Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengertian sanitasi Industri


Sanitasi industri, adalah usaha mencegah penyakit di tempat kerja dengan cara
menghilangkan atau mengendalikan faktor-faktor di lingkungan kerja yang dapat berperan dalam
pemindahan bahaya/penyakit sejak penerimaan bahan baku, proses produksi, sampai pada tahap
distribusi.
Kesehatan Kerja; adalah Spesialisasi dari ilmu Kesehatan/Kedokteran beserta
prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya baik fisik, mental, sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap
penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan Kerja serta
terhadap penyakit umum.
Keselamatan Kerja; adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat
kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan.
Kecelakaan Kerja; adalah Suatu kejadian yang tidak diduga dan tidak dikehendaki dari
semula yang mengacaukan proses dari aktivitas yang telah ditentukan dan dapat mengakibatkan
kerugian baik korban jiwa maupun harta benda.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja; adalah suatu keilmuan yang multidisiplin yang
menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja serta melindungi tenaga kerja terhadap resiko bahaya dalam melakukan
pekerjaan serta mencegah terjadinya kerugian akibat KAK, PAK, kebakaran, peledakan atau
pencemaran lingkungan kerja.
B. Pengertian kesehatan dan keselamatan kerja menurut para ahli
a. Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari
resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan,
kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja
b. Mathis dan Jackson (2002, p. 245), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan
pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara
umum.
c. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman
baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik
atau tempat kerja tersebut.
d. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan
kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh
lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.
Tujuan
- Agar tenaga kerja dan setiap orang lain yang berada di tempat kerja selalu dalam keadaan
selamat dan sehat
- Agar sumber-sumber produksi dapat digunakan dan dipakai secara efisien
- Agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan apapun.
Sasaran
1) Mencegah dan mengurangi kecelakaan, bahaya peledakan dan kebakaran
2) Mencegah dan mengurangi timbulnya penyakit akibat kerja
3) Mencegah dan mengurangi timbulnya kematian, cacat tetap dan luka ringan
4) Mengamankan material, bangunan, mesin, pesawat,
5) Mencegah pemborosan tenaga kerja dan modal
6) Menjamin tempat kerja sehat dan aman
7) Memperlancar, meningkatkan, dan mengamankan sumber dan proses produksi
8) Meningkatkan produktivitas

Ruang Lingkup Sanitasi dan K3


1. Sanitasi dan K3 diterapkan di semua tempat kerja yang didalamnya ada manusia, pekerjaan
dan resiko akibat kerja.
Aspek resiko Sanitasi dan K3 Meliputi :

Tenaga kerja dari semua jenjang keahlian


Peralatan dan bahan yang digunakan
Faktor lingkungan (fisik, kimia, biologi, psiko-sosial)
Proses produksi
Karakteristik dan sifat pekerjaan
Teknologi & metodologi kerja
2. Penerapan sanitasi dan K3 dilaksanakan secara holistik sejak perencanaan hingga hasil dari
kegiatan industri barang atau jasa.
3. Semua pihak yang terlibat dala m proses industri/perusahaan ikut bertanggung jawab atas
keberhasilan program/usaha sanitasi dan K3 industri.

Perbedaan Kesehatan masyarakat & Sanitasi Dan K3 Industri

Kesehatan masyarakat :
1. Sasarannya : kesehatan Masyarakat umum
2. Mengurus masyarakat umum
3. Pemeriksaan periodik sulit dilakukan
4. Masalah : Keadaan Lingkungan umum
5. Tujuan pokok Kesehatan & kesejahteraan masyarakat, umum
6. Dibiayai oleh pemerintah
7. Perundangan termasuk ilmu kes.
K3

1. Kesehatan masyarakat naker adalah tujuan utama


2. Yang diurus adalah golongan Karyawan yg mudah didekati
3. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan periodik mudah dilakukan
4. Yang dihadapi adalah lingkungan kerja
5. Bertujuan untuk tingkatkan produktivitas
6. Dibiayai oleh perusahaan/ masyarakat naker.
7. Perundangan dalam lingkup depnaker
PERATURAN PERUNDANGAN
PMP NO. 7 THN 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan di tempat kerja
Kepmenaker No. 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Fisik di Tempat
Kerja
SE Menaker No. SE-01/MEN/1997 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Kimia di Udara
Lingkungan Kerja
Kepmenaker RI No. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat
Kerja
Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/2002 tentang Persyaratan kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri

Faktor Resiko Lingkungan Kerja


Lingkungan Fisik ; Kebisingan, Penerangan/ Pencahayaan, Getaran, Tekanan Panas.
Lingkungan Biologis ;Virus, Bakteri, Parasit, Jamur.
Lingkungan Kimia; Debu, Asap, Kabut.
Faal/Fisioanatomi : (Ergonomi)
Psikologis ; Stres kerja

KEBISINGAN
Bising dapat didefinisikan sebagai :
suara yang tidak mengandung nilai seni (Sponner)
suara yang mengganggu (Wall)
suara yang tidak mengandung kualitas musik (Burn & Littler)
adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki atau tidak diinginkan oleh yang
mendengarnya

JENIS-JENIS KEBISINGAN
(dipengaruhi oleh sumber bising) :
Kebisingan Kontinu (Steady State Noise)(suara mesin diesel, kipas angin, dll)
Kebisingan Impulsif (Impulsife Noise) (Ledakan meriam, bom, dll)
Kebisingan terputus-putus (Intermitten/ Interupted Noise) (pesawat landing/ take off, dll)

NILAI AMBANG BATAS (NAB) KEBISINGAN:


Dianjurkan adalah 85 dBA untuk 8 jam kerja.

DASAR HUKUM :
KEPMENAKER NOMOR : KEP-51/MEN.1999 tentang NAB Faktor Fisika di Tempat Kerja.

GANGGUAN AKIBAT KEBISINGAN


Gangguan akibat kebisingan pada manusia dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu :
A. Pengaruh pada alat/indera pendengaran (Auditory Effect) :

1. Truma akustik; yaitu gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pemaparan tunggal
(single exposure) dari intensitas kebisingan yang sangat tinggi dan terjadi secara tiba-
tiba. Bising ini dapat menyebabkan robeknya membrane timpani.
2. Kenaikan ambang dengar sementara (temporary Thresholt shift); Gangguaan
pendengaran hanya bersifat sementara dan masih dapat pulih kembali bila paparan
dihentikan. (Contoh : Pegawai baru di tempat kerja yang bising)
3. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap (Permanent Thresholt Shift); Gangguan
pendengaran karena adanya akumulasi sisa ketulian dalam jangka waktu yang panjang.

B. Pengaruh bukan pada indera pendengaran (Non Auditory Effect)


1. Gangguan perasaan, menjadi mudah tersinggung dan marah (annoyance). Faktor yang
mempengaruhi annoyance adalah
Karakteristik kebisingan (intensitas dan frekwensi)
Sikap individu terhadap penerimaaan bising
Kepekaan individu terhadap bising
Konsentrasi individu
2. Gangguan pembicaraan (Speech interverence); yaitu gangguan untuk menangkap pembicaraan
orang lain (gangguan komunikasi)
3. Gangguan tidur (Sleep interverence)
a. Intensitas suara 33 38 dB; kadang menimbulkan keluhan gangguan tidur
b. Intensitas suara 40 dB; kemungkinan terbangun pada waktu tidur adalah 5 %
c. Intensitas 70 dB; kemungkinan terbangun akan meningkat menjadi 30 %
d. Intensitas 100 dB; akan menjadi 100 %
4. Gangguan lainnya pada kesehatan :
Meningkatkan ketegangan pada otot
Kenaikan tekanan darah
Penyempitan pembuluh darah
Debaran jantung meningkat (bersifat sementara)
Gangguan keseimbangan (pada intensitas < 130 dB)

PENGENDALIAN KEBISINGAN
1. Pengendalian secara teknis;
Mengubah cara kerja
Menggunakan penyekat dinding dan langit-langit yang dapat meredam suara
Mengisolasi mesin-mesin yang menjadi sumber suara
Substitusi mesin yang bising dengan yang kurang bising
Menggunakan fondasi mesin yang baik
Mengganti bagian-bagian logam dengan karet
Merawat mesin dan peralatan secara teratur.
2. Pengendalian secara administratif;
Menegakkan aturan perundang-ungangan yang berlaku
Pengadaan ruang control
Pengaturan waktu kerja
3. Pengendalian secara medis
Pemeriksaan audiometri pada pekerja yang dilakukan pada saat awal kerja, berkala dan
pemeriksaan secara khusus
4. Penggunaan alat Pelindung Diri (APD)

PENCAHAYAAN DI TEMPAT KERJA


Pengertian :
Pencahayaan di tempat kerja adalah cahaya yang bersumber dari pencahayaan alami maupun
buatan yang menerangi benda-benda di tempat kerja.
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan secara efektif.

Pencahayaan Berdasarkan Sumbernya :


Pencahayaan Alami
Pencahayaan Buatan
Pencahayaan campuran
Berdasarkan tipenya :
Pencahayaan Lokal
Pencahayaan Umum
Pencahayaan tambahan (suplemen)

Kontras; Perbedaan derajat terang yang relatif antar objek dengan sekitarnya
Reflectance; persentase cahaya yang dipantulkan oleh suatu permukaan
Transmisi cahaya; persentase cahaya yang diteruskan oleh suatu benda, misalnya kaca, plastic,
dll.
Lapangan pandangan (Visual field), daerah/ area yang dapat terlihat oleh mata bila mata dan
kepala dalam keadaan tidak bergerak.
Akomodasi; kemampuan mata untuk memfokuskan obyek yang berada paling dekat sampai yang
tak terhingga
Ketajaman penglihatan; kemampuan mata untuk membedakan bagian detail dari obyek/
permukaan yang halus.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Penglihatan :


A. Sifat dari cahaya
Kuantitas; banyaknya cahaya yang jatuh pada suatu permukaan.
Kualitas; keadaan cahaya yang menyangkut distribusi/ penyebaran dari cahaya, tingkat kesilauan,
warna dinding dan langit-langit, sanitasi ruangan dan sumber penerangan.
Penerangan yang dibutuhkan tergantung dari tingkat ketelitian yang diperlukan pada suatu
pekerjaan.
Kualitas penerangan terutama ditentukan oleh :
1. ada tidaknya kesilauan di tempat kerja yang secara langsung (Direct Glare),
2. adanya suatu pantulan cahaya dari permukaan yang mengkilap (Reflected Glare),
3. adanya bayangan (Shadows).

Kesilauan(Glare) adalah cahaya yang tidak diinginkan yang berada pada lapangan penglihatan.
Penyebab kesilauan

1. Disability Glare; yaitu kesilauan yang disebabkan oleh terlalu banyaknya cahaya yang
secara langsung masuk ke dalam mata dari sumber kesilauan sehingga menyebabkan
kehilangan sebagian dari penglihatan. Misalnya seorang pengendara mobil di malam hari
kehilangan sebagian penglihatannya ketika berhadapan dengan kendaraan lain yang
berlawanan arah dengan cahaya lampu yang terlalu terang.
2. Discomfort Glare; yaitu kesilauan yang menyebabkan ketidak nyamanan (Visual
Discomfort), akibat kesilauan yang berlangsung lama, misalnya seorang pekerja yang
menghadap ke jendela saat bekerja. Efek dari discomfort glare tergantung dari berapa lama
seseorang terpapar kesilauan.
3. Reflected Glare; yaitu kesilauan yang disebabkan oleh pantulan cahaya yang berasal dari
permukaan benda mengkilap yang berada pada lapangan penglihatan dan mengenai mata.

B. Sifat dari lingkungan


1. Brightness, yaitu perbedaan antara derajat terang antara obyek dengan latar belakangnya
(backround). Fungsi mata akan optimal jika brightness dalam area penglihatan relatif sama
(uniform).
2. Nilai pantulan (Reflectance Value) dari dinding, langit-langit, lantai dan peralatan kerja.
Reflectance value yang dianjurkan
DescriptionReflectance (%)
Langit-langit 80 90
Dinding 40 60
Meja, kursi, Mesin-mesin 25 45
Lantai 20

EFEK PENCAHAYAAN
Pencahayaan yang kurang :

1. Kelelahan pada mata


2. Iritasi
3. Penglihatan ganda
4. Akomodasi berlebihan
5. Pusing
6. Kesalahan dalam beraktivitas

Pencahayaan berlebihan :

1. Silau (kehilangan pandangan sesaat)


2. Sakit mata (berair)
3. Ruangan menjadi panas,
4. Kenyamanan kerja berkurang
5. Boros

GETARAN
Pengertian :
Getaran (vibrasi) adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap
suatu titik acuan.
Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia.
Getaran mekanis dapat dibedakan menjadi 2 bentuk berdasarkan jenis pajanannya :
Getaran seluruh badan (whole body vibration)
Getaran pada tangan dan lengan (hand and arm vibration)

Efek getaran :
Pengaruh getaran pada tenaga kerja
Gangguan kenikmatan dalam bekerja
Mempercepat terjadinya kelelahan
Gangguan kesehatan
Pengaruh whole body vibration memicu terjadinya :
Penglihatan kabur,
Sakit kepala
Sakit pada persendian dan otot
Gemetaran (shakeness)
Kerusakan organ tubuh bagian dalam
Pengaruh hand and arm vibration :
Sakit kepala
Sakit pada persendian dan otot lengan
Indera perasa pada jari-jari menurun fungsinya
Terbentuk noda putih pada punggung jari/ telapak tangan (white finger syndrome).
Pengendalian getaran
Pengendalian secara teknis :
Menggunakan peralatan dengan intensitas getaran yang rendah (dilengkapi dengan peredam)
Menyisipkan damping/peredam diantara tangan dan alat
Penempatan alat yang bergtar dengan baik
Perawatan mesin/ alat kerja dengan baik
Menggunakan remote control
Pengendalian secara administratif
Rotasi pekerja
Mengurangi jam kerja sesuai sehingga NAB yang berlaku
Pengendalian secara medis (pemeriksaan berkala sesuai keperluan)
Penggunaan APD