Anda di halaman 1dari 3

Nama : Tengku Adinda Dewi

Tema : Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Bahasa Daerah

Judul :Melestarikan Bahasa Sunda di Kalangan Pemuda di Era

Globalisasi

Dewasa ini, berkembangnya arus globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan

masyarakat Jawa Barat memiliki dampak terhadap melemahnya nilai-nilai sosial dan

budaya, salah satunya bahasa sunda. Bahasa sunda merupakan salah satu bahasa daerah

yang digunakan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa Barat yaitu suku sunda.

Bahasa sunda merupakan bahasa daerah kedua yang paling banyak digunakan di

Indonesia setelah bahasa jawa. Berdasarkan data pada tahun 2015 penutur bahasa sunda

berjumlah lebih dari 42 juta orang. Jumlah penutur bahsa sunda yang cukup besar ini

tidak menjamin bahasa sunda tidak terancam kepunahan. Hal ini disebabkan oleh

adanya arus globalisasi dan kurangnya pembinaan dari keluarga. Arus globalisasi

menuntut masyarakat agar dapat menguasai bahasa asing, sehingga masyarakat suku

sunda terutama generasi mudanya banyak yang berlomba-lomba agar mahir berbahasa

asing untuk mendukung karir mereka ke depannya. Adanya hal ini mengakibatkan

generasi muda menganggap bahwa mempelajari bahasa asing lebih baik dibandingkan

dengan mempelajari bahasa sunda. Selain itu, kurangnya pembinaan dari orang tua

sejak usia dini untuk berbahasa sunda di lingkungan keluarganya mengakibatkan

banyak pemuda di Jawa Barat yang tidak mengenal, tidak bisa berbahasa sunda. dan

malu menggunakan bahasa sunda karena dianggap bahasa ini sudah kuno.

Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja karena sudah jelas tertuang dalam

peraturan daerah no 9 tahun 2012 mengenai penggunaan, pemeliharaan dan


pengembangan bahasa, sastra dan aksara sunda bahwa bahasa sunda merupakan

identitas daerah yang harus dipelihara dan dikembangkan. Banyak upaya yang telah

dilakukan oleh pemerintah daerah untuk tetap melestarikan bahasa sunda, salahsatunya

yang dilakukan oleh bapak Ridwan Kamil yang merupakan walikota Bandung.

Program seperti Rebo Nyunda merupakan salah satu upaya melestarikan bahasa sunda

dan budaya sunda yang sudah sedikit demi sedikit ditinggalkan. Inisiatif Walikota

bandung itu dinilai ampuh dengan idenya yang terbilang lebih masa kini karena

menggunakan media sosial dan tidak terlalu kaku dalam penyampaiannya. Lewat media

sosial beliau berusaha untuk menjangkau generasi muda yang menjadi bagian dari

sekitar 22% warga Bandung yang menggunakan internet secara aktif. Kenyataannya

Bandung menduduki peringkat ke enam di dunia dalam penggunaan media sosial.

Penyampaian dan pendekatan bapak Ridwan Kamil dalam berkomunikasi di media

sosial dengan bahasa sunda yang tidak kaku, sehingga menimbulkan reaksi positif dari

masyarakat yang membacanya.

Adanya perhatian dari pemerintah daerah mengenai pelestarian bahasa sunda

membuat atmosfir positif bagi para pemuda di Jawa Barat untuk ikut serta dalam

melestarikan bahasa sunda. Sebenarnya tidak semua generasi muda di Jawa Barat

menganggap bahasa sunda itu sesuatu hal yang memalukan atau kuno. Banyak dari

generasi muda yang sangat bangga menggunakan bahasa sunda dan melestarikan

budaya sunda. Hal ini dapat terlihat dari mulai banyaknya lingkung seni sunda yang

dimana mereka melakukan itu agar budaya sunda tetap eksis di kalangan masyarakat

termasuk bahasa sunda. Pada acara acara tertentu dan khususnya bulan ramadhan

mereka kerap berkeliling dengan arak-arakan alat-alat musik sunda kemudian

menyanyikan lagu-lagu sunda. Kegiatan yang mereka lakukan itu membuat masyarakat
antusias untuk menonton dan mengikuti gerak serta suara mereka. Hal ini sesuai dengan

pendapat Prof Dr. Ir. Ganjar Kurnia yang merupakan salah satu mantan Rektor

Universitas Padjadjaran bahwa cara paling ampuh untuk membuat suatu kebudayaan

tetap eksis adalah melalui entertainment, termasuk dengan lagu. Lagu merupakan media

yang dapat membuat seseorang mengenal, mengetahui dan hafal akan suatu bahasa

dengan mudah.

Di sisi lain, banyak pula pemuda Jawa Barat yang mengenyam pendidikan

ataupun bekerja di luar negeri yang senantiasa apabila bertemu dengan rekannya yang

sedaerah akan menggunakan bahasa sunda dengan alasan rindu berbahasa ibu. Sebagian

dari mereka ada yang mengajarkan bahasa sunda pula kepada orang asing yang berasal

dari negara lain maupun orang yang berasal dari daerah lain. Tanggapan orang asingpun

sangatlah positif terhadap bahasa sunda. Mereka menyatakan bahwa bahasa sunda itu

bahasa yang unik dan seharusnya bangsa Indonesia bangga akan hal itu. Bahkan, salah

satu universitas di Belanda yaitu Universitas Leiden memiliki program studi mengenai

sastra Bahasa Sunda. Hal ini merupakan langkah yang baik agar bahasa sunda tetap

eksis di dunia ini. Akan, tetapi perlu diingat bahwa bahasa sunda itu berasal dari tanah

sunda yang ada di Indonesia, sangatlah ironis ketika bangsa lain yang memperdalamnya.

Melestarikan bahasa sunda adalah keharusan bagi kita sebagai generasi muda

yang tinggal di tanah sunda. Ironis sekali apabila hanya karena kita lebih menganggap

bahasa asing itu lebih berguna lantas kita meninggalkan warisan dari leluhur kita.

Banyak cara yang dilakukan untuk memeliharanya agar tetap ada di dunia ini. Tinggal

bagaimana kita sebagai generasi muda melakukannya.