Anda di halaman 1dari 68

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA

DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

KEWAJIBAN TENAGA KLINIS DALAM PENINGKATAN MUTU KLINIS


DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS WAEPANA
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman;
: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam
meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA perlu disusun
kebijakan mutu dan keselamatan pasien;
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesai
Tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1457/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

5. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG KEWAJIBAN TENAGA KLINIS DALAM
PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN
PASIEN PUSKESMAS WAEPANA
Kesatu : Dalam melaksanakan Tugasnya Petugas layanan klinik wajib
mentaati tata tertib dan kode etik profesi,serta kode Etik
Petugas Di Puskesmas Waepana.
Kedua : Dalam melaksanakan tugasnya tenaga klinis wajib
berpedoman pada kebijakan mutu dan keselamatan Pasien
diPuskesmas Waepana sebagaimana tercantum dalam
lampiran keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Surat keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya..

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 20 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA
PUSKESMAS NOMOR.

TENTANG : KEBIJAKAN MUTU


DAN KESELAMATAN PASIEN

KEBIJAKAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS ABCD

1. Kepala Puskesmas dan seluruh penanggung jawab UKP dan penanggung jawab UKM
wajib berpartisipasi dalam program mutu dan keselamatan pasien mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.
2. Para pimpinan wajib melakukan kolaborasi dalam pelaksanaan Program mutu dan
keselamatan pasien yang diselenggarakan di seluruh jajaran puskesmas.
3. Perencanaan mutu disusun oleh seluruh jajaran Puskesmas Waepana dengan pendekatan
multidisiplin, dan dikoordinasikan oleh Wakil Manajemen Mutu.
4. Perencanaan mutu berisi paling tidak:
a. Area prioritas berdasarkan data dan informasi, baik dari hasil monitoring dan
evaluasi indikator, maupun keluhan pasien/keluarga/staf dengan
mempertimbangan kekritisan, risiko tinggi dan kecenderungan terjadinya
masalah.
b. Salah satu area prioritas adalah sasaran keselamatan pasien
c. Kegiatan-kegiatan pengukuran dan pengendalian mutu dan keselamatan pasien
yang terkoordinasi dari semua unit kerja dan unit pelayanan.
d. Pengukuran mutu dan keselamatan pasien dilakukan dengan pemilihan indikator,
pengumpulan data, untuk kemudian dianalisis dan ditindak lanjuti dalam upaya
peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
e. Indikator meliputi indikator manajerial, indikator kinerja UKM, dan indikator
klinis, yang meliputi indikator struktur, proses, dan outcome.
f. Upaya-upaya perbaikan mutu dan keselamatan pasien melalui standarisasi,
perancangan sistem, rancang ulang sistem untuk peningkatan mutu dan
keselamatan pasien.
g. Penerapan manajemen risiko pada semua lini pelayanan baik pelayanan klinis
maupun penyelenggaraan UKM.
h. Manajemen risiko klinis untuk mencegah terjadinya kejadian sentinel, kejadian
tidak diharapkan, kejadian nyaris cedera, dan keadaan potensial cedera.
i. Program dan Kegiatan-kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinis dan
keselamatan pasien, termasuk di dalamnya program peningkatan mutu
laboratorium dan program peningkatan mutu pelayanan obat.
j. Program pelatihan yang terkait dengan peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
k. Rencana pertemuan sosialisasi dan koordinasi untuk menyampaikan
permasalahan, tindak lanjut, dan kemajuan tindak lanjut yang dilakukan.
l. Rencana monitoring dan evaluasi program mutu dan keselamatan pasien.

5. Perancangan sistem/proses pelayanan memperhatikan butir-butir di bawah ini:


a. Konsisten dengan visi, misi, tujuan dan tata nilai Puskesmas, dan perencanaan
Puskesmas,
b. Memenuhi kebutuhan pasien, keluarga, dan staf,
c. Menggunakan pedoman penyelenggaraan UKM, pedoman praktik klinis, standar
pelayanan klinis, kepustakaan ilmiah dan berbagai panduan dari profesi maupun
panduan dari Kementerian Kesehatan,
d. Sesuai dengan praktik bisnis yang sehat,
e. Mempertimbangkan informasi dari manajemen risiko,
f. Dibangun sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang ada di Puskesmas,
g. Dibangun berbasis praktik klinis yang baik,
h. Menggunakan informasi dari kegiatan peningkatan yang terkait,
i. Mengintegrasikan serta menggabungkan berbagai proses dan sistem pelayanan.
6. Seluruh kegiatan mutu dan keselamatan pasien harus didokumentasikan.
7. Wakil manajemen mutu wajib melaporkan kegiatan peningkatan mutu dan keselamatan
pasien kepada Kepala Puskesmas tiap tribulan.
8. Berdasarkan pertimbangan hasil keluhan pasien/keluarga dan staf, serta
mempertimbangkan kekritisan, risiko tinggi, dan potensial bermasalah, maka area
prioritas yang perlu mendapat perhatian dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien
adalah:
a. Pencapaian 6 sasaran keselamatan pasien:
1. Ketepatann identifikasi Pasien
2. Peningkatan Komunikasi yang efektif.
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu di waspadai.
4. Kepastaian tepat lokasi,Tepat prosedur,tepat pasien operasi
5. Pengurangan resiko Infeksi terkait pelayanan kesehatan dan;
6. Pengurangan risiko pasien jatuh
b. Pelayanan rawat jalan
c. Pelayanan Farmasi
d. Pelayanan Gawat Darurat
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

PRIORITAS INDIKATOR MUTU KLINIS

DI PUSKESMAS

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terwujudnya kondisi kesehatan masyarakat yang baik adalah tugas dan tanggung jawab dari
Negara sebagai bentuk amanah konstitusi yaitu Undang-undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaannya
negara berkewajiban menjaga mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Mutu pelayanan
kesehatan sangat ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas. Untuk
mewujudkan tenaga kesehatan yang berkualitas, negara sangat membutuhkan peran organisasi
profesi tenaga kesehatan yang memiliki peran menjaga kompetensi anggotanya.

Prioritas indikator mutu klinis ini memuat penatalaksanaan untuk dilaksanakan oleh seluruh
dokter dan petugas pelayanan kesehatan di Puskesmas Waepana serta pemberian pelayanan
kesehatan dengan upaya terbaik di fasilitas pelayanan kesehatan primer/Puskesmas Waepana tetapi
tidak menjamin keberhasilan upaya atau kesembuhan pasien.

Panduan ini disusun berdasarkan data klinis untuk kasus individu berdasarkan ketersediaan
tenaga, sarana dan prasarana serta kemampuan Puskesmas dalam melaksanakan program
peningkatan mutu.

Kepatuhan terhadap panduan ini tidak menjamin kesembuhan dalam setiap kasus. Setiap
dokter bertanggung jawab terhadap pengelolaan pasiennya, berdasarkan data klinis pasien, pilihan
diagnostik, dan pengobatan yang tersedia.

Modifikasi terhadap panduan ini hanya dapat dilakukan oleh dokter atas dasar keadaan yang
memaksa untuk kepentingan pasien, antara lain keadaaan khusus pasien, kedaruratan, dan
keterbatasan sumber daya. Modifikasi tersebut harus tercantum dalam rekam medis.

Dokter pelayanan primer atau petugas kesehatan lainnya di Puskesmas Waepana wajib
merujuk pasien ke Rumah sakit yang memiliki sarana prasarana yang dibutuhkan bila sarana
prasarana yang dibutuhkan tidak tersedia, meskipun penyakit yang ditangani masuk dalam kategori
144 kasus.

Dokter dan petugas kesehatan di Puskesmas Waepana tidak memahami seluruh teori tentang
penyakit, sehingga di wajibkan menyusun SOP sebanyak 30 penyakit dari 144 penyakit tersebut
dengan menggunakan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Semua Tenaga Kesehatan yang ada di Puskesmas Waepana berkewajiban meningkatkan


mutu indikator Pelayanan Primer yang ada di Puskesmas Waepana.
B. TUJUAN PEDOMAN

Dengan menggunakan panduan ini diharapkan, semua petugas kesehatan yang ada di
Puskesmas waepana
1. Mewujudkan pelayanan kedokteran yang sadar mutu sadar biaya yang dibutuhkan oleh
masyarakat.

2. Puskesmas Waepana memiliki pedoman baku minimum dengan mengutamakan upaya


maksimal sesuai kompetensi dan fasilitas yang ada.
3. Memilliki tolok ukur dalam melaksanakan jaminan mutu pelayanan

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN

Ruang lingkup Pelayanan berpedoman pada,Buku panduan Praktik Kliniks bagi dokter
pelayanan primer edisi 2013,yang meliputi 144 Diagnosa .

D. BATASAN OPERASIONAL

Prioritas Indikator Mutu Klinis menurut Kriteria Puskesmas adalah: indikator mutu klinis
yang di tetapkan oleh Puskesmas berdasarkan pertimbangan ketersediaan Sumber daya yang
tersedia juga sarana dan prasarana yang tersedia di Puskesmas.

E. LANDASAN HUKUM

Dasar hukum penyusunan indikator mutu Klinis Di Puskesmas Waepana adalah:


1. Undang-undang Dasar 1945 hasil Amandemen Pasal 28H

2. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

3. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan
Kedokteran .

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 001 tahun 2012 tentang Rujukan Kesehatan
perorangan.

Indikator Mutu Klinis yang di tetapkan di Puskesmas Waepana Terlampir.


HASIL PENGUMPULAN DATA,BUKTI ANALISA .

DAFTAR PENYAKIT YANG DAPAT DI TANGANI

PUSKESMAS WAEPANA

BULAN :

JUMLAH JUMLAH JUMLAH JUMLAH


NO NAMA PENYAKIT YANG YANG TDK
DILAYANI SEMBUH SEMBUH DIRUJUK

1 Kejang demam

2 Tetanus

HIV AIDS tanpa


3 komplikasi

4 Tension headache

5 Migren

6 Bells palsy

Vertigo (Benign
paroxysmal positional
7 vertigo)

8 Gangguan somatoform

9 Insomnia

Benda asing di
10 konjungtiva

11 Konjungtivitis

Perdarahan
12 subkonjungtiva

13 Mata kering

14 Blefaritis

15 Hordeolum

16 Trikiasis

17 Episkleritis

18 Hipermetropia ringan

19 Miopia ringan

20 Astigmatism ringan

21 Presbiopia

22 Buta senja

23 Otitis eksterna
24 Otitis media akut

25 Serumen prop

26 Mabuk perjalanan

27 Furunkel pada hidung

28 Rhinitis akut

29 Rhinitis vasomotor

30 Rhinitis alergika

31 Benda asing

32 Epistaksis

33 Influenza

34 Pertusis

35 Faringitis

36 Tonsilitis

37 Laringitis

38 Asma bronkial

39 Bronkitis akut

Pneumonia,
40 bronkopneumonia

Tuberkulosis paru tanpa


41 komplikasi

42 Hipertensi esensial

43 Kandidiasis mulut

Ulkus mulut (aptosa,


44 herpes)

45 Parotitis

46 Infeksi pada umbilikus

47 Gastritis

Gastroenteritis (termasuk
48 kolera, giardiasis)

49 Refluks gastroesofagus

50 Demam tifoid

51 Intoleransi makanan

52 Alergi makanan

53 Keracunan makanan
54 Penyakit cacing tambang

55 Strongiloidiasis

56 Askariasis

57 Skistosomiasis

58 Taeniasis

59 Hepatitis A

Disentri basiler, disentri


60 amuba

61 Hemoroid grade

62 Infeksi saluran kemih

63 Gonore

Pielonefritis tanpa
64 komplikasi

65 Fimosis

66 Parafimosis

Sindrom duh (discharge)


genital (gonore dan
67 nongonore)

Infeksi saluran kemih


68 bagian bawah

69 Vulvitis

70 Vaginitis

71 Vaginosis bakterialis

72 Salpingitis

73 Kehamilan normal

74 Aborsi spontan komplit

Anemia defisiensi besi


75 pada kehamilan

76 Ruptur perineum tingkat

Abses folikel rambut atau


77 kelenjar sebasea

78 Mastitis

79 Cracked nipple

80 Inverted nipple

81 Diabetes melitus tipe 1


82 Diabetes melitus tipe 2

83 Hipoglikemia ringan

84 Malnutrisi energi-protein

85 Defisiensi vitamin

86 Defisiensi mineral

87 Dislipidemia

88 Hiperurisemia

89 Obesitas

90 Anemia defisiensi besi

91 Limfadenitis

92 Demam dengue, DHF

Xs
Malaria
93

Leptospirosis (tanpa
94 komplikasi)

95 Reaksi anafilaktik

96 Ulkus pada tungkai

97 Lipoma

98 Veruka vulgaris

99 Moluskum kontagiosum

Herpes zoster tanpa


100 komplikasi

101 Morbili tanpa komplikasi

102 Varisela tanpa komplikasi

Herpes simpleks tanpa


103 komplikasi

104 Impetigo

105 Impetigo ulseratif (ektima)

106 Folikulitis superfisialis

107 Furunkel, karbunkel

108 Eritrasma

109 Erisipelas

110 Skrofuloderma

111 Lepra
112 Sifilis stadium 1 dan 2

113 Tinea kapitis

114 Tinea barbe

115 Tinea fasialis

116 Tinea korporis

117 Tinea manus

118 Tinea unguium

119 Tinea kruris

120 Tinea pedis

121 Pitiriasis vesikolor

Kandidosis mukokutan
122 ringan

123 Cutaneus larva migran

124 Filariasis

125 Pedikulosis kapitis

126 Pedikulosis pubis

127 Skabies

128 Reaksi gigitan serangga

129 Dermatitis kontak iritan

Dermatitis atopik (kecuali


130 recalcitrant)

131 Dermatitis numularis

132 Napkin eczema

133 Dermatitis seboroik

134 Pitiriasis rosea

135 Akne vulgaris ringan

136 Hidradenitis supuratif

137 Dermatitis perioral

138 Miliaria

139 Urtikaria akut

Exanthematous drug
eruption, fixed drug
140 eruption

141 Vulnus laseratum,


punctum

142 Luka bakar derajat 1 dan 2

143 Kekerasan tumpul

144 Kekerasan tajam


PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

KEHARUSAN MELAKUKAN IDENTIFIKASI KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN (KTD)


KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman;
: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam
meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu melakukan
Identifikasi Kejadian tidak diinginkan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indoneisahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/MENKES/SK/III/2008, tentang Pedoman Pengobatan
Dasar di Puskesmas.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

5. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG KEHARUSAN MELAKUKAN
IDENTIFIKASI KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN
Kesatu : Setiap Petugas Pelayanan Klinis di wajibkan
Mengidentifikasi Insiden keselamatan pasien
yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah
pada pasien,Termasuk Kejadian Tidak Diinginkan( KTD).
Kedua : dalam melaksanakan tugasnya tenaga klinis wajib
berpedoman pada kebijakan mutu dan keselamatan Pasien
diPuskesmas Waepana.
Ketiga : keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 20 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

KEHARUSAN MELAKUKAN IDENTIFIKASI KEJADIAN NYARIS CEDERA (KNC)


KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman;
: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam
meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu melakukan
Identifikasi Kejadian Nyaris Cedera.(KNC)
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indoneisahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/MENKES/SK/III/2008, tentang Pedoman Pengobatan
Dasar di Puskesmas.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

5. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG KEHARUSAN MELAKUKAN
IDENTIFIKASI KEJADIAN NYARIS CEDERA.

Kesatu : Petugas layanan klinis wajib melakukan identifikasi


Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah
terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien

Kedua : dalam melaksanakan tugasnya tenaga klinis wajib


berpedoman pada kebijakan mutu dan keselamatan Pasien
diPuskesmas Waepana.

Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan


dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan
diadakan
perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 20 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

KEHARUSAN MELAKUKAN IDENTIFIKASI KONDISI POTENSIAL CEDERA.

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman;

: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam


meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu melakukan
Identifikasi Kejadian Nyaris Cedera.(KNC)

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009


tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indoneisahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang


Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/MENKES/SK/III/2008, tentang Pedoman Pengobatan
Dasar di Puskesmas.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

5. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG KEHARUSAN MELAKUKAN
IDENTIFIKASI KONDISI POTENSIAL CEDERA.

Kesatu : Petugas layanan klinis wajib melakukan identifikasi kondisi


Potensial cedera adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk
menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.

Kedua : dalam melaksanakan tugasnya tenaga klinis wajib


berpedoman pada kebijakan mutu dan keselamatan Pasien
diPuskesmas Waepana.

Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan


dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di: Waepana
pada tanggal : 20 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

KEHARUSAN MELAKUKAN DOKUMENTASI DAN PELAPORAN KEJADIAN TIDAK


DIINGINKAN,KONDISI POTENSIAL CEDERA,DAN KEJADIAN NYARIS CEDERA.

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman di Puskesmas Waepana;
: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam
meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu melakukan
pendokumentasian dan pelaporan insiden Kejadian tidak
diinginkan,kondisi Potensial Cedera dan kejadian Nyaris
cedera.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indoneisahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

4. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG KEHARUSAN MELAKUKAN
DOKUMENTASI DAN PELAPORAN KEJADIAN TIDAK
DIINGINKAN,KONDISI POTENSIAL CEDERA,DAN
KEJADIAN NYARIS CEDERA
Kesatu : Petugas layanan klinis wajib mendokumentasikan Kejadian
tidak diinginkan,kondisi Potensial Cedera,dan kejadian
Nyaris Cedera dan berkewajiban melaporkan semua insiden
ke penanggung jawab Layanan klinis Puskesmas
Waepana,setiap hari kerja.
Kedua : Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya
disebut pelaporan insiden adalah suatu sistem untuk
mendokumentasikan laporan insiden
keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran.
Ketiga : Pelaporan insiden sebagaimana dimaksud pada ayat
ditujukan untuk menurunkan insiden dan mengoreksi sistem
dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien dan tidak
untuk menyalahkan orang (non blaming).
Keempat : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 22 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

PENANGANAN KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN,KONDISI POTENSIAL


CEDERA,DAN KEJADIAN NYARIS CEDERA

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman di Puskesmas Waepana;

: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam


meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu melakukan
Penanganan insiden Kejadian tidak diinginkan,kondisi
Potensial Cedera dan kejadian Nyaris cedera,untuk
mrnghindari

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009


tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang


Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

4. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG PENANGANAN KEJADIAN TIDAK
DIINGINKAN,KONDISI POTENSIAL CEDERA,DAN
KEJADIAN NYARIS CEDERA

Kesatu : Puskesmas Waepana dan tenaga kesehatan yang bekerja di


Puskesmas Waepana wajib
melaksanakan penanganan pasien dengan mengacu pada
kebijakan Keselamatan pasien di Puskesmas Waepana.
Kedua : Penanganan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya
disebut Penanganan insiden adalah suatu sistem untuk
penanganan insiden keselamatan pasien untuk mencegah
terjadi cedera lebih lanjut. .
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 22 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PENANGANAN KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN ( KTD)

PUSKESMAS
WAEPANA SOP No.Dokumen :ksr Di tetapkan oleh
032.1/11/WPN/ Kepala Puskesmas
/02/2015. Waepana

No.Revisi :0

Margareta U.Kromen
Tanggal Terbit: 20 Pebruari NIP:196906281989032005
2015

Halaman :1/1

1. Pengertian Penanganan Kejadian tidak diinginkan adalah penanganan insiden


yang menimbulkan cedera pada pasien,yang dilakukan oleh Tenaga
kesehatan di Puskesmas Waepana,untuk menyelamatkan Nyawa
pasien.
2. Tujuan 1. Mencegah cacat lebih lanjut.
2. Menyelamatkan Nyawa pasien.
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Waepana Nomor
Ksr:032.1/11/WPN/ /02/2015 Tentang Penanganan Kejadian
Tidak Diinginkan (KTD),Kondisi Potensial Cedera(KPC),dan
Kejadian Nyaris Cedera (KNC).
4. Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah sakit.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2015
5. Prosedur/Langkah- 1. Petugas yang menangani pasien melaporkan kepada penanggung
langkah jawab klins tentang Kejadian Tidak dinginkan (KTD) yang
dialami Pasien.
2. Penanggung jawab layanan klinis melakukan pemeriksaan awal
terkait keadaan pasien yang meliputi; suhu,nadi,tekanan darah
dan lokasi cedera.
3. Petugas Memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien
tentang kejadian yang dialami pasien dan kronologis
kejadiannya.
4. Petugas pelayanan klinis memberikan penanganan kepada pasien
sesuai cedera yang dialami.
5. Jika penanganan cedera harus di lakukan oleh TIM maka harus
dilakukan koordinasi dengan Tim.
6. Setelah melakukan penanganan Kepada pasien dilakukan
Evaluasi baik terhadap Kejadian yang dialami pasien maupun
tindakan yang telah dilakukan.
7. Mensosialisasikan Keselamatan pasien setiap ada pertemuan
sebagai proses pembelajaran.
8. Mendokumentasikan semua kegiatan yang telah dilakukan.
6. Unit Terkait Semua Unit pelayanan di Puskesmas waepana.
PENANGANAN KONDISI POTENSIAL CEDERA (KPC)

PUSKESMAS
WAEPANA SOP No.Dokumen :ksr 032.1/11/WPN/ Di tetapkan oleh
/02/2015. Kepala Puskesmas
Waepana
No.Revisi :0

Tanggal Terbit: 20 Pebruari 2015 Margareta U.Kromen


NIP:196906281989032005
Halaman :1/1

1.Pengertian Kondisi Potensial Cedera adalah:selanjutnya disingkat KPC adalah


kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum
terjadi insiden pada pasien di Puskesmas Waepana.
2.Tujuan Mencegah terjadinya cedera pada Pasien.
3.Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Waepana Nomor Ksr:032.1/11/WPN/
/02/2015 Tentang Penanganan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD),Kondisi
Potensial Cedera(KPC),dan Kejadian Nyaris Cedera (KNC).
4.Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
sakit.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun
2015 tentang Puskesmas.
5. Prosedur/Langkah- 1. Petugas yang menangani pasien melaporkan kepada penanggung
langkah jawab klinis tentang Kondisi Potensial Cedera yang dialami Pasien.
2. Penanggung jawab layanan klinis melakukan pemeriksaan awal terkait
keadaan pasien yang meliputi; suhu,nadi,tekanan darah.
3. Petugas Memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tentang
kejadian yang dialami pasien dan kronologis kejadiannya.
4. Penanggung jawab layanan klinis memantau lokasi tempat terjadinya
kejadian.
5. Petugas layanan klinis menanyakan kepada penanggung jawab
Ruangan kronologis kejadian yang dialami pasien.
6. Setelah melakukan penanganan Kepada pasien dilakukan Evaluasi
baik terhadap Kejadian yang dialami pasien maupun tindakan yang
telah dilakukan.
7. Mensosialisasikan Keselamatan pasien setiap ada pertemuan sebagai
proses pembelajaran.
8. Mendokumentasikan semua kegiatan yang telah dilakukan.
6.Unit Terkait Semua Unit pelayanan di Puskesmas waepana.
PENANGANAN KEJADIAN NYARIS CEDERA (KNC)

PUSKESMAS
WAEPANA SOP No.Dokumen :ksr 032.1/11/WPN/ Di tetapkan oleh
/02/2015. Kepala Puskesmas
Waepana
No.Revisi :000

Tanggal Terbit: 20 Pebruari 2015 Margareta U.Kromen


NIP:196906281989032005
Halaman :1/1

1.Pengertian Kejadian Nyaris Cedera selanjutnya disingkat KNC adalah:terjadinya


insiden yang belum sampai terpapar ke pasien di Puskesmas Waepana.
2.Tujuan Mencegah terjadinya cedera pada Pasien.
3.Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Waepana Nomor Ksr:032.1/11/WPN/
/02/2015 Tentang Penanganan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD),Kondisi
Potensial Cedera(KPC),dan Kejadian Nyaris Cedera (KNC).
4.Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
sakit.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun
2015 tentang Puskesmas.
5. Prosedur/Langkah- 1. Petugas yang menangani pasien melaporkan kepada penanggung jawab
langkah klinis tentang kondisi Nyaris Cedera yang dialami Pasien.
2. Penanggung jawab layanan klinis melakukan Pemantuan penyebab
terjadinya kondisi Nyaris Cedera..
3. Petugas Memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tentang
kejadian yang dialami pasien dan kronologis kejadiannya.
4. Penanggung jawab layanan klinis melakukan upaya perbaikan untuk
mencegah terulang kemabili kondisi Nyaris Cedera pada pasien.
5. Penanggung jawab layanan klinis melakukan peertemuan dengan
petugas yang menangani pasien untuk mencari penyebab terjadinya
kondisi Nyaris cedera.
6. Melakukan evaluasi secara rutin setiap bulan untuk meningkatkan
upaya keselamatan pasien di Puskesmas.
7. Mensosialisasikan Keselamatan pasien setiap ada pertemuan sebagai
proses pembelajaran.
8. Mendokumentasikan semua kegiatan yang telah dilakukan.
6.Unit Terkait Semua Unit pelayanan di Puskesmas waepana.
Referensi
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

BUKTI ANALISIS PENANGANAN KEJADIAN NYARIS CEDERA

No Tanggal Uraian kegiatan Hasil Analisa Keterangan

Waepana:
2015

= =
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 02 /2015

TENTANG

PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS

Menimbang : a. bahwa pasien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan


yang bermutu dan aman di Puskesmas Waepana;

: b. bahwa dalam upaya huruh a di wajibkan tenaga klinis dalam


meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien di PUSKESMAS WAEPANA Perlu menerapkan
manajemen resiko Klinis terhadap pasien.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009


tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang


Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

4. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO
KLINIS.

Kesatu : Puskesmas Waepana dan tenaga kesehatan yang bekerja di


Puskesmas Waepana wajib Menerapkan manajemen Risiko
Klinis.

Kedua : Penerapan manajemen Risiko Klinis yang dilakukan di


Puskesmas waepana berpedoman pada panduan mamajemen
resiko klinis Puskesmas Waepana.

Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan


dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 22 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

PANDUAN MANAJEMEN RISIKO KLINIS

DI PUSKESMAS WAEPANA
KECAMATAN SOA-KABUPATEN NGADA.
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.

Dalam Undang-undang kesehatan nomor 23 tahun 1992,pasal 33 di nyatakan bahwa


upaya kesehatan dan keselamatan kerja harus dilaksanakan di semua tempat tugas khususnya
tempat kerja yang mempunyai resiko kesehatan,mudah terjangkit penyakit,atau mempunyai
karyawan lebih dari 10 orang.

Kondisi industri jasa pelayanan kesehatan semakin berkembang dan penuh dinamika
permasalahan. Pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini pun juga penuh permasalahan baik dari
mutu pelayanan, SDM pemberi pelayanan, manajemen pelayanan.

Pelayanan kesehatan di masa depan mendapatkan tantangan yang tidak ringan, termasuk
di Indonesia. Tantangan yang pertama, pelayanan kesehatan dituntut untuk memberikan
Pelayanan dengan biaya yang rendah (baca: murah)namun aharus memberikan pelayanan yang
bermutu tinggi.

Pemberian pelayanan kesehatan harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan kaidah
ekonomi yang benar sehingga upaya yang dikeluarkan oleh penyedia jasa pelayanan kesehatan
menjadi efisien. Penyedia jasa pelayanan kesehatan dituntut untuk terus meningkatkan mutu
pelayanan baik dari aspek kepuasan, kenyamanan serta, keselamatan pasien sehingga pelayanan
kesehatan menjadi efektif.

Tantangan yang kedua, pelayanan kesehatan saat ini tidak hanya terkait dengan masalah
kedokteran (medis teknis) serta kesehatan saja namun juga masalah hukum (kebijakan),ekonomi
dan sosial. Penyedia jasa pelayanan kesehatan saat ini harus memahami berbagai macam aturan
atau kebijakan baik dalam bentuk peraturan, pedoman,petunjuk teknis penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Penyedia jasa pelayanan kesehatan harus memahami konsep dan kaidah di
bidang ekonomi termasuk manajemen keuangan, akuntansi, perpajakan. Penyedia jasa pelayanan
kesehatan juga harus memahami kondisi serta karakteristik sosial masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas waepana,sehingga pemberian pelayanan kesehatan tidak terlepas dari norma, nilai
serta budaya yang berlaku di masyarakat setempat.

Panduan manajemen resiko klinis merupakan upaya sistematis puskesmas dalam rangka
mengurangi resiko akibat pelaksanaan pelayanan Medik.Sedangkan resiko klinik di tujukan
untuk mengurangi bahaya,kesalahan,musibah atau potensi terjadinya hal-hal yang merugikan
pasien terkait dengan atau sebagai dampak asuhan klinis yang di berikan kepada pasien.

Potensi bahaya di Puskesmas Waepana selain penyakit-penyakit infeksi juga bahaya-bahaya lain
yang mempengaruhi keselamatan pasien,Pekerja di Puskesmas maupun para pengunjung.

Mengingat resiko klinis di Puskesmas harus mendapat perhatian dari semua tenaga
kesehatan di puskesmas maka perlu di susun panduan manajemen Risiko klinis sebagai pedoman
kerja Petugas layanan klinis di puskesmas waepana.

Panduan manajemen resiko klinis ini di buat untuk meminimalisir resiko akibat
pelayanan klinis /Medik yang dilakukan di Puskesmas Waepana,dan untuk mengurangi
kesalahan atau potensi terjadinya hal-hal yang merugikan pasien terkait dengan asuhan klinis
yang di berikan kepada pasien.panduan manajemen resiko klinis juga diharapkan dapat menjadi
pedoman dalam pelaksanaan asuhan klinis para petugas pelayanan klinis di Puskesmas
Waepana.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Meminimalisir terjadinya hal-hal yang merugikan pasien dan membuat asuhan pasien
menjadi lebih aman.
2. Tujuan Khusus
a. Mengurangi Kesalahan Diagnosa
b. Mencegah kerugian secara finansial bagi Puskesmas.

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN:

1. Terhadap pasien:

a. Meminimalisir Sekecil mungkin cedera yang tidak diinginkan.

b. Meningkatkan keamanan pasien dan mutu asuhan.

2. Terhadap staf Puskesmas

a. Meningkatkan Kesehatan Petugas.

b. Meningkatkan kesejahteraan dan keamanan staf.

3. Terhadap Puskesmas Waepana/Institusi

a. Menjaga Reputasi Puskesmas Waepana.

b. Meminimum resiko finansial dengan manajemen yang lebih baik.

c. Melaksanakan Fungsi secara maksimal dengan pemanfaatan sebaik-baiknya


sumber daya yang tersedia.

4.Terhadap Masyarakat/Publik.

Meningkatkan Kepercayaan Publik bahwa dengan program manajemen resiko klinik


yang baik,keamanan mereka lebih terjamin.

D. BATASAN OPERASlONAL

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa manajemen resiko adalah


suatau pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidak pastian yang berkaitan
dengan ancaman atau suatu rangkaian aktifitas manusia termasuk penilaian
resiko,Pengembangan strategi untuk mengelola resiko dengan menggunakan pemberdayaan /
pengelolaan sumber daya.

Manajemen Resiko klinis adalah: Suatu upaya sitematis puskesmas dalam rangka
mengurangi resiko akibat pelaksanaan pelayanan Medik.

Sedangkan resiko Klinik mempunyai pengertian sebagai berikut;


bahaya,kesalahan.musibah,atau potensi terjadinya hal-hal yang merugikan pasien terkait dengan
atau sebagai dampak asuhan klinik yang di berikan kepadanya.

E. LANDASAN HUKUM

Landasan Hukum dari Pedoman manajemen resiko Klinis adalah:

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014 tentang Panduan
praktis Klinis bagi Dokter di fasilitas Pelayanan kesehatan primer.
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2015 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat.
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Kualifikasi Sumber Daya Manusia yang bekerja di Puskesmas Waepana hampir semuanya
berpendidikan Diploma III, Kesiapan SDM, utamanya SDM (tenaga) kesehatan baik tenaga
medis, tenaga kePetugasan dan tenaga non medis merupakan unsur yang penting untuk
diperhatikan dalam penyelenggaraan Manajemen Resiko klinis. Kesiapan SDM yang paling
utama adalah aspek kompetensi meliputi:
1) pengetahuan, 2) kemampuan, 3) ketrampilan dan 4) legalitas.
Tenaga kesehatan khususnya tenaga medis harus memiliki pengetahuan tentang
hubungan timbal balik antara faktor biologis, sosial dan emosional dengan penyakit yang
dihadapi (Keputusan Menteri Kesehatan No. 039 Tahun 2007). Oleh karena itu, dalam berikan
pelayanan harus memanfaatkan pendekatan menyeluruh(holistic approach). Selain itu, tenaga
medis harus menguasai kemampuan dan ketrampilan diagnosis, serta kemampuan merujuk yang
handal (Keputusan Menteri Kesehatan No. 039 Tahun 2007). Keberadaan Peraturan Menteri
Kesehatan No. 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan hanya
akan berhasil bila didukung tenaga medis dengan kemampuan merujuk yang handal serta
Pemberian pelayanan yang tidak memenuhi kebijakan (peraturan, ketentuan) .

B. Distribusi Ketenagaan

Sumber daya manusia bidang kesehatan di Puskesmas Waepana berdasarkan jenis


ketenagaan dan status kepegawaian tahun 2013 dapat digambarkan sebagai berikut :

No Jenis Ketenagaan Jumlah Status Kepegawaian Ket

PNS PTT Sukarela

1. Dokter Umum 1 - 1

2. Dokter Gigi 1 - 1

4. Petugas 23 20 - 3 Rawat inap 16


orang

5. Petugas gigi 3 3 - 1 Sekolah

6. Bidan 26 9 6 11 5 Sekolah

7 Nutrisionist 1 1 -

8 Staf kesehatan 5 1 - 4
masyarakat

9 Staf Kesehatan 2 2 - -
Lingkungan

10 Analis 4 2 - 2

11 Farmasi 2 2 -

12 Rekam Medik 2 2 -
13 Sopir 1 1 -

14 Cleaning service 2 - - 2

15 Pemasak 1 - - 1

JUMLAH 73 43 8 22

*Sumber: Data Kepegawaian Puskesmas Waepana, Soa

C. Jadual Kegiatan, termasuk Pengaturan Jaga (Rawat Inap)


Terlampir

BAB III. STANDAR FASILITAS


A. Denah Ruang

Denah Ruangan Petugasan di Puskesmas Waepana,di pisahkan menjadi 3(tiga) bagian


yaitu Ruangan rawat jalan yang terdiri dari : Loket,Poli Umum,Poli Gigi,Ruang MTBS/Ruang
konseling Gisi/Klinik sanitasi/ruang Promkes,Ruang Menyusui, kantor,Ruang
obat.Laboratorium,Ruangan rawat inap umum yang terdiri dari 11 Ruangan Petugasan dengan
11 tempat tidur.,Ruangan Petugasan kesehatan ibu dan anak (KIA) terdiri kamar bersalin dengan
2 tempat tidur,Ruangan tindakan 2 tempat tidur,Ruangan Pemulihan 2 tempat tidur,Ruangan
Nifas 3 Tempat tidur,Ruangan Perinatal 2 inkubator.sedangkan rawat jalan KIA terdiri dari
Ruang administrasi,ruang ANC dan Ruangan KB.

B. Standar Fasilitas

Standart fasilitas yang tersedia di Puskesmas Waepana terdiri dari Kendaraan roda empat
1(satu) buah,sepeda motor 5 buah yang di peruntukan bagi petugas di Desa,peralatan medis dan
juga peralatan non medis yang di butuhkan dalam proses pelayanan di Puskesmas Waepana.
Peralatan medis sesuai standart (terlampir)

BAB IV.TATALAKSANA PELAYANAN

Pelayanan pasien rawat jalan di lakukan dari hari senin sampai jumad, khusus pasien
gawat darurat di lakukan 1x24 jam,baik pada hari kerja maupun pada hari libur.pasien rawat inap
dilakukan 1x24 jam setiap hari.

BAB V.KESELAMATAN PASIEN

1. Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana Puskesmas


membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko,identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien,pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar
dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya
risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2. Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah
setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien,
terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian
Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera.
3. Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden
yang mengakibatkan cedera pada pasien.
4. Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya
insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
5. Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang
sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
6. Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi yang
sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi
insiden.
7. Kejadian sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau
cedera yang serius.
8. Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut pelaporan
insiden adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden
keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran.
Faktor sumber daya juga dapat mempengaruhi keselamatan pasien termasuk peralatan medis
yang tersedia. Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi keselamatan pasien antara lain
kebijakan yang tidak tersedia atau yang tidak ditaati, kompotensi petugas yang belum memenuhi
syarat, perencanaan yang tidak terstruktur. Keadaan lingkungan juga dapat mempengaruhi
keselamatan pasien seperti masalah gangguan lingkunga termasuk desain Ruangan yang tidak
memenuhi syarat, penerangan yang tidak mencukupi.

Budaya keselamatan pasien harus diterapkan lingkungan Puskesmas Waepana termasuk


komunikasi yang efektif terhadap pasien dan keluarga maupun antara petugas dengan petugas.
Komunikasi awal antara pasien atau keluarga oleh petugas memberikan kontribusi yang besar
dalam upaya meningkatan keselamatan pasien di puskesmas. Petugas berkewajiban memberikan
penjelasan secara rinci tentang kemungkinan penyakit pasien dan tindakan yang akan dilakukan
termasuk kegagalan yang terjadi dari tindakana yang akan dilakukan.

Kegiatan lain yang dapat menggambarkan budaya keselamatan pasien di Puskesmas


adalah pelaporan insiden yang sitematis. Pelaporan insiden yang baik sesuai mekanisme akan
mampu mengidentifikasi pemasalahan kemudian dapat dirumuskan solusi perbaikannya.
Pelaporan juga dapat dijadikan proses pembelajaran bagi tenaga kesehatan di Puskesmas
Waepana.

Resiko yang mungkin terjadi pada sarana pelayanan kesehatan :

1. Resiko yang berhubungan dengan Petugasan pasien


2. Resiko yang berhubungan dengan petugas medis
3. Resiko yang berhubungan dengan tenaga non medis
4. Resiko yang berhubungan dengan peralatan
5. Resiko yang berhubungan dengan keuangan
6. Resiko lainnya ( contoh : kendaraan)

Selain resiko yang telah disebutkan di atas, ada juga resiko yang harus diperhatikan :

1. Apakah kita peduli terhadap cara pemberian obat yang benar ?


2. Apakah kita peduli terhadap cara pembuangan limbah medis ?
3. Apakah kita peduli terhadap perlindungan pasien agar tidak tertular penyakit selama
dirawat akibat infeksi nosokomial, penggunaan alat yang tidak steril, penggunaan linen
yang tidak bersih ?
4. Apakah kita peduli dengan Laundry ?
5. Apakah kita peduli akan kondisi gedung tempat pelayanan yang menjamin tidak
mencelakakan pasien ?
Sistem Keselamatan Pasien Di Puskesmas

1. Kajian resiko
2. Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien
3. Pelaporan dan analisis insiden
4. Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi, solusi untuk
meminimalkan tindakan resiko.

Sistem ini diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebakan oleh kesalahan
dalam melakukan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

7 Standar Keselamatan Pasien Di Puskesmas :

1. Hak Pasien :
Pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana
dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD).
2. Mendidik Pasien dan Keluarga :
Puskesmas harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan
tanggungjawab pasien dalam asuhan pasien.
3. Keselamatan Pasien dan kesinambungan Pelayanan :
Puskesmas menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar
tenaga dan unit pelayanan.
4. Penggunaan Metoda Metoda peningkatan Kinerja Untuk Melakukan Evaluasi dan
program Peningkatan Keselamatan Pasien :
Puskesmas harus mendesain proses baru untuk memperbaiki proses yang ada.
Memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisa secara
intensif Kejadian Tidak Diinginkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan
kinerja serta keselamatan pasien.
5. Peran kepemimpinan Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien :
a. Pemimpin mendorong dan menjamin program keselamatan pasien secara
terintegrasi melalui penerapan 7 langkah keselamatan pasien di Puskesmas.
b. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi resiko
keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi Kejadian Tidak
Diinginkan ( KTD).
c. Pemimpin mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit
dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan
pasien.
d. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji,
dan meningkatkan kinerja Puskesmas serta meningkatkan keselamatan pasien.
e. Pimpinan mengukur dan mengakji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan
kinerja Puskesmas dan keselamatan pasien.
6. Mendidik Staf tentang Keselamatan Pasien :
a. Puskesmas memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap
jabatan mencakup keterkaitan jabatan denagan keselamatan pasien secara jelas.
b. Puskesmas menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan unutk
meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan
interdisiplin dalam pelayanan pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien :
a. Puskesmas merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
b. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

7 Langkah Menuju Keselamatan Pasien :

1. Bangun Kesadaran Akan Nilai Keselamata Pasien


Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil
2. Pimpin dan dukung staf anda
Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien.
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan resiko
Kembangkan sistem dan proses pengelolaan resiko serta lakukan spesifikasi dan kajian
yang potensial bermasalah.
4. Kembangkan sistem pelaporan
Pastikan staf agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden serta
Puskesmas mengatur pelaporan.
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
Kembangkan cara cara komunikasi yang terbuka dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
Dorong staf untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan
mengapa kejadian itu timbul.
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan perubahan
sistem pelayanan.

BAB VI.PROSES MANAJEMEN RESIKO KLINIS

A. PROSES MANAJEMEN KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN (KTD)


1. Identifikasi resiko
2. Analisis resiko
3. Evaluasi resiko
4. Perlakuan terhadap resiko
5. Monitoring berkesinambungan
6. Komunikasi

B. KAJIAN KEGAWATAN
1. Kemungkinan Terjadi
a. Sering terjadi :
Kejadian beresiko yang sering terjadi di Puskesmas
b. Kemungkinan besar terjadi :
Peluang terjadi kasus resiko lebih besar
c. Mungkin terjadi :
Kejadian beresiko bisa terjadi atau bisa tidak
d. Sepertinya tidak akan terjadi :
Peluang untuk terjadinya resiko sangat sedikit.
e. Sangat kecil kemungkinan terjadi.
2. Kegawatan
a. Sangat gawat
b. Gawat
c. Sedang
d. Tidak begitu gawat
e. Tidak gawat

C. PENATALAKSANAAN RESIKO.

a.Mengidentifikasi Resiko
Proses ini Meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam pelayanan kepada
pasien di Puskesmas Waepana.identifikasi resiko secara akurat dan kompleks sangatlah
vital dalam manajemen Resiko Klinis.petugas pelayanan Klinis wajib mendata faktor
resiko yang mingkin terjadi sebanyak mungkin. Teknik-teknik yang dapat di gunakan
dalam identifikasi resiko adalah:
Survey : Petugas pelayanan klinis dapat melakukan survey atau pengamatan
sederhana kepada pasien untuk mengetahui kemungkinan terjadinya resiko.
Wawancara : Petugas dapat melakukan wawancara singkat kepada pasien untuk
mengidentifikasi resiko yang mungkin terjadi selama proses Petugasan
pasien.wawancara dapat dilakukan pada pasien maupun pada keluarga atau orang yang
menjaga pasien selama Petugasan
b.Menganalisa Resiko
Setelah melakukan identifikasi Resiko maka di lakukan analisa Resiko yang meliputi:
Berapa besar potensi terjadinya cedera pada pasien,beberapa resiko mungkin dapat di
cegah,ada juga resiko yangh dapat diukur tingkat keseriusannya.analisa resiko dapat
dilakukan oleh semua tenaga pelayanan klinis.

c.Pencatatan dan Pelaporan.


Semua resiko yang di temukan selama proses Petugasan pasien wajib dilakukan
pencatatan dan pelaporan secara teratur.pencatatan resiko pasien dilakukan di status
pasien maupun dalam buku register yang di siapkan,dan dilakukan pelaporan secara
rutin.pelaporan di sesuaikan dengan resiko yang dialami pasien.

d.Monitoring Resiko
Mengidentifikasi,menganalisa dan merencanakan suatu resiko merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari manajemen resiko yang dilakukan di Puskesmas Waepana.manajemen resiko
meliputi siapa yang menangani pasien,pengalaman kerja,dan tingkat resiko yang dialami pasien
serta rencana tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mengatasi resiko yang dapat
terjadi.Monitoring resiko termasuk monitoring tindak lanjut kegiatan resiko yang telah
dilakukan.

e.Penanganan resiko.

Resiko yang dapat ditangani segera dibuatkan rencana penaganan resiko untuk meminimalisir
kemungkinan dampak yang lebih luas dari resiko yang terjadi termasuk petugas yang
berkewajiban melakukan penaganan resiko.semua langkah penanganan resiko wajib di catat
dalam register dan di status pasien yang meliputi nama resiko,uraian mengenai indikator
resiko,faktor pencetus resiko, dampak yang di timbulkan,pengendalian resiko dan tindakan yang
dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya resiko ulangan,dan petugas yang
bertanggung jawab.

f.Memantau resiko

setiap tindakan klinis sangat di mungkinakan untuk terjadinya resiko ,sehingga semua resiko
yang di temukan wajib dilakukan pemantauan untuk mengetahui hasil dari penaganan resiko
yang telah di lakukan.

BAB.VI. KESELAMATAN KERJA

A.Pengertian

Upaya untuk meningkatkan derajad kesehatan dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit
akibat kerja dan pengendalian bahaya di tempat kerja melalui kegiatan Promosi
kesehatan,pengobatan dan rehabilitasi yang dilakukan dengan tahap
perencanaan,pengorganisasian,pelaksanaan dan pengendalian yang bertujuan untuk untuk
membudayakan keselamatan kerja di Puskesmas Waepana.
B.Tujuan

Terciptanya cara kerja,lingkungan kerja yang sehat,aman,nyaman dan dalam rangka


meningkatkan derajad kesehatan pasien,petugas dan masyarakat.

Manfaat

Bagi Puskesmas
a. Meningkatkan mutu Pelayanan.
b. Memperthankan kelangsungan operasional Puskesmas.
c. Meningkatkan citra Puskesmas.

Bagi Petugas
a. Melindungi Petugas dari Penyakit akibat Kerja ( PAK)
b. Mencegah terjadinya kecelakaan akibat Kerja (KAK)
Bagi Pasien dan Pengunjung
a. Mutu layanan yang semakin baik.
b. Memberikan kepuasan pada pasien dan pengunjung.

Kinerja setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan bagian dari tiga(3) komponen
keselamatan pasien di Puskesmas yaitu: Kapasitas Kerja,beban kerja dan lingkungan kerja.

Yang di maksud dengan:

1. Kapasitas Kerja adalah : kemampuan seorang pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan


dengan baik pada suatu tempat kerja dalam waktu tertentu.
2. Beban kerja adalah suatu kondisi yang membeni pekerja baik secara fisik maupun non
fisik dalam menyelesaikan pekerjaannya,kondisi tersebut dapat di perberat oleh kondisi
tersebut dapat di perberat oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung secara fisik
atau non fisik.
3. Lingkungan kerja adalah kondoisi lingkungan tempat kerja yang meliputi faktor
fisik,kimia,biologi,ergonomi dan psikososial yang mempengaruhi pekerja dalam
melaksanakan pekerjaannya.

C . Bahaya Potensial di Puskesmas Waepana.

Bahaya potensial di puskesmas dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja
yaitu di sebabkan oleh faktor biologi ( Virus,Bakteri dan jamur) faktor kimia
(antiseptik,gas);faktor ergonomi (cara kerja yang salah)faktor Fisika (
suhu,cahaya,bising,listrik,getaran);faktor psikososial( jadwal jaga,hubungan sesama
karyawan,hubungan dengan atasan).Bahaya potensial yang di mungkinkan ada di puskesmas
adalah Mikrobiologik desain/fisik,kebakaran,mekanik,kimia/gas/karsinogen dan risiko
hukum/keamanan.

Penyakit akibat kerja (PAK) di Puskesmas,umumnya berkaitan dengan faktor biologik (kuman
patogen yang berasal umumnya dari pasien);faktor kimia(pemaparan dalam dosis kecil namun
terus menerus seperti antiseptik pada kulit) fakto ergonomi ( cara duduk yang salah,cara
mengangkat pasien yang salah,faktor Psikologis( penerimaan pasien,gawat darurat,dan bangsal
Petugasan).add.ddddik supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik da implementasi
perencanaan manajemen resiko

BAB IX PENUTUP

Agar manajemen resiko dapat di terapkan secara baik,maka perlu di siapkan segala hal yang
berkaitan dengan manajemen resiko klinis antara lain prosedur penanganan
resiko,register,formulir pencatatan dan pelaporan juga struktur organisasi manajemen resiko
klinis ( tugas,wewenang,tanggung jawab personil untuk melaksanakan manajemen resiko)dan
sistem informasi pelaporan,pemantauan pelaksanaan manajemen resiko.

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

KERANGKA ACUAN

PERENCANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

I. PENDAHULUAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan diperlukan adanya kesadaran, kemauan dan
kemampuan semua komponen bangsa untuk mewujudkan rakyat yang sehat secara fisik, mental dan
sosial serta memiliki produktivitas yang tinggi.

Salah satu ukuran untuk menggambarkan tingkat pencapaian hasil pembangunan suatu negara,
termasuk pembangunan bidang kesehatan digunakan suatu indikator yang dikenal dengan Indeks
Pembangunan Manusia (human development index). Indeks Pembangunan Manusia, ditentukan oleh
beberapa indikator yaitu, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dari segi kesehatan, indikatornya adalah
umur harapan hidup sebagai salah satu ukuran pencapaian derajat kesehatan masyarakat. Bahwa dalam
rangka pemantapan dan percepatan pembangunan kesehatan,di perlukan sumber daya manusia yang
berkwalitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sehingga mempercepat meningkatkan
derajad kesehatan masyarakat.

Prinsip utama pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai bagian dari upaya kesehatan
perorangan di fasilitas pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan yang bersifat komperhensif
yaitu pelayanan yang bersifat promotif,preventif,Kuratif dan rehabilitatif.sampai sekarang
pelayanan kuratif masih mendominasi pelayanan kesehatan primer karena terbatasnya
waktu,tenaga dan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan non kuratif.

Pelayanan kepada pasien membutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya trampil tapi juga
memiliki sikap dan sifat yang ramah dan sigap dalam memberikan pertolongan kepada
pasien.pelayanan kepada pasien juga harus memperhatikan keselamatan pasien dan keluarga
termasuk pengunjung Puskesmas.Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana Puskesmas
membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi,assesmen resiko,identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungna dengan resiko pasien,pelaporan dan analisis insiden,kemampuan belajar
dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya
resiko dan mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu di tangani segera di
Puskesmas maka di perlukan standart keselamatan pasien yang merupakan acuan bagi
Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan keselamatan pasien di Puskesmas.

II. LATAR BELAKANG

a. Keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu ditangani segera karena


merupakan HAK pasien.
b. Keselamatan pasien adalah bagian dari Upaya mendidik pasien dan Keluarga.
c. Keselamatan pasien merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesinambungan
pelayanan.
d. Keselamatan pasien merupakan pembelajaran penggunaan metoda-metoda
peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi program peningkatan keselamatan
pasien.
e. Keselamatan pasien sangat di tentukan oleh peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien.
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.
g. Keselamatan pasien sangat di pengaruhi oleh komunikasi yang merupakan kunci bagi
staf untuk mencapai keselamatan pasien.

III. TUJUAN
Tujuan umum:
Setelah selesai pelatihan: peserta mampu menerapkan standart keselamatan pasien di
Puskesmas Waepana.

Tujuan khusus

1. Peserta memahami tentang Standart keselamatan pasien.


2. Peserta memahami sasaran keselamatan pasien di Puskesmas.
3. Peserta memahami tujuh langkah keselamatan pasien
4. Peserta memahami pencatatan dan pelaporan keselamatan pasien

IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


1. Penjelasan tentang keselamatan pasien.
2. Pelatihan tentang:
a. Standart keselamatan pasien yang meliputi:
Hak Pasien.
Mendidik pasien dan Keluarga.
Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan.
Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Peran kepemimpinan dalam meningkatakan keselamatan pasien
Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien.
b. Sasaran keselamatan pasien di Puskesmas yang meliputi:
Ketepatan identifikasi pasien.
Peningkatan komunikasi yang efektif.
Peningkatan keamanan oabt yang perlu di waspadai
Kepastian tepat lokasi,tepat prosedur,tepat pasien.
Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Pengurangan resiko pasien jatuh.
c. Penyelenggaraan keselamatan pasien di Puskesmas meliputi
Tujuh Langkah menuju keselamatan pasien:
Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien.
Memimpin dan mendukung staf.
Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko
Mengemabngkan sistem pelaporan
Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.
d. Pelaporan insiden,analisis dan solusi keselamatan pasien.
Sistem pelaporan
analisis dan solusi terkait hasil analisis.

V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


1. Pemaparan materi.
2. Praktek keselamatan pasien/penanganan insiden.
3. Diskusi/tanya jawab.

VI. SASARAN
Semua staf Puskesmas Waepana.

VII. JADUAL PELAKSANAAN


Kegiatan dilaksanakan:
Tempat : Puskesmas Waepana.
Waktu : Setiap Jumad Minggu ke tiga dalam bulan.jam 12-14.00
Peserta : Seluruh Staf Puskesmas Waepana.

VIII. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Evaluasi dilakukan oleh Tim peningkatan manajemen mutu Puskesmas. Terhadap
ketepatan pelaksanaan kegiatan apakah sudah sesuai dengan yang di dapat pada saat
pelatihan atau tidak.

IX. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan dan pelaporan dilakukan setiap ada kejadian(insiden) sedangkan evaluasi
kegiatan dilakukan setiap 3 bulan sekali melalui kegiatan minilokakarya,dan khusus
bagi kasus-kasus yang emergensi,evaluasi dilakukan 1 hari setelah kejadian.

X. PENUTUP
Demikian kerangka acuan ini di buat untuk dapat di pedomani sebagaiamana
mestinya.

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

PERENCANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

I.PENDAHUALUAN

A.Latar Belakang
Terwujudnya kondisi kesehatan masyarakat yang baik adalah tugas dan tanggung jawab dari Negara
sebagai bentuk amanah konstitusi yaitu Undang-undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaannya negara
berkewajiban menjaga mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Mutu pelayanan kesehatan
sangat ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas. Untuk
mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkwalitas dibutuhkan tenaga kesehatan yang mampu
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan selalu memperhatikan kebutuhan dasar
pasien akan kesehatan dan kesembuhan dari penyakit yang di deritannya.

Pelayanan kepada pasien membutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya trampil tapi juga
memiliki sikap dan sifat yang ramah dan sigap dalam memberikan pertolongan kepada
pasien.pelayanan kepada pasien juga harus memperhatikan keselamatan pasien dan keluarga
termasuk pengunjung Puskesmas.Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana Puskesmas
membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi,assesmen resiko,identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungna dengan resiko pasien,pelaporan dan analisis insiden,kemampuan belajar
dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya
resiko dan mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu di tangani segera di
Puskesmas maka perlu dibuat perencanaan program keselamatan pasien bagi semua karyawan
Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan keselamatan pasien di Puskesmas.
B. Tujuan
Tujuan Umum: Sebagai pedoman bagi semua karyawan puskesmas dalam upaya menjaga
keselamatan pasien di Puskesmas Waepana.
Tujuan khusus:
1.Petugas mampu memahami dan menangani kejadian tidak Diharapkan.
2.Petugas mampu menangani Kejadian Potensial Cedera.
3. Petugas mampu menangani Kejadian Nyaris Cedera.

C. Ruang Lingkup Pelayanan.


Ruang lingkup perencanaan Keselamatan pasien meliputi:

1. Pasien dengan kasus kejadian yang tidak diharapkan


Yaitu: insiden yang mengakibatkan cidera pada pasien.
2. Pasien dengan Kejadian Nyaris Cedera
Yaitu terjadinya insiden yang belum terpapar ke pasien.
3. Kejadian Tidak Cedera
Yaitu: insiden yang sudah terpapar Ke pasien tapi tidak menimbulkan cedera.
4. Ketepatan Identifikasi pasien: Pasien;
a) pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien,tidak boleh menggunakan
nomor kamar atau lokasi pasien.
b) Pasien harus diidentifikasi sebelum pemberian obat dan tindakan lainnya.
5. Peningkatan komunikasi yang efektif
a. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan
ditulis secara lengkap oleh penerima pesan.
b. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali
secara lengkap oleh penerima pesan.
c. Perintah atau hasil pemeriksaan di konfirmasi oleh pemberi perintah atau yang
menyampaikan hasil pemeriksaan.
6. Peningkatan Keamanan obat yang perlu di waspadai
a. melakukan identifikasi,pemberian label dan penjelasan prosedur penggunaan obat
secara jelas kepada pasien.
b. Elektrolit Konsentrat tidak boleh berada di unit pelayanan pasien kecuali di
butuhkan secara klinis untuk mencegah kesalahan pemberian.
7. Kepastian Tepat Lokasi,Tepat Prosedur-Tepat Pasien.
a. Melakukan verifikasi Lokasi,prosedur dan pasien yang benar sebelum dilakukan
tindakan.
b. Memastikan bahwa semua dokumen,hasil pemeriksaan di beri label dan
disimpan secara baik.
c. Memastikan peralatan dalam keadaan siap sebelum di gunakan pada pasien.

8. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan


a. Tersedianya pedoman cuci tangan terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima
secara umum.
b. Puskesmas Wajib menerapkan program cuci tangan secara efektif.
c. Prosedur pengurangan Risiko infeksi harus di perhatikan untuk mengurangi infeksi
yang terkait pelayanan kesehatan.
9. Mengurangi Resiko Pasien jatuh.
a. Semua Petugas wajib menjelaskan cara penggunaan tempat tidur bagi pasien rawat
inap untuk mencgah pasien jatuh.
b. Semua petugas wajib mengambil langkah-langkah untuk mencegah pasien jatuh di
Puskesmas.
c. Semua sarana kesehatan lebih diutamakan untuk menjaga keselamatan pasien dan
menghindari cedera bagi pasien.

LANGKAH LANGKAH KEGIATAN PELAKSANAAN KESELAMATAN PASIEN

1. Puskesmas membentuk tim keselamatan pasien di Puskesmas yang terdiri dari :


Ketua : dokter
Anggota : dokter, dokter gigi, Petugas, tenaga kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya

2. Puskesmas mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal


tentang insiden.
3. Puskesmas berusaha memenuhi standar keselamatan pasien dan menerapkan 7
langkah keselamatan pasien.

D.Batasan Operasional

1. Keselamatan pasien adalah: Suatu sistem dimana Rumah Sakit/Puskesmas membuat


asuhan pasien lebih aman yang meliputi assemen Resiko,identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan denag resiko pasien,;pelaporan dan analisis insiden,Kemampuan
belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang di sebabakan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan.
2. Insiden Keselamatan pasien yang selanjutnya di singkat Insiden adalah: setiap kejadian
yang tidak di sengaja dan kondisi yang mengakibatakan atau berpotensi mengakibatkan
cedera atau berpotensi menagkibatkan cedera yang dapat di cegah pada pasien.
3. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) (adverse Event)
Adalah Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil suatu tindakan yang seharusnya diambil , dan bukan
karena penyakit dasarnya atau kondisinyan pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah.
4. Kejadian Nyaris Cedera ( KNC) (near miss)
Adalah terjadinya insiden yang belum terpapar sampai ke pasien akibat melaksanakan
suatu tindakan ( commission) atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan (
ommission) yang dapat mencederai pasien.
5. Kejadian Tidak Cedera (KTC)
Adalah insiden yang sudah terpapar ke pasien tapi tidak menimbulkan cedera.
6. Kondisi Potensial cedera (KPC)
Adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera ,tetapi belum terjadi
insiden.
7. Kejadian Sentinel adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan
kematian atau cedera yang serius.
8. Pelaporan insiden keselamatan pasien adalah: suatu sistem untuk mendokumentasikan
laporan insiden keselamatan pasien,analisis dan solusi untuk pembelajaran.
9. Masalah Keselamatan pasien adalah: adalah masalah keselamatan pasien yang harus
segera di tanagai rumah sakit/Puskesmas berdasarkan penilaian akreditasi Puskesmas
atau Rumah sakit.
10. Sasaran Keselamat pasien adalah : upaya untuk mendorong perbaikan spesifik dalam
keselamatan pasien.
11. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien adalah : tujuh langkah yang di terapkan oleh
puskesmas dalam upaya menuju keselamatan pasien yang terdiri dari; Membangun
kesadaran akan nilai keselamatan pasien,memimpin dan mendukung
staf,mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko,mengembangkan sistem
pelaporan,melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien,belajar dan berbagi pengalaman
tentang keselamatan pasien,mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan
pasien.
12. Kesehatan dan keselamatan kerja adalah: upaya untuk memberikan jaminan keselamata n
dan menigkatkan derjad kesehatan para pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan
penyakit akibat kerja,pengendalian bahaya di tempat kerja,promosi kesehatan pengobatan
dan rehabilitasi.
13. Cidera
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat kecelakaan
14. Kesalahan medis ( Medical erors)
Yaitu kesalahan yang terjadi dalam proses acuan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien. Kesalahan dapat termasuk gagal
melaksanakan sepenuhnya suatu rencana atau menggunakan suatu rencana yang salah
untuk mencapai tujuan.

A. Landasan Hukum
1. Undang undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
3. Undang undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 432/MENKES/SK/IV/2007 tentang
Pedoman manajemen Kesehatan dan keselamatan Kerja(K3) di Rumah Sakit.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi SDM

Semua Tenaga Pelayanan klinis Selain Dokter, harus berstandart pendidikan minimal D3 dengan
pembagian tanggung jawab sesuai kompetensi pendidikan dari masing-masing petugas.

B. Distribusi Ketenagaan

Pola pengaturan ketenagaan di Unit pelayanan dalam rangka meningkatkan pelayanan Sebagai berikut:

a. Untuk Dinas Pagi :

yang bertugas sejumlah 4 ( Empat ) orang dengan standar berpendidikan minimal D3 Khusus
Untuk UGD sebaiknya bersertifikat BLS

Kategori :

1 orang Ka Ru
3 orang Pelaksana

b. Untuk Dinas Sore :

yang bertugas sejumlah 2 ( dua ) orang dengan standar minimal D3.

Kategori :

1 orang Penanggung Jawab Shift

1 orang Pelaksana

c. Untuk Dinas malam :

yang bertugas sejumlah 2 ( dua ) orang dengan standar minimal D3

Kategori :

1 orang Penanggung Jawab Shift

1 orang Pelaksana

C. Pengaturan Jaga

I. Pengaturan Jaga
Pengaturan jadwal dinas Petugas maupun bidan untuk rawat inap umum dan rawat
inap KIA dibuat dan di pertanggung jawabkan oleh Kepala Ruang (Karu) dan
disetujui oleh Kepala UPTD atau Kasubag TU Puskesmas Waepana.
Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke Petugas
dan Bidan pelaksana setiap satu bulan..
Untuk tenaga Petugas yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka
petugas tersebut dapat mengajukan permintaan ijin pada Kepala Ruangan.
Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apa bila tenaga
cukup dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan
disetujui).
Setiap tugas jaga / shift harus ada Petugas penanggung jawab shift ( PJ Shift)
dengan syarat pendidikan minimal D III KePetugasan dan masa kerja minimal 2
tahun, serta memiliki sertifikat tentang kegawat daruratan.
Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas malam, libur
dan cuti.
Apabila ada tenaga Petugas jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai
jadwal yang telah ditetapkan ( terencana ), maka Petugas yang bersangkutan harus
memberitahu Karu : 2 jam sebelum dinas pagi, 4 jam sebelum dinas sore atau dinas
malam. Sebelum memberitahu Karu, diharapkan Petugas yang bersangkutan sudah
mencari tenaga pengganti, Apabila Petugas yang bersangkutan tidak mendapatkan
Petugas pengganti, maka KaRu Ruangan akan mencari tenaga Petugas pengganti
yaitu Petugas yang hari itu libur atau Petugas yang lain.
Apabila ada tenaga Petugas tiba tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah
ditetapkan ( tidak terencana ), maka KaRu Ruangan akan mencari Petugas
pengganti yang hari itu libur.Apabila Petugas pengganti tidak di dapatkan, maka
Petugas yang dinas pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.(Prosedur
pengaturan jadwal dinas Petugas Ruangan sesuai SOP terlampir).

II. Pengaturan Jaga Dokter


Berhubung Dokter umum di Puskesmas hanya 1(satu)orang maka hanya melakukan
pelayana rutin pagi hari sedangkan sore dan malam hari dilakukan konsultasi via telp
atau sms dan jika memungkinkan serta dalam kondisi emergensi dan dokter berada di
tempat maka dokter wajib datang melakukan penanganan kepada p[asien.

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan

B. Standar Fasilitas

I. Fasilitas & Sarana


Puskesmas Waepana terdiri dari Unit rawat jalan,Unit rawat inap termasuk UGD dan Unit
Pelayanaan KIA dan KB untuk Rwat jalan dan rawat inap,juga ada 1 Puskesmas Pembantu,3
Poskesdes dan 2 Polindes serta terdapat 1 balai Pengobatan Swasta.

II. Peralatan
Peralatan yang tersedia di Ruangan berpedoman kepada Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 75 tahun 2014,walauapun belum semuanya tersedia.
Alat yang harus tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatdaruratan.
a. Alat alat untuk ruang resusitasi :
1. Mesin suction ( 1 set )
2. Oxigen lengkap dengan flowmeter ( 1 set )
3. Laringoskope anak & dewasa ( 1 set )
4. Spuit semua ukuran ( masing masing 10 buah )
5. Oropharingeal air way ( sesuai kebutuhan )
6. Infus set / transfusi set ( 5 / 5 buah )
7. Brandcard fungsional diatur posisi trendelenberg, ada gantungan infus & penghalang
( 1 buah )
8. Gunting besar (1 buah )
9. Defribrilator ( 1 buah )
10. Monitor EKG ( 1 buah )
11. Trolly Emergency yang berisi alat alat untuk melakukan resusitasi ( 1 buah )
12. Papan resusitasi ( 1 buah )
13. Ambu bag ( 1 buah )
14. Stetoskop ( 1 buah )
15. Tensi meter ( 1 buah )
16. Thermometer ( 1 buah )
17. Tiang Infus ( 1 buah )

b. Alat alat untuk ruang tindakan bedah


1. Bidai segala ukuran untuk tungkai, lengan, leher, tulang punggung (1 set )
2. Verban segala ukuran :
- 4 x 5 em ( 5 buah )
- 4 x10 em ( 5 buah )
3. Vena seksi set ( 1 set )
4. Extraksi kuku set ( 2 set )
5. Hecting set ( 5 set )
6. Benang benang / jarum segala jenis dan ukuran:
- Cat gut 2/0 dan 3/0 ( 1 buah )
- Silk Black 2/0 ( 1 buah ), 3/0 ( 1 buah )
- Jarum ( 1 set )
7. Lampu sorot ( 1 buah )
8. Kassa ( 1 tromel )
9. Cirkumsisi set ( 1 set )
10. Ganti verban set ( 3 set )
11. Stomach tube / NGT
- Nomer 12 ( 3 buah )
- Nomer 16 ( 3 buah )
- Nomer 18 ( 2 buah )
12. Spekulum hidung ( 2 buah )
13. Spuit sesuai kebutuhan
- 5 cc ( 5 buah )
- 2.5 cc ( 5 buah )
14. Infus set ( 1 buah )
15. Dower Catheter segala ukuran
- Nomer 16 ( 2 buah )
- Nomer 18 ( 2 buah )
16. Emergency lamp ( 1 buah )
17. Stetoskop ( 1 buah )
18. Tensimeter ( 1 buah )
19. Thermometer ( 1 buah )
20. Elastis verban sesuai kebutuhan
- 6 inchi ( 1 buah )
- 4 inchi ( 2 buah )
- 3 inchi ( 1 buah )
21. Tiang infus ( 2 buah )

c. Alat alat untuk ruang tindakan non bedah :


1. Stomach tube / NGT
- Nomer 16 ( 2 buah )
- Nomer 18 ( 2 buah )
- Nomer 12 ( 3 buah )
2. Urine bag ( 3 buah )
3. Otoscope ( 1 buah )
4. Nebulizer ( 1 buah )
5. Mesin EKG ( 1 buah )
6. Infus set ( 1 buah )
7. IV catheter semua nomer ( 1 set )
8. Spuit sesuai kebutuhan :
- 1 cc ( 5 buah )
- 2.5 cc ( 5 buah )
- 5 cc ( 5 buah )
- 10 cc ( 5 buah )
- 20 cc ( 3 buah )
- 50 cc ( 3 buah )
9. Tensimeter ( 1 buah )
10. Stetoskop ( 1 buah )
11. Thermometer ( 1 buah )
12. Tiang infus ( 1 buah )
d. Alat alat untuk ruang observasi
1. Tensi meter ( 1 buah )
2. Oxygen lengkap dengan flow meter ( 1 buah )
3. Termometer ( 1 buah )
4. Stetoskop ( 1 buah )
5. Standar infus ( 1 buah )
6. Infus set ( 1 set )
7. IV catheter segala ukuran ( 1 set )
8. Spuit sesuai kebutuhan
- 1 cc ( 5 buah )
- 2.5 cc ( 5 buah )
- 5 cc ( 5 buah )
- 10 cc ( 5 buah )
- 20 cc ( 3 buah )
- 50 cc ( 3 buah )

a. Alat alat dalam trolly emergency


I. Obat Life saving
II. Obat penunjang
III. Alat alat kesehatan
1. Ambu bag / Air viva untuk dewasa & anak ( 1 buah / 1 buah )
2. Oropharingeal airway
- Nomer 3 ( 2 buah )
- Nomer 4 ( 2 buah )
3. Laringoscope dewasa & anak ( 1 set )
4. Magyl forcep
5. Face mask ( 1 buah )
6. Urine bag non steril ( 5 buah )
7. Spuit semua ukuran
8. Infus set ( 1 set)
9. Endotracheal tube ( dewasa & anak )
- Nomer 2.5 ( 1 buah )
- Nomer 3 ( 1 buah )
- Nomer 4 ( 1 buah )
- Nomer 7 ( 1 buah )
- Nomer 7.5 ( 1 buah )
- Nomer 8 ( 1 buah )
10. Slang oksigen sesuai kebutuhan
11. Stomach tube / NGT
- Nomer 16 ( 2 buah )
- Nomer 18 ( 2 buah )
- Nomer 12 ( 3 buah )

12. IV catheter sesuai kebutuhan


- Nomer 18 Cath / Terumo ( 2 / 2 buah )
- Nomer 20 Cath / Terumo ( 2 / 16 buah )
- Nomer 22 Cathy / terumo ( 2 / 11 buah )
13. Suction catheter segala ukuran
- Nomer 10 ( 3 buah )
- Nomer 12 ( 2 buah )
14. Neck collar Ukuran S / M ( 2 / 1 )

e. Kendaraan
Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien puskesmas Waepana saat ini memiliki 1
( satu) unit mobil Puskesmas keliling yang kegiatannya berada dalam koordinasi Kepala UPTD
Pusksmas Waepana dan kasubag TU,dengan kelengkapan kendaraan Sebagai Berikut:
Syarat Mobil Pusling:
A. Perlengkapan Ambulance
1. Ac
2. Sirine
3. Lampu rotater
4. Sabuk pengaman
5. Sumber listrik / stop kontak
6. Lemari untuk alat medis
7. Lampu Ruangan
8. Wastafel
B. Alat & Obat
1. Tabung Oksigen ( 1 buah )
2. Mesin suction ( 1 buah )
3. Monitor EKG 1 buah )
4. Stretcher ( 1 buah )
5. Scope ( 2 buah )
6. Piala ginjal ( 5 buah )
7. Tas Emergency yang berisi :
Obat obat untuk life saving
Cairan infus : RL, NaCL 0,9 % ( 5 / 10 kolf )

Senter ( 2 buah )

Stetoskop ( 3 buah )

Tensimeter ( 1 buah )

Piala ginjal ( 5 buah )


Oropharingeal air way

Gunting verban ( 2 buah )

Tongue Spatel ( 1 buah )

Reflex hummer ( 2 buah )

Infus set ( 1 buah )

IV chateter ( Nomer 20 , 18 : 2 : 2 )

Spuit semua ukuran ( masing- masing 2 buah )

Sebagian syarat ini belum tersedia di mobil Puskesmas karena,selain untuk pasien mobil Puskesmas
juga digunakan untuk kepentingan Puskesmas Lainnya.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. TATA LAKSANA PENDAFTARAN PASIEN

I. Petugas Penanggung Jawab

Petugas Loket

Petugas pelayanan

II. Perangkat Kerja

Status Medis

Register

Kartu Berobat

III. Tata Laksana Pendaftaran Pasien Rawat jalan

Sesuai SOP yang Berlaku.


B. TATA LAKSANA SISTIM KOMUNIKASI RUANGAN

I. Petugas Penanggung Jawab

Kepala Ruangan

Petugas lainnya.

II. Perangkat Kerja

Hand phone

III. Tata Laksana Sistim Komunikasi RUANGAN

Komunikasi di Puskesmas Waepana melalui Hand phone baik ke nomor kepala

Puskesmas,kasubag TU maupun nomor Petugas Kesehatan di Puskesmas lainnya.

D. TATA LAKSANA PENGISIAN INFORMED CONSENT

I. Petugas Penangung Jawab

- Dokter

- petugas jaga.

II. Perangkat Kerja

- Formulir Persetujuan Tindakan

III. Tata Laksana Informed Consent

Sesuai SOP yang berlaku.

E. TATA LAKSANA TRANSPORTASI PASIEN

I. Petugas Penanggung Jawab

- Petugas Ruangan

- Supir

II. Perangkat Kerja

- mobil Puskesmas

- Alat Tulis

III. Tata Laksana Transportasi Pasien Rujukan


1. Bagi pasien yang memerlukan penggunaan mobil Puskesmas maka petugas jaga

menghubungi Sopir yang piket hari itu.

2. Petugas ruangan menyiapkan alat medis sesuai dengan kondisi pasien.

B. TATA LAKSANA PELAYANAN FALSE EMERGENCY

I. Petugas Penanggung Jawab

Petugas Administrasi

Dokter

II. Perangkat Kerja

Stetoscope

Tensi meter

Alat Tulis

III. Tata Laksana Pelayanan False Emergency

1. Pasien / keluarga pasien mendaftar dibagian Administrasi

2. Dilakukan triase untuk penempatan pasien.

3. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter.

4. Dokter menjelaskan kondisi pasien pada keluarga / penanggung jawab

5. Bila perlu dirawat / observasi pasien dianjurkan kebagian admission.

6. Bila tidak perlu dirawat pasien diberikan resep dan bisa langsung pulang

7. Pasien dianjurkan untuk kontrol kembali sesuai dengan saran dokter

C. TATA LAKSANA PELAYANAN VISUM ET REPERTUM

I. Petugas Penanggung Jawab

Petugas Rekam Medis

Dokter jaga RUANGAN

II. Perangkat Kerja

Formulir Visum Et Repertum RUANGAN

III. Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum

1. Petugas jaga menerima surat permintaan visum et repertum dari pihak kepolisian

2. Surat permintaan visum et repertum diserahkan petugas atau dokter yang melakukan

Visum untuk di tindak lanjuti.

3.Setelah hasil Visum selesai di buat di serahkan ke pihak kepolisian.


I. TATA LAKSANA SISTIM RUJUKAN

I. Petugas Penanggung Jawab

Dokter.

Petugas RUANGAN

II. Perangkat Kerja

Kendaraan

Formulir persetujuan tindakan

surat rujukan

III. Tata Laksana Sistim Rujukan RUANGAN

1. Rujukan Pasien

Mengikuti SOP Rujukan yang tersedia.

2. Pemeriksaan Diagnostik

Pasien / keluarga pasien dijelaskan oleh dokter jaga mengenai tujuan pemeriksaan

diagnostik, bila setuju maka keluarga pasien harus mengisi informed consent

Petugas RUANGAN menghubungi rumah sakit rujukan

2. Spesimen

Mengikuti SOP Rujukan yang tersedia.

BAB V
LOGISTIK
Penyediaan obat dan bahan habis pakai dilakukan melalui Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan
kabupaten Ngada. Kebutuhan obat dan bahan habis pakai dianfrak tiap bulan berdasarkan analisis
kebutuhan obat dan bahan habis pakai bulan yang lalu dengan cadangan 10 %, diajukan kepada
dinas Kesehatan. Pengadaan obat dan bahan habis pakai dilakukan oleh petugas farmasi
puskesmas Waepana yang disetujui oleh Kepala Puskesmas Waepana atau Kasubag TU.

Distribusi obat,dan bahan habis pakai dari puskesmas dilakukan tiap bulan sesudah dilakukan
penganfrakan ke Dinas Kesehatan,sedangkan untuk pasien dirawat inap di Resepkan setiap hari
oleh Dokter.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian

Keselamatan Pasien ( Patient Safety )

Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

Sistem tersebut meliputi :

Asesmen resiko
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
Pelaporan dan analisis insiden
Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :

Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan


Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

B. Tujuan
Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit
Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan Kejadian Tidak
Diharapkan ( KTD )
STANDAR KESELAMATAN PASIEN

1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD )

ADVERSE EVENT :

Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan
karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau
bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah

KTD yang tidak dapat dicegah

Unpreventable Adverse Event :

Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan mutakhir

KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC )

Near Miss :

Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius
tidak terjadi :

Karena keberuntungan
Karena pencegahan
Karena peringanan

KESALAHAN MEDIS

Medical Errors:

Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien
KEJADIAN SENTINEL

Sentinel Event :

Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius; biasanya dipakai untuk
kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti : operasi pada bagian tubuh
yang salah.

Pemilihan kata sentinel terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti, amputasi pada kaki
yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang
serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

C. TATA LAKSANA
a. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien
b. Melaporkan pada dokter.
c. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
d. Mengobservasi keadaan umum pasien
e. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir Pelaporan Insiden Keselamatan

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

I. Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih tinggi
karena pengidap HIV tidak menampakkan gejal. Setiap hari ribuan anak berusia kurang dari 15
tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 - 49 tahun terinfeksi HIV. Dari keseluruhan kasus baru 25%
terjadi di Negara - negara berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan
penanggulangan yang memadai.

Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus yang sangat
bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya kasus secara langsung ke
masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi penularan dimasyarakat cukup tinggi
(misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelingdung, pelayanan kesehatan yang belum aman
karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan bersama peralatan
menembus kulit : tato, tindik, dll).

Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui tindakan pada
pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut data PMI angka kesakitan
hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08% pada tahun 1998 dan angka kesakitan
hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit ini sering tidak
dapat dikenali secara klinis karena tidak memberikan gejala.

Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan untuk


mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak dari penyebaran
infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui Kewaspadaan Umum atau
Universal Precaution yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus menjadi
ancaman bagi Petugas Kesehatan.

Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak langsung
dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai resiko terpajan
infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan darinya dari
resiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal.

II. Tujuan
a. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi diri
sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
b. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai resiko tinggi
terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya, untuk menghindarkan paparan
tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip Universal Precaution.

III. Tindakan yang beresiko terpajan


a. Cuci tangan yang kurang benar.
b. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
c. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
d. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
e. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
f. Praktek kebersihan Ruangan yang belum memadai.

IV. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah menjaga
higiene sanitasi individu, higiene sanitasi Ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tesebut
dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :

a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang


b. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak
dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
c. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
d. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
e. Pengelolaan limbah dan sanitasi Ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di Puskesmas Waepana adalah jumlah kejadian sentinentil di bagi
jumlah semua pasien yang dilayani dalam bulan yang sama.Dalam pelaksanaan indikator mutu puskesmas
melakukan evaluasi secara rutin setiap bulan dan berkomitment melakukan perbaikan untuk
meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas.

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

BUKTI PELAKSANAAN KESELAMATAN PASIEN

Nama Pasien :

Tgl Lahir/Umur :

Nama Kepala Keluarga :

Agama :

Alamat :
Tanggal Jenis Kejadian Tindakan yang Hasil evaluasi Rencana Tanda
/bulan/tahun dilakukan tindak lanjut tangan
petugas
yang
merawat.

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 04 /2015

TENTANG

EVALUASI DAN PERBAIKAN PERILAKU PELAYANAN KLINIS

Menimbang : a. bahwa mutu pelayanan klinis tidak hanya ditentukan oleh


sistem pelayanan yang ada tetapi juga perilaku petugas
dalam memberikan pelayanan;
: b. bahwa dalam upaya huruh a wajib dilakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas pelayanan klinis baik dalam
pemberian pelayanan maupun perbaikan pada sistem
pelayanan yang mencerminkan budaya Keselamatan pasien
dan budaya perbaikan yang berkelanjutan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2.
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 72 TAHUN 2012
TENTANG SISTEM KESEHATAN NASIONAL
3 Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1464 Tahun 2010
Tentang izin dan penyelenggaraan praktik Bidan.
4 Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

6. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG EVALUASI DAN PERBAIKAN PERILAKU
PELAYANAN KLINIS
Kesatu : Evaluasi dan perbaikan perilaku layanan klinis oleh tenaga
klinis dalam pelayanan klinis kepada pasien dilakukan setiap
3 bulan.
Kedua : Penanggung jawab pelaksanaan evaluasi perilaku petugas
dalam pelayanan klinis di tetapkan dengan Surat keputusan
kepala Puskesmas waepana. .
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 22 Februaril 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 04 /2015

TENTANG

PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN EVALUASI


PERILAKU PETUGAS DALAM PELAYANAN KLINIS

Menimbang : a. bahwa mutu pelayanan klinis tidak hanya ditentukan oleh


sistem pelayanan yang ada tetapi juga perilaku petugas
dalam memberikan pelayanan;
: b. bahwa dalam upaya huruh a wajib dilakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas pelayanan klinis baik dalam
pemberian pelayanan maupun perbaikan pada sistem
pelayanan yang mencerminkan budaya Keselamatan pasien
dan budaya perbaikan yang berkelanjutan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2.
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 72 TAHUN 2012
TENTANG SISTEM KESEHATAN NASIONAL
3 Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1464 Tahun 2010
Tentang izin dan penyelenggaraan praktik Bidan.
4 Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

6. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN
EVALUASI PERILAKU PETUGAS DALAM
PELAYANAN KLINIS
Kesatu : Petugas yang di beri tanggung jawab melakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas dalam pelayanan klinis
bertanggung jawab melakukan evaluasi setiap 3 bulan dan
melaporkan kepada kepala Puskesmas.
Kedua : Penanggung jawab pelaksanaan evaluasi perilaku petugas
dalam pelayanan klinis adalah Kepala Sub Bagian Tata
Usaha pada Puskesmas Waepana.
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 24 April 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

BUKTI PELAKSANAAN EVALUASI PERBAIKAN PERILAKU


PELAYANAN KLINIS.

Nama Petugas :

Jabatan :

Tanggal di Evaluasi :

NO HASIL EVALUASI TINDAK LANJUT HASIL KEGIATAN


Waepana : 2015

Penanggung jawab Evaluasi

= =

PEMERINTAH KABUPATEN NGADA


DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 04 /2015

TENTANG

BUDAYA MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN DALAM


PELAYANAN KLINIS DI PUSKESMAS

Menimbang : a. bahwa mutu pelayanan klinis tidak hanya ditentukan oleh


sistem pelayanan yang ada tetapi juga perilaku petugas
dalam memberikan pelayanan;
: b. bahwa dalam upaya huruh a wajib dilakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas pelayanan klinis baik dalam
pemberian pelayanan maupun perbaikan pada sistem
pelayanan yang mencerminkan budaya Keselamatan pasien
dan budaya perbaikan yang berkelanjutan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2.
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 72 TAHUN 2012
TENTANG SISTEM KESEHATAN NASIONAL
3 Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1464 Tahun 2010
Tentang izin dan penyelenggaraan praktik Bidan.
4 Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75


tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

6. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN
EVALUASI PERILAKU PETUGAS DALAM
PELAYANAN KLINIS
Kesatu : Petugas yang di beri tanggung jawab melakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas dalam pelayanan klinis
bertanggung jawab melakukan evaluasi setiap 3 bulan dan
melaporkan kepada kepala Puskesmas.
Kedua : Penanggung jawab pelaksanaan evaluasi perilaku petugas
dalam pelayanan klinis adalah Kepala Sub Bagian Tata
Usaha pada Puskesmas Waepana.
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 24 April 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005
PEMERINTAH KABUPATEN NGADA
DINAS KESEHATAN
KECAMATAN SOA
PUSKESMAS WAEPANA

SURAT KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

NOMOR : Ksr 032.1/11/WPN/ / 04 /2015

TENTANG

PENYUSUNAN INDIKATOR KLINIS

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan klinis di


Puskesmas Waepana maka perlu di susun indikator
Pelayanan klinis.
: b. bahwa dalam upaya huruh a wajib dilakukan penyusunan
indikator klinis yang berpedoman pada pedoman layanan
klinis yang baku dan dapat dipertanggung jawabkan.
Mengingat ` 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 tahun
2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
3 Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1464 Tahun 2010
Tentang izin dan penyelenggaraan praktik Bidan.
4 Permenkes No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
tahun 2014, tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.
6 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2014 tentang Panduan Praktis Klinis bagi Dokter di
fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
7. Peraturan Bupati Ngada nomor 12 tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS WAEPANA


TENTANG PENYUSUNAN INDIKATOR KLINIS
PELAYANAN KLINIS.
Kesatu : Petugas yang di beri tanggung jawab melakukan evaluasi
terhadap perilaku petugas dalam pelayanan klinis
bertanggung jawab melakukan evaluasi setiap 3 bulan dan
melaporkan kepada kepala Puskesmas.
Kedua : Penanggung jawab pelaksanaan evaluasi perilaku petugas
dalam pelayanan klinis adalah Kepala Sub Bagian Tata
Usaha pada Puskesmas Waepana.
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Waepana
pada tanggal : 24 April 2015
KEPALA PUSKESMAS WAEPANA

Margareta U.Kromen
NIP:1906906281989032005