo-
an terjadi akibat penggunaan zat pengatur walia 1990).
tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama
VARIASI SOMAKLONAL fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang
digunakan (sel, protoplasma, kalus ja- INDUKSI MUTASI
Variasi somaklonal pertama kali dikemu- ringan), serta digunakan atau tidaknya
kakan oleh Larkin dan Scowcroft (1981) media seleksi dalam kultur in vitro (Skirvin Mutasi adalah perubahan genetik, baik
dalam Kadir (2007), yang didefinisikan et al. 1993; Jain 2001). Zat pengatur perubahan pada gen tunggal, sejumlah
sebagai keragaman genetik dari tanaman tumbuh kelompok auksin 2,4-D dan gen maupun susunan kromosom. Per-
yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel 2,4,5-T biasanya dapat menyebabkan ubahan dapat terjadi pada setiap bagian
somatik seperti sel daun, akar, dan batang, terjadinya variasi somaklonal. Pada tanaman, khususnya bagian yang selnya
maupun sel gamet. Skirvin et al. (1993) tanaman kelapa sawit, perlakuan 2,4-D aktif membelah (Micke dan Donini 1993).
mendefinisikan variasi somaklonal seba- pada kultur kalus yang mampu bere- Secara umum, mutasi dihasilkan oleh
gai keragaman genetik tanaman yang generasi membentuk tunas menyebabkan segala tipe perubahan genetik yang meng-
dihasilkan melalui kultur jaringan. Variasi variasi somaklonal saat aklimatisasi di akibatkan perubahan fenotipe yang
tersebut dapat berasal dari keragaman lapangan (Linacero dan Vazquez 1992; diturunkan, termasuk keragaman kromo-
genetik eksplan yang digunakan atau Jayasankar 2005). som, sehingga menyebabkan terjadinya
yang terjadi dalam kultur jaringan. Beberapa sifat tanaman dapat berubah keragaman genetik (Soeranto 2003).
Variasi somaklonal yang terjadi dalam akibat variasi somaklonal, namun sifat Mutasi dapat terjadi secara spontan atau
kultur jaringan merupakan hasil kumulatif lainnya tetap menyerupai induknya. acak, dan merupakan dasar sebagai sum-
dari mutasi genetik pada eksplan dan yang Dengan demikian, variasi somaklonal ber keragaman bagi tanaman dan sifat
diinduksi pada kondisi in vitro. Variasi sangat memungkinkan untuk mengubah yang diwariskan. Mutasi dapat terjadi
somaklonal merupakan perubahan genetik satu atau beberapa sifat yang diinginkan secara spontan di alam atau melalui induksi
yang bukan disebabkan oleh segregasi dengan tetap mempertahankan karakter (Koornneef 1991). Secara mendasar, tidak
atau rekombinasi gen, seperti yang biasa unggul lainnya yang sudah dimiliki oleh terdapat perbedaan antara mutasi yang
terjadi akibat proses persilangan. Thrope
(1990) menggunakan istilah pre-existing
cellular genetic, yaitu keragaman yang
diinduksi oleh kultur jaringan. Kera- Tabel 1. Beberapa perubahan sifat pada tanaman hasil variasi somaklonal.
gaman ini dapat muncul akibat penggan-
daan dalam kromosom (fusi, endomitosis), Tanaman Perubahan sifat Sumber
perubahan jumlah kromosom (tagging Anggur Menjadi tanaman tetraploid Kuskova et al. (1997)
dan nondisjunction), perubahan struktur Bawang Peningkatan ploidi Do et al. (1999)
kromosom, perubahan gen, dan perubah- Mawar Perubahan kelopak dan warna bunga Handayani et al. (2002)
an sitoplasma (Kumar dan Mathur 2004). Kedelai Toleran lahan masam Mariska et al. (2004)
Variasi somaklonal dapat dikelompok- Padi Toleran kekeringan Lestari et al. (2005)
Pisang Tahan penyakit fusarium Mariska et al. (2006)
kan menjadi keragaman yang diwariskan Nilam Toleran kekeringan Kadir (2007)
(heritable), yaitu yang dikendalikan
secara genetik, dan keragaman yang tidak

Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009 143


terjadi secara alami dan mutasi hasil sifat. Bahan kimia yang termasuk mutagen jaringan pada kultur in vitro kemungkinan
induksi. Keduanya dapat menimbulkan kimia dan berguna dalam pemuliaan akan mempunyai fenotipe yang toleran
variasi genetik sebagai dasar dalam tanaman adalah kelompok pengalkil terhadap kondisi seleksi.
seleksi tanaman (Soeranto 2003). seperti EMS, DES, etilin amina (EM), etil Seleksi in vitro lebih efisien karena
Mutasi gen terjadi karena adanya nitroso urea (ENH), dan metil nitroso urea kondisi seleksi dapat dibuat homogen,
perubahan pada struktur primer DNA. serta kelompok azida. Kelemahan kelom- tempat yang dibutuhkan relatif sedikit,
Mutasi juga dapat terjadi karena ber- pok pengalkil adalah mudah terhidrolisis dan efektivitas seleksi tinggi. Oleh karena
tambah atau hilangnya satu atau lebih sehingga menjadi tidak aktif lagi sebagai itu, kombinasi antara induksi variasi
basa yang terdapat dalam satu molekul mutagen, selain bersifat toksik. Keadaan somaklonal dan seleksi in vitro merupakan
DNA (Micke dan Donini 1993; Van Harten ini dapat digunakan untuk menentukan alternatif teknologi yang efektif dalam
1998). Smith dan Wood (1991) mende- waktu paruhnya. Selain itu, senyawa menghasilkan individu dengan karakter
finisikan perubahan sekuen nukleotida pengalkil sangat berbahaya bagi manusia yang spesifik (Kadir 2007). Penggunaan
pada gen yang menghasilkan mutasi gen, karena bersifat karsinogen, terutama etilin teknik in vitro akan menghasilkan popu-
perubahan sekuen nukleotida pada gen amina yang sangat mudah menguap lasi sel varian melalui seleksi pada media
yang menghasilkan perubahan asam amino dengan titik didih 56C/760 mm (Ismachin yang sesuai. Intensitas seleksi dapat
dapat menghasilkan protein mutan. 1988, tidak diterbitkan). diperkuat dan dibuat lebih homogen.
Mutasi gen juga dapat didefinisikan Secara umum, proses mutasi dapat Populasi jaringan atau sel tanaman dapat
sebagai perubahan suatu bentuk alel menimbulkan perubahan pada sifat ge- diseleksi dalam media seleksi sehingga
menjadi bentuk alel lainnya. Perubahan netik tanaman, baik ke arah positif maupun akan meningkatkan frekuensi varian
tersebut terjadi dalam satu gen pada satu negatif, dan kemungkinan mutasi yang dengan sifat yang diinginkan (Specht dan
lokus kromosom atau disebut mutasi titik terjadi dapat kembali normal (recovery). Greaf 1996; Biswas et al. 2002).
(Suzuki et al. 1993). Mutasi yang mengarah ke sifat positif dan Di Cina dan Korea, kombinasi kultur
Induksi mutasi dapat dilakukan pada diwariskan ke generasi berikutnya adalah in vitro dan mutagen fisik merupakan
tanaman dengan perlakuan bahan mutagen yang dihendaki oleh pemulia tanaman teknik perbaikan varietas yang diprio-
tertentu terhadap organ reproduksi tanam- pada umumnya (Soeranto 2003). ritaskan untuk dikembangkan (Yi dan Le
an seperti biji, setek batang, serbuk sari, Mutasi gen digolongkan ke dalam dua 1997; Yunchang dan Liang 1997). Dilapor-
akar rizoma, dan kalus (Soeranto 2003). kategori, yaitu microlesions dan macro- kan bahwa kombinasi kedua perlakuan
Mutagen yang sering digunakan dalam lesions, yang dicirikan oleh adanya tersebut lebih efektif dan lebih efisien
pemuliaan tanaman yaitu mutagen kimia perubahan basa pada DNA (Van Harten dibandingkan perlakuan tunggal. Melalui
dan mutagen fisik (Koornneef 1991; Micke 1998). Menurut Suzuki et al. (1993), ada seleksi in vitro telah dihasilkan varietas
dan Donini 1993). Frekuensi dan spektrum tiga tipe perubahan basa, yaitu: 1) transisi, baru tanaman yang tahan terhadap
mutasi bergantung pada jenis mutagen penggantian satu basa purin dengan satu cekaman biotik dan abiotik dengan sifat
dan dosis yang digunakan. Mutagen fisik purin atau penggantian satu basa pirimidin yang diwariskan (Van den Bulk 1991;
yang telah digunakan secara luas adalah dengan pirimidin lain, 2) transfers, yaitu Remotti et al. 1995). Beberapa gen seleksi
sinar X dan sinar gama. Kedua mutagen penggantian satu basa pirimidin dengan dapat digunakan pada teknik in vitro
fisik tersebut memiliki kemampuan pe- satu basa purin dan sebaliknya, dan 3) untuk menghasilkan tanaman yang toleran
netrasi yang baik dan bersifat sebagai delesi, yaitu pasangan basa tertentu cekaman abiotik seperti kekeringan,
radiasi ion (Micke dan Donini 1993). menghilang sehingga terjadi perubahan keracunan Al, pH tanah rendah, dan
Mutagen kimia umumnya berasal dari orientasi susunan pasangan basa. DNA salinitas.
senyawa alkil, seperti etil metan sulfonat sangat sensitif terhadap radiasi, sehingga
(EMS), dietil sulfat (DES), metil metan radiasi sinar gama dapat menyebabkan
sulfonat (MMS), hidroksil-amina, dan perubahan DNA pada makhluk hidup (Van Seleksi In Vitro untuk Toleransi
nitrous acids (Soeranto 2003). Harten 1998). terhadap Kekeringan
Induksi mutasi menggunakan radiasi
sinar X dan sinar gama paling banyak Seleksi in vitro untuk mendapatkan varian
digunakan untuk mengembangkan vari- SELEKSI IN VITRO yang toleran terhadap kekeringan dapat
etas mutan. Hal ini terbukti dalam kurun menggunakan agens seleksi berupa se-
waktu 70 tahun terakhir, telah dihasilkan Keragaman genetik yang ditimbulkan oleh nyawa osmotik. Senyawa ini dapat me-
2.250 varietas mutan di seluruh dunia variasi somaklonal dan induksi mutasi nyimulasi kondisi kekeringan di lapangan.
(Maluszynki et al. 2000). Sekitar 89% dari bersifat acak. Untuk mengidentifikasi Senyawa osmotik yang paling banyak
1.585 varietas yang dilepas sejak tahun keragaman somaklonal maupun induksi digunakan dalam simulasi cekaman
1985 merupakan hasil induksi mutasi mutasi ke arah perubahan yang diingin- kekeringan adalah polyethylene glycol
secara langsung, 64% di antaranya dikem- kan, dapat digunakan teknik seleksi in (PEG) (Santos dan Ochoa 1994; Dami dan
bangkan dengan menggunakan sinar vitro. Pada teknik in vitro, seleksi ke- Hughes 1997). Senyawa PEG bersifat larut
gama dan hanya 22% dengan sinar X tahanan terhadap cekaman abiotik seperti dalam air dan dapat menyebabkan pe-
(Ahloowalia et al. 1990). kekeringan, keracunan Al, pH tanah nurunan potensi air secara homogen.
Mutagen kimia merupakan senyawa rendah, dan salinitas dapat digabungkan Besarnya penurunan air sangat ber-
kimia yang mudah terurai membentuk dalam media kultur in vitro dan digunakan gantung pada konsentrasi dan berat
radikal yang aktif, dapat bereaksi dengan untuk menumbuhkan varian somaklon molekul PEG. Keadaan seperti ini dapat
asam amino sehingga terjadi perubahan yang diperoleh. Tanaman hasil regenerasi dimanfaatkan untuk melakukan simulasi

144 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009


penurunan potensial air yang mencermin- dapat diberikan dalam bentuk AlCl3.6H2O Mekanisme internal dilakukan dengan
kan cekaman kekeringan bagi tanaman atau garam mineral lainnya. Seleksi in pengkelatan Al pada sitosol oleh asam
(Michel dan Kaufmann 1973). Penggunaan vitro untuk meningkatkan ketahanan sel organik, protein atau ligan organik lainnya,
PEG sebagai media seleksi tidak mem- terhadap Al telah dilakukan pada tomat melakukan kompartementasi Al pada
bahayakan tanaman karena mempunyai dan kentang (Stavarek dan Rains 1984), vakuola, dan menginduksi sintesis protein
berat molekul lebih besar dari 4.000. tembakau (Yamamoto 1994), dan sorgum tertentu, terutama protein pengkelat Al.
Dengan demikian, kerusakan atau kemati- (Smith et al. 1983; Ducan et al. 1995). Sekresi asam organik seperti asam
an tanaman pada simulasi menggunakan Mariska et al. (2002) menggunakan malat, asam sitrat, asam oksalat, dan asam
senyawa PEG diyakini sebagai efek metode seleksi in vitro dan radiasi sinar suksinat juga merupakan salah satu cara
kekeringan, bukan efek langsung dari gama untuk meningkatkan ketahanan tanaman untuk menanggulangi pengaruh
senyawa PEG karena senyawa tersebut tanaman kedelai terhadap cekaman Al dan buruk Al. Perbedaan asam organik yang
tidak diserap oleh tanaman (Dami dan pH rendah. Pengujian di lapangan meng- diekstrak dari akar mempengaruhi ke-
Hughes 1997; Verlues et al. 1998). hasilkan beberapa nomor kedelai yang mampuan pengendapan Al. Asam oksalat
Penggunaan PEG dalam induksi stres memiliki ketahanan yang lebih baik mempunyai kemampuan mengendapkan
air pada tanaman sudah diterapkan cukup terhadap Al dan pH rendah dibandingkan Al paling kuat, diikuti asam sitrat, asam
lama (Krizek 1985). Menurut Adkins et al. varietas yang toleran. Diharapkan nomor- malat, dan asam suksinat (Hue et al. 1986).
(1995), PEG mampu mendeteksi sel/kalus nomor harapan kedelai toleran Al dapat Pada tanaman jagung, sel mampu menge-
sebagai penapis in vitro sehingga dapat diperoleh untuk mendukung peningkatan luarkan asam malat dan melepaskan fosfat
menyeleksi sel/kalus dan beregenerasi produksi kedelai nasional. Purnama- untuk membentuk kompleks Al-fosfat
membentuk tanaman lengkap dengan ningsih dan Mariska (2008) melakukan sehingga mengurangi toksisitas Al
tingkat toleransi yang lebih baik. Seleksi mutasi induksi dan seleksi in vitro pada (Pellet et al. 1995). Bukti yang mendukung
in vitro untuk mendapatkan sifat toleransi tanaman padi dan memperoleh soma- bahwa asam malat berperan dalam me-
terhadap cekaman kekeringan telah di- klon padi yang toleran terhadap Al kanisme toleransi Al adalah: 1) pelepasan
lakukan antara lain pada tanaman seledri setelah diseleksi menggunakan AlCl36H2O asam malat distimulasi secara spesifik
(Cho dan Yong 1991), kacang tanah (Savin pada konsentrasi 100 dan 500 ppm dan oleh Al, 2) asam malat melindungi bagian
et al. 1991), kacang hijau (Gulati dan Jaiwal pH rendah (Tabel 2). Sementara itu, tanaman gandum yang peka Al pada ujung
1993), kentang, padi, dan sorgum (Banzai Sutjahjo (2006) menggunakan seleksi in akar ketika larutan hara ditambahkan Al,
et al. 1991; Adkins et al. 1995; Duncan et vitro untuk menghasilkan varietas jagung dan 3) banyak asam malat yang disekresi
al. 1995). toleran Al. oleh akar.
Salah satu faktor yang berkaitan de- Beberapa peneliti telah melakukan
ngan sifat fisik fisiologi tanaman untuk penelitian untuk mengetahui sistem tole-
bertahan dalam kondisi tercekam keke- ransi tanaman terhadap cekaman Al. Seleksi In Vitro untuk Toleransi
ringan adalah perubahan akumulasi prolin Menurut Taylor (1991), mekanisme tole- terhadap Salinitas
dalam jaringan. Prolin berperan sebagai ransi tanaman terhadap cekaman Al ber-
osmoregulator (Hever 1999). Namun, tidak langsung secara eksternal dan internal. Pengaruh merusak dari garam pada tanam-
semua tanaman memiliki kandungan prolin Mekanisme eksternal dilakukan dengan an merupakan akibat dari kekurangan air,
yang tinggi dalam kondisi tercekam (Deb cara mencegah Al masuk ke dalam sistem karena konsentrasi garam yang terlarut
et al. 1996). Tanaman serealia menunjuk- simplas dengan melakukan imobilisasi dalam tanah. Kondisi ini mempengaruhi
kan variasi kuantitatif akumulasi prolin pada dinding sel, menciptakan sistem rasio K+/ Na+ karena pemasukan Na+ dan
untuk karakter fisiologi sebagai respons permeabilitas seleksi pada membran konsentrasi ion Na yang merugikan
terhadap cekaman kekeringan (Richard et plasma, menginduksi kenaikan pH pada tanaman. Respons umum tanaman ter-
al. 1987). rizosfer dan apoplas akar, mengeluarkan hadap cekaman garam, kekeringan, dan
Al dari dalam sel, dan mengeluarkan (eksu- suhu rendah berupa akumulasi gula dan
dasi) fosfat dan ligan pengkelat Al. senyawa kompatibel lainnya. Senyawa ini
Seleksi In Vitro untuk Toleransi
terhadap Al dan pH Tanah
Rendah
Tabel 2. Persentase rata-rata tanaman yang beregenerasi pada tiga metode
Tanaman akan keracunan Al bila kon- seleksi in vitro.
sentrasi Al dalam tanaman pada fase
vegetatif melebihi 100 ppm, sedangkan Konsentrasi Al Metode seleksi in vitro
normalnya berkisar antara 1518 ppm. Al (ppm) Tahapan kalus Tahapan regenerasi Tahapan embrio
umumnya terakumulasi pada ujung akar, 100 50 44,40 40
tempat terjadinya pembelahan dan pe- 200 28,60 32,40 24
manjangan sel. Pada tanaman padi, jumlah 300 31,60 19,60 25
anakan per rumpun dapat dijadikan indi- 400 13,30 18,80 11
500 0 0 0
kator awal keracunan Al (Makarim 2005).
Rata-rata 22,70 23,76 24,10
Komponen seleksi yang digunakan
yaitu Al dengan kondisi media yang Sumber: Purnamaningsih dan Mariska (2008).
memiliki kemasaman rendah. Unsur Al

Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009 145


berfungsi sebagai osmoprotektan (pen-
jaga osmolaritas). Pada beberapa kasus, Tabel 3. Persentase rata-rata kalus yang beregenerasi pada beberapa
senyawa osmoprotektan berfungsi men- varietas tebu dengan konsentrasi NaCl yang berbeda.
jaga stabilitas biomolekul pada kondisi
tercekam. Konsentrasi NaCl (g/l)
Varietas
Tanaman yang toleran dan tumbuh 0 4 8 12 16 NP JBD 0,05

pada tanah bergaram mempunyai kan- TK 26 100 93,33 73,33 0 0 11,590


dungan garam yang tinggi pada selnya. R 579 100 100 80 53,33 13,33 11,992
Penggunaan ion anorganik untuk meng- SM 86 100 100 80 53,33 6,67 12,395
atur tekanan osmosis menunjukkan bahwa PS 81362 100 100 93,33 60 6,67 12,636
Bukit Loe 100 93,33 60 20 0 12,877
tanaman harus mampu menoleransi
Q 81 100 100 80 73,33 33,33
kandungan garam yang tinggi dalam sel.
Na+ bersifat toksik bagi tanaman karena Sumber: Farid et al. (2006).
berpengaruh negatif terhadap nutrisi K+,
aktivitas enzim sitosol, fotosintesis, dan
metabolisme. Berdasarkan analisis ak-
tivitas enzim terhadap garam dapat di-
simpulkan bahwa tanaman yang toleran pada media seleksi yang mengandung perlu ditangani secara arif. Salah satu
garam dapat menjauhkan Na+ dari sitosol. NaCl tinggi. Metode ini juga telah dicoba upaya untuk mengatasinya adalah dengan
Tanaman melakukan beberapa cara untuk oleh Pesqueira et al. (2006) pada tanaman merakit varietas tanaman yang toleran
mempertahankan konsentrasi Na yang jagung. Kalus embriogenik jagung yang pada kondisi tersebut.
rendah dalam sel, yaitu dengan meng- telah dimutasi dengan sinar gama mampu Seleksi in vitro yang dikombinasikan
hambat pemasukan garam, kompartemen- beregenerasi membentuk tunas pada dengan variasi somaklonal atau mutasi
tasi Na+ pada vakuola, dan mengaktifkan media yang mengandung NaCl tinggi. genetik merupakan alternatif teknologi
efluks Na+. Selain pada tanaman padi dan jagung, yang banyak digunakan untuk menghasil-
Uraian di atas menunjukkan bahwa seleksi in vitro telah digunakan untuk kan varietas tanaman yang toleran ter-
keragaman genetik tanaman dapat diting- meningkatkan ketahanan sel terhadap hadap cekaman abiotik seperti pada
katkan melalui variasi somaklonal dan salinitas pada beberapa tanaman yang kedelai, padi, dan nilam. Agens seleksi
induksi mutasi, dan perubahannya diarah- bernilai ekonomis seperti alpokat (Rosas yang digunakan pada tiap cekaman abiotik
kan melalui seleksi in vitro. Komponen et al. 2003). berbeda, bergantung pada kondisi cekam-
seleksi yang digunakan adalah NaCl. an. Seleksi toleransi terhadap kekeringan
Metode ini telah dicoba pada tanaman dapat menggunakan PEG, dan untuk
tebu (Farid et al. 2006). Seleksi dimulai keracunan Al dengan meningkatkan
pada tahap kalus yang diregenerasi KESIMPULAN kandungan Al pada media seleksi hingga
menjadi tunas (Tabel 3). Metode tersebut ambang batas. Seleksi tanaman yang
juga telah diterapkan oleh Salaem et al. Cekaman abiotik pada lahan pertanian toleran pada kondisi salinitas dapat
(2005) pada tanaman padi. Kalus embrio- seperti kekeringan, keracunan Al, kahat menggunakan media seleksi Na tinggi dan
genik padi yang telah diradiasi sinar gama hara, dan salinitas merupakan kondisi alam agens seleksi lainnya dengan disesuaikan
mampu beregenerasi membentuk tunas dengan segala keseimbangannya yang kondisi di alam.

DAFTAR PUSTAKA
Adkins, S.W., R. Kunamuvatchaidach, and I.D. increasing drought tolerance in rice. In vitro Do, G., B.B. Seo, J.M. Ko, S.H. Lee, J.H. Pak,
Godiwin. 1995. Somaclonal variation in rice- Cell. Dev. Biol-Plant 38: 525530. I.S. Kim, and S.D. Song. 1999. Analysis of
drought tolerance and other agronomic cha- somaclonal variation through tissue culture
Cho, H.J. and W.J. Yong. 1991. Effect of PEG
racters. Aust. J. Bot. 43: 201109. and chromosomal localization of rDNA sites
and ABA on storage starch accumulation and
by fluorescent in situ hybridization in wild
Ahloowalia, B.S. 1990. In vitro radiation induced the survival dessicated somatic embryos of
Allium tuberosum and regeneration of
mutagenesis in potato. p. 3946. In R.S. Rural Dev. Admin-Biotechnology. Ros. Rep.
variant. Plant Cell Tiss. Org Cult. 57: 113
Sangan and B. Sangan-Norreel (Eds.). The 33(3): 1320.
119.
Impact of Biotechnology in Agriculture.
Dami, I. and H. Hughes. 1997. Leaf anatomy
Kluwer Acad. Pub., The Netherlands. Duncan, R.R., R.M. Waskom, and M.W. Nohars.
and water losses of in vitro PEG-treated
1995. In vitro screening and field evaluation
Banzai, K.C., Shantha-Nagorojan, N.P. Suka- valiant grape. Plant Cell Tiss. Org. Cult.
of tissue culture regenerated sorghum
moran, and S. Nagarojan. 1991. A rapid 57: 129132.
(Sorghum bicolor (L.) Moench) for soil
screening technique for drought resistance stress tolerance. Euphytica 85: 371380.
Deb, N., B. Alam, S.D. Gupta, and B.C. Ghosh.
in potato (Solanum tuberosum L.). Potato
1996. Cell membrane stability of leaf tissue
Res. 34: 241248. Farid, M.B., Y. Musa, Nassaruddin, dan Darmawan.
and its relationship with drought tolerance
2006. Variasi somaklonal tebu tahan salinitas
Biswan, B., Chowdhurry, A. Bhattacharya, and in arachis. Indian J. Exp. Biol. 34: 1.044.
melalui mutagenesis in vitro. J. Agrivigor
B. Mandal. 2002. In vitro screening for 5(3): 247258.

146 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009


Gulati, A. and P.K. Jaiwal. 1993. Selection and Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Per- Richard, R.A., C.W. Denett, C.O. Qualset, E.
characterization of mannitol-tolerant callus tanian, Bogor. 15 hlm. Edstein, J.D. Norlyn, and M.D. Winslow.
lines of Vigna radiata (L.) Wilczek. Plant 1987. Variation in yield of grain and biomass
Maluszynki, M.K., L. Nichterlein, Van Zanten,
Cell Tiss. Org. Cult. 34: 3541. in wheat, barley and tricale in a salt-affected
and B.S. Ahloowalia. 2000. Officially re-
fuclid. Field Crops Res. 15: 227.
Handayani, W. Darliah, I. Mariska, dan R. Pur- leased mutant varietiesThe FAO/IAEA
namaningsih. 2002. Peningkatan keragaman Database. Mutant Breed Rev. 12: 184. Rosas, H.G., S.S. Garcia, G.R. Reyes, J.L.R. Onti-
genetik mawar mini melalui kultur in vitro veros, and A.C.R. Villaseor. 2003. Prelimi-
Mariska, I., S. Hutami, dan M. Kosmiatin. 2002.
dan iradiasi sinar gama. Berita Biologi 5(4): nary results on in vitro selection for tolerance
Peningkatan toleransi terhadap aluminium
365371. to chloride excess in avocado. Revista Cha-
dan pH rendah pada tanaman kedelai melalui
pingo Serie Horticultura 9(1): 3943.
Haug, A. 1984. Molecular aspects of alumunium kultur in vitro. Dalam N. Hilmy, M.
toxicity. CRC Crit. Rev. Plant Sci.: 345373. Ismachin, F. Suhadi, E.L. Pattiradjawane, S. Salaem, M.Y., Z. Mukhtar, A.A. Cheema, and B.
Sutrisno, M. Utama, Wandono, M. Sumatra, M. Atta. 2005. Induced mutation and in vitro
Hever. 1999. Osmoregulatory role of proline in
Mugiono, E. Suwadji, S. Yatim, Ishak, N.D. techniques as a method to induce salt tole-
plant exposed to environmental stress. p.
Leswara, dan K. Idris (Ed). Risalah Pertemuan rance in Basmati rice (Oryza sativa L.). Intl.
675695. In M. Perssarakli (Ed.). Handbook
Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Apli- J. Environ. Sci. 2(2): 141145.
of Plant and Crop Stress. Second Edition,
kasi Isotop dan Radiasi. Badan Tenaga Atom
Revised and Expanded. C.H.IP.S. Santos, D.M.S and A.N. Ochoa. 1994. PEG-toler-
Nasional, Jakarta.
ant cell clones of chili pepper growth,
Hue, N.V., G.R. Croddock, and F. Adam. 1986.
Mariska, I., E. Syamsudin, D. Sopandie, S. osmotic potential and solute accumulation.
Effect of organic acids on Al toxicity in
Hutami, A. Husni, M. Kosmiatin, dan A.V. Plant Cell Tiss. Org. Cult. 37: 18.
subsoil. Soil Sci. Soc. Am. J. 50: 2834.
Novianti. 2004. Peningkatan ketahanan ta-
Savin, N.B., A. Gupta, S. Prakhas, and B. Biswas.
Jain, S.M. 2001. Tissue culture-derived variation naman kedelai terhadap aluminium melalui
1991. Isolation and characterization of a
in crop improvement. Euphytica 118: 153 kultur in vitro. Jurnal Penelitian dan Pengem-
salt tolerant line of Arachis hypogaea L.
156. bangan Pertanian 23(2): 4652.
using in vitro culture. Acta Hort. 289: 219
Jayasankar, S. 2005. Variation and tissue culture. Mariska, I., M. Kosmiatin, E.G. Lestari, dan I. 222.
In N.T. Robert and J.G. Dennis (Ed). Plant Rostika. 2006. Seleksi in vitro tanaman
Skirvin, R.M., M. Norton, and K.D. Mc Pheeter.
Development and Biotechnology. CRC pisang ambon kuning untuk ketahanan
1993. Somaclonal variation: Has it proved
Press, London. 358 pp. terhadap penyakit layu fusarium. Laporan
useful for plant improvement. Acta Hort.
Akhir Rusnas Buah Tropis. Balai Besar Pene-
Kadir, A. 2007. Induksi Variasi Somaklon melalui 336: 333340.
litian dan Pengembangan Bioteknologi dan
Iradiasi Sinar Gama dan Seleksi In Vitro Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. 20 Smith, C.A. and E.J. Wood. 1991. Molecular
untuk Mendapatkan Tanaman Nilam Toleran hlm. Biology and Biotechnology. Chapman &
terhadap Cekaman Kekeringan. Disertasi.
Hall, Tokyo.
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Mattjik, N.A. 2005. Peranan Kultur Jaringan
Bogor. 173 hlm. dalam Perbaikan Tanaman. Orasi Ilmiah Guru Smith, R.H., S. Bhaskaran, and K. Scherz. 1983.
Besar Tetap Kultur Jaringan, Fakultas Perta- Sorghum plant regeneration from alumunium
Koornneef, M. 1991. Variation and mutant selec- nian Institut Pertanian Bogor, 24 September selection media. Plant Cell Rep. 2: 129132.
tion in plant cell and tissue culture in biotech- 2005. 102 hlm.
nological innovation. p. 99115. In Crop Soeranto, H. 2003. Peran iptek nuklir dalam
Improvement. Open Universiteit Nederland Michel, B.E. and M.R. Kaufmann. 1973. The pemuliaan tanaman untuk mendukung indus-
and Thames Polytechnic, United Kingdom. osmotic potential of polyethylene glycol tri pertanian. Puslitbang Teknologi Isotop
6000. Plant Physiol. 57: 914916. dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional,
Krizek, D.T. 1985. Methods of inducing water
Jakarta.
stress in plant. Hort. Sci. (20): 1.0281.038. Micke, A. and B. Donini. 1993. Induced muta-
tion. p. 5277. In M.D. Hayward, N.O. Bose- Specht, J.E. and G.L. Greaf. 1996. Limitation
Kumar, P.S. and V.L. Mathur. 2004. Chromo- mark, and I. Romagosa (Eds.). Plant Breed- and potential for genetic manipulation of
somal instability in callus culture of Pisum ing Principles and Prospects. Chapman & soybeans. In D.P.S. Verma and R.C. Shoe-
sativum. Plant Cell Tiss. Org. Cult. 78: 267 Hall, London. maker (Eds.). Soybeans: Genetics, Molecular
271.
Biology and Biotechnology. CAB Intl.,
Moller, T., J.C. Bailar, J. Kleinberg, C.O. Guss,
Kuskova, V.B., N.M. Piven, and Y.Y. Gleba.1997. England.
M.E. Castellion, and C. Motz. 1984. Chemis-
Somaclonal variation and in vitro induced try with Inorganic Qualitative Analysis. Acid Stavarek, S.J. and D.W. Rains. 1984. The deve-
mutagenesis in grapevine. Plant Cell Tiss. Press, Inc., Orlando. lopment of tolerance cell to mineral stress.
Org. Cult. 49: 1727.
Hort. Sci. 19: 377382.
Pellet, D.M., D.L. Grunes, and L.V. Kochian.
Lestari, E.G., I. Mariska, D. Sukmadjaja, dan D 1995. Organic acid exudation as an alumu- Sutjahjo, S.H. 2006. Seleksi in vitro untuk
Suardi. 2005. Seleksi in vitro dan identifikasi nium-tolerance mechanism in maize (Zea ketenggangan terhadap Al pada empat geno-
tanaman padi varietas Gajah Mungkur, To- mays L.). Planta 196: 788795. tipe jagung. Jurnal Akta Agraria 9(2): 61
wuti dan IR64 yang tahan kekeringan. Kum-
66.
pulan Makalah Seminar Hasil Penelitian Pesqueira, J., M.D. Garca, S. Staltari, and M.C.
Tahun 2004. Balai Besar Penelitian dan Molina. 2006. NaCl effects in Zea mays L. Suzuki, D.T., A.J.F. Griffiths, J.H. Miller, and
Pengembangan Bioteknologi dan Sum- x Tripsacum dactyloides (L.) L. hybrid calli R.C. Lewontin. 1993. An Introduction to
berdaya Genetik Pertanian, Bogor. and plants. Electronic J. Biotechnol. 9(3): Genetic Analysis. W.H. Freeman and Co.,
16. New York.
Linacero, R. and A. Vazquez. 1992. Cytogenetic
variation in rye regenerated plants and their Purnamaningsih, R. dan I. Mariska. 2008. Peng- Syarifuddin, A. dan A. Abdurachman. 1993.
progeny. Genome 35: 428430. ujian nomor-nomor harapan padi tahan Al Optimasi pemanfaatan sumber daya lahan
dan pH rendah hasil seleksi in vitro dengan berwawasan lingkungan. Prosiding Simpo-
Makarim, A.K. 2005. Cekaman abiotik utama kultur hara. Jurnal Agrobiogen 4(1): 1823. sium Penelitian Tanaman Pangan III, Bogor,
dalam peningkatan produktivitas tanaman.
2325 Agustus 1993. Pusat Penelitian dan
Makalah pada Seminar Pemanfaatan Biotek- Remotti, P.C., H.J.M. Loffer, and L. Van Vloten-
Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
nologi untuk Mengatasi Cekaman Abiotik Doting. 1995. Selection of cell lines and re-
pada Tanaman, Bogor 22 September 2005. generation of plants resistant to fusaric acid Taylor, G.J. 1991. Current views of the alumi-
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan from Gladiolus grandiflorus cv. Peter Pears. nium stress response-the physiological basis
Euphytica 96(2): 237245.

Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009 147


tolerance. Curr. Tap. Biohem. Physiol. 10: Verlues, P.E., E.S. Obes, and R.E. Sharp. 1998. Yi and Le. 1997. Development of genetic
5793. Root growth and oxygen relation at low water resources by in vitro application of radiation.
potential. Impact of oxygen availability in Proc. Seminar on Mutation Breeding in Oil
Thrope, T.A. 1990. The current status of plant
polyethylene glycol solution. Plant Physiol. and Industrial Crops for Regional Nuclear
tissue culture. p. 13. In S.S. Bhojwani (Ed.).
116: 1.4031.412. Cooperation in Asia. RDA, STA. Most and
Plant Tissue Culture: Application and Limi-
JAIF. Suwon, Korea, 1218 October 1997.
tations. Elsevier Sci. Publ., Amsterdam, Wattimena, G.A. dan N.A. Mattjik. 1992. Pemu-
Oxford, New York, Tokyo. liaan tanaman secara in vitro. Dalam Tim Yunchang, L. and Q. Liang. 1997. A review and
Laboratorium Kultur Jaringan (Ed.). Bio- prospect of mutation breeding of oil crops
Van den Bulk, R.W. 1991. Application of cell
teknologi Tanaman. PAU Bioteknologi, Ins- in China. Proc. Seminar on Mutation Breed-
and tissue culture and in vitro selection for
titut Pertanian Bogor. ing in Oil and Industrial Crops for Regional
disease resistance breeding A review.
Nuclear Cooperation in Asia. RDA, STA.
Euphytica 56: 269285. Yamamoto, Y. 1994. Quantitative estimation
Most and JAIF. Suwon, Korea, 1218 Octo-
of aluminium toxicity in cultured tobacco
Van Harten, A.M. 1998. Mutation Breeding. ber 1997.
cell. Correlation between alumunium uptake
Theory and Practical Application. Cam-
and growth inhibitor. Plant Cell Physiol.
bridge University Press, New York. p. 111
35(4): 575583.
162.

148 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009