Anda di halaman 1dari 15

Laporan Hari,Tanggal : Kamis, 27 April 2017

Praktikum ke-9 Waktu : 13.00 17.00 WIB


Teknik Dasar Dosen : Drh. Vetnizah Juniantito PhD APVet
Nekropsi Hewan Dr. Drh. Eva Harlina MSi APVet
Drh. Heryudianto Vibowo
Asisten : Wahyu Mega AMd

NEKROPSI PADA AYAM

Kelompok 6 / P.2
Abdullah Aziz J3P115003
Nanda Finisa J3P115022
Ramadhani Febriansyah J3P115026
Rara Nopita Sari J3P115040
Ridho Rizki Kurniawan J3P115041
Zahara Kadri J3P115045
Riza Dwileski Fatria J3P115047
Miftahul Rizki J3P115054
Gelvinda Jamil J3P215074

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Diagnosis suatu penyakit pada ternak ayam yang telah mati, dapat
dilakukan dengan pemeriksaan secara sistematis dan cermat, sehingga dapat
diketahui perubahan-perubahan yang terjadi pada ayam. Kita dapat mengetahui
secara langsung jenis penyakitnya dan jenis pengobatan terhadap ayam yang
masih sehat dengan obat-obatan yang tepat. Cara mendiagnosis penyakit ayam
demikian disebut nekropsi ayam, khususnya pada penyakit-penyakit yang
mengakibatkan perubahan karakteristik di dalam tubuh ayam.
Nekropsi adalah pemeriksaan hewan yang telah mati atau pemeriksaan
bangkai hewan untuk menentukan perubahan abnormal dan penyakit yang terjadi
selama hidupnya. Istilah necropsy berasal dari bahasa Yunani yaitu nekros = mati
dan opsis = melihat, penglihatan dan berarti "melihat yang mati (viewing the
dead). (Bassert 2014).
Cara nekropsi ayam sering dibutuhkan oleh peternak, sebab diagnosis ini
adalah diagnosis lapangan. Bila kurang yakin akan hasil diagnosis, dapat
dikuatkan dengan bantuan diagnosis laboratoris. Sifat pemeriksaan nekropsi
berdasarkan perubahan anatomis histologis, yang untuk penyakit tertentu
diagnosis dapat ditentukan dengan hanya melihat perubahan makroskopis.
Bedah bangkai dapat dilakukan pada ayam hidup atau pada ayam mati.
Jika menggunakan ayam hidup, maka ayam harus dibunuh dahulu, cara
membunuh atau eutanasi ayam ada beberapa cara antara lain mematahkan tulang
leher antara tulang atlas dan tulang cervikalis, emboli udara ke dalam jantung,
bordizo forceps, dan disembelih seperti pada umumnya.
Nekropsi harus dilakukan secepat mungkin setelah ayam mati, untuk
mencegah terjadinya perubahan setelah kematian. Apabila tidak dapat dilakukan
oleh peternak, bangkai ayam dapat disimpan dalam tumpukan es atau tempat yang
dingin, untuk mencegah pencemaran. Dengan melakukan nekropsi bisa
mengetahui penyebab kematian dan ini sangat berguna dalam rangka
Tujuan dari praktikum kali ini adalah mahasiswa mampu menguasai tata
cara melakukan euthanasia pada ayam, pemeriksaan post mortem, pemeriksaan
atemortem, tata cara melakukan nekropsi ayam, dan mengetahui keadaan normal
dari organ dalam dari ayam.

METODELOGI

Waktu dan tanggal


Praktikum ini dilaksanakan tanggal 27 April 2017.Waktu pelaksanaan
pukul 09.00-12.00 WIB.Tempat pelaksanaan praktikum di Klinik Hewan
Pendidikan, Kampus Gunung Gede, Program Diploma Keahlian Paramedik
Veteriner, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Gunting Bedah,
Pinset Anatomis, Pinset Sirurgis m, Pisau ,Meja Stainless, 2 ekor ayam.

Prosedur kerja
Pengambilan Darah
Mengambil darah unggas ayam melalui vena bracialis (vena di bagian
sayap sebelah dalam) atau vena jugularis dengan menggunakan suntikan sebanyak
3 cc, usahakan pembuluh darah unggas ayam tidak dalam keadaan pecah,
Nekropsi
Unggas ayam di euthanasia , dengan cara memotong pembuluh darah
(arteri maupun vena jugularis), syaraf, trakea, maupun esophagus pada bagian
leher sebelah atas dengan pisau yang tajam (menyembelih). Unggas ayam tersebut
terus direst-in hingga sampai benar-benar sudah mati. Bulu unggas dibasahi,
terutama di bagian dada dan perut. Unggas ayam tersebut diletakkan di atas meja
stainless dengan posisi punggung menempel pada meja. Kedua paha
ditekan/dikuakkan kearah bawah (arah lateral) agar lebih leluasa dalam
melakukan nekropsi. Ekor menghadap kearah pemeriksa.
Permukaan kulit unggas ayam diperiksa. Warna dan kondisi jaringan
dibawah kulit (subkutan) dan otot dada diperiksa dengan membuka kulit penutup
tubuh, mulai dari ujung tulang dada kearah lateral, anterior maupun posterior,
hingga seluruh kulit terlepas dari rongga dada, perut sampai leher.
Semua yang tampak setelah otot dada dan perut dibuka diperiksa, dengan
menggunting otot daging dari tulang sternum (ujung tulang dada) ke arah bawah
(lateral), memotong tulang iga kearah tulang leher dengan gunting yang kuat dan
tajam (memotong pada bagian yang lunak atau costo chondral), membuka otot
yang menutupi rongga perut dengan menggunting dari otot dasar rongga dada
yang telah terpotong kearah anus dari bagian kiri dan kanan
Saluran pencernaan diperiksa, dengan memotong batas antara tembolok
dengan proventrikulus, proventrikulus diangkat dan ditarik dengan hati-hati,
sambil mengangkat saluran pencernaan di bawahnya, alat penggantung bagian
usus dipotong, proventrikulus hingga anus diangkat lalu diletakkan di atas meja
periksa, bagian luar maupun dalam (isi dan dinding saluran) diamati. Dilakukan
pengamatan pada organ hati, jantung, ginjal, pancreas, bursa fabricius, trakea, dan
paru-paru.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Peralatan Yang Digunakan


Nama Fungsi
Nampan / wadah

Tempat meletakkan peralatan maupun


organ

Gunting

Membantu menyayat atau membuka


organ lunak

Pinset

Membantu mengambil organ lunak dan


kecil

Spoit

Alat untuk exanguinasi


Pisau

Memutus tiga saluran yang terdapat


pada bagian leher atau cervicalis yaitu
saluran pernapasan, saluran pencernaan
dan saluran nadi atau peredaran darah.

Tabel 2. Organ ayam yang telah disembelih

Nama Organ Keterangan

Situs Viscerum Organ dalam Ayam Posisi organ normal, dan tidak
terdapat kelainan

Otak Tidak terdapat pembengkakan atau


penumpukan cairan

Koane Normal, tidak terdapat cairan yang


menyebabkan penyumbatan
Laryng dan trakhea Normal , tidak ada kelainan pada
permukaan luar dan dalam

Jantung Dalam kondisi normal baik


permukaan dalam, luar, dan posisinya,
serta tidak terdapat gumpalan dalah di
bagian dalam

Thymus Jumlah 7 pasang, ukuran sama, dan


tidak ada pembengkakan atau kelainan

Hati Warna, bentuk, konsistensi, dan letak


dalam keadaan normal

Proventikulus dan Ventrikulus Tidak terdapat kelainan baik pada


bagian luar maupun bagian dalam

Nervus Ischiadicus Normal, ukuran pada kaki kiri dan


kanan sama, serta tidak terjadi
pembengkakan
Nervus brachialis Normal, ukuran pada sayap kiri dan
kanan sama, serta tidak terjadi
pembengkakan

Usus halus Normal, tidak terdapat kelainan serta


parasit, permukaan licin

Pankreas Normal, tidak terdapat kelainan

Sekal Tonsil Terdapat bintik-bintik merah pada


permukaannya

Diverticulum meckel Terdapat sedikit bintik-bintik merah

Pemeriksaan ante mortem dilakukan dengan mengamati dan mencatat


ayam sebelum disembelih yang meliputi jumlah hewan, jenis kelamin, keadaan
umum, serta kelainan yang tampak.Pemeriksaan antemortem keadaan umum pada
ayam meliputi pemeriksan:
1. Keaktifan ayam
2. Kebersihan bulu
3. Kebersihan mulut, hidung, mata dan kloaka
4. Warna jengger/pial dan ceker
5. Pernapasan
6. Pergerakan kepala
Tujuan pemeriksaan antemortem adalah untuk menentukan apakah hewan
potong benar-benar sehat, sehingga dagingnya tidak mengganggu kesehatan
manusia yang memakannya (misalnya membuat oarng sakit perut, damam,
mencret, keracunan atau bahkan menyebabkan kematian).Jumlah hewan yang
dilakukan pemeriksaan adalah dua ekor dengan berjenis kelamin jantan berumur
sekitar 5-6 minggu. Keadaan umum hewan yang diamati seperti keaktifan hewan,
ayam tersebut memiliki keaktifan yang normal, kebersihan bulu baik, namun bulu
mudah rontok. Kebersihan mulut, hidung, mata, dan kloaka dalam keadaan
normal, mukosa dalam kondisi normal tidak terdapat lesio. Warna jengger/pial dan
ceker hewan dalam keadaan normal, warna jengger dan pial merah dan pada ceker
tidak terdapat lesio. Frekuensi pernapasan hewan normal dan pergerakan kepala
dalam keadaan normal.
Pengambilan darah (venesectio) merupakan salah satu hal yang terpenting
dari kegiatan peternakan. Tujuan pengambilan darah ternak yaitu untuk
mengetahui tingkat kadar suatu zat yang terkandung dalam darah ternak
tersebut. Pada dasarnya tekhnik pengambilan sampel darah pada berbagai jenis
ternak hampir sama. Perbedaan yang mendasar hanya pada tempat pengambilan
sampel darah dan ukuran jarum yang digunakan. Namun pada prosedur dan
tehniknya hampir sama.Posisi ternak yang akan diambil sampel darahnya harus
dalam posisi yang nyaman dan kondisi ternak tenang. Selain akan mempermudah
dalam pengambilan sampel darah, juga akan lebih meminimalisir rasa sakit pada
ternak dan hal tersebut merupakan salah satu kaidah animal welfare atau yang
biasa di sebut kesejahteraan hewan.
Pengambilan darah pada ayam dilakukan dengan menggunakan spuit,
yaitu dengan cara mengambil darah pada vena pectoralis di bagian sayap,
kemudian darah ditampung pada ependorf. Pengambilan sampel darah ternak
dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi suatu penyakit yang menyerang atau
diderita ternak tersebut. Sonjaya (2010), menyatakan bahwa pengambilan sampel
darah pada ternak tidak bisa diakukan dengan cara sembarangan, diperlukan
kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Karena apabila terjadi kesalahan maka
darah tidak akan terhisap keluar dan akan terjadi pengebungan vena dan apabila
tidak dilakukan dengan cara yang benar maka akan menimbulkan sakit pada
hewan yang diambil sampel darahnya. Metode yang kami gunakan yaitu dengan
menggunakan suntikan, kesalahan terjadi pada saat pengambilan darah
dikarenakan kurangnyaketelitian dan kecermatan saat pengambilan, akibatnya
darah tidak tehisap keluar dan vena mengalami penggembungan.
Pengambilan darah yang kedua bisa melalui intracardiac yaitu
pengambilan darah menggunakan spoit dan jarum langsung ke jantung.
Pengambilan darah dilakukan dengan hati-hati, tentukan terlebih dahulu daerah
yang akan di tusuk. Pengambilan darah melalui intracardiac dilakukan apabila
ingin memperoleh darah dengan jumlah volume yang banyak, pada praktikum ini
pengambilan darah sebanyak 2 ml. Penyembelihan pada ayam dengan cara
memotong 3 saluran yaitu esofagus, trakhea dan pembuluh darah. Penyembelihan
menggunakan pisau tajam agar hewan tidak mengalami kesakitan. Penyembelihan
ayam yang dilakukan sesuai dengan syariat islam. Hewan yang telah di sembelih
di cuci menggunakan air bertujuan agar bulu ayam tidak bertebaran, namun
bagian kepala hewan tidak dicuci.
Sistem respirasi adalah suatu proses pertukaran gas oksigen (O2) dari
udara oleh organisme hidup yang digunakan untuk serangkaian metabolisme yang
akan menghasilkan karbondioksida (CO2) yang harus dikeluarkan, karena tidak
dibutuhkan oleh tubuh. Setiap makhluk hidup melakukan pernafasan untuk
memperoleh oksigen O2 yang digunakan untuk pembakaran zat makanan di
dalam sel-sel tubuh.Sistem respirasi pada unggas (ayam) terdiri dari nasal cavities,
larynx, trachea (windpipe), syrinx (voice box), bronchi, bronchiale dan bermuara
di alveoli.
Unggas memerlukan energi yang sangat banyak untuk terbang,oleh karena
itu unggas memiliki sistem respirasi yang memungkinkan untuk berlangsungnya
pertukaran oksigen yang sangat besar per unit hewan.Untuk melengkapi
kebutuhan oksigen yang tinggi tersebut maka anatomi dan fisiologi sistem
respirasi unggas sangat berbeda dengan mammalia.Perbedaan utama adalah fungsi
paru-paru.Pada mammalia, otot diafragma berfungsi mengontrol ekspansi dan
kontraksi paru-paru.Unggas tidak memiliki diafragma sehingga paru-paru tidak
mengembang dan kontraksi selama ekspirasi dan inspirasi.Paru-paru hanyalah
sebagai tempat berlangsungnya pertukaran gas di dalam darah (Sembiring, 2009).
Ayam di euthanasia dengan cara di sembelih secara benar dan halal,
setalah dilakukan penyembelihan sistem respirasi ayam dapat dilihat dengan cara
memotong bagian hidung ayam sampai trakhea ke bagian bawah sampai semua
sistem pernapasan terlihat. Adapun organ respirasi yang terdapat pada ayam terdiri
dari, nares anteriores (lubang hidung), berjumlah sepasang terdapat pada pangkal
rostrum bagian dorsal, nares Posteriores, lubang pada palatum, hanya 1 buah,
terletak di tengah.Glottis, terletak tepat di belakang pangkal lidah dan melanjutkan
kecaudal, ke dalam larynx.Larink, bagian yang disokong oleh cartilago cricoidea,
dan cartilago arytenoidea yang berjumlah sepasang. Trachea adalah lanjutan
larynx ke arah caudal, bronchus adalah percabangan trachea ke kanan dan ke kiri,
disebut Bronchus dexter dan sinister, pulmo, terdapat pada ujung-ujung bronchi
berjumlah sepasang, melekat pada dinding dorsal thorax, pulmo ini dibungkus
oleh selaput yang disebut pleura.Syrinx tersusun dari beberapa annulus trachealis
yang paling caudal dan annulus bronchialisyang paling cranial.
Dilakukan pemeriksaan pada sistem pernapasan ayam dengan kondisi
setiap organ pernapasan ayam dalam keadaan baik dan tidak mengalami
ketidaknormalan pada permukaan luar dan dalam.
Sistem pencernaan merupakan saluran yang berfungsi sebagai alat untuk
mengambil makanan, mengelola makanan, memecah makanan dalam bentuk
kecil/partikel kecil dan menyerap beberapa molekul dari dalam aliran darah.
Sistem pencernaan pada ayam dikenal dengan sistem pencernaan monogastrik.
Sistem pencernaan pada ayam terdiri dari Paruh (Mulut), kerongkongan
(Esophagus), tembolok (Crop), Proventikulus, Empedal (Gizzard), Usus halus
(Small Intestine), Usus Buntu/Sekum, dan Kloaka. Paruh merupakan tempat
pertama yang dilalui oleh makanan sebelum masuk kedalam saluran
pencernaan.Proses nekropsi pada saluran pencernaan ayam dilakukan mulai dari
paruh sampai ke kloaka. Ayam merupakan hewan yang tidak memiliki gigi,
sehingga sebelum masuk kedalam saluran pencernaan ayam mematuk terlebih
dahulu makanannya dan kemudian langsung ditelan tanpa dikunyah terlebih
dahulu. Lidah pada ayam berbentuk runcing berfungsi membantu mendorong
pakan kekerongkongan. Proses di mulut juga dibantu oleh kelenjar saliva untuk
membantu melicinkan dan memudahkan pakan menuju kerongkongan.
Dari pengamatan yang dilakukan mulut hewan dalam keadaan normal dan
tidak ada kelainan. Pembukaan pada saluran pencernaan dilanjutkan ke organ
Esophagus yang menjadi saluran pembawa makanan dari mulut ke tembolok dan
setelah dibuka pada esophagus tidak terdapat adanya keabnormalan pada saluran
tersebut. Selanjutnya dilakukan pembukaan pada organ tembolok yang berguna
sebagai tempat penyimpanan pakan sementara, dan tempat pelunakan pakan
dengan adanya penambahan air didalam organ pencernaan tersebut. Pada organ
tembolok ayam yang di insisi tidak ditemukan cacing atau ketidaknormalan
didalam tembolok. Pada Proventrikulus dilakukan penyayatan dengan
melanjutkan sayatan dari tembolok tadi. Lambung pada ayam terdiri dari dua
macam yaitu proventikulus (lambung glandular) dan empedal (lambung
muskular). Mukosa proventikulus memiliki dua kelenjar yaitu kelenjar tubular
yang mengeluarkan mukus, dan kelenjar gastrik yang mengekspresikan asam
klorida (HCL) dan pepsin. Setelah diamati bagian dalam atau dinding dari
proventrikulus dalam keadaan normal. Kemudian pada gizard(empedal).Pakan
dalam gizzard mengalami proses pencernaan secara mekanik dengan bantuan grit
yang berupa batuan kecil, selain itu pakan juga akan dipecah dan dicampur
dengan air sehingga menjadi seperti pasta atau yang biasa disebut dengan chymne
(Kartadisastra, 2002). Bagian luar dari empedal ini tersusun dari serabut yang
padat dan kuat serta dinding dalam dilapisi dengan selaput yang disebut koilin.
Penggilingan dan peremasan pakan di empedal dapat terjadi karena adanya
kontraksi otot empedal yang kuat. Struktur usus halus seperti struktur saluran
pencernaan ayam yang di nekropsi ini pada umumnya dalam keadaan normal.
Usus buntu atau secum terdapat di bagian bawah dan rectum terdapat didua
bentukan yang bercabang diusus yang buntu sehingga disebut usus buntu.
Didalam usus buntu terdapat pencernaan katbohidrat, protein dan absorbsi air
serta sintesis vitamian A.
Usus buntu fungsi untuk membantu mencerna pakan yang memikiki
susuan serat kasar tinggi melalui aksi jazas renik atau mikroorganisme. Pada saat
pembukaan usus dan diamati terdapat bintik-bintik merah pada mukosa usus yang
mungkin disebabkan infeksi bakterri atau disebabkan oleh hal yang lainnya Secara
normal, di dalam usus ayam sehat terdapat bakteri C. perfringens dalam jumlah
yang aman (tidak menyebabkan terjadinya outbreak penyakit, red). Saat kondisi
ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman
(tantangan agen penyakit banyak,red) maka outbreak NE dapat terjadi.Semua
jenis ayam pada semua umur dapat terinfeksi NE namun paling sering menyerang
umur 2-6 minggu pada ayam petelur dan umur 2-5 minggu pada ayam pedaging
(Technical Service, 2010).Usus besar terdapat dibagian paling belakang dan
berakhir dikloaka. Rektum merupakan organ yang dapat diperluas untuk
penyimpanan sementara feses.Menurut Yuwanta (2004), usus besar (rektum)
dinamakan juga intestinum crassum dengan panjang 7 cm. Pada bagian ini terjadi
perombakan partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi
feses. Usus besar berfungsi sebagai reabsorbsi air untuk meningkatkan kandungan
aur pada sel tubuh dan mengatur keseimbangan air dalam tubuh unggas. Pada
ayam yang di periksa tidak terdapat adanya kelainan pada usus besar dan dapat
dikatan dalam keadaan normal. Kemudian yang terakhir ada Kloaka sebagai
saluran yang membuka dan menghubungkan dengan anus dibagian akhir. Fungsi
kloaka sebagai lubang pelepas sisa digesti (coprodeium), urine, feses, muara
saluran reproduksi dan lubang keluar yang berhubungan dengan udara luar
(vent).Menurut Yaman (2010), kloaka memiliki panjang normal 1,5 sampai 3 cm
dan berat normalnya 6 sampai 8 gram.Perbedaan setiap ukuran kloaka pada
unggas atau pada setiap ayam disebabkan oleh bangsa, pakan, dan kondisi
lingkungan (Fadillah et al., 2007).
Otak terletak di kepala dan terlindungi dengan baik oleh tulang-tulang
tengkorak. Otak terdiri dari sejumlah bagian yang terdiri dari berbagai sel khusus
yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi, mengenali, mengingat dan
mengarahkan. Bagian dan daerah utama yang membentuk otak unggas adalah
sebagai berikut:
Otak depan yang terutama terdiri dari belahan otak dan lobus
penciuman. Hipotalamus dan kelenjar pituitari terletak di sisi bawah otak depan.
Otak tengah yang terutama terdiri dari lobus optik. Bagian belakang yang
terutama terdiri dari serebelum dan medula oblongata. Lobus pencium dari otak
depan adalah daerah reseptor untuk saraf penciuman dan merupakan pusat bau,
sementara lobus optik adalah area reseptor untuk saraf optik dan merupakan pusat
penglihatan. Lobus optik unggas sangat besar bila dibandingkan dengan spesies
lain yang terkait dengan ukuran otak total. Hal ini menunjukkan bahwa
penglihatan memainkan peran utama dalam perilaku unggas yang normal.
Nervus ischiadicus merupakan serabut saraf yang terbesar di dalam
tubuh. Nervus ischiadicus adalah cabang dari plexus sacralis (L4, L5, S1, S2, dan
S3), saraf ini meninggalkan regio glutealis dengan berjalan ke bawah
melewati foramen ischiadicus mayor dan turun antara throcantor mayor dan
turun diantara throcantor mayor os. Fmur dan tuberositas ischiadica,
sewaktu turun sampai pertengahan paha saraf ini pada bagian posteriornya
ditutupi oleh tepian m. bceps femoris dan m. semimembranosus yang
berdekatan. Ia terletak pada aspek posterior m. adduktor magnus dan pada
sepertiga bagian bawah paha. Nervus
ischiadicus berakhir dan bercabang menjadi dua percabangan, yaitu n. tibialis dan
n. peroneus communis pada daerah poplitea. Cabang-cabangnya pada paha
mempersarafi m. Hamstring (meliputi m. semimembranosus, m.
semitendinosus, dan m. bceps femoris) (Chusid 1983).
Plexus brachialis adalah saraf yang berjalan dari tulang belakang C5-T1,
kmeudian melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya ke seluruh lengan (atas
dan bawah). Serabut saraf yang ada akan didistribusikan ke berberapa bagian
lengan.
Penyakit Marek disebut juga fowl paralysis, neurolymphomatosis,
acute leucosis atau range paralysis. Marek's disease (MD) merupakan suatu
penyakit limfoproliferatif pada ayam yang sangat mudah menular dan
bersifat adanya pembengkakan atau tumor pada berbagai saraf perifer dan
pembentukan tumor limfoid pada berbagai organ visceral, kulit dan otot.
Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Dr. Jozsef Marek pada tahun 1907
di Hongaria. MD sering menyerang pada ayam umur antara 8-24 minggu,
tetapi dapat juga menyerang pada ayam yang lebih muda maupun yang lebih
tua (Tabbu 2000 dan Jahja et al 2006).
Bursa Fabricius adalah organ limfoepitelial yang terdapat pada
unggas,tetapi tidak pada mamalia. Berasal dari pertemuan ektoendodermal
sebagaistruktur berbentuk bulat, seperti kantong tepat di bagian dorsal
kloaka (Tizard1987). Bursa berkembang secara cepat pada ayam muda dan
mencapai ukuran maksimum antara umur 4-12 minggu. Pada umumnya, ayam
mengalami regresibursa dengan cepat setelah 20-24 minggu. Involusi bursa
Fabricius dimulai padaumur 14 minggu hingga 5 bulan (Riddle 1987).
Kecepatan tumbuh dan regresibursa Fabricius bervariasi tergantung pada tipe,
galur, kondisi ayam dan hormonseks, sedangkan kecepatan tumbuh dan besar
bursa pada anak ayam ada hubungannya dengan resistensi terhadap penyakit
(Glick 2000). Semakin sering bursa Fabricius membentuk antibodi maka akan
menyebabkan deplesi danpengecilan folikel limfoid sehingga berat relatif bursa
menurun (Tizard 1987).
Struktur bursa Fabricius adalah permukaan dalamnya terdiri dari
lipatan longitudinal (plika) besar dan kecil. Lipatan yang besar mencapai
keseluruhan dari panjang lumen bursa sedangkan lipatan yang kecil lebih
pendek. Lipatan-lipatan ini terdiri dari folikel bursa dan dibawahnya terdapat
matriks jaringan ikat, dari lipatan bursa melalui lumen untuk tiap folikel yang
disebut lumen bursa. Lipatan epitel longitudinal dibentuk pada permukaan dalam
kantung dan epitel kolumnar menutupi plika berproliferasi dan membentuk
pertumbuhan ke arah luar dari pucuk epitel ke dalam lamina propia yang
berada dibawahnya (Riddle 1996). Jumlah total lipatan mukosa pada bursa
yang matang atau dewasa sekitar antara 10-15 plika (Cross 1987).
Secara anatomis, timus ayam terletak pada sisi kanan dan kiri
saluran pernafasan (trakea). Warnanya pucat kuning kemerah-merahan,
bentuknya tidakteratur dan berjumlah 3-8 lobi pada masing-masing leher. Tiap
lobus dihubungkan oleh jaringan ikat dan membentuk suatu untaian yang berjalan
dekat dengan vena jugularis (Getty 1975). . Pada praktikum ini ditemukan 7
pasang timus.
Besar timus sangat bervariasi, ukuran relatif yang paling besar pada
hewan yang baru lahir sedangkan ukuran absolutnya terbesar pada waktu
pubertas. Setelah dewasa timus mengalami atrofi dari parenkhima dan
korteks diganti oleh jaringan lemak. Timus yang mengalami atrofi cepat
merupakan reaksi terhadap stres, sehingga hewan yang mati sesudah
menderita sakit yang lama mungkin mempunyai timus yang sangat kecil (Tizard
1987).
Sekal tonsil merupakan jaringan limfatik yang terdekat dengan usus
halus. Menurut Bacha (2000), sekal tonsil adalah jaringan limfoid di sekitar
perbatasan sekum yang menyebar ataupun membentuk nodular di lamina
propria ataupun submukosa. Menurut Pink (1976) dalam Roitt dan Delves
(1992), struktur sekal tonsil mirip dengan usus buntu yang merupakan cabang
usus dan berisi limfosit. Struktur organ ini ialah kripta, nodul limfatik (folikel
limfoid), Musculusmuscularis externa, ekstrafolikuler, epitel dan vili.
Berdasarkan Dellman (1998), struktur sekal tonsil ayam mirip dengan
struktur tonsil (palatine tonsil) di mamalia.

SIMPULAN

Euthanasia pada unggas ( ayam ) dapat dilakukan dengan cara memutus


tulang leher ayam yang ke tiga, atau dilakukan penyembelihan serta exanguinasi.
Pemeriksaan post mortem dapat dilakukan dengan inspeksi dan palpasi ayam,
untuk melihat kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ante mortem dengan melihat
bagian bawah mata, ada cairan atau tidak pada hidung, bahkan dilakukan
pemeriksaan darah. Setelah ayam dieuthanasia, ayam dibasahi sedikit dengan air
kemudian dilakukan penyayatan yang dimulai dari bawah tulang dada, dan
dikuakkan tulang dadanya, dan dilihat ada tidak kelainan pada organ dalam. Pada
ayam yang telah dilakukan nekropsi sebelumnya tidak terdapat kelainan, tetapi
ada bintik-bintik merah di beberapa sisi dinding usus, dan pada sekal tonsil.
DAFTAR PUSTAKA

Bassert JM. 2014. Mccurnins Clinical Textbook for Veterinary Technicians 8 th

Edition. St. Louis, Missouri: Elsevier.

Dharma, DMN dan Putra, AA.G. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. Penerbit CV
Bali Media Adhikarsa. Denpasar. Bali. Hal 218.

Sonjaya. 2010. Cacingan dan Pengobatannya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Biring, P. 2009. Buku Ajar dan Penuntun Dasar Ternak Unggas.USU Press.
Medan.

Bacha JW dan Linda. 2000. Color Atlas Of Veterinary Histology. Ed ke-2. USA:
Lippincott Williams & Wilkins.

Coss GM. 1987. Proceeding of Workshop on Avian Histopathology. Aus.


Vet. Poultry Association. hlm : 123.

Delman HD dan Eurell J. 1998. Text Book Of Veterinary Histology. Ed ke-


5. USA: Williamson and Wilkins.

Glick B. 2000. Immunophysiology. Di dalam : Whittow GC, editor.


Sturkies Avian Physiology. Edisi ke-5. London : academic Press. hlm
658-659.

Riddle C. 1987. Avian Histopathology. American Association of Avian


Pathologists, Inc. Pennsylvania.

Riddle C. 1996. Avian Histopathology. 2nd . American Association of Avian


Pathologists, Inc. Canada.

Roitt MI dan Delves PJ. 1992. Encyclopedia of Immunology. Ed ke-1. London:


Academic Press

Tabbu CR. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya (Penyakit


Bakterial, Mikal dan Viral) Volume I. Yogyakarta : Kanisius.

Tizard IR. 1987. Pengantar Imunologi Veteriner. Penerjemah Soehardjo H.


Bogor : Airlangga University Press.