Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH SEMINAR

PRAKTIKUM TEKNIK PEMISAHAN DIFUSIONAL


SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2016/2017
LEACHING
(D-5)

Disusun oleh:

Mutia Fajrin (121150026)


Yasha Yone Capella S (121150035)
Garry Guritno Hartoko Putra (121150032)

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

YOGYAKARTA

2017
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN
LEACHING
(D-5)

Disusun oleh:

Mutia Fajrin (121150026)


Yasha Yone Capella S (121150035)
Garry Guritno Hartoko Putra (121150032)

Yogyakarta, Juni 2017

Disahkan Oleh ,
Assisten Pembimbing

(Fajar Rizqy Widyawan)


ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya,sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan praktikum Leaching
ini tepat pada waktunya
Laporan ini disusun untuk diseminarkan sebagai tugas akhir pelaksanaan
Praktikum Pemisahan Difusional TA 2016/2017.Dalam menyelesaikan proposal ini
praktikum ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Danag Jaya,MT. selaku Kepala Laboratorium Dasar Teknik Kimia
2. UPN Veteran Yogyakarta.
3. Fajar Rizqy Widyawan, selaku assisten pembimbing.
4. Rekan-rekan sesama praktikan atas kerjasamanya yang baik.
5. Petugas Laboratorium, atas kesediaannya membantu praktikan selama
praktikum berlangsung.
Penyusun menyadari adanya kekurang pada laporan ini oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan
laporan selanjutnya.
Akhir kata penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya mahasiswa jurusan Teknik Kimia.

Yogyakarta, Mei 2017

Penyusun
iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL .......................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vi
DAFTAR ARTI LAMBANG ......................................................................vii
INTISARI ....................................................................................................viii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


I.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
I.2 Tujuan Percobaan ..................................................................................... 1
I.3 Tinjauan Pustaka ...................................................................................... 2
I.4 Hipotesis................................................................................................... 3

BAB II PELAKSANAAN PERCOBAAN ................................................... 8


II.1 Alat dan Bahan ....................................................................................... 8
II.2 Cara Kerja ............................................................................................... 9
II.3 Bagan Alir ............................................................................................... 10
II.4 AnalisaPerhitungan ................................................................................. 12

BAB III Hasil Percobaan dan Pembahsan .................................................. 13


BAB IV Kesimpulan .................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 19
LAMPIRAN ................................................................................................. 20
iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengamatan ................................................................................. 13


Tabel 2. Densitas Larutan NaCl dengan Berat Larutan NaCl dalam Larutan .... 14
Tabel 3. Tabel Waktu Leaching dengan Kadar NaCl dalam Larutan ................ 14
Tabel 4. Waktu Leaching dengan Efisiensi ........................................................ 15
C C
Tabel 5. Hubungan Waktu Leaching dengan = [ AS A ] ...................... 17
0

Tabel 6. Hubungan antara berat larutan garam dengan densitas larutan garam . 22
Tabel 7. Hubungan antara kadar garam dengan densitas larutan garam ............ 23
Tabel 8. Hubungan antara densitas larutan garam dengan kadar garam ............ 24
Tabel 9. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam ....................... 25
Tabel 10. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam ...................... 26
Tabel 11. Hubungan antara y data dan y hitung dengan persen kesalahan ........ 27
Tabel 12. Hubungan antara waktu leaching dengan efisiensi leaching ............. 28
Tabel 13. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam ...................... 29
Tabel 14. Hubungan antara y data dan y hitung dengan persen kesalahan ........ 30
v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rangkaian Alat Leaching ..................................................... 8


Gambar 2. Grafik Hubungan Antara Waktu Leaching Terhadap Kadar Garam
(NaCl) Dalam Larutan (%) ....................................................................15
Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Waktu (menit) Terhadap Efisiensi
Leaching (%) ............................................................. .16

Dicantumkan minimal 5 gambar. Jika kurang dr 5 maka tidak perlu


vi
DAFTAR ARTI LAMBANG

A : Luas permukaan partikel dalam, cm2

CA : Konsentrasi padatan dalam waktu t, gmol/menit

CAS : Kelarutan kejenuhan zat padat terlarut A dalam larutan, gmol/ml

D : Diameter bungkusan padatan


KL : Koefisien transfer massa volumetris, cm3/menit

NA : Kecepatan transfer massa, gmol/menit

t : Waktu, menit

V : Volume aquadest, ml

Wt : Berat larutan total, gram

: Effisiensi Leaching ( garam terekstraksi/garam mula-mula), %

: Densitas garam NaCl, gram/ml


vii
INTISARI

Leaching dalam industri kimia memegang peranan penting terutama dalam


satu unit pemisah, misalnya untuk memisahkan gula dari bit dengan memakai air
panas, pengambilan minyak sayur dari biji-bijian seperti kedelai dengan memakai
pelarut organik dan juga banyak lagi pada produk farmasi yang didapatkan dari akar-
akaran dan daun-daunan.
Operasi Leaching adalah mengalirkan solvent cair dalam umpan. Umpan 15
gram garam dapur dan 10 gram pasir ditempatkan dalam tabung sample, dimana
umpan tersebut dalam keadaan diam. Sedangkan pelarutnya adalah aquadest yang
diuapkan terlebih dahulu dala labu leher tiga, kemudian uap ini diembunkan dalam
kondensor. Hasil ekstraksi berupa larutan garam dapur yang ditampung dalam labu
leher tiga kemudian selang waktu 5 menit dari labu leher tiga diambil larutan garam
dengan menggunakan pipet kemudian dimasukan piknometer sehingga berat NaCl dan
densitasnya dapat dicari. Percobaaan ini diulangi sampai berat NaCL konstan.
Hasil percobaan, selama 25 menit waktu leaching kadar garam yang terekstrak
adalah sebesar % dengan effisiensi %. Dengan bertambahnya waktu leaching, maka
kadar NaCl yang terekstrak dan effisiensi leaching bertambah besar. Hal ini
dikarenakan oleh semakin banyak mol garam yang terekstrak kedalam larutan.
viii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Leaching merupakan salah satu unit operasi yang sudah lama dipakai dalam
industri kimia. Leaching dalam industri kimia memegang peranan penting terutama
dalam satu unit pemisah.
Dalam industri mineral atau tambang di alam biasanya ditemukan dalam keadaan
yang tidak murni atau tercampur dengan senyawa lain untuk dapat digunakan pada
proses selanjutnya,senyawa tersebut biasanya diperlukan dalam keadaan murni
sehingga perlu adanya pemisahan senyawa-senyawa tersbut. Salah satu metode yang
digunakan adalah ekstraksi.
Ekstraksi bertujuan untuk mengualarkan suatu komponen campuran dan zat padat
atau zat cair dengan bantuan suatu pelarut ekstraksi padat cair (leaching) biasanya
banyak digunakan dalam industri metologi alumunium,cobalt,mangan,nikel, dan
timah. Digunakan pulan dalam industri kopi, minyak kedelai, teh dan juga pembuatan
gula. Ekstraksi bertujuan untuk mengeluarkan suatu komponen campuran dan zat padat
atau zat cair dengan bantuan suatu pelarut.
Latar belakang ditambah lagi kira-kira 3 paragraf lagi ya.

I.2 Tujuan Percobaan


1. Mempelajari hubungan antara kadar garam (NaCl) dalam larutan dengan waktu
leaching
2. Mempelajari hubungan antara persentase garam (%NaCl) yang terekstraksi
terhadap garam mula-mula (effisiensi leaching) dengan waktu leaching.
3. Menentukan koefisien transfer massa pada proses leaching.
1

I.3 Tinjauan Pustaka


Ekstraksi zat padat (leaching) merupakan suatu proses pemisahan zat padat yang
solute dari suatu campuran dengan padatan lain yang tidak terlarut (inert) dengan
menggunakan pelarut (solvent). Dalam penggunaan campuran mineral dalam jumlah
besar dan tidak terhingga,leaching dipakai sebagai pemisah.
Dalam proses pemisahan yang digunakan untuk mengeluarkan suatu komponen
campuran dari zat atau cairan dengan bantuan pelarut cair dimana teknik pemisahan
ini digolongkan menjadi 2 kategori, yaitu:
1. Leaching atau ekstraksi zat padat (solid extraction), yaitu digunakan untuk
melarutkan zat yang dapat larut dari campurannya dengan zat padat yang tidak
dapat larut.
2. Ekstraksi zat cair (liquid extraction), yaitu digunakan untuk memisahkan dua
zat cair yang saling bercampur dengan menggunakan suatu pelarut yang
melarutkan salah satu dalam campuran tersebut. Leaching tidak banyak berbeda
dari pencucian zat dari hasil filtrasi.
Dalam leaching, kuantitas zat mampu larut (soluble) yang dikeluarkan biasanya
lebih banyak bila dibandingkan dengan pencucian filtrasi biasa, dan sifat-sifat zat padat
mungkin mengalami perubahan dalam operasi leaching. Umpan yang berbentuk kasar,
keras dan butiran-butiran besar mungkin akan terdisintegrasi menjadi bubur atau
lumpur, bila bahan mampu larut yang terkandung didalamnya dikeluarkan.
(Mc. Cabe, 1990)
Dalam proses leaching dapat dijumpai dua tahap yaitu :
1. Terjadinya kontak antara zat padat dengan zat padat yang akan di pisahkan,
sehingga akan terjadi perpindahan massa dari butiran zat padat ke zat pelarut.
2. Pemisahan yang akan menghasilkan suatu larutan yang merupakan residu
campuran padatan.
Brown G.G ,1978)
2
Pada proses leaching biasanya memungkinkan berlangsung pada temperatur tinggi
dihasilkan daya larut tertinggi suatu padatan didalam pelarut . Viskositas dari suatu
cairan sangat rendah dan difusivitasnya sangat besar pada temperatur tinggi,sehingga
meningkatkan proses leaching.
(Treybal,1981)
Makin luas permukaan bidang kontak antara solid dengan solvent maka solid yang
terekstraksi akan lebih banyak atau proses leaching akan berjalan baik. Leaching dapat
dilakukan secara batch dan kontinyu. Pada umumnya leaching mempunyai tiga
langkah yang harus dilakukan yaitu :
1. Pencampuran zat padat dengan campuran yang akan di pisahkan dari zat
penyusun.
2. Penambahan zat terlarut pada langkah pertama yang menyebabkan fase
campuran yang sempurna sehingga perpindahan massa dan panas
berlangsung baik.
3. Pemisahan kedua fase yang telah membentuk kesetimbangan
Agar proses leaching dapat berjalan dengan baik,maka perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
1. Campuran padatan harus mempunyai densitas yang lebih besar dari pada
solvent.
2. Campuran padatan bersifat selektif permiabel aktif sehingga terjadi kontak
antara solvent yang membawa partikel-partikel.
3. Campuran padatan mempunyai permukaan aktif sehingga terjadi kontak
antara solvent dan padatannya.
4. Partikel yang akan dipisahkan harus bisa keluar dari pori-pori dan dapat
larut dalam solvent.
5. Solvent harus merupakan cairan yang hanya dapat melarutkan konstituen
yang dikehendaki saja.
3
Sebelum proses leaching dilakukan, terlebih dahulu harus diperhatikan sifat-
sifat fisika dan kimia dari bahan yang digunakan sebagai umpan. Hal ini diperlukan
untuk keperluan dalam menentukan jenis solvent dan macam peralatan yang
digunakan. Maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan alat dan demi kelancaran
proses. Disamping itu, faktor lain yang mempengaruhi jalannya proses adalah faktor
tekanan dan suhu., terutama pada proses kelarutan solute. Sebenarnya pengaruh
tekanan padaproses kelarutan solute adalah kecil dan dapat diabaikan, kecuali pada
tekanan tinggi.
Dalam proses laeching ini, metode operasinya sangat sederhana karena
dilakukan single stage operation dengan anggapan proses berjalan stedy state. Keadaan
ini dapat digunakan dengan mengadakan kontak fase antara campuran zat dan
solventnya sehingga memperoleh kesetimbangan fase. Selain membutuhkan waktu
yang lama, cara ini juga memberikan produk yang terlalau sedikit, sehingga tidak
banyak digunakan. Yang banyak digunakan adalah cara multi stage operation karena
operasinya lebih sempurna dan produk yang dihasilkan lebih banyak.
(Brown,G.G.,1978)
Apabila suatu bahan akan dipisahkan dari padatan menuju pelarut, maka
kecepatan transfer massa dari permukaan zat padat menuju cairanadalah faktor kontrol.
Hal ini sesungguhnya tidak berlawanan atau berbeda dalam fase padat, jika bahan
tersebut adalah suatu bahan murni. Persamaan ini akan diperoleh jika terjadi sistem
batch.
Kecepatan transfer massa zat terlarut A yang akan dipisahkan terhadap larutan dengan
volume (m3) adalah

NA
= K L (CAS CA
A
(Treybal,1985)
4

Dimana :
NA : Kecepatan transfer massa, gmol/menit
A : Luas permukaan partikel dalam, cm2
KL : Koefisien transfer massa volumetris, cm3/menit
CA : Konsentrasi padatan dalam waktu t, gmol/menit
CAS : Kelarutan kejenuhan zat padat terlarut A dalam larutan, gmol/ml
Neraca massa zat x pada cairan disekitar alat ektraktor proses dapat dinyatakan
dengan :
=


0 ( ) 0 =


= ( )


= = ( )

dengan mengintegralkan dari K = 0 K = t dan CA = CA0 CA = CA hal ini
diasumsikan :
1. Ukuran benda padat berpori tetap

2. Luas permukaan kontak tiap satuan volume padatan tetap-nilai didapat

C C
dengan membuat grafik hubungan antara : [ AS A ] vs t
0

Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi :
1. Partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran
partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjai
kontak secara tepat. Semakin besar pertikel, maka cairan yang akan mendifusi akan
memerlukan waktu yang relative lama
5

2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam
permukaan kontak akan semakin lebih luas terhadap pelarut . Semakin lama waktu
pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus
dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum agar konsumsi energi tidak
terlalu besar . Pengaruh faktor pendasukan ini hanya ada bila laju pelarutan
pelarutan memungkinkan.
3. Temperature
Pada banyak kasus , kelarutan material akan diekstraksikan , akan meningkat
dengan temperature dan akan menambah kecepatan ekstraksi
6
I.4 Hipotesis

Mana hipotesisnya?
7
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

II.1 Alat dan Bahan


1. Alat-alat yang digunakan : 2. Bahan yang digunakan :
a. Timbangan a. NaCl (garam dapur )
b.Gelas arloji b. Pasir
c. Piknometer c. Aquades
d. Kertas saring

Gambar Rangkaian Alat

Gambar 1. Rangkaian alat ekstraksi leaching


Keterangan alat :
1. Pemanas b. titik embun
2. Termometer 3. Labu leher tiga
a. titik didih 4. Isolasi
5. Pendingin 9. Pompa vakum
6. Tabung pengaman 10. Statif
7. Penjepit 11. Labu penampung
8. Tabung pemanas
8

II.2 Cara Kerja


1. Menera piknometer
2. Menimbang pasir dan garam dapur dengan berat masing-masing 15 gram dan
10 gram.
3. Mencampur pasir dan garam dapur dan membungkus dengan kertas saring
dan mengukur diameternya selanjutnya memasukkan kedalam tabung sampel.
4. Mengisi labu leher tiga dengan aquades dengan volume 350 ml.
5. Menghidupkan pemanas dan pendingin sampai aquades mendidih dan
menguap hingga uap melewati pendingin dan mengembun.
6. Mencatat titik embun dan titik didih dan mencatat waktu mula-mula leaching
(t = 0) pada saat embun atau tetesan pertama menetes kedalam tabung sampel
7. Mematikan pemanas pada selang waktu 5 menit.
8. Mengalirkan larutan garam yang terekstraksi kedalam labu leher tiga dengan
membuka kran penjepit lalu menutup kran kembali.
9. Menghidupkan pompa vakum untuk menghisap ekstrak yang masih
tertinggal sampai tidak ada lagi ekstrak yang keluar dari tabung sampel.
10. Mengambil larutan garam dari labu leher tiga secukupnya dan didinginkan
lalu memasukkan dalam piknometer pada suhu sesuai dengan suhu peneraan
piknometer dan menimbang untuk mengetahui berat larutan.
11. Mengukur rapat massa atau densitas larutan garam.
12. Mengulangi percobaan mulai dari langkah 5 sampai didapatkan 5 data
percobaan.
Dibuat paragraf
9
II.3 Bagan Alir

Menimbang pasir dan garam dapur dengan berat masing-masing dengan berat 15
gram dan 20 gram

Mencampur pasir dan garam dapur dan membungkusnya dengan kertas saring
dan mengukur diameternya,kemudian masukan kedalam tabung sample

Mengisi labu leher tigaa dengan aquadest pada volume 350 ml

Menghidupakan pemanas dan pendingin sampai aquadest mendidih dan menguap


hingga uap melewati pendingin dan mengembun

Mencatat titik embun dan titik didih dan mencatat waktu mula-mula leaching
(t=0) pada saat embun atau tetesan pertama menetes kedalam tabung sample

Matikan pemanas pada selang waktu 5 menit

Mengalirkan larutan garam yang terekstraksi kedalam labu leher tiga dengan
membuka kran penjepit lalu menutupnya kembali

Menghidupkan pompa vacum untuk menghisap ekstrak yang masih tertinggal


sampai tidak ada lagi ekstrak yang keluar dari tabung sampel
10

Mengambil larutan garam dari labu leher tiga secukupnya dan didinginkan lalu
masukkan kedalam piknometer pada suhu sesuai dengan suhu peneraan
piknometer dan menimbang untuk mengetahui berat larutan

Mengukur rapat massa atau densitasnya

Mengulangi langkah-langkah diatas sampai didapatkan berat yang konstan


11
II.4 Analisa Perhitungan
a. Perhitungan untuk peneraan piknometer
Suhu aquadest : t C
Berat piknometer kosong : a gr
Berat piknometer + aquadest : b gr
Berat aquades : (b-a) gr
Densitas aquadest pada suhu t oC : c
()
Volume aquadest = volume piknometer :
ml

b. Perhitungan untuk mencari densitas larutan garam


Berat piknometer kosong : a gr
Berat larutan garam + piknometer : d gr
Berat larutan garam : (d-a) gr
()
Densitas larutan garam :
()

c. Perhitungan mencari berat larutan garam


volume larutan garam volume aquades : z ml
berat larutan garam : gr

d. Perhitungan mencari kadar NaCl


Dihitung dengan korelasi antara densitas, suhu dan kadar NaCl (data tabel korelasi
3-121, hal 3-94, perry).
e. Perhitungan mencari effisiensi leaching
Garam terekstraksi : ( )( )

Effisiensi leaching : 100%

12

BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Hasil Percobaan

Berat garam (NaCl) : 15 gram


Berat pasir : 10 gram
Volume aquadest dalam labu : 350 ml
Berat piknometer kosong : 14.6118 gram
Berat piknometer + aquadest : 39.6029 gram
Berat aquadest dalam piknometer : 24.9911 gram
Densitas aquadest : 0.996233 gr/ml
Volume piknometer : 25.0855 ml
Diameter padatan : 2.36 cm
Tinggi padatan : 8.5 cm
Suhu aquadest : 28 C

Tabel III.1. Hasil Pengamatan

Waktu Suhu (C) Berat Piknometer


Berat Larutan
No leaching +Larutan Garam
T didih T embun Garam (gr)
(menit) (gr)
1 5 99 33.5 39.7585 25.1467
2 10 99 33 39.8370 25.2252
3 15 99.5 33 39.8907 25.2789
4 20 99 33 40.0050 25.3932
5 25 99 33 40.0740 25.4622

13
III.2 Pembahasan
Dari data-data yang diperoleh dari hasil percobaan, maka didapatkan densitas
NaCl tiap 5 menit.

Tabel III.2. Hubungan antara berat larutan garam dengan densitas larutan garam

Waktu leaching Berat Larutan Densitas Larutan


No
(menit) Garam NaCl (gr/ml)
1 5 25.1467 1.002435
2 10 25.2252 1.005564
3 15 25.2789 1.007705
4 20 25.3932 1.012262
5 25 25.4622 1.015012

III.2.a Hubungan waktu leaching dan kadar NaCl dalam larutan


Dari data percobaan yang diperoleh, bila dibuat perhitungan untuk memperoleh
kadar NaCl seperti pada lampiran, akan diperoleh hubungan sebagai berikut:
Tabel III.3. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam

Waktu leaching Densitas larutan Kadar NaCl dalam


No
(menit) NaCl larutan (%)

1 5 1.002435 0.906729
2 10 1.005564 1.354153
3 15 1.007705 1.660225
4 20 1.012262 2.311698
5 25 1.015012 2.704975

14
Dari tabel diatas dengan menggunakan persamaan fungsi kuadrat, diperoleh
= 0.0007 2 + 0.07 + 0.539 dan didapat persen kesalahan rata-rata sebesar
2.73%.

Gambar III.1 Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam

Dari grafik diketahui bahwa semakin lama waktu leaching maka akan semakin
tinggi pula kadar NaCl dalam larutan yang diperoleh, karena waktu kontak semakin
lama sehingga jumlah garam yang terekstraksi atau terlarut semakin besar.

III.2.b Hubungan waktu leaching dengan efisiensi leaching


Tabel III.4.waktu leaching dan efisiensi leaching
Berat Larutan NaCl
No Waktu leaching (menit) Efisiensi (%)
terekstraksi (gram)
1 5 3.1813 21.21
2 10 4.7659 31.77
3 15 5.8556 39.04
4 20 8.1902 54.6
5 25 9.6095 64.06

15

Dari data percobaan diatas, bila dibuat perhitungan untuk memperoleh


effisiensi akan diperoleh hubungan sebagai berikut dengan persamaan :
= 0.0174 2 + 1.6482 + 12.623 dan didapat persen kesalahan rata-rata, sebesar
2.76%.
70

60
efisiensi leaching (%)

50

40

30

20
y = 0.0174x2 + 1.6482x + 12.623
10 R = 0.9912

0
0 5 10 15 20 25 30
waktu leaching (detik)

ydata y hitung

Gambar III.2. Grafik hubungan antara waktu dengan efisiensi leaching

Dengan melihat grafik dapat diketahui bahwa semakin lama waktu leaching
maka akan semakin besar effisiensi yang diperoleh, hal ini juga disebabkan oleh garam
yang terekstraksi atau terlarut semakin besar.
III.2.c Penentuan besarnya koefisien transfer massa
Dari data percobaan diatas, bila dibuat perhitungan untuk memperoleh besarnya
koefisien transfer massa akan diperoleh hubungan sebagai berikut:

16

Tabel III.5. waktu leaching dengan


waktu
= ln ( )
No. leaching Ca( ) 0

(menit)
1 5 0.017136 0.027922
2 10 0.017189 0.028010
3 15 0.017226 0.028071
4 20 0.017304 0.028199
5 25 0.017351 0.028277

Dari hasil perhitungan diperoleh besarnya koefisien transfer massa



(KC),yaitu:0.124698 .
2
Format penulisannya dibenarkan lagi

17

BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan

Dengan mengambil data hasil pengamatan dan hasil perhitungan maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam yaitu berbanding lurus.
Semakin lama waktu leaching maka semakin besar pula kadar garam, begitu
pun sebaliknya. Diperoleh persamaan y = 0.000677x2 + 0.070757x + 0.539898
2. Hubungan antara waktu leaching dengan efisiensi leaching yaitu berbanding
lurus. Semakin lama waktu leaching maka semakin besar pula efisiensinya,
begitu pun sebaliknya.
Diperoleh persamaan y = 0.0174x2 + 1.6482x + 12.6232

3. Besarnya koefisien transfer massa (KC), yaitu : 0.124698 2

IV.2 Kritik dan Saran


dilengkapi

18
DAFTAR PUSTAKA

Brown, G.G., 1973,Unit Operation, 3rd edition, Jhon Willey and sons, Inc.,
New York.

Hardjono,1980,Diktat Operasi Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM,


Yogyakarta.

Perry, J.H., 1984,Cheemical Engineering Hand Book, 6th edition, Mc Graw


Hill Book Company, New York.

Treyball, 1981,Mass Transfer Operation, 3rd edition, Mc Graw Hill Book


Company, New York.
19
LAMPIRAN
DATA PERCOBAAN

Berat garam (NaCl) : 15 gram


Berat pasir : 10 gram
Volume aquadest dalam labu : 350 ml
Berat piknometer kosong : 14.6118 gram
Berat piknometer + aquadest : 39.6029 gram
Berat aquadest dalam piknometer : 24.9911 gram
Densitas aquadest : 0.996233 gr/ml
Volume piknometer : 25.0855 ml
Diameter padatan : 2.36 cm
Tinggi padatan : 8.5 cm
Suhu aquadest : 28 C

No Suhu (C) Berat Larutan


Waktu T didih T embun Berat Piknometer Garam (gr)
leaching +Larutan Garam

(menit) (gr)
1 5 99 33.5 39.7585 25.1467
2 10 99 33 39.8370 25.2252
3 15 99.5 33 39.8907 25.2789
4 20 99 33 40.0050 25.3932
5 25 99 33 40.0740 25.4622

20

CARA PERHITUNGAN
1.Peneraan Piknometer

Suhu Aquadest = 28 C
Berat Piknometer + aquadest = 39.6029 gram
Berat piknometer kosong = 14.6118 gram
Berat aquades dalam piknometer = 39.6029- 14.6118 gram
= 24.9911 gram
Densitas aquades pada suhu 28C = 0.996233 g/mL

Volume aquadest =
24.9911
= 0.996233 /

= 25.0856

Dengan menganggap Volume Aquadest = Volume Piknometer


2.Menghitung Densitas Larutan NaCl pada tiap periode waktu 10 menit
Dari data percobaan 1:
Berat larutan NaCl + Piknometer = 39.7585 gram
Berat piknometer kosong = 14.6118 gram
Berat larutan NaCl = (berat larutan NaCl + piknometer) - berat piknometer kosong
= (39.7585 14.6118) gram
= 25.1467 gram

Densitas () larutan NaCl =
25.1467
= 25.0856

= 1.002436 /

21
Dengan cara yang sama untuk percobaan selanjutnya, akan diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 6. Hubungan antara berat larutan garam dengan densitas larutan garam

Waktu Berat Piknometer Densitas


Berat Larutan
No leaching +Larutan Garam Larutan Garam
Garam (gr)
(menit) (gr) (gr/ml)
1 5 42,1664 39.7585 1.002435
2 10 42,2181 39.8370 1.005564
3 15 42,2206 39.8907 1.007705
4 20 42,3744 40.0050 1.012262
5 25 42,4772 40.0740 1.015012

3.Mencari kadar NaCl dalam larutan


Mencari densitas larutan NaCl pada suhu T dari tabel 3-88 Perry dengan cara
interpolasi

Pada Kadar 1%, pada T= 28oC

40

28

25

1,00409 0,99908

4028
=
4025

= 1,003088 g/mL 22
Dengan cara yang sama akan diperoleh densitas larutan NaCl pada 2%, 4%, 8%, 12%,
16%, 20%, dan 24% pada suhu 28o C.
Tabel 7. Hubungan antara kadar garam dengan densitas larutan garam

Kadar NaCl Densitas larutan NaCl (gr/ml)


No
dalam larutan (%) Pada 28o C.

1 1 1.003088

2 2 1.010082

3 4 1.024194

4 8 1.052892

5 12 1.082318

6 16 1.12584

7 20 1.143812
8 24 1.176150

Mencari kadar NaCl pada suhu = 28oC dan densitas () tertentu.


Percobaan 1 : Pada densitas 1.00244 g/mL dengan cara ekstrapolasi:
2

1,00244 1.003088 1.010082

21 1.0100821.003088
=
2 1.0100821.00244

= 0.906729 % 23
Dengan cara yang sama akan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 8. Hubungan antara densitas larutan garam dengan kadar garam

No Densitas Larutan NaCl (g/mL) Kadar NaCl dalam larutan (%)


1 1.002435 0.906729
2 1.005564 1.354153
3 1.007705 1.660225
4 1.012262 2.311698
5 1.015012 2.704975

4. Menghitung berat garam (NaCl) terekstraksi


Berat terekstraksi = Wt x Kadar NaCl dalam larutan
Pada percobaan 1 :
Berat terekstraksi = 350.8524811 gr x 0.906729 %
= 3.181280026 gram
Dengan cara yang sama akan diperoleh data untuk percobaan lain sebagai berikut :
Berat larutan NaCl Berat larutan NaCl
No Kadar NaCl dalam larutan (%)
total (gram) terekstraksi (gr)
1 0.906729 350.8524811 3.181280026
2 1.354153 350.8524811 4.765910528
3 1.660225 350.8524811 5.855564367
4 2.311698 350.8524811 8.190153782
5 2.704975 350.8524811 9.60954382

24
5. Effisiensi leaching.
Untuk mencari effisiensi leaching dapat dilakukan dengan cara :
Berdasarkan zat terlarut dalam sample yang akan dilarutkan.
garam terekstra ksi
Effisiensi leaching ( ) = x 100 %
garam mula mula
Pada percobaan 1 :
3.181280026
= x 100%
15
= 21.208534 %
Dengan cara yang sama akan diperoleh data untuk percobaan lain :
Berat NaCl murni Berat NaCl awal
No Waktu (menit) Effisiensi (%)
(g) (g)
1 5 3.181280 15 21.208594
2 10 4.765911 15 31.772737
3 15 5.855564 15 39.037096
4 20 8.190154 15 54.601025
5 50 9.609544 15 64.063625

25
6. Menghitung % Kesalahan
a. Membuat grafik hubungan antara kadar garam (NaCl) dalam larutan dengan waktu
leaching
Tabel 9. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam
Waktu leaching
No. Kadar NaCl (%)
(menit)

1 5 0.906729

2 10 1.354153

3 15 1.660225

4 20 2.311698
5 25 2.704975

Dari data-data diatas tersebut dapat dibuat persamaan kuadrat yang merupakan
hubungan antara kadar garam dengan waktu leaching.
Dengan persamaan kuadrat

= 2 + +

Dengan metode Least Square yaitu:

= 2 + +

2 = 4 + 3 + 2

= 3 + 2 +

26
Menghitung persentase kesalahan dan rata-ratanya:


% = | | 100 %

%
% =

y = kadar NaCl (%)


x = waktu leaching (menit)

Tabel 10. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam


No 2 3 4 2
1 5 0.906729 25 125 625 4.5336 22.6682
2 10 1.354153 100 1000 10000 13.5415 135.4153
3 15 1.660225 225 3775 50625 24.9034 373.5506
4 20 2.311698 400 8000 160000 46.2340 924.6792
5 25 2.704975 625 15625 390625 67.6244 1690.6094
75 8.93778 1375 28125 611875 156.8369 3146.9228

Persamaannya menjadi:
8.93778 = 1375 + 75 + 5
156.8369 = 28125 + 1375 + 75
3146.9228 = 611875 + 28125 + 1375

Dengan mengeliminasi ketiga persamaan diatas, diperoleh:


= 0.000677
= 0.070757
= 0.539898 27
Sehingga didapatkan persamaan kuadrat yaitu:
= 0.000677 2 + 0.070757 + 0.539898

Nilai y hitung dapat diketahui, untuk data percobaan pertama pada = 5:


= 0.000677(5)2 + 0.070757(5) + 0.539898
= 0.910608

0.906729 0.910608
% = | | 100 %
0.906729

% = 0.427838 %
Dengan cara yang sama diperoleh data-data sebagai berikut:
Tabel 11. Hubungan antara y data dan y hitung dengan persen kesalahan
x y data y hitung % Kesalahan
5 0.906729 0.910608 0.427838
10 1.354153 1.315168 2.878917
15 1.660225 1.753578 5.622891
20 2.311698 2.225838 3.714147
25 2.704975 2.731948 0.997153
% Kesalahan rata-rata 2.728189

Sehingga % Kesalahan diperoleh 2.728189 %

28
b. Membuat grafik hubungan antara efisiensi leaching dengan waktu leaching
Tabel 12. Hubungan antara waktu leaching dengan efisiensi leaching
Waktu leaching Efisiensi
No.
(menit) leaching (%)

1 5 21.208594

2 10 31.772737

3 15 39.037096

4 20 54.601025
5 25 64.063625

Dari data-data diatas tersebut dapat dibuat persamaan kuadrat yang merupakan
hubungan antara kadar garam dengan waktu leaching.
Dengan persamaan kuadrat
= 2 + +

Dengan metode Least Square yaitu:


= 2 + +

2 = 4 + 3 + 2

= 3 + 2 +

Menghitung persentase kesalahan dan rata-ratanya:


% = | | 100 %

29

%
% =

y = efisiensi leaching (%)


x = waktu leaching (menit)

Tabel 13. Hubungan antara waktu leaching dengan kadar garam


N Wakt
Effisiensi x2 x3 x4 xy x.2y
o u
1 5 21.20853 25 125 625 106.042668 530.2133377
2 10 31.77274 100 1000 10000 317.727369 3177.273685
3 15 39.0371 225 3375 50625 585.556437 8783.346551
16000
4 20 54.60103 400 8000 1092.0205 21840.41008
0
1562 39062
5 25 64.06363 625 1601.59064 40039.76592
5 5
210.683016 137 2812 61187 3702.93761 74371.00957
75
8 5 5 5 4 5

Persamaannya menjadi:
210.6830168 = 1375 + 75 + 5
3702.937614 = 28125 + 1375 + 75
74371.009575 = 611875 + 28125 + 1375

Dengan mengeliminasi ketiga persamaan diatas, diperoleh:


= 0.0174
= 1.6482
= 12.6232

Sehingga didapatkan persamaan kuadrat yaitu:


= 0.0174 2 + 1.6482 + 12.6232

Nilai y hitung dapat diketahui, untuk data percobaan pertama pada = 5:


= 0.0174(5)2 + 1.6482(5) + 12.6232 30
= 21.2992

21.20853 21.2992
% = | | 100 %
21.20853

% = 0.427500 %

Dengan cara yang sama diperoleh data-data sebagai berikut


Tabel 14. Hubungan antara y data dan y hitung dengan persen kesalahan

X Y data Y hitung % Kesalahan


5 21.20853 21.2992 0.427500055
10 31.77274 30.8452 2.919285353
15 39.0371 41.2612 5.697412097
20 54.60103 52.5472 3.761514006
25 64.06363 64.7032 0.998342707
% Kesalahan Rata-rata 2.760810844

Sehingga diperoleh % kesalahan rata-rata sebesar 2.760810844%.

31

RANGKAIAN ALAT
32

Anda mungkin juga menyukai