Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

MAKALAH
EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT TIDAK MENULAR

DISUSUN OLEH :

ADI SETIAWAN
NPM. 108010001

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
BENGKULU
2015

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr.wb
Alhamdulillah Puji syukur atas Kehadirat Allah s.w.t atas limpahan Rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini kami susun berdasarkan
pelaksaan tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Dasar-dasar epidemiologi dan sekaligus
untuk memberikan pemahaman kepada rekan-rekan mahasiswa khusunya dalam ilmu
epidemiologi penyakit tidak menular.
Makalah ini kami beri judul Epidemiologi Penyakit Tidak Menular karena makalah ini
berisi materi mengenai definisi penyakit tidak menular, faktor faktor resiko pemyakit tidak
menular, karakteristik penyakit tidak menular, serta usaha pencegahan penyakit tidak menular.
Kami sangat menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah ini tidaklah sempurna, oleh
karena itu jika terdapat kesalah kesalahan di dalamnya kami mohon maaf sebesar besarnya.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam bidang
kesehatan baik keperawatan maupun kesehatan masyarakat.

Penulis
DAFTAR ISI

COVER.................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG........................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH....................................................................... 1
C. TUJUAN................................................................................................. 2
D. MANFAAT............................................................................................ 2
BAB II PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI KEPERAWATAN........................ 3
B. PENYAKIT BEDAH............................................................................. 4
C. EPIDEMIOLOGI KEPERAWATAN BEDAH.................................... 5
D. KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR....................... 7
E. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT................................................... 9
F. USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR.......... 13
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN.................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari tentang
timbulnya penyakit atau masalah kesehatan yang menimpa masyarakat. dimana ilmu
pengetahuan epidemiologi digunakan community health nursing CHN sebagai alat meneliti
dan mengobservasi pada pekerjaan dan sebagai dasar untuk intervensi dan evaluasi literatur
riset epidemiologi. Pengetahuan ini memberi kerangka acuan untuk perencanaan dan evaluasi
program intervensi masyarakat, mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta
meminimalkan kecacatan.
Ilmu bedah didefinisikan sebagai salah satu disiplin ilmu yang berkaitan dengan
pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit dengan cara pembedahan atau
operasi. Penatalaksanaan pembedahan membutuhkan penanganan yang intensif dengan
meminimalkan kecacatan karena tindakan ini memiliki resiko yang tinggi jika keperawatan
bedah yang salah malah dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu penting adanya
mengetahui dasar-dasar epidemiologi terhadap keperawatan bedah meliputi perencanaan dan
evaluasi program intervensi, mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta
meminimalkan kecacatan.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah berjudul Epidemiologi Keperawatan
Bedah, yaitu antara lain:
1. jelaskan pengertian epidemiologi keperawatan?
2. Jelaskan pengertian penyakit bedah serta bagian-bagiannya?
3. Jelaskan bagaimana epidemiologi keperawatan bedah?

C. TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu antara lain:
1. Untuk mengetahui pengertian epidemiologi keperawatan.
2. Untuk mengetahui pengertian penyakit bedah serta bagian-bagiannya.
3. Untuk mengetahui epidemiologi keperawatan bedah.

D. MANFAAT
-Manfaat bagi Tim Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya ilmiah dan menambah
wawasan khususnya tentang Epidemiologi keperawatan bedah dan ruang lingkupnya
- Manfaat bagi pembaca
Menjadi bahan masukan dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama mengenai
konsep epidemiologi keperawatan bedah dan ruang lingkupnya dalam bidang kesehatan.
BAB II
PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI KEPERAWATAN


Dalam ilmu keperawatan dikenal istilah community health nursing (CHN) atau
keperawatan kesehatan masyarakat, dimana ilmu pengetahuan epidemiologi digunakan CHN
sebagai alat meneliti dan mengobservasi pada pekerjaan dan sebagai dasar untuk intervensi
dan evaluasi literatur riset epidemiologi.
Epidemiologi atau enyakit tidak menular adalah penyakit kronik atau bersifat kronik
(menahun) alias berlangsung lama, tapi ada juga yang berlangsung mendadak misalnya saja
keracunan, misalnya penyakit kangker tubuh yang terpapar unsur kimia dan lain lain.
Penyakit tidak menular adalah penyakit non infeksi karena penyebabnya bukan
mikroorganisme, namun tidak berarti tidak ada peranan mikroorganisme dalam terjadinya
penyakit tidak menular misalnya luka karena tidak diperhatikan bisa terjadi infeksi.
Epidemiologi atau penyakit tidak menular adalah penyakit degenerative karena
berhubungan dengan proses degenerasi (ketuaan). Dan penyakit tidak menular adalah New
Communicable Disease karena dianggap dapat menular melalui life style, life style dapat
menyangkut pola makan, kehidupan seksual dan komunikasi global.
Metode epidemiologi sebagai standard kesehatan, disajikan sebagai alat untuk
memperkirakan kebutuhan masyarakat. Monitoring perubahan status kesehatan masyarakat
dan evaluasi pengaruh program pencegahan penyakit, dan peningkatan kesehatan.
Riset/studi epidemiologi memunculkan badan pengetahuan (body of knowledge)
termasuk riwayat asal penyakit, pola terjadinya penyakit, dan faktor-faktor resiko tinggi
terjadinya penyakit, sebagai informasi awal untuk CHN. Pengetahuan ini memberi kerangka
acuan untuk perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat, mendeteksi segera dan
pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan. Program utama pencegahan difokuskan
pada menjaga jarak perantara penyakit dari host/tuan rumah yang rentan, pengurangan
kelangsungan hidup agent, penambahan resistensi host dan mengubah kejadian hubungan
host, agent, dan lingkungan. Kedua, program mengurangi resiko dan screening, ketiga :
strategi mencegah pada pribadi perawat dengan body of knowlwdge yang berasal dari riset
epidemiologi, sebagai dasar untuk pengkajian individu dan kebutuhan kesehatan keluarga dan
intervensi perencanaan perawatan.
B. PENYAKIT BEDAH
Ilmu bedah didefinisikan sebagai salah satu disiplin ilmu yang berkaitan dengan
pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit dengan cara pembedahan atau
operasi.
Adapun berbagai macam penyakit-penyakit yang dikelompokkan sebagai penyakit
yang dapat ditangani dengan pembedahan adalah:
1. penyakit infeksi
Yaitu penyakit yang disebabkan oleh berbagai jenis jasad renik (mikrooganisme) seperti:
bakteri, virus, jamur dan parasit.
Contoh penyakit ini adalah:
a) appendictis ocuta atau apendictis chronica. Dalam bahasa umumnya dikenal sebagai usus
buntu.
b) abscess, dalam bahasa sehari-hari kita mengenalnya dengan nanah
2. Kongenital
Penyakit-penyakit kongenital yang dibawa sejak lahir yang dapat di obati dengan
pembedahan adalah:
a) cleft lips atau tukak bibir. Masyarakat mengenal penyakit ini dengan sebutan bibir sumbing.
b) cleft palate. Hampir sama dengan cleft Lips tapi bedanya celah Cleft Palate ini menembus
langit-langit
c) hydrocepallus
d) polydactily
e) CTEV (congenital T alipes Equino Varus). Penyakit yang dalam sehari-hari kita kenal dengan
istilah pengkor.
3. Neoplasma
Adalah pertumbuhan sel diluar kontrol tubuh sedangkan tumor adalah setiap pembengkakan
yang abnormal didalam tubuh. Tumor ini dibagi menjadi dua yaitu: benigna dan maligna.
Maligna inilah yang dalam keseharian kita sebut sebagai kanker. Contoh dari neoplasma ini
adalah:
a) carcinoma mamma (breast cancer)
b) carcinoma penis
c) kista atheron, yaitu pembengkakan pada kelenjar minyak.
d) lipoma
4. trauma/injuri/cedera
C. EPIDEMIOLOGI KEPERAWATAN BEDAH
Dalam cakupan epidemiologi, bahwa kemampuan epidemiologi untuk mengetahui
distribusi dan faktor-faktor penyebab masalah kesehatan dan mengarahkan intervensi yang
diperlukan maka epidemiologi diharapkan mempunyai peranan dalam keperawatan bedah,
baik pra maupun pasca operasi dalam bidang kesehatan masyarakat antara lain berupa :
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah
kesehatan dalam masyarakat yang dapat merugikan baik pra maupun pasca operasi.
b. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan mengambil keputusan.
c. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.
d. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk
mengatasi atau menanggulanginya.
e. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu
dipecahkan.
Upaya pencegahan dan ukuran frekuensi penyakit.
Dalam kesehatan masyarakat ada 5 (lima) tingkat pencegahan penyakit menurut Leavell
and Clark. Pada point 1 dan 2 dilakukan pada masa sebelum sakit dan point 3,4,5 dilakukan
pada masa sakit.
1. Peningkatan kesehatan (health promotion)
a. Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)
b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih, pembuangan
sampah, pembuangan tinja dan limbah.
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misal untuk kalangan menengah ke atas di negara
berkembang terhadap resiko jantung koroner.
d. Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.
e. Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan sosial.
f. Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.
2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general and specific
protection)
a. Memberikan immunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah penyakit
b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular, misal yang terkena flu burung.
c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat umum maupun tempat kerja.
d. Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, bahan-bahan racun maupun
alergi.
e. Pengendalian sumber-sumber pencemaran.
3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early diagnosis and
prompt treatment)
a. Mencari kasus sedini mungkin.
b. Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya pemeriksaan
darah, rontgent paru.
c. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact
person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.
d. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.
e. Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus.
4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)
a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi komplikasi.
b. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.
c. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan
perawatan yang lebih intensif.
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
a. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat.
b. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan dukungan
moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan.
c. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat
mampu mempertahankan diri.
d. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia
sembuh dari suatu penyakit.

D. KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR


Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara
agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll)
dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
1. Agent
a. Agent dapat berupa (non living agent) :
1) Kimiawi
2) Fisik
3) Mekanik
4) Psikis
b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai
yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui
spesifikasi dari agent tersebut
d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda
(dinyatakan dalam skala pathogenitas) Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent
penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host
e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
2) Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
3) Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif
2. Reservoir
a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana
agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi
sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.
3. Relasi Agent Host
a. Fase Kontak
Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
1) Lamanya kontak
2) Dosis
3) Patogenitas

b. Fase Akumulasi pada jaringan


Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus
c. Fase Subklinis
Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
1) Jaringan yang terkena
2) Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
3) Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)
d. Fase Klinis
Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala
dan tanda).

4) Karakteristik penyakit tidak menular :


a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.
5) Rute dari keterpaparan
Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

E. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT


a) Proses terjadinya penyakit
1. Proses terjadinya penyakit tergantung pada :
a. Karakterisitik dari agent
b. Karakteristik dari Host
c. Karakteristik dari environment
2. Pada Penyakit Tidak Menular
Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
a. Agent (non living organisme)
b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
c. Faktor predisposisi
b) Riwayat alamiah penyakit tidak menular
1. Definisi Riwayat Alamiah Penyakit :
a. Perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga
suatu penyakit berlangsung secara natural
b. Adanya respon dari host terhadap stimulus dari interaksi agent dan environment
2. Tahapan :
a. Prepathogenesis
1) Faktor-faktor : hereditas, ekonomi, sosial, lingkungan fisik, psikis stimulus penyakit
2) Stimulus dapat terjadi sebelum terjadinya interaksi antara stimulus dan manusia
3) Interaksi awal antara faktor faktor host, agent dan environment disebut periode
prepathogenesis
b. Pathogenesis
Mulai saat terjadinya kelainan /gangguan pada tubuh manusia akibat interaksi antara
stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya : kesembuhan, kematian, kronik dan
cacat.
Pada pembahasan diatas tidak dijelaskan tentang kondisi orang sebelum terinfeksi,
tetapi mempunyai resiko untuk terkena suatu penyakit. Untuk mengatasi kekurangan ini,
perjalanan penyakit dikembangkan menjadi :
Fase Suseptibilitas (Tahap Peka)
1) Pada fase ini penyakit belum berkembang, tapi mempunyai faktor resiko atau predisposisi
untuk terkena penyakit .
2) Faktor resiko tersebut dapat berupa :
a) Genetika /etnik
b) Kondisi fisik, misalnya : kelelahan, kurang tidur dan kurang gizi.
c) Jenis kelamin
Wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit Diabetes mellitus dan
reumatoid artritis dibandingkan dengan pria dan sebaliknya pria mempunyai resiko lebih
tinggi terkena penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan wanita.
d) Umur
Bayi dan balita yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan mempunyai resiko
yang tinggi terkena penyakit infeksi sedangkan pada usia lanjut mempunyai resiko untuk
terkena penyakit jantung dan kanker.
e) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti merokok mempunyai resiko untuk terkena
penyakit jantung dan karsinoma paru-paru.
f) Sosial ekonomi
Tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai resiko terkena penyakit infeksi
sedangkan tingkat sosial yang tinggi mempunyai resiko terkena penyakit hipertensi, penyakit
jantung koroner, gangguan kardiovaskuler dll, karena pada dengan tingkat sosial ekonomi
yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk terjadinya perubahan pola konsumsi makanan
dengan kadar kolesterol tinggi.
3) Untuk menimbulkan penyakit, faktor-faktor diatas dapat berdiri sendiri atau kombinasi
beberapa faktor.
Contoh :
Kadar kolesterol meningkat akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner.
Kelelahan, alkoholik merupakan kondisi yang suseptibel untuk terjadinya Hepatitis,
c) Fase Subklinis
1) Disebut juga fase Presimptomatik
2) Pada tahap ini penyakit belum bermanifestasi dengan nyata (sign dan symptom masih negatif)
, tapi telah terjadi perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh (Struktur ataupun fungsi)
3) Kondisi seperti diatas dikatakan dalam kondisi Below The Level of clinical horizon
4) Fase ini mempunyai ciri-ciri :
Perubahan akibat infeksi atau pemaparan oleh agen penyebab penyakit masih belum
nampak
Pada penyakit infeksi terjadi perkembangbiakan mikroorganisme patogen sedangkan
pada penyakit non infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi dan histologi,
misalnya terjadinya ateroskelotik pada pembuluh darah koroner yang mengakibatkan
penyempitan pembuluh darah.
d) Fase Klinis
1) Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk
memunculkan gejala-gejala (symptom) dan tanda-tanda (signs) penyakit.
2) Fase ini dibagi menjadi fase akut dan kronis.

e) Fase Konvalescen
1) Akhir dari fase klinis dapat berupa :
Fase Konvalescen (Penyembuhan)
Meninggal dunia
2) Fase konvalescen dapat berkembang menjadi :
Sembuh total
Sembuh dengan cacat (Disabilitas atau sekuele)
Penyakit menjadi kronis
3) Disabilitas (Kecacatan/ketidakmampuan)
Terjadi penurunan fungsi sebagian atauv keseluruhan dari struktur/organ tubuh
tertentu sehingga menurunkan fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan
Dapat bersifat : sementara (akut), kronis dan menetap
4) Sekuele
Lebih cenderung kepada adanya defect/cacatv pada struktur jaringan sehingga
menurunkan fungsi jaringan dan tidak sampai menggangu aktivitas seseorang.

F. USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR


Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap
penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
1. Pencegahan tingkat dasar (Primordial Preventif)
2. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
3. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
4. Pencegahan tingkat ketiga (Rehabilitasi)
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
ilmu pengetahuan epidemiologi digunakan CHN sebagai alat meneliti dan mengobservasi pada
pekerjaan dan sebagai dasar untuk intervensi dan evaluasi literatur riset epidemiologi.
Ilmu bedah didefinisikan sebagai salah satu disiplin ilmu yang berkaitan dengan pengobatan
dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit dengan cara pembedahan atau operasi.
penyakit-penyakit yang dikelompokkan sebagai penyakit yang dapat ditangani dengan
pembedahan adalah: penyakit infeksi, Kongenital, neoplasma, trauma/injuri/cedera.
epidemiologi untuk mengetahui distribusi dan faktor-faktor penyebab masalah kesehatan dan
mengarahkan intervensi yang diperlukan maka epidemiologi diharapkan mempunyai peranan
dalam keperawatan bedah, baik pra maupun pasca operasi dalam bidang kesehatan
masyarakat.

B. SARAN
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan tindakan keperawatan bedah
baik itu preventif, evlauasi dan implementasi sehingga dapat meminimalkan kecacatan.
Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan penyuluhan
mengenai pentingnya hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus
dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Nasrul. Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat, edisi 2. Jakarta : EGC, 1998.
Chandra, Budiman. Pengantar Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta ; EGC, 1996.