Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Merencanakan kehamilan merupakan bagian penting dalam
membentuk keluarga bahagia dan sejahtera. Salah satu solusinya adalah
melalui pemakaian alat kontrasepsi yang dianggap sebagai upaya jitu
menekan ledakan populasi penduduk.
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah
visinya dari mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS)
menjadi visi untuk mewujudkankeluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga
yang berkualitas adalah yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki
jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis
dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saefuddin, 2003).
Berdasarkan visi dan misi tersebut, program keluarga berencana
nasional mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas
penduduk. Dalam kontribusi tersebut Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) telah mewujudkan keberhasilannya selain berhasil
menurunkan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk, juga terpenting
adalah keberhasilan mengubah sikap mental dasn perilaku masyarakat
dalamupaya membangun keluarga berkualitas
Menurut WHO ( World Health Organisastion) expert committe 1970.
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri
untuk menghindari kehamilan yang tdk diinginkan,mendapat kelahiran yang
memang sangat diinginkan,mengantur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungab dengan umur suami isteri
serta menentukan jumlah anak dalam keluarga ( Suratun,,2008)
Dari masa ke masa, alat kontrasepsi terus berkembang. Di samping
fungsi utama sebagai pencegah kehamilan, alat kontrasepsi masa kini kian
disempurnakan dengan menambahkan manfaat nonkontrasepsi yang
ditujukan bagi kenyamanan penggunanya.

1
Salah satu alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang mengalami
perkembangan cukup signifikan adalah IUD atau dikenal dengan spiral.
IUD ditanamkan di dalam rahim dan bekerja menghambat pembuahan
melalui sistem mekanik. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sekarang ini
diyakini sebagai salah satu alat yang secara efektif mampu menghindari
terjadinya kehamilan dalam rentang waktu yang cukup panjang (2-6 tahun).
Namun begitu tidak semua klien berminat terhadap alat kontrasepsi
AKDR dikarenakan berbagai alasan yang berbeda-beda seperti takut efek
samping, takut proses pemasangan , dilarang oleh suami, dan kurang
mengetahui tentang KB AKDR.
Adapun berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akseptor
KB agar tidak terjadi alah persepsi setelah pemasangan yaitu pengetahuan
akseptor KB tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi, status
kesehatan klien sebelum berKB, tahu efek samping, konsekuensi kegagalan
atau kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang
direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan
orang lain.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah AKDR


Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD mempunyai sejarah
perkembangan yang sangat panjang sebelum generasi III dengan keamanan,
efektivitas, dan penyulit yang tidak terlalu besar. Sejarah abad masa lalu,
walaupun tidak tercatat dengan baik, menunjukkan bahwa kafilah dagang
bangsa Arab mempraktekkan penggunaan AKDR pada unta-unta mereka.
Jika melakukan perjalanan jauh dalam kegiatan perdagangannya, mereka
memasukkan batu-batu ke dalam rahim untanya.
Periode abad berikutnya mencatat keberhasilan Richard Richter pada
tahun 1909 di Jerman mengujicobakan penggunaan AKDR pada manusia.
AKDR yang digunakannya merupakan cicin catgut ulat sutera yang
mempunyai kawat nikel dan tembaga yang mejulur keluar melalui serviks.
Tahun 1920-an Grafenberg mengganti cincin catgut dengan cicin berlapis
emas atau perak. Tidak lama berselang (1934) Ota di Jepang menambahkan
struktur pendukung cincin AKDR yang berlapiskan emas atau perak untuk
mengurangi angka ekspulsi. Selama berlangsung perang dunia kedua,

3
filosofi politik Jepang dan Nazi mengeliminasi penggunaan AKDR. Baru
pada tahun 1959 Oppenheimer menggerakkan kembali penggunaan dengan
berbagi macam bentuk pengembangan IUD.
Perkembangan seterusnya pada tahun 1960 melahirkan AKDR
berbentuk Loop hasil karya Jack Lippes. Kemudian berturut-turut tahun
1968-1969, Zipper menambahkan Cu (tembaga) dan Doye dan Clewe
(Amerika) menggunakan progestin sebagai bahan anti fertilitas. Penelitian
untuk mendapatkan jenis AKDR yang paling efektif, dan aman dipakai
masih terus berlangsung hingga sekarang.

2.2 Pengertian AKDR


AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) adalah suatu alat atau benda
yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan
berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktip
(Saefuddin,2003)
AKDR atau IUD atau Sepiral adalah suatu alat yang dimasukan ke
dalam rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi (Mochtar, 1998)
AKDR adalah suatau usaha pencegahan kehamilan dengan
menggulung secarik kertas, diikat dengan benang lalu dimasukkan ke dalam
rongga rahim (Prawirohardjo, 2005)
AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung
hormon dan dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai
benang (BKKBN,2003)

4
2.3 Macam-macam AKDR

Pada saat ini AKDR telah memasuki generasi ke-4. karena itu
berpuluh-puluh macam AKDR telah dikembangkan. Mulai dari genersi
pertama yang terbuat dari benang sutra dan logam sampai generasi
plastik(polietilen) baik yang diambah obat maupun tidak.
Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi :
1. Bentuk terbuka (oven device)
Misalnya: LippesLoop, CUT, Cu-7. Marguiles, Spring Coil,
Multiload, Nova-T
2. Bentuk tertutup (closed device)
Misalnya: Ota-Ring, Atigon, dan Graten Berg Ring.

Menurut Tambahan obat atau Metal:


1. Medicated IUD
a. Mengandung Logam
AKDR Cu generasi pertama (First Generation Copper
Devices) :
CUT 200 = Tatum T
Cu 7 = Gravigard

5
MLCU 250
AKDR Cu generasi kedua (Second Generation Copper
Devices) :
CUT 380 A = paragard
CUT 380 Ag
CUT 220 C
Nova T = novagard : mengandung Ag
Delta T : modified Cut 220 C
Penambahan benang chromic catgut pada lengan
atas, terutama untuk insersi post partum
MICU 375

Penjelasan:
Copper IUD
Yang paling kenal sampai saat ini adalah :
- CuT 200 = Tatum T : panjang 36 mm, lebar 32 mm,
mengandung 200 mm2 Cu (luas
permukaan Cu-nya) . Daya kerja :
tiga tahun. Cara insersi : withdrawal
- CuT 200 B : seperti Cut 200, tetapi ujung bagian
bawah batang IUD berbentuk bola
- CuT 200 Ag : seperti Cut 200, tetapi mengandung
inti Ag di dalam tembaganya
- CuT 220 C : panjang 36 mm, lebar 32 mm, 220
mm2 Cu di dalam tujuh selubung, 2
pada lengan dan 5 pada batang
vertikalnya. Dava kerja : tiga tahun.
Cara insersi : withdawal
- CuT-380A = Para Gard : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314
mm2 kawat cu pada batang vertikal, 2
selubung Cu seluas masing-masing 33
mm2 pada masing-masing lengan

6
horizontal. Daya kerja : 8 tahun (FDA
: 10 tahun)
- CuT 380 Ag : seperti CuT 380 A, hanya dengan
tambahan inti Ag di dalam kawat Cu-
nya. Daya kerja : 5 tahun
- CuT 380 S : CuT 380 slimline
Selubung Cu diletakkan pada ujung-
ujung lengan horizontalnya dan
beberapa di dalam plastiknya. Daya
kerja : 2,5 tahun
- Nova-T = Novagard : panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200
mm2 luas permukaan Cu dengan anti
Ag di dalam kawan Cu-nya. Daya
kerja : 5 tahun. Cara insersi :
withdrawal
- ML Cu 250 : 220 mm2 luas permukaan kawat Cu.
Benang ekor 2 lembar, berwarna
hitam atau tidak berwarna.. Daya
kerja : 3 tahun. Cara insersi :
withdrawal. Ada tiga bentuk Ml Cu
250:
Standar : panjang 35 mm, lebar 18
mm
Short : panjang 29 mm, lebar 18
mm
SL : panjang 24 mm, lebar 18 mm
- Cu 7 = Gravigard : panjang 36 mm, lebar 26 mm,
mengandung 200 mm2 luas
permukaan Cu, mempunyai tabung
inserter diameter paling kecil
dibandingkan tabung inserter IUD

7
lain-lainnya sehingga dapat
dianjurkan untuk nulligravid.
Daya kerja : 3 tahun
Cara insersi : withdrawal (dapat pula
push-out)
- MPL Cu 240 Ag : 240 mm2 luas permukaan Cu, dengan
inti Ag di dalam kawat Cu nya
Daya kerja : 3 5 tahun
Cara insersi : withdrawal
Ada 3 bentuk MPL Cu 240 Ag :
o Ukuran 0 : panjang 26 mm, lebar
18 mm, untuk kuran rahim, 7 cm
atau nuligravid
o Ukuran 1 : panjang 31 mm, lebar
23 mm, untuk ukuran rahim 7 8
cm
o Ukuran 2 : Panjang 25 mm, lebar
30 mm, untuk ukuran rahim, 8 cm
atau para 4 atau lebih
- Utering 330 Cu : terbuat dari plastik polyethylene,
dengan lebar tepi diagonal 15 mm,
kawat Cu berdiameter 0,4 mm dengan
luas permukaan Cu lebih dari 300
mm2, melingkari sekitar batangnya
dan tanpa benang ekor. Tabung
inserter berdiameter 4 mm.
Daya kerja : 3 tahun
Pengeluaran : dengan ekstraktor IUD

8
b. Mengandung Hormon
1. Progestasert-T = Alza T
- Panjang 36mm, lebar 32mm, dengan 2 lembar benang ekor
warna hitam.
- Mengandung 38 mg progesteron dan barium sulfat,
melepaskan 65mcg progesteron per hari
- Tabung insersinya berbentuk lengkung
- Daya kerja :18 bulan
- Tehnik insersi: plunging?(modified withdrawal)
2. LNG-20
- Mengandung 46-60mg Levonorgestrel, dengan pelepasan
20mcg per hari
- Sedang diteliti di Finlandia
- Angka kegagalan /kehamilan angatrendah: 0,5 per
100wanita per tahun
- Penghentian pemakaian oleh karena persoalan-persoalan
perdarahan ternyata lebih tinggi dibandingkan IUD lainnya,
karena 25% mengalami amenore atau perdarahan haid yang
sangat sedikit.

a. Lippes-Loop ; b. Saf-T-Coil ; c. Dana-Super ; d. Copper-T (Gyne-T) ; e. Copper-7 ;


f. Multiload ; g. Progesterone IUD
2. UnMedicated IUD
9
Misalnya: Lippes Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Antigon
- Lippes Loop
Diperkenalkan pada awal 1960-an dan dianggap sebagai IUD
standard, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara
biologik) ditambah Barium Sulfat.
Ada 4 macam IUD Lippes Loop :
Lippes Loop A : panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm, benang
biru, satu titik pada pangkal IUD dekat
benang ekor.
Lippes Loop B : panjang 25,2 mm, lebar 27,4 mm, 2
benang hitam, bertitik-4.
Lippes Loop C : panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm, 2
benang kuning, bertitik 3.
Lippes Loop D : panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm, 2
benang putih , bertitik 2.
Cara insersi : Push out
Lippes Loop dapat dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya
sampai menopouse, sepanjang tidak ada keluhan dan/atau
persoalan bagi akseptornya.
- Delta loop : modified lippes loop
Penambahan benang chromic catgut pada lengan atas, terutama
untuk insersi post-partum

Jenis-jenis IUD yang ada di Indonesia, antara lain:

10
a. Copper-T

IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian


vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga

11
halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup
baik. IUD bentuk T yang baru ini melepaskan levorgegestrel dengan
konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian
menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang
tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini
adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.

b. Copper-7

IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan


pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32
mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai
luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga
halus pada jenis Copper-T.

12
c. Multi Load

IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri
dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke
bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas
permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3
ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.

d. Lippes Loop

IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau
huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada
ekornya. Lippes Loopterdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran
panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B
27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning),

13
dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai
angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral
jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau
penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak
dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini.
e. IUD Nova T, terbentuk dari rangka plastik dan tembaga. Pada ujung
lengan IUD bentuknya agak melengkung tanpa ada tembaga, tembaga
hanya ada pada batang IUD. Gambar IUD Nova T :

f. IUD Mirena, terbentuk dari rangka plastik yang dikelilingi oleh silinder
pelepas hormon Levonolgestrel (hormon progesteron) sehingga IUD ini
dapat dipakai oleh ibu menyusui karena tidak menghambat ASI.
Bentuknya seperti ini :

2.4 Mekanisme Kerja AKDR


1. Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti,
ada yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang

14
menimbulkan reaksi radang setempat, dengan sebutan lekorit yang
dapat melarutkan blastosis atau seperma.
Mekanisme kerja AKDR yang dililiti kawat tembaga mungkin
berlainan.Tembaga dalam konsentrasi kecilyang dikeluarkanke
dalamrongga uterus juga menghambat khasiatanhidrase karbon dan
fosfatase alkali. AKDR yang mengeluarkanhormon juga menebalkan
lendirsehingga menghalangi pasasi sperma (Prawirohardjo, 2005).
2. Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan
pasti, kini pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalamkavum
uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai
dengan sebutan leokosit yang dapat menghancurkan blastokista atau
sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan-perubahan
pada pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista tidak dapat
hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya terjadi nidasi, penyelidik-
penyelidik lain menemukansering adanya kontraksi uterus pada
pemakaianAKDR yang dapat menghalangi nidasi. Diduga ini
disebabkanoleh meningkatnya kadar prostaglandindalam uterus pada
wanita (Wiknjoastro, 2005).
3. Sebagai metode biasa(yang dipasang sebelum hubungan sexual terjadi)
AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim danmempengaruhi sel
elur dan spermasehingga pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi
daruat(dipasang setelahhubungan sexual terjadi) dalam beberapa kasus
mungkin memiliki mekanisme yang lebih mungkin adalah dengan
mencegah terjadinya implantasi atau penyerangan sel telur yang telah
dibuahi ke dalam dinding rahim (BKKKBN, 2003)

15
4. Menurut Saefuddin, et. al (2003) :
Mekanisme kerja yang pasti dari AKDR belum diketahui, namun
ada beberapa mekanisme kerja yang telah diajukan:
a. Timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesifik di dalam cavum
uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu.
b. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan
terhambatnya implantasi.
c. Gangguan / terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam
endometrium.
d. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopi.
e. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
f. Dari penelitian terakhir, disangka bahwa AKDR juga mencegah
spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilisasi).
g. Untuk AKDR yang mengandung Cu :
1) Antagoisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terdapat
dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam
traktus genitalia wanita, dimana Cu menghambat reaksi carbonic
anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi
dan mungkin juga menghambat aktivitas alkali phospatase.
2) Mengganggu pengambilan estrogen endogenous oleh mucosa
uterus.

16
3) Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.
4) Mengganggu metabolisme glikogen.
h. Untuk AKDR yang mengandung hormon progesterone :
1) Gangguan proses pematangan proliteratif sekretoir sehingga
timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya
proses implantasi (endometrium tetap berada dalam fase decidual/
progestational).
2) Lendir serviks yang menjadi lebih kental/ tebal karena pengaruh
progestin.

2.5 Indikasi
Prinsip pemasangan adalah menempatkan IUD setinggi mungkin dalam
rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada
waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak.
Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Yang boleh
menggunakan IUD adalah:
Usia reproduktif
Keadaan nulipara
Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
Setelah melahirkan dan tidak menyusui
Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
Risiko rendah dari IMS
Tidak menghendaki metoda hormonal
Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 5 hari senggama
Perokok
Gemuk ataupun kurus
Pemasangan IUD dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih
secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah
pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya.
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali.

17
2.6 Kontraindikasi
Menurut Saifudin (2006), yang tidak diperkenankan menggunakan IUD
adalah
Belum pernah melahirkan
Adanya perkiraan hamil
Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak
normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.
Perdarahan vagina yang tidak diketahui
Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau
abortus septic.
Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat
mempengaruhi kavum uteri.
Penyakit trofoblas yang ganas.
Diketahui menderita TBC pelvic.
Kanker alat genital
Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

Kontraindikasi Insersi IUD


1. Kontra indikasi absolut
a. Infeksi pelvis yang aktif (akut sub akut) termasuk persangkaan
gonorrhoe atau chlamydia
b. Kehamilan atau persangkaan kehamilan
2. Kontra indikasi relatif kuat
a. Partner seksual yang banyak
b. Partner seksual yang banyak dari partner akseptor IUD
c. Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi
komplikasi
d. Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang akuren, post
partum endometritis atau abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir
e. Cervicitis akut atau purulent

18
f. Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya
g. Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan
predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik
h. Pernah mengalami infeksi pelvik satu kali dalam masing
menginginkan kehamilan selanjutnya
i. Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, DM, dan lain-lain)
3. Keadaan-keadaan lain yang dapat merupakan kontra indikasi untuk
insersi IUD
Penyakit katup jantung
Keganasan endometrium atau serviks
Stenosis serviks yang berat
Uterus yang kecil sekali
Endometriosis
Myoma uteri
Polip endometrium
Kongenital uterus
Dismenore yang berat
Anemia
Pernah mengalami problem ekspulsi IUD
Leukore atau infeksi vagina
Riwayat infeksi pelvis
Riwayat operasi pelvis
Keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau
pertimbangan kesuburan dimasa yang akan datang
Ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri rekor IUD
Darah haid yang banyak atau perdarahan bercak (spotting)

2.7 Keuntungan dan Kerugian dari Masing-masing AKDR


Secara umum, keuntungan dan kerugian AKDR / IUD sebagai alat
kontrasepsi adalah sebagai berikut :
Keuntungan Kontrasepsi IUD

19
Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun
pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan)
AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu
diganti)
Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak
terjadi infeksi)
Dapat digunakan sampai manopouse
Tidak ada interaksi dengan obat-obat
Membantu mencegah kehamilan ekktopik
Kelemahan Kontrasepsi IUD
Efek samping umum terjadi:
perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar
mensturasi, saat haid lebih sakit
Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah
pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang
apabila pemasangan benar)
Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering
berganti pasangan
Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS
memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas
Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam
pemasangan AKDR
Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan
AKDR. Biasanya menghilang dalam 1 - 2 hari
Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih
yang dapat melepas

20
Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila
AKDR dipasang segera setelah melahirkan)
Tidakmencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk
mencegah kehamilan normal
Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.

21
Keuntungan Kerugian
Hanya memerlukan satu kali Pemasangan dalam dan penyaringan
motivasi dan satu kali pemasangan. infeksi saluran genitalia diperlukan
Tidak menimbulkan efek sistemik. sebelum pemasangan AKDR.
Dapat mencegah kehamilan dalam Dapat meningkatkan risiko Penyakit
jangka lama. Radang Panggul (PRP).
Sederhana, mudah, dan ekonomis. Memerlukan prosedur pencegahan infeksi
Cocok untuk penggunaan secara sewaktu memasang dan mencabutnya.
massal. Bertambahnya darah haid dan rasa sakit
Efektifitas tinggi. selama beberapa bulan pertama pada

Kegagalan pasien (patients failure) sebagian pemakai AKDR.

hampir tidak ada. Pasien tidak dapat mencabut sendiri

Tidak membutuhkan inteligensia AKDR

yang tinggi pada pemakaian Tidak dapat terlindungi terhadap PMS,


reversibel. HIV/AIDS.

Untuk beberapa jenis AKDR, dapat AKDR dapat keluar dari rahim melalui
dipakai untuk jangka lama kanalis servikalis hingga keluar ke vagina.
(bertahun-tahun Bertambahnya risiko mendapat PRP pada
pemakai AKDR yang dahulu pernah
menderita penyakit menular seksual
(PMS) atau mereka yang mempunyai
mitra seks banyak.

Menurut Saefuddin, et. al (2003)


Keuntungan Cu IUD :
Ekspulsi lebih jarang, baik pada insersi interval, post partum maupun
post abortus
Kehilangan darah haid lebih sedikit
Dapat lebih ditolerir oleh wanita yang belum punya anak atau wanita
dengan paritas rendah
Ukuran tabung inserter lebih kecil

22
Kerugian Cu IUD
Perlu diganti setelah pemakaian beberapa tahun
Lebih mahal

Menurut Saefuddin (2004) . Keuntungan AKDR Non hormonal (Cu T


380A):
a. Sebagai kontrasepsi efektivitasnya tinggi
Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam1 tahun
pertama(1kegagalan dalan 125-170 kehamilan)
b. AKDR dapat efektf seger setelah pemasangan
c. Metode jangka panjang
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
e. Tidak mempengaruhi hubungan sexual
f. Meningkatkan kenyamanan sexual karena tidak perlu takut untuk hamil
g. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR(Cu T-380A)
h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
j. Dapat digunakan sampai menopause
k. Tidak ada intraksidengan obat-obat.
Menurut Saefuddin (2004). Kerugian AKDR (Cu T-380A) Non
hormonal:
a. Efek samping yang umum terjadi:
- Perubahan siklus haid
- Haid lebih lama dan banyak
- Perdarahan(spotting) antar menstruasi
- Disaat haid lebih sakit
b. Komplikasi lain :
- Merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
- Perforasi dinding uterus(sangat jarang apabila pemasangan benar)
-Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

23
-Tidak baik digunaka pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang
sering berganti pasangan
-Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri
- Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR
untuk mencegah kehamilan normal.
Menurut Hanafi(2003). Keuntungan IUD hormonal adalah:
a. Mengurangi volume darah haid dan mengurangi disminorrhoe
b. Untuk mencegah adhesi dinding-dinding uterus oleh
synechiae(Ashermans Syndrome)
Kerugian IUD hormonal:
-Jauh lebih mahal dari pada Cu IUD
-Harus diganti setelah 18 bulan
-Lebih sering menimbulkan perdarahan mid-siklus dan perdarahan
bercak(spotting)
-Insidens kehamilan ektopik lebih tinggi

2.8 Komplikasi AKDR


Efek samping dan komplikasi IUD dapat dibagi dalam 2 kelompok
yaitu sebagai berikut :
1. Pada saat insersi
2. Dikemudian hari
Efek samping dan komplikasi pada saat insersi IUD
Rasa sakit / nyeri
Pengobatan : analgetika atau prostaglandin inhibitor
Muntah, keringat dingin dan syncope
a. Terjadi pada 1%
b. Penyebab : reaksi vaso vagal
c. Pencegahan : pemberian atropin 0,4 0,5 mg IM / IV, sedativa ringan
dan anastesi lokal
d. Pengobatan : istirahat dalam posisi horizontal
Perforasi uterus
a. Angka kejadian kira-kira 1,2 per 1000 insersi IUD

24
b. Lebih sering terjadi pada tehnik insersi push out
c. Perforasi dapat :
- Partial
- Komplit
d. Gejala-gejala perforasi
- Rasa sakit / nyeri yang tiba-tiba perdarahan
- Tetapi perforasi dapat pula a symptomatis atau silent
e. Di kemudian hari persangkaan adanya perforasi
o Benang ekor IUD tidak teraba dan tidak terlihat dan akseptor tidak
pernah merasa IUD-nya keluar pervaginam
o Perdarahan post insersi
o Kehamilan
Efek samping dan komplikasi IUD dikemudian hari
Rasa sakit dan perdarahan
a. Merupakan alasan medis utama dari penghentian pemakaian IUD,
yaitu kira-kira 4 15% dalam 1 tahun. Tetapi menurut penelitian-
penelitian rasa sakit dan perdarahan akan berkurang dengan semakin
lamanya pemakaian IUD
b. Perdarahan yang bertambah banyak dapat berbentuk :
o Volume darah haid bertambah, kecuali pada IUD yang mengandung
hormon
o Perdarahan yang berlangsung lebih lama
o Perdarahan bercak/spotting diantara haid
Sebab-sebab dari timbulnya perdarahan haid yang lebih banyak
(menorrhagi) belum diketahui pasti
Embedding dan displacement
IUD tertanam dalam-dalam di endometrium atau myometrim
Penanggulangan : IUD harus dikeluarkan
Infeksi
a. Merupakan komplikasi yang paling serius yang berhubungan dengan
pemakaian IUD

25
b. Akseptor IUD mempunyai risiko 2 kali lebih besar untuk
mendapatkan PID dibandingkan non akseptor KB. Risiko timbulnya
PID terutama dalam bulan-bulan pertama setelah insersi IUD (empat
bulan pertama)
c. Penyakit akibat hubungan seks (PHS)
Partner seksual yang banyak
d. Umur
Di negara-negara yang sedang berkembang, resikonya sama untuk
wanita usia muda maupun usia tua sedangkan di negara-negara maju
risiko lebih besar pada wanita.

2.9 Penanganan Efek Samping AKDR


Menurut Saifuddin (2006), Penanganan efek samping AKDR yaitu :
Efek Samping / Permasalahan Penanganan
Amenora Periksa apakah sedang hamil, apbila tidak, jangan
lepas AKDR, lakukan konseling dan selidiki
penyebab amenoreaapabila diketahui. Apabila
hamil, jelaskan dan sarankan untuk melepas
AKDR bila talinya terlihat dan kehamilan kurang
dari 13 minggu. Apabila benang tidak terlihat, atau
kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR jangan
dilepas.Apabila klien sedang hamil dan ingin
mempertahankan kehamilannya tanpa melepas
AKDR jelaskan ada resiko kemungkinan
terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta
perkembangan kehamilanharus lebih diamati dan
diperhatikan
Kejang Pastikan dan tegaskanlah adanya PRP dan
penyebab ain dari kekejangan. Tanggulangi
penyebabnya apabila ditemuka. Apabila tidak
ditemukan penyebabnya beri analgesik untuk
sedikt meringankan. Apabila klien menglami

26
kejang yang berat, lepaskan AKDR dan bantu
klien menentukan metode kontrasepsi yang lain.
Perdarahan pervagina yang Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan
hebat dan tidak teratur kehamiolan ektopik. Apabila tidak ada kelainan
potologis, perdarahan berkelanjutan serta
prdarahan hebat,lakukan konseling dan
pemantauan. Beri ibu profen(800mg, 3x
sehriselama 1 minggu) untuk mengurangi
perdarahan dan berikan tablet besi(1 tablet setiap
hari selama 1 sampai 3bulan).
Benang yang hilang pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan
apakah AKDR terlepas. Apabila tidak hamil dan
AKDR tidak terlepas, berikan kondom, periksa
talinya di dalam saluran endoservik dan kavum
uteri(apabila memungkinkan adanya peralatan dan
tenaga terlatih) setelah masa haid briutnya.
Apabila tidak ditemukan rujk ke dokter, lakukan
x-ray atau pemeriksaan ultrasound. Apabila tidak
hamil dan AKDR yang hilang tidak ditemukan,
pasanglah AKDR baru atau bantulah klien
menentukan metode lain.
Adanya pengeluaran cairan dari Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan
vagina atau dicurigai adanya AKDR apabila ditemukan menderita atau sangat
PRP dicurigai menderita gonorhoe atau infeksi
klamidal, lakukan pengobatan yang memadai. Bila
PRP, obati dan lepas AKDR sesudah 48 jam.
ApabilaAKDR dikeluarkan beri metode lain
sampai masalahnya teratasi.

2.10 Insersi IUD


Permasalahan pada insersi IUD
a. Insersi yang tidak baik dari IUD dapat menyebabkan
27
Ekspulsi
Kerja kontraseptif tidak efektif
Perforasi uterus
Untuk sukses / berhasilnya insersi IUD tergantung pada beberapa hal yaitu :
Ukuran dan macam IUD beserta tabung inserternya
Waktu / saat insersi
Teknik insersi
Penjelasan prosedurnya kepala calon akseptor
Pemeriksaan pelvis bimanual dan sondage uterus
Tehnik a dan anti sepsis
Penempatan IUD setinggi mungkin di dalam uterus tanpa menembus
myometrium
Ukuran dan Macam IUD
Makin kecil IUD, makin mudah insersinya, makin tinggi ekspulsinya
Makin besar IUD, makin sukar insersinya, makin rendah ekspulsinya
Waktu / Saat Insersi
a. Insersi interval
- Kebijakan sekarang
Insersi IUD dapat dilakukan setiap saat dari siklus haid asal kita yakin
seyakinnya bahwa calon akseptor tidak dalam keadaan hamil.
- Kebijakan lama
Insersi IUD dilakukan selama atau segera sesudah haid. Alasan :
Ostium uteri lebih terbuka
Canalis cervicalis lunak
Perdarahan yang timbul karena prosedur insersi
Tertutup oleh perdarahan haid yang normal
Wanita pasti tidak hamil
Tetapi akhirnya kebijakan ini ditinggalkan karena :
Infeksi dan ekspulsi lebih tinggi bila insersi dilakukan saat haid
Dilatasi canalis servicalis adalah sama pada saat haid maupun pada
saat mid siklus

28
Memudahkan calon akseptor pada setiap saat ia datang ke klinik
KB
b. Insersi Post partum
Insersi IUD adalah aman dalam beberapa hari post-partum hanya
kerugian paling besar adalah angka kejadian ekspulsi yang sangat tinggi.
IUD yang dipakai atau dan yang sedang dicoba
Delta loop = modified lippes loop D
Delta T = modified cut 220 C
Kedua IUD tersebut diberi benang chromic catgut pada lengan atasnya,
dengan maksud benangnya akan tertanam ke dalam endometrium dan
menahan IUD-nya di tempatnya selama involusi uterus. Benangnya
secara perlahan-lahan akan larut dalam waktu 6 minggu.
Modified delta loop
Modified delta T
Kedua IUD tersebut diberi tonjolan-tonjolan yang terbuat dari bahan
polimer yang biodegradable yang akan larut secara perlahan-lahan.
Post partum T
Mempunyai lengan atas tambahan pada bagian bawah batang IUD,
sepanjang 2 cm yang menjurus ke atas dan ke arah luar insersi IUD post-
partum tidak mempunyai efek pada kuantitas atau komposisi dari ASI.
c. Insersi Post Abortus
Karena konsepsi sudah dapat terjadi 10 hari setelah abortus, maka IUD
dapat segera dipasang sesudah :
Abortus trimester I
Ekspulsi, infeksi, perforasi dan lain-lain sama seperti pada insersi
interval.
Abortus trimester II
Ekspulsi 5 10 kali lebih besar dari pada setelah abortus trimester I
Dari penyelidikan ternyata bahwa lippes loop lebih sering
menyebabkan komplikasi dibandingkan Cu IUD.
d. Insersi Post Coital

29
Pengukuran Uterus
1. Dari penyelidikan didapatkan bahwa efek samping lebih sering timbul
pada ukuran uterus yang berada di luar batas-batas normal (6,5 8 cm)
2. Alat-alat yang dikembangkan untuk mengukur dengan lebih akurat
panjangnya cavum uteri, misalnya
a. Hasson wing sound I
b. Hasson wing sound II untuk panjang dan lebar cavum uteri
c. Cavimeter
Teknik Insersi
Ada 3 cara :
Tehnik push out = mendorong : lippes loop
Bahaya perforasi lebih besar
Tehnik withdrawal = menarik : Cu IUD
Tehnik plunging = mencelupkan : progestasert T
Prosedur Insersi IUD
1. Pemberian analgetika dan sedativa bila diperlukan
2. Pasang spekulum dalam vagina dan perhatikan serviks serta dinding-
dinding vagina
3. Bila mungkin, kerjakan papanicolaou smear dan perhatikan bakteriologis
terhadap gonorrhoe
4. Lakukan pemeriksaan dalam bimanual untuk menentukan besar, bentuk,
posisi dan mobilitas uterus serta untuk menyingkirkan kemungkinan-
kemungkinan adanya infeksi atau keganasan dari organ-organ sekitarnya
5. Pasang kembali spekulum dalam vagina, dan lakukan desinfeksi
endoserviks dan dinding vagina
6. Pasang tenakulum pada bibir serviks atas, lakukan tarikan ringan
padanya untuk meluruskan dan menstabilkan uterus. Ini akan
mempengaruhi perdarahan dan resiko perforasi
7. Lakukan sondage uterus
8. Masukkan IUD sesuai dengan macam alatnya
Lepaskan IUD dalam bidang transverse dari cavum uteri pada posisi
setinggi mungkin di fundus uteri. Bila terasa ada tahanan sebelum

30
mencapai fundus, jangan dipaksakan keluarkan alatnya dan lakukan re
insersi
9. Keluarkan tabung insertersnya
10. Periksa dan gunting benang ekor IUD sampai 2 3 cm dari ostium uteri
eksternum
11. Keluarkan tenakulum dan spekulum
Catatan : IUD jangan dibiarkan lebih lama dari 2 menit di dalam tabung
insersinya, karena ia akan kehilangan bentuknya (terutama untuk lippes
loop).

31
2.8 Cara Pemasangan IUD
Persiapan alat yang digunakan dalam pemasangan AKDR/IUD :
1.Bivale speculum
2.Tanekulum(penjepit portio)
3.Sounde uterus(untuk mengukur kedalaman uterus)
4.Forsep
5.Gunting
6.Bengkok larutan antiseptic
7.Sarungtangan steril atau sarung tangan DTT
8.Kasa atau kapas
9.Cairan DTT
10.Sumber cahaya yang cukup untuk penerangan servik
11.AKDR(CuT-380A) atau Progestasert-T yang masihbelum rusak dan
terbuka
12.Aligator(penjepit AKDR)
(Menurut Prawirohardjo, Cara pemasangan AKDR atau Progestasert-T)
pemasangan AKDR sewaktu haid dan mengurangi rasa sakit dan
memudahkan insersi melalui servikalis.
1. Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menentukan bentuk, ukuran danposisi
uterus
2. Singkirkan kemungkinan kehamilan dan infeksi velvik
3. Servik dibersihkan beberapa kali dengan larutan antiseptik
Iinspekulum, servik ditampilkan dan bibir depan servik dijepit dengan
cunan servik, penjepit dilakukan kira-kira 2cm dari osteum uteri externum,
dengan cunan bergerigi Saturday
4. Sambil menarik servik dengan cunan servik, masukkanlah sounde uterus
untuk menentukan arah sumbukanalis dan uterus, panjang kavum uteri,
dan posisi osteum uteri internum. Tentukan arah ante atau retroversi
uterus. Jika sounde masuk kurang dari 5 cmatau kavumuteri terlalu sempit,
insersi AKDR jangan dilakukan
5. Tabung penyalur dengan AKDR di dalamnya dimasukkan melalui kanalis
servikalis sesuai dengan arah dan jarak yang didapat pada waktu

32
pemasangan sounde. Kadang-kadang terdapat tahanansebelum fundus uteri
tercapai. Dalam hal demikian pemasangan diulangi
6. AKDR dilepaskan dalam kavum uteri dengan cara menarik keluar tabung
penyalur atau dapat pula dengan mendorong penyalur ke
dalamkavumuteri, cara pertama agaknya dapat mengurangi perforasi oleh
AKDR
7. Tabung dan penyalur kemudian dikeluarkan, filamen AKDRditinggalkan
2-3cm.

2.9 Cara Pencabutan IUD


1. Mengeluarkan AKDR lebih mudahjika dilakukan sewaktu haid
2. Inspikulo filamen ditarik perlahan-lahan,jangan sampai putus AKDR-nya
akan ikut keluar perlahan-lahan. Jika AKDR tidak ikut keluar dengan
mudah, lakukan sounde uterus, sehingga osteum uteri internum terbuka.
Sounde diputus 900 perlahan-lahan. Selanjutnya AKDR dikeluarkan
seperti di atas
3. Jika filamen tak tampak atau putus, AKDR dapat dikeluarkan ddengan
mikro kuret. Kadang-kadang diperlukan anastesi paraservikal untuk
mengurangi rasa nyeri
4. Dilatasi kanalis servikalis dapat dilakukan dengan dilator atau tabung
laminaria
5. AKDR Lippes tidak perlu dikeluarkan seara berkala, jika posisinya baik,
tidak ada efek samping, dan pasien masih mau memakainya. AKDR
tersebut dibiarkan saja intra uteri. Hanya AKDR tembaga perlu
dikeluarkan dan digant secara periodik(2-3tahun), sedang Progestasert-T
1-2 tahun.

33
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Indonesia


pemerintah telah merencanakan dan mencanangkan program Keluarga
Berencana (KB) yang diadakan untuk membina akseptor sekaligus mencapai
sasaran/fungsi yang telah ditetapkan untuk memberi konstribusi bag
tercapainya upaya mewujudkan keluarga berkualitas.

Adapun pengertian dari KB yaitu tindakan yang membantu individu atau


pasngan untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval
kelahiran, mengontrol kartu keturunan dalam hubungan dengan umur
pasanngan suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga(Hartanto,
2003).

Pengertian dari kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya


konsepsi yaitu bertemunya sel sperme dan ovum. Dalam pelayanan KB ada
berbagaimacam cara untuk mencegah konsepsi salah satunya dengan
menggunakan AKDR.

AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung
hormon dan dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai
benang (BKKBN,2003)

Dalam penggunaan AKDR juga terdapat manfaat, keuntungan serta


kerugian dari penggunaan AKDR tersebut.

Masalah yang timbul dari penggunaan AKDR tersebut juga diharapkan


bisa teratasi dengan beberapa cara antara lain dengan memperhatikan cara
pemakaian yang bena, efek samping serta konseling bagi pengguna oleh tenaga
kesehatan.
34
Adapun berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akseptor
KB agar tidak terjadi alah persepsi setelah pemasangan yaitu pengetahuan
akseptor KB tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi, status
kesehatan klien sebelum berKB, tahu efek samping, konsekuensi kegagalan
atau kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang direncanakan,
persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang lain.

3.2. Saran

1.Bagi pengguna alat kontrasepsi AKDR

Pengguna hendaknya mengetahui terlebih dahulu alat kontrasepsi yang


akan di pakai dengan cara bertanya hal yang ingin diketahui ke tenaga
kesehatan.

2.Bagi tenaga kesehatan

Sebagai tenaga kesehatan hendakna meningkatkan keterampilannya


memasang AKDR yang baik dan sesuai prosedur.

Sebelum memasang AKDR pada klien jangan lupa untuk melakukan


infom choice pada klien serta menjelaskan segala informasi tentang
AKDR secara lengkap.

35
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham,dkk. (1995). Obstetri Williams. Jakarta: EGC

Prawirohardjo, Sarwono. (2008). Ilmu Kandungan. Jakarta: YBP-SP

Hartanto, Hanafi. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Jakarta :

Pustaka Sinar Harapan

Manuaba, Ida Bagus, Gde . 1998 . Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan,

dan Keluarga Berencana . Jakarta : EGC

Saifuddin, Abdul Bari. 2006 . Buku Panduan Praktis Pelayanan

Kontrasepsi.

Jakarta: YBP-SP

Speroff, Leon . 2003. Pedoman Klinis Kontrasepsi Edisi 2. Jakarta: EGC

36