Anda di halaman 1dari 8

RENCANA TINDAK LANJUT

PROGRAM HIV dan IMS


PUSKESMAS PERAWATAN LASUNG

1. Mapping telah dilakukan pada bulan Juli 2016

PEKERJAAN DENGAN RESIKO


KELOMPOK RESIKO TINGGI KELOMPOK LAIN
TINGGI IBU HAMIL BARU
NO
PELANG PEKERJA RIWAYAT/PENGGUNA BULAN INI
PSK WARIA LSL WARJAB SUPIR PELAUT NARAPIDANA
GAN TAMBANG NARKOBA
0 0 0 0 4 3 0 4 1 0 21
2. ALUR PELAYANAN VCT

PASIEN DATANG

KARTU

Bila Hasil (+)


RUJUK

POLI KLINIK VCT


UMUM/KIA
Bila Hasil (-)
PULANG
LABORATORIUM
3. Standar Operasional Prosedur Palayanan VCT

SOP PENATALAKSANAAN
( VCT ) VALUNTARY COUNSELLING AND TESTING

UPTD. Puskesmas
Perawatan lasung PENATALAKSANAAN ( VCT )
VALUNTARY COUNSELLING AND TESTING

No. Kode :

No.Revisi :

Tgl. MulaiBerlaku :

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR

Halaman : 1dari 6

1. TUJUAN.
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Konseling dan Testing HIV/AIDS secara sukarela di UPTD
Puskesmas Perawatan Lasung

2. RUANG LINGKUP
Tindakan dimulai dari anamnesa, konseling, tindakan, sampai dengan pencatatan

3. KRITERIA PENCAPAIAN
Penatalaksanaan VCT di UPTD Puskesmas Perawatan Lasung dapat dilaksanakan 100% sesuai
prosedur penatalaksanaan klinik VCT

4. DEFINISI
Voluntary Counseling Test (VCT) adalah Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan
testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential dan secara lebih dini membantu orang
mengetahui status HIV. Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang HIV & manfaat
testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan
dihadapi. Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti & menerima status (HIV+) dan
merujuk pada layanan dukungan. Voluntary Counseling Test (VCT) merupakan pintu masuk penting
untuk pencegahan dan perawatan HIV
5. URAIAN UMUM
5.1 Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor /
pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi pelanggan. Konseling merupakan dialog yang terjaga
kerahasiaan antara konselor dan pelanggan
5.2 HIV adalah virus yang menyeran dan merusak system kekebalan tubuh kita sehingga kita tidak bias
bertahan terhadap penyakit-penyakit yang menyerang tubuh kita. HIV merupakan suatu virus yang
dapat menyebabkan penyakit AIDS
5.3 Pra adalah sebelum dan post adalah setelah, status adalah keadaan (orang, badan, dsb) dalam
hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya
5.4 Confidentiality atau kerahasiaan adalah pencegahan bagi mereka yang tidak berkepen-tingan dapat
mencapai informasi, berhubungan dengan data yang diberikan kepihak lain untuk keperluan tertentu
dan hanya diperbolehkan untuk keperluan tertentu tersebut.

6. PERALATAN
6.1 Alat
6.1.1 Papan nama dan petunjuk
6.1.2 Poster HIV/AIDS dan IMS
6.1.3 Leaflet HIV/AIDS dan IMS
6.1.4 Brosur HIV/AIDS dan IMS
6.1.5 Kotak saran
6.1.6 Tempat sampah
6.1.7 Meja dan kursi
6.1.8 Jam kerja layanan, kalender dan kondom.
6.1.9 Alat peraga penis dan alat peraga reproduksi wanita
6.1.10 Lemari arsip dan dokumen

6.2 Bahan
6.2.1 Tisu
6.2.2 Air minum
6.2.3 Persedian air minum
7. INTRUKSI KERJA
NO INSTRUKSI KERJA PETUGAS
1 KONSELING PRE TESTING
1.1 Menyiapkan perlengkapan untuk konseling
1.2 Memanggil pasien (dengan menyebutkan nomor registrasi) dan
mempersilahkan masuk keruangan.
1.3 Mempersilahkan pasien duduk dengan nyaman di kursi yang telah
tersedia.
1.4 Memberi salam dan memperkenalkan diri.
1.5 Memeriksa ulang nomor kode pelanggan dalam formulir dokumen
pasien.
KONSELOR
1.6 Menanyakan latar belakang dan alasan kunjungan.
1.7 Memberi informasi tentang HIV/AIDS sesuai dengan yang ada pada
cek list untuk konseling pre test (cek list pada lampiran)
1.8 Mengklarifikasi tentang fakta dan mitos tentang HIV/AIDS, termasuk
tentang IMS dan menawarkan pemeriksaan IMS secara rutin,
khususnya pada penasun (IDU)
1.9 Membantu pasien untuk menilai resiko pasien
1.10 Membantu pasien untuk membuat keputusan untuk dilakukan tes
HIV, antara lain dengan menjelaskan keuntungan dan akibat
melakukan tes HIV.
1.11 Mendikusikan prosedur HIV/AIDS, waktu untuk mendapatkan hasil
dan arti dari tes HIV.
1.12 Mendiskusikan kemungkinan tindak lanjut setelah ada hasil test.
1.13 Menjelaskan implikasi terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV dan
memfasilitasi diskusi tentang cara menyesuaikan diri dengan status
HIV.
1.14 Menjajaki kemapuan pasien dalam mengatasi masalah.
1.15 Melakukan penilaian system dukungan.
1.16 Memberi waktu untuk berfikir.
1.17 Bila pasien menyetujui untuk test, konselor memberikan form
informed consent kepada pasien dan meminta tanda tangannya
setelah pasien membaca isi form HIV/.AIDS.
1.18 Mengisi dokumen pasien dengan lengkap dan mengisi form rujukan
ke laboratorium.
1.19 Membuat perjanjian dengan pasien untuk menunggu hasil test.
1.20 Mengantar pasien ke tempat pengambilan darah dan menyerahkan
form laboratorium kepada petugas pengambilan darah.
1.21 Bila pasien tidak menyetujui untuk di test, konselor menawarkan
kepada pasien untuk dating kembali sewaktu-waktu bila masih
memerlukan dukungan dan / atau untuk dilakukan test.
1.22 Mengucapkan salam dan mengakhiri proses.

2 KONSELING POST TESTING


2.1 Memangggil pasien dengan menyebutkan nomor regester seperti
prosedur pemanggilan konseling pre-test.
2.2 Memperhatikan komunikasi non verbal saat pasien memasuki ruang
konseling.
2.3 Menanyakan kesiapan pasien untuk menerima test.
2.4 Mengkaji ulang secara singkat dan menayakan keadaan umum KONSELOR
pasien.
2.5 Memperhatikan amplop hasil test yang masih tertutup kepada
pasien.
2.6 Menanyakan kesiapan pelanggan untuk menerima hasil test.
2.6.1 Apabila pasien menyatakan sudah siap / sanggup menerima hasil
test, maka konselor menawarkan kepada pelanggan untuk
membuka amplop bersama konselor.
2.6.2 Apabila pasien menyatakan belum siap, konselor meberi dukungan
kepada pasien untuk menerima hasil dan beri waktu sampai pasien
menyatakan dirinya siap.
2.7 Membuka amplop dan menyampaikan secara lisan hasil testing HIV.
2.8 Memberi kesempatan paien membaca hasil.
2.9 Menjelaskan kepada pelanggan tentang hasil testing HIV yang telah
dibuka dan yang telah dibaca bersama.
2.10 Memberi kesempatan dan ventilasikan keadaan emosinya.
2.11 Menerapkanmanajemenreaksi.
3 3.1 BILA HASIL TEST POSITIF
3.1.1 Memeriksaapa yang diketahui tentang hasil test.
3.1.2 Menjelaskan dengan tenang arti hasil pemeriksaan.
3.1.3 Memberi kesempatan untuk memventilasikan emosi.
3.1.4 Memfasilitasi coping problem (kemampuan menyelesaikan
masalah).
3.1.5 Setelah pasien cukup tenang dan konseling dapat dilanjutkan KONSELOR
konselor menyelesaikan informasi sebagai berikut :
3.1.5.1 Pengobatan ARV
3.1.5.2 Kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual
3.1.5.3 Menawarkan konseling pasangan
3.1.6 Menawarkan secara rutin pelanggan mengikuti pemeriksaan sifilis
dan manfaat pengobatan sifilis.
3.1.7 Untuk pelanggan perempuan terdapat fasilitas layanan
pemeriksaan kehamilan dan rencana penggunaan alat kontrasepsi
bagi laki-laki dan perempuan.
3.1.8 Memotivasi agar dating ke klinik untuk evaluasi awal secara
medis.
3.1.9 Konselor dan pasien menyepakati waktu kunjungan berikutnya.
3.1.10 Apabila pada waktu yang ditentukan pelanggan tidak bias hadir,
disarankan untuk menghubungi konselor melalui telepon untuk
perjanjian berikutnya.
3.1.11 Memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya mengenai
hal-hal yang belum diketahui.
3.1.12 Menawarkan pelayanan VCT pada pasangan pasien.
3.1.13 Apabila pasien sudah jelas dan tidak ada pertanyaan, maka
konseling pasca-testing ditutup.
3.1.14 Memotivasi agar bersama di damping oleh MK.
3.1.15 Konselor mengisi form pasca-konseling.

3.2 BILA HASIL TEST NEGATIF


3.2.1 Mendiskusikan kemungkinan pelanggan masih berada dalam
periode jendela.
3.2.2 Membuat ikhtisar dan gali lebih lanjut berbagai hambatan.
3.2.3 Memastikan pelanggan paham mengenai hasil test yang diterima
dan pengertian periode jendela.
3.2.4 Menjelaskan kebutuhan untuk melakukan test ulang dan
pelayanan VCT bagi pasangan.
3.2.5 Menjelaskan upaya penurunan resiko yang dapat dilakukan.
3.2.6 Memberi kesempatan kepada pelanggan untuk bertanya
mengenai hal-hal yang belum diketahui.
3.2.7 Apabila pelanggan sudah jelas dan tidak ada pertanyaan, maka
konseling pasca-testing ditutup.
3.2.8 Memotivasi agar bersedia didampingi oleh MK untuk
mempertanyakan perilaku yang aman.
3.2.9 Membuat perjanjian untuk kunjungan ulang apabila dibutuhkan.
Mengisi form pasca konseling.
4. Nama Klinik
KLINIK MELATI

5. Menyebarluaskan tentang keberadaan klinik dengan cara Penyuluhan pada kelas bumil dan
Lokmin lintas Sektor
6. Jadwal pelayanan VCT setiap tanggal 5
7. Kebutuhan Klinik
a. Komputer dan printer
b. Meja dan kursi
c. Lemari arsip
d. Map rekam medik
e. Alat tulis
f. Leaflet dan lembar balik
8. Dana
Untuk sementara dana berasal dari BOK