Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU SIK 3

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT PERTUSIS

Disusun Oleh :

SRI ANI (2014-36-031)

PROGRAM D-III REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya saya
diberikan kesehatan serta kemampuan sehingga dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Sistem
Informasi Kesehatan 3 dengan membuat makalah berjudul Riwayat Alamiah Penyakit Pertusis
dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Dalam makalah ini saya mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-
teman mahasiswa lainnya serta dapat menjadi bahan referensi untuk menambah pengetahuan
dalam pembuatan makalah tentang Riwayat Alamiah Penyakit Pertusis selanjutnya.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
menjadi yang lebih baik. Akhir kata saya berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca.

Jakarta April 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Judul......................................................................................................................................... i
Kata Pengantar.........................................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................ 1
1,1 Latar Belakang................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................... 2
2.1 Pengertian...................................................................................................2
2.2 Etiologi........................................................2
2.3 Manisfestasi klinis...2
2.4 Cara penularan.....3
2.5 Patofisiologis................3
2.6 Komplikasi...................4
2.7 Uji laboratoriumDiagnostik..................................................................................................4
2.8 Pengobatan dan perawatan.......5
2.9 Pencegahan...........................................................................................................................5

BAB III PENUTUP ..................................................................................................................7

3.1 Kesimpulan.......7
3.2 Saran.....7

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum ditemukannya vaksin,


angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup tinggi. Ternyata 80% anak-anak
dibawah umur 5 tahun pernah terserang penyakit pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar
20% dari jumlah penduduk total.

Pertussis (batuk rejan) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi tenggorokan
dengan bakteri Bordatella Pertussis. Penyakit batuk rejan / juga dikenal sebagai Pertussis
atau dalam bahasa Inggris Whooping Cough adalah satu penyakit yang menular. Pertussis bisa
ditularkan melalui udara. Gejala awalnya mirip dengan infeksi saluran nafas atau lainnya yaitu
pilek dengan lendir cair dan jernih, mata merah dan berair, batuk ringan, demam ringan. Pada
stadium ini, kuman paling mudah menular. Setelah 1-2 minggu, timbullah stadium kedua dimana
frekuensi dan derajat batuk bertambah. Stadium penyembuhan terjadi 2-4 minggu kemudian,
namun batuk bisa menetap hingga lebih dari 1 bulan.

Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia dibawah 1 tahun. 90% kasus ini terjadi
dinegara berkembang. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh Bakterium Bordetella namun tidak
jarang diakibatkan oleh Bordetella Parapertussis. Pertussis dikenal dengan batuk serius yang
diakhiri bunyi apabila anak-anak bernafas. Ia juga disertasi dengan selema, bersin dan demam
yang tidak begitu panas. Selain menyerang anak-anak batuk pertussis juga menyerang bayi
berusia dibawah 1 tahun, ini disebabkan karena ia belum mendapatkan vaksin. Untuk itu anak-
anak diberi vaksin DPT yang diberikan pada 2 bulan, 3 bulan dan akhirnya 5 bulan dari dosis
tambahan pada usia 18 bulan. Vaksin ini berkisar selama 5 tahun. Penyakit ini lama-kelamaan
dapat menyebabkan kematian. Sampai saat ini manusia dikenal sebagai satu-satunya tuan rumah
dan penularannya melalui udara secara kontak langsung dari droplet penderita selama batuk.
Untuk itulah saya menyusun makalah yang berjudul Penyakit Pertusis.

1.2 Rumusan msalah


1. Apa definisi pertusis?
2. Bagaimana etiologi terjadinya pertusis?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari pertusis?
4. Bagaimana cara penularan dari pertussis?
5. Bagaimana patofisiologi terjadinya pertusis?
6. Koplikasi apa saja yang terjadi pada pertussis?
7. Apa saja Uji Laboratorium Diagnostik untuk Peyakit pertusis?
8. Bagaimana pengobatan dan perawatan dari pertusis?
9. Bagaimana pencegahan dari pertussis?

1.3 Tujuan
1. Masyarakat mengetahui apa itu penyakit pertussis
2. Masyarakat mamapu untuk mencegah penyakit pertussis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan
ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal
disertai nada yang meninggi. Penyakit saluran nafas ini disebabkan oleh Bordetella pertusis,
nama lain penyakit ini adalah tussis quirita, whooping coagh, batuk rejan. Istilah pertussis (batuk
kuat) pertama kali diperkenalkan oleh Sydenham pada tahun 1670. dimana istilah ini lebih
disukai dari batuk rejan (whooping cough). Selain itu sebutan untuk pertussis di Cina adalah
batuk 100 hari.
Penyakit ini menimbulkan Serangan batuk panjang yang bertubi-tubi, berakhir dengan
inspirasi berbising dan juga dengan suara pernapasan dalam bernada tinggi atau melengking.

2.2. Etiologi

Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis yaitu bakteri gram negatif, tidak
bergerak, dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan ditanamkan
pada media agar Bordet-Gengou. (Arif Mansjoer, 2000)
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain:
1. Berbentuk batang (coccobacilus).
2. Tidak dapat bergerak.
3. Bersifat gram negatif.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul.
5. Mati pada suhu 55C selama jam, dan tahan pada suhu rendah (0- 10C).
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik.
7. Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin.

B.pertusis menghasilkan toksin dan substansi yang mengiritasi permukaan sel, menyebabkan
batuk dan limfositosis yang nyata. Kemudian, mungkin terjadi nekrosis bagian epitelium dan
infiltrasi polimorfonuklear dengan inflamasi peribronkhial dan pneumonia interstitial.

2.3 Manifestasi klinik


Masa tunas 7 14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan
terbagi dalam 3 stadium:
1. Stadium kataralis
Stadium ini berlangsung 1 2 minggu ditandai dengan adanya batuk-batuk ringan, terutama
pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan. Stadium ini menyerupai influenza.
2. Stadium spasmodik
Berlangsung selama 2 4 minggu, batuk semakin berat sehingga pasien gelisah dengan muka
merah dan sianotik. Batuk terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas. Serangan batuk panjang
dan tidak ada inspirasi di antaranya dan diakhiri dengan whoop (tarikan nafas panjang dan dalam
berbunyi melengking). Sering diakhiri muntah disertai sputum kental. Anak-anak dapat sempat
terberak-berak dan terkencing-kencing. Akibat tekanan saat batuk dapat terjadi perdarahan
subkonjungtiva dan epistaksis. Tampak keringat, pembuluh darah leher dan muka lebar.
3. Stadium konvalesensi
Berlangsung selama 2 minggu sampai sembuh. Jumlah dan beratnya serangan batuk
berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan timbul kembali.

2.4 Cara Penularan


Cara penularan pertusis, melalui:
Droplet infection
Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi

Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah
penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat
makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang
menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah
batuk dimulai.

2.5 Patofisiologi
Bordella merupakan kokobasili gram negatif yang sangat kecil yang tumbuh secara aerobik
pada agar darah tepung atau media sintetik keseluruhan dengan faktor pertumbuhan dengan
faktor tikotinamid, asam amino untuk energi dan arang atau resin siklodekstrin untuk menyerap
bahan-bahan berbahaya.

Bordella pertusis menghasilkan beberapa bahan aktif secara biologis, banyak darinya
dimaksudkan untuk memainkan peran dalam penyakit dan imunitas. Pasca penambahan aerosol,
hemaglutinin felamentosa (HAF), beberapa aglutinogen (terutama FIM2 dan Fim3), dan protein
permukaan nonfibria 69kD yang disebut pertaktin (PRN) penting untuk perlekatan terhadap sel
epitel bersilia saluran pernafasan. Sitotoksin trakhea, adenilat siklase, dan TP tampak
menghambat pembersihan organisme. Sitotoksin trakhea, faktor demonekrotik, dan adenilat
siklase diterima secara dominan, menyebabkan cedera epitel lokal yang menghasilkan gejala-
gejala pernapasan dan mempermudah penyerapan TP. TP terbukti mempunyai banyak aktivitas
biologis (misal, sensitivitas histamin, sekresi insulin, disfungsi leukosit). Beberapa darinya
merupakan manifestasi sistemik penyakit. TP menyebabkan limfositisis segera pada binatang
percobaan dengan pengembalian limfosit agar tetap dalam sirkulasi darah. TP tampak
memainkan peran sentral tetapi bukan peran tunggal dalam patogenesis.
2.6 Komplikasi

1. Alat Pernafasan
Bronchitis, atelektasis yang disebabkan sumbatan mucus, emfissema, bronkiektasis dan
bronkopneumonia yang disebabkan infeksi sekunder, misalnya karena streptokokkus hemolitik,
pneumukokkus, stafilokokkus, dll.

2. Saluran Pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi, prolaps rectum atau hernia, ulkus
pada ujung lidah dan stomatitis.

3. Sistem Saraf Pusat


Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah. Kejang
berat bisa terjadi karena penyebab anoksia. Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema otak,
serta dapat pula terjadi perdarahan otak

2.7 Uji Laboratorium Diagnostik

Ada beberapa cara pemeriksaan penyakit pertusis di laboratorium yaitu:

1. Spesimen
pencucian nasal dengan larutan saline adalah spesimen yang dipilih. Usapan nasofaring atau
droplet yang dikeluarkan dari batuk ke dalam cawan batuk yang dipegang di depan mulut
pasien selama batuk paroksimal kadang-kadang digunakan tetapi tidak sebagus pencucian nasal
dengan larutan saline,

2. Uji Antibodi Flouresens (FA) Lagsung


Reagen FA dapat digunakan untuk memeriksa usapan neosafaring. Walaupun demikian hasil
positif palsu dan negatif palsu dapat terjadi. Sensitivitasnya sekitar 50%. Uji FA paling berguna
dalam mengidentifikasi B.pertusis setelah biakan pada madia solid

3. Biakan
Cairan hasil pencucian nasal dengan saline dibiakkan pada agar medium solid. Antibiotik di
dalam media cenderung untuk menghambat flora respirasi yang lain tetapi memungkinkan
pertumbuhan B.pertusi. organisme diidentifikasi dengan pewarnaan immunofluoresens atau
dengan aglutinasi slide menggunakan antiserum spesifik.

4. Reaksi Rantai Polimerase


PCR adalah metode yang paling sensitif untuk mendiagnosis pertusis. Primer
untuk B.pertusis harus tercakup. Jika memungkinkan, uji PCR harus dapat menggantikan biakan
dan uji flouresens antibodi langsung.
5. Serologi
Uji serologi pada pasien mempunyai peran yang tidak begitu penting dalam membuat
diagnosis karena peningkatan aglutinasi atau presipitasi antibodi tidak terjadi sampai minggu
ketiga perjalanan penyakit. Serum tungal denga titer antibodi yang tinggi dapat berguna dalam
mendiagnosis penyakit batuk lama, satu dari durasi beberapa minggu.

2.8 Pengobatan dan perawatan


B.pertusis sensitif terhadap beberapa antimikroba in vitro. Pemberian eritromisin selama
fase kataral penyakit membantu menghilangkan organisme dan dapat bersifat profilaksis.
Pengobatan setelah awitan fase paroksimal jarang merubah fase klinis penyakit. Inhalasi oksigen
dan sedasi dapat mencegah kerusakan pada otak akibat anoksia.

Pengobatan :

1. Eritromisin : 50 mg/kg BB/hari selama 114 hari dapat mengeliminasi organisme pertussis dari
nasofaring dalam 3-4 hari. Eritromisin biasanya tidak memperbaiki gejala-gejala jika
diberikan terlambat.
2. Suportif : terutama menghindarkan faktor-faktor yang menimbulkan serangan batuk, mengatur
hidrasi dan nutrisi
3. Oksigen diberikan pada distres pernapasan akut/kronik.
4. Penghisapan lendir terutama pada bayi dengan pneumonia dan distres pernapasan.
5. Betametason dan salbutamol (albuterol) dapat mengurangi batuk paroksismal yang berat
walaupun kegunaannya belum dibuktikan melalui penelitian kontrol.
6. Penekan batuk (suppressants) tidak menolong.

Perawatan :

1. Pembersihan jalan nafas.


2. Pemberian oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat yang disertai sianosis.
3. Pemberian makanan dan obat hindari makanan yang sulit ditelan dan makanan bentuk cair.
4. Pemberian terapi suportif :
a. Dengan memberikan lingkungan perawatan yang tenang,atasi dehidrasi berikan nutrisi.
b. Bila pasien muntah-muntah sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit secara parenteral

2.9 Pencegahan

1. Pencegahan yang dilakukan secara aktif dan secara pasif:

a) Secara aktif

Dengan pemberian imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan(DPT tidak
boleh dibrikan sebelum umur 6 minggu)dengan jarak 4-8 minggu. DPT-1 deberikan pada
umur 2 bulan,DPT-2 pada umur 4 bulan dan DPT-3 pada umur 6 bulan. Ulangan DPT
selanjutnya diberikan 1 tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur 18-24 bulan,DPT-5 pada saat
masuk sekolah umur 5 tahun. Pada umur 5 tahun harus diberikan penguat ulangan DPT.
Untuk meningkatkan cakupan imunisasi ulangan,vaksinasi DPT diberika pada awal sekolah
dasar dalam program bulan imunisasi anak sekolah(BIAS). Beberapa penelitian menyatakan
bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat diberikan pada umur 1 bulan dengan hasil yang baik
sedangkan waktu epidemi dapat diberikan lebih awal lagi pada umur 2-4 minggu.

Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :


1. Panas yang lebih dari 38 derajat celcius
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya, misalnya suhu tinggi dengan kejang,
penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik lainnya.

b) Secara pasif

Secara pasif pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan kemopropilaksis. Ternyata


eritromisin dapat mencegah terjadinya pertussis untuk sementara waktu.

2. Pencegahan penyebarluasan penyakit dilakukan dengan cara :

Isolasi: mencegah kontak dengan individu yang terinfeksi, diutamakan bagi bayi dan anak
usia muda, sampai pasien setidaknya mendapatkan antibiotik sekurang-kurangnya 5 hari
dari 14 hari pemberian secara lengkap. Atau 3 minggu setelah batuk paroksismal reda
bilamana pasien tidak mendapatkan antibiotik.

Karantina: kasus kontak erat terhadap kasus yang berusia <7 tahun, tidak diimunisasi, atau
imunisasi tidak lengkap, tidak boleh berada di tempat publik selama 14 hari atau setidaknya
mendapat antibiotic selama 5 hari dari 14 hari pemberian secara lengkap.

Disinfeksi: direkomendasikan untuk melakukan pada alat atau ruangan yang terkontaminasi
sekret pernapasan dari pasien pertusis
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan
ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal
disertai nada yang meninggi.
b. Penyakitpertusis disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis.
c. Penyakit pertusis dapat dicegah dengan cara pemberian imunisasi DPT

3.2 Saran

Imunisasi sangat penting di berikan pada bayi karena dapat meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap PD3I, jadi sebaiknya bayi harus diberikan Lima Imunisasi Dasar Lengkap
(LIDL) tanpa ada yang terlewat.
DAFTAR PUSTAKA

Arief Manjoer. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Jakarta: EGC
Ngastiyah. 1997. Perawat Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Suryadi. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2. Jakarta: CV Sagung Seto
Shehab, Ziad M. Taussig-Landau : Pediatric Respiratory Medicine. Missouri, USA. Mosby Inc.
2000. Chapter 42. h: 693-699.
Garna, Harry, Azhali M.S, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Penyakit Infeksi Tropik. Bandung,
Indonesia. FK Unpad, 1993. h: 80-86.