Anda di halaman 1dari 11

TUGAS HUKUM INVESTASI

HUBUNGAN HUKUM INVESTASI DENGAN HUKUM (ILMU ) LAIN

Investasi merupakan salah satu cara perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan kas
jika terjadi surplus. Dengan berinvestasi maka dana yang terdapat dalam kas perusahaan tidak
menganggur. Investasi dapat dimaksudkan sebagai akumulasi dari suatu bentuk aktiva untuk
memperoleh manfaat dimasa yang akan datang.

1.HUBUNGAN HUKUM PAJAK DAN HUKUM INVESTASI

Setiap negara yang melakukan pemungutan pajak pasti mempunyai tujuan, yaitu untuk
menjalankan pemerintahan dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat. Oleh karena itu negara
memerlukan dana dari rakyat, salah satunya adalah berupa uang pembayaran pajak dari rakyat.
Pelaksanaan pemungutan pajak diharapkan dapat mencerminkan keadilan, dengan besarnya
pajak yang dibebankan sesuai dengan objek pajak yang dimiliki oleh rakyat. Sedangkan besarnya
objek pajak dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu pelaksanaan
pemungutan pajak juga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, termasuk
didalamnya ekonomi rakyat secara individu. Jadi Pajak adalah pungutan oleh pejabat pajak
kepada wajib pajak tanpa tegen prestasi secara langsung dan bersifat memaksa sehingga
penagihannya dapat dipaksakan (Prof. Dr. Djafar Saidi, SH.,MH).

Pajak mempunyai beberapa fungsi, Berkaitan dengan fungsi pajak yang lebih dominan,
khususnya bagi fungsi pajak utama yaitu budgeter dan regulerend. Fungsi regulerend, lebih
berkaitan dengan Fiscal Policy, yaitu alat kebijaksanaan pemerintah dalam menyelenggarakan
politiknya dalam bidang ekonomi, moneter, sosial, kultural maupun politik. Terdapat beberapa
pendapat terkaitnya penerimaan negara dari sektor pajak dengan kebijaksanaan di bidang
penanaman modal karena penerimaan pajak dipengaruhi oleh :

Materi dari undang-undang pajak yang bersangkutan, termasuk sistem pemungutannya.

Sikap masyarakat, baik masyrakat eksternal (wajib pajak) maupun masyarakat internal
(aparatur perpajakan).
Pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya pikul dan daya beli masyarakat sekaligus
meningkatkan kemampuan wajib pajak membayar pajak.

Fungsi regulerend adalah fungsi untuk mengatur yang digunakan pemerintah dibidang ekonomi,
moneter, sosial, budaya maupun politik agar tercapai tujuan yaitu memperoleh dana-dana yang
akan digunakan untuk investasi publik sehingga secara tidak langsung dapat menyalurkan
penghasilan swasta (private saving) ke arah sektor-sektor yang produktif maupun digunakan
untuk mencegah pengeluaran-pengeluaran yang menghambat pembangunan. Jadi fungsi
regulerend adalah fungsi pajak untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pemerintah. Contohnya
adalah pengaturan dalam bidang ekonomi, misalnya pemerintah tidak menghendaki industri
dalam negeri mengalami gulung tikar karena kalah bersaing dengan industri luar negeri maka
untuk mencegah hal tersebut pemerintah lalu membuat peraturan berupa pengenaan tarif yang
tinggi bagi hasil produksi luar negeri yang akan masuk (impor) ke Indonesia. Dengan
menerapkan tarif tinggi maka tentu harga barang-barang dari luar akan lebih tinggi hargnya
sehingga sulit dijangkau oleh sebagian basar anggota masyarakat, dibanding dengan produksi
dalam negeri yang harganya lebih murah. Jadi tujuan yang ingin dicapai pemerintah dalam lewat
tarif yang tinggi ini adalah untuk melindungi industri dalam negeri. Namun ada saat-saat tertentu
pemerintah memberikan kebijakan mengenai tax holiday atau pembebasan pajak dalam masa
tertentu bagi investor asing. Dengan memberikan tax holiday maka diharapkan banyak investor
asing menanamkan modalnya yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
Peraturan yang berhubungan dengan penanaman modal adalah:

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 sebagaiman telah diubah dan ditambah terakhir
dengan UU tentang Penanaman Modal dalam Negeri.

Pengaturan dalam bidang sosial berkaitan dengan cara kehidupan beberapa masyarakat yang
cenderung untuk hidup mewah sehingga mungkin terjadi gangguan sosial. Untuk itu terhadap
barang mewah seperti seperti mobil dan barang-barang lain yang dianggap mewah dikenakan
tarif pajak yang tinggi, sehingga konsumen yang ingin hidup mewah pasti memikul beban yang
makin tinggi. Sehingga secara teorits terjadi redistribusi pendapatan dalam masyarakat dan
sesuai dengan anjuran pemerintah untuk hidup sederhana. Pengaturan dalam bidang moneter,
pemerintah memberlakukan tarif pajak tinggi bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan
merendahkan tarif pajak bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, seperti buruh atau kaum
pekerja lainnya dan bukan menaikkan upah mereka, sehingga dengan kebijakan ini dapat
tercapai redistirbusi pendapatan sehingga tidak terjadi kepincangan antara orang kaya dan orang
miskin. Pengaturan dalam bidang budaya, Misalnya tarif pajak yang sangat rendah atau sama
sekali memberikan pembebasan pajak untuk sementara bagi para penulis terhadap penghasilan
yang mereka peroleh sebagai penulis buku. Untuk menyukseskan pemungutan pajak terutama
dari segi fungsinya sebagai pengisi kas negara, maka perlu menumbuhkan atau meningkatkan
kesadaran wajib pajak hanya bisa dicapai dengan menciptakan iklim perpajakan yang sangat
sehat yang dapat menghilangkan hambatan-hambatan psikologis yang masih melekat pada diri
wajib pajak dewasa ini. Iklim yang sehat berarti masyarakat wajib pajak ingin dan sadar akan
kewajibannya untuk membayar pajak. Jadi fungsi regulerend adalah fungsi untuk mengatur,
dimana pajak sebagai alat bisa memajukan produksi dalam negeri agar tidak kalah bersaing
dengan produksi luar negeri serta mengatur susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor
swasta serta bagiamana menarik para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Berdasarkan uraian fungsi regulerend diatas maka dapat dilihat tujuan akhir yaitu untuk
memperoleh pemasukan yang sebesar-besarnya bagi dana pembangunan Indonesia sehingga bisa
meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Mengenai insentif pajak dan daya saing investasi, para investor sudah lama merindukan
paket kebjakan insentif dari pemerintah. Isinya, paket kebijakan yang bersifat memberi
kemudahan baik dalam soal perizinan, pajak, kepabeanan, suku bunga dan lain-lain. Hal tersebut
diharapkan dapat menurunkan biaya produksi, biaya modal dan meningkatkan daya saing.
Pemikiran tersebut realistis, mengingat jika investasi berjalan baik, industri berkembang,
menyerap tenaga kerja, daya beli rakyat meningkat, dan dari mereka akan mengalir pembayaran
pajak. Secara tidak langsung penduduk miskin dapat dikurangi, melalui pemanfaatan pajak oleh
berbagai institusi/ departemen lain. Problem daya saing investasi (penanaman modal) memang
tidak dapat lagi dianggap remeh sebab ada beragam keterkaitan yang melingkupinya, termasuk
sektor perpajakan dan adanya tuntutan koordinasi pusat-daerah dalam hal membuat regulasi.
Untuk negara berkembang pemberian insentif (pajak) harus selektif karena sangat mahal dan
dapat menciptakan distorsi dalam sistem perpajakan, mengurangi penerimaan pajak, dan
mengekang anggaran. Namun demikian, insentif pajak melalui UU PPh merupakan bagian dari
program reformasi di bidang perpajakan secara berkesinambungan, khususnya perubahan
perangkat organik seperti lembaga administrasi dan aparat pelaksana serta formulasi kebijakan
dalam bentuk peraturan. Ketika negara membutuhkan pajak untuk melanjutkan pembangunan
dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, kesadaran dan kepatuhan seluruh masyarakat untuk
membayar pajak tidak dapat dihindarkan. Siapa pun tentu tidak ingin dikatakan sebagai
penumpang gelap (free rider) karena tidak mau bayar pajak. Begitu juga, orang tidak mau
dikatakan sebagai pengemplang pajak karena membayar pajak tidak benar.

Daya saing investasi akhirnya akan bersr pada seberapa kuat kepercayaan investor
kepada negeri ini dan seberapa besar prospek investasi jangka panjangnya. Penanaman modal
asing dapat memberikan keuntungan cukup besar terhadap perekonomian nasional, misalnya
menciptakan lowongan pekerjaan bagi penduduk tuan rumah sehinga dapat meningkatkan
penghasilan dan str hidup, menciptakan kesempatan bekerjasama dengan perusahaan lokal
sehingga mereka dapat berbagi manfaat, meningkatkan ekspor sehingga meningkatkan cadangan
devisa negara dan menghasilkan alih teknologi. Indonesia membuka diri kembali terhada modal
asing dengan diundangkannya UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.
Pendekatan terhadap modal asing yang digunakan Indonesia pada saat krisis ekonomi lebih
memfokuskan pada pembangunan institusi yang menjadi prasyarat untuk pemulihan ekonomi.
Penelitian mengenai penanaman modal asing di Indonesia berkaitan dengan insentif dan
pembatasan, ditinjau dari pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing
dan lahirnya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal menjadi penting, setidak-
tidaknya karena empat alasan:

Legal Certainty (Kepastian Hukum)

Sistem Hukum yang terdiri dari substansi, aparatur dan legal culture.

Keanggotaan Indonesia dalam WTO telah menyebabkan terjadinya pembaruan Undang-


undang Penanaman Modal Indonesia

UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, substansi dan pelaksanaannya harus
sebanding dengan Undang-undang Penanaman Modal di negara-negara pesaing Indonesia dalam
menarik modal asing.

Lahirnya UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing mendapat respon yang sangat
mengesanan dari investor asing. Namun demikian, dalam perkembangannya kehadiran modal
asing di Indonesia telah menimbulkan kontroversi dan dilema. Pada satu sisi modal asing
diIndonesia telah membawa pengaruh positif berupa terbukanya lapangan kerja dan alih
teknologi. Pada sisi lain peningkatan investasi asing ini ini telah menimbulkan pengaruh negatif
berupa tuduhan lahirnya dominasi asing atas perekonomian Indonesia dan ketergantungan
Indonesia pada pasar internasional. Untuk mengundang kembali modal asing pemerintah
menyediakan insentif baru bagi modal asing, diantaranya:

1). Penanaman modal asing menjadi penanaman modal dalam negeri dan perpanjangan jangka
waktu penanaman modal asing. Hal ini di lakukan dengan cara, pertama pemerintah mengizinkan
para investor asing memiliki saham sampai 95 persen dari perusahaan-perusahaan yang
berorientasi ekspor. Kedua, akses yang lebih luas di bidang keuangan untuk perusahaan
patungan. Perusahaan patungan harus di perlakukan sama seperti perusahaan domestik dan
diizinkan untuk meminjamkan dari bank-bank negara dan berpartisipasi dalam rencana kredit
dengan syarat bahwa mitra asing paling sedikit telah mendivestasi 75 sahamnya untuk di jual di
bursa saham. Ketiga, penangguhan pembayaran PPN (maksimal 5 tahun) sejak perusahaan dapat
berproduksi secara komersial atas impor. Keempat, terbukanya kesempatan bagi pengusaha kecil
untuk meminta dan memperoleh fasilitas penanaman modal meskipun mereka melakukan proyek
non-penanaman modal asing.

2). Peningkatan kepemilikan Saham Perusahaan Modal Asing. Untuk menarik modal asing,
pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan modal asing berupa peningkatan
kepemilikan saham. Hal ini diatur dalam PP No. 17 Tahun 1992. Untuk mendirikan suatu
perusahaan penanaman modal asing baru, sumber dana yang dapat digunakan adalah laba yang
di tanam kembali dan/atau sumber dana lain. Sedangkan untuk membeli saham perusahaan yang
sudah beroperasi, hanya di benarkan dengan menggunakan laba yang di milikinya. Semua
penyertaan laba perusahaan penanaman modal asing itu akan tetap di anggap sebagai penyertaan
asing yang tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

3). Perpanjangan dan pembaruan Hak Atas Tanah. Dalam rangka meningkatkan gairah dan iklim
investasi, Pemerintah memberikan fasilitas hak atas tanah kepada modal asing. Halini di atur
dalam Keppres No. 23 Tahun 1980 tentang Pemanfaatan Tanah Guna Usaha dan Hak Guna
Bangunan untuk Usaha Patungan dalam rangka Penanaman Modal Asing.
Dalam rangka mengatasi kendala-kendala mengenai penanaman modal dan selaras dengan ikut
sertanya Indonesia dalam GATT/WTO, maka Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-
Undang Investasi yang baru ke Parlemen. Setelah mendapat persetujuan Parlemen, Presiden
mentanganinya sebagai UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang sudah jauh lebih
baik di bandingkan dengan undang-undang sebelumnya. Substansi dalam undang-undang ini ada
beberapa hal baru, dimana ada yang tidak diatur seperti perlakuan yang sama terhadap penanam
modal, tanggung jawab penanam modal, sanksi bagi penanam modal, hak atas tanah, larangan
pemegang saham nominee, penyelanggaraan urusan penanaman modal, koordinasi pelaksanaan
kebijakan penanaman modal dan kawasan ekonomi khusus.

Selain memuat ketentuan yang bersifat memberi insentif, UU No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal juga menyebutkan beberapa ketentuan yang bersifat pembatasan, yaitu
penanaman modal asing harus memprioritaskan tenaga kerja Indonesia dan pemegang saham
nominee di larang. Larangan pemegang saham nominee merupakan substansi baru dalam
peraturan perundang-undangan penanaman modal di Indonesia. Tujuan pengaturan larangan
pemegang saham nominee adalah untuk menghindari terjadinya perseroan yang secara normatif
dimiliki seseorang tetapi secara materi atau substansi pemilik perseroan tersebut adalah orang
lain. Secara teknis, praktek kepemilikan saham melalui nominee dilakukan oleh dua pihak. Satu
pihak karena sesuatu pertimbangan tidak dapat atau dapat menjadi pemilik saham, tetapi tidak
menjadi pemilik saham pada perseroan sehingga menggunakan pihak lain sebagai nomineenya.
Dalam keadaan lain, pihak-pihak tertentu sebenarnya dapat menjadi pemegang saham PT
Indonesia tertentu. Pada dasarnya yang bersangkutan adalah warga negara Indonesia yang dapat
menjadi pemilik saham. Tetapi, karena berbagai pertimbangan (diantaranya menghindari public
exposure yang berlebihan) yang bersangkutan tidak memunculkan nama sendiri sebagai
pemegang saham pada perseroan namun memilih menggunakan nominee untuk mewakili
kepentingannya.Terlepas dari prokontra lahirnya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal, pada kenyataannya undang-undang ini telah mampu meningkatkan investasi asing. Sejak
Undang-undang ini di sahkan, pertumbuhan investasi sudah mencapai 31% melampaui capaian
sebelum krisis ekonomi.

Untuk itu, dalam rangka pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2007 perlu di lakukan sinkronisasi
peraturan perundang-undangan agar lebih relevan. Insentif dan pembatasan terhadap penanaman
modal asing tercermin dalam Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. UU No. 1 Tahun
1967 tentang Penanaman Modal Asing berisi pokok-pokok kebijakan penanaman modal asing.
Perubahan kebijakan mengenai insentif dan pembatasan tergantung kepada faktor-faktor
perkembangan sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri serta perkembangan perekonomian
global. Masalah insentif dan pembatasan, kontroversi ini terjadi lagi pada pembahasan dan
pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2007. Modal asing akan mendapatkan insentif yang prospektif,
namun sebagan unsur masyarakat menganggapnya sebagai pengurangan hak-hak bagi
kepentingan lokal. Jadi ketentuan penanaman modal yang tidak produkif akan menghambat
investasi,contohnya pemberatan pajak yang terlalu besar karena lebih mengutamakan fungsi
budgeter,dan pemberian pajak bea masuk yang begitu besar kepada investor asing yang
menanamkan modalnya di Indonesia. Maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan perpajakan
sangat berpengaruh terhadap investasi.

Pajak merupakan salah satu faktor penting bagi investor dalam menentukan keputusan
untuk berinvestasi pada suatu negara. Secara teori, pajak mempengaruhi keputusan investasi
sepanjang pengenaan pajak tersebut mempengaruhi besarnya biaya dan keuntungan yang
diperoleh investor. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, seperti yang dikutip oleh Alex Easson
diketahui bahwa pajak memberikan pengaruh sebagai berikut:

Pajak hanya memainkan bagian dalam menentukan keputusan pertama untuk melakukan
investasi ke luar negeri. Apabila besarnya pajak, terutama pajak penghasilan badan (corporate
income tax) di negara investor lebih besar, maka perusahaan akan tergerak untuk melakukan
investasi ke luar negeri dimana besarnya pajak efektif lebih rendah. Sedangkan besarnya pajak
penghasilan orang pribadi (personal income tax) di negara investor akan menaikkan biaya tenaga
kerja, sehingga biaya produksi di negara investor menjadi lebih besar. Oleh karena itu,
perusahaan akan mengalihkan kegiatan produksinya di negara yang tarif pajaknya lebih rendah
dan biaya tenaga kerjanya lebih rendah.

Pajak berpengaruh dalam menentukan lokasi tempat investasi. Peranan pajak dalam
menentukan lokasi tempat investasi relatif lebih kecil daripada faktor stabilitas politik dan akses
pasar.

Pajak mempunyai pengaruh yang penting pada jenis investasi tipe tertentu. Tipe investasi
yang berorientasi ekspor sangat sensitif dengan pengaruh faktor biaya, sehingga pajak yang
merupakan tambahan biaya mempunyai pengaruh penting dalam menentukan keputusan
melakukan investasi. Sedangkan tipe investasi yang berorientasi pada akses pasar kurang sensitif
dengan pengaruh pajak sepanjang kompetitor dikenakan ketentuan pajak yang sama.

Perkembangan pentingnya pengaruh pajak. Hasil penelitian yang dilakukan sebelum


tahun 1990 menyatakan bahwa pajak hanya memberikan pengaruh yang kecil terhadap
keputusan investasi. Penelitian pada akhir-akhir ini mengungkapkan bahwa pengaruh pajak
menjadi lebih penting. Bagi perusahaan manufaktur, pajak dianggap sebagai faktor yang sensitif
dalam menentukan lokasi penempatan modal

2.HUBUNGAN HUKUM INVESTASI DENGAN HUKUM AGRARIA

Jumlah penduduk terus menerus bertambah dari waktu ke waktu. Mereka butuh tempat
tinggal, tempat usaha, dan ruang untuk diri mereka sendiri. Maka dari itu, seiring bertambahnya
jumlah penduduk, semakin sempit tanah yang ada.

Supply tanah tidak pernah bertambah sedangkan demand semakin meningkat. Maka dari
waktu harga tanah terus melambung. Cobalah kita menengok 5 tahun yang lalu. Berapa harga
tanah di daerah ? Kemudian bandingkan dengan harga tanah saat ini.

Semakin meningkat .Mungkin itu sebabnya banyak yang mengatakan investasi properti
tanah membuat uang terus bertambah. Karena memang harganya tidak pernah berhenti pada
level tertentu.

Tanah menjadi salah satu objek investasi begitu populer untuk dimiliki. Banyak orang
memilih jenis investasi properti jenis ini karena nilainya yang terus meningkat. Karena sifatnya
yang tidak dapat di perbarui, pertumbuhan properti yang terus meningkat pesat akan membuat
tanah perlahan mengalami kelangkaan pasokan. Permintaan tanah pun akan terus meningkat
dibandingkan ketersediaan ketersediaan yang ada.

Berikut ini Lamudi telah menyiapkan beberapa hal yang perlu ketahui seputar investasi
tanah:
Sifatnya yang fleksibel, dapat memungkinkan mendapatkan pendapatan pasif melalui bisnis
penyewaan. Salah satu contohnya dapat menyewakan unit kavling tersebut sebagai lahan parkir
ataupun unit bangunan komersial seperti ruko (biasanya dalam jangka waktu belasan tahun).
juga dapat memanfaatkan kavling tersebut untuk digarap menjadi lahan produktif. Contohnya
ialah sebagai kebun atau sawah.

Kenaikan harganya cenderung lebih tinggi dari inflasi, di mana hal ini akan sangat
menguntungkan bagi yang berencana memiliki simpanan jangka panjang. Rata-rata kenaikan
harga tanah per tahun berkisar mulai 20 hingga 25 persen. Lain halnya jika berinvestasi di
daerah berkembang, kenaikan harganya dapat mencapai 30 persen hingga 40 persen per tahun.
Bahkan untuk kawasan CBD (Central Business District), nilai kenaikannya mencapai 200 persen
hingga 300 persen

Di sisi lain juga perlu memperhatikan produktivitas tanah. Karena apabila tidak di garap
secara baik hanya akan memberikan beban biaya, mulai dari ongkos perawatan, penjagaan
hingga pajak yang harus dibayarkan setiap tahunnya. Meski begitu, biaya perawatan yang
disebutkan di atas relatif kecil apabila dibandingkan dengan unit properti bangunan. Investasi
Lahan juga minim akan resiko, sehingga tidak membutuhkan asuransi.

Sering kali keterbatasan biaya menjadi hambatan seseorang untuk berinvestasi tanah.
Karena harga jualnya yang relatif tinggi, sebaiknya menyasar lokasi dengan kisaran harga yang
masih terjangkau. Dengan catatan lokasi tersebut memiliki potensi menjanjikan dan terdapat
rencana proyek pembangunan untuk mendongkrak nilai tanah di kemudian hari. Sebagai contoh,
kawasan satelit dari kota-kota besar, seperti Bekasi dan Malang

3.HUBUNGAN HUKUM INVESTASI DAN HUKUM PERBANKKAN

Hubungan hukum investasi dengan hukum perbankkan dilihat dari Investasi Perbankan
adalah banking investment yaitu bidang usaha yang dapat dilakukan oleh bank untuk
berpartisipasi dalam membentuk modal baru bagi usaha baru ataupun usaha yang telah mapan
bagi badan-badan pemerintah, baik pusat maupun daerah; di Indonesia kegiatan seperti itu belum
diizinkan, yang ada hanya penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan kredit, dan
penyertaan modal pada lembaga keuangan.
Arti dari perbankan investasi bukan investasi keuangan di sektor perbankan. Namun pada
kenyataannya, perBankan investasi adalah jenis fungsi perbankan yang digunakan untuk
membantu klien dalam menciptakan kekayaan dan dana. Bank-bank komersial menggunakan
jenis perbankan sesuai dengan penggunaan yang masuk akal dan praktis dari sumber daya yang
tersedia. Tidak hanya itu, investasi perbankan dan orang yang terlibat di sektor ini juga
memberikan nasihat tentang bagaimana bertransaksi di bisnis mereka sedang masuk melalui
perbankan investasi, Perusahaan dapat menciptakan dana dalam dua cara. Mereka dapat menarik
dana publik dari pasar modal dengan melepaskan saham yaitu perusahaan pembiayaan atau
mereka bisa pergi ke kapitalis ventura atau ekuitas swasta untuk menjadi pemegang saham di
perusahaan mereka. Bidang perbankan investasi juga terlibat dalam memberikan saran dan
konsultasi mengenai bagaimana mengelola berbagai pengambilalihan dan penggabungan yaitu
[M & A] Merger dan akuisisi. Mereka juga menyediakan perusahaan dengan ide-ide tentang
bagaimana untuk mendeklarasikan penawaran publik dan mengelola bakat mereka. Penanganan
Merger dan Akuisisi datang di bawah fungsi Keuangan Perusahaan perbankan investasi. Margin
antara perbankan investasi dan bentuk lain dari perbankan telah sangat jelas untuk waktu yang
lama sekarang dan untuk waktu yang sama, fungsi dari sektor perbankan telah berkembang
meliputi setiap bidang proses manajemen kekayaan orang-orang perusahaan serta individu.

Keuangan Perusahaan:

Ini adalah sektor mana perbankan investasi bekerja dan mendukung perusahaan yang
paling dalam mendapatkan uang tambahan. Mari kita mengambil contoh bahwa perusahaan perlu
lebih banyak uang untuk membiayai riset pasar dari produk untuk-akan diluncurkan untuk tetap
maju dalam persaingan. Di sini, perbankan investasi dapat membantu Anda dengan mendapatkan
perusahaan Anda s saham yang dijual dan penggalangan dana untuk Anda. Cara lain, bagaimana
sebuah Bank Investasi bisa mendapatkan uang adalah dengan perdagangan saham atas nama
klien mereka.

Ini titik memiliki penjelasan apapun dan dapat didefinisikan hanya melalui contoh. Mari
kita mengambil contoh sebuah perusahaan yang akan kuat dalam bisnis dan pasar dan ingin
membeli perusahaan lain hanya untuk menambah kewenangan yang lebih untuk nama mereka
dan bisnis. Profesional dari sektor investasi perbankan membuat mereka menyadari bahwa pada
penggabungan; kedua perusahaan ini dapat menjadi kelompok besar dan dapat memperoleh
bagian utama dari pasar dan juga bisnis. Mereka juga memberitahu mereka apa manfaat lain
untuk mendapatkan digabung dan juga apa adalah waktu yang tepat sesuai dengan kondisi pasar
bagi kedua perusahaan untuk mendapatkan digabung menjadi satu sama lain.

Antara fungsi-fungsi penting lainnya yang melakukan investasi sektor perbankan,


penjualan adalah yang paling penting. Penjualan orang dari sektor investasi perbankan
melakukan tugas-tugas orang penjualan profesional. Orang-orang penjualan meyakinkan investor
dan mengembangkan hubungan dengan mereka untuk menjual saham mereka. Mereka juga siap
untuk memberikan saran yang berkaitan dengan saham dan perdagangan. Saran ini membuat
membeli dan menjual saham dan transaksi bisnis lainnya sangat mudah. Penelitian programmer
hadir untuk menganalisis bekerja dan jika kekurangan beberapa terlihat, mereka juga membantu
dengan menyarankan mereka waktu yang tepat untuk bertransaksi di saham.

Deskripsi investasi perbankan :

bidang usaha yang dapat dilakukan oleh bank untuk berpartisipasi dalam membentuk
modal baru bagi usaha baru ataupun usaha yang telah mapan bagi badan-badan pemerintah, baik
pusat maupun daerah; di Indonesia kegiatan seperti itu belum diizinkan, yang ada hanya
penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan kredit, dan penyertaan modal pada
lembaga keuangan (banking investment)