Anda di halaman 1dari 34

PRESENTASI KASUS

MENINGITIS TUBERKULOSIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Kepaniteraan Klinik Bagian


Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :
MOHAMMAD ADITYA RACHMAN 20110310132

Diajukan kepada :
dr. Sir Panggung Tri Subekti, Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
MENINGITIS TUBERKULOSIS

Telah dipresentasikan pada tanggal :

Juni 2017

Oleh :
MOHAMMAD ADITYA RACHMAN 20110310132

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Kesehatan Anak

RSUD KRT Setjonegoro, Wonosobo

dr. Sir Panggung Tri Subekti Sp.A

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan presentasi kasus
(presus) dengan tema Meningitis Tuberkulosis. Presus ini disusun untuk
memenuhi sebagian persyaratan Kepaniteraan Klinik bagian Ilmu Kesehatan
Anak di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.
Dalam penulisan presus ini, penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terimakasih yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu,
khususnya kepada:
1. dr. Sir Panggung Tri Subekti Sp.A., selaku pembimbing Kepaniteraan
Klinik bagian Ilmu Kesehatan Anak sekaligus pembimbing presus di
RSUD KRT Setjonegoro, Wonosobo yang telah berkenan memberikan
bantuan, pengarahan, dan bimbingan dari awal sampai selesainya
penulisan presus ini.
2. dr. Heru Wahyono Sp.A., dan dr. Handayani Sp.A., selaku pembimbing
Kepaniteraan Klinik bagian Ilmu Kesehatan Anak di RSUD KRT
Setjonegoro yang telah berkenan memberikan bantuan, pengarahan, dan
bimbingan dari awal sampai selesainya Kepaniteraan Klinik bagian Ilmu
Kesehatan Anak.
3. An. A.Z selaku pasien di Bangsal Dahlia yang sudah bersedia meluangkan
waktunya untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh dan berkala.
4. Seluruh perawat, tenaga medis lainnya dan staf di Bangsal Dahlia dan
Edelweis, serta ruang Perinatal, dan Poli Anak yang telah berkenan
membantu berjalannya Kepaniteraan Klinik bagian Ilmu Kesehatan Anak
dari awal hingga akhir.
5. Ayah dan Ibu yang telah mencurahkan kasih sayang yang tiada henti dan
telah memberikan dukungan financial dalam penyelesaian presus ini.

3
6. Keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung dan membantu dalam
selesainya penulisan presus ini.
Semoga pengalaman dalam membuat presus ini dapat memberikan hikmah
bagi semua pihak. Mengingat penyusunan presus ini masih jauh dari kata
sempurna, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat menjadi masukan
berharga sehingga menjadi acuan untuk penulisan presus selanjutnya.

Wonosobo, Mei 2017

Penulis

4
DAFTAR ISI
PRESENTASI KASUS ............................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 5
BAB I ...................................................................................................................... 6
LAPORAN KASUS ................................................................................................ 6
A. IDENTITAS PASIEN .............................................................................. 6
B. ALLOANAMNESIS (S) .......................................................................... 6
C. PEMERIKSAAN FISIK (O) .................................................................... 9
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG ........................................................... 12
E. DIAGNOSIS (A) .................................................................................... 14
F. PENATALAKSANAAN ....................................................................... 14
G. PROGNOSIS .......................................................................................... 15
CATATAN PERKEMBANGAN RAWAT INAP ........................................ 15
BAB II ................................................................................................................... 18
TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................................... 18
A. PENDAHULUAN .................................................................................. 18
B. EPIDEMIOLOGI ................................................................................... 18
C. ETIOLOGI ............................................................................................. 19
D. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI ............................................ 19
E. MANIFESTASI KLINIS ....................................................................... 20
F. DIAGNOSIS .......................................................................................... 22
G. TATALAKSANA .................................................................................. 25
H. KOMPLIKASI ....................................................................................... 29
I. PROGNOSIS .......................................................................................... 30
BAB III ................................................................................................................. 31
KESIMPULAN ..................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 34

5
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
1. Identitas Pasien
Nama : An. AZ
No. CM : 701968
TTL/Usia : 14/09/2013 (4 tahun)
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kalibeber 3/5 Mojotengah
Tgl Masuk RS : 13 Mei 2017
Tgl Keluar RS : 19 Mei 2017
2. Identitas Orang Tua
AYAH :
Nama : Tn. SR
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Guru
Alamat : Kalibeber 3/5 Mojotengah
IBU :
Nama : Ny. W
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kalibeber 3/5 Mojotengah

B. ALLOANAMNESIS (S)
Kiriman dari : Datang sendiri
Diagnosa : -
Aloanamnesis dengan : Ibu Kandung
Tanggal/jam : 15 Mei 2017 (15.00)
Keluhan Utama : Demam 1 bulan
Riwayat Penyakit Sekarang :

6
Hari Sabtu, tanggal 13 Mei 2017 pukul 13.00 dibawa ke IGD dengan
keluhan demam yang dirasakan naik turun 1 bulan, sudah diobati beberapa
kali (di Puskesmas, ke Sp.A dan dokter umum) tetapi belum membaik. Empat
hari yang lalu (hari Rabu) periksa ke laboratorium di luar RSUD dan
didiagnosis tipes (Thyfoid Fever).
Mual (+), muntah 1x SMRS, kuning gelas, darah (-), dalam satu bulan
terakhir pasien sudah mengalami beberapa kali muntah di rumah (> 10x dalam
satu bulan), kebanyakan muntah hanya berupa lendir bening atau kadang
keruh.
Batuk (+) berdahak sulit keluar, sejak 1 bulan. Pilek (-), sesak nafas (-),
cairan dari telinga (-), suara serak (-), kejang (-). BAB (+) dbn, BAK (+) dbn.
Nafsu makan berkurang sehingga dalam beberapa minggu terakhir pasien
tampak kurus, dan pasien juga jarang minum jika tidak diberi oleh ibunya.
Menurut keluarga pasien, sebulan terakhir pasien tampak lemas,
mengantuk, tidak beranjak dari tempat tidur dan sangat jarang bicara jika tidak
ditanyakan keinginannya.
Kurang lebih satu jam setelah masuk RSUD pasien mengalami kejang
spastik diikuti kejang tonik klonik > 1x, selama 5 menit. Setelah kejang
pasien tampak mengantuk.
Riwayat Penyakit Dahulu :
o Keluhan Serupa (-)
o Riwayat Mondok (-)
o Riwayat Penyakit lain (-)
o Riwayat Trauma/operasi (-)
o Alergi (-)
o Pasien sering sakit tetapi selalu rawat jalan.
Riwayat Penyakit Keluarga:
o Keluhan Serupa (-)
o Penyakit Tuberkulosis (+) Ayah
o Kejang (+) sepupu
o Penyakit Sistemik (-)
o Alergi (-).

7
Riwayat Personal Sosial :
o Penyakit serupa di lingkungan sekitar (-)
o Penyakit Tuberkulosis di Lingkungan sekitar (+)
o Tempat tinggal padat penduduk
o Satu rumah tinggal dengan kedua orang tua dan 2 kerabat lainnya (ber-
5)
o Kondisi ekonomi menengah ke bawah
o Riwayat bepergian (-)
o Riwayat makan dan minum berkurang sejak 1 bulan terakhir.
o Kegiatan sehari-hari sebelum sakit pasien aktif bermain dengan teman
sebayanya disekitar rumah namun semenjak sakit pasien jarang keluar
rumah dan lebih sering diam.
Riwayat Antenatal :
o ANC rutin ke bidan dan puskesmas setiap bulan selama hamil.
o Selama hamil ibu tidak mendapat pil penambah darah rutin dan tidak
mendapatkan suntikan TT lengkap.
o Obat-obatan selama hamil (-), selain dari bidan dan dokter.
o Kondisi khusus saat hamil (tensi tinggi, kejang, ketuban pecah dini,
demam saat hamil, perdarahan) atau penyakit saat hamil (-).
o Merokok atau mengkonsumsi alkohol saat hamil (-).
o Makanan ibu saat hamil seperti biasa sesuai seperti yang dianjurkan
bidan dan dokter puskesmas.
Riwayat Natal :
o Spontan/tidak spontan : Spontan
o Usia Kehamilan : Aterm
o Nilai APGAR : Langsung menangis
o Berat badan lahir : 2600 gr
o Panjang badan lahir : Ibu lupa
o Lingkar kepala : Ibu lupa
o Penolong : Bidan
o Tempat : Di rumah bidan
o Kondisi saat melahirkan : KPD, perdarahan, lahir lama (-)

8
Riwayat Neonatal :
o Tidak ada asfiksia, trauma, infeksi, sepsis, ikterik dan kejang saat
setelah lahir.
Riwayat Tumbuh Kembang :
o Tiarap : 7 bulan
o Merangkak : Ibu lupa
o Duduk : Ibu lupa
o Berdiri : 1,5 tahun
o Berjalan : 2 tahun
o Saat ini : anak aktif bermain di lingkungan sekitar, namun
semenjak sakit menjadi lebih sering tinggal dirumah.
Kuesioner KPSP nilai 9 = sesuai dengan masa perkembangannya.
Riwayat Imunisasi :
o Hepatitis B : 2x saat lahir dan saat usia 1 bulan
o Polio : seinget ibu pasien diberikan 6x, saat lahir, usia 2,4,3 bulan, 1
tahun, dan yang terakhir antara usia 6-7 tahun.
o BCG : 1x saat usia 3 bulan
o DTP : seinget pasien diberi 5x saat usia 2,4,6 bulan dan 1 tahun dan
sekitar usia 2 tahun.
o HiB : 4x saat usia 2,4,6 bulan dan 1 tahun.
o PCV : lupa
o Rotavirus : 3x saat usia 2,4,6 bulan
o Influenza : rutin tiap tahun sejak usia tahun
o Campak : 2x saat tahun pertama dan kedua
o MMR : lupa
o Tifoid : lupa
o Hepatitis A : lupa
o Varisela : lupa
o HPV : lupa

C. PEMERIKSAAN FISIK (O)


1. KEADAAN UMUM & TANDA VITAL

9
Keadaan Umum : Tampak sakit berat
Kesadaran : Apatis
GCS : 12 (E3V4M5)
Nadi : 136 kpm
Respirasi : 28 kpm
Temperatur : 37,9C
SpO2 : 98%
Lain-lain :
- BB : 13 kg
- TB : 102 cm
- LK : 49 cm
- LiLA : 16 cm
Status Gizi : kurang
2. STATUS GENERALISATA
KEPALA :
Inspeksi : Mesocephal, tidak ditemukan tanda
trauma/inflamasi, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, nasal
flare (-), rinorea (-), otorea (-), mulut sianosis (-), faring hiperemis
(tidak dapat dinilai).
Palpasi : Nyeri (-)
LEHER :
Inspeksi : Tidak ditemukan tanda trauma/inflamasi
Palpasi : PKGB (+) multiple 1 cm, NT (-), kaku kuduk
(+)
THORAX :
Inspeksi : Bentuk normal, simetris, retraksi (+) intercostal,
tidak ditemukan tanda trauma/inflamasi.
Palpasi : Simetris, nyeri (-)
Pulmo :
Inspeksi : Pergerakan paru simetris
Pal pasi : Vocal fremitus (+)
Perkusi : Sonor

10
Auskultasi : Suara dasar (+) bronkovesikuler melemah, suara
tambahan (+/+) ronki basah kasar
Cor :
Perkusi : Batas atas jantung kanan pada SIC II parasternalis
dextra, batas atas jantung kiri pada SIC II parasternalis sinistra,
batas bawah jantung kanan pada SIC IV parasternalis dextra, dan
batas bawah jantung kiri pada SIC V LMC sinistra.
Auskultasi : SI tunggal, SII Split, bising (-)
ABDOMEN :
Inspeksi : Flat, ikut gerak nafas, tidak ditemukan tanda
trauma/inflamasi
Auskultasi : Peristaltik (+) dbn
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar lien tidak teraba
Perkusi : Timpani, pekak hepar (+)
GENITALIA :
Inspeksi : Perempuan, tidak ditemukan adanya tanda
trauma/inflamasi/kelainan bawaan
Palpasi : (inguinal) tidak ditemukan PKGB regional
EKSTREMITAS :
SUPERIOR :
Inspeksi : Edema (-/-), tidak ditemukan tanda
trauma/inflamasi
Palpasi : Nyeri (-), akral hangat, CRT <2detik, pitting (-/-)
INFERIOR :
Inspeksi : Edema (-/-), tidak ditemukan tanda
trauma/inflamasi
Palpasi : Nyeri (-), akral dbn, CRT <2detik, pitting (-/-)
KULIT :
Inspeksi : Tidak ditemukan kelainan pada kulit

11
3. STATUS NEUROLOGIS

Lengan Tungkai
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Bebas Bebas Bebas Bebas
Kekuatan 555 555 555 555
Tonus Eutoni Eutoni Eutoni Eutoni
Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Klonus Ada Ada Ada Ada
Reflek fisiologis BPR(+) BPR(+) KPR (+) KPR (+)
TPR(+) TPR(+) APR (+) APR (+)
Reflek patologis Babb (-) Babb (-)
Chadd (-) Chadd (-)
Sensibilitas Sde Sde Sde Sde
Tanda Laseque (+) Laseque (+)
meningeal Kernig (+) Kernig (+)
Brudzinski I (+) Brudzinski I (+)
Brudzinski II (+) Brudzinski II (+)
o Pemeriksaan Nervus Kranialis
Nervus I, III, IV, VI sulit dievaluasi
Nervus II, V, VIII, VII, IX, X, XI, XII dalam batas normal

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium:
LABORATORIUM
HEMATOLOGI
Hasil
Pemeriksaan Nilai Normal
Parameter
(Satuan)
13-05-17
Hemoglobin 10,1 (L) 10,7-14,7 g/dl
Lekosit 5,5-15,5 ribu/ul
19,4 (H)
Eritrosit 3,70-5,70 juta/ul
4,4
Hematokrit 31-43 vol %
32

12
Trombosit 150-400 ribu/ul
385
MCV 72-88 fl
74
MCH 23-31 pg
23
MCHC 32-36 %
31 (L)
Hitung Jenis
Eosinofil 0,10 10,7-14,7 %
Limfosit 8.50 (L) 25-50%
Basofil 0,20 0-1,00%
Netrofil 85,30 (H) 25-60 ribu/ul
Monosit 5,20 1,00-6,00 ribu/ul
GULA DARAH
GDS 98 70,0-150,0 mg/dl
HATI
SGOT 31,0 0 - 50 U/I
SGPT 14,0 0 1,0 U/I
GINJAL
Ureum 15 <50 mg/dl
Kreatinin 0,20 <1,0 mg/dl
IMUNOSEROLOGI
Salmonella Negatif
Negatif
IgG
Salmonella Negatif
Negatif
IgM
ELEKTROLIT
Natrium 127,0 (L) 132,0-145,0 mmol/L
Kalium 3,80 3,1-5,1 mmol/L
Chlorida 96,0 96,0-111,0 mmol/L
URINE
Tidak ditemukan nilai abnormal

Pemeriksaan Ro Thorax Ap
Cor : Kesan tak membesar
Pulmo : Corakan bronkovaskular bertambah,
Pengaburan pulmo kanan kiri
Diafragma & Sinus dbn
Kesan : Cor : Tak membesar
Paru : TB Milier

13
Tes Mantoux
Negatif
SKORING TB :
PARAMETER : KETERANGAN : SKOR :
Kontak dengan pasien TB Lingkungan sekitar dengan BTA positif 3
Uji Tuberkulin Negatif 0
BB/Keadaan Gizi Kurang 1
Demam tanpa sebab Demam > 2 minggu 1
Batuk Kronis Batuk > 2 minggu 1
PKGB Multiple, 1cm, tdk nyeri 1
Pembengkakan tulang/sendi Tidak ada 0
Ro Thorax TB Milier 1
Total 8

E. DIAGNOSIS (A)
1. DIAGNOSIS KLINIS
- TB Milier
- Suspek Meningitis TB
2. DIAGNOSIS TUMBUH KEMBANG
Tidak ditemukan Gangguan Tumbuh Kembang
3. DIAGNOSIS ANTROPOMETRI
Status Gizi Kurang
4. DIAGNOSIS IMUNISASI
Imunisasi Dasar Lengkap
5. DIAGNOSIS PERSONAL SOSIAL
Anak kedua, tinggal di Lingkungan Padat penduduk dan kontak
dengan penderita TB (+).

F. PENATALAKSANAAN
O2 NK 2l/menit
Infus KAEN 4B micro 16 tpm

14
(saat kejang) beri Diazepam 5 mg/IV bolus pelan, jika kejang lagi,
ulangi
Fenobarbital 150 mg/IV, setelah 12 jam bebas kejang, lanjut
maintenance 2x50 mg/IV
Ceftriaxon 2x 500 mg/IV
Sanmol (paracetamol) 3x 1 cth
Imunos 1x1 cth

G. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

CATATAN PERKEMBANGAN RAWAT INAP


Minggu, 14 Mei 17 (6.00) Senin, 15 Mei 17 (6.30) Selasa, 16 Mei 17 (6.30)

S Demam , Kejang (-), mual Demam , Kejang (-), mual Demam , Kejang (-), mual
(+), muntah 1x cair. (+), muntah 1x kuning. (+), muntah (-).
Nafsu makan , minum Tidak mau makan, minum Mau makan tetapi sedikit,
serasa ingin muntah. serasa ingin muntah. minum serasa ingin
BAB dan BAK (+) dbn BAB dan BAK (+) dbn muntah.
BAB dan BAK (+) dbn

O KU : Sakit berat KU : Sakit berat KU : Sakit berat


Kesadaran : Somnolen Kesadaran : Somnolen Kesadaran : Somnolen
(GCS : E3V3M4) (GCS : E3V3M4) (GCS : E3V3M4)
TD : - mmHg TD : - mmHg TD : - mmHg
N : 135 x/m N : 160 x/m N : 157 x/m
T : 38,1 C T : 37,9 C T : 38,3 C
Rr : 39 x/m Rr : 40 x/m Rr : 50 x/m
Px Fisik : Px Fisik : Px Fisik :
PKGB (+) multiple, retraksi PKGB (+) multiple, retraksi PKGB (+) multiple, retraksi
(+) intercostal, RBK (+/+) (+) intercostal, RBK (+/+) (+) intercostal, RBK (+/+)
Status Neurologis : Status Neurologis : Status Neurologis :

MS : (+) MS : (+)
Px Penunjang :

15
MS : (+) Hb 10,6 g/dL (L)
Px Penunjang : AL 15,5 10k/ul (N)
GDS : 96 mg/dL (N) Ht 32 % (N)
AT 437 10k/ul (H)
GDS : 98 mg/dL (N)
Na 127 mmol/L (L)
K 3,80 mmol/L (N)
Clorida 96 mmol/L (N)
Urin : dbn
A TB Milier TB Milier TB Milier
- Meningitis TB Meningitis TB Meningitis TB
P - Infus KAEN 4B micro - O2 NK 2l/menit - Tx lanjut
16 tpm - Ceftriaxon 2x650 mg IV
- Ceftriaxon 2x 500 mg - Fenobarbital 2x50 mg IV
IV - Jika kejang beri diazepam
- Sanmol 3x 1 cth 5 mg IV, bolus pelan
- Imunos 1x1 cth - Dexamethason 3x
- (saat kejang) beri ampul
Diazepam 5 mg IV - Lasal 3x1 cth
bolus pelan, jika - Cek darah rutin, elektrolit,
kejang lagi, ulangi urin rutin
- Fenobarbital 150
mg/IV, setelah 12
jam bebas kejang,
lanjut maintenance
2x50 mg IV

16
Rabu, 17 Mei 17 (6.00) Kamis, 18 Mei 17 (6.30) Jumat, 19 Mei 17 (6.30)
S Demam , Kejang (-), mual Demam , Kejang (+) 3 Demam , Kejang (+) 1x
(+), muntah (-) menit, muntah (+) 1x kuning, toni klonik 3 menit,
Nafsu makan , minum ampas (+), darah (-) muntah (-)
serasa ingin muntah. Makan dengan sonde (+), Makan dan minum dengan
BAB dan BAK (+) dbn minum dengan sonde (+). sonde.
BAB 1x lembek disertai BAB dan BAK (+) dbn
lendir, darah (-). BAK (+)
dbn
O KU : Sakit berat KU : Sakit berat KU : Sakit berat
Kesadaran : Somnolen Kesadaran : Somnolen Kesadaran : Somnolen
(GCS : E3V3M4) (GCS : E3V3M4) (GCS : E3V3M4)
TD : - mmHg TD : - mmHg TD : - mmHg
N : 138 x/m N : 134 x/m N : 125 x/m
T : 37,9 C T : 37,4 C T : 37,8 C
Rr : 48 x/m Rr : 40 x/m Rr : 50 x/m
Px Fisik : SpO2 : 98% Px Fisik :
PKGB (+) multiple, retraksi Px Fisik : PKGB (+) multiple, retraksi
(+) intercostal minimal, RBK PKGB (+) multiple, retraksi (+) intercostal minimal,
(+/+) minimal (+) intercostal minimal, RBK RBK (+/+) minimal
Status Neurologis : (+/+) minimal Status Neurologis :
Status Neurologis :

MS : (+) MS : (+)
MS : (+)
Px Penunjang :
GDS : 116 mg/dL
A TB Milier TB Milier TB Milier
- Meningitis TB Meningitis TB Meningitis TB
P - O2 NK 2l/menit - O2 NK 2l/menit - Tx Lanjut
- Dexamethason stop! - Paractamol 150 mg/IV - Rujuk RS Sarjito/RS
- Metilprednisolon 4-6 jam jika perlu Karyadi
3x12,5mg IV - Jika kejang lagi lapor
- OAT 1x2 tab fase dokter jaga IGD!
intensif - Tx lainnya lanjut
- Etambutol 1x325 mg PO
- Diet lanjut 150cc/3 jam
(pagi)

17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN
Meningitis Tuberkulosis adalah proses inflamasi di meningens
(khususnya araknoid dan piamater) akibat infeksi Mycobacterium
Tuberculosis. Meningitis tuberkulosis merupakan bentuk tuberkulosis
ekstrapulmonal kelima yang paling sering ditemui sekaligus yang paling
berbahaya, dan kejadian terbanyak ditemukan pada anak-anak. Bila tidak
diobati dengan tepat akan menyebabkan gejala sisa neurologis permanen,
bahkan dapat menyebabkan kematian.1,3
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Meningitis
Tuberkulosis adalah radang selaput otak yang disebabkan oleh
Mycrobacterium Tuberculosis. Biasanya jaringan otak ikut terkena
sehingga disebut Meningoencephalitis Tuberculosis. Angka kejadian
jarang dibawah usia 3 bulan dan mulai meningkat dalam 5 tahun pertama.
Angka kejadian tertinggi pada usia 6 bulan sampai 2 tahun. Angka
kematian berkisar antara 10-20%. Sebagian besar memberian gejala sisa,
hanya 18% pasien yang normal neurologis dan intelektual. Anak dengan
Meningitis Tuberkulosis bila tidak diobati akan meninggal dalam waktu 3-
5 minggu.2
Meningitis Tuberkulosis merupakan salah satu bentuk TB pada
sistem saraf pusat yang sering ditemukan pada anak-anak, dan merupakan
TB dengan gejala klinis yang berat yangg dapat mengancam nyawa atau
meninggalkan gejala sisa pada anak.4

B. EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2003, sekitar 1,3 juta anak
terinfeksi tuberkulosis setiap tahunnya di negara-negara berkembang dan
40.000 diantaranya meninggal dunia. Meningitis tuberkulosis terjadi pada
satu dari setiap 300 infeksi tuberkulosis pada anak yang tidak diobati atau

18
sekitar 0,3%. Meningitis tuberkulosis menyerang semua usia, namun
insiden tertinggi terjadi pada usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun. Hampir
tidak ada kasus yang ditemukan pada bayi < 3 bulan karena perjalanan
penyakit ini menimbulkan waktu beberapa bulan sampai menimbulkan
gejala. Insiden antara laki-laki dan perempuan tidak berbeda pada anak-
anak dibawah 20 tahun.1
Tingkat mortalitas adalah 10-20%, sementara morbiditas berupa
gejala sisa neurologik permanen mencapai 82%.1

C. ETIOLOGI
Mycobacterium Tuberculosis adalah basil gram positif, hidup
secara obligat aerob, tidak berspora dan tidak bergerak. Panjangnya 2-
4m, memiliki dinding sel kaya lipid yang dapat melindungi bakteri dari
serangan antibodi dan komplemen. Tumbuh sangat pelan, butuh sekitar 3-
6 minggu untuk mengisolasi bakteri dari spesimen klinis di agar
Lowenstein Jensen. Uji sensitivitas obat membutuhkan 4 minggu
tambahan. Ciri khas bakteri ini adalah tahan asam, yaitu kemampuan
membentuk kompleks mikolat berwarna kemerahan bila diwarnai dengan
pewarna arilmetan dan mempertahankan warnanya walau dicuci dengan
etanol.1,3

D. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Bakteri masuk ke dalam tubuh (paru-paru) dengan cara inhalasi,
setelah difagosit oleh makrofag alveolar, sistem imun seluler mengenali
antigen bakteri dan mengaktifkan sistem pertahanan oleh limfosit.
Hipersensitivitas jaringan dan pelepasan berbagai sitokin inflamasi
menyebabkan terjadinya nekrosis perkejuan (kaseosa). Sebagian bakteri
terbunuh, namun bakteri yang bertahan didalam makrofag yang inaktif
akan ikut menyebar ke kelenjar limfe regional dan sebagian masuk ke
peredaran darah sistemik mencapai organ-organ lain.1,3
Bila bakteri yang berhasil mencapai meningens dalam jumlah
banyak, dapat segera terjadi meningitis. Namun, bila dalam jumlah kecil,

19
bakteri akan berkolonisasi, bereplikasi, dan membentuk tuberkel yang
disebut fokus Rich di area subpial atau subepidermal. Bertahun-tahun
setelah infeksi, fokus Rich akan ruptur ke ruang subarakhnoid
menyebabkan meningitis tuberkulosis, atau ruptur ke parenkim otak yang
lebih dalam menjadi tuberkuloma atau abses. Ruptur dapat terjadi karena
trauma atau turunnya imunitas tubuh karena infeksi HIV, pertusis,
campak, atau anak dengan gizi buruk.1,3
Rupturnya fokus Rich tersebut mengeluarkan eksudat gelatinosa
yang lengket dan menimbulkan reaksi hipersensitivitas yang predominan
terjadi di area basal otak. Proses ini menyebabkan tersumbatnya aliran
cairan serebrospinal (LCS) pada sisterna basalis sehingga sering terjadi
hidrosefalus komunikans. Eksudat juga menginfiltrasi pembuluh darah di
korteks dan meningens menyebabkan vaskulitis dan obstruksi, diikuti oleh
infark korteks dan edema cerebri. Batang otak juga ikut terkena,
menyebabkan paresis saraf kranial, terutama N III, IV, VI, dan VII di area
basal. Syndrome inappropiate antidiuretic hormone (SIADH) sering
terjadi, menyebabkan retensi cairan dan dapat memburuk menjadi edema
serebri.1,3
Tuberkuloma adalah fokus perkejuan dibungkus kapsul fibrosa
berbatas tegas yang terbentuk dan terletak dalam parenkim otak, sering
ditemukan di area korteks, talamus, atau infratentorial di basal otak dekat
dengan serebelum. Karena letaknya itu, tuberkuloma dapat berukuran
sangat besar tanpa menyebabkan tanda meningitis, namun anak akan
merasa sakit kepala, demam yang berkepanjangan, defisit neurologis fokal
serta kejang.1,3

E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Petunjuk Teknis Manajemen dan Tatalaksana TB Anak
KEMENKES (2016) gejala umum yang ditemukan pada penderita
meningitis tuberkulosis adalah demam lama, sakit kepala, diikuti kejang
dan kesadaran menurun. Apabila ditemukan gejala-gejala tersebut, anak
harus segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan. Gejala

20
meningitis tuberkulosis timbul lambat selama beberapa minggu dan dapat
dibagi menjadi 3 tahap/stadium, yaitu :1,2,3,4
1. Stadium I (prodromal/inisial) (GCS 15)
Stadium ini berlangsung selama 1-3 minggu dengan gejala tidak
khas dan belum ditemukan kelainan neurologis. Gejala yang dialami
berupa demam, lemas, anoreksia, nyeri perut dan sakit kepala, siklus
tidur berubah, mual, muntah, konstipasi, iritabel hingga apatis, namun
tidak ada penurunan kesadaran. Pemeriksaan fisik menunjukkan ubun-
ubun besar menonjol pada bayi kecil. Anak yang lebih besar akan
mengalami perubahan suasana hati yang mencolok dan prestasi
sekolah yang menurun. Dapat timbul kejang intermitten yang bersifat
umum.
Stadium prodromal dapat berlangsung sangat singkat bila tiberkel
pecah ke dalam ruang subaraknoid secara tiba-tiba sehingga perjalanan
klinisnya dapat langsung melompat ke stadium berikutnya dengan
cepat.
2. Stadium II (transisional/meningitik) (GCS 11-14)
Pada stadium ini eksudat terkumpul pada girus-girus serebri
sehingga tanda rangsang meningeal positif, yaitu kaku kuduk, kernig
dan brudzinki (kecuali pada bayi, tanda meningeal sering negatif).
Terjadi penurunan kesadaran (namun tidak sampai koma atau
delirium), hidrosefalus, papiledema ringan, serta adanya tuberkel di
koroid, dan kelumpuhan saraf kranial. Saraf kranial yang paling sering
terkena adalah N.VI, diikuti N.III, IV dan VII menyebabkan
strabismus, diplopia, ptosis, dan reaksi pupil terhadap cahay menurun.
Anak yang lebih besar akan mengeluhkan sakit kepala yang hebat dan
muntah. Anak dapat mengalami gejala ensefalitis berupa defisit
neurologi fokal yang nyata disertai dengan gerakan yang involunter
dan gangguan bicara. Hidrosefalus yang terjadi sebelum gejala
ensefalitis merupakan salah satu ciri khas pada meningitis
tuberkulosis.
3. Stadium III (terminal) (GCS 10)

21
Stadium ini berlangsung cepat selama 2-3 minggu. Terjadi infark
batang otak akibat lesi pembuluh darah atau strangulasi oleh eksudat
yang mengalami organisasi. Kesadaran menurun hingga stupor dan
koma, defisit neurologi fokal makin berat (hemiplegi hingga
paraplegi), hiperpireksia, papiledema, hiperglikemi, opistotonus,
postur deserebrasi, nadi dan pernafasan tidak teratur, papil melebar dan
tidak bereaksi terhadap cahaya, hingga meninggal.
Seringkali ketiga stadium tersebut tidak memiliki batas yang jelas
dan dapat langsung berprogresi dengan sangat cepat, umumnya pasien
yang tidak diobati dalam tiga minggu akan meninggal. Kelompok usia
yang lebih muda yaitu bayi dan anak yang lebih kecil dapat mengalami
perburukan yang lebih cepat, hanya beberapa hari sebelum terjadi
hidrosefalus, kejang dan edema serebri.

F. DIAGNOSIS
Diagnosis tuberkulosis adalah hal yang tidak mudah, terutama pada
stadium awal. Kecurigaan akan meningitis tuberkulosis harus muncul bila
anak demam berkepanjangan (>14 hari atau >7 hari ditambah dengan
riwayat kontak dengan anggota keluarga yang menderita TBC), pasien
tetap tidak sadar dengan terapi antimikrobial, tanda rangsang meningeal
basilaris positif, hidrosefalus, dan stroke tanpa penyebab yang jelas.1,3
Evaluasi riwayat kontak dengan anggota keluarga yang menderita
tuberkulosis, kemungkinan adanya imunodefisiensi atau penggunaan obat-
obatan yang dapat menyebabkan imunodepresi. Tanyakan pula riwayat
imunisasi BCG, karena vaksin BCG dapat menurunkan resiko meningitis
tuberkulosis hingga 50-80%.1,3
Uji tuberkulin dan foto thorax yang positif dapat membantu
memperkuat kecurigaan, namun hasil negatif tidak menyingkirkan
kecurigan karena tuberkulin non reaktifdan foto thorax normal diperoleh
pada hampir 50% penderita. Pemeriksaan darah tepi lengkap disertai laju
endap darah (LED) perlu dilakukan.1,3

22
Baku emas diagnosis adalah menemukan basil M.tuberkulosis pada
kultur cairan serebrospinal (LCS), namun menumbuhkan bakteri
membutuhkan waktu yang lama yaitu sekitar 3-6 minggu dan hasil positif
hanya diperoleh pada 50-75% kasus bila jumlah cairan LCS yang
diperoleh cukup (5-10 ml). Oleh karena itu terapi dapat diberikan
berdasarkan hasil analisis LCS yang khas atau ditemukannya basil tahan
asam (BTA) pada pemeriksaan mikroskopik.1,3
Hasil analisis LCS menunjukkan warna yang xantokrom, serta endapan
benang-benang fibrin, jumlah leukosit meningkat hingga 10-500 sel/mm3
(sebagian besar adalah limfosit, namun pada tahap awal dapat ditemukan
banyak PMN), protein sangat meningkat (0,4-1,3 g/dL), glukosa darah
(<40 mg/dL, jarang sampai <20 mg/dL, atau rasio glukosa serum/LCS
0,4).1,3
Pewarnaan tahan asam LCS dapat mendeteksi BTA hanya pada 30%
kasus dan juga membutuhkan jumlah cairan LCS yang cukup banyak
seperti pada kultur. Jumlah LCS yang terlalu sedikit akan menurunkan
kemampuan deteksi.1,3
Pemeriksaan CT-Scan atau MRI otak paling berguna pada stadium
lanjut karena dapat mendeteksi berbagai komplikasi, seperti hidrosefalus
komunikans, edema serebri, iskemi, penyangatan di daerah basal dan
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat tunggal atau multiple, pada CT-Scan
atau MRI tampak sebagai lesi berbatas tegas dikelilingi jaringan yang
edematosa. Penguatan dengan kontras akan menunjukkan gambaran ring-
like lesion.1,3
Menurut Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) 2011, metode diagnosis Meningitis Tuberkulosis adalah sebagai
berikut :2
1. Anamnesis
Riwayat demam yang lama/kronis, dapat pula berlangsung akut.
Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuensi, interval)
kesadaran setelah kejang.
Penurunan kesadaran.

23
Penurunan berat badan (BB), anoreksia, muntah, sering batuk dan
pilek.
Riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa.
Riwayat imunisasi BCG.
2. Pemeriksaan fisik
Manifestasi klinis dibagi menjadi 3 stadium :
Stadium I (inisial)
Pasien tampak apatis ,iritabel, nyeri kepala, demam, malaise,
anoreksia, mual dan muntah. Belum tampak manifestasi kelainan
neurologi.
Stadium II
Pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda
rangsang meningeal, kejang, defisit neurologis fokal, paresis
nervus kranial, dan gerakan involunter (tremor, koreoatetosis,
hemibalismus).
Stadium III
Stadium II disertai dengan kesadaran semakin menurun
sampai koma, ditemukan tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakranial, pupil terfiksasi, pernapasan ireguler disertai
peningkatan suhu tubuh, dan ekstremitas spastis.
Pada funduskopi dapat ditemukan papil yang pucat, tuberkel pada
retina, dan adanya nodul pada koroid. Lakukan pemeriksaan parut
BCG dan tanda-tanda infeksi tuberkulosis di tempat lain.
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan meliputi darah perifer lengkap, laju endap darah, dan
gula darah. Lekosit darah tepi sering meningkat (10.000-20.000
sel/mm). Sering ditemukan hiponatremia dan hipokloremia karena
sekresi antidiuretik hormon yang tidak adekuat.
Pungsi lumbal :
Liquor cerebrospinal (LCS) jernih, cloudy, atau santokrom.
Jumlah sel meningkat antara 10-250 sel/mm dan jarang
melebihi 500 sel/mm hitung jenis predominan sel limfosit

24
walaupun pada stadium awal dapat dominan
polimorfonuklear.
Protein meningkat diatas 100mg/dl sedangkan
glukosamenurundibawah35mg/dl, rasio glukosa LCS dan
darah dibawah normal.
Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) dan kultur M. Tbc
tetap dilakukan.
Jika hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan,
pungsi lumbal ulangan dapat memperkuat diagnosis dengan
interval dua minggu.
Pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR), enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA) dan latex particle agglutination
dapat mendeteksi kuman Mycobacterium di cairan serebrospinal
(bila memungkinkan).
Pemeriksaan pencitraan (computed tomography (CT
Scan)/magnetic resonance imaging/(MRI) kepala dengan kontras)
dapat menunjukkan lesi parenkim pada daerah basal otak, infark,
tuberkuloma, maupun hidrosefalus. Pemeriksaan ini dilakukan jika
ada indikasi, terutama jika dicurigai terdapat komplikasi
hidrosefalus.
Foto rontgen dada dapat menunjukkan gambaran penyakit
tuberkulosis.
Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis.
Elektroensefalografi (EEG) dikerjakan jika memungkinkan dapat
menunjukkan perlambatan gelombang irama dasar.
4. Diagnosis pasti bila ditemukan M. tuberkulosis pada pemeriksaan apus
LCS/kultur.

G. TATALAKSANA
Terapi suportif dapat berupa pemberian cairan intravena, nutrisi,
antipiretik dan antikonvulsan. Pasien jangan menerima makanan melalui

25
mulut terlebih dahulu. Lakukan pemeriksan tekanan darah, nadi dan laju
nafas dengan ketat, demikian pula dengan pemeriksaan neurologis seperti
kesadaran, refleks pupil, gerak bola mata, saraf kranial, kekuatan motorik,
dan kejang dalam 72 jam pertama. Pemberian cairan intravena tidak
dibatasi, kecuali terbukti terjadi syndrome inappropriate antidiuretic
hormone (SIADH) dan tidak ada dehidrasi. Pasien dengan peningkatan
TIK dan syok mungkin memerlukan vasoaktif seperti dopamin dan
dobutamin, dan pemberian cairan dimonitor dengan central venous access
di ICU agar tercapai perfusi yang baik ke organ tanpa memperburuk
TIK.1,3
Jika terjadi peningkatan TIK akibat edema sitotoksik, berikan manitol
20% dosis 0,25-1 gram/kgBB/kali, tiap 6-8 jam, infus cepat dalam 3o
menit sambil terus diawasi balance cairan, elektrolit, dan diuresis. Berikan
pula antipiretik, evaluasi kepala 30, hiperventilasi (hingga PaCo2,25
mmHg), dan dapat dibantu furosemid 1 mg/kgBB untuk menurunkan TIK.
Sebisa mungkin hindari berbagai tindakan yang agresif, misalnya intubasi
trakea, penghisapan lendir, pengambilan sampel darah yang sering.
Penggunaan agen osmotik dan diuretik harus hati-hati karena dapat terjadi
dehidrasi dan syok.1,3
Menurut WHO tatalaksana pemberian antibiotik pada meningitis
adalah sebagai berikut :5
o Berikan antibiotik lini pertama sesegera mungkin.
Ceftriakson : 100 mg/kgBB/IV-drip/kali, selama 30-60 menit
setiap 12 jam, atau
Cefotaksim : 50 mg/kgBB/kali IV setiap 6 jam.
o Pada pengobatan antibiotik lini kedua, dapat diberikan :
Kloramfenikol : 25 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam.
Ditambah ampisilin : 50 mg/kgBB/kali IM (atau (IV) setiap 6
jam.
o Jika diagnosis sudah pasti berikan pengobatan secara parenteral
selama sedikitnya 5 hari, dilanjutkan dengan pengobatan peroral 5 hari
bila tidak ada gangguan absorpsi. Apabila terdapat gangguan absorpsi,

26
maka seluruh pengobatan diberikan secara parenteral. Lama
pengobatan seluruhnya 10 hari.
o Jika tidak ada perbaikan:
Pertimbangkan komplikasi yang sering terjadi seperti efusi
pleura subdural atau abses serebral. Jika hal ini dicurigai,
rujuk.
Cari tanda infeksi fokal lain yangg mungkin menyebabkan
demam, seperti selulitis pada daerah suntikan, mastoiditis,
artritis atau osteomielitis.
Jika demam masih ada dan kondisi umum anak masih belum
membaik setelah 3-5 hari, ulangi pungsi lumbal dan evaluasi
hasil pemeriksaan CSS.
Jika diagnosis belum jelas, pengobatan empiris untuk
meningitis TB dapat ditambahkan.
Meningitis tuberkulosis diterapi selama 12 bulan dan juga mengikuti
konsep pengobatan tuberkulosis secara umum, yaitu :1,2,3,4
o Fase intensif
Fase ini berlangsung selama 2 bulan, menggunakan 4 atau 5 obat
anti tuberkulosis (OAT), yaitu isoniazid (INH), rifampisin (RIF),
pirazinamid (PZA), etambutol (E), dan streptomisin (STM).
Streptomisin diberikan jia terdapat resistensi OAT.
o Fase lanjutan
Fase ini berlangsung selama 10 bulan berikutnya. Menggunakan 2
OAT, yakni INH dan RIF.
Menurut IDAI 2011 penatalaksanaan Meningitis Tuberkulosis adalah
sebagai berikut :2,5
1. Medikamentosa
Pengobatan medikamentosa diberikan sesuai rekomendasi
American Academy of Pediatrics 1994, yakni dengan pemberian 4
macam obat selama 2 bulan (fase intensif), dilanjutkan dengan
pemberian INH dan RIF selama 10 bulan (fase lanjutan).
Dosis OAT adalah sebagai berikut :

27
- Isoniazid (INH) 10 mg/kgBB/hari (7-15), dosis
maksimal 300 mg/hari. Selama 6-9 bulan.
- Rifampisin 15 mg/kgBB/hari (10-20), dosis maksimal
600 mg/hari. Selama 6-9 bulan.
- Pirazinamid 35 mg/kgBB/hari (30-40), dosis maksimal
2000 mg/hari. Selama 2 bulan.
- Etambutol 20 mg/kgBB/hari (15-25), dosis maksimal
1000 mg/hari, atau
- Streptomisin IM 20 30 mg/kg/hari dengan maksimal 1
gram/hari. Selama 2 bulan.
Kortikosteroid diberikan untuk menurunkan inflamasi dan
edema serebral. Prednison diberikan dengan dosis 12
mg/kg/hari selama 68 minggu. Adanya peningkatan tekanan
intrakranial yang tinggi dapat diberikan dexamethason 6 mg/m
setiap 4-6 jam atau dosis 0,3-0,5 mg/kg/hari.
Tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan
penggunaan rutin deksametason pada semua pasien dengan
meningitis bakteri.
Perlu dipantau adanya komplikasi Syndrome Inappropriate
Antidiuretic Hormone (SIADH). Diagnosis SIADH ditegakkan
jika terdapat kadar natrium serum yang <135 mEq/L (135
mmol/L), osmolaritas serum < 270 mOsm/kg, osmolaritas urin
> 2 kali osmolaritas serum, natrium urin > 30 mEq/L (30
mmol/L) tanpa adanya tanda-tanda dehidrasi atau hipovolemia.
Beberapa ahli merekomendasikan pembatasan jumlah cairan
dengan memakai cairan isotonis, terutama jika natrium serum <
130 mEq/L (130 mmol/L). Jumlah cairan dapat dikembalikan
ke cairan rumatan jika kadar natrium serum kembali normal.
2. Bedah
Hidrosefalus terjadi pada 2/3 kasus dengan lama sakit > 3 minggu
dan dapat diterapi dengan asetazolamid 30-50 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3 dosis. Perlu dilakukan pemantauan terhadap asidosis

28
metabolik pada pemberian asetazolamid. Beberapa ahli hanya
merekomendasikan tindakan VP-shunt jika terdapat hidrosefalus
obstruktif dengan gejala ventrikulomegali disertai peningkatan tekanan
intraventrikel atau edema periventrikuler.
3. Terapi Suportif
Jika keadaan umum pasien sudah stabil, dapat dilakukan konsultasi
ke Departemen Rehabilitasi Medik untuk mobilisasi bertahap,
mengurangi spastisitas, serta mencegah kontraktur.
4. Pemantauan pasca rawat
Pemantauan darah tepi dan fungsi hati setiap 3-6 bulan untuk
mendeteksi adanya komplikasi obat tuberkulostatik.
Gejala sisa yang sering ditemukan adalah gangguan penglihatan,
gangguan pendengaran, palsi serebral, epilepsi, retardasi mental,
maupun gangguan perilaku. Pasca rawat pasien memerlukan
pemantauan tumbuh-kembang, jika terdapat gejala sisa dilakukan
konsultasi ke departemen terkait (Rehabilitasi Medik, telinga hidung
tenggorokan (THT), Mata dll) sesuai indikasi.
5. Pencegahan
Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya jumlah pasien
tuberkulosis dewasa. Imunisasi BCG dapat mencegah meningitis
tuberkulosis. Faktor risiko adalah malnutrisi, pemakaian
kortikosteroid, keganasan, dan infeksi HIV.

H. KOMPLIKASI
Meningitis tuberkulosis memiliki angka komplikasi yang sangat tinggi,
baik mayor maupun minor, bahkan setelah diobati dengan tuntas dan
dinyatakan sembuh. Gejala sisa neurologis permanen mayor berupa
serebral palsi, retardasi mental, epilepsi, paraplegia, dan gangguan
sensorik ekstremitas. Gejala sisa neurologis minor berupa palsi saraf
kranial, nistagmus, ataksia, dan kelainan ringan pada koordinasi dan
spastisitas.1,3

29
Angka kejadian retardasi mental adalah 70%, kalsifikasi intrakranial
sebesar 30%, dan kelainan endokrin seperti pubertas prekoks,
hiperprolaktinemia, defisiensi hormon pertumbuhan, diabetes insipidus,
kortikotropin, dan gonadotropin akibat gangguan pada hipofisis dan
hiptalamus adalah sebesar 20% pasien. Dapat pula terjadi komplikasi pada
mata yang menyebabkan atrofi optik dan kebutaan, serta pada telinga yang
menyebabkan turunnya pendengaran hingga tuli.1,3

I. PROGNOSIS
Prognosis sangat bergantung pada stadium pasien saat terdiagnosis dan
diterapi. Pada stadium awal prognosis sangat baik, namun sebagian besar
pasien pada stadium dua atau tiga memiliki gejala sisa neurologis
permanen. Usia pasien <3 tahun mempunyai prognosis yang lebih buruk.
Pasien yang tidak diterapi dapat menyebabkan kematian.1,3

30
BAB III
KESIMPULAN

Pada pasien ini didiagnosis Meningitis Tuberkulosis, berdasarkan :


1. Anamnesis
Ditemukan gejala khas TB berupa demam 1 bulan, batuk 1 bulan,
penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, serta mual dan muntah.
Pasien juga memiliki kontak dengan penderita TB dengan BTA (+) baik
dilingkungan keluarganya (ayah kandung) maupun di lingkungan sekitar
tempat ia tinggal. Serta ditemukan pula gejala spesifik terkait organ berupa
penurunan kesadaran dan kejang spastik.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran yang menurun. Saat
pertama kali datang pasien dalam kondisi apatis (GCS 12/E3V4M5),
namun kurang dari sehari setelah dirawat pasien menunjukkan tanda-tanda
somnolen dengan nilai GCS 10 (E3M4V3). Demam yang diderita pasien
juga naik turun diantara suhu 37,9C sampai dengan suhu 39,0C.
Pasien berusia 4 tahun dengan berat badan 13 kg, tinggi badan 102
cm, dan lingkar kepala 49 cm serta LiLA 16 cm . Menurut kurva berat
badan berdasarkan usia dari WHO, pasien berada pada standar deviasi
(SD) antara 0 dan -2 menunjukkan status gizi pasien kurang, begitupun
pada kurva tinggi badan berdasarkan usia, berat badan berdasarkan tinggi
badan menunjuk pada SD antara 0 dan -2 yang menunjukkan status gizi
kurang. Sedangkan kurva lingkar kepala menurut usia menunjuk pada SD
0 yang berarti lingkar kepala pasien sesuai dengan usianya. Sedangkan
ukuran LiLA pada pasien ini 16 menunjukkan gizi kurang.
Temuan pemeriksaan fisik lainnya berupa pembesaran getah
bening coli multiple dengan tidak disertai adanya nyeri tekan, serta adanya
retraksi intercostal dan ronki basah kasar yang merujuk ke keadaan infeksi
pada paru-paru pasien.

31
Pada pemeriksaan meningeal sign, baik kaku kuduk, kernig, laseq
maupun brudzinki 1 dan 2 menunjukkan hasil positif yang menandakan
terdapatnya infeksi pada meningens. Namun status neurologis pasien
dalam batas normal, menunjukkan jika infeksi pasien kemungkinan belum
menyebar pada bagian otak lain.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan hal yang
bermakna dalam mendiagnosis meningitis tuberkulosis. Namun nilai
natrium 127,0 (L) menandakan terjadinya Syndrome Inappropriate
Antidiuretic Hormone (SIADH). Untuk mendiagnosis SIADH perlu
dilakukan pemeriksaan osmolaritas serum, osmolaritas urin, dan natrium
urin.
Pada pemeriksaan rontgent thorax ditemukan adanya TB milier
yang dapat dijadikan infeksi primer TB dari pasien ini dan merupakan
tanda bahwa pasien ini menderita TB lanjut.
Tes mantoux pada pasien ini negatif. Dengan adanya TB milier dan
hasil tes mantoux negatif, skoring TB pasien ini (dihitung dari anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang) menunjukkan skor 8, dimana untuk
penatalaksanaan dengan OAT pada TB minimal memiliki skor 6.
Untuk mendiagnosis pasti meningtis TB pasien harus dilakukan
pemeriksaan pungsi lumbal, dan ditemukan basil M.Tuberkulosis.
Penatalaksanaan pada pasien ini berupa :
Tatalaksana Kejang
o O2 NK 2l/menit
o Infus KAEN 4B micro 16 tpm
o (saat kejang) beri Diazepam 5 mg/IV bolus pelan, jika kejang lagi,
ulangi
o Fenobarbital 150 mg/IV, setelah 12 jam bebas kejang, lanjut
maintenance 2x50 mg/IV.
Obat Anti Tuberkulosis
o OAT 1x2 tab fase intensif.

32
Tatalaksana Demam
o Sanmol (paracetamol) 3x 1 cth.
Tatalaksana lainnya berupa ceftriakson 2x 500 mg/IV dan Imunos 1x1 cth.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Tanto, Christ [et. al.]. (2016). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI.
2. Pusponegoro H. (2010). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
3. Nelson Essensial. (2016).
4. KEMENKES RI. (2016). Petunjuk Teknis Manajemen dan Tatalaksana
TB Anak. Jakarta: Badan Penerbit KEMENKES RI.
5. WHO. (2015). Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit.
Jakarta: Badan Penerbit KEMENKES.

34