Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN PELAYANAN

KESEHATAN LANSIA

PUSKESMAS PONOROGO UTARA


KABUPATEN PONOROGO
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga Puskesmas Ponorogo Utara
Kabupaten Ponorogo pada Tahun 2017 ini mendapat kesempatan untuk
melaksanakan akreditasi.
Akreditasi bagi Puskesmas Ponorogo Utara Kabupaten Ponorogo sangatlah
penting untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan bagi pasien serta
masyarakat. Untuk menunjang pelaksanaan akreditasi di Puskesmas Ponorogo
Utara Kabupaten Ponorogo maka diperlukan pedoman pelayanan di Puskesmas
Ponorogo Utara.
Harapan kami mudah mudahan pedoman pelayanan ini dapat member
manfaat dan bagi Puskesmas Ponorogo Utara, sehingga akreditasi di Puskesmas
Ponorogo Utara Kabupaten Ponorogo berjalan lancar dan menjadi Puskesmas yang
lebih baik.

Plt Kepala Puskesmas Ponorogo Utara

dr. Mietha Ferdiana Putri


NIP. 19870429 201411 2 001

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten /
Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
suatu wilayah kerja. Puskesmas Ponorogo Utara adalah salah satu dari UPT
Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo dengan wilayah kerja yang mencakup 10
dari 21 kelurahan yang ada di Kecamatan Ponorogo.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas
Ponorogo Utara adalah Masyarakat Kecamatan Ponorogo Sehat yang Mandiri
dan Berkeadilan.
Berdasarkan visi Puskesmas Ponorogo Utara, maka misi Puskesmas
Ponorogo Utara antara lain :
1. Menyediakan upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan
berkeadilan;
2. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan
masalah kesehatan;
3. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan;
4. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat;
5. Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Puskesmas Ponorogo Utara
menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat, salah satunya adalah pelayanan pemeriksaan umum.
Dalam melaksanakan pelayanan pemeriksaan umum di Puskesmas, agar
dapat berjalan dengan baik dan dapat memenuhi kebutuhan pasien maka
Puskesmas Ponorogo Utara menyusun PEDOMAN PELAYANAN KESEHATAN
LANSIA PUSKESMAS PONOROGO UTARA.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. TUJUAN UMUM
Terlaksananya pelayanan kesehatan lansia yang bermutu di Puskesmas
Ponorogo Utara.

2. TUJUAN KHUSUS
Sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan lansia di Puskesmas Ponorogo Utara.

3
C. SASARAN PEDOMAN
Sasaran Pedoman Pelayanan Kesehatan Lansia adalah Petugas
Pelayanan di unit pelayanan kesehatan lansia Puskesmas Ponorogo Utara.

D. RUANG LINGKUP PEDOMAN


Ruang lingkup pedoman pelayanan kesehatan lansia ini meliputi unit
pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Ponorogo Utara.

E. BATASAN OPERASIONAL
Batasan operasional dalam Pedoman Pelayanan Kesehatan Lansia adalah
proses pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien di unit pelayanan
kesehatan lansia, mulai pengkajian, perencanaan layanan, pemberian layanan
dan evaluasi pemberian layanan.

4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan pelayanan
Pemeriksaan Umum di Puskesmas, dibutuhkan sumber daya manusia yang
mencukupi baik jumlah maupun mutunya. Pola ketenagaan minimal harus dimiliki
oleh Puskesmas. Adapun tenaga di Unit Pelayanan Kesehatan Lansia
Puskesmas Ponorogo Utara adalah sebagai berikut :

No JENIS TENAGA KUALIFIKASI JUMLAH


1 Penanggung jawab pelayanan Dokter Umum 1
kesehatan lansia
2 Dokter pelaksana layanan Dokter Umum 1
3 Perawat D3 Keperawatan 2

B. JADWAL KEGIATAN
Pelayanan Kesehatan Lansia Puskesmas Ponorogo Utara buka setiap hari kerja
sesuai jam pelayanan sebagai berikut :
- Senin s/d Kamis : 08.00 13.00
- Jumat : 08.00 11.00
- Sabtu : 08.00 12.30

5
BAB III
STANDAR FASILITAS

Sarana adalah suatu tempat, fasilitas dan peralatan yang langsung terkait
dengan Pelayanan klinis. Sedangkan prasarana adalah tempat, fasilitas dan
peralatan yang secara tidak langsung mendukung pelayanan kesehatan. Dalam
upaya mendukung Pelayanan Puskesmas diperlukan sarana dan prasarana yang
memadai.

A. DENAH RUANG PELAYANAN KESEHATAN LANSIA

Trolly MEJA ADMIN Lemari LEMARI OBAT


Tindakan Arsip

BED
PASIEN

MEJA PELAYANAN MEJA PELAYANAN

KETERANGAN :
a. Luas ruangan 5 x 4 m
b. Ruangan kering dan tidak lembab
c. Memiliki ventilasi yang cukup
d. Memiliki cahaya yang cukup
e. Lantai terbuat dari keramik
f. Dinding dicat warna cerah

B. STANDAR FASILITAS
Standar Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lansia mengacu pada Standar Fasilitas
Pemeriksaan Umum menurut Permenkes Nomer 75 Tahun 2014 yaitu sebagai
berikut :
JUMLAH MINIMUM
NO JENIS PERALATAN
PERALATAN
I. SET PEMERIKSAAN UMUM
1. Anuskop 3 buah
2. Baki logam tempat alat steril bertutup 2 buah
3. Bingkai uji-coba untuk pemeriksaan refraksi 1 buah
4. Buku Ishihara Tes 1 buah
5. Corong telinga/Speculum telinga ukuran kecil, besar, sedang 1 set

6
6. Emesis basin /Nierbeken besar 1 buah
7. Garputala 512 Hz, 1024 Hz, 2084 Hz 1 set
8. Handle kaca laring 1 buah
9. Handle kaca nasopharing 1 buah
10. Kaca laring ukuran 2,4,5,6 1 set
11. Kaca nasopharing ukuran 2,4,5,6 1 set
12. Kaca pembesar untuk diagnostik 1 buah
13. Lampu kepala/Head Lamp + Adaptor AC/DC 1 buah
14. Lampu senter untuk periksa/pen light 1 buah
15. Lensa uji-coba untuk pemeriksaan refraksi 1 set
16. Lup binokuler (lensa pembesar) 3-5 Dioptri 1 buah
17. Metline ( pengukur lingkar pinggang ) 1 buah
18. Opthalmoscope 1 buah
19. Otoscope 1 buah
20. Palu reflex 1 buah
21. Pelilit kapas/Cotton applicator Sesuai kebutuhan
22. Skinfold calliper 1 buah
23. Snellen Chart 2 jenis (E Chart + Alphabet Chart) 1 buah
24. Spekulum vagina (cocor bebek) sedang 3 buah
25. Spekulum hidung dewasa 1 buah
26. Sphygmomanometer untuk dewasa 1 buah
27. Stetoskop untuk dewasa 1 buah
28. Sudip lidah logam/spatula lidah logam panjang 12 cm 4 buah
29. Sudip lidah logam/spatula lidah logam panjang 16,5 cm 4 buah
30. Tempat tidur periksa dan perlengkapannya 1 buah
31. Termometer untuk dewasa 1 buah
32. Timbangan dewasa 1 buah
33. Tonometer Schiotz 1 buah
II. BAHAN HABIS PAKAI
1. Alkohol Sesuai Kebutuhan
2. Povidone Iodine Sesuai Kebutuhan
3. Podofilin Tinctura 25% Sesuai Kebutuhan
4. Kapas Sesuai Kebutuhan
5. Kasa non steril Sesuai Kebutuhan
6. Kasa steril Sesuai Kebutuhan
7. Masker wajah Sesuai Kebutuhan
8. Sabun tangan atau antiseptic Sesuai Kebutuhan
9. Sarung tangan steril Sesuai Kebutuhan
10. Sarung tangan non steril Sesuai Kebutuhan
III. PERLENGKAPAN
1. Bantal 1 buah
2. Baskom cuci tangan 1 buah
3. Kasur 1 buah
4. Lampu spiritus 1 buah
5. Lemari alat 1 buah
6. Meja instrumen 1 buah
7. Meteran tinggi badan 1 buah
8. Perlak 2 buah
9. Pispot 1 buah
10. Sarung bantal 2 buah

7
11. Seprei 2 buah
12. Sikat untuk membersihkan peralatan 1 buah
13. Stop Watch 1 buah
Tempat sampah tertutup yang dilengkapi dengan injakan
14.
pembuka penutup 2 buah
IV. MEUBELAIR
1. Kursi Kerja 3
2. Lemari arsip 1
3. Meja tulis biro 1
V. PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. Buku Register Pasien Rawat Jalan Sesuai Kebutuhan
2. Kertas HVS Sesuai Kebutuhan
3. Buku Register Tindakan Sesuai Kebutuhan
4. Buku Register Surat Keterangan Sehat Sesuai Kebutuhan
5. Buku Register Surat Keterangan Sakit Sesuai Kebutuhan
6. Form Rujukan Sesuai Kebutuhan
7. Form Rujukan Internal Sesuai Kebutuhan
8. Form resep Sesuai Kebutuhan
9. Form Surat Keterangan Sehat Sesuai Kebutuhan
10. Form Surat Keterangan Sakit Sesuai Kebutuhan
11. Kwitansi bukti pelayanan Sesuai Kebutuhan

8
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN
Pelayanan Kesehatan Lansia di Puskesmas Ponorogo Utara merupakan
pelayanan one stop service, dimana pelayanan terpadu dan terpusat di unit
pelayanan lansia mulai dari pengkajian, pemeriksaan penunjang hingga
pemberian obat. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan citra puskesmas yang
santun lansia dengan memprioritaskan pelayanan pada lansia.
Lingkup kegiatan di Unit Pelayanan Kesehatan Lansia adalah :
1. Pengkajian Awal
2. Perencanaan Layanan Klinis
3. Persetujuan Tindakan Medis (informed consent)
4. Penyuluhan / edukasi pasien dan/atau keluarga
5. Perencanaan Rujukan
6. Tata laksana tindak lanjut pasien rujuk balik
7. Pengelolaan dan Pemberian Obat

B. LANGKAH KEGIATAN
1. Pengkajian Awal
Ketika pasien diterima di Puskesmas untuk memperoleh pelayanan perlu
dilakukan kajian awal yang lengkap dalam menetapkan alasan kenapa pasien
perlu mendapat pelayanan klinis di Puskesmas. Pada tahap ini, Puskesmas
membutuhkan informasi khusus dan prosedur untuk mendapat informasi,
tergantung pada kebutuhan pasien dan jenis pelayanan yang harus diberikan.
Kajian dilaksanakan oleh setiap disiplin dalam lingkup praktik, profesi,
perizinan, undang-undang dan peraturan terkait atau sertifikasi. Dalam hal ini,
di unit pelayanan kesehatan lansia, kajian awal dilakukan oleh perawat dan
dokter, dalam bentuk pengkajian awal keperawatan dan pengkajian awal
medis.
Pengkajian awal dilakukan dengan prinsip SOAP, yaitu :
- Subyektif
Data subyektif pasien didapatkan dari anamnesa pasien / keluarganya.
Data subyektif antara lain memuat keluhan utama, keluhan tambahan,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, riwayat alergi, informasi lainnya yang dibutuhkan untuk
membantu menegakkan diagnosa.
- Obyektif
9
Data obyektif pasien didapatkan dari pemeriksaan yang dilakukan oleh
petugas terhadap pasien, baik pemeriksaan fisik maupun penunjang.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain : keadaan umum,
kesadaran, tanda tanda vital, status generalis, status lokalis, dan
pemeriksaan fisik lain yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa.
Pemeriksaan penunjang dilakukan apabila dibutuhkan untuk
menegakkan diagnosa, misalnya pemeriksaan laboratorium, ECG dan
sebagainya. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan tetapi tidak
dapat dilakukan di Puskesmas Ponorogo Utara, maka dilakukan di
fasilitas pelayanan kesehatan lain yang bekerja sama dengan
Puskesmas Ponorogo Utara.
- Assesment
Temuan pada kajian awal dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis dan menetapkan pelayanan/tindakan sesuai kebutuhan serta
rencana tindak lanjut dan evaluasinya.
Temuan dan kajian awal juga dapat digunakan untuk membuat
keputusan perlunya review/kajian ulang pada situasi yang meragukan.
- Planning (Perencanaan Layanan)
Rencana layanan ditetapkan berdasarkan hasil kajian yang dinyatakan
dalam bentuk diagnosis. Dalam menyusun rencana layanan perlu
dipandu oleh standar pelayanan medis dan standar asuhan
keperawatan.
Hasil dari pengkajian awal ditulis di lembar pengkajian awal pasien rawat
jalan, dan disimpan dalam berkas rekam medik pasien.
2. Perencanaan Layanan Klinis
Rencana layanan ditetapkan berdasarkan hasil kajian yang dinyatakan dalam
bentuk diagnosis. Dalam menyusun rencana layanan perlu dipandu oleh
standar pelayanan medis dan standar asuhan keperawatan.
Pasien mempunyai hak untuk mengambil keputusan terhadap layanan yang
akan diperoleh. Pasien/keluarga diberi peluang untuk bekerjasama dalam
menyusun rencana layanan klinis yang akan dilakukan. Dalam menyusun
rencana layanan tersebut harus memperhatikan kebutuhan biologis,
psikologis, sosial, spiritual dan memperhatikan nilai-nilai budaya yang dimiliki
oleh pasien.
Pada kondisi tertentu pasien membutuhkan layanan terpadu yang melibatkan
tim kesehatan. Rencana layanan terpadu meliputi: tujuan layanan yang akan
diberikan, pendidikan kesehatan pada pasien dan/atau keluarga pasien,
jadwal kegiatan, sumber daya yang akan digunakan, dan kejelasan tanggung
10
jawab tiap anggota tim kesehatan dalam melaksanakan layanan.
Pelaksanaan layanan terpadu / antar profesi dilaksanakan dengan rujukan
internal Puskesmas.
3. Persetujuan Tindakan Medis (informed consent)
Salah satu cara melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang
pelayanan yang diterimanya adalah dengan cara memberikan informed
consent/informed choice. Untuk menyetujui/memilih tindakan, pasien harus
diberi penjelasan/konseling tentang hal yang berhubungan dengan pelayanan
yang direncanakan, karena diperlukan untuk suatu keputusan persetujuan.
lnformed consent dilakukan sebelum suatu tindakan atau pengobatan tertentu
yang berisiko. Pasien dan keluarga dijelaskan tentang tes/tindakan, prosedur,
dan pengobatan mana yang memerlukan persetujuan dan bagaimana mereka
dapat memberikan persetujuan secara tertulis pada lembar inform consent.
4. Penyuluhan / edukasi pasien dan/atau keluarga
Untuk meningkatkan luaran klinis yang optimal perlu ada kerjasama antara
petugas kesehatan dan pasien/keluarga. Pasien/keluarga perlu mendapatkan
penyuluhan kesehatan dan edukasi yang terkait dengan penyakit dan
kebutuhan klinis pasien, oleh karena itu penyuluhan dan pendidikan
pasien/keluarga perlu dipadukan dalam pelayanan klinis.
Setiap kali selesai melakukan edukasi kepada pasien / keluarga maka
dilakukan penilaian terhadap efektivitas penyampaian informasi kepada
pasien/keluarga pasien agar mereka dapat berperan aktif dalam proses
layanan dan memahami konsekuensi layanan yang diberikan. Hasil
pelaksanaan edukasi ditulis di dalam lembar catatan penyampaian edukasi
dan disimpan di dalam berkas rekam medis.
5. Perencanaan Rujukan
Jika kebutuhan pasien tidak dapat dipenuhi oleh Puskesmas, maka pasien
harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan pelayanan
yang dibutuhkan oleh pasien. Pasien/keluarga pasien mempunyai hak untuk
memperoleh informasi tentang rencana rujukan. Informasi tentang rencana
rujukan harus disampaikan dengan cara yang mudah dipahami oleh
pasien/keluarga pasien. Informasi tentang rencana rujukan diberikan kepada
pasien/keluarga pasien untuk menjamin kesinambungan pelayanan. Informasi
yang perlu disampaikan kepada pasien meliputi: alasan rujukan, fasilitas
kesehatan yang dituju, termasuk pilihan fasilitas kesehatan lainnya, jika ada,
sehingga pasien/keluarga dapat memutuskan fasilitas yang mana yang
dipilih, serta kapan rujukan harus dilakukan. Untuk memastikan kontinuitas
pelayanan, informasi mengenai kondisi pasien dikirim bersama pasien.
11
Salinan resume pasien tersebut diberikan kepada fasilitas kesehatan
penerima rujukan bersama dengan pasien. Resume tersebut memuat kondisi
klinis pasien, prosedur dan pemeriksaan yang telah dilakukan dan kebutuhan
pasien lebih lanjut.
6. Tata laksana tindak lanjut pasien rujuk balik
Jika puskesmas menerima umpan balik rujukan pasien dari fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi atau fasilitas kesehatan lain, maka perlu
dilakukan tindak lanjut terhadap pasien melalui proses kajian, dan sesuai
prosedur yang berlaku, dengan emperhatikan rekomendasi tindak lanjut dari
sarana kesehatan yang memberikan umpan balik rujukan.
7. Pengelolaan dan Pemberian Obat
Sebagai pelaksana pelayanan one stop service unit pelayanan kesehatan
lansia juga memberikan pelayanan pemberian obat kepada pasien. Stok obat
disediakan di unit pelayanan kesehatan lansia dengan mengajukan
permintaan di gudang obat. Petugas pelayanan kesehatan lansia melakukan
pengelolaan obat sebagaimana dilakukan di kamar obat sesuai dengan
standard an prosedur yang telah ditetapkan. Setiap bulan petugas unit
pelayanan kesehatan lansia melakukan pelaporan ke bagian gudang obat.
Dalam hal pemberian obat kepada pasien, petugas harus memperhatikan
prinsip 12 tepat yaitu :
1) Tepat pasien
2) Tepat obat
3) Tepat dosis obat
4) Tepat waktu pemberian
5) Tepat cara pemberian (rute)
6) Tepat dokumentasi
7) Tepat edukasi kesehatan perihal medikasi pasien
8) Tepat memperhatikan Hak pasien untuk menolak
9) Tepat pengkajian
10) Tepat evaluasi.
11) Tepat reaksi terhadap makanan
12) Tepat reaksi dengan obat lain

12
BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan logistik untuk pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Lansia


direncanakan dalam Perencanaan Puskesmas..
Untuk pengadaan logistik, unit pelayanan kesehatan lansia setiap awal tahun
membuat pengajuan logistik yang dibutuhkan kepada tim perencanaan Puskesmas.

13
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Tujuan dari ditetapkannya sasaran keselamatan pasien adalah untuk


mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti
bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti
serta solusi atas permasalahan ini.
Untuk meningkatkan keselamatan pasien perlu dilakukan pengukuran
terhadap sasaran-sasaran keselamatan pasien. Indikator pengukuran sasaran
keselamatan pasien seperti pada tabel berikut ini:

NO INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN PASIEN TARGET


PUSKESMAS PONOROGO UTARA
1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien 100%
2. Peningkatan komunikasi efektif 100%
3. Tidak terjadinya kesalahan pemberian obat kepada pasien 100%
4. Tidak terjadinya kesalahan prosedur tindakan medis dan 100%
keperawatan
5. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di Puskesmas 75%
6. Tidak terjadinya pasien jatuh 100%

1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien


Identifikasi pasien yang tepat meliputi tiga detail wajib, yaitu: nama, umur, nomor
rekam medis pasien. Kegiatan identifikasi pasien dilakukan pada saat
pendaftaran, pemberian obat, pengambilan spesimen atau pemberian tindakan
2. Peningkatan komunikasi efektif
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami
oleh resipien/penerima akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan
peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik, lisan,
atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah
perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telpon. Komunikasi
lain yang mudah terjadi kesalahan adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan
klinis, seperti laboratorium klinis menelpon unit pelayanan untuk melaporkan
hasil pemeriksaan segera/ cito.
3. Tidak terjadinya kesalahan pemberian obat kepada pasien
Ketepatan pemberian obat kepada pasien dimaksudkan agar tidak terjadi
kesalahan identifikasi pada saat memberikan obat kepada pasien.

14
Pengukuran indikator dilakukan dengan cara menghitung jumlah pasien yang
dilayani oleh bagian farmasi dikurangi kejadian kesalahan pemberian obat dibagi
jumlah seluruh pasien yang mendapat pelayanan obat.

4. Tidak terjadi kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan


Dalam melaksanakan tindakan medis dan keperawatan, petugas harus selalu
melaksanakannya sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Identifikasi pasien
yang akan mendapatkan tindakan medis dan keperawatan perlu dilakukan
sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemberian prosedur.
5. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di puskesmas
Agar tidak terjadi risiko infeksi, maka semua petugas Puskesmas Ponorogo
Utara wajib menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan 7 langkah
dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Tujuh langkah cuci tangan pakai
sabun (CTPS) harus dilaksanakan pada lima keadaan, yaitu:
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Setelah kontak dengan pasien
c. Sebelum tindakan aseptik
d. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
e. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.
6. Tidak terjadinya pasien jatuh
Setiap pasien yang dirawat di Puskesmas Ponorogo Utara dilakukan pengkajian
terhadap kemungkinan risiko jatuh untuk meminimalkan risiko jatuh. Pencegahan
terjadinya pasien jatuh dilakukan dengan cara:
a. Memberikan identifikasi jatuh pada setiap pasien dengan pada setiap pasien
yang beresiko jatuh dengan memberi tanda gelang berwarna kuning.
b. Memberikan intervensi kepada pasien yang beresiko serta memberikan
lingkungan yang aman.

15
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Untuk keamanan dan kenyamanan bagi setiap petugas yang memberikan


pelayanan kesehatan, terutama untuk mencegah tertularnya penyakit, maka petugas
dalam melaksanakan pelayanan diwajibkan memperhatikaan keamanan diri dengan
menerapkan prinsip PPI, termasuk di Unit Pelayanan Pemeriksaan Umum.

16
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu pelayanan klinis merupakan kegiatan untuk mencegah


terjadinya masalah terkait pelayanan pengobatan atau mencegah terjadinya
kesalahan pengobatan / medikasi (medication error), yang bertujuan untuk
keselamatan pasien.
Unsur-unsur yang mempengaruhi mutu pelayanan sebagai berikut:
a. Unsur masukan (input), yaitu sumber daya manusia, sarana dan prasarana,
ketersediaan dana, dan Standar Prosedur Operasional.
b. Unsur proses, yaitu tindakan yang dilakukan, komunikasi, dan kerja sama.
c. Unsur lingkungan, yaitu kebijakan, organisasi, manajemen, budaya, respon dan
tingkat pendidikan masyarakat.
Pengendalian mutu pelayanan klinis terintegrasi dengan program pengendalian mutu
pelayanan klinis Puskesmas yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu pelayanan klinis meliputi:
a. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi
untuk peningkatan mutu standar.
b. Pelaksanaan, yaitu:
1. Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana
kerja(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja)
2. Memberikan umpan balik terhadap hasil capaian.
c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi yaitu:
1. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan standar
2. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.

17
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Kesehatan Lansia Puskesmas Ponorogo Utara ini


digunakan sebagai acuan pelaksanaan pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas
Ponorogo Utara. Untuk keberhasilan pelaksanaan pelayanan diperlukan komitmen
dan kerja sama semua pihak.
Hal tersebut akan menjadikan pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas
Ponorogo Utara semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien dan
masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra puskesmas dan kepuasan
terhadap proses pelayanan kesehatan lansia kepada pasien maupun masyarakat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2013. Standar Puskesmas. Jawa Timur :
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga


Kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan


Masyarakat.

19