Anda di halaman 1dari 4

BAHAN AJAR KELAS XI

KOMPETENSI DASAR
3.3 Memahami arti penting prinsip kesetaraan untuk menyikapi perbedaan
sosial demi terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis

Kesetaraan untuk mencapai kepentingan umum atau publik

B. Kesetaraan sosial
1. Konsep Kesetaraan
Kesetaraan berasal dari kata setara
atau sederajat. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2008), setara artinya
sejajar, sama tingkatnya, sederajat.
Dengan demikian, kesetaraan
menunjukkan adanya tingkatan yang
sama, kedudukan yang sama, tidak
lebih tinggi atau tidak lebih rendah satu
sama lain.
Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
maha Esa memiliki tingkat atau kedudukan yang sama.Tingkatan atau kedudukan tersebut
bersumber dari adanya pandangan bahwa semua manusia diciptakan dengan kedudukan yang
sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Di hadapan
Tuhan, semua manusia adalah sama derajat, kedudukan atau tingkatannya. Perbedaan
manusia adalah tingkat ketakwaan manusia terhadap Tuhan.

Ketaraan sosial adalah gagasan bahwa


manusia harus diperlakukan sederajat dalam
semua bidang institusional yang
mempengaruhi kesempatan hidup mereka yaitu
dalam pendidikan, pekerjaan, konsumsi, akses
sosial, relasi rumah tangga dan sebagainya.

Ada dua jenis kesetaraan:


1. Kesetaraan hasil
2. Kesetaraan kesempatan
Adakah dari kalian yang bisa menjelaskan jenis-jenis
kesetaraan di atas?
Kesetaraan hasil adalah bagaimana seseorang mendapatkan hasil yang sama
untuk setiap bidang.
kesetaraan kesempatan adalah setiap orang diberikan peluang yang sama
untuk meraih hasil yang beragam tergantung motivasi dan usahanya
Kalian sudah mengetahui jenis-jenis
kesetaraan, sekarang coba buatlah contoh
masing-masing jenis kesetaraan hasil dan
kesetaraan kesempatan!

Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki tingkatan atau
kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama bersumber dari pandangan bahwa
semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai
makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Dihadapan Tuhan semua manusia
memiliki derajat, kedudukan atau tingkatan yang sama , yang membedakannya adalah ketaqwaan
manusia tersebut terhadap Tuhan.

Kesederajatan merupakan suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman


yang ada, manusia tetap memiliki suatu kedudukan yang sama dalam satu tingkatan hierarki.
Kesederajatann adalah persamaan harkat, nilai, harga dan taraf yang membedakan makhluk
yang satu dengan yang lainnya. Kesederajatan dalam masyarakat adalah suatu keadaan yang
menunjukkan adanya pemeliharaan kerukunan dan kedamaian yang saling menjaga harkat
dan martabat masyarakatnya.

Di Indonesia unsur keragamannya


dapat dilihat dari suku bangsa, ras, agama
dan keyakinan, ideologi dan politik, tata
krama serta kesenjangan ekonomi dan
kesenjangan sosial. Semua unsur tersebut
merupakan hal yang harus dipelajari agar
keragaman yang ada tidak membawa
dampak yang buruk bagi kehidupan
bermasyarakat di Indonesia. Dampak buruk
dari tidak adanya sikap terbuka, logis dan
dewasa atas keragaman masyarakat, antara
lain munculnya disharmonisasi (tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia
dengan lingkungnnya), perilaku diskriminatif terhadap kelompok masyarakat tertentu,
eksklusivisme/rasialis (menganggap derajat kelompoknya lebih tinggi daripada kelompok
lain) dan disintegrasi bangsa.
Untuk menghindari dampak buruk diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan
yaitu dengan meningkatkan Semangat religius, semangat masionalisme, semangat pluralisme,
semangat humanisme, dialog antar umat beragama, serta membangun suatu pola komunikasi
untuk interaksi ataupun konfigurasi hubungan antara agama, media massa dan harmonisasi
dunia.
2. Prinsip-prinsip kesetaraan
Sejak zaman dahulu hingga sekarang, hal yang sangat fundamental dari hak asasi
manusia itu adalah ide yang meletakkan semua orang terlahir bebas dan memiliki kesetaraan
dalam hak asasi manusia. Demikian pula dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti
Indonesia, prinsip kesetaraan sangat perlu diterapkan.
Namun apakah semua harus diperlakukan sama untuk menciptakan suatu keadilan,
tanpa memandang tingkat pendidikan, kedudukan atau jabatan, status dan peran sosial?
Memang tak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan, kedudukan dan jabatan, status dan
peran sosial telah membuat seolah-olah setiap orang tersebut mempunyai hak istimewa dan
mendapat perlakuan yang lebih pula. Namun, mereka punya kewajiban yang sama seperti
halnya orang-orang disekitarnya. Dalam hal kewajiban sebagai warga negara tak ada yang
diperlakukan berbeda, semuanya setara. Demikian pula halnya dengan hak, setiap orang
mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi, memperoleh
kedudukan atau jabatan dan memiliki status dan peran sosial yang sama dalam
masyarakatnya. Kesetaraan memungkinkan setiap orang untuk mendapatkan kesempatan dan
memperoleh pendidikan yang layak, pekerjaan dan menempati jabatan atau keudukan dalam
masyarakatnya. Tak ada seorangpun yang berhak untuk menghalangi orang lain untuk
mencapai itu semua. Bahkan negara diperbolehkan untuk menerapkan suatu tindakan
afirmatif.
Tindakan afirmatif adalah tindakan atau kebijakan yang diambil untuk tujuan agar
kelompok atau golongan tertentu (gender ataupun profesi) memperoleh peluang yang setara
dengan kelompok atau golongan lain dalam bidang yang sama.
Prinsip-prinsip kesetaraan telah menjadi amanat dalam konstitusi Negara Kesatuan
Republik Indonesia yaitu dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal-pasal dalam UUD 1945 tersebut sudah menyebutkan prinsip-prinsip kesetaraan
tersebut, baik secara implisit maupun eksplisit. Adanya pengaturan persamaan hak dan
kewajiban dalam pasal-pasal UUD 1945 tersebut telah menunjukkan bahwa kesetaraan dalam
kehidupan negara dan berbangsa kita sudah diakui dan dijamin oleh negara.

Pasal 27 Ayat 1 UUD 1945 secara eksplisit


menegaskan pengakuan prinsip
kesetaraan, Segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum
dan pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya.

3. Penerapan Prinsip-Prinsip Kesetaraan

Prinsip-prinsip kesataraan perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan dan


bernegara, seperti dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kemajemukan
dalam masyarakat sangat rentan terhadap perpecahan jika prinsip kesetaraan tak diterapkan
dalam masyarakat tersebut. Perlakuan diskriminatif terhadap kelompok tertentu merupakan
salah satu bentuk tak diterakapkannya prinsip kesetaraan dalam suatu masyarakat. Begitu
pula halnya bila suatu daerah mengalami perang antarsuku atau antaretnis yang berbeda, hal
ini menunjukkan bahwa prinsip kesetaraan tak dilaksanakan dengan baik dan konsekuen.
Terjadinya aksi protes atas penguasa atu protes tehadap suatu kebijakan menunjukkan kalau
penguasa atau kebijakan yang dikeluarkan tersebut kurang atau tidak mengakomodasi prinsip
kesetaraan sehingga tak dianggap adil oleh masyarakat yang bersangkutan.
Penerapan prinsip-prinsip keseteraan dalam masyarakat yang beragam mutlak
diperlukan. Penerapan prinsip-prinsip keseteraan tersebut berguna untuk menciptakan
kehidupan yang harmonis dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Terjadinya
konflik Timur Tengah seperti dinegara Syria lebih disebabkan karena diterapkannya prinsip
kesetaraan dalam masyarakat tersebut. kebijakan pemerintah dinegeri ini itu terlalu otoriter
sehingga mengabaikan prinsip kesetaraan. Akibatnya, rakyat merasakan ketidakadilan.
Perbedaan dan keragaman sosial dalam kehidupan masyarakat bukanlah penghalang
untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat tersebut. Penerapan prinsip-
prinsip keseteraan merupakan salah satu jalan untuk menciptakan keharmonisan. Hal ini
disebabkan karena dalam prinsip setiap orang mendapat perlakuan dan diperlakukan sama
tanpa pandang bulu. Prinsip kesetaraan sangat tak menginginkan adanya perlakuan yang
diskriminatif. Perlakuan diskriminatif hanya akan menciptakan perpecahan bukan
keharmonisan dalam kehidupan sosial

Sumber:
Purnomo Agus. 2009. Ideologi Kekerasan. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press.
Kartadinata, Sunaryo, dkk. 2015. Pendidikan Kedamaian. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
http://dilogination.blogspot.co.id/p/c.html. Diakses pada hari senin, 25 April 2016.
Pukul 11.30 WIB