Anda di halaman 1dari 114
i” Tee eal Pembimbing pada PENGENALAN PERJANJIAN LAMA oleh Denis Green ~. PENERBIT GANDUM MAS an KOTAK POS 46 — MALANG, JATIM i : s Kata Pengantar Setelah beberapa tahun kami sebagai dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara ditugaskan untuk mengajarkan mata kuliah Pengantar Perjanjian Lama, kami mengetahui bahwa tidak banyak bahan di bidang studi tersebut yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu kami mulai menyusun bahan-bahan yang dapat memberikan pengertian dasar mengenai pembentukan, isi dan ajaran pokok Perjanjian Lama. Pada mulanya, bahan tersebut hanya direncanakan sebagai pegangan untuk mahasiswa kami, tetapi akhirnya atas dorongan rekan sepelayanan kami di Seminari Alkitab Asia Tenggara kami mempersiapkannya untuk diterbitkan. Namun demikian kami sangat menyadari bahwa bahan ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan. Buku ini dikarang atas suatu prinsip yang mendasar dan tetap, yaitu bahwa Alkitab seluruhnya merupakan Firman Allah yang diwahyukan kepa~ da manusia. Walaupun pihak-pihak tertentu telah berusaha untuk menaruh keraguan terhadap ketulenan Alkitab (khususnya bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama) sebagai Firman Allah yang benar, dan walaupun data-data tertentu mengenai beberapa kitab (misalnya, identitas penulis dan waktu penulisan) masih belum dapat dipastikan secara final, namun kami tetap berpegang pada prinsip bahwa Penulis Agung Perjanjian Lama, bahkan seluruh Alkitab, adalah Roh Allah yang mengilhami setiap penulis manusiawi. Oleh karena itu Alkitab sebagai Firman Allah yang sejati perlu dipelajari dan dimengerti oleh setiap orang Kristen, karena hanya Firman itulah yang merupakan satu-satunya dasar iman yang kokoh. Pengantar Perjanjian Lama merupakan bidang studi yang sangat fuas, yang tidak mungkin dibahas atau pun disinggung semuanya dalam buku yang singkat ini. Oleh karena penulisan kitab-kitab Perjanjian Lama berhubungan erat dengan lingkungan hidup dan sejarah orang Israel, maka dalam Bab I kami memberikan sedikit keterangan tentang keadaan geografis, ringkasan sejarah, dan penjelasan singkat tentang kesusasteraan dan perkembangan agama bangsa tersebut. Kemudian dalam bab-bab berikutnya kami mem- bahas secara ringkas tiap-tiap kitab Perjanjian Lama dari segi latar belakang penulisannya, isinya dan ajaran pokoknya masing-masing. Kami berharap agar buku ini akan berfaedah terutama bagi mahasiswa theologia yang ingin mendapatkan suatu pengenalan akan Perjanjian Lama, walaupun bagi mereka yang ingin sungguh-sungguh menguasai bidang studi ini tentunya harus mempelajarinya secara lebih dalam lagi dengan meng- gunakan buku-buku yang sampai sekarang hanya diterbitkan dalam bahasa Inggeris. Demikian pula kami berharap agar orang Kristen awam, yang kami lihat pengetahuannya tentang Perjanjian Lama pada umumnya sangat kurang, akan tertarik untuk menambah pengetahuan mereka melalui buku yang cukup sederhana dan mudah dibaca ini. Kami juga tidak lupa untuk menyampaikan ucapan terima kasih sebesar- besarnya atas bantuan beberapa orang sehingga tugas ini dapat kami laksanakan, khususnya: Dr, John H. Steward Ph.D., B.D. untuk sumbangan bahan mengenai penulisan kitab-kitab Pentateuch; Ny. Laurian Gill B.A., Dip.Lib., B.D., yang telah meminjamkan bahan kuliahnya Pengantar Per- janjian Lama; Bp. Haris Sunardi B.A, sebagai konsultan bahasa; Pdt. Yakub Susabda, S.Th., M.C.E., M.Th. yang telah memberikan banyak nasihat serta dorongan bagi kami; dan Ny. Carol Green yang telah berjerih payah besar mengetik naskah ini beberapa kali. Akhirnya, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Penerbit Gandum Mas atas kesediaan dan pertolongan- nya dalam menerbitkan buku ini. Malang, April 1984. Pdt. Denis Green LL.B,B.D. DAFTAR ISI KATA]PENGANTIARQ ccc yee as ee v Peta Daerah Timur Kuno 1x Palestina pada Zaman Perjanjian Lama . x BABI : LATAR BELAKANG 1 I imu Bumi Perjanjian Lama . 1 II Sejarah Perjanjian Lama .... 5 Il] Kesusasteraan Perjanjian Lama at IV Perkembangan Agama Israel Pada Zaman Perjanjian Lama .. 28 Y Kanon Perjanjian Lama 38 BAB II PENTATEUCH .......... eu 41 Penulisan ............. 4h Isi Pentateuch secara ringkas . 46 Kejadian .. 47 Keluaran 51 Imamat . 56 Bilangan . 62. PETA: Rute Perjalanan Orang Israel dari Mesir ke Kanaan . 64 Ulangan ... 68 BAB III : KITAB-KITAB SEJARAH .............. pcs eee 73 Pengantar . 3 Yosua 75 PETA: Pembagian tanah Kanaan diantara kedua belas Suku Israel . 7 Hakim-Hakim gl Pe eens 85 I & I Samuel 87 1 & Ul Raja-Raja . 95 1 & I Tawarikh + 103. Ezra-Nehemiah . 110 Ester .. 7 BAB IV : KITAB-KITAB SYAIR ...............$.0000eeeeeeee Pengantar Kesusasteraan Hikmat Ayub - 130 132 Amsal .. 136 Pengkhotbah 139 Kidung Agung . 143 BAB V PENGANTAR KITAB-KITAB PARA NABI ......... 148 Nabi sebagai ahli sejarah . 148 Sifat Nubuat dalam kebudayaan Yahudi 148 Jabatan Nabi ................00000+ 149 Fungsi Nabi dalam masyarakat Yahudi 150 Skema Pelayanan para nabi - St BAB VI : NABI-NABI BESAR ...........--+2s0sceeeeeee eens 152 Yesaya .. = 182, Yeremia . - 162 Ratapan .. 170 Yehezkiel . Daniel .... BAB VII: NABI-NABI KECIL . « 185 Hosea ¢. 185 Yoel .. 188 Amos . 190 Obaja . -. 193 Yunus - 195 Mikha 198 Nahum . 201 Habakuk 203 Zefanya . 205 Hagai 207 Zakharia ++ 208 Maleakhi + 213 APPENDIX: KALENDER YAHUDI .............0..0020eeeee 216 DAFTAR KEPUSTAKAAN ..........0-. 0. cee seen teen eee eeee 218 7 8nans wavs ep oxas WOW. HVYSVG yesuaL veaney gery ‘uning suepeg midsey sme, 5 LAUTAN TENGAH G. Karmel (NJ, + Bersyeba Amalek, Padang Gurun Sin D. Esdralon G, Tabor Mepido » + G.Gilboa Dotan « SAMARIA, Yerusatem . YUDEA, Hebron o °t.Litanon GALILEA + G. Gerizim Betels Yerikho, Gitgal + Betiehem En-Gedi * EDOM » Damsyike Anti-zip, "anon + G. Hermon Dan by Mata Air Herom (Huleh) ‘¢ Ramot Gileac *Yabesy ~ Gileed AMON MOAB PALESTINA PADA ZAMAN PERJANJIAN LAMA BABI Latar Belakang |. ILMU BUMI PERJANJIAN LAMA A. Daerah Timur Kuno Daerah kejadian-kejadian Perjanjian Lama pada garis besarnya ter- masuk lembah utara dan delta/beting sungai Nil, semenanjung Sinai, negara- negara Palestina, Fenisia, Aram (Siria), lembah-lembah sungai Efrat, Tigris, dan negara Persia (Iran). Sekarang seluruh daerah yang luas itu disebut “‘Sabit Subur’’ (Fertile Crescent). i 1, Penduduknya mendiami daerah yang berbentuk seperti dua garis meman- jang yang merupakan lengan daripada suatu sudut, dengan ujung sudut itu terletak di dekat mata air sungai Efrat. Garis timur dari sudut tersebut menuju ke arah Selatan melalui lembah Efrat sampai ke Teluk Persia. Pada garis itu terdapat bangsa Asyur, Babel dan Persia. Pada garis Barat-daya, terdapat bangsa Aram (Siria)¢ Fenisia, Israel dan Mesir. 2. Kedua sistim-sungai yang besar, yaitu sungai Nil (bagian Barat daya) dan Efrat-Tigris (bagian Timur laut) memungkinkan tanah datar yang luas dan berpengairan. Kedua daerah daratan tersebut menjadi pusat daripada dua kekuasaan besar pada masa Perjanjian Lama, yaitu Mesir dan Mesopotamia (Babel). 3. Perhatikanlah letak Israel di antara kedua kekuasaan besar tersebut. Mula- mula Mesir, kemudian Asyur, setelah itu Babel, Persia dan kerajaan-kerajaan Ptolemy dan Seleucus (raja-raja Yunani/Gerika), sangat mempengaruhi | jalannya sejarah Israel. Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang kuat itu, Israel kelihatan kecil dan tidak berdaya, bahkan tidak berarti bagi pan- dangan duniawi. Akan tetapi Israel telah menandai dan mempengaruhi se- jarah dunia dari segi 4gama dengan cara yang tidak tercapai oleh kerajaan- kerajaan yang lain itu. 8. Palestina Tanah Palestina atau Kanaan adalah daerah yang terletak di antara Lautan Tengah sebagai batas Barat dan Padang Gurun Arab sebagai batas Timur. Batas Utara dan Selatan tidak ditetapkan dengan pasti, tetapi kira- 1 kira sesuai dengan ucapan yang sering kali terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu “‘dari Dan sampai Bersyeba”’ (Hakim-hakim 20:1; II Sam. 3:10; 17:11; I Tawarikh 21:2; II Tawarikh 30:5). Nama ‘‘Palestina”’ berasal dari nama “Filistin”’ sebab orang-orang itu menduduki dataran pantai. Panjang tanah Palestina dari Dan sampai Bersyeba kurang-lebih 240 km, sedangkan lebarnya kalau dihitung dari sungai Yordan ke pantai kurang- lebih 95 km di bagian Selatan, dan kurang-lebih 50 km di bagian Utara. Di sebelah Timur sungai Yordan, garis perbatasan agak kurang jelas. 1, Sifat Umum — pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung itu, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Sebagai orang yang biasa hidup di daerah pegunungan, bani Israel kurang pandai berperang di tanah datar (Hakim-hakim 1:19), walaupun kemudian mereka mulai memakai pasukan kuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh sebab itu bani Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama, sedangkan Dataran Esdralon sering menjadi tempat perjuangan, yang tidak selalu berhasif baik bagi ten- tara Israel. 2. Bagian-bagian Umum — Tanah Palestina dengan sendirinya terbagi men- jadi empat bidang dengan arah Utara-Selatan. (a) ‘“Dataran Pantai”’, yang menyusur Lautan Tengah dari Gunung Karmel ke Selatan. (b) ‘Pegunungan Tengah’’, yang mulai dari Libanon dan mengarah terus ke padang gurun Selatan, dengan Datar Esdralon (Yizreel) di pertengahannya. (©) “Lembah Yordan’’, termasuk Laut Galilea dan Laut Mati. (d@) ‘Pegunungan Timur’’, mulai dari.G. Hermon sampai ke tanah Moab. (a) Dataran Pantai: Lebarnya berubah-ubah dari 8 sampai 24 km. Di sebelah Utara G. Karmel terletak Fenisia dengan pelabuhan-pelabuhannya yang terkenal, yaitu Tirus dan Sidon. Tetapi dari Karmel ke Selatan, garis pantai lurus saja dengan hanya satu tempat sebagai kemungkinan pelabuhan, yaitu Yope (Jaffa), yang sejak semula menjadi pelabuhan Kota Yerusalem. (b) Pegunungan Tengah: (i) Bagian Utara — Di sini sebenarnya terdapat dua pegunungan, yaitu Libanon dan Anti-Libanon. Di antara dua pegunungan tersebut ter- dapat rute yang biasanya dipakai oleh penyerbu-penyerbu dari Utara/Timur. Para pemazmur dan nabi sering menyebutkan ten- tang salju, pohon-pohon cedar, sungai-sungai, keindahan dan kesuburan daerah Libanon itu (Y¢ Kidung Agung 4:15; Yes. 60:13). Gunung yang paling tinggi di bagian ini adalah Hermon (2800 m) yang ditutupi oleh salju, juga disebut “‘Siryon” di Perjanjian Lama (UI. 3:9; Maz. 42:7; 89:13; 133:3). Menuju ke Selatan, pegunungan Libanon (Barat) menjadi pegunungan Galilea, yang tidak setinggi pegunungan Libanon. Bagian ini jarang masuk sejarah Perjanjian Lama karena jauh dari pusat kejadian-kejadian besar. Namun, pada zaman Perjanjian Baru, daerah Galilea itu menjadi . tempat yang sangat penting. (ii) Pegunungan Samaria — sebelah Selatan Dataran Esdralon, Pegunungan Tengah memasuki daerah “‘pegunungan Samaria”, tanah yang berbukit-bukit dengan lembah-lembah yang subur, misalnya Dataran Dotan di mana kakak-kakak Yusuf menggem- balakan kambing domba ayah mereka (Kej. 37:17). Di Samaria juga terdapat beberapa kota yang terkenal pada zaman Perjanjian Lama, misalnya kota Sikhem (terletak di antara G. Ebal & Gerizim) yang ada hubungannya dengan Abraham (Kej. 12:6) dan Yakub (Kej. 33:18), dan juga menjadi tempat perkumpulan sidang-sidang besar orang Israel (Yos. 24). : (ii) Pegunungan Yudea — Menuju ke Selatan lagi, terdapat “‘pegunungan Yudea’”’. Pada batas Utaranya terdapat banyak benteng-benteng’ yang menceritakan peperangan-peperangan antara Yehuda dan Israel. Di bagian Selatan terletak kota Betlehem, tem- pat lahirnya Daud (I Sam. 16:1) dan tempat kejadian kisah Rut (Rut 1:1,19). Agak ke Selatan lagi terletak Hebron, kota yang paling tua di Palestina, di mana para kepala bangsa (patriarkh) dikuburkan di dalam Gua Makhpela (Kej. 23:19; 25:9; 50:13), dan yang dijadikan ibu kota Yehuda oleh Daud sebelum Yerusalem ditaklukkan (Taw. 11:1,2). (©) Lembah Yordan: ( 1) Sungai Yordan — mata airnya terletak di sebelah Barat G. Hermon, kurang-lebih 525 m. di atas permukaan laut. Dia mengalir ke Selatan melalui dua danau, yaitu mata air Merom (Danau Huleh) (Yos. 11:1-9) dan Laut Galilea, akhirnya masuk Laut Mati kira-kira 400 m. di bawah permukaan laut. Sebab daerahnya menurun, sungai itu mengalir cukup deras dan tidak dapat dilayari secara praktis. Tetapi sungai Yordan dapat diseberangi dengan memakai @rungan yang terletak misalnya di Yerikho, dan di beberapa tempat di sebelah Utara Yabok. Di tempat penyeberangan Yabok itu Yakub bergulat pada waktu malam (Kej. 32:33 dst.) (ii) Laut Galilea — panjangnya 20 km, sedangkan pada bagian yang paling lebar 12 km. Letaknya berupa tempat dalam (210m. di bawah permukaan laut), dikelilingi bukit-bukit tinggi. Laut ini jarang disebutkan dalam Perjanjian Lama, kecuali dengan memakai nama “‘Kinerot”’ (Yos. 11:2) atau ‘“‘Kineret’? (Ul. 3:17). (iii) Laut Mati — disebut ‘“‘Laut Asin” dalam Perjanjian Lama (Kej. 14:3; Bil. 34:3), atau “Laut Araba’’ (UI. 3:17). Panjangnya 69 km, lebarnya 5 km sampai 14 km, dan merupakan genangan air yang 3 paling rendah di dunia (397 m. dibawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya panas sekali. Tidak ada saluran keluar, dan kalau air meluap, akhirnya menguap. Oleh karena itu airnya penuh dengan garam dan mineral-mineral lain. Di sebelah Barat terletak jurang- jurang En-Gedi, tempat di mana Daud menyembunyikan dirinya (I Sam. 24:1). (d) Pegunungan Timur. Di bagian ini terdapat tanah berbukit-bukit yang cukup subur, dengan hutan dan kebun buah-buahan. Di sini juga terdapat dataran tinggi Basan, yang terkenal karena lembu-lembunya (Amos 4:1; Ul. 32:14) dan kota-kotanya yang besar. Ke Selatan lagi terletak Gilead, yang terkenal karena rempah-rempahnya (Kej. 37:25), dan tanah Amori yang rajanya Sihon dikalahkan oleh Israel (Bil. 21:21 dst.). Di daerah ini juga terletak Yabesy-Gilead, tempat Saul pertama kali muncul sebagai seorang yang berkuasa di Israel (I Sam. 11); juga Ramot-Gilead, di mana raja Ahab dikalahkan oleh Aram dan mati (I Raja-raja fas. 22). Lebih ke Selatan lagi, yaitu dekat Laut Mati dan sebelah Timurnya, terdapat bani Amon dan Moab, tetangga yang sering menyerang Israel. Daerah paling Selatan didiami bani Edom. Oleh karena daerah ini sukar sekali dipertahankan, maka Israel tidak dapat menegakkan diri secara tetap di sebelah Timur sungai Yordan. (©) Dataran Esdralon: Daerah yang bersegi-tiga ini sangat penting di dalam sejarah Perjanjian Lama, maka karena itu diperhatikan secara khusus. Letaknya di antara Galilea dan Samaria; pegunungan Galilea sebagai batas Utara, pegunungan Karmel sebagai batas Barat-daya, dan pegunungan Gilboa sebagai batas Timur. Sungai Kison mengalir daripadanya ke Lautan Tengah. Jalan keluar dari sebelah Timur ke lembah Yordan ialah melalui lembah Yizreel (dalam bahasa Yunani ‘‘Esdralon”’). Dataran ini sangat penting karena letaknya sangat strategis. Pedagang-pedagang dari Dam- syik, Arabia dan Mesopotamia yang menuju ke pantai Siria atau Mesir, biasanya melewati dataran Esdralon. Tanahnya juga subur sekali, maka dari itu dipandang sebagai tanah yang berharga dan baik dimiliki. Oleh karena daerah ini mudah dimasuki baik dari sebelah Timur maupun dari sebelah Barat, maka menjadi medan peperangan Israel. Terutama, per- nah terjadi empat perang besar di sini: ( i) Sisera, panglima Kanaan, dikalahkan oleh Debora dan Barak (Hakim-hakim 5:19-21) (ii) Orang Midian dihancurkan oleh Gideon dengan 300 prajuritnya di kaki Gunung Gilboa (Hakim-hakim fas. 7) ii) Raja Saul dan anaknya Yonatan dibunuh di G. Gilboa oleh orang Filistin (I Sam. 31) (iv) Raja Yosia mati waktu dia berusaha menghalangi Firaun Nekho memasuki Dataran Esdralon melalui jalan Megido (II Raja-raja 23:29, 30). Di G. Karmel, Elia mengadakan pengujian terhadap nabi-nabi Baal (I Raja-raja 18:20 dst.). Kota Yizreel kadang-kadang menjadi tempat ting- gal Raja Ahab, dan di lereng gunung tersebut terletak kebun anggur Nabot yang dirampas Ahab dengan tipu muslihat (I Raja-raja 21:1 dst). (f) Letak kota Yerusalem: Yerusalem terletak 700 m. di atas permukaan laut, di daerah pegunungan Yudea. Sebenarnya tempat itu kurang baik sebagai lokasi ibu kota negara — jauh dari laut (54 km), tidak terletak di tepi sungai besar, tidak dekat dengan jalan raya/dagang, persediaan airnya kurang bagus dan termasuk daerah kurang subur. Namun demikian, tidak ada sebuah kota lain yang telah sedemikian rupa mempengaruhi sejarah dunia. U. SEJARAH PERJANJIAN LAMA A. Zaman Dari Adam Sampai Abraham Perlu dikatakan terlebih dahulu bahwa keterangan/data-data tentang penentuan waktu dalam zaman ini sangat kurang sekali. Oleh karena itu ter- dapatlah beberapa pendapat. Ada sarjana-sarjana yang menempatkan Adam antara th, 4000 sampai dengan 5000 B.C. (Sebelum Masehi), dan ada lagi yang memperhatikan bukti ilmiah bahwa sebangsa manusia sudah ada di bumi jauh sebelum itu (misalnya, R.K. Harrison, Introduction to the Old Testament — sekitar 150,000 th. B.C.; sarjana-sarjana lain mengemukakan waktu sampai 500,000 th. B.' Mengenai hal ini perlu disadari bahwa Alkitab tidak dimaksudkan un- tuk menjadi suatu catatan kronologis (berturut-turut) yang teliti, mulai dari penciptaan dan seterusnya. Tujuan Alkitab ialah untuk mencatat peristiwa- peristiwa penting yang berhubungan dengan tindakan-tindakan Allah terhadap manusia — misalnya penciptaan manusia yang pertama, dan selan- jutnya urusan Allah dengan manusia, pertama-tama secara umum/menyeluruh, kemudian melalui satu bangsa, yaitu Israel. Pada abad ke-17, Uskup James Ussher di negara Inggris mencoba un- tuk menentukan waktu penciptaan Adam dengan cara menjumlahkan ke belakang genealogi-genealogi (silsilah) dan data-data kronologis lain yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian dia menentukan th. 4004 B.C, sebagai waktu penciptaan Adam. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu arkeologi dalam jaman modern ini, boleh dikatakan bahwa perhitungan Ussher tersebut tidak berlaku lagi. Lebih dari itu, perhitungan Ussher itu didasarkan atas perkiraan bahwa silsilah-silsilah Perjanjian Lama semua lengkap (tidak ada nama-nama yang hilang) dan bahwa jangka-waktu yang tercatat untuk kehidupan setiap nama berturut-turut. Akan tetapi kalau silsilah-silsilah yang terdapat dalam I Tawarikh dibandingkan dengan silsilah- silsilah dalam bagian-bagian Perjanjian Lama yang lain, ternyata kadang- kadang tidak cocok, misalnya ada nama-nama yang masuk dalam satu kitab tetapi tidak ada pada kitab yang lain, demikian pula jangka-waktu atau 5- lamanya hidup orang-orang tertentu kadang-kadang berbeda. Oleh karena itu kita terpaksa mencari keterangan dari sumber-sumber di luar Aikitab, walaupun ini juga hanya memungkinkan penentuan waktu yang kira-kira saja. Salah satu usaha ialah untuk menyesuaikan latar belakang historis daripada kejadian-kejadian Perjanjian Lama dengan periode kebudayaan tertentu yang telah ditetapkan oleh para ahli arkeologi daerah Mesopotamia, sebagaimana berikut: Sebelum th. 8000 B.C. — Jaman Batu Kuno (Paleolithic Period) th. 8000 — 6000 B.C. —Jaman Batu Tengah (Mesolithic Period) th. 6000 — 4500 B.C. — Jaman Batu Baru (Neolithic Period) th. 4500 — 3000 B.C. — Jaman Tembaga (Chalcolithic Period) th. 3200 — 2000 B.C. — Jaman Perunggu Pertama (Early Bronze Age) th. 2100 — 1550 B.C.’ — Jaman Perunggu Tengah (Middle Bronze Age) th. 1500 — 1200 B.C. — Jaman Perunggu Terakhir (Late Bronze Age) th. 1200 — 300 B.C. — Jaman Besi (Iron Age) Kemudian, di antara Periode-periode tersebut di manakah letak peristiwa- peristiwa besar yang tercatat dalam Kej. 1-112 Menjawab pertanyaan ini memang tidak mungkin bicara dengan pasti, tetapi ada beberapa komentar yang dapat diberikan, sebagaimana berikut: 1. Pengusiran Adam dari Taman Eden mungkin ‘merupakan penjelasan ten- tang ledakan peradaban di Mesopotamia, yang kemudian menyebar ke pulau Kreta di bagian Barat dan Hindia di bagian Timur, akhirnya sampai ke Eropa dan Tiongkok. Sebagaimana diceritakan dalam Kej. 1-3, Allah meletakkan pengetahuan dekat dengan tangan manusia, ia merampasnya dan tidak lama lagi peradaban yang pertama muncul. 2. Telah diakui oleh sarjana-sarjana sekuler bahwa peradaban yang pertama muncul pada Jaman Tembaga, kira-kira th. 4500 B.C., di Sumer. Ban- dingkanlah keterangan ini dengan Kej. 4:16,17 yang menceritakan pem- bangunan sebuah kota oleh Kain di tempat bernama Henokh, yang terletak di sebelah Tenggara Eden, yaitu daerah yang diberi nama ‘‘Sinear’’ (Babel) dalam Alkitab, Kalau begitu, dapat ditafsirkan bahwa penciptaan Adam ter- jadi kira-kira 100 tahun sebelumnya. Jadi, berdasarkan data dan tafsiran di atas, sebagian sarjana mengam- bil kesimpulan bahwa Adam diciptakan sesudah atau paling lama pada th. 5000 B.C. Namun pendapat ini belum memuaskan bagi banyak sarjama lain karena keterangan-keterangan ilmiah yang mengemukakan adanya manusia di pelbagai tempat di dunia jauh sebelum waktu tersebut. Usaha-usaha un- tuk mencocokkan keterangan Alkitab dengan keterangan ilmiah telah menim- bulkan beberapa teori, misalnya: 1. Di antara Kej. 1:1 dan 1:2 ada selang waktu. Kej. 1:1 menceritakan pen- ciptaan yang pertama, termasuk manusia, dan dunia purba itu berjalan cukup fama untuk meliputi semua periode ilmiah yang sekarang dikemukakan oleh para ahli geolog. Jadi ‘‘fossil” (tulang-tulang bekas) baik dari binatang maupun manusia yang ditemukan sekarang berasal dari penciptaan pertama 6 itu, bukan dari penciptaan kedua mulai darj Kej. 1:3. Penciptaan pertama itu dimusnahkan oleh Tuhan karena terjadinya sesuatu hal yang mengharuskannya — biasanya dikemukakan bahwa hai itu ialah pemberon- takan Iblis sebagaimana disebutkan dalam Yes. 14:12-15; Yehez. 28:11-19. Kemudian bumi yang telah dikembalikan pada keadaan tanpa bentuk dan kosong, dibentuk dan diisi baru seperti ceritanya Kej. 1:3-31. 2. Kej. { menceritakan tentang semacam penciptaan umum, termasuk manusia, selama puluhan atau ratusan ribu tahun. Walaupun ada sejenis manusia yang sudah diciptakan dan hidup di bumi, belum tentu bahwa ben- tuk dan sifatnya persis sama dengan manusia yang diciptakan ‘‘menurut gam- bar dan rupa Allah’’. Fossil-fossil kuno yang telah ditemukan adalah dari. manusia primitif itu, bukan dari keturunan Adam. Kemudian Tuhan men- ciptakan Adam secara khusus, yaitu menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, * sebagai makhluk tertinggi dan pusat perhatian-Nya selanjutnya (Kej. 2:8 dst.) 3. Dalam silsilah kitab Kejadian terdapat lowongan-lowongan ribuan atau puluhanribu tahun lamanya, cukup untuk memungkinkan berlalunya semua periode ilmiah antara peristiwa penciptaan Adam dan peristiwa penting yang berikut, yaitu Air Bah. Sampai sekarang sarjana-sarjana belum dapat mencapai suatu konsen- sus mengenai teori-teori di atas, yang masing-masing juga mempunyai banyak variasi. Air Bah (Kej. 6:13 — 9:17) Sekalj Jagi, sukar sekali untuk menentukan waktu terjadinya peristiwa yang hebat ini. Kesimpulan tentang keterangan-keterangan di atas ini tentu saja juga akan mempengaruhi pertimbangan di sini. Jadi, Ussher menen- tukan terjadinya Air Bah pada th. 2348 B.C., dengan cara menghitung umur para patriarkh dari Adam sampai dengan Nuh (Kej. 5). Lamanya ialah 1656 tahun, yang diambilnya dari tanggal 4004 B.C., dengan hasil 2348 B.C. O.T. Allis berpendapat bahwa silsilah yang tercatat dalam kitab Keja- dian barangkali kurang lengkap, maka jangka waktu 1656 tahun antara Adam dan Nuh terlalu pendek sekali. Dia lebih cenderung pada teori sarjana- sarjana lain bahwa Air Bah terjadi antara th. 5000 — 8000 B.C. Zondervan Pictorial Bible Dictionary mendukung waktu kira-kira th. 7000 B.C., tetapi juga menyebutkan beberapa faktor yang menunjuk pada suatu waktu lebih dekat. Walaupun ada lowongan-lowongan di dalam silsilah- Silsilah Alkitab, jangka-waktu selama 5000 tahun antara Abraham (kira-kira th, 2000 B.C.) dan Air Bah tidak mudah diterima. Dipandang dari segi lain, hukuman Tuhan atas Babel (Kej. 11) barangkali tidak terjadi lebih dari 1000 tahun sesudah Air Bah, sebab rupanya pada,waktu itu manusia masih ting- gal di satu daerah itu saja. Dalam Kej. 11, hanya tiga orang saja yang disebutkan sebagai orang yang lahir antara peristiwa Babel dan Kelahiran Terah, ayah Abraham. Kemungkinan hidupnya tiga orang itu terpisah dengan ribuan tahun adalah kecil sekali, sebab ilmu arkeologi telah membuktikan 7 bahwa beberapa kota yang mendapatkan nama dari mereka semua muncul kira-kira pada waktu yang sama. Keterangan ini menunjuk pada suatu jangka-waktu yang cukup pendek antara peristiwa menara Babel dan Abraham, dan dengan demikian juga mendukung pendapat bahwa Air Bah terjadi antara kira-kira 1000—1500 th. sebelum kelahiran Abraham. Akhirnya, dapat diperhatikan pula kesamaan antara riwayat Air Bah di dalam Alkitab dengan sebuah kisah tentang air bah yang berasal dari Babel kira-kira th. 3000 B.C. Menara Babel (Kej. 11:1-9) Tentang peristiwa ini sekali lagi terdapat pendapat yang bermacam- macam. Juga, pendapat seseorang akan dipengaruhi oleh kesimpulan- kesimpulannya tentang hal penciptaan dan Air Bah, Mungkin hanya dapat dikatakan bahwa terjadinya peristiwa Menara Babel seharusnya tidak lama setelah Air Bah (sebab semua manusia masih tinggal di satu daerah itu), tetapi juga tidak jauh sebelum kelahiran Abraham — yaitu pada masa seribu tahun yang ke-3 B.C. (2000—3000 B.C.), B. Zaman Patriarkh-patriarkh (kira-kira th. 2000—1400 B.C.) Waktu kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Kej. 12-50 tentang para patriarkh tidak dapat ditentukan dengan pasti. Riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak menyebutkan tokoh-tokoh/kejadian dari sejarah bangsa-bangsa lain, demikian pula tulisan-tulisan sejarah bangsa-bangsa yang lain itu tidak menyebutkan nama-nama para patriarkh Israel. Oleh sebab itu, tidak ada kemungkinan untuk mencocokkan waktu-waktu bersejarah dari bangsa lain dengan masa patriarkh-patriarkh Israel. Tetapi dapat dikatakan dengan yakin bahwa cerita-cerita tentang para patriarkh cocok sekali dengan lingkungan kebudayaan periode th. 1600—2000 B.C. Cara hidup para patriarkh sebagai pengembara juga cocok dengan keterangan dari tulisan-tulisan Mesir ten- tang daerah Sabit Subur pada zaman tersebut, yaitu bahwa orang dapat berjalan dengan bebas antara Mesopotamia (tempat asal Abraham) dan Palestina; bahwa Palestina pada waktu itu jarang ada penduduknya; dan bahwa daerah pengembaraan mereka, yaitu Pegunungan Tengah di Palestina, padang gurun Negeb dan daerah di sebelah Timur Sungai Yordan, memang merupakan daerah yang cukup subur di mana mereka dapat memelihara ter- nak mereka dengan baik. Untuk mencoba menentukan waktu yang lebih pasti untuk Abraham, cara yang biasanya dipakai ialah menghitung ke belakang mulai dari waktu Keluaran bani Israel dari Mesir. C. Peristiwa Keluaran Di sini pun juga perlu diakui adanya beberapa pendapat yang berlainan. Pendapat-pendapat itu rupanya dapat digolongkan demikian: * 1. Peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1450 B.C. 8 2. Peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1290 B.C. Ada dua periode pasti yang disebutkan di dalam Firman Tuhan yang seharusnya dapat menolong di sini. Sayangnya, periode-periode tersebut juga dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Periode yang pertama adalah 480 tahun yang disebutkan di I Raja-raja 6:1 sebagai masa yang berlalu antara peristiwa Keluaran dan tahun ke-4 dari kerajaan Salomo waktu dia mulai membangun Bait Suci. Biasanya dianggap betul bahwa Salomo menjadi ra- ja pada th. 970 B.C., yang berarti Keluaran terjadi kira-kira th, 1446 B.C. Jadi mereka yang ingin menentukan waktu kira-kira th. 1290 B.C. untuk Keluaran harus mengurangi masa pemerintahan Hakim-hakim sebanyak 150 th. menjadi kira-kira 250 tahun, sedangkan silsilah-silsilah Alkitab untuk masa itu dari Musa sampai Samuel menuntut kira-kira 400 th. Sarjana-sarjana tersebut menjelaskan persoalan itu dengan mengatakan bahwa kadang- kadang lebih dari satu orang hakim memerintah pada waktu yang sama; akan tetapi hal itu tidak dapat dibuktikan dengan keterangan Firman Tuhah. Periode yang kedua adalah 430 tahun yang disebutkan dalam Keluaran 12:40,41 sebagai lamanya orang Israel tinggal di Mesir. Mengenai periode ini pun terdapat dua pendapat utama — ada sarjana-sarjana yang mengatakan bahwa masa 430 th. itu berlangsung dari waktu Yakub masuk Mesir sampai dengan waktu terjadinya Keluaran dari Mesir; ada pula mereka yang percaya bahwa masa tersebut dimulai dengan perjanjian Allah kepada Abraham dan diakhiri dengan peristiwa Keluaran dari Mesir. Pendapat terakhir itu mendapat dukungan dari Rasul Paulus dalam Gal. 3:16, 17 yang mengatakan bahwa antara waktu Tuhan memberi janji kepada Abraham (Kej. 12) dan Keluaran dari Mesir adalah periode 430 th. Dari sejarah sekuler ada bukti juga bahwa pengaruh dan perbatasan negara Mesir pada waktu itu telah mencapai Sungai Efrat. Jadi waktu Abraham mentaati panggilan Tuhan untuk meninggalkan Haran dan pergi ke Kanaan, dengan itu ia sudah memasuki wilayah Mesir, maka periode 430 th. itu telah mulai berjalan. Periode itu kemudian terbagi menjadi dua periode 215 th. masing-masing — satu periode 215 th. sampai Yakub masuk Mesir (Kej. 12:4; 21;5; 2! 47:9), dan satu periode 215 th. lagi sampai orang Israel keluar dari Mesir. Tetapi mereka yang berpendapat bahwa periode 430 th. mulai dengan masuknya Yakub ke Mesir mempunyai tiga pilihan — yaitu bahwa peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1250 — 1290 B.C., atau bahwa Yakub dan Abraham dilahirkan jauh sebelum waktu yang biasanya diterima, atau bahwa periode 430 th. itu bukan suatu periode yang sungguh-sungguh demikian lamanya dan boleh diperpendek jika perlu. Bukti tentang waktu Yakub masuk Mesir juga terdapat di dalam keterangan tentang pemerintahan Mesir pada waktu itu. Catatan sejarah Mesir menunjukkan bahwa antara th. 1710 — 1570 B.C. negara Mesir dira- jai oleh orang ‘‘Hyksos’’, suatu golongan yang berasal dari Kanaan bagian Sefatan dan yang merebut pemerintahan dari orang-orang Mesir asli. Jadi orang Hyksos tersebut berasal dari lingkungan kebudayaan yang hampir sama dengan orang Israel yang dipimpin oleh Yakub. Maka keadaan demikian merupakan kesempatan yang baik bagi Yusuf untuk menjadi orang ber- 9 wibawa di Mesir, dan tidak begitu mengherankan kalau Firaun Mesir menyambut dengan baik transmigrasi orang Israel dari Kanaan ke Mesir dibawah pimpinan Yakub. Kemudian, orang-orang Mesir asli merebut kem- bali pemerintahan dari orang Hyksos, sehingga terjadi apa yang tercatat dalam Kel. 1:8 — ‘“‘bangkitlah seorang raja yang tidak mengenal Yusuf.’’ Pemerintahan Mesir yang baru itu tidak begitu mengerti adanya suatu golongan orang asing di negara Mesir, dan juga tidak merasa adanya suatu kesamaan dengan orang asing itu. Kalau diperkirakan kurang-lebih 100 tahun. setelah masa pemerintahan Hyksos untuk perkembangan rasa permusuhan yang makin meningkat terhadap orang Israel, maka sekali lagi terdapat waktu kira-kira th. 1450 B.C. untuk peristiwa Keluaran. Musa, yang sudah berumur 80 tahun pada waktu Keluaran terjadi, barangkali dilahirkan tidak lama sesudah Firaun yang baru itu mulai memerintah (Kel. 1; 2). Cara menghitung lagi ialah menambahkan 215 tahun pada tanggal Keluaran kira-kira th. 1450 B.C., yang menentukan th. 1665 B.C. untuk Yakub masuk Mesir, yaitu waktu yang juga jatuh pada masa pemerintahan orang Hyksos tersebut. Kesimpulan dari keterangan-keterangan di atas ialah bahwa ada tiga pilihan utama untuk membuat sebuah skema kronologis dari Abraham sam- pai pembangunan Bait Suci dimulai, yaitu: I IL Hl (430 tahun di- (430 tahun di- (430 tahun dihi- mulai dari janji_ mulai dari Ya- tung dari janji Tuhan kepada kubmasukMe- Tuhan tetapi Abraham dan sir) berakhir pada berakhir pada th. 1290 B.C.) th. 1446 B.C.) Abraham lahir 1951 B.C. 2010 B.C. 1795 B.C. Abraham menyebe- rangi Sungai Efrat (berumur 75 th. — Kej. 12:4) 1876 1935 1720 Ishak lahir (Abraham berumur 100 th. — Kej. 21:5) 1851 1910 1695 Yakub lahir (Ishak berumur 60 th. — Kej. 25:26) 1791 1850 1635 Yakub masuk Mesir (Yakub berumur 130 th. — Kej. 47:9) 1661 1720 1505 Keluaran dari Mesir 1446 1290 1290 10 Penaklukan Kanaan mulai 1406 1250 1250 Bait Suci mulai diba- ngun 966 966 966 Dari ketiga pilihan tersebut skema II meletakkan kelahiran Abraham sebelum th. 2000 B.C., fakta yang sukar diterima, Baik skema II maupun III mempunyai kelemahan karena masuknya Yakub ke Mesir diletakkan di luar masa pemerintahan Hyksos, juga masa pemerintahan Hakim-hakim Israel di Kanaan harus diperpendek, dan masa 480 tahun yang disebutkan di I Raja-raja 6:1 harus diperpendek. Jadi rupanya skema I paling cocok dengan semua keterangan yang terdapat di dalam Firman Tuhan, tetapi harus diakui bahwa ada cukup banyak sarjana yang tidak setuju dengan kesim- pulan ini dan pendapat-pendapat mereka juga perlu diperhatikan. D. Zaman Hakim-Hakim (kira-kira th. 1400 — 1050 B.C.) , Seperti apa yang telah dikatakan di atas, periode yang disebutkan dalam I Raja-raja 6;1 dari Keluaran sampai permulaan pembangunan Bait Suci adalah 480 tahun. Kalau 80 tahun diambil untuk masa pemerintahan Daud dan Saul, tinggal 400 tahun untuk masa dari Musa sampai Samuel. Tetapi kesimpulan tentang penentuan waktu untuk peristiwa Keluaran juga mempengaruhi perhitungan di sini. Kalau th. 1290 B.C. diterima sebagai waktu terjadinya Keluaran, maka periode 480 tahun tersebut juga harus diperpendek menjadi kurang-lebih 320 tahun. Hal ini dilakukan dengan per- timbangan bahwa Hakim-hakim tidak selalu memerintah secara berturut- turut — cukup sering terjadi pemerintahan bersama, sehingga tidak memerlukan periode 480 tahun penuh. Akan tetapi, masa 480 tahun itu disebutkan dengan begitu jelas dan teliti (sampai pada bulannya) di dalam Firman Tuhan, sehingga menjadi sukar untuk menguranginya demikian. Jadi, misalnya th. 1446 B.C. diterima un- tuk Keluaran, bagaimanakah skema masa Hakim-hakim itu? Musa sudah berumur 80 tahun pada waktu Keluaran terjadi dan pada waktu kematian- nya sudah berumur 120 tahun (UI. 34:7), berarti ia mati kira-kira th. 1407 B.C. Kemudian Israel dipimpin oleh Yosua dengan para tua-tua selama periode kira-kira th, 1407 — 1383 B.C., dan skema masa pemerintahan Hakim-hakim seterusnya dapat diperkirakan sebagaimana berikut: Hakim Tanggal Sebutan dalam Kitab Hakim-hakim Otniel 1376 — 1336 B.C. Ehud 1320 — 1240 Debora & Barak 1240 — 1200 Gideon 1197 — 1157 Abimelekh 1157 — 1154 Tola 1154 — 1131 Yair 1131 — 1109 Yefta 1089 — 1083 Ebzan 1083 — 1076 12:8,9 Elon 1076 — 1066 12:11 Abdon 1066 — 1058 12:43,14 Simson 1071 — 1051 16:30,31 Dengan skema ini pun masih ada kelemahan sebab setelah masa Hakim- hakim itu berakhir Israel dipimpin selama beberapa waktu oleh Samuel sebelum Saul diangkat sebagai raja pertama, yang terjadi kira-kira th. 1050 B.C. (lihat di bawah), padahal skema di atas baru berakhir pada tanggal yang sama. Jadi barangkali skema ini perlu diperpendek sedikit untuk memberi waktu bagi masa pelayanan Samuel, tetapi harus diingat juga bahwa penentuan waktu yang tetap dan pasti tidak mungkin melalui keterangan yang ada. Masa Hakim-hakim ini memang merupakan zaman yang gelap dalam sejarah Israel. Sifat umum zaman tersebut dapat diringkaskan dengan suatu ucapan dari Hakim-hakim 17:6 “‘setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’’. Sepanjang masa ini agama mengalami kemunduran, hukum Persembahan Korban dan perayaan hari-hari Suci dilalaikan; kitab yang diilhamkan Roh Kudus tidak terbit, dan perbuatan ajaib hampir tidak ada. Tidak ada kebangunan rohani, dan juga tidak mun- cul seorang besar untuk memimpin mereka, kecuali Samuel yang diangkat menjadi nabi pada akhir masa Hakim-hakim itu. Sering kali rakyat Israel dikalahkan dan ditindas oleh musuh-musuhnya, bahkan kadang-kadang diperlakukan sebagai hamba yang paling rendah. Dalam masa ini, bangsa Israel tidak maju sedikit pun oleh karena dosanya. Walaupun demikian, beberapa kali Tuhan membangkit seorang Hakim untuk memerintah, memimpin dan menolong rakyat Israel supaya dapat lepas dari tangan musuhnya. Walaupun ini boleh disebut zaman kemurtadan, namun masih terdapat beberapa orang yarig beriman. Kisah yang indah itu mengenai Rut, Naomi dan Boas yang terjadi pada waktu ini mengingatkan kepada para pem- baca bahwa pada setiap waktu ada orang yang percaya kepada Tuhan, walaupun di tengah-tengah masa kegelapan. E. Zaman Kerajaan Bersatu (kira-kira th. 1050 — 931 B.C.) Zaman ini adalah zaman.yang paling gemilang dan makmur dalam se- jarah Israel. Abad-abad kegelapan di bawah pimpinan Hakim-hakim diganti dengan zaman keemasan ini. Dalam periode ini Israel mencapai derajat tinggi di antara bangsa-bangsa tetangganya. Rakyatnya maju dalam ilmu pengetahuan, kesusasteraan, pembangunan dan segala bal yang penting un- tuk perkembangan yang baik. Sebelum itu, bangsa Israel merupakan suatu “‘teokrasi’’; artinya, Israel diperintah langsung oleh Tuhan (bhs. Yunani ‘‘Theos’’) melalui seorang pemimpin yang dipilih/ditunjuk oleh Tuhan sendiri. Tetapi orang Israel melihat semua bangsa-bangsa tetangganya diperintah oleh seorang raja yang dipilih mereka sendiri, dan karena merasa bahwa kepemimpinan terus menerus oleh seorang hamba Tuhan terlalu berat bagi mereka, maka nabi 12 Samuel diminta agar menunjuk seorang raja bagi mereka. Walaupun ini kurang sesuai dengan kehendak Tuhan, namun Dia memperbolehkannya sebab jelas bahwa bangsa itu telah menolak Tuhan sendiri sebagai Raja atas mereka (I Sam. 8:1-9). Tetapi izin-Nya juga diberikan dengan peringatan bahwa nantinya mereka akan menyesal (I Sam. 8:10-18). Raja pertama adalah Saul, yang memusatkan kerajaannya di Gibeah (di sebelah Utara Yerusalem, yang belum ditaklukkan). Saul berhasil menguasai Kanaan bagian Selatan dan tengah; dia juga mendapatkan kesetiaan orang-orang di sebelah Timur S. Yordan. Akan tetapi Saul gagal sebagai pembimbing rakyat Israel, sebab sering kali dia bertindak menurut kehendaknya sendiri dan tidak menurut kehendak dan perintah Tuhan. Akhirnya, Saul ditolak oleh Tuhan sebagai raja, sedangkan pada akhir masa pemerintahanniya persatuan bangsa yang pernah dicapainya sudah hampir * hilang oleh karena permusuhannya terhadap Daud. Sebagai raja yang dipilih oleh Tuhan, dalam masa pemerintahannya 7 tahun yang pertama Daud mempersatukan seluruh bangsa Israel, sehingga ke- dua belas suku semua mengakui dia sebagai raja mereka. Pada akhir 7 tahun yang pertama itu, Daud memperebutkan benteng Yerusalem dari penduduk aslinya (orang Yebus) serta menjadikannya ibu kota dan pusat kerajaannya, yang sebelum itu dipusatkan di Hebron. Kemudian Daud memperkokoh kedudukan negara Israel dengan menaklukkan beberapa suku-bangsa tetang- ganya — pertama-tama orang Filistin, kemudian orang Moab, orang Amon dan orang Edom jatuh di bawah kekuasaannya. Di bagian Timur laut kekua- saannya dirasakan sampai ke Damsyik, dan di Barat-laut dia mempunyai hubungan baik dengan orang Fenisia. Dengan demikian Israel telah dikenal sebagai bangsa yang sungguh-sungguh berdiri sendiri, mendapatkan persediaan sumber-sumber alam, dan juga mempunyai peranan penting dalam usaha perdagangan seluruh daerah Timur Tengah. Keadaan demikian memberi kesempatan yang paling baik bagi kemajuan bangsa Israel. Anak Daud, Salomo, yang menjadi raja setelah ayahnya meninggal, tidak berusaha untuk memperluas perbatasan daerah kekuasaan Israel. Tetapi dia memperkuat hubungan dagang dengan beberapa negara lain, khususnya Mesir dan Tirus, sehingga Israel mendapatkan keuntungan yang besar sekali. Mula-mula Salomo memerintah kerajaannya dengan sangat bijaksana dan dia menjadi ahli kenegaraan yang tak ada bandingnya. Dia melakukan pem- bangunan dalam segala bidang, baik di Yerusalem maupun di seluruh kera- jaannya. Teristimewa di Yerusalem dia memperkuat tembok bentengnya dan membangun sebuah istana yang sangat indah bagi dirinya sendiri beserta 700 isteri dan 300 gundiknya. Usahanya: yang tertinggi ialah pendirian Bait Suci, yang menyebabkan aktivitas-aktivitas keagamaan mulai dipusatkan pada Yerusalem dan juga sangat berkembang. Tetapi lama-kelamaan Salomo mulai dipengaruhi oleh bermacam-macam penyembahan berhala yang dilakukan oleh isteri-isterinya yang berasal dari bangsa-bangsa kafir, sehingga ia memberi teladan yang sangat kurang baik kepada rakyat yang dirajainya. Maka pada akhir masa pemerintahannya Israel sudah mulai mengalami masa kemunduran lagi. 13 Cara menentukan waktu pemerintahan ketiga raja tersebut masing- masing, ialah menghitung ke belakang mulai dari akhir pemerintahan Salomo. Menurut I Raja-raja 11:42 Salomo memerintah selama 40 tahun, yang rupanya berakhir kira-kira th. 930 B.C. Ini berarti dia mulai memerin- tah kira-kira th. 970 B.C. Daud juga memerintah 40 tahun, yaitu 7 tahun di Hebron sebagai raja Yehuda, dan 33 tahun di Yerusalem sebagai raja seluruh Israel (I Raja-raja 2:11) — berarti dia mulai memerintah kira-kira th. 1010 B.C, Lamanya pemerintahan Saul kurang jelas sebab pada teks I Sam. 13:1 ada angka-angka yang hilang. Akan tetapi dalam Kisah Para Rasul 13:21 Paulus mengatakan bahwa Saul memerintah selama 40 tahun, dan tidak ada alasan yang kuat untuk meragukan keterangan itu. Kalau bukan 40 tahun penuh, mungkin hanya kurang sedikit, sehingga boleh diperkirakan bahwa Saul mulai memerintah kira-kira th. 1045 — 1050 B.C. Jadi skema masa pemerintahan Saul, Daud dan Salomo masing-masing adalah kira-kira sebagaimana berikut: Saul th. 1050 — 1010 B.C. Daud th. 1010 — 970 B.C. Salomo th. 970— 930 B.C. F. Zaman Kerajaan Terpisah (kira-kira th. 930 — 586 B.C.) Ketika Salomo meninggal, Rehabeam anaknya menjadi raja (kira-kira th. 930 B.C.)4Akan tetapi suku-suku di Israel bagian Utara, dipimpin oleh Efraim sebagai suku yang terbesar, memberontak dan mendirikan kerajaan- nya sendiri dengan Yerobeam sebagai rajanya. Perpecahan kerajaan itu disebabkan oleh: 1, Perasaan iri hati dari suku-suku Utara karena pusat penyembahan Tuhan pindah dari tempat-tempat tradisional, seperti Betel dan Dan di bagian Utara, ke Bait Suci yang baru didirikan di Yerusalem, di bagian Selatan. 2. Pajak yang sangat berat, yang dipungut oleh raja Salomo untuk membiayai program pembangunannya serta penghidupan istananya, kemudian diteruskan oleh Rehabeam walaupun rakyat Israel telah minta supaya pajak itu diringankan. 3. Orang-orang saleh di Israel merasa tersinggung karena raja Salomo membiarkan hal penyembahan berhala yang dibawa oleh isteri- isterinya. 4. Suku-suku Utara sebenarnya belum betul-betul dipersatukan dengan suku-buku Selatan. Bahwa mereka kelihatan seolah-olah sudah men- jadi satu dibawah pimpinan Daud disebabkan hanya karena mereka terpaksa kerja-sama untuk melawan musuh-musuh dari luar, bukan karena mereka mempunyai perasaan pesatuan yang sungguh- sungguh. Maka dengan adanya kepemimpinan negara yang lemah di bawah raja Rehabeam, terjadinya suatu perpecahan sudah ham- pir pasti. 14 i Selama masa pemerintahan beberapa raja berikut menjadi periode peperangan antara Israel (Kerajaan Utara yang terdiri dari 10 suku) dan Yehuda (Kerajaan Selatan yang terdiri dari dua suku). Masa pemerintahan tiap raja dapat ditentukan dengan cukup pasti kalau dibuat perbandingan antara keterangan Alkitab dengan tulisan sejarah kerajaan Asyur dan bangsa- bangsa lain. Dari keterangan tersebut dapat ditentukan bahwa raja Israel, Ahab, dibunuh dalam pertempuran dengan orang Aram (Siria) pada th. 853 B.C., dan anaknya Ahazia pada tahun itu menjadi raja (I Raja-raja 22:29-40). Demikian pula sudah dapat ditentukan bahwa Yehu menjadi raja Israel (setelah ia membunuh baik raja Yoram dari Israel, maupun raja Ahazia dari Yehuda) pada th. 841 B.C. Dari tanggal-tanggal tersebut dapat dihitung ke belakang untuk menentukan masa pemerintahan tiap-tiap raja Israel dan Yehuda sampai kepada Rehabeam (raja Selatan yang pertama) dan Yerobeam (raja Utara yang pertama). Demikian pula, dengan menghitung ke depan dapat ditentukan masa pemerintahan tiap raja sampai pada keruntuhan kera- jaan Israel oleh tangan Asyur pada th. 722 B.C. dan keruntuhan kerajaan Yehuda oleh tangan Babel pada th. 587 B.C. Memang untuk mencocokkan semua keterangannya, perlu diakui beberapa masa pemerintahan-bersama baik dalam kerajaan Yehuda maupun dalam kerajaan Israel, tetapi ini merupakan suatu hal yang biasa pada waktu itu. Jadi skema urutan dan masa pemerintahan raja-raja Yehuda dan Israel adalah sebagaimana berikut: Masa Pemerintahan Masa Pemerintahan ISRAEL —Pemerintahen Bersama YEHUDA —Pemerintahan Bersama Yerobeam 1 931 — 910 Rehabeam 931 — 913 Abiam 913 — 911 Nadab 910 — 909 Asa 911 — 870 Baesa 909 — 886 Ela 886 — 885 : 885, 873 — 870 feelers | 08s = 990 Ahab Yosafat «873 — 848 Ahazia 853 — 852 Yoram 853 — 841 853 — 848 Yoram 852 — 841 Ahazia Yebu 841 — 814 Atalya 841 — 835 Yoas 835 — 796 Yoahas 814 — 798 Amaia 796-767 a9 __ 967 Yoas 798-782 ao Atarya/Uzia 790 — 740 Yerobeam II; 793 — 753-793 —7 Zakharia | 753 — 752 750 — 740 Salum 752 Menahem 752 — 742 Yotam 750 — 732 Pekahya 140 Pekah 2 eee ae Hosea RU 72 has 732 — 716 Kerajaan Israel runtuh ee beeen ee, Amon 642 — 640 : Yosia’ 640 — 609 2 Yoahas 9 Yoyakim 609 — 597 Yoyakhin Zedekia «597 — 587 Kerajaan Yehuda runtuh Is Keruntuhan Kerajaan Utara (Israel) terjadi ketika orang Asyur di bawah pim- pinan raja Salmeneser V menyerbu tanah Israel. Sebelumnya orang Asyur telah menaklukkan Damsyik, ibu kota Siria yang menjadi sekutunya Israel. Mula-mula, raja Israel, Hosea, membayar upeti kepada Asyur, tetapi kemu- dian dia mulai mengadakan perundingan dengan Mesir untuk bersama-sama melawan Asyur. Akibatnya ialah Hosea ditawan, tanah Israel diserbu lagi dan kota Samaria dikepung oleh Sargon II yang telah menggantikan Salmeneser sebagai raja Asyur. Sebagian dari penduduk Israel dibuang ke Mesopotamia dan Media, sedangkan banyak pendatang dari bagian-bagian kerajaan Asyur yang lain masuk ke tanah Israel. Kerajaan Selatan (Yehuda) sanggup bertahan 136 tahun lebih lama daripada Kerajaan Israel. Pada th. 700 B.C., di bawah pimpinan raja Hizkia, ia dapat menahan serbuan orang Asyur yang pada waktu itu dirajai oleh Sanherib (II Raja-raja 18; 19), tetapi selama hampir 100 tahun sesudah itu Yehuda harus membayar upeti kepada Asyur. Akan tetapi pada akhir abad ke-7 B.C., kekuasaan Asyur sudah mulai mundur, maka pada th. 598 B.C. adalah Nebukadnezar, raja Babel, yang menyerbu Israel dan menaklukkan kota Yerusalem pada tahun berikutnya. Raja Yehuda, Yoyakhin, beserta sebagian dari kaum bangsawan dibuang ke Babel. Zedekia dijadikan raja boneka oleh Babel dan selama periode beberapa tahun berikutnya menjadi masa dimana Yehuda berganti-gantian memberontak lalu dihukum oleh Babel. Akhirnya, pada th. 589 B.C. raja Zedekia sekali lagi memberontak dan Nebukadnezar mengepung kota Yerusalem. Selama satu-setengah tahun Yerusalem dapat bertahan, tetapi pada th. 587 B.C. tembok bentengnya diterobos dan kota ditaklukkan. Bait Suci beserta kota dirampas serta dibakar semuanya, temboknya dirobohkan, dan banyak lagi dari kaum. bangsawan dibuang ke Babel. Selama masa kerajaan terpisah, baik di Yehuda maupun di Israel, ada beberapa nabi yang dibangkit oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman- Nya kepada raja dan rakyat kedua kerajaan tersebut. Di antaranya, beberapa nabi yang terkemuka adalah sebagaimana berikut: Kerajaan Israel: 1. Elia Dia bernubuat pada abad ke-9 B.C., seorang Gilead yang berkuasa karena hubungannya dengan Tuhan. Tiba-tiba ia muncul di istana Raja Ahab dan Ratu Izebel karena diutus kesana oleh Tuhan. Elia mengutuki penyem- bahan berhala yang dibenci oleh Tuhan. Dengan perkataan keras dan per- buatan ajaib, ia membuktikan bahwa berhala-berhala, terutama Baal, hanya sia-sia saja. Dalam suatu Pertandingan antara Allah dan Baal, Elia membuktikan bahwa Baal tidak sanggup untuk mengabulkan doa nabi- nabi yang palsu itu, apa lagi melakukan sesuatu untuk menolong umat Israel. Kemudian ia membuktikan kepada mereka bahwa Tuhan adalah Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahaesa, dan ia berhasil membawa rakyatnya kembali kepada Tuhan. 2. Elisa Dia menggantikan Elia sebagai Nabi. Ia bersifat lebih sopan dan sabar daripada Elia. Selama ia memegang jabatanya, ia mempunyai pengaruh besar, baik di istana maupun di dalam masyarakat. Dia sering mengadakan perbuatan ajaib, pada masa Raja Yoram sampai Raja Yoas. Kedua Nabi ini berjuang dengan sekuat tenaga mereka untuk menen- tang penyembahan berhala, khususnya penyembahan Baal yang telah diperkenalkan kepada bangsa Israel oleh Ahab dan Izebel. 2 ry . Amos Pada abad ke-8, Nabi Amos bernubuat pada zaman pemerintahan Raja Uzia (gi Kerajaan Yehuda) dan Raja Yerobeam II (di Kerajaan Israel). Amos berasal dari Yehuda, namun ia bernubuat di Samaria, yaitu Ibu Kota Kerajaan Israel. Di sana ia mengecam banyak ketidakadilan dan dosa yang terdapat dalam masyarakat itu, dengan bernubuat bahwa justru karena kejahatan-kejahatan tersebut umat Israel akan dihukum oleh Tuhan, yaitu mereka akan ditawan oleh bangsa Asyur. Tetapi pada saat itu keadaan Israel makmur, maka orang Israel tidak mendengarkan apalagi memperhatikan peringatanya dan tidak percaaya bahwa peristiwa yang dinubuatkan oleh Amos akan terjadi. 4. Hosea Dia mulai bernubuat pada waktu yang bersamaan dengan Nabi Amos (yaitu di bawah pemerintahan Raja Yerobeam II). Hosea menekankan keinginan Tuhan agar bangsa Israel berbalik dari berhala-berhala dan dosa-dosanya untuk menyembah Allah dan mentaati Firman-Nya supaya mereka boleh menerima berkat dari Tuhan. Hosea juga memperingatkan Israel akan sengsara yang sebentar akan menimpa mereka jikalau mereka tetap mengabaikan perintah Tuhan serta tetap menyembah berhala. Kerajaan Yehuda: 1. Yoel Pada waktu pemerintahan Raja Yoas terjadi suatu wabah belalang (plague ~~. locust). Nabi Yoel menjelaskan bahwa wabah belalang itu adalah seb: tanda penghukuman Tuhan, disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukan oleh rakyat Yehuda. Jadi, mereka dipanggil untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. 2. Yesaya Dia mulai bernubuat pada tahun yang terakhir masa pemerintahan Raja Uzia dan ia melanjutkan jabatannya selama masa pemerintahan Raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Yesaya tinggal tetap di Yerusalem, di mana ia mempunyai pengaruh besar di istana raja. Oleh sebab itu ia berwibawa baik dalam hal agama maupun dalam urusan Politik Negara. Yesaya juga bernubuat tentang penghukuman Allah yang akan terjadi karena penyem- bahan berhala dan perbuatan dosa yang dilakukan oleh umat Israel. Ia mengatakan bahwa Israel akan dibawa ke negara pembuangan, tetapi 17 a x kemudian Tuhan akan membuka jalan supaya mereka dapat kembali ke tanah Israel. Selain dari itu Yesaya adalah nabi yang terkenal karena nubuatan- nubuatannya mengenai Mesias yang akan datang (pada zaman kemudian). Dia menggambarkan Mesias sebagai hamba Tuban yang akan menderita untuk menyelamatkan umat Israel dari dosa, tetapi umat Israel menolak keterangan itu karena mereka mengharapkan seorang raja duniawi sebagai Mesias. . Mikha Dia hidup sezaman dengan Nabi Yesaya. Mereka berdua mengutuk ketidakadilan dalam masyarakat dan kejahatan moral yang dilakykan oleh umat Israel karena mereka telah menolak Allah Yang Mahaesa. Seluruh bangsa Israel melalaikan tanggung jawabnya sebagai umat Allah, maka semestinya bangsa itu dibersinkan dengan hukuman supaya sanggup un- tuk melayani Tuhan dan menerima berkat dari Dia. ~ Nahum Dia adalah seorang nabi pada masa pemerintahan Yosia, yang menubuatkan bahwa Kerajaan Asyur yang amat kuat itu akan dijatuhkan dan dihancurkan, sehingga rakyat Yehuda yang ditindas dengan kejam oleh Asyur akan dibebaskan. Nubuat yang mula-mula dianggap mustahil ini, kemudian sungguh-sungguh terjadi. Zefanya Dia adalah seorang pengkhotbah dan nabi yang berkuasa di kerajaan Yehuda. Dengan terus terang ia mencela dosa-dosa yang diperbuat oleh rakyat pada masa pemerintahan Raja Yosia. Tentulah dia mempengaruhi Raja Yosia yang mengadakan kebangunan rohani di negara Yehuda. . Habakuk Setelah melihat negara-negara yang mengelilingi Yehuda, dia menggumuli persoalan ini: ““Mengapakah Allah tidak menghalangi orang Kasdim yang memusnahkan negara-negara yang berdekatan dengan tanah Yehuda?” Tuhan mewahyukan kepadanya bahwa orang Kasdim itu sedang dipakai oleh Tuhan sebagai suatu alat penghukuman terhadap bangsa-bangsa kafir yang jahat dan kemudian Tuhan bermaksud memakai orang Kasdim un- tuk melawan bangsa Yehuda juga karena dosa-dosanya. Setelah itu orang Kasdim akan dihukum oleh Tuhan karena kekejamannya. - Yeremia (Bernubuat pada jaman pemerintahan Raja Yosia, Yoahaz, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia). Dia berusaha untuk menghapuskan suasana kejahatan yang menguasai kerajaan Yehuda pada masa itu. Ia berusaha keras untuk menyelamatkan bangsanya dari keruntuhan yang sudah lama mengancam dan yang ham- pir tiba itu. Tetapi usahanya tidak berhasil karena kaum Yehuda bersifat keras kepala, mereka terus menerus menyembah berhala, berbuat ke- jahatan dan tidak memperhatikan peringatan-peringatan Tuhan yang diberitahukan kepada mereka oleh nabi-nabi yang setia itu. G. Zaman Pembuangan di Babel dan Pengembalian ke Tansh Israel (periode sesudah th. 587 B.C.) Masa pembuangan ini dimaksudkan oleh Tuhan sebagai hukumn atas dosa dan kejahatan orang-orang Yehuda, supaya mereka mengoreksi diri dan mentaati perintah-perintah Tuhan. Selama periode teebut kaum Yehuda merupakan rakyat jajahan. Mereka tidak diperhambakan, malah mereka bebas untuk melakukan segala kebiasaan umum, misalnya dalam bidang agama dan perdagangan. Banyak di antara mereka menjadi kaya dan ada lagi mereka yang memperoleh jabatan pemerintahan yang tinggi. Nabi-nabi yang terkemuka dj Babel 1. Yehezkiel Seorang imam dan nabi, dia memperkuat iman umat Yehuda dengan meyakinkan mereka bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ia menga- jar bahwa mereka mengalami penderitaan karena dosa, tetapi Tuhan tetap mengasihi dan menyertai mereka di Babel. Tuhan menginginkan agar mereka menyembah Dia di tempat yang baru itu serta mentaati Firman- Nya, walaupun mereka tidak dapat berkumpul di Kota Yerusalem dan Bait Allah yang ada di sana. Daniel Dia memperoleh suatu kedudukan yang sangat penting dalam pemerin- tah Babel. Dengan tulus hati, dia bernubuat dan berusaha sekuat tenaganya untuk memimpin rakyat Yehuda kembali kepada Tuhan. Dia adalah seorang teladan yang baik dan setia, karena dia tidak pernah berkompromi tetapi selalu patuh dan percaya kepada Tuhan. Nubuatan- nya tentang masa depan dan akhir zaman dimaksudkan untuk memberi pengharapan tentang pembebasan dari pembuangan dan pendirian Kera- jaan Allah yang sejati di Yerusalem. Ne Hasil-hasil baik dari pembuangan rakyat Yahudi: 1. “Monotheisme” ditegakkan. Karena pengalaman ini, maka umat Yahudi berpaling dari penyembahan berhala dan “‘polytheisme’’. Sejak zaman itu orang Yehuda hanya menyembah dan berbakti kepada Allah yang Mahaesa. 2. Mereka menjadi amat bersemangat dalam bidang pendidikan. Oleh sebab itu rumah sembahyang sebagai pusat pendidikan merupakan suatu lem- baga yang kokoh bagi rakyat Yahudi. 3. Mereka lebih menghormati Taurat Musa, dan pengetahuan tentang Hukum Allah mulai diketahui lagi oleh rakyat Yehuda. Sebelum masa itu, Hukum Allah dipelajari hanya oleh para imam dan para nabi saja. Sayangnya, pada waktu itu juga timbul suatu sikap seolah-olah diperbudak oleh Hukum Allah atau Taurat Musa, yaitu orang Yahudi mulai mengang- gap bahwa setiap undang-undang yang tercatat dalam Taurat Musa harus 19

Anda mungkin juga menyukai