Anda di halaman 1dari 29

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka menjamin ketahanan dan kemandirian pangan, pada tahun

2015 Pemerintah melalui kementerian pertanian mentargetkan negara kita

swasembada pangan pada tahun 2017, untuk mencapai target tersebut

kementerian pertanian membuat gebrakan lewat Upaya Khusus Peningkatan

Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), kemudian pada tahun 2016

ditambah lagi dengan komoditas bawang merah, cabai, tebu, dan ternak sapi.

Untuk mensukseskan swasembada pangan ini pemerintah

mengeluarkan dana untuk berbagai kegiatan, mulai dari Rehabilitasi Jaringan

Irigasi Tersier (RJIT), penyediaan alat dan mesin pertanian, penyediaan dan

penggunaan benih unggul dan pupuk berimbang, pelaksanaan program

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), Perluasan Areal

Tanam jagung dan kedelai, peningkatan optimasi lahan, demfarm pengujian

teknologi, serta kegiatan-kegiatan lainnya demi tercapainya swasembada

pangan.

Salah satu kegiatan dalam GP-PTT yang bertujuan untuk meningkatkan

produksi padi dalam mensukseskan swasembada pangan adalah Kursus Tani

dengan materi sistem tanam jajar legowo yang bertujuan untuk meningkatkan

produksi padi (sebagai bahan penghasil beras) melalui penerapan dan perakitan

teknologi yang dilaksanakan secara partisipatif dan sesuai dengan keadaan

lingkungannya (spesifik lokasi).

1
B. Masalah

Permasalahan yang ditemui di desa Perboto, Kecamatan Kalikajar antara

lain adalah :

- Belum optimal nya produksi padi di desa Perboto

- Pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani dalam PTT padi sawah

khususnya tentang sistem tanam jajar legowo belum maksimal

C. Tujuan

Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan

keterampilan petani tentang sistem tanam jajar legowo mengacu pada PTT padi

sawah dalam usahataninya.

D. Manfaat.

1. Manfaat evalusi bagi mahasiswa adalah :

a. Mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam melakukan tugas

kerja penyuluhan dalam pemberdayaan pelaku utama dan pelaku usaha.

b. Mahasiswa dapat melakukan kerja sama dengan instansi

pemerintah/swasta, pelaku utama dan pelaku usaha serta stakeholder

lain.

c. Mahasiswa dapat berlatih dalam bemasyarakat dengan kondisi

sosiokultur yang berbeda

2. Manfaat bagi pihak terkait seperti pemerintah/swasta, pelaku utama dan

pelaku usaha serta stakeholder lain adalah:

a. Sebagai rekomendasi bagi pihak terkait untuk meyelesaikan

permasalahan dalam dunia pertanian

2
b. Sebagai acuan untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan selanjutnya

c. Membantu menyelesaikan tugas/pekerjaan rutin terkait dengan

penyuluhan pertanian yang dilakukan instansi, pelaku utama dan pelaku

usaha;

d. Menciptakan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dibidang

pemberdayaan SDM pertanian.

3. Manfaat bagi lembaga STPP

a. Menciptakan SDM Penyuluh Pertanian yang memiliki kompetensi

Penyuluh Pertanian Pelaksana Lanjutan.

b. Memberikan peran serta dalam peningkatan program pemberdayaan

petani dan keluarganya.

3
II. LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A. Evaluasi Hasil Penyuluhan Pertanian

Evaluasi Penyuluhan Pertanian adalah kegiatan untuk menilai suatu

program penyuluhan pertanian. Evaluasi penyuluhan pertanian dilakukan

dengan proses pengumpulan data, penentuan ukuran, penilaian serta

perumusan keputusan yang digunakan untuk perbaikan atau penyempurnaan

perencanaan berikutnya yang lebih lanjut demi tercapainya tujuan dari

program penyuluhan pertanian terhadap perubahan perilaku dan adopsi

petani tentang sistem tanam jajar legowo mengacu pada PTT padi sawah.

B. Kursus Tani

1. Pengertian

Kursus tani desa adalah suatu proses belajar mengajar bagi para

petani di desa yang diselenggarakan secara sistematis, teratur, dan dalam

jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kemampuan petani dalam

menerapkan innovasi teknologi (padi, jagung, dan kedelai) sesuai

rekomendasi (BPPSDMP, 2015)

C. Sistem Tanam Jajar Legowo

1. Pengertian

Menurut Balitbang Kementan, 2013. Sistem tanam jajar legowo

adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih

4
(biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong.

Istilah Legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata lego

berarti luas dan dowo berarti memanjang. Legowo di artikan pula

sebagai cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan dan

diselingi satu barisan kosong.

Baris tanaman (dua atau lebih) dan baris kosongnya (setengah

lebar di kanan dan di kirinya) disebut satu unit legowo. Bila terdapat dua

baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, sementara jika

empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1, dan seterusnya.

Pada awalnya tanam jajar legowo umum diterapkan untuk daerah

yang banyak serangan hama dan penyakit, atau kemungkinan terjadinya

keracunan besi. Jarak tanam dua baris terpinggir pada tiap unit legowo

lebih rapat dari pada baris yang ditengah (setengah jarak tanam baris

yang di tengah), dengan maksud untuk mengkompensasi populasi

tanaman pada baris yang dikosongkan. Pada baris kosong, di antara unit

legowo, dapat dibuat parit dangkal. Parit dapat berfungsi untuk

mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada

tanaman padi atau untuk pemeliharaan ikan kecil (muda).

Sistem tanam legowo kemudian berkembang untuk men-dapatkan

hasil panen yang lebih tinggi dibanding sistem tegel melalui penambahan

populasi. Selain itu juga mempermudah pada saat pengendalian hama,

penyakit, gulma, dan juga pada saat pemupukan. 5

5
Pada penerapannya, perlu diperhatikan tingkat kesuburan tanah

pada areal yang akan ditanami. Jika tergolong subur, maka disarankan

untuk menerapkan pola tanaman sisipan hanya pada baris pinggir

(legowo tipe 2). Hal ini dilakukan untuk mencegah kerebahan tanaman

akibat serapan hara yang tinggi. Sedangkan pada areal yang kurang

subur, maka tanaman sisipan dapat dilakukan pada seluruh barisan

tanaman, baik baris pinggir maupun tengah (legowo tipe 1). Saat ini,

sistem logowo sudah mulai banyak di adopsi oleh petani di Indonesia.

Banyak petani yang sudah merasakan manfaat dan keuntungannya

dengan menggunakan teknik tersebut. Dengan sistem tanam legowo,

populasi tanaman dapat ditingkatkan yang pada gilirannya diperoleh

peningkatan hasil gabah.

2. Teknik Penerapan

a. Pembuatan Baris Tanam

1) Persiapkan alat garis tanam dengan ukuran jarak tanam yang

dikehendaki.

2) Bahan untuk alat garis tanam bisa digunakan kayu atau bahan lain

yang tersedia serta biaya terjangkau.

3) Lahan sawah yang telah siap ditanami, 1-2 hari sebelumnya

dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-

macak

4) Ratakan dan datarkan sebaik mungkin.

6
5) Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan

jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah

dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang

dibentang dari ujung ke ujung lahan.

b. Tanam

1) Penanaman dilakukan pada perpotongan garis yang sudah

terbentuk.

2) Cara laju tanam sebaiknya maju agar perpotongan garis untuk

lubang tanam bisa terlihat dengan jelas, Namun apabila kebiasaan

tanam mundur juga tidak menjadi masalah, yang penting populasi

tanaman yang ditanam dapat terpenuhi.

3) Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo,

populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman di

antara 2 lubang tanam yang tersedia

3. Tipe sistem jajar Legowo

a. Jajar Legowo 2:1 Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong

dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris

yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam

barisannya.

b. Jajar Legowo 3:1 Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan

satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak

7
tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam

dalam barisannya

c. Jajar Legowo 4:1 setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan

satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak

tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam

dalam barisannya

D. PTT Padi Sawah

1. Pengertian

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif

dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui

perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis

antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta

bersifat spesifik lokasi (Pedum SL-PTT, 2014)

2. Prinsip-prinsip PTT

a. Terpadu : PTT merupakan suatu pendekatan agar sumberdaya

tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara

terpadu,

b. Sinergis : PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik, dengan

memperhatikan keterkaitan yang saling mendukung antar komponen

teknologi,

c. Spesifik lokasi : PTT memperhatikan kesesuaian teknologi dengan

lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi petani setempat,

8
d. Partisipatif : petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji

teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani

melalui proses pembelajaran dalam bentuk Laboratorium Lapangan

(LL).

e. Dinamis : Penerapan teknologi selalu disesuaikan dengan

perkembangan dan kemajuan IPTEK serta kondisi sosial ekonomi

setempat.

3. Komponen Teknologi Unggulan PTT Padi

Komponen teknologi yang diterapkan dalam PTT dikelompokkan

ke dalam teknologi dasar dan pilihan. Komponen teknologi dasar sangat

dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Penerapan

komponen pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan

kemampuan petani setempat.

Dasar

a. Varietas unggul baru, inbrida atau hibrida.

b. Benih bermutu dan berlabel.

c. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah

atau dalam bentuk kompos atau pupuk kandang.

d. Pengaturan populasi tanaman secara optimum.

e. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah.

f. Pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dengan

pendekatan PHT (pengendalian hama terpadu).

9
Pilihan

a. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam.

b. Penggunaan bibit muda (< 21 hari).

c. Tanam bibit 1-3 batang per rumpun.

d. Pengairan secara efektif dan efisien.

e. Penyiangan dengan landak atau gasrok.

f. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.

10
III. METODE EVALUASI

A. Metode Dasar Evaluasi

Kegiatan evaluasi yang dilaksanakan pada PKL III ini adalah evaluasi

sumatif, yaitu kegiatan evaluasi yang dilaksanakan setelah program selesai

dilaksanakan, evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh terdapat

penyimpangan dalam pelaksanaan program dan seberapa jauh tujuan dan

program yang telah dapat dicapai seperti yang diharapkan

Berdasarkan tujuan evaluasi yaitu untuk mengetahui tingkat Pengetahuan,

Sikap, dan Keterampilan petani dalam sistem tanam jajar legowo mengacu

pada PTT padi sawah setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, maka dalam

pelaksanaannya dilakukan pembuatan kuisioner. Metode yang tepat

digunakan untuk pengambilan kuisioner adalah :

1. Wawancara

Metode ini digunakan untuk pengambilan kuisioner dengan mewawancarai

langsung petani yang sudah dipilih menjadi responden melalui penarikan

sampel. Metode ini dilaksanakan dengan melakukan anjangsana ke rumah

responden tersebut.

2. Wawancara Kelompok

Metode ini dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan dengan responden

yang berada dalam satu kelompok yang pernah mengikuti penyuluhan tentang

sistem tanam jajar legowo mengacu pada PTT padi sawah

11
B. Waktu dan Tempat

Kegiatan evaluasi hasil pelaksanaan kursus tani dengan materi sistem

tanam jajar legowo mengacu pada PTT padi sawah ini dilaksanakan di WKPP

desa Perboto, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa

Tengah, pada hari Jumat, tanggal 15 April 2016.

C. Pengambilan Data

1. Data Populasi

Populasi adalah keseluruhan anggota kelompok tani semunggang yang

berjumlah 31 orang, dimana semua anggota kelompok tani ini mengikuti

kegiatan kursus tani yang diadakan di desa Perboto

2. Data Sampel

Sampel adalah anggota kelompok tani semunggang yang mengikuti

kegiatan kursus tani dan diambil secara acak sejumlah 20 orang dari 31

orang anggota yang mengikuti kegiatan tersebut

3. Jenis Data

a. Data Sekunder

1) Programa Kecamatan

2) Laporan Kegiatan SL-PTT Padi Sawah

3) Materi SL-PTT

b. Data Primer

1) Kuesioner

2) Data Kualitatif

12
4. Prosedur Pengambilan Data

a. Pengambilan sampel didasarkan atas beberapa kriteria sasaran (peserta

kursus tani) sebagai berikut :

1) Tingkat kehadiran/keaktifan dalam kegiatan kursus tani

2) Tingkat partisipatif, dan kerja sama antar petani

b. Subjek yang diambil sebagian sampel benar-benar merupakan subjek

yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat kriteria diatas dan

merupakan anggota kelompoktani yang mengikuti kegiatan kursus tani

c. Penarikan dan penetapan sampel didasarkan dengan teknik penarikan

sampel secara acak (random sampling) dari populasi yang ada yaitu

seluruh anggota kelompok tani semunggang yang mengikuti kegiatan

kursus tani.

d. Pemilihan sampel berdasarkan sensus (total) seperti rangkaian berikut

BPP Among Tani

Desa Perboto

Poktan
Semunggang
(31 orang)

20 Peserta Evaluasi

13
5. Instrumen Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi, terlebih dahulu mempersiapkan kuesioner

berupa pertanyaan-pertanyaan menyangkut beberapa aspek seperti aspek

pengetahuan,aspek sikap,aspek ketrampilan petani terhadap kegiatan yang

akan di evaluasi (kuisioner dapat dilihat pada lampiran). Instrumen-

instrumen evaluasi yang dibuat dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini :

No Profil Kisi-kisi Indikator Item


1 Pengetahuan dan Sikap petani Keuntungan tanam jajar Keuntungan Pem

14
terhadap materi sistem tanam legowo dan
jajar legowo mengacu pada pen
Pengolahan tanah Cara pelaksanaan Ber
PTT padi sawah
Rat
Alat tanam Penggunaan alat Ala
Varietas Unggul Baru Jenis-jenis VUB Cih
(VUB) Hip
Penggunaan benih Benih yang digunakan Ber
Ber
Penggunaan bibit Bibit yang digunakan Bib
Jarak tanam Ukuran jarak tanam 25c
Pengairan sewaktu tanam Kondisi air Kon
Penggunaan pupuk Jenis pupuk Ure
Produktivitas Peningkatan 10
Tabel 1. Matrik Profil, Kisi-Kisi, Indikator, Dan Item-Item

Lanjutan...
No Profil Kisi-kisi Indikator Item
2 Keterampilan petani dalam Pengolahan tanah Cara pelaksanaan Ber
penerapan materi sistem Rat
tanam jajar legowo mengacu Frekuensi 2 ka
pada PTT padi sawah Jarak tanam Ukuran jarak tanam Ant
Dal
Ant
Pemberian pupuk Ketepatan Tep
Tep
Tep
Tep
Tep
Penggunaan bibit Bibit yang digunakan Bib
Pengairan Kedalaman 5 cm
Umur tanaman 10-
25
dan

15
Lanjutan...
No Profil Kisi-kisi Indikator Item
Dik
pan
Penyiangan Waktu 21 h
Terg
Pemanenan Ketepatan waktu Seb
Tela
Ber
Perontokan gabah Waktu Ma
Alat yang digunakan Tre
Penjemuran Seg

16
D. Analisis Data

Analisis data yang digunakan pada kegiatan evaluasi ini adalah analisis

kualitatif yang digunakan untuk mengetahui informasi mengenai bagaimana

pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani dalam sistem tanam jajar legowo

mengacu pada PTT padi sawah di desa Perboto kecamatan Kalikajar. Data yang

terkumpul selanjutnya dimasukan kedalam tabulasi data. Data yang sudah

ditabulasikan selanjutnya di analisis secara statistik, dengan menggunakan skala

kardinal untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan

petani dalam sistem tanam jajar legowo mengacu pada PTT padi sawah

17
IV. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

A. Pembahasan

4. Pelaksanaan kegiatan kursus tani

a. Peserta pada kegiatan penyuluhan ini adalah kelompok tani Semunggang

sebanyak 20 orang

b. Lokasi diadakannya kegiatan penyuluhan adalah balai Desa Perboto

c. Waktu pelaksanaan kegiatan adalah pada tanggal 26 Mei 2015

d. Materi yang disampaikan pada kegiatan penyuluhan adalah sistem tanam jajar

legowo mengacu pada PTT padi sawah

5. Hasil Evaluasi

a. Aspek Pengetahuan

Aspek kognitif adalah pengetahuan petani tentang sistem tanam jajar

legowo mengacu pada Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah.

Aspek kognitif diperoleh dari indikator manfaat yang diperoleh,

meningkatkan pengetahuan petani tentang sistem tanam jajar legowo.

Klasifikasi tingkat pengetahuan petani terhadap sistem tanam jajar legowo

mengacu pada PTT tanaman padi sawah dapat dikelompokkan sebagai

berikut :

Skor tertinggi = 3 (dengan asumsi 100%)

Skor terendah = 1 (dengan asumsi 33,33%)

Interval kelas = skor tertinggi skor terendah

Jumlah kelas

18
Interval kelas = 100% - 33,33%

Interval kelas = 22,22%

Dari interval kelas tersebut diperoleh range skor sebagai klasifikasi

penilaian tingkat pengetahuan terhadap sistem tanam jajar legowo sebagai

berikut :

Skor 77,78 % - 100 % = kategori Sangat Mengetahui (SM)

Skor 55,55 % - 77,77 % = kategori Mengetahui (M)

Skor 33,33 % 55,54 % = Kurang Mengetahui (KM)

Untuk lebih jelas bisa dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5. Analisis tingkat pengetahuan petani terhadap sistem tanam jajar legowo
No Pertanyaan / Pernyataan Nilai Keterangan
(%)
1 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa sistem tanam jajar
Sangat
legowo mempermudah dalam pemupukan susulan, 100
Mengetahui
penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman
2 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa pengolahan tanah
hingga berlumpur dan rata menyediakan media Sangat
100
pertumbuhan yang baik dan seragam bagi tanaman padi Mengetahui
serta mengendalikan gulma
3 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa salah satu alat
Sangat
yang digunakan untuk mempermudah penanaman adalah 100
Mengetahui
caplak sistem legowo
4 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa Penggunaan
Varietas Unggul Baru (VUB) berdaya hasil tinggi serta
Sangat
tahan terhadap hama penyakit utama (Jenis-jenis VUB 83
Mengetahui
antara lain : Ciherang, Mekongga, Rokan, Hipa 3, Bernas
Super, dan Intani)
5 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa penggunaan benih
Sangat
bermutu dan berlabel menghasilkan bibit yang lebih sehat 93
Mengetahui
dengan perakaran lebih banyak.
6 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa yang dimaksud Kurang
33
bibit muda yang ditanam adalah yang berumur >35 hari Mengetahui
7 Apakah Bapak/Ibu mengetahui ukuran jarak tanam jajar Sangat
98
legowo adalah (25cm x 12,5cm x 50cm) Mengetahui
8 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa penanaman pada 100 Sangat

19
kondisi air macak-macak membuat pertumbuhan tanaman
Mengetahui
lebih baik.
9 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa Untuk
mendapatkan hasil gabah yang tinggi dengan tetap
Sangat
mempertahankan kesuburan tanah, maka perlu dilakukan 100
Mengetahui
kombinasi pemupukan antara pupuk organik dan
anorganik
10 Apakah Bapak/Ibu mengetahui bahwa sistem tanam jajar Sangat
100
legowo dapat meningkatkan produktivitas padi 10-15 % Mengetahui
Sangat
Rerata 91 %
Mengetahui
Sumber : Olahan data primer, 2016

Berdasarkan hasil pengolahan data kuisioner tingkat capaian aspek

pengetahuan petani terhadap sistem tanam jajar legowo mencapai rata-rata 91

%. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat capaian termasuk dalam kategori

sangat mengetahui , sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan kursus tani

tentang sistem tanam jajar legowo aspek pengetahuan berhasil ditingkat

petani. Dari aspek pengetahuan ini terjadi peningkatan pengetahuan petani

dalam sistem tanam jajar legowo, hal ini bisa dilihat langsung pada hasil

kuisioner serta dari data sekunder yang dikumpulkan dimana pada saat ini

semua anggota kelompok tani Semunggang sudah menerapkan sistem tanam

jajar legowo. Namun demikian dari 10 sub komponen terdapat presentase

yang rendah yaitu pada sub komponen pengetahuan tentang penggunaan bibit

muda di mana hanya 33 % yang dikategorikan kurang mengetahui, hal ini

disebabkan pengetahuan petani bahwa bibit yang berumur diatas 5 hari masih

dikategorikan bibit muda. Selain itu pada sub komponen pengetahuan tentang

Varietas Unggul Baru juga hanya 83 %, karena memang sebagian petani lebih

senang menggunakan varietas lokal.

20
b. Aspek Sikap

Klasifikasi tingkat sikap petani terhadap sistem tanam jajar legowo mengacu

pada PTT tanaman padi sawah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Skor tertinggi = 3 (dengan asumsi 100%)

Sekor terendah = 1 (dengan asumsi 33,33%)

Interval kelas = skor tertinggi skor terendah

Jumlah kelas

Interval kelas = 100% - 33,33%

Interval kelas = 22,22%

Dari interval kelas tersebut diperoleh range skor sebagai klasifikasi penilaian

tingkat sikap petani terhadap sistem tanam jajar legowo mengacu pada PTT

tanaman padi sawah sawah sebagai berikut :

Skor 77,78 % - 100 % = kategori Setuju (S)

Skor 55,55 % - 77,77 % = kategori Ragu-ragu (RR)

Skor 33,33 % 55,54 % = kategori Tidak Setuju (TS)

Untuk lebih jelas bisa dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 6. Analisis tingkat sikap petani terhadap sistem tanam jajar legowo mengacu pada
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah
No Pertanyaan / Pernyataan Hasil (%) Keterangan
1 Dengan sistem tanam jajar legowo mempermudah dalam
pemupukan susulan, penyiangan dan pengendalian hama 100 Setuju
dan penyakit tanaman
2 Dengan pengolahan tanah hingga berlumpur dan rata
menyediakan media pertumbuhan yang baik dan seragam 100 Setuju
bagi tanaman padi serta mengendalikan gulma
3 Dengan caplak sistem legowo mempermudah dalam 100 Setuju

21
penanaman dengan sistem tajarwo
4 Dengan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB)
tanaman berdaya hasil tinggi serta tahan terhadap hama
penyakit utama 80 Setuju
(Jenis-jenis VUB antara lain : Ciherang, Mekongga,
Rokan, Hipa 3, Bernas Super, dan Intani)
5 Dengan penggunaan benih bermutu dan berlabel
menghasilkan bibit yang lebih sehat dengan perakaran 100 Setuju
lebih banyak.
6 Dengan penggunaan bibit muda (<21 hari) menyebabkan
tanaman tidak stres akibat pencabutan, pengangkutan, dan 98 Setuju
penanaman kembali
7 Ukuran jarak tanam yang ideal untuk jajar legowo adalah
93 Setuju
(25cm x 12,5cm x 50cm)
8 Dengan melakukan penanaman pada kondisi air macak-
100 Setuju
macak membuat pertumbuhan tanaman lebih baik.
9 Untuk mendapatkan hasil gabah yang tinggi dengan tetap
mempertahankan kesuburan tanah, maka perlu dilakukan
100 Setuju
kombinasi pemupukan antara pupuk organik dan
anorganik
10 Dengan sistem tanam jajar legowo dapat meningkatkan
100 Setuju
produktivitas padi 10-15 %
Rerata 97 % Setuju
Sumber : Olahan data primer, 2016

Berdasarkan hasil pengolahan data kuisioner tingkat capaian aspek sikap

petani terhadap sistem tanam jajar legowo mencapai 97 %, termasuk dalam

kategori setuju. Hal ini menggambarkan bahwa sistem tanam jajar legowo

setuju diterapkan oleh petani dalam usahataninya. Berdasarkan hasil kuisioner

yang ada serta data sekunder dari penyuluh pada dasarnya semua anggota

kelompok tani Semunggang setuju dan mau melaksanakan penanaman

dengan teknologi sistem tanam jajar legowo, sehingga adaptasi teknologi ini

bisa berjalan karena secara ekonomis menguntungkan, secara teknis mudah

dilaksanakan, dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat. Untuk

kedepannya tinggal menunggu peran aktif para penyuluh untuk terus

22
mendampingi kelompok tani Semunggang, khususnya dalam penerapan

teknologi sistem tanam jajar legowo.

c. Aspek Keterampilan

Klasifikasi tingkat ketrampilan petani terhadap sistem taam jajar legowo

dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Skor tertinggi = 3 (dengan asumsi 100%)

Sekor terendah = 1 (dengan asumsi 33,33%)

Interval kelas = skor tertinggi skor terendah

Jumlah kelas

Interval kelas = 100% - 33,33%

Interval kelas = 22,22%

Dari interval kelas tersebut diperoleh range skor sebagai klasifikasi penilaian

tingkat penerapan petani terhadap komponen PTT padi sawah sebagai berikut

Skor 77,78 % - 100 % = kategori Terampil (T)

Skor 55,55 % - 77,77 % = kategori Cukup Terampil (CT)

Skor 33,33 % 55,54 % = kategori Kurang Terampil (KT)

23
Untuk lebih jelas bisa dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 7. Analisis tingkat ketrampilan petani terhadap sistem tanam jajar legowo.
No Pertanyaan / Pernyataan Hasil (%) Keterampilan
1 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam pengolahan tanah ?
Terampil = Pengolahan tanah dilakukan 2 kali,
pengolahan tanah hingga berlumpur dan rata
Cukup Terampil = Pengolahan tanah dilakukan 1 kali,
92 Terampil
hingga berlumpur dan rata
Kurang Terampil = Pengolahan tanah dilakukan 1 kali,
tidak sampai berlumpur dan rata/sama sekali tidak
melakukan pengolahan tanah
2 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam mengatur jarak tanam
untuk jajar legowo?
Terampil = Jarak antar rumpun dalam baris 25 cm, jarak
dalam baris yang diberi sisipan 12,5 cm, dan jarak antar
barisan / lorong 50 cm
Cukup Terampil = Jarak antar rumpun dalam baris 20 cm, 88 Terampil
jarak dalam baris yang diberi sisipan 12,5 cm, dan jarak
antar barisan / lorong 50 cm
Kurang Terampil = Jarak antar rumpun dalam baris 25
cm, jarak dalam baris yang diberi sisipan 12,5 cm, dan
tidak ada baris kosong/lorong
3 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam ketepatan pemberian
pupuk ?
Terampil = Tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu,tepat cara 78 Terampil
Cukup Terampil = Tepat jenis, tepat dosis, dan tepat cara
Kurang Terampil = Tepat jenis dan tepat waktu
4 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam penggunaan bibit
muda ?
Cukup
Terampil = Bibit ditanam umur 19 - 21 hari 68
Terampil
Cukup Terampil = Bibit ditanam umur 20 - 22 hari
Kurang Terampil = Bibit ditanam umur >22 hari
5 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam mengatur kedalaman
air pengairan ?
Terampil = Umur 0-8 hari kedalaman 5cm, 8-45 hari
kedalaman 10-20 cm, apabila sudah berbulir dan
menguning kedalaman 25 cm, dan 10 hari sebelum panen
dikeringkan 87 Terampil
Cukup Terampil = Umur 0-45 hari kedalaman 10-20 cm,
apabila sudah berbulir dan menguning kedalaman 25 cm,
dan 10 hari sebelum panen dikeringkan
Kurang Terampil = Selalu dibiarkan tergenang dan 10
hari sebelum panen dikeringkan
6 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam penyiangan tanaman ? 93 Terampil
Terampil = Penyiangan pertama menjelang 21 hari setelah

24
tanam, penyiangan selanjutnya tergantung kepadatan
gulma
Cukup Terampil = Penyiangan pertama setelah 21 hari
setelah tanam, penyiangan selanjutnya tergantung
kepadatan gulma
Kurang Terampil = Penyiangan hanya tergantung
kepadatan gulma
7 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam pemanenan tepat
waktu ?
Terampil = Pada saat tanaman sebagian besar gabah (90-
95 %), telah bernas, dan berwarna kuning
80 Terampil
Cukup Terampil = Pada saat tanaman telah bernas dan
berwarna kuning
Kurang Terampil = Pada saat tanaman sebagian besar
telah berwarna kuning
8 Apakah Bapak/Ibu terampil dalam perontokan gabah ?
Terampil = Perontokan maksimal 2 hari setelah panen,
menggunakan alat perontok (theresher) dan segera
dijemur
Cukup Terampil = Perontokan maksimal 2 hari setelah Cukup
60
panen, tidak menggunakan alat perontok (theresher) dan Terampil
segera dijemur
Kurang Terampil = Perontokan lebih dari 2 hari setelah
panen, tidak menggunakan alat perontok (theresher) dan
segera dijemur
Rerata 81 % Terampil
Sumber : Olahan data primer, 2015

Berdasarkan hasil pengolahan data kuisioner tingkat capaian aspek

ketrampilan petani terhadap sistem tanam jajar legowo mencapai 81 %,

termasuk dalam kategori terampil. Hal ini menggambarkan bahwa

keterampilan petani dalam sistem tanam jajar legowo cukup tinggi walaupun

masih dibawah aspek pengetahuan dan sikap. Dari hasil pengolahan data

kuisioner bisa dilihat bahwa dari 8 pertanyaan untuk mengukur keterampilan

petani tidak ada yang mempunyai nilai 100 %, hal ini menandakan bahwa

memang anggota kelompok tani Semunggan masih membutuhkan bimbingan

25
dalam penerapan teknologi sistem tanam jajar legowo ini, khusunya dalam

bidang keterampilan penggunaan bibit muda dan bidang keterampilan dalam

perontokan gabah. Untuk penggunaan bibit muda petani perlu diberikan

pemahaman dan didampingi terus bahwa penggunaan bibit muda lebih

menguntungkan untuk pertumbuhan dan daya tahan terhadap serangan hama

dan penyakit.

B. Kesimpulan

Dari evaluasi kegiatan kursus tani tentang sistem tanam jajar legowo dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Evaluasi terkait aspek pengetahuan petani masuk dalam kategori sangat

mengetahui dengan nilai 91 %, walau pun masih perlu pendalaman dari bidang

penggunaan bibit muda

2. Evaluasi terkait aspek sikap petani masuk dalam kategori setuju dengan

pencapaian nilai 97 %

3. Evaluasi terkait keterampilan petani masuk dalam kategori dengan pencapaian

nilai 81 %

4. Secara keseluruhan kegiatan kursus tani di desa Perboto terkait aspek

pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani dalam sistem tanam jajar legowo

mengacu pada PTT padi sawah berada dalam kategori yang tertinggi dari

masing-masing aspek tersebut

26
V. SARAN

Secara keseluruhan hasil evaluasi tentang sistem tanam jajar legowo ini

dikategorikan berhasil, akan tetapi masih perlu pembimbingan dan pendampingan

dari penyuluh dalam beberapa bidang khususnya bidang penggunaan bibit muda,

penggunaan VUB, dan keterampilan dalam perontokan gabah. Pada penggunaan

bibit muda petani perlu diberi pemahaman tentang keuntungannya dan

didampingi terus dalam pelaksanaannya, pada penggunaan VUB penyuluh

diharapkan memperkenalkan jenis-jenis VUB yang ada serta menjelaskan

keuntungannya sehingga petani memiliki alternatif dalam pemilihan varietas,

dalam perontokan gabah perlu diusulkan agar kelompok tani mendapatkan

bantuan thresher sehingga kehilangan hasil pada saat perontokan bisa

diminimalkan.

Demikianlah saran kami semoga kedepannya bisa menjadi rekomendasi

bagi pihak BPP among tani ataupun pihak berkepentingan lainnya sehingga

penerapan teknologi ini bisa maksimal dan benar-benar memberi keuntungan

nyata untuk petani

27
DAFTAR PUSTAKA

Balitbang Pertanian. 2013. Sistem Tanam Legowo. Kementerian Pertanian. Jakarta.


Balitbang Pertanian. 2015. Panduan Umum PTT Padi Sawah. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.


BBPTP. 2015. Pemupukan Pada Tanaman Padi. Balitbang Kementan. Jakarta
BPPSDMP. 2015. Pedoman Teknis Pemberdayaan Kelompok Tani Di Lokasi Sentra

Pangan. Pusat Penyuluhan Pertanian. Jakarta


Mardikanto.T. 1991. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Universitas Sebelas

Maret Press. Surakarta.


Sujono; Setiawati.B. 2015. Modul Praktek Kerja Lapangan III. STPP Magelang

Jurluhatan Yogyakarta. Yogyakarta.


Sujono, 2015. Materi e-learning evaluasi penyuluhan pertanian yogyakarta. STPP

Magelang Jurluhtan Yogyakarta. Yogyakarta

28
LAMPIRAN

29