Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Energi listrik merupakan salah satu penunjang utama berjalannya roda ekonomi
dan kehidupan disebuah negara. Kebutuhan listrik semakin lama semakin meningkat
seiring dengan bertambahnya populasi manusia dan bertambahnya alat elektronik
untuk menunjang Kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu diperlukan sebuah alternatif
baru yang dapat membantu penyediaan listrik yang lebih murah dan mudah dengan
menggunakan sumber energi yang terbarukan untuk memenuhi kebutuhan peralatan
elektronik.
Krisis air bersih di perkotaan umumnya berbentuk tercemarnya sungai-sungai
oleh limbah rumah tangga dan industri. Padahal air sungai itu dijadikan bahan baku
pengolahan air kotor oleh Perusahaan Air Minum (PAM) menjadi air bersih. Dalam
hal ini, peran dari PDAM sangatlah penting karena pemenuhan akan kebutuhan air
bersih masyarakat sangt bergantung pada kinerja dari PDAM. Semakin tercemar air
baku yang ada, semakin mahal biaya pengolahannya.
Di antara banyak hal yang harus dibiayai oleh PDAM dalam kegiatan proses
produksi dan distribusi air kepada para pelanggan, proses pengolahan air paling
banyak membutuhkan biaya operasional. Situasi ini memaksa masyarakat membayar
lebih mahal air bersih yang mereka gunakan. Seiring kemajuan dan kemampuan
mengoperasionalkan peralatan dan mesin mutakhir, PDAM dalam melakukan proses
pengolahan air menggunakan teknik pengolahan lengkap yang secara garis besar
terdiri dari intake, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan klorinasi. Pengolahan
lengkap tersebut diberlakukan pada air baku yang berasal dari air permukaan atau
sungai.
Dalam laporan ini akan di jelaskan proses kerja dari PLTS dan PDAM

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana proses kerja dari PLTS ?
2. Bagaimana proses kerja dari PDAM ?

Page | 1
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses kerja dari PLTS
2. Untuk mengetahui proses kerja dari PDAM

Page | 2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)


Fotovoltaik (biasanya disebut juga sel surya) adalah piranti semikonduktor yang
dapat merubah cahaya secara lansung menjadi menjadi arus listrik searah (DC) dengan
menggunakan kristal silicon (Si) yang tipis. Sebuah kristal silindris Si diperoleh
dengan cara memanaskan Si itu dengan tekanan yang diatur sehingga Si itu berubah
menjadi penghantar. Bila kristal silindris itu dipotong stebal 0,3 mm, akan terbentuklah
sel-sel silikon yang tipis atau yang disebut juga dengan sel surya (fotovoltaik). Sel-sel
silikon itu dipasang dengan posisi sejajar/seri dalam sebuah panel yang terbuat dari
alumunium atau baja anti karat dan dilindungi oleh kaca atau plastik. Kemudian pada
tiaptiap sambungan sel itu diberi sambungan listrik. Bila sel-sel itu terkena sinar
matahari maka pada sambungan itu akan mengalir arus listrik. Besarnya arus/tenaga
listrik itu tergantung pada jumlah energi cahaya yang mencapai silikon itu dan luas
permukaan sel itu. Pada asasnya sel surya fotovoltaik merupakan suatu dioda
semikonduktor yang berkerja dalam proses tak seimbang dan berdasarkan efek
fotovoltaik. Dalam proses itu sel surya menghasilkan tegangan 0,5-1 volt tergantung
intensitas cahaya dan jenis zat semikonduktor yang dipakai. Sementara itu intensitas
energi yang terkandung dalam sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi
besarnya sekitar 1000 Watt. Tapi karena daya guna konversi energi radiasi menja-di
energi listrik berdasarkan efek fotovol-taik baru mencapai 25%, maka produksi listrik
maksimal yang dihasilkan sel surya baru mencapai 250 Watt per m2.
2.1.1 Bagian Bagian Komponen dan Prinsip Kerja
Komponen utama sistem surya fotovoltaik adalah modul yang merupakan unit
rakitan beberapa sel surya fotovoltaik. Modul fotovoltaik tersusun dari beberapa sel
fotovoltaik yang dihubungkan secara seri dan paralel. Teknologi ini cukup canggih
dan keuntungannya adalah harganya murah, bersih, mudah dipasang dan dioperasikan
dan mudah dirawat. Sedangkan kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan
energi surya fotovoltaik adalah investasi awal yang besar dan harga per kWh listrik
yang dibangkitkan relatif tinggi, karena memerlukan subsistem yang terdiri atas

Page | 3
baterai, unit pengatur dan inverter sesuai dengan kebutuhannya. Cara kerja
photovoltaic diperlihatkan pada gambar 1. Pada gambar 2 diperlihatkan sistem PLTS.

Gambar 1. cara kerja Fotovoltaik

Gambar 2. Sistem PLTS

Panel surya/ solar cells/ solar panel: panel surya menghasilkan energi listrik
tanpa biaya, dengan mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sel silikon
(disebut juga solar cells) yang disinari matahari/ surya, membuat photon yang
menghasilkan arus listrik. Sebuah solar cells menghasilkan kurang lebih tegangan

Page | 4
0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel (untuk
menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun).
Charge controller, digunakan untuk mengatur pengaturan pengisian baterai.
Tegangan maksimun yang dihasilkan panel surya pada hari yang terik akan
menghasilkan tegangan tinggi yang dapat merusak baterai.
Inverter, adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah
(DC direct current) menjadi tegangan bolak balik (AC - alternating
current).
Baterai, adalah perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari tenaga
surya. Tanpa baterai, energi surya hanya dapat digunakan pada saat ada
sinar matahari.
Diagram instalasi pembangkit listrik tenaga surya ini terdiri dari panel
surya, charge controller, inverter, baterai.

Dari diagram pembangkit listrik tenaga surya diatas: beberapa panel surya di
paralel untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Combiner pada gambar diatas
menghubungkan kaki positif panel surya satu dengan panel surya lainnya. Kaki/ kutub
negatif panel satu dan lainnya juga dihubungkan. Ujung kaki positif panel surya
dihubungkan ke kaki positif charge controller, dan kaki negatif panel surya
dihubungkan ke kaki negatif charge controller. Tegangan panel surya yang dihasilkan

Page | 5
akan digunakan oleh charge controller untuk mengisi baterai. Untuk menghidupkan
beban perangkat AC (alternating current) seperti Televisi, Radio, komputer, dll, arus
baterai disupply oleh inverter.
Instalasi pembangkit listrik dengan tenaga surya membutuhkan perencanaan
mengenaikebutuhan daya:
- Jumlah pemakaian
- Jumlah panel surya
- Jumlah baterai
2.1.2 Proses konversi
Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini
dimungkinkan karena bahan material yang menyusun sel surya berupa semikonduktor.
Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni jenis n dan jenis p.
Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan elektron,
sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif). Sedangkan semikonduktor jenis p
memiliki kelebihan hole, sehingga disebut dengan p ( p = positif) karena kelebihan
muatan positif. Caranya, dengan menambahkan unsur lain ke dalam semkonduktor,
maka kita dapat mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan
pada gambar di bawah ini.

Pada awalnya, pembuatan dua jenis semikonduktor ini dimaksudkan untuk


meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar listrik dan
panas semikonduktor alami. Di dalam semikonduktor alami (disebut dengan

Page | 6
semikonduktor intrinsik) ini, elektron maupun hole memiliki jumlah yang sama.
Kelebihan elektron atau hole dapat meningkatkan daya hantar listrik maupun panas
dari sebuah semikoduktor.
Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si). Semikonduktor
jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron (B), aluminum (Al),
gallium (Ga) atau Indium (In) ke dalam Si. Unsur-unsur tambahan ini akan menambah
jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n dibuat dengan menambahkan nitrogen
(N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam Si. Dari sini, tambahan elektron dapat
diperoleh. Sedangkan, Si intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha
menambahkan unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih
dari 1 % dibandingkan dengan berat Si yang hendak di-doping. Dua jenis
semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk sambungan p-n atau dioda
p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan metalurgi / metallurgical junction)
yang dapat digambarkan sebagai berikut.
1. Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung.

2. Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan


elektronelektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan
perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan
elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas
sambungan awal.

Page | 7
3. Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p yang
mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini
akhirnya berubah menjadi lebih bermuatan positif. Pada saat yang sama. hole
dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang ada pada semikonduktor n
yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini berkurang. Daerah ini
akhirnya lebih bermuatan positif.

4. Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion region)
ditandai dengan huruf W.
5. Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan
pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena keberadaannya
di jenis semikonduktor yang berbeda.
6. Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah deplesi,
maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi positif ke sisi
negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor p dan elektron
ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung berlawanan dengan
perpindahan hole maupun elektron pada awal terjadinya daerah deplesi (nomor
1 di atas).

7. Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik


setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari semikonduktor
p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali kearah
semikonduktor p akibat medan listrik E. Begitu pula dengan jumlah elektron
yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi dengan mengalirnya
kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan medan listrik E. Dengan
kata lain, medan listrik E mencegah seluruh elektron dan hole berpindah dari
semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang lain.

Page | 8
Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi listrik
terjadi. Untuk keperluan sel surya, semikonduktor n berada pada lapisan atas
sambungan p yang menghadap kearah datangnya cahaya matahari, dan dibuat jauh
lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari yang jatuh ke
permukaan sel surya dapat terus terserap dan masuk ke daerah deplesi dan
semikonduktor p.

Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka elektron


mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari
semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya elektron ini
meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron yang disebut
dengan fotogenerasi elektron-hole (electron-hole photogeneration) yakni,
terbentuknya pasangan elektron dan hole akibat cahaya matahari.

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol


lambda sbgn digambar atas ) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada

Page | 9
sambungan pn berada pada bagian sambungan pn yang berbeda pula. Spektrum
merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang lebih panjang,
mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di semikonduktor p yang
akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana. Spektrum biru dengan panjang
gelombang yang jauh lebih pendek hanya terserap di daerah semikonduktor n.
Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrik E,
elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu pula dengan
hole yang tertarik ke arah semikonduktor p. Apabila rangkaian kabel dihubungkan
ke dua bagian semikonduktor, maka elektron akan mengalir melalui kabel. Jika
sebuah lampu kecil dihubungkan ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan
mendapat arus listrik, dimana arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.

Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja sel surya secara umum,
ilustrasi di bawah ini menjelaskan segalanya tentang proses konversi cahaya
matahari menjadi energi listrik.

2.2 Proses Pengolahan Air Bersih PDAM


1. Bangunan Intake
Bangunan intake ini berfungsi sebagai bangunan pertama untuk masuknya air
dari sumber air. Pada umumnya, sumber air untuk pengolahan air bersih, diambil dari
sungai. Pada bangunan intake ini biasanya terdapat bar screen yang berfungsi untuk

Page | 10
menyaring benda-benda yang ikut tergenang dalam air. Selanjutnya, air akan masuk
ke dalam sebuah bak yang nantinya akan dipompa ke bangunan selanjutnya, yaitu
WTP Water Treatment Plant.

2. Water Treatment Plant


Water Treatment Plant atau lebih populer dengan akronim WTP adalah
bangunan utama pengolahan air bersih. Biasanya bagunan ini terdiri dari 4 bagian,
yaitu : bak koagulasi, bak flokulasi, bak sedimentasi, dan bak filtrasi. Nah, sekarang
kita bahas satu per satu bagian-bagian ini.
a. Koagulasi
Dari bangunan intake, air akan dipompa ke bak koagulasi ini. Pada proses
koagulasi ini dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya air
sungai atau air-air kotor biasanya berbentuk koloid dengan berbagai partikel koloid
yang terkandung di dalamnya. Destabilisasi partikel koloid ini bisa dengan
penambahan bahan kimia berupa tawas, ataupun dilakukan secara fisik dengan rapid
mixing (pengadukan cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic jump), maupun secara
mekanis (menggunakan batang pengaduk). Biasanya pada WTP dilakukan dengan cara
hidrolis berupa hydrolic jump. Lamanya proses adalah 30 - 90 detik.

Proses Koagulasi Secara Mekanis dengan mesin pemutar

Page | 11
b. Flokulasi
Setelah dari unit koagulasi, selanjutnya air akan masuk ke dalam unit flokulasi.
Unit ini ditujukan untuk membentuk dan memperbesar flok. Teknisnya adalah dengan
dilakukan pengadukan lambat (slow mixing).

Proses Flokulasi Partikel Koloid


c. Sedimentasi
Setelah melewati proses destabilisasi partikel koloid melalui unit koagulasi dan
unit flokulasi, selanjutnya perjalanan air akan masuk ke dalam unit sedimentasi. Unit
ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi
oleh unit sebelumnya. Unit ini menggunakan prinsip berat jenis. Berat jenis partikel
koloid (biasanya berupa lumpur) akan lebih besar daripada berat jenis air. Dalam bak
sedimentasi, akan terpisah antara air dan lumpur.

Proses Sedimentasi
d. Filtrasi
Setelah proses sedimentasi, proses selanjutnya adalah filtrasi. Unit filtrasi ini,
sesuai dengan namanya, adalah untuk menyaring dengan media berbutir. Media

Page | 12
berbutir ini biasanya terdiri dari antrasit, pasir silica, dan kerikil silica denga ketebalan
berbeda. Dilakukan secara grafitasi.

Unit Filtrasi

3. Reservoir
Setelah dari WTP dan berupa clear water, sebelum didistribusikan, air masuk ke
dalam reservoir. Reservoir ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air
bersih sebelum didistribusikan melalui pipa-pipa secara grafitasi. Karena kebanyakan
distribusi di kita menggunakan grafitasi, maka reservoir ini biasanya diletakkan di
tempat dengan eleveasi lebih tinggi daripada tempat-tempat yang menjadi sasaran
distribusi. Biasanya terletak diatas bukit, atau gunung.

Reservoir air bersih

Page | 13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Energi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia.
Peningkatan kebutuhan energi dapat merupakan indikator peningkatan kemakmuran,
namun bersamaan dengan itu juga menimbulkan masalah dalam usaha penyediaannya.
Oleh karena itu, penyediaan sumber energi alternatif seperti energi surya melalui
pemanfaatan sel fotovoltaik merupakan sebuah prospek yang menjanjikan untk
dikembangkan lebih lanjut, mengingat pemakaian primer minyak bumi dan gas alam
masih merupakan sumber energi utama. Selain ramah lingkungan, sumber energi dari
matahari tidak memerlukan perawatan khusus secara periodik, yang selanjutnya akan
mengurangi biaya produksi.
Tahapan pengolahan di PDAM Mranggen adalah : intake, praset, koagulasi,
flokulasi, sedimentasi, pra filter, filtrsi, desinfectan, reservoir dan pendistribusian.

3.2 Saran
Penggunaan energy surya sangat evektif untuk menghemat energi baik didunia
industry maupun rumah tangga, diIndonesia sangat potensial sekali untuk menerapkan
system PLTS untuk sumber energi karena hanya memiliki 2 musim tidak seperti
didaerah Jepang, Amerika dan Negara-Negara lainnya, tapi sebelum
praktek/pengaplikasiannya terjun kemasyarakat secara luas tentunya haruslah diberi
pengarahan dulu kepada masyarakat baik itu lewat media cetak ,social dll. Dengan
adanya pengarahan diharapkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi, dan
mengurungkan niat mereka untuk mengenal teknologi dalam perkemangan dizaman
modern ini. Dengan demikian secara perlahan dengan sudah taunya keuntungan dan
penghematan yang dirasakan secara perlahan mereka akan pindah ke-energi
terbarukan PLTS.
Untuk menilai kualitas dari air PDAM tersebut sudah baik atau tidak tidak dapat
dilihat secara visual saja, namun harus dilakukan analisa terhadap air bersih sehingga
air bersih layak dikonsumsi masyarakat.

Page | 14
DAFTAR PUSTAKA
Manan, Saiful.2010. Energi Matahari sumber energi alternatif yang efisien, handal,
dan ramah lingkungan di indonesia., Laporan Penelitian Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro.Semarang
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010112839/melihat-proses-
pengolahan-air-bersih-pdam/

Page | 15