Anda di halaman 1dari 17

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Pondok Pesantren Turus


1. Sejarah
Pondok Pesantren Turus Pandeglang didirikan pada tanggal 08 Rabiul Awwal
1365 H atau 10 Februari 1942 M, terletak di sebelah Tenggara kota Pandeglang.
Tepatnya di Jl. Raya Rangkasbitung km 2,5 pandeglang berada di kelurahan Kabayan
Kecamatan dan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Pondok Pesantren Turus
didirikan diatas tanah wakaf seluas 3,5 Ha dengan bermodalkan beberapa buah
gubug dari bahan bamboo beratapkan kiray yang dibangun dilembah bukit yang
sejuk hawanya. Pondok Pesantren Turus didirikan oleh KH. Tb. Moh. Idrus bin
H.Tb.Moh. Maruf. Beliau dilahirkan dilahirkan di kampong Pasamangka, desa
Kupahandap, kecamatan Cimanuk, kabupaten Pandeglang pada jumat malam tanggal
27 Rajab 1335 H atau tanggal 18 Mei 1917 dan wafat hari jumat tanggal 23 Rajab
1395 H bertepatan dengan tanggal 1 agustus 1975 M.
Untuk mencapai Pondok Pesantren Turus Pandeglang dapat ditempuh dari 2
alternatif jurusan. Dari arah Jakarta dapat ditempuh melalui jalur Serang Timur yang
selanjutnya mengikuti arah Pandeglang. Dari kota Pandeglang menuju arah
RangkasBitung yang berjarak 2,5 Km. Sedangkan dari arah Rangkasbitung untuk
mencapai Pondok Pesantren Turus Pandeglang dapat ditempuh 17 km kearah
Pandeglang.
Nama Turus beranjak dari dasar/filosofi yang memiliki beberapa arti bila
dikaitkan dengan visi misi dan tujuan pediri yang ingin di capai. Kata Turus berawal
dari kata bukit Tursina yang dalam sejarah dianggap sebagi tempat suci (sebagai
tempat Nabi Musa menerima wahyu) berada di Mesir bagian Timur di benua Asia.
Nama Pondok Pesantren Turus juga berasal dari kata tuturus adalah sebuah
istilah dalam Bahasa Sunda yang berarti tiang atau tonggak yang biasanya
digunakan untuk menyangga dan tempat merambatkan tanaman kacang panjang atau
yang lainnya. Kata ini oleh pendiria digunakan sebagai nama Pondok Pesantren
Turus dengan harapan pesantren yang dipimpinnya mampu meletakkan tonggak-
tonggak atau dasar-dasar ilmu dan pengamalan ajaran islam kepada santrinya sebagai
penerus generasi yang akan dating. Juga nama TURUS bisa disebut TERUS
(tidak berhenti dengan suatu harapan agar para pelanjutnya dapat melangsungkan
Pondok Pesantren Turus secara terus menerus tanpa berhenti. Pondok Pesantren
Turus dikelola oleh sebuah yayasan yang mempunyai dasar hukum Akte Notaris
Nomor 36 Tanggal 6 Februsri 1984, yang didaftarkan dalam daftar Kepanitraan
Pengadilan Negeri Pandeglang Nomor 7 Tanggal 20 Februari 1984. Sejak awal
berdirinya pada tahun 1942 hingga tahun 1955-an para santri umumnya berasal dari
daerah Banten dan jawa Barat. Dengan dikenalnya Pondok Pesantren Turus oleh
Masyarakat luas banyak para orang tua yang ingin anaknya menimba di Pondok
Pesantren ini.
Selain menggunakan sistem salafi yaitu sitem pendidikan diniyah pesantren
dengan referensi kitab-kitab kuning. Pendiri Pondok Pesantren Turus juga terdorong
untuk mengembangkan sarana pendidikan dan dakwah yang lebih bermanfaat untuk
masyarakat. Sarana tersebut yaitu dengan mendirikan pendidikan formal berupa
sistem madrasah/sekolah secara berjenjang tanpa mengesampingkan sistem salafi
yang sudah berjalan.
Pada tahun 1955 mulailah dibangun sebuah gedung belajar secara permanen,
seperti asrama santri, kantor dan masjid secara bertahap yang dikerjakan dengan
gotong royong yang melibatkan masyarakat dan santri, mulai dari tahap persiapan
hingga pembangunan selesai. Pelaksanaan pembangunan ini hingga sekarang masih
terus berlanjut.
Sarana bangunan pondok pesantren yang tersedia saat ini adalah
a. 12 bangunan asrama
b. 4 bangunan madrasah
c. 9 bangunan kantor
d. 1 buah bangunan masjid terdiri dari 2 lantai. Lantai atas adalah ruang
perpustakaan, ruang belajar dan ruang laboratorium komputer.
e. Fasilitas air bersih dan MCK
f. 5 bangunan kantin
Sepeninggalan KH. Tubagus Moh Idrus pada tahun 1975 kepemimpinannya
Pondok Pesantren dilakukan secara kolektif dipimpin oleh putranya yaitu KH.
Tubagus A. Quaisjini Idrus yang bertindak selaku pimpinan umum (Mudir), kurang
lebih 23 tahun hingga wafatnya pada tahun 1998. Setelah itu dilanjutkan oleh Haji
Tubagus Achmad Sjihabuddin Idrus sampai sekarang. Sedangkan pengasuh Pondok
Pesantren sehari-hari dipercayakan kepada KH.Tubagus Moh Hasyim bin KH. Tb.
Moh. Soleh dari tahun 1975 sampai dengan wafatnya pada tanggal 8 juni tahun 2009.
Sebagai penggantinya pengasuh pondok pesantren dipercayakan kepada KH. Tb.
Ahmad Taftazani Idrus yang dibantu oleh para guru dan santri dewasa. Dalam
pengelolaan pesantren di samping terdapat pengasuh santri juga telah lam para santri
mendapat pembinaan dan bimbingan melalui berbagai kegiatan di luar kegiatan
belajar diniyah salafi dan madrasah termasuk bimbingan tugas-tugas
kemasyarakatan. Kegiatan pembinaan dan bimbingan ini dipercayakan kepada KH.
Tubagus Dahlani Idrus. Namun demikian sistem kepengurusan dan manajemen
Pondok Pesantren cukup terbuka dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya
bagi pihak luar keluarga untuk ikut mengelola dan mengembangkan Pondok
Pesantren ini.
Pendidikan diniyah salafiah terdiri dari 4 tingkatan terdiri dari kelompok diniyah
salafiayh I, II, III, dan IV. Bagi santri yang belum siap mengikuti pendidikan diniyah
terlebih dahulu mengikuti pra diniyah atau Idad. Sedangkan jenjang pendidikan
madrasah yang telah ada hingga saat ini adalah :
a. Raudhatul Athfal/TK (TKA/TPA) selama 2 tahun
b. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
c. Madrasah Tsanawiyah (MTs)
d. Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK)
Seluruh sistem dan jenjang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan dan
pengajaran agama khususnya dengan memadukan kurikulum Departemen Agama
dan Departemen Pendidikan Nasional. Taman kanak-kanak Islam (Raudhatul Athfal)
didirikan pada tahun 1991 yang sudah mendapatkan izin dari Dinas Pendidikan
tertanggal 14 November tahun 2004. Taman kanak-kanak ini didirikan diatas tanah
wakaf seluas 504 m2 dengan luas gedung 180 m2, yang terbagi atas 3 ruang kelas dan
satu ruang guru. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum berbasis kompetensi
(KBK) sesuai ketentuan pemerintah yang berlaku. Terlepas dari sistem KBK, TK
Pondok Pesantren Turus ini meitik beratkan siswanya melalui metode penguasaan
membaca dan menulis huruf Al-Quran. Metode pendidikan inilah yang dipandang
merupakan keunggulan TK Pondok Pesantren Turus, sehingga siswa lulusan taman
kanak-kanak ini dapat menguasai dan menghafal ayat-ayat A-Quran.

Madrasah Ibtidaiyah dirintis pada tahun 1957 dengan nama Mabdail Falah (4
tahu) yang kemudian sesuai perkembangan pada tahun 1966 dirubah menjadi 6
tahun. Mengacu pada sistem pendidikan nasional dengan kurikulum berbasis
kompetensi dengan menitik beratkan pada pendidikan agama, dimana para siswa
dapat menghafal ayat-ayat Al-Quran beserta tajwidnya dan menghafal hadist-hadist
Rasul.
Madrasah Tasnawiyah Pondok Pesantren Turus didirikan diatas landasan visi
yang jauh kedepan serta misi yang agung dan mulia yaitu mengentaskan
keterbelakangan bangsa dibidang pendidikan serta ikut mensukseskan program
pemerintah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Madrasah Tsanawiyah
Pondok Pesantren Turus dirintis pada tahun 1962 dan mulai beroperasi secara penuh
pada tahun 1974. Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Turus memiliki 6 ruangan
kelas dan 1 ruang perpustakaan serta 1 ruang kantor. Sedangkan Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren Turus didirikan 1972, sebelumnya telah berdiri sebuah pendidikan
guru agama (PGA) yang didirikan pada tahun 1968. Pada tahun 1981 PGA
dihapuskan dan di integrasikan ke dalam Madrasah Aliyah. Saat ini Madrasah Aliyah
menempati sebuah bangunan 3 lantai terdiri atas 7 ruangan kelas, 1 ruangan guru dan
1 ruangan perpustakaan. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Turus terbagi atas dua
jurusan yaitu madrasah aliyah umum (MA) setara dengan SMA dan madrasah aliyah
keagamaan. Pada madrasah aliyah keagamaan dititikberatkan pada penguasaan dan
pemahaman kitab-kitab dan hadist-hadist. Diluar sistem madrasah dan diniyah para
santri dewasa juga mengikuti pengajian yang langsung diberikan oleh pengasuh.
Kitab-kita yang dipelajari antara lain kitab safinah, fathul qarib, nihayatuzzen,
kifayatul akhyar dan warakat tijan, bahyatul wasail, qamiut tughyan, jauhar tauhid
dan kifyatul awam, washiyatul Mustafa, talim mutaalim, maraqil ubudiyah,
bidayatul hidayah, hikam, mutamminah, jauhar maknun dan alfiyah, tafsir jalalin,
tafsir munir, arbain nawawi, riyadhus shalihin dan adzkarun nawawi. Pengajaran
diniyah ini diselenggarakana diluar jam sekolah sesuai dengan jadwal yang telah
disusun yaitu bada shalat subuh, bada ashar, bada maghrib dan bada Isya.
Metode yang diterapkan dalam penyampaian materi menggunakan pendekatan
tutorial dan individual.

Selain pendidikan formal juga diselenggarakan pendidikan informal berupa


ekstra kulikuler dalam berbagai kegiatan diantaranya setiap malam jumat para siswa
dilatih membiasakan diantaranya :
a. Baca tahlil
b. Barzanji
c. Khitobah (berpidato)
d. Serta pada jumat paginya latihan baris-berbaris
e. Senam kesegaran jasmani, kerja bakti dan
f. Kepramukaan
Kegiatan ini diarahkan sebagai penggemblengan fisik dan mental guna
mempersiapkan diri dalam rangka mengamalkan dan menyampaikan ilmunya yang
telah didapat dari Pondok Pesantren turus.
Keberhasilan yang diraih Pondok Pesantren Turus selama ini dapat ditunjukan
dengan sejumlah sertifikat, piala dan tanda penghargaan lainnya dari berbagai
kegiatan perlombaan atau musabaqoh baik pada tingkat kabupaten, provinsi maupun
tingkat nasional seperti :
a. Cerdas cermat
b. Tilawatil Al-Quran
c. Hifdil Al-quran
d. Qiroatil Kutub
e. Seni Qasidah
f. Nasyid dan
g. Santri masuk desa
Selain diikutsertakan dalam berbagai arena kompetisi/perlombaan. Tim kesenian
Pondok Pesantren Turus selalu aktif dalam mengisi acara-acara penting seperti
peringatan hari-hari besar Islam dan Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah
kabupaten Pandeglang. Pondok Pesantren Turus juga telah memiliki program yang
menjadi wadah kegiatan pengembangan masyarakat, bekerjasama dengan beberapa
lembaga antara lain usaha bersama dalam bentuk :
a. Koperasi Pondok Pesantren
b. Pelayanan kesehatan masyarakat termasuk kegiatan khitanan, baik secara
masal/kelompok maupun perorangan. Dalam hal ini pelayanan kesehatan telah
dilembagakan dalam bentuk pos kesehatan pesantren (POSKESYREN), sebuah
unit yang melakukan kegiatan pelayanan kesehatan untuk santri dan masyarakat.
c. Untuk memperkuat program pengembangan masyarakat telah dilakukan pula
kerjasama antara pondok pesantren Turus dengan Jenderal Holtikutura
Kementrian Pertanian dalam sebuah wadah yang dikenal dengan lembaga
mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3) yang difokuskan pada
pengembangan berbagai jenis holtikultura yangsesuai dengan kemampuan
pesantren dan masyarakat sekitae. Intinya program ini dimaksudkan sebagai dari
upaya menumbuhkan kemadirian pesantren dan masyarakat
d. Pelatihan jurnalistik dan pelatihan guru TK/TPA
Dalam rangka menghadapi tantangan globalisasi para siswa juga diperkenalkan
untuk memahami dan memanfaatkan perkembangan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi. Untuk menunjang hal tersebut Pondok Pesantren
Turus telah menyediakan sebuah lab computer yang dapat digunakan para siswa
untuk mengaksesnya. Diantaranya kemampuan mengoprasikan computer.
Beberapa prpgram dan dapat mengakses internet baik dengan jaringan ataupun
hotspot yang telah disediakan.
Untuk menunjang kegiatan ekstrakulikuler lainnya Pondok Pesantren Turus juga
menyediakan sarana fasilitas olahraga anatara lain :
a. Lapangan Bola Voli
b. Lapangan Badminton
c. Lapangan Tenis Meja
d. Lapangan Basket
e. Lapangan Futsal dan sarana olahraga lainnya
Seiring berjalannya waktu, PondokPesantren Turus yang telah berusia 67 tahun
menghasilkan alumni-alumni yang kini telah bekerja dalam berbagai profesi,
diantaranya alumnus yang menjadi ustadz/gur, kiyai yang mendirikan dan mengasuh
pondok pesantren, pegawai negeri sipil, termasuk polisi dan tentara nasional,
wiraswasta, paramedis, dan sebagainya. Alumni Pondok Pesantren sendiri telah
memiliki sebuah perkumpulan dalam suatu ikatan alumni dengan nama Ikatan
Keluarga Pesantren turus (IKAT).
Perkembangan Pondok Pesantren Turus tidak lepas dari perhatian pemerintah
baik dari pusat maupun pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
ejabat daerah maupun pusat yang berkunjung ke pesantren untuk memperoleh
dukungan dalam berbagai kegiatan program dan kegiatan pembangunan khususnya
terkait langsung dengan pendidikan kemasyarakatan.

Disamping itu juga diadakan pengajian umum yang dilaksankan setiap hari senin
dan kamis pagi. Khusus pada hari kamis pagi engajian diadakan secara bergiliran
keliling kekampung-kampung. Dalam hal ini diniatkan agar selalu terpelihara jalinan
silaturahmi antar Pondok Pesantren dengan masyarakat sekitarnya. Dengan
pengajian keliling ini, selain menambah wawasan keilmuan (agama islam), kedua
pihak sama-sama merasakan nikmatnya silaturahmi dan jalinan kerja sama. Materi
yang disajikan dalm pengajian-pengajian ini hamper sama saja, hanya ada beberapa
tambahan, antara lain : kitab baiquniyah, zubad, syarah sittin, tafsir shawi,
muhazzab, jamul juwami dan ghayatul wusul. Pada akhirnya hingga saat ini pondok
Pesantren Turus berusaha menepatkan dirinya sebagai Pondok Pesantren yang selalu
berupaya menyesuaikan dengan perkembangan zaman terkini (modern) yang bernilai
positif dengan tanpa meninggalkan tradisi salafi yang harus kita jaga dan pelihara
serta kembangkan dengan memadukan kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi. Dengan demikian Pondok pesantresn Turus Pandeglang
dipersembahkan untuk anak cucu kita dan generasi yang akan dating yang
berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

B. Analisis Univariat
1. Penampilan Makanan
Penampilan makanan merupakan gabungan dari warna makanan, bentuk
makanan, besar porsi dan cara penyajian makanan. Warna Makanan
a. Warna Makanan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa warna makanan siswa-siswi kelas X dan XI di Pondok Pesantren
Turus Pandeglang Banten Tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel.
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Warna Makanan
Waktu Makan Aspek Penilaian Warna Makanan n %
Pagi Menarik 30 26,3
Cukup Menarik 63 55,3
Tidak Menarik 21 18,4
Total 114 100,0
Siang Menarik 35 30,7
Cukup Menarik 56 49,1
Tidak Menarik 23 20,2
Total 114 100,0
Sore Menarik 33 28,9
Cukup Menarik 62 54,4
Tidak Menarik 19 16,7
Total 114 100,0
Sumber : data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 5.1. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
warna makanan tidak menarik yaitu 21 orang dengan persentase 18,4%, makan siang
yang menyatakan tidak menarik 23 orang dengan persentase 20,2% dan untuk makan
malam yang menyatakan tidak menarik yaitu 19 orang dengan persentase 16,7%.
Warna Makanan merupakan bagian dari penampilan makanan.Pada Penelitian
ini berapa orang yang menyatakan tidak menarik karena makanan yang disediakan di
Pondok Pesantren Turus Pandeglang Banten warna sayuran yang terlalu matang dan
berubah menjadi pucat pda saat disajikan selain itu juga
b. Bentuk Makanan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa bentuk makanan siswa-siswi kelas X dan XI di Pondok Pesantren
Turus Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Bentuk Makanan
Waktu Makan Aspek Penilaian Bentuk Makanan n %
Pagi Menarik 27 23,7
Cukup Menarik 73 64,0
Tidak Menarik 14 12,3
Total 114 100,0
Siang Menarik 28 24,6
Cukup Menarik 73 64,0
Tidak Menarik 13 11,4
Total 114 100,0
Sore Menarik 28 24,6
Cukup Menarik 74 64,9
Tidak Menarik 12 10,5
Total 114 100,0
Sumber : data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 5.2. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
bentuk makanan tidak menarik yaitu 14 orang dengan persentase 12,3%, makan siang
yang menyatakan bentuk makanan tidak menarik 13 orang dengan persentase 11,4%
dan untuk makan malam yang menyatakan bentuk makanan tidak menarik yaitu 12
orang dengan persentase 10,5%.
Bentuk makanan dapat mempengaruhi seseorang untuk memakan makanan
yang disajikan, pada penelitian ini yang menyatakan tidak menarik karena potongan
sayuran yang tidak teratur dan potongan lauk nabati yang
c. Besar Porsi
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa besar porsi siswa-siswi kelas X dan XI di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel.
Tabel 5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Aspek Kategori Besar Porsi

Waktu Makan Aspek Penilaian Besar Porsi N %


Pagi Sesuai 39 34,2
Cukup Sesuai 61 53,5
Tidak Sesuai 14 12,3
Total 114 100,0
Siang Sesuai 39 34,2
Cukup Sesuai 60 52,6
Tidak Sesuai 15 13,2
Waktu Makan Aspek Penilaian Besar Porsi N %
Total 114 100,0
Sore Sesuai 39 34,2
Cukup Sesuai 60 52,6
Tidak Sesuai 15 13,2
Total 114 100,0
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 5.3. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
besar porsi tidak sesuai yaitu 14 orang dengan persentase 12,3%, makan siang yang
menyatakan besar porsi tidak sesuai yaitu 15 orang dengan persentase 13,2% dan
untuk makan malam yang menyatakan besar porsi tidak sesuai yaitu 15 orang dengan
persentase 13,2%.
Aspek penampilan yang berikutnya adalah besar porsi makanan, besar porsi
yang menyatakan tidak sesuai karena makanan yang disajikan tidak sesuai dengan
kebutuhan dan porsi lauk antara satu dengan yang lainnya berbeda tidak sama
ukurannya.
d. Cara Penyajian Makanan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa besar porsi siswa-siswi kelas X dan XI di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel.
Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Cara Penyajian Makanan

Waktu Aspek Penilaian Cara n %


Makan Penyajian Makanan
Pagi Menarik 39 34,2
Cukup Menarik 61 53,5
Tidak Menarik 14 12,3
Total 114 100,0
Siang Menarik 32 28,1
Cukup Menarik 57 50,0
Tidak Menarik 25 21,9
Total 114 100,0
Sore Menarik 31 27,2
Cukup Menarik 60 52,6
Tidak Menarik 23 20,2
Total 114 100,0
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
Aspek yang terakhir dari penampilan makanan adalah penyajian makanan.
penyajian makanan adalah perlakuan terakhir dalam suatu penyelenggaraan makanan
sebelum dihidangkan kepada konsumen untuk dikonsumsi.
Berdasarkan tabel 5.4. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
penyajian makanan tidak menarik yaitu14 orang dengan persentase 12,3%, makan
siang yang menyatakan penyajian makanan tidak menarik 25 orang dengan persentase
21,9% dan untuk makan malam yang menyatakan tidak menarik yaitu 23 orang
dengan persentase 20,2%.
Pada penelitian ini yang menyatakan tidak menarik karena makanan yang
disajikan oleh petugas dapur itu tidak mementingkan kebersihan dan kerapihan pada
penyajian makananya.
e. Penampilan Makanan
Adapun distribusi persentase penampilan makanan berdasarkan persepsi
responden berkisar 70%. Dilihat dari persentasenya, maka penampilan makanan
secara umum adalah cukup sesuai. Secara rinci persentase distribusi penampilan
makanan dapat dilihat pada tabel 5.5. dibawah ini
Tabel 5.5. Distribusi Penampilan Makan Pagi, Siang, dan Sore
Waktu Aspek Penilaian Penampilan Makanan % Hasil
Warna Bentuk Besar Cara
Makan rata- Ukur
Makanan Makanan Porsi Penyajian
rata
Makanan
Pagi 69 70 82 74 74 Cukup
Sesuai
Siang 70, 71 74 69 71 Cukup
Sesuai
Sore 71 71 74 69 71 Cukup
Sesuai
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
2. Rasa Makanan
Rasa Makanan merupakan gabungan dari bumbu makanan, aroma makanan,
tekstur makanan dan suhu.
a. Bumbu Makanan
Beradasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
diadapatkan bahwa bumbu makanan siswa-siswi di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel
Tabel 5.6. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Kategori Bumbu Makanan
Waktu Makan Aspek Penilaian Bumbu Makanan n %
Pagi Enak 47 41,2
Cukup Enak 53 46,5
Tidak Enak 14 12,3
Total 114 100,0
Siang Enak 55 48,2
Cukup Enak 45 39,5
Tidak Enak 14 12,3
Total 114 100,0
Sore Enak 37 32,5
Cukup Enak 60 52,6
Tidak Enak 17 14,9
Total 114 100,0
Sumber : data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 5.6. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil, untuk makan pagi dan siang persentase siswa-siswi yang
menyatakan bumbu makanan tidak enak yaitu 14 orang dengan persentase 12,3%, dan
untuk makan malam yang menyatakan bumbu makanan tidak enak yaitu 17 orang
dengan persentase 14,9%.
Bumbu makanan dapat meningkatkan rasa nafsu makan seseorang dan
memberikan rasa yang khas pada suatu makanan. pada penelitian ini menyatakan
yang menyatakan makanan bumbu makanan tidak enak itu karena untuk masakan
sayurnya kurang garam dan kurang bumbu sedikit.
b. Aroma Makanan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa aroma makanan siswa-siswi di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel
Tabel 5.7. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Aspek Kategori Aroma Makanan
Waktu Makan Aspek Penilaian Aroma Makanan N %
Pagi Harum 55 48,2
Cukup Harum 38 33,3
Tidak Harum 21 18,4
Total 114 100,0
Siang Harum 55 48,2
Cukup Harum 38 33,3
Tidak Harum 21 18,4
Total 114 100,0
Sore Harum 55 48,2
Cukup Harum 38 33,3
Tidak Harum 21 18,4
Total 114 100,0
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti,2016
Berdasarkan tabel 5.7. diatas dari 114 responden untuk makan pagi, siang dan
sore didapatkan hasil yang menyatakan aroma makanan tidak harum yaitu 21 orang
dengan persentase 18,4%.
Aroma atau bau makanan dapat merangsang keluarnya getah lambung dan
banyak menentukan kelezatan dari makanan tersebut. Aroma lebih terpaut pada indera
penciuman sehingga membangkitkan selera. Aroma dari hidangan yang disajikan
cukup mengunggah selera, hal ini di mungkinkan karena penggunaan bahan-bahan
makasakan yang segar. Aroma yang disebarkan makanan serta daya tarik yang sangat
kuat akan mampu merangsang indera penciuman sehingga membangkitkan selera
( Sholihah dkk, 2013).
Pada penelitian ini tetap ada responden yang menyatakan aroma makanan
yang disajikan oleh Pondok Pesantren Turus Pandeglang Banten tidak harum. Hal ini
karena bumbu masakan yang kurang meresap pada setiap masakan. Sehingga aroma
yang ditimbulkan kurang terasa dan pemilihan beberapa bahan makanan yang kurang
harum.
c. Tekstur Makanan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa tekstur makanan siswa-siswi di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel

Tabel 5.8. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Tekstur Makanan


Waktu Makan Aspek Penilaian Tekstur Makan n %
Pagi Sesuai 19 16,7
Cukup Sesuai 62 54,4
Tidak Sesuai 33 28,9
Total 114 100,0
Siang Sesuai 23 20,2
Cukup Sesuai 66 57,9
Tidak Sesuai 25 21,9
Total 114 100,0
Sore Sesuai 19 16,7
Cukup Sesuai 62 54,4
Tidak Sesuai 33 28,9
Total 114 100,0
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti,2016
Berdasarkan tabel 5.8. diatas dari 114 siswa-siswi untuk makan pagi, siang
dan sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
tekstur makanan tidak sesuai yaitu 33 orang dengan persentase 28,9%, makan siang
yang menyatakan tekstur makanan tidak sesuai 25 orang dengan persentase 21,9%
dan untuk makan malam yang menyatakan tekstur makanan tidak sesuai yaitu 33
orang dengan persentase 28,9%. Karena ada makanan yang seharusnya empuk tetapi
makanan tersebut sedikit keras.
d. Suhu
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban pada instrument kuesioner
didapatkan bahwa suhu makanan siswa-siswi di Pondok Pesantren Turus
Pandeglang Banten tahun 2016 yaitu terlihat pada tabel
Tabel 5.9. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Suhu
Waktu Makan Aspek Penilaian Suhu n %
Pagi Sesuai 35 30,7
Cukup Sesuai 53 46,5
Tidak Sesuai 26 22,8
Total 114 100,0
Siang Sesuai 42 36,8
Cukup Sesuai 46 40,4
Tidak Sesuai 26 22,8
Total 114 100,0
Sore Sesuai 35 30,7
Cukup Sesuai 53 46,5
Tidak Sesuai 26 22,8
Total 114 100,0
Sumber : Data primer yang diolah oleh peneliti,2016
Berdasarkan tabel 5.9. diatas dari 114 siswa-siswi untuk makan pagi, siang
dan sore didapatkan hasil, untuk makan pagi persentase siswa-siswi yang menyatakan
suhu makanan tidak sesuai yaitu 26 orang denga persentase 22,8%, untuk makan
siang persentase siswa-siswi menyatakan suhu makanan tidak sesuai yaitu 26 orang
dengan persentase 22,8%, dan untuk makan sore yang menyatakan suhu makanan
tidak sesuai yaitu 26 orang dengan persentase 22,8%. Karena pada saat makanan
disajikan makanan tersebut sudah dingin.
Temperatur makanan atau suhu makan saat disajikan memiliki peranan dalam
menentukan cita rasa makanan (Atmanegara dkk, 2013). Perlu diperhatikan
temperatur makanan yang disajikan. Makanan yang seharusnya dimakan dalam suhu
yang agak hangat hendaklah disajikan dalam bentuk hangat. Sebaliknya, makanan
yang seharusnya makan dalam keadaan dingin hendaklah disajikan dalam keadaan
dingin (Atmanegara dkk, 2013).
e. Rasa Makanan
Adapun distribusi persentase rasa makanan berdasarkan persepsi responden
berkisar 70%. Dilihat dari persentasenya, maka penampilan makanan secara umum
adalah cukup sesuai. Secara rinci persentasedistribusi penampilan makanann dapat
dilihat pada tabel 5.6. dibawah ini

Tabel 5.6. Distribusi Rasa Makanan Pagi, Siang, dan Sore

Waktu Aspek Penilaian Rasa Makanan % Hasil


Bumbu Aroma Tekstur Suhu
Makan rata- Ukur
Makanan Makanan Makanan
rata
Pagi 76 77 72 69 74 Cukup
Enak
Siang 79 77 73 71 75 Cukup
Enak
Sore 73 77 63 69 71 Cukup
Enak
Sumber : data primer yang diolah oleh peneliti, 2016
3. Variasi Makanan
Variasi makanan merupakan komposisi menu yang disajikan terdiri dari
makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, dan buah. Adapun distribusi
persentase variasi makanan berdasarkan persepsi responden berkisar <60%. Dilihat
dari persentasenya, maka variasi makanan secara umum adalah cukup sesuai. Secara
rinci persentase distribusi variasi makanan dapat dilihat pada tabel 5.10. dibawah ini.
Tabel 5.10. Distribusi Variasi Makanan Pagi, Siang, dan Sore

Waktu Makan Aspek Penilaian Tekstur Makan n %


Pagi Tidak lengkap 114 100
Total 114 100
Siang Cukup Lengkap 23 20,2
Tidak Lengkap 91 79,8
Total 114 100
Sore Cukup Lengkap 21 19,2
Tidak lengkap 93 80.8
Total 114 100
Waktu Makan Hasil Nilai Hasil Ukur
Variasi
Makanan %
Pagi 33 Tidak Lengkap
Siang 40 Tidak Lengkap
Sore 39 Tidak Lengkap

4. Asupan Energi
Asupan energi yang diperoleh dari bahan makanan yang mengandung
karbohidra, lemak, dan protein.Energi dalam tubuh manusia dapat timbul karena
adanya pembakaran karbohidrat, protein, dan lemak sehingga manusia membutuhkan
zat-zat makanan yang cukup untuk memenuhi kecukupan energinya (Budianto, 2002
dalam Diah, 2012).
Asupan energi siswa-siswi yang dikonsumsi dari makan yang disajikan di
Pondok Pesantren Turus Pandeglang Banten didapatkan dari perhitungan yang
dialkukan selama dua hari tidak berturut-turut yang kemudian dirata-ratakan sehingga
didapatkan nilai energi.
Tabel 5.11 Distribusi Asupan Energi

Kategori n %
Kurang 104 91,2
Normal 10 8,8
Total 114 100,0
Dari tabel diatas dapat dilihat dari 114 sampel, sampel asupan energi yang
kurang yaitu sebanyak 104 sampel (91,2%) dan 10 sampel dikategorikan asupan
energi normal (8,8%). Asupan energi pada seseorang dapat menentukan tercapainya
tingkat kesehatan, apabila mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap serangan
penyakit.
Asupan energi sampel yang kurang disebabkan karena asupan sampel hanya
sedikit. Dalam hal ini perlu memperhatikan aspek penampilan, rasa dan variasi
makanan, untuk mendapatkan asupan sampel yang baik.

5. Asupan Protein
Protein digunakan sebagai bahan bakar apabila energi yang diperlukan tubuh
tidak terpenuhi dari karbohidrat dan lemak. Protein ikut pula mengatur berbagai
proses tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung dengan membentuk zat-zat
pengatur proses dalam tubuh. Pada sebagian besar jaringan tubuh protein merupakan
komponen terbesar setelah air (Budianto, 2009). Oleh karena itu, protein merupakan
zat gizi yang paling banyak dalam tubuh. Bila energi makan cukup, boleh dikatakan
semua makanan mengandung cukup protein akan tetapi jika tidak cukup protein
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan biasanya hal ini berarti makanan yang
dikonsumsi tidak cukup memberikan energi (Almatsier, 2006).
Asupan protein sampel yang dikonsumsi dari makan yang disajikan di Pondok
Pesantren Turus Pandeglang Banten didapatkan dari perhitungan yang dialkukan
selama dua hari tidak berturut-turut yang kemudian dirata-ratakan sehingga
didapatkan nilai protein.
Tabel 5.12. Distribusi Asupan Protein

Penilaian n %
Pada tabel Kurang 105 92,1 tersebut dapat dilihat
Normal 9 7,9
114 sampel terdapat Total 114 100,0 105 sampel (92,1%)
dengan kategori asupan protein kurang dan 9 sampel dikategorikan asupan protein
normal (7,9%).
Kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan pada asupan transportasi
zat-zat gizi. Asupan protein yang lebih, maka protein akan mengalami deaminase,
kemudian nitrogen dikeluarkan dari tubuh dan sisa-sisa ikatan karbon akan diubah
menjadi lemak dan disimpan dalam tubuh. Oleh karena itu konsumsi protein secara
berlebih dapat menyebabkan kegemukan (Almatsier, 2006).
6. Asupan Lemak
Lemak merupakan simpanan energi yang paling utama dalam tubuh dan
didalam hewan disamping itu merupakan sumber zat gizi esensial. Sebagai simpanan
lemak, lemak merupakan cadangan eneri tubuh yang paling besar. Simpanan ini
berasal dari konsumis berlebihan salah satu kombinasi zat-zat energi, karbohidrat,
lemak, dan protein.
Asupan lemak siswa-siswi yang dikonsumsi dari makan yang disajikan di
Pondok Pesantren Turus Pandeglang Banten didapatkan dari perhitungan yang
dialkukan selama dua hari tidak berturut-turut yang kemudian dirata-ratakan sehingga
didapatkan nilai lemak.
Tabel 5.13. Distribusi Asupan Lemak

Kategori n %
Kurang 102 89,5
Normal 12 10,5
Total 114 100,0
Pada tabel tersebut dapat dilihat dari 114 sampel terdapat 102 (89,5%) sampel
dengan kategori asupan kurang dan 12 sampel dikategorikan asupan protein normal
(10,5%). Kontribusi lemak terbesar dalam makanan adalah dari daging dan unggas.
Kekurangan asupan lemak akan mengakibatkan gambaran klinis defisiensi asam
lemak esensial dan nutrisi yang larut dalam lemak serta pertumbuhan yang buruk.
(Datukramat dkk, 2014).
7. Asupan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi manusia dan hewan yang
harganya relatif murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Produk
yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah larut dalam air
dan mudah diangkut keseluruh sel-sel guna penyediaan energi (Almatsier, 2006).
Asupan protein sampel yang dikonsumsi dari makan yang disajikan di Pondok
Pesantren Turus Pandeglang Banten didapatkan dari perhitungan yang dialkukan
selama dua hari tidak berturut-turut yang kemudian dirata-ratakan sehingga
didapatkan nilai protein.
Tabel 5.14. Distribusi Asupan Karbohidrat

Kategori n %
Kurang 96 84,2
Normal 18 15,8
Total 114 100,0
Dari tabel diatas dapat dilihat dari 114 sampel, sampel dengan asupan
karbohidrat kurang yaitu sebanyak 96 sampel (84,2%) dan 18 sampel (15,8%)
dikategorikan asupan karbohidrat normal.